Pelatihan Kecerdasan Nurani dan Spiritual

17,590 views

Published on

Sebelum Anda "Download" Silahkan "Follow" atau Beri "Like" terlebih dahulu. Thx.

Bagi yang membutuhkan INHOUSE TRAINING, Silahkan Hubungi : 0878-7063-5053 (Fast Response). TARIF PELATIHAN SANGAT MURAH !!!

Bagi yang Membuituhkan Pelatihan ini, Hubungi Fast Response : 0878-7063-5053

Published in: Spiritual
  • Be the first to comment

Pelatihan Kecerdasan Nurani dan Spiritual

  1. 1. KECERDASAN NURANI DAN SPIRITUAL Oleh M. Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr.
  2. 2. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 1 BAB 3 KECERDASAN NURANI DAN SPIRITUAL Di dalam diri setiap manusia selalu ada suara hati yang yang ingin menyeimbangkan antara kepentingan dunia dengan kepentingan akhirat karena suara hati datang dari Allah secara given (sudah ada sejak awal). Suara hati itu tentunya timbul dari hati nurani manusia yang paling dalam yang berperan sebagai fitrah manusia itu sendiri. Hati nurani selalu ingin menyeimbangkan antara spiritualisme dengan materialisme, dan antara faktor insaniyah (kemanusiaan) dengan faktor illahiyah (ketuhanan). Selama ini orang biasanya hanya mengenal berbagai jenis kecerdasan konvensional yang sudah ada, yang di antaranya adalah : kecerdasan intelegensi (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), sementara kecerdasan daya juang (AQ) belum banyak diketahui orang. Begitu juga dengan kecerdasan nurani (Qolb Quotient - QQ), masih sangat sedikit sekali orang yang mengenalnya apalagi memahaminya. Padahal, kecerdasan nurani ini adalah kecerdasan yang sama tuanya dengan kecerdasan intelegensi (IQ). Kecerdasan nurani (QQ) telah dianugerahkan Allah kepada manusia sejak pertama kali manusia berada dalam kandungan ibu, yang disebut dengan af-idah. Af-idah ini adalah kecerdasan yang berpasangan antara IQ (akal) dan QQ (budi), oleh karena itu sering disebut dengan akal-budi. Budi itulah sebenarnya yang disebut dengan hati nurani. Hati nurani ini merupakan salah satu unsur paling utama dari fitrah diri manusia.
  3. 3. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 2 Perhatikan Gambar berikut ini : Kecerdasan Nurani (QQ) adalah sesuai dengan prinsip- prinsip keseimbangan di antara : Manusia dengan manusia (hablum minan naas), Manusia dengan lingkungannya (hablum minal makhluq), dan Manusia dengan Tuhannya (hablum minallah). Orientasi hubungan antar manusia (hablum minan naas) bersifat horisontal, begitu juga orientasi hubungan manusia dengan lingkungannya (hablum minal makhluq). Sedangkan orientasi hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) bersifat vertikal, yakni hubungan antara manusia sebagai makhluq (inferior) dan Allah sebagai kholiqnya (superior).
  4. 4. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 3 Mekanisme hubungan antara manusia dengan lingkungannya (hablum minal makhluq) adalah dengan menggerakkan segenap kecerdasan konvensional (IQ, EQ, dan AQ) bersama dengan kecerdasan nurani (QQ) sebagai inisiator dan mediatornya. Kecerdasan nurani inilah yang sepatutnya meng-inisiasi, mengatur dan menggerakkan IQ, EQ, dan AQ sebelum ketiga kecerdasan ini bergerak, yakni dalam hal hubungan antar manusia dan hubungan antar makhluq. Sedangkan dalam hubungan antar manusia dengan Allah (hablum minallah) peran QQ adalah sebagai inisiator dan sekaligus sebagai trigger (pemicu) bagi kecerdasan spiritual (SQ) untuk mulai bergerak. Oleh sebab itu, kecerdasan nurani yang dapat berfungsi dengan baik secara otomatis juga akan meningkatkan kecerdasan spiritual seseorang. Kecerdasan spiritual ini merupakan kecerdasan yang “berkedudukan paling tinggi” sesudah kecerdasan hati nurani, karena hanya dengan kecerdasan spiritual-lah seseorang akan mampu memahami dan menangkap sinyal- sinyal Ilahiyah yang maujud (ada tetapi tak nampak) dengan hati nuraninya, bukan dengan panca inderanya. Kecerdasan spiritual juga bersifat transendental dan hollistik sedangkan kecerdasan nurani bersifat inherent (bawaan sejak lahir) sebagai fitrah manusia. Kecerdasan nurani yang pada gambar di atas letak posisinya berada di tengah-tengah (pusat) “segitiga sama sisi” menunjukkan bahwa ia mempunyai kedudukan (posisi) penting dan strategis sebagai inisiator, mediator dan bahkan sebagai pemicu (trigger) untuk menggerakkan kecerdasan-kecerdasan lainnya yakni : IQ, EQ, AQ, dan SQ yang terdapat pada diri setiap manusia.
  5. 5. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 4 Oleh karena (pada gambar) posisi SQ berada paling atas dan paling dekat dengan “posisi” Allah sebagai kholiq, maka SQ mampu memaksimalkan probabilitas ketercapaian keinginan manusia lewat doa-doa yang dipanjatkan, berkat campur tangan Tuhan (Allah SWT) dalam hidup. SQ juga merupakan sarana bagi manusia untuk mencapai Keridhoan Allah (Mardhotillah). SQ mampu menimbulkan hal-hal positif seperti : ketenangan jiwa, ketentraman bathin, perasaan relaksasi yang mendalam, bahkan suatu keadaan perasaan kenyamanan bathin yang tiada tara pada sebagian orang yang tingkat spiritualnya sudah sangat tinggi seperti : Para Nabi, Thabi‟in, Wali, Ulama‟ serta orang-orang Sholeh. Sudut-sudut segitiga sama sisi tersebut yang besarnya sama 60o antara IQ+EQ+AQ dengan SQ adalah menunjukkan “keharusan diterapkannya skala prioritas yang sama” antara kepentingan duniawi (yang tercermin dalam IQ, EQ, dan AQ) dan kepentingan ukhrowi (yang tercermin dalam SQ), disinilah tercapainya suatu keselarasan dan kesetimbangan (tawazun) atau “balance” dalam kehidupan. Mengenai Hati ini Rasulullah SAW pernah bersabda : “Ketahuilah bahwasannya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, yang mana jika ia baik maka akan baik pulalah tubuh itu, dan jika ia rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuh itu. Segumpal daging itu ialah Hati”. (H.R. Bukhari & Muslim)
  6. 6. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 5 Dan Firman Allah SWT : “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan HATI, semuanya itu akan dimintakan pertanggung-jawabannya” (Q.S. Al-Isra‟: 36) Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Para Ilmuwan di seluruh dunia mengenai Brain Hemisphere (Belahan Otak pada Manusia), maka telah ditemukan, diketahui dan disepakati bahwasannya pada Otak Kiri manusia terletak Rational Intelligence (kecerdasan rasio), sedangkan pada Otak Kanan manusia terdapat Emotional Intelligence (kecerdasan emosi). Begitu pula setelah Penulis mempelajari dari berbagai literatur kajian mengenai Hati Nurani dari Para Ilmuwan dan Pakar Manajemen Qolbu, baik lokal maupun internasional maka Penulis mendapati bahwasannya perbandingan antara Hati Nurani (Hati) dengan Akal (Otak) pada Manusia dapatlah ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut : “Left Brain is working on The System, while Right Brain is working in The System, but Only HEART is working in The Entire of The System of Our Life” (Otak Kiri manusia bekerjanya di atas sistem, sedangkan Otak Kanan bekerjanya di dalam sistem, namun hanya HATI yang berkerja pada seluruh sistem di dalam sistem kehidupan manusia)
  7. 7. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 6 Berikut ini adalah beberapa lagi kutipan Firman Allah, Hadits Nabi, maupun Para Pakar berkaitan dengan Hati Nurani : “Bencana besarlah bagi mereka yang HATI nya telah mengeras”. (Q.S. Az-Zumar : 22) “Dan janganlah kamu seperti orang-orang Ahlul Kitab sebelum kamu yang diturunkan Kitab kepadanya kemudian berlalulah waktu yang panjang kepada mereka, lalu hati mereka menjadi keras”. (Q.S. Al-Hadid: 16) “Sesungguhnya Langit dan Bumi tak dapat Menjangkau KU, tapi AKU dapat dijangkau oleh HATI Orang yang Beriman”. (Hadits Qudsi) “Wahai Washibah, Mintalah Nasehat (fatwa) pada HATI mu !”. (H.R. Ahmad) “Janganlah terlalu banyak tertawa karena terlalu banyak tertawa akan mengeraskan HATI !”. (Al-Hadits) “Pleasure without CONSCIENCE is A Deadly Sin”. (Kesenangan tanpa HATI NURANI adalah Dosa yang amat Fatal). (Mahatma Gandhi) “Seringkali Hatimu mengetahui sesuatu jauh sebelum Pikiranmu !”. (Polly Adler) “Management is Tangible, Leadership is Intangible, but only CONSCIENCE is Feelable !”. (Manajemen kasat mata,
  8. 8. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 7 Kepemimpinan tak kasat mata, tetapi hanya HATI NURANI yang dapat Anda rasakan !). (Hard-Hi Smart Consulting) “The Balance between The Left and The Right Brain lies at The HEART”. (Keseimbangan antara Otak Kiri dan Otak Kanan adalah terletak pada HATI). (Hard-Hi Smart Consulting) “Manage from the Left Brain, Lead from the Right Brain, but Command and Execute only from the HEART !”. (Menatalah dari Otak Kiri, Memimpinlah dari Otak Kanan, namun Memerintah dan Melaksanakan dengan baik hanyalah dimungkinkan melalui HATI). (Hard-Hi Smart Consulting) Menurut Kitab terkenal Al-Maraghi bahwasannya Hati merupakan salah satu Hidayah (petunjuk) yang Allah berikan kepada manusia. Ada 5 (lima) macam Hidayah yang Allah berikan kepada Manusia bersama dengan Hati, yaitu : 1). Ghorizah (naluri/insting) 2). Hawasi (indera) 3). „Aqli (akal) 4). Qolbi (hati) 5). Diin (agama) 6). Taufiq (pertolongan Allah yang menggerakkan hati manusia untuk berbuat kebajikan)
