Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

PKL_Report body

My report body

  • Be the first to comment

PKL_Report body

  1. 1. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu sayuran yang mempunyai arti penting dalam perekonomian masyarakat Indonesia. Permintaan terhadap komoditas sayuran di Indonesia terus meningkat seiring dengan meningkatnya penduduk dan konsumsi per kapita. Disamping itu, sebagian masyarakat juga menginginkan produk hortikultura yang lebih berkualitas. Konsumsi sayuran di Indonesia tahun 2005 adalah 37.30 kg/kapita/tahun hal ini masih rendah dari syarat minimum yang direkomendasikan oleh FAO 65 kg/kapita/tahun. Namun demikian produksi nasional sayuran masih lebih rendah dari konsumsi yakni sebesar 35.30 kg/kapita/tahun. Dengan demikian masih terbuka sangat lebar peningkatan produksi agar mampu memenuhi tingkat konsumsi sayuran nasional (Anonim, 2006). Permintaan terhadap komoditas selada terus meningkat, antara lain berasal dari pasar swalayan, restauran-restauran besar (Fast Food Eropa dan Cina), hotel-hotel berbintang di kota-kota besar, serta konsumen luar negeri yang menetap di Indonesia maupun masyarakat Indonesia sendiri. Selain itu peluang bisnis selada dapat juga dilihat dari semakin berkembangnya jumlah hotel dan restauran-restauran asing (bertaraf internasional) yang banyak menyajikan masakan-masakan asing yang menggunakan daun selada, misalnya salad, hamburger, hot dog, dan sebagainya. Peningkatan jumlah hotel dan restauran menyajikan masakan dengan menggunakan daun selada akan meningkatkan permintaan selada. Budidaya selada keriting bisa dipanen 20-30 hari setelah bibit ditanam. Produktivitas tanaman selada keriting bisa mencapai 15-20 ton per hektar. Apabila petani mempunyai lahan 1000 m2 dan ditanami selada dengan hasil yang terendah 1.500kg dan harga murah Rp.8000,- /kg, maka petani akan mendapatkan hasil Rp.3.849.564,16,-/bulan. Selada berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia, karena
  2. 2. 2 disamping kondisi iklimnya cocok untuk komoditas selada, juga dapat memberikan keuntungan yang memadai bagi pembudidaya. B. Perumusan Masalah 1. Bagaimana cara budidaya selada yang baik? 2. Berapakah produktivitas selada di lokasi kerja praktik ? 3. Layakkah produksi selada di lokasi kerja praktik ? C. Tujuan kerja praktik 1. Tujuan umum a. Meningkatkan penalaran dalam menghadapi permasalahan di lapangan b. Membandingkan teori dan praktik di lapangan 2. Tujuan khusus a. Untuk mengetahui cara budidaya tanaman selada yang baik D. Manfaat kerja praktik 1. Sebagai salah satu syarat yang diperlukan penulis untuk memperoleh derajat sarjana strata 1 2. Menerapkan teori dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan 3. Memberikan informasi pada pembaca mengenai budidaya yang baik
  3. 3. 3 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Biologi 1. Taksonomi Selada Keriting Sistematika tanaman selada keriting adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Asteridae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Lactuca Spesies : Lactuca sativa 2. Morfologi Selada Secara morfologi, organ–organ penting yang terdapat pada selada adalah sebagai berikut: a. Daun Daun selada keriting memiliki tangkai daun lebar dengan tulang daun menyirip. Tangkai daun bersifat kuat dan halus. Daun bersifat lunak dan renyah apabila dimakan, serta memiliki rasa agak manis. Daun selada keriting memiliki ukuran panjang 20-25 cm dan lebar 15 cm serta bagian tepi daun bergerigi (keriting) (Wicaksono, 2008). b. Batang Tanaman selada memiliki batang sejati. Pada tanaman selada yang membentuk krop, batangnya sangat pendek, hampir tidak terlihat dan terletak pada bagian dasar yang berada di dalam tanah. Sedangkan selada yang tidak membentuk krop (selada daun dan selada batang) memiliki batang yang lebih panjang dan terlihat. Batang bersifat tegap, kokoh, dan kuat dengan ukuran
  4. 4. 4 diameter berkisar antara 5,6 cm–7 cm (selada batang), 2 cm-3 cm (selada daun), serta 2 cm-3 cm (selada kepala). c. Akar Tanaman selada memiliki sistem perakaran serabut. Akar serabut tumbuh menyebar ke semua arah pada kedalaman 20 cm- 50 cm atau lebih. Perakaran selada dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang subur, gembur, mudah menyerap air, dan kedalaman tanah (solum tanah) cukup dalam. d. Bunga Bunga selada berwarna kuning, tumbuh lebat dalam satu rangkaian. Selada memiliki tangkai bunga yang panjang mencapai 80 cm atau lebih. selada yang ditanam di daerah yang beriklim sedang (subtropik) mudah atau cepat berbuah. e. Biji Biji selada berbentuk lonjong pipih, berbulu, agak keras, berwarna coklat, serta berukuran sangat kecil, yaitu panjang 4 mm dan lebar 1 mm. Biji selada merupakan biji tertutup dan berkeping dua, dan dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman. 3. Macam-macam Varietas Selada Selada memiliki banyak varietas, yang telah dikembangkan dan dibudidayakan oleh masyarakat. Diantaranya ada varietas yang berkrop, yaitu yang membentuk kumpulan daun-daun yang saling merapat membentuk bulatan menyerupai kepala, dan ada varietas yang helaian daunnya lepas tidak merapat membentuk bulatan. Masing–masing varietas memiliki ciri–ciri yang khusus . Selada yang umum dibudidayakan saat ini dapat dikelompokkan menjadi 4 tipe dengan berbagai macam varietas, yaitu: selada kepala atau selada telur, selada rapuh, selada daun, dan selada batang. a. Selada kepala atau selada telur Selada kepala mempunyai krop bulat dengan daun saling merapat. Pada jenis tertentu beberapa helai daun di sebelah bawah tetap berlepasan. Daunnya ada yang berwarna hijau
  5. 5. 5 terang tetapi ada juga yang berwarna gelap. Batangnya sangat pendek dan hampir tidak terlihat. Selada kepala rasanya lunak dan renyah. Jika selada kepala ditanam di dataran rendah maka tidak akan menghasilkan krop. Selada kepala dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu tipe crisphead dan tipe butterhead. 1) Selada kepala tipe crisphead Ciri selada kepala membentuk krop dengan daun yang keriting. Jenis ini sangat popular di Inggris dan Amerika Selatan. Tipe selada kepala lebih tahan terhadap kekeringan. Setelah perkembangan roset awal, daun selanjutnya mulai tumbuh bertumpang-tindih, dan akhirnya memerangkap daun yang baru terbentuk. Selanjutnya perkembangan daun yang terperangkap meningkatkan kepadatan kepala, kepala biasanya berbentuk hampir bulat. Kepala dapat menjadi sangat keras, dan dengan makin besar, kepala ini dapat pecah. Daun yang terlalu matang menjadi pahit. Daun-daun bagian dalam yang terlipat ketat menjadi kasar (rugose), getas dan renyah. Daun terluar biasanya berwarna hijau tua, makin ke dalam warnanya makin muda. Ketika dipanen, tanaman biasanya berbobot antara 700 dan 1000 g. Selada produksi rumah kaca umumnya jauh lebih kecil. Daya simpan dan keterangkutan yang baik adalah sifat penting yang dimiliki selada kepala renyah. Beberapa varietas selada kepala sebagai berikut: a) Kaisser: varietas yang berkualitas tinggi ukurannya kecil, dan daunnya berwarna hijau terang. b) Ballade: memiliki pertumbuhan cepat dengan warna hijau terang c) Alpen: dapat tumbuh di dataran tinggi maupun dataran rendah, pertumbuhannya cepat, ukurannya sedang dan berwarna hijau gelap d) Marina: merupakan varietas yang baru, sistem perakarannya kuat, ukuran besar, dan berwarna hijau terang.
  6. 6. 6 e) Santa maria: ukuran besar, daun tebal, dan berwarna hijau gelap. f) Great lakes: ukuran selada ini memang besar. Jenis ini sangat popular di Amerika dan kini menyebar ke banyak negara. g) Avoncrisp: varietas yang tergolong tahan serangan hama penyakit. Daunnya hijau segar dan keriting. 2) Selada kepala tipe butterhead Ciri tipe butterhead ialah membentuk krop dengan daun yang lurus, pinggiran daunnya rata. Jenis ini sangat terkenal di Amerika Serikat. Pertumbuhannya cepat, daunnya halus. Jenis butterhead memang didominasi oleh varietas musim panas sehingga mudah beradaptasi dengan iklim di Indonesia. Kultivar selada kepala mentega, kadang-kadang disebut selada kubis, lebih banyak ditanam. Kultivar ini lebih disukai konsumen karena aroma dan daunnya yang lembut. Tanaman kultivar ini lebih kecil, agak lebih gepeng dan menghasilkan kepala yang kurang padat ketimbang tipe kepala renyah. Daunnya lebar, berlipat dan lembut, dengan tekstur berminyak lunak. Ada dua tipe utama kultivar ini yang diproduksi, yaitu tipe hari netral dengan kepala yang agak padat dan tipe hari-pendek, menghasilkan kepala kecil dan kurang padat,dan umumnya ditanam dalam naungan pelindung. Kedua tipe ini mudah tergores sehingga karakteristik keterangkutan dan daya simpannya tidak baik. Kultivar tipe Batavia memilki sifat pertengahan antara tanaman kepala renyah dan kepala mentega. Varietas selada yang termasuk butterhead sebagai berikut: a) Okayama salad: warnanya hijau tua, tahan terhadap panas dan umurnya genjah. b) Green mignonette: warnanya hijau terang, ukurannya kecil dan umurnya genjah.
  7. 7. 7 c) Brown mignonette: sama dengan green mignonette, tetapi warna daunnya hijau kecoklatan. d) Mini star: merupakan varietas baru. Ukurannya kecil, pertumbuhannya termasuk cepat, dapat dipanen pada umur 55-60 hari setelah disemai. e) All the year round: namanya yang unik diperoleh karena varietas ini dapat di tanam sepanjang tahun. Ukurannya tergolong sedang, warna daun hijau pucat. Cukup tahan terhadap kekeringan. b. Selada rapuh atau selada cos Selada rapuh mempunyai krop yang lonjong dengan pertumbuhan yang lebih tinggi cenderung mirip petsai. Daunnya lebih tegak dibanding selada umumnya yang menjuntai ke bawah. Ukurannya besar dan warnanya hijau tua. Meskipun sedikit liat, selada jenis ini rasanya enak. Jenis selada ini tergolong lambat pertumbuhannya. Kultivar selada cos, juga disebut sebagai romaine, memiliki daun memanjang, kasar, dan bertekstur renyah, dengan tulang daun tengah lebar dan jelas. Daun panjangnya yang agak sempit cenderung tumbuh tegak dan secara longgar bertumpang tindih satu sama lain, serta tidak membentuk kepala. Sifat pasca panennya sama dengan tipe kepala renyah. Beberapa varietas selada cos sebagai berikut: 1) Lobjoit’s green: varietas lama yang masih disukai hingga sekarang. Ukurannya besar, daun hijau gelap. Rasanya enak dan renyah. 2) Paris white: ukurannya besar, daun sebelah dalam berwarna hijau pucat. Rasanya renyah. 3) Little gem: selada ini tergolong yang paling cepat pertumbuhannya dalam kelompok selada cos. Penampilannya mirip kubis. Kropnya kecil namun seragam. Rasa selada ini adalah yang paling manis.
  8. 8. 8 4) Barcarolle: penampilannya menawan. Cocok untuk tanaman hias atau penghias hidangan. Warna daun hijau tua, daun merapat dengan rapi, tanaman cukup tinggi dan besar. 5) Winter density: rasa manisnya, sesuai namanya selada jenis ini hanya tumbuh baik di musim dingin. Oleh karena itu, sulit dibudidayakan di Indonesia. c. Selada daun Selada ini helaian daunnya lepas dan tepiannya berombak atau bergerigi serta berwarna hijau atau merah. Ciri khas lainnya tidak membentuk krop. Biasanya selada ini digunakan sebagai hiasan untuk aneka masakan. Jenis ini umurnya genjah dan toleran terhadap kondisi dingin. Apabila daunnya dipanen dengan cara lepasan satu persatu, tidak dicabut sekaligus, maka tanaman dapat dipanen beberapa kali. Meskipun demikian, umumnya selada daun dipanen sekaligus seluruh tanamannya sama seperti jenis selada lainnya. Beberapa varietas selada daun yang telah dikenal antara lain: 1) New red fire: warna merah tua gelap, umurnya tergolong genjah, jenis ini tahan terhadap kondisi panas dan dingin. 2) Green wave: ukurannya besar, warna hijau, umurnya genjah, dan toleran terhadap keadaan dingin. 3) Price head: daunnya lebar dan berwarna merah tua. 4) Salad bowl: merupakan jenis asli (berwarna hijau) yang banyak menghasilkan silangan baru. Penampilan daunnya yang keriting bagus untuk penghias makanan atau campuran salad. 5) Red salad bowl: jenis selada yang pertumbuhan maupun penampilan sama dengan salad bowl. Namun, jenis yang satu ini daunnya berwarna merah kecoklatan merupakan turunan baru jenis salad bowl biasa. Jenis selada daun yang banyak dijual di pasar-pasar tradisional adalah jenis lokal yang mudah tumbuh di dataran
