SlideShare a Scribd company logo
HARMONI AGAMA DAN BUDAYA
Oleh :
TIM BDK SMG
ALAI DIKLAT KEAGAMAAN SEMARANG
Pentingnya diskusi multikultural
Benturan Budaya adalah hal yg pasti:
-Perbedaan antara peradaban tidak hanya riil, tetapi juga mendasar.
-Dunia makin menyempit, interaksi beda peradaban makin meningkat.
-Modernisasi ekonomi dan sosial dunia: Tercerabutnya identitas lokal &
memperlemah negara-negara sebagai sumber identitas.
-Barat menjadi episentrum kekuatan budaya: (1) menjadi kiblat budaya; tapi juga
(2) kesadaran budaya, yaitu kembalinya fenomena asal (Non-Barat).
-Karakteristik dan perbedaan budaya kurang bisa menyatu dan berkompromi
dibanding karakteristik dan perbedaan politik dan ekonomi.
Bisa muncul masalah:
clash of civilization,
culture war,
konflik etnis,
perlakuan dan kebijakan diskriminatif,
hubungan eksploitatif,
bias (perlakuan tak adil yang tak disengaja),
prasangka negatif,
kesalahpahaman,
marjinalisasi,
kekerasan fisik/simbolik,
ketimpangan dan kesenjangan yang tajam
POLITIK
BUDAYA
ORBA
Alasan stabilitas nasional: “politik seragamisasi‟ sentralistik.
“Politik seragamisasi‟ ini memang masih mengakui sifat
pluralitas (kemajemukan) bangsa.
Tetapi, kemajemukan ini –mengacu pendapat John Rex
(1997)- hanya terjadi pada ruang privat, yaitu ruang bagi
setiap orang dan kelompok diberi kebebasan
mengekspresikan nilai-nilai maupun cara pandang mereka.
Sementara, kesetaraan dan kesempatan dalam berbagai
bidang bagi elemen bangsa tidak disediakan oleh negara di
ruang publik.
Katak dalam tempurung: individu/kelompok hanya
mengenal arti kebebasan di antara mereka sendiri tanpa
mengenal hak kebebasan dan perbedaan kelompok lain.
Muncul fragmentasi sosial: (1) orang Tionghoa tersekat
hanya di dunia bisnis seiring dengan “nasionalisasi” nama
yang berbau Tionghoa; (2) perbedaanperbedaan antara
pusat-daerah atau dalam pelayanan publik
Kesenjangan dalam ruang-ruang publik ini jadi pemantik
demokratisasi yang membuat runtuhnya Orba.
Demokrasi: membuka kran kebebasan
Demokrasi: Belum siap seperangkat norma di ruang publik –
seperti politik, hukum, ekonomi, dan pendidikan- yang
menjamin kesetaraan dan kesempatan yang sama.
Masyarakat belum siap untuk menjadi masyarakat
multikultural (masyarakat yang menghargai kebebasan dan
perbedaan kelompok lain) konflik-konflik sosial.
Dengan kata lain, demokrasi sebenarnya mensyaratkan
perspektif multikultural sebagai pondasinya.
Samuel P. Huntington (1993):
-bahwa sebenarnya konflik antar peradaban di masa depan tidak lagi
disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, politik dan ideologi, tetapi justru
dipicu oleh masalah masalah suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).
-Konflik tersebut menjadi gejala terkuat yang menandai runtuhnya polarisasi
ideologi dunia kedalam komunisme dan kapitalisme.
-Di Amerika, multikultural muncul karena kegagalan pemimpin di dalam
mempersatukan orang Negro dengan orang Kulit Putih
Terbukti:
Runtuhnya struktur politik negara-negara Eropa Timur (akhir 1980-awal 1990).
Di era 1980-an: terjadinya perang etnik di kawasan Balkan, di Yugoslavia., pasca pemerintahan
Josep Broz Tito: Keragaman, yang disatu sisi merupakan kekayaan dan kekuatan, berbalik menjadi
sumber perpecahan ketika leadership yang mengikatnya lengser.
PENGERTIAN
Dari aspek Antropologi: multikultura & plural = sama, masy yg
memiliki keragaman budaya
Multi = banyak; Kultur = budaya
Plural = jamak
Sufiks “isme’: membawa dampak psikologis terkait beda ideologi
PENGERTIAN
“Multikulturalisme”: pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam
berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas
keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan
masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang
kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007)
Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas
budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya
etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174)
Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan
tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya,
agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan
semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk
mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007)
SIFAT MULTIKULTURAL
* Sifat yang mengakui dan menghargai perbedaan dalam kesederajatan.
* Sifat ini tumbuh dari paham multikulturalisme, yaitu cara pandang tentang
keberagaman kehidupan yang menekankan penerimaan terhadap realitas
perbedaan -agama, budaya, dan worldview- yang terdapat dalam masyarakat.
* Jika sifat multikultural ini terinternalisasi pada diri individu, maka individu
tersebut akan secara terbuka memahami, menghargai serta mengkaji budaya
orang lain yang dilandasi oleh semangat menghormati dalam kebersamaan.
MULTIKULTURALISME PLURALISME
ideologi yg mengakui dan
mengagungkan perbedaan
dalam kesederajatan, baik
secara individu maupun
komunal (Politic of
Recognition)
Lebih menekankan pada
interaksi antarbudaya sbg
entitas yg memiliki hak &
kewajiban yg sama
ideologi yg memandang
keanekaragaman budaya yg
lebih menekankan perbedaan
antara satu masyarakat
dengan masyarakat lainnya.
Kurang memerhatikan
interaksinya
Lebih menonjolkan keunikan
dan entitas itu sendiri
Lebih cenderung sbg politik
kebudayaan seragam
PENYEBARAN PAHAM MULTIKULTURALISME di
BERBAGAI NEGARA
Runtuhnya Uni Soviet dan Eropa Timur yang menandai
berakhirnya perang dingin, telah mempercepat dan
meningkatkan intensitas globalisasi di berbagai bidang.
Sejak itu, AS seolah menjadi penguasa dunia. Sehingga,
hampir semua yang berbau AS cepat dan mudah
merambah ke berbagai dunia. Termasuk, pengalaman
sejarah multikulturalisme di AS.
PERJALANAN MULTIKULTURALISME DI AS
Dinamika perspektif keanekaragaman di AS dimulai dengan
“melting-pot assimilation” menjadi “salad bowl” berkembang
lagi menjadi “cultural pluralism” dan akhirnya
“multiculturalism”.
Dinamika perspektif itu bermula dari gerakan warga kulit hitam
yang menuntut kesetaraan hak sipil dan politik pada 1960-an.
Kemudian tahun 1970-an muncul gerakan civil society, yang
diikuti gerakan perempuan, lalu muncul gerakan “pribumi
Amerika” dan kelompok kulit berwarna. Pada tahun 1980-an
hingga 1990-an muncul pemikiran kritis terhadap kurikulum
sekolah dasar perihal sejarah, demografi, dan pendidikan
kewarganegaraan, yang menggugat perspektif melting-pot
assimilation.
1. MELTING-POT ASSIMILATION
Menyatukan seluruh budaya dengan meleburkan
masing-masing budaya
Konsep ini dipopulerkan melalui drama karya Zangwill.
