BAB I                                PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang  Sebuah masyarakat adalah himpunan dari individu yang m...
1.2. Rumusan Masalah    Berdasarkan pada latar belakang yang telas dijelaskan, maka dapat dibuat perumusanmasalah sebagai ...
Dalam bab ini berisi tentang kebudayaan, unsur-unsur kebudayaan,Sifat hakikat kebudayaan akulturasi,Kebudayaan, Peradaban,...
BAB II                                   TINJAUAN PUSTAKA2.1 Pengertian Kebudayaan   Kebudayaan        sangat      erat   ...
BAB III                                PEMBAHASAN3.1 Kebudayaan    Dilihat dari pengertian dari “Kebudayaan” dan “Peradaba...
pertengahan abad ke-19. Sebelum tahun 1843 para ahli anthropologi memberi artikebudayaan sebagai cara mengolah tanah, usah...
Bronislaw Malinowski menyatakan ada empat unsur pokok kebudayaan yangmeliputi:    Sistem normma-norma yang memungkinkan ke...
a.   Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat prilaku manusia.   b.   Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lah...
dipergunakan orang Indonesia yang diambil dari unsur-unsur kebudayaan            Barat,        b. Unsur-unsur yang terbukt...
lebih tinggi.Pengertian yang lain menyebutkan bahwa peradaban adalah kumpulanseluruh hasil budi daya manusia, yang mencaku...
dengan peradaban dunia; kuno atau klasik pra-Islam. Di antara peradaban-peradabanitu adalah:   a. Peradaban Irak, di antar...
ilmu terapan, sopan santun pergaulan, pelaksanaan hukum dan undang-undang.Sejalan dengan pemikiran Spranger ini adalah Eff...
mengatasi ketegangan yang inheren dalam perbedaan ini berdasarkan ketaatansepenuhnya pada Tuhan dan kegiatan keduniaan –te...
dikembangkan masyarakat Barat. Peradaban Baratlah yang saat ini memberikankontribusi besar bagi kehidupan manusia secara u...
harus bersih pakaian, suci hati dan baik budi pekertinya, supaya menjadi        contoh dan tiru teladan bagi anak-anak did...
tetapi disempurnakan lagi dengan pendidikan afektif yang lebih menjurus kepadapendidikan tingkah laku.   Pondok pesantren ...
BAB IV                                      PENUTUP4.1 Kesimpulan    a. Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manu...
DAFTAR PUSTAKAAl-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Penj.Samson Rahman, Jakarta, Akbar Med...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Makalah sosiontropologi kebudayaan

5,248 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
5,248
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
67
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah sosiontropologi kebudayaan

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Sebuah masyarakat adalah himpunan dari individu yang membentuk suatukelompok sosial budaya. Pengalaman individu tak dipungkiri, itu adalah ahsil darisebuah interaksi antar sesama dalam sebuah masyarakat. Interaksi ini melahirkansebuah kebudayaansebagai icon dari masyarakat tersebut. Tak ada sebuah masyarakatmanapun di dunia ini yang tidak memiliki budaya karena manusia adalah makhuksosial. Kata Aristoteles, manusia adalah zoon politicon (manusia adalah binatangberpolitik), atau menurut istilah ilmu mantiq, (manusia adalah hewan –makhlukhidup- yang berakal).Oleh karena kehidupan sosial budaya selalu melekat danberpengaruh serta menjadi pedoman bagi setiap prilaku individu, maka tanpamasyarakat ia tidak dapat berkembang menjadi pribadi karena ikatan dalamkelompoknya merupakan urat nadi dalam hidupnya. Ibarat sampan tak berdayungatau sepeda tak berantai. Lebih konkret lagi diumpamakan sesosok manusia yangberkaki satu, bertangan satu, bertelinga satu, bermata satu, berlubang hidung satu,begitulah sebuah masyarakat terbentuk dari beberapa idividu dan satu individu tidakmembentuk sebuah masyarakat. Pada pembahasan berikut ini akan mengetengahkan apa itu kebudayaan, unsur-unsurnya, sifat hakikatnya, dan proses akulturasi budaya asing, serta perbedaannyadengan peradaban dan peradaban Islam. Yang kesemuanya dikolerasikan denganpendidikan supaya para pendidik memandang perlu terhadap pemahaman sebuahkebudayaan yang tidak bisa diceraikan dari sebuah proses pendidikan untuk mencapaitujuan pendidikan yaitu kaderisasi generasi berbudaya dan beradab.