  9. 9. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 8 Manusia yang memiliki Kecerdasan Nurani (QQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) akan selalu berusaha keras untuk mecapai hal-hal berikut ini : 1). Hati yang Bersih. 2). Kejujuran dan Akhlaq Mulia. 3). Taat kepada Allah dan Rasul-Nya. 4). Memperbanyak Ilmu yang Bermanfaat. 5). Bersabar terhadap Ujian dan Cobaan. 6). Jiwa yang Tenang, Damai dan Ikhlas. 7). Menjadi Pewaris Syurga Firdaus. 8). Menjauhkan Diri dari Dosa-dosa Fatal. 9). Menjauhkan Diri dari Sifat-sifat Munafiq. 10). Strategi Hidup yang Baik dan Benar. Kesepuluh hal tersebut akan penulis bahas satu per-satu dengan lebih rinci agar pemahaman para pembaca lebih komprehensif dan lebih mendalam atas hal-hal yang ingin dibahas pada bagian ini. 1. HATI YANG BERSIH Sebagai manusia yang dikatakan memiliki Kecerdasan Hati Nurani dan Kecerdasan Spiritual maka kita harus berusaha agar Hati kita mencapai status “Qolbun Salim”, yakni hati yang bersih dari segala macam penyakit hati, baik yang kecil maupun yang besar, apalagi yang dahsyat. Mengapa kita harus mencapai Hati yang Qolbun Salim ? Bila Hati kita termasuk ke dalam “Qolbun Maridh“ (Hati yang Berpenyakit), apalagi bila termasuk ke dalam “Qolbun
  10. 10. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 9 Mayyit” (Hati yang Mati/Beku) maka pemiliknya juga akan tergolong orang-orang yang dikategorikan oleh Allah SWT sebagai “Pembuat Kerusakan di muka Bumi (Mufsidin)”. Adapun jenis-jenis penyakit hati ini berdasarkan tingkat kronisnya diklasifikasikan sebagai berikut :  Ringan : iri, riya‟, ujub, sum‟ah, ghibah.  Berat : sombong, dengki, hasad, menentang Allah.  Dahsyat : mempersekutukan Allah (syirik). Penyakit-penyakit hati yang ringan dan berat tersebut akan menghapus pahala-pahala amal ibadah yang telah kita kerjakan laksana air hujan mengguyur bumi (bersih tanpa sisa). Sedangkan penyakit hati yang paling berat (dahsyat) merupakan Dosa yang Teramat Besar yang akan menyebabkan para pelakunya dilemparkan oleh Allah SWT ke dalam Api Neraka dengan kekal di dalamnya selama- lamanya. Na‟udzubillaahi Min Dzalik… Bahaya Syirik itu sendiri telah dijelaskan oleh Allah SWT dengan Firman-Nya di dalam Al-Qur‟an, di antara Firman- Nya adalah sebagai berikut : 1). Syirik adalah Dosa yang Amat Besar : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (syirik) maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang teramat besar”. (Q.S. An-Nisa‟: 48)
  11. 11. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 10 2). Syirik adalah Kesesatan yang Amat Jauh : “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (syirik) maka sesungguhnya ia telah tersesat dengan kesesatan yang teramat jauhnya”. (Q.S. An-Nisa‟: 116) 3). Syirik adalah Kejahatan yang Amat Dahsyat : “Janganlah kamu mempersekutukan Allah (syirik), sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kejahatan yang sangat teramat dahsyat”. (Q.S. Luqman : 13) Kita mungkin semua sudah tahu bahwa sebenarnya Iblis adalah makhluq Allah yang paling ta‟at dan berbakti kepada Allah SWT sebelum ia diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Namun karena Iblis mempunyai penyakit hati, maka Allah mengkategorikan Iblis tersesat dan termasuk ke dalam golongan yang Kafir, sebagaimana yang telah dijelaskan Al- Qur‟an tentang Hukuman Allah terhadap Iblis tersebut. Marilah kita lihat penyakit-penyakit hati apa sajakah yang menghinggapi Iblis sehingga ia dikategorikan oleh Allah sebagai golongan yang Kafir : 1). Membangkang, Sombong / Arogan / Takabbur : “Dan ketika Kami katakan kepada Para Malaikat : „Sujudlah kalian kepada Adam‟, maka bersujudlah mereka (para malaikat) kecuali Iblis, ia Enggan (=membangkang) dan Takabbur (=sombong / arogan), maka ia termasuk golongan yang Kafir”. (Q.S. Al-Baqarah : 34)
  12. 12. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 11 2). Merasa Diri lebih Hebat : “Allah berfirman (kepada Iblis) : „Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?‟. Berkatalah Iblis : „Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah‟“. (Q.S. Al-A‟raf : 12) 3). Iri, Dengki, Dendam Kesumat dan Hasad : “Iblis berkata : „Karena Engkau telah menghukumiku tersesat maka aku akan benar-benar menghalang-halangi mereka (manusia) dari Jalan Engkau yang lurus“. (Q.S. Al-A‟raf : 16) Lalu perhatikan pula kutipan Hadits Nabi SAW tentang Hati di bawah ini : “Wahai Washibah, tanyalah pada Hatimu ! Mintalah pendapat pada Hatimu !”. (Kalimat itu diucapkan Nabi sebanyak 3x) Lalu Rasulullah melanjutkan Sabdanya : “Kebaikan adalah sesuatu yang Hati merasa tenang ketika mengerjakannya, dan Dosa adalah sesuatu yang membuat perasaan gelisah (tidak tenteram) dan Hati ragu ketika melakukannya, meskipun semua orang sepakat mengatakan bahwa yang
  13. 13. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 12 engkau lakukan itu adalah baik dan benar”. (H.R. Ahmad) Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwasannya bila Hati kita merasa tenang dan mantap dalam melakukannya maka tandanya perbuatan itu benar dan halal untuk dilakukan. Tetapi bila Hati kita merasa ragu-ragu (atau bahkan menentangnya) maka tandanya perbuatan itu adalah salah (tidak dibenarkan oleh Allah) dan haram serta berdosa bila kita tetap meakukannya. Agar Hati kita senantiasa tenteram dan damai maka jalan satu-satunya bagi kita adalah dengan memperbanyak Dzikirullah (mengingat Allah) baik di kala susah maupun senang, dan di kala sempit maupun lapang, karena hanya dengan berdzikirlah Hati kita menjadi tenang, sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT dalam Surat Ar-Ra‟d ayat 28 : “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah (Dzikir) sajalah yang membuat Hatimu menjadi tenang dan tenteram”. Allah SWT menghendaki kita untuk senantiasa menjadi orang yang “Mufariddun”, yakni orang yang selalu mengingat Allah SWT di manapun, kapanpun dan di manapun kita berada dan dalam keadaan apapun. Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur‟an surat Al- Ahzab ayat 41-42 : "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan Dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya setiap pagi dan petang".
  14. 14. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 13 Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda di dalam Hadits Beliau sebagai berikut : "Maukah aku beritahukan kepada kalian amalan yang paling baik dan paling suci di mata Raja (=Allah) kalian, dan lebih baik daripada menginfakkan emas dan uang serta lebih baik daripada berperang di Jalan Allah? Yaitu, Dzikir kepada Allah". Lebih lanjut di dalam Hadits-hadits Rasulullah SAW diterangkan beberapa Bacaan Dzikir dan Faedahnya bagi kita sebagai orang yang beriman, yakni di antara bacaan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Barangsiapa yang membaca : "Subhanallah, Walhamdulillah, Walaailaahaillallah, Wallahu Akbar", maka orang itu akan ditanamkan oleh Allah SWT pohon buah-buahan yang banyak di dalam Syurga. 2. Barangsiapa yang membaca : "Subhanallah Wabihamdih" sebanyak 100 kali, maka orang itu akan dihapuskan dosa-dosanya walaupun dosa-dosanya sebanyak buih yang ada di lautan. 3. Barangsiapa yang membaca : "Asyhadu An- Laailaahaillallah, Wahdahu Lasyariikalah Wa-asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu Warosuuluh", maka orang itu akan dibukakan 8 (delapan) Pintu Syurga, sehingga ia dapat masuk Syurga dari pintu manapun yang ia kehendaki.
  15. 15. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 14 4. Barangsiapa yang membaca : "Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah", maka orang itu dibukakan salah satu pintu Syurga untuknya. 5. Barangsiapa yang membaca : "Asyhadu An- Laailaahaillallah", maka orang itu diberikan Kunci Syurga oleh Allah SWT. 6. Barangsiapa yang membaca : "Laa Ilaaha Illallah Al- Malikul Haqqul Mubiin", maka orang itu apabila meninggal dunia ia tidak akan merasa seram di dalam kubur (=alam barzakh), sehingga ia aman dan sentosa di dalam kubur. 7. Barangsiapa yang membaca : Sayyidul Istighfar yaitu "Allahumma Anta Robbi Laailahailla Anta Kholaqtani Wa ana 'Abduka Wa ana 'Ala 'Ahdika Wawa'dika Mastatho'tu A'udzubika Min Syarrima Shona'tu Abu ulaka Bini'matika 'Alaiyya Wa abu-u Bidzambi Faghfirli Fainnahu Laa Yaghfirudz Dzunuba Illa Anta", maka : a. Jika dibaca siang hari (sesudah Subuh), kemudian ia meninggal dunia sebelum Sore (sebelum 'Ashar), maka ia pasti akan termasuk "Ahli Syurga". b. Jika dibaca pada malam hari (sesudah Maghrib), kemudian ia meninggal dunia sebelum pagi (sebelum Subuh), maka ia pasti akan termasuk "Ahli Syurga". 8. Barangsiapa yang membaca : "Alhamdulillah", maka akan dipenuhi timbangan Amal Sholehnya.
  16. 16. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 15 9. Barangsiapa yang membaca : "Allahumma Sholli 'Ala Muhammad Wa 'Ala Aali Muhammad Wa 'Ala Ahli Baitihi" sebanyak 100 kali setiap harinya, maka akan didatangkan/dikabulkan Allah SWT kepada orang itu sebanyak 70 “Hajatnya” (= maksud/niat/do'a mengenai hal-hal dunia) dengan cepat di Dunia ini, dan akan didatangkan serta dikabulkan kepada orang itu sebanyak 30 Hajatnya untuk Urusan di Akhirat kelak. 10. Barangsiapa yang membaca : Sholawat Nariyah sebanyak 11 kali setiap hari sesudah Sholat 'Ashar, maka akan dimudahkan, dilapangkan dan dilimpahkan Rezekinya di dunia ini dengan tiada putus-putusnya, serta diberikan Rezeki yang berlimpah pula di Akhirat kelak. Rasulullah SAW juga menerangkan bahwasannya ada 5 (lima) Perkara yang menjadikan sebagai Obat bagi Hati yang kotor atau berpenyakit, obat tersebut adalah : 1). Membaca Al-Qur‟an dan menghayati maknanya. 2). Sholat Malam (mis: Tahajud atau Sholat Hajat). 3). Berpuasa Sunnah (mis: Senin-Kamis, atau Puasa Daud). 4). Memperbanyak Dzikir (mengingat) kepada Allah. 5). Bergaul hanya dengan orang-orang yang Baik (Sholeh). Itulah 5 (lima) hal/perkara yang dapat membersihkan Hati kita dari kotoran-kotoran atau penyakit yang mungkin saja bercokol di dalam hati tanpa kita ketahui dan kita sadari.
