Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP JADWAL PEMBERIAN
IMUNISASI DASARPADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA
KECAMATAN DURUKA KAB...
LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah
Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada
Bayi 0-11 Bu...
LEMBAR PENGESAHAN
Karya Tulis ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
Akademi Kebidanan Para...
RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS
Nama : SITTI ALMAFINDRA
Tempat tanggal lahir : Raha, 29 Maret 1993
Suku/Bangsa : Muna/Indonesia...
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan hidayah- Nya sehi...
5. Penghargaan dan Kasih Sayangnya kepada Ayahanda La Ode Ali Husen S.Pd
dan Ibunda Sitti Hanafiah.
6. Teman-teman mahasis...
DAFTAR ISI
Halaman Judul.....................................................................................................
G. Cara Analisis Data......................................................................... 41
H. Jalannya Penelitian.....
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Pencatatan Pemberian Imunisasi Dasar LengkapMenurut Buku
Kesehatan Ibu Dan Anak ........................
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian
Lampiran 2 Kuisioner Penelitian
Lampiran 3 Master Tabel Penelitian
Lampir...
INTISARI
Sitti Almafindra(PSW.B.2013.IB.0039) “Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap
Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bay...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Derajat kesehatan suatu bangsa dan negara dapat diukur dengan indikator.Angka
kematian...
yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) antara lain : TBC, diphteri, pertusis,
campak, tetanus, polio, dan hepatitis B....
1976.Pada Tahun 1977, pemberian suntikan imunisasi pada bayi, tepat pada waktunya
merupakan faktor yang sangat penting unt...
Imunisasi yang diberikan pada kanak-kanak serta bayi merupakan cara yang
paling berkesan dan kos efektif untk melindungi m...
(5,86%), polio I-V sebanyak 91 bayi (26,68%), DPT HBI - III sebanyak 52 bayi
(15,25%) dan campak 16 bayi (4,69%) (DinKes, ...
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran tingkat tahu ibu terhadap Jadwal Pemberian
Imunisasi Dasar Pada Bayi 0-11 Bu...
b. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan ajar bagi
institusi pendid...
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Imunisasi Dasar
a. Imunisasi
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang...
b. Imunisasi Dasar
Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan semua
orang, terutama bayi dan anak sejak...
minggu pertama melalui ibu. Secara umum tujuan imunisasi, antara
lain:
a. Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah diserang pe...
kematian dan cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan
menjadi kebal.Ketujuh penyakit tersebut dimasukan pada progr...
3) Pertusis
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang
disebabkan oleh Bordotella pertusis pada saluran p...
5) Poliomyelitis
Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
polio.Berdasarkan hasil surveilans AFP (Acute Flaccide P...
hidupnya.Dengan demikian integrasi imunisasi Hepatitis B ke dalam
imunisasi dasar pada kelompok bayi dan anak-anak merupak...
2) Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Vaksin BCG adalah vaksin bentuk beku kering yang mengandung
mycobacterium bovis h...
parut.Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional
diketiak dan leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak
menimbulk...
4) Vaksin polio
Vaksin polio (Oral Polio Vaccine = OPV) Vaksin oral polio hidup
adalah Polio trivalent yang terdiri dari s...
Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit
campak.
Dosis dan cara pemberian :
a) Sebelum di suntikan vak...
harus selalu mengawasi serta memberikan perawatan yang terbaik bagi bayi
sampai bayi berumur 1 tahun (Iwansyah, 2012)
b. T...
c) Kualitas penglihatannya meningkat.
d) Matanya bisa mengikuti gerakan benda yang dekat dengannya.
e) Akan menghisap seti...
e) Mengamati ekspresi wajah orang dan menirunya.
f) Sebagian sudah ada yg tumbuh giginya.
5) Bayi 5 bulan
a) Berat badan :...
7) Bayi 7 bulan
a) Berat badan : 6,2-8,3 kg, Panjang badan : 63,2-69,5 cm, Lingkar
kepala : 40,5-46,5 cm
b) Sudah mahir du...
e) Aktif merangkak dan memanjat (Anonim, 2016)
3. Jadwal Pemberian Imunisasi
Tabel 1.
Pencatatan Pemberian Imunisasi Dasar...
4. Pengetahuan
a. Pengertian
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil rasa keingintahuan
manusia terhadap sesuatu dan hasra...
2) Comprehension (Memahami)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang di keta...
yang ada. Misalnya, dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan,
menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumu...
atau masalah upaya pemecahannya dilakukan dengan coba-coba. Cara
coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan beberapa kemun...
d) Berdasarkan pengalaman sendiri
Pengalaman adalah guru terbaik demikian bunyi pepatah. Pepatah ini
mengandung maksud bah...
g) Kebenaran secara intuitif
Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepatsekali melalui
proses di luar kesadar...
j) Deduksi
Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan
umum ke khusus. Di dalam proses berpikir deduksi...
a) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan...
b) Mass media / informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non
formal dapat memberikan pengaruh...
d) Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik
lingkungan fisik, biologis, maupun sosia...
masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan
persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia ...
** Anak diatas 1 tahun (12 bulan) yang belum lengkap imunisasinya tetap
harusdiberikan imunisasi dasar lengkap. Sakit ring...
C. Kerangka Konsep
Keterangan :
Variabel bebas :
Variebel terikat :
Hubungan antara variabel :
D. Pertanyaan Penelitian
1....
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini yaitu penelitian bersifat deskriptif yakn...
C. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu
Penelitian ini dilaksanankan pada Bulan Juli 2016.
2. Tempat Penelitian
Penelitian...
Tingkat aplikasi Apabila ibu
dapat
mengingat,
memahami serta
dapat
mengaplikasika
n tentang
Jadwal
Pemberian
Imunisasi Das...
a) Memeriksa kelengkapan data
b) Memeriksa kesinambungan data
c) Memeriksa keseragaman data
b. Memberi Kode (Coding Data)
...
f = Jumlah jawaban yang benar
n = Jumlah soal (Putri Ariani, A, 2014).
H. Jalannya Penelitian Penelitian
1. Tahap Persiapa...
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi
Desa Lagasa berada di Kecamatan Duruka ...
Tabel 4.Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Desa
LagasaKecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016
Umur Frekuens...
Jumlah (n) 38 100
Sumber: Data Primer 2016
Pada tabel 5 menunjukan bahwa distribusi frekuensi responden
berdasarkan pendid...
d. Analisis Univariat
1) Distribusi responden berdasarkan Tingkat Tahu
Distribusi frekuensi pengetahuan berdasarkan tingka...
Tabel 8.Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal
Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan Berdasarkan Ti...
Tabel 9.Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian
Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan Berdasarkan Ti...
dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan
dan memutuskan mata rantai penularan, agar pe...
Melakukan imunisasi pada bayi merupakan bagian tanggung jawab orang tua
terhadap anaknya.Imunisasi dapat diberikan ketika ...
lanjut dari world summit for children yaitu insidens 1/10.000 kelahiran hidup pada
tahun 2000. Imunisasi DPT bertujuan unt...
3. Pengetahuan Ibu Berdasarkan Aplikasi
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan dari 38 responden
berdasarkan tingkat ...
Hal ini di dukung oleh teori yang di kemukakan oleh Putri Ariani, A,
(2014) bahwa pengetahuan di pengaruhi oleh beberapa f...
Pengetahuan kepada Ibu diperlukan karena sebagai modal awal perubahan
perilaku masyarakat. Pengetahuan yang baik akan berp...
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilalukan dari 38 responden tentang
pengetahuan Ibu terhadap...
DAFTAR PUSTAKA
Anonim (2015).Pengertian Defenisi Bayi
(http://carapedia.com/pengertian_definisi_bayi_info2132.html) di aks...
KUISIONER
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG JADWAL PEMBERIAN
IMUNISASI DASAR PADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA
KECAMATAN ...
A. Tingkat Tahu Ibu
No Pernyataan B S
1. Pemberian imunisasi BCG berdasarkan jadwal Imunisasi pada usia
usia 0-2 bulan
2. ...
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI DASARPADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA KECAMATAN DURUKA KAB...