Dalam perspektif melting-pot ditonjolkan perihal
lahirnya “manusia baru” yang disebut Amerika, yaitu
merupakan idealisasi peleburan beraneka ragam budaya
yang berasal dari Eropa dan Afrika.
Pemikiran kritis mengungkapkan bahwa melting-pot
ternyata bersifat monokultur. Karena, dominasi dan
hegemoni WASP (White Anglo-Saxon Protestant) amat
mengedepan.
2. SALAD BOWL
Untuk mengakomodasi dan mengapresiasi kontribusi
non-WASP, dikembangkan perspektif pengganti yang
disebut “salad bowl”.
Budaya asal tidak dihilangkan tapi diakomodasi dan
memberikan kontribusi bagi budaya bangsa, tapi,
interaksi kultural belum berkembang baik
Unsur non-WASP memang diakomodasi, tapi ternyata
tak mengurangi unsur pokoknya yang dominan, yaitu
budaya WASP.
Perspektif salad bowl masih tetap dirasakan
mengecewakan oleh non-WASP.
3. CULTURAL PLURALISM
Horace Kallen (1970) memperkenalkan perspektif “cultural
pluralism” untuk menggantikan salad bowl.
Perspektif ini membedakan antara ruang publik dan ruang privat.
Ruang publik: ruang terbuka tempat bertemunya orang dari
berbagai ikatan budaya.
Ruang privat: ruang yang disediakan untuk mewadahi dan merawat
spesifikasi ikatan budaya di dalam masing-masing keluarga atau
komunitas yang berbeda-beda.
Ternyata perspektif ini juga rapuh dan tak memuaskan, karena
mengandaikan dapat memisahkan sepenuhnya antara ruang publik
dan ruang privat. Di samping itu mengandaikan wilayah non-budaya
terlepas dari wilayah budaya di dalam ruang publik.
4. MULTICULTURALISM
* Diperkenalkan tahun 1980-an, sebagai upaya memperoleh kesempatan yang
sama untuk berpartisipasi di ruang publik, dan selanjutnya juga mengkritisi
jalinan hubungan kekuasaan yang ada agar menjamin hak, keadilan dan
kesempatan yang sama bagi semua WN yang dihormati latar belakang ikatan
budayanya.
* Ikatan suku, ras, agama, daerah, bahasa, kebiasaan -- dapat hidup
berdampingan secara damai, saling mendukung dlm posisi setara, dan
menikmati kehidupan yang makin adil (dlm suatu negara atau wilayah
pengorganisasian hidup bersama).
* Multikulturalisme tidak untuk menghilangkan kekhususan (specifity) dari ciri
budaya; tidak juga untuk meleburnya ke dalam keumuman (generality) budaya.
* Multikulturalisme menawarkan hadirnya realitas ganda/ragam : differences –
similarities, diversity – unity, identity – integration, particularity – universality,
nationality – globality, etc.
Multikulturalisme: fokus pada relasi antarkebudayaan;
keberadaan kebudayaan yg satu hrs
mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya.
Muncul ide: toleransi, menghargai, kesetaraan
Politik multikultural: membangun ideologi yg
menempatkan kesetaraan dalam perbedaan sbg
sentralnya.
MULTIKULTURALISME
Perbedaan budaya scr historis hrs dihargai pemerintah dalam menjamin
persamaan hak dlm masy bangsa
Kritik atas pluralisme yg fokus pada keanekaragaman suku bangsa dan budaya shg
budaya dianggap entitas yg distinktif
Setiap kelompok budaya ingin hidup dengan caranya sendiri; dan ini adalah hak
mereka.
Tapi, jangan menjurus ke sikap dan tindakan yang eksklusif, egois, serta arogan
yang dapat mengancam kebersamaan kehidupan dalam keanekaragaman budaya.
Kecenderungan “partikular-eksklusif” harus dikontrol dan diimbangi dengan
semangat “universal-inklusif”.
Disebabkan:
-Lahirnya negara2 baru setelah PD II
-Determinisme teknologi
-Meningkatnya kesadaran berbangsa
-Demokratisasi & human rights
PRO-KONTRA MULTIKULTURALISME
Ada tiga: mendukung – mengkritisi – menolak.
Kelompok mayoritas dan atau yang diuntungkan dengan
statusquo, umumnya menolak perspektif multikulturalisme.
Kelompok minoritas dan atau yang termarjinalkan,
umumnya mendambakan/ mendukung multikulturalisme.
Kelompok intelektual sosial, umumnya mengambil sikap
kritis terhadap multikulturalisme.
Bikhu Parekh (2002)
Multikultural mencakup tiga komponen:
-Kebudayaan
-Pluralitas kebudayaan
-Cara merespon
Bukan abstrak tapi perlu Model yg aplikatif
Reformasi 1998:
-Isu-isu politik kebudayaan di Indonesia
-Isu-isu demokratisasi:
dari sentralistik-otoritarian ke desentralistik-otonomi daerah
Muncul isu-isu multikultural sebagai penguat kesatuan bangsa:
-Akibat desentralisasi thd Keanekaragaman: kontras-kontras atribut
-Minoritas vs mayoritas
-Dominan vs tidak dominan
-Putra daerah vs pendatang
Dulu “kuat” karena kekuatan sentralistik
Isu Multikulturalisme belum selesai
Apakah model yang pas untuk Indonesia?
Apakah model dari negara lain?
Kebanyakan kita bicara ‘Hasil’ bukan ‘Proses’
Hasil: pentingnya toleransi; saling menghargai, menjaga kerukunan; menghormati perbedaan; lebih
ke falsafah humanistik individu daripada sosial kolektif
Proses: berisi penjelasan model yg berisi konsep2 & strategi2 mencapai tujuan ‘yg abstrak’ di atas
Pandangan J.S Furnival (1948) ttg masy majemuk di
Indonesia
Akibat policy kolonial di Indonesia & Burma:
-Masyarakat beda rasial hanya bertemu di pasar
-Kebudayaan dilihat sbg ‘entitas otonom’ & ‘distinktif’ satu sama lainnya; Batas antarbudaya
tegas; Interaksi terbatas hanya di pasar atau alon-alon
-Masy majemuk: mereka berkumpul, bergaul, tapi ‘tdk bercampur’; msh memegang budaya
sendiri; berdampingan tapi terpisah dalam satuan politik yg sama.
Masy Majemuk di Indonesia disebabkan:
-Policy kolonial
-Letak geografis Indonesia yg terpisah laut
Lasleet (1982) membuat hipotesis:
“sistem otoritarian adalah bentuk adaptif dari suatu
pengaturan masy majemuk dg populasi besar dan
terpisah pulau yg banyak dan luas.”
Untuk Integrasi bangsa
KRITIK MODEL MASY MAJEMUK
Hanya cocok untuk konteks historis bukan sbg bentuk
struktural.
Sbg konstruksi kolonial mengatasnamakan ‘integrasi &
stabilitas nasional’:
-Diskriminasi ras/etnis, sistem kategori, kodifikasi hukum
-Segregasi & isolasi sosial bahkan menyingkirkan etnis,
misal apartheid
-Mengabaikan ciri polietnik masy dunia ketiga
Di Indonesia
Scr historis berbeda-beda
Tidak perlu pluralisme... Tapi Nasionalisme:
-Kesadaran identitas bersama
-Ideologi ttg historis bersama & senasib sepenanggungan
-Adanya gerakan sosial bersama untuk mencapai satu
tujuan bersama
Akan kuat jika ada musuh dari luar
TANTANGAN GLOBALISASI
Surutnya nasionalisme
Determinasi teknologi komunikasi
REFERENCES
Kriyantono, R. (2012). Etika & filsafat ilmu komunikasi. Malang: UB Press.
Mantik, M.J. (2012). Konsep multikulturalisme & pluralisme dalam “Lalita” kaya ayu utami.
Prosiding Seminar Internasional Multikultural & Globalisasi.
Syaifuddin, A.F. (2006). Membumikan multikulturalisme di Indonesia. Jurnal Etnovisi, 11 (1).
TERIMA KASIH SEMOGA
BERMANFAAT

