Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari – har...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
2
1. Mengetahui dengan jelas pengertian qowaid fiqhiyyah
2. Mengetahui fungsi serta peranan...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Qawaid Fiqhiyyah
Qawaid fiqhiyyah merupakan kata majemuk ...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
4
Secara etimologi kata fiqh lebih dekata kepada makna ilmu sebagaimana
firman Allah dalam ...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
5
B. Fungsi dan Peranan Qawaid Fiqhiyyah
Qawaid fiqhiyyah adalah salah satu cabang dari ilm...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
6
Selain yang tertulis di atas, adapula pendapat beberapa ulama, antara lain:
1. Ibnu Nujam...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
7
tersebut kemudian dari pemecahan yang didapat akan didapatkan
hukumnya.
2. Dengan menggun...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
8
“Kesulitan itu menimbulkan adanya kemudahan”
4. ‫الضرر‬‫يزال‬
“Kemudharatan (bahaya) itu ...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
9
d. QS. An-Nisa’ (4): 114
‫ب‬ ‫اواصالح‬ ‫معروف‬ ‫او‬ ‫بصدقة‬ ‫امر‬ ‫من‬ ‫اال‬ ‫نجونهم‬ ‫من...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
10
berguna untu mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah maha mengetahui
apa yang mereka kerj...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
11
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya”
c. Had...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
12
5. Dasar kaidah kelima “Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum”
a. QS. Al-Baqarah (2): 233...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
13
Contoh Penerapan:
Penerapan kaidah pertama:
1. Jika seseorang menemukan di jalan sesuatu...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
14
tambahan, itulah yang yakin dan yang yakin tidak dapat dihapuskan oleh
keraguan dan pada...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
15
1. Jika seandainya seseorang meminjam uang dengan kadar tertentu,
kemudian uang tersebut...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
16
kebiasaan mereka meskipun tidak dengan akad ijab-qabul. Karena itu apa
yang dipandang ma...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
17
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa qawaid fiqhiy...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
18
“Kemudharatan (bahaya) itu wajib dihilangkan”
5. ‫العادة‬‫محكمه‬
“Adat kebiasaan dapat d...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
19
QAWAID FIQHIYYAH : Pengertian dan Sejarah
Qawaid ialah bahasa Arab kata jama’ dari Qa`id...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
20
IYYAH prinsip-prinsip umum dalam fiqh islami yang merangkumi
hukum-hukum syara’ yang umu...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
21
Masa pertumbuhan dan pembentukan berlangsung selama tiga abad lebih. Dari
zaman kerasula...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
22
C. Zaman Tabi’in dan Tabi’ tabi’in selama 250 tahun.
Di antara ulama yang mengembangkan ...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
23
merdeka maupun tidak, memberi tahu bahwa ia telah hadats (batal), tidur
terlentang, atau...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
24
karyanya ushul al fataya. Dan setelah itu muncul Abi Laits Al Samarqandi (373
H) dengan ...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
25
tokoh ulama tersebut masih mencakup qawaid ushuliyah dan qawaid fiqhiyah,
kecuali kitab ...
PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH
26
II : Qawaid dan Dawabith bedanya trus kenapa qawaid banyak
penyimpangan?
Syifa as : Peng...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pengertian qawaid fiqhiyyah

22,978 views

Published on

qawaid fiqhiyyah merupakan hal yang paling esensial unutk menetukan suatu hukum utamanya di zaman modern ini. dengan menguasainya,maka kita akan tahu mengenai tujuan dalam beragama Islam.

Published in: Spiritual

Pengertian qawaid fiqhiyyah

  1. 1. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari – hari beragam macamnya. Tentunya ini mengharuskan kita agar mencari jalan keluar untuk penyelesaiannya. Maka disusunlah kaidah kaidah secara umum yang diikuti cabang – cabang secara lebih mendetail terkait permasalahan yang sesuai dengan kaidah tersebut. Adanya kaidah ini tentunya sangat membantu dan memudahkan terhadap penyelesaian masalah – masalah yang muncul ditengah – tengah kehidupan ini. Seperti pada pembahasan kali ini terdapat kaidah fiqh (qowaid fiqhiyyah) merupakan kaidah yang bersifat umum dan biasa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang bersifat praktis dalam kehidupan sehari – hari. Kaidah ini menggolongkan masalah – masalah yang serupa menjadi satu kaidah, untuk mempermudah penyimpulan hukum dari suatu masalah. Kaidah fiqh ini tentunya bersumber dari Al – Quran dan sunnah yang merupakan sumber dari terciptanya hukum – hukum Islam. Denga adanya kaidah fiqh (qowaid fiqhiyyah) ini tentunya mempermudah kita dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbuatan (amaliyah) manusia. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari qowaid fiqhiyyah ? 2. Apa saja fungsi dan peranan qowaid fiqhiyyah ? 3. Apa itu qawaid asasiyyah al-khams ? 4. Bagaimana contoh penerapan dari qawaid asasiyyah al-khams ? C. Tujuan Dari perumusan masalah di atas, diharapkan akan dapat dicapai beberapa sasaran sebagai tujuan penulisan makalah ini, yaitu:
  2. 2. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 2 1. Mengetahui dengan jelas pengertian qowaid fiqhiyyah 2. Mengetahui fungsi serta peranan dari qowaid fiqhiyyah bagi kehidupan 3. Mengetahui pengertian qawaid asasiyyah al-khams 4. Mengetahui gambaran dari penerapan qawaid asasiyyah al-khams
  3. 3. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 3 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Qawaid Fiqhiyyah Qawaid fiqhiyyah merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata, yaitu kata qawaid dan fiqhiyyah, masing-masing memiliki pengertian tersendiri. Qawaid merupakan bentuk jamak dari qa’idah yang secara etimologi diartikan dasar-dasar (fondasi) sesuatu, baik yang bersifat konkret, materi, atau inderawi seperti fondasi rumah, maupun yang bersifat abstrak, non-materi dan non- inderawi seperti ushuludin (dasar-dasar agama).1 Kaidah yang berarti dasar-dasar yang bersifat materi telah dijelaskan dalam al-Quran surah al-Baqarah (2) ayat 127 dan surah an-Nahl (16) ayat 26 yang artinya “Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar (fondasi) Baitullah beserta Ismail.” Dan yang artinya “Maka Allah menghancurkan rumah- rumah mereka dari fondasinya.” Itulah arti qawa’id secara bahasa, sedangkan arti kata fiqhiyyah yang berasal dari kata fiqh secara bahasa berarti pengetahuan, pemahaman, mengetahui kebaikan dan keburukan dalam memahaminya, dan memahami maksud pembicara dan perkataannya.2 Sedangkan pengertian fiqh menurut istilah, para ulama ahli fikih mutakhir memberikan arti fikih secara ekslusif, yaitu berkisar pada hukum- hukum yang amaly (praktis) yang diambi dari dalil-dalil yang tafshily (terperinci). 