Dampak Perubahan Iklim terhadap Ekologi Laut

10,017 views

Published on

This paper is assignment of Ecology lecturer at University of Indonesia

Published in: Education
3 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
10,017
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
388
Comments
3
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Dampak Perubahan Iklim terhadap Ekologi Laut

  1. 1. DAMPAK PERUBAHAN IKLIMTERHADAP EKOLOGI LAUT DI INDONESIA Oleh: Dadang Setiawan (1106143491)TUGAS MATA KULIAH EKOLOGI & PRAKTIKUM Dari Dr. Malikusworo Hutomo, A.P.U. PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN
  2. 2. Daftar IsiPENDAHULUAN ......................................................................................................................... 2 A. Pentingnya Ekosistem .......................................................................................................... 2 B. Peran Manusia...................................................................................................................... 4 C. Peran Ekosistem ................................................................................................................... 4PERUBAHAN IKLIM DAN EKOSISTEM ............................................................................... 7 A. Permukaan Air Laut ............................................................................................................. 9 B. Siklus Air ............................................................................................................................. 9 C. Cuaca Ekstrim .................................................................................................................... 10 D. Es Laut Antartika ............................................................................................................... 10 E. Keasaman Laut................................................................................................................... 10 F. Perkiraan Mendatang ......................................................................................................... 11 G. Harapan dari Perubahan Iklim di Masa Depan .................................................................. 12 H. Adaptasi Ekosistem............................................................................................................ 17DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP EKOLOGI LAUT DI INDONESIA ....... 19 A. Kenaikan Muka Air Laut di Indonesia............................................................................... 20 B. Cuaca Ekstrim .................................................................................................................... 23 C. Dampak terhadap Ekosistem Terumbu Karang .............................................................. 26 1. Perubahan Distribusi Ekosistem Terumbu Karang....................................................... 28 2. Penurunan Potensi Kalsifikasi ....................................................................................... 28 3. Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang ........................................................................ 29 D. Isu-isu Ekologis Laut Lainnya ........................................................................................... 30KESIMPULAN ........................................................................................................................... 32DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 34Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 1PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN Iklim dunia berubah, dan akan terus berubah sepanjang abad 21 dan seterusnya.Kenaikan temperatur, pola presipitasi baru, dan perubahan lain telah mempengaruhi banyakaspek dari masyarakat manusia dan alam. Perubahan iklim mengubah ekosistem pada tingkat yang skala luar biasa. Setiap spesiesmenanggapi lingkungannya berubah, interaksi dengan dunia fisik dan makhluk di sekitarnyaberubah-memicu hadirnya dampak seluruh ekosistem, seperti ekspansi ke daerah baru,percampuran sebelumnya tidak tumpang tindih spesies, dan bahkan spesies kepunahan Perubahan iklim adalah proses yang berskala global, tetapi dengan manifestasi wilayahdan daerah beragam. Dampak ekologi lazimnya berlangsung lokal dan bervariasi dari tempat ketempat. Untuk