More Related Content

Similar to 6._HARMONI_AGAMA_DAN_BUDAYA[.pptx

Multi kulturalisme
Multi kulturalismeMulti kulturalisme
Multi kulturalisme
zieyh mars ibrizah
 
Unit 1
Unit 1Unit 1
Makalah multikultural
Makalah multikulturalMakalah multikultural
Makalah multikultural
Septian Muna Barakati
 
Masyarakat multikultural disusun atas tiga kata
Masyarakat multikultural disusun atas tiga kataMasyarakat multikultural disusun atas tiga kata
Masyarakat multikultural disusun atas tiga kataMuR- MuRya-
 
Makalah Multikuturalisme
Makalah MultikuturalismeMakalah Multikuturalisme
Makalah Multikuturalisme
Juwita Yulianto
 
Ppt
PptPpt
Kelas xi iis copy
Kelas xi iis   copyKelas xi iis   copy
Kelas xi iis copy
Nurliza24
 
Kelas xi iis
Kelas xi iisKelas xi iis
Kelas xi iis
Nurliza24
 
Multietnik yapi
Multietnik yapiMultietnik yapi
Multietnik yapi
aris winandar
 
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.pptMANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
Askaria Jonison
 
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.pptMANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
Askaria Jonison
 
Hubungan Etnik Bab 1 Konsep Asas Hubungan Etnik
Hubungan Etnik Bab 1   Konsep Asas Hubungan EtnikHubungan Etnik Bab 1   Konsep Asas Hubungan Etnik
Hubungan Etnik Bab 1 Konsep Asas Hubungan EtnikWanBK Leo
 
PPT Materi Sosiologi Kelas XI Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP 2).pptx
PPT Materi Sosiologi Kelas XI Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP 2).pptxPPT Materi Sosiologi Kelas XI Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP 2).pptx
PPT Materi Sosiologi Kelas XI Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP 2).pptx
Lukeee2
 
Remidi bu haka
Remidi bu hakaRemidi bu haka
Remidi bu haka
Raissa Overbeeke
 
keragaman dan kesetaraan.pptx
keragaman dan kesetaraan.pptxkeragaman dan kesetaraan.pptx
keragaman dan kesetaraan.pptx
ArdianAlaziz
 
METODE ILMIAH DALAM MEMECAHKAN MASALAH.pptx
METODE ILMIAH DALAM MEMECAHKAN MASALAH.pptxMETODE ILMIAH DALAM MEMECAHKAN MASALAH.pptx
METODE ILMIAH DALAM MEMECAHKAN MASALAH.pptx
ArdianAlaziz
 
keanekaragaman Budaya
keanekaragaman Budayakeanekaragaman Budaya
keanekaragaman Budaya
Dini Saputri
 

Similar to 6._HARMONI_AGAMA_DAN_BUDAYA[.pptx (20)

Multi kulturalisme
Multi kulturalismeMulti kulturalisme
Multi kulturalisme
 
Unit 1
Unit 1Unit 1
Unit 1
 
Makalah multikultural
Makalah multikulturalMakalah multikultural
Makalah multikultural
 
Budaya konteks multikultural
Budaya konteks multikulturalBudaya konteks multikultural
Budaya konteks multikultural
 
Masyarakat multikultural disusun atas tiga kata
Masyarakat multikultural disusun atas tiga kataMasyarakat multikultural disusun atas tiga kata
Masyarakat multikultural disusun atas tiga kata
 
Makalah Multikuturalisme
Makalah MultikuturalismeMakalah Multikuturalisme
Makalah Multikuturalisme
 
Ppt
PptPpt
Ppt
 
Kelas xi iis copy
Kelas xi iis   copyKelas xi iis   copy
Kelas xi iis copy
 
Kelas xi iis
Kelas xi iisKelas xi iis
Kelas xi iis
 
Multietnik yapi
Multietnik yapiMultietnik yapi
Multietnik yapi
 
Bab vi power point
Bab vi power pointBab vi power point
Bab vi power point
 
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.pptMANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
 
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.pptMANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
MANUSIA, KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN.ppt
 
Hubungan Etnik Bab 1 Konsep Asas Hubungan Etnik
Hubungan Etnik Bab 1   Konsep Asas Hubungan EtnikHubungan Etnik Bab 1   Konsep Asas Hubungan Etnik
Hubungan Etnik Bab 1 Konsep Asas Hubungan Etnik
 
Makalah multikultural
Makalah multikulturalMakalah multikultural
Makalah multikultural
 
PPT Materi Sosiologi Kelas XI Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP 2).pptx
PPT Materi Sosiologi Kelas XI Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP 2).pptxPPT Materi Sosiologi Kelas XI Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP 2).pptx
PPT Materi Sosiologi Kelas XI Bab 6. Masyarakat Multikultural (KTSP 2).pptx
 