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI DASARPADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA KECAMATAN DURUKA KAB...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI DASARPADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA KECAMATAN DURUKA KAB. MUNA BULAN JULI TAHUN 2016

176 views

Published on

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP JADWAL PEMBERIAN
IMUNISASI DASARPADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA
KECAMATAN DURUKA KAB. MUNA
BULAN JULI TAHUN 2016

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI DASARPADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA KECAMATAN DURUKA KAB. MUNA BULAN JULI TAHUN 2016

  1. 1. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI DASARPADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA KECAMATAN DURUKA KAB. MUNA BULAN JULI TAHUN 2016 Karya Tulis Ilmiah Diajukansebagaisalahsatusyaratdalammenyelesaikanpendidikan DiAkademiKebidananParamataRahaKabupatenMuna Oleh: Sitti Alma Findra PSW.1B.2013.0039 YAYASAN PENDIDIKAN SOWITE AKADEMI KEBIDANAN PARAMATA RAHA KABUPATEN MUNA 2016
  2. 2. LEMBAR PERSETUJUAN Karya Tulis Ilmiah Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna Bulan Juli tahun 2016 Telah disetujui untuk diseminarkan di hadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna Raha, Juli 2016 Pembimbing I Pembimbing II Dina Asminatalia, S.Kep.,Ns Rosdiana Ita, SST Mengetahui, Direktur Akbid Paramata Raha Kabupaten Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M.Kes
  3. 3. LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna TIM PENGUJI 1. La Ode Muhlisi, A.Kep., M. Kes (……………………………….) 2. Dina Asminatalia, S.Kep.,Ns (……………………………….) 3. Rosdiana Ita, SST (……………………………….) Raha, Juli 2016 Pembimbing I Pembimbing II Dina Asminatalia, S.Kep.,Ns Rosdiana Ita, SST Mengetahui, Direktur Akbid Paramata Raha Kabupaten Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M.Kes
  4. 4. RIWAYAT HIDUP I. IDENTITAS Nama : SITTI ALMAFINDRA Tempat tanggal lahir : Raha, 29 Maret 1993 Suku/Bangsa : Muna/Indonesia Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam II. NAMA ORANG TUA Ayah : LA ODE ALI HUSEN, S.Pd Ibu :SITTI HANAFIAH III. RIWAYAT PENDIDIKAN 1. Lulus SD Negeri 10 Katobu : Tamat tahun 2006 2. Lulus SMP Negeri 2 Raha : Tamat tahun 2009 3. Lulus SMA Negeri 1 Raha : Tamat tahun 2012 4. Sejak Tahun 2013Mengikuti Pendidikan di Program Studi D3 Kebidanan Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna sampai sekarang.
  5. 5. KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis ilmiah ini dengan judul “Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan di Desa Lagasa Kecamatan DurukaKabupaten Muna Bulan Juli tahun 2016”. Shalawat dan salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai suri teladan bagi sekalian ummat manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam kesempatan ini, penulis menghaturkan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Ibu Dina Asminatalia, S.Kep.,Ns selaku pembimbing I dan Ibu Rosdiana Ita, S.ST selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membantu, membimbing penulis dalam penyelesaian proposal ini dan tak lupa pula penulis mengucapkan banyak terima kasih. Tak lupa penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan skripsi ini, yaitu : 1. Bapak La Ode Muhlisi, A.Kep.,M.,Kesselaku Ketua Yayasan Pendidikan Sowite Akbid Paramata Raha. 2. Ibu Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M.Kes., selaku Direktur Akbid Paramata Raha. 3. Bapak Mamang Taga selaku Kepala Desa Lagasa 4. Segenap Dosen dan Staf Akbid Paramata Rahayang telah membantu dan membimbing penulis dalam mengikuti pendidikan.
  6. 6. 5. Penghargaan dan Kasih Sayangnya kepada Ayahanda La Ode Ali Husen S.Pd dan Ibunda Sitti Hanafiah. 6. Teman-teman mahasiswa Akbid Paramata khususnya angkatan 2013 yang telah memberikan bantuan dan kerjasamanya yang baik.. Akhirnya semoga karya tulis ini dapat bermanfaat selain diri pribadi penulis juga bagi pengembangan ilmu Kebidanan dan penulis berharap semoga Allah SWT memberikan imbalan yang setimpal atas bantuan dan jasa- jasa semua pihak yang telah berupaya membantu penyusunan karya tulis. Raha, Juli 2016 Penulis
  7. 7. DAFTAR ISI Halaman Judul.................................................................................................. i Lembar Persetujuan.......................................................................................... ii Lembar Pengesahan ......................................................................................... iii Riwayat Hidup ................................................................................................. iv Kata Pengantar ................................................................................................. v Daftar Isi………………………………………………………………………..vii Daftar Tabel …. ............................................................................................... xi Daftar Lampiran............................................................................................... x Intisari .............................................................................................................. xi Bab I Pendahuluan........................................................................................ 1 A. Latar Belakang .............................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ......................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian........................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian......................................................................... 6 Bab II Tinjauan Pustaka............................................................................. 8 A. Telaah Pustaka............................................................................... 8 1. Imunisasi Dasar....................................................................... 8 2. Bayi ......................................................................................... 19 3. Jadwal Pemberian Imunisasi ................................................... 24 4. Pengetahuan ............................................................................ 25 B. Landasan Teori.............................................................................. 36 C. Kerangka Konsep .......................................................................... 37 D. Pertanyaan Penelitan .................................................................... 38 Bab IIIMetode Penelitian .............................................................................. 39 A. Jenis Penelitian.............................................................................. 39 B. Subjek Penelitian........................................................................... 39 C. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 40 D. Identifikasi Variabel Penelitian..................................................... 40 E. Kriteria Objektif dan Defenisi Operasional .................................. 40 F. Instrumen Penelitian...................................................................... 41
  8. 8. G. Cara Analisis Data......................................................................... 41 H. Jalannya Penelitian........................................................................ 43 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ................................................... 44 A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ............................................ 44 B. Pembahasan .................................................................................. 50 Bab V Kesimpulan dan Saran....................................................................... 57 A. Kesimpulan ................................................................................... 57 B. Saran ............................................................................................. 57 Daftar Pustaka................................................................................................ 57
  9. 9. DAFTAR TABEL Tabel 1 Pencatatan Pemberian Imunisasi Dasar LengkapMenurut Buku Kesehatan Ibu Dan Anak ............................................................. 24 Tabel 2 Kriteria Objektif dan Defenisi Operasional.................................. 40 Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Desa LagasaKecamatan Duruka Bulan JuliTahun 2016......... 44 Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan JuliTahun 2016 45 Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 46 Tabel 6 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan Berdasarkan Tingkat Tahu di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan Agustus Tahun 2016.................................................................... 47 Tabel 7 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan Berdasarkan Tingkat Memahami di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Buli JuliTahun 2016..................................................................... 48 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan Berdasarkan Tingkat Aplikasidi Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016................................................................................... 49
  10. 10. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Lampiran 2 Kuisioner Penelitian Lampiran 3 Master Tabel Penelitian Lampiran 4 Surat Keterangan Telah Meneliti
  11. 11. INTISARI Sitti Almafindra(PSW.B.2013.IB.0039) “Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna Bulan Juli tahun 2016”, dibimbing oleh Dina Asminataliadan Rosdiana Ita. Latar Belakang :Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan (antibody) seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Penyaki-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) antara lain : TBC, Diphteri, Pertusis, Campak, Tetanus, Polio, dan Hepatitis B. penyakit ini merupakan penghambat pertumbuhan dan perkembangan anak balita.Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisai.Proporsi kematian bayi yang disebabkan karena tetanus neonatorum (TN) di Indonesia cukup tinggi yaitu 67%.Dalam upaya pencegahan TN maka imunisai diarahkan kepada pemberian perlindungan baru lahir dalam minggu-minggu pertama melalui ibu. Metode :Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah Deskriptif dengan populasi sebanyak 38 bayi, sampel sebnyak 38 bayi dengan menggunakan teknik total sampling. Hasil : Pengetahuan ibu berdasarkan tingkat tahu didapatkan berpengetahuan baik sebanyak 14 responden (36,84%), pengetahuan ibu berdasarkan tingkat memahami didapatkan berpengetahuan baik sebanyak 18 responden (47,37%).dan pengetahuan ibu berdasarkan tingkat aplikasi didapatkan berpengetahuan baik sebanyak 29 responden (76,32%). Kesimpulan: Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna Bulan Juli tahun 2016berdasarakan tingkat tahu, memahami dan aplikasi terbanyak adalah pengetahuan baik. Kata kunci: Pengetahuan, Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Kepustakaan: 6 buku (2010-2016)
