Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Tiga Wanita Pendidik

154 views

Published on

Di era globalisasi, Indonesia harus siap berkompetisi dengan negara mana pun. Ketiga wanita ini ikut mempersiapkan generasi muda yang kompetitif dan kompeten lewat institusi pendidikan yang mereka bangun dari kekuatan mimpi.

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Tiga Wanita Pendidik

  1. 1. 58 pesona.co.id februari 2017 Di era globalisasi, Indonesia harus siap berkompetisi dengan negara mana pun. Ketiga wanita ini ikut mempersiapkan generasi muda yang kompetitif dan kompeten lewat institusi pendidikan yang mereka bangun dari kekuatan mimpi. TEKS: TENNI PURWANTI Foto: Adelli Arifin MEMILIH JADI PENDIDIK Kini begitu mudah kita temukan tutorial makeup di YouTube. Mungkin ada yang merasa cukup belajar makeup secara autodidak melalui tayangan turorial itu, lalu terjun menjadi makeup artist profesional. Lantas, masih perlukah sekolah kecantikan? “Di sekolah, siswa mempelajari hal-hal mendasar seperti fisiologi dan anatomi yang tidak terdapat di tayangan tutorial yang hanya beberapa menit. Misalnya, bagaimana aliran darah manusia, bagaimana mengurusi komedo dan jerawat yang tidak asal pencet. Hairdresser profesional juga harus tahu arah pertumbuhan rambut, bukan hanya menguasai teknik memotong rambut. Makeup artist perlu memperhatikan kebersihan alat-alat karena penularan penyakit bisa terjadi dari situ,” jelas Wulan. Lewat sekolah kecantikannya, ia ikut melahirkan para makeup artist dan hairdresser ternama di Tanah Air. Puspita Martha International Beauty School didirikan tahun 1973 oleh Martha Tilaar, dan Wulan menggantikan posisi ibunya sejak tahun 2005. “Ibu saya dulunya guru Sejarah. Karena kesejahteraan guru kurang memadai, akhirnya ia berwiraswasta. Ibu membangun salon tahun 1970. Untuk memenuhi kebutuhan SDM salon, Ibu mendirikan sekolah kecantikan,” kisah Wulan. Menurut Wulan, profil siswa di masa ibunya berbeda dengan masa kini. “Dulu banyak ibu rumah tangga atau perempuan yang tidak ingin kuliah memilih bersekolah di sini. Mereka belajar makeup untuk mengisi waktu luang. Sekarang, banyak anak muda yang ingin mendalami atau terjun ke dunia kecantikan. Ada juga orang-orang yang sudah jadi sarjana di bidang lain tapi masih ingin mendalami soal kecantikan,” ungkap Wulan. Perkembangan teknologi dan hadirnya media sosial menjadi tantangan dalam meneruskan sekolah ini. Wulan mewajibkan pengajarnya untuk mengetahui teknologi kosmetika terbaru seperti airbrush, dan memberi mereka kompetisi untuk meng-update cara pembelajaran di kelas. Program Mix Learning diluncurkan pada 2016 untuk memfasilitasi Generasi Milenial yang ingin belajar makeup secara online. “Ada saatnya mereka tatap muka di sekolah, ada juga via online. Otomatis pengajar juga harus beradaptasi dengan program ini,” kata Wulan. Pesatnya perkembangan teknologi membuat update dunia kecantikan juga begitu cepat. Para siswa pun harus punya bekal tambahan. Contohnya, di program Beauty Trend Center, siswa diajarkan agar bisa menerjemahkan keinginan klien. “Misalnya, kami mendatangkan stylist dan fotografer dari majalah, lalu siswa belajar dari mereka—antara lain menerjemahkan job brief menjadi aplikasi makeup di wajah model. Kami juga mengundang desainer untuk memberi gambaran bagaimana mencocokkan tema busana desiner untuk fashion show dengan makeup model,” kata Wulan. Tak heran sambil menunggu ujian, siswa diwajibkan menjalani praktik kerja lapangan di event-event besar, agar lebih kenal bidang kerja mereka—seperti Jakarta Fashion Week, Miss Indonesia, Festival Film Indonesia, atau pergelaran teater. Bahkan selama 32 tahun Puspita Martha rutin menjadi tim makeup artist untuk tim Paskibraka Nasional. Hingga saat ini, Puspita Martha International Beauty School memiliki empat kampus (di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta). Wulan mengaku tidak— atau belum—berniat membuka franchise. “Berbeda dengan spa, untuk pendidikan banyak hal tidak bisa dikompromikan. Jadi, cukup di empat kota yang potensial ini saja,” Wulan menegaskan. Wulan Tilaar Direktur Puspita Martha International Beauty School LIFE FEATURE-ZN CEK-revisi-OK.indd 58 1/23/2017 6:57:32 PM
  2. 2. februari 2017 pesona.co.id 59 LIFE FEATURE-ZN CEK-revisi-OK.indd 59 1/23/2017 6:57:33 PM
