Kaidah & penerapan ejaan

21,941 views

Published on

2 Comments
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
21,941
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
312
Comments
2
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kaidah & penerapan ejaan

  1. 1. BAB I PENDAHULUANI.1.LATAR BELAKANG Dalam pemahaman umum, bahasa Indonesia sudah diketahui sebagai alat berkomunikasi.Setiap situasi memungkinkan seseorang memilih variasi bahasa yang akan digunakannya.Berbagai faktor turut menentukan pemilihan tersebut, seperti penulis, pembaca, pokokpembicaraan, dan sarana. Dalam situasi resmi, misalnya dalam kegiatan ilmiah, sudah sepantasnya digunakan bahasaIndonesia ragam baku. Salah satu ciri ragam bahasa ilmiah ialah benar (Nazar, 2004: 101;bandingkan pula Djajasudarma, 1999: 128). Pemahaman benar yaitu menyangkut kesesuaiandengan kaidah bahasa Indonesia baku. Ragam bahasa baku dipahami sebagai ragam bahasa yangdipandang sebagai ukuran yang pantas dijadikan standar dan memenuhi syarat sebagai ragambahasa orang yang berpendidikan. Kaidah yang menyertai ragam baku mantap, tetapi tidak kaku,cukup luwes sehingga memungkinkan perubahan yang bersistem dan teratur di berbagai bidang.Hal ini tentu saja dalam kerangka bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik dalampemahaman sesuai dengan situasi dan benar dalam pemahaman sesuai dengan kaidah tata bahasa(Sugihastuti, 2003: 9). Bahasa dalam laporan penelitian, sebagaimana telah dijelaskan, memilih ragam baku sebagaisarananya, benar kaidahnya, dan memenuhi ciri sebagai ragam standar orang berpendidikan.Namun, pada kenyataannya masih banyak ditemukan kesalahan dalam berbagai tataran bahasa,termasuk dalam penggunaan Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ejaansebagaimana telah dipahami bersama adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkanbunyi-bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang itu. Secara teknis yangdimaksud ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca (Arifin &Tasai, 2004: 170; baca pula Mustakim, 1996; Rahardi, 2003). Oleh karena itu, penguasaan ejaanmutlak diperlukan bagi seseorang yang berkecimpung dalam kegiatan ilmiah. Berikut inidisajikan kaidah ejaan yang sering dilanggar berikut pembetulannya (contoh-contoh diambil dariNazar, 2004). Penerapan Kaidah Ejaan 1
  2. 2. I.2.RUMUSAN MASALAH 1. Apakah problematika pengucapan & Pengejaan? 2. Apakah yang dimaksud dengan ejaan ? 3. Bagaimana tahapan-tahapan ejaan bahasa Indonesia mulai dari Ejaan van Ophuysen hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)?I.3.TUJUAN 1. Untuk mengetahui problematika pengucapan & pengejaan 2. Untuk mengetahui pengertian ejaan 3. Dapat menjelaskan tahapan-tahapan ejaan bahasa Indonesia mulai dari Ejaan van Ophuysen hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) 4. Dapat menjelaskan tentang ejaan suwandi 5. Dapat menjelaskan tentang ejaan Melindo ( Melayu – Indonesia ) 6. Dapat menjelaskan tentang ejaan suwandi 7. Dapat menjelaskan tentang Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Penerapan Kaidah Ejaan 2
  3. 3. BAB II PEMBAHASANII.1.PROBLEMATIKA PENGUCAPAN & PENGEJAAN Usaha pembakuan bahasa Indonesia yang telah dirintis sejak tahun 1901 ternyata belummenunjukkan hasil yang paripurna hingga saat ini.Dalam pemakaian bahasa Indonesia,masihsering dijumpai kata-kata yang dieja atau diucapkan dengan tidak tepat.Umumnya kesalahan ituperpangkal pada kesalahan ejaan sehingga sekaligus juga terjadi kesalahan pengucapan.Selainitu,pembacaaan kata-kata yang sudah betul ejaannya terkadang masih dibaca dengan lafal yangsalah padahal dalam situasi resmi,seharusnya kesalahan seperti itu tidak terjadi. Salah eja dan salah ucap itu biasanya terjadi karena pengaruh bahasa daerah.Kata-katanomor,besok,Rabu,Kamis biasanya dieja dan diucapkan nomer,besuk,dan Rebo, oleh orang-orang yang bahasa pertamanya ( mother tongue ) bahasa Jawa.Kadang ejaannya sudah benartetapi diucapkan dengan tidak benar,misalnya: fakultas,ke mana,dan jalan diucapkanpakultas,komana dan jalang oleh orang Bugis-Makassar.Selain itu,kesalahan ucapan dapatdisebabkan adanya bunyi yang berbeda tetapi dalam ejaan tidak dibedakan.Contohnya kata„peka‟(sensitif) sering dilafalkan pepet padahal seharusnya dilafalkan seperti katateras(serambi).Kata „teras‟ yang dilfalkan menggunakan „e‟,pepet akan memiliki arti lain yaituinti kayu. Kesalahan ucapan juga sering kali disebabkan penggunaan ejaan bahasa daerah Jawaseperti huruf a yang harus dibaca seperti o dalam bahasa Indonesia.Misalnya,nama„Poerwadarminta‟ yang seharusnya dibaca Purwodarminto dan „Poejasemedi‟ yang seharusnyadibaca Pujosemedi. Salah eja juga sering terjadi pada penulisan kata-kata yang berasal dari bahasa asingseperti sistim,kongkrit,tehnik,extra thesis,kwitansi, dan resiko,yang seharusnya ejaannya adalahsystem,konkret,teknik,ekstra,tesis,kuitansi, dan risiko. Kesalahan pengucapan yang sudah menjadi kebiasaan dan akan sulit dibetulkan sepertiyang dialami kalangan generasi tua.Untuk itu,hendaknya kesalahan yang demikian dihindari dan Penerapan Kaidah Ejaan 3
