Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
01
03
table of
content
04
05
Table of Contents
Acknowledgement.........................................................................................
07
AIM | GOAL | VALUE | METHODOLOGY
09
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karuni-
aNya se-hingga kami dapat menyelesaikan laporan ...
10
1. Mahasiswa dapat mengetahui
standar-standar yang
dipakai dalam merencanakan
suatu proyek pengembangan
wilayah
2. Maha...
INTRODUCTION | OVERVIEW |
POTENTIONS | PROBLEMS
13
INTRODUCTION
Semarang merupakan kota dengan densitas tinggi karena letaknya yang
strategis. Berlokasi di Jalur Pantai U...
14
SEMARANG
Kota Semarang merupakan ibukota Propinsi
Jawa Tengah, terletak antara garis 6° 50’-
7°10’LS dan garis 109°50’-...
15
BWK III
BWK III terdiri dari 2 kecamatan yaitu Ke-
camatan Semarang Utara dan kecamatan
Semarang Barat dengan luas wila...
16
POTENTION
17
PROBLEM
18
No Program Rencana
Tahun Pelaksanaan
2012 2014 2016 2018 2020 2022 2024 2026 2028 2030
1
Pembangunan dan
pemeliharaan s...
19
4
Pengembangan Green
Riverfront Banjir Kanal
Barat
Pembuataan Tanggul di Sepanjang Sun-
gai Banjir Kanal barat untuk me...
20
7 Revitalisasi Kota Lama
Renovasi bangunan
Perbaikan jalan, pedestrian, & drainase
Penutupan jalan kendaraan bermotor
P...
21
VISION AND MISSIONS | DEMOGRAPHIC
PROJECTION | SPATIAL PLANNING | NON
SPATIAL PLANNING
022
23
FRAMEWORK
Bab ini berisi tentang visi dan misi BWK III, proyeksi penduduk, program
spasial, dan program non spasial.Vis...
24
“Menjadikan BWK 3 sebagai pusat
pelayanan jasa di Kota Semarang,
melalui pengembangan sektor
pariwisata.”
1.Mengembangk...
25
2. Program Pemandirian Masyarakat
Dengan mengusung jenis kegiatan dan
program yang sejenis dengan PNPM
Mandiri, Program...
27
ZONING | URBAN STRUCTURE |
A C C E S S A N D M O V E M E N T
|UNDERGROUND UTILITTIES|
PUBLIC FACILITIES
28
29
MAIN PLAN
Perencanaan BWK III Kota Semarang terdiri dari rencana pemanfaatan
ruang, struktur ruang, jalan, transportasi...
30
Kota Semarang terbagi dalam 16 kecamatan.
Yaitu Kecamatan Mijen, Kecamatan Banyu-
manik, Kecamatan Gunungpati, Kecamata...
31
Pola ruang yang ada direncanakan untuk
semakin memperkuat visi BWK III sebagai
wilayah jasa dan pariwisata, dimana di
s...
32
ZONING BLOK 1 ZONING BLOK 2
Blok 1 mencakup 3 kelurahan pada Kecamatan Semarang Utara, yaitu Kelurahan
Panggung kidul, ...
33
ZONING BLOK 3 ZONING BLOK 4
Blok 4 hanya mencakup 1 kelurahan di Kecamatan Semarang Utara yaitu Kelurahan Bandar-
harjo...
34
Blok 5 hanya mencakup 1 kelurahan di Kecamatan Semarang Utara, yaitu Kelurahan Tanjung
Mas. Fungsi utama pada blok ini ...
35
ZONING BLOK 7 ZONING BLOK 8
Blok 7 hanya mencakup Kelurahan Tambakharjo yang berada pada Kecamatan Semarang
Barat. Fung...
36
ZONING BLOK 9 ZONING BLOK 10
Blok 9 hanya mencakup 1 kelurahan yang ada di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Kelu-
rahan ...
37
ZONING BLOK 11 ZONING BLOK 12
Blok 11 mencakup 2 kelurahan di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Bongsari dan Ngemplak
Sim...
38
ZONING BLOK 13
Blok 13 mencakup 2 kelurahan di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Kelurahan Gisikdrono
dan Manyaran. Blok ...
39
URBAN STRUCTURE
Struktur ruang direncanakan berdasarkan
persebaran fasilitas yang ada di BWK 3, yakni
di Kecamatan Sema...
40
Rencana struktur ruang BWK III di tahun 2030
dibuat dengan merencanakan penambahan
fasilitas yang diperlukan di BWK III...
41
Jalan merupakan salah satu prasarana
penting yang harus ada di sebuah kota,
dengan adanya jalan maka akan memper-
mudah...
42
ACCESS AND MOVEMENT
BWK 3
Infrastruktur jalan merupakan magnet per-
tumbuhan suatu kota. Khususnya, di Kota
Semarang pa...
43
Stasiun Tawang, sehingga direncakan pe-
naikan kelas jalan menjadi arteri sekunder
sehubungan dengan rencana pembangu-
...
44
40 s.d. 45 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving
41 s.d. 42 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving
43 s.d. 46 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving
44 s....
45
64 s.d. 65 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving
65 s.d. 66 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving
65 s.d. 68 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 ...
46
Demi menunjang berkurangnya jumlah
penggunaan kendaraan pribadi dan
mengurangi kadar polusi, peningkatan mutu
dan kuali...
47
TRANSPORT POLICY
Perbaikan serta peningkatan mutu fisik jalan
hendaknya diikuti dengan beberapa kebija-
kan sehubungan ...
48
TRANSIT
“Sebagai penyokong system transportasi
utama di kota Semarang, BWK III dileng-
kapi dengan berbagai pendukung m...
49
selatan yang belum terdapat drainase, maka
dilakukan penambahan.
Selain penambahan drainase, dilakukan pula
penambahan ...
50
UNDERGROUND UTILITIES
Perencanaan Utilitas bawah tanah di
BWK 3 terdiri dari jaringan telepon, jarin-
gan listrik, jari...
51
INTEGRATED
UNDERGROUND FACILITIES
52
HOUSING
Rumah merupakan kebutuhan dasar bagi
semua manusia, rumah adalah wadah untuk
memenuhi physiological need , safe...
53
HEALTH
Kesehatan masyarakat merupakan faktor
penentu kesejahteraan pada pengembangan
suatu wilayah. Kebutuhan sarana ke...
54
pendidikan di BWK Pada peta rencana 2030
terlihat bahwa terdapat penambahan kuan-
titas fasilitas pendidikan, baik SD, ...
55
ECONOMIC
Sebagai salah satu pusat transaksi ekonomi,
keberadaan pasar merupakan penarik ak-
tivitas ekonomi di sekitarn...
56
GREEN OPEN SPACE
Keberadaan ruang terbuka hijau sangatlah penting bagi suatu wilayah. Selain fungsinya sebagai
tempat b...
057
KALIBANTENG FLYOVER|GREEN RIVER
FRONT WATER | KAMPUNG MELAYU |
KAMPUNG NELAYAN | KOTA LAMA |
PANTAIMARINA|SUNANKUNING
058
59
SITES PLANNING
	 Fokus perencanaan BWK III terdiri dari 7 perencanaan yaitu Kalibanteng Flyo-
ver, Green Riverfront Ban...
60
Tugu
Ngaliyan Gajah Mungkur
Candisari
Semarang Selatan
Semarang Tengah
Semarang Timur
Gayamsari
Genuk
Semarang Barat
Se...
61
PROBLEMS SOLUTIONS
Kemacetan
Kemacetan di Kalibanteng disebabkan oleh
jumlah kendaraan pribadi yang tinggi, terutama
pa...
62
Sebagai rencana awal untuk mengurangi kemacetan yang ada di kawasan Kalibanteng maka diper-
lukan pembangunan jalan lay...
63
3RD
STAGE 4TH
STAGE
Taman kota merupakan salah satu aspek pent-
ing yang harus dipenuhi sebagai wadah bagi
masyarakat u...
64
Tugu
Ngaliyan Gajah Mungkur
Candisari
Semarang Selatan
Semarang Tengah
Semarang Timur
Gayamsari
Genuk
Semarang Barat
Se...
65
1ST
STAGE 2ND
STAGE
PEMBUATAN TANGGUL
Tahapan awal dari pengembangan Banjir Kanal Barat adalah pembuatan tanggul dan pe...
66
3RD
STAGE 4TH
STAGE
PEMBUATAN KAWASAN WISATA GREEN RIVERFRONT
BANJIR KANAL BARAT
Setelah kawasan banjir kanal barat cuk...
67
KAMPUNG MELAYU
Kampung Melayu sudah dihuni sejak
1743. Saat itu sebagian besar orang yang
mendiami merupakan suku melay...
68
PEMBUATAN POLDER
Kampung Melayu sangat rentan dengan pe-
nurunan tanah dan bahaya banjir rob. Untuk
mengatasinya, dibut...
69
KAMPUNG NELAYAN
Tugu
Ngaliyan Gajah Mungkur
Candisari
Semarang Selatan
Semarang Tengah
Semarang Timur
Gayamsari
Genuk
S...
70
PROBLEMS
BANJIR ROB
Hal ini merupakan sumber masalah
paling pelik dan siklus tahunan
yang dihadapi oleh kawasan Kam-
pu...
71
Menjadikan Kampung Nelayan yang
terletak di BWK III sebagai tujuan uta-
ma pariwisata nasional maupun in-
ternasional, ...
72
1ST
STAGE 2ND
STAGE
Sebagai solusi dari permasalahan gelombang
besar dan abrasi,kedepannya akan direncana-
kan pembuata...
73
3RD
STAGE 4TH
STAGE
Setelah daerah dinilai cukup aman dari ter-
jangan gelombang atau ombak,maka yang
selanjutnya dilak...
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang

9,597 views

Published on

Disusun Oleh:
1. Muhammad Fakhrizanul Akbar - 35144
2. Nurlina Yustiningrum - 36391
3. Grace Damaris Suradi - 36522
4. Novela Millatina - 36958
5. Median Tri Widyasana - 37040
6. Rianisa Fitriani - 37343
7. Andreas Deny Christanto - 37371

Published in: Education
  • Follow the link, new dating source: ❤❤❤ http://bit.ly/2u6xbL5 ❤❤❤
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Dating for everyone is here: ❶❶❶ http://bit.ly/2u6xbL5 ❶❶❶
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here

Studio Rencana Kota; Tata Ruang BWK 3 Kota Semarang

  1. 1. 01
  2. 2. 03 table of content
  3. 3. 04
  4. 4. 05 Table of Contents Acknowledgement................................................................................................................................................09 Aim..............................................................................................................................................................................10 Goal.............................................................................................................................................................................10 Value...........................................................................................................................................................................10 Methodology...........................................................................................................................................................10 BAB 1 Introduction.............................................................................................................................................................13 Overview...................................................................................................................................................................14 Potentions.................................................................................................................................................................16 Problems....................................................................................................................................................................17 Program.....................................................................................................................................................................18 BAB 2 Vision and Mission.................................................................................................................................................24 Demographic Projection ....................................................................................................................................24 Spatial Planning......................................................................................................................................................25 Non Spatial Planning............................................................................................................................................25 BAB 3 Zoning........................................................................................................................................................................30 Urban Structure......................................................................................................................................................39 Access and Movement.........................................................................................................................................41 Public Transportation............................................................................................................................................46 Transport Policy......................................................................................................................................................47 Transit.........................................................................................................................................................................48 Drainage....................................................................................................................................................................49 Underground Utilities...........................................................................................................................................50 Public Facilities........................................................................................................................................................52 BAB 4 Kalibanteng Flyover...............................................................................................................................................60 Green Riverfront Banjir Kanal Barat.................................................................................................................64 Kampung Melayu...................................................................................................................................................67 Kampung Nelayan.................................................................................................................................................69 Kota Lama.................................................................................................................................................................75 Pantai Marina...........................................................................................................................................................79 Sunan Kuning..........................................................................................................................................................83 BAB 5 Conclusion................................................................................................................................................................89 Bibliography Appendix
  5. 5. 07 AIM | GOAL | VALUE | METHODOLOGY
  6. 6. 09 Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karuni- aNya se-hingga kami dapat menyelesaikan laporan mata kuliah studio yang ber- judul “RENCANA TATA RUANG BWK 3 KOTA SEMARANG” pada waktu yang telah ditentukan. Dalam penyusunan laporan ini kami banyak mendapatkan masu- kan dan kritik membangun dari berbagai pihak yang sangat membantu dalam mengembangkan ide-ide kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D 2. Ir. Agam Marsoyo, M.Eng., Ph.D 3. Muhammad Sani Roychansyah ST., M.Eng., D.Eng. 4. Ratna Eka Suminar, ST., M.Sc. 5. Widyasari Her Nugrahandika, ST., M.Sc. Selaku dosen pengampu mata kuliah studio yang telah ban- yak membimbing dan mengarahkan kami dalam proses penyusu- nan laporan ini. Selain itu kami juga mengucapkan terimakasih ke- pada Dinas Pemerintahan dan Perijinan Kota Semarang yang telah bekerjasama dalam memberikan data primer maupun sekunder sebagai ac- uan kami dalam merencanakan BWK 3 Kota Semarang. Selanjutnya kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman Program Studi PWK angkatan 2010 yang telah bekerjasama dengan kami sehingga hasil rencana yang telah dibuat terkoordinasi dengan baik. Kamiberharaplaporaninidapatbermanfaatbagibanyakpihakdandapat menjadi pertimbangan dalam merencanakan Kota Semarang khususnya BWK 3 di masa depan. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan, sehingga kami menerima kritik serta saran yang memban- gun untuk dapat kami aplikasikan dalam mengerjakan tugas kami selanjutnya. ACKNOWLEDGMENT
  7. 7. 10 1. Mahasiswa dapat mengetahui standar-standar yang dipakai dalam merencanakan suatu proyek pengembangan wilayah 2. Mahasiswa mampu mencipta- kan rencana tata ruang yang sesuai dengan kondisi wilayah perencanaannya 3. Mahasiswa mampu mengem- bangkan potensi yang dimiliki suatu kota dan memberikan solusi-solusi bagi permasala- han perkotaaan yang ada 4. Mengembangkan ide serta kreativitas mahasiswa dalam menata dan merencanakan kota menjadi suatu kota yang maju dan layak huni 1. khususnya BWK 3 2. Penduduk Kota Semarang beserta aktivitas kegiatannya 3. Infrastruktur dan fasilitas Kota Semarang, khususnya BWK 3 1. Dapat digunakan sebagai alternatif perencanaan Kota Semarang, khususnya BWK 3. Serta sebagai wacana bagi pemerintah, khususnya pemerintah Kota Semarang dalam perencanaan tata ruang kota 2. Sebagai referensi para perencana kota dalam mengembangkan kota-kota di Indonesia 3. Menambahpengetahuan masyarakat sehingga masyarakat dapat ikut berper- an aktif dalam merencanakan wilayah yang ditinggalinya 1. Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data prim- er didapat melalui survey lapangan beserta wawancara dengan instansi pemerintah dan penduduk Kota Se- marang, sedangkan data sekunder berupa dokumen eksisting Kota Se- marang didapat dari instansi pemer- intah, perpustakaan Kota Semarang, serta diunduh dari internet. Pen- gumpulan data dilakukan dalam 2 tahap, yaitu pada bulan Oktober 2011 dan bulan Maret 2012 selama 2 minggu secara intensif, sedangkan pengumpulan referensi dari internet terus dilakukan selama proses pem- buatan rencana. 2. Analisis Data Data tersebut kemudian terbagi menjadi 4 tema yaitu: Fisik Dasar, Kependudukan, Ekonomi, serta Sa- rana dan Prasarana. Analisis data baik analisi Kota maupun BWK dilakukan selama 3 bulan yaitu pada bulan November 2011 hingga Januari 2012. 3. Perumusan Rencana Perumusan rencana dilakukan selama 4 bulan, yaitu dari bulan Maret 2012 hingga Juni 2012 dengan berbagai ide yang muncul serta mengadaptasi beberapa perencanaan yang berhasil di kota maupun negara lain. AIM GOAL VALUE METHODOLOGY
  8. 8. INTRODUCTION | OVERVIEW | POTENTIONS | PROBLEMS
  9. 9. 13 INTRODUCTION Semarang merupakan kota dengan densitas tinggi karena letaknya yang strategis. Berlokasi di Jalur Pantai Utara, menempatkan Semarang sebagai mag- net bagi penduduk sekitar untuk singgah maupun menetap. Semarang terbagi dalam 10 BWK (Bagian Wilayah Kota) dimana tiap-tiap BWKmemilikikarakteristikberbeda.KoordinasitiapBWKmenjadidiperlukanuntuk mengatasi masalah dan mengembangkan potensi tiap BWK agar dapat meng- hasilkan rencana utuh Kota Semarang yang berkesinambungan. Perencanaan BWK 3 disusun berdasarkan kebutuhan penduduk di tahun 2030. Diantaranya ialah pembangunan fasilitas umum, fasilitas sosial, utilitas, in- frastruktur, serta perawatannya agar dapat menunjang kegiatan penduduk. Se- lain itu perencanaan pada BWK 3 ditahun 2030 juga berfokus pada pengemban- gan kawasan-kawasan potensial yang mampu mengembangkan perekonomian penduduk, salah satunya perencanaan pada Kawasan Kampoeng Nelayan.