menerangkan bagaimana perubahan iklim telah mempengaruhi spesies tertentudan ekosistem khususnya ekosistem laut, dokumen ini menyajikan serangkaian contoh dampakekologi dari perubahan iklim yang telah diamati di Indonesia. Tindakan manusia telah menjadi penyebab utama dari perubahan iklim diamati hari ini,tetapi manusia mampu mengubah perilakunya dengan cara yang memodifikasi laju perubahaniklim di masa depan. Tindakan manusia juga dibutuhkan untuk membantu spesies liarberadaptasi dengan perubahan iklim yang tidak dapat dihindari. Pendekatan baru untuk energi,pertanian, pengelolaan air, memancing, konservasi biologi, dan kegiatan lainnya semua akanmempengaruhi cara dan sejauh mana perubahan iklim akan mengubah dunia dan alamekosistem. A. Pentingnya Ekosistem Manusia berbagi bumi dengan keragaman yang luas dari hewan, tumbuhan, danmikroorganisme. Hampir setiap bagian dari planet ini - benua, lautan, dan atmosfer - penuhdengan kehidupan. Bahkan bagian-bagian terdalam dari laut dan formasi batuan ratusan meter dibawah permukaan diisi dengan organisme yang sesuai untuk mengatasi tantangan yangmenampakkan ciri unik masing-masing lingkungannya. Dalam organisme era saat ini hampir diDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 2PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  4. 4. berbagai tempat menghadapi tantangan baru, khususnya tantangan yang muncul dari perubahaniklim yang cepat. Bagaimana tanaman, hewan, dan mikroorganisme mengatasi perubahan iklim yang telahterjadi, dan bagaimana mungkin mereka mengatasi perubahan masa depan? Untukmengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ini kita mulai dengan diskusi tentang bagaimanatanaman, hewan, dan mikroorganisme cocok bersama dalam ekosistem dan peranan iklim dalamhubungan tersebut. Bumi memiliki keragaman habitat. Hal ini disebabkan perbedaan lahan, panjang waktuhari, ketinggian, sumber air, kimia, dan faktor lainnya. Akibatnya, dalam jenis-jenis organismeyang mereka diami, hewan-hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme yang hidup di satu tempat,bersama dengan air, tanah, dan bentang alam, membuat sebuah kesatuan ekosistem. Keterkaitan ekosistem dengan dampak perubahan iklim, yakti tidak hanya spesies, namunindividu dapat berperan membantu karena setiap ekosistem tergantung pada beragam interaksi diantara individu. Beberapa melibatkan unsur kompetisi species. Sebagai contoh, beberapa oranglain naungan tanaman atau hewan beberapa bersaing untuk makanan langka yang sama.Beberapa melibatkan hubungan antara hewan dan mangsanya. Lainnya melibatkan dekomposisi,proses pembusukan yang mengembalikan mineral dan bahan organik ke tanah. Dan beberapainteraksi yang bermanfaat bagi kedua pasangan, misalnya, lebah yang mendapatkan makanandari bunga sementara penyerbukan mereka. Iklim mempengaruhi ekosistem dan spesies yang mendiami mereka dalam banyak cara.Secara umum, setiap jenis ekosistem secara konsisten dikaitkan dengan kombinasi tertentu darikarakteristik iklim (Walter 1968). Tanah tropis yang hangat dengan hujan sepanjang tahunbiasanya mendukung hutan dengan pohon-pohon tinggi broadleaved cemara. Midlatitude tanahdengan musim dingin dan musim panas yang lembab biasanya mendukung hutan gugur,sedangkan daerah yang lebih kering tercakup di padang rumput, shrublands, atau hutan konifer. Dalam bentuk serupa, perairan laut dangkal tropis tempat hidup terumbu karang di dasarlaut, dan hutan bakau di sepanjang pantai berlumpur, sedangkan pantai beriklim dicirikan olehhutan kelp di dasar karang dan lamun atau rawa garam pada sedimen yang tertutup bagianDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 3PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  5. 