3 Menurut Jamaluddin al Asnawy (w. 722 H), fikih adalah: “Ilmu tentang hukum- hukum syara’ yang bersifat amaly (praktis) yang diperoleh dari dalil-dalilnya yang terperinci.”4 1 Muhammad bin Abi Bakar al-Razi, mukhtar al Shahah, (Mesir Dar al-Nahdah, t.th.), h. 544, al Raghib al Ashfahani,al Mufradat fi Gharib al Quran ,(Mesir Mushthafa al Babi al Halabi, 1961), h. 409, Majma al Lughah al’Arabiyah, al Mu’jam al Wajiz, (t.t: Wuzarah al Tarbiyah wa al Ta’lim, t.th.), h. 509. 2 Ibnu Manzhur, Lisan al ‘Arab, t.t: Dar al Ma’arif, t.th.), jilid IV, h. 3450. Lihat pula: Ali Muhammad al Jurjani , al T’rifat, (Mesir Musthafa al Babi al Halabi wa Auladuhu, 1938), h. 147. 3 Muhammad Abu Zahrah,Ushul Fiqh, (t.t: Dar al Fikr al Araby,t.th.), h. 6. 4 Al-Asnawy, Nihayah al-Shul fi Sharh Minhaj al Wushul fi Ilmi al Ushul,(Mesir Mathbahah Muhammad Ali Shabih wa Auladih,t.th.), h. 19
  4. 4. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 4 Secara etimologi kata fiqh lebih dekata kepada makna ilmu sebagaimana firman Allah dalam surah at-Taubah (9) ayat 122 yang artinya “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” Juga telah tertulis dalam hadis nabi yang artinya “Siapa yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, akan diberikannya pemahaman dalam agama.”5 (HR. Muslim dari Muawiyyah). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa qawaid fiqhiyyah menurut etimologi (bahasa) berarti dasar-dasar atau fondasi ilmu atau pemahaman. Pengertian qawaid fiqhiyyah menurut istilah dalam hukum Islam menurut al-Taftazany (w. 791 H) adalah “Bahwasannya qawaid fiqhiyyah adalah suatu hukum yang bersifat universal (kully) yang dapat diaplikasikan kepada seluruh juz’inya (bagiannya) agar dapat diidentifikasi hukum-hukum juz’i (bagian) tersebut darinya”. Definisi yang dikemukakan oleh al-Taftzany ini sama dengan definisi yang dikemukakan oleh ulama lainnya, seperti al-Jurjany (w. 816 H), dan al Kafawy al Hanafi (w. 1094 H).6 Adapun menurut sebagian ulama lainnya, mendefinisikan qawaid fiqhiyyah sebagai sesuatu yang bersifat universal (kulliyat), dan adapula yang mengartikannya sebagai sesuatu yang bersifat mayoritas (aghlabiyyah atau aktsariyyah). Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas, mayoritas ulama memandang bahwa qawaid fiqhiyyah adalah aturan-aturan yang menampung perbuatan-perbuatan mukallaf. Qawaid fiqhiyyah merupakan aturan-aturan yang berkaitan langsung dengan perbuatan para mukallaf, artinya bahwa yang menjadi ruang lingkup qawaid fiqhiyyah adalah perbuatan mukallaf.7 Dan, dapat dipahami juga bahwa qawaid fiqhiyyah adalah aturan-aturan dasar tentang perbuatan- perbuatan mukallaf yang dapat menampung hukum-hukum syarak.8 5 Muslim,Shahih Muslim,Hadis No.1037, BAB al Nahyi An Mas’alah,Jilid IV,h. 108 6 Al Taftazany, al Talwih ‘Ala al Taudhih,(Mesir:Mathba’ahSyan al Huriyyah,t.th.), Jilid I,h. 20 7 Ade Dedi Rohayana,Ilmu Qawaid Fiqhiyyah,(Jakarta:Gaya Media Pratama),h.12. 8 Ibid
  5. 5. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 5 B. Fungsi dan Peranan Qawaid Fiqhiyyah Qawaid fiqhiyyah adalah salah satu cabang dari ilmu syariah, oleh karenanya qawaid fiqhiyyah ini menjadi ilmu yang penting untuk kita perhatikan. Namun terkadang kebanyakan orang tidak memerhatikan atau tidak mempelajari sama sekali cabang ilmu syariah ini. Salah satu penyebabnya mungkin karena keterbelakangan pemahaman (fikih). Sebab seseorang tidak paham akan pentingnya, manfaatnya, peranannya, dan pengaruhnya, ia menjadi acuh tak acuh terhadap sesuatu yang sebenarnya penting. Berikut kami rangkum keistimewaan qawaid fiqhiyyah: 1. Memelihara dan menghimpun berbagai masalah pokok yang sama, juga sebagai barometer dalam mengindentifikasi berbagai hukum yang masuk dalam ruang lingkupnya. 2. Dapat menunjukan bahwa hukum-hukum yang sama illatnya meskipun berbeda-beda merupakan satu jenis ‘illat dan maslahat. 3. Sebagian besar masalah ushul fiqh tidak mengkaji hikmah tasyri’ dan maksudnya, tetapi mengkaji bagaimana mengeluarkan hukum dari lafaz- lafaz syar’i dengan menggunakan kaidah yang mungkin dapat mengeluarkan furu’ dari lafaz-lafaz syar’i tersebut. Sebaliknya, qawaid fiqhiyyah mengkaji maksud-maksud syara’ secara umum maupun khusus, juga sebagai parameter dalam mengidentifikasi rahasia-rahasia hukum dan hikmah-hikmahnya.9 Adapun fungsi dan peranan qawaid fiqhiyyah ialah sebagai berikut: 1. Untuk memelihara dan menghimpun berbagai masalah yang sama, juga sebagai barometer dalam mengidentifikasi berbagai hukum yang masuk dalam ruang lingkupnya. 2. Untuk menunjukan bahwa hukum-hukum yang sama illatnya meskipun berbeda-beda merupakan satu jenis illat dan maslahat. 3. Untuk memudahkan dalam mengetahui hukum perbuatan seorang mukallaf. 9 Al-Nadawy, al-Qawaid al-Fiqhiyyah,h.70, Ade Dedi Rohayana,Ilmu qawaid Fiqhiyyah,h.33
  6. 6. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 6 Selain yang tertulis di atas, adapula pendapat beberapa ulama, antara lain: 1. Ibnu Nujam berpendapat bahwa sebenarnya qawaid fiqhiyyah merupakan ushul fiqh, tetapi kemudian derajatnya meningkat kepada derajat ijtihad meskipun dalam berfatwa. 2. Imam al-Sarakhsy berpendapat bahwa siapa saja yang menghukumi suatu masalah cabang dengan asal, dan ia benar-benar memahaminya, maka akan mudah baginya untuk mengambil kesimpulan.10 3. Imam al-Qarafi (w. 684 H) berpendapat bahwa kaidah ini sangat penting bagi fikih dan besar sekali manfaatnya. Orang yang benar-benar mempelajarinya akan menjadi fakih dan mendapat kemuliaan, serta akan mendapatkan rahasia-rahasia fikih. Ilmu ini juga akan memberi kemudahan dalam berfatwa siapa yang memutuskan suatu cabang permasalahan dan hanya berpegang pada juzz’iyat, serta tidak memerhatikan kulliyat, dapat dipastikan cabang tersebut akan bertentangan dengan cabang-cabang yang lain. Hal ini akan menimbulkan kebingungan dan menyulitkan dirinya. Siapa yang berhujjah dengan hanya menghapal juzz’iyat saja, maka hujjahnya itu tidak akan ada batasnya, serta akan menghabiskan umurnya tanpa dapat mencapai cita-citanya. Sebaliknya siapa yang memperdalam fikih menggunakan kaidah-kaidah fikih tidak harus menghafalkan berbagai macam cabang fikih, karena telah tercakup oleh kulliyah. Di samping itu iapun dapat menyelesaikan berbagai macam perpecahan dan pertentangan. Dengan demikian ia dapat menjawab berbagai macam permasalahan yang rumit dalam waktu singkat, sehingga dadanya menjadi lapang karena dapat menemukan pemecahan berbagai pemecahan masalah yang diinginkannya.11 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi dan peranan qawaid fiqhiyyah adalah sebagai berikut: 1. Bagi orang yang mendalami qawaid fiqhiyyah, maka ia akan dapat menemukan pemecahan masalah degan menganalisa permasalahan 10Ibnu Nujaim, al-Asybah wa al-Nazhair,h.10 11 Al-Qarafi,al-Furuq,h.2,3.
