SlideShare a Scribd company logo
1 of 13
Download to read offline
1 | s a l a m p e r g e r a k a n …
Di susun oleh : MF. Abdit Tawab M dan Syarif Aziz.
‫الرحيم‬ ‫الرحمن‬ ‫هللا‬ ‫بسم‬
Ahlus sunnah Wal Jama’ah sebagai Idiologi PMII
"‫أفمن‬‫أسس‬‫بنيانه‬‫على‬‫تقوى‬‫من‬‫هللا‬‫ورضوان‬‫خير‬‫أم‬‫من‬‫أسس‬‫بنيانه‬‫على‬‫شفا‬‫جرف‬‫هار‬‫فانهار‬‫به‬‫في‬‫نار‬‫جهنم‬‫وهللا‬‫ال‬
‫يهدي‬‫القوم‬‫الظالمين‬"(At-Taubah, 109)
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa pada Allah
dan keridlaanNya itu yang baik, ataukah orang-orang yang membangun bangunannya di tepi
jurang yang runtuh lalu bangunannya runtuh dengan dia jatuh ke dalam neraka jahannam?
Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”
Taqwa menjadi pondasi dasar terbentuknya bangunan yang akan menjadi sebab
hidayah dari Allah, terbentuknya sistem komunitas atau jama’ah ukhuwah antar muslim
dalam mengarungi lautan kehidupan.
Sesuai tujuan awal di dirikan organisasi berbasis pergerakan mahasiswa yaitu
membangun ketaqwaan pada Allah SWT dan untuk kemerdekaan Negara Kesatuan Republik
Indonesia dalam pardikma multi kultural dan berasaskan pancasila “Bhinneka Tunggal Ika”
yang menuntut toleransi dan mewujudkan islam yang rohmatan lil ‘alamin, menjaga kestuan
dan persatuan Negara Republik Indonesia dari berbagai ancaman, terkhusus idiologi
persatuan.
Islam lokal merupakan Islam yang lahir dan mengekspresikan Islam keindonesiaan,
sedangkan Islam Transnasional merupakan Islam yang lahir dan mengekspresikan budaya luar
Indonesia (Timur Tengah) khususnya pada simbol-simbol keagamaannya. Wacana Islam lokal
dan Transnasional merupakan konsekuensi dari globalisasi yang mengandaikan persentuhan
nilai-nilai budaya, politik, ekonomi termasuk system keyakinan yang tanpa batas antara satu
Negara dengan Negara lainnya.
2 | s a l a m p e r g e r a k a n …
Keragaman model keberagamaan ini sesungguhnya merupakan sunnatullah yang oleh Nabi
Muhammad pernah diprediksi bahwa Islam akan terpecah dalam berbagai golongan (firqah).
Dalam sebuah hadis ” Ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka
kecuali satu golongan yaitu mereka yang mengikuti sunnah-sunnahku dan sahabat-
sahabatku”. Hadis ini menurut imam Tirmidzi bernilai hasan. Hadis ini oleh sebagian ulama
ditafsiri bahwa yang dimaksud kelompok yang selamat adalah mereka yang mengikuti Sunnah
Rasulullah dan sahabatnya yang kemudian sering disebut dengan Ahlussunnah wal al-Jamaah.
Oleh karena itu maka hampir semua orang muslim akan menyatakan dirinya sebagai bagian
dari kelompok Ahlussunnah wal al-Jamaah sebagai kelompok yang selamat (al-firqah al-
najihah).
Ahlusssunnah wa al-Jama’ah (ASWAJA) pada hakikatnya adalah ajaran Islam seperti yang
diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu, secara embrional, ASWAJA
sudah muncul sejak munculnya Islam itu sendiri. Hanya saja penamaan Ahlussunnah wa al-
Jamaah sebagai sebuah nama kelompok tidaklah lahir pada masa Rasulullah, tetapi baru
muncul pada akhir abad ke 3 Hijriyah. Dalam catatan sejarah pemikiran Islam, Al-Zabidi adalah
ulama yang pertama kali mengenalkan istilah Ahlussunnah wa al-Jamaah. Beliu mengatakan “
kalau dikatakan Ahlussunnah wa al-Jamaah, maka yang dimaksud adalah kelompok ummat
Islam yang mengikuti imam al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam bidang ilmu Tauhid. Namun
demikian rumusan al-Zabidi di atas tentu hanya satu versi dari sebuah rumusan definisi
ASWAJA di antara definisi-definisi lainnya.
1. Sejarah Munculnya Nama ASWAJA
ASWAJA merupakan kependekan dari “ahlu as-sunnah wal jama’ah”. Istilah
tersebut muncul dari pemahaman terhadap Firman Allah SWT dan sabda-sabda Rasulullah
SAW, yang antara lain :
Surat Ali imran ayat 106
3 | s a l a m p e r g e r a k a n …
Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang
hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya(kepada mereka
dikatakan): “kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman ? karena itu rasakanlah azab
disebabkan kekafiranmu itu”
Yang kemudian dari firman Allah tersebut Nabi memberikan penjelasan :
‫ي‬ { ‫تعالى‬ ‫قوله‬ ‫في‬ ‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫هللا‬ ‫صلى‬ ‫النبي‬ ‫عن‬ ‫عمر‬ ‫ابن‬ ‫عن‬: ‫قال‬ } ‫وجوه‬ ‫وتسود‬ ‫وجوه‬ ‫تبيض‬ ‫وم‬
‫البدع‬ ‫أهل‬ ‫ووجه‬ ‫وتسود‬ ، ‫السنة‬ ‫أهل‬ ‫وجوه‬ ‫تبيض‬
“di riwayatkan dari Ibnu Umar dari Rosulallah SAW tentang firman Allah (pada hari
bersinarnya wajah dan gelapnya wajah) bersabda : yang bersinar adalh wajah-wajah ahlus
sunnah, dan yang gelap adalah wajahnya ahlu bid’ah”.
‫ق‬ ِ‫َر‬‫ت‬ْ‫ف‬َ‫ت‬َ‫و‬‫ِي‬‫ت‬َّ‫م‬‫أ‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬‫ث‬ َ‫َل‬َ‫ث‬َ‫ين‬ِ‫ع‬ْ‫ب‬َ‫س‬َ‫و‬‫ة‬َّ‫ل‬ِ‫م‬ْ‫م‬‫ه‬ُّ‫ل‬‫ك‬‫ِي‬‫ف‬ِ‫ار‬َّ‫ن‬‫ال‬َّ‫ال‬ِ‫إ‬‫ة‬َّ‫ل‬ِ‫م‬‫َة‬‫د‬ ِ‫اح‬َ‫و‬‫وا‬‫ال‬َ‫ق‬ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫و‬َ‫ِي‬‫ه‬‫ا‬َ‫ي‬َ‫ل‬‫و‬‫س‬َ‫ر‬ِ َّ‫اّلل‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬‫ا‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ن‬َ‫أ‬
ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬‫ي‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ح‬ْ‫ص‬َ‫أ‬َ‫و‬
“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semua ada di neraka kecuali satu golongan,
para Sahabat bertanya: siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab:
(golongan)yang mengikuti apa yang aku dan sahabatku lakukan.” (HR. Tirmidzi)
َ‫م‬َ‫ظ‬ْ‫ع‬َ‫األ‬ َ‫د‬‫ا‬َ‫و‬َّ‫س‬‫ال‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬ ِ‫ار‬َّ‫ن‬‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ل‬ُ‫ك‬ ، َ‫ين‬ِ‫ع‬ْ‫ب‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ْن‬‫ي‬َ‫ت‬ْ‫ن‬ِ‫ث‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ق‬ ِ‫ر‬َ‫ت‬ْ‫ف‬َ‫ت‬ ‫ي‬ِ‫ت‬َّ‫م‬ُ‫أ‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫و‬
“Sungguh umatku akan terpecah menjadi 72 golongan, semua ada di neraka kecuali golongan
mayoritas.”(HR. Abu Ya’la)
Dari firman dan sabda-sabda nabi
[1]. Ayyub as-Sikhtiyani Rahimahullah (wafat th. 131 H), ia berkata, “Apabila aku dikabarkan
tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota
tubuhku.”
[2]. Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata: “Aku wasiatkan kalian untuk
4 | s a l a m p e r g e r a k a n …
tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuraba’(orang
yang terasing). Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” [3]
[3]. Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah [4] (wafat th. 187 H) berkata: “...Berkata Ahlus Sunnah:
Iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan.”
[4]. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallaam Rahimahullah (hidup th. 157-224 H) berkata dalam
muqaddimah kitabnya, al-Imaan [5] : “...Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya
kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, ber-tambah dan
berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk
mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian...”
[5]. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah [6] (hidup th. 164-241 H), beliau berkata dalam
muqaddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzhab Ahlul ‘Ilmi, Ash-habul Atsar dan Ahlus
Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul j dan para Shahabatnya, dari
semenjak zaman para Shahabat Radhiyallahu Ajmai'in hingga pada masa sekarang ini...”
[6]. Imam Ibnu Jarir ath-Thabary Rahimahullah (wafat th. 310 H) berkata: “...Adapun yang
benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah pada hari
kiamat, maka itu merupakan agama yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui
bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa ahli Surga akan melihat Allah sesuai
dengan berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.”
[7]. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawy Rahimahullah (hidup th. 239-321
H). Beliau berkata dalam muqaddimah kitab ‘aqidahnya yang masyhur (‘Aqidah Thahawiyah):
“...Ini adalah penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
2. Formulasi ASWAJA NU
Sebelum menguraikan formulasi ASWAJA NU, terlebih harus diketahui pengertian
“ahlu as-sunnah wal jama’ah” secara bahasa dan istilah, sehingga penjelasanya akan lebih
bisa dipahami serta tidak melenceng. Kata ahlu memiliki makna antara lain; keluarga,
5 | s a l a m p e r g e r a k a n …
pengikut, dan penganut. Sedangkan kata sunnah bermakna segala sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi SAW, baik itu berupa ucapan, perbuatan, ataupun ketetapan
