Karya ilmiah2

3,410 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,410
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
60
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Karya ilmiah2

  1. 1. DILEMA PEMBELAJARAN MENYIMAKBAHASA INGGRIS PADA KELAS III DI SMA. Supriyadi NIP 131650243 SMU Negeri 1 Wanadadi Banjarnegara 1
  2. 2. DILEMA PEMBELAJARAN MENYIMAK BAHASA INGGRIS PADA KELAS III DI SMA. Supriyadi* Abstrak: Diterapkannya sistem penilaian kelulusan untuk kelas III berdampak pada pembelajaran bahasa Inggris, yaitu terjadi penyimpangan tujuan pembelajaran bahasa Inggris untuk terampil berbahasa Inggris menjadi target lulus Ujian Nasional. Bentuk soal ujian nasional menjadi acuan para guru dalam pembelajaran bahasa Inggris akibatnya pembelajaran menyimak bahasa Inggris terabaikan, karena dianggap membuang waktu saja. Sehingga produk yang dihasilkan dari pembelajaran bahasa Inggris tidak memuaskan semua pihak. Bahasa Inggris adalah alat komunikasi, maka dalam pembelajarannya pun harus tetap konsisten terhadap pembelajaran bahasa, yang meliputi aspek: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Ini berarti pembelajaran menyimak tetap penting dan mendapat porsi yang layak agar seseorang bisa terampil berbahasa Inggris. Tetapi bila pembelajaran menyimak dengan teknik Pre –While - Post Activity tetap diperlakukan banyak menemui kendala atau hambatan yaitu tidak adanya kebebasan para guru berkreasi, bentuk ujian nasional, dan buku paket yang telah usang. Kata Kunci : pembelajaran menyimak, permasalahan menyimak, dilema pembelajaran , pelaksanaan pembelajaranPENDAHULUAN Dengan diberlakukannya Sistem penilan kelulusan untuk kelas III, bahwamata pelajaran Matematika, Ekonomi, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia minimalharus mendapat 3,01 dalam ujian nasional maka ke-empat mata pelajaran tersebutmendapat perhatian khusus pada tiap-tiap sekolah. Konsekuensinya, Sekolah* Supriyadi adalah guru SMA Negeri 1 Wanadadi, Banjarnegara 2
  3. 3. berupaya semaksimal mungkin memfasilitasi guru dan siswa dalam kegiatan belajarmengajar agar menjadi seperti yang diingikan sehingga siswanya bisa lulus semua. Hal tersebut diatas berdampak tujuan pembelajaran di sekolah yang lebihmementingkan mengejar target kelulusan dari pada terjadinya proses belajarmengajar. Kegiatan belajar mengajar (KBM) berubah menjadi tidak berproses, tetapimenjadi ajang penempaan siswa melalui pemberian latihan banyak soal. Kondisi iniberlangsung semakin intens bila semakin dekat dengan waktu ujian nasional. Selanjutnya fungsi kelaspun berubah dari tempat proses KBM menjadi tempatpemberian latihan banyak soal. Soal-soal yang diberikan oleh guru selalu mengacupada soal-soal ujian nasional. Padahal bentuk soalnya adalah tertulis dengan jenissoal pelihan ganda. Pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebagaisarana komunikasi tidak menguntungkan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep pembelajaran BahasaInggris sebagai alat komunikasi menjadi timpang. Mestinya pembelajaran bahasaInggris yang mencakup 4 skill: listening, speaking, reading dan writing dilakukansecara terpadu. Pada kenyataan di sekolah, karena alasan tertentu, pembelajaranlistening hampir tidak ada. Sudah kita ketahui bersama bahwa sebelum kita bisa berkomunikasi, kitatuntut untuk bisa mendengarkan dengan baik. Tentu kita tidak mengalami kesulitandalam mendengarkan bahasa ibu, tetapi akan dapat sulit mendengarkan bahasa asing(Underwood 1990:1) 3