  2. 2. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang yang telas dijelaskan, maka dapat dibuat perumusanmasalah sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan Kebudayaan? 2. Seperti apakah Unsur-Unsur Kebudayaan? 3. Bagaimanakah Peradaban Islam Melalui Kebudayaan?1.3. Tujuan Adapun tujuan yang dari penulisan makalah ini yaitu dapat mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada kebudayaan serta upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasimasalah tersebut: Pada pembuatan makalah ini metode yang digunakan dalam mengumpulkan datayaitu dari buku-buku mengenai kebudayaan dan data dari internet. Sehingga apabila dalampenulisan makalah ini ada kata-kata atau kalimat yang hampir sama dari sumber atau penulislain harap dimaklumi dan merupakan unsur ketidaksengajaan.1.4. Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang, tujuan, rumusan masalah, serta sistematika penulisan. BAB II TINAJAUN PUSTAKA Dalam bab ibi berisi tentang pengertian kebudayaan BAB III PEMBAHASAN
  3. 3. Dalam bab ini berisi tentang kebudayaan, unsur-unsur kebudayaan,Sifat hakikat kebudayaan akulturasi,Kebudayaan, Peradaban, Peradaban Islam,Komponen-Komponen PendidikanBAB IV PENUTUPdalam bab ini berisi tentang kesimpulan dan saranDAFTAR PUSTAKA
  4. 4. BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Pengertian Kebudayaan Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yangterdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki olehmasyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun darisatu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebutsebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandungkeseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhanstruktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataanintelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yangkompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorangsebagai anggota masyarakat.Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi,kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.Dari berbagaidefinisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatuyang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasanyang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupaperilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa,peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanyaditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
  5. 5. BAB III PEMBAHASAN3.1 Kebudayaan Dilihat dari pengertian dari “Kebudayaan” dan “Peradaban” secara umum makakeduanya adalah hampir mirip akan tetapi sebenarnya memiliki makna yang berbeda.Kebudayaan melahirkan peradaban dan peradaban lahir dari kebudayaan, dan tidakada manusia yang tidak berbudaya karena tidak ada manusia yang hidup sendirian.Dari karena itulah maka sekelompok manusia yang membentuk masyarakat pastimelahirkan sebuah kebudayaan yang berkembang menjadi peradaban. Kata ”kebudayaan” berasal dari (bahasa Sansekerta) buddayah yang merupakanbentuk jamak dari kata “budhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikansebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. MenurutKoentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasilyang harus didapatkannya dengan belajar, dan semua itu tersusun dalam kehidupanmasyarakat. Senada dengan Koentjaraningrat adalah apa yang didefinisikan oleh SeloSoemardjan dan Soelaeman Soenardi, dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi(Jakarta:Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964), hal113, merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, cipta, dan rasa masyarakat.Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan ataukebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untukmenguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untukkeperluan masyarakat. “Kebudayaan” dalam bahasa Inggris disebut culture. Sebuah istilah yang relatifbaru karena istilah „culture‟ sendiri dalam bahasa Inggris baru muncul pada
  6. 6. pertengahan abad ke-19. Sebelum tahun 1843 para ahli anthropologi memberi artikebudayaan sebagai cara mengolah tanah, usaha bercocok tanam, sebagaimanatercermin dalam istilah agriculture dan holticulture. Hal ini dapat dimengerti karena istilah culture berasal dari bahasa Latin colereyang berarti pemeliharaan, pengolahan tanah pertanian. Dalam arti kiasan kata itujuga diberi arti “pembentukan dan pemurnian jiwa”.Seorang antropolog lain, E.B. Tylor (1871), dalam bukunya yang berjudul PrimitiveCulture (New York; Brentano‟s, 1924), hal 1, pernah mencoba memberikan definisimengenai kebudayaan sebagai yaitu; “Kebudayaan adalah kompleks yang mencakuppengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lainkemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusiasebagai anggot masyarakat”.3.2 Unsur-Unsur Kebudayaan Unsur-unsur kebudayaan digolongkan kepada unsur besar dan unsur kecil yanglazimnya disebut dengan istilah culture universal karena di setiap penjuru duniamanapun kebudayaan tersebut dapat ditemukan seperti pakaian, tempat tinggal danlain sebagainya. Beberapa orang sarjana telah mencoba merumuskan unsur-unsurpokok kebudayaan. Seperti Melville J. Herskovits, Bronislaw Malinowski, C.Kluckhohn dan Prof. Koentjaraningrat.Melville J. Herskovitz menyebutkan ada empat unsur pokok kebudayaan, yaitu: a. Alat-alat teknologi b. Sistem ekonomi c. Keluarga d. Kekuasaan politik.