  4. 4. tidak menular pada generasi muda.Salah satu cara menghindarinya adalah mempelajari danmemahami sedini mungkin tentang seluk-beluk ejaan.II.2.PENGERTIAN EJAAN Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yangdistandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni : Aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad . Aspek morfologi yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis Aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran tanda baca (Badudu, 1984:7).Keraf (1988:51) mengatakan bahwaejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkanlambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana interrelasi antaralambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatubahasa. Adapun menurut KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah caramenggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuktulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian,secara sederhana dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidahtulis-menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tandabaca. Walaupun sistem ejaan sekarang didasarkan atas sistem fonemis, yaitu satu tanda untuk satubunyi, namun masih terdapat kepincangan-kepincangan. Ada fonem yang masih dilambangkandengan dua tanda (diagraf), misalnya ng, ny, kh, dan sy. Jika kita menghendaki kekonsekuenanterhadap prinsip yang dianut, maka diagraf-diagraf tersebut harus dirubah menjadi monograf(satu fonem satu tanda). Di samping itu masih terdapat kekurangan lain yang sangat menggangguterutama dalam mengucapkan kata-kata yang bersangkutan, yaitu ada dua fonem yangdilambangkan dengan satu tanda saja yakni e (pepet) dan e (taling). Ini menimbulkan dualismedalam pengucapan. Penerapan Kaidah Ejaan 4
  5. 5. Ejaan suatu bahasa tidak saja berkisar pada persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran serta bagaimana menempatkan tanda-tanda baca dan sebagainya, tetapi jugameliputi hal-hal seperti: bagaimana menggabungkan kata-kata, baik dengan imbuhan-imbuhanmaupun antara kata dengan kata. Pemotongan itu berguna terutama bagaimana kita harusmemisahkan huruf-huruf itu pada akhir suatu baris, bila baris itu tidak memungkinkan kitamenulils seluruh kata di sana. Apakah kita harus memisahkan kata bunga menjadi bu – nga ataub – unga . Semuanya ini memerlukan suatu peraturan umum, agar jangan timbul kesewenangan.II.3.PEMBINAAN EJAAN BAHASA INDONESIAEjaan-ejaan untuk bahasa Melayu/Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagaiberikut :a. Ejaan van Ophuysen(1901-1947) Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untukmembantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda parapegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karenatelah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasibahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung denganpenerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasaIndonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor. Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat.Di tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan padatahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggrismengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu(dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma‟moer dan MoehammadTaib Soetan Ibrahim. Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka.Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program TamanPoestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapainstansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telahterbentuk sekitar 700 perpustakaan. Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa Penerapan Kaidah Ejaan 5