5. bawah. Jenis vegetasi utama bioma atau bisa menutupi area yang luas. Dalam daerah-daerahberbagai ekosistem agak berbeda memanfaatkan situs dengan tanah yang berbeda, topografi,penggunaan lahan sejarah, arus laut, atau rincian iklim. B. Peran Manusia Manusia adalah bagian penting dari ekosistem yang paling, dan sebaliknya banyakekosistem telah banyak diubah oleh manusia. Sebidang tanah pertanian yang dikelola secaraintensif, kolam ikan, dan padang rumput dan ekosistem terluas adalah hutan tropis. Semuadipengaruhi oleh iklim, semua tergantung pada berbagai macam interaksi, dan semuamemberikan manfaat penting untuk manusia. Kehidupan hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme sangat peka terhadap perubahaniklim, seperti variasi suhu; jumlah, waktu, atau bentuk presipitasi, atau perubahan arus laut.Beberapa lebih sensitif dan rentan terhadap fluktuasi iklim daripada yang lain. Jika perubahaniklim terjadi ssecara sederhana dan lambat, mayoritas spesies kemungkinan besar akan berhasilberadaptasi. Jika perubahan iklim besar atau cepat, semakin banyak spesies akan menghadapiperubahan ekologi yang mereka mungkin tidak mampu beradaptasi. Tetapi sebagaimana akan kita lihat kemudian, dampak sederhana perubahan iklim dapatmenyebabkan berbagai respon yang signifikan, bahkan jika perubahan tidak begitu keras yaknikematian organisme. Organisme dapat bereaksi terhadap perubahan suhu atau presipitasi denganmengubah waktu peristiwa seperti migrasi atau munculnya daun, yang pada gilirannya memilikiefek riak yang keluar ke bagian lain dari ekosistem. Sebagai contoh, perubahan waktu tersebutdapat mengubah interaksi antara predator dan mangsa, atau tanaman (termasuk tanaman banyak)dan serangga yang menyerbuki bunga. Kajian ini menelusuri referensi yang telah ada untuk mencoba memahami bagaimanaperubahan iklim mengubah fungsi keseluruhan ekosistem dan khususnya bagaimana mengubahkemampuan ekosistem laut yang menyediakan layanan yang berharga bagi manusia. C. Peran Ekosistem Ekosistem memainkan peran sentral pada manusia mempertahankan (Gambar 1) (Millenium Ecosystem Assessment 2005). Ekosistem menyediakan produk langsung dikonsumsiDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 4PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  6. 6. oleh masyarakat. Hal ini termasuk makanan dan serat dari pertanian, kelautan, dan ekosistemhutan, ditambah bahan bakar, termasuk kayu, rumput, dan bahkan limbah dari beberapatanaman pertanian, dan obat-obatan (dari tanaman, hewan dan rumput laut). Pasokan dan kualitas air tawar juga tergantung pada ekosistem, karena hal ini memainkanperan penting dalam sirkulasi, pembersihan, dan mengisi persediaan air. Ekosistem jugamengatur lingkungan kita, misalnya, hutan, dataran banjir, dan vegetasi arus sungai dapatmenjadi sangat penting dalam mengendalikan risiko dari banjir, demikian pula, hutan bakau dan Gambar 1 Layanan Ekosistsm. (Sumber: Millennium Ecosystem Assessment 2005).terumbu karang meredam dampak badai pada masyarakat pesisir. Ekosistem menyediakanlayanan pendidikan, rekreasi dan budaya yang meningkatkan kualitas hidup manusia. Ekosistemjuga menyediakan struktur dukungan alam, karena tanpa ekosistem tidak akan ada tanah untukmendukung tanaman, juga tidak semua mikroorganisme dan hewan yang bergantung padatanaman. Di lautan, ekosistem mempertahankan siklus nutrisi yang mendukung laut plankton,yang pada gilirannya pasokan makanan bagi ikan dan manusia makanan laut lainnya. Alga dalamDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 5PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  7. 7. ekosistem laut menghasilkan banyak oksigen yang dihirup hewan dan manusia. Secara umum,manusia tidak membayar untuk layanan yang disediakan dari ekosistem, meskipun manusia tidakdapat hidup tanpa mereka dan harus membayar harga tinggi untuk memberikan jasa lingkungan. Jasa ekosistem bergantung pada interaksi kompleks antara banyak spesies, sehinggadalam lingkungan yang paling penting bahwa mereka mengandung beragam organisme. Bahkanpelayanan ekosistem tampak saling bergantung pada satu spesies, seperti produksi madu,sebenarnya bergantung pada interaksi dari banyak spesies, dapat mencapai ratusan atau ribuan.Madu berasal dari lebah madu, namun lebah tergantung pada serbuk sari dan nektar dari tanamanmenyerbuki mereka. Tanaman ini tidak hanya tergantung pada lebah tetapi juga pada cacing danhewan tanah lainnya yang membuka oksigenisasi tanah, mikroorganisme yang melepaskannutrisi, dan serangga predator yang membatasi populasi tanaman pemakan serangga. Parailmuwan masih pada tahap awal memahami bagaimana keragaman kontribusi untuk ekosistemketahanan-kemampuan ekosistem untuk menahan tekanan seperti polusi atau badai tanpa itumengakibatkan pergeseran besar dalam jenis ekosistem atau layanan yang menyediakan (Schulzedan Mooney 1993; Chapin et al, 1997;. Tilman et al 2006;. Worm et al 2006).. Meskipun demikian diyakini satu hal yakni setiap spesies adalah solusi unik untuktantangan yang ditimbulkan oleh alam, dan DNA masing-masing spesies adalah cetak biru yangunik dan kompleks. Setelah suatu spesies punah, alam tidak bisa mendapatkannya kembali. Olehkarena itu, seperti akan dipaparkan, dampak perubahan iklim terhadap ekosistem, sangat pentinguntuk diingat bahwa dampak-kerugian terhadap beberapa jenis keanekaragaman hayati-adalahtidak dapat dikembalikan (irreversibel).Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 6PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  8. 8. BAB II PERUBAHAN IKLIM DAN EKOSISTEM Pemerintah-pemerintah dunia telah meminta serangkaian penilaian otoritatif pengetahuanilmiah tentang perubahan iklim, dampaknya, dan pendekatan yang mungkin untuk menanganiperubahan iklim. Penilaian seperti ini dilakukan oleh sebuah organisasi yakni Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Setiap lima sampai tujuh tahun, IPCCmenggunakan masukan dari sejumlah relawan dari ribuan ilmuwan untuk mensintesispengetahuan dan dampak perubahan iklim. Kesimpulan IPCC , melalui review intens danevaluasi oleh masyarakat ilmiah dan pemerintah-pemerintah dunia, menghasilkan laporan akhiryang semua negara resmi menerima informasi tersebut. Informasi dalam laporan IPCC tersebuttelah melalui serangkaian review dan merupakan sintesis paling otoritatif tentang penetahuanperubahan iklim. Pada 2007, IPCC melaporkan bahwa suhu rata-rata bumi jelas menandakan pemanasan(IPCC2007b). Beberapa baris menunjukkan bukti ilmiah bahwa rata-rata suhu permukaan globalbumi telah meningkat 0,75° C sejak 1850 (titik awal untuk jaringan global pengukuran suhubumi) seperti tampak pada gambar di bawah ini (Gambar 2).Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 7PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  9. 9. Tidak setiap bagian dari permukaan planet memanas dengan kecepatan yang sama.Beberapa bagian adalah pemanasan lebih cepat, terutama atas tanah, dan beberapa bagian (diAntartika, misalnya) telah didinginkan sedikit (Gambar 3). Tapi daerah yang lebih jauh adalahpemanasan dari pendinginan.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 8PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  10. 10. Gambar 3:Tren global suhu. Peta atas menunjukkan rata-rata perubahan suhu per dekade 1870-2005. Suhu di daerah oranye tampak naik antara 0,1 -0.2 C per dekade, sehingga mereka rata-rata 1,35 untuk 2.7 C lebih hangat di tahun 2005 dibandingkan tahun 1870. Peta bawahmenunjukkan rata-rata perubahan suhu per dekade 1950-2005. Daerah di merah tua tampakkenaikan suhu rata-rata pada lebih dari 0.4 C per dekade, sehingga mereka rata-rata lebih dari 2C hangat di tahun 2005 dibandingkan tahun 1950. (Sumber: Joint Institute for the Study of theAtmosphere and Ocean, University of Washington). Menurut NASA Goddard Institute for Space Studies, telah terjadi delapan tahun terpanasdalam 100 tahun terakhir sejak 1998 Selama paruh kedua abad ke-20, lautan juga menjadi lebihhangat. Perairan laut yang lebih hangat menyebabkan es laut mencair, memicu pemutihankarang, mengakibatkan banyak spesies pergeseran rentang geografis mereka, banyak spesies lainmengalami stress yang tidak dapat pindah ke tempat lain, berkontribusi terhadap kenaikanpermukaan laut. A. Permukaan Air Laut Perubahan iklim telah memicu mencairnya es kutum yang menyebabkan permukaan airair laut meningkat. Tidak hanya suhu hangat menyebabkan gletser dan es mencair tanah(menambah volume yang lebih untuk lautan), tetapi air laut juga memperluas volume danmenghangatkan. Permukaan laut global rata-rata meningkat sebesar 1,7 mm / tahun selama abad20, tetapi sejak pengukuran satelit dimulai pada tahun 1992, telah naik 3,1 mm / tahun (IPCC2007a). Hilangnya lahan basah telah berkurang kemampuan wilayah itu untuk memberikan jasaekosistem, termasuk perikanan komersial, berburu rekreasi dan memancing, dan habitat langka,terancam, dan spesies migrasi, serta melemahnya kapasitas daerah untuk menyerap gelombangbadai seperti yang terbesar di Amerika Serikat yakni Badai Katrina (Hari et al. 2007).Permukaan air laut lebih tinggi juga dapat mengubah salinitas dan pola sirkulasi air dari muarapesisir dan teluk, dengan berbagai konsekuensi untuk campuran spesies yang dapat berkembangdi sana. B. Siklus Air Perubahan iklim sampai saat ini telah menghasilkan efek rumit pada persediaan air,pasokan, permintaan, dan kualitas. Ketika curah hujan musim dingin jatuh, di tempat sub-tropis,sebagai hujan salju dan bukan sebagai snowpacks gunung mencair lebih awal, lebih sedikit airyang "disimpan" dalam bentuk salju untuk rilis lambat sepanjang musim panas (Mote 2003),ketika dibutuhkan oleh satwa liar di dalam dan sekitar sungai dan sungai dan untuk pertanian danDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 9PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  11. 