  7. 7. Bronislaw Malinowski menyatakan ada empat unsur pokok kebudayaan yangmeliputi: Sistem normma-norma yang memungkinkan kerja sama antar para anggotamasyarakat agar menyesuaikan dengan alam sekelilingnya,3.2.1 Organisasi ekonomi Alat dan lembaga atau petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembagapendidikan utama), dan Organisasi kekuatan (politik).Kliucckhohn menyebutkan ada tujuh unsur kebudayan, yaitu: a. Sistem mata pencaharian hidup, b. Sistem peralatan dan teknologi, c. Sistem organisasi kemasyarakatan, d. Sistem pengetahuan, e. Bahasa, f. Kesenian, dan g. Sistem religi dan upacara keagamaan.3.3 Sifat Hakikat KebudayaanSifat hakikat kebudayaan adalah ciri-ciri khusus dari sebuah kebudayaan yangmasing-masing masyarakat berbeda. Bagi masyarakat Barat makan sambil berjalanbahkan setengah berlari adalah biasa karena bagi mereka the time is money, berbedadengan masyarakat Timur, jangankan makan sambil berjalan, makan berdiri sajasudah melanggar etika. ????? ????? ????? ?? (janganlah salah seorang dari kamuminum dalam keadaan berdiri). Namun, secara garis besar, seluruh kebudayaan yangada di dunia ini memiliki sifat-sifat hakikat yang sama.Sifat-sifat hakikat kebudayaan adalah sebagai berikut:
  8. 8. a. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat prilaku manusia. b. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan. c. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya. d. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan.3.4 Akulturasi Kebudayaan Semua kebudayaan senantiasa bergerak karena ia dinamis karena sebaenarnyagerak kebudayaan adalah gerak manusia itu sendiri. Gerak atau dinamika manusiasesama manusia, atau dari satu daerah kebudayaan ke daerah lain, baik disengaja atautidak seperti migrasi atau pengungsian dengan sebab-sebab tertentu. Dinamika inimembawa kebudayaan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain yang menyebabkanterjadinya akulturasi. Proses akulturasi kebudayaan dalam sejarah umat manusia telah terjadi padaumat atau bangsa-bangsa terdahulu. Adakalanya kebudayaan yang dibawa dapatdengan mudah diterima oleh masyarakat setempat dan adakalanya ditolak, bahkanada sekelompok individu yang tetap tidak menerima kebudayaan asing walaupunmayoritas kelompok individu di sekelilingnya sudah menjadikan kebudayaan tersebutbagian dari kebudayaannya. Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah: a. Unsur kebudayaan kebendaan seperti alat-peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya, contohnya adalah alat tulis-menulis yang banyak
  9. 9. dipergunakan orang Indonesia yang diambil dari unsur-unsur kebudayaan Barat, b. Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar misalnya radio transistor yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat mass- media, c. Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk melengkapi pabrik-pabrik penggilingan. Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh suatu masyarakat adalahmisalnya:Unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain,Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yangpaling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi sebagai makananpokok sebagian besar msayarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makananpokok yang lain.3.5 Peradaban Adapun istilah “peradaban” dalam bahasa Inggris disebut civilization. Istilahperadaban ini sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadapperkembangan kebudayaan. Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapaipuncaknya yang berwujud unsur-unsur budaya yang halus, indah, tinggi, sopan,luhur, dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telahmemiliki peradaban yang tinggi. Seperti yang diungkapkan Arnold Toynbee “The Disintegrations of Civilization”dalam Theories of Society, (New York, The Free Press, 1965), hal. 1355, peradabanadalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah
  10. 10. lebih tinggi.Pengertian yang lain menyebutkan bahwa peradaban adalah kumpulanseluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia,baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, senibudaya, maupun iptek). Huntington memberi definisi bahwa peradaban adalah sebuah identitas terluasdari budaya, yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa,sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif.Berangkat dari definisi ini, maka masyarakat Amerika –khususnya Amerika Serikat-dan Eropa yang sejauh ini disatukan oleh bahas, budaya dan agama dapatdiklasifikasikan sebagai satu peradaban, yakni peradaban barat. Lebih lanjut Huntington menyatakan bahwa term “Barat”, secara universal,digunakan untuk menunjuk pada apa yang disebut dunia Kristen Barat. Dengandemikian, “Barat” merupakan sebuah peradaban yang dipandang sebagai “penunjukarah” dan tidak diidentikkan dengan nama orang-orang tertentu, agama, atau wilayahgeografis. Akan tetapi pengidentifikasian ini mengangkat peradaban dari historitas,wilayah geografis, dan konteks kulturalnya. Secra historis, peradaban Barat adalahperadaban Eropa, namun di era modern ini yang dimaksud dengan peradaban Baratadalah peradaban Eroamerika (Euroamerican) atau Atlantik Utara. Mengenai pertentangan antara budaya Barat dan budaya Timur, Kun Maryati danJuju Suryawaty menagatakan: “Dalam masyarakat dunia, ada pandangan yangmenganggap budaya Barat sebagai budaya progresif atau maju yang sarat dengankedinamisan (hot culture). Sebaliknya, budaya Timur diidentikkan dengan budayayang dingin dan kurang dinamis (cold culture). Pertentangan ini cenderung Eropa-sentris sehingga mengakibatkan westernisasi di berbagai bidang kehidupan”. Sebelum adanya peradaban Eroamerika yang menguasai dunia peradabansekarang ini sudah barang tentu terlebih dahulu sudah ada peradaban yang disebut
  11. 11. dengan peradaban dunia; kuno atau klasik pra-Islam. Di antara peradaban-peradabanitu adalah: a. Peradaban Irak, di antara peradaban yang terpenting adalah Sumeria, Akkadia, Ayalamiyah, Babilonia, Asyuriah, dan Kaldaniah b. Peradaban Syam, di antara peradaban yang terpenting adalah Amuriyah, Vinikia, Kan‟an,. Aramiyah, Anbath, Tadmur, Ghassan, dan Munazarah c. Peradaban Mesir, peradaban yang terpenting adalah peradabaan Fir‟aun dan peradaban Heksus d. Peradaban Yaman, di antaranya Ma‟in, Saba‟, Himyar, dan Qatban. e. Peradaban Persia f. Peradaban Yunani dan Romawi Peradaban Fir‟aun dan Sumeria adalah dua peradaban paling awal yang ada dalamsejarah manusia. Demikian yang dikatakan H.J Wills dalam Short History of theWorld halaman 62.Dari beberapa pengertian “kebudayaan” dan “peradaban” tersebutdi atas tampak sekali terdapat perbedaan di antara keduanya. Di sini pemikiran yanglebih jelas tentang perbedaan “kebudayaan” dan “peradaban” dapat dijumpai dalamfilosof mazhab Jerman, seperti Edward Spranger yang mengartikan “kebudayaan”sebagai segala bentuk atau ekspresi dari kehidupan batin masyarakat. Sedangkanperadaban ialah perwujudan kemajuan