  10. 10. 14 SEMARANG Kota Semarang merupakan ibukota Propinsi Jawa Tengah, terletak antara garis 6° 50’- 7°10’LS dan garis 109°50’- 110°35’BT, den- gan ketinggian antara 0.75 sampai 348 meter dpl sehingga beriklim tropis. Kota Semarang terdiri atas 16 kecamatan dan 177 kelurahan dengan luas wilayah 373,70 km2. Secara administrasi, Kota Semarang berba- tasan secara langsung dengan: • Sebelah Utara: Laut Jawa (dengan garis pantai sepanjang 13.6 Km) • Sebelah Selatan: Kabupaten Semarang • Sebelah Barat: Kabupaten Kendal • Sebelah Timur: Kabupaten Demak Letak Kota Semarang yang strategis dan bentang lahannya yang beraneka macam, ditambah dengan banyaknya peninggalan sejarah yang ada membuat kota ini menjadi salah satu tujuan pariwisata. Beberapa tem- pat wisata di Semarang sangat ramai dikun- jungi oleh wisatawan lokal maupun asing seperti Lawang Sewu maupun Kota Lama. Selain itu Kota Semarang menjadi tujuan pelajar-pelajar di seluruh Indonesia karena memiliki fasilitas pendidikan yang memadai dengan salah satu perguruan tinggi yang terkemuka yaitu Universitas Diponegoro. Banyaknya pusat perbelanjaan membuat kota ini juga terkenal dengan wisata belan- janya. Namun, Kota Semarang lebih dikenal dengan sebutan Kota Industri dengan banyaknya perusahaan-perusahaan serta pabrik-pabrik industri yang sebagian diantaranya memiliki skala pelayanan internasional. Banyaknya pe- rusahaan ini didukung oleh sumber daya manu- sianya yang besar yakni berjumlah 1,4 juta jiwa dengan mayoritas penduduk usia produktif. luput dari ancaman bencana alam seperti banjir, banjir rob, gerakan tanah dan longsor. Bahaya banjir dan banjir rob terutama terjadi di daerah pantai dan dataran rendah sedangkan bahaya gerakan tanah dan longsor terutama di daerah OVERVIEW
  11. 11. 15 BWK III BWK III terdiri dari 2 kecamatan yaitu Ke- camatan Semarang Utara dan kecamatan Semarang Barat dengan luas wilayah 3.361,97 ha. Kecamatan Semarang Utara memiliki 9 kelurahan, sedangkan Kecamatan Semarang Barat memiliki 16 kelurahan. Batas-batas wilayah BWK III adalah: •Sebelah Utara: Laut Jawa •Sebelah Selatan: Kecamatan Gajah Mungkur dan Kecamatan Mijen •Sebelah Barat: Kecamatan Tugu dan Keca- matan Ngalian •Sebelah Timur: Semarang Timur BWK III memiliki jumlah penduduk sebesar 287.836 jiwa dan sebagian besar benduduk bekerja pada sektor jasa. Mayoritas pen- duduk bekerja sebagai buruh karena tingkat pendidikan yang rendah. - ung datar. Kemiringan lereng berkisar 0-2 % (datar) hingga 25-40% (curam), sehingga pemanfaatan lahan beragam. Diantaranya permukiman, perdagangan dan jasa, industri hingga pertambakan. BWK III sangat prospektif untuk dikembang- kan. Namun BWK III juga memiliki ancaman bencana, yakni bencana amblesan tanah dan banjir rob. Rob merupakan permasalahan yang sangat serius. Berdasarkan pantauan Dinas PU, tingkat penurunan tanah men- capai15 cm per tahun yang berpengaruh terhadap kegiatan penduduk. Tugu Ngaliyan Gajah Mungkur Candisari Semarang Selatan Semarang Tengah Semarang Timur Gayamsari Genuk Semarang Barat Semarang Utara Tambakharjo Krapyak Kembang Arum Tawangsari Tawangmas Kalibanteng Kulon Kalibanteng Kidul Gisikdrono Bongsari Manyaran Ngemplak Simongan Bojong Salaman Salaman Mloyo Cabean Karang Ayu Krobokan Panggung Lor Panggung Kidul Bulu Lor Plombokan Kuningan Dadapsari Bandarharjo Tanjung Emas Purwosari 0 325 650 1300 m PETA ADMINISTRASI BWK III KOTA SEMARANG OVERVIEW
  12. 12. 16 POTENTION
  13. 13. 17 PROBLEM
  14. 14. 18 No Program Rencana Tahun Pelaksanaan 2012 2014 2016 2018 2020 2022 2024 2026 2028 2030 1 Pembangunan dan pemeliharaan sarana, prasarana dan infra- struktur di BWK 3 Pembangunan utilitas underground Penaikan kelas jalan Pembangunan outer ringroad Pembangunan LRT, BRT, dan Waterway Pembangunan SD, SMP, dan SMA Pembangunan rumah sakit Pembuatan RTH pada daerah-daerah permukiman 2 Pengenalan dan pro- mosi pariwisata Pembuatan signage menuju kawasan- kawasan wisata Promosi pariwisata lewat website resmi pemerintah Pembuatan peta kota sekaligus peta wisata pada ruang publik 3 Pengembangan Ka- wasan Kampung Nelayan menjadi Little Venezia Membuat tanggul (pemecah gelom- bang) Pengerukan kawasan kampong nelayan untuk dibuat kanal-kanal penampung air dari banjir rob pembagian zonasi atau bagian kawasan sesuai fungsi lahan dan bangunan pembangunan fasilitas penunjang ka- wasan wisata pembangunan area-area“green spot” pada kawasan kampong nelayan PROGRAM
  15. 15. 19 4 Pengembangan Green Riverfront Banjir Kanal Barat Pembuataan Tanggul di Sepanjang Sun- gai Banjir Kanal barat untuk mencegah abrasi Pendalaman Dasar Sungai banjir Kanal barat untuk menambah volume tampun- gan air Penanaman Pohon pada daerah pinggi- ran sungai banjir kanal barat Membuat area jogging track di sepan- jang sungai banjir kanal barat Membuat drainase, agar air tidak mele- wati atas permukaan area wisata Membuat Tempat wisata (wisata air) Pengadaan Fasilitas-fasilitas wisata seperti : gedung parker, lampu taman, lampu jalan, dsb 5 Pengembangan Ka- wasan Kalibanteng Pembangunan jalan layang Perbaikan jalur pedestrian Menambah taman kota Menggunakan panel surya sebagai sum- ber energi tambahan 6 Revitalisasi Pantai Marina Perbaikan tanggul, pengadaan pemecah ombak, dan penanaman pohon bakau Pembangunan area parkir Pengadaan lampu-lampu sebagai pen- erangan malam hari Renovasi jembatan Pengadaan wahana air seperti perahu, banana boat, spead boat Penambahan fasilitas gazebo, bangku, dan ayunan Pembangunan restoran/rumah makan, toko pakaian, toko souvenir, dan toko oleh-oleh PROGRAM
  16. 16. 20 7 Revitalisasi Kota Lama Renovasi bangunan Perbaikan jalan, pedestrian, & drainase Penutupan jalan kendaraan bermotor Pengadaan kendaraan unik bagi wisa- tawan Festival tahunan Semarang Tempoe Dulu 8 Pengembangan Ka- wasan Kampung Me- layu menjadi kawasan pariwisata Perbaikan kualitas jalan Pemeliharaan bangunan tua dan berse- jarah Pembuatan polder Penegosiasian area parkir bersama di Stasiun Poncol Penambahan street furniture 9 Pengembangan Ka- wasan Khusus Sunan Kuning Menjadikan kawasan Sunan Kuning seb- agai kawasan 20 tahun ke atas (20+) Pengawasan kesehatan secara ketat oleh pemerintah Menjadikan kawasan Sunan Kuning seb- agai kawasan wajib kondom Penyediaan program ketrampilan bagi para Wanita Tuna Susila Pengadaan program open house den- gan masyarakat luar komplek pembangunan kondominium, dan pos keamanan Penambahan elemen tambahan seperti lampu pembangunan gedung parkir penambahan ruang terbuka hijau PROGRAM
  17. 17. 21 VISION AND MISSIONS | DEMOGRAPHIC PROJECTION | SPATIAL PLANNING | NON SPATIAL PLANNING
  18. 18. 022
  19. 19. 23 FRAMEWORK Bab ini berisi tentang visi dan misi BWK III, proyeksi penduduk, program spasial, dan program non spasial.Visi dan misi BWK III berkaitan dengan pengem- bangan sektor jasa, khususnya pariwisata sebagai penggerak ekonomi BWK III. Proyeksi penduduk digunakan sebagai acuan rencana pemenuhan kebutuhan di tahun 2030. Jumlah penduduk BWK III di tahun 2030 mengalami peningkatan hingga 20% dari jumlah semula. Selanjutnya program-program dicanangkan sebagai upaya untuk mewu- judkan rencana pengembangan BWK III, meliputi program spasial dan program non spasial. Program spasial meliputi pembangunan fasilitas pelayanan publik dan infrastruktur serta program pengembangan 7 fokus perencanaan yang akan dibahas lebih lanjut pada bab 4. Perencanaan non spasial meliputi program-pro- gram peningkatan kualitas SDM yang ada di BWK III.
  20. 20. 24 “Menjadikan BWK 3 sebagai pusat pelayanan jasa di Kota Semarang, melalui pengembangan sektor pariwisata.” 1.Mengembangkan sarana, prasarana, yang saling terintegerasi dan berkelan- jutan. 2.Mengembangkan potensi pariwisata melalui pemeliharaan dan pembangu- nan sarana prasarana pendukung 3.Meningkatkan ketrampilan masyarakat untuk mendukung sektor pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan ma- syarakat melalui sektor pariwisata 4.Mengembangkan tata ruang yang humanis dan berwawasan lingkungan MISSIONS No. Kecamatan Kelurahan Jumlah Penduduk Proyeksi Geometri 2005 2006 2007 2008 2009 2015 2020 2025 2030 1 Semarang Barat Kembangarum 15,513 15,760 15,976 16,007 16,069 16,993 17,740 18,519 19,332 2 Manyaran 14,397 14,832 15,114 15,469 15,695 17,923 19,954 22,215 24,733 3 Ngemplak Simongan 11,566 11,673 11,853 12,420 12,355 13,978 15,402 16,871 18,699 4 Bongsari 14,282 14,351 14,428 14,571 14,675 15,288 15,828 16,388 16,967 5 Bojongsalaman 9,717 9,631 9,602 9,388 9,375 8,828 8,409 8,010 7,630 6 Cabean 5,108 4,079 5,039 4,996 4,952 5,393 5,786 6,208 6,660 7 Salaman Mloyo 4,906 4,918 4,857 4,809 4,823 4,647 4,518 4,392 4,269 8 Gisikdrono 19,610 20,210 20,726 20,785 20,946 23,239 25,173 27,268 29,537 9 Kalibanteng Kidul 6,370 6,307 6,334 6,374 6,292 6,264 6,220 6,177 6,134 10 Kalibanteng Kulon 7,622 7,602 7,699 7,647 7,712 7,838 7,954 8,072 8,192 11 Krapyak 7,484 7,482 7,442 7,436 7,376 7,237 7,111 6,986 6,864 12 Tambakharjo 2,083 2,118 2,512 2,603 2,710 4,296 6,197 8,937 12,890 13 Tawangsari 6,440 6,589 6,674 6,730 6,763 7,301 7,749 8,225 8,729 14 Karangayu 9,170 9,077 9,166 9,035 9,047 8,871 8,732 8,595 8,460 15 Krobokan 14,677 14,656 14,668 14,602 14,605 14,484 14,386 14,289 14,193 16 Tawang Mas 6,414 6,449 6,476 6,553 6,722 7,121 7,523 7,947 8,396 17 Semarang Utara Bululor 14,893 14,872 14,885 14,984 15,050 15281 15500 15722 15948 18 Plombokan 7,897 7,913 7,971 8,070 8,202 8,645 9,068 9,511 9,976 19 Panggung Kidul 5,533 5,468 5,420 5,411 5,417 5,224 5,088 4,955 4,826 20 Panggung Lor 14,399 14,384 14,405 14,449 14,731 15,065 15,447 15,839 16,241 21 Kuningan 13,640 13,691 13,813 13,877 13,850 14,268 14,586 14,911 15,243 22 Purwosari 8,975 8,948 9,012 9,003 9,023 9,114 9,191 9,268 9,346 23 Dadapsari 10,739 10,673 10,647 10,597 10,610 10,390 10,228 10,069 9,913 24 Bandarharjo 19,322 19,438 19,785 19,098 20,433 21,144 22,163 23,232 24,352 25 Tanjungmas 29,343 29,600 29,862 30,176 30,403 32,111 33,593 35,144 36,766 Jumlah 280,100 280,721 284,366 285,090 287,836 131,242 313,546 327,750 344,296 VISION DEMOGRAPHIC PROJECTION FRAMEWORK
  21. 21. 25 2. Program Pemandirian Masyarakat Dengan mengusung jenis kegiatan dan program yang sejenis dengan PNPM Mandiri, Program Pemandirian Masyara- kat (PPM) diharapkan mampu mencip- takan kelompok-kelompok masyarakat yang mandiri, terutama para pemilik Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pem- berian tambahan modal dan pembimb- ingan selama berjalannya program, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat BWK III. 3. Pelestarian Budaya Sebagai ibukota Jawa Tengah, Kota Semarang memiliki berbagai budaya yang selama ini dilestarikan secara turun- temurun. Seiring dengan berkembangnya teknologi maka kebudayaan asli masyarat kota Semarang semakin tergerus dengan kecanggihan jaman. Maka diperlukan perhatian khusus dalam rangka melestari- kan budaya Kota Semarang, terutama di BWK III, agar memiliki jati diri yang jelas. Maka bantuan dana dan bimbingan bagi sanggar-sanggar kesenian diharapkan penting dalam perencanaan kota, teru- tama pada pengembangan SDM. Pada BWK III mayoritas penduduk berada pada usia produktif sehingga memiliki potensi dalam pengembangan untuk mendukung kema- juan. 1. Program Pelatihan Pendukung Pariwisata Dalam rangka mendukung visi BWK III sebagai kawasan pariwisata, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai. Oleh karena itu dibutuhkan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan seperti pelatihan bahasa asing, pelatihan manajemen, dan pelatihan dasar-dasar pariwisata. NONSPATIAL PLANNING mampu membantu terselenggaranya proses pelestarian kebudayaan di BWK III. 4. Program Beasiswa Ada 2 jenis beasiswa yang akan diberikan, yaitu beasiswa bagi siswa yang ber- prestasi dan yang kedua yakni beasiswa bagi pelajar yang tidak mampu. Beasiswa ini diberikan pada pelajar SD, SMP, SMA, serta mahasiwa yang memenuhi syarat atau layak untuk mendapatkan beasiswa. 1. Membangun outer ringroad untuk mem- perlancar arus keluar masuk dari dan menuju BWK 3 2. 3. Pembangunan LRT, BRT, dan Water Way sebagai transportasi massal 4. Pembangunan jalan layang kalibanteng 5. 6. kawasan pariwisata 7. Membangun objek-objek wisata baru nelayan dan green riverwalk di sungai banjir kanal barat 8. Penaikan kelas jalan 9. Membuat iklan promosi pariwisata tempat-tempat menarik di BWK 3 10. Membangun jalur hijau pada jalur pedes- trian 11. Pengembangan dan pembangunan ruang terbuka public sebagai sarana berkumpul dan bersosialisasi SPATIAL PLANNING Hal ini dilakukan sebagai suatu upaya penyemangat pada masyarakat agar lebih giat dan bersemangat dalam menuntut ilmu, sekaligus sebagai upaya perbaikan kualitas SDM di BWK III.