  6. 6. persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasaMelayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan,dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan, "Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya,hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa danMelayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasapergaulan atau bahasa persatuan." Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi olehsastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan TakdirAlisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyakmengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia. Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yangdibantu oleh Nawawi Soetan Ma‟moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun ejaanbaru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan vanOphuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:1. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.2. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.3. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.4. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer,’akal, ta’, pa’, dsb.b. Ejaan Suwandi(1947-1972) Selama Kongres Bahasa Indonesia tahun 1938 telah disarankan agar ejaan itu lebih banyakdiinternasionalisasikan. Dan memang dalam perkembangan selanjutnya terutama sesudahIndonesia merdeka dirasakan bahwa ada beberapa hal yang kurang praktis yang harusdisempurnakan. Sebenarnya perubahan ejaan itu telah dirancangkan waktu pendudukan Jepang.Pada tanggal 19 Maret 1947 dikeluarkan penetapan baru oleh Menteri Pengajaran, Pendidikandan Kebudayaan Suwandi (SK No. 264/Bag.A/47) tentang perubahan ejaan bahasa Indonesia;sebab itu ejaan ini kemudian terkenal dengan nama Ejaan Suwandi. Penerapan Kaidah Ejaan 6
  7. 7. Sebagai dampak dalam keputusan di atas, bunyi oe tidak semuanya diganti dengan u. Barupada tahun 1949, menurut surat edaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tanda oe mulai1 Januari 1949 diganti dengan u. Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan inijuga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:1. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yangmendampinginya.c. Ejaan Melindo (Melayu – Indonesia) 1966 Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 kembali mempersoalkan masalah ejaan. Sesuaidengan usul Kongres, kemudian dibentuk sebuah panitian dengan SK No. 44876 tanggal 19 Juli1956. Panitia ini berhasil merumuskan patokan-patokan baru pada tahun 1957. namun keputusanini tidak dapat dilaksanakan karena ada usaha untuk mempersamakan ejaan Indonesia danMelayu. Sebab itu pada akhir tahun 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu berhasilmerumuskan suatu konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo(Melayu – Indonesia). Tetapi konsep ejaan ini juga tidak jadi diumumkan karena perkembanganpolitik kemudian.d. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)1972 Karena laju perkembangan pembangunan, maka dirasakan bahwa ejaan perludisempurnakan. Sebab itu, di tahun 1966 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan SarinoMangunpranoto dibentuk lagi sebuah Panitia Ejaan Bahasa Indonesia, yang bertugas menyusunkonsep baru, yang merangkum segala usaha penyempurnaan yang terdahulu. Sesudah berkali-kali diadakan penyempurnaan, maka berdasarkan Kepurusan Presiden No. 57 tahun 1972diresmikan ejaan baru yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1972, yang dinamakan EjaanYang Disempurnakan (EYD). Penerapan Kaidah Ejaan 7
  8. 8. Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden RepublikIndonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaandua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan. Perubahan yang paling penting dalam EYD adalah: No. Ejaan lama EYD Indonesia Malaysia Contoh Contoh Sejak 1972 (pra-1972) (pra-1972) 1. Tj Ch Tjakap C Cakap 2. Dj J Djalan J Jalan 3. Ch Kh tarich Kh Tarikh 4. Nj Ny njonja Ny nyonya 5. Sj Sh sjarat Sy Syarat 6. J Y Pajung Y Payung Catatan: Tahun 1947 "oe" sudah digantikan dengan "u".* Kedua gabungan huruf ini sebenarnya tidak terdapat dalam ejaan lama. Di samping itudiresmikan pula huruf-huruf berikut di dalam pemakaian: f maaf, fakir v valuta, universitas z zeni, lezat q, x huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai. Penerapan Kaidah Ejaan 8