teknologi dan pola material kehidupannya. Dengan demikian, maka sebuah bangunan yang indah sebagai karya arsitekturmempunyai dua dimensi yang saling melengkapi: dimensi seni dan falsafahnyaberakar pada kebudayaan, sedangkan kecanggihan penggunaan material danpengolahannya merupakan hasil peradaban. Dengan kata lain, kebudayaan ialah apayang kita dambakan, sedangkan peradaban ialah apa yang kita pergunakan.Kebudayaan tercermin dalam seni, bahasa, sastra, aliran pemikiran, falsafah danagama, bentuk-bentuk spritualitas dan moral yang dicita-citakan, falsafah dan ilmu-ilmu teoritis. Peradaban tercermin dalam politik praktis, ekonomi, teknologi, ilmu-
  12. 12. ilmu terapan, sopan santun pergaulan, pelaksanaan hukum dan undang-undang.Sejalan dengan pemikiran Spranger ini adalah Effat al-Syarqawi yanhgmengartikan “kebudayaan” sebagai khazanah sejarah suatu bangsa/masyarakat yangtercermin dalam pengakuan/kesaksiannya dan nilai-nilainya, yaitu kesaksian dannilai-nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rohaniahyang dalaam, bebas dari kontradiksi ruang dan waktu. Dengan kata lain,“kebudayaan” adalah struktur intuitif yang mengandung nilai-nilai rohaniah tertinggi,yang menggerakkan suatu masyarakat melalui falsafah hidup, wawasan moral,citarasa estetik, cara berpikir, pandangan dunia (weltanschaung) dan sistem nilai-nilai. Adapun “peradaban” ialah khazanah pengetahuan terapan yang dimaksudkanuntuk mengangkat dan meninggikan manusia agar tidak menyerah terhadap kondisi-kondisi di sekitarnya. Di sini „peradaban‟ meliputi semua pengalaman praktis yangdiwarisi dari satu generasi ke generasi lain. Peradaban tampak dalam bidang fisika,kimia, kedokteran, astronomi, ekonomi, politik praktis, fiqih mu‟amalah, dan semuayang berkaitan dengan penggunaan ilmu terapan dan teknologi.3.6 Peradaban Islam Kaitannya dengan pengertian-pengertian tersebut di atas, maka yang dimaksuddengan “peradaban Islam”, menurut Muhammad Husein Abdullah, adalah“sekumpulan pandangan tentang kehidupan menurut sudut pandang Islam”.Pengertian yang lain menyebutkan bahwa “peradaban Islam” adalah peradabanorang-orang Muslim atau peradaban manusia yang diilhami, dilandasi oleh keyakinanIslam. Atau dengan pengertian yang lain, “peradaban Islam” adalah pencapaian hasilbudi kaum muslimin dalam sejarah. Adapun yang menjadi orientasi kebudayaan di dunia Islam adalah perbedaanantara alam kosmis, transendental, tatanan keduniaan, serta kemungkinan untuk
  13. 13. mengatasi ketegangan yang inheren dalam perbedaan ini berdasarkan ketaatansepenuhnya pada Tuhan dan kegiatan keduniaan –terutama sekali, kegiatan politikdan militer; unsur universirtas yang kuat dalam definisi tentang komunitas Islam;pemberian akses otonom bagi seluruh warga komunitas untuk memperoleh atribut-atribut tatanan transendental dean keselamatan (salvation) melaljui ketaatan terhadapTuhan; cita-cita ummah, komunitas politik-keagamaan dari setiap pemeluknya, dangambaran mengenai penguasa sebagai penegak cita-cita Islam, mengenai kemurnianummah, dan kehidupan komunitas. Berangkat dari pengertian “peradaban Islam” di atas maka berbeda dengan Islamyang skaral, tetap dan abadi, peradaban Islam betapapun besar dan hebatnya, adalahbersifat profan, berkembang dan tidaklah suci. Peradaban Islam, tetaplah sepertiperadaban lain, yakni tidak bebas dari kelemahan. Hal tersebut dapat dibuktikan ketika kita flashback ke masa lalu, di mana NabiMuhammad saw. Mampu menyusun kekuatan baru untuk melakukan