  22. 22. 27 ZONING | URBAN STRUCTURE | A C C E S S A N D M O V E M E N T |UNDERGROUND UTILITTIES| PUBLIC FACILITIES
  23. 23. 28
  24. 24. 29 MAIN PLAN Perencanaan BWK III Kota Semarang terdiri dari rencana pemanfaatan ruang, struktur ruang, jalan, transportasi, drainase, serta fasilitas publik. Peman- faatan ruang di BWK III dibagi menjadi 13 blok dengan pemanfaatan sebagai fungsi-fungsi tertentu, yaitu permukiman, perdagangan dan jasa, serta kon- servasi Struktur ruang BWK III menggambarkan pola persebaran fasilitas serta pergerakan yang terjadi dan pada rencanya terdapat kenaikan orde di tahun 2030. Rencana jalan terdiri dari rencana pembangunan Outer Ringroad dan rencana penaikan kelas jalan. Rencana transportasi mencakup pembangunan moda transportasi baru yaitu Light Rail Transit (LRT), Bus Rapid Transit (BRT), dan Waterway. Perenca- naan drainase terdiri dari penambahan ruas saluran serta pembangunan kolam retensi. Selanjutnya rencana fasilitas publik yaitu penambahan fasilitas-fasilitas publik sesuai dengan proyeksi kebutuhan di tahun 2030. Fasilitas tersebut ter- diri dari fasilitas perumahan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, peribadatan, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Keseluruhan dari rencana-rencana ini sangat mem- butuhkan koordinasi antar Bagian Wilayah Kota (BWK) di Kota Semarang untuk mewujudkan rencana yang berkesinambungan.
  25. 25. 30 Kota Semarang terbagi dalam 16 kecamatan. Yaitu Kecamatan Mijen, Kecamatan Banyu- manik, Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Tembalang, Kecamatan candisari, Kecamatan Gajah Mungkur, Kecamatan Padurungan, Kecamatan Gayamsari, Kecamatan Ngaliyan, Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Selatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Semarang Timur dan Kecamatan Genuk. Masing-masing dari kecamatan ini mempun- yai fungsi utama dalam pemanfaatan ruang Kota Semarang. Pembagian pemanfaatan ruang Kota Semarang didasarkan pada batas administrasi. Pada Kota Semarang, terdapat 5 pemanfaatan ruang yang dominan. Yaitu, pendidikan, perumahan, perdagangan dan jasa, industri, dan juga konservasi dan perta- nian. Pemanfaat ruang ini didasarkan pada yang ada di Kota Semarang. Seperti pada Kecamatan Mijen, Kecamatan Gunungpati, dan juga Kecamatan Banyu- manik, yang pada dasarnya memang berada pemanfaatan ruang pada 3 kecamatan tersebut ditujukan sebagai kawasan kon- servasi dan juga budidaya pertanian. Sedan- gkan kecamatan lain seperti Kecamatan Genuk dan Kecamatan Tugu, ditujukan sebagai kawasan industri. Hal tersebut dikarenakan banyaknya industri menengah maupun kecil, menengah hingga industri beasar. Karena itu lah pemanfaatan ruang pada kecamatan-kecamatan ini ditujukan sebagai kawasan pusat industri. Sedangkan untuk seperti Kecamatan Ngaliyan, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Gajah Mungkur, Kecamatan Candisari, Kecamatan Gayamsari, dan Kecamatan Padurungan ditujukan sebagai kawasan permukiman penduduk. Hal ini dikarenakan pada kecamatan-kecamatan ini memang sebagai tempat berkembangnya perumahan-perumahan penduduk yang tinggal di Kota Semarang. Sedangkan Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Timur dan Kecamatan Semarang Selatan, berfungsi sebagai pusat dari perda- gangan dan jasa Kota Semarang. Hal ini juga dikarenakan 4 kecamatan tersebut memang sebagai pusat Kota Semarang. Pada Kecamatan Tembalang, pemanfaatan ruang nya adalah sebagai kawasan pendidi- kan. Hal itu disebabkan oleh keberadaan Uni- versitas Diponegoro. Hal ini menyebabkan pemanfaatan ruang pada kawasan tersebut sangat dominan oleh pendidikan. ZONING KOTA SEMARANG
  26. 26. 31 Pola ruang yang ada direncanakan untuk semakin memperkuat visi BWK III sebagai wilayah jasa dan pariwisata, dimana di sepanjang jalan arteri di fungsikan sebagai wilayah perdagangan dengan pemanfaatan ruang tinggi agar mempermudah masyarakat untuk mencapai daerah pertokoan dan jasa. Lantai Bangunan juga di atur di setiap wilayah, hal ini dilakukan agar pemanfaatan ruang disetiap wilayah bisa dilakukan secara optimal. Pemanfaatan ruang pada BWK III terdiri atas: · Kawasan pariwisata · Kawasan pemakaman, tambak, sepadan sungai, Taman · Kawasan perdagangan dan jasa · Kawasan perumahan · Kawasan industri dan pergudangan, dan · Pusat Transportasi ZONING BWK III Peta pemanfaaatan ruang berfungsi untuk mengetahui pemanfaatan ruang di BWK III pada tahun 2030, dengan adanya peta ini maka akan semakin mudah untuk melihat pola –pola ruang yang akan dibentuk pada tahun 2030. Pemetaan pola ruang di BWK III juga akan mempermudah masyarakat umum untuk melihat perkembangan pola ruang yang terjadi di daerah mereka, sehingga masyarakat mengetahui rencana apa yang pemerintah terapkan di daerah tersebut dan kelak diharapkan peran serta masyarakat bisa lebih besar dalam merencanakan daerah mereka. Tahun 2030 diharapkan akan menjadi ta- hun keemasan bagi BWK III dimana semua rencana jangka panjang yang telah diren- canakan akan terlaksana, salah satu target yang diharapkan akan tercapai adalah ter- ciptanya ruang terbuka hijau sebesar 30% dari seluruh luas BWK III. Ruang terbuka Hijau menjadi sangat penting untuk dipertim- bangkan karena dapat memperbaiki kualitas lingkungan di BWK III yang saat ini sangat memprihatinkan, tingkat polusi yang tinggi dan tingginya limbah rumah tangga yang di buang di badan air semakin memperburuk keadaan lingkungan di BWK III.
  27. 27. 32 ZONING BLOK 1 ZONING BLOK 2 Blok 1 mencakup 3 kelurahan pada Kecamatan Semarang Utara, yaitu Kelurahan Panggung kidul, Plombokan dan Bulu Lor. Blok ini terletak pada daerah pinggiran sungai, sehingg pada sebagian kawasan di pinggiran sungai dijadikan daerah konservasi (RTH). Akan tetapi, fungsi dominan pada Blok 1 ini adalah permukiman. Permukiman pada blok ini, memiliki KDB 75 % dan KLB 1,5. Hal ini dikarenakan pendistribusian penduduk yang relatif tinggi pada kawasan tersebut. Blok 2 hanya mencakup 1 kelurahan pada Kecamatan Semarang Utara, yaitu Kelurahan Pang- gung Lor. Blok ini terletak di bagian utara Kecamatan Semarang Utara dan berbatasan lang- sung dengan laut. Oleh karena itu, fungsi dominan pada blok ini adalah konservasi (RTH). Se- bagian blok merupakan fungsi permukiman dan mempunyai KDB 75% dan KLB 1,5, sedangkan untuk perdagangan dan jasa memiliki KDB 70 % dan KLB 3.5.
  28. 28. 33 ZONING BLOK 3 ZONING BLOK 4 Blok 4 hanya mencakup 1 kelurahan di Kecamatan Semarang Utara yaitu Kelurahan Bandar- harjo. Fungsi utama pada blok ini adalah sebagai kawasan industri serta perdagangan dan jasa. Kawasan industri memiliki KDB 70% dan KLB 2,6, sedangkan kawasan perdagangan dan jasa memiliki KDB 70 % dan KLB 3,5. Fungsi utama ini sangat dipengaruhi dengan adanya Stasiun Tawang pada blok 4 ini. Blok 3 mencakup 3 kelurahan di Kecamatan Semarang Utara, yaitu Kuningan, Purwosari, dan Dadapsari dengan fungsi utama permukiman. KDB pada blok ini adalah 70 % dan KLB 1,5. Se- bagian kecil dari blok ini digunakan sebagai kawasan perdagangan dan jasa karena terdapat Stasiun Poncol pada blok ini. Fungsi perdagangan dan jasa pada kawasan ini memiliki KDB 70 % dan KLB maksimal 3.5 yang artinya pada blok ini, bangunan perdagangan maksimal memi- liki 5 lantai.
  29. 29. 34 Blok 5 hanya mencakup 1 kelurahan di Kecamatan Semarang Utara, yaitu Kelurahan Tanjung Mas. Fungsi utama pada blok ini adalah jasa. Hal ini dikarenakan keberadaan Pelabuhan Tanjung Mas pada blok ini. Selain itu, sebagian fungsi digunakan untuk konservasi karena kawasan ini berada pada pinggiran laut yang rawan akan bencana banjir rob. ZONING BLOK 5 ZONING BLOK 6 Blok 6 mencakup 1 kelurahan di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Kelurahan Kra- pyak. Fungsi utama pada kawasan ini adalah permukiman dengan rata-rata KDB 70 % dan KLB 1,5. Fungsi perdagangan dan jasa memiliki KDBmaksimal 70 % dan KLB maksimal 3,5. Akan tetapi, sebagian dari kawasan ini tetap difungsikan sebagai kawasan konservasi. Hal ini dikarenakan lokasinya yang berdekatan dengan bandara dan rawan akan bencana banjir rob.
  30. 30. 35 ZONING BLOK 7 ZONING BLOK 8 Blok 7 hanya mencakup Kelurahan Tambakharjo yang berada pada Kecamatan Semarang Barat. Fungsi utama pada kawasan ini adalah sebagai kawasan konservasi dan dikhususkan untuk konservasi. Hal ini dikarenakan kawasan ini sangat rawan akan bencana rob. Blok 11 mencakup 2 kelurahan di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Bongsari dan Ngemplak Simon- gan. Fungsi dominan dari blok ini adalah perdagangan dan jasa serta permukiman. Selain itu terdapat fungsi industri di blok ini dengan KDB maksimal. Blok 8 mencakup 3 kelurahan yang ada di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Kelurahan Tawang Mas, Karangayu dan Krobokan. Pada blok ini fungsi dominan yang ada adalah fungsi permukiman. Akan tetapi, terdapat juga sebagian fungsi perdagangan dan jasa. Hal ini dikarenakan pada blok ini terdapat jalan-jalan utama Kota Semarang, seperti jalan arteri dan jalan kolektor yang sebagai akses menuju pusat kota. Fungsi permukiman pada blok ini memiliki KDB maksimal 70 % dan KLB 1,5, sedangkan fungsi perdagangan dan jasa memiliki KDB dan KLB maksimal masing-masing 70 % dan 3,5.
  31. 31. 36 ZONING BLOK 9 ZONING BLOK 10 Blok 9 hanya mencakup 1 kelurahan yang ada di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Kelu- rahan Tawangsari. Fungsi dominan blok ini adalah perdagangan dan jasa. Hal ini dikarena- kan blok ini dilalui oleh jalan arteri dan memiliki tempat wisata yaitu Pantai Marina. Ka- wasan perdagangan memiliki KDB maksimal 70 % dan KLB maksimal 3,5, sedangkan fungsi permukiman memiliki KDB maksimal 70 % dan KLB maksimal 1,5. Blok 5 hanya mencakup 1 kelurahan di Kecamatan Semarang Utara, yaitu Kelurahan Tanjung Mas. Fungsi utama pada blok ini adalah jasa. Hal ini dikarenakan keberadaan Pelabuhan Tanjung Mas pada blok ini. Selain itu, sebagian fungsi digunakan untuk konservasi karena kawasan ini berada pada pinggiran laut yang rawan akan bencana banjir rob.