Remidi bu haka
Remidi bu hakaRemidi bu haka
Remidi bu haka
 
keragaman dan kesetaraan.pptx
keragaman dan kesetaraan.pptxkeragaman dan kesetaraan.pptx
keragaman dan kesetaraan.pptx
 
METODE ILMIAH DALAM MEMECAHKAN MASALAH.pptx
METODE ILMIAH DALAM MEMECAHKAN MASALAH.pptxMETODE ILMIAH DALAM MEMECAHKAN MASALAH.pptx
METODE ILMIAH DALAM MEMECAHKAN MASALAH.pptx
 
keanekaragaman Budaya
keanekaragaman Budayakeanekaragaman Budaya
keanekaragaman Budaya
 

More from Solin123

Kepribadian Sukses Menuju ke Dalam Islam
Kepribadian Sukses Menuju ke Dalam IslamKepribadian Sukses Menuju ke Dalam Islam
Kepribadian Sukses Menuju ke Dalam Islam
Solin123
 
STRATEGI PELAYANAN PRIMA PADA JEMAAH HAJI RAMAH LANSIA(1).pptx
STRATEGI PELAYANAN PRIMA PADA JEMAAH HAJI RAMAH LANSIA(1).pptxSTRATEGI PELAYANAN PRIMA PADA JEMAAH HAJI RAMAH LANSIA(1).pptx
STRATEGI PELAYANAN PRIMA PADA JEMAAH HAJI RAMAH LANSIA(1).pptx
Solin123
 
1. Agama_Landasan_Aspek_Kahidupan_.pptx
1. Agama_Landasan_Aspek_Kahidupan_.pptx1. Agama_Landasan_Aspek_Kahidupan_.pptx
1. Agama_Landasan_Aspek_Kahidupan_.pptx
Solin123
 
2._KEMAJEMUKAN_AGAMA_DI_INDONESIA[1](1).pptx
2._KEMAJEMUKAN_AGAMA_DI_INDONESIA[1](1).pptx2._KEMAJEMUKAN_AGAMA_DI_INDONESIA[1](1).pptx
2._KEMAJEMUKAN_AGAMA_DI_INDONESIA[1](1).pptx
Solin123
 
41-Takwinul-Ummah.pptx
41-Takwinul-Ummah.pptx41-Takwinul-Ummah.pptx
41-Takwinul-Ummah.pptx
Solin123
 
materi-karo-ortala-lakip-bandung-050812.ppt
materi-karo-ortala-lakip-bandung-050812.pptmateri-karo-ortala-lakip-bandung-050812.ppt
materi-karo-ortala-lakip-bandung-050812.ppt
Solin123
 
ANGGARAN.ppt
ANGGARAN.pptANGGARAN.ppt
ANGGARAN.ppt
Solin123
 
DESAINULANGORGANISASIDENGANSISTEMINFORMASI.ppt
DESAINULANGORGANISASIDENGANSISTEMINFORMASI.pptDESAINULANGORGANISASIDENGANSISTEMINFORMASI.ppt
DESAINULANGORGANISASIDENGANSISTEMINFORMASI.ppt
Solin123
 
2-RUNDOWN-HARI-PUNCAK-F3G-2019-edit-30-JUNI.pptx
2-RUNDOWN-HARI-PUNCAK-F3G-2019-edit-30-JUNI.pptx2-RUNDOWN-HARI-PUNCAK-F3G-2019-edit-30-JUNI.pptx
2-RUNDOWN-HARI-PUNCAK-F3G-2019-edit-30-JUNI.pptx
Solin123
 
Teknik-Membawakan-Acara.pptx
Teknik-Membawakan-Acara.pptxTeknik-Membawakan-Acara.pptx
Teknik-Membawakan-Acara.pptx
Solin123
 
Materi_Penyusunan_Pagu_Anggaran_Ditjen_Bimas_Buddha_th_2021.pptx
Materi_Penyusunan_Pagu_Anggaran_Ditjen_Bimas_Buddha_th_2021.pptxMateri_Penyusunan_Pagu_Anggaran_Ditjen_Bimas_Buddha_th_2021.pptx
Materi_Penyusunan_Pagu_Anggaran_Ditjen_Bimas_Buddha_th_2021.pptx
Solin123
 
Reformulasi_IKPA_2022.pptx
Reformulasi_IKPA_2022.pptxReformulasi_IKPA_2022.pptx
Reformulasi_IKPA_2022.pptx
Solin123
 
1991311.ppt
1991311.ppt1991311.ppt
1991311.ppt
Solin123
 
2807931.ppt
2807931.ppt2807931.ppt
2807931.ppt
Solin123
 
MUHAMMADIYAH_SANG_PENCERAH.pptx
MUHAMMADIYAH_SANG_PENCERAH.pptxMUHAMMADIYAH_SANG_PENCERAH.pptx
MUHAMMADIYAH_SANG_PENCERAH.pptx
Solin123
 
11912624.ppt
11912624.ppt11912624.ppt
11912624.ppt
Solin123
 
Islam_Berkemajuan_di_Era_Teror.pptx
Islam_Berkemajuan_di_Era_Teror.pptxIslam_Berkemajuan_di_Era_Teror.pptx
Islam_Berkemajuan_di_Era_Teror.pptx
Solin123
 

More from Solin123 (17)

Kepribadian Sukses Menuju ke Dalam Islam
Kepribadian Sukses Menuju ke Dalam IslamKepribadian Sukses Menuju ke Dalam Islam
Kepribadian Sukses Menuju ke Dalam Islam
 
STRATEGI PELAYANAN PRIMA PADA JEMAAH HAJI RAMAH LANSIA(1).pptx
STRATEGI PELAYANAN PRIMA PADA JEMAAH HAJI RAMAH LANSIA(1).pptxSTRATEGI PELAYANAN PRIMA PADA JEMAAH HAJI RAMAH LANSIA(1).pptx
STRATEGI PELAYANAN PRIMA PADA JEMAAH HAJI RAMAH LANSIA(1).pptx
 
1. Agama_Landasan_Aspek_Kahidupan_.pptx
1. Agama_Landasan_Aspek_Kahidupan_.pptx1. Agama_Landasan_Aspek_Kahidupan_.pptx
1. Agama_Landasan_Aspek_Kahidupan_.pptx
 
2._KEMAJEMUKAN_AGAMA_DI_INDONESIA[1](1).pptx
2._KEMAJEMUKAN_AGAMA_DI_INDONESIA[1](1).pptx2._KEMAJEMUKAN_AGAMA_DI_INDONESIA[1](1).pptx
2._KEMAJEMUKAN_AGAMA_DI_INDONESIA[1](1).pptx
 