11. penggunaan rumah tangga. Bahkan jika jumlah curah hujan tidak berubah, suhu hangat berartibahwa kelembaban menguap lebih cepat, sehingga jumlah air yang tersedia bagi tanamanmenurun. Interaksi yang kompleks antara suhu dan kebutuhan air dan ketersediaan berarti bahwaperubahan iklim dapat memiliki berbagai macam efek pada ekosistem. C. Cuaca Ekstrim Karakter cuaca ekstrim dan kejadian iklim juga berubah dalam skala global. Jumlah hariembun beku di daerah midlatitude menurun, sedangkan jumlah hari dengan ekstrim suhu hangatmeningkat. Perubahan ini tampaknya bertentangan konsisten dengan iklim di mana masukanyang lebih besar dari energi panas yang mengarah ke siklus air lebih aktif. Selain itu, suhu lauthangat yang terkait dengan peningkatan baru-baru fraksi badai yang tumbuh ke kategori yangpaling merusak hingga level 4 dan 5 (Emanuel 2005;. Webster et al 2005). D. Es Laut Antartika Setiap tahun daerah ini tertutup oleh es laut di Samudra Antartika mengembang di musimdingin dan kontraksi di musim panas. Pada paruh pertama abad ke-20 minimum daerah laut estahunan di Kutub Utara biasanya di kisaran 10-11.000.000 km2 (ACIA 2005). Pada September2007 es laut wilayah yang mencair minimal satu hari sebesar 4,1 juta km2 (1,64 juta mi2), terusmenurut sekitar setengah sejak 1950-an (Serreze et al. 2007). Penurunan di daerah ini diimbangidengan penurunan dramatis dalam tingkat ketebalan. Dari 1975 hingga 2000 rata-rata ketebalanes laut Kutub Utara mengalami penurunan sebesar 33 persen, 3,7-2,5 m (Rothrock et al. 2008). E. Keasaman Laut Sekitar sepertiga dari karbon dioksida (CO2) yang dipancarkan oleh aktivitas manusiatelah terserap oleh lautan, sehingga memoderasi (meredam) peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer dan pemanasan global. Namun, seperti halnya karbon dioksida larut dalamair laut, asam karbonat terbentuk, yang memiliki efek pengasaman, atau menurunkan pH, laut(Orr et al. 2005). Meskipun tidak disebabkan oleh pemanasan, pengasaman merupakan hasil daripeningkatan karbon dioksida, gas rumah kaca utama yang sama yang menyebabkan pemanasan.Pengasaman laut memiliki dampak banyak pada ekosistem laut. Sampai saat ini, percobaanlaboratorium telah menunjukkan bahwa meskipun pengasaman laut mungkin bermanfaat untukDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 10PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  12. 12. beberapa spesies, kemungkinan akan sangat merugikan sejumlah besar spesies mulai dari karanguntuk lobster dan dari bulu babi untuk moluska (Raven et al 2005;. Doney et al 2008;. Fabry et al2008).. F. Perkiraan Mendatang Antara variabilitas penyebab alami dan aktivitas manusia keduanya berkontribusiterhadap pemanasan global dan regional yang diamati, dan keduanya akan berkontribusi terhadaptren iklim di masa depan. Hal ini sangat mungkin bahwa sebagian besar pemanasan yang diamati selama 50 tahun terakhir ini disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca berkaitan dengan kegiatan manusia (dalam laporan IPCC, "kemungkinan besar" secara khusus berarti bahwa para ilmuwan percaya pernyataan itu adalah paling sedikit 90 persen kemungkinan untuk menjadi kenyataan, "mungkin" secara khusus berarti sekitar dua pertiga untuk90 persen kemungkinan untuk menjadi kenyataan [IPCC 2007b]). Sementara perdebatan tentang rincian adalah bagian penting dari proses ilmiah, komunitas ilmu iklim hampir bulat pada kesimpulan ini. Proses fisik yang menyebabkan perubahan iklim secara ilmiah didokumentasikan dengan baik. Fisika dasar cara gas rumah kaca pemanasan iklim yang mapan oleh Tyndall, Ahrrenius, dan lainnya pada abad ke-19 (Bolin 2007). Kesimpulan bahwa tindakan manusia telah sangat mungkin menyebabkan sebagian besar pemanasan saat ini dan kemungkinan akan menyebabkan lebih di masa depan didasarkan pada mayoritas luas bukti ilmiah akumulasi dariDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 11PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  13. 