  12. 12. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Derajat kesehatan suatu bangsa dan negara dapat diukur dengan indikator.Angka kematian balita merupakan salah satu indikator yang sangat sensitif, tidak saja mengukur derajat kesehatan tetapi untuk mengukur tingkat kemajuan suatu bangsa dan negara. Dengan demikian setiap negara akan berusaha untuk menekankan supaya angka kematian pada balita dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC, diphteri, pertusis, campak, tetanus, polio, dan hepatitis B merupakan salah satu penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Kurang lebih 1,7Juta kematian per tahun pada anak atau balita di Indonesia adalah akibat PD3I. Agar target nasional dan global dengan cara eradikasi, eliminasi dan redusir terhadap PD3I dapat dicapai, cakupan imunisasi harus dipertahankan tinggi dan merata sampai mencapai tingkat Population Immunity (kekebalan masyarakat) yang tinggi. Kekebalan untuk menjaga tingkat cakupan imunisasi yang tinggi dan merata dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) (Iwansyah, 2012). Salah satu upaya dalam mewujudkan dan meningkatkan mutu kesehatan anak pada suatu bangsa dan negara tidak lepas dari dasar keluarga yang harmonis, penuh kesadaran, tanggung jawab dan kesetiaan untuk berkorban serta pengetahuan ibu dalam memberikan imunisasi terhadap anak balita dalam mencegah penyakit yang ditimbulkan oleh PD3I atau mengurangi angka kematian terhadap anak balita. Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan (antibody) seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Penyaki-penyakit
  13. 13. yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) antara lain : TBC, diphteri, pertusis, campak, tetanus, polio, dan hepatitis B. penyakit ini merupakan penghambat pertumbuhan dan perkembangan anak balita(Atikah P, 2010). Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh, dan dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutuskan mata rantai penularan, agar penyelengaraan imunisasi dapat mencapai sasaran yang diharapkan, perlu adanya pedoman penyelenggaraan imunisasi. Hal ini sejalan dengan Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 1053/MenKes/SK/IX/2004 (Iwansyah, 2012). World Health Organization (WHO) mulai menetapkan program imunisasi sebagai upaya global dengan Expanded Program on Imunization (EPI), yang diresolusikan oleh World Health Assembly (WHA). Terobosan ini menempatkan EPI sebagai komponen penting pelayanan kesehatan ibu dan anak, khususnya dalam pelayanan kesehatan primer. Pada Tahun 1981 mulai dilakukan imunisasi polio, Tahun 1982 imunisasi campak, dan Tahun 1997 imunisasi hepatitis mulai dilakukan. Pada tahun 1988 diperkirakan bahwa cakupan imunisasi di indonesia cukup tinggi dibandingkan beberapa negara berkembang lainnya (Atikah P, 2010). Imunisasi di Indonesia dimulai pada Tahun 1956 dengan imunisasi cacar.Tahun berikutnya imunisasi tidak berkembang signifikan, perkembangan baru dirasakan pada Tahun 1973 dengan dilakukannyan imunisasi BCG untuk menanggulangi Penyakit Tuberklosis.Disusun imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil pada Tahun 1974, kemudian imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus) pada bayi diadakan pada Tahun
  14. 14. 1976.Pada Tahun 1977, pemberian suntikan imunisasi pada bayi, tepat pada waktunya merupakan faktor yang sangat penting untuk kesehatan bayi.Imunisasi diberikan mulai dari lahir sampai awal masa kanak-kanak.Melakukan imunisasi pada bayi merupakan bagian tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.Imunisasi dapat diberikan ketika ada kegiatan posyandu, pemeriksaan kesehatan pada petugas kesehatan atau pekan imunisasi.Jika bayi sedang sakit yang disertai panas, menderita kejang sebelumnya, atau menderita penyakit sistem saraf, pemberian imunisasi perlu dipertimbangkan(Iwansyah, 2012). Kebanyakan dari imunisasi adalah untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakit-penyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak. Walaupun pengalaman sewaktu mendapatkan vaksinasi tidak menyenangkan untuk bayi (karena biasanya akan mendapatkan suntikan), tetapi rasa sementara akibat suntikan bertujuan untuk kesehatan anak dalam jangka waktu panjang (Atikah P, 2010). Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.Proporsi kematian bayi yang disebabkan karena Tetanus Neonatorum (TN) di Indonesia cukup tinggi yaitu (67%).Dalam upaya pencegahan TN maka imunisasi diarahkan kepada pemberian perlindungan baru lahir dalam minggu-minggu pertama melalui ibu. Eliminasi tetanus neonatorum merupakan salah satu target harus dicapai sebagai tindakan lanjut dari world summit for children yaitu insidens 1/10.000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Imunisasi DPT bertujuan untuk mencegah tiga penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis, tetanus.Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria (Iwansyah, 2010).
  15. 15. Imunisasi yang diberikan pada kanak-kanak serta bayi merupakan cara yang paling berkesan dan kos efektif untk melindungi mereka dari penyakit tuberculosis (TB), difteri, pertusis ( batuk kokol), tetanus (kancing gigi), poliomyelitis, campak, rubella dan hep.B. Walau bagaimanapun masih terdapat kanak-kanak yang tidak diberi imunisasi karena kekurangan pengetahuan mengenai vaksin serta jadwal imunisasi, salah paham mengenai kontra indikasi, kerisauan tentang kesan sampingan serta komplikasi vaksin. DR. Neoh Siew Hong (Iwansyah, 2010). Berdasarkan data provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2014 jumlah bayi adalah 51325 bayi dan yang diberikan imunisasi BCG sebanyak 23367 bayi (45,52%),polio I-V sebanyak 45517 bayi (88,68%) DPT-HB I- III sebanyak 37372 bayi (72,81%), campak sebanyak 44548 (86,79%) dan HB0 sebanyak 34455 bayi(67,13%) (BPS Sultra, 2014). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Muna pada Tahun 2013 – 2015 jumlah bayi adalah 17080 bayi dan yang diberikan imunisasi BCG sebanyak 6986 bayi (40,90%) , polio I - V sebanyak 8386 bayi (49,09%) DPT-HB I- III sebanyak 8087 bayi (47,34%), campak sebanyak 7206 (42,18%)dan HB0 sebanyak 2434 bayi(14,25%) (Dinas Kesehatan Kab. Muna, 2013-2015) . Berdasarkan data awal yang diperoleh di Puskesmas Wapunto jumlah bayi yang masuk pada Tahun 2013-2015 sebanyak 509 dan yang diberikan imunisasi HB0 69 bayi (13,55%), BCG sebanyak 268 bayi (62,65%), polio I-V sebanyak 221 bayi (62,65%), DPT HBI - III sebanyak 168 bayi (33,00%) dan campak 240 bayi (47,15%) (Dinkes, 2013-2015). Sementara pada Tahun 2016 periode Januari – Juni 341 bayi yang diberikan imunisasi HB0 19 bayi (5,57%), BCG sebanyak 20 bayi
  16. 16. (5,86%), polio I-V sebanyak 91 bayi (26,68%), DPT HBI - III sebanyak 52 bayi (15,25%) dan campak 16 bayi (4,69%) (DinKes, Periode Januari-Juni2016). Dari studi pendahuluan yang dilaksanakan peneliti melalui metode wawancara dengan 10 ibu yang memiliki bayi di Desa Lagasa Tahun 2016 pada Bulan Juli, diketahui bahwa 2 orang tamat SD, 3 orang tamat SMP, 3 orang tamat SMA, dan 2 orang tamat PT hasil dari wawancara itu bahwa kebanyakan ibu-ibu tidak mengetahui jadwal imunisasi. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan tentang jadwal imunisasi masih sangat kurang.Untuk mengetahui hal tersebut maka kami mengadakan penelitian dengan mengangkat judul penelitian “Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 bulan di Desa Lagasa, Kecamatan Duruka, Kab. Muna Bulan Juli tahun 2016 ”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulandi Desa Lagasa, Kecamatan Duruka, Kab.Muna Bulan Juli Tahun 2016”? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 bulan di Desa Lagasa, Kecamatan Duruka, Kab. Muna Bulan Juli Tahun 2016
  17. 17. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui gambaran tingkat tahu ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi 0-11 Bulan di Desa Lagasa, Kecamatan Duruka, Kab. Muna Bulan Juli Tahun 2016 b. Untuk mengetahui gambaran tingkat pemahaman ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan di Desa Lagasa, Kecamatan Duruka, Kab. Muna Bulan Juli Tahun 2016. c. Untuk mengetahui gambaran tingkat aplikasi ibu terhadap jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi 0-11 bulan di Desa Lagasa, Kecamatan Duruka, Kab. Muna Bulan Juli Tahun 2016. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan khusus serta sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya dan sumbangan pengembangan dan penyempurnaan ilmu pengetahuan yang sudah ada yang terkait dengan Gambaran Pengetahuan Ibu Terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Pada bayi 0-11 Bulan di Desa Lagasa, Kecamatan Duruka, Kab. Muna Bulan Juli tahun 2016 2. Manfaat Praktis a. Bagi Puskesmas Wapunto Sebagai bahan masukan dalam peningkatan mutu dan peningkatan jumlah kunjungan imunisasi.
  18. 18. b. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan ajar bagi institusi pendidikan. c. Bagi Peneliti Sebagai proses pembelajaran untuk mengembangan kemampuan dalam melakukan kajian-kajian ilmiah di bidang kebidanan. d. Bagi Profesi Kebidanan Memberikan sumber pengetahuan yang luas di bidang kebidanan dalam pembangunan dan kemandirian profesi kebidanan. e. Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan agar hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian khususnya bagi peneliti yang tertarik untuk mengembangkan hasil penelitian ini guna meningkatkan dalam pelayanan kebidanan.
  19. 19. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Imunisasi Dasar a. Imunisasi Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh. Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada umumnya, reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai "pengalaman".Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak.Itulah sebabnya, pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal misalnya terjadinya kecacatan atau kelumpuhan (Muslihatun, 2010).