  32. 32. 37 ZONING BLOK 11 ZONING BLOK 12 Blok 11 mencakup 2 kelurahan di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Bongsari dan Ngemplak Simongan. Fungsi dominan dari blok ini adalah perdagangan dan jasa serta permukiman. Selain itu terdapat fungsi industri di blok ini dengan KDB maksimal 70%, namun dengan 2 nilai KLB yang berbeda yaitu maksimal 1,8 dan 2,6. Hal ini dikarenakan pada blok ini terdapat industri kecil hingga industri besar. Fungsi lindung terdapat pada barat Sungai banjir Kanal Barat. Blok 12 ini mencakup 3 kelurahan di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Kelurahan Kembang Arum, Kalibanteng Kulon, dan Kalibanteng Kidul. Fungsi dominan pada blok ini adalah permukiman, sedangkan fungsi perdagangan terdapat di sebelah selatan jalan arteri primer. Hal ini dikarenakan fungsi perdagangan akan berkembang dengan keberadaaan jalan arteri primer sebagai akses mobilisasi barang maupun konsumen. Pada blok ini terdapat fungsi permukiman dengan KDB maksimal 75% dan KLB maksimal 3,5.
  33. 33. 38 ZONING BLOK 13 Blok 13 mencakup 2 kelurahan di Kecamatan Semarang Barat, yaitu Kelurahan Gisikdrono dan Manyaran. Blok ini hanya memiliki satu fungsi yaitu permukiman. Terdapat 2 jenis fungsi permukiman, yang pertama permukiman dengan KDB maksimal 70% dan KLB maksimal 1,5 dan yang kedua permukiman dengan KDB maksimal 75% dan KLB maksimal 3,5. Hal ini dikarenakan pada blok ini telah berkembang permukiman dan terdapat beberapa peruma- han sehingga untuk rencana BWK III tahun 2030 pun blok ini dikembangkan dan ditetapkan sebagai fungsi permukiman.
  34. 34. 39 URBAN STRUCTURE Struktur ruang direncanakan berdasarkan persebaran fasilitas yang ada di BWK 3, yakni di Kecamatan Semarang Barat dan Kecamat- an Semarang Utara. Terdapat berbagai fasilitas yang tersebar di tiap kelurahan yang berada dalam wilayah administrasi BWK III, fasilitas tersebut antara lain: • Fasilitas peribadatan yang terdiri dari mas- jid, gereja, dan pura • Fasilitas pendidikan yang terdiri dari SD, SMP, dan SMA • Fasilitas ekonomi yaitu pasar • Fasilitas kesehatan yaitu puskesmas • Fasilitas transportasi yang terdiri dari sta- siun, bandara, dan pelabuhan, serta fasili- tas lainnya. Dari peta tersebut dapat dilihat persebaran serta skala pelayanan tiap fasilitas yang ada di BWK III. Fasilitas masjid, gereja, pura, SD, puskesmas, dan sebagian besar pasar me- miliki skala pelayanan lokal, sedangkan SMP, SMA, dan beberapa pasar yang ada memiliki skala pelayanan kota, sedangkan fasilitas transportasi memiliki skala pelayanan na- sional. Selain itu dapat juga dilihat konsentrasi persebaran fasilitas yang ada pada tiap kelu- rahan, dimana persebaran terpusat pada Ke- lurahan Gisikdrono di Kecamatan Semarang Barat dan Kelurahan Tanjung Mas di Kecama- tan Semarang Utara. Kelurahan Tambakharjo memiliki jumlah fasilitas yang paling sedikit dibandingkan kelurahan lainnya karena daer- ahnya yang sebagian besar dimanfaatkan sebagai tambak ikan. Kuantitas fasilitas tersebut di tiap-tiap kelu- rahan digunakan untuk membuat struktur ruang yang dihitung dengan skalogram. Se- makin lengkap fasilitasnya dan semakin luas cakupan wilayahnya maka suatu kelurahan akan menempati orde yang semakin tinggi. Namun penentuan struktur ruang bukan hanya dilihat berdasarkan distribusi fasilitas, melainkan juga dari aspek kependudukan seperti jumlah penduduk, kepadatan pen- duduk, serta laju pertumbuhan penduduk. Semakin banyak jumlah penduduk, semakin tinggi kepadatannya, dan semakin tinggi laju pertumbuhannya maka suatu kelurahan akan menempati orde yang semakin tinggi pula. Bagaimana persebaran fasilitas dapat mem- pengaruhi struktur ruang dapat dilihat pada peta di samping. Orde 1 yakni hirarki yang paling tinggi ditempati oleh Kelurahan Gisik- drono dan Kelurahan Tanjung Mas. Kedua kelurahan tersebut mampu melayani kelu- rahan-kelurahan dengan orde 2 dan orde 3, yakni kelurahan dengan hirarki di bawahnya, seperti Kelurahan Kembang Arum, Manyaran, Krapyak, dan yang lainnya. Arah panah men- unjukkan bagaimana pemusatan pelayanan yang ada di BWK III, yakni dari orde 3 ke orde 2 kemudian menuju orde 1. Hal ini menunjukkan apabila pada kelura- han dengan orde rendah masih kekurangan dalam penggunaan fasilitasnya maka dapat bermobilisasi ke orde-orde di atasnya den- gan jarak yang terdekat, seperti dari Kelura- han Tambakharjo menuju Kelurahan Gisik- drono. 2009 1 2
  35. 35. 40 Rencana struktur ruang BWK III di tahun 2030 dibuat dengan merencanakan penambahan fasilitas yang diperlukan di BWK III dalam meng- hadapi kemungkinan pertambahan penduduk yang akan terjadi. Penambahan fasilitas ini did- istribusikan sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap kelurahan yang ada di BWK III. Dari peta terlihat adanya pertambahan titik-titik fasilitas, baik fasilitas pendidikan, kesehatan, ekonomi, peribadatan, maupun transportasi. Rencana penambahan titik-titik fasilitas ini berdasarkan hasil proyeksi penduduk BWK III tahun 2030 dan kekurangan fasilitas untuk melayani kebutuhan penduduk. Namun, dalam memenuhi kebutuhan penduduk bukan hanya dengan menambah titik fasilitas tetapi juga memperbesar atau mengembangkan fasilitas yang sudah ada secara vertikal. Fasilitas yang ditambahkan dan dibangun secara vertikal antara lain fasilitas pendidikan serta fasilitas transportasi. Tidak ada penambahan untuk fasilitas peribadatan, pasar, puskesmas, stasiun kereta api, bandara, dan pelabuhan karena dari hasil proyeksi tidak membutuhkan tambahan fasilitas ini. Bukan berarti fasilitas- fasilitas ini tidak dikembangkan, perencanaan pengembangannya yakni melalui peningkatan kualitas layanan. URBAN STRUCTURE BWK III tidak memiliki fasilitas rumah sakit di tahun 2009, untuk itu direncanakan pem- bangunan sebuah rumah sakit di Kelurahan Karangayu pada tahun 2030 untuk melayani penduduk di dalamnya. Penambahan fasilitas transportasi sangat terlihat karena adanya pembangunan halte BRT, LRT, dan water way di sepanjang sungai banjir kanal barat den- gan skala pelayanan kota. Dari rencana penambahan fasilitas di BWK III pada tahun 2030, maka rencana struktur ruang BWK III yang sangat berkaitan dengan fasilitas pun mengalami perubahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta di atas. Bila dibandingkan dengan struktur ruang tahun 2009, maka rencana struktur ruang tahun 2030 hanya mengalami sedikit perubahan yaitu hirarki Kelurahan Tawang- sari naik dari orde 3 menjadi orde 2. Hal ini dikarenakan adanya rencana penambahan fasilitas transportasi, pendidikan, serta revi- talisasi Pantai Marina sehingga dapat men- jadi kelurahan yang ramai dikunjungi. Oleh karena perubahan orde ini maka terjadi pe- rubahan pada arah panah pelayanan, yakni dari Kelurahan Tawangsari menuju Kelurahan Gisikdrono dan dari Kelurahan Tawangmas menuju Kelurahan Tawangsari. 2030 43 1. 2. 3. 4. Peta Struktur Ruang Tahun 2009 Berdasarkan Sebaran Fasilitas Peta Struktur Ruang Tahun 2009 Berdasarkan Perhitungan Skalogram Peta Rencana Struktur Ruang Tahun 2030 Berdasarkan Sebaran Fasilitas Peta Rencana Struktur Ruang Tahun 2030 Berdasarkan Perhitungan Skalogram
  36. 36. 41 Jalan merupakan salah satu prasarana penting yang harus ada di sebuah kota, dengan adanya jalan maka akan memper- mudah pergerakan manusia ataupun barang dari titik satu ke titik lainnya. Akses jalan yang mudah juga menggambarkan tingkat kemajuan dari suatu wilayah, apabila suatu wilayah memiliki akses jalan yang berkualitas baik maka wilah tersebut pasti merupakan wilayah yang tergolong maju. Jalan sangat dibutuhkan untuk memacu perkembangan sebuah wilayah, pembangunan jalan akan memberikan multiplier effect yang besar kepada wilayah tersebut. Kualitas jalan yang ada di Kota Semarang tergolong cukup baik meskipun di beberapa wilayah masih terdapat beberapa ruas jalan yang rusak akibat penggunaan yang berlebihan dan banjir rob. Sebaran kelas jalan yang ada di Kota Semarang juga ter- golong cukup merata, mulai dari kelas jalan lokal hingga kelas jalan arteri primer ada di Kota Semarang. Beberapa jalan yang ada di Kota Semarang juga direncanakan secara bertahap untuk dinaikkan kelas jalannya agar mengoptimalkan fungsi jalan tersebut. Pembangunan beberapa ruas jalan baru seperti inner, middle, dan outer ringroad diharapkan mampu memacu perkembangan Kota Semarang dan semakin memperlancar akses yang ada di Kota Semarang, sehingga kelak Kota Semarang bisa menjadi salah satu kota terbaik yang ada di Indonesia. Kota Semarang juga di harapkan mampu menjadi kota yang ramah terhadap seluruh penduduknya. ACCESS AND MOVEMENT KOTA SEMARANG
  37. 37. 42 ACCESS AND MOVEMENT BWK 3 Infrastruktur jalan merupakan magnet per- tumbuhan suatu kota. Khususnya, di Kota Semarang pada BWK III, dimana perkem- bangan ekonomi berhubungan erat dengan pelayanan jasa transportasi. Perkembangan ekonomi yang terus mening- kat namun tidak dibarengi dengan pemban- gunan sarana prasarana akan menyebabkan ketimpangan. Salah satunya pada prasarana jalan. Kondisi eksisting jalan pada tahun 2010 diperkirakan tidak akan mampu me- nampung kebutuhan seluruh masyarakat BWK III pada tahun 2030. 1. Arteri Primer Jalan arteri primer merupakan jalan yang secara efisien menghubungkan antar pusat kegiatan nasional atau antara pusat kegiatan wilayah. Dapat dilihat bahwa ruang jalan 12 – 15 adalah jalan arteri primer yang merupakan bagian dari Jalur Pantura. Namun kenyataannya Jalur Pantura yang melintasi BWK III melewati kawasan pusat kota membawa masalah tersendiri yaitu kemacetan serta rusaknya jalan aki- bat ketidaksesuaian beban jalan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diren- canakanlah Outer Ringroad, pada ruas 23-25, yang langsung terhubung dengan Kecamatan Tugu tanpa perlu melewati pusat kota. Outer Ringroad dimaksudkan bagi kendaraan yang hanya melewati Kota Semarang untuk mencapai kota-kota lainnya, seperti Jakarta atau Surabaya. Dikarenakan beban jalan di arteri primer yang begitu tinggi, maka perkerasan beton menjadi jenis perkerasan jalan yang paling sesuai. Dan untuk mencegah kerusakan jalan akibat beban kendaraan, maka setiap gedung atau bangunan yang berada di pinggir arteri primer wajib menyediakan halaman parkir dan kendaraan dilarang parkir menggunakan badan jalan. 2. Arteri Sekunder Keberadaan BWK III yang berbatasan dengan pusat administrasi Kota Sema- rang, yaitu Kecamatan Semarang Tengah dan Semarang Selatan, menjadikan BWK III membutuhkan jaringan jalan dengan kelas arteri sekunder. Jalan arteri sekunder itu sendiri adalah jalan yang meng hubungkan awasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua (PP No. 26 Th. 1985). Ruas jalan 1-13, menghubungkan antara Bundaran Kalibanteng menuju pusat kota, sehingga sesuai apabila memiliki kelas jalan arteri sekunder. Data eksisting menyebutkan ruas jalan 13-17 merupak- an jalan lokal, tapi dapat kita lihat bahwa ruas jalan tersebut merupakan jalan menuju stasiun utama di Kota Semarang,
  38. 38. 43 Stasiun Tawang, sehingga direncakan pe- naikan kelas jalan menjadi arteri sekunder sehubungan dengan rencana pembangu- nan Inner Ringroad Kota Semarang. Pada ruas 1-107, kelas jalan yang semula kolektor sekunder berubah menjadi arteri sekunder, karena pada ruas jalan terse- but terdapat Klenteng Sam Poo Kong yang pada tahun 2030 nanti diharapkan mampu menjadi salah satu tujuan wisata utama di kota Semarang. Lain lagi dengan ruas jalan 1-102, posisinya di tahun 2010 sebagai jalan lokal akan berubah menjadi arteri sekunder, dikarenakan ruas jalan tersebut penghubung antara Kecamatan Semarang Barat dan Kecamatan Gajah Mungkur 3. Kolektor Sekunder Jalan kolektor sekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder ke-satu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan sekunder kedua (PP No 26 Th 1985). Salah satunya adalah ruas jalan 68-8, ruas jalan tersebut merupakan penghubung antara pusat komersil BWK III dengan PRPP yang merupakan perhelatan akbar Kota Semarang tiap tahunnya. Penaikan kelas jalan dari lokal menjadi kolektor sekunder diharapkan mampu menam- pung beban jalan yang semakin bertam- bah di kemudian harinya. Lain halnya dengan ruas jalan 8-25, jalan yang semula memiliki kelas jalan lokal ini, pada tahun 2030 dinaikan kelasnya men- jadi kolektor sekunder yang berfungsi sebagai jalur alternative menuju pelabu- han, mengantisipasi banyaknya kenda- raan yang akan menuju pelabuhan. 4. Lokal Jalan lokal adalah jalan yang secara efisien menghubungkan pusat kegiatan nasional dengan persil atau pusat keg- iatan di bawahnya sampai persil. Jalan lokal yang ada di BWK III dapat dilihat dalam tabel dimana jumlah jalan lokal yang ada di BWK III menduduki posisi mayoritas. Pada tahun 2030, diharapkan jalan lokal di BWK III menggunakan per- kerasan paving, agar dapat membantu proses penyerapan air dan mengurangi run off. 5. Tol Di BWK III terdapat pula jalan tol atau yang biasa disebut jalan bebas ham- batan. Tidak banyak perubahan berarti pada jalan tol, dikarenakan kondisinya yang masih cukup baik. Namun diperlu- kan perawatan secara rutin sehubungan dengan keberadaan jalan tol ini. Notasi Kelas Jalan Rumaja Rumija Ruwasja Perkerasan Jalan 1 s.d. 2 Arteri Sekunder 17, 5 M 27, 5 m 29, 5 m Aspal 1 s.d. 3 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 1 s.d. 85 Kolektor Primer 15, 5 m 25, 5 m 25, 5 m Aspal 1 s.d. 94 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 1 s.d. 97 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 1 s.d. 118 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 2 s.d. 3 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 2 s.d. 4 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 2 s.d. 117 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 3 s.d. 66 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 4 s.d. 5 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 4 s.d. 66 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 4 s.d. 116 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 5 s.d. 6 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 5 s.d. 7 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 6 s.d. 9 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 6 s.d. 67 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 7 s.d. 8 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 7 s.d. 113 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 8 s.d. 9 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 8 s.d. 11 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 8 s.d. 112 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 9 s.d. 10 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 9 s.d. 65 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 10 s.d. 11 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 10 s.d. 14 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 10 s.d. 64 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 11 s.d. 12 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 11 s.d. 110 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 12 s.d. 13 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 13 s.d.14 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 13 s.d. 51 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 13 s.d. 109 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 14 s.d. 10 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 14 s.d. 15 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal ACCESS AND MOVEMENT BWK 3 ROAD NOTATION
  39. 39. 44 40 s.d. 45 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 41 s.d. 42 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 43 s.d. 46 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 44 s.d. 55 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 44 s.d. 58 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 45 s.d. 46 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 46 s.d 48 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 46 s.d. 56 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 46 s.d. 48 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 46 s.d. 56 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 47 s.d. 45 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 47 s.d. 48 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 48 s.d. 53 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 49 s.d. 50 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 50 s.d. 53 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 51 s.d. 52 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 51 s.d. 64 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 52 s.d. 54 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 52 s.d. 63 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 53 s.d. 56 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 54 s.d. 55 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 54 s.d. 62 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 55 s.d. 57 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 55 s.d. 60 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 57 s.d. 59 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 58 s.d. 59 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Aspal 58 s.d. 74 Outer Ringroad 29 m 39 m 45 m Beton 59 s.d. 60 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 60 s.d. 68 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 60 s.d. 71 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 61 s.d. 62 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 62 s.d. 68 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 63 s.d. 62 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 63 s.d. 64 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 63 s.d. 68 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 14 s.d. 50 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 15 s.d. 16 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 15 s.d. 49 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 16 s.d. 17 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 16 s.d. 37 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 17 s.d. 18 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 17 s.d. 36 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 18 s.d. 19 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 18 s.d. 20 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 19 s.d. 21 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 19 s.d. 25 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 20 s.d. 21 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 21 s.d. 23 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 22 s.d. 23 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 23 s.d. 24 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 23 s.d. 25 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 25 s.d. 26 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 26 s.d. 27 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 26 s.d. 28 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 26 s.d. 29 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 28 s.d. 39 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 30 s.d. 29 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 31 s.d. 30 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 31 s.d. 37 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 32 s.d. 28 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 32 s.d. 33 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 34 s.d. 33 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 34 s.d. 35 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 34 s.d. 38 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 35 s.d. 47 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 38 s.d. 34 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 38 s.d. 39 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 38 s.d. 45 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 39 s.d. 40 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 40 s.d. 41 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton ROAD NOTATION