13. berbagai macam pengamatan (IPCC 2007b).Gambar 4: Sejarah konsentrasi Sejarah CO2 gas rumah kaca, CH4 dan N2O selama 10.000tahun terakhir. Untuk masing-masing gas rumah kaca, grafik tongkat mencirikan hasil daripeningkatan besar dalam konsentrasi gas-gas baru-baru ini, dibandingkan dengan tingkat yangrelatif stabil selama 10.000 tahun terakhir. SUMBER: IPCC 2007d. Sejak awal Revolusi Industri, aktivitas manusia bahwa tanah yang jelas atau membakarbahan bakar fosil telah menyuntikkan secara pesat peningkatan jumlah gas rumah kaca sepertikarbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) ke atmosfer. Pada tahun 2006 emisi CO2 sekitar 36miliar metrik ton (39,6 miliar ton), atau sekitar 5,5 metrik ton (6,0 ton Inggris) bagi setiapmanusia (Raupach et al. 2007). Di Amerika Serikat, negara emisi terbesar, rata-rata emisi CO2emisi pada tahun 2006 adalah sekitar 55 kg (120 lb) per orang per hari. Sebagai konsekuensi dariemisi ini, CO2 di atmosfer telah meningkat sekitar 35 persen sejak 1850. Para ilmuwanmengetahui bahwa peningkatan karbon dioksida di atmosfer disebabkan oleh kegiatan manusia,bukan proses alam, karena mereka dapat sidik jari karbon dioksida (misalnya, dengan campuranisotop karbon yang dikandungnya, pola spasial, dan tren dalam konsentrasi dari waktu ke waktu)dan mengidentifikasi sumbernya. Konsentrasi gas rumah kaca lainnya juga meningkat, beberapabahkan lebih dari CO2 dalam persentase (Gambar 4). Metana, yang 25 kali lebih efektif per molekul di perangkap panas daripada CO2, telahmeningkat sebesar 150 persen. Nitrous oxide (N2O), yang hampir 300 kali lebih efektif permolekul dari CO2 pada menjerat panas, telah meningkat lebih dari 20 persen (Prinn et al, 2000;.Flückiger et al, 2002.). Pengetahuan ilmiah iklim masih jauh dari lengkap. Masih banyak yangharus dipelajari tentang faktor-faktor yang mengontrol sensitivitas iklim untuk peningkatan gasrumah kaca, tingkat perubahan, dan hasil regional dari perubahan global. Ketidakpastian ini,bagaimanapun, menyangkut rincian dan tidak mekanisme inti yang memberikan para ilmuwanpercaya diri tinggi dalam kesimpulan dasar mereka. G. Harapan dari Perubahan Iklim di Masa Depan Bukti suhu atmosfer dan laut naik, perubahan pola curah hujan, kenaikan permukaan laut,dan penurunan es laut sudah jelas. Suhu rata-rata hampir pasti akan lebih hangat di masa depan.HJumlah perubahan iklim di masa depan tergantung pada tindakan manusia. Sejumlah besarDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 12PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  14. 14. eksperimen dengan model iklim menunjukkan bahwa jika dunia terus menekankanperkembangan ekonomi yang pesat didukung oleh bahan bakar fosil, mungkin akan mengalamipemanasan dramatis selama abad ke-21. Untuk jenis "bisnis seperti biasa" masa depan IPCC(IPCC2007b) memproyeksikan berbagai kemungkinan pemanasan global selama tahun 1990 dari2,4-6,4º C (4,3-11,5° F) dengan 2100 (Gambar 5, skenario A1F1). Jika emisi gas rumah kaca tumbuh lebih lambat, puncak sekitar tahun 2050, dan kemudian turun, para ilmuwan memproyeksikan pemanasan mungkin lebih dari tingkat 1990 yakni 1,1-2,9º C dengan 2100 (skenario B1) .Gambar 5 Proyeksi temperatur di masa depan. Angka ini menunjukkan tren proyeksi temperaturpermukaan rata-rata global, berdasarkan output dari semua model iklim utama, yang ditunjukkansebagai kelanjutan dari pengamatan abad ke-20 (dengan rata-rata untuk 1980-1999 diplot sebagai0). Garis merah muda mewakili apa yang akan terjadi jika konsentrasi CO2 dapat tetap konstanpada tahun Level tahun 2000. Skenario B1, A1B dan A2 merupakan kemungkinan masa depanalternatif. A1B dan B1 adalah masa depan dengan pertumbuhan penduduk sederhana,pertumbuhan ekonomi yang cepat, dan ekonomi yang terintegrasi secara global, dengan A1Bberfokus pada manufaktur dan B1 berfokus pada industri jasa. A2 adalah dunia denganpertumbuhan penduduk yang lebih cepat namun pertumbuhan ekonomi lebih lambat dan kurangintegrasi ekonomi. Garis di sebelah kanan grafik mewakili berbagai kemungkinan suhu globalrata-rata dari model yang sama di tahun-tahun 2090-2099 untuk yang lebih luas kemungkinanmasa depan, dengan garis horisontal di tengah menunjukkan rata-rata di model. Pada 2006, emisiCO2 yang sebenarnya lebih tinggi dibandingkan pada skenario A2, membuat berbagai skenariotampak seperti diabaikan, setidaknya untuk tahun pertama abad ke-21. (IPCC 2007b, Raupach etal. 2007). Peningkatan suhu pada bagian akhir sangat mungkin untuk melebihi batas iklim.Pemanasan dari 6° C atau lebih (ujung atas proyeksi bahwa IPCC 2007 tingkat sebagai"mungkin") kemungkinan akan memiliki konsekuensi bencana bagi gaya hidup, ekosistem,Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 13PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  15. 