Beliau. Serta al-jama’ah yang bermakna golongan dimana yang dikehendaki adalah para
khulafa’u ar-rosyidin (Abu bakar, Umar, Utsman, dan Ali radliallahu anhum).
Dari pemaknaan ahlu as-sunnah wal jam’ah di atas, Hadrotus Syaikh KH.Hasyim
As’ari yang merupkan pendiri Nahdlotul Ulama (NU) memformulasikan ASWAJA yang
sangat cocok dengan prinsip-prinsip dasar umat Islam. Dimana formulasi tersebut
merupakan formulasi sempurna yang sangat cocok dengan karakter Islam warna
Indonesia. Formulasi tersebut bukan sembarang formulasi, akan tetapi merupakan hasil
ijtihad Beliau dari berbagai madzab yang beliau pelajari kemudian munculah forulasi
tersebut yang sekali lagi sangat sesuai dengan karakter Islam Indonesia.
Pertimbangan-pertimbangan KH.Hasyim Asyari mengenai Islam rahmatal lil’alamin
memunculkan prinsip-prinsip dasar Aswaja NU yakni tawassuth, tawazun dan tasamuh.
Ketiganya muncul berdasarkan pada al-Qur’an dan Hadist, diantaranya :
َ‫ك‬ِ‫ل‬َ‫ذ‬َ‫ك‬َ‫و‬ْ‫م‬‫اك‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ج‬‫ة‬َّ‫م‬‫أ‬‫ا‬‫ط‬َ‫س‬َ‫و‬‫وا‬‫ون‬‫َك‬‫ت‬ِ‫ل‬َ‫ء‬‫َا‬‫د‬َ‫ه‬‫ش‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ِ‫اس‬َّ‫ن‬‫ال‬َ‫ون‬‫ك‬َ‫ي‬َ‫و‬‫ول‬‫س‬َّ‫الر‬ْ‫م‬‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬‫ا‬‫يد‬ِ‫ه‬َ‫ش‬
Dan demikianlah aku menciptakanmu sebagai umat yang (moderat, adil), agar kamu
menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatanmu.” (QS: Al Baqarah
143).
dimana ketiga prinsip dasar tersebut bisa ditemukan dalam koridor-koridor hukum hasil
pemikiran :
A. Dalam bidang fiqh
 Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (80-148 M )
 Imam Malik bin Anas (714-800 M)
 Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (767-819 M)
 Imam Ahmad bin Hanbal (781 - 855 M)
B. Dalam bidang aqidah
 Imam Abu Hasan al-Asy’ari (873-935 M)
 Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 944 M)
6 | s a l a m p e r g e r a k a n …
C. Dalam bidang tasawuf
 Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali
 Imam Abu Junaid
Rumusan tersebut memiliki pertimbangan-pertimbangan antara lain :
1) Masyarakat Muslim di pulau Jawa tempo dulu memiliki pandangan dan madzhab yang
sama, memiliki satu referensi dan kecenderungan yang sama. Semua masyarakat Jawa
ketika itu menganut dan mengidolakan satu madzhab yakni Imam Muhammad bin
Idris Al- Syafi’i dan di dalam masalah teologi atau aqidahnya mengikuti madzhab
Imam Abu Hasan al ‘Asy’ari dan di bidang Tasawuf mengikuti madzhab Imam al –
Ghazali dan Imam Abi al Hasan al Syadili, Rodiallahu Anhum Ajma’in”. (KH. Hasyim
Asy’ari)
2) Dengan mengikuti satu madzhab tertentu akan lebih dapat terfokus pada satu nilai
kebenaran yang haqiqi, lebih dapat memahami secara mendalam dan akan lebih
memudahkan dalam mengimplementasikan amalan”. (KH. Hasyim Asy’ari)
3) Hendaknya kita tetap eksis berpedoman pada Al Kitab, Al Sunnah, dan apa saja yang
menjadi tuntunan para Ulama, panutan umat yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik
bin Anas, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal Ra. Merekalah Ulama yang
Mujma ‘Alaih, sah untuk diikuti dan dilarang keluar dari madzhab madzhab mereka.”
(KH. Hasyim Asy’ari)
4) Yang terpenting bahwa rumusan tersebut adalah dalam rangka mengarahkan untuk
mempermudah, bukan membatasi pemikiran.
3. Ideologi ASWAJA PMII untuk NKRI
Sejarah mencatat bahwa PMII merupakan turunan dari Organisasi Nahdlotul Ulama’
(NU) yang di dirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, dan beliau membuat rumusan ajaran dalam
mengaplikasikan syari’ah islam di Indonesia yang multi kultural dan sosio kultural, maka dari
itu tidaklah cukup kalau dalam tatanan keberagaman kemasyarakatannya hanya di lihat dari
7 | s a l a m p e r g e r a k a n …
satu sisi sudut pandang dalam mentransfer kandungan Al-Qur’an dan Assunnah yang sifatnya
sangatlah global dan statis, oleh karena itu beliau mengajarkan dan memmbuat formulasi
dalam menghadapi keberagaman karakter yang ada sehingga manisnya ajaran islam dapat
dirasakan setiap umat dan menunjukkan bahwa islam adalam agam yang rohmatan lil ‘alamin.
Dalam pembahasan di atas telah di paparkan terkait formulasi dalam hal fiqh,
tauhid/kalam, dan tasawuf oleh sang pendiri NU (KH. Hasyim A) yang mengikuti madzhab
jumhuriyah yakni dalam hal furu’iyah / fiqh mengikuti Al-a’immah Al-Arba’ah dan dalam
ketaudidan mengikuti jumhur umat Ahlus sunnah wal jama’ah yakni imam Asy’ari dan imam
Maturidi seperti yang di sampaikan oleh syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Husainiy
dalam kitab beliau:
“Apabila disebutkan Ahlus sunnah Wal Jama’ah maka yang di maksud adalah pengikut
madzhab Al-Asy’ari dan Al-Maturidi.”1
Dan dalam kitab Ziyadatu ta’liqot Kiyai Hasyim menyebutkan :
‫الجماع‬ ‫و‬ ‫السنة‬ ‫أهل‬ ‫إجتمعت‬ ‫قد‬‫من‬ ‫فهو‬ ‫الزمان‬ ‫هذه‬ ‫في‬ ‫األربعة‬ ‫هذه‬ ‫عن‬ ‫خارجا‬ ‫كان‬ ‫ومن‬ ,‫األربعة‬ ‫المذاهب‬ ‫في‬ ‫اليوم‬ ‫ة‬
.‫المبتدعة‬2
Maka sudah barang tentu NU menjadi Organisasi agam yang paling besar dan cepat
perkembangannya menilik dari banyak pengikutnya dan kuatnya organisasi ini berdiri,
dikarnakan kemoderatannya dalam idiolaogi dan fleksibel dalam hukum furu’i, hingga kini
banyak pengikutnya tak terkecuali para pemuda dan pelajar di perguruan tinggi di seluruh
nusantara. Para kader-kader NU yang melanjutkan jenjang pendidikan di ranah perguruan
tinggi pun masih mejaga dan memperjuanguangkan idiologi ASWAJA di kampus dan
universitas masing-masing.
Salah satu ormas keagamaan yang kemudian menformulasikan ajaran ASWAJA sebagai
dasar ajaran agamanya misalnya adalah Nahdhatul Ulama (NU). Kerangka pemahaman
1
Muhammad bin Muhammad Al-Husaini, Ithaf al-Sadah al-Muttaqin, juz 2 hal. 6
2
K.H Hasyim Asy’ari, Ziyadatu ta’liqot, hal. 23-24
8 | s a l a m p e r g e r a k a n …
ASWAJA yang dikembangkan NU memiliki karakteristik yang khusus yang mungkin juga
membedakan dengan kelompok muslim lainya yaitu bahwa ajaran ASWAJA yang
dikembangkan berporos pada tiga ajaran pokok dalam Islam yang meliputi bidang aqidah,
Fiqh dan Tasawwuf.
Di bidang Aqidah, model yang diikuti oleh NU adalah pemikiran-pemikiran aqidah yang
dikembangkan oleh Abu Hasan al-‘Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Pada bidang Fiqh,
mengikuti model pemikiran dan metode istinbat hukum yang dikembangkan empat imam
madzhab (aimmat al- madzahib al-arba’ah) yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.
Sedangkan dibidang Tasawwuf mengikuti model yang dikembangkan oleh Abu Hamid al-
Ghazali dan Imam Junaidi al-Baghdadi.
Dari berbagai hasil telaah terhadap berbagai perkembangan pemikiran di kalangan ulama
Ahlussunnah wa al-Jamah dari kelompok salafusshalih dapat dirumuskan beberapa
karakteristik dasar dari ajaran agama Islam berhaluan ASWAJA sebagaimana di pahami oleh
orang NU. Dalam Musyawarah Nasional di Surabaya tahun 2006, telah ditetapkan bahwa
Khashaish/karakteristik doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:
1. Fikrah tawassuthiyyah (pola pikir moderat), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap
tawazun (seimbang ) dan i’tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. Nahdlatul
Ulama tidak tafrith atau ifrath.
2. Fikrah tasamuhiyah (pola pikir toleran), artinya Nahdlatul Ulama dapat hidup berdampingan
secara damai dengan pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda.
3. Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa
mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa al-ashlah).
4. Fikrah tathowwuriyah (pola pikir dinamis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa melakukan
kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan.
5. Fikrah manhajiyah (pola pikir metodologis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa
menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh
Nahdlatul Ulama.
9 | s a l a m p e r g e r a k a n …
Pemahaman tentang paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat penting bagi warga NU,
Karena Aswaja merupakan fundamen NU dalam membangun gerakan dan berkhidmat kepada
umat. Dengan sendirinya seluruh metode berpikir (manhaj al-fikri) dan metode pergerakan
(manhaj al-haraki) warga, terutama pengurus NU dan lembaga di bawahnya, harus merujuk
kepada konsep dan semangat Aswaja.
Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam pandangan NU merupakan pendekatan yang
multidimensional dari sebuah gagasan konfigurasi aspek aqidah, fiqh dan tasawwuf. Ketiganya
merupakan satu kesatuan yang utuh, masing-masing tidak terpilah dalam trikotomi yang