  20. 20. b. Imunisasi Dasar Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari penyakit-penyakit yang berbahaya.Lima jenis imunisasi dasar yang diwajibkan adalah imunisasi terhadap tujuh penyakit, yaitu : TBC, defteri, tetanus, pertusis (batuk-batuk rejan), poliomyelitis, campak dan hepatitis B. Kelima jenis imunisasi dasar yang wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun tersebut adalah : 1) Imunisasi BCG, yang dilakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan. 2) Imunisasi DPT, yang diberikan tiga kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu. 3) Imunisasi polio, yang diberikan empat kali pada bayi usia 0-11 bulan dengan interval 4 minggu. 4) Imunisasi campak, yang diberikan satu kali pada bayi usia 9-11 bulan. 5) Imunisasi hepatitis B, yang diberikan tiga kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal 4 minggu (Anik M, 2010). c. Tujuan Imunisasi Tujuan imunisasi adalah untuk memberikan kekebalan tubuh kepada bayi terhadap penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabakan oleh penyakit yang sering terjangkit. Proporsi kematian bayi yang disebabkan karena Tetanus Neonatorum (TN) di Indonesia cukup tinggi yaitu (67%).Dalam upaya mencegah TN maka imunisasi diarahkan kepada pemberian perlindungan bayi baru lahir dalam
  21. 21. minggu pertama melalui ibu. Secara umum tujuan imunisasi, antara lain: a. Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah diserang penyakit menular. b. Imunisasi sangat efektif mencegah penyakit menular. c. Imunisasi menurunkan angka morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) pada balita (Atika P, 2010) d. Manfaat Imunisasi 1) Untuk anak: mencegah penderita yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian. 2) Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologis pengobatan balita anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman. 3) Untuk Negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan Negara (Iwansyah, 2010) e. Pentingnya Imunisasi dan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam pencegah penyakit dan merupakan bagian kedokteran preventif yang mendapatkan prioritas. Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan
  22. 22. kematian dan cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal.Ketujuh penyakit tersebut dimasukan pada program imunisasi yaitu penyakit tuberkulosis, difteri, pertusi, tetanus polio, campak dan hepatitis B (Iwansyah, 2012). 1) Tuberculosis (TBC) TBC adalah suatu penyakit penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosa).Penyakit TBC ini dapat menyerang semua golongan umur dan diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang pertahun.Di negara-negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di negara berkembang (Iwansyah, 2012) 2) Defteri Defteri adalah merupakn penyakit infeksi yang dapat disebabakan oleh coryne bacterium diphtheriae merangsang saluran pernapasan terutama terjadi pada balita.Penyakit difteri mempunyai kasus kefatalan yang tinggi.Pada penduduk yang belum divaksin ternyata anak yang yang berumur 1-5 tahun paling banyak diserang kekebalan (antibodi) yang diperoleh dari ibunya hanya berumur satu tahu.
  23. 23. 3) Pertusis Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Bordotella pertusis pada saluran pernapasan. Penyakit ini merupakan penyakit yang cukup serius pada bayi usia dini dan tidak jarang menimbulkan kematian. Seperti halnya penyakit infeksi saluran pernapasan akut lainnya, pertusi sangat mudah dan cepat penularannya.Penyakit ini dapat merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan terutama di daerah yang padat penduduk. 4) Tetanus Tetanus adalah penyaki yang disebabkan oleh kuman bakteri Clostridiumtetani.Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum).Penyakit terjadi karena kuman Clostridium tetani memasuki tubuh bayi lahir melalui tali pusat yang kurang terawat.Kejadian seperti ini sering kali ditemukan pada persalinan yang dilakukan oleh dukun kampung akibat memotong tali pusat memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril.Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan, abu, daun-daunan dan sebagainya.Oleh karena itu, untuk mencegah kejadian tetanus neonatorum ini adalah dengan pemberian imunisasi.
  24. 24. 5) Poliomyelitis Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio.Berdasarkan hasil surveilans AFP (Acute Flaccide Paralysis) dan pemeriksaan laboratorium, penyakit ini sejak Tahun 1995 tidak ditemukandi Indonesia. Namun kasus AFP ini dalam beberapa terakhir kembali ditemukan dibeberapa daerah di indonesia. 6) Campak Penyakit campak (Measles) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak, dan termaksud penyakit akut dan sangat menular, menyerang hampir semua anak kecil.Penyebabnya virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar saat penderita bernafas, batuk dan bersin (droplet).Penyakit ini pada umumnya sangat dikenal oleh masyarakat terutama para ibu rumah tangga.Dibeberapa daerah penyakit ini dikaitkan dengan nasib yang harus dialami oleh semua anak, sedangkan di daerah lain dikaitkan dengan pertumbuhan anak. 7) Hepatitis B Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Penyakit ini masih merupakan satu masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensinya cukup tinggi.Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu melalui pemberian imunisasi hepatitis pada bayi dan anak-anak.Hal ini dimaksudkan agar mereka terlindungi dari penularan hepatitis B sedini mungkin dalam
  25. 25. hidupnya.Dengan demikian integrasi imunisasi Hepatitis B ke dalam imunisasi dasar pada kelompok bayi dan anak-anak merupakan langkah yang sangat diperlukan (Iwansyah, 2012). f. Jenis Vaksin Dari sekian banyak jenis vaksin sampai saat ini yang dimasukkan dalam program imunisasi baru 5 jenis vaksin. Berikut ini akan diuraikan vaksin program imunisasi. 1) Vaksin Hepatitis B Adalah vaksin virus recombinan yang telah di inaktivasikan dan bersifat non-infecious, berasal dari HBsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula polymorpha) menggunakan teknologi DNA rekombinan. Indikasi : untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Dosis dan cara pemberian : a) Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspense dan homogen. b) Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian suntikan secara intra muskuler, pada anterolateral paha. Efek Samping : Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadibersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari.
  26. 26. 2) Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) Vaksin BCG adalah vaksin bentuk beku kering yang mengandung mycobacterium bovis hidup yang sudah dilemahkan dari strain paris no.1173.P2 Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberkulosa. Komposisi : setelah dilarutkan dengan 4 ml pelarut, tiap ml vaksin mengandung basil BCG hidup 0,75 mg, Natrium Glutamat 1,87 mg dan Natrium Klorida 9 mg. Dosis dan Cara pemberian : a) Sebelumdisuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu dengan 4 ml pelarut NACL 0,9%. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril dengan spoid 5 ml. b) Dosis pemberian : 0,05 ml, sebanyak 1 kali, untuk bayi ≤ 1tahun c) Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertion musculus deltoideus), dengan menggunakan alat suntik dosis tunggal yang steril dan jarum suntik no. 25 G. d) Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam. Efek Samping :Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti demam. 1-2 minggu kemudian akan timbul indurasi dan kemerahan ditempat suntikan yang berubah menjadi pustule, kemudian pecah menjadi ulkus. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda
  27. 27. parut.Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional diketiak dan leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya. 3) Vaksin DPT/HB Vaksin DPT mengandung toksoid difteri, toxoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis yang inaktivasi serta vaksin hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non infectious. Vaksin hepatitis B ini merupakan vaksin DNA rekombinan yang berasal dari HbsAg yang diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan pada sel ragi. Indikasi: untuk pemberian kekebalan aktif terhadap pentakit difteri, tetanus, pertusis dan hepatitis B. Dosis dan Cara Pemberian : a) Pemberian dengan cara intra muskuler, 0,5 ml sebanyak 3 dosis b) Dosis pertama diberikan 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu (1 bulan). Efek samping : Reaksi lokal atau sistemik yang bersifat ringan. Kasus yang terjadi adalah bengkak, nyeri, penebalan kemerahan pada bekas suntikan, menangis menjerit terus menerus lebih dari 3 jam, kadang-kadang terjadi reaksi umum demam seperti demam > 38,5o C,muntah.
  28. 28. 4) Vaksin polio Vaksin polio (Oral Polio Vaccine = OPV) Vaksin oral polio hidup adalah Polio trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1,2 dan 3 (strain sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. Indikasi:Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomyelitis Cara pemberian dan dosis : a) Sebelum digunakan pipet penetes harus dipasangkan pada vial vaksin. b) Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 (dua) tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu. Efek Samping : pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping berupa paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (kurang dari 0,017 : 1.000.000 ; Bull WHO 66: 1988). 5) Vaksin Campak Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1.000 infective unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg resido erythromycin. Vaksin ini berbentuk beku kering yang harus dilarutkan dengan aquabidest steril.
  29. 29. Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Dosis dan cara pemberian : a) Sebelum di suntikan vaksin campak terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut aquabidest. b) Dosis pemberian 0,5 ml disuntikan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan. c) Vaksin campak yang sudah dilarutkan hanya boleh digunakan maksimum 6 jam. Efek samping :Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi. Terjadi encephalitis setelah setelah vaksinasi pernah dilaporkan yaitu dengan perbandingan 1 kasus per I juta dosis yang diberikan. 2. Bayi a. Pengertian Bayi Bayi adalah masa tahapan pertama kehidupan seorang manusia setelah terlahir dari rahim seorang ibu.Pada masa ini, perkembangan otak dan fisik bayi selalu menjadi perhatian utama, terutama pada bayi yang terlahir prematur maupun bayi yang terlahir cukup bulan namun memiliki berat badan rendah. Baik ibu maupun bapak dan orang-orang terdekat si bayi juga
  30. 30. harus selalu mengawasi serta memberikan perawatan yang terbaik bagi bayi sampai bayi berumur 1 tahun (Iwansyah, 2012) b. Tahapan Tumbuh Kembang Bayi Tumbuh kembang bayi ada beberapa tahapan yaitu : 1) Bayi 1 bulan a) Berat badan: 3,0 – 14,3 kg, Panjang badan: 49,8 – 54,6 cm, Lingkar kepala: 33 – 39 cm b) Pada hari-hari pertama, bayi masih belum bisa membuka matanya. Kemudian beberapa waktu akan bisa melihat dalam jarak 20 cm c) Tahap bayi mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. d) Gerakan yang dikuasainya merupakan gerakan reflex alami. e) Sangat peka terhadap sentuhan. f) Akan menggerakkan kepala ke arah bagian tubuh yang disentuh. g) Sudah bisa tersenyum.Menangis adalah bahasa komunikasinya.Semakin lama, bunda akan tahu dengan sendirinya arti dari menangis sang bayi, apakah bayi bunda menangis karena lapar, karena gerah atau lainnya. h) Memegang jari yang disentuhkan ke tangannya. i) Menghabiskan sebagian besar waktunya dengan tidur 2) Bayi 2 bulan a) Berat badan : 3,6 - 5,2 kg, Panjang badan : 52,8 - 58,1 cm, Lingkar kepala : 35 - 41 cm. b) Sudah bisa membedakan muka dan suara.