41-Takwinul-Ummah.pptx
41-Takwinul-Ummah.pptx41-Takwinul-Ummah.pptx
41-Takwinul-Ummah.pptx
 
materi-karo-ortala-lakip-bandung-050812.ppt
materi-karo-ortala-lakip-bandung-050812.pptmateri-karo-ortala-lakip-bandung-050812.ppt
materi-karo-ortala-lakip-bandung-050812.ppt
 
ANGGARAN.ppt
ANGGARAN.pptANGGARAN.ppt
ANGGARAN.ppt
 
DESAINULANGORGANISASIDENGANSISTEMINFORMASI.ppt
DESAINULANGORGANISASIDENGANSISTEMINFORMASI.pptDESAINULANGORGANISASIDENGANSISTEMINFORMASI.ppt
DESAINULANGORGANISASIDENGANSISTEMINFORMASI.ppt
 
2-RUNDOWN-HARI-PUNCAK-F3G-2019-edit-30-JUNI.pptx
2-RUNDOWN-HARI-PUNCAK-F3G-2019-edit-30-JUNI.pptx2-RUNDOWN-HARI-PUNCAK-F3G-2019-edit-30-JUNI.pptx
2-RUNDOWN-HARI-PUNCAK-F3G-2019-edit-30-JUNI.pptx
 
Teknik-Membawakan-Acara.pptx
Teknik-Membawakan-Acara.pptxTeknik-Membawakan-Acara.pptx
Teknik-Membawakan-Acara.pptx
 
Materi_Penyusunan_Pagu_Anggaran_Ditjen_Bimas_Buddha_th_2021.pptx
Materi_Penyusunan_Pagu_Anggaran_Ditjen_Bimas_Buddha_th_2021.pptxMateri_Penyusunan_Pagu_Anggaran_Ditjen_Bimas_Buddha_th_2021.pptx
Materi_Penyusunan_Pagu_Anggaran_Ditjen_Bimas_Buddha_th_2021.pptx
 
Reformulasi_IKPA_2022.pptx
Reformulasi_IKPA_2022.pptxReformulasi_IKPA_2022.pptx
Reformulasi_IKPA_2022.pptx
 
1991311.ppt
1991311.ppt1991311.ppt
1991311.ppt
 
2807931.ppt
2807931.ppt2807931.ppt
2807931.ppt
 
MUHAMMADIYAH_SANG_PENCERAH.pptx
MUHAMMADIYAH_SANG_PENCERAH.pptxMUHAMMADIYAH_SANG_PENCERAH.pptx
MUHAMMADIYAH_SANG_PENCERAH.pptx
 
11912624.ppt
11912624.ppt11912624.ppt
11912624.ppt
 
Islam_Berkemajuan_di_Era_Teror.pptx
Islam_Berkemajuan_di_Era_Teror.pptxIslam_Berkemajuan_di_Era_Teror.pptx
Islam_Berkemajuan_di_Era_Teror.pptx
 

Recently uploaded

RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF.pdf
RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF.pdfRANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF.pdf
RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF.pdf
junarpudin36
 
refleksi tindak lanjut d pmm agar lebih mudah
refleksi tindak lanjut d pmm agar lebih mudahrefleksi tindak lanjut d pmm agar lebih mudah
refleksi tindak lanjut d pmm agar lebih mudah
muhamadsufii48
 
Juknis penggunaan aplikasi ecoklit pilkada 2024
Juknis penggunaan  aplikasi ecoklit pilkada 2024Juknis penggunaan  aplikasi ecoklit pilkada 2024
Juknis penggunaan aplikasi ecoklit pilkada 2024
abdinahyan
 
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul AjarPowerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
MashudiMashudi12
 
705368319-Ppt-Aksi-Nyata-Membuat-Rancangan-Pembelajaran-Dengan-Metode-Fonik.pptx
705368319-Ppt-Aksi-Nyata-Membuat-Rancangan-Pembelajaran-Dengan-Metode-Fonik.pptx705368319-Ppt-Aksi-Nyata-Membuat-Rancangan-Pembelajaran-Dengan-Metode-Fonik.pptx
705368319-Ppt-Aksi-Nyata-Membuat-Rancangan-Pembelajaran-Dengan-Metode-Fonik.pptx
nimah111
 
ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT PABRIK ASPAL
ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT PABRIK ASPALANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT PABRIK ASPAL
ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT PABRIK ASPAL
Annisa Syahfitri
 
1 Kisi-kisi PAT Sosiologi Kelas X -www.kherysuryawan.id.docx
1 Kisi-kisi PAT Sosiologi Kelas X -www.kherysuryawan.id.docx1 Kisi-kisi PAT Sosiologi Kelas X -www.kherysuryawan.id.docx
1 Kisi-kisi PAT Sosiologi Kelas X -www.kherysuryawan.id.docx
asepridwan50
 
MODUL AJAR MAT LANJUT KELAS XI FASE F.pdf
MODUL AJAR MAT LANJUT KELAS XI FASE F.pdfMODUL AJAR MAT LANJUT KELAS XI FASE F.pdf
MODUL AJAR MAT LANJUT KELAS XI FASE F.pdf
sitispd78
 
PELAKSANAAN + Link2 Materi Pelatihan_ PENGAWASAN P3DN & TKDN_ pd PENGADAAN Ba...
PELAKSANAAN + Link2 Materi Pelatihan_ PENGAWASAN P3DN & TKDN_ pd PENGADAAN Ba...PELAKSANAAN + Link2 Materi Pelatihan_ PENGAWASAN P3DN & TKDN_ pd PENGADAAN Ba...
PELAKSANAAN + Link2 Materi Pelatihan_ PENGAWASAN P3DN & TKDN_ pd PENGADAAN Ba...
Kanaidi ken
 
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada AnakDefenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak
 
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docxLaporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
RUBEN Mbiliyora
 
JUKNIS SOSIALIASI PPDB JATENG 2024/2025.PDF
JUKNIS SOSIALIASI PPDB JATENG 2024/2025.PDFJUKNIS SOSIALIASI PPDB JATENG 2024/2025.PDF
JUKNIS SOSIALIASI PPDB JATENG 2024/2025.PDF
budimoko2
 
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Kanaidi ken
 
Aksi Nyata Erliana Mudah bukan memahamii
Aksi Nyata Erliana Mudah bukan memahamiiAksi Nyata Erliana Mudah bukan memahamii
Aksi Nyata Erliana Mudah bukan memahamii
esmaducoklat
 
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Fathan Emran
 
Ppt landasan pendidikan Pai 9 _20240604_231000_0000.pdf
Ppt landasan pendidikan Pai 9 _20240604_231000_0000.pdfPpt landasan pendidikan Pai 9 _20240604_231000_0000.pdf
Ppt landasan pendidikan Pai 9 _20240604_231000_0000.pdf
fadlurrahman260903
 
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARUAKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
junaedikuluri1
 