  40. 40. 45 64 s.d. 65 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 65 s.d. 66 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 65 s.d. 68 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 66 s.d. 67 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 66 s.d. 81 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 67 s.d. 68 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 67 s.d. 69 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 69 s.d. 70 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 69 s.d. 80 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 70 s.d. 72 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 70 s.d. 79 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 71 s.d. 72 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 71 s.d. 74 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 72 s.d. 73 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 72 s.d. 78 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 74 s.d. 75 Outer Ringroad 29 m 39 m 45 m Beton 75 s.d. 76 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 75 s.d. 77 Outer Ringroad 29 m 39 m 45 m Beton 78 s.d. 79 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 79 s.d. 80 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 79 s.d. 84 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 80 s.d. 81 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 81 s.d. 82 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 83 s.d. 84 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 86 s.d. 87 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 87 s.d. 88 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 88 s.d. 89 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 89 s.d. 93 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 90 s.d. 91 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 91 s.d. 82 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 91 s.d. 95 Tol       Beton 92 s.d. 93 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 92 s.d. 96 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 93 s.d. 94 Arteri Primer 22 m 32 m 38 m Beton 95 s.d. 98 Tol       Beton 97 s.d. 98 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 98 s.d. 99 Tol       Beton 99 s.d. 100 Tol       Beton 99 s.d. 101 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 100 s.d. 101 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 101 s.d. 102 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 102 s.d. 104 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 102 s.d. 107 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 103 s.d. 104 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 104 s.d. 106 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 106 s.d. 105 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 106 s.d. 116 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 106 s.d. 118 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 107 s.d. 108 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 107 s.d. 109 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 108 s.d. 111 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 108 s.d. 116 Arteri Sekunder 7 m 10 m 11 m Aspal 109 s.d. 110 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 110 s.d. 111 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 111 s.d. 112 Kolektor Sekunder 13, 5 m 23, 5 m 23, 5 m Aspal 111 s.d. 114 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 112 s.d. 113 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 113 s.d. 114 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 114 s.d. 105 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 114 s.d. 115 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 115 s.d. 116 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 116 s.d. 105 Lokal 7 m 10 m 11 m Paving 116 s.d. 117 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal 117 s.d. 118 Arteri Sekunder 17, 5 m 27, 5 m 29, 5 m Aspal ROAD NOTATION
  41. 41. 46 Demi menunjang berkurangnya jumlah penggunaan kendaraan pribadi dan mengurangi kadar polusi, peningkatan mutu dan kualitas transportasi publik memegang peranan penting. Penambahan moda trans- portasi juga diharapkan mampu mengurangi kemacetan dan polusi lingkungan. 1. Bus Rapid Transit Di beberapa negara maju, BRT sudah men- jadi bagian dari sistem transportasi publik mereka. Sebagai salah satu penyedia trans- portasi publik yang mampu mengang- kut banyak orang dan biaya yang masih terjangkau. Kota Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia sudah mulai mengembangkan BRT yang bernama Trans Semarang. Namun keberadaan Trans Semarang cend- erung mengikuti tren semata, dikarenakan jam operasi serta armada yang jumlahnya masih kurang jelas dan cenderung tidak tepat waktu. Ditambah lagi armada Trans Semarang berupa bus besar yang kadang tidak sesuai dengan kondisi beberapa ruas jalan. Keberadaan embrio BRT yang juga mele- wati BWK III merupakan salah satu potensi yang dapat dioptimalikan. Penyesuain jalur, sehubungan dengan moda transpor- tasi lain diharapkan mampu terintegrasi dan mengurangi jumlah kendaraan pribadi baik di BWK III maupun Kota Semarang. Pada tahun 2015, akan mulai dibangun halte-halte tambahan yang letaknya dapat dilihat pada peta, dan lokasinya tersebar pada tempat-tempat strategis di BWK III. Halte-halte ini juga akan dilengkapi dengan Intelligent Transport System (ITS) PUBLIC TRANSPORTATION 3. Waterway Banjir Kanal Barat merupakan salah satu aliran air yang memiliki banyak fungsi. Jika dilihat dari fungsi tradisionalnya sebagai sistem transportasi, BKB juga memiliki per- anan sebagai: • Agen perubahan dan katalisator dalam sektor ekonomi, ekonomi, dan regener- asi sosial di urban dan rural area. • Pasukan air, perpindahan, dan drainase. yang berisi informasi berguna bagi para penumpang, seperti jadwal kedatangan masing-masing bus yang akan segera terbaharui apabila terjadi kemacetan atau hambatan di jalan. Jenis armada yang digunakan juga akan lebih menyesuaikan dengan lebar ruas jalan di Kota Semarang, dengan menggunakan bus berkapasitas besar. Nantinya, sistem pembayaran akan dikena- kan di badan bus dan bukan di halte, menggunakan sejenis smart card. Sehing- ga halte bus tidak harusberbentuk seperti halte-halte pada umumnya, namun seperti tempat pemberhentian kilat. Sehingga mampu mencapai semua titik strategis dan mengurangi biaya pembangunan halte. 2. Mass Rapid Transit (MRT) Mass Rapid Transit (MRT) merupakan moda transportasi public yang memiliki jalur tetap / berada dalam rel. MRT berkontri- busi dalam meningkatkan ekonomi perko- taan, dikarenakan MTR mereduksi travel cost dan mendukung aktivitas-aktivitas yang ada di pusat kota. Apalagi di BWK III sudah tersedia dua jalur rel yang dapat di- gunakan untuk membangun MRT dengan biaya yang tidak begitu besar. Nantinya pada tahun 2025, MRT di kota Semarang, khususnya di BWK III berupa rail metro dengan kapasitas maksimum 35.000 orang. Dengan kecepatan rata-rata 50km/ jam, keberadaan MRT dapat mereduksi tingkat kemacetan di BWK III. Setiap stasi- un MRT akan dilengkapi dengan informasi yang dibutuhkan penumpang, Intelligent Transport System (ITS), seperti jadwal ke- datangan dan keberangkatan MRT. • Pariwisata, budaya, olahraga, dan pusat re- kreasi. • Ruang terbuka, sumber ekologi. Moda transportasi yang berkelanjutan sehingga dicanangkanlah waterway dalam menun- jang sarana transportasi yang terintegrasi. Waterway teritegrasi dengan bebrapa sara- na yaitu BRT dan MRT, sehingga diharapkan mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan mengurangi kadar polusi udara.
  42. 42. 47 TRANSPORT POLICY Perbaikan serta peningkatan mutu fisik jalan hendaknya diikuti dengan beberapa kebija- kan sehubungan dengan mengurangi arus kendaraan dan pemaksimalan transportasi publik, karena peraturan-peraturan terkait kebijakan mengenai transportasi memegang peranan yang sangat penting. Klasifikasi Fungsi Separate NMT Facilities Segregated Bus Facilities Percentage of street kilometers Typical design speed Motor vehicle parking Jalur Pedestrian Keamanan pejalan kaki Ya Tidak - - Dilarang Jalur Sepeda Keamanan sirkulasi pengguna sepeda Ya Tidak - - Dilarang Jalan Lokal Tanah dan property aset Di pinggir jalan Tidak dibutuhkan 60-80 30-40km/h Diperbolehkan Jalan Kolektor Menghubungkan jalan lokal dan arteri Biasanya dibu- tuhkan di pinggir jalan Tidak dibutuhkan 5-10 40-50 km/h Terbatas Jalan Arteri Pergerakan kota dan intercommu- nity Ya Ya 15-30 50-75 km/h Dilarang Jalan Tol Jalan bebas ham- batan Tidak ada Ya - Dilarang 1. Smart Parking Pembangunan gedung-gedung parkir di beberapa titik strategis, terutama di titik persimpangan dan penggantian moda transportasi, dari pribadi ke publik, dileng- kapi dengan teknologi canggih yang akan memudahkan penggunanya. Di setiap pintu masuk tertera informasi dimana letak ruang parkir yang masih kosong, lengkap dengan denah, petunjuk lantai, dan nomor parkir. Ketika keluar, pengguna akan membayar sesuai dengan jangka waktu penggunaan dalam rentang waktu per 5 jam. 2. Integrated Transport Hubs Dengan adanya beraneka ragam moda transportai publiK seperti LRT, BRT, dan Waterway. Terminal ganti atau interchange merupakan sesuatu hal yang wajib ada. Pada tahun 2015, diharapkan sudah ada embrio-embrio interchanges. Dimana pada masing-masing stasiun ganti, dileng- kapi dengan fasilitas yang mendukung kenyamanan penggunanya seperi AC, gedung parkir, maupun kawasan perda- gangan di sekitarnya. Keberadaan Interchange akan membang- kitkan ekonomi lokal, terutama perda- gangan. Sistem pembayaran transportasi massal akan menggunakan smartcard yang dapat digunakan untuk BRT, LRT, waterway, parkir dan jalan tol. Non - Motorised Transport Classification
  43. 43. 48 TRANSIT “Sebagai penyokong system transportasi utama di kota Semarang, BWK III dileng- kapi dengan berbagai pendukung moda transportasi. Mau tidak mau orang-orang yang akan meninggalkan atau mendatan- gi kota Semarang, pasti akan melalui BWK III. Dilengkapi dengan Stasiun, Pelabuhan, dan Bandara menjadikan BWK III sebagai pusat transit kota Semarang.” 1. Stasiun Salah satu moda transportasi yang ada di BWK III adalah kereta api, hal ini sehubungan dengan adanya Stasiun Tawang yang berada dikelurahan Tanjung Mas, kecamatan Sema- rang Utara. Stasiun Tawang menghubungkan kota Semarang dengan kota-kota lainnya melalui jalan darat. Stasiun yang dibangung pada masa penjajahan Belanda merupakan stasiun utama di kota semarang yang khusus melayani kereta api kelas eksekutif dan bisnis. Sedangkan untuk kereta api kelas bisnis akan berhenti di stasiun Poncol yang berada di kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara. Stasiun yang dibangun pada awal abad 19 ini memiliki suatu keunikan yaitu memiliki ketinggian yang lebih rendah dari permu- kaan laut. Sehingga tak jarang stasiun poncol tergenang banjir rob yang cukup menyulitkan para calon penumpang. Maka perencanaan drainase yang baik menjadi dasar utama pengoptimalisasian fungsi stasiun dan meng- hindari bahaya banjir. 2. Pelabuhan BWK III kota Semarang tidak hanya dilengkapi dengan stasiun maupun bandara, tetapi juga pelabuhan. Pelabuhan Tanjung Mas yang berada di kecamatan Semarang Utara meru- pakan pelabuhan inti di Jawa tengah. Sebagai pelabuhan provinsi, pelabuhan tanjung mas menjadi pusat datangnya barang-barang yang menggunakan transportasi air dalam lingkup jawa tengah dan sekitarnya. Tumpukan-tumpukan container menjadi ciri khas pemandangan di pelabuhan tersebut. Karena letaknya juga yang lebih rendah dari permukaan laut, beberapa bagiaan pelabu- han digenangi oleh banjir rob. Peran Pelabu- han Tanjung Emas sebagai pintu gerbang perekonomian daerah Jawa Tengah dan sekitarnya adalah menjadi salah satu termi- nal arus barang ekspor impor, antar pulau maupun penumpang. Ke depannya, penaikan kelas jalan diharapkan mampu meningkatkan kinerja pelabuhan, baik pelayaran domestic maupun internasional. 3. Bandara Sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah, kota semarang memiliki sebuah bandara yaitu Bandara Ahmad Yani. Bandara yang terletak di kecamatan semarang barat melayani pen- erbangn domestic dan internasional. Seba- gai titik persinggahan antara penerbangan Jakarta-Surabaya, Bandara Ahmad Yani kurang mengembangkan potensi yang dimi- liki. Walaupun memiliki runway yang cukup panjang, bangunan utama Bandara Ahmad Yani justru bisa dibilang kecil. Hal tersebut ditakutkan akan menyulitkan bila suatu saat terjadi penumpukan penump- ang. Maka pada tahun 2025, direncanakanlah pengembangan bandara internasional Ah- mad Yani. Nantinya bangunan bandara akan dilengkapi dengan berbagai macam sector komersial yang terdiri dari perdagangan, hotel dan restaurant serta tempat beristira- hat yang nyaman. Ditambah lagi keberadaan jalur BRT dan MRT akan mempermudah akses masyarakat menuju bandara ataupun seba- liknya
  44. 44. 49 selatan yang belum terdapat drainase, maka dilakukan penambahan. Selain penambahan drainase, dilakukan pula penambahan beberapa bangunan pendu- kung , yaitu rumah pompa, pintu air dan kolam retensi. Penambahan ini bertujuan untuk mengurangi resiko banjir terutama banjir rob. 1. Rumah pompa Rumah pompa memiliki fungsi untuk me- mindahkan air dari satu tempat ke tempat lain dan mensirkulasikan air di sekitar sistem. Biasanya air dipindahkan dari kolam retensi atau dari saluran lain ke sal- uran primer yang berhilir ke laut. Pompa ini bekerja dengan menggunakan tenaga listrik yang biasanya berasal dari mesin diesel. Untuk daerah yang topografinya datar diperlukan banyak pompa untuk mencegah genangan yang terlalu lama. 2. Pintu air Pintu air merupakan bangunan peleng- kap dari saluran drainase yang biasanya terletak di persilangan. Berfungsi untuk mengatur air masuk. 3. Kolam Retensi Kolam Retensi adalah sebuah cekungan yang berguna untuk menampung atau meresapkan air. Kolam yang digunakan untuk menampung air ini biasanya dibuat dengan kapasitas tertentu dan dilapisi beton untuk menampung air saat debit puncak banjir. Kolam retensi ini merupaka Drainase merupakan salah satu utilitas dasar yang penting keberadaannya dalam sebuah kota. Drainase berupa sistem untuk mengalir- kan air hujan maupun air berlebih lainnya supaya tidak menggenangi suatu tempat. Dengan adanya drainase maka akan me- nambah kemampuan suatu kawasan. Untuk menangani banjir, keberadaan drainase san- gat penting. Kuncinya adalah pemeliharaan yang baik. Drainase harus selalu dipantau apakah ada retakan, ada sedimentasi (pen- dangkalan) atau tidak. Hal ini penting su- paya ketika musim hujan tiba, saluran dapat bekerja optimal. Secara hirarki, drainase dikategorikan men- jadi drainase primer, sekunder, dan tersier. 1. Drainase primer Drainase primer merupakan saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai. Di BWK III, Sungai Banjir Kanal Barat dan Kali Semarang termasuk saluran primer. Selain itu beberapa saluran di kawasan tambak Kecamatan Semarang Barat juga termasuk dalam saluran primer. 2. Drainase sekunder Drainase sekunder adalah saluran yang menghubungkan saluran primer dan tersier. Biasa-nya berupa selokan besar. 3. Drainase tersier Drainase tersier adalah saluran yang mengalirkan air dari rumah ke saluran sekunder. Dalam perencanaan drainase, saluran tersier tidak termasuk dalam poin perencanaan. Secara kuantitas dan kapasitas, saluran drain- ase yang ada di BWK III masih kurang mema- dai sehingga dibutuhkan penambahan ruas saluran. Terutama di Semarang Barat bagian DRAINAGE Pintu Air Rumah Pompa Drainase Sekunder Kolam Retensi Drainase Primer Batas Kecamatan Batas Kelurahan Rel Kereta Api Garis Pantai Sungai Laut 0 325 650 1300 m Arteri Primer Arteri Sekunder Tol Outer Ring Road Lokal PETA RENCANA DRAINASE BWK III TAHUN 2030 bagian dari sistem polder. Kolam yang sudah ada terdapat di kawasan Kota Lama, di depan Stasiun Tawang. Kolam ini sudah tidak mampu menanggung beban banjir rob yang melanda Semarang Utara se- hingga diperlukan kolam baru. Pada 2016 diharapkan kolam baru ini sudah siap digunakan, yang rencananya terletak di kawasan Kampung Melayu.