  31. 31. c) Kualitas penglihatannya meningkat. d) Matanya bisa mengikuti gerakan benda yang dekat dengannya. e) Akan menghisap setiap benda yang dipegangnya. f) Bisa miring ke kiri dan ke kanan. g) Menggerak gerakkan tangan dan kaki ketika meminta perhatian. 3) Bayi 3 bulan a) Berat badan: 4,2 - 6,0 kg, Panjang badan : 55,5 - 61,1 cm, Lingkar kepala : 37-43 cm. b) Dapat mengangkat kepala dan tubuh saat tengkurap. c) Matanya sudah memperhatikan lingkungan sekitar. d) Menangis jika ditinggal. e) Mencari arah suara yang didengarnya. f) Dapat duduk beberapa waktu jika ditunjang. g) Menyukai bayangannya di cermin h) Semakin mahir menggunakan tangannya. i) Mulai mengenali wajah orang dan benda yang akrab dengannya. 4) Bayi 4 bulan a) Berat badan : 4,7 - 6,7 kg, Panjang badan : 57,8 - 63,7 cm, Lingkar kepala : 38-44 cm. b) Mulai mengoceh dan tertawa. c) Menginjakinjakkan kaki jika diberdirikan. d) Dapat menggerakkan/menggeser-geserkan tubuhnya untuk meraih benda.
  32. 32. e) Mengamati ekspresi wajah orang dan menirunya. f) Sebagian sudah ada yg tumbuh giginya. 5) Bayi 5 bulan a) Berat badan : 5,3-7,3 kg, Panjang badan : 59,8-65,9 cm, Lingkar kepala : 39-45 cm. b) Menangis jika mendengar suara ibunya. c) Dapat memindahkan barang dari satu tangan ke tangan yang lain. d) Menangis jika mainannya diambil. e) Senyum dan megoceh saat meminta perhatian. f) Dapat memasukkan kaki ke mulutnya. g) Bereksperimen dengan suaranya. Membuat suara yang berbeda beda untuk mengkomunikasikan keinginannya missal lapar, haus, marah, dan lain - lain . h) Sangat suka ditegakkan dalam posisi duduk. 6) Bayi 6 bulan a) Berat badan : 5,8-7,8 kg, Panjang badan : 61,6-67,8 cm, Lingkar kepala : 40-46 cm. b) Sudah banyak mengeluarkan suara. c) Sudah bisa tengkurap sendiri. d) Belajar menggunakan jari jarinya untuk menggenggam dengan baik, memukul, mengambil, dan memindahkan benda. e) Saat yang tepat untuk mengenalkan MP-ASI.
  33. 33. 7) Bayi 7 bulan a) Berat badan : 6,2-8,3 kg, Panjang badan : 63,2-69,5 cm, Lingkar kepala : 40,5-46,5 cm b) Sudah mahir duduk. c) Sudah dapat mengangkat badannya dalam posisi merangkak. d) Saat posisi merangkak senang mengayunkan badannya ke depan dan kebelakang. e) Bermain dengan mainan yang disukai dan akan marah jika mainan tersebut diambil. 8) Bayi 8 bulan a) Berat badan : 6,6-8,8 kg, Panjang badan : 64,6-71,0 cm, Lingkar kepala : 41,5-47,5 cm b) Mampu berteriak untuk memanggil orang. c) Sudah bisa merangkak dan duduk sendiri. d) Membuang mainan yang tidak disukainya e) Sudah dapat berdiri dengan bantuan. f) Dapat memegang botol minumnya sendiri. 9) Bayi 9 bulan a) Berat badan : 7,0-9,2 kg, Panjang badan : 66,0-72,3 cm, Lingkar kepala : 42-48 cm b) Mulai bereaksi jika diperintah. c) Mengenal beberapa kata. d) Dapat berdiri dengan tangan dipegangi.
  34. 34. e) Aktif merangkak dan memanjat (Anonim, 2016) 3. Jadwal Pemberian Imunisasi Tabel 1. Pencatatan Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap Menurut Buku Kesehatan Ibu Dan Anak Umur (Bulan)012 3 4 5 6 7 8 9 10 1112+** Vaksin Tanggal Pemberian Imunisasi HB 0 (0-7 hari) BCG *Polio 1 *DPT/HB 1 *Polio 2 *DPT/HB 2 *Polio 3 *DPT/HB 3 *Polio 4 Campak * Jarak antara (interval) pemberian vaksin DPT/HB dan Polio minimal 4 minggu(1 bulan) ** Anak diatas 1 tahun (12 bulan) yang belum lengkap imunisasinya tetap harusdiberikan imunisasi dasar lengkap. Sakit ringan seperti batuk pilek, diare, demam ringan dan sakit bukan halangan untuk imunisasi Keterangan : : Jadwal tepat pemberian imunisasi dasar lengkap : Waktu yang masih diperbolehkan pemberian imunisasi dasar lengkap : Waktu yang tidak diperbolehkan pemberian imunisasi dasar lengkap : Waktu pemberian imunisasi bagi anak diatas 1 tahun yang belum lengkap
  35. 35. 4. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil rasa keingintahuan manusia terhadap sesuatu dan hasrat untuk meningkatkan harkat hidup sehingga kehidupan menjadi lebih baik dan nyaman yang berkembang sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan manusia baik dimasa sekarang maupun dimasa depan. Pengetahuan hanya sekedar menjawab pertanyaan what misalnya apa alam, apa manusia, apa air dan lainnya (Putri Ariani, A, 2014) b. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoadmodjo (2003) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif yang mempunyai 6 tingkatan yaitu : 1) Know (Tahu) Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya.Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah di terima.Oleh sebab itu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang di pelajari antara lain dengan menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan dan sebagainya.
  36. 36. 2) Comprehension (Memahami) Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang di ketahui dan dapat menginterpretaskan materi tersebut secara benar.Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapatmenjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya. 3) Application (Aplikasi) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari padasituasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau pengunaan hukum- hukum, rumus,metode, prinsip dan sebagainya. 4) Analysis (Analisis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi/objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja, seperti dapat menggambarkan(membuatbagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. 5) Synthesis (Sintesis) Sintesismenunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan/menghubungkan bagan-bagan didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi
  37. 37. yang ada. Misalnya, dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan- rumusan yang telah ada. 6) Evaluation (Evaluasi) Evaluasi iniberkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi/penilaian terhadap suatu materi/objek.Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pengukuranpengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara/angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek penelitian/responden.Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui/kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan- tingkatan diatas. c. Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2010), cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua yakni cara tradisional atau non ilmiah yakni tanpa melalui penelitian ilmiah dan cara modern atau cara ilmiah yakni melalui proses penelitian. Lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Cara tradisional atau non ilmiah terdiri dari: a) Cara coba – salah ( Trial and Error) Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban apabila seseorangmenghadapi persoalan
  38. 38. atau masalah upaya pemecahannya dilakukan dengan coba-coba. Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidakberhasil, dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat terpecahkan. b) Secara kebetulan Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan. c) Cara kekuasaan atau otoritas Kehidupan sehari-hari ditemukan banyak sekali kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak.Kebiasaan seperti ini bukan hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern.Kebiasaan ini seolah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal.Para pemuka agama, pemegang pemerintahan dan lain sebagainya. Dengan kata lain, pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada pemegang otoritas, yakni orang mempunyai wibawa atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan atau ilmuwan.
  39. 39. d) Berdasarkan pengalaman sendiri Pengalaman adalah guru terbaik demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itumerupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. e) Cara akal sehat ( common sense) Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Misalnya pemberian hadiah dan hukuman merupakan cara yang masih dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan. f) Kebenaran melalui wahyu Ajaran dan norma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak.Sebab kebenaran ini diterima oleh para Nabi adalah sebagai wahyu dan bukan karena hasil usaha penalaran atau penyelidikan manusia.
  40. 40. g) Kebenaran secara intuitif Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepatsekali melalui proses di luar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan cara yang rasional dan yang sistematis. h) Melalui jalan pikiran Sejalan dengan perkembangan perkembangan kebudayaan umat manusia cara manusia berfikir ikut berkembang. Dari sini manusia mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan. Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan-pernyataan yang khusus kepada yang umum dinamakan induksi sedangkan deduksidalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum ke khusus. i) Induksi Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat umum. Hal ini berarti dalam berpikir induksi pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman empiris yang ditangkap oleh indra kemudiandisimpulkan kedalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala.