  17. 17. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 16 2. KEJUJURAN DAN AKHLAQ MULIA Kejujuran merupakan salah satu simbol dari Akhlaq Mulia, sehingga kita mungkin pernah mendengar ada kata mutiara dari orang-orang tua kita dahulu bahwasannya “Kejujuran adalah Mata Uang yang Berlaku di mana saja”, bahkan di dunia kejahatan seperti “MAFIA” (Mafioso – dari Italia) pun masih tetap dibutuhkan adanya sifat kejujuran. Mengapa demikian? Karena untuk menjalankan organisasi mafia mereka tersebut tentunya dibutuhkan orang yang akan diserahi tugas untuk mengurusi keuangan organisasi mereka, dan yang pasti akan dipilih tentulah orang-orang yang jujur dalam hal mengelola dan mengurusi keuangan organisasi mereka, karena jika tidak, mereka akan berlaku sangat kejam dan sadis terhadap orang-orang yang berusaha membohongi dan menipu mereka, meskipun sebenarnya mereka juga adalah kumpulan para penipu, pembohong, perampok dan bahkan pembunuh. Betul ? Begitu juga, banyak sekali di antara orang-orang yang bukan beragama Islam yang tidak pernah tahu dan tidak mengerti tentang Islam namun sangat menjunjung tinggi kejujuran dan akhlaq mulia tersebut. Marilah kita coba simak beberapa kutipan sebagian dari kata-kata mutiara yang sempat mereka lontarkan dan kemukakan : “Honesty is the first chapter in the book of wisdom” (Kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebajikan). (Thomas Jefferson) “It is not about aptitude but your attitude that will determine your altitude” (Bukanlah kepandaian otakmu, akan tetapi
  18. 18. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 17 akhlaqmu yang akan menyebabkan kamu mempunyai kedudukan yang amat tinggi dan terhormat). (Jessie Jackson) Urusan akhlaq bukanlah urusan yang hanya sepele saja akan tetapi merupakan “Perkara Besar” yang bisa menyebabkan suatu bangsa menjadi berantakan dan porak-poranda disebabkan oleh dampak kejahatan dan kebiabadan manusia itu sendiri. Lihat saja contohnya, betapa korupsi dan manipulasi sudah menjadi budaya dan merajalela di mana- mana di negeri ini yang notabene sebagian besar rakyatnya adalah beragama Islam. Bukanlah salah ajaran Agamanya akan tetapi oknum-oknum (orang-orang) nya-lah yang tidak memiliki Kejujuran dan Akhlaq yang Karimah. Kemudian, dampak dari akhlaq yang buruk juga dapat menyebabkan suatu ummat terperosok ke jurang kenistaan, dan bahkan yang paling buruk, dapat menyebabkan seseorang pelakunya mengalami Suul Khotimah (akhir hidup yang buruk – Bad Ending of Life) pada saat kematiannya (misalnya: bunuh diri, saling bunuh, dsb). Naudzubillahi Min Dzalik semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang demikian. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi SAW yang berbunyi : “Sesungguhnya aku (Muhammad) ini diutus Allah SWT untuk kalian, terutamanya adalah untuk memperbaiki dan memuliakan Akhlaq”. (Al-Hadits) Marilah kita Perhatikan pula beberapa kutipan Hadits Rasulullah SAW berikut ini :
  19. 19. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 18 “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya”. (H.R. Bukhari - Muslim) “Makhluq (manusia) yang terbaik adalah yang terbaik akhlaqnya”. (Al-Hadits) “Apabila kalian berakhlaq maka hendaklah seperti AkhlaqKu”. (Hadits Qudsi) Adalah seorang Pakar Ilmu Manajemen dari Amerika Serikat yang bernama Stephen R. Covey yang mengutip tentang Kejujuran dan Integritas dengan demikian indah dan bagus di dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-orang yang sangat Berhasil-guna). Di dalam bukunya tersebut ia mendefinisikan “Kejujuran” dan “Integritas” sebagai berikut :  HONESTY (Kejujuran) : is conforming our words to reality (adalah kesesuaian kata-kata kita dengan kenyataan). Jadi, Kejujuran berarti : Bisa Dipercaya (Trustable)  INTEGRITY (Integritas) : is conforming reality to our words (adalah kesesuaian kenyataan atas kata-kata kita) Maksud dari definisi Integritas di atas adalah : “adanya kesesuaian antara kata-kata yang kita ucapkan dengan setiap perbuatan yang kita lakukan”. Dengan kata lain juga dapat diartikan sebagai : “tidak munafiq (unhypocrite)”. Jadi, Integritas berarti : Bisa Diandalkan (Reliable)
  20. 20. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 19 Menurut Stephen R. Covey, untuk menjadi Manusia yang Berhasil-guna maka seseorang haruslah memiliki sifat kedua- duanya, yakni “Kejujuran” dan sekaligus “Integritas”. Namun, bila seseorang hanya memiliki Kejujuran tetapi tidak memiliki Integritas, berarti ia “Bisa Dipercaya tetapi Tidak Bisa Diandalkan”. Sebaliknya, apabila seseorang hanya memiliki Integritas saja, maka berarti ia “Hanya Bisa Diandalkan tetapi Tidak Bisa Dipercaya”. Pada tahun 2002 lalu tepatnya tanggal 11-12 April 2002, Para Top Executive (CEO) dari berbagai Perusahaan Internasional datang berbondong-bondong untuk menghadiri sebuah Leadership Discussion Forum (Forum Diskusi tentang Kepemimpinan) yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan Harvard Business School yang mengambil Tema “Does Spirituality Drive Success?” (Apakah Spiritualitas mampu menghasilkan Kesuksesan?). Mereka berdiskusi membahas bagaimana nilai-nilai spiritualitas tersebut dapat membantu mereka menjadi pemimpin perusahaan yang berpengaruh di tengah-tengah lingkungan bisnis yang mereka jalankan. Diskusi berjalan dengan hangat selama dua hari di lembaga pendidikan bisnis paling bergengsi di Amerika Serikat tersebut. Pada akhir Forum Diskusi mereka seluruhnya sepakat menyatakan bahwasannya Nilai-nilai Spiritualitas mampu menghasilkan 5 (lima) hal, yaitu : 1. Integritas dan Kejujuran. 2. Energi dan Semangat. 3. Inspirasi, Ide dan Inisiatif. 4. Wisdom (Kebajikan/Kebijaksanaan) 5. Keberanian dalam Mengambil Keputusan.
  21. 21. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 20 Kemudian lagi, pada Tahun 1987, 1995 dan 2002 yang lalu secara berturut-turut sebuah leadership institution (lembaga kepemimpinan) internasional yang bernama The Leadership Challenge melakukan Survey mengenai “karakteristik” para pemimpin (CEO) perusahaan dari 5 (lima) Benua yakni : Amerika, Australia, Asia, Eropah dan Afrika. Dalam survey tersebut masing-masing responden diminta untuk memilih sebanyak 7 dari 20 karakter yang menurut mereka Paling Ideal bagi CEO pilihan perusahaan mereka. Ke-20 Karakter yang harus mereka pilih adalah sbb : 1. Honest (jujur) 2. Forward Looking (berpikiran maju) 3. Competent (kompeten/mampu) 4. Inspiring (memberi inspirasi) 5. Intelligent (cerdas) 6. Fair-minded (adil) 7. Broad-minded (berwawasan luas) 8. Supportive (mendukung) 9. Straight Forward (berterus terang) 10. Dependable (bisa diandalkan) 11. Cooperative (dapat bekerjasama) 12. Determined (tegas) 13. Imaginative (berdaya-imajinasi) 14. Ambitious (berambisi) 15. Courageous (mendorong/berani) 16. Caring (peduli) 17. Mature (matang/dewasa) 18. Loyal (setia) 19. Self-controlled (menguasai diri) 20. Independent (mandiri)
  22. 22. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 21 Maka Hasilnya mencatat bahwa dari seluruh ke-3 Event Survey (1987, 1995 dan 2002) tersebut Karakter/sifat “Honest (Jujur)” selalu berada pada “Urutan (ranking) Pertama” secara berturut-turut selama tiga kali diadakan survey tersebut, sementara jenis karakter-karakter yang lain selalu berubah-ubah posisi urutan (ranking) nya. Hal ini berarti para pebisnis itupun sangat menyadari dan mengetahui bahwa kejujuran adalah faktor yang sangat penting dalam menjalankan bisnis mereka. Disamping itu, sekaligus membuktikan kita bahwasannya “Kejujuran” merupan faktor yang amat sangat dibutuhkan oleh siapapun dalam kehidupannya di dunia ini, tak peduli apakah mereka seorang spiritualis, penulis, negarawan, moralis atau bahkan seorang pebisnis sekalipun sangatlah membutuhkan yang namanya “Kejujuran”. Namun kita mungkin sering atau pernah mendengar setidaknya bahwa di dalam “Dunia Bisnis” ada suatu Ungkapan yang sangat populer sekali, yang berbunyi kurang lebih demikian : “If you only talk about honesty, nobody will come to you talking about business” (Jika anda banyak bicara tentang kejujuran, maka tak akan ada orang yang datang kepada anda untuk bicara tentang bisnis). Pernyataan dalam ungkapan tersebut di atas sangatlah “Berbau SEKULER” dan “PARADOXAL” sekali dengan Hasil Survey The Leadership Challenge serta dengan banyak Tokoh-tokoh Spiritual, Negarawan dan Pebisnis Jujur yang sangat tidak setuju atau tidak sepaham bahkan menentang dengan keras ungkapan tersebut.
  23. 23. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 22 Beberapa Tokoh dan Organisasi yang tidak setuju/sepaham (bertentangan) dengan ungkapan tersebut, di antaranya :  Mahatma Gandhi, seorang Spiritualis dari India, yang membuat statement (pernyataan) di dalam bukunya yang berjudul The Seven Deadly Sins bahwasannya “Commerce without Morality is A Deadly Sin” (Bisnis tanpa disertai Akhlaq adalah Dosa yang Amat Fatal).  Thomas Jefferson, seorang Negarawan dan salah satu mantan Presiden Amerika Serikat yang pernyataannya banyak dikutip oleh Tokoh-tokoh Politik dan Negarawan dari berbagai Negara juga mengatakan “Honesty is the first chapter in the book of wisdom” (Kejujuran adalah Bab pertama di dalam Buku Kebajikan/Kebijaksanaan). Yang maksudnya adalah apabila kita ingin berbuat kebaikan atau kebajikan maka tanamkan terlebih dahulu kejujuran di dalam diri kita, tanpa itu niscaya kita tidak akan bisa dikatakan telah berbuat kebaikan dan kebajikan.  American Business Concern, sebuah Organisasi Media Perkumpulan Bisnis terkemuka di Amerika Serikat pernah menerbitkan Hasil Poling dan Survey yang diadakan bagi Para Pebisnis Dunia (CEO Perusahaan) dari sebanyak 500 Perusahaan Multinational Besar Dunia Paling Sukses yang disebut sebagai “Fortune 500” yang isinya menyatakan bahwa sebanyak 94% Para Pemimpin (CEO) perusahaan-perusahaan besar tersebut berhasil mencapai kesuksesan bisnis pada bidang-bidang usahanya berkat diterapkannya Faktor “Kejujuran” dan “Perilaku/Akhlaq yang Terpuji” di dalam menjalankan bisnis mereka.
  24. 24. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 23  Harvard Business School pernah mengadakan Penelitian pada Tahun 1993 mengenai faktor-faktor Penentu Keberhasilan dan Kesuksesan atas diri sesorang, yang kemudian ditemukan dalam penelitian tersebut bahwasannya sebesar 85% Penyebab Keberhasilan dan Kesuksesan seseorang adalah Faktor “Akhlaq”. 3. TAAT KEPADA PERINTAH ALLAH DAN RASUL Di dalam suatu organisasi, apapun namanya, di manapun adanya serta di bidang apapun kegiatannya, pastilah selalu ada yang namanya : “Perintah” (Command – dalam Bahasa Inggrisnya). Perintah ini sangat diperlukan guna menjalankan sistem yang ada di dalam organisasi tersebut. Perintah sangat mutlak diperlukan bagi kelancaran suatu organisasi untuk mempermudah dan memperjelas hal-hal yang berkaitan dengan :  Stratata/Tingkatan (Level) Jabatan para anggotanya.  Satuan Komando/Perintah (Unity of Command); dan  Jenjang Tingkatan Komando/Perintah (Hierarchy of Command) dalam organisasi. Hanya dengan ke-3 hal tersebut di atas itulah suatu organisasi dapat dimungkinkan berjalan dengan baik dan lancar tanpa adanya saling “Tumpang-tindih (Overlapping)” dan saling “Langgar (Outbreaking)” terhadap Otoritas masing-masing jabatan yang ada di antara para anggota organisasi di dalamnya.