  7. 7. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 7 tersebut kemudian dari pemecahan yang didapat akan didapatkan hukumnya. 2. Dengan menggunakan qawaid fiqhiyyah sebagai pijakan dan/atau legitimasi dari penetapan hukum maka proses penetapan hukum dapat dilakukan dengan mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. 3. Membantu memecahkan permasalahan yang ada di zaman yang modern ini. Perkembangan teknologi yang tidak dapat terbendung sehingga lahirlah berbagai permasalahan yang kompeks. Dengan penggunaan qawaid fiqhiyyah pada permasalahan yang kompleks di era modern ini, penyelesaian permasalahannya akan dirumuskan dengan mudah. Contoh permasalah di era sekarang ialah persoalan transaksi keuangan syariah kontemporer, misalnya tentang hukum giro di bank. C. Qawaid Fiqhiyyah al-Kubra (Qawaid Fiqhiyyah Assasiyyah) Pada dasarnya kaidah-kaidah yang dibentuk para ulama berpangkal dan menginduk kepada lima kaidah pokok (qawaid asasiyyah al-khams). Kelima kaidah pokok (asasiyyah) ini yang melahirkan bermacam-macam kaidah yang bersifat cabang (non asasiyyah). Sebagian ulama menyebut kelima kaidah asasiyyah ini dengan istilah al-qawaidu al-khams (kaidah-kaidah yang lima) dan adapula menamakannya dengan al qawaidu al-kubra. Tetapi Ibnu Nujaim menambah satu kaidah dan menyebutnya dengan istilah al qawaidu al asasiyyah (kaidah-kaidah pokok).12 Adapun kaidah-kaidah pokok tersebut ialah:13 1. ‫بما‬ ‫االمور‬‫قاصدها‬ “Segala urusan tergantung pada tujuannya” 2. ‫بالشك‬ ‫اليزالو‬ ‫اليقين‬ “Keyakinan atau yang yakin tidak dapat dihapuskan dengan keraguan” 3. ‫التيسر‬ ‫تجلب‬ ‫المشقة‬ 12 Al-Suyuthy Al-Asybah wa al-Nazha’ir fi al-Furu’,h.7- Ibnu Nujaimal-Asybah wa al-Nazhair,h. 115. 13 Al-Suyuthy Al-Asybah wa al-Nazha’ir fi al-Furu’,h.7, 38, 56,60, 64.
  8. 8. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 8 “Kesulitan itu menimbulkan adanya kemudahan” 4. ‫الضرر‬‫يزال‬ “Kemudharatan (bahaya) itu wajib dihilangkan” 5. ‫العادة‬‫محكمه‬ “Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum” Dasar Kaidah dari Ayat al-Quran dan Hadis 1. Dasar kaidah yang pertama “segala urusan tergantung pada tujuannya” a. QS. Al-Bayyinah (98): 5 ‫اال‬ ‫امرو‬ ‫وما‬"....‫حنفاء‬ ‫الين‬ ‫له‬ ‫مخلصين‬ ‫هللا‬ ‫ليعبدوا‬ ” Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus….” b. QS. an-Nisa’ (4): 100 ‫بيت‬ ‫من‬ ‫ىخرج‬ ‫ومن‬‫اللهورسوله‬ ‫الي‬ ‫مهاجرا‬ ‫ه‬‫وقع‬ ‫فقد‬ ‫يدركهالموت‬ ‫ثم‬ ‫هللا‬ ‫وكان‬ ‫هللا‬ ‫اجرهوعلئ‬‫غفورارحيما‬ Artinya: “…Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan rasulnya, kemudian kematian menimpaNya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” c. QS. Al-Baqarah (2): 225 ‫قلو‬ ‫كسبت‬ ‫بما‬ ‫يؤاخذكم‬ ‫ولكن‬ ‫ايمنكم‬ ‫فئ‬ ‫باللغو‬ ‫هللا‬ ‫يؤاخذكم‬ ‫ال‬‫وهللا‬ ‫بكم‬ ‫حليم‬ ‫غفور‬ Artinya: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja untuk bersumpah oleh hatimu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyantun.”
  9. 9. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 9 d. QS. An-Nisa’ (4): 114 ‫ب‬ ‫اواصالح‬ ‫معروف‬ ‫او‬ ‫بصدقة‬ ‫امر‬ ‫من‬ ‫اال‬ ‫نجونهم‬ ‫من‬ ‫كثير‬ ‫فئ‬ ‫خير‬ ‫ال‬‫ين‬ ‫الن‬‫ا‬‫ومن‬ ‫س‬‫ذالك‬ ‫يفعل‬‫م‬ ‫ابتغاء‬‫عظيم‬ ‫اجرا‬ ‫ياته‬ ‫فسوف‬ ‫هللا‬ ‫رضات‬ Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamain di antara manusia. Barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar.” e. Hadis riwayat Muslim dari Umar bin Khatab, Rasulullah bersabda: ‫هللا‬ ‫الئ‬ ‫هجرته‬ ‫كانت‬ ‫فمن‬ ‫نوئ‬ ‫ما‬ ‫ارئ‬ ‫لكل‬ ‫وانم‬ ‫بالنيات‬ ‫االعمال‬ ‫انما‬‫و‬ ‫ا‬ ‫يصيبها‬ ‫هجرتهلدنيا‬ ‫كانت‬ ‫ومن‬ ‫ورسوله‬ ‫هللا‬ ‫الئ‬ ‫فهجرته‬ ‫رسوله‬‫و‬‫امراه‬ ‫اليه‬ ‫هاجر‬ ‫ما‬ ‫الي‬ ‫فهجرته‬ ‫ينكحها‬ Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung kepada niatnya. Setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Siapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya tersebut kepada Allah dan RasulNya. Siapa yang berhijrah karena ingin memperleh harta dunia atu keran perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu karena hal tersebut.” 2. Dasar kaidah yang kedua “Keyakinan (yang yakin) tidak dapat dihapuskan oleh keraguan” a. QS. Yunus (90): 36 ‫وما‬‫يتبع‬‫عل‬ ‫هللا‬ ‫ان‬ ‫شيءا‬ ‫الحق‬ ‫من‬ ‫اليغنئ‬ ‫انالظن‬ ‫الظنا‬ ‫اال‬ ‫اكثرهم‬‫بما‬ ‫يم‬ ‫تفعلون‬ Artinya: “Dan kebanyakan dari mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaaan itu tidak sedikitpun yang
  10. 10. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 10 berguna untu mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” b. Hadis riwayat Muslim dari Abi Hurairah, Rasullulah bersabda: ‫يسم‬ ‫حتئ‬ ‫المسجد‬ ‫من‬ ‫يخرجن‬ ‫فال‬ ‫ال‬ ‫ام‬ ‫شيءا‬ ‫بطنه‬ ‫فئ‬ ‫احدكم‬ ‫وجد‬ ‫اذا‬‫ع‬ ‫ريحا‬ ‫يجد‬ ‫او‬ ‫صوتا‬ Artinya: “Apabila eseorang dari kamu mendapatkan sesuatu di dalam perutnya, kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum, maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapatkan bau (memperoleh bukti tentang telah batalnya wudhu’).” c. Hadis riwayat Muslim dari Abi Sa’id al-Khidriy ‫فليطر‬ ‫اربعا‬ ‫ام‬ ‫اثالثا‬ ‫صلئ‬ ‫يدركم‬ ‫فلم‬ ‫صالته‬ ‫في‬ ‫احدكم‬ ‫شك‬ ‫اذا‬‫الشك‬ ‫ح‬ ‫ماستيقن‬ ‫علئ‬ ‫واليبن‬ Artinya: “Apabila seseorang dari kamu ragu-ragu di dalam shalatnya, tidak tahu sudah berapa rakaaat yang telah ia kerjakan tiga rakaatkah atau empat rakaa, maka buangkan keraguan-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakinkan.” 3. Dasar kaidah yang ketiga “Kesulitan itu menimbulkan adanya kemudahan” a. QS. Al-Baqarah (2): 185 ..‫العسر‬ ‫بكم‬ ‫يريد‬ ‫وا‬ ‫اليسر‬ ‫بكم‬ ‫هللا‬ ‫يريد‬ Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” b. QS. Al-Baqarah (2): 286 ...‫وسعها‬ ‫ال‬ ‫نفسا‬ ‫هللا‬ ‫يكلف‬ ‫ال‬