  4. 4. Konsep pengajaran bahasa haruslah tetap mengacu pada bahasa sebagai alatberkomunikasi. Oleh karena itu, anak bisa mendengarkan dengan mudah haruslahdiberikan pembelajaran listening lebih banyak waktu. Tujuan memberikan siswadengan praktek menyimak yang memadai memungkinkan mereka mengerti denganmudah baik penutur asli Bahasa Inggris atau bukan, bila mereka bicara dengankecepatan normal dan dalam situasi yang tak tentu (Matthews 1985:60). Dari dua pendapat ahli tersebut dapat kita ketahui, pertama bahwa seseoranguntuk dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan baik haruslahbelajar sesuai dengan feature bahasa Inggris sebagi alat komunikasi yang mencakup 4aspek ketrampilan, yaitu: listening, speaking, reading, dan writing. Kedua, bahwamendengarkan dengan baik adalah sebagai pra-syarat untuk mencapai ketigaketrmpilan lainnya. Ketiga, bahwa untuk dapat mengusai bahasa Inggris dengan baikdibutuhkan pembelajaran menyimak dalam waktu yang cukup memadai. Uraian diatas dengan jelas menunjukkan bahwa pembelajaran menyimakmenjadi sangat penting dalam mempelajari bahasa Inggris sebagi sarana komunikasi.Maka pembelajaran bahasa Inggris harus diposisikan kembali pada tempat yang tepatsesuai dengan fitrahnya sebagai alat komunikasi. Tulisan ini diharapkan, secara teoritis bisa memberikan kontribusipengetahuan untuk pengembangan pembelajaran bahasa Inggris. Sedangkan secarapraktis dapat bermanfaat bagi pengambil keputusan sebagai masukan untukmenetapkan kebijakan, dan bagi guru sebagai pengajar di sekolah sebagai bahanpertimbangan dalam mengajar bahasa Inggris. 4
  5. 5. PEMBELAJARAN MENYIMAK Menyimak (listening ) adalah suatu kegiatan mencurahkan perhatian danmencoba menangkap arti atau makna dari sesuatu yang kita dengar (Underwood1990:1). Pengajaran tersebut memberikan makna pada kita bahwa pendengar itu selaluaktif, karena otaknya bekerja melakukan proses encoding dan decoding. Bila kegiatanini berjalan dengan baik maka hasil yang disampaikan sesuai dengan apa yangdimaksud oleh pembicara. Untuk bisa diterima oleh masyarakat dalam berkomunikasikita harus bisa menjadi pendengar yang baik. Galvin dikutip oleh Underwood (1990:4). Ada 5 alasan kita mendengarkan :(a) untuk melibatkan dalam kegiatan sosial(b) untuk bertukar informasi(c) untuk latihan pengendalian(d) untuk bertukar perasaan(e) untuk kesenangan Logikanya design pembelajaran menyimak haruslah dirancang, menyimakyang mempunyai tujuan yang mengandung unsur tersebut diatas. Misalnya siswadiminta untuk mencapai informasi rinci atau ide pokoknya. Hal ini dimaksudkan agaranak pikirannya terfokus, tidak setiap kata didengarkan tetapi yang berkait denganpertanyaannya saja. Littlewood (1981:68) menunjukan ada beberapa kegiatan yangbisa digunakan untuk membantu mengembangkan ketrampilan menyimak: 5
  6. 6. 1. Performing Physical Tasks Dimana siswa diminta mencari arti tertentu yang ada kaitannya dengan tugas yang harus dia lakukan. Kegiatan ini mendorong siswa mendengarkan secara selektif, yaitu mensarikan informasi yang relevan dengan tugasnya. Keberhasilan kegiatan ini diukur dari kegiatan praktek semata, apakah tugas non- linguistik ini dilakukan secara benar atau tidak. a. Identifikasi dan seleksi Siswa mempunyai sejumlah gambar. Dia harus mendengarkan sebuah deskripsi atau dialog, kemudian memilih atau menseleksi gambar mana yang sesuai dengan teks lisan tersebut. b. Mengurutkan (Sequencing) Siswa dengan sejumlah gambar diminta mengurutkan sesuai dengan teks lisan yang dimaksud. c. Menempatkan (Locating) Disini siswa diminta menempatkan sesuatu tidak dengan urutan tetapi sesuai dengan lokasinya. Teksnya bisa berupa percakapan 2 orang dimana mereka harus menempatklan almarinya. d. Drawing and Contructing Siswa diminta mendengarkan sebuah cerita atau diskusi dan menggambarnya misal: rencana ruangan rumah. Dalam cara yang sama siswa diminta menyusun sebuah model atau pola dengan menggunakan balok-balok kecil yang sudah disediakan. 6