  25. 25. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 24 Begitu juga halnya dengan “Sistem” (Manhaj) yang ada di dalam Agama Allah (cq. Islam), terdapat juga yang namanya “Perintah” (Am‟r – dalam Bahasa Arabnya). Di dalam Agama Islam, ketiga hal yang telah disebutkan di atas telah dicanangkan oleh Allah SWT dengan Urutan Prioritas dan Kedudukannya sebagai berikut :  Perintah Allah SWT  Paling Utama (Top Urgent)  Perintah Rasulullah SAW  Utama/Tinggi (Urgent)  Perintah Pemimpin  Penting (Important) Adapun Kedudukan Hukum (Legal Standing) dari Skala Prioritas tersebut di atas telah ditetapkan oleh Allah SWT yang tertuang di dalam Al-Qur‟an Surat An-Nisa‟ ayat 59 : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati pula Rasul, serta Para Pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang segala sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah (cq. Al-Qur‟an) dan Rasul (cq.Hadits) bila kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan baik pula akibatnya”. (Q.S. An-Nisa‟ : 59) Taat kepada Allah SWT merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat kita ganggu-gugat karena ketika seseorang telah mengucapkan Dua Kalimat Syahadat atau telah berada di dalam naungan Agama Islam, maka wajib baginya untuk taat kepada segala bentuk perintah dan larangan dari Allah SWT.
  26. 26. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 25 Lalu, apakah dengan taat kepada Allah SWT berarti kita tidak boleh taat kepada yang lain selain Allah ? Satu-satunya hamba Allah yang wajib untuk ditaati pula oleh Umat Islam adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah suri teladan bagai seluruh umat hingga akhir zaman. Hanya Beliaulah yang memiliki hak untuk ditaati oleh seluruh umat manusia, khususnya umat Islam. Perintah untuk taat kepada Rasulullah SAW ini merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT, karena perintah tersebut terdapat di dalam Al-Qur‟an : “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedangkan kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)”. (Q.S. Al-Anfal : 20) “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati pula Rasul…”. (Q.S. An-Nisa‟ : 59) Adapun orang-orang, golongan, atau aliran-aliran yang tidak percaya kepada Rasulullah SAW atau tidak mau mematuhi sunnah-sunnahnya, maka mereka sama saja dengan tidak mentaati perintah Allah SWT. Orang-orang yang semacam inilah yang disebut dengan orang-orang yang ingkar, durhaka (fasiq) atau kafir. Taat kepada Allah SWT berarti harus pula diiringi dengan ketaatan kepada Rasulullah SAW. Perintah tersebut banyak sekali terdapat di dalam Al-Qur‟an dan senantiasa selalu berpasangan dan berdampingan.
  27. 27. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 26 Jika seseorang tidak mau mentaati perintah dan larangan Rasul, maka sudah bisa dipastikan bahwasannya ia juga sama saja dengan tidak mentaati perintah dan larangan Allah SWT. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa setiap muslim harus taat kepada Rasulullah SAW, bukan hanya kepada Allah SWT saja : 1. Perintah untuk taat kepada Rasulullah merupakan perintah dari Allah SWT. 2. Rahmat Allah hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa dan beriman kepada Allah dan mentaati Rasul-Nya. 3. Ketaatan kita kepada Rasulullah SAW merupakan sebuah jalan untuk mendapatkan Taufiq (pertolongan) dan Hidayah (petunjuk) dari Allah SWT. 4. Allah SWT akan menimpakan adzab yang sangat pedih kepada mereka yang menentang atau menyalahi perintah Allah. Menentang atau menyalahi perintah Rasulullah merupakan salah satu bentuk pengingkaran terhadap perintah Allah SWT. 5. Ketaatan dan kepatuhan seseorang terhadap ketetapan Rasulullah SAW merupakan salah satu syarat syahnya iman seseorang kepada Allah SWT. 6. Hanya dengan mengikuti atau mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya sajalah maka kita akan memperoleh limpahan kasih sayang dan ampunan dari Allah SWT.
  28. 28. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 27 Demikian di antaranya beberapa alasan mengapa kita selaku Umat Islam harus juga berlaku taat kepada Rasulullah SAW karena ketaatan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada Rasulullah SAW adalah bukti Cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang merupakan suatu keharusan bagi setiap pemeluk Islam (Muslim) yang senantiasa selalu beriringan dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Berikut ini adalah beberapa keterangan tambahan lagi dari Allah SWT yang berkaitan dengan perintah taat dan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yang terdapat di dalam Al-Qur‟anul Karim : “Patuhilah olehmu Allah dan Rasul agar supaya kamu diberi rahmat (disayang)”. (Q.S. Ali Imran : 132) “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Qs. Al Anfaal : 24) “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar”. (Q.S. Al-Ahzab : 71) “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat, sesungguhnya kami
  29. 29. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 28 kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: „Siksa-Ku akan Kutimpahkan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang- orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami‟". (Q.S. Al-A‟raf : 156) “Katakanlah : „Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang “ummi” yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab- Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk‟”. (Q.S. Al-A‟raf : 158) “Katakanlah : „Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul adalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas". (Q.S. An-Nur : 54)
  30. 30. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 29 ”Janganlah kamu jadikan sebutan kepada Rasul diantara kamu seperti sebutan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah-Nya takut akan ditimpah cobaan atau ditimpah adzab yang amat pedih”. (Q.S. An-Nur : 63) “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan sama sekali dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh hati”. (Q.S. An-Nisa‟ : 65) “Katakanlah : „Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu‟; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Ali Imran : 31) Adapun Dalil (Nash) yang memerintahkan taat kepada Para Pemimpin di antara manusia, adalah sebagai berikut : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati pula Rasul, serta Para Pemimpin di antara kalian”. (Q.S. An-Nisa‟ : 59)
  31. 31. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 30 “Patuhilah olehmu, walaupun yang memimpin di antara kalian adalah seorang budak Ethiopia yang bentuk kepalanya seperti biji kurma”. (H.R. Bukhari) Lalu, bagaimana bila seandainya ada perintah dari para pemimpin (atasan) kita yang tidak sesuai atau bahkan melanggar sama sekali Perintah Allah dan Rasul-Nya ? Bila hal itu terjadi, berarti perintah pemimpin tersebut mempunyai status sebagai yang : “Important BUT NOT Urgent!” (Penting tetapi Sangat Tidak Utama/Mendesak) dan perintah tersebut hanya memiliki Jenjang Tingkatan Perintah (Hierarchy of Command) yang “Paling Bawah” (prioritas terakhir) dalam Skala Urutan Prioritas Perintah yang telah dicanangkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur‟an Surat An- Nisa‟ ayat 59. Jadi dalam hal ini perintah pemimpin (atasan) tersebut haruslah dikaji ulang dengan lebih seksama lewat pertimbangan Hati Nurani kita yang mendalam. Bila memang perintah tersebut sangat melanggar Perintah Allah dan Rasul- Nya maka perintah pemimpin (atasan) tersebut HARUS “diabaikan” dan “tidak boleh sama sekali kita patuhi”. Adapun Kedudukan Hukumnya sangat lengkap sekali, yakni terdapat di dalam Al-Qur‟anul Karim dan juga di dalam Al- Hadits Rasulullah SAW, di antaranya sebagai berikut : “Katakanlah : „Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk berbakti kepada Allah dengan Ikhlas”. (Q.S. Az-Zumar : 11) “Janganlah kalian mematuhi perintah orang-orang yang melampaui batas. Yaitu
  32. 32. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 31 orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi”. (Q.S. Asy-Syu‟ara : 151-152) “Mendengarkan serta patuh kepada pemimpin adalah wajib selama tidak diperintah untuk berbuat maksiat. Bila pemimpin menyuruh berbuat maksiat maka janganlah kamu patuhi”. (H.R. Bukhari) “Tak ada kewajiban mengikuti suatu perintah yang dalam perintah itu berisikan kemaksiatan/kedurhakaan kepada Allah”. (H.R. Bukhari) Demikianlah Allah SWT telah memberikan bimbingannya yang jelas kepada kita selaku umat manusia khususnya Umat Islam untuk senantiasa taat kepada-Nya dan juga taat kepada Rasulullah karena taat kepada Allah SWT dan juga taat kepada Rasulullah SAW merupakan perintah yang harus dilaksanakan secara “kaffah” (menyeluruh). 4. MEMPERBANYAK ILMU YANG BERMANFAAT Kedudukan ilmu di dalam Islam adalah amat tinggi. Bahkan iman dan amal tidak syah tanpa adanya ilmu. Al-Quran yang diturunkan merupakan mu‟jizat yang diberikan kepada Rasullullah SAW adalah merupakan Kalamullah yaitu Firman Allah dan merupakan sumber induk Keilmuan. Oleh karena tingginya ilmu itu maka tinggi pulalah martabat para ilmuwan (scientist) bahkan para ulama disebut sebagai Pewaris Para Nabi.
  33. 33. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 32 Menuntut Ilmu di dalam Agama Islam hukumnya adalah Wajib, baik bagi laki-laki maupun wanita. Perhatikan Sabda Rasulullah SAW : “Menuntut Ilmu itu Wajib bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan” Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diminta kepada kamu memberi lapang dari tempat duduk kamu (untuk orang lain) maka lapangkanlah sebisa-bisanya supaya Allah melapangkan (segala hal) untuk kamu. Dan apabila kamu diminta untuk bangun maka bangunlah, supaya Allah meninggikan darjat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan Agama (dari kalangan kamu) – beberapa derajat. Dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui tentang apa-apa yang kamu lakukan. (QS. Al-Mujadalah 58:11) Demikian pula di antara manusia dan binatang-binatang yang melata serta binatang-binatang ternak, ada yang berlainan jenis dan warnanya? Sebenarnya yang merasa takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba- hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Fathir 35:28) Keterangan yang dibawa oleh Rasullullah adalah bermacam- macam untuk memperlihatkan pentingnya memiliki ilmu. Pelbagai hadis Nabi telah ditunjukkan sepanjang kehidupan Rasullullah SAW.