reformasiperadaban secara total mulai dari ideologi, teologi, sampai kepada kultural danhasilnya sangat mengesankan. Kemudian usaha Beliau itu dilanjutkan oleh parapenguasa Muslim melalui fondasi banguan teologi yang kokoh, penguasaan danpengembangan sains atas dasar semangat iqra‟ dan amal shaleh. Atas dasar itu,sejarah dan khazanah kita di masa lampau –terutama sejak pemerintahan NabiMuhammad saw.di Madinah hingga tahun 1250 M yang ditandai dengan berakhirnyamasa kejayaan Spanyol Islam di daratan Eropa- umat Islam mampu mewujudkansuatu tatanan masyarakat yang berperadaban tinggi. Namun demikian, seiring dengan pasang surutnya sebuah peradaban, peradabanIslam pun pernah mengalami masa-masa kejayaan meskipun kemudian mengalamimasa kemunduran. Jika pada zaman Abbasiyah umat Islam mampu menjadi sumberilmu pengetahuan serta menjadi kiblat dunia , termasuk Barat, maka saat ini umatIslam hanya menjadi konsumen dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang
  14. 14. dikembangkan masyarakat Barat. Peradaban Baratlah yang saat ini memberikankontribusi besar bagi kehidupan manusia secara umum dan bahkan cenderungmenghegemoni peradaban lainnya, termasuk Islam.3.7 Pendidikan Islam Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw. adalah surah Al-„Alaq1-5 dan wahyu yang kedua adalah surah Al-Muddatsir 1-7. Menurut Prof. Dr. H.Mahmud Yunus, dalam kedua wahyu yang mula-mula turun itu dapat diambilkesimpulan, bahwa pendidikan dalam Islam terdiri dari empat macam: a. Pendidikan keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena Tuhan itu Mahabesar dab Mahapemurah; sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya. b. Pendidikan „akliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Alam akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membasnya, sedangkan mereka dahulu belum mengetahuinya.untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat c. Pendidikan akhlak dan budi pekerti, yaitu si pendidik hendaklah suka memberi/mengajar tanpa mengharapkan balasan dari orang yang menerima pemberian itu, melainkan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridaanNya. Bagitu juga si pendidik harus berhati sabar dan tabah dalam melakukan tugasnya. d. Pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan, bersih pakaian, bersih badan dan bersih tempat kediaman. Terutama si pendidik
  15. 15. harus bersih pakaian, suci hati dan baik budi pekertinya, supaya menjadi contoh dan tiru teladan bagi anak-anak didikannya.3.8 Komponen-Komponen Pendidikan Ada asumsi yang mengatakan bahwa gurulah yang paling bertanggung jawabterhadap keberhasilan peserta didik, guru yang profesional akan menelorkan muridyang profesional juga sebaliknya guru yang bukan profesional akan menjejaskankeberhasilan anak didik. Sementara asumsi lain mengatakan bahwa peran serta orangtua sangat dominan, orang tua yang perhatian terhadap pendidikan anaknya dan selalumemberikan bimbingan sangat besar kemungkinankberhasilan anaknya. Adapulayang mengatakan miliu sengat berpengaruh terhadap peserta didik, miliu pedagangmencerdaskan ilmu pasti seperti aritmatika sosial dan ekonomi. Menurut RoslenyMarliany, ada sembilan komponen yang sangat penting dan wajib ada dalampendidikan, yaitu: a. Para pendidik; b. Para murid atau anak didik; c. Materi pendidikan; d. Perbuatan mendidik; e. Metode pendidikan; f. Evaluasi pendidikan; g. Tujuan pendidikan; h. Alat-alat pendidikan; i. Lingkungan pendidikan. Dari sembilan komponen di atas, komponen yang terakhir adalah objek kita.Lingkungan kondusif bagi peserta didik adalah lingkungan yang bernuansapendidikan seperti sistem pondok pesantren. Keseharian peserta didik diwarnaidengan proses pendidikan 24 jam. Tidak hanya pendidikan kognitif dan psikomotorik