  3. 3. 60 pesona.co.id februari 2017 LIFE FEATURE-ZN CEK-revisi-OK.indd 60 1/23/2017 6:57:36 PM
  4. 4. februari 2017 pesona.co.id 61 Sejak kecil Prita memang bercita-cita menjadi guru. Itu sebabnya, setelah menyelesaikan pendidikan di Filipina (Master of Business Administration di International Academy of Management & Economics, Manila), ia melamar pekerjaan sebagai dosen part-time sambil bekerja di bagian Public Relations (PR) di sebuah perusahaan swasta. “Saya melihat banyak banget anak- anak PR yang ternyata masih tidak tahu apa-apa tentang seluk-beluk dunia PR. Itulah alasan saya membuka kursus atau traning school, namanya London School of Public Relations (LSPR) di tahun 1992 sampai 1997,” kenang Prita. Kursus yang menempati ruang 12 meter persegi itu memiliki program tiga bulan, enam bulan, hingga sembilan bulan. Tahun 1998, ketika krisis moneter melanda negeri ini, banyak orang tua yang menahan anaknya untuk sekolah ke luar negeri, sehingga banyak yang mendaftar ke LSPR. “Banyak yang bilang kepada saya, kenapa tidak dibuat program dua tahun saja, seperti akademi atau sekolah tinggi? Akhirnya di tahun 1999 LSPR diberi izin menjadi Sekolah Tinggi oleh Menteri Pendidikan saat itu, Abdul Malik Fadjar. Sejak jadi Sekolah Tinggi, jumlah mahasiswa saya langsung luber, kayak buka keran saja,” kisah Prita. Saat itu STIKOM LSPR masih belum memiliki gedung sendiri seperti sekarang. Akibatnya, lokasi LSPR sering berpindah-pindah, dari Dharmala Intiland, Gedung Dewan Pers, hingga Gedung Bimantara. Prita merasakan sendiri repotnya memindahkan bangku, meja, dan perlengkapan penunjang seperti proyektor setiap kali pindah tempat. Hingga akhirnya, LSPR sanggup membeli gedung sendiri berupa dua ruko di kawasan Sudirman Park, Jakarta. Kini LSPR telah memiliki 22 ruko di kawasan yang sama. Pengalaman bersekolah di London City College of Management Studies di London, dan LCCIEB Third Level Group Diploma in Public Relations, juga di London, membuat Prita ingin membawa kurikulum dari London ke Indonesia. Kurikulum yang dipakai di STIKOM LSPR berdasarkan standar yang ditetapkan London Chamber of Commerce and Industry Examinations Board. “Penggunaan nama London School juga disetujui oleh Brtisih Council Indonesia,” ungkap Prita. Setelah menjadi STIKOM, ia menambahkan kearifan lokal ke dalam kurikulum. Meski tidak memiliki modal besar—ia membangun LSPR hanya berdua dengan suaminya, Kemal Effendi Gani—Prita bertekad melanjutkan operasional sekolah ini dengan tangannya sendiri. “Orang kalau mau sekolah, kan, harus bayar dulu. Nah, uang itu yang saya gunakan untuk bayar sewa gedung, menggaji dosen, juga bayar ujian ke London. Pada awalnya sulit sekali memutarkan uang seperti itu,” kata Prita. Keteguhan Prita terus menjalankan operasional LSPR meski menghadapi beragam kendala membuahkan hasil. Hampir seperempat abad LSPR berdiri, ia kini berhasil menjadi sekolah yang diunggulkan oleh praktisi PR. Mahasiswanya bukan hanya lulusan SMA, tapi juga para profesional yang ingin meningkatkan jenjang karier. Kelebihan di LSPR adalah adanya program pertukaran pelajar sehingga mereka bisa memiliki pengalaman dalam pergaulan internasional. “Sebaliknya, kami juga memiliki international student. Ada mahasiswa dari Belanda, Inggris, Amerika, dan Jerman, yang khusus datang ke Indonesia untuk belajar di LSPR,” kata Prita. Ia juga membangun LSPR Innovation Network untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa di negara lain untuk belajar di LSPR secara online dan mendapatkan gelar sarjana strata 1. Saat ini LSPR baru saja memulai kerja sama dengan Learning Center Dubai untuk program sekolah online. Negara selanjutnya adalah Hong Kong, Myanmar, dan Taiwan. “Kami juga dipercaya membantu kurikulum PR untuk Vietnam,” kata Prita, bangga. Bahkan Prita-lah yang menjadi inisiator terbentuknya ASEAN Public Relations Network tahun 2014. “Dulu saya belajar PR dari Barat, sekarang orang Barat juga mau belajar PR dari kita. Untuk itu, kami melakukan ASEAN PR Studies untuk mempelajari banyak hal yang terjadi di negara-negara ASEAN,” Prita menutup perbincangan. Prita Kemal Gani Pendiri & Direktur STIKOM London School of Public Relations LIFE FEATURE-ZN CEK-revisi-OK.indd 61 1/23/2017 6:57:37 PM