  9. 9. 9 rendah. Selada ini cukup diminati konsumen sebagai lalap. Tidak heran bila selada daun lokal ini sekarang banyak sekali di usahakan oleh petani sayur dataran rendah. Selada daun lokal ini contohnya adalah selada betawi. Tanamannya memiliki daun yang cukup renyah, berwarna hijau segar. d. Selada Batang Selada batang atau stem lettuce daunnya berukuran besar, panjang, bertangkai lebar, serta berwarna hijau terang. Selada ini mendapat julukan selada batang karena daunnya berlepasan tidak dapat membentuk krop. Varietas jenis ini yang terkenal adalah celtuse. Dibandingkan jenis selada lainnya selada batang kurang diminati untuk diusahakan. Dari jenis-jenis selada di atas, hampir semuanya merupakan introduksi dari luar negeri. Benihnya kebanyakan masih diimpor. Namun, bagi yang berminat menanam jenis tersebut di Indonesia dapat membelinya di sarana toko pertanian yang lengkap. Jenis selada butterhead seperti green mignonette, brown mignonette, dan buttercrunch dapat dibeli di toko pertanian. B. BUDIDAYA 1. Syarat Tumbuh Tanaman selada akan tumbuh baik dan produksinya tinggi baik kuantitas maupun kualitasnya jika syarat-syarat tumbuhannya terpenuhi. Syarat tumbuh yang diperlukan terutama adalah iklim dan tanah. Tentu saja iklim dan tanah untuk masing-masing daerah atau tempat belum tentu sama (Suprayitna imam, 1996). a. Iklim Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman selada yaitu: suhu, sinar matahari, ketinggian tempat dan curah hujan.
  10. 10. 10 1) Suhu Tanaman selada membutuhkan lingkungan tempat tumbuh yang beriklim dingin dan sejuk, yakni pada temperatur antara 15⁰C-25⁰C. Di daerah yang temperaturnya tinggi, tanaman selada tipe kubis akan gagal membentuk krop, kalaupun terbentuk kropnya berukuran kecil-kecil. Dengan adanya kemajuan teknologi di bidang perbenihan, telah banyak diciptakan varietas selada yang tahan terhadap suhu panas (Rahmat Rukmana, 1994). 2) Sinar matahari Reaksi tanaman terhadap intensitas cahaya matahari berbeda-beda, tergantung pada jenisnya, ada jenis tanaman yang dapat kena matahari langsung dan ada yang memerlukan naungan. Sayuran daun seperti selada umumnya memiliki kualitas yang baik jika tumbuh dibawah naungan. Dengan naungan, proses transpirasi atau penguapan air tidak terlalu besar. Cahaya matahari yang dikehendaki selada 200-400fc. Tanaman selada kurang tahan terhadap cahaya matahari dan cuaca yang panas. Untuk mengatasi cahaya matahari, dalam budidaya selada diberi naungan yaitu plastik wellit. Pemberian naungan ini juga akan mempengaruhi rasa selada yang dibudidayakan. Di Indonesia selada dapat di tanam di dataran rendah sampai dataran tinggi. Hal yang terpenting adalah memperhatikan pemilihan varietasnya yang cocok dengan lingkungan setempat. Untuk dataran rendah sampai menengah sebaiknya dipilih selada varietas yang “heat tolerant” (tahan terhadap suhu panas) seperti varietas Kaiser, Ballade dan Gemini (Rahmat Rukmana, 1994).
  11. 11. 11 3) Curah hujan Tanaman selada kurang tahan terhadap musim hujan. Penanaman pada musim hujan akan menyebabkan tanaman selada busuk. Oleh karena itu, penanaman selada dianjurkan pada akhir musim hujan. Dibeberapa daerah produsen sayuran yang mulai banyak mengembangkan selada dengan menggunakan naungan. 4) Ketinggian tempat Ketinggian tempat suatu daerah berpengaruh terhadap tanaman selada. Tanaman selada dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada keadaan lingkungan yang sesuai. Ketinggian yang optimum untuk tumbuh dan berproduksi pada ketinggian antara 600 m-1.200 m dpl. Syarat tumbuh demikian identik untuk tanaman kubis (Rahmat Rukmana, 1994) b. Tanah Sebagaimana kebanyakan tanaman sayuran lain, untuk pertumbuhan yang maksimal selada menghendaki tanah gembur, subur, dan berdrainase baik. Jenis tanah yang baik untuk budidaya selada adalah lempung berdebu, lempung berpasir, dan tanah-tanah yang kaya akan humus. Meskipun demikian tanaman masih dapat diusahakan di tanah-tanah dengan kandungan hara rendah tetapi diberi pupuk organik yang memadai dan tanaman diberi air yang cukup. Ketersediaan air yang terus menerus sangat penting untuk mendapatkan hasil panen yang berkualitas tinggi karena sebagian besar tanaman terdiri dari air dan kualitas ditentukan oleh kandungan kadar air tanaman selada. Tingkat kemasaman yang ideal untuk pertumbuhan selada berkisar antara 5,5-6,5. Apabila selada ditanam pada tanah dengan pH kurang dari 5,5 maka selada tidak dapat tumbuh dengan baik. Daun-daunnya akan kekuningan karena sejumlah unsur hara khususnya nitrogen berada dalam keadaan tidak tersedia pada pH tersebut.
  12. 12. 12 2. Persiapan budidaya a. Benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha budidaya selada. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Benih yang kurang baik akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya tidak normal sehingga akan memberikan hasil yang kurang memuaskan atau bahkan tanaman tidak tumbuh sama sekali. Kebutuhan benih selada untuk lahan seluas satu hektar adalah 400g-600g. Benih selada berukuran kecil, berbentuk lonjong, pipih, dan berbulu. Benih selada dapat diperoleh dengan cara menyiapkan benih sendiri atau membeli di toko pertanian. Dengan membeli atau membenihkan sendiri memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. 1) Membeli Benih Membeli benih ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Sedapat mungkin membeli benih yang masih baru. Artinya benih belum terlalu lama disimpan, sehingga daya tumbuh dan kadar airnya masih sesuai dengan yang tertulis pada label atau kemasan benih. Perlu melihat tanggal kadaluwarsa benih yang tertera pada labelnya. Benih yang baik biasanya sangat terjaga kualitas benihnya. Dalam suatu kemasan yang menyebutkan benih selada jenis tertentu, dapat diyakini benih tersebut boleh dibilang murni. Benih murni artinya benih hanya terdiri dari satu jenis, tidak tercampur dengan benih jenis lainnya, meskipun berbeda dalam hal varietasnya. Benih yang baik harus bebas hama dan penyakit. Kadang-kadang benih yang dijual biasanya sudah diproses bebas hama dan penyakit, misalnya sudah direndam oleh pestisida tertentu. Saat memilih benih perlu diperhatikan kemasannya. Kemasan harus utuh (tidak robek, lecet, atau bekas tertindih),
  13. 13. 13 sehingga keadaan benih tidak jauh berbeda kualitasnya dibandingkan pada saat pertama pengemasan. Kemasan benih yang baik adalah yang terbuat dari aluminium foil. Kemasan aluminium foil ini mampu melindungi benih dengan baik sehingga dapat disimpan dalam waktu cukup lama. Namun, kelemahannya meski sudah cukup lama disimpan tidak dapat melihat penampilan benih yang ada didalamnya. Sehingga benih masih baik atau sudah rusak. Benih dalam kemasan aluminium foil harus benar-benar memperhatikan tanggal kadaluarsa benih sebagai patokan utama. Untuk benih dari kemasan plastik atau kemasan lain yang memungkinkan melihat visual benih, sebaiknya dipilih benih yang berpenampilan masih baik. Akan tetapi jangan terkecoh dengan benih varietas tertentu yang mungkin penampilannya memang kisut, kering, atau seperti keropos dari aslinya dan bukan merupakan tanda benih tersebut menurun mutunya. Terkadang konsumen yang membeli benih selada tertarik setelah melihat gambar selada dibungkus kemasan yang menarik. Umumnya selada tersebut merupakan benih impor. Apabila membeli bibit produk impor, sebaiknya diperhatikan dapat atau tidaknya beradaptasi dengan lokasi yang akan dijadikan lahan penanaman. Selada jenis impor kebanyakan merupakan sayur dataran tinggi yang tumbuh baik di daerah dingin. Pada kemasan perlu diperhatikan data ketinggian yang diisyaratkan sebelum memutuskan untuk membeli. Jangan sampai benih yang dibeli tersebut terbuang sia-sia karena tidak dapat tumbuh dengan baik di daerah yang akan ditanami. Data-data yang tercantum dalam kemasan benih perlu dipelajari. Umumnya data tersebut memuat ciri-ciri varietas dan kebutuhan agroklimatnya. Maka dapat membandingkan
  14. 14. 14 beberapa varietas sebelum menentukan pilihan jenis yang akan diusahakan dengan mempelajari data yang dicantumkan dalam kemasan. Untuk benih yang dikemas sederhana seperti dalam plastik tipis, tidak adanya data yang mencamtumkan ciri-ciri varietas atau syarat agroklimat menyulitkan dalam menentukan pemilihan. Namun, biasanya benih yang dikemas sederhana seperti ini hanyalah benih varietas lokal yang umumnya diproduksi oleh produsen lokal pula. Umumnya benih mampu tumbuh dan berproduksi baik di daerah penanaman sekitar lokasi tempat yang menjualnya. Keuntungan pembelian benih di toko adalah dilihat dari segi kepraktisan serta tingkat keefisien kerja. Tanpa perlu memiliki atau repot-repot memelihara tanaman induk sudah dapat memiliki benih yang akan diusahakan. Kelemahannya adalah belum diketahuinya bagaimana hasil benih tersebut ditanam pada lahan. 2) Menyiapkan Benih Sendiri Mendapatkan benih dengan cara menyiapkan benih dari tanaman sendiri. Syaratnya sudah memiliki tanaman induk sendiri. Dengan demikian calon petani selada yang belum memiliki tanaman induk, belum dapat menerapkan cara ini melainkan dengan membeli. Benih yang disiapkan dari tanaman induk umumnya berlaku untuk tanaman lokal dan bukan merupakan selada hibrida. Selada hibrida akan sulit jika diharapkan dapat memperoleh benih dari induknya. Kemungkinan besar kualitas benihnya akan berbeda atau cenderung menurun. Untuk benih hibrida, terutama benih introduksi luar negeri, memang disarankan untuk membeli benih. Menyiapkan benih diambil dari biji-biji tanaman yang sehat hasilnya serta terbukti memuaskan. Dalam hal ini,
  15. 15. 15 harus melakukan seleksi untuk memilih biji-biji yang akan dijadikan benih. Beberapa patokan dalam melakukan seleksi biji antara lain keadaan tumbuh tanaman, kebebasan terhadap hama atau penyakit, keseragaman bentuk, penentuan jenis yang berumur pendek serta tingkat produksi yang tinggi. Sebelum pemetikan biji-biji, sebaiknya lingkungan sekitar dibersihkan dahulu dari gulma. Sehingga kemurnian benih akan terjaga. Tanaman yang akan digunakan untuk benih ini dipanen pada umur yang lebih tua daripada untuk konsumsi, yaitu tanaman berumur sekitar ±70 hari. Cara tradisional umumnya dilakukan pembenihan dengan sederhana. Beberapa tanaman yang tumbuh baik dibiarkan tidak dipanen. Tanaman dibiarkan tumbuh terus hingga berbunga kemudian menghasilkan biji. Biji ini kemudian diambil dan disimpan untuk dipergunakan sebagai benih penanaman berikutnya. Selada yang akan dijadikan benih biasanya terpisah dari tanaman selada yang akan digunakan untuk konsumsi. Bedengan tanaman untuk benih dibuat terpisah dan letaknya berjauhan dari bedengan sayur yang akan dipanen untuk dipasarkan. Hal ini secara otomatis akan memberikan perlakuan yang lebih istimewa pada tanaman yang akan dijadikan benih untuk mendapatkan tanaman-tanaman yang lebih baik pada masa tanam berikutnya. Setelah biji yang dihasilkan cukup tua, biji dipanen dengan cara dikumpulkan. Selanjutnya biji dianginkan supaya kering. Biji dibersihkan dari kotoran yang mungkin terikat. Selanjutnya benih dimasukkan ke dalam wadah kering yang tertutup rapat. Wadah penyimpanan ditaruh pada tempat yang sejuk namun kering. Penyimpanan yang baik memungkinkan benih bertahan sampai 3 tahun tanpa kehilangan daya tumbuhnya. Penyimpanan yang kurang
  16. 16. 16 bagus, mudah sekali menurunkan kualitas dan daya tumbuh benih. b. Pengolahan Lahan Pertumbuhan tanaman selada sangat dipengaruhi oleh keadaan fisik serta struktur lahan tanamnya. Untuk itu perlu dilakukan pengolahan tanah. Kegiatan pengolahan tanah secara umum sebelum menanam adalah penggemburan tanah serta pembuatan bedengan. Pada tahap penggemburan tanah untuk jenis semua tanaman akan mempunyai perlakuan yang relatif hampir sama, tetapi dalam hal pembuatan bedengan mempunyai perlakuan yang berbeda-beda. Penggemburan tanah dapat menciptakan kondisi yang dibutuhkan oleh tanaman supaya mampu tumbuh dengan baik. Tahap-tahap penggemburan meliputi pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah serta sirkulasi udara dan pemberian pupuk organik sebagai pupuk dasar untuk memperbaiki struktur fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan. Tanah yang hendak digemburkan, dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak, atau bahkan pepohonan yang tumbuh. Lahan harus bersih dan tidak boleh ternaungi. Lokasi yang teduh atau ternaungi tidak baik untuk pertumbuhan selada. Untuk lahan yang akan ditanami selada, penggemburan biasanya dilakukan dengan cara mencangkul tanah sedalam 20cm-40 cm. Pengolahan tanah hendaknya dilakukan secara sempurna dalam arti tidak ada lagi gumpalan-gumpalan tanah yang akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan akar tanaman. Tanah harus gembur sebab masa pertanaman selada yang tergolong singkat menuntut lahan harus gembur supaya mampu menunjang pertumbuhan. Tanah yang bergumpal atau keras akan menghambat pertumbuhan sehingga masa panen dapat lebih lama atau tanaman tumbuh kerdil tidak seperti yang diinginkan.