  34. 34. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 33 Dari Abdullah bin Amr r.a.: Nabi s.a.w. bersabda: "Sampaikanlah pesanku walaupun Cuma satu ayat (sepatah kata). Kalian boleh mendengar cerita dari Bani Israel, tiada salahnya (sekadar mendengar cerita). Dan barangsiapa yang sengaja berdusta tentang aku (membuat hadis palsu), maka hendaklah ia mengambil tempatnya di dalam neraka." (Hadits Sahih Bukhari Jilid 3. Hadits No.1508) Beberapa Hadits Mengenai Keutamaan Ilmu : 1. Dari Mu'awiyah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka diberinya orang itu pengertian (faham) tentang agama. Allah yang memberi dan saya Qasim (yang membagikan). Senantiasa umat ini memperoleh kemenangan terhadap lawannya, sehingga datang perintah Allah dan mereka itu tetap dalam kemenangan". (Hadits Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis No. 1391) 2. Dari Urwah r.a. katanya: Abdullah bin Umar naik haji bersama dengan kami, dan kami dengar dia berkata: Saya mendengar Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengambil (menghilangkan) ilmu sekaligus sesudah diberikanNya, melainkan mengambil itu dengan mengambil (mewafatkan) ahli ilmu (Ulama) bersama ilmunya. Maka tinggallah orang-orang yang bodoh. Mereka diminta fatwanya, lalu mereka berfatwa menurut kemauannya sendiri. Mereka sesat dan menyesatkan". (Hadits Sahih Bukhari Jilid 4. Hadits No. 1964)
  35. 35. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 34 3. Abdullah bin Mas'ud r.a. mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, "Janganlah kamu merasa iri hati, kecuali kepada dua orang, yakni : Orang yang diberi Allah harta yang banyak, kemudian dipergunakannya untuk yang hak; dan Orang yang diberi Allah ilmu yang banyak, kemudian dipergunakan (untuk yang hak) serta mengajarkannya". (Hadits Sahih Bukhari Jilid 1. Hadits No. 0059) 4. Dari Anas r.a., katanya: Saya dengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya (hilangnya) ilmu pengetahuan, banyaknya kebodohan, banyaknya pelacur!" dan banyaknya orang meminum minuman keras, sedikitnya jumlah laki-laki serta banyaknya jumlah wanita sehingga setiap lima puluh orang wanita hanya satu orang yang mengurusnya”. (Hadits Sahih Bukhari Jilid 4. Hadits No. 1612) 5. Dari Abu Musa r.a., katanya Nabi s.a.w. bersabda: "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang Allah mengutus aku untuk menyampaikannya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi. Bumi itu ada yang subur, menyerap air, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras, tidak menyerap air sehingga tergenang, Maka Allah memberi manfaat dengan dia kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), serta untuk bercocok tanam. Dan ada pula hujan yang jatuh ke tempat lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan apa-apa yang Allah suruh aku untuk menyampaikannya, untuk mempelajarinya serta untuk
  36. 36. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 35 mengajarkannya. Dan begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan tidak peduli dengan petunjuk Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya". (Hadits Sahih Bukhari Jilid 1. Hadits No. 0063) 6. Dari Anas r.a., katanya: "Akan aku sampaikan kepada kalian sebuah hadits yang tidak akan disampaikan orang kepadamu sepeninggalku. Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Diantara tanda-tanda kiamat ialah: berkurangnya ilmu, meratanya kebodohan, maraknya perzinahan serta banyak perempuan dan sedikit laki-laki, sehingga bagi lima puluh perempuan hanya ada seorang pengawal laki-lakinya”. (Hadits Sahih Bukhari Jilid 1. Hadits No. 0064) 7. Abu Hurairah r.a. mengatakan, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hari kiamat belum akan terjadi hingga telah dihapuskannya ilmu pengetahuan, banyak terjadi gempa bumi, masa (waktu) terasa pendek, timbul berbagai macam bencana, banyak terjadi peristiwa yang menggemparkan seperti pembunuhan, serta uang berlimpah-limpah di sekitarmu". (Hadits Sahih Bukhari Jilid 2. Hadits No. 0543) 8. Dari Abu Hurairah ra. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menolong menghilangkan kesusahan seorang mukmin, maka Allah Ta‟ala menghilangkan pula kesusahannya di hari kiamat kelak. Barangsiapa yang membantu memudahkan urusan orang yang dalam kesulitan, maka Allah memudahkannya pula di dunia dan akhirat. Allah sentiasa menolong hambanya selama hamba itu mau menolong saudaranya. Barangsiapa yang berusaha
  37. 37. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 36 mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke Syurga. Bila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) lalu mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya sesama mereka, maka diturunkan kepada mereka ketenangan dan diselimuti mereka dengan rahmat. Mereka dikerumuni oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebut dengan bangga kepada orang-orang yang di dekatNya. Sedangkan bagi orang-orang yang lalai beramal, ia tidak akan dapat mengejar ketinggalannya walaupun dengan gelar kebangsawanannya”. (Hadits Sahih Muslim Jilid 4. Hadits No. 2322) 9. Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila seorang manusia telah meninggal, maka putuslah (terhenti) segala amalnya, kecuali tiga perkara: Sodaqoh jariyah. Ilmu yang bermanfaat, serta Anak yang sholeh yang selalu mendoakannya". (Hadits Sahih Muslim Jilid 3. Hadits No. 1614) 10. Dari „Aisyah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. membaca ayat : "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur‟an) kepadamu. Di antara isinya terdapat ayat-ayat yang muhkamat (yang jelas dan tegas maksudnya), dan ayat- ayat yang mutasyabihat (samar-samar). Adapun orang- orang yang hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (bencana) dan untuk mencari-cari ta‟wilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan hanya Allah semata. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat- ayat mutasyabihat, semuanya itu turun dari Tuhan kami. Dan tidak dapat memahaminya kecuali orang-orang yang
  38. 38. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 37 cerdas". (QS. Ali 'Imran : 7). Kata 'Aisyah, bersabda Rasulullah s.a.w., Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, itulah orang- orang yang dimaksud Allah dalam ayat itu. Maka jauhilah mereka itu”. (Hadits Sahih Muslim Jilid 4. Hadits No. 2288) 11. Dari Ubay bin Ka'ab r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda : "Hai, Abu Mundzir! Tahukah kamu, ayat manakah diantara ayat-ayat Al-Qur‟an yang ada padamu yang paling utama?" Jawab Abu Mundzir, "Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih tahu."Tanya beliau, "Hai, Abu Mundzir! Tahukah kamu, ayat manakah diantara ayat- ayat Al-Qur‟an yang ada padamu paling utama?" Jawab ku, "Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum" (QS. Al- Baqoroh : 225). Lalu beliau menepuk dadaku sambil berkata, "Demi Allah, semoga dadamu penuh dengan ilmu Wahai Abu Mundzir”. (Hadits Sahih Muslim Jilid 2. Hadits No. 0776) 12. Dari Zaid bin Arqam r.a. katanya: "Aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. Beliau sering berdoa: "Allahumma inni a'uzubika minal 'ajzi, wal kasali, wal jubni, wal bukhli, wal haromi, wa 'adzabil qobri. Allahumma aati nafsi taqwaaha, wa zakkiha anta khoiru man zakkaaha, anta waliyyuha wa maulaaha. Allahumma inni a'udzu bika min 'ilmin laa yallfa', wa min qolbin laa yakhsya', wa min nafsin laa tasyba', wa mill da'watin laa yustajaabu laha." (Wahai Allah! aku berlindung dengan Engkau dari kelemahan, kemalasan dan ketakutan, kepikunan dan dari siksa kubur. Wahai Allah! Isikanlah jiwaku dengan
  39. 39. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 38 sifat taqwa dan bersihkanlah dia, Engkaulah yang terbaik membersihkannya, karena Engkaulah pelindung dan pemeliharanya. Wahai Allah! aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanafaat, dari hati yang tidak khusyu‟, dari nafsu yang tidak mau puas dan dari do‟a yang tidak berjawab)”. (Hadits Sahih Muslim Jilid 4. Hadits No. 2344) 13. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Natil (bin Odis Al Hazami), seorang penduduk Syam, bertanya kepadanya, "Wahai, Tuan Guru! Ajarkanlah kepada kami hadits yang Anda dengar dari Rasulullah s.a.w. “Jawab Abu Humirah, "Baik! Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orang yang pertama-tama diadili kelak di hari kiamat, ialah orang mati syahid. Orang itu dihadapkan ke pengadilan, lalu diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, maka dia mengakuinya. Ditanya, "Apakah yang sudah engkau perbuat sehingga mendapat nikmat itu?" Dijawab, "Aku berperang untuk agama Allah sehingga aku mati syahid." Firman Allah, "Engkau dusta! Sesungguhnya engkau berperang supaya dikatakan gagah berani. Dan gelar itu telah engkau peroleh. "Kemudian dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke neraka. Kemudian dihadapkan pula orang 'alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta membaca Al-Qur‟an. Dihadapkannya kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, semua itu diakuinya. Ditanya, "Apakah yang telah engkau perbuat sehingga memperoleh nikmat itu?" Dijawab, "Aku belajar, mengajar, dan membaca Al- Qur‟an karena Engkau." Firman Allah, "Engkau dusta! Sesungguhnya engkau belajar dan mengajar supaya
  40. 40. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 39 disebut sebagai orang „Alim, dan engkau membaca Al- Qur‟an supaya dikatakan sebagai Qori‟ (ahli baca Qur‟an). Sebutan itu telah disebutkan/dikatakan orang kepadamu." Kemudian dia diseret dengan muka menghadap ke tanah lalu di lemparkan ke neraka. Sesudah itu dihadap pula orang yang diberi kekayaan oleh Allah dengan berbagai macam harta. Semua kekayaannya dihadapkan kepadanya lalu diingatkan segala nikmat yang telah diperolehnya, ia pun mengakui. Ditanya, "Apakah yang telah engkau perbuat dengan harta sebanyak itu?" Dijawab, "Setiap bidang yang Engkau sukai tidak ada yang kutinggalkan, melainkan aku sumbang semuanya karena Engkau." Firman Allah, "Engkau dusta! Sesungguhnya engkau melakukan semuanya itu supaya engkau disebut orang yang dermawan, dan gelar itu telah engkau peroleh." Kemudian dia diseret dengan muka tertelungkup ke tanah lalu dilemparkan ke dalam neraka”. (Hadits Sahih Muslim Jilid 4. Hadits No. 1859.) 14. Ibrahim bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Zaid bin Al-Hubab memberitahukan kepada kami, Maimun Abi Abdillah memberitahukan kepada kami, Tsabit Al- Bunnani memberitahukan kepada kami dia berkata: Anas bin Malik berkata kepada ku: "Hai Tsabit! ambillah ilmu dariku karena sesungguhnya kamu tidak dapat mengambil ilmu dari seseorang yang bisa dipercaya selain aku karena aku mengambilnya langsung dari Rasulullah SAW, beliau mengambilnya dari Malaikat Jibril, dan Jibril mengambilnya langsung dari Allah SWT Yang Maha Agung dan Mulia". (Hadits Sunan Tirmidzi Jilid 5. Hadits No. 3919)
  41. 41. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 40 15. Ali bin Nashr bin Ali menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abbad Al-Huna'i memberitahukan kepada kami, Ali bin Al-Mubarak memberitahukan kepada kami, dari Ayyub Assakhtiyani, dari Khalid bin Duraik dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW bersabda : "Barangsiapa belajar ilmu karena selain Allah atau menghendaki dengan ilmunya itu selain Allah, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka". (Hadits Sunan Tirmidzi Jilid 4. Hadits No. 2793) 16. Hannad menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah memberitahukan kepada kami, dari AI-Aamasy dari Syaqiq dari Abi Musa berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya di belakang kamu ada hari- hari di mana ilmu diangkat dan haraj merajalela". Para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah apakah haraj itu? Beliau bersabda: "Pembunuhan". Dalam bagian ini terdapat Hadits dari Abu Hurairah, Khalid bin Walid dan Ma'qil bin Yasar ini Hasan Shahih. (Hadits Sunan Tirmidzi Jilid 3. Hadits No. 2296) 17. Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Ismail bin Ja'far menceritakan kepada kami dari Al-Ala' bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah r.a.; bahwasannya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ketika manusia mati, maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga: Sedekah jariyah (waqaf). Ilmu yang bermanfaat. Serta anak yang Sholeh yang mau mendoakannya". Hadits ini Hasan Shahih. (Hadits Sunan Tirmidzi Jilid 2. Hadits No. 1397)
  42. 42. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 41 18. Ahmad bin Budail bin Quraisy Al-Yami Al-Kufi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Numair memberitahukan kepada kami, dari Umarah bin Zadzan dari Ali bin Al-Hakam dari Atha' dari Abu Hurairah berkata: "Rasulullah SAW bersabda :"Barangsiapa ditanya tentang sesuatu ilmu yang ia ketahui namun ia menyembunyikannya (tanpa menjawabnya), maka kelak dia diikat di hari kiamat dengan tali yang terbuat dari api". Dalam bagian ini terdapat hadits Jabir dan Abdillah bin Amr dan Abu Hurairah adalah Hadits Hasan. (Hadis Sunan Tirmidzi Jilid 4. Hadits No. 2787) 19. Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Abu Usamah memberitahukan kepada kami, dari Al-A'masy dari Abi Shalih, dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Syurga". Hadits ini adalah Hadits Hasan. (Hadits Sunan Tirmidzi Jilid 4. Hadits No. 2784) 20. Muhammad bin Ghailan menceritakan kepada kami, Bisyir bin As Sary memberitahukan kepada kami, Sufyan memberitahukan kepada kami dari Abdul 'A' dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata : "Rasulullah SAW. bersabda : "Barangsiapa mengatakan tentang Al- Qur‟an tidak dengan (melalui) ilmu maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka". Hadits ini berstatus Hasan Shahih. (Hadits Sunan Tirmidzi Jilid 4. Hadits No. 4022)
  43. 43. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 42 5. BERSABAR TERHADAP UJIAN DAN COBAAN Sabar secara Bahasa Arab berarti: “Al Habsu” yang artinya “Menahan Diri” dan Al-Man'u yang artinya “Mencegah”. Lawan dari kata Sabar adalah: Al-Jaz'u yang artinya “Keluh- kesah”. Secara Syar'i Sabar didefinisikan dengan “Menahan diri dari segala keluh-kesah, menahan lisan dari mengeluh, dan anggota badan dari mengamuk seperti, menampar pipi, merobek saku, baju, dan semisalnya”. Perintah untuk Bersabar di dalam Al Qur'an Perintah supaya Ber-SABAR terdapat di dalam Al-Qur‟an Surat Ali-Imron Ayat 200 sebagai berikut : “Wahai Orang- orang yang Beriman, Bersabarlah dan Perkuatlah Kesabaran diantara Kalian, Bersiap-siagalah serta Bertaqwalah kepada Allah agar Kalian memperoleh Keberuntungan”. Setidaknya ada 43 kata Sabar yang dijelaskan di dalam Al- Qur'an, berikut ini adalah beberapa darinya : “Maka bersabarlah kamu seperti orang- orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah)
  44. 44. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 43 suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasiq”. (QS. Al-Ahqof : 35) “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (akan kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu”. (QS. Ar-Rum : 60) “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa-apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman : 17) Sesungguhnya Iman itu terdiri dari 2 (dua) Bagian : Sebagian Sabar dan yang Sebagian lagi adalah Syukur. Keduanya merupakan 2 (dua) sifat dari sifat-sifat Allah Ta‟ala dan 2 (dua) nama dari nama-nama Asmaul Husna, dimana Dia menamakan Diri-Nya dengan nama Ash-Shobur dan Asy- Syakur. Maka ketidak-tahuan terhadap Hakikat Sabar dan Syukur merupakan Suatu Kebodohan (ketidak-mengenalan) terhadap Sifat-sifat Allah SWT. Keutamaan Sabar Allah Ta‟ala sesungguhnya telah menyifatkan orang-orang yang sabar, dengan beberapa sifat. Ia menambahkan lebih
  45. 45. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 44 banyak derajat dan kebajikan pada sabar. Ia menjadikan derajat dan kebajikan itu sebagai hasil (buah) dari Kesabaran. Oleh karena itu Allah „Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami jadikan diantara mereka itu beberapa pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami, yaitu ketika mereka berhati teguh (sabar)”. (QS. As-Sajadah : 24) “Dan telah sempurnalah perkataan yang baik dari Tuhanmu untuk Kaum Bani Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran) mereka”. (QS. Al-A‟rof : 137) “Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka”. (QS. Al-Qashash : 54) “Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung”. (QS. Az-Zumar : 10) Maka tidak ada Pendekatan diri manusia kepada Allah (melalui ibadah), melainkan pahalanya itu telah ditentukan dengan kadar yang dapat dihitung, kecuali Sabar. Dan sesungguhnya ibadah puasa itu adalah sebagian dari sabar dan puasa itu separuh sabar, maka Allah Ta‟ala mengaitkan puasa itu hanya bagi orang-orang yang bersabar, bahwa Dia bersama mereka.