  5. 5. 62 pesona.co.id februari 2017 Guru besar di bidang musik ini dulunya tak pernah bercita-cita menjadi guru. Cita-citanya adalah menjadi musisi yang menggodok orkestra dan meluncurkan album komposisi musik setiap tahun. “Pokoknya bisa memiliki satu-dua album, tidak punya bos, dan tidak menjadi bos siapa pun,” ujar Deviana. Namun selama bertahun-tahun menjadi musisi di Eropa, Deviana kerap diminta menjadi band leader. “Padahal saya tidak suka memimpin,” ceritanya, tertawa. Suatu hari di tahun 1987, ia diminta mengajar privat untuk sebuah band. Sejak itu ia mulai suka mengajar, apalagi saat melihat kemajuan muridnya. Pada awal 1990, ia ditawari mengajar di sebuah yayasan di Jerman. Saat itu ia sedang menjadi freelance music director di sebuah teater di Jerman. Setelah menjadi dosen vokal selama enam bulan, ia malah ditawari menjadi Artistic Director—di Indonesia setara dengan Rektor—di yayasan yang kini menjadi International Music College di Freiburg, Jerman. Ia menyusun kurikulum musik yang kemudian diakui oleh Pemerintah Jerman. Deviana meraih Bachelor Degree in Classical Piano Performance & Composition, serta Master Degree in Jazz Vocal dan Doctorate Degree in Music Education dari Musikhochschule Freiburg Jerman. Setelah 26 tahun hidup di Eropa, ia memutuskan pulang ke Tanah Air membawa kurikulum yang disusunnya itu. “Saya tinggalkan semua kemapanan saya dan memulai lagi semuanya dari nol,” kenang Deviana. Saat itu awal tahun 2000, dan ia telah bertekad membangun perguruan tinggi musik. Ia memulainya dengan menyewa tempat untuk kursus privat. Untuk memperkenalkan diri sembari menambah modal, ia tampil reguler di klub-klub dan hotel-hotel berbintang. Ia juga kos di gang sempit di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, untuk mengenal kembali negeri kelahirannya. Sepanjang tahun ia mengadakan workshop dan jam session sebagai sosialisasi bahwa ia akan mendirikan sekolah musik. Di tahun 2002, seorang teman meminjamkan rumahnya di kawasan Taman Kemang. Deviana hanya perlu membayar biaya perawatan. “Saat itu mahasiswa saya baru dua orang,” katanya. Ia terjun langsung mendidik dua mahasiswa angkatan pertama Institut Musik Daya Indonesia (IMDI). Saat mahasiswa terus bertambah, ia mendirikan Daya Big Band dan menyelenggarakan Indonesia Open Jazz Festival. Mahasiswa-mahasiswa yang berhasil lulus di angkatan pertama kemudian menjadi pengajar di IMDI, salah satunya Titi Rajo Bintang. Kampus IMDI sempat pindah ke Jalan Wijaya, sebelum kini menetap Jalan Ampera Raya, semuanya di Jakarta Selatan. Deviana rutin mengajak mahasiswanya berdiskusi tentang isu-isu dunia. “Misalnya diskusi tentang Khmer Merah di Kamboja. Sekilas tak ada hubungannya dengan musik. Tetapi jika suatu hari diundang sebagai musisi ke Kamboja, mereka memiliki kepekaan terhadap tragedi yang pernah terjadi di negara itu.” Menurut Deviana, pemain musik di Indonesia belum memiliki kesadaran genre, sehingga banyak yang merasa cukup dengan belajar autodidak, lalu tampil. “Akhirnya mereka hanya meniru, memainkan musik orang lain, bukan menciptakan sendiri,” katanya. Kalau belajar musik secara akademis, mahasiswa tidak hanya belajar memainkan alat musik dengan benar, tapi juga belajar Sejarah, Budaya, Sosiologi, Sejarah Seni Pertunjukan, dan Pedagogi Musik. “Film-film Hollywood seperti Star Wars, Lion King, itu musiknya dibuat oleh akademisi musik,” katanya. “Akademisi musik juga memiliki lapangan pekerjaan yang lebih luas. Tak hanya menjadi performer, mereka juga bisa menjadi dosen, memproduksi musik untuk drama musikal, film dan teater, serta memimpin orkestra.” IMDI juga memiliki event organizer dan performing arts management yang dikelola oleh dosen dan mahasiswa sendiri. Mereka menggelar beragam event musik berskala nasional atau internasional. Mahasiswa IMDI juga diajak untuk mencintai hewan. IMDI memiliki Daya Animal Rescue yang menyelamatkan hewan-hewan telantar. Hewan yang telah dirawat itu berkeliaran di kampus IMDI, dan bisa diadopsi oleh siapa saja, salah satunya via Twitter. Tjut Nyak Deviana Daudsjah Pendiri Institut Musik Daya Indonesia LIFE FEATURE-ZN CEK-revisi-OK.indd 62 1/23/2017 6:57:37 PM
  6. 6. februari 2017 pesona.co.id 63 PengarahGaya:NandaDjohan RiasWajah&Rambut:TaniaLedezma LIFE FEATURE-ZN CEK-revisi-OK.indd 63 1/23/2017 6:57:40 PM

×