berlawanan. Hanya saja dalam prakteknya, dimensi ajaran fiqh (hukum Islam) jauh lebih
dominan dibanding dimensi yang lain.
Dalam pemikiran fiqh yang dianut NU konsep hukum Allah terbagai menjadi dua
besaran yaitu hukum yang bersifat iqtidha (sesuatu yang sudah ada ketentuanya secara
eksplisit dalam nash) dan hukum Allah yang bersifat takhyir (belum ada ketentuan dasarnya)
yang biasanya disebut ibahah. Ketentuan hukum yang secara eksplisit tidak diatur jumlahnya
jauh lebih banyak dan ini merupakan wilayah hukum yang bersifat ijtihadiyah dan menjadi
tugas umat Islam untuk megembangkanya dengan mendasarkan pada kaidah fiqh al-hukmu
ma’al al-‘illat (hukum itu didasarkan pada ada dan tidaknya alas an hukum yang
mendasarinya) dengan mendasarkan pada logika sebab akibat (causality) yang biasanya
mendasarkan pada kalkulasi maslahat dan madharat.
Formulasi pemahaman keagamaan NU terhadap ASWAJA yang mengikuti pola/model
ulama mazdhab bukan berarti NU puas dengan situasi Jumud/stagnan yang penuh taqlid
sebagaimana dituduhkan oleh kelompok “Islam Modernis”. Ide dasar pelestarian mazdhab
oleh NU justeru sebagai bagian dari tanggung jawab pelestarian dan pemurnian ajaran Islam
itu sendiri. Pola bermazdhab yang dikembangkan oleh NU sebagaimana hasil Musyawarah
Nasional di Bandar Lampung tahun 1992 menganut dua pola yaitu bermazdhab secara qauli
(tekstual) ataupun bermazdhab secara manhaji (dimensi metodologis/istinbathi).
Sedangkan basis sosial warga NU adalah masyarakat muslim yang secara keagamaan pada
umumnya berbasis pendidikan pesantren baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan
10 | s a l a m p e r g e r a k a n …
walaupun sekarang ini terjadi pergeseran yang sangat signifikan pada tataran segmen warga
NU dengan lahirnya alumni-alumni perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri.
Pergeseran warga dan basis sosial NU ini pada akhirnya mempengaruhi dinamika
pemikiran keagamaan didalam tubuh NU sendiri dengan corak yang beragam. Pada umumnya
perbedaan corak pemahaman keagamaan ini berporos pada dua kubu yaitu kubu yang
cenderung mempertahanakan tradisi bermazdhab secara qauli (materi/tekstual) dan kubu
yang mencoba mengembangkan pemahaman secara manhaji (metodologis) dengan
pendekatan kontekstual yang melahirkan berbagai pemikiran alternatif.
Dengan mendasarkan pada semangat inti ajaran ASWAJA tawassuth, tawazun dan
tasamuh, maka strategi perjuangan/dakwah NU menuju ‘izzul islam wal muslimin lebih pada
pilihan strategi pembudayaan nilai-nilai Islam. Pendekatan cultural juga bisa dimaknai upaya
pembumian ajaran Islam dengan menggunakan perangkat budaya local sebagai instrumen
dakwahnya dengan melakukan tranformasi social menuju ‘izzul Islam wal muslimin dengan
mendasarkan pada beberapa ayat al-Qur’an yaitu:
surat An-Nahl: 125, Ali Imron: 104, 110, 112, Al-Anbiya: 107.
Dalam pandangan NU perjuangan pembumian syari’at Islam adalah kewajiban agama dengan
memperjuangkan sesuatu yang paling mungkin dicapai, dan sesuatu yang paling mungkin
dicapai adalah yang paling tepat digunakan. Dalam konteks hukum agama (bidang muamalah)
berlaku prinsip apa yang disebut dengan prinsip ‘tujuan dan cara pencapaianya” (al-ghayah
wa al-wasail). Selama tujuan masih tetap, maka cara pencapaiannya menjadi sesuatu yang
sekunder. Tujuan hukum akan selalu tetap, tetapi cara pencapaianya bisa berubah-rubah
seiring dengan dinamika zaman.
Prinsip dasar yang dikembangkan NU dalam merespon arus perubahan dalam berbagai
dimensi kehidupan khususnya berkaitan dengan problematika hukum kontemporer (al-
waqi’iyyah al-haditsah) dan perubahan kebudayaan, NU berpegang pada kaidah “al-
Muhafadhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhd bi al-jadid al-ashlah” yaitu memelihara tradisi
lama yang masih baik (relevan) dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
11 | s a l a m p e r g e r a k a n …
Proses dialektika Islam dengan budaya lokal Indonesia yang menghasilkan produk budaya
sintetis merupakan suatu keniscayaan sejarah sebagai hasil dialog Islam dengan system
budaya local. Lahirnya berbagai ekspresi-ekspresi ritual yang nilai instrumentalnya produk
budaya lokal, sedangkan muatan materialnya bernuansa religius Islam adalah sesuatu yang
wajar dan sah adanya dengan syarat akulturasi tersebut tidak menghilangkan nilai
fundamental dari ajaran agama..
PMII merupakan organisasi mahasiswa dalam kontestasi memperjuangkan idiologi dan
kontrol keseimbangan negara, sebagai organisasi pengayom yang mendidik dan mejadi
tempat berprosesnya kader NU di tengah persaingan idiologi yang semakin merebak pasca
reformasi Indonesia dengan begitu banyak aliran organisasi agama dengan corak yang
bermacam-macam.
Pasca perang Afganstan banyak bermunculan aliran-aliran transnasional yang mengacu
pada gerakan militan yang juga masuk dan subur di Indonesia dengan demokrasinya, sehingga
memudahkan pergerakannya dengan di sokong dana dari luar negeri menjadi momok bagi
pemuda Nahdliyin dalam mempertahankan ke daulatan Ahlus sunnah wal jama’ah di tanah
kelahiran merekan, dalam hal ini sebagai pewakilan organisasi islam lokal NU maupun PMII
sanagat tertinggal dalam relasi yang berbasis internasional, karena lebih mengacu pada
nation-state.
Islam militan yang menginginkan negara berbasiskan agama menjadi ancaman yang
serius bagi Negara dan umat islam lokal yang merupakan klompok yang berbasiskan substansif
dalam menjalankan peran sebagai umat beragama dan sebagai warga negara, kedaulatan
pancasila dan Negara kesatuan.
Pandangan yang menyebabkan seseorang termasuk kelompok ini (militan) dapat
dilihat dari pemahamannya mengenai Syari’at Islam, Khilafah Islamiyah dan Jihad sedangkan
nilai-nilai islam sebagai rohmatan lil ‘alamin adalah anti terorisme, anti kekerasan, anti
berlebihan dalam beragama, dan anti ekstrimisme.
12 | s a l a m p e r g e r a k a n …
Dalam kontestasi peran ASWAJA menyelamatkan Nilai-nilai islam dan kesatuan Negara
dari berbagai ancaman, peluang, kelemahan dan kekuatan yang dimiliki para Nahdliyin
menghadapi meluasnya kelompok-kelompok yang menggerogoti umat dari dalam perlu
pematangan dalam gerakan, sehingga butuh kesiapan dari para kader Nahdliyin dalam
berbagai aspek.
PETA SWOT
Ancaman
- Perkembangan gerakan Islam
transnasional yang mulai
mengancam komunitas nahdliyin
- Ekspansi gerakan-gerakan sosial dan
politik dalam kantong-kantong NU
- Besarnya angka kemiskinan warga
nahdliyin, khususnya di pedesaan
- Rendahnya tingkat pendidikan serta
kesehatan warga nahdliyin,
khususnya di pedesaan,
- Masih munculnya stigma nahdliyin
sebagai kelompok tradisional
Peluang
- Banyaknya organisasi sosial politik
yang bersedia bekerjasama demi
memajukan warga nahdliyin
- Banyaknya lembaga ekonomi dan
bisnis yang bersedia bekerjasama
- Mulai munculnya saling pengertian
sesama ormas Islam berbasis
nasional.
- Mobilitas sosial, intelektual,
ekonomi dan politik warga
nahdliyin, yang ditandai dengan:
 Mulai munculnya warga nahdliyin yang
menduduki posisi kepemimpinan di
birokrasi dan politik nasional/lokal
 Mulai munculnya warga nahdliyin yang
eksis dalam berbagai gerakan LSM,
intelektual, dan organisasi sosial lainnya
 Mulai tumbuhnya kelas pengusaha yang
berasal dari warga nahdliyin.
13 | s a l a m p e r g e r a k a n …
Dan dengan komitmen yang di pegang :
 Memperkuat wawasan wathoniah (Pancasila) dan Aswaja
 Memperkuat pemahaman yang benar makna jihad, khilafah islamiyah, syariat Islam
 Merangkul mereka yang terlanjur menjadi pendukung terror
 Langkah represif diikuti persuasif terhadap kelompok radikal termasuk langkah edukasi
Peran PMII sebagai penggerak di kalangan pelajar mahasiswa Nahdliyin guna mencetak kader
penyelamat umat dan masyarakat sangatlah kompleks dan benar-benar di harapkan dalam
peperangan idiologi dan keutuhan NKRI.
Kelemahan
- Tata kelola organisasi masih lemah
- Program kerja belum terukut
dengan baik, mekanisme organisasi
belum berjalan dengan optimal, dst
- Belum terjadi kesatuan gerak
langkah antar lembaga-lembaga NU
- Wibawa organisasi kalah
dibandingkan wibawa kekuatan
personal
- Godaan politisasi NU masih sangat
kuat
- Sering muncul aspirasi warga NU
yang tidak bisa diakomodasi
- Kaderisasi tidak tertangani secara
organisatoris.
Kekuatan
- Sebagai pembela NKRI
- Sebagai Islam Moderat
- Struktur organisasi yang sudah
mapan, mulai dari PBNU hingga
ranting
- Jumlah pesantren dan lembaga
pendidikan yang sangat banyak
- Mulai munculnya pembaharuan
pemikiran di kalangan anak muda
NU.