  11. 11. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 11 Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” c. Hadis riwayat an-Nasai dari Abi Hurairah ‫اليسر‬ ‫الدين‬ Artnya: “Agama itu mudah” d. Hadis riwayat Ahmad dari Anas bin Malik ...‫والتنفروا‬ ‫وبشروا‬ ‫تعسروا‬ ‫والا‬ ‫يسيروا‬ Artinya: “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan menakuti” 4. Dasar kaidah yang keempat “Kemadharatan (bahaya) itu wajib dihilangkan” a. QS.Al-A’raf (7): 56 ‫و‬‫اصالحها‬ ‫بعد‬ ‫االرض‬ ‫فى‬ ‫تفسدون‬ ‫ال‬ Artinya: “Dan janganlah kam membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” b. QS. Al-Baqarah (2): 60 ‫المفسدين‬ ‫يحب‬ ‫ال‬ ‫هللا‬ ‫ان‬ ‫االرض‬ ‫فى‬ ‫الفساد‬ ‫تبغ‬ ‫وال‬ Artinya: “dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” c. Hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ‫ضرار‬ ‫وال‬ ‫ضرار‬ ‫ال‬ Artinya: “Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh (pula) saling membahayakan (merugikan).”
  12. 12. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 12 5. Dasar kaidah kelima “Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum” a. QS. Al-Baqarah (2): 233 ‫تس‬ ‫ان‬ ‫اردتم‬ ‫وان‬‫سل‬ ‫اذا‬ ‫عليكم‬ ‫جناح‬ ‫فال‬ ‫اوالدكم‬ ‫ضعوا‬ ‫تر‬‫م‬‫ءاتي‬ ‫تم‬‫با‬ ‫تم‬ ‫بصير‬ ‫تعملون‬ ‫بما‬ ‫هللا‬ ‫ان‬ ‫واعلموا‬ ‫هللا‬ ‫والتقوا‬ ‫المعرف‬ Artinya: “Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran kepada yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa llah maha melihat apa yang kamu kerjakan.” b. QS. An-Nisa (4): 19 ...‫المعوف‬ ‫با‬ ‫وعاشروهن‬ Artinya: “Dan gaulilah dengan mereka secara patut…” c. QS. Al-Maidah (5): 89 ‫اال‬ ‫عقدتم‬ ‫بما‬ ‫يئخذكم‬ ‫والكن‬ ‫ايمانكم‬ ‫فى‬ ‫اللغو‬ ‫بل‬ ‫هللا‬ ‫يئخذكم‬ ‫ال‬‫فكفرته‬ ‫يمان‬ ‫تحرير‬ ‫او‬ ‫كسوهم‬ ‫او‬ ‫اهليكم‬ ‫تطعمون‬ ‫ما‬ ‫اوسط‬ ‫من‬ ‫مساكين‬ ‫عشرة‬ ‫اطعام‬‫و‬ ....‫رقبه‬ Artinya: “Alah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak bermaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah meberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.” d. Hadis riwayat Bukhary dan Muslim dari Aisyah ra, Rasululah bersabda kepada Hindun. ‫يكف‬ ‫ما‬ ‫خذي‬‫ي‬‫ك‬‫المعروف‬ ‫با‬ ‫ولدك‬ ‫و‬ Artinya: “Ambilah secukupnya untuk kamu dan anamu dengan cara yang makruf.”
  13. 13. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 13 Contoh Penerapan: Penerapan kaidah pertama: 1. Jika seseorang menemukan di jalan sesuatu harta yang berharga lalu ia mengambilnya dengan niat/tujuan mengembalikannya kepada pemiliknya maka hal ini dianggap sebagai amanah di tangannya, karena itu ia tidak menggantinya jika barang itu rusak tanpa sengaja dan bukan Karena kelalaian dalam menjaganya. Tetapi jika ia mengambilnya dengan niat atau tujuan untuk memilikinya, maka ia dihukumkan sama dengan ghasib (orang yang merampas harta orang). Jika barang itu rusak maka ia harus menggantinya secara mutlak. 2. Jika seseorang membeli anggur dengan niat atau tujuan memakannya atau menjualnya hukumnya boleh, tetapi jika ia membelinya dengan niat atau tujuan menjadikannya khamr, atau menjualnya kepada orng yang akan menjadikannya khamr, maka hukumnya haram atau tidak diperbolehkan. Demikian pula jika ia menjual senjata kepada orang yang berjuang dijalan Allah, maka hukumnya boleh. Namun jika ia menjualnya kepada orang yang menyebarkan fitnah, atau membunuh seseorang dengan senjata itu, maka hukumnya tidak boleh atau haram.14 Contoh penerapan kaidah fikih yang kedua: 1. Seandainya dua orang melakukan transaksi jual beli, lalu setelah itu salah seorang mensyaratkan sendiri khiyar dalam akad, ia hendak menfasakh/membatalkan jual beli itu dengan mengembalikan barang, sementara seorang yang lainnya mngingkari atau menyanggah adanya syarat itu , maka perkataan yang diambil/dipercaya adalah perkataan orang yang menyanggah itu disertai sumpahnya sehingga ada bukti yang menetapkan khiyar orang yang mendakwakannya. Demikian itu karena syarat tersebut suatu hal yang terjadi belakangan. Pada dasarnya dalam akad adalah kosong/bebas dari syarat-syarat tambahan, maka tidak adanya syarat 14 ‘Athiyah ‘Adlan, Mausu’ah al Qawaid al Fiqhiyyah,h.37
  14. 14. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 14 tambahan, itulah yang yakin dan yang yakin tidak dapat dihapuskan oleh keraguan dan pada dasarnya (hukum asal) tidak ada tambahan syarat. Maka yang dipegang adalah ketentuan asal, sehingga adaketetapan yang sebaliknya, yaitu dengan adanya bukti dari pendakwa, atau penolakan/penyanggahan yang lainnya disertai sumpahnya. 2. Jika seseorang membeli sesuatu, kemudian ia mengatakan, bahwa sesuatu yang dibelinya itu cacat dan ia ingin mengembalikannya, lalu penjual menolak ucapan pembeli yang mengatakan adanya cacat itu, maka si pembeli tidak boleh mengembalikannya, karena pada asalnya barang itu yakin utuh (tidak cacat). Cacat tidak boleh ditetapkan dengan adanya keraguan, sebab yang yakin tidak boleh dihapuskan oleh keraguan.15 Contoh penerapan kaidah fikih yang ketiga: 1. Dibolehkan membatalkan sewa menyewa (‫,)الءجرة‬ karena uzur safar dan dibolehkan mudharib (orang yang diberi modal untuk berdagang dengan perjanjian bagi hasil) membiayai dirinya dalam safar (bepergian) dari harta mudharabah (yang didagangkan dengan system bagi hasil). 2. Dibolehkan menurut kesepakatan ulama menjual barang yang dalam tanah jika sebagianya dapat dilhat sebagai sampel dari yang belum kelihatan karena susah melihatkeseluruhannya, sama halnya dengan menjual barang- baranag yang tidak bergerak. 3. Demikian pula halnya apa yang dapat membawakan kepada kesulitan untuk mengetahui seluruhnya, dibolehkan hanya melihat apa yang mungkin dapat diliha, seperti menjual apa yang dalam kaleng/botol, apa yang dimakan ada didalamnya dan lain-lain. Maka pendapat yang benar adalah dibolehkan jual-beli seperti ini disertai adanya “gharar yasir” (ketidak jelasan yang ringan/sedikit), karena jual-beli sepertinya ini, membawa maslahat bagi manusia.16 Contoh penerapan kaidah fikih yang keempat 15 ‘Athiyah ‘Adlan, Mausu’ah al Qawaid al Fiqhiyyah,h.45 16 Ali Ahmad al Nadawy, Mausu’ah al qawa’id wa al dhawabith al fiqhiyyah,Jilid 1 h. 132