  46. 46. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 45 “Hendaklah kamu bersabar, sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal : 46) “Ya! Jika kamu bersabar dan memelihara diri, sedang mereka datang kepadamu (menyerang) dengan cepatnya maka Tuhanmu akan membantumu dengan mengirim lima ribu malaikat yang akan membinasakan”. (QS. Ali „Imron : 125). Demikian selanjutnya penelitian semua ayat-ayat tentang Kedudukan Sabar itu akan sangat panjang bila kita diteruskan. Adapun hadits-hadits yang menyangkut dengan sabar, maka antara lain, Nabi SAW bersabda : “Sabar itu Separuh dari Iman”., sebagaimana nanti akan diterangkan sabar itu separuh iman. Adapun Hadits-hadits yang lain diantaranya : “Dari yang sekurang-kurangnya diberikan kepada kamu, ialah: keyakinan dan kesungguhan sabar. Siapa yang diberikan keberuntungan dari keyakinan dan kesungguhan sabar itu, niscaya ia tidak peduli dengan yang luput dari padanya, dari shalat malam dan puasa siang. Dan engkau bersabar di atas apa yang menimpa atas diri engkau, adalah lebih aku sukai, daripada disempurnakan oleh setiap orang daripada
  47. 47. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 46 kamu, kepadaku, dengan seperti amalan semua kamu. Akan tetapi aku takut, bahwa dibukakan kepadamu dunia sesudahku. Lalu sebagian kamu menetang sebagian yang lain. Dan akan ditantang kamu oleh penduduk langit (para malaikat) ketika itu. Maka siapa yang sabar dan memperhitungkan diri, niscaya memperoleh kesempurnaan pahalanya”. Kemudian Nabi s.a.w. membaca firman Allah Ta‟ala: “Apa yang di sisi kamu itu akan hilang dan apa yang di sisi Allah itu yang kekal. Dan akan Kami berikan kepada orang-oang yang sabar itu pembalasan, menurut yang telah mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya (An-Nahl:96)”. Diriwayatkan oleh Jabir, bahwa Nabi SAW suatu hari ditanya tentang iman, maka Beliau menjawab: “Sabar dan Suka Memaafkan”. Dikatakan bahwa Allah Ta‟ala menurunkan wahyu kepada Nabi Daud AS : “Ber-akhlaqlah kalian seperti Akhlaq-Ku! Sesungguhnya sebagian dari Akhlaq-Ku ialah bahwa Aku Maha Sabar.” Pada hadits yang diriwayatkan „Atha‟ dari Ibnu Abbas, bahwasannya ketika Rasulullah SAW masuk ke tempat orang-orang Anshar kemudian Beliau bertanya : “Apakah kamu ini semua orang beriman?”. Semua mereka diam. Maka menjawab Umar RA: “Ya, wahai Rasulullah!”. Nabi SAW lalu
  48. 48. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 47 bertanya: “Apakah tandanya keimanan kamu itu?”Mereka menjawab: “Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas percobaan. Dan kami rela dengan ketetapan Tuhan (Qadha Allah Ta‟ala)”. Lalu Nabi SAW menjawab: “Demi Tuhan pemilik Ka‟bah! Benar kamu itu orang beriman!”. Nabi SAW bersabda : “Pada kesabaran atas apa-apa yang tidak engkau sukai itu terdapat banyak kebajikan”. Isa Al-Masih AS berkata : “Engkau sesungguhnya tidak akan memperoleh apa-apa yang engkau sukai, selain dengan kesabaranmu atas apa-apa yang tidak engkau sukai”. Adapun Atsar, maka diantaranya terdapat pada surat Khalifah Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy‟ari, yang berbunyinya : “Haruslah engkau bersabar! Dan ketahuilah, bahwa sabar itu dua. Yang satu lebih utama dari yang lain. Sabar pada saat musibah itu baik. Dan yang lebih baik lagi ialah sabar (menahan diri) dari yang diharamkan oleh Allah Ta‟ala. Dan ketahuilah, bahwa sabar itu yang memiliki iman. Dan bahwasannya Taqwa itu Kebajikan yang Utama. Dan Taqwa itu bersama dengan Sabar”. Ali bin Abi Thalib juga berkata : “Sabar itu sebagian dari iman, yakni seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada tubuh bagi orang yang tidak mempunyai kepala. Dan tidak ada iman, bagi orang yang tidak mempunyai kesabaran”. Adalah Habib bin Abi Habib Al-Bashari, apabila membaca ayat: “Sesungguhnya dia (Ayub) kami dapati, seorang yang
  49. 49. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 48 sabar. Seorang hamba yang amat baik. Sesungguhnya dia tetap kembali (kepada Tuhan)” (QS. Shad : 44), lalu beliau menangis dan berkata: “Alangkah menakjubkan ! Dia yang memberi dan Dia yang memujinya.” Hakikat Kesabaran Ketahuilah bahwasannya Sabar itu suatu Maqam (tingkat) dari tingkat-tingkat di dalam Agama Islam. Suatu kedudukan dari kedudukan orang-orang yang berjalan menuju kepada Allah. Semua Maqam Agama itu hanya dapat tersusun baik dari 3 (tiga) hal yaitu : Ma‟rifah, Ahwal dan Amal. Maka Ma‟rifah itu adalah pokok, dialah yang mewariskan Ahwal, dan Ahwal itu yang membuahkan Amal. Ma‟rifah itu adalah seperti pohon kayu, Ahwal adalah seperti ranting, dan Amal seperti buah. Hal ini terdapat pada semua kedudukan Para Sholihin. Demikian pula dengan Sabar. Tiada akan sempurna Sabar itu selain dengan Ma‟rifah yang mendahuluinya dan dengan Ahwal yang tegak berdiri. Adapun manusia sesungguhnya ia diciptakan pada permulaan masa kecilnya tanpa keinginan lain kecuali keinginan untuk makan. Kemudian lahirlah keinginan bermain dan berhias, kemudian nafsu berkeinginan untuk kawin. Dan tidak ada sekali-kali pada manusia (pada masa kecil tersebut) kekuatan sabar. Pada anak kecil itu yang ada hanyalah hawa nafsu, seperti yang ada pada hewan. Akan tetapi, Allah SWT dengan Karunia-Nya dan Keluasan Kemurahan-Nya, memuliakan anak-anak Adam dan meninggikan derajat mereka dari derajat hewan-hewan. Maka
  50. 50. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 49 Allah SWT menjaga manusia itu dengan 2 (dua) malaikat ketika dirinya sudah sempurna dan mendekati kedewasaan. Yang satu memberinya petunjuk dan yang satunya lagi menguatkan. Maka berbedalah manusia itu dengan hewan. Perlu dipahami bahwasannya peperangan di dalam diri seseorang itu terjadi antara penggerak agama dan penggerak hawa nafsu, dan perang tersebut terjadi terus menerus di dalam Hati Nurani (Qolb) manusia sebagai hamba Allah. Sumber bantuan kepada penggerak agama itu datangnya dari Para Malaikat yang menolong, sedangkan Sumber dari penggerak nafsu syahwat itu datangnya dari Syetan-syetan yang membantu musuh-musuh Allah. Maka Kesabaran itu ibarat tetapnya penggerak agama menghadapi penggerak hawa nafsu. Jadi, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan hawa nafsu adalah amal perbuatan yang dihasilkan oleh suatu Ahwal, yang dinamakan Sabar, yaitu tetapnya penggerak agama yang berhadapan dengan penggerak hawa nafsu. Tetapnya penggerak agama itu adalah sesuatu hal yang dihasilkan oleh Iman, dengan memusuhi nafsu syahwat dan melawannya dengan motivasi untuk memperoleh Kebahagiaan, baik kebahagiaan di Akhirat kelak maupun kebahagiaan di Dunia ini. Sabar sangat diperlukan bagi setiap orang beriman untuk menghadapi ujian yang di berikan oleh Allah, karena setiap orang yang beriman pasti akan menghadapi ujian dari Allah dan tidak ada cara yang paling tepat untuk menghadapi ujian kecuali dengan Kesabaran.
  51. 51. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 50 Ujian atau Cobaan (Ibtila’) Perhatikan Firman Allah SWT di dalam Al-Qu‟an Karim : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut : 2-3) Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita adalah kita harus siap menghadapi Ujian/Cobaan yang akan diberikan Allah SWT kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan Iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, ataukah hanya sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuannya, ataukah pernyataan iman kita hanya didorong oleh kepentingan sesaat, hanya ingin mendapatkan kemenangan serta tidak mau menghadapi kesulitan-kesulitan seperti yang digambarkan Allah SWT di dalam Al-Qur‟an Surat Al-Ankabut ayat 10, sebagai berikut : “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka
  52. 52. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 51 pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada semua manusia ?” Bila kita sudah menyatakan beriman dan kita mengharapkan manisnya buah dari Iman yang kita miliki, yaitu Surga, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah SWT dengan FirmanNya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shoieh, bagi mereka adalah Syurga Firdaus yang menjadi tempat tinggal”. (QS. Al-Kahfi : 107) Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, serta bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Syurga tanpa melewati ujian yang berat tersebut : “Apakah kalian mengira akan masuk Syurga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amatlah dekat”. (QS. Al-Baqarah : 214).