More Related Content

What's hot

Ulumul Qur'an (2)
Ulumul Qur'an (2)Ulumul Qur'an (2)
Ulumul Qur'an (2)Ibnu Ahmad
 
Presentasi Motivasi Islami - Presentasi Islam
Presentasi Motivasi Islami - Presentasi IslamPresentasi Motivasi Islami - Presentasi Islam
Presentasi Motivasi Islami - Presentasi IslamYodhia Antariksa
 
PPT perkembangan peradaban Islam masa abbasiyah
PPT perkembangan peradaban Islam masa abbasiyahPPT perkembangan peradaban Islam masa abbasiyah
PPT perkembangan peradaban Islam masa abbasiyahtriutaribismillah
 
MATERI KEORGANISASIAN KH MUHYIDIN TOHIR.ppt
MATERI KEORGANISASIAN KH MUHYIDIN TOHIR.pptMATERI KEORGANISASIAN KH MUHYIDIN TOHIR.ppt
MATERI KEORGANISASIAN KH MUHYIDIN TOHIR.pptSuhendriHendri9
 
Rijal al hadits makalah - Ulumul Hadits
Rijal al hadits makalah - Ulumul HaditsRijal al hadits makalah - Ulumul Hadits
Rijal al hadits makalah - Ulumul Haditsade orreo
 
Sejarah kebudayaan islam 7.ganjil
Sejarah kebudayaan islam 7.ganjilSejarah kebudayaan islam 7.ganjil
Sejarah kebudayaan islam 7.ganjilmbahkelip
 
Power Point 'Ulumul Qur'an
Power Point 'Ulumul Qur'anPower Point 'Ulumul Qur'an
Power Point 'Ulumul Qur'anMythaChan
 
power point akidah akhlak "berilmu"
power point akidah akhlak "berilmu"power point akidah akhlak "berilmu"
power point akidah akhlak "berilmu"avianinuravivah
 
Tugas al quran hadist power point
Tugas al quran hadist power pointTugas al quran hadist power point
Tugas al quran hadist power pointLontongSayoer
 
TAFSIR BIL MA’TSUR, TAFSIR BIR RA’YI DAN TAFSIR ISYARI
TAFSIR BIL MA’TSUR, TAFSIR BIR RA’YI DAN TAFSIR ISYARITAFSIR BIL MA’TSUR, TAFSIR BIR RA’YI DAN TAFSIR ISYARI
TAFSIR BIL MA’TSUR, TAFSIR BIR RA’YI DAN TAFSIR ISYARIarfian kurniawan
 
Makalah metode ijtihad dan macam macam ijtihad
Makalah  metode ijtihad dan macam macam ijtihadMakalah  metode ijtihad dan macam macam ijtihad
Makalah metode ijtihad dan macam macam ijtihadInternet Explorer
 
Tasyri' masa nabi Muhammad Saw
Tasyri'  masa nabi Muhammad SawTasyri'  masa nabi Muhammad Saw
Tasyri' masa nabi Muhammad SawMarhamah Saleh
 

What's hot (20)

Ulumul Qur'an (2)
Ulumul Qur'an (2)Ulumul Qur'an (2)
Ulumul Qur'an (2)
 
Presentasi Motivasi Islami - Presentasi Islam
Presentasi Motivasi Islami - Presentasi IslamPresentasi Motivasi Islami - Presentasi Islam
Presentasi Motivasi Islami - Presentasi Islam
 
PPT perkembangan peradaban Islam masa abbasiyah
PPT perkembangan peradaban Islam masa abbasiyahPPT perkembangan peradaban Islam masa abbasiyah
PPT perkembangan peradaban Islam masa abbasiyah
 
MATERI KEORGANISASIAN KH MUHYIDIN TOHIR.ppt
MATERI KEORGANISASIAN KH MUHYIDIN TOHIR.pptMATERI KEORGANISASIAN KH MUHYIDIN TOHIR.ppt
MATERI KEORGANISASIAN KH MUHYIDIN TOHIR.ppt
 
Presentasi Fiqh Zakat
Presentasi Fiqh ZakatPresentasi Fiqh Zakat
Presentasi Fiqh Zakat
 
Rijal al hadits makalah - Ulumul Hadits
Rijal al hadits makalah - Ulumul HaditsRijal al hadits makalah - Ulumul Hadits
Rijal al hadits makalah - Ulumul Hadits
 
Hasyim Asy'ari
Hasyim Asy'ariHasyim Asy'ari
Hasyim Asy'ari
 
Naskh mansukh
Naskh mansukhNaskh mansukh
Naskh mansukh
 
Sejarah kebudayaan islam 7.ganjil
Sejarah kebudayaan islam 7.ganjilSejarah kebudayaan islam 7.ganjil
Sejarah kebudayaan islam 7.ganjil
 
Power Point 'Ulumul Qur'an
Power Point 'Ulumul Qur'anPower Point 'Ulumul Qur'an
Power Point 'Ulumul Qur'an
 
power point akidah akhlak "berilmu"
power point akidah akhlak "berilmu"power point akidah akhlak "berilmu"
power point akidah akhlak "berilmu"
 
IJTIHAD
IJTIHADIJTIHAD
IJTIHAD
 
Ppt aqidah islam
Ppt aqidah islamPpt aqidah islam
Ppt aqidah islam
 
Ppt shalat jenazah
Ppt shalat jenazahPpt shalat jenazah
Ppt shalat jenazah
 
Tugas al quran hadist power point
Tugas al quran hadist power pointTugas al quran hadist power point
Tugas al quran hadist power point
 
TAFSIR BIL MA’TSUR, TAFSIR BIR RA’YI DAN TAFSIR ISYARI
TAFSIR BIL MA’TSUR, TAFSIR BIR RA’YI DAN TAFSIR ISYARITAFSIR BIL MA’TSUR, TAFSIR BIR RA’YI DAN TAFSIR ISYARI
TAFSIR BIL MA’TSUR, TAFSIR BIR RA’YI DAN TAFSIR ISYARI
 
Makalah metode ijtihad dan macam macam ijtihad
Makalah  metode ijtihad dan macam macam ijtihadMakalah  metode ijtihad dan macam macam ijtihad
Makalah metode ijtihad dan macam macam ijtihad
 
Infaq, Shodaqoh, dan Zakat
Infaq, Shodaqoh, dan ZakatInfaq, Shodaqoh, dan Zakat
Infaq, Shodaqoh, dan Zakat
 
Tasyri' masa nabi Muhammad Saw
Tasyri'  masa nabi Muhammad SawTasyri'  masa nabi Muhammad Saw
Tasyri' masa nabi Muhammad Saw
 
Al Mutazilah
Al MutazilahAl Mutazilah
Al Mutazilah
 

Viewers also liked

Presentasi aswaja nu center
Presentasi aswaja nu centerPresentasi aswaja nu center
Presentasi aswaja nu centerVisnu Candra
 
ASWAJA_MABADI KHAIRA UMMAH
ASWAJA_MABADI KHAIRA UMMAHASWAJA_MABADI KHAIRA UMMAH
ASWAJA_MABADI KHAIRA UMMAHrahman rahman
 
Aswaja as
Aswaja asAswaja as
Aswaja asmazinov
 
Rangkuman Modul Aswaja
Rangkuman Modul AswajaRangkuman Modul Aswaja
Rangkuman Modul Aswajaikmalabas
 
Aswaja kelas 7 semester 2 faham keagamaan nu bidang akidah
Aswaja kelas 7 semester 2 faham keagamaan nu bidang akidahAswaja kelas 7 semester 2 faham keagamaan nu bidang akidah
Aswaja kelas 7 semester 2 faham keagamaan nu bidang akidahTatik Suwartinah
 
ahli sunnah wal jama'ah menurut syari'ah
ahli sunnah wal jama'ah menurut syari'ahahli sunnah wal jama'ah menurut syari'ah
ahli sunnah wal jama'ah menurut syari'ahluthfil hakim
 
MATERI KE-CBP-AN
MATERI KE-CBP-ANMATERI KE-CBP-AN
MATERI KE-CBP-ANAlnur Azz
 
Ppt komorg (pmii stain kediri)
Ppt komorg (pmii stain kediri)Ppt komorg (pmii stain kediri)
Ppt komorg (pmii stain kediri)vivittuwit
 
Materi lakmud ipnu ippnu
Materi lakmud ipnu ippnuMateri lakmud ipnu ippnu
Materi lakmud ipnu ippnuIffa Munifah
 
Wawasan Aswaja
Wawasan AswajaWawasan Aswaja
Wawasan Aswajaaswajanu
 
Islam dan akulturasi budaya lokal
Islam dan akulturasi budaya lokalIslam dan akulturasi budaya lokal
Islam dan akulturasi budaya lokalAliem Masykur
 
Naskah: Dunia Orang-orang Mati
Naskah:  Dunia Orang-orang MatiNaskah:  Dunia Orang-orang Mati
Naskah: Dunia Orang-orang MatiAliem Masykur
 
Kapitalisme: Sebuah Modus Eksistensi
Kapitalisme: Sebuah Modus EksistensiKapitalisme: Sebuah Modus Eksistensi
Kapitalisme: Sebuah Modus EksistensiAliem Masykur
 
Mengungkap keimanan abi thalib
Mengungkap keimanan abi thalibMengungkap keimanan abi thalib
Mengungkap keimanan abi thalibAliem Masykur
 
Naskah: Pesta Terakhir
Naskah: Pesta TerakhirNaskah: Pesta Terakhir
Naskah: Pesta TerakhirAliem Masykur
 

Viewers also liked (20)

Presentasi aswaja nu center
Presentasi aswaja nu centerPresentasi aswaja nu center
Presentasi aswaja nu center
 