  17. 17. 17 Setelah tanah diolah dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 m dan panjangnya disesuaikan dengan panjang lahan. Tinggi bedengan 20-30cm, jarak antar bedengan 40-50cm. Jarak antar bedengan dapat difungsikan sebagai parit untuk membuang kelebihan air hujan. Setelah lahan digemburkan, kemudian tanah diratakan dan dibuat menjadi alur-alur atau bedengan. Bedengan ini berfungsi untuk memberikan perlakuan pada tanaman supaya tumbuh lebih teratur dan baik. Penanaman selada dikenal dua jenis bedengan, yaitu bedengan pembibitan dan bedengan penanaman. Pada penanaman yang dilakukan langsung pada bedengan penanaman, bedengan pembibitan tidak perlu dibuat. Namun, biasanya sebelum ditanam pada bedengan sebaiknya benih disemaikan dahulu menjadi bibit pada bedengan pembibitan. c. Pempukan awal Pemupukan awal yang digunakan untuk tanaman selada yaitu pupuk kandang yang sudah matang atau sudah jadi sebagai pupuk dasar. Tanaman selada membutuhkan pupuk kandang lebih banyak, antara 10-15 ton/ha. Pupuk kandang berfungsi sebagai pupuk dasar. Pupuk kandang diberikan dengan cara menebar pupuk kandang pada bedengan. Kemudian bedengan dicangkul lagi supaya pupuk kandang yang ditebar tercampur rata. Dengan demikian pada saat lahan siap ditanami, pupuk kandang biasanya sudah menyatu dengan tanah sehingga siap mendukung pertumbuhan tanaman yang ditanam. Funsi pupuk kandang terhadap tanah sebagai berikut: 1) Menambah kandungan bahan organik atau humus 2) Memperbaiki sifat-sifat fisika tanah, terutama struktur, daya mengikat air, dan porositas tanah
  18. 18. 18 3) Meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah unsur hara tanaman 4) Memperbaiki kehidupan mikro organisme tanah 5) Melindungi tanah terhadap kerusakan karena erosi. Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro. Pupuk kandang padat (makro) banyak mengandung: 1) Unsur fosfor (P) Fungsi unsur fosfor sebagai berikut: (a) Memperpanjang akar sehingga batang menjadi kuat (b) Mempercepat pemasakan buah (c) Memperbaiki mutu dan jumlah hasil Akibat tanaman kekurangan fosfor: (a) Tanaman kerdil (b) Daun bagian tepi dan ujung berwarna keunguan (c) Buah lambat masak dan biji kurang berisi (d) Kualitas buah menurun 2) Nitrogen (N) Fungsi Nitrogen secara umum: (a) Merangsang pertumbuhan akar, batang, dan daun (b) Membuat daun lebih tampak hijau karena nitrogen meningkatkan butir-butir hijau daun (c) Memperbanyak anakan (d) Meningkatkan mutu dan jumlah hasil Akibat tanaman kekurangan Nitrogen antara lain: (a) Tanaman kerdil (b) Daunnya kecil, dan berwarna pucat (c) Daun bagian bawah mudah kering atau mati (d) Hasil panen rendah 3) Kalium (K) Fungsi kalium: (a) Memperbaiki pertumbuhan tanaman (b) Meningkatkan ketahan serangan hama
  19. 19. 19 (c) Memperbaiki mutu hasil Kekurangan kalium berakibat: (a) Bagian pinggir daun bintik-bintik putih kemerahan (b) Daun mengkerut atau melengkung dan berwarna kekuningan (c) Pertumbuhan tanaman kerdil, mudah patah (d) Kualitas menurun Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang antara lain: 1) Kalsium Merupakan bagian penting dari dinding sel dan sangat penting untuk menunjang proses pertumbuhan. Kalsium untuk menyusun klorofil. Dibutuhkan enzim untuk metabolis karbohidrat, serta mempergiat sel meristem. Kekurangan unsur hara Kalsium (Ca): (a) Daun-daun muda selain berkeriput mengalami perubahan warna, pada ujung dan tepi-tepinya klorosis (berubah menjadi kuning) dan warna ini menjalar di antara tulang-tulang daun, jaringan-jaringan daun pada beberapa tempat mati (b) Kuncup-kuncup muda yang telah tumbuh akan mati (c) Pertumbuhan sistem perakarannya terhambat, kurang sempurna (d) Pertumbuhan tanaman demikian lemah Kelebihan unsur hara Kalsium (Ca): (a) Tanaman mengalami defisiensi. 2) Magnesium Fungsi Magnesium dalam tanaman adalah sebagai berikut: (a) Bagian essential dari klorofil (b) Mengatur pengambilan unsur hara tanaman lainnya (c) Sebagai pembawa fosfor dalam tanaman (d) Membantu pembentukan minyak dan lemak
  20. 20. 20 Kekurangan unsur hara Magnesium (Mg) (a) Daun-daun tua mengalami klorosis (berubah menjadi kuning) dan tampak di antara tulang-tulang daun, sedang tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian di antara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak-bercak merah kecoklatan (b) Daun mudah terbakar oleh sinar matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua atau kehitaman dan mengkerut (c) Pada tanaman biji-bijian, daya tumbuh biji kurang atau lemah 3) Belerang Fungsi unsur belerang: (a) Pembentukan asam amino dan pertumbuhan tunas (b) Pembentukan bintil akar tanaman (c) Pertumbuhan anakan pada tanaman (d) Berperan dalam pembentukan klorofil serta meningkatkan ketahanan terhadap jamur (e) Pada beberapa jenis tanaman antara lain berfungsi membentuk senyawa minyak yang menghasilkan aroma dan juga aktifator enzim membentuk papain Kekurangan unsur hara Belerang (S): (a) Daun-daun muda mengalami klorosis (berubah menjadi kuning), perubahan warna umumnya terjadi pada seluruh daun muda, kadang mengkilap keputih-putihan dan kadang-kadang perubahannya tidak merata tetapi berlangsung pada bagian daun selengkapnya (b) Perubahan warna daun dapat pula menjadi kuning sama sekali, sehingga tanaman tampak berdaun kuning dan hijau, seperti misalnya gejala-gejala yang tampak pada
  21. 21. 21 daun tanaman teh di beberapa tempat di Kenya yang terkenal dengan sebutan Tea Yellow, atau yellow Disease (c) Tanaman tumbuh terlambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus, batang tanaman berserat, berkayu dan berdiameter kecil (d) Pada tanaman tebu yang menyebabkan rendemen gula rendah (e) Jumlah anakan terbatas. 4) Natrium Fungsi unsur Natrium sebagai keseimbangan ion pada regulasi energi untuk membuka dan menutupnya stomata. Kelebihan unsur Natrium: Terlibat dalam osmosis (pergerakan air) dan keseimbangan ion pada tumbuhan. Salah satu kelebihan efek negatif Na adalah mengurangi ketersediaan K. Kekurangan unsur Natrium: (a) Daun menjadi hijau tua dan tipis (b) Tanaman cepat menjadi layu. 5) Besi Besi berfungsi untuk: (a) Pembentukan klorofil (b) Berperan pada proses-proses fisiologis tanaman seperti proses pernapasan (c) Sebagai aktifator dalam proses biokimia di dalam tanaman (d) Pembentuk beberapa enzim. Kekurangan unsur hara Besi (Fe): (a) Gejala-gejala yang tampak pada daun muda, mula-mula secara setempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuning-kuningan, sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati
  22. 22. 22 (b) Selanjutnya pada tulang daun terjadi klorosis, yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi kuning dan ada pula yang menjadi putih (c) Gejala selanjutnya terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda banyak yang menjadi kering dan berjatuhan (d) Pertumbuhan tanaman seolah terhenti akibatnya daun berguguran dan akhirnya mati mulai dari pucuk. Kelebihan unsur hara Besi (Fe): a) Menyebabkan nekrosis yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada daun. 6) Tembaga Tembaga berfungsi untuk pembentukan klorofil. Kekurangan unsur hara Tembaga (Cu): (a) Pada bagian daun, terutama daun-daun yang masih muda tampak layu dan kemudian mati (die back), sedang ranting-rantingnya berubah warna menjadi coklat dan mati (b) Ujung daun secara tidak merata sering ditemukan layu dan klorosis, sekalipun jaringan-jaringannya tidak ada yang mati (c) Pada tanaman jeruk kekurangan unsur hara tembaga ini menyebabkan daun berwarna hijau gelap dan berukuran besar, ranting berwarna coklat dan mati, buah kecil dan berwarna coklat (d) Pada bagian buah, buah-buahan tanaman pada umumnya kecil-kecil warna coklat dan bagian dalamnya didapatkan sejenis perekat (gum). 7) Molibdenum Fungsi molibdenum: (a) Sebagai kofaktor pada beberapa enzim penting untuk membangun asam amino
  23. 23. 23 (b) Berperan sebagai pengikat nitrogen yang bebas diudara untuk pembentukan protein dan menjadi komponen pembentuk enzim pada bakteri bintil akar tanaman. Gejala kekurangan unsur Mo: (a) daun berubah warna keriput dan melengkung seperti mangkok, muncul bintil-bintil kuning disetiap lembaran daun dan akhirnya mati sehingga pertumbuhan tanaman terhenti. Susunan maupun nilai unsur hara dari pupuk kandang berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi susunan dan nilai pupuk kandang ini adalah: 1) Jenis hewan Susunan dan mutu pupuk kandang dipengaruhi oleh jenis hewan yang menghasilkannya. Pada tabel di bawah ini dapat dilihat kandungan hara dari berbagai jenis hewan peliharaan yang merupakan sumber utama penghasil pupuk kandang bagi petani
  24. 24. 24 Tabel 1. Susunan kotoran berbagai jenis hewan ternak dalam keadaan masih segar No Nama kotoran hewan Kandungan unsur hara dan air (%) N P2O5 K2O Air 1 Kuda Padat 0,55 0,30 0,40 75 Cair 1,40 0,02 1,60 90 2 Kerbau Padat 0,60 0,30 0,34 85 Cair 1,00 0,15 1,50 92 3 Sapi Padat 0,40 0,20 0,10 85 Cair 1,00 0,50 1,50 92 4 Kambing Padat 0,60 0,30 0,17 60 Cair 1,50 0,13 1,80 85 5 Ayam Padat dan cair tercampur 1,00 0,80 0,40 55 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kandungan N dan K pada pupuk cair lebih tinggi daripada pupuk padat. Pada pupuk padat lebih banyak mengandung P dan jenis unsur-unsur mikro. 2) Umur hewan Kualitas pupuk kandang yang baik diperoleh pada kotoran hewan dewasa atau tua. Sedangkan kotoran hewan yang masih muda kualitas pupuk kandangnya lebih rendah, karena pada hewan yang masih muda sedang aktif membentuk jaringan-jaringan tubuhnya. 3) Kualitas makanan hewan Hewan-hewan yang memperoleh makanan dalam jumlah dan komposisi yang lebih baik akan menghasilkan kotoran
  25. 25. 25 yang lebih baik kualitasnya hewan-hewan yang banyak diberi ransum yang banyak mengandung protein dan mineral, akan menghasilkan kotoran dan air kencing yang juga tinggi kandungan N dan mineral-mineralnya. Jenis hewan yang sama akan menghasilkan pupuk kandang yang tidak sama kualitasnya, bila makanan yang diberikan tidak sama baiknya. 4) Jenis alas kandang Jenis alas kandang yang digunakan berpengaruh terhadap kualitas pupuk kandang yang dihasilkan. Alas kandang yang digunakan hendaknya yang banyak mengandung hara, mudah melapuk, dan daya serap terhadap kotoran cukup tinggi. Pada umumnya jerami padi cukup baik untuk digunakan sebagai alas kandang. Jerami memiliki kandungan haranya cukup, melapuknya mudah, dan memiliki daya serap yang tinggi. 5) Cara penyimpanan Dalam menyimpan pupuk kandang, hendaknya diperhatikan supaya selama dalam penyimpanan, kualitas pupuk terutama kandungan haranya tidak banyak hilang. Tempat dan cara penyimpanan sangat menentukan untuk memperoleh pupuk kandang matang yang baik kualitasnya. Dalam menyimpan pupuk kandang padat diperlukan bak berlantai dan berdinding kedap serta beratap. Sedangkan untuk menyimpan pupuk cair digunakan sebuah bak yang berdinding kedap, dapat ditutup rapat, saluran-saluran yang mengalirkan pupuk cair miring dan tertutup, dan dapat membuang aliran air bekas pencucian kandang, serta mempunyai daya tampung yang cukup. d. Pengapuran Untuk daerah yang mempunyai pH terlalu rendah sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran bertujuan untuk