  9. 9. Motif lahirnya Ejaan yang Disempurnakan ialah sebagai berikut : 1. Menyesuaikan ejaan bahasa Indonesia dengan perkembangan bahasa. 2. Membina ketertiban dalam penulisan huruf dan tanda baca. 3. Mulai usaha pembakuan bahasa Indonesia secara menyeluruh. 4. Mendorong pengembangan bahasa Indonesia (Ambo Enre, 1984:38) Adapun hal-hal yang diatur penggunaannya dalam EYD,yaitu sebagai berikut: 1.Penulisan Huruf Dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan,penulisan huruf menyangkut dua masalah,yaitu (1) penulisan huruf besar atau huruf kapital dan (2) penulisan huruf miring. a.Penulisan huruf besar atau huruf kapital Dalam kaidah penulisan huruf besar dan huruf kecil,terdapat aturan yang dinamis sesuai dengan ketetapan dalam EYD. Berikut ini dipaparkan kaidah penulisan huruf kapital. 1) Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.Misalnya:Dia mengantuk.. 2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya: Adik bertanya, “Kapan kita pulang?” “Besok pagi,” kata Ibu, “Dia berangkat.” 3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Misalnya: Allah Alkitab Islam Yang Mahakuasa Quran Kristen 4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan,keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya: Sultan Hasanuddin Nabi Ibrahim Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan,keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang. Misalnya: Tahun ini ia pergi naik haji. Penerapan Kaidah Ejaan 9
  10. 10. 5) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang terentu,nama instansi, atau nama tempat. Misalnya: Wakil Presiden Jusuf Kalla Profesor Supomo Gubernur Sulawesi Selatan Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang atau nama tempat. Misalnya: Siapa gubernur yang baru dilantik itu? Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.6) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Misalnya: Amir Hamzah7) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa,suku,dan bahasa. Misalnya: bangsa Indonesia suku Sunda Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa,suku,dan bahasa yang dipakai sebagai benttuk dasar kata turunan. Misalnya: mengindonesiakan kata asing8) Huruf kapital dipakai ssebagai huruf pertama nama tahun,bulan,hari,hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: bulan Agustus hari Natal hari Jumat perang Diponegoro tahun Hijriah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama. Misalnya: Soekarno dan Hatta memprolamasikan kemerdekaan bangsanya. Penerapan Kaidah Ejaan 10
  11. 11. 9) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi. Misalnya: Asia Tenggara,Danau Toba,Pegunungan Jayawijaya Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya: berlayar ke teluk Pergi ke arah tenggara10) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama Negara,lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan. Misalnya: Republik Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57,Tahun 1972.11) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta dokumen asli. Misalnya: Perserikatan Bangsa-Bangsa Undang-Undang Dasar Republik Indonesia12) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku,majalah,surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya: Bacalah majalah Bahasa dan Sastra Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.13) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan ,nama gelar, pangkat, dan sapaan. Misalnya: Dr. doktor Prof. profesor S.H. sarjana hukum Tn. tuan14) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya: Surat Saudara sudah saya terima. Mereka pergi ke rumah Pak Camat. Penerapan Kaidah Ejaan 11
  12. 12. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan. Misalnya: Kita harus menghormati bapak dan ibu kita. 15) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Misalnya: Surat Anda telah kami terima. b.Huruf Miring Berbeda dengan penulisan huruf kapital,penulisan huruf miring tidak memiliki kondisi dinamis yang rumit.Kekeliruan penulisan huruf miring umumnya terjadi hanya pada penggunaan variasi tulisan dalam pengetikan menggunakan komputer.Berikut kaidah penulisan dan penggunaan huruf miring: 1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku,majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Misalnya: Majalah Bahasa dan Kesusastraan. Surat kabar Tribun Timur. 2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, kelompok kata. Misalnya: Huruf pertama kata abad ialah a. Dia bukan menipu,tetapi ditipu. 3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaanya. Misalnya: Nama ilmiah buah manggis adalah Carcinia mangostana. Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.2. Penulisan Kata Penulisan kata adalah salah satu aspek bahasa yang sering diabaikan kaidah baku dalampemakainnya.Kadang dijumapai kata-kata yang bentuknya tidak lengkap awalan danakhirannya,seperti pada kalimat Dilarang jualan di tepi jalan dan Saya keberatan terhadap usulitu.Seharusnya ‘jualan’ ditulis dengan ditambahkan awalan ber- sehingga menjadi Dilarangberjualan di tepi jalan dan ‘keberatan’ ditulis dengan menambahkan awalan ber- sehinggamenjadi Saya berkeberatan terhadap usul itu. Penerapan Kaidah Ejaan 12