Aksi Nyata Merdeka Belajar Lolos Validasi
Aksi Nyata Merdeka Belajar Lolos ValidasiAksi Nyata Merdeka Belajar Lolos Validasi
Aksi Nyata Merdeka Belajar Lolos Validasi
DinaSetiawan2
 
PPT ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4. budaya positfpdf
PPT ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4. budaya positfpdfPPT ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4. budaya positfpdf
PPT ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4. budaya positfpdf
SdyokoSusanto1
 
SINOPSIS, TEMA DAN PERSOALAN NOVEL MENITI IMPIAN
SINOPSIS, TEMA DAN PERSOALAN NOVEL MENITI IMPIANSINOPSIS, TEMA DAN PERSOALAN NOVEL MENITI IMPIAN
SINOPSIS, TEMA DAN PERSOALAN NOVEL MENITI IMPIAN
NanieIbrahim
 

Recently uploaded (20)

RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF.pdf
RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF.pdfRANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF.pdf
RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF.pdf
 
refleksi tindak lanjut d pmm agar lebih mudah
refleksi tindak lanjut d pmm agar lebih mudahrefleksi tindak lanjut d pmm agar lebih mudah
refleksi tindak lanjut d pmm agar lebih mudah
 
Juknis penggunaan aplikasi ecoklit pilkada 2024
Juknis penggunaan  aplikasi ecoklit pilkada 2024Juknis penggunaan  aplikasi ecoklit pilkada 2024
Juknis penggunaan aplikasi ecoklit pilkada 2024
 
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul AjarPowerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
 
705368319-Ppt-Aksi-Nyata-Membuat-Rancangan-Pembelajaran-Dengan-Metode-Fonik.pptx
705368319-Ppt-Aksi-Nyata-Membuat-Rancangan-Pembelajaran-Dengan-Metode-Fonik.pptx705368319-Ppt-Aksi-Nyata-Membuat-Rancangan-Pembelajaran-Dengan-Metode-Fonik.pptx
705368319-Ppt-Aksi-Nyata-Membuat-Rancangan-Pembelajaran-Dengan-Metode-Fonik.pptx
 
ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT PABRIK ASPAL
ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT PABRIK ASPALANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT PABRIK ASPAL
ANALISIS PENCEMARAN UDARA AKIBAT PABRIK ASPAL
 
1 Kisi-kisi PAT Sosiologi Kelas X -www.kherysuryawan.id.docx
1 Kisi-kisi PAT Sosiologi Kelas X -www.kherysuryawan.id.docx1 Kisi-kisi PAT Sosiologi Kelas X -www.kherysuryawan.id.docx
1 Kisi-kisi PAT Sosiologi Kelas X -www.kherysuryawan.id.docx
 
MODUL AJAR MAT LANJUT KELAS XI FASE F.pdf
MODUL AJAR MAT LANJUT KELAS XI FASE F.pdfMODUL AJAR MAT LANJUT KELAS XI FASE F.pdf
MODUL AJAR MAT LANJUT KELAS XI FASE F.pdf
 
PELAKSANAAN + Link2 Materi Pelatihan_ PENGAWASAN P3DN & TKDN_ pd PENGADAAN Ba...
PELAKSANAAN + Link2 Materi Pelatihan_ PENGAWASAN P3DN & TKDN_ pd PENGADAAN Ba...PELAKSANAAN + Link2 Materi Pelatihan_ PENGAWASAN P3DN & TKDN_ pd PENGADAAN Ba...
PELAKSANAAN + Link2 Materi Pelatihan_ PENGAWASAN P3DN & TKDN_ pd PENGADAAN Ba...
 
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada AnakDefenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
 
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docxLaporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
 
JUKNIS SOSIALIASI PPDB JATENG 2024/2025.PDF
JUKNIS SOSIALIASI PPDB JATENG 2024/2025.PDFJUKNIS SOSIALIASI PPDB JATENG 2024/2025.PDF
JUKNIS SOSIALIASI PPDB JATENG 2024/2025.PDF
 
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
 
Aksi Nyata Erliana Mudah bukan memahamii
Aksi Nyata Erliana Mudah bukan memahamiiAksi Nyata Erliana Mudah bukan memahamii
Aksi Nyata Erliana Mudah bukan memahamii
 
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
 
Ppt landasan pendidikan Pai 9 _20240604_231000_0000.pdf
Ppt landasan pendidikan Pai 9 _20240604_231000_0000.pdfPpt landasan pendidikan Pai 9 _20240604_231000_0000.pdf
Ppt landasan pendidikan Pai 9 _20240604_231000_0000.pdf
 
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARUAKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
AKSI NYATA TRANSISI PAUD-SD : PENGUATAN DI TAHUN AJARAN BARU
 
Aksi Nyata Merdeka Belajar Lolos Validasi
Aksi Nyata Merdeka Belajar Lolos ValidasiAksi Nyata Merdeka Belajar Lolos Validasi
Aksi Nyata Merdeka Belajar Lolos Validasi
 
PPT ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4. budaya positfpdf
PPT ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4. budaya positfpdfPPT ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4. budaya positfpdf
PPT ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4. budaya positfpdf
 
SINOPSIS, TEMA DAN PERSOALAN NOVEL MENITI IMPIAN
SINOPSIS, TEMA DAN PERSOALAN NOVEL MENITI IMPIANSINOPSIS, TEMA DAN PERSOALAN NOVEL MENITI IMPIAN
SINOPSIS, TEMA DAN PERSOALAN NOVEL MENITI IMPIAN
 