15. pertanian, dan mata pencaharian, terutama di daerah dan populasi dengan sumber daya palingsedikit untuk berinvestasi dalam adaptasi-yaitu, strategi dan infrastruktur untuk mengatasiperubahan iklim. Suhu air laut rata di beberapa daerah pesisir di berbagai tempat telah meningkat sebanyak1,1° C selama paruh terakhir abad ke-20 dan, berdasarkan proyeksi model IPCC dari suhu udara,cenderung meningkat sebanyak 2,2 -4,4° C selama abad ini. Jika upaya pendekatan pendudukdunia berlangsung "seperti biasa," maka emisi hingga 2100 kemungkinan akan menyebabkanlautan dengan temperatur permukaan yang 2-4º C lebih tinggi dari sekarang dan permukaan airmenjadi asam dan hanya lokasi yang terisolasi akan mendukung pertumbuhan karang (Cao et al2007).. Sebagian besar hewan laut, terutama yang menetap, dan tanaman diharapkan akan secarasignifikan ditekankan oleh perubahan (Hoegh-Guldberg et al. 2007). Beberapa mungkin dapatmengatasi dengan baik, suhu meningkat atau air asam lebih banyak, tetapi menyesuaikan diridengan baik mungkin tidak layak untuk banyak spesies..Pendekatan Emisi Lanjutan di bawahskenario "seperti biasa" bisa memimpin dengan tahun 2100 mencapai 0,6 m atau lebih darikenaikan permukaan laut. Kelanjutan dari kenaikan terbaru dalam hilangnya es yang menutupi Greenland danAntartika Barat akhirnya dapat meningkatkan laju kenaikan permukaan laut dengan dua faktor(Overpeck et al 2006;.. Meehl et al 2007; Alley et al 2005.; Gregory dan Huybrechts 2006;Rahmstorf 2007). Juga kejadian suhu ekstrim panas dan dingin yang ekstrim ada penambahan.Peningkatan variabilitas iklim, diproyeksikan dalam beberapa model, akan memerlukan kondisiyang lebih sering panas yang ekstrim, kekeringan, dan curah hujan berat. Sebuah dunia yanglebih hangat akan mengalami curah hujan lebih pada skala global, namun perubahan tidak akansama di mana-mana. Secara umum, proyeksi menunjukkan bahwa daerah kering, terutama digaris lintang di luar daerah tropis, akan cenderung untuk mendapatkan lebih kering rata-rata(IPCC 2007b;. Kunkel et al 2008). Daerah yang sudah basah, terutama di daerah tropis dan lebihdekat ke kutub, akan cenderung untuk mendapatkan lebih basah rata-rata. Peningkatan iklimvariabilitas dan penguapan meningkat di dunia bisa meningkatkan risiko dan kemungkinanintensitas kekeringan di masa depan.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 14PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  16. 16. Perubahan frekuensi atau intensitas kejadian El Nino diperkirakan oleh model iklim tidakkonsisten (IPCC 2007b). El Niño adalah penting karena mereka sering dikaitkan dengan skalabesar kekeringan dan banjir di daerah tropis dan hujan lebat di luar daerah tropis, tetapimemproyeksikan bagaimana interaksi antara perubahan iklim dan peristiwa El Niño akanmempengaruhi pola curah hujan sulit. Contoh lain dari hasil yang tidak konsisten dari modeladalah bahwa model simulasi menunjukkan bahwa frekuensi badai masa depan dan intensitasrata-rata baik dapat meningkatkan atau menurunkan (Emanuel dkk. 2008), tetapi kemungkinanbahwa curah hujan dan kecepatan angin atas pada umumnya akan meningkat di duniamenghangatkan suhu laut.Untuk semua faktor yang berbeda - temperatur, pola presipitasi,kenaikan permukaan laut dan peristiwa ekstrim - baik besar dan kecepatan perubahan adalahpenting Untuk kedua ekosistem dan kegiatan manusia, dengan kecepatan tinggi dari perubahaniklim merupakan tantangan yang berbeda, tapi tak kalah serius dibandingkan, tantangan darisejumlah besar perubahan (Schneider dan Root 2001). Ratusan studi telah mendokumentasikan tanggapan ekosistem, tumbuhan, dan hewandengan perubahan iklim yang telah terjadi (Parmesan 2006;. Rosenzweig dkk 2007). Studi inimenunjukkan efek langsung dan tidak langsung banyak perubahan iklim terhadap ekosistem.Perubahan suhu, misalnya, telah terbukti mempengaruhi