  15. 15. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 15 1. Jika seandainya seseorang meminjam uang dengan kadar tertentu, kemudian uang tersebut tidak berlaku lagi karena penggantian uang, atau yang lainya, maka menurut dua sahabat Abu Hanifah (w. 150 H), yaitu Abu Yusuf (w. 182 H)dan Muhmmad bin Hasan al Syaibany (w. 189 H), orang tersebut wajib mengembalikannya sesuai dengan harga uang tersebut. Tetapi mereka berbeda pendapat apakah harga tersebut ditentukan pada hari terakhir lakunya uang tersebut, atau pada waktu peminjaman uang tersebut. Menurut Abu Yusuf, harga tersebut ditentukan pada hari terakhir berlakunya uang pinjaman tersebut. Sedangkan menurut Muhammad bin Hasan al Syaibany, nilai uang pinjaman tersebut ditentukan sesuai dengan niali uang pada waktu mengambil uang pinjaman.17 Perbedaan pendapat ini semuanya bertujuan untuk menghilangkan mudharat sesuai dengan kaidah “‫.”الضرريزال‬ Jika seandainya seseorang berhutang makanan, kemudian orang yang menghutangkan makanan tersebut menagih hutang di Makkah misalnya, sedangkan harga makanan yang dihutangkan itu mahal, atau murah disana. Menurut Abu Yusuf, orang yang berhutang itu hanya wajib membayar sesuai dengan nilai uang waktu berhutang dari orang yang menghutangkan di negaranya. Hal ini untuk menghilangkan mudharat bagi yang menghutangkan dana yang berhutang.18 Hakim berhak mencegah orang yang berhutang untuk safar (bepergian) atas permintaan yang punya piutang sehingga ia menunjuk seorang wakil yang mewakilinya dan ia tidak boleh memberhentikan wakilnya selama ia dalam bepergian (‫,)مسافرا‬ untuk menghilangkan mudharat (bahawa) bagi yang punya piutang.19 Contoh penerapan kaidah fikih yang kelima 1. Jual-beli dianggap sah dengan setiap lafadz yang biasa berlaku dikalangan manusia, atau yang telah mereka ketahui dan sudah menjadi adat 17 Ahmad Muhammad al Zarqa’, Syarh al Qawa’id al fiqhiyyah, h. 179 18 Ahmad Muhammad al Zarqa’, Syarh al Qawai al Fiqhiyyah, h. 180 19 Athiyah ‘Adhlan, Mausu’ah al Qawaid al Fiqhiyyah, h. 50
  16. 16. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 16 kebiasaan mereka meskipun tidak dengan akad ijab-qabul. Karena itu apa yang dipandang manusia sebagai jual-beli, atau sewa menyewa, atau hibah, maka itu dianggap sebagai jual-beli, atau atau senya menyewa, atau hibah, karena nama-nama ini tidak ada batasanya dalam bahasa dan syara’. Oleh sebab itu, setiap nama yang tidak ada batasanya dalam bahasa dan syara’, maka dikembalikan batasanya kepada adat dan kebiasaan. 2. Cacat pada barang yang dibeli, adalah disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku dikalangan manusia (masyarakat). Maka apa yang dipandang masyarakat sebagai cacat, itu adalah cacat yang karenanya barang itu dikembalikan, tetapi jika itu tidak dipandang oleh masyarakat sebagai cacat, maka barang yang dibeli tidak dapat dikembalikan.20 3. Bank berhak dalam akad murabaha menambahkan ongkos-ongkos yang telah dikenal dan telah biassa dilakukan oleh para pedagang penambahannya pada harga, seperti biaya penyimpanan (gudang), memelihara/menjaga, mengangkut dan lain lain.21 20 Athiyah ‘Adhlan Mausu’ah al qawaid al fiqhiyyah, h. 66 21 Ali Ahmad al Nadawy, Mausu’ah al Qawaid al Fiqhiyyah wa al Dhawabith al Fiqhiyyah, h. 214
  17. 17. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 17 BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa qawaid fiqhiyyah menurut etimologi (bahasa) berarti dasar-dasar atau fondasi ilmu atau pemahaman. Pengertian qawaid fiqhiyyah menurut istilah dalam hukum Islam menurut al-Taftazany (w. 791 H) adalah “Bahwasannya qawaid fiqhiyyah adalah suatu hukum yang bersifat universal (kully) yang dapat diaplikasikan kepada seluruh juz’inya (bagiannya) agar dapat diidentifikasi hukum-hukum juz’i (bagian) tersebut darinya”. Definisi yang dikemukakan oleh al-Taftzany ini sama dengan definisi yang dikemukakan oleh ulama lainnya, seperti al-Jurjany (w. 816 H), dan al Kafawy al Hanafi (w. 1094 H). Adapun fungsi dan peranan qawaid fiqhiyyah ialah sebagai berikut: 1. Untuk memelihara dan menghimpun berbagai masalah yang sama, juga sebagai barometer dalam mengidentifikasi berbagai hukum yang masuk dalam ruang lingkupnya. 2. Untuk menunjukan bahwa hukum-hukum yang sama illatnya meskipun berbeda-beda merupakan satu jenis illat dan maslahat. 3. Untuk memudahkan dalam mengetahui hukum perbuatan seorang mukallaf. Adapun kaidah-kaidah pokok tersebut ialah: 1. ‫قاصدها‬ ‫بما‬ ‫االمور‬ “Segala urusan tergantung pada tujuannya” 2. ‫بالشك‬ ‫اليزالو‬ ‫اليقين‬ “Keyakinan atau yang yakin tidak dapat dihapuskan dengan keraguan” 3. ‫التيسر‬ ‫تجلب‬ ‫المشقة‬ “Kesulitan itu menimbulkan adanya kemudahan” 4. ‫الضرر‬‫يزال‬
  18. 18. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 18 “Kemudharatan (bahaya) itu wajib dihilangkan” 5. ‫العادة‬‫محكمه‬ “Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum” Bahwasanya kaidah-kaidah pokok tersebut berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al- Hadits.
