Udem Paru

6,543 views

Published on

Published in: Business
1 Comment
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,543
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
23
Actions
Shares
0
Downloads
173
Comments
1
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Udem Paru

  1. 1. UdemParuAkut<br />
  2. 2. Definisi<br /> Udem paru akut (UPA) adalah terjadinya penumpukan cairan secara masif di rongga alveoliyang menyebabkan pasien berada dalam kedaruratan respirasi dan ancaman gagal nafas.<br />
  3. 3. Etiologi<br />Faktor kardiak<br />(UPA-kardiogenik) sering disebut pula sebagai udem paru hidrostatik / hemodinamik yang merupakan mayoritas<br />kasus <br />Faktor non-kardiak <br />(UPA-non kardiogenik) yang sering juga disebut<br />sebagai acute lung injury, acute respiratory distress syndrome (ARDS) atau udem paru karena peningkatanpermeabilitaskapiler.<br />
  4. 4. Patofisiologi<br />Pemahaman kejadian udem paru dimulai dengan menilai komponen terkecil alat respirasi yaitu alveolus,ruang interstitial peri-bronkovaskular dan kapiler yang masing-masing berada dalam keseimbangan fisiologis.<br />Keseimbangan ini dipelihara oleh faktor utuhnya lapisan lapisan epitel alveolus, lapisan endotel daninterstitium peribronkovaskuler dengan seimbangnya tekanan antar ketiganya. <br />Tekanan yang seimbangdipertahankan oleh tekanan hidrostatik intrakapiler antara 8 – 12 mmHg dan tekanan onkotik protein plasmasebesar 25mmHg. Cairan yang terbentuk pada proses filtrasi dari kapiler ke ruang interstitial akan didrainaseoleh sistem limfatik.<br />Mekanisme awal udem paru kardiogenik dimulai oleh peningkatan tekanan di kapiler melebihi 25mmHg. <br />Sedangkanawal mekanisme udem paru non-kardiogenik didasari oleh meningkatnya permeabilitas kapiler.<br />
  5. 5. UPA - Kardiogenik<br />UPA-kardiogenik dicetuskan oleh peningkatan tekanan dan atau volume yang mendadak tinggi diatrium kiri, vena pulmonalis dan diteruskan ke kapiler. Mekanisme fisiologis seperti telah diterangkan diatasgagal mempertahankan keseimbangan sehingga cairan akan membanjiri alveoli dan terjadi udem paru. Jumlahcairan yang menumpuk di alveoli ini sebanding dengan beratnya udem paru.<br />Penyakit jantung yang potensial mengalami udem paru akut adalah semua keadaan yang menyebabkantekanan di atrum kiri meningkat &gt; 25mmHg. Gagal jantung kiri sistolik misalnya pada iskemi atau infarkmiokard, kardiomiopati dilatasi yang menyebabkan left ventricle end diastolic pressure (LVEDP) meningkat,gagal jantung diastolik terutama karena gangguan relaksasi miokard sewaktu diastolik misalnya pada leftventricular hypertrophy (LVH) akibat hipertensi lama, stenosis aorta atau kardiomiopati hipertrofikmenyebabkan tekanan pengisian meningkat, atrial fibrilasi juga mengakibatkan peninggian tekanan pengisian danpenyakit katup mitral adalah merupakan ragam patologis kardiak yang merupakan penyebab terjadinya udemparu. <br />Sedangkan keadaan volume overload yang sering menyertai keadaan diatas seperti regurgitasi aorta,regurgitasi mitral, anemia, tirotoksikosis, kehamilam serta pemberian cairan intravena yang berlebihan sering merupakan pencetus terjadinya udem paru akut.<br />
  6. 6. UPA - nonkardiogenik<br />UPA-nonkardiogenik timbul terutama disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskular yangmenyebabkan masuknya cairan dan protein ke alveoli. <br />Patogenesis UP tipe ini terjadi pada ARDS, infeksi berat,menghirup toksin, disseminated intravascular coagulation (DIC), uremia dan aspirasi pneumonia.<br />Selain kedua bentuk patogenesis udem paru tersebut pada keadaan tertentu dapat terjadi mekanismecampuran keduanya dan sebagian kasus udem paru tidak diketahui secara jelas penyebabnya, misalnya padahigh altitude pulmonary edema, neurogenik, heroin, emboli paru, eklampsia, pasca kardioversi, pasca anestesi,pasca ekstubasi dan post-cardiopulmonary bypass.<br />