6._HARMONI_AGAMA_DAN_BUDAYA[.pptx

  • 1. HARMONI AGAMA DAN BUDAYA Oleh : TIM BDK SMG ALAI DIKLAT KEAGAMAAN SEMARANG
  • 2. Pentingnya diskusi multikultural Benturan Budaya adalah hal yg pasti: -Perbedaan antara peradaban tidak hanya riil, tetapi juga mendasar. -Dunia makin menyempit, interaksi beda peradaban makin meningkat. -Modernisasi ekonomi dan sosial dunia: Tercerabutnya identitas lokal & memperlemah negara-negara sebagai sumber identitas. -Barat menjadi episentrum kekuatan budaya: (1) menjadi kiblat budaya; tapi juga (2) kesadaran budaya, yaitu kembalinya fenomena asal (Non-Barat). -Karakteristik dan perbedaan budaya kurang bisa menyatu dan berkompromi dibanding karakteristik dan perbedaan politik dan ekonomi.
  • 3. Bisa muncul masalah: clash of civilization, culture war, konflik etnis, perlakuan dan kebijakan diskriminatif, hubungan eksploitatif, bias (perlakuan tak adil yang tak disengaja), prasangka negatif, kesalahpahaman, marjinalisasi, kekerasan fisik/simbolik, ketimpangan dan kesenjangan yang tajam
  • 4. POLITIK BUDAYA ORBA Alasan stabilitas nasional: “politik seragamisasi‟ sentralistik. “Politik seragamisasi‟ ini memang masih mengakui sifat pluralitas (kemajemukan) bangsa. Tetapi, kemajemukan ini –mengacu pendapat John Rex (1997)- hanya terjadi pada ruang privat, yaitu ruang bagi setiap orang dan kelompok diberi kebebasan mengekspresikan nilai-nilai maupun cara pandang mereka. Sementara, kesetaraan dan kesempatan dalam berbagai bidang bagi elemen bangsa tidak disediakan oleh negara di ruang publik. Katak dalam tempurung: individu/kelompok hanya mengenal arti kebebasan di antara mereka sendiri tanpa mengenal hak kebebasan dan perbedaan kelompok lain. Muncul fragmentasi sosial: (1) orang Tionghoa tersekat hanya di dunia bisnis seiring dengan “nasionalisasi” nama yang berbau Tionghoa; (2) perbedaanperbedaan antara pusat-daerah atau dalam pelayanan publik
  • 5. Kesenjangan dalam ruang-ruang publik ini jadi pemantik demokratisasi yang membuat runtuhnya Orba. Demokrasi: membuka kran kebebasan Demokrasi: Belum siap seperangkat norma di ruang publik – seperti politik, hukum, ekonomi, dan pendidikan- yang menjamin kesetaraan dan kesempatan yang sama. Masyarakat belum siap untuk menjadi masyarakat multikultural (masyarakat yang menghargai kebebasan dan perbedaan kelompok lain) konflik-konflik sosial. Dengan kata lain, demokrasi sebenarnya mensyaratkan perspektif multikultural sebagai pondasinya.
  • 6. Samuel P. Huntington (1993): -bahwa sebenarnya konflik antar peradaban di masa depan tidak lagi disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, politik dan ideologi, tetapi justru dipicu oleh masalah masalah suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). -Konflik tersebut menjadi gejala terkuat yang menandai runtuhnya polarisasi ideologi dunia kedalam komunisme dan kapitalisme. -Di Amerika, multikultural muncul karena kegagalan pemimpin di dalam mempersatukan orang Negro dengan orang Kulit Putih
  • 7. Terbukti: Runtuhnya struktur politik negara-negara Eropa Timur (akhir 1980-awal 1990). Di era 1980-an: terjadinya perang etnik di kawasan Balkan, di Yugoslavia., pasca pemerintahan Josep Broz Tito: Keragaman, yang disatu sisi merupakan kekayaan dan kekuatan, berbalik menjadi sumber perpecahan ketika leadership yang mengikatnya lengser.
  • 8. PENGERTIAN Dari aspek Antropologi: multikultura & plural = sama, masy yg memiliki keragaman budaya Multi = banyak; Kultur = budaya Plural = jamak Sufiks “isme’: membawa dampak psikologis terkait beda ideologi
  • 9. PENGERTIAN “Multikulturalisme”: pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007) Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174) Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007)
  • 10. SIFAT MULTIKULTURAL * Sifat yang mengakui dan menghargai perbedaan dalam kesederajatan. * Sifat ini tumbuh dari paham multikulturalisme, yaitu cara pandang tentang keberagaman kehidupan yang menekankan penerimaan terhadap realitas perbedaan -agama, budaya, dan worldview- yang terdapat dalam masyarakat. * Jika sifat multikultural ini terinternalisasi pada diri individu, maka individu tersebut akan secara terbuka memahami, menghargai serta mengkaji budaya orang lain yang dilandasi oleh semangat menghormati dalam kebersamaan.
  • 11. MULTIKULTURALISME PLURALISME ideologi yg mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individu maupun komunal (Politic of Recognition) Lebih menekankan pada interaksi antarbudaya sbg entitas yg memiliki hak & kewajiban yg sama ideologi yg memandang keanekaragaman budaya yg lebih menekankan perbedaan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Kurang memerhatikan interaksinya Lebih menonjolkan keunikan dan entitas itu sendiri Lebih cenderung sbg politik kebudayaan seragam
  • 12. PENYEBARAN PAHAM MULTIKULTURALISME di BERBAGAI NEGARA Runtuhnya Uni Soviet dan Eropa Timur yang menandai berakhirnya perang dingin, telah mempercepat dan meningkatkan intensitas globalisasi di berbagai bidang. Sejak itu, AS seolah menjadi penguasa dunia. Sehingga, hampir semua yang berbau AS cepat dan mudah merambah ke berbagai dunia. Termasuk, pengalaman sejarah multikulturalisme di AS.
  • 13. PERJALANAN MULTIKULTURALISME DI AS Dinamika perspektif keanekaragaman di AS dimulai dengan “melting-pot assimilation” menjadi “salad bowl” berkembang lagi menjadi “cultural pluralism” dan akhirnya “multiculturalism”. Dinamika perspektif itu bermula dari gerakan warga kulit hitam yang menuntut kesetaraan hak sipil dan politik pada 1960-an. Kemudian tahun 1970-an muncul gerakan civil society, yang diikuti gerakan perempuan, lalu muncul gerakan “pribumi Amerika” dan kelompok kulit berwarna. Pada tahun 1980-an hingga 1990-an muncul pemikiran kritis terhadap kurikulum sekolah dasar perihal sejarah, demografi, dan pendidikan kewarganegaraan, yang menggugat perspektif melting-pot assimilation.
  • 14. 1. MELTING-POT ASSIMILATION Menyatukan seluruh budaya dengan meleburkan masing-masing budaya Konsep ini dipopulerkan melalui drama karya Zangwill. Dalam perspektif melting-pot ditonjolkan perihal lahirnya “manusia baru” yang disebut Amerika, yaitu merupakan idealisasi peleburan beraneka ragam budaya yang berasal dari Eropa dan Afrika. Pemikiran kritis mengungkapkan bahwa melting-pot ternyata bersifat monokultur. Karena, dominasi dan hegemoni WASP (White Anglo-Saxon Protestant) amat mengedepan.