  19. 19. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 19 QAWAID FIQHIYYAH : Pengertian dan Sejarah Qawaid ialah bahasa Arab kata jama’ dari Qa`idah yang memberi erti asas rumah dan sebagainya sepertimana firman Allah S.W.T.; َ‫ت‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ َ‫ك‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ‫ا‬َّ‫ن‬ِ‫م‬ ْ‫ل‬َّ‫ب‬َ‫ق‬َ‫ت‬ ‫ا‬َ‫ن‬َّ‫ب‬َ‫ر‬ ُ‫ل‬‫ي‬ِ‫ع‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫س‬ِ‫إ‬َ‫و‬ ِ‫ت‬ْ‫ي‬َ‫ب‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫د‬ِ‫ع‬‫ا‬َ‫و‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫م‬‫ي‬ِ‫ه‬‫ا‬َ‫ر‬ْ‫ب‬ِ‫إ‬ ُ‫ع‬َ‫ف‬ ْ‫ر‬َ‫ي‬ ْ‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫و‬ ( ُ‫م‬‫ي‬ِ‫ل‬َ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ع‬‫ي‬ِ‫م‬َّ‫س‬‫ال‬127) Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim bersama- sama Nabi Ismail meninggikan binaan asas-asas (tapak) Baitullah (Ka`abah) itu.” (Al-Baqarah : 127) Qaidah menurut para fuqaha’ ialah : Hukum kulliy yang dipraktik ke atas keseluruhan masalah juziyyah (detail). Hukum yang terpakai ke atas kebanyakan masalah-masalah juziyyah (detail). QAWAID FIQH
  20. 20. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 20 IYYAH prinsip-prinsip umum dalam fiqh islami yang merangkumi hukum-hukum syara’ yang umum,selaras dengan masalah- masalah yang telah berlaku dan baru muncul yang termasuk di bawah tajuk prinsip berkenaan. ‫ى‬َ‫س‬‫و‬ُ‫م‬ ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬‫إ‬ ِ‫ب‬‫ا‬َّ‫ط‬َ‫خ‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ن‬ْ‫ب‬ ُ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ َ‫ب‬َ‫ت‬َ‫ك‬ : َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ِ‫ي‬ِ‫ل‬َ‫ذ‬ُ‫ه‬ْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫يح‬ِ‫ل‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫أ‬ ْ‫َن‬‫ع‬ ِ‫ر‬َ‫ف‬ َ‫ء‬‫َا‬‫ض‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ : ُ‫د‬ْ‫ع‬َ‫ب‬ ‫ا‬َّ‫م‬َ‫أ‬ : ِ‫ي‬ ِ‫ر‬َ‫ع‬ْ‫ش‬َ ْ‫اْل‬‫ا‬َ‫ذ‬‫إ‬ ْ‫م‬َ‫ه‬ْ‫اف‬َ‫ف‬ ٌ‫ة‬َ‫ع‬َ‫ب‬َّ‫ت‬ُ‫م‬ ٌ‫ة‬َّ‫ن‬ُ‫س‬َ‫و‬ ٌ‫ة‬َ‫م‬َ‫ك‬ْ‫ح‬ُ‫م‬ ٌ‫َة‬‫ض‬‫ي‬ ، ُ‫ه‬َ‫ت‬ْ‫ي‬َ‫ض‬َ‫ق‬ ٌ‫ء‬‫َا‬‫ض‬َ‫ق‬ َ‫ك‬ُ‫ع‬َ‫ن‬ْ‫م‬َ‫ي‬ َ‫َل‬ ، ُ‫ه‬َ‫ل‬ َ‫ذ‬‫ا‬َ‫ف‬َ‫ن‬ َ‫َل‬ ٍّ‫ق‬َ‫ح‬ِ‫ب‬ ٌ‫م‬ُّ‫ل‬َ‫ك‬َ‫ت‬ ُ‫ع‬َ‫ف‬ْ‫ن‬َ‫ي‬ َ‫َل‬ ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ َ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫إ‬ َ‫ي‬ِ‫ل‬ْ‫د‬ُ‫أ‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ، َّ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ع‬ ِ‫اج‬َ‫ر‬ُ‫ت‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ، َ‫ِك‬‫د‬ْ‫ش‬ُ‫ر‬ِ‫ل‬ ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫يت‬ِ‫د‬ُ‫ه‬َ‫و‬ ، َ‫ك‬َ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ت‬ْ‫ع‬َ‫ج‬‫ا‬َ‫ر‬َّ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫م‬ْ‫ه‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫م‬ْ‫ه‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬ ، ِ‫ل‬ِ‫اط‬َ‫ب‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ‫ِي‬‫د‬‫ا‬َ‫م‬َّ‫ت‬‫ال‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ٌ‫ر‬ْ‫ي‬َ‫خ‬ ِ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ة‬َ‫ع‬َ‫ج‬‫ا‬َ‫ر‬ُ‫م‬َ‫و‬ ، ٌ‫م‬‫ي‬ِ‫د‬َ‫ق‬ َ‫ل‬‫ا‬َ‫ث‬ْ‫م‬َ ْ‫اْل‬ ْ‫ف‬ ِ‫ر‬ْ‫ع‬‫ا‬ ، ِ‫ة‬َّ‫ن‬ُّ‫س‬‫ال‬َ‫و‬ ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ت‬ِ‫ك‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ك‬ْ‫غ‬ُ‫ل‬ْ‫ب‬َ‫ي‬ ْ‫م‬َ‫ل‬ ‫ا‬َّ‫م‬ِ‫م‬ ، َ‫ك‬ ِ‫ر‬ْ‫د‬َ‫ص‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ُ‫ج‬ِ‫ل‬َ‫ت‬ْ‫خ‬َ‫ي‬ َ‫َك‬‫د‬ْ‫ن‬ِ‫ع‬ َ‫ور‬ُ‫م‬ُ ْ‫اْل‬ ْ‫س‬ِ‫ق‬ َّ‫م‬ُ‫ث‬ َ‫ه‬‫ا‬َ‫ب‬ْ‫ش‬َ ْ‫اْل‬َ‫و‬‫ا‬َ‫ه‬ِ‫ه‬َ‫ب‬ْ‫ش‬َ‫أ‬َ‫و‬ ِ َّ‫اَّلل‬ ‫ى‬َ‫ل‬‫إ‬ ‫ا‬َ‫ه‬ِ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬ ‫ى‬َ‫ل‬‫إ‬ ْ‫د‬ِ‫م‬ْ‫ع‬‫ا‬َ‫ف‬ ، . " ‫ى‬َ‫ر‬َ‫ت‬ ‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ ، ِ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ِ‫ب‬ Dari Abu Malih al-Huzalli berkata ; Umar al-Khattab telah menulis kepada Abu Musa al-As'ari fahamilah benar-benar masalah yang engkau hadapi yang mana hukum-hukumnya engkau tidak temui di dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Ketahuilah persamaan dan sebanding serta menujulah ke arah yang lebih disukai oleh Allah SWT dan lebih hampir kepada yang benar. Qaidah-Qaidah itu suatu gambaran yang menarik terhadap prinsip-prinsip fiqh yang umum,membuka ufuk- ufuk dan landasan prinsip itu dari segi teorinya.seterusnya ia memantapkan hukum-hukum furu‟ yang amali• Kalau tidak wujud qawaid ini maka hukum-hukum fiqh akan merupakan hukum- hukum furu yang terpisah-pisah dan kadang kala pada zahirnya boleh menimbulkan pertentangan antara satu sama lain tanpa dasar-dasar yang dipegang dalam pemikiran yang menerangkan alasan - alasan konkrit yang menentukan arah perundangan dan menyediakan cara-cara mengukur dan membandingkannya. Menurut Ali Ahmad al-Nadawi, perkembangan qawaid fiqhiyah dapat dibagi kepada tiga fasa berikut: Fasa Pertumbuhan dan Pembentukan