  53. 53. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 52 Rasulullah SAW mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dahulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkan kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats RA : “... sungguh telah terjadi kepada orang- orang sebelum kalian, ada yang disisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya...” (HR. Bukhari) Cobalah kita renungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita? Cobaan apa yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan Aqidah dan Iman kita? Bila kita memperhatikan perjuangan Rasulullah SAW dan orang-orang terdahulu dalam mempertahankan iman mereka, betapa besar pengorbanan mereka dalam memperjuangkan iman mereka, mereka rela mengorbankan harta, tenaga, pikiran, dan bahkan jiwapun mereka korbankan untuk itu. Rasanya iman kita ini belum seberapanya atau bahkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak merasa malu meminta balasan yang begitu besar dari Allah sementara pengorbanan kita sedikitpun belum ada? (Wallahu A‟lam Bishowab) Ujian yang diberikan Allah kepada manusia adalah berbeda- beda sifatnya dan bermacam-macam bentuknya, sekurang-
  54. 54. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 53 kurangnya ada 4 (empat) macam Ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita, yaitu : Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintainya, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan : “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata”. (QS. Ash-Shoffat : 106). Di sini kita melihat bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim AS yang benar-benar sudah teruji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya maka perintah Allah yang sangat berat itupun mampu dilaksanakan. Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berat dan sangat berharga bagi kita serta sangat perlu kita teladani, karena sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita sekarang ini banyak sekali perintah Allah yang kita anggap berat dengan berbagai alasan kita untuk tidak melaksanakannya. Sebagai contoh, Allah SWT telah memerintahkan kepada para Wanita Muslimah untuk memakai jilbab (pakaian yang menutup seluruh aurat) secara tegas untuk membedakan antara wanita Muslimah dan wanita Musyrikah, sebagaimana diterangkan dalam FirmanNya :
  55. 55. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 54 Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin: “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59). Namun kita lihat sekarang ini masih sangat banyak Para Wanita Muslimah di Indonesia khususnya, yang tidak mau memakai jilbab dengan berbagai alasan, ada yang menganggap kampungan, tidak modis, atau beranggapan bahwa jilbab adalah bagian dari budaya bangsa Arab, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan pertanda bahwa iman mereka belum lulus ujian. Padahal Rasulullah SAW memberikan ancaman kepada para wanita yang tidak mau memakai jilbab dengan Sabda Belaiu : “Dua golongan dari ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul manusia, dan wanita yang memakai baju tetapi telanjang berlenggak- lenggok menarik perhatian, kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium wanginya”. (HR. Muslim)
  56. 56. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 55 Kedua: Ujian yang berbentuk larangan Allah untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf AS yang diuji dengan seorang perempuan cantik, istri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya berzina. Ketika kesempatan itu sudah sangat terbuka dan keduanya sudah tinggal berdua di rumah dan perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun Nabi Yusuf AS membuktikan kualitas keimanannya, ia berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan tersebut padahal sebagaimana seorang pemuda umumnya pastilah ia mempunyai hasrat kepada wanita. Hal ini artinya nabi Yusuf telah lulus dari ujian atas keimanannya. Allah menceritakan kisah Nabi Yusuf ini di dalam Al-Qur‟an Surat Yusuf Ayat 23-28 : “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk
  57. 57. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 56 hamba-hamba Kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?" Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar." Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar". (QS. Yusuf : 23-28) Sikap Nabi Yusuf AS ini perlu kita teladani dan ikuti, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, minuman keras dan obat-obat terlarang sudah merambah berbagai lapisan masyarakat, sampai-sampai anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) pun sudah ada yang kecanduan.
  58. 58. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 57 Perzinahan seakan sudah menjadi hal yang biasa bagi para pemuda, sehingga tak heran bila menurut sebuah penelitian baru-baru ini yang menyatakan bahwasannya di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Medan dan Surabaya : “Ada sekitar 6 (enam) orang dari 10 (sepuluh) orang remaja putri yang sudah tidak perawan (virgin) lagi”. Naudzubillah. Maka dari itu akibatnya setiap tahun sekitar 2.000.000 (dua juta) bayi dibunuh dengan cara aborsi atau dibunuh beberapa saat setelah si bayi lahir. Keadaan seperti itu diperparah lagi dengan semakin maraknya media cetak yang berlomba-lomba memamerkan dan mengekspose aurat wanita, begitu juga media-media elektronik dengan acara-acara televisi yang sengaja dirancang untuk membangkitkan gairah seksual para remaja untuk menimbulkan perilaku seks yang agresif, masif dan menyimpang dari norma yang sesungguhnya. Pada saat seperti inilah Sikap dan Perilaku Nabi Yusuf AS perlu ditanamkan dan dicontoh oleh Para Pemuda Muslim. Para Pemuda Muslim harus selalu siap-siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan diri mereka ke jurang kemaksiatan. Rasulullah SAW telah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat maka ia kelak akan diberi perlindungan pada hari Kiamat sebagaimana diterangkan dalam Sabda Beliau : “Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam lindunganNya pada hari Kiamat yang tidak ada suatu perlindunganpun selain dari perlindunganNya, … seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah” (HR. Bukhari - Muslim)
  59. 59. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 58 Ketiga: Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi Ayyub AS yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tidak tersisa sedikitpun untuk biaya pengobatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, sehingga seluruh keluarga dan kerabatnya meninggalkannya, hanya tinggal ia dan isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah yang dialaminya ini berlangsung sangat lama selama 18 (delapan belas) tahun, sampai-sampai pada saat yang sangat teramat sulit sekali Nabi Ayyub memelas sambil berdo‟a kepada Allah SWT, yang dituangkan oleh Allah di dalam Al-Qur‟an sebagai berikut : “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya : (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". (QS. Al-Anbiya : 83) “Dan ketika itu Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk menghantamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 52)
  60. 60. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 59 (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. (QS. Shood : 42) Begitulah ujian Allah kepada NabiNya, masa selama 18 (delapan belas) tahun telah ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub AS membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman yang seperti ini jelas tidak banyak dimiliki oleh saudara-saudara kita yang tega menjual imannya dan menukar aqidahnya dengan sekantong beras dan sebungkus mie instant, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang telah dialami oleh Nabi Ayyub AS. Keempat: Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam, yakni apa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabatnya, terutama ketika mereka masih berada di Mekkah yang mana kiranya cukup menjadi Teladan dan Pelajaran bagi kita, betapa keimanan itu diuji dengan berbagai cobaan berat yang menuntut pengorbanan harta, pikiran bahkan nyawa. Diantaranya apa yang telah dialami oleh Rasulullah SAW di akhir tahun ketujuh kenabiannya, ketika itu orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan apapun dengan Beliau beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali apabila kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah SAW untuk dibunuh.
  61. 61. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 60 Rasulullah SAW bersama orang-orang yang membelanya diboikot (terkurung) selama 3 (tiga) tahun, mereka mengalami kelaparan serta penderitaan yang hebat. (Baca: Buku Karya DR. Akram Dhiya Al-„Umari, berjudul: As- Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 182). Apa-apa yang dialami oleh Para Sahabat juga tidak kalah beratnya, seperti apa yang dialami oleh Yasir dan istrinya Sumayyah (dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Mekkah). Juga Bilal bin Rabah Radhiallaahu „Anhu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, lalu diarak oleh anak-anak kecil mengelilingi kota Mekkah dan Bilal hanya mengucapkan “Ahad, Ahad”. (Baca: Buku Karya DR. Akram Dhiya Al-„Umari, berjudul: As- Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 154-155). Serta masih banyak kisah-kisah lainnya yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan untuk mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun melemahkan semangat Rasulullah dan Para Sahabatnya untuk terus berdakwah dan menyebarkan Agama Islam. Musibah yang banyak dialami oleh saudara-saudara kita Umat Islam di berbagai tempat di belahan bumi sekarang ini (seperti di Gaza Palestina) adalah akibat kedengkian dari orang-orang Kafir dan Yahudi merupakan Ujian bagi Umat Islam dari Allah SWT kepada Umat Islam di sana, sekaligus sebagai pelajaran berharga bagi Umat Islam di daerah-daerah lainnya. Umat Islam di Indonesia khususnya, saat ini sedang diuji Allah sejauh mana ketahanan iman mereka dalam
  62. 62. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 61 menghadapi cercaan, celaan serta serangan dari orang-orang yang membenci Islam dan Kaum Muslimin. Kita do‟akan semoga saudara-saudara kita yang gugur dalam mempertahankan aqidah dan iman mereka, dicatat sebagai para syuhada di sisi Allah. Amin. Dan semoga Umat Islam yang berada di daerah-daerah lainnya dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa sejarah yang telah terjadi, sehingga mereka tidak lengah dan lalai dalam menghadapi dan menyikapi orang-orang kafir serta selalu berpegang teguh kepada Ajaran Allah SWT serta selalu siap sedia untuk berkorban dalam mempertahankan dan meninggikannya, karena dengan demikianlah pertolongan Allah akan datang kepada kita, sebagaimana Firman Allah yang berbunyi : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, maka niscaya Dia akan menolongmu serta akan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad : 7). Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan diri untuk menerima Ujian dari Allah, serta kita harus yakin bahwa Ujian dari Allah itu adalah satu tanda Kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW di dalam Haditsnya : “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ia ridho maka baginyalah
  63. 63. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 62 keridhoan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah”. (HR. Tirmidzi, Hadits Hasan) Mudah-mudahan kita semua diberikan Ketabahan dan Kesabaran oleh Allah SWT dalam menghadapi Setiap Ujian yang akan diberikan olehNya kepada kita. Amien. Karena Orang-orang yang SABAR akan selalu didampingi oleh Allah SWT di manapun mereka berada (“Innallaha Ma‟ash Shoobiriin” = “Allah bersama orang-orang yang sabar”). Disamping itu juga yang paling dijanjikan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang sabar adalah: “Salamun „Alaikum Bima Shobartum”. Allah memberi keselamatan kepada orang-orang yang Sabar tersebut dengan mengucapkan: “Selamat bagimu wahai Orang-orang yang Sabar”. Orang- orang Non-muslim banyak yang mengatakan bahwa: SABAR itu MENYAKITKAN, sehingga ada sebuah PEMEO terkenal diantara mereka yaitu : “SABAR is PAINS”. Ya, betul sekali ! Dalam hal ini penulis sangat setuju dengan “definisi” sabar yang mereka kemukakan dalam PEMEO tersebut, TETAPI bagi Penulis Kata “P-A-I-N-S” tersebut adalah berarti sebagai berikut : P - Positive “PERILAKU yang POSITIF dalam SITUASI NEGATIF yang bagaimanapun" A - Attitude I - In N - Negative S - Situations
  64. 64. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 63 Maka dalam hal ini kemudian Penulis punya “definisi” tersendiri yang LEBIH MENGENA & LEBIH PAS tentang SABAR tersebut, yakni : “SABAR is PATIENTS”. (SABAR itu KESABARAN) P - Positive “Perilaku, Pemikiran, Tindakan dan Emosi yang POSITIF dalam setiap Situasi COBAAN yang bagaimanapun NEGATIFnya." A - Attitude, T - Thinking, I - Implementation, and E - Emotion, in N - Negative T - Test S - Situations Macam-macam SABAR yang SANGAT dianjurkan oleh Rosulullah SAW kepada Orang-orang yang Beriman yaitu : 1). SABAR dalam Beribadah (Ash-Shobru fil „Ibadah) 2). SABAR ketika Tertimpah Musibah (Ash-Shobru „indal Mushibah) 3). SABAR terhadap Kehidupan di Dunia (Ash-Shobru „anid Dunya) 4). SABAR untuk Tidak Melakukan Maksiat (Ash-Shobru „anil Ma‟shiyah) 5). SABAR dalam Perjuangan dan Jihad (Ash-Shobru fil Jihad)
  65. 65. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 64 Oleh karena itu, sebagai orang yang Muslim yang Beriman kita haruslah banyak-banyak Berdo‟a kepada Allah SWT untuk meminta kepada Allah SWT agar kita selalu diuji dengan Ujian-ujian yang baik dan dengan Ujian-ujian yang kita yakin mampu melewatinya dengan Sukses, marilah kita berdo‟a : “Allahumma Laa Tabluna Illa Billati Hia Ahsan”. Karena do‟a merupakan senjatanya orang Muslim yang Beriman. Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah berfirman di dalam Al-Qur'an bahwasannya Dia dekat sekali dengan setiap manusia dan akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo‟a kepada- Nya (“Ud‟uunii Astajib Lakum”). Adapun salah satu ayat yang membicarakan masalah tersebut adalah : "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku ini amat dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo‟a apabila ia berdoa kepada-Ku, maka penuhilah SeruanKu dan berimanlah kepadaKu agar kalian selalu berada dalam kebenaran." (QS Al-Baqarah: 186). Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, Allah itu dekat sekali kepada setiap orang. Dia Maha Mengetahui keinginan, perasaan, pikiran, kata-kata yang diucapkan, bisikan, bahkan apa saja yang tersembunyi dalam hati setiap orang. Dengan demikian, Allah Mendengar dan Mengetahui setiap orang yang berpaling kepada-Nya dan berdo‟a kepada-Nya. Inilah karunia Allah kepada manusia dan sebagai wujud dari kasih- sayang-Nya, rahmat-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tiada batas.