  13. 13. Kesalahan juga terjadi pada pemenggalan akhiran kata dalam kalimat misalnya, Sayasudah katakan; Saudara sudah ketahui; dan Tuan telah ambil; Jika yang dimaksud adalahbentuk pasif maka seharusnya ditulis sudah saya katakan, telah Tuan ambil, dan sudah saudaraketahui.Apabila yang dimaksud bentuk aktif maka seharusnya ditulis Saya sudahmengatakan,Tuan telah mengambil, dan Saudara telah mengetahui. Selain bentuk-bentuk awalan yang tidak tepat,kadang juga ditemui penggunaan kata yangtidak tepat misalnya pada kalimat Saya berangkat duluan, Sepeda yang hilang itu telahdiketemukan, dan Cita-citanya tidak kesampaian.Harusnya ditulis dalam bentuk kalimat: Sayaberangkat lebih dulu, Sepeda yang hilang itu telah ditemukan kembali, dan Cita-citanya tidaktercapai. Sekilas,biang kesalahan pada bentuk di atas hanya terletak pada persoalan diksi,imbuhan,dan awalannya saja. Akan tetapi bagaimana dengan kata pengrajin dan perajin. Bisakahkeduanya saling menggantikan atau tidak ada kata pengrajin berdasarkan prinsip persengauandan yang ada hanya kata perajin. Dalam bahasa Indonesia,awalan peN- menyatakan „pelaku dari suatu perbuatan,‟misalnya penulis berarti „orang yang menulis,‟ tetapi peN- yang dirangkaikan dengan kata sifatmenyatakan „orang yang mempunyai sifat‟ misalnya pemalas (dari kata malas).Dalam halini,perajin berarti orang yang memiliki sifat rajin bukan orang yang membuat barang-barangkerajinan.Di sisi lain, perajin dalam arti „pembuat kerajinan‟ tidak selamanya memiliki sifatrajin.Dengan demikian, kata perajin dan pengrajin tidak boleh saling menggantikan danmemiliki makna sendiri-sendiri. Penerapan Kaidah Ejaan 13
  14. 14. BAB III PENUTUPIII.1.KESIMPULAN a. ) Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yangdistandardisasikan. Ejaan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam hal (1) landasanpembakuan tata bahasa, (2) landasan pembakuan kosakata dan peristrilahan, dan (3) alatpenyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, ejaanmempunyai fungsi praktis yaitu membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna informasiyang disampaikan secara tertulis. b. ) Pada tahun 1900, Ch. van Ophuysen mendapat perintah untuk menyusun ejaanMelayu dengan mempergunakan aksara Latin. Ejaan tersebut tidak sekali jadi tapi tatapmengalami perbaikan dari tahun ke tahun dan baru pada tahun 1926 mendapat bentuk yang tetap.Dalam perkembangan selanjutnya terutama sesudah Indonesia merdeka dirasakan bahwa adabeberapa hal yang kurang praktis yang harus disempurnakan. Pada tanggal 19 Maret 1947dikeluarkan penetapan baru oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan Suwandi (SKNo. 264/Bag.A/47) tentang perubahan ejaan bahasa Indonesia; sebab itu ejaan ini kemudianterkenal dengan nama Ejaan Suwandi. Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 kembalimempersoalkan masalah ejaan pada akhir tahun 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayuberhasil merumuskan suatu konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama EjaanMelindo (Melayu – Indonesia). Karena laju perkembangan pembangunan, maka dirasakan bahwaejaan perlu disempurnakan. Sesudah berkali-kali diadakan penyempurnaan, maka berdasarkanKepurusan Presiden No. 57 tahun 1972 diresmikan ejaan baru yang mulai berlaku pada tanggal17 Agustus 1972, yang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).III.2.SARAN Pemahaman pada ejaan yang benar kiranya dapat mendorong kita pengguna bahasaIndonesia harus terus meningkatkan kualitas bahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasaIndonesia dapat menjadi bahasa modern yang dapat mengaktualisasikan konsep-konsep ipteks. Penerapan Kaidah Ejaan 14
  15. 15. DAFTAR PUSTAKANazar, Noerzisri. 2004. Bahasa Indonesia dalam Karangan Ilmiah. Bandung: Huma-niora.Sugono, Dendy (Penyunting). 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia 1 & 2. Jakarta:Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. 2004. Pedoman Umum Ejaan BahasaIndonesia yang Disempurnan. Jakarta: Pusat Bahasa.Mustakim. 1996. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.Syahruddin,Ga‟ga Mansur,dkk.2011.Mari Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Makassar:PermataIlmu. Penerapan Kaidah Ejaan 15

×