  26. 26. 26 menaikkan pH tanah sehingga tanah tidak boleh terlalu asam. Pemberian kapur tergantung pada kondisi lahan setempat. Semakin bersifat asam, maka tanah itu memerlukan kapur yang lebih banyak. Pengapuran tanah dilakukan sebelum penanaman bibit, kira-kira 2-4 minggu sebelumnya. Jenis kapur biasa digunakan adalah kapur dolomit. Kapur dibenamkan dalam tanah dan diaduk supaya bercampur merata baik dengan cara pencangkulan atau pembajakan. Kebutuhan kapur dolomit untuk pengapuran dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Kebutuhan kapur dolomit untuk menetralkan tanah No. (pH) Dolomit/ha 1 4,0 10,24 2 4,1 9,76 3 4,2 9,28 4 4,3 8,82 5 4,4 8,34 6 4,5 7,87 7 4,6 7,39 8 4,7 6,91 9 4,8 6,45 Sumber: (Eko Haryanto, 1995) e. Pembibitan Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan lahan untuk penanaman. Cara ini membuat pekerjaan bertanam selada menjadi lebih efisien. Namun, dapat juga dengan menyiapkan bedengan penanaman keseluruhan kemudian melakukan pembibitan. Bedengan pembibitan dibuat dengan menyisihkan atau menggunakan sebagian kecil lahan penanaman. Cara ini selain tidak efisien sangat berpengaruh terhadap waktu produksi yang menjadi lebih lama. Akan tetapi,
  27. 27. 27 ada keuntungan lain yang diperoleh. Selain bertujuan praktis, tanaman lebih mudah beradaptasi dengan kondisi lapang. Ukuran bedengan pembibitan tidak perlu lebar, karena pada pembibitan jarak tanam tidak terlalu lebar. Tinggi bedengan disesuaikan dengan keadaan curah hujan setempat. Bedengan pembibitan dibuat pada lahan berukuran sekitar 80 cm-120 cm. panjang bedengan 1 m-3 m tergantung kebutuhan bibit yang akan ditanam. Dua minggu sebelum tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan 2 kg pupuk kandang yang telah ditambah dengan 20 g urea, 10 g TSP, dan 7,5 g KCl. Tanaman selada sifatnya lebih peka terhadap matahari dan curah hujan, maka bedengan penanaman selada perlu diberikan naungan. Naungan ini berguna untuk pengendalian curah hujan dan dapat digunakan plastik polietilen dengan lebar 1,5m. Namun, tidak memberikan penaungan untuk pembibitan selada akan mendapatkan hasil yang baik. Jadi, pembuatan naungan bedengan pembibitan selada tergantung situasi. Jika musim penghujan atau udara terlalu panas maka perlu dibuat naungan. Cara melakukan pembibitan adalah sebagai berikut: Benih ditabur pada permukaan bedengan pembibitan. Selanjutnya benih ditutup dengan tanah yang halus setebal 1 cm-2 cm. Perawatan dilakukan dengan penyiraman menggunakan sprayer. Benih yang baik akan tumbuh setelah 3-5 hari. Setelah berdaun 3-5 helai, kira-kira berumur 3-4 minggu sejak biji disemaikan tanaman dapat dipindah ke bedeng penanaman. 3. Penanaman Bedengan penanaman selada dibuat dengan ukuran lebarnya 80-120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedengan sekitar 30 cm-40 cm dengan jarak antar bedengan 30cm-40 cm. Jarak antar bedengan ini berfungsi sebagai parit drainase. Satu minggu sebelum penanaman, bedengan diberi pupuk kandang. Pemberian pupuk kandang merupakan tambahan
  28. 28. 28 kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sebagai unsur hara dasar. Kriteria bibit selada siap tanam yaitu bibit berumur 3-4 minggu sejak benih disemaikan, batang tumbuh tegak, daun hijau segar mengkilap, dan tidak terlihat serangan hama dan penyakit. Bibit dipindahkan dengan hati-hati dari bedengan pembibitan. Biasanya menggunakan tangan untuk melakukan pemindahan. Namun, jika belum terbiasa dapat menggunakan cetok atau sendok tanaman untuk memindahkan tanaman. Disertakan sebagian tanah yang membalut perakaran bibit. Langkah selanjutnya adalah penggalian lubang tanam di bedeng penanaman. Penggalian dilakukan dengan tangan atau cetok pada titik yang sesuai dengan jarak tanam. Ukuran lubang tidak perlu terlalu besar, cukup 4 cm×6 cm yang penting bibit dapat tumbuh dengan baik dan tidak mudah tercabut. Bibit dimasukkan kelubang dengan hati-hati. Selanjutnya lubang dirapikan dan tanahnya sedikit dipadatkan. 4. Pemeliharaan Pemeliharaan adalah tahapan kerja yang terpenting dalam pembudidayaan tanaman. Hasil yang optimal hanya akan dicapai apabila pemeliharaan tanaman dilakukan secara baik. Tindakan pemeliharaan ini meliputi penyiraman, penjarangan, penyulaman, penyiangan, dan penggemburan, pemupukan tambahan, serta pengendalian hama dan penyakit. a. Penyiraman Air adalah faktor pembatas tumbuh tanaman. Tanpa air yang cukup selada tumbuh kerdil, layu dan bahkan dapat mati. Sejak tanaman disemai hingga tumbuh dewasa air selalu dibutuhkan. Penyiraman yang dapat diberikan untuk selada dapat berupa penyiraman alami dan tambahan. Penyiraman alami adalah turunnya air hujan yang memenuhi kebutuhan air
  29. 29. 29 tanaman. Penyiraman tambahan adalah air siraman yang diberikan untuk tanaman. Pada musim hujan, air yang turun biasanya mampu mencukupi kebutuhan air yang diperlukan selada. Bahkan saat musim hujan, air dapat berlimpah sehingga harus disalurkan dari areal pertanaman karena dapat mengganggu pernapasan akar dan pertumbuhan tanaman. Parit yang juga merupakan jarak antar bedengan harus dijaga supaya tidak mampat sehingga mampu menyalurkan kelebihan air tersebut. Di musim kemarau atau saat musim hujan tidak menentu, siraman tambahan menjadi penting. Penyiraman dapat dilakukan menggunakan gembor, pipa penyemprotan, sprinkler, atau sistem leb. Sistem leb ialah memasukkan air ke areal melalui parit drainase selama beberapa waktu (2-8 jam), tergantung kebutuhan dan situasi kekeringan. Namun, penyiraman dengan gembor hingga air cukup membasahi tanah pada pagi dan sore hari umumnya sudah memadai. Saat cuaca tidak terlalu panas penyiraman selada hanya dilakukan sekali sehari. Kelebihan penyiraman selada akan berdampak tanaman menjadi busuk, apabila kekurangan air selada dapat layu dan akhirnya mati. b. Penjarangan Penanaman selada tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. terlihat jarak tanam yang terlalu dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Penjarangan hanya dilakukan 1 kali selama budidaya. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Menyisakan tanaman yang tumbuh baik dan jarak antar tanam
  30. 30. 30 yang teratur. Penanaman bibit dengan jarak tanam yang sudah ditentukan misalnya 20 cm×20 cm atau 40 cm×40 cm penjarangan secara tidak langsung sudah dilakukan. Jadi tidak perlu lagi untuk melakukan penjarangan. c. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila tanaman yang ditanam pada bedengan ada yang mati. Biasanya penyulaman dilakukan pada umur 5 hari setelah tanam. Tanaman yang mati harus segera diganti supaya produksi yang diharapkan tidak terganggu. Tanaman sulaman biasanya diambil dari bibit tanaman yang masih tersisa di bedeng pembibitan. Dengan demikian umur dan tingkat pertumbuhan tanaman yang sudah tumbuh dengan baik di bedeng penanaman dengan tanaman sulamannya tidak berbeda jauh. Cara penyulaman cukup sederhana. Tanaman yang mati dicabut dan dibuang. Lubang penanaman dibuat pada bekas tempat tersebut. Selanjutnya tanaman sulaman ditanam sebagai pengganti. Selain tanaman yang mati, penyulaman juga dilakukan untuk tanaman yang pertumbuhannya kerdil atau rusak akibat diserang oleh hama dan penyakit. d. Penyiangan Penyiangan dilakukan 2-4 kali selama masa pertanaman selada, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Setelah tanaman berumur 2 minggu di bedengan penanaman biasanya gulma sudah mulai banyak bermunculan. Karena masa panen selada yang terlalu singkat, penyiangan gulma dilakukan lagi 1 atau 2 minggu berikutnya disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Penyiangan ini dilakukan supaya pengambilan unsur hara dari dalam tanah dapat berlangsung sempurna tanpa diganggu oleh tumbuh-tumbuhan liar yang lain. Perlu diperhatikan bahwa penyiangan
  31. 31. 31 harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan luka pada tanaman intinya. Gulma yang tumbuh pada budidaya tanaman selada jenis gulma berdaun lebar. Gulma jenis berdaun lebar yaitu seperti krokot. Krokot merupakan gulma yang sukulen, batang penuh berdaging lunak dan tumbuh tegak atau merata yang tergantung cahaya. Gulma ini termasuk golongan semusim, yang berasosiasi dengan 45 jenis pertanaman. Krokot dalam gulma semusim yang membentuk biji untuk perbanyakannya dan dapat dari bagian batang bila tumbuh pada tanah yang lembab. Batang berdaging, terbentang dan berwarna kemerah-merahan, bentuk bulat, panjang kurang lebih 10-50 cm, dimana ruas tua tak berambut. Daun sebagian tersebar, berhadapan, bertangkai pendek, ujung daun melekuk ke dalam, bulat atau tumpul (0,2-4 cm). Buah berbentuk kotak dan berbiji banyak (4-8 mm). Biji (0,5 mm) berbentuk oval warna hitam mengkilat, permukaanya tertutup kulit yang agak berkerut. Gulma ini pada awal pertumbuhannya tumbuh lambat dan menjadi cepat setelah 15 hari dan pada akhir minggu ke-4 terbentuk 10 daun. Bunga terbentuk sepanjang musim didaerah tropis (daur hidupnya 3-5 bulan) di bawah kondisi ternaung akan tumbuh membentang dan tegak, serta membentuk bunga. Suhu optimal yang dibutuhkan ialah antara 150-350 C di mana bunga dan biji dihasilkan dengan baik sekali. Sebaliknya di bawah intensitas cahaya tinggi krokot ini dapat layu. e. Penggemburan dan pengguludan Apabila keadaan tanah tidak jauh berubah dibandingkan pada saat akan dilakukannya penanaman maka penggemburan dan pengguludan tidak perlu dilakukan lagi. Jika tidak dilakukan pada tempatnya akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Akan tetapi, apabila tanah di sekitar tanaman berubah
  32. 32. 32 menjadi padat atau mengeras maka penggemburan dan pengguludan perlu dilakukan. Penggemburan dan pengguludan biasanya dilakukan dengan penyiangan. Saat mencabut gulma, biasanya dilakukan pula pencacahan tanah di sekitar pertanaman supaya gembur. Penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati, supaya tidak merusak selada. Pengguludan untuk tanaman selada bukan hal yang mutlak diperlukan, seperti halnya untuk sayuran umbi. Pengguludan di bedengan selada lebih ditujukan untuk tetap memfungsikan parit drainase sebagai sarana pelancar kelebihan air ataupun sarana lalu lalang pekerja. Tanah bedengan yang jatuh ke bagian parit pengairan dinaikkan lagi ke bedengan semula. f. Pemupukan Tambahan Pupuk tambahan diberikan pada saat 3 minggu setelah tanam yaitu urea dengan dosis 50 kg/ha. Perlu ditekankan bahwa tambahan pupuk urea sudah cukup memadai. Selada adalah sayuran daun yang lebih membutuhkan pupuk untuk membantu pertumbuhan bagian tersebut. Pupuk TSP dan KCl yang dibutuhkan untuk ketegaran pertumbuhan batang, bunga, atau bagian tanaman lainnya sudah cukup sebagai pupuk dasar saja. Pemberian pupuk urea sebagi pupuk tambahan dapat dilakukan dengan cara penaburan dalam bedengan kemudian ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkannya dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari.
  33. 33. 33 Pemupukan tambahan diberikan 3 kali selama budidaya. Pemupukan pertama diberikan pada umur 2 minggu setelah tanam, kemudian pemupukan tambahan kedua diberikan pada umur 3 minggu setelah tanam. pemupukan tambahan ketiga diberikan pada umur 6 minggu Pemupukan bertujuan untuk memperbaiki sifat fisis, sifat kimia, dan sifat biologi tanah. Selain itu, pupuk juga diberikan supaya tanaman dapat tumbuh, berkembang dan meningkatkan hasil panen. g. Hama Penyakit dan Pengendaliannya Hama dan penyakit sama-sama merugikan karena dapat menurunkan produksi tanaman selada. Hama merupakan binatang yang merusak tanaman dan berukuran cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. Adapun penyakit merupakan keadaan tanaman yang terganggu pertumbuhannya dan penyebabnya bukanlah binatang yang mudah tampak oleh mata. Penyebab penyakit dapat berupa bakteri, virus, jamur maupun gangguan fisiologis yang mungkin terjadi. Berikut ini hama dan penyakit yang menyerang tanaman selada beserta cara pengendaliannya. 1) Hama a) Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell) (1) Gejala Daun bagian dalam yang terlindung oleh daun bagian luar rusak dan keliatan bekas gigitan. Tidak heran bila dari luar tanaman masih kelihatan baik tetapi setelah diperiksa ternyata bagian dalamnya sudah rusak. Kerusakan ini terjadi sampai titik tumbuh. (2) Penyebab Penyebab kerusakan tersebut adalah ulat titik tumbuh. Ulat ini berwarna hijau. Di punggungnya terdapat garis berwarna hijau muda dan bulu