  66. 66. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 65 Allah memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang tiada batas. Dialah Pemilik segala sesuatu di seluruh alam semesta. Setiap makhluk, setiap benda, dari orang-orang yang tampaknya paling kuat hingga orang-orang yang sangat kaya, dari binatang-binatang yang sangat besar hingga yang sangat kecil yang mendiami bumi, semuanya milik Allah dan semuanya berada dalam kehendak-Nya dan pegaturan-Nya yang mutlak. Seseorang yang beriman terhadap kebenaran ini dapat berdo‟a kepada Allah mengenai apa saja dan dapat berharap bahwa Allah akan mengabulkan do‟a-do‟anya. Misalnya, seseorang yang mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan tentu saja akan berusaha untuk melakukan berbagai macam pengobatan. Namun ketika mengetahui bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kesehatan, lalu ia pun berdo‟a kepada-Nya memohon kesembuhan. Demikian pula, orang yang mengalami ketakutan atau kecemasan dapat berdo‟a kepada Allah agar terbebas dari ketakutan dan kecemasan. Seseorang yang menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan dapat berpaling kepada Allah untuk menghilangkan kesulitannya. Seseorang dapat berdo‟a kepada Allah untuk memohon berbagai hal yang tidak terhitung banyaknya seperti untuk memohon bimbingan kepada jalan yang benar, untuk dimasukkan ke dalam surga bersama-sama orang-orang beriman lainnya, agar lebih meyakini surga, neraka, Kekuasaan Allah, untuk kesehatan, dan sebagainya. Inilah yang telah ditekankan Rasulullah SAW dalam Sabdanya : "Maukah aku beritahukan kepadamu suatu senjata yang dapat melindungimu dari kejahatan musuh
  67. 67. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 66 dan agar rezekimu bertambah ?" Mereka berkata: "Tentu saja wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Serulah Tuhanmu siang dan malam, karena Do‟a itu merupakan senjata bagi orang- orang yang beriman." Namun demikian, terdapat rahasia lain di balik apa yang diungkapkan dlm Al-Qur'an yg perlu kita bicarakan dalam masalah ini. Sebagaimana Allah telah menyatakannya di dalam ayat : "Dan manusia berdo‟a untuk kejahatan sebagaimana ia berdo‟a untuk kebaikan. Dan manusia itu amat tergesa-gesa." (QS Al-Isra': 11). Tidak setiap do‟a yang dipanjatkan oleh manusia itu bermanfaat. Misalnya seseorang memohon kepada Allah agar diberi harta dan kekayaan yang banyak untuk anak-anaknya kelak. Akan tetapi Allah tidak melihat kebaikan di dalam do‟anya itu. Yakni, kekayaan yang banyak itu justru dapat memalingkan anak-anak tersebut dari Allah. Dalam hal ini, Allah mendengar do‟a orang tersebut, menerimanya sebagai amal ibadah, dan mengabulkannya dengan cara yang sebaik-baiknya. Sebagai contoh lainnya, seseorang berdo‟a agar tidak terlambat dalam memenuhi perjanjian. Namun tampaknya lebih baik baginya jika ia sampai di tujuan setelah waktu yang ditentukan, karena ia dapat bertemu dengan seseorang yang memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kehidupan yang abadi. Allah mengetahui masalah ini, dan Dia mengabulkan do‟a bukan berdasarkan apa yang dipikirkan orang itu, tetapi dengan cara yang terbaik. Yakni, Allah mendengar do‟a orang itu, tetapi jika Dia melihat tidak ada kebaikan dalam do‟anya itu maka
  68. 68. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 67 Dia akan memberikan yang terbaik bagi orang itu. Tentu saja hal ini merupakan rahasia yang sangat penting kita pahami. Ketika do‟a tidak dikabulkan, orang-orang tidak menyadari tentang rahasia ini, mereka mengira bahwa Allah tidak mendengar do‟a mereka. Sesungguhnya hal ini merupakan keyakinan orang-orang bodoh yang sesat, karena "Allah itu lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri." (QS Qaf:16). Dia Maha Mengetahui perkataan apa saja yang diucapkan, apa saja yang dipikirkan, dan peristiwa apa saja yang dialami seseorang. Bahkan ketika seseorang tertidur, Allah mengetahui apa yang ia alami dalam mimpinya. Allah adalah Yang menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, kapan saja seseorang berdo‟a kepada Allah, ia harus menyadari bahwa Allah akan menerima do‟anya pada saat yang paling tepat dan akan memberikan apa yang terbaik baginya. Do‟a, di samping sebagai bentuk amal ibadah, juga merupakan karunia Allah yang sangat berharga bagi manusia, karena melalui do‟a, Allah akan memberikan kepada manusia sesuatu yang Dia pandang baik dan bermanfaat bagi dirinya. Allah menyatakan pentingnya do‟a dalam sebuah ayat : "Katakanlah: 'Tuhanku tidak mengindahkan kamu, andaikan tidak karena do‟amu. Tetapi kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak azab pasti akan menimpamu'." (QS Al-Furqan: 77) Allah Mengabulkan Do‟a Orang-orang yang Menderita dan Berada dalam Kesulitan. Do‟a adalah saat-saat ketika kedekatan seseorang dengan Allah dapat dirasakan. Sebagai hamba Allah, seseorang sangat memerlukan Dia. Hal ini
  69. 69. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 68 karena ketika seseorang berdo‟a, ia akan menyadari betapa lemahnya dan betapa hinanya dirinya di hadapan Allah, dan ia menyadari bahwa tak seorang pun yang dapat menolongnya kecuali Allah. Keikhlasan dan kesungguhan seseorang dalam berdo‟a tergantung pada sejauh mana ia merasa memerlukan. Misalnya, setiap orang berdo‟a kepada Allah untuk memohon keselamatan di dunia. Namun, orang yang merasa putus asa di tengah-tengah medan perang akan berdo‟a lebih sungguh-sungguh dan dengan berendah diri di hadapan Allah. Demikian pula, ketika terjadi badai yang menerpa sebuah kapal atau pesawat terbang sehingga terancam bahaya, orang-orang akan memohon kepada Allah dengan berendah diri. Mereka akan ikhlas dan berserah diri dalam berdo‟a. Allah menceritakan keadaan ini dalam sebuah Ayat : "Katakanlah : Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdo‟a kepada- Nya dengan berendah diri dengan suara yang lembut, maka dikatakan : 'Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur'." (QS Al-An'am: 63). Di dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan manusia agar berdo‟a dengan merendahkan diri : "Berdo‟alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al-A'raf: 55). Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia mengabulkan do‟a orang-orang yang teraniaya dan orang- orang yang berada dalam kesusahan : "Atau siapakah yang
  70. 70. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 69 mengabulkan (do‟a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo‟a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan lain selain Allah ? Sedikit sekali kamu yang memperhatikannya." (QS An-Naml:62). Tentu saja orang tidak harus berada dalam keadaan bahaya ketika berdo‟a kepada Allah. Contoh-contoh ini diberikan agar orang-orang dapat memahami maknanya sehingga mereka berdoa dengan ikhlas dan merenungkan saat kematian, ketika seseorang tidak lagi merasa lalai sehingga mereka berpaling kepada Allah dengan keikhlasan yang dalam. Dalam pada itu, orang-orang yang beriman, yang dengan sepenuh hati berbakti kepada Allah, selalu menyadari kelemahan mereka dan kekurangan mereka, mereka selalu berpaling kepada Allah dengan ikhlas, sekalipun mereka tidak berada dalam keadaan bahaya. Ini merupakan ciri penting yang membedakan mereka dengan orang-orang kafir dan orang-orang yang imannya lemah. Tidak Ada Pembatasan Apa pun dalam Berdo‟a. Seseorang dapat memohon apa saja kepada Allah asalkan halal. Hal ini karena sebagaimana telah disebutkan terdahulu, Allah adalah satu-satunya penguasa dan pemilik seluruh alam semesta; dan jika Dia menghendaki, Dia dapat memberikan kepada manusia apa saja yang Dia inginkan. Setiap orang yang berpaling kepada Allah dan berdo‟a kepada-Nya, haruslah meyakini bahwa Allah berkuasa melakukan apa saja dan bersungguh-sungguhlah dalam berdo‟a sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW. Ia perlu mengetahui bahwa mudah saja bagi-Nya untuk memenuhi keinginan apa saja.
  71. 71. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Muhammad Shobrie H.W., SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr. Page 70 Dia akan memberikan apa yang diminta oleh seseorang jika di dalamnya terdapat kebaikan bagi orang itu dalam do‟a tersebut. Do‟a-do‟a para Nabi dan orang-orang beriman yang disebutkan dalam Al-Qur'an merupakan contoh bagi orang- orang beriman tentang hal-hal yang dapat mereka mohon kepada Allah. Misalnya, Nabi Zakaria A.S. berdo‟a kepada Allah agar diberi keturunan yang diridhoi, dan Allah pun mengabulkan doanya, meskipun istrinya mandul : "Yaitu ketika ia berdo‟a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo‟a kepada-Mu ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku sangat khawatir terhadap pewarisku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia ya Tuhanku, seorang yang diridhoi'." (QS Maryam: 3-6). Maka Allah mengabulkan do‟a Nabi Zakaria dan memberikan kepadanya berita gembira tentang Nabi Yahya A.S. Setelah menerima berita gembira tentang seorang anak laki-laki, Nabi Zakaria merasa heran karena istrinya mandul. Jawaban Allah kepada Nabi Zakaria menjelaskan tentang sebuah rahasia yang hendaknya selalu dicamkan dalam hati orang-orang yang beriman : "Zakaria berkata : 'Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.' Allah berfirman : 'Demikianlah.' Hal itu amat mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu belum ada sama sekali'." (QS Maryam: 8-9)

×