  16. 16. tetapi disempurnakan lagi dengan pendidikan afektif yang lebih menjurus kepadapendidikan tingkah laku. Pondok pesantren adalah sebuah kebudayaan dan juga sebuah peradaban, makalingkungan pesantren adalah lingkungan yang berbudaya dan beradab. Tetapi tidakmenutup kemungkinan bahwa lembaga-lembaga pendidikan non pesantren jugamenerapkan sistem yang sama hanya saja sebatas jam kurikuler dan jam ekstrakurikuler.Hanya saja budaya dan peradaban di pesantren sangat dipengaruhi olehletak geografis dan para pengasuhnya sehingga kebudayaan dan peradaban yang adadi pesanten menonjolkan kebudayaan dan peradaban setempat. Tak ayal lagi kalaualumni pesantren Jawa akan membawa kebudayaan Jawa dan mengasimilasikannyadengan budaya di tempatnya. Situasi tertentu seperti ini juga harus diperhatikan karena pertumbuhan pesertadidik akan dipengaruhi oleh situasi-situasi di mana dan di waktu mana ia berada.Lebih lanjut, Rosleny Marliany menyebutkan bahwa: Perubahan menyangkut materiildan struktur fisiologis sanga dipengaruhi oleh aspek-aspek tertentu yang salingberhubungan. Adapaun aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi: a. Kondisi interaksi kepribadian anak; b. Usia dan mental anak; c. Pola-pola pertumbuhan yang dipengaruhi oleh situasi-situasi tertentu; d. Adaptasi individu dengan lingkungannya.
  17. 17. BAB IV PENUTUP4.1 Kesimpulan a. Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan dan kebiasaan. b. Peradaban adalah kumpulan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif. c. Peradaban Islam adalah pencapaian hasil budi kaum Muslimin dalam sejarah yang diilhami, dilandasi oleh keyakinan Islam. d. Pendidikan Islam pertama ada empat, yaitu: 1. Pendidikan keagamaan 2. Pendidikan „akliyah dan ilmiyah 3. Pendidikan akhlak dan budi pekerti 4. Pendidikan jasmani.4.2 Saran Sebagai praktisi pendidikan hendaklah memahami pentingnya kebudayaan danperadaban yang positif bagi peserta didik. Pilihlah untuk mereka kebudayaanperadaban manapun yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Selain itu,sebagai pendidik Muslim, tidak cukup memilihkan akan tetapi lebih dari itu adalahmengaplikasikan dan mengimplementasikannya dalam proses pendidikan.
  18. 18. DAFTAR PUSTAKAAl-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Penj.Samson Rahman, Jakarta, Akbar Media, 2010.Al-Syarqawi, Effat, Filsafat Kebudayaan Islam, Penj. A. Rofi‟ Usmani, Bandung,Pustaka, 1986.Eisenstadt, S.N, Revolusi Transformasi Masyarakat, Penj. Chandra Johan, Jakarta,Rajawali, 1986.Elisanti dan Rostini, Tinitin, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII IPS, Jakarta,Indradjaya, 2007.Marliany, Rosleny, Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia, 2010.Maryati, Kun dan Suryawaty, Juju, Seri Pendalaman Materi Sosiologi SMA dan MASiap Tuntas Menghadapi Ujian Nasional, Jakarta, Erlangga, 2008.Huntington, Samuel P, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia,Penj. M. Sadat Ismail, Yogyakarta, Qalam, 2004.Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Raja Grafindo,2007.Waridah Q, Siti dkk, Sosiologi untuk SMA Kelas II, Jakarta, Bumi Aksara, 2005.Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Hidakarya Agung, 1989.

×