Aswaja
AswajaAswaja
Aswaja
 
ASWAJA_MABADI KHAIRA UMMAH
ASWAJA_MABADI KHAIRA UMMAHASWAJA_MABADI KHAIRA UMMAH
ASWAJA_MABADI KHAIRA UMMAH
 
Aswaja as
Aswaja asAswaja as
Aswaja as
 
Nahdlatul ulama
Nahdlatul ulamaNahdlatul ulama
Nahdlatul ulama
 
Ke – nu an
Ke – nu   anKe – nu   an
Ke – nu an
 
Rangkuman Modul Aswaja
Rangkuman Modul AswajaRangkuman Modul Aswaja
Rangkuman Modul Aswaja
 
Aswaja kelas 7 semester 2 faham keagamaan nu bidang akidah
Aswaja kelas 7 semester 2 faham keagamaan nu bidang akidahAswaja kelas 7 semester 2 faham keagamaan nu bidang akidah
Aswaja kelas 7 semester 2 faham keagamaan nu bidang akidah
 
ahli sunnah wal jama'ah menurut syari'ah
ahli sunnah wal jama'ah menurut syari'ahahli sunnah wal jama'ah menurut syari'ah
ahli sunnah wal jama'ah menurut syari'ah
 
MATERI KE-CBP-AN
MATERI KE-CBP-ANMATERI KE-CBP-AN
MATERI KE-CBP-AN
 
Ppt komorg (pmii stain kediri)
Ppt komorg (pmii stain kediri)Ppt komorg (pmii stain kediri)
Ppt komorg (pmii stain kediri)
 
Ke – nu an
Ke – nu   anKe – nu   an
Ke – nu an
 
Materi lakmud ipnu ippnu
Materi lakmud ipnu ippnuMateri lakmud ipnu ippnu
Materi lakmud ipnu ippnu
 
Wawasan Aswaja
Wawasan AswajaWawasan Aswaja
Wawasan Aswaja
 
Islam dan akulturasi budaya lokal
Islam dan akulturasi budaya lokalIslam dan akulturasi budaya lokal
Islam dan akulturasi budaya lokal
 
Naskah: Dunia Orang-orang Mati
Naskah:  Dunia Orang-orang MatiNaskah:  Dunia Orang-orang Mati
Naskah: Dunia Orang-orang Mati
 
Mantiq
MantiqMantiq
Mantiq
 
Kapitalisme: Sebuah Modus Eksistensi
Kapitalisme: Sebuah Modus EksistensiKapitalisme: Sebuah Modus Eksistensi
Kapitalisme: Sebuah Modus Eksistensi
 
Mengungkap keimanan abi thalib
Mengungkap keimanan abi thalibMengungkap keimanan abi thalib
Mengungkap keimanan abi thalib
 
Naskah: Pesta Terakhir
Naskah: Pesta TerakhirNaskah: Pesta Terakhir
Naskah: Pesta Terakhir
 

Similar to ASWAJA PMII

01 sekilas tentang ahlissunnah wal jama’ah
01 sekilas tentang ahlissunnah wal  jama’ah01 sekilas tentang ahlissunnah wal  jama’ah
01 sekilas tentang ahlissunnah wal jama’ahChamid S Nur
 
Mukadimah Aswaja.pptx
Mukadimah Aswaja.pptxMukadimah Aswaja.pptx
Mukadimah Aswaja.pptxMadibHamzawi
 
Ahlu as sunnah wal jama’ah rumi
Ahlu as sunnah wal jama’ah rumiAhlu as sunnah wal jama’ah rumi
Ahlu as sunnah wal jama’ah rumiHome
 
01 sekilas tentang ahlissunnah wal jama’ah
01 sekilas tentang ahlissunnah wal  jama’ah01 sekilas tentang ahlissunnah wal  jama’ah
01 sekilas tentang ahlissunnah wal jama’ahaliwaqiah
 
Buku saku muharrik masjid lengkap
Buku saku muharrik masjid lengkapBuku saku muharrik masjid lengkap
Buku saku muharrik masjid lengkapltmnubwi
 
Ahlussunnah wal-jama-ah-aswaja
Ahlussunnah wal-jama-ah-aswajaAhlussunnah wal-jama-ah-aswaja
Ahlussunnah wal-jama-ah-aswajaAnisah zahro
 
Salaf dan-salafiyah-secara-bahasa-1-2
Salaf dan-salafiyah-secara-bahasa-1-2Salaf dan-salafiyah-secara-bahasa-1-2
Salaf dan-salafiyah-secara-bahasa-1-2Ra Hardianto
 
Antara ahlus sunnah dan salafiyah
Antara ahlus sunnah dan salafiyahAntara ahlus sunnah dan salafiyah
Antara ahlus sunnah dan salafiyahpebriyanti
 
Ahlussunnah Wal Jama'ah
Ahlussunnah  Wal Jama'ahAhlussunnah  Wal Jama'ah
Ahlussunnah Wal Jama'ahArdian DP
 
Aqidah Ahlus Sunnah Karya Hadratush Syaikh Hasyim Asyari
Aqidah Ahlus Sunnah Karya Hadratush Syaikh Hasyim AsyariAqidah Ahlus Sunnah Karya Hadratush Syaikh Hasyim Asyari
Aqidah Ahlus Sunnah Karya Hadratush Syaikh Hasyim AsyariMas Mito
 
Ahlussunnah wal-jamaah-akidah-syariat-amaliyah-format-buku
Ahlussunnah wal-jamaah-akidah-syariat-amaliyah-format-bukuAhlussunnah wal-jamaah-akidah-syariat-amaliyah-format-buku
Ahlussunnah wal-jamaah-akidah-syariat-amaliyah-format-bukuyuzep1221
 
Sejarah munculnya-istilah-ahlus-sunnah-wal-jama-ah
Sejarah munculnya-istilah-ahlus-sunnah-wal-jama-ahSejarah munculnya-istilah-ahlus-sunnah-wal-jama-ah
Sejarah munculnya-istilah-ahlus-sunnah-wal-jama-ahRa Hardianto
 
PKD Ke-Aswaja-an 1-1.pptx
PKD Ke-Aswaja-an 1-1.pptxPKD Ke-Aswaja-an 1-1.pptx
PKD Ke-Aswaja-an 1-1.pptxHenudin1
 
A. Pengertian Aswajah.pptx
A. Pengertian Aswajah.pptxA. Pengertian Aswajah.pptx
A. Pengertian Aswajah.pptxBaharudynYusuf1
 
Langkah Awal Mengetahui Kedudukan Hadits
Langkah Awal Mengetahui Kedudukan HaditsLangkah Awal Mengetahui Kedudukan Hadits
Langkah Awal Mengetahui Kedudukan Haditszaki009
 
SEJARAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBANGUNAN INSAN DI UTHM
SEJARAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBANGUNAN INSAN DI UTHMSEJARAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBANGUNAN INSAN DI UTHM
SEJARAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBANGUNAN INSAN DI UTHMaswajanu
 

Similar to ASWAJA PMII (20)

01 sekilas tentang ahlissunnah wal jama’ah
01 sekilas tentang ahlissunnah wal  jama’ah01 sekilas tentang ahlissunnah wal  jama’ah
01 sekilas tentang ahlissunnah wal jama’ah
 
Mukadimah Aswaja.pptx
Mukadimah Aswaja.pptxMukadimah Aswaja.pptx
Mukadimah Aswaja.pptx
 
Ahlu as sunnah wal jama’ah rumi
Ahlu as sunnah wal jama’ah rumiAhlu as sunnah wal jama’ah rumi
Ahlu as sunnah wal jama’ah rumi
 
01 sekilas tentang ahlissunnah wal jama’ah
01 sekilas tentang ahlissunnah wal  jama’ah01 sekilas tentang ahlissunnah wal  jama’ah
01 sekilas tentang ahlissunnah wal jama’ah
 
Buku saku muharrik masjid lengkap
Buku saku muharrik masjid lengkapBuku saku muharrik masjid lengkap
Buku saku muharrik masjid lengkap
 
Ahlussunnah wal-jama-ah-aswaja
Ahlussunnah wal-jama-ah-aswajaAhlussunnah wal-jama-ah-aswaja
Ahlussunnah wal-jama-ah-aswaja
 
Salaf dan-salafiyah-secara-bahasa-1-2
Salaf dan-salafiyah-secara-bahasa-1-2Salaf dan-salafiyah-secara-bahasa-1-2
Salaf dan-salafiyah-secara-bahasa-1-2
 
Antara ahlus sunnah dan salafiyah
Antara ahlus sunnah dan salafiyahAntara ahlus sunnah dan salafiyah
Antara ahlus sunnah dan salafiyah
 
Ahlussunnah Wal Jama'ah
Ahlussunnah  Wal Jama'ahAhlussunnah  Wal Jama'ah
Ahlussunnah Wal Jama'ah
 
Kitab al ^aqidah-print3
Kitab al ^aqidah-print3Kitab al ^aqidah-print3
Kitab al ^aqidah-print3
 
Aqidah Ahlus Sunnah Karya Hadratush Syaikh Hasyim Asyari
Aqidah Ahlus Sunnah Karya Hadratush Syaikh Hasyim AsyariAqidah Ahlus Sunnah Karya Hadratush Syaikh Hasyim Asyari
Aqidah Ahlus Sunnah Karya Hadratush Syaikh Hasyim Asyari
 
Pengertian aswaja
Pengertian aswajaPengertian aswaja
Pengertian aswaja
 
Ahlussunnah wal-jamaah-akidah-syariat-amaliyah-format-buku
Ahlussunnah wal-jamaah-akidah-syariat-amaliyah-format-bukuAhlussunnah wal-jamaah-akidah-syariat-amaliyah-format-buku
Ahlussunnah wal-jamaah-akidah-syariat-amaliyah-format-buku
 
Aswaja Lakmud 2022 revisi.pptx
Aswaja Lakmud 2022 revisi.pptxAswaja Lakmud 2022 revisi.pptx
Aswaja Lakmud 2022 revisi.pptx
 
Jundullah said hawwa
Jundullah  said hawwaJundullah  said hawwa
Jundullah said hawwa
 