  34. 34. 34 berwarna hitam. Ulat dewasa menghasilkan telur yang jumlahnya 30-80 butir tiap kelompok. Telur ini akan menetas dalam jangka waktu 1-2 minggu dan setiapa hari jumlah telurnya akan bertambah. Setelah menetas ulat akan melahap habis daun selada. (3) Pengendalian Pengendalian dapat dilakukan dengan cara preventif, yaitu menyemprot tanaman sebelum muncul serangan. Insektisida yang digunakan ialah Dipterex 50 SP dengan dosis 10-20 cc/10 liter air, Bayrusil 25 EC dengan dosis 10-20 cc/ 10 liter air. Pengendalian secara kuratif atau setelah terjadi serangan dapat juga dilakukan dengan menggunakan insektisida yang sama. b) Ulat tritip (Plutella maculipennis) (1) Gejala Daun tampak bercak-bercak putih. Jika lebih diperhatikan ternyata bercak-bercak tersebut adalah kulit ari daun yang tersisa setelah dagingnya dimakan hama. Selanjutnya daun menjadi berlubang karena kulit ari daun tersebut mengering dan sobek. Serangan berat menyebabkan seluruh daging daun habis termakan sehingga yang tertinggal hanyalah tulang-tulang daunnya. Serangan lebih banyak terjadi pada tanaman selada. (2) Penyebab Penyebab kerusakan tersebut adalah ulat tritip. Ulat yang baru menetas warnanya hijau muda. Setelah dewasa warna kepalanya menjadi lebih pucat dan terdapat bintik coklat. Serangga
  35. 35. 35 dewasa menghasilkan telur secara berkelompok tetapi hanya terdapat 2-3 butir telur tiap kelompok. (3) Pengendalian Cara sederhana memberantas hama ini adalah dengan menggunakan obor atau lampu penarik serangga karena hama ini tertarik akan cahaya. Pada malam hari obor diletakkan di beberapa penjuru lahan. Di bawah obor tersebut diletakkan wadah berisi air. Karena terangnya cahaya, hama kan menghampiri obor sehingga terbakar dan jatuh ke dalam wadah. Pemberantasan secara kimia dapat dilakukan dengan insektisida Diazinon 60EC dengan dosis 1-2 cc/ 1 liter air, atau sevin dengan dosis 1-2kg/hektar. Volume semprotnya 400-500l larutan per hektar. Selain itu dilakukan rotasi tanaman supaya daur hidup hama terhenti. c) Siput (Agriolimax sp.) (1) Gejala Tanaman selada yang terserang hama ini daunnya banyak berlubang tetapi tidak merata. Sering pula dijumpai jalur-jalur bekas lendir pada tanaman atau sekitarnya. (2) Penyebab Penyebab gejala tersebut adalah siput Agriolimax sp. Hewan bercangkang coklat dengan tubuh lunak ini bergerak amat lambat. Siput umumnya menyerang pada malam hari. (3) Pengendalian Hama siput dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida Metapar 99 WP
  36. 36. 36 dengan dosis 0,5-1g/liter. Siput yang ada disekitar tanaman diambil dan dimusnahkan. 2) Penyakit Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman selada antara lain penyakit akar pekuk, bercak daun alternaria, busuk basah, busuk daun, dan virus mosaik. a) Penyakit akar pekuk (1) Gejala Akar-akar yang terinfeksi penyakit ini akan mengadakan reaksi dengan pembelahan dan pembesaran sel yang menyebabkan terjadinya bintil yang tidak teratur. Seterusnya bintil-bintil ini bersatu sehingga menjadi bengkakan memanjang yang mirip batang. (2) Penyebab Penyakit akar pekuk disebabkan oleh jamur Plasmodiofora brassicae war. Penyebaran penyakit ini dapat terjadi melalui air drainase, alat-alat pertanian, tanah yang tertiup angin, pupuk kandang, hewan, dan bibit tanaman. Bibit inilah yang terutama memencarkan penyakit secara meluas. Jamur tidak dapat mencapai biji, oleh karena itu penyakit ini tidak disebarkan oleh biji. Penyakit akar pekuk dapat menjangkiti bermacam-macam tumbuhan dari famili kubis termasuk selada. Kerugian yang ditimbulkan dapat sangat besar. Lahan selada dapat rusak sehingga tidak memberikan hasil yang dapat dijual.
  37. 37. 37 (3) Pengendalian Umumnya lahan yang terinfeksi sukar untuk disterilkan lagi. Namun dapat dilakukan pencegahan dan pengendalian sebagai berikut: bibit yang akan ditanam merupakan bibit yang sehat. Sterilisasi tanah dapat diusahakan dengan memberi fungisida, seperti Vapan, Topsin, Brassicol. Pemberian brassicol yang mengandung bahan aktif quintozine dapat dengan disiram. Dosis fungisida yang digunakan adalah 0,75% atau 0,75 g dalam 100 liter air. Biasanya untuk 100 tanaman diperlukan 15 liter larutan. b) Bercak daun alternaria (1) Gejala Pada daun terdapat bercak-bercak kecil berwarna kelabu gelap yang meluas dengan cepat sehingga menjadi bercak bulat dengan garis tengah mencapai 1 cm. penyakit ini lebih banyak terdapat pada daun-daun tua. Jika pada daun terdapat banyak bercak, daun akan cepat mati sehingga menurunkan produksi. (2) Penyebab Penyebab penyakit adalah jamur Alternaria brassicae (Berk) Sacc. Jamur ini dapat terbawa oleh biji. Jika biji ditanam jamur akan menginfeksi persemaian. Jamur juga dapat menyerang pangkal bibit yang menyebabkan penyakit rebah sebai. Di Indonesia bercak daun yang disebabkan oleh jamur ini merupakan penyakit yang cukup penting pada kebanyakan tanaman kubis-kudapatn termasuk selada.
  38. 38. 38 (3) Pengendalian Pencegahan dan pengendalian penyakit ini antara lain sebagai berikut: Benih yang akan ditanam direndam dalam air hangat bersuhu 50⁰ c selama 30 menit. Penyemprotan dengan fungisida Difolatan 4 F dengan dosis 2-3cc/liter air. Pada musim kemarau dapat juga disemprot dengan Antracol 70 WP sebanyak 2 g/liter airdengan volume semprot 300-800l/ha atau Dhitane M-45 80 WP 180-240 g/100l air. c. Busuk Basah (soft root) (1) Gejala Pada bagian yang terinfeksi mula-mula terjadi bercak kebasahan. Bercak membesar dan bentuknya tidak teratur. Jaringan yang membusuk mulanya tidak berbau, tetapi dengan adanya serangan bakteri sekunder jaringan tersebut menjadi berbau khas yang menyolok hidung. Serangan terjadi tidak hanya di lahan, namun juga dalam tempat penyimpanan dan pengangkutan sebagai penyakit pasca panen. (2) Penyebab Penyakit busuk basah disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora Dye. Busuk basah adalah penyakit yang amat merugikan tanaman sayuran secara umum karena dapat menyerang hampir semua komoditas termasuk selada. (3) Pengendalian Pencegahan dan pengendalian penyakit busuk basah dapat dilakukan sebagai berikut: Jarak antar tanam jangan terlalu rapat. Pemanenan selada harus dilakukan secara hati-
  39. 39. 39 hati. Tidak luka atau lecet baik sewaktu di lapangan, penyimpanan, maupun saat pengangkutan. Mengurangi kelembapan di dalam ruang penyimpanan dan ventilasi yang cukup. d. Busuk daun (1) Gejala Di antara tulang-tulang daun terjadi bercak bersudut berwarna hijau pucat sampai kuning. Pada permukaan bawah daun dapat terbentuk kapang berwarna putih. Bagian daun yang terinfeksi saling berhubungan, daun berubah warna menjadi coklat. Jika penyakit timbul pada saat tanaman masih kecil tanaman akan tumbuh kerdil. Infeksi pada tanaman yang sudah besar menyebabkan banyak daun yang harus dibuang. Penyakit ini dapat berkembang menjadi penyakit pasca panen. Pada waktu selada disimpan dan diangkut dapat terjadi serangan yang sekaligus membuka jalan bagi masuknya jasad pengganggu sekunder, baik virus maupun bakteri. (2) Penyebab Penyebab penyakit adalah jamur Bremia lactucae Regel. Jamur terutama terdapat di daerah yang tinggi, karena perkecambahan dan infeksi memerlukan suhu yang relatif rendah. Sporangium berkecambah pada suhu 1-19⁰ C, dengan suhu optimum sekitar 10⁰ c. Suhu optimum untuk pembentukan sporangium dan infeksi adalah 15-17⁰ c. Perkecambahan dan infeksi diperlukan kelembaban udara yang
  40. 40. 40 tinggi. Penyebaran penyakit ini dibantu oleh kabut dan embun. Busuk daun tersebar luas di seluruh dunia. Penyakit ini banyak terdapat di perkebunan selada di daerah pegunungan. (3) Pengendalian Menghindari serangan busuk daun cukup mudah, yaitu dengan menanam selada di dataran rendah. Namun, di daerah tersebut jenis selada yang dapat ditanam hanya sedikit dan pertumbuhannya pun kurang baik. Apabila selada sudah terserang penyakit dapat dilakukan penyemprotan dengan fungisida. Adapun fungisida yang dipakai adalah yang berbahan aktif zineb seperti Tiezene 80 WP, Vancozeb 75 WP, atau Velimex 80 WP dengan dosis 2-2,5 g/l air denagn volume semprot 400- 800 l/ha. e. Virus mozaik (1) Gejala Serangan terjadi pada bibit dan tanaman muda. Tanaman kerdil dan daun-daun tampak keriting tidak beraturan. Kadang-kadang tanaman pucat, hijau kekuning-kuningan, dan tepi daun mengkerut secara berlebihan. Tanaman yang diserang terutama pada jenis selada yang menghasilkan krop, yang menyebabkan gagalnya pembentukan krop. Ada pula tanaman yang masih mampu menghasilkan krop yang kecil, tetapi berkualitas buruk. (2) Penyebab Penyakit ini disebabkan oleh virus mosaik selada atau Lettuce mosaic virus. Meskipun di
  41. 41. 41 Indonesia belum pernah dilaporkan adanya penyakit mosaik ini pada selada, namun penyakit ini sudah mulai menyebar di berbagai Negara penanaman selada dan dianggap sebagai virus yang cukup merugikan. (3) Pengendalian Usaha pengendalian penyakit ini antara lain sebagai berikut: Menggunakan benih yang bebas virus. Mencabut dan membakar tanaman yang sudah terserang. 5. Panen Panen merupakan hal yang diharapkan setelah melakukan penanaman dan pemeliharaan tanaman, saat panen inilah mendapatkan hasil produksi. Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Panen harus dilakukan pada waktu yang tepat supaya sesuai dengan keinginan konsumen dan baik kualitasnya. Selada yang dipanen terlalu tua akan menjadi keras dan tidak enak lagi untuk dikonsumsi. Apabila dipanen terlalu muda maka kuantitas produksi akan lebih sedikit dan harga jualnya pun lebih rendah karena kurang memenuhi standar perdagangan secara umum. Diperlukan penanganan panen secara tepat. Secara umum tujuan pasca panen adalah supaya sayuran yang dipanen tetap baik mutunya sampai ke tangan konsumen. Selain itu pengolahan bertujuan supaya sayur lebih awet serta menambah kegunaan dan nilai jual produk. a. Umur panen Tanaman selada mempunyai umur panen rata-rata sekitar 35-60 hari setelah tanam. Tanda bahwa selada siap panen adalah jika daun bagian bawahnya sudah hampir menyentuh tanah. Selain itu bila dicoba, rasanya sudah enak, segar, dan renyah. Namun, sebenarnya panen dapat dilakukan
  42. 42. 42 sesuai kebutuhan. Jika ukuran selada sudah memenuhi syarat untuk dipasarkan dapat saja panen dilakukan lebih awal dari umur panen biasa atau sebelum daun sebelah bawah hampir menyentuh tanah. Umumnya selada dipanen secara bertahap. Tanaman yang tumbuh besar dan sudah sesuai untuk dikonsumsi dipanen lebih dahulu. Panen berikutnya dilakukan sampai beberapa kali hingga semua tanaman habis dipanen. Pemanenan sebaiknya dilakukan tidak pada musim penghujan, karena jika kandungan air pada daun maksimum, maka tangkai daun selada akan lebih mudah patah dan sayuran lebih gampang busuk. Selada yang dipanen pada musim penghujan atau saat hujan berlebih juga memiliki rasa yang cenderung hambar. b. Cara panen Cara panen selada ada dua cara yaitu dapat dengan cara pencabutan atau pemotongan dengan menggunakan alat bantu pisau. Cara pencabutan biasa dilakukan pada lahan bertanah gembur. Untuk lahan kering sebaiknya dilakukan penyiraman terlebih dahulu untuk mempermudah pencabutan. Panen dengan cara pemotongan, tangkai selada dipotong persis setelah atau di atas helaian daun yang terbawah untuk mencegah terbawanya kuman penyakit yang tercemar dari permukaan tanah. Seandainya daun pada bagian paling bawah terbawa, apalagi dengan panen sistem cabut, daun yang tua dan kotor ini dibuang. 6. Pasca panen a. Pencucian Selada yang baru dicabut atau dipotong harus dibersihkan dan dicuci. Pembersihan untuk membuang kotoran yang mungkin melekat atau terikat pada sayuran, kotoran dapat berupa ranting, rumput, daun kering, atau
  43. 43. 43 bahkan tanah. Selada yang ditanam di lahan biasa cenderung kotor. Sambil melakukan pembersihan selada, pemotongan akar bukan keharusan, terutama untuk selada daun dataran rendah. Jenis Selada kepala jarang dipanen dengan menyertakan akarnya. Bahkan bagian daun yang tidak membentuk krop biasanya dibuang. Namun, untuk selada daun ada yang dengan sengaja membiarkan akarnya masih utuh saat hendak dipasarkan, karena akar tersebut hanya pendek. Akar yang dibiarkan utuh, mengesankan kepada konsumen bahwa selada tersebut bermutu baik dan ditanam secara baik. Supaya lebih bersih selada sebaiknya dicuci. Pencucian tidak usah terlalu lama, cukup direndam dalam air sebentar, kemudian dikibas-kibaskan untuk mengeringkan air yang masih menempel. Pencucian juga bermanfaat sebagai tindakan penurunan suhu sayuran setelah dipanen. b. Sortasi Setelah hasil panen terkumpul kemudian dilakukan sortasi. Tujuan sortasi adalah untuk memilih atau memisahkan selada yang baik dengan yang kurang baik. Daun-daun yang terkena penyakit, rusak, atau kurang bagus sebaiknya dibuang. Kriteria sortasi dilihat dari sejauh mana batang atau daun rusak. Jenis selada daun dan selada batang dapat disortasi berdasarkan penampilan visualnya. Namun, untuk selada krop perlu dipisahkan antara krop yang besar, kecil, dan yang kurang bagus. Penanganan seleksi harus dilakukan dengan hati-hati, karena daun selada juga dimanfaatkan untuk keindahannya.