  41. 41. j) Deduksi Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum ke khusus. Di dalam proses berpikir deduksiberlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar secara umum padakelas tertentu, berlaku juga kebenarannya pada semua persitiwa yang terjadi pada setiap yang termasuk dalam kelas itu. 2) Cara ilmiah atau modern Cara baru atau dalam memperoleh pengetahuan pada dewasaini lebih sistematis, logis dan ilmiah.Cara ini disebut metode penelitian ilmiah, atau metodologi penelitian (research metodology).Cara ini dikembangkan oleh Francis Bacon yang mengembangkan metode berpikir induktif kemudian dikembangkan oleh Deobold van Dallen yang menyatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulandilakukan dengan mengadakanobservasi langsung dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek yang diamatinya. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok : a) Segala sesuatu yang positif yakni gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan pengamatan. b) Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan. c) Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi yaitu gejala-gejala yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi tertentu. 3) Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :
  42. 42. a) Pendidikan Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah danberlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan perilaku seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari obyek yangdiketahui, akan menumbuhkan perilaku makin positif terhadap obyek tersebut .
  43. 43. b) Mass media / informasi Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut. c) Sosial budaya dan ekonomi Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
  44. 44. d) Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu. e) Pengalaman Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masalalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan profesional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat mengembangkankemampuan mengambil keputusan yang merupakanmanifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya. f) Usia Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam
  45. 45. masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. d. Pengukuran Pengetahuan Menurut Arikunto, 2006 penetahuan seseoarng dapat diketahui dan di interpresatsikan dengan skala yang bersifat yaitu kualitatif : 1) Pengetahuan baik, jika persenatse jawaban 76% - 100%. 2) Pengetahuan cukup, jika persenatse jawaban 56% - 75%. 3) Pengetahuan kurang, jika persenatse jawaban < 55%. (Putri Ariani, A, 2014). B. Landasan Teori Pencatatan Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap Menurut Buku Kesehatan Ibu Dan Anak Umur (Bulan)012 3 4 5 6 7 8 9 10 1112+** Vaksin Tanggal Pemberian Imunisasi HB 0 (0-7 hari) BCG *Polio 1 *DPT/HB 1 *Polio 2 *DPT/HB 2 *Polio 3 *DPT/HB 3 *Polio 4 Campak * Jarak antara (interval) pemberian vaksin DPT/HB dan Polio minimal 4 minggu(1 bulan)
  46. 46. ** Anak diatas 1 tahun (12 bulan) yang belum lengkap imunisasinya tetap harusdiberikan imunisasi dasar lengkap. Sakit ringan seperti batuk pilek, diare, demam ringan dan sakit bukan halangan untuk imunisasi Keterangan : : Jadwal tepat pemberian imunisasi dasar lengkap : Waktu yang masih diperbolehkan pemberian imunisasi dasar lengkap : Waktu yang tidak diperbolehkan pemberian imunisasi dasar lengkap : Waktu pemberian imunisasi bagi anak diatas 1 tahun yang belum lengkap Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya.Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah di terima. Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang di ketahui dan dapat menginterpretaskan materi tersebut secara benar. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau pengunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya. Dengan pengukuran pengetahuan : b. Pengetahuan baik, jika persenatse jawaban 76% - 100% c. Pengetahuan cukup, jika persenatse jawaban 56% - 75% d. Pengetahuan kurang, jika persenatse jawaban < 55% (Putri Ariani, Ayu, 2014)
  47. 47. C. Kerangka Konsep Keterangan : Variabel bebas : Variebel terikat : Hubungan antara variabel : D. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimanakah gambaran tingkat tahu ibu terhadap jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi di Desa Lagasa Kec. Duruka Kab. Muna Bulan Juli Tahun 2016? 2. Bagaimanakah gambaran tingkat pemahaman ibu terhadap jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi di Desa Lagasa Kec. Duruka Kab. Muna Bulan Juli Tahun 2016 ? 3. Bagaimanakah gambaran tingkat aplikasi ibu terhadap jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi di Desa Lagasa Kec. Duruka Kab. Muna Bulan Juli Tahun 2016 ? Tingkat tahu Tingkat Pemahaman Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Tingkat aplikasi
  48. 48. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini yaitu penelitian bersifat deskriptif yakni menggambarkan tingkat keadaan suatu obyek dalam hal ini pengetahuan ibu terhadap jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi (Nursalam, 2016) B. Subyek Penelitian 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki bayi 0-11 bulantahun 2016 pada Bulan Juli sebanyak 38 bayi di Desa Lagasa Kecamatan Duruka, Kab. Muna 2. Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Nursalam, 2016).Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan tekniktotal Sampling . Sampel penelitian menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data ibu yang memilki bayi yang diberikan imunisasi akan dikunjungi penulis di Desa Lagasa, Kecamatan Duruka berdasarkan data sekunder. Data sekunder yaitudata Bayi di Desa Lagasa, Kecamatan Duruka Kabupaten Muna bulan Juli tahun 2016 yang tertulis di register buku register bayi .
  49. 49. C. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian ini dilaksanankan pada Bulan Juli 2016. 2. Tempat Penelitian Penelitian inidilaksanakan di Desa Lagasa Kec. Duruka, Kab. Muna D. Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel dependent dalam penelitian ini adalah jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi Sedangkan tingkat tahu, tingkat pemahaman, tingkat aplikasi menjadi variabel independent dalam penelitian ini. E. Defenisi Operasional Tabel 2 Tabel Defenisi Operasional Dan Kriteria Objektif No Variabel Definisi Operasional Kriteria Obyektif Alat ukur Skala 1. Dependent Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi Jadwal yang telah ditentukan untuk pemberian imunisasi pada bayi 2 Independent Tingkat tahu Apabila ibu sekedar tahu atau hanya mengingat tentang Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi Jawaban Benar : 1 Salah : 0 Baik : jika persentase 76–100 % Cukup : jika persentase 56–75 % Kurang : jika prosentase < 56 % Kuisioner Ordinal Tingkat pemahaman Apabila ibu tahu dan dapat memahami tentang Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi Jawaban Benar : 1 Salah : 0 Baik : jika persentase 76–100 % Cukup : jika persentase 56–75 % Kurang : jika prosentase < 56 % Kuisioner Ordinal
  50. 50. Tingkat aplikasi Apabila ibu dapat mengingat, memahami serta dapat mengaplikasika n tentang Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi Jawaban Ya : 1 Tidak : 0 Baik : jika persentase 76–100 % Cukup : jika persentase 56–75 % Kurang : jika prosentase < 56 % Kuisioner Ordinal F. Instrumen Penelitian Untuk pengambilan data dalam penelitian ini, instrumen yang akan digunakan adalah kuesioner dan cheklist G. Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan Data Proses pengolahan data (data processing) ini terdiri dari 3 (tiga) jenis kegiatan, yakni : a. Memeriksa Data (Editing Data) Memeriksa data hasil pengumpulan data, yang berupa daftar pertanyaan, kartu, buku dan lain-lain. Kegiatan ini meiputi hal-hal berikut: 1) Perhitungan dan penjumlahan Adalah menghitung lembaran-lembaran kuisioner atau daftar pertanyaan yang telah diisi dan kembali.Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah jumlahnya telah sesuai dengan jumlah yang disebarkan atau ditentukan. 2) Koreksi Yang termasuk kegiatan koreksi ini adalah untuk melihat hal-hal sebagai berikut :
  51. 51. a) Memeriksa kelengkapan data b) Memeriksa kesinambungan data c) Memeriksa keseragaman data b. Memberi Kode (Coding Data) Untuk memudahkan pengolahan data, maka semua jawaban atau data hasil penelitian dianggap sangat perlu untuk disederhanakan agar supaya pada saat pengolahan data dapat dilakukan dengan mudah. Salah satu cara untuk menyederhanakan data hasil penelitian tersebut adalah dengan memberikan simbol-simbol tertentu untuk masing-masing data yang sudah diklasifikasikan. c. Tabulasi Data (tabulating) Yang dimaksud dengan tabulasi data, yakni menyusun dan mengorganisir data sedemikian rupa, sehingga akan dapat dengan mudah untuk dilakukan penjumlahan, disusun dan disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Dalam pelaksanaannya dilakukan dengan cara manual elektronis/komputerisasi (Putri Ariani, A, 2014) 2. Analisis Data Dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat yaitu untuk mendeskripsikan kategori sampel terkait dengan variabel penelitian dalam bentuk presentase dengan menggunakan rumus statistik: P = f n x 100% Keterangan : P = Persentase
  52. 52. f = Jumlah jawaban yang benar n = Jumlah soal (Putri Ariani, A, 2014). H. Jalannya Penelitian Penelitian 1. Tahap Persiapan Adapun tahap persiapan yang pertama dilakukan dalam penelitian ini yaitu pertama-tama menyelesaikan administrasi dan perizinan penelitian terlebih dahulu kemudian melakukan peninjauan lokasi penelitian. 2. Tahap pelaksanaan Pada tahap ini yang pertama-tama dilakukan yaitu mengumpulkan data dengan cara membagikan kuesioner penelitian kepada setiap responden yang telah terpilih menjadi sampel penelitian dan menunggui pengisian kuesioner tersebut oleh setiap responden. 3. Tahap Akhir Setelah semua data telah terkumpul, data tersebut kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan analisis univariatkemudian kesimpulan dari analisis tersebut diuraikan dalam bentuk peyusunan materi.