Sejarah munculnya-istilah-ahlus-sunnah-wal-jama-ah
Sejarah munculnya-istilah-ahlus-sunnah-wal-jama-ahSejarah munculnya-istilah-ahlus-sunnah-wal-jama-ah
Sejarah munculnya-istilah-ahlus-sunnah-wal-jama-ah
 
PKD Ke-Aswaja-an 1-1.pptx
PKD Ke-Aswaja-an 1-1.pptxPKD Ke-Aswaja-an 1-1.pptx
PKD Ke-Aswaja-an 1-1.pptx
 
A. Pengertian Aswajah.pptx
A. Pengertian Aswajah.pptxA. Pengertian Aswajah.pptx
A. Pengertian Aswajah.pptx
 
Langkah Awal Mengetahui Kedudukan Hadits
Langkah Awal Mengetahui Kedudukan HaditsLangkah Awal Mengetahui Kedudukan Hadits
Langkah Awal Mengetahui Kedudukan Hadits
 
SEJARAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBANGUNAN INSAN DI UTHM
SEJARAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBANGUNAN INSAN DI UTHMSEJARAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBANGUNAN INSAN DI UTHM
SEJARAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBANGUNAN INSAN DI UTHM
 

ASWAJA PMII

  • 1. 1 | s a l a m p e r g e r a k a n … Di susun oleh : MF. Abdit Tawab M dan Syarif Aziz. ‫الرحيم‬ ‫الرحمن‬ ‫هللا‬ ‫بسم‬ Ahlus sunnah Wal Jama’ah sebagai Idiologi PMII "‫أفمن‬‫أسس‬‫بنيانه‬‫على‬‫تقوى‬‫من‬‫هللا‬‫ورضوان‬‫خير‬‫أم‬‫من‬‫أسس‬‫بنيانه‬‫على‬‫شفا‬‫جرف‬‫هار‬‫فانهار‬‫به‬‫في‬‫نار‬‫جهنم‬‫وهللا‬‫ال‬ ‫يهدي‬‫القوم‬‫الظالمين‬"(At-Taubah, 109) “Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa pada Allah dan keridlaanNya itu yang baik, ataukah orang-orang yang membangun bangunannya di tepi jurang yang runtuh lalu bangunannya runtuh dengan dia jatuh ke dalam neraka jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” Taqwa menjadi pondasi dasar terbentuknya bangunan yang akan menjadi sebab hidayah dari Allah, terbentuknya sistem komunitas atau jama’ah ukhuwah antar muslim dalam mengarungi lautan kehidupan. Sesuai tujuan awal di dirikan organisasi berbasis pergerakan mahasiswa yaitu membangun ketaqwaan pada Allah SWT dan untuk kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam pardikma multi kultural dan berasaskan pancasila “Bhinneka Tunggal Ika” yang menuntut toleransi dan mewujudkan islam yang rohmatan lil ‘alamin, menjaga kestuan dan persatuan Negara Republik Indonesia dari berbagai ancaman, terkhusus idiologi persatuan. Islam lokal merupakan Islam yang lahir dan mengekspresikan Islam keindonesiaan, sedangkan Islam Transnasional merupakan Islam yang lahir dan mengekspresikan budaya luar Indonesia (Timur Tengah) khususnya pada simbol-simbol keagamaannya. Wacana Islam lokal dan Transnasional merupakan konsekuensi dari globalisasi yang mengandaikan persentuhan nilai-nilai budaya, politik, ekonomi termasuk system keyakinan yang tanpa batas antara satu Negara dengan Negara lainnya.
  • 2. 2 | s a l a m p e r g e r a k a n … Keragaman model keberagamaan ini sesungguhnya merupakan sunnatullah yang oleh Nabi Muhammad pernah diprediksi bahwa Islam akan terpecah dalam berbagai golongan (firqah). Dalam sebuah hadis ” Ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu golongan yaitu mereka yang mengikuti sunnah-sunnahku dan sahabat- sahabatku”. Hadis ini menurut imam Tirmidzi bernilai hasan. Hadis ini oleh sebagian ulama ditafsiri bahwa yang dimaksud kelompok yang selamat adalah mereka yang mengikuti Sunnah Rasulullah dan sahabatnya yang kemudian sering disebut dengan Ahlussunnah wal al-Jamaah. Oleh karena itu maka hampir semua orang muslim akan menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok Ahlussunnah wal al-Jamaah sebagai kelompok yang selamat (al-firqah al- najihah). Ahlusssunnah wa al-Jama’ah (ASWAJA) pada hakikatnya adalah ajaran Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu, secara embrional, ASWAJA sudah muncul sejak munculnya Islam itu sendiri. Hanya saja penamaan Ahlussunnah wa al- Jamaah sebagai sebuah nama kelompok tidaklah lahir pada masa Rasulullah, tetapi baru muncul pada akhir abad ke 3 Hijriyah. Dalam catatan sejarah pemikiran Islam, Al-Zabidi adalah ulama yang pertama kali mengenalkan istilah Ahlussunnah wa al-Jamaah. Beliu mengatakan “ kalau dikatakan Ahlussunnah wa al-Jamaah, maka yang dimaksud adalah kelompok ummat Islam yang mengikuti imam al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam bidang ilmu Tauhid. Namun demikian rumusan al-Zabidi di atas tentu hanya satu versi dari sebuah rumusan definisi ASWAJA di antara definisi-definisi lainnya. 1. Sejarah Munculnya Nama ASWAJA ASWAJA merupakan kependekan dari “ahlu as-sunnah wal jama’ah”. Istilah tersebut muncul dari pemahaman terhadap Firman Allah SWT dan sabda-sabda Rasulullah SAW, yang antara lain : Surat Ali imran ayat 106
  • 3. 3 | s a l a m p e r g e r a k a n … Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya(kepada mereka dikatakan): “kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman ? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu” Yang kemudian dari firman Allah tersebut Nabi memberikan penjelasan : ‫ي‬ { ‫تعالى‬ ‫قوله‬ ‫في‬ ‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫هللا‬ ‫صلى‬ ‫النبي‬ ‫عن‬ ‫عمر‬ ‫ابن‬ ‫عن‬: ‫قال‬ } ‫وجوه‬ ‫وتسود‬ ‫وجوه‬ ‫تبيض‬ ‫وم‬ ‫البدع‬ ‫أهل‬ ‫ووجه‬ ‫وتسود‬ ، ‫السنة‬ ‫أهل‬ ‫وجوه‬ ‫تبيض‬ “di riwayatkan dari Ibnu Umar dari Rosulallah SAW tentang firman Allah (pada hari bersinarnya wajah dan gelapnya wajah) bersabda : yang bersinar adalh wajah-wajah ahlus sunnah, dan yang gelap adalah wajahnya ahlu bid’ah”. ‫ق‬ ِ‫َر‬‫ت‬ْ‫ف‬َ‫ت‬َ‫و‬‫ِي‬‫ت‬َّ‫م‬‫أ‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬‫ث‬ َ‫َل‬َ‫ث‬َ‫ين‬ِ‫ع‬ْ‫ب‬َ‫س‬َ‫و‬‫ة‬َّ‫ل‬ِ‫م‬ْ‫م‬‫ه‬ُّ‫ل‬‫ك‬‫ِي‬‫ف‬ِ‫ار‬َّ‫ن‬‫ال‬َّ‫ال‬ِ‫إ‬‫ة‬َّ‫ل‬ِ‫م‬‫َة‬‫د‬ ِ‫اح‬َ‫و‬‫وا‬‫ال‬َ‫ق‬ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫و‬َ‫ِي‬‫ه‬‫ا‬َ‫ي‬َ‫ل‬‫و‬‫س‬َ‫ر‬ِ َّ‫اّلل‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬‫ا‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ن‬َ‫أ‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬‫ي‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ح‬ْ‫ص‬َ‫أ‬َ‫و‬ “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semua ada di neraka kecuali satu golongan, para Sahabat bertanya: siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: (golongan)yang mengikuti apa yang aku dan sahabatku lakukan.” (HR. Tirmidzi) َ‫م‬َ‫ظ‬ْ‫ع‬َ‫األ‬ َ‫د‬‫ا‬َ‫و‬َّ‫س‬‫ال‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬ ِ‫ار‬َّ‫ن‬‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ل‬ُ‫ك‬ ، َ‫ين‬ِ‫ع‬ْ‫ب‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ْن‬‫ي‬َ‫ت‬ْ‫ن‬ِ‫ث‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ق‬ ِ‫ر‬َ‫ت‬ْ‫ف‬َ‫ت‬ ‫ي‬ِ‫ت‬َّ‫م‬ُ‫أ‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫و‬ “Sungguh umatku akan terpecah menjadi 72 golongan, semua ada di neraka kecuali golongan mayoritas.”(HR. Abu Ya’la) Dari firman dan sabda-sabda nabi [1]. Ayyub as-Sikhtiyani Rahimahullah (wafat th. 131 H), ia berkata, “Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.” [2]. Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata: “Aku wasiatkan kalian untuk
  • 4. 4 | s a l a m p e r g e r a k a n … tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuraba’(orang yang terasing). Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” [3] [3]. Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah [4] (wafat th. 187 H) berkata: “...Berkata Ahlus Sunnah: Iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan.” [4]. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallaam Rahimahullah (hidup th. 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-Imaan [5] : “...Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, ber-tambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian...” [5]. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah [6] (hidup th. 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzhab Ahlul ‘Ilmi, Ash-habul Atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul j dan para Shahabatnya, dari semenjak zaman para Shahabat Radhiyallahu Ajmai'in hingga pada masa sekarang ini...” [6]. Imam Ibnu Jarir ath-Thabary Rahimahullah (wafat th. 310 H) berkata: “...Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah pada hari kiamat, maka itu merupakan agama yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa ahli Surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.” [7]. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawy Rahimahullah (hidup th. 239-321 H). Beliau berkata dalam muqaddimah kitab ‘aqidahnya yang masyhur (‘Aqidah Thahawiyah): “...Ini adalah penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” 2. Formulasi ASWAJA NU Sebelum menguraikan formulasi ASWAJA NU, terlebih harus diketahui pengertian “ahlu as-sunnah wal jama’ah” secara bahasa dan istilah, sehingga penjelasanya akan lebih bisa dipahami serta tidak melenceng. Kata ahlu memiliki makna antara lain; keluarga,