  44. 44. 44 Selada yang berukuran di bawah standar, tidak layak pasar, atau bagian batang atau daunnya yang dibuang saat penyortiran dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak.
  45. 45. 45 III. KEADAAN UMUM A. Sejarah berdirinya P4S Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) berdiri pada tahun 2003, merupakan suatu wadah yang memiliki tujuan untuk memajukan pertanian sebagai sumber ekonomi masyarakat. P4S manunggal yang diketuai oleh Supriyanto, SP beralamat di Jl. Kaliurang Km 19,2 RT: 06 Dusun Sambi Desa Pakembinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Propinsi DI.Yogyakarta. P4S menawarkan pelatihan/magang di bidang pertanian diantaranya budidaya padi, sayuran, jamur, dan buah semusim, serta peternakan, yang meliputi budidaya ternak kecil maupun besar. Pelatihan pembuatan pupuk organik juga ditawarkan dalam kelompok ini. P4S juga melakukan pembinaan kepada kelompok tani. B. Letak dan lokasi Desa Pakembinangun yang berada sekitar 0 km arah utara kemaban Pakem dan 15 km arah timur Ibukota Sleman memiliki akselerasi baik, mudah di jangkau dan terhubung dengan daerah-daerah lain dan sekitarnya oleh jalur transportasi jalan raya. Dilihat dari topografi wilayah Pakembinangun berada pada ketinggian 398 – 976 km dari permukaan air laut dengan curah hujan rata 200 mm/tahun, serta suhu rata-rata pertahun adalah 23-30o C. Desa Pakembinangun dilalui sungai kumlag. Keberadaan sungai dengan air yang mengalir sepanjang tahun di daerah Pakembinangun tersebut membantu dalam menjaga kondisi permukaan air tanah. Secara administrasi Desa Pakembinangun terletak di Kecamaatan Pakem Kabupaten Sleman berbatasan dengan beberapa Desa sebagai berikut : a. Sebelah utara yaitu Desa Hargobinangun, Pakem Sleman. b. Batas selatan yaitu Desa Umbulmartani, Ngemplak Sleman. c. Sebelah barat yaitu Desa Hargobinangun, Pakem Sleman. d. Batas utara yaitu Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman.
  46. 46. 46 Wilayah Pakembinangun meliputi sungai dan sumber air, yang dilalui oleh sungai atau kali besar yaitu sungai kali kuning mengalir dari utara ke selatan. Desa Pakembinangun hanya mengandalkan sumber air tanah atau sumur sehingga pada musim kemarau jika air sumur berkurang maka sumber air tanah juga berkurang, akibat mengalami kekeringan dan air untuk kebutuhan pertanian, perikanan dan air minum.
  47. 47. 47 C. Struktur organisasi Organisasi dapat berjalan dengan baik apabila dibarengi dengan keaktifan semua anggota organisasi tersebut. Keaktifan anggota dapat membantu berjalannya visi dan misi organisasi supaya tercapainya suatu tujuan. Demikian struktur organisai P4S Manunggal: Ketua Supriyanto, SP Ketu a 2 Dra. Muji Rahayu Bendahara H. Ali Miftah Gambar 1. Struktur organisasi P4S Manunggal Sekretaris 2 Suhariyadi Sekretaris 1 Drs. Prayogo, Amd. Sie Kurikulum Hartono Sie. Humas dan Promosi Yulianto, SP Sie. Akomodasi Sukati
  48. 48. 48 D. Jenis pelatihan di P4S Di P4S manunggal menawarkan pelatihan dunia pertanian dan peternakan. Pelatihan yang ditawarkan antara lain: budidaya tanaman padi, budidaya tanaman sayuran, budidaya jamur, budidaya tanaman buah semusim seperti semangka, budidaya tanaman hias, budidaya ternak kecil maupun ternak besar. P4S Manunggal juga menawarkan pelatihan teknologi pembuatan pupuk organik. Pembuatan pupuk organik ini mengarah pada hidup yang lebih ramah lingkungan. Menggunakan pupuk organik dalam dunia pertanian akan memperbarui struktur tanah. E. Data pendukung a) Iklim Kesuburan tanah suatu daerah juga dipengaruhi oleh curah hujan. Berikut adalah data curah hujan daerah Pakem. Tabel 3. Data curah hujan daerah Pakem (mm) Bulan Tahun Rerata 2006 2007 2008 2009 2010 Januari 476 148 171 504 582 376.2 Februari 382 410 451 354 311 381.6 Maret 339 206 531 155 382 322.6 April 492 548 296 406 103 369 Mei 156 84 151 172 339 180.4 Juni 50 62 5 60 179 71.2 Juli 0 10 0 0 143 30.6 Agustus 0 0 0 0 175 35 September 0 0 4 0 476 96 Oktober 15 124 185 65 382 154.2 November 59 505 690 362 339 391 Desember 437 454 131 325 492 367.8
  49. 49. 49 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 Rata-rata curah hujan 2006-2010 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Gambar 2: Diagram curah hujan daerah pakem Rerata curah hujan 2006-2010 Berdasarkan urutan bulan basah dan kering dengan ketententuan tertentu diurutkan sebagai berikut: a. Bulan basah yaitu bulan yang curah hujannya lebih dari 200 mm b. Bulan lembab yaitu bulan yang curah hujannya 100 – 200 mm c. Bulan kering yaitu bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm (Anonim, 2013). Curah hujan di pakem Selama 5 tahun dari tahun 2006- 2010, bulan Januari-Mei merupakan bulan basah karena pada bulan tersebut lebih dari 100mm/tahun. Sedangkan bulan Juni- September termasuk kedalam kriteria bulan kering karna curah hujan kurang dari 100mm/tahun. Tingkat curah hujan naik kembali pada bulan Oktober-Desember. b) Irigasi Irigasi yang diterapkan untuk budidaya tanaman selada keriting merupakan irigasi yang memanfaatkan sumber air dari kali kuning yang mengalir ke sub sub saluran atau got air. Selain itu juga menggunakan penampung air hujan yang terbuat dari terpal.
  50. 50. 50 c) Drainase Drainase pada lahan budibudidaya tanaman selada di buat dengan membuat lubangan di ujung bawah petakan lahan dan menyalurkan ke petakan lahan di bawahnya dan selanjutnya sampai ke petakan yang paling bawah dan kemudian di alirkan ke saluran pembuangan . atas Gambar 3: Drainase lahan budidaya selada Air dari kali kuning Saluran pembuangan Keterangan : Arah aliran air Petakan lahan budidaya
  51. 51. 51 IV. PELAKSANAAN A. Pelaksanaan Kerja Praktik 1. Tempat Kerja praktik dilakukan di Desa Sambi, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Sejak tanggal 09 September 2012 sampai tanggal 24 November 2012. 2. Waktu Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari dalam satu minggu yaitu Rabu, Kamis dan Sabtu. Dimulai dari pukul 07.00 sampai pukul 12.00 untuk hari Rabu dan pukul 14.00 sampai pukul 17.00 untuk hari Kamis dan Sabtu. Selama dalam kerja praktik, penulis melakukan beberapa hal diantaranya pengamatan, wawancara, dan budidaya tanaman selada. Selain budidaya, penulis juga dipersilahkan untuk terlibat dalam proses panen dan pasca panen sampai pengemasan. B. Budidaya Teknik budidaya tanaman selada yang telah dilakukan penulis saat kerja praktik meliputi beberapa tahapan yaitu pembibitan, pengolahan lahan, penanaman, penyiraman, penyiangan gulma. 1. Pembibitan Tanaman selada diperbanyak dengan biji. Untuk lahan seluas 1 ha diperlukan benih selada ±250 gr atau pada kisaran 400-600 gr, tergantung pada varietas dan jarak tanamnya. Sebelum dilakukan pembibitan, yang harus dilakukan adalah seleksi benih yang unggul. Benih yang berasal dari induk yang sehat dan tidak cacat. Mempunyai keunggulan dalam produksi dan kualitasnya. Serta benih tahan terhadap hama dan penyakit. Dalam pembibitan dilakukan 2 kali penyemaian, namun sebelum disemai biji selada dikecambahkan terlebih dahulu. Nampan yang akan digunakan dilubangi bagian bawahnya dengan soldier. Supaya pada saat penyiraman air dapat keluar dan tidak tergenang di
  52. 52. 52 dalam nampan. Kemudian ayak serbuk gergaji, serbuk gergaji yang halus digunakan untuk media sebagai perkecambahan selada di nampan tersebut. Setelah serbuk gergaji di letakkan pada nampan, benih selada yang akan diperkecambahkan di sebar pada media tersebut. Lalu siram hingga basah dan tutup selama 5 hari. Tanah untuk pembibitan dicangkul sampai gembur kemudian dibuat bedengan dengan ukuran panjang sesuai dengan kebutuhan bibit, lebar 1 m, dan tinggi 20 cm. tanah di atas bedengan di campur dengan pupuk kandang, diaduk dengan cangkul. Bedengan disiram air secukupnya. Benih selada di tebarkan di atas bedengan dengan hati-hati sehingga setelah tumbuh tidak saling menumpuk. Untuk itu sebaiknya benih selada dicampur dengan abu dapur dahulu sebelum ditebarkan sehingga dapat merata di atas bedengan. Di atas bedengan pembibitan diberi naungan dari welit atau plastik. Tujuannya adalah untuk mengurangi cahaya matahari yang masuk ke pembibitan. Hal ini karena selada kurang tahan terhadap cahaya matahari yang terik dan dapat menghambat pertumbuhan bibit. Pembibitan dilakukan pada bedengan yang sudah diolah sebelumnya. Bedengan diratakan dengan sebilah bambu kecil, kemudian pupuk kandang disebarkan di atas bedengan yang sudah di ratakan. Bibit yang akan ditanam diseleksi terlebih dahulu, bibit ditanam 3-10 pohon dengan jarak tanam 2-3 cm. Siram bibit yang sudah ditanam. Setelah bibit berumur 2 minggu, bibit dipindahkan pada polibag. Polibag di isi dengan media yaitu tanah yang sudah dicampur dengan pupuk kandang setengah bagian. Bibit dimasukkan ke dalam polibag, lalu polibag tersebut diisi media sampai penuh. Untuk menghindari bibit layu dan mati, bibit disiram air menggunakan gembor. Selama di pembibitan, tindakan pemeliharaan yang paling penting adalah penyiraman. Media pembibitan harus dijaga tetap
  53. 53. 53 lembab. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Seiring dengan pertambahan umur bibit, maka jumlah air siraman di kurangi. Supaya bibit lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kering. 2. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan 2 minggu sebelum tanam. Pertumbuhan tanaman sayuran dipengaruhi oleh keadaan fisik serta struktur lahan tanamnya. Untuk itu perlu dilakukan pengolahan tanah. Kegiatan pengolahan tanah secara umum sebelum menanam sayuran adalah penggemburan tanah serta pembuatan bedengan. Pada tahap penggemburan tanah, untuk jenis semua tanaman akan mempunyai perlakuan yang relatif hampir sama, tetapi dalam hal pembuatan bedengan mempunyai perlakuan yang berbeda-beda. Penggemburan tanah dapat menciptakan kondisi yang dibutukan oleh tanaman supaya mampu tumbuh dengan baik. Tahap-tahap penggemburan ini meliputi pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah serta sirkulasi udaranya. Di sekeliling lahan dibuat saluran air. Saluran air tersebut berfungsi untuk memasukkan air dari parit sehingga memudahkan pengambilan air pada waktu penyiraman. Selain itu saluran air juga berfungsi sebagai saluran drainase, sehinnga pada waktu musim hujan tidak terjadi genangan air di lahan, karena air hujan akan mengalir dan masuk ke dalam saluran tersebut. Setelah pembuatan saluran air selesai kemudian dilanjutkan dengan pembuatan bedengan-bedengan. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 1 m, panjang disesuaikan dengan panjang lahan, dan tinggi 30 cm, sehingga tiap baris dapat dibuatkan 6 lubang dan jarak antar bedengan 40 cm. Bedengan yang masih kasar diratakan atau dihaluskan dengan sebilah bambu. Tanah di bedengan diberi pupuk kandang yang sudah masak, kemudian dicampur sampai rata dengan tanah menggunakan cangkul. Pupuk kandang ini berfungsi sebagai pupuk dasar. Selain itu juga dapat digunakan kompos sebagai pengganti pupuk kandang.