  7. 7. e. Performing other actions Siswa diminta untuk melakukan atau menirukan sesuatu sebagaimana yang diperintahkan sesuai dengan teks lisan. Dalam kegiatan yang ada pada perfoming phycical tasks, yang diperlukan oleh siswa adalah memberikan respon sederhana. Hal yang demikian diperlukan dalam pembelajaran menyimak pada tahap awal memeperlajari bahasa Inggris. Karena dengan tugas yang sederhana ini menyebabkan bisa mendorong siswa menyukai bahasa Inggris dan juga mereka tidak merasa takut lagi dalam pembelajaran menyimak.2. Transferring Information Dalam kegiatan ini siswa sudah diminta untuk mensarikan informasi yang relevan dari teks kemudian ditransfer dalam bentuk lain. Misalnya : siswa diminta mendengarkan 2 narasi pendek, kemudian mengisi tabel yang sudah disediakan. Dengan model demikian, cara ini mengajarkan kepada siswa untuk berfikir sistematis dan praktis. Siswa diminta melakukan scanning, kemudian menempatkan pada tabel yang tersedia sesuai dengan isi teks lisan. Kegiatan ini bisa digunakan sebagai batu loncatan pada tahap yang lebih tinggi3. Reformulating and Evaluating Information Dalam tahap ini siswa diberikan tugas yang lebih luas, yang berorientasi pada teks secara comprehensive. Seperti di dalam kegiatan information transfer, 7
  8. 8. siswa mendengar suatu teks kemudian meringkas hal-hal yang penting dengan kata-katanya sendiri. Kegiatan ini cukup komplek karena siswa dituntut untuk bisa mencerna materi lisan, kemudian mengaitkan dan mengolah informasi yang didapatkan, dan dengan kata-katanya sendiri merangkum dari teks lisan tersebut.Jenis Materi Pelajaran Listening Berikut Underwood (1990: 5) merekomendasikan sejumlah situasi menyimakseyogyanya yang kita siapkan.1. Listening to live conversation in which one takes no part Seseorang yang dengan sendirinya mendengarkan percakapan orang lain karena sesuatu yang dikatakan dalam percakapan itu menarik untuk didengarnya.2. Listening to announcements Disini seseorang hanya tertarik pada informasi yang relevan dengan yang dibutuhkan, dan mengabaikan informasi-informasi lainnya. Biasanya terjadi di bandara atau setasiun.3. Listening to news & the weather forcast on the radio Tujuannya untuk memperoleh informasi secara jelas berita utama hari ini atau apakah hari ini akan ada topan sehingga seseorang bisa melakukan antisipasi4. Watching the news the weather forecart on television Visualisasi pembicara pada layar TV ikut membantu mempermudah seseorang memahami apa yang sedang dikatakan karena ekspresi wajah, pandangan mata, gerak tangan dsb. 8
  9. 9. 5. Listening to the radio for entertainment Pendengar biasanya mengalami kesulitan karena keterbatasan pengetahuan apa yang sedang dikatakan. Dalam hal ini ia harus mempunyai pengalaman berbagai macam faktor situasi.6. Watching television for entertainment Hal demikian lebih mudah bila dibanding kita mendengarkan radio, karena menonton TV tanda-tanda paralinguistiknya yang diberikan oleh pembicara bisa membantu pendengar untuk memahami maksudnya.7. Watching a live performance of a play Tujuan pokoknya adalah untuk hiburan. Seseorang menonton drama karena tertarik pada ceritanya atau aktornya dan interaksi diantara mereka.8. Watching a film in a cinema Kelebihan film atas siaran langsung adalah bahwa suara dapat dihasilkan pada tingkat yang diinginkan sehingga pendengar tidak mengalami ksulitan mendengarkan kata-kata.9. Listening to records Suara musik yang berbaur dengan lirik lagu tersebut dan menjadikan tidak jelas, tetapi suara rhython dan irama lagu kadang-kadang bisa membantu pendengar untuk memprediksi kata-kata apa berikutnya.10. Following a lesson Siswa memerlukan kemampuan untuk memahami konsep dan harus bisa membedakan antara ide pokok dan pendukung ide pokok. 9