  21. 21. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 21 Masa pertumbuhan dan pembentukan berlangsung selama tiga abad lebih. Dari zaman kerasulan hingga abad ke-3 hijrah. Periode ini dari segi fasa sejarah hukum Islam, dapat dibagi menjadi tiga zaman. A. Zaman Rasululah SAW Beberapa sabda Nabi Muhammad SAW yang dianggap sebagai kaidah fiqh, yaitu : 1. ‫الخرج‬‫بالضمان‬ (hak menerima hasil karena harus menanggung kerugian) 2. ‫جبار‬ ‫جرحها‬ ‫العجماء‬ ( kerusakan yang dibuat oleh kehendak binatang sendiri tidak dikenakan ganti rugi), dll. Ibnu Taimiyah (w. 728 H), setelah menyampaikan hadits riwayat Ahli Sunan menyatakan dengan hadits jawami’ al-kalam (singkat padat) Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dapat menghilangkan dan merosakkan akal (adalah) haram. Nabi tidak membeda-bedakan jenisnya, apakah benda tersebut berjenis makanan atau minuman. Ini adalah ketetapan Nabi Muhammad SAW, iaitu hukum meminum minuman yang memabukkan adalah haram. B. Zaman Sahabat Sahabat berjasa dalam ilmu kaidah fiqh, karena turut serta membentuk kaidah fiqh. Para sahabat dapat membentuk kaidah fiqh karena dua keutamaan, yaitu mereka adalah murid Rasulullah SAW dan mereka tahu situasi yang menjadi turunnya wahyu dan terkadang wahyu turun berkenaan dengan mereka. Atsar (pernyataan) sahabat yang dapat dikatagorikan jawami’ al-kalim dan qawaid fiqhiyyah di antaranya adalah sebagai berikut: Pernyataan Umar bin Khatab ra (w.23 H) yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (w. 256 H) dalam kitabnya Shahih al-Bukhari: ‫الشروط‬ ‫عند‬ ‫الحقوق‬ ‫مقاطع‬ (penerimaan hak berdasarkan kepada syarat-syarat). Pernyataan Ali bin Abi Thalib ra (w. 40 H) yang diriwayatkan oleh Abd al-Razaq (w.211 H) :‫عليه‬ ‫ضمان‬ ‫فال‬ ‫الزبح‬ ‫قاسم‬ ‫من‬ (orang yang membagi keuntungan tidak harus menanggung kerugian). Atsar Umar bin Khatab ra di atas menjadi kaidah dalam masalah syarat. Atsar Ali bin Abi Thalib menjadi kaidah yang subur dalam bidang persoalan harta benda, seperti mudharabah dan syirkah.
  22. 22. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 22 C. Zaman Tabi’in dan Tabi’ tabi’in selama 250 tahun. Di antara ulama yang mengembangkan kaidah fiqh pada generasi tabi’in: Abu Yusuf Ya’kub ibn Ibrahim (113-182) Karyanya yang terkenal kitab Al-Kharaj, kaidah-kaidah yang disusun adalah : ”Harta setiap yang meninggal yang tidak memiliki ahli waris diserahkan ke Bait al- mal” Kaidah tersebut berkenaan dengan pembagian harta pusaka Baitul Mal sebagai salah satu lembaga ekonomi umat Islam dapat menerima harta peninggalan (tirkah atau mauruts), apbila yang meninggal dunia tidak memiliki ahli waris. Ulama berikutnya yang mengembangkan fikih Imam Asy-Syafi’i, Pada fasa kedua abad kedua hijriah (150-204 H), salah satu kaidah yang dibentuknya, iaitu ”Sesuatu yang dibolehkan dalam keadaan terpaksa adalah tidak diperbolehkan ketika tidak terpaksa” Pernyataan Imam Syafi’i dalam kitabnya al-Umm, di antaranya ‫اْل‬‫منه‬ ‫أصغر‬ ‫هو‬ ‫ما‬ ‫سق‬ ‫النا‬ ‫عن‬ ‫سق‬ ‫اذا‬ ‫عمم‬ (apabila yang besar gugur, yang kecilpun gugur). Ulama berikutnya yaitu Imam Ahmad bin Hambal (W. 241 H), Di antara kaidah yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hambal yang Abu Daud dalam kitabnya al-Masail, yaitu : ‫والرهن‬ ‫والصدقة‬ ‫الهبة‬ ‫فيه‬ ‫تجوز‬ ‫البيع‬ ‫فيه‬ ‫جاز‬ ‫ما‬ ‫كل‬ ”Setiap yang dibolehkan untuk dijual, maka dibolehkan untuk dihibahkan dan digadaikan” Ulama berikutnya ialah Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani (w.189 H), Ia mengemukakan apabila seseorang mempunyai wudhu, kemudian timbul keraguan dalam hatinya, apakah ia sudah hadats (batal) atau belum, dan keraguan ini lebih besar dalam pikirannya; lebih baik ia mengulangi waudhunya. Apabila ia tidak mengulangi wudhu dan sholat beserta keraguaannya itu, menurut kami boleh, karena ia masih mempunyai wudhu sehingga ia yakin bahwa ia telah hadats (batal). Apabila seorang muslim terpercaya atau muslimah yang terpercaya,
  23. 23. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 23 merdeka maupun tidak, memberi tahu bahwa ia telah hadats (batal), tidur terlentang, atau pingsang;ia tidak boleh melaksanakan shalat (sebelum mangulangi wudhu). Pernyataan al-Syaibani tersebut di atas seperti kaidah: ‫اليقين‬ ‫بالشك‬ ‫يزول‬ ‫َل‬ (keyakinan tidak dapat menghilangkan keraguan) . Fasa Perkembangan dan Kodifikasi Awal mula qawaid fiqhiyah menjadi disiplin ilmu tersendiri dan dibukukan terjadi pada abad ke 4 H dan terus berlanjut pada masa setelahnya. Hal ini terjadi ketika kecenderungan taqlid mulai tampak dan semangat ijtihad telah melemah kerana saat itu fiqh mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dan ulama pada saat itu merasa puas dengan perkembangan yang telah dicapai oleh fiqh pada saat itu. Pembukuan fiqh dengan mencantumkan dalil beserta perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi di antara madzhab sepertinya telah memuaskan mereka, sehingga tidak ada pilihan lain bagi generasi setelahnya kecuali merujuk pada pendapat-pendapat madzhab itu dalam memutuskan dan menjawab persoalan- persoalan baru. Ketika hukum furu’ dan fatwa para ulama semakin berkembang seiring dengan semakin banyaknya persoalan, para ulama mempunyai inisiatif untuk membuat kaidah dan dhabit yang dapat memelihara hukum furu’ dan fatwa para ulama tersebut. Hal inilah yang dilakukan oleh Abu Hasan al-Karkhi (w.340 H) dalam risalahnya (ushul al-Karkhi). Dan Abu Zaid al-Dabbusi (w.430 H) dalam kitabnya Ta’sis al-Nadhar dengan memakai istilah ushul. Apabila ushul tersebut mencakup berbagai masalah fiqh, maka disebut kaidah, sedangkan kalau hanya mencakup satu masalah fiqh , disebut dhabit. Menurut Dr. An Nadwi bahwa golongan Hanafiah merupakan yang pertama kali mempelajari kaidah fiqhiyah. Beberapa informasi yang menyatakan hal tersebut termaktub dalam beberapa literatur di antaranya, Alaby (761 H), As Suyuthi (911 H) dan Ibnu Najm (970 H) dalam Al Qawaid menyatakan bahwa Imam Ad Dibas pada abad 4 Hijriyah telah mengumpulkan beberapa kaidah-kaidah Mazhab Hanafi sebanyak 17 kaidah. Imam Ad Dibas membaca kaidah-kaidah tersebut berulang kali setiap malam di masjid yang kemudian Abu Said al Harawi Al Syafii menukil dari Ad Dibas beberapa kaidah-kaidah tersebut. Imam al Karkhi (340 H) menyusun sebuah catatan yang berisi 37 kaidah, kemudian dari golongan Hanafiyah muncul Imam al Khusyni (361 H) dengan