  • 15. 2. SALAD BOWL Untuk mengakomodasi dan mengapresiasi kontribusi non-WASP, dikembangkan perspektif pengganti yang disebut “salad bowl”. Budaya asal tidak dihilangkan tapi diakomodasi dan memberikan kontribusi bagi budaya bangsa, tapi, interaksi kultural belum berkembang baik Unsur non-WASP memang diakomodasi, tapi ternyata tak mengurangi unsur pokoknya yang dominan, yaitu budaya WASP. Perspektif salad bowl masih tetap dirasakan mengecewakan oleh non-WASP.
  • 16. 3. CULTURAL PLURALISM Horace Kallen (1970) memperkenalkan perspektif “cultural pluralism” untuk menggantikan salad bowl. Perspektif ini membedakan antara ruang publik dan ruang privat. Ruang publik: ruang terbuka tempat bertemunya orang dari berbagai ikatan budaya. Ruang privat: ruang yang disediakan untuk mewadahi dan merawat spesifikasi ikatan budaya di dalam masing-masing keluarga atau komunitas yang berbeda-beda. Ternyata perspektif ini juga rapuh dan tak memuaskan, karena mengandaikan dapat memisahkan sepenuhnya antara ruang publik dan ruang privat. Di samping itu mengandaikan wilayah non-budaya terlepas dari wilayah budaya di dalam ruang publik.
  • 17. 4. MULTICULTURALISM * Diperkenalkan tahun 1980-an, sebagai upaya memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi di ruang publik, dan selanjutnya juga mengkritisi jalinan hubungan kekuasaan yang ada agar menjamin hak, keadilan dan kesempatan yang sama bagi semua WN yang dihormati latar belakang ikatan budayanya. * Ikatan suku, ras, agama, daerah, bahasa, kebiasaan -- dapat hidup berdampingan secara damai, saling mendukung dlm posisi setara, dan menikmati kehidupan yang makin adil (dlm suatu negara atau wilayah pengorganisasian hidup bersama). * Multikulturalisme tidak untuk menghilangkan kekhususan (specifity) dari ciri budaya; tidak juga untuk meleburnya ke dalam keumuman (generality) budaya. * Multikulturalisme menawarkan hadirnya realitas ganda/ragam : differences – similarities, diversity – unity, identity – integration, particularity – universality, nationality – globality, etc.
  • 18. Multikulturalisme: fokus pada relasi antarkebudayaan; keberadaan kebudayaan yg satu hrs mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya. Muncul ide: toleransi, menghargai, kesetaraan Politik multikultural: membangun ideologi yg menempatkan kesetaraan dalam perbedaan sbg sentralnya.
  • 19. MULTIKULTURALISME Perbedaan budaya scr historis hrs dihargai pemerintah dalam menjamin persamaan hak dlm masy bangsa Kritik atas pluralisme yg fokus pada keanekaragaman suku bangsa dan budaya shg budaya dianggap entitas yg distinktif Setiap kelompok budaya ingin hidup dengan caranya sendiri; dan ini adalah hak mereka. Tapi, jangan menjurus ke sikap dan tindakan yang eksklusif, egois, serta arogan yang dapat mengancam kebersamaan kehidupan dalam keanekaragaman budaya. Kecenderungan “partikular-eksklusif” harus dikontrol dan diimbangi dengan semangat “universal-inklusif”. Disebabkan: -Lahirnya negara2 baru setelah PD II -Determinisme teknologi -Meningkatnya kesadaran berbangsa -Demokratisasi & human rights
  • 20. PRO-KONTRA MULTIKULTURALISME Ada tiga: mendukung – mengkritisi – menolak. Kelompok mayoritas dan atau yang diuntungkan dengan statusquo, umumnya menolak perspektif multikulturalisme. Kelompok minoritas dan atau yang termarjinalkan, umumnya mendambakan/ mendukung multikulturalisme. Kelompok intelektual sosial, umumnya mengambil sikap kritis terhadap multikulturalisme.
  • 21. Bikhu Parekh (2002) Multikultural mencakup tiga komponen: -Kebudayaan -Pluralitas kebudayaan -Cara merespon Bukan abstrak tapi perlu Model yg aplikatif
  • 22. Reformasi 1998: -Isu-isu politik kebudayaan di Indonesia -Isu-isu demokratisasi: dari sentralistik-otoritarian ke desentralistik-otonomi daerah Muncul isu-isu multikultural sebagai penguat kesatuan bangsa: -Akibat desentralisasi thd Keanekaragaman: kontras-kontras atribut -Minoritas vs mayoritas -Dominan vs tidak dominan -Putra daerah vs pendatang Dulu “kuat” karena kekuatan sentralistik
  • 23. Isu Multikulturalisme belum selesai Apakah model yang pas untuk Indonesia? Apakah model dari negara lain? Kebanyakan kita bicara ‘Hasil’ bukan ‘Proses’ Hasil: pentingnya toleransi; saling menghargai, menjaga kerukunan; menghormati perbedaan; lebih ke falsafah humanistik individu daripada sosial kolektif Proses: berisi penjelasan model yg berisi konsep2 & strategi2 mencapai tujuan ‘yg abstrak’ di atas
  • 24. Pandangan J.S Furnival (1948) ttg masy majemuk di Indonesia Akibat policy kolonial di Indonesia & Burma: -Masyarakat beda rasial hanya bertemu di pasar -Kebudayaan dilihat sbg ‘entitas otonom’ & ‘distinktif’ satu sama lainnya; Batas antarbudaya tegas; Interaksi terbatas hanya di pasar atau alon-alon -Masy majemuk: mereka berkumpul, bergaul, tapi ‘tdk bercampur’; msh memegang budaya sendiri; berdampingan tapi terpisah dalam satuan politik yg sama.
  • 25. Masy Majemuk di Indonesia disebabkan: -Policy kolonial -Letak geografis Indonesia yg terpisah laut Lasleet (1982) membuat hipotesis: “sistem otoritarian adalah bentuk adaptif dari suatu pengaturan masy majemuk dg populasi besar dan terpisah pulau yg banyak dan luas.” Untuk Integrasi bangsa
  • 26. KRITIK MODEL MASY MAJEMUK Hanya cocok untuk konteks historis bukan sbg bentuk struktural. Sbg konstruksi kolonial mengatasnamakan ‘integrasi & stabilitas nasional’: -Diskriminasi ras/etnis, sistem kategori, kodifikasi hukum -Segregasi & isolasi sosial bahkan menyingkirkan etnis, misal apartheid -Mengabaikan ciri polietnik masy dunia ketiga
  • 27. Di Indonesia Scr historis berbeda-beda Tidak perlu pluralisme... Tapi Nasionalisme: -Kesadaran identitas bersama -Ideologi ttg historis bersama & senasib sepenanggungan -Adanya gerakan sosial bersama untuk mencapai satu tujuan bersama Akan kuat jika ada musuh dari luar
  • 29. REFERENCES Kriyantono, R. (2012). Etika & filsafat ilmu komunikasi. Malang: UB Press. Mantik, M.J. (2012). Konsep multikulturalisme & pluralisme dalam “Lalita” kaya ayu utami. Prosiding Seminar Internasional Multikultural & Globalisasi. Syaifuddin, A.F. (2006). Membumikan multikulturalisme di Indonesia. Jurnal Etnovisi, 11 (1).

Editor's Notes

  1. White Anglo Saxon Protestant