  10. 10. 11. Listening on the telephone Bila ada gangguan kemungkinan pendengar mengalami kesulitan menangkap kata-kata yang diucapkan. Hal-hal tersebut di atas menyadarkan kepada guru untuk lebih banyakberkreasi dalam usaha menciptakan materi pembelajaran menyimak. Sehingga gurutidak perlu merasa kekurangan materi sedangkan model pembelajaranya bisa dibuatsebagaimana yang disarankan oleh Littlewood tentang macam-macam kegiatan untukmengembangkan ketrampilan menyimak. Daftar diatas juga memberikan masukkan kepada guru bahwa selayaknyamateri pembelajaran menyimak itu materi yang autentik. Artinya isi dari teks lisantersebut benar-benar ada dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dan juga dengansituasi yang beragam tersebut bisa menjadikan pembelajaran menyimak menjadimenarik dan tidak membosankan.PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MENYIMAKa. Pre-listening activity Adalah suatu kegiatan sebelum siswa mendengarkan teks lisan. Fungsinya adalah untuk memfasilitasi siswa siap menerima kegiatan menyimak dengan harapan siswa tidak mengalami kesulitan dalam pembelajaran menyimak karena pengetahuan yang relevan dan kata kunci dibahas dalam kegiatan ini. Pada tahap ini Underwood (1990:31) mengemukakan beberapa kegiatan yang bisa diterapkan oleh guru: 10
  11. 11. - Guru memberikan informasi yang relevan dengan topik yang akan dibahas. - Murid membaca teks yang relevan dengan teks listening. - Murid mengamati gambar-gambar. - Diskusi dengan topik yang ada kaitannya dengan teks listening. - Kegiatan tanya jawab. - Latihan menulis. - Mengikuti perintah untuk kegiatan menyimak. - Pertimbangan bagaimana kegiatan menyimak dilaksanakan. Disini guru dituntut untuk lebih peka dalam memilih kegiatan tersebut diatas yang sesuai dengan teks lisan, sehingga fungsi pre-listening activity untuk memfasilitasi memahami teks lisan bisa terpenuhi. Kegiatan ini hendaknya dirancang oleh guru yang bisa membangkitkan minat siswa untuk mengetahui topiknya lebih jauh pada kegiatan selanjutnya. Pada akhir kegiatan ini guru harus percaya bahwa siswa sudah siap bekal pengetahuan yang ada kaitanya dengan isi teks lisan.b. While-listening activity Tujuan dari kegiatan ini adalah mengembangkan ketrampilan siswa dalam mendapatkan pesan dari bahasa ucapan. Disini harus ada alasan kuat mengapa siswa harus mendengarkan sehingga pikiran anak sudah terfokus pada apa yang akan didengar dari teks lisan tersebut. 11
  12. 12. Agar siswa tidak merasa takut menghadapi kegiatan pembelajaran ini maka pembelajaran harus menarik, tingkat kesulitannya sesuai dengan kemampuan anak dan pengerjaannya sederhana. Sebelum teks lisan diperdengarkan kepada siswa, hand-out harus diberikan terlebih dahulu kemudian dicek apakah dalam hand-out tersebut ada hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa. Yang perlu dihindari adalah siswa tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang tersering terjadi disekolah bahwa pembelajaran menyimak berubah menjadi testing, karena mereka tidak memahami fungsi pembelajaran.c. Post-listening activity Kegiatan ini berlangsung setelah while-listening activity, dan merupakan pengembangan dari pre-listening activity dan while-listening activity. Tujuannya adalah untuk mengecek apakah murid telah memahami apa yang mereka perlukan untuk dapat mengerti dan apakah mereka telah menyempurnakan tugas-tugas apa saja yang ada pada while listening telah di kerjakan dengan baik. Tujuan berikutnya adalah untuk merefleksi mengapa beberapa anak mengalami kesulitan atau tidak bisa mendapatkan pesan secara utuh dari teks lisan. Selain itu, dalam while listening siswa mendapat keuntungan untuk memikirkan perilaku pembicara apa yang disampaikan dalam perilaku tersebut. Kemudian yang terakhir, kegiatan dalam tahap ini adalah merupakan pengembangan topik dalam atau bahasa pada teks lisan. 12