  24. 24. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 24 karyanya ushul al fataya. Dan setelah itu muncul Abi Laits Al Samarqandi (373 H) dengan karyanya ta’sis al nadhri yang identik dengan karya Abi Zaid Ad Dibasi (430 H) dengan sedikit perbedaan. Pada abad ke-7 H qawaid fiqhiyah mengalami perkembangan yang sangat rancak. Di antara ulama yang menulis kitab qawaid pada abad ini adalah al-‘Allamah Muhammad bin Ibrahin al-Jurjani al Sahlaki (w.613 H). Ia menulis kitab dengan judul “al-Qawaid fi Furu’I al- Syafi’iyah”. Kemudian al-Imam Izzudin Abd al- Salam (w. 660 H) menulis kitab “Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam” yang sempat menjadi kitab terkenal. dari kalangan madzhab Maliki Muhammad bin Abdullah bi Rasyid al-bakri al-Qafshi (685 H) menulis “al-Mudzhb fi Qawaid al- Madzhab” dan masih banyak lagi. Karya-karya ini menunjukan bahwa qawaid fiqhiyah mengalami perkembangan yang pesat pada abad ke-7 H. Qawaid fiqhiyah pada abad ini nampak tertutup namun sedikit demi sedikit mulai meluas. Pada abad ke-8 H, ilmu qawaid fiqhiyah mengalami masa keemasan, dengan banyak bermunculannya kitab-kitab Qawaid fiqhiyah. Perkembangan ini terbatas hanya pada penyempurnaan hasil karya para ulama sebelumnya, khususnya di kalangan ulama Syafi’iyah. Hal ini dapat dilihat misalnya pada kitab Ibnu al- Mulaqqin dan Taqiyuddin al-Hishni. Dalam hal ini, ulama Syafi’iyyah termasuk yang paling kreatif. Di antara karya-karya besar yang muncul dalam abad ini adalah: Al-Asyabah wa an-Nadhair karya Ibnu al-Wakil al-Syafi’I (w.716 H) Kitab al-Qawa’id karya al-Maqqari al-Maliki (w. 758 H) Al-Majmu’ al-Mudzhab fi Dhabt al-Madzhab karya al-‘Alai al-Syafi’I (w.761 H) Karya-karya besar yang mengkaji qawaid fiqhiyah yang disusun pada abad IX H banyak mengikuti metode karya-karya abad sebelumnya. Di antara karya-karya tersebut adalah: Kitab al-Qawa’id karya Ibnu al-Mulaqqin (w. 840 H) Asnal Maqashid fi Tahrir al-Qawa’id karya Muhammad bin Muhammad al- Zubairi (w. 808 H) Kitab al-Qawa’id karya Taqiyuddin al-Hishni (w. 829 H) Dengan demikian, ilmu qawaid fiqhiyah berkembang secara beransur-ansur. Pada abad X H, pengkodifikasian qawaid fiqhiyah semakin berkembang. Imam al- Sayuti (w. 911 H) telah berusaha mengumpulkan qaidah fiqhiyah yang paling penting dari karya al-‘Alai, al-Subaki dan al-Zarkasyi. Ia mengumpulkan kaidah- kaidah tersebut dalam kitabnya al-Asybah wa al-Nadhair. Kitab-kitab karya ketiga
  25. 25. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 25 tokoh ulama tersebut masih mencakup qawaid ushuliyah dan qawaid fiqhiyah, kecuali kitab karya al-Zarkasyi. Pada abad XI dan XII H, ilmu qawaid fiqhiyyah terus berkembang. Dengan demikian, fasa kedua dari ilmu qawaid fiqhiyah adalah fasa perkembangan dan pembukuan. Fasa ini ditandai dengan munculnya al-Karkhi dan al-Dabbusi. Para ulama yang hidup dalam rentang waktu ini (abad IV-XII) hampir dapat menyempurnakan ilmu qawaid fiqhiyah. Fasa Kematangan dan Penyempurnaan Abad X H dianggap sebagai periode kesempurnaan kaidah fiqh, meskipun demikian tidak berarti tidak ada lagi perbaikan-perbaikan kaidah fiqh pada zaman sesudahnya. Salah satu kaidah yang disempurnakan di abad XIII H adalah “seseorang tidak dibolehkan mengelola harta orang lain, kecuali ada izin dari pemiliknya” Kaidah tersebut disempurnakan dengan mengubah kata- kata idznih menjadi idzn. Oleh karena itu kaidah fiqh tersebut adalah : “seseorang tidak diperbolehkan mengelola harta orang lain tanpa izin. Pengkodifikasian qawa’id fiqhiyyah mencapai puncaknya ketika disusun Majallat al-Ahkam al-‘Adliyyah oleh Fuqaha pada masa Sultan al-Ghazi Abdul Azis Khan al-Utsmani (1861-1876 M) pada akhir abad XIII H. Majallat al-Ahkam al- ‘Adliyyah ini menjadi rujukan lembaga-lembaga peradilan pada masa itu. Pertanyaan Amelia : Kodifikasi Qawaid? Faaizah :Fase Qawaid Fiqhiyyah dan Kapan benar2 di masy? Syicon : Peranan Qawaid dalam perkembangan Hukum Islam? Saniyyah : Adanya kaitan qawaid dengan ekonomi? Yani : KItab Qawaid dalam MAzhab Syafiie Dira : Tingkatan Qawaid Fiqhiyyah
  26. 26. PENGANTAR FIKIH || QAWAID FIQH 26 II : Qawaid dan Dawabith bedanya trus kenapa qawaid banyak penyimpangan? Syifa as : Pengecualian dalam ruang lingkup? Evi : Apakah setiap adat bisa jadi hukum?...landasan dail Ulfah F : Dalil hukum yang todak disepakati masuk nggak? Bakrie : Penerapan dalam ekonomi Aziz : Makna daful mafasid wal jalbu mashalih Sarda : Perbedaan musyaqqoh dan kemudhorotan… dan apakah musyaqqoh masuk? Fika : Jelaskan pembagian qawaid dari fungsi mustasnayad dan kualitas Lisa : dua contoh sama ilat dan solusi qawaid Fariha : Kaitan qawaid dan qiyas Aisyah : Qaidah juziyyah dan hubungan istihsan dan qawaid Desya : Pertama kali pembukuan, dan mazhab apa yg masih bertahan Fiqoh : Beda objek qawaid dan fiqh Andi : peranan qawaid dalam fiqh kontemporer…. Umum khusus? Richad : Kami…. Dan Konsep niat Amik : Qiyas dalam qawaid.. Alen : Apakah qawaid asasiyah berurutan… trus kenapa umuru di awal Ferdian : sebut jelas dasar2 pengambilan perumusan qawaid Rizki : Apakah hanya lima?....beda antara qawaid fiqhiyyah dan ushuliyyah

×