  54. 54. 54 Bedengan yang sudah siap dibiarkan beberapa waktu sambil menunggu penanaman. 3. Penanaman Sehari sebelum penanaman, lahan diari hingga saluran-saluran di antara bedengan tergenang air selama 5 jam. Kemudian air dibuang melalui saluran pembuangan. Pengairan dilakukan supaya lahan cukup lembab dan untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman yang baru dipindah tanam. Penanaman dilakukan pada sore hari, sehingga tanaman yang baru ditanam tidak langsung mendapat terik cahaya matahari. Bibit yang akan ditanam diseleksi terlebih dahulu. Dipilih bibit yang pertumbuhannya baik dan tidak terserang hama dan penyakit. Bibit dipindahkan dengan hati-hati dari bedengan pembibitan. Petani yang berpengalaman biasa menggunakan tangan untuk melakukan pemindahan. Namun, jika belum terbiasa dapat menggunakan cetok atau sendok tanaman untuk memindahkan tanaman. Disertakan sebagian tanah yang membalut perakaran bibit. Pada bedengan di buat lubang-lubang tanam dengan menggunakan tangan. Jarak antar lubang 20 cm×20 cm. Ukuran lubang tidak terlalu besar cukup 4cm×6 cm. Yang penting bibit dapat tumbuh baik dan tidak mudah tercabut. Lubang diberi kompos untuk menambah kandungan unsur hara tanah serta nutrisi pada tanaman selada. Bibit dimasukkan ke lubang tanam dengan hati-hati. Selanjutnya lubang dirapikan dan tanah sedikit dimapatkan. Setelah bibit selesai di tanam pada bedengan, selada disirami air dengan menggunakan gembor. 4. Penyiraman Untuk pertumbuhan awal, tanaman selada banyak membutuhkan air. Selama 1 minggu dari penanaman, tanaman selada disiram 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Setelah satu minggu tanaman selada cukup disiram 1 kali sehari. Sehingga
  55. 55. 55 dalam 2 minggu setelah tanam, tanaman terjaga tidak layu dan tidak kekurangan air. Air untuk penyiraman diambil dari saluran yang telah di buat di kanan kiri lahan. Dari parit air dialirkan masuk ke dalam lahan. Air diambil dengan gembor kemudian disiramkan pada tanaman selada. 5. Penyiangan gulma Penyiangan gulma bertujuan untuk mengurangi persaingan antara tanaman selada dengan tumbuhan gulma dalam mendapatkan air dan unsur-unsur hara dari dalam tanah. Dengan penyiangan ini tanaman selada memperoleh air dan unsur hara yang cukup untuk memenuhi pertumbuhannya. Gulma mulai tumbuh setelah tanaman selada berumur 3 minggu di bedengan penanaman. Gulma yang tumbuh pada budidaya tanaman selada jenis gulma berdaun lebar. Gulma jenis berdaun lebar yaitu seperti krokot. Krokot merupakan gulma yang sukulen, batang penuh berdaging lunak dan tumbuh tegak atau merata yang tergantung cahaya. Gulma ini termasuk golongan semusim. Penyiangan gulma dapat dilakukan dengan mencabut gulma, dapat juga dengan menggunakan cangkul. Namun, dalam penggunaan cangkul harus hati-hati supaya penyiangan dengan cangkul tidak akan merusak tanaman selada. 6. Pengendalian hama Pengendalian hama bertujuan untuk mengendalikan hama pada tanaman selada yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen. Pengendalian hama akan mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh hama. Pengendalian hama hanya dengan cara mekanis. Yaitu dengan mengambil hama seperti ulat yang memakan daun selada dengan tangan, kemudian memusnahkannya.
  56. 56. 56 7. Panen dan pasca panen a. Panen Pada umur 40-60 hari setelah tanam, selada sudah dapat dipanen. Kegiatan panen sebaiknya dilakukan pada sore hari, untuk menghindari tanaman yang layu atau menurun kualitasnya saat sampai ditangan konsumen. Pemanenan tanaman selada saat penulis melalukan kerja praktik, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: 1) Selada dipanen dengan dicabut Caranya selada dicabut beserta akarnya. Tanaman selada yang di panen dengan cara ini nantinya akan dipasarkan ke pasar tradisional pada pagi hari. Tujuan diikutsertakannya akar saat panen adalah supaya tanaman lebih menarik konsumen dipasar dan tentunnya menambah bobot tanaman tersebut. Tanah yang menempel dibagian akar dibersihkan. Pembersihan akar dilakukan supaya tanaman lebih bersih dan menarik. Akar dibersihkan dengan memukulkan sebilah bambu ke akar dengan tidak terlalu kuat karena dapat merusak tanaman. Setelah bersih tanaman dikumpulkan kemudian dicuci menggunakan air pada bak air yang terbuat dari semen dengan ukuran 100 cmx100 cmx150 cm. Bagian daun yang paling bawah atau daun selada yang kurang baik di hilangkan. Penghilangan daun dilakukan saat pencabutan supaya menghemat waktu dan tenaga saat panen. Tujuannya supaya penampilan selada lebih menarik dan dapat menarik konsumen. Setelah dipanen dan dibersihkan selada dikumpulkan. 2) Selada dipanen dengan dipotong Tanaman selada yang siap panen tidak semua dicabut beserta akarnya, ada juga yang di panen dengan dipotong pada ujung batang bawah (bergabung dengan akar). Caranya tanaman selada yang di atas tanah di potong dengan menggunakan alat
  57. 57. 57 yaitu pisau. Bagian daun yang kurang bagus dihilangkan. Setelah dipanen dan dibersihkan selada dikumpulkan. Selada yang dipanen dengan cara ini nantinya akan digunakan untuk mencukupi permintaan Mister Burger Yogyakarta. b) Pasca panen Berdasarkan kerja praktik yang telah penulis lakukan di klompok tani Manunggal, penanganan pasca panen meliputi: (a) Pengumpulan 1) Hasil panen dikumpulkan pada tempat yang teduh 2) Tujuan pengumpulan hasil panen di tempat teduh ini untuk memudahkan kegiatan penanganan berikutnya dan menekan kerusakan akibat sinar matahari langsung. (b) Pembersihan 1) Daun-daun tua yang rusak dibuang. 2) Selada yang sudah dibersihkaan dari daun-daun yang kurang bagus dicuci di tempat pencucian, kemudian dikibas-kibaskan supaya selada kering dari air pencucian tersebut. (c) Pengkelasan 1) Hasil panen selada diklasifikasikan menurut bentuk, ukuran atau beratnya, sesuai dengan permintaan pasar. 2) Biasanya selada yang masih ada akarnya untuk memenuhi kebutuhan pasar-pasar tradisional. 3) Selada yang dipanen dengan dipotong untuk memenuhi permintaan rumah makan, hotel, dan restaurant. (d) Pengemasan 1) Selada termasuk sayuran mudah rusak. Untuk mengantarkan ke konsumen harus dikemas dalam wadah. 2) Pengemasan menggunakan kantong plastik. 3) Selada yang sudah kering dari air pencucian dimasukkan kedalam plastik kemudian ditimbang untuk memenuhi permintaan pasar.
  58. 58. 58 D. Tata Niaga Pemasaran yang masih diterapkan saat ini adalah rantai pemasaran tradisonal petani. Produsen menjualnya ke supermarket, restaruan, mister burger yogyakarta dan pasar tradisonal sebagai pengecer yang akhirnya sampai ke konsumen. Dari keterangan diatas berikut ini siklus pemasaran: PETANI Gambar 4. Tata niaga PASAR TRADISIONAL RESTAURANT SUPERMARKET KONSUMEN
  59. 59. 59 F. Analisis Finanasial Analisis usaha tani bertujuan untuk mengetahui tidak layak atau rugi suatu usaha dikelolah. Adapun dalam usaha budidaya selada ini dilakukan pada areal dengan luas 10.000 m2. Dengan jarak tanam 25cmx25cm. Lamanya proses berlangsung selama 2 bulan. I. Biaya a. Biaya Variabel (BV) Biaya variabel adalah biaya yang selalu berubah-ubah sesuai dengan perubahan penggunaan faktor produksi. Tabel 4. Biaya Sarana Produksi No Sarana Produksi Kebutuhan Harga (Rp) Jumlah (Rp) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Benih Pupuk a. Kandang b. Urea Pestisida a. Decis b. Antrachol Kotak semai Plastik UV Tenaga kerja a. Membuat bedengan b. Penanaman c. Penyemprotan d. Pasca panen 18Bungkus 1 Colt 50 Kg 500 Ml 6 Kg 250 Buah 7 Rool 7 HOK 2 HOK 7 HOK 14.000 150.000 90.000 55.000 97.000 15.000 160.000 40.000 40.000 40.000 40.000 225.000 150.000 4.500.000 110.000 582.000 3.750.000 1.120.000 280.000 80.000 280.000 280.000 Total 11.364.000 b. Biaya tetap 1. Biaya alat produksi tahan lama Biaya yang digunakan untuk alat-alat dalam beberapa proses produksi. Alat ini akan mengalami pengurangan tahun ke tahun . Biaya ini terdiri dari penyusutan bunga modal dan Biaya Bunga Modal Alat Tahan Lama.
  60. 60. 60 (a) Penyusutan Penyusutan data di artikan sebagai penurunan atau pengurangan nilai modal dari suatu saat akibat pertambahan umur. Untuk menghitung biaya penyusutan dapat menggunakan rumus : D = Nb - Ns N Tabel 5. Penyusutan Biaya Tetap Saran Produksi No Alat Jumlah Nb (Rp) Ns (Rp) N Biaya (Rp) Penyusutan/ sekali produksi (2 bulan) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 Cangkul Nampan Gembor Handsprayer Sekop Ember Parang 3 10 4 1 1 4 1 150.000 3.500 30.000 350.000 10.000 15.000 45.000 25.000 500 1.500 25.000 1.000 5.000 1.000 2 6 1 4 1 6 1 150.000 3.500 30.000 350.000 10.000 15.000 45.000 10.416,67 500,00 4.750,00 13.541,67 750,00 1.666,67 3.666,67 13.750,00 Total 49.041,68 (b) Biaya Bunga Modal Alat Tahan Lama (I) Untuk menghitung biaya bunga modal alat tahan lama (i) dapat menggunakan rumus sebagai berikut : I = Nb + Ns x i 2 Keterangan : I = Biaya modal tahan lama Nb = Nilai baru Ns = Nilai sisa i = % bunga pertahun (18%)
  61. 61. 61 Tabel 6. Biaya modal alat tahan lama ( i ) No Alat Jml Nb (Rp) Ns (Rp) I Biaya (Rp) Biaya Bunga Modal Produksi (2 bulan) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 Cangkul Nampan Gembor Sprayer Sekop Ember Parang 3 10 4 1 2 4 1 150.000 3.500 30.000 350.000 10.000 15.000 45.000 50.000 500 1.500 25.000 1.000 5.000 1.000 18% 18% 18% 18% 18% 18% 18% 54.000 3.600 28.350 33.750 990 7.200 4.140 9.000 600 4.725 5.625 165 1.200 690 Total 22.050 2. Sewa lahan Sewa lahan / ha / tahun = Rp. 1.000.000,00 Luas lahan = 10.000 m2 Jadi sewa lahan untuk luas 10.000 m = 1.000.000,00 / 1000 x 10.000 x 1 x 5 = Rp. 4.166.666,67 12 3. Pajak Pajak / ha / tahun = Rp. 50.000,00 Luas lahan = 10.000 m2 Jadi pajak untuk luas lahan 10.000 m = 700.000,00 / 1000 x 10.000 x 1 x 2 = Rp. 1.166.666,67 12 Biaya lain-lain selama 2 bulan = Rp. 1.000.000,00
  62. 62. 62 4. Biaya bunga modal keseluruhan P = Besarnya pinjaman pokok = Rp. 5.000.000,00 n = Lama pinjaman selama 2 bulan I = Suku bunga 18% pertahun Untuk menghintung biaya bunga modal keseluruhan, menggunakan rumus : I = P x n x i Keterangan : I = Biaya bunga modal keseluruhan P = Besarnya modal pokok n = Lama pemakaian i = Tingkat bunga 18% pertahun jadi I = P x n x i = Rp. 5.000.000,00 x 1 x 2 x 0,18 12 = Rp. 5.000.000,00 x 1 x 0,18 6 = Rp. 5.000.000,00 x 0,3 = Rp. 15.000.000,00 c. Biaya Tetap Total (BT) Untuk menghitung total biaya, rumus sebagai berikut: BT = Penyusutan (D )+biaya bunga modal alat tahan lama+biaya Pemeliharaan+Biaya modal keseluruhan (I) + sewa lahan+Pajak + Lain-lain =Rp.11.346.000,00+Rp.22.050,00+Rp.110.000,00+Rp.15.000.0 00,00+Rp.4.166.666,67+1.166.666,67+ Rp.1.000.000,00 = Rp. 31.644.716,67
  63. 63. 63 d. Biaya Total (Bto) Bto = Biaya variabel + Biaya tetap = Rp. 11.364.000,00 + Rp. 31.644.716,67 = Rp. 43.008.716,67 II. Pendapatan a. Taksiran produksi dan harga 1. Hasil produksi = 15000 Kg 2. Harga per kg = Rp. 8.000,00 b. Penerimaan Total PT = Jumlah produksi x harga satuan = 15.000 x Rp.8.000 = Rp. 120.000.000,00 c. Biaya persatuan produksi Biaya persatuan produksi = Total biaya Total produksi = Rp. 43.008.716,67 . 15.000 = Rp. 2.867,25,- d. Pendapatan bersih Pendapatan bersih = Penerimaan total-Biaya tetap-Biaya variabel =Rp.120.000.000,00-Rp.31.644.716,67- Rp.11.364.000,00 = Rp. 76.991.283,33,-
  64. 64. 64 III. BEP (Break Event Point) a. BEP ( Break Event Point ) a. BEP Harga = Biaya Produksi Jumlah produksi dijual = Rp 31.644.716 15000 kg = Rp 2.109,65/kg Keuntungan= taksiran produksi x (harga – BEP Harga) = 15.000 kg x (Rp 8.000/kg – Rp 2.109,65/kg) = 15.000kg x Rp 5890/kg = Rp 88.350.00,00 Titik impas harga produksi diperoleh bila harga jual selada Rp 2.109,65/kg dengan harga jual Rp 8.000 maka titik impas tercapai dan mendapatkan keuntungan Rp 5.890/kg. Dalam 1 ha petani mampu memproduksi 15.000kg, sehingga petani mendapat keuntungan sebesar Rp 88.355.250,00. b. BEP Volume produksi = Biaya Produksi Harga jual = Rp. 31.644.716 Rp. 8.000/kg = 3.955/kg Keuntungan= taksiran harga x (taksiran produksi – BEP Produksi) = Rp 8.000 x ( 15.000kg – 3.955/kg) = Rp 8.000 x 11045kg = Rp 88.360.000,00 Titik impas volume produksi diperoleh bila hasil panen selada 3.955kg. sedangkan selama produksi ini adalah 15.000 kg dengan demikian titik impas tercapai dan
  65. 65. 65 mendapatkan keuntungan hasil produksi sebesar 11.045 kg artinya usaha selada menguntungkan petani sebesar Rp.88.360.000,00 IV. R/C Ratio R/C Ratio = Total penerimaan total biaya = Rp. 120.000.000,- Rp. 43.088.716,67 = 2,78495 Usaha budidaya selada ini layak untuk di usahakan karena setiap nilai rupiah yang dikeluarkan yaitu Rp.1 Diperoleh penerimaan senilai Rp. 2,78495 Sebagai hasil usaha tersebut.