  13. 13. Karena kegiatan ini merupakan pengembangan dari kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya maka materinya tidak terlepas dari topik yang dibahas. Tetapi jenis kegiatannya bisa berubah misalnya menjadi pengayaan kosa kata, atau menulis. Bisanya kegiatan ini bersifat ringan dan menyenangkan.PERMASALAHAN YANG TIMBUL DALAM BELAJAR MENYIMAKBAHASA INGGRIS. Kita secara cepat bisa membedakan percakapan langsung dengan percakapanmelalu telephone. Dan kita mengakui bahwa mendengarkan melalu telepon, jauhlebih sulit. Apapun permasalahanya tentu tidak lepas dari ciri bahasa ucapan yangdiantaranya ada tekanan, intonasi, formal, informal, dan lain-lain. Underwood (1990:16) mengetengahkan beberapa permasalahan potensialyang bakal muncul bila belajar menyimak Bahasa Inggris.1. Tidak adanya kendali kecepatan pada pembicara Dalam pelajaran listening comprehension sering siswa mengalami kesulitan karena mereka tidak bisa mengendalikan kecepatan si pembicara seolah-olah ungkapan-ungkapannya lenyap begitu saja. Siswa hanya dapat menangkap sepotong-potong. Keadaan ini menyebabkan informasi yang diperoleh siswa tidak lengkap yang bisa merusak pemahaman siswa tentang isi teks. Bila siswa mempunyai pengetahuan yang cukup tentang topik teks lisan tersebut, siswa masih bisa berkerja menghubung-hubungkan informsi yang sepotong tersebut dengan pengetahuannya, namun hal ini bersifat spekulatif. 13
  14. 14. 2. Tidak dapat diulangi lagi. Bila kita saling berhadapan langsung, hal-hal yang kurang jelas bisa ditanyakan lagi sehingga komunikasi menjadi jelas. Tetapi kalau siswa tidak paham, tidak bisa dilakukan seperti dalam percakapan langsung. Pembelajaran itu memang berbeda dari testing karena pembelajaran bersifat membantu. Bila dipandang perlu oleh guru teks lisan tersebut bisa dipergunakan sampai tiga kali. Dengan demikian anak tidak menjadi frustasi.3. Kosa kata terbatas Pemilihan kosa kata pembicara yang tidak bisa diketahui artinya oleh pendengar, ia tidak menghentikan pembicaraan tersebut untuk minta klarifikasi. Namun pendengar bila melakukan reka-rekaan arti apa yang diucapkan dan itupun pendengar harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang yang dibicarakan. Bila dalam kegiatan pre-listening activity dirancang dan berjalan dengan baik, sebetulnya keterbatasan kosa kata sudah bisa diatasi. Karena kata-kata kunci yang ada pada teks lisan harus sudah dikuasai oleh anak sebelum teks tersebut diperdengarkan.4. Kesulitan mengenali tanda-tanda. Banyak cara yang digunakan oleh pembicara bila ia akan berpindah dari hal yang satu ke hal yang lainnya, atau dalam memberikan contoh atau mengulangi hal-hal tertentu. Tanda-tanda tersebut tidaklah begitu saja untuk seorang yang mendengarkan bahasa asing.5. Masalah interpretasi 14
  15. 15. Siswa yang tidak terbiasa dengan konteks yang dibicarakan mungkin mengalami kesulitan dalam menginterprestasikan kata-kata yang ia dengar meskipun ia mengetahui arti klasikalnya. Seseorang yang belum anda ketahui, apakah untuk datang pada jam 08.00 tiba-tiba menelpon anda “I’ll be a bit late”. Anda tidak paham berapa lama harus menuggu meskipun anda mengetahui kata “bit”. Tetapi bila kawan anda dengan mengucapkan kata yang sama, pasti anda tahu berapa lama harus menunggu.6. Tidak mampu berkonsentrasi. Banyak hal yang menyebabkan siswa tidak bisa berkonsentrasi, diantaranya rekaman yang tidak baik, mesinnya tidak baik atau ruanganya yang tidak memadai. Ketidak mampuan berkonsentrasi sebentar saja dapat menyebabkan kerusakan pemahaman apa yang didengar.7. Kemapanan kebiasaan belajar. Siswa yang biasa belajar bahasa inggris melalui membaca, akan merasa asing terhadap kata-kata yang digunakan oleh pembicara. Karena siswa tidak berbicara mendengarnya meskipun mereka sering menjumpai dalam buku bacaan.PERMASALAHAN YANG TIMBUL DALAM PEMBELAJARAN MENYI-MAK BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH1. Menyimak bahasa Inggris sulit Sulitnya menyimak bahasa Inggris tidak hanya dihadapi oleh siswa saja namun juga oleh guru. Sudah tentu, guru sudah bekerja keras untuk mengusai 15