  45. 45. 50 UNDERGROUND UTILITIES Perencanaan Utilitas bawah tanah di BWK 3 terdiri dari jaringan telepon, jarin- gan listrik, jaringan air bersih, drainase, dan sanitasi. Peletakan jaringan telepon dan listrik diletakan pada bagian ter- luar badan jalan untuk memudahkan pengadaan jaringan baru pada bangunan-bangunan di pinggir jalan. Kemudian peletakan jaringan diikuti oleh jaringan air bersih, saluran drainase, dan saluran IPAL (Instalansi Pembuangan Air Limbah). Spesifikasi utililas dimasing-masing jarin- gan ditiap jalan berbeda. Diameter pipa listrik di jalan lokal lebih kecil daripada jalan arteri karena watt yang dibutuhkan pada jaringan lokal lebih rendah. Hal tersebut juga berlaku pada jaringan telepon, dan air bersih. Spesifikasi utilitas juga bergantung pada kondisi jalan. Apabila jalur pedes- trian memiliki lebar yang cukup, maka kelima jaringan utilitas dapat ditanam dibawahnya namun apabila lebar jalur pedestrian terbatas, sebagian dari utili- tas dapat ditanam di Ruang Manfaat Jalan, dengan persyaratan jarak vertikal kedalam dari permukaan jalan sebesar 2 meter dan jarak dari trotoar 0,5 meter. Integrated underground utility dimak- sudkan agar terciptanya integrasi antar jaringan utilitas, dan memudahkan dalam pengaturan serta perawatan utilitas ke depannya. Selain memper- indah tampilan visual karena tidak ada kabel-kabel yang malang melintang, keberadaan underground utility juga membantu mewujudkan lingkungan yang sehat. Drainase system tertu- tup membuat kondisi lingkungan disekitarnya menjadi lebih bersih dikarenakan limpasan air hujan lang- sung masuk ke saluran tanpa perlu menggenang di jalan. Kondisi trotoar yang nyaman dan teduh juga cukup memanjakan pejalan kaki dan mengu- rangi pemakaian kendaraan bermotor.
  46. 46. 51 INTEGRATED UNDERGROUND FACILITIES
  47. 47. 52 HOUSING Rumah merupakan kebutuhan dasar bagi semua manusia, rumah adalah wadah untuk memenuhi physiological need , safety need, social need, Ego need, self actualization need (Maslow). Perumahan merupakan salah satu elemen penting dalam sebuah kawasan, karena tingginya tingkat perumahan di suatu daerah mengindikasikan bahwa dae- rah tersebut nyaman untuk di tinggali. Faktor penting yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan perumahan adalah jumlah penduduk, kelahiran, migrasi. Kebutuhan akan rumah meningkat seiring dengan ber- tambahnya jumlah penduduk. Perumahan merupakan sarana pokok yang sangat diper- lukan didalam kehidupan bermasyarakat. Perumahan merupakan tempat untuk ting- gal, berkomunikasi sosial dan berbagai keg- iatan kekeluargaan yang lainnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa perumahan yang baik akan menciptakan kualitas manusia yang baik pula.Peningkatan jumlah pen- duduk di BWK III yang terus meningkat setiap tahunnya, sedangkan jumlah lahan yang ada di BWK III tetap. Untuk itulah BWK III bekerja sama dengan BWK lain, seperti BWK II dan BWK X dalam menampung jumlah penduduk yang terus meningkat. Penambahan lantai atau perubahan jenis dari rumah konvesional ke rumah susun atau apartemen diharapkan mampu menanggulangi peningkatan pen- duduk yang terjadi di BWK III. PUBLIC FACILITIES
  48. 48. 53 HEALTH Kesehatan masyarakat merupakan faktor penentu kesejahteraan pada pengembangan suatu wilayah. Kebutuhan sarana keseha- tan pun harus disesuaikan dengan standar jumlah penduduk agar pelaksanaan rencana dapat berjalan dengan baik. Berikut meru- pakan standar pengadaan sarana kesehatan. Pada tahun 2010, sangat disayangkan bahwa di BWK III, yaitu kecaamatan Semarang Utara dan Semarang Barat, tidak memiliki sarana kesehatan baik pusekesmas maupun ru- mah sakit sama sekali. Maka pembangunan puskesmas pada tahun 2015 akan menjadi prioritas utama di BWK III, agar masyarakat memiliki akses yang mudah terhadap fasilitas kesehatan. Sehingga kualitas kesehatan di BWK III pun akan meningkat. PUBLIC FACILITIES Kecamatan Jumlah Penduduk Rasio Ideal Eksisting Kebutuhan (+) (-) Proyeksi 2010 2015 2020 2025 2030 2015 2020 2025 2030 Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Semarang Barat 160.117 169.701 178.682 189.099 201.685 1:120000 0 0 1 1 -1 1 -1 2 -2 2 -2 Semarang Utara 127.719 131.242 134.864 138.651 142.611 0 0 1 1 -1 1 -1 1 -1 1 -1
  49. 49. 54 pendidikan di BWK Pada peta rencana 2030 terlihat bahwa terdapat penambahan kuan- titas fasilitas pendidikan, baik SD, SMP, mau- pun SMA, namun jumlah penambahannya tidak sebanyak proyeksi kebutuhan di atas, melainkan hanya pada kelurahan- kelurahan yang membutuhkan fasilitas tersebut dalam jumlah yang banyak. Ke- butuhan akan fasilitas pendidikan ini tidak hanya disiasati dengan membangun sekolah- sekolah baru melainkan juga membangun sekolah yang sudah ada agar memiliki daya tampung yang lebih besar. EDUCATION Sarana pendidikan memiliki peran yang sangat penting bagi suatu wilayah. Bagus tidaknya sumber daya manusia, dapat dilihat dari tingkat pendidikannya yang ditempuhn- ya. Maka menunjangnya fasilitas jelas men- jadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. “Wajib Belajar 9 Tahun”adalah program wajib dari pemerintah. Sekolah dasar, dan Sekolah Menengah Pertamadiharapkan mampu member pondasi yang baik dalam kualitas pendidikan anak Indonesia. Namun sangat disayangkan bahwa jumlah infrastruktur yang ada di BWK III masih belum mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Pa- dahal pendidikin yang baik dapat merubah kualitas penduduk dari segi kesehatan mau- pun ekonomi. Untuk itulah pemenuhan ke- butuhan sarana pendidikan penting adanya, seperti terlampir pada tabel berikut Data diatas menunjukan jumlah sekolah yang harus dipenuhi setiap 5 tahunnya. Dengan rasio ideal satu berbanding empat ribu delapan ratus, diharapkan siswa men- dapatkan kualitas ilmu yang baik dan tidak asal-asalan. Jumlah tersebut disesuaikan dengan keadaan di masing-masing kelura- han, sehingga sebisa mungkin para murid tidak perlu menempuh jarak yang terlalu jauh dan menggunakan kendaraan tidak bermotor, seperti sepeda maupun berjalan kaki, menuju sekolahnya masing-masing. Berikut ini peta eksisting dan rencana fasilitas SD SMP SMA Kecamatan Jumlah Penduduk Rasio Ideal Eksisting Kebutuhan (+) (-) Proyeksi 2010 2015 2020 2025 2030 2015 2020 2025 2030 Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Semarang Barat 160.117 169.701 178.682 189.099 201.685 1:1600 68 100 -32 106 -38 112 -44 118 -50 126 -58 Semarang Utara 127.719 131.242 134.864 138.651 142.611 40 79 -39 82 -42 84 -44 87 -47 89 -49 Kecamatan Jumlah Penduduk Rasio Ideal Eksisting Kebutuhan (+) (-) Proyeksi 2010 2015 2020 2025 2030 2015 2020 2025 2030 Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Semarang Barat 160.117 169.701 178.682 189.099 201.685 1:4800 22 33 -11 35 -13 37 -15 39 -17 42 -20 Semarang Utara 127.719 131.242 134.864 138.651 142.611 13 26 -13 27 -14 28 -15 29 -16 30 -17 Kecamatan Jumlah Penduduk Rasio Ideal Eksisting Kebutuhan (+) (-) Proyeksi 2010 2015 2020 2025 2030 2015 2020 2025 2030 Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Semarang Barat 160.117 169.701 178.682 189.099 201.685 1:4800 19 33 -14 35 -16 37 -18 39 -20 42 -23 Semarang Utara 127.719 131.242 134.864 138.651 142.611 21 26 -5 27 -6 28 -7 29 -8 30 -9 PUBLIC FACILITIES
  50. 50. 55 ECONOMIC Sebagai salah satu pusat transaksi ekonomi, keberadaan pasar merupakan penarik ak- tivitas ekonomi di sekitarnya. Tidak hanya pada lokasi pasar, efek tarikan ekonomi akan terasa pada daerah di sekitarnya pula. Pasar tradisional yang semula berjumlah cukup banyak, lambat laun mulai tergantikan oleh kemajuan teknologi berupa swalayan den- gan hawa sejuk dan tampilan cantik. Namun bagi kebanyakan orang terutama masyarakat dengan nilai ekonomi menengah kebawah, keberadaan pasar sangat mempengaruhi kehidupan mereka. Untuk itulah BWK III terus berupaya untuk mempertahankan keberadann pasar tradisional dan melarang pembangunan pusat perbelanjaan modern seperti mal. Dapat dilihat pada tabel dibawah bahwa jumlah pasar yang ada di Kecamatan Semarang Barat masih kurang sedangkan jumlah pasar di Kecamatan Semarang Utara telah melebihi kebutuhan. Untuk itu fasilitas pasar di BWK 3 tidak perlu ditambah kuan- titasnya karena secara keseluruhan sudah mencukupi kebutuhan, ditambah lagi pada PUBLIC FACILITIES Kecamatan Semarang Barat terdapat sebuah pasar dengan skala pelayanan kota dan secara keseluruhan terdapat 15 pasar dengan skala pelayanan lokal. Untuk itu pengem- bangan pasar yakni dengan meningkatkan kualitas pasar-pasar yang ada di BWK 3. Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada peta berikut ini. Kecamatan Jumlah Penduduk Rasio Ideal Eksisting Kebutuhan (+) (-) Proyeksi 2010 2015 2020 2025 2030 2015 2020 2025 2030 Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Kebutuhan (+) (-) Semarang Barat 160.117 169.701 178.682 189.099 201.685 1:30000 3 5 -2 6 -3 6 -3 6 -3 7 -4 Semarang Utara 127.719 131.242 134.864 138.651 142.611 13 4 +9 4 +9 4 +9 5 +8 5 +8
  51. 51. 56 GREEN OPEN SPACE Keberadaan ruang terbuka hijau sangatlah penting bagi suatu wilayah. Selain fungsinya sebagai tempat berkumpul warga, ruang terbuka hijau juga mengindikasikan kemajuan perancangan kota suatu wilayah. Ruang terbuka hijau dapat dibagi menjadi ruang terbuka public dan ruang terbuka privat. Kebutuhan ruang terbuka hijau yang ideal bagi BWK III dijelaskan pada tabel berikut. Seperti yang sudah dijelaskan pada peta pemanfaatan ruang, kebanyakan ruang terbuka yang berada di BWK III berupa tambak. Ditambah lagi konsep Green River Front yang dibangun di kawasan Banjir Kanal Barat juga ikut menyumbang akan kebutuhan terhadap ruang terbuka hijau. Pembangunan-pemban- gunan baru juga diharuskan untuk mengikuti aturan dimana KDB dibawah 80%, agar tercipta kondisi lingkungan yang seimbang. Keberadaan ruang terbuka diharapkan mampu menjadi wadah aktifitas rekreasi masyarakat baik dari dalam maupun luar BWK III. TEMPLE Sebagai sebuah Negara yang berlandaskan dengan agama, sebuah tempat peribadatan menjadi salah satu hal penting yang harus dipenuhi dalam pembangunan suatu daerah. Pada negara indo- nesia, terdapat 5 tempat ibadah yang terdata, sesuai dengan agama yang diakui di Indonesia, yaitu, masjid, gereja, vihara, pura, dan kelenteng. Akan tetapi, pada BWK III kota semarang, hanya terdapat tiga tempat ibadah yang ada, yaitu masjid, gereja dan pura. Hal itu dipengaruhi oleh jumlah penga- nut agama tersebut yang ada di BWK III. Sesuai dengan kebutuhan, jumlah tempat ibadah pada suatu daerah tidak dapat diproyeksikan. Hal itu karena bergantung pada ukuran dan kebutuhan masyarakat itu sendiri akan tempat ibadah. Sehingga, jumlah tempat ibadah pada 2009 dan 2030 relatif sama. Berikut adalah peta persebaran tempat ibadah berdasarkan sumber BPN tahun 2007 : Kecamatan Luas (Ha) Standar RTH Luas RTH Semarang Barat 2210,42 30% 663,13 Semarang Utara 1702,07 30% 510,62 PUBLIC FACILITIES
  52. 52. 057 KALIBANTENG FLYOVER|GREEN RIVER FRONT WATER | KAMPUNG MELAYU | KAMPUNG NELAYAN | KOTA LAMA | PANTAIMARINA|SUNANKUNING
  53. 53. 058
  54. 54. 59 SITES PLANNING Fokus perencanaan BWK III terdiri dari 7 perencanaan yaitu Kalibanteng Flyo- ver, Green Riverfront Banjir Kanal Barat, Kampung Nelayan, Pantai Marina, Kampung Melayu, Sunan Kuning, serta Kota Lama. Perencanaan ini dilakukan untuk men- dukung pengembangan sektor jasa, khususnya pariwisata di BWK III. Kalibanteng Flyover bertujuan untuk memperlancar arus transportasi serta mengoptimalkan kegiatan jasa di Kawasan Kalibanteng. Green Riverfront Banjir Ka- nal Barat dikembangkan sebagai suatu tempat wisata sekaligus RuangTerbuka HIjau untuk publik. Kampung Nelayan dikembangkan sebagai suatu tujuan wisata baru yang memanfaatkan kondisi geografis dengan konsep Little Venetian. Pantai Ma- rina merupakan obyek wisata yang kurang terawat dan mulai ditinggalkan, untuk itu revitalisasi Pantai Marina merupakan upaya pengaktifan kembali obyek wisata ini. Kampung Melayu dikembangkan sebagai tempat wisata sejarah Kota Semarang dengan banyaknya bangunan-bangunan lama. Sunan Kuning ditata sebagai suatu pusat prostitusi legal dengan pengawasan kesehatan serta keamanan. Selanjutnya Kota Lama sebagai salah satu ikon Kota Semarang dikembangkan kembali untuk menjadi tujuan utama wisata di BWK III.