  66. 66. 66 V. PEMBAHASAN Selada merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang dikonsumsi daunnya, dikalangan masyarakat dikenal sebagai sayuran daun. Prospek serapan pasar terhadap komoditas selada akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, kesejahteraan masyarakat, dan peningkatan kesukaan masyarakat terhadap selada. Untuk memenuhi kebutuhan selada yang terus meningkat dipasaran, maka perlu dilakukan upaya penyediaan produksi melalui usaha budidaya. Keberhasilan peningkatan produksi selada dapat terwujud apabila ditunjang oleh ketersediaan benih yang bermutu, ketersediaan lahan pertanian yang cukup, teknologi yang memadai, dan lingkungan hidup yang sehat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman selada yang akan dibudidayakan. Selada ditanam di daerah dataran tinggi dengan ketinggian 1000- 1.900m dpl. Keadaan tanah berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, subur, mudah mengikat air, dan solum tanah dalam. Sifat fisika tanah yang baik berpengaruh terhadap aerasi dan drainase tanah. Pertumbuhan tanaman dan pembentukan hasil yang optimal memerlukan suhu dan kelembapan tertentu. Suhu rata-rata harian yang optimal untuk pertumbuhan adalah 15̊-20̊C. Pertumbuhan vegetatif tanaman sangat dipengaruhi oleh suhu tanah yang rendah pada malam hari. pertumbuhan vegetatif tanaman akan sangat terhambat apabila suhu tanah kurang dari 10̊C dan lebih dari 30̊C. Kelembapan udara yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman selada adalah 80%-90%. Sedangkan lama penyinaran sesuai dengan yang diperlukan untuk kegiatan fotosintesis yaitu 9-10 jam per hari. Lama penyinaran juga akan berpengaruh terhadap pembentukan organ vegetatif dan generatif. Rerata curah hujan sesuai untuk budidaya tanaman selada adalah 1.000-1.500 mm per tahun. Pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman berhubungan dengan ketersediaan air tanah. Selada diperbanyak dengan biji. Untuk lahan 1 ha diperlukan benih selada 250 g atau pada kisaran 400-600 g, tergantung pada jarak tanamannya. Saat pembibitan benih selada dapat langsung disebar di atas
  67. 67. 67 bedengan (sistem tanam atau sebar langsung). Cara ini memiliki kelebihan, menghemat waktu, tenaga, biaya, dan tidak memerlukan ketrampilan yang khusus. Kelemahannya, menyulitkan pemeliharaan tanaman yang masih kecil (stadium bibit), dan pada waktu tanaman sudah berumur 1,5 bulan sejak sebar, benih perlu penjarangan (Haryanto,1995). Cara yang dianjurkan adalah benih disemai terlebih dahulu di lahan persemaian selama kurang lebih 1 bulan atau bibit telah berdaun 3-5 helai. Kelebihan cara ini antara lain: dapat menghemat benih, memudahkan pemeliharaan bibit karena terkonsentrasi (menyeleksi) bibit yang baik saat pemindahan ke lahan tanam. Kelemahan cara ini diantaranya memerlukan biaya, tenaga dan waktu tambahan, serta keterampilan khusus dalam penyiapan bibit di persemaian (Rukmana, 1994). Dalam budidaya tanaman selada keriting ini, pembibitan dilakukan 2 kali penyemaian, namun sebelum disemai biji selada dikecambahkan terlebih dahulu. Untuk penyemaian benih dengan menggunakan nampan. Nampan yang akan digunakan dilubangi bagian bawahnya dengan soldier. Supaya pada saat penyiraman air dapat keluar dan tidak tergenang di dalam nampan. Kemudian ayak serbuk gergaji, serbuk gergaji yang halus digunakan untuk media sebagai perkecambahan selada di nampan tersebut. Setelah serbuk gergaji di letakkan pada nampan, benih selada yang akan diperkecambahkan di sebar pada media tersebut. Lalu siram hingga basah dan tutup selama 5 hari. Tanah untuk pembibitan dicangkul sampai gembur kemudian dibuat bedengan dengan ukuran panjang sesuai dengan kebutuhan bibit, lebar 1 m, dan tinggi 20 cm. tanah di atas bedengan di campur dengan pupuk kandang, diaduk dengan cangkul. Bedengan disiram air secukupnya. Benih selada di tebarkan di atas bedengan dengan hati-hati sehingga setelah tumbuh tidak saling menumpuk. Untuk itu sebaiknya benih selada dicampur dengan abu dapur dahulu sebelum ditebarkan sehingga dapat merata di atas bedengan. Di atas bedengan pembibitan diberi naungan dari welit atau plastik. Tujuannya adalah untuk mengurangi cahaya matahari yang masuk ke
  68. 68. 68 pembibitan. Hal ini karena selada kurang tahan terhadap cahaya matahari yang terik dan dapat menghambat pertumbuhan bibit. Pembibitan dilakukan pada bedengan yang sudah diolah sebelumnya. Bedengan diratakan dengan sebilah bambu kecil, kemudian pupuk kandang disebarkan di atas bedengan yang sudah di ratakan. Bibit yang akan ditanam diseleksi terlebih dahulu, bibit ditanam 3-10 pohon dengan jarak tanam 2-3 cm. Siram bibit yang sudah ditanam. Setelah bibit berumur 2 minggu, bibit dipindahkan pada polibag. Polibag di isi dengan media yaitu tanah yang sudah dicampur dengan pupuk kandang setengah bagian. Bibit dimasukkan ke dalam polibag, lalu polibag tersebut diisi media sampai penuh. Untuk menghindari bibit layu dan mati, bibit disiram air menggunakan gembor. Selama pembibitan, tindakan pemeliharaan yang paling penting adalah penyiraman. Media pembibitan harus dijaga tetap lembab. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Seiring dengan pertambahan umur bibit, maka jumlah air siraman di kurangi. Supaya bibit lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kering. Penanaman selada dilakukan setelah bibit berumur 30 hari atau bibit sudah mempunyai 3-4 helai daun. Pada bedengan dibuat lubang tanam dengan jarak antar tanam 25cm, sebelum penanaman bedengan disiram dengan air agar bedengan terjaga kelembabannya. Kemudian bibit yang siap tanam tersebut ditaruh pada lubang tanam, tanah sedikit dimapatkan agar bibit yang ditanam pada bedengan tidak roboh. Perawatan yang dilakukan adalah tahapan budidaya selada yaitu penyiraman. Penyiraman dilakukan dua kali sehari selama 7 hari setelah tanam yaitu pada pagi dan sore hari, hal ini disebabkan pada awal penanaman selada membutuhkan cukup banyak air untuk pertumbuhannya, namun setelah 7 hari setelah tanam cukup disiram dengan 1 kali sehari. Sehingga dalam 2 minggu setelah tanam, tanaman terjaga tidak layu dan tidak kekurangan air. Kekurangan air pada tanaman akan menyebabkan tanaman mengalami gangguan fotosintesis.
  69. 69. 69 Tanaman selada mulai dipupuk pada umur 3 minggu setelah tanam, kemudian diulang lagi dengan interval waktu 10 hari sekali sampai umur 60 hari. Pemupukan susulan pada tanaman selada bersifat sebagai penunjang, karena sebagian besar kebutuhan pupuk telah dipenuhi sebelum tanam, yakni pupuk dasar. Pupuk yang digunakan sebagai penunjang adalah pupuk daun. Pupuk daun yang digunakan untuk pertumbuhan vegetatif tanaman selada yaitu Gandasil D. Cara pemupukannya adalah dengan melarutkan 20 gram Gandasil D ke dalam 10 liter air, diaduk sampai larut, kemudian disemprotkan merata pada tanaman. Penyemprotan dilakukan di permukaan daun bagian bawah, ditempat mulut daun (stomata) berada. Jika disemprotkan dipermukaan daun bagian atas, maka pupuk tersebut tidak akan atau sulit diserap daun sehingga pemupukan lewat daun tersebut gagal. Penyemprotan dapat dilakukan pagi hari sebelum jam 10.00 dan sore hari sesudah jam 15.00, dan diperkirakan tidak akan turun hujan setelah penyemprotan. Dengan demikian pemberian pupuk secara penyemprotan akan efektif. Gulma mulai tumbuh setelah tanaman selada berumur 3 minggu di bedengan penanaman. Gulma yang tumbuh pada budidaya tanaman selada jenis gulma berdaun lebar yaitu seperti krokot. Krokot merupakan gulma yang sukulen, batang penuh berdaging lunak dan tumbuh tegak atau merata yang tergantung cahaya. Gulma ini termasuk golongan semusim dan berdaun lebar. Penyiangan gulma bertujuan untuk mengurangi persaingan antara tanaman selada dengan tumbuhan gulma dalam mendapatkan air dan unsur-unsur hara, karena selada memiliki perakaran yang dangkal. Selain itu, menekan serangan hama dan penyakit karena gulma dapat menjadi inang bagi hama maupun vektor penyakit. Dengan penyiangan ini tanaman selada memperoleh air dan unsur hara yang cukup untuk memenuhi pertumbuhannya. Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma. Serangan hama dan penyakit senantiasa membawa kerugian, untuk itu penanggulangan hama dan penyakit menjadi bagian yang penting dalam budidaya. Pencegahan hama dan penyakit perlu dilakukam sedini mungkin.
  70. 70. 70 Gejala daun bagian dalam yang terlindung oleh daun bagian luar rusak dan keliatan bekas gigitan. Tidak heran bila dari luar tanaman masih kelihatan baik tetapi setelah diperiksa ternyata bagian dalamnya sudah rusak. Kerusakan ini terjadi sampai titik tumbuh. Penyebab kerusakan tersebut adalah ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell). Ulat titik tumbuh berwarna hijau. Di punggungnya terdapat garis berwarna hijau muda dan bulu berwarna hitam. Bioekologi ulat titik tumbuh yaitu telur, ulat, pupa, ngengat. Ulat dewasa menghasilkan telur yang jumlahnya 30-80 butir tiap kelompok. Telur berukuran 5mm dan biasanya berkumpul berkisar antara 10-300 butir dalam satu daun. Telur berwarna hijau cerah dan mudah berkamuflase pada daun. Telur biasanya diletakkan pada bagian bawah daun. Telur ini akan menetas dalam jangka waktu 1-2 minggu dan setiap hari jumlah telurnya akan bertambah. Ulat berukuran berkisar antara 18-25mm dan memiliki kepala hitam serta warna hijau pada tubuhnya tergantung corak daun yang dimakan. Biasanya ulat berada pada bagian bawah daun karena mereka cenderung menghindari cahaya. Setelah menetas ulat akan memakan daun dari bagian bawah dan akan menyebabkan kerusakan yang parah pada daun sebelum ulat bergerak pada pusat tanaman. Pupa mempunyai panjang berkisar antara 8,5 sampai 10,5mm dan berbentuk bulat dengan berwarna hijau cerah dan coklat gelap, pupa biasanya diselubungi oleh tanah. Kemudian selanjutnya fase ngengat, ngengat jantan umumnya berukuran lebih besar daripada betinanya. Ngengat jantan berukuran 20-25mm dan ngengat betina 8-11mm. Ngengat betina dan jantan mempunyai warna coklat pada bagian sayap. Ngengat jantan pada umumnya mempunyai warna yang lebih cerah. Pada siang hari ngengat akan bersembunyi pada bagian tubuh pohon dan aktif pada malam hari. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu hama ulat diambil kemudian dimusnahkan, Pengendalian Mekanis terutama terhadap larva. Pengendalian ini efektif dilakukan pada malam hari. Jika ditemukan sekumpulan telur yang berada di permukaan daun dan diselimuti seperti benang kelamat, segera dimusnahkan.
  71. 71. 71 Pengendalian secara biologis pada intinya menitik beratkan pada pemanfaatan musuh alaminya. Terdapat beberapa musuh alami ulat titik tumbuh baik dari jenis predator, parasitoid, maupun patogen. Beberapa jenis predator yang bisa dimanfaatkan untuk menekan populasi ulat titik tumbuh antara lain Lycosa pseudoannnulata (Araceae), Paederus fuscipes (Coleoptera), Euburellia stali (Dermaptera), dan Eocantheocona furcellata (Hemiptera). Sementara itu, jenis parasitoid yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan ulat titik tumbuh adalah Apanteles sp. (Hymenoptera), dan Telenomus sp. (Hymenoptera). Sedangkan patogen yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan ulat titik tumbuh adalah SlNPV dan Beauveria bassiana.. Pada budidaya selada dengan luas lahan 1 ha, terdapat 22 bedengan dengan panjang bedengan 10 meter. Sehingga dengan jumlah bedengan dan jarak tanam tersebut terdapat 1760 tanaman selada. Hasil produksi budidaya mencapai ±15ton. Tanaman selada keriting ini dipanen pada umur 60 hari setelah tanam. Tanda bahwa selada siap panen adalah jika daun bagian bawahnya sudah hampir menyentuh tanah. Selain itu bila dimakan rasanya enak, segar dan renyah. Namun, sebenarnya panen dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Jika ukuran selada sudah memenuhi syarat untuk dipasarkan dapat saja panen dilakukan lebih awal dari umur panen biasa atau sebelum daun bagian bawah hampir menyentuh tanah (Haryanto,1995). Selada dipanen dengan dua cara yaitu mencabut beserta akar tanaman dan dipotong dengan pisau di atas permukaan tanah, dengan meninggalkan akar didalam tanah. Setelah dipanen selada dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam kranjang (suprayitna,1996).

    Be the first to comment

    Login to see the comments

  • Riskieseptya

    Oct. 18, 2015
  • putrilukmana

    Nov. 16, 2015

My report body

Views

Total views

2,503

On Slideshare

0

From embeds

0

Number of embeds

16

Actions

Downloads

17

Shares

0

Comments

0

Likes

2

×