  16. 16. bahan yang akan diajarkan dengan sebaik-baiknya. Ia dituntut mampu menjelaskan baik dari aspek struktural dan fungsional meaning-nya. Hal demikian menyebabkan guru malas untuk mengajarkan listening comprehension.2. Pembelajaran menyimak dianggap membuang-buang waktu Konsekuensi dari ujian nasional yang berbentuk tertulis, pembelajaran menyimak dianggap tidak mendukung ujian nasional. Alternatif terbaik yang dipilih oleh guru adalah lebih baik memilih pembelajaran reading, speaking atau writing daripada mengambil resiko anak tidak lulus karena waktu tersita untuk pembelajaran menyimak.3. Tidak adanya materi menyimak yang memadai Mungkin kaset tape, video, CD pembelajaran bahasa Inggris, tetapi itupun harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Akibatnya guru harus mencari keman-mana, dan menyita waktu.4. Tidak adanya rencana pembelajaran menyimak bahasa Inggris Karena tidak pernah mengajarkan pelajaran menyimak bahasa Inggris guru merasa ada kesulitan membuat rencana pembelajaran. Ia memerlukan model sebagai acuan untuk merancang pembelajaran menyimak.DILEMA PEMBELAJARAN MENYIMAK BAHASA INGGRIS Bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi, idealnya diajarkan meliputi 4aspek : mendengarkan, berbicara, menulis dan membaca. Jadi sikap pembelajaranbahasa Inggris harus mengacu pada bahasa sebagai sarana komunikasi. Bila haltersebut tidak dipenuhi berarti bisa berakibat out come yang akan dihasilkan sangat 16
  17. 17. rendah. Hal ini sudah diketahui bersama bahwa kemampuan berbahasa Inggris siswatidak memuaskan. Kedaan ini dicoba diatasi dengan penataran-penataran, sertakegiatan MGMP, namun hasilnya masih tetap. Berdasarkan pembelajaran menyimak dan permasalahan yang ada, maka hal-hal yang bersifat dilematis :1. Tidak adanya kebebasan para guru dalam pembelajaran bahasa Inggris, mereka mudah terjebak dengan keseragaman. Mereka masih takut bila berbeda dengan lainnya. Maka keberadaan soal test yang mengacu pada soal Nasional merupakan status quo yang harus diamankan. Guru memahami betul kemampuan siswanya, dan sadar untuk berusaha meningkatkan ketrampilan siswanya. Namun ia terikat pada konsep pembelajaran bahasa Inggris di sekolah yang hanya sekedar mencari nilai untuk lulus.2. Tujuan Pembelajaran Bahasa Inggris menyimpang Tujuan pembelajaran bahasa Inggris adalah agar anak bisa lulus, jadi bukan agar anak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dengan demikian guru tidak mau mengambil resiko, karena sering mengajarkan listening anak menjadi tidak lulus. Padahal bila anak diharapkan terampil berbahasa Inggris pra-syaratnya adalah anak harus terampil dalam menyimak, karena menyimak sebagai dasar untuk ketrampilan berbahasa lainnya. Sehinga sampai sekarang pun kelemahan ini belum bisa diatasi. Sebagaian besar pembelajaran bahasa Inggris berkutat masalah reading dan dampaknya mereka mengalami kesulitan bila akan berkomunikasi aktif dengan orang lain, karena mereka lemah pada pronounciation sehingga mereka salah dalam mendengarkan dan tidak mampu dalam berbicara. 17