  55. 55. 60 Tugu Ngaliyan Gajah Mungkur Candisari Semarang Selatan Semarang Tengah Semarang Timur Gayamsari Genuk Semarang Barat Semarang Utara Tambakharjo Krapyak Kembang Arum Tawangsari Tawangmas Kalibanteng Kulon Kalibanteng Kidul Gisikdrono Bongsari Manyaran Ngemplak Simongan Bojong Salaman Salaman Mloyo Cabean Karang Ayu Krobokan Panggung Lor Panggung Kidul Bulu Lor Plombokan Kuningan Dadapsari Bandarharjo Tanjung Emas Purwosari 0 325 650 1300 m KALIBANTENG FLY OVER Kalibanteng merupakan salah satu kawasan yang ada di BWK III yang berada di tengah BWK III. Bundaran Kalibanteng mempertemukan 6 Jalan besar, Jalan Jendral Sudirman, JalanWR Supratman, Jalan Arteri, Jalan Abdulrahman Saleh, Jalan Bandara AhmadYani, dan Jalan Siliwangi. Bundaran juga merupakan salah satu akses jalan menuju Bandara AhmadYani,menujupelabuhanTanjungmas,danmenujuJalanTolyangmenujuJakarta. Kalibanteng bisa dikatakan sebagai kawasan tersibuk yang ada di BWK III karena meru- pakan titik simpul pertemuan di wilayah BWK III, maka tak jarang pula sering terjadi kemacetan di kawasan Kalibanteng.
  56. 56. 61 PROBLEMS SOLUTIONS Kemacetan Kemacetan di Kalibanteng disebabkan oleh jumlah kendaraan pribadi yang tinggi, terutama pada jam puncak seperti pagi dan sore hari. Kemacetan semakin diperparah oleh rusaknya ruas jalan di beberapa titik di kawasan Kaliban- teng. Kerusakan Jalan Seringkali faktor beban jalan yang berlebihan membuat umur jalan di Kalibanteng semakin pendek dan cepat rusak. Faktor lain yang turut menyebabkan rusaknya jalan di Kalibanteng adalah banjir rob yang sering melanda kawasan tersebut. Kondisi Pedestrian Buruk Sebagai kawasan yang dilalui oleh jalan arteri primer seharusnya Kalibanteng memiliki jalur pedestrian yang layak untuk digunakan oleh semua pejalan kaki. Namun pada kenyataan- nya kondisi pedestrian di kawasan Kalibanteng cukup memprihatinkan dan digunakan oleh pedagang kaki lima. Kurangnya Pohon di Sepanjang Kalibanteng Pohon adalah salah satu unsur pendukung yang penting untuk menyerap polusi yang dikelu- arkan oleh kendaraan bermotor, sementara di kawasan Kalibanteng yang selalu padat dilewati oleh kendaraan memiliki sedikit pohon sehingga membuat keadaan di sekitar zkawasan terse- but semakin panas. Hal tersebut juga membuat pejalan kaki menjadi tidak nyaman untuk me- lakukan perjalanan yang cukup panjang. Rencana pengembangan Kawasan Kalibanteng dari Tahun 2010 - 2020 adalah untuk mengurangi tingkat kemacetan dan memperbaiki sarana dan prasarana yang ada di kawasan tersebut dan menjadikan kawasan Kalibanteng sebagai salah satu pusat perdagangan dan jasa yang ada di BWK III. Penambahan taman kota juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kualitas lingkungan di ka- wasan Kalibanteng. Pengembangan Kawasan Kalibanteng bertujuan untuk meningkatkan pelayanan jasa yang berada di sekitar di kawasan tersebut, di tambah lagi bundaran Kalibanteng merupakan salah satu akses menuju bandaradan menuju pusat kota. Eksisting Rencana
  57. 57. 62 Sebagai rencana awal untuk mengurangi kemacetan yang ada di kawasan Kalibanteng maka diper- lukan pembangunan jalan layang yang diharapkan bisa memecah kemacetan yang terjadi di ka- wasan Kalibanteng. Jalan layang juga diharapkan bisa memperlancar arus barang dan orang yang melewati kawasan Kalibanteng. Pembangunan jalan layang ini diharapkan akan selasai pada akhir tahun 2013, sehingga bisa lang- sung di manfaatkan oleh seluruh masyarakat. Pembangunan jalan layang ini juga akan semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan tersebut dan akan menarik investor untuk semakin mengembangkan kawasan Kalibanteng. Pada tahun 2015 Kawasan Kalibanteng akan memperbaiki pedestrian yang ada di kawasan tersebut sehingga menjadi nyaman bagi peja- lan kaki. Perbaikan pedestrian di Kawasan Ka- libanteng juga diharapkan mampu menarik masyarakat yang berada disekitar daerah ter- tebut mau berjalan kakiuntuk jarak tempuh yang pendek. Penanaman pohon perindang juga dihara- pkan mampu menambah kenyamanan para pejalan kaki yang menggunakan pedestrian. Apabila banyak masyarakat yang berjalan kaki untuk menempuh jarak pendek maka jumlah penggunaan kendaraan pribadi juga akan menurn sehingga mampu mengurangi ting- kat polusi di BWK III. Penambahan fasilitas umum seperti parkiran sepeda, tempat sampah, pohon perindang dan bangku diharapkan mampu menarik masyarakat umum untuk meninggalkan ken- daraan pribadi dan berpindah ke transportasi umum ataupun berjalan kaki untuk melaku- kan perjalanan jarak pendek. 1ST STAGE 2ND STAGE
  58. 58. 63 3RD STAGE 4TH STAGE Taman kota merupakan salah satu aspek pent- ing yang harus dipenuhi sebagai wadah bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan di luar ruangan, dengan adanya pusat kota ini dihara- pkan akan menjadi tempat persinggahan bagi masyarakat yang lelah beraktivitas di dalam ruangan. Taman kota juga bisa berfungsi sebagai ruang yang bisa mewadahi berbagai macam kegiatan yang ada di sekitar kawasan tersebut, seperti tempat bermain anak, tem- pat rekreasi keluarga, tempat berolah raga dam sebagainya. Taman kota juga mampu menjadi salah satu solusi untuk mengurangi urban heat island yang terjadi di wilah perkotaan. Semakin ban- yak taman kota yang terdapat di suatu wilayah maka wilayah tersebut akan semakin nyaman untuk dikunjungi karena memiliki suasana yang sejuk akibat dari banyaknya pohon yang ada di taman kota tersebut. RTH juga memiliki berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara fisik, seperti RTH untuk perlindungan sumberdaya penyangga kehidupan manu- sia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar. RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan penambah nilai kualitas ling- kungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota. Panel Surya adalah salah satu solusi un- tuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, karena di masa depan cadangan minyak Indonesia akan semakin menipis oleh karena itulah diperlukan alternatif energi lain yang bisa dimanfaatkan. Penggunaan panel surya pada masa yang akan datang diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil. Penggunaan panel surya ini memiliki be- berapa keuntungan seperti: 1. Dapat di pasang di mana saja 2. Pengoperasian yang mudah 3. Tidak menggunakan bahan bakar fosil 4. Dapat di terapkan secara sentralisasi (komunal) 5. Perawatan yang cukup mudah Gedung parkir merupakan kebutuhan yang penting pada masa mendatang, hal ini dikarenakan lahan perkotaan yang semakin mahal dan terbatas sehingga diperlukan solusi lain untuk mewadahi ke- butuhan lahan parkir masyarakat. Gedung parkir merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mewadahi kebutuhan lahan parkir masyarakat perkotaan.
  59. 59. 64 Tugu Ngaliyan Gajah Mungkur Candisari Semarang Selatan Semarang Tengah Semarang Timur Gayamsari Genuk Semarang Barat Semarang Utara Tambakharjo Krapyak Kembang Arum Tawangsari Tawangmas Kalibanteng Kulon Kalibanteng Kidul Gisikdrono Bongsari Manyaran Ngemplak Simongan Bojong Salaman Salaman Mloyo Cabean Karang Ayu Krobokan Panggung Lor Panggung Kidul Bulu Lor Plombokan Kuningan Dadapsari Bandarharjo Tanjung Emas Purwosari 0 325 650 1300 m Pengembangan Banjir Kanal Barat ditargetkan pada tahun 2020 dalam jangka waktu 5 tahun dan selesai pada tahun 2025. Banjir Kanal Barat adalah sungai yang melalui BWK III dan meru- pakan sung ai yang besar sehingga sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai area wisata maupun sebagai transportasi air (waterway). Akan teta- pi, kondisi eksisting pada Banjir Kanal Barat hingga tahun 2012 ini sangat jauh dari kata bagus. Potensi yang san- gat besar tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kawasan Banjir Kanal Barat yang akan dikem- bangkan berada pada daerah perbatasan Kecamatan Semarang Barat dan Kecamatan Semarang Tengah. kondisi pada kawasan ini, sebagian besar tfungsi bangunan nya adalah sebagai bang- unan komersil. Dan di daerah pinggiran sungai masih terdapatn peru- mahan-perumahan yang tidak layak untuk sebuah kota besar. Pada pengembangan banjir kawasan Ban- jir Kanal Barat, lebih menekankan pada pengembanngan pinggiran sungai dan revitalisasi Sungai Banjir Kanal Barat. Hal itu dikarenakan Sungai Banjir Kanal Barat yang sangat tidak terawat padahal memiliki po- tensi yang sangat besar. Rencana-rencana atau program-program umum yang akan dilakukan antara lain : 1. pengerukan atau pendalaman Banjir Kanal Barat, hal ini ditujukan agar Banjir Kanal Barat dapat lebih banyak menampung limpasan air dari kawasan sekitar yang memang sering terjadi bencana banjir 2. Pembuuatan sempadan sungai, hal ini ditujukan agar sempadan sungai dapat dijadikan area wisata Green Riverfront ka- rena kurangnya ruang terbuka publik di Kota Semarang Kawasan Banjir Kanal Barat, akan mulai dikembangkan pada tahun 2020 setelah pengembangan sarana dan prasara serta utilitas di BWK III sudah selesai. Dan pengem- bangan kawasan Banjir Kanal Barat menjadi Green Riverfront dan pusat kawasan per- dagangan dan jasa serta pariwisata di BWK diharapkan selesai pada tahun 2030. Wisata yang disediakan jalan sehat di trackjogging di tepi sungai, sarana bermain, dan juga wisata perahu. GREEN RIVERFRONT BANJIR KANAL BARAT
  60. 60. 65 1ST STAGE 2ND STAGE PEMBUATAN TANGGUL Tahapan awal dari pengembangan Banjir Kanal Barat adalah pembuatan tanggul dan pendalaman sungai. Pembuatan tannggul dan pendalaman sungai ini bertujuan agar sungai dapat menampung volume air lebih banyak dan mencegah abrasi oleh air sungai. Akan tetapi pengerukan ini harus dilakukan secara rutin karena tingginya endapan di banjir kanal barat ini. Jika tidak dilakukan pengerukan secara rutin, maka ketinggian air akan kembali meningkat akibat adanya endapan didasar sungai dan air akan meluap mengakibatkan kerusakan pembangunan yang sudah dilakukan di banjir kanal barat ini. Selain itu, kedangkalan sungai akan mengakibatkan kapal-kapal yang digunakan untuk wisata akan karam. PENGHIJAUAN SEMPADAN SUNGAI Penghijauan banjir kanal barat ini dilakukan untuk menambah ruang terbuka hijau di Kota Semarang dan tidak bertentangan dengan konsep“green”yang dibawa.