  53. 53. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Lokasi Desa Lagasa berada di Kecamatan Duruka dengan luas wilayah adalah 120 Ha. Jumlah penduduk warga Desa Lagasa adalah 2.745 jiwa sedangkan jumlah KK adalah 742 KK.Jumlah penduduk laki-laki 1.340 jiwa dan penduduk perempuan 1.405 jiwa. Petugas Kesehatan di Desa Lagasa terdiri dari 1 orang Bidan. a. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Raha I b. Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Wapunto c. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kelurahan Palangga d. Sebelah Timur: Berbatasan dengan Selat Buton 2. Pembahasan Hasil Pelitian Penelitian ini berjudul Gambaran Pengetahuan Ibu Terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasarpada Bayi 0-11 Bulan Di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Kab. MunaBulan Juli Tahun 2016, dilakukan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Tahun 2016, dengan melakukan wawancara secara langsung dan menggunakan kuisioner pada masyarakat di Desa Lagasa dan dapat disajikan dalam bentuk tabel disertai penjelasan sebagai berikut: a. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Adapun distribusi responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4 berikut.
  54. 54. Tabel 4.Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Desa LagasaKecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 Umur Frekuensi (f) % <20 Tahun 1 2,63 20-35 Tahun 33 86,84 36-45 Tahun 4 10,53 Jumlah (n) 38 100 Sumber: Data Primer 2016 Pada tabel 4 menunjukan bahwa distribusi frekuensi responden berdasarkan umur terbanyak adalah pada kategori 20-35 tahun jumlah 33 responden (86,84%) dan yang paling sedikit adalah <20 tahun sebanyak 1 responden (2,63%) sedangkan pada umur 36-45 tahun jumlah 4 responden (10,53). b. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Adapun distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel 5 berikut. Tabel 5.Distribusi Frekuensi Responden BerdasarkanPendidikan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 Pendidikan Frekuensi (f) % Rendah 26 68,42 Sedang 9 23,68 Tinggi 3 7,89
  55. 55. Jumlah (n) 38 100 Sumber: Data Primer 2016 Pada tabel 5 menunjukan bahwa distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan tertinggi adalah pendidikan dasar sebanyak 26 responden (68,42%) dan yang paling sedikit adalah pendidikan menengah sebanyak 9 responden (23,68%) sedangkan pada pendidikan tinggi sebanyak 3 responden (7,89%). c. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Adapun distribusi responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat padatabel 6 berikut. Tabel 6.Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 Pekerjaan Frekuensi (f) % IRT 24 63,18 Swasta 11 28,94 PNS 3 7,89 Jumlah (n) 38 100 Sumber Data Primer 2016 Pada tabel 6 menunjukan bahwa distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan tertinggi adalah IRT sebanyak 24 responden (63,18%) dan yang paling sedikit adalah PNS sebanyak 3 responden (7,89%).
  56. 56. d. Analisis Univariat 1) Distribusi responden berdasarkan Tingkat Tahu Distribusi frekuensi pengetahuan berdasarkan tingkat tahudi Desa LagasaLagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 dilihat pada tabel 7 berikut Tabel 7.Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan BerdasarkanTingkat Tahu di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 Pengetahuan Frekuensi (f) % Baik 14 36,84 Cukup 12 31,58 Kurang 12 31,58 Jumlah (n) 38 100 Sumber Data Primer 2016 Pada tabel 7 menunjukan bahwa distribusi frekuensi pengetahuan ibu terhadap jadwal pemberian imunisasi dasar pada Bayi 0-11 Bulan berdasarkan tingkat tahu tinggi adalah berpengetahuan baik dengan jumlah14 responden (36,84%) dan yang paling rendah adalah berpengetahuan kurang sebanyak 12 responden (31,58%). dan cukup sebanyak 12 responden (31,58%). 2) Distribusi responden berdasarkan Tingkat Memahami Distribusi frekuensi pengetahuan berdasarkan tingkat memahamidi Desa LagasaLagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 dilihat pada tabel 8 berikut.
  57. 57. Tabel 8.Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan Berdasarkan Tingkat Memahamidi Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 Pengetahuan Frekuensi (f) % Baik 18 47,37 Cukup 11 28,95 Kurang 9 23,68 Jumlah (n) 38 100 Sumber :Data Primer 2016 Pada tabel 8 menunjukan bahwa distribusi frekuensi pengetahuan ibu terhadap jadwal pemberian imunisasi dasar pada Bayi 0-11 Bulan berdasarkan tingkat memahami tertinggi adalah berpengetahuan baik dengan jumlah 18 responden (47,37%), pengetahuan cukup sebanyak 11 orang (28,95%) dan yang paling rendah adalah berpengetahuan kurang sebanyak 9 responden (23,68%). 3) Distribusi responden berdasarkan Tingkat Aplikasi Distribusi frekuensi pengetahuan berdasarkan tingkat aplikasi di Desa LagasaLagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 dilihat pada tabel 9 berikut.
  58. 58. Tabel 9.Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan Berdasarkan Tingkat Aplikasi di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Bulan Juli Tahun 2016 Pengetahuan Frekuensi (f) % Baik 29 76,32 Cukup 6 15,79 Kurang 3 7,89 Jumlah (n) 38 100 Sumber: Data Primer 2016 Pada tabel 9 menunjukan bahwa distribusi frekuensi pengetahuan ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan berdasarkan tingkat aplikasi tertinggi adalah berpengetahuan baik dengan jumlah 29 responden (76,32%), pengetahun cukup sebanyak 6 responden (15,79%) dan yang paling rendah adalah berpengetahuan kurang 3 responden (7,89%) B. Pembahasan 1. Pengetahuan Ibu Berdasarkan Tingkat Tahu Hasil Penelitian yang dilakukan peneliti dari 38 responden berdasarkantingkat tahu tertinggi adalah berpengetahuan baik sebanyak 14 responden(36,84%), dan yang paling rendah adalah berpengetahuan kurang sebanyak 12 responden (31,58%). dan cukup sebanyak 12 responden (31,58%). Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan (antibody) seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh, dan
  59. 59. dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutuskan mata rantai penularan, agar penyelengaraan imunisasi dapat mencapai sasaran yang diharapkan, perlu adanya pedoman penyelenggaraan imunisasi. Hal ini sejalan dengan Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 1053/MenKes/SK/IX/2004 (Iwansyah, 2012). Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah di terima (Putri Ariani, A). Dalam penelitian ini peneliti berasumsi bahwa salah satu program kesehatan khususnya Jurim atau Bidan memberikan pengarahan atau penyuluhan kesehatan akan hal pentingnya pemberian imunisasi terhadap kesehatan anaknya sehingga ibu mengetahuinya dan memiliki kesadaran untuk membawa bayinya secara rutin ke Posyandu setiap bulannya. Pengetahuan ibu terhadap jadwal pemberian awal imunisasi dasar pada bayi 0-11 bulan merupakan langkah awal untuk membentuk kekebalan tubuh terhahap penyakit, hal ini mengingat pentingnyapemberian imunisasi dasar pada bayi. Dalam penelitian ini pengetahuan ibu tentang jadwal pemberian imunisasi dasar terhadap bayi sudah baik.Pengetahuan merupakan hasil “tahu” pengindraan manusia terhadap suatu objek tertentu. Proses pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan melalui kulit. Pengetahuan atau kongnitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior) (Putri Ariani, A, 2014).
  60. 60. Melakukan imunisasi pada bayi merupakan bagian tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.Imunisasi dapat diberikan ketika ada kegiatan posyandu, pemeriksaan kesehatan pada petugas kesehatan atau pekan imunisasi.Jika bayi sedang sakit yang disertai panas, menderita kejang sebelumnya, atau menderita penyakit sistem saraf, pemberian imunisasi perlu dipertimbangkan.Hal ini tentunya menjadi dasar bagi ibu mengingat pentingnnya pengetahuan dalam mengetahui jadwal imunisasi yang tepat (Iwansyah, 2012). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Novitasari, Yuli Dewi (2015) ‘’Tingkat Pengetahuna Ibu tentang ImunisasiDasar Pada Bayi Usia 0-12 Bulan di Posyandu Kencana Sendangrejo Grobanan’’ menyimpulkan bahwa pengetahuan ibu balita tentang lima imunisasi pada bayi 0-12 Bulan sebagian besar kategori cukup yaitu 17 responden (51,6%). 2. Pengetahuan Ibu Berdasarkan Tingkat Memahami Hasil penelitian diperoleh dari 38 responden berdasarkan tingkat memahami tertinggi adalah berpengetahuan baik sebanyak 18 responden (47,37%) pengetahuan cukup sebanyak 11 orang (28,95%) dan yang paling rendah adalah berpengetahuan kurang sebanyak 9 responden (23,68%). Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisai.Proporsi kematian bayi yang disebabkan karena tetanus neonatorum (TN) di Indonesia cukup tinggi yaitu 67%.Dalam upaya pencegahan TN maka imunisai diarahkan kepada pemberian perlindungan baru lahir dalam minggu-minggu pertama melalui ibu. Eliminasi tetanus neonatorum merupakan salah satu target harus dicapai sebagai tindakan
  61. 61. lanjut dari world summit for children yaitu insidens 1/10.000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Imunisasi DPT bertujuan untuk mencegah tiga penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis, tetanus.Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria(Iwansyah, 2010). Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang di ketahui dan dapat menginterpretaskan materi tersebut secara benar (Putri Ariani, A, 2014). Dalam penelitian ini peneliti berasumsi pengetahuan ibu baik disebabkan oleh keaktifan para kader Puskesmas untuk menjalankan tugas menyampaikan dan mengingatkan dalam hal jadwal pemberian imunisasi pada bulan selanjutnya kepada ibu sehingga ibu mengetahui kapan ibu membawa bayinya ke Posyandu. Penelitian ini tentunya sejalan dengan pendapat Putri Ariani, A, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu pendidikan. Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. Dalam penelitian ini, jika di lihat dari tingkat pendidikan responden, maka pendidikan tertinggi adalah pendidikan rendah dengan sebanyak 26 responden(68,42%) dan yang paling sedikit adalah pendidikan tinggi sebanyak 3 responden (7,89%). Dilihat masih 20 responden yang memiliki pengetahuan cukup dan kurang meskipun sekitar 18 reponden berpengetahuan baik.