  18. 18. 3. Jenis Soal Ujian Nasional Jenis Soal Ujian Nasional adalah pilihan ganda yang bersifat spekulatif. Sehingga kawasan kognitif saja yang dikembangkan sedangkan untuk efektif dan motorik terabaikan. Kita semua percaya bahwa semua guru menghendaki siswanya terampil berbahasa Inggris, tetapi untuk apa pembelajaran menyimak diadakan bila arah pembelajaran bahasa Inggris agar bisa mengerjakan soal-soal ujian nasional. Pilihan yang tepat untuk guru adalah melakukan pembelajaran bahasa Inggris dengan model latihan soal sebagai persiapan menghadapi ujian nasional.4. Buku paket yang sudah usang Buku paket yang ada selalu dijadikan acuan dalam pembuatan soal test, mestinya guru lebih kreatif mencari buku lain yang memadai untuk dijadikan buku pegangan siswa. Karena buku pegangan siswa yang ada sekarang tidak memungkinkan untuk bisa mengembangkan ketrampilan menyimak. Dengan demikian pola pembelajarannya pun bisa dipastikan monoton tidak pernah menyentuh kegiatan pembelajaran menyimak. Tetapi bila guru menganjur menggunakan buku yang di dalamnya memuat ketrampilan-ketrampilan pengem- bangan berbahasa siswa. Konsekuensinya anak terbebani biaya. Dan juga, kalau guru membuat materi sendiri waktu yang dibutuhkan juga lama. Akhirnya, meskipun dengan berat hati berketetapan lebih baik menggunakan buku usang dari pada repot-repot, toh buku tersebut buku pegangan siswa yang dianjurkan oleh pemerintah. 18
  19. 19. PENUTUPSimpulan Ketrampilan menyimak merupakan pra-syarat pada ketrampilan yang laindalam berbahasa untuk terampil berbahasa Inggris tentu diperlukan juga ketrampilandalam menyimak. Seseorang tidak akan begitu saja terampil dalam berbahasa Inggrisbila tidak belajar dalam waktu yang relatif lama. Dengan demikian agar seseorang ituterampil berbahasa Inggris, ia perlu waktu yang lama juga dalam pembelajaranmenyimak. Namun pada kenyataannya di sekolah, hampir bisa dipastikan bahwapembelajaran menyimak menjadi sesuatu yang langka. Dan hal tersebut menjadi salahsatu sebab mengapa kemampuan berbahasa Inggris anak tidak baik Sebab yang lain yang ikut memberikan kontribusi terhadap rendahnyakemampuan siswa dalam berbahasa Inggris tidak terlepas dari model pembelajaran-nya. Hal demikian karena dampak dari sistem penilaian kelulusan yang menggunakanujian nasional sebagai pedoman. Sehingga bentuk dan jenis soal ujian nasionaldijadikan referensi oleh guru dalam pembelajaran. Akibatnya pembelajaranmenyimak tidak dipandang perlu. Disinilah letak penyimpangan pembelajaran bahasaInggris.Saran Berdasarkan uraian di atas agar pembelajaran bahasa Inggris bisa memberikanmakna kepada siswa sehingga mampu berhasa Inggris dengan baik makapembelajaran menyimak juga harus mendapatkan alokasi waktu sama denganpembelajaran untuk ketrampilan lainnya. 19
  20. 20. Pembelajaran menyimak Bahasa Inggris haruslah dipandang sebagai bagianpenting pembelajaran bahasa sebagai alat komunikasi. Sehingga harus mendapatporsi yang sama besarnya dengan pembelajaran yang lain seperti membaca, berbicaradan menulis. Konsekuensi logis dengan Pembelajaran tersebut, Sistem ujian Nasionalharuslah diubah karena bisa dianggap menghambat pengajaran bahasa di sekolah.Sehingga out put siswa tidak pernah bisa mengucapkan bahasa Inggris dengan baik,mereka ragu dan malu bila salah meskipun secara tertulis mereka tahu artinya. Pembahasan pengajaran bahasa Inggris pada forum MGMP harus dibenahi,tidak hanya terjebak hanya pada pembuatan soal, SP, RP dan AMP. Tetapi lebihmenekan pada mengatasi bagaimana siswa terampil dalam berbahasa Inggris.DAFTAR PUSTAKAUnderwood, Mary. 1990. Teaching Listening. New York: Longman Inc.Littlewood, William. 1983. Communicative Language Teaching. London: Cambrige.Johson, keith and Morrow, Keith. 1981. Communication in the Classroom. Hongkong: Longman.Matthews, Alan, Spratt, Mary and Dangerfiled, Less. 1990. At The Calkface. Great Britain: Edward Arnold.Lewis. Michael and Hill Jimmie. 1990. Practical Technigues for Language Teaching. London: Commercial Colour Press. 20

×