  61. 61. 66 3RD STAGE 4TH STAGE PEMBUATAN KAWASAN WISATA GREEN RIVERFRONT BANJIR KANAL BARAT Setelah kawasan banjir kanal barat cukup stabil, maka dimulai pengembangan kawasan banjir kanal barat sebagai kawasan wisata. Pengembangan itu ditujukan pada wisata air, dan juga sebagai area jogingtrack di sepanjang sungai banjir kanal barat. Selain itu, kawasan tersebut akan dipusatkan sebagai kawasan perdagangan dan jasa di Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Pembuatan Jogingtrack (tahun 2024) Sepanjang pinggiran sungai banjir kanal barat akan dibangun jogging track. Pembuatan Wisata Air (kapal) (tahun 2024) Pada kawsan banjir kanal barat ini, akan dibangun sebuah“dock”yang digunakan sebagai wisata air pada Banjir Kanal Barat ini. Pembanguna ini diharapkan menajdi ikon Pembangunan-pembangunan tersebut diharapkan juga dapat menambah pendapatan Kota Semarang itu sendiri. PERALIHAN FUNGSI BANGUNAN PADA KAWASAN BANJIR KA- NAL BARAT Pengalihan fungsi bangunan ini ditujukan untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan dan jasa di BWK III. Hal ini ditujukan agar pengembangan Banjir Kanal Barat tidak hanya sebagai ka- wasan wisata, tetapi juga sebagai pusat perdagangan sehingga mempunyai nilai tambah. Setelah se- lesai dengan itu semua, maka pengembangan selanjutnya adalah penambahan fasilitas umum. Hal ini agar menambah kenyamanan pengunjung yang akan datang pada kawasan wisata Green Riverfront ini. Penambahan lampu jalan dan juga lampu taman untuk menambah keindahan dan kesan terhadap area wisata ini. Selain itu juga menambahkan kursi-kursi taman pada area taman dan juga penempatan beberapa tempat sampah untuk menjaga kebersihan area wisata. Selain itu juga disediakan beberapa tempat parkir sepeda agar pengunjung yang menggunakan sepeda merasa aman dan juga akan me- nambah kerapian pada kawasan wisata ini. Untuk mencegah genangan air pada dan limpasan air saat hujan, maka dibawah area joggingtrack dibuat drainase sebagai saluran air langsung ke sungai.
  62. 62. 67 KAMPUNG MELAYU Kampung Melayu sudah dihuni sejak 1743. Saat itu sebagian besar orang yang mendiami merupakan suku melayu. Pada masa itu, lokasi Kampung Melayu sangat strategis karena banyak kapal yang sing- gah sehingga mengundang orang untuk tinggal disana. Hingga kemudian banyak orang dengan berbagai suku mendiami kawasan tersebut dan membentuk blok- blok sedemikian rupa. Yang paling ber- pengaruhadalahkeberadaanBangsaArab dan Tionghoa. Ditandai dengan adanya Masjid Menara dan Klenteng Dewa Bumi yang masih ada sampai sekarang. Tugu Ngaliyan Gajah Mungkur Candisari Semarang Selatan Semarang Tengah Semarang Timur Gayamsari Genuk Semarang Barat Semarang Utara Tambakharjo Krapyak Kembang Arum Tawangsari Tawangmas Kalibanteng Kulon Kalibanteng Kidul Gisikdrono Bongsari Manyaran Ngemplak Simongan Bojong Salaman Salaman Mloyo Cabean Karang Ayu Krobokan Panggung Lor Panggung Kidul Bulu Lor Plombokan Kuningan Dadapsari Bandarharjo Tanjung Emas Purwosari 0 325 650 1300 m PERBAIKAN JALAN Banjir rob yang selalu melanda Kampung Melayu merusak jalan. Jalan-jalan berlubang karena terkikis air. Beberapa ruas mengalami penurunan dan terdapat genangan tetap. Per- baikan kualitas jalan ini merupakan program utama untuk menuju Kampung Melayu seba- gai kampung wisata. Dengan baiknya kondisi jalan, maka akan menambah kenyamanan wisatawan.Perbaikan berupa peninggian ja- lan dan perbaikan material pelapis jalan 1ST STAGE
  63. 63. 68 PEMBUATAN POLDER Kampung Melayu sangat rentan dengan pe- nurunan tanah dan bahaya banjir rob. Untuk mengatasinya, dibutuhkan kolam retensi dan pompa yang merupakan bagian dari sistem polder. Pompa yang ada saat ini masih kurang secara kuantitas. Kolam retensi ini nantinya akan berfungsi untuk menampung air se- mentara sebelum dipompa menuju Kali Se- marang. Kolam retensi ini juga dapat difungsikan se- bagai area public space. Keberadaannya da- pat mendorong kepariwisataan Kampung Melayu. Kolam retensi akan ditata sedemikian rupa sehingga dapat menjadi salah satu tu- juan di Kampung Melayu. PEMELIHARAAN BANGUNAN TUA DAN BERSEJARAH Kampung Melayu yang kaya sejarah men- inggalkan beberapa bangunan tua. Antara lain Masjid Menara, Klenteng Dewa Bumi, Rumah Saudagar dan bangunan “Seni Foto Gerak Cepat”. Dengan dijaga kelestariannya, dapat memunculkan kembali sejarah Kam- pung Melayu dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. PENEGOSIASIAN AREA PARKIR BERSAMA DENGAN STASIUN PONCOL Untuk menjadi tujuan wisata, salah satu syaratnya adalah ketersediaan tempat parkir. Di Kampung Melayu saat ini belum terdapat area untuk parkir. Mencari lahan baru tidak memungkinan karenasudha padat. Salah satu solusinya adalah bekerjasama dengan pihak Stasiun Poncol. Area parkir di stasiun cukup luas namun belum mampu untuk menam- pung banyak bus. Dengan pelebaran sedikit maka area parkir akan lebih memadai. PENAMBAHAN STREET FURNITURE Untuk menjadi tujuan wisata yang penuh daya tarik, beberapa langkah untuk memper- indah penampilan Kampung Melayu perlu dilakukan. Salahsatunya dengan menambah- kan street furniture yang memiliki ciri khas. Seperti lampu taman, kursi, tempat sampah bahkan keran air siap minum. Street furniture ini diletakkan di setiap sudut kawasan Kam- pung Melayu. 2ND STAGE 3RD STAGE 4TH STAGE 5TH STAGE
  64. 64. 69 KAMPUNG NELAYAN Tugu Ngaliyan Gajah Mungkur Candisari Semarang Selatan Semarang Tengah Semarang Timur Gayamsari Genuk Semarang Barat Semarang Utara Tambakharjo Krapyak Kembang Arum Tawangsari Tawangmas Kalibanteng Kulon Kalibanteng Kidul Gisikdrono Bongsari Manyaran Ngemplak Simongan Bojong Salaman Salaman Mloyo Cabean Karang Ayu Krobokan Panggung Lor Panggung Kidul Bulu Lor Plombokan Kuningan Dadapsari Bandarharjo Tanjung Emas Purwosari 0 325 650 1300 m Kampung Nelayan ini bernama Kam- pung Nelayan Tambak Lorok,kampung nelayan ini merupakan kampung nelayan terbesar yang ada di Kota Semarang,Jawa Tengah.lokasinya be- rada di 1 km dari timur pelabuhan Tan- jung Emas Semarang atau tepatnya di Kecamatan Semarang Utara. Kampung Nelayan Tambak Lorok ini mulai menja- di salah satu kawasan padat penduduk pada tahun 50an sampai sekarang. Seperti kebanyakan kampung nelayan lainnya,sebagian besar penduduk ber- mata pencaharian sebagai nelayan dan kawasan ini sebagian besar didominasi oleh pemukiman.
  65. 65. 70 PROBLEMS BANJIR ROB Hal ini merupakan sumber masalah paling pelik dan siklus tahunan yang dihadapi oleh kawasan Kam- pung Nelayan. Disebabkan oleh penurunan tanah sedalam 20-30 cm setiap tahunnya, sehingga menyebabkan tinggi permukaan air laut sama dengan tinggi per- mukaan daratan dan air laut akan naikke daratan dan menggenangi sejumlah wilayah INFRASTRUKTUR YANG KURANG MEMADAI Sebagai kawasan padat penduduk, in- frastruktur pada kawasan ini sangatlah buruk atau jauh dari memadai, mulai dari jalan yang tidak di aspal, saluran drainase dan sanitasi buruk serta in- frastruktur penunjang kawasan lainnya yang masih sangat kurang GELOMBANG BESAR DAN ABRASI Seringkali faktor alam memegang per- anan penting dalam aktivitas warga dan hal ini tentunya tidak terhindarkan seperti yang seringkali muncul pada kawasan ini, pada waktu-waktu atau bulan-bulan tertentu, gelombang yang besar akan mendera kawasan ini ditam- bah oleh abrasi yang dikarenakan tidak adanya pemecah gelombang. Tentunya hal ini sering menyulitkan aktivitas war- ga PERLUASAN PELABUHAN TANJUNG MAS SEMARANG Hal ini terjadi dikarenakan lahan yang dimiliki Pelabuhan Tanjung MAs tidak mencukupi lagi sebagai salah satu standarpelabuhan internasional dan sebagian besar bangunan di kawasan ini illegal dan tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Ditambah lagi wajah dari kawasan ini dinilai memperburuk keindahan Kota Semarang, sehingga alih fungsi lahan merupakan solusi menurut Pemkot Semarang.
  66. 66. 71 Menjadikan Kampung Nelayan yang terletak di BWK III sebagai tujuan uta- ma pariwisata nasional maupun in- ternasional, dengan mengaplikasikan konsep pembangunan Venesia sebagai kota sekaligus wisata terapung yang dilengkapi dengan kanal-kanal namun dengan skala kecil.
  67. 67. 72 1ST STAGE 2ND STAGE Sebagai solusi dari permasalahan gelombang besar dan abrasi,kedepannya akan direncana- kan pembuatan tanggul pemecah gelombang yang berjarak 500 m dari garis pantai,sehingga aktivitas dan pemukiman warga dapat terjaga dari terjangan ombak maupun gelombang. Pemecah gelombang yang digunakan pada kawasan Kampung Nelayan bertipe Breakwa- ter. Breakwater atau dalam hal ini pemecah gelombang lepas pantai adalah bangunan yang dibuat sejajar pantai dan berada pada ja- rak tertentu dari garis pantai. Pemecah gelom- bang dibangun sebagai salah satu bentuk perlindungan pantai terhadap erosi dengan menghancurkan energi gelombang sebelum sampai ke pantai, sehingga terjadi endapan dibelakang bangunan. Endapan ini dapat menghalangi transport sedimen sepanjang pantai. Bangunan ini berfungsi untuk melindungi pantai yang terletak dibelakangnya dari serangan gelombang yang dapat mengaki- batkan erosi pada pantai. Perlindungan oleh pemecahan gelombang lepas pantai terjadi karena berkurangnya energi gelombang yang sampai di perairan di belakang bangunan. Karena pemecah gelombang ini dibuat terpi- sah ke arah lepas pantai, tetapi masih di dalam zona gelombang pecah (breaking zone). Maka bagian sisi luar pemecah gelombang memberikan perlindungan dengan meredam energi gelombang. Setelah daerah dinilai cukup aman dari ter- jangan gelombang atau ombak,maka yang selanjutnya dilakukan adalah pengerukan terhadap daratan dan membiarkan air laut menggenangi wilayah pengerukan. Setelah air laut menggenangi area-area yang telah dikeruk maka akan muncul kanal-kanal yang mengelilingi kawasan.Kanal-kanal ini sendiri beguna untuk menyelamatkan daer- ah yang awalnya sering terkena siklus tahu- nan yaitu banjir rob dan abrasi. Setelah terciptanya kanal-kanal maka pembangunan kembali bangunan-ban- gunanterapung penunjang kawasan da- pat dilakukan,serta bebarapa jalan lokal agar aksesibilitas kawasan menjadi lebih mudah,selain itu diusahakan transportasi air seperti gondola,dapat menjadi elemen pent- ing dalam aksesibilitas kawasan ini.
  68. 68. 73 3RD STAGE 4TH STAGE Setelah daerah dinilai cukup aman dari ter- jangan gelombang atau ombak,maka yang selanjutnya dilakukan adalah pengerukan terhadap daratan dan membiarkan air laut menggenangi wilayah pengerukan. Setelah air laut menggenangi area-area yang telah dikeruk maka akan muncul kanal-kanal yang mengelilingi kawasan.Kanal-kanal ini sendiri beguna untuk menyelamatkan daerah yang awalnya sering terkena siklus tahunan yaitu banjir rob dan abrasi. Setelah terciptanya kanal-kanal maka pemban- gunan kembali bangunan-bangunanterapung penunjang kawasan dapat dilakukan,serta bebarapa jalan lokal agar aksesibilitas kawasan menjadi lebih sudah,selain itu diusahakan transportasi air seperti gondola,dapat menjadi elemen penting dalam aksesibilitas kawasan ini. Pada tahun ini pembangunan kawasa kampung nelayan difokuskan pada fasil- itas-fasilitas umum penunjang kawasan wisata,pemenuhan standar kawasan wisata tergantung dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah melalui De- partemen Kebudayaan dan Pariwisata.Hal ini bertujuan kawasan ini dapat maksimal dalam pelayanan sebagai kawasan pari- wisata baik terhadap wisatawan maupun warga kampung nelayan sendiri dan ten- tunya dapat menarik banyak wisatawan lainnya. Pembangunan dimulai dengan Transportasi,aksesibilitas dari dan menuju kawasan,yaitu dengan menggunakan moda transportasi umum BRT maupun jalanraya, hal ini dimaksudkan agar ak- sesibilitas wisatawan dari dan menuju kawasan ini lebih mudah.Selain itu diban- gun fasilitas penunjang seperti lampu lalu lintas dan gedung parkir,gedung parkir ini bertujuan agar tidak terjadinya pe- numpukan kendaraan dalam parkir dan dikhususkan bagi wisatawan dan warga kampung nelayan sendiri. Selain itu dibangunnya penanda kawasan yaitu gerbang masuk yang mencirikan kawasan kampung nelayan dan memiliki icon gondola,hal ini merupakan usaha terhadap branding kawasan,agar para wisatawan yang telah dan akan mengun- jungi kawasan ini dapat dengan mudah mengingatnya. Didalam kawasan,sebagian besar transportasi yang dapat digunakan wisatawan maupun warga yaitu gon- dola dan sepeda,selain kanal-kanal yang telah dibangun menjadi jalur bagi gondola,selanjutnya akan dibangun jalur sepeda sebagai alat transportasi alternatif,hal ini dimaksudkan agar kawasan ini menjadi kawasan wisata bebas dari polusi kendaraan bermotor dan ramah bagi lingkungan sesuai dengan visi dan misi BWK III sendiri sekaligus menyehatkan bagi wisatawan yang menggu- nakan sepeda.

×