  • 5. 5 | s a l a m p e r g e r a k a n … pengikut, dan penganut. Sedangkan kata sunnah bermakna segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik itu berupa ucapan, perbuatan, ataupun ketetapan Beliau. Serta al-jama’ah yang bermakna golongan dimana yang dikehendaki adalah para khulafa’u ar-rosyidin (Abu bakar, Umar, Utsman, dan Ali radliallahu anhum). Dari pemaknaan ahlu as-sunnah wal jam’ah di atas, Hadrotus Syaikh KH.Hasyim As’ari yang merupkan pendiri Nahdlotul Ulama (NU) memformulasikan ASWAJA yang sangat cocok dengan prinsip-prinsip dasar umat Islam. Dimana formulasi tersebut merupakan formulasi sempurna yang sangat cocok dengan karakter Islam warna Indonesia. Formulasi tersebut bukan sembarang formulasi, akan tetapi merupakan hasil ijtihad Beliau dari berbagai madzab yang beliau pelajari kemudian munculah forulasi tersebut yang sekali lagi sangat sesuai dengan karakter Islam Indonesia. Pertimbangan-pertimbangan KH.Hasyim Asyari mengenai Islam rahmatal lil’alamin memunculkan prinsip-prinsip dasar Aswaja NU yakni tawassuth, tawazun dan tasamuh. Ketiganya muncul berdasarkan pada al-Qur’an dan Hadist, diantaranya : َ‫ك‬ِ‫ل‬َ‫ذ‬َ‫ك‬َ‫و‬ْ‫م‬‫اك‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ج‬‫ة‬َّ‫م‬‫أ‬‫ا‬‫ط‬َ‫س‬َ‫و‬‫وا‬‫ون‬‫َك‬‫ت‬ِ‫ل‬َ‫ء‬‫َا‬‫د‬َ‫ه‬‫ش‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ِ‫اس‬َّ‫ن‬‫ال‬َ‫ون‬‫ك‬َ‫ي‬َ‫و‬‫ول‬‫س‬َّ‫الر‬ْ‫م‬‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬‫ا‬‫يد‬ِ‫ه‬َ‫ش‬ Dan demikianlah aku menciptakanmu sebagai umat yang (moderat, adil), agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatanmu.” (QS: Al Baqarah 143). dimana ketiga prinsip dasar tersebut bisa ditemukan dalam koridor-koridor hukum hasil pemikiran : A. Dalam bidang fiqh  Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (80-148 M )  Imam Malik bin Anas (714-800 M)  Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (767-819 M)  Imam Ahmad bin Hanbal (781 - 855 M) B. Dalam bidang aqidah  Imam Abu Hasan al-Asy’ari (873-935 M)  Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 944 M)
  • 6. 6 | s a l a m p e r g e r a k a n … C. Dalam bidang tasawuf  Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali  Imam Abu Junaid Rumusan tersebut memiliki pertimbangan-pertimbangan antara lain : 1) Masyarakat Muslim di pulau Jawa tempo dulu memiliki pandangan dan madzhab yang sama, memiliki satu referensi dan kecenderungan yang sama. Semua masyarakat Jawa ketika itu menganut dan mengidolakan satu madzhab yakni Imam Muhammad bin Idris Al- Syafi’i dan di dalam masalah teologi atau aqidahnya mengikuti madzhab Imam Abu Hasan al ‘Asy’ari dan di bidang Tasawuf mengikuti madzhab Imam al – Ghazali dan Imam Abi al Hasan al Syadili, Rodiallahu Anhum Ajma’in”. (KH. Hasyim Asy’ari) 2) Dengan mengikuti satu madzhab tertentu akan lebih dapat terfokus pada satu nilai kebenaran yang haqiqi, lebih dapat memahami secara mendalam dan akan lebih memudahkan dalam mengimplementasikan amalan”. (KH. Hasyim Asy’ari) 3) Hendaknya kita tetap eksis berpedoman pada Al Kitab, Al Sunnah, dan apa saja yang menjadi tuntunan para Ulama, panutan umat yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal Ra. Merekalah Ulama yang Mujma ‘Alaih, sah untuk diikuti dan dilarang keluar dari madzhab madzhab mereka.” (KH. Hasyim Asy’ari) 4) Yang terpenting bahwa rumusan tersebut adalah dalam rangka mengarahkan untuk mempermudah, bukan membatasi pemikiran. 3. Ideologi ASWAJA PMII untuk NKRI Sejarah mencatat bahwa PMII merupakan turunan dari Organisasi Nahdlotul Ulama’ (NU) yang di dirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, dan beliau membuat rumusan ajaran dalam mengaplikasikan syari’ah islam di Indonesia yang multi kultural dan sosio kultural, maka dari itu tidaklah cukup kalau dalam tatanan keberagaman kemasyarakatannya hanya di lihat dari
  • 7. 7 | s a l a m p e r g e r a k a n … satu sisi sudut pandang dalam mentransfer kandungan Al-Qur’an dan Assunnah yang sifatnya sangatlah global dan statis, oleh karena itu beliau mengajarkan dan memmbuat formulasi dalam menghadapi keberagaman karakter yang ada sehingga manisnya ajaran islam dapat dirasakan setiap umat dan menunjukkan bahwa islam adalam agam yang rohmatan lil ‘alamin. Dalam pembahasan di atas telah di paparkan terkait formulasi dalam hal fiqh, tauhid/kalam, dan tasawuf oleh sang pendiri NU (KH. Hasyim A) yang mengikuti madzhab jumhuriyah yakni dalam hal furu’iyah / fiqh mengikuti Al-a’immah Al-Arba’ah dan dalam ketaudidan mengikuti jumhur umat Ahlus sunnah wal jama’ah yakni imam Asy’ari dan imam Maturidi seperti yang di sampaikan oleh syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Husainiy dalam kitab beliau: “Apabila disebutkan Ahlus sunnah Wal Jama’ah maka yang di maksud adalah pengikut madzhab Al-Asy’ari dan Al-Maturidi.”1 Dan dalam kitab Ziyadatu ta’liqot Kiyai Hasyim menyebutkan : ‫الجماع‬ ‫و‬ ‫السنة‬ ‫أهل‬ ‫إجتمعت‬ ‫قد‬‫من‬ ‫فهو‬ ‫الزمان‬ ‫هذه‬ ‫في‬ ‫األربعة‬ ‫هذه‬ ‫عن‬ ‫خارجا‬ ‫كان‬ ‫ومن‬ ,‫األربعة‬ ‫المذاهب‬ ‫في‬ ‫اليوم‬ ‫ة‬ .‫المبتدعة‬2 Maka sudah barang tentu NU menjadi Organisasi agam yang paling besar dan cepat perkembangannya menilik dari banyak pengikutnya dan kuatnya organisasi ini berdiri, dikarnakan kemoderatannya dalam idiolaogi dan fleksibel dalam hukum furu’i, hingga kini banyak pengikutnya tak terkecuali para pemuda dan pelajar di perguruan tinggi di seluruh nusantara. Para kader-kader NU yang melanjutkan jenjang pendidikan di ranah perguruan tinggi pun masih mejaga dan memperjuanguangkan idiologi ASWAJA di kampus dan universitas masing-masing. Salah satu ormas keagamaan yang kemudian menformulasikan ajaran ASWAJA sebagai dasar ajaran agamanya misalnya adalah Nahdhatul Ulama (NU). Kerangka pemahaman 1 Muhammad bin Muhammad Al-Husaini, Ithaf al-Sadah al-Muttaqin, juz 2 hal. 6 2 K.H Hasyim Asy’ari, Ziyadatu ta’liqot, hal. 23-24
  • 8. 8 | s a l a m p e r g e r a k a n … ASWAJA yang dikembangkan NU memiliki karakteristik yang khusus yang mungkin juga membedakan dengan kelompok muslim lainya yaitu bahwa ajaran ASWAJA yang dikembangkan berporos pada tiga ajaran pokok dalam Islam yang meliputi bidang aqidah, Fiqh dan Tasawwuf. Di bidang Aqidah, model yang diikuti oleh NU adalah pemikiran-pemikiran aqidah yang dikembangkan oleh Abu Hasan al-‘Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Pada bidang Fiqh, mengikuti model pemikiran dan metode istinbat hukum yang dikembangkan empat imam madzhab (aimmat al- madzahib al-arba’ah) yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan dibidang Tasawwuf mengikuti model yang dikembangkan oleh Abu Hamid al- Ghazali dan Imam Junaidi al-Baghdadi. Dari berbagai hasil telaah terhadap berbagai perkembangan pemikiran di kalangan ulama Ahlussunnah wa al-Jamah dari kelompok salafusshalih dapat dirumuskan beberapa karakteristik dasar dari ajaran agama Islam berhaluan ASWAJA sebagaimana di pahami oleh orang NU. Dalam Musyawarah Nasional di Surabaya tahun 2006, telah ditetapkan bahwa Khashaish/karakteristik doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah: 1. Fikrah tawassuthiyyah (pola pikir moderat), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap tawazun (seimbang ) dan i’tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. Nahdlatul Ulama tidak tafrith atau ifrath. 2. Fikrah tasamuhiyah (pola pikir toleran), artinya Nahdlatul Ulama dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda. 3. Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa al-ashlah). 4. Fikrah tathowwuriyah (pola pikir dinamis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan. 5. Fikrah manhajiyah (pola pikir metodologis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul Ulama.