  62. 62. 3. Pengetahuan Ibu Berdasarkan Aplikasi Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan dari 38 responden berdasarkan tingkat aplikasi tertinggi adalah berpengetahuan baik dengan jumlah 29 responden (76,32%), pengetahun cukup sebanyak 6 responden (15,79%) dan yang paling rendah adalah berpengetahuan kurang 3 responden (7,89%) Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari penyakit-penyakit yang berbahaya.Untuk itu dibutuhkan peran ibu sebagai Ibu Rumah tangga harus memiliki ilmu pengetahuan yang baik dalam hal aplikasi jadwal pemberian imunisasi.Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh, dan dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutuskan mata rantai penularan, agar penyelengaraan imunisasi dapat mencapai sasaran yang diharapkan, perlu adanya pedoman penyelenggaraan imunisasi (Iwansyah, 2012). Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari padasituasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau pengunaan hukum-hukum, rumus,metode, prinsip dan sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti berasumsi kemampuan ibu untuk mengetahui dan memahami dalam hal jadwal pemberian imunisasi tentunya memotivasi (keinginan) dari ibu bayi untuk membawa keposyandu, dimana ibu sudah mengetahui sebelumnya jadwal selanjutnya.
  63. 63. Hal ini di dukung oleh teori yang di kemukakan oleh Putri Ariani, A, (2014) bahwa pengetahuan di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pengalaman yang diperoleh seseorang. Pengalaman yang diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang dalam menunjang keberhasilanibu mengingat pentingnya jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi. Dalam penelitian ini tentunya juga di dukung oleh tingkat umur yang dimiliki Ibu rata-rata 20-35 tahun yaitu sebanyak 33 responden (86,84%). Seperti yang di kemukakan oleh Putri Ariani, Aumur dapat mempengaruhi seseorang, semakin cukup umur, tingkat kemampuan dan kematangan seseorang akan lebih tinggi dalam berpikir dan menerima informasi.Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Menurut Hurlock (1998) dalam Wawan dan Dewi (2010) semakin cukup umur maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya darai orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Maulina (2012) yang menyatakan bahwa usia seseorang sangat mempengaruhi faktor pengetahuan.
  64. 64. Pengetahuan kepada Ibu diperlukan karena sebagai modal awal perubahan perilaku masyarakat. Pengetahuan yang baik akan berpengaruh terhadap peningkatan motivasi masyarakat untuk mencegah munculnya penyakit akibat ketidak pedulian Ibu terhadap jadwal pemberian imunisasi. Pengetahuan terhadap jadwal pemberian imunisasi dasar menjadi hal yang sangat penting diketahui oleh masyarakat, apalagi sebagai ibu yang memiliki bayi umur 0-11 bulan sehingga dapat melakukan deteksi secara dini dan mampu terhindar terhadap tujuh penyakit, yaitu : TBC, defteri, tetanus, pertusis (batuk-batuk rejan), poliomyelitis, campak dan hepatitis Bdari pengalaman dan pendidikan terbukti bahwa perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan sejalan, dari pada perilku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
  65. 65. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilalukan dari 38 responden tentang pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi Umur0-11 Bulan di Desa Lagasa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna BulanJuli Tahun 2016, maka di simpulkan sebagai berikut : 1. Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan berdasarkan tingkat tahu didapatkan berpengetahuan baik sebanyak 14 responden (36,84%). 2. Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan berdasarkan tingkat memahami didapatkan berpengetahuan baik sebanyak 18 responden (47,37%). 3. Pengetahuan Ibu terhadap Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi 0-11 Bulan berdasarkan tingkat aplikasi didapatkan berpengetahuan baik sebanyak 29 responden (76,32%). B. Saran Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian maka disarankan sebagai berikut: Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang iminisasi dasar lengkap agar ibu bayi dapat membawa bayinya ke Posyandu serta tetatp mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan ibu balita serta dapat mengimplantasikan untuk selalu rutin dalam pemberian imunisasi secara lengkap.
  66. 66. DAFTAR PUSTAKA Anonim (2015).Pengertian Defenisi Bayi (http://carapedia.com/pengertian_definisi_bayi_info2132.html) di akses tanggal 20 juli 2016 (2011) Tahap Tumbuh Kembang Bayi http://simpulkasih.wordpress.com/2011/05/23/tahap-tumbuh-kembang-bayi/) di akses tanggal 20 juli 2016 BPS Sultra (2014) Badan Pusat Statistik Sultra http://sultra.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/21. Diakses tanggal 15 juli 2016 Buku kesehatan Ibu dan Anak Anik, Maryunani (2010) Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta timur : CV Trans Info Media Iwansyah (2012) Gambaran Pengetahuan Ibu Terhadap Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi Umur 0-9 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kelurahan MappalaKota Makassar. http://iwansyah.blogspot.com/2013/09/ Gambaran- Pengetahuan -Ibu –Terhadap- Pemberian- Imunisasi Dasar - Pada –Bayi- Umur 0-9 Bulan- Di Wilayah- Kerja -Puskesmas -Kassi-Kassi - Kelurahan Mappala–Kota- Makassar.html Diakses tanggal 18 juli 2016 Muslihatun, Wafi Nur. (2010) Asuhan Neonatus Bayi Dan Balita.Yogyakarta : Fitramaya Nursalam, (2016) Metodologi Penelitian Ilmu keperawatan.Jakarta : Salemba Medika Novitasari, Yuli Dewi (2015) ‘’Tingkat Pengetahuna Ibu tentang ImunisasiDasar Pada Bayi Usia 0-12 Bulan di Posyandu Kencana Sendangrejo Grobanan.Stikes Kusuma Husada. Surakarta. Proverawati, Atikah, Fitra Setrio, Septyo, Andini (2010) Imunisasi dan Vaksinasi. Yogyakarta : Nuha Medika Puskesmas Wapunto (2016) Data KIA/KB.Wapunto : Muna Putri Ariani, Ayu (2014) Aplikasi metodologi penelitian Kebidanan dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Nuha Medika Rukiyah, Ai Yeyeh,Yulianti, Lia (2010) Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita. Jakarta timur : CV Trans Info Media
  67. 67. KUISIONER GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI 0-11 BULAN DI DESA LAGASA KECAMATAN DURUKA KABUPATEN MUNA PADA BULAN JULI TAHUN 2016 1. Identitas Responden No responden : Nama : Umur : Pendidikan : SD : SMP : SMA : Perguruan Tinggi Pekerjaan : Alamat : 2. Petunjuk Pengisian : Pilihlah salah satu (1) dari 2 (dua) jawaban yang tersedia dengan memberikan tanda checklist () pada jawan yang dianggap paling benarPernyataan Benar (B), Salah (S)
  68. 68. A. Tingkat Tahu Ibu No Pernyataan B S 1. Pemberian imunisasi BCG berdasarkan jadwal Imunisasi pada usia usia 0-2 bulan 2. Pemberian imunisasi DPT berdasarkan jadwal Imunisasi adalah usia bayi 2 – 3 bulan 3. Pemberian imunisasi BCG berdasarkan jadwal Imunisasi Polio diberikan 4 kali dengan jadwal pemberian usia 2,3, dan 4 dan 5 bulan 4. Pemberian imunisasi Campak berdasarkan jadwal Imunisasi usia 9 bulan diberikan 1 kali 5. Pemberian imunisasi HB0 berdasarkan jadwal Imunisasi pada usia 0-7 hari B. Tingkat Pemahaman Ibu N o Pernyataan B S 1. Jadwal Imunisasi BCG diberikan pada usia bayi 1 bulan serta 2 kali pemberian 2. Jadwaal Imunisasi DPT diberikan 4 kali pada usia 1, 3, 4, dan 5 bulan serta 4 kali pemberian 3. Jadwal Imunisasi Polio diberikan 4 kali pada usia 1,2,3, dan 5 bulan serta 4 kali pemberian 4. Jadwal Imunisasi Campak diberikan 1 kali pada usia 9 bulan serta 1 kali pemberian 5. Jadwal Imunisasi Hepatitis B diberikan 1 kali pada usia 0-7 hari serta 1 kali pemberian C. Tingkat Aplikasi Ibu No Pernyataan Ya Tidak 1. Pemberian imunisasi BCG dapat diberikan pada bayi 0-2 bulan? 2. Jadwal pemberian imunisasi DPT dapat diberikan bersamaan dengan HB? 3. Imunisasi HB0 dapat diberikan pada bayi 2 bulan? 4. Imunisasi campak diberikan pada bayi umur yang 9 bulan 5. Imunisasi hepatitis B diberikan saat usia bayi 3 bulan ?

×