  7. 7. ManajemenMedik<br />Diagnosis<br />Menegakkan diagnosisudema paru akut<br />Membedakan jenis UPA<br />Menentukan etiologi<br />Therapi<br />Terapi kedaruratan Perbaikan segera<br />Terapi terarah<br />Terapi definitif atas kausal<br />Pemantauan<br />Perawatan ICU/CCU<br />Edukasi & pencegahan sekunder<br />
  8. 8. PenangananKedaruratan<br /> Pasien segera ditempatkan di area resusitasi dimana peralatan paling lengkap. Kepada pasien segera diberikan oksigen 100% non-rebreather facemask, dipasang infus, dipasang monitor kardiak dan pulseoximetry.<br />Mengatasi hipoksemi<br />Pasien diposisikan duduk bersandar dengan kaki menggantung untuk memperluas rongga dada dan menurunkan<br />venous return dan preload. Diberikan oksigen 100%, 4-5 liter/menit. Bila hasil tidak memuaskan (saturasi<br />oksigen &lt; 90% dan masih takipnoe) maka dianjurkan pemasangan continuous positive airway pressure<br />(CPAP). Bila timbul tanda klinis gagal nafas maka ventilasi secara mekanik dengan intubasi menjadi pilihan.<br />Banyak hasil penelitian yang telah membuktikan bahwa pemasangan CPAP dapat mengurangi kemungkinan<br />intubasi selain efektif dalam mempercepat kepulihan kegawatan respirasi (5). Tindakan tindakan darurat<br />tersebut tidak perlu menunggu hasil analisis gas darah.<br />
  9. 9. Mengatasi udem paru<br />Udema paru diatasi dengan menurunkan preload dan mengeluarkan volume. Nitrogliserin (NTG) dan<br />Furosemide merupakan obat pilihan utama. NTG spray atau tablet dapat segera diberikan sambil menunggu<br />persiapan NTG intravena (drip). NTG intravena diberikan dengan titrasi yang dimulai pada dosis 10-20<br />mcg/menit hingga 100 mcg/menit.<br />Furosemide diberikan intravena dengan dosis awal 20-40mg (1mg/Kg BB).<br />Niseritide (rekombinan BNP) merupakan obat baru yang efektif untuk menurunkan PCWP, tekanan di arteri<br />pulmonalis, atrium kiri dan menurunkan resistensi vaskular sistemik. Tetapi penggunaanya dilapangan masih<br />menghasilkan bukti efektifitas yang kontroversial.<br />Mengatasi kegelisahan<br />Diberikan morphin sulfat intravena dengan dosis 2,5mg – 5mg.<br />
  10. 10. Observasi & Perawatan ICU/ICCU<br />Pemantauan atas keberhasilan atau kegagalan pengobatan terus menerus perlu dilakukan. Serial pengukurantekanan darah, frekuensi nadi dan pernafasan, jumlah diuresis, berkurangnya ronki dan saturasi oksigendilakukan secara ketat. <br />Pasien yang berhasil diobati dengan tanda sesak berkurang, hemodinamik stabil dansaturasi oksigen &gt; 90% perlu dirawat di ruang rawat biasa. <br />Pasien yang mengalami gagal nafas dan di-intubasiserta pasien dengan hemodinamik yang labil perlu dirawat di ICU /ICCU. Pasien yang mengalami syok<br />kardiogenik perlu ditolong dengan intra aortic ballon pump (IABP) untuk selanjutnya mendapatkan terapidefinitif (intervensi koroner atau “jembatan” menuju tindakan operatif).<br />
  11. 11. Terapi terarah mengatasi gangguan kardiovaskular<br />Tujuan utama dalam konteks UPA-kardiogenik, obat dapat menurunkan afterload, memperbaiki kontraktilitas,<br />mengatasi aritmia dan akhirnya dapat memperbaiki kinerja jantung. ACE inhibitor (enalapril dan captopril)<br />merupakan obat pilihan untuk gagal jantung sistolik dan hipertensi.<br />Obat inotropik seperti Dopamine dan Dobutamine merupakan obat standar pada keadaan dimana upaya<br />penurunan preload dan afterload kurang memberikan hasil cepat atau pada keadaan hipotensi. Dosis dititrasi<br />antara 5 mcg/KgBB/menit sampai 10 mcg/KgBB/menit.<br />

×