  • 9. 9 | s a l a m p e r g e r a k a n … Pemahaman tentang paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat penting bagi warga NU, Karena Aswaja merupakan fundamen NU dalam membangun gerakan dan berkhidmat kepada umat. Dengan sendirinya seluruh metode berpikir (manhaj al-fikri) dan metode pergerakan (manhaj al-haraki) warga, terutama pengurus NU dan lembaga di bawahnya, harus merujuk kepada konsep dan semangat Aswaja. Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam pandangan NU merupakan pendekatan yang multidimensional dari sebuah gagasan konfigurasi aspek aqidah, fiqh dan tasawwuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh, masing-masing tidak terpilah dalam trikotomi yang berlawanan. Hanya saja dalam prakteknya, dimensi ajaran fiqh (hukum Islam) jauh lebih dominan dibanding dimensi yang lain. Dalam pemikiran fiqh yang dianut NU konsep hukum Allah terbagai menjadi dua besaran yaitu hukum yang bersifat iqtidha (sesuatu yang sudah ada ketentuanya secara eksplisit dalam nash) dan hukum Allah yang bersifat takhyir (belum ada ketentuan dasarnya) yang biasanya disebut ibahah. Ketentuan hukum yang secara eksplisit tidak diatur jumlahnya jauh lebih banyak dan ini merupakan wilayah hukum yang bersifat ijtihadiyah dan menjadi tugas umat Islam untuk megembangkanya dengan mendasarkan pada kaidah fiqh al-hukmu ma’al al-‘illat (hukum itu didasarkan pada ada dan tidaknya alas an hukum yang mendasarinya) dengan mendasarkan pada logika sebab akibat (causality) yang biasanya mendasarkan pada kalkulasi maslahat dan madharat. Formulasi pemahaman keagamaan NU terhadap ASWAJA yang mengikuti pola/model ulama mazdhab bukan berarti NU puas dengan situasi Jumud/stagnan yang penuh taqlid sebagaimana dituduhkan oleh kelompok “Islam Modernis”. Ide dasar pelestarian mazdhab oleh NU justeru sebagai bagian dari tanggung jawab pelestarian dan pemurnian ajaran Islam itu sendiri. Pola bermazdhab yang dikembangkan oleh NU sebagaimana hasil Musyawarah Nasional di Bandar Lampung tahun 1992 menganut dua pola yaitu bermazdhab secara qauli (tekstual) ataupun bermazdhab secara manhaji (dimensi metodologis/istinbathi). Sedangkan basis sosial warga NU adalah masyarakat muslim yang secara keagamaan pada umumnya berbasis pendidikan pesantren baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan
  • 10. 10 | s a l a m p e r g e r a k a n … walaupun sekarang ini terjadi pergeseran yang sangat signifikan pada tataran segmen warga NU dengan lahirnya alumni-alumni perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. Pergeseran warga dan basis sosial NU ini pada akhirnya mempengaruhi dinamika pemikiran keagamaan didalam tubuh NU sendiri dengan corak yang beragam. Pada umumnya perbedaan corak pemahaman keagamaan ini berporos pada dua kubu yaitu kubu yang cenderung mempertahanakan tradisi bermazdhab secara qauli (materi/tekstual) dan kubu yang mencoba mengembangkan pemahaman secara manhaji (metodologis) dengan pendekatan kontekstual yang melahirkan berbagai pemikiran alternatif. Dengan mendasarkan pada semangat inti ajaran ASWAJA tawassuth, tawazun dan tasamuh, maka strategi perjuangan/dakwah NU menuju ‘izzul islam wal muslimin lebih pada pilihan strategi pembudayaan nilai-nilai Islam. Pendekatan cultural juga bisa dimaknai upaya pembumian ajaran Islam dengan menggunakan perangkat budaya local sebagai instrumen dakwahnya dengan melakukan tranformasi social menuju ‘izzul Islam wal muslimin dengan mendasarkan pada beberapa ayat al-Qur’an yaitu: surat An-Nahl: 125, Ali Imron: 104, 110, 112, Al-Anbiya: 107. Dalam pandangan NU perjuangan pembumian syari’at Islam adalah kewajiban agama dengan memperjuangkan sesuatu yang paling mungkin dicapai, dan sesuatu yang paling mungkin dicapai adalah yang paling tepat digunakan. Dalam konteks hukum agama (bidang muamalah) berlaku prinsip apa yang disebut dengan prinsip ‘tujuan dan cara pencapaianya” (al-ghayah wa al-wasail). Selama tujuan masih tetap, maka cara pencapaiannya menjadi sesuatu yang sekunder. Tujuan hukum akan selalu tetap, tetapi cara pencapaianya bisa berubah-rubah seiring dengan dinamika zaman. Prinsip dasar yang dikembangkan NU dalam merespon arus perubahan dalam berbagai dimensi kehidupan khususnya berkaitan dengan problematika hukum kontemporer (al- waqi’iyyah al-haditsah) dan perubahan kebudayaan, NU berpegang pada kaidah “al- Muhafadhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhd bi al-jadid al-ashlah” yaitu memelihara tradisi lama yang masih baik (relevan) dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
  • 11. 11 | s a l a m p e r g e r a k a n … Proses dialektika Islam dengan budaya lokal Indonesia yang menghasilkan produk budaya sintetis merupakan suatu keniscayaan sejarah sebagai hasil dialog Islam dengan system budaya local. Lahirnya berbagai ekspresi-ekspresi ritual yang nilai instrumentalnya produk budaya lokal, sedangkan muatan materialnya bernuansa religius Islam adalah sesuatu yang wajar dan sah adanya dengan syarat akulturasi tersebut tidak menghilangkan nilai fundamental dari ajaran agama.. PMII merupakan organisasi mahasiswa dalam kontestasi memperjuangkan idiologi dan kontrol keseimbangan negara, sebagai organisasi pengayom yang mendidik dan mejadi tempat berprosesnya kader NU di tengah persaingan idiologi yang semakin merebak pasca reformasi Indonesia dengan begitu banyak aliran organisasi agama dengan corak yang bermacam-macam. Pasca perang Afganstan banyak bermunculan aliran-aliran transnasional yang mengacu pada gerakan militan yang juga masuk dan subur di Indonesia dengan demokrasinya, sehingga memudahkan pergerakannya dengan di sokong dana dari luar negeri menjadi momok bagi pemuda Nahdliyin dalam mempertahankan ke daulatan Ahlus sunnah wal jama’ah di tanah kelahiran merekan, dalam hal ini sebagai pewakilan organisasi islam lokal NU maupun PMII sanagat tertinggal dalam relasi yang berbasis internasional, karena lebih mengacu pada nation-state. Islam militan yang menginginkan negara berbasiskan agama menjadi ancaman yang serius bagi Negara dan umat islam lokal yang merupakan klompok yang berbasiskan substansif dalam menjalankan peran sebagai umat beragama dan sebagai warga negara, kedaulatan pancasila dan Negara kesatuan. Pandangan yang menyebabkan seseorang termasuk kelompok ini (militan) dapat dilihat dari pemahamannya mengenai Syari’at Islam, Khilafah Islamiyah dan Jihad sedangkan nilai-nilai islam sebagai rohmatan lil ‘alamin adalah anti terorisme, anti kekerasan, anti berlebihan dalam beragama, dan anti ekstrimisme.
  • 12. 12 | s a l a m p e r g e r a k a n … Dalam kontestasi peran ASWAJA menyelamatkan Nilai-nilai islam dan kesatuan Negara dari berbagai ancaman, peluang, kelemahan dan kekuatan yang dimiliki para Nahdliyin menghadapi meluasnya kelompok-kelompok yang menggerogoti umat dari dalam perlu pematangan dalam gerakan, sehingga butuh kesiapan dari para kader Nahdliyin dalam berbagai aspek. PETA SWOT Ancaman - Perkembangan gerakan Islam transnasional yang mulai mengancam komunitas nahdliyin - Ekspansi gerakan-gerakan sosial dan politik dalam kantong-kantong NU - Besarnya angka kemiskinan warga nahdliyin, khususnya di pedesaan - Rendahnya tingkat pendidikan serta kesehatan warga nahdliyin, khususnya di pedesaan, - Masih munculnya stigma nahdliyin sebagai kelompok tradisional Peluang - Banyaknya organisasi sosial politik yang bersedia bekerjasama demi memajukan warga nahdliyin - Banyaknya lembaga ekonomi dan bisnis yang bersedia bekerjasama - Mulai munculnya saling pengertian sesama ormas Islam berbasis nasional. - Mobilitas sosial, intelektual, ekonomi dan politik warga nahdliyin, yang ditandai dengan:  Mulai munculnya warga nahdliyin yang menduduki posisi kepemimpinan di birokrasi dan politik nasional/lokal  Mulai munculnya warga nahdliyin yang eksis dalam berbagai gerakan LSM, intelektual, dan organisasi sosial lainnya  Mulai tumbuhnya kelas pengusaha yang berasal dari warga nahdliyin.
  • 13. 13 | s a l a m p e r g e r a k a n … Dan dengan komitmen yang di pegang :  Memperkuat wawasan wathoniah (Pancasila) dan Aswaja  Memperkuat pemahaman yang benar makna jihad, khilafah islamiyah, syariat Islam  Merangkul mereka yang terlanjur menjadi pendukung terror  Langkah represif diikuti persuasif terhadap kelompok radikal termasuk langkah edukasi Peran PMII sebagai penggerak di kalangan pelajar mahasiswa Nahdliyin guna mencetak kader penyelamat umat dan masyarakat sangatlah kompleks dan benar-benar di harapkan dalam peperangan idiologi dan keutuhan NKRI. Kelemahan - Tata kelola organisasi masih lemah - Program kerja belum terukut dengan baik, mekanisme organisasi belum berjalan dengan optimal, dst - Belum terjadi kesatuan gerak langkah antar lembaga-lembaga NU - Wibawa organisasi kalah dibandingkan wibawa kekuatan personal - Godaan politisasi NU masih sangat kuat - Sering muncul aspirasi warga NU yang tidak bisa diakomodasi - Kaderisasi tidak tertangani secara organisatoris. Kekuatan - Sebagai pembela NKRI - Sebagai Islam Moderat - Struktur organisasi yang sudah mapan, mulai dari PBNU hingga ranting - Jumlah pesantren dan lembaga pendidikan yang sangat banyak - Mulai munculnya pembaharuan pemikiran di kalangan anak muda NU.