ekosistem secara langsung: periodeketika beberapa tanaman mekar terjadi sebelumnya dalam menanggapi suhu hangat dan mata airsebelumnya. Suhu ekstrim, baik panas dan dingin, bisa menjadi penyebab penting dari kematian,dan perubahan kecil secara ekstrem kadang-kadang dapat menentukan apakah suatu tanamanatau hewan bertahan dan berkembang biak dalam lokasi tertentu. Perubahan suhu, terutama bila dikombinasikan dengan perubahan curah hujan, dapatmemiliki efek tidak langsung. Untuk banyak tanaman dan hewan kelembaban tanah sangatpenting untuk proses kehidupan banyak, perubahan curah hujan dan laju penguapan berinteraksiuntuk menentukan apakah tingkat kelembaban tetap pada tingkat yang sesuai untuk berbagaiorganisme. Untuk ikan dan organisme air lainnya baik suhu air dan aliran air adalah penting dandipengaruhi oleh efek gabungan dari suhu udara dan curah hujan yang berubah. Sebagai contoh,hangat, kering tahun di Amerika Serikat bagian barat laut, sering dikaitkan dengan kejadian ElNino dan diantisipasi lebih umum di bawah skenario iklim, secara historis dikaitkan denganDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 15PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  17. 17. snowpack bawah rata-rata, aliran sungai, dan kelangsungan hidup salmon (Mote 2003) .Beberapa populasi salmon sangat sensitif terhadap suhu musim panas, yang lainnya adalahsensitif terhadap rendah aliran-aliran volume pada musim gugur (Zabel 2006). Dampak ekologi dari perubahan iklim tidak inheren menguntungkan atau merugikan bagiekosistem. Konsep bahwa perubahan ini menguntungkan atau merugikan memiliki maknaterutama dari perspektif manusia. Untuk ekosistem, tanggapan terhadap perubahan iklim hanyabergeser jauh dari negara sebelum perubahan iklim yang disebabkan manusia. Diukur denganjasa ekosistem tertentu, beberapa perubahan dapat bermanfaat, misalnya, suhu hangatmemperpanjang musim tanam di beberapa lintang, dan tingkat CO2 yang lebih tinggimeningkatkan pertumbuhan beberapa tanaman darat, dengan hasil potensial yang lebih tinggidari produk makanan dan kehutanan (Nemani dkk 2003).. Lainnya merugikan, misalnya, daerahpegunungan barat dengan musim salju bebas lagi mengalami kebakaran hutan meningkat,mengurangi panen kayu potensial, dan kehilangan beberapa peluang rekreasi (Westerling dkk.2006). Dalam beberapa pengaturan ketidakpastian tentang masa depan jasa ekosistem dapatmenjadi biaya dalam dirinya sendiri, memotivasi investasi yang sebelumnya mungkin tidakberubah menjadi diperlukan atau yang mungkin tidak cukup untuk secara efektif menanganiperubahan kebutuhan. Sampai saat ini, banyak spesies telah merespon dampak perubahan iklimdengan memperluas batas-batas jangkauan mereka berdua ke arah kutub (misalnya, di Utara AS)dan di ketinggian, dan dengan menggeser waktu peristiwa musim semi dan musim gugur. Tanaman dan hewan perlu bergerak tetapi dipupayakan dicegah melalui kapasitaslingkungannya (carrying capacity), misalnya karena habitat yang sesuai tidak hadir padaketinggian yang lebih tinggi, memiliki risiko lebih besar pada kepunahan. Pergeseran rentangspesies, perubahan waktu peristiwa biologis, dan risiko lebih besar kepunahan semuamempengaruhi kemampuan ekosistem untuk menyediakan layanan penting-produk, regulasilingkungan, kualitas manusia dan -infrastruktur alam yang telah tersedia.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 16PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  18. 18. H. Adaptasi Ekosistem Ekosistem tidak statis. Mereka adalah koleksi organisme hidup yang tumbuh danberinteraksi dan mati. Ekosistem menemukan sebuah lanskap yang terus berubah kondisi cuacadan berbagai jenis gangguan, baik yang halus dan berat. Apapun kondisi sebuah pertemuanekosistem, organisme individu dan spesies bereaksi terhadap perubahan dalam cara yangberbeda. Ekosistem sendiri tidak bergerak, individu dan spesies lakukan, beberapa spesies dapatbergerak lebih jauh dan lebih cepat daripada orang lain, tapi beberapa tidak mungkin dapatbergerak sama sekali. Misalnya, berumur panjang jenis pohon mungkin butuh waktu puluhantahun untuk menyebar ke berbagai baru, sedangkan serangga menetas dengan banyak per tahunbisa bergerak cepat. Spesies yang sudah tinggal di puncak gunung mungkin punya tempat lainuntuk mundur. Gangguan yang cepat dan ekstrim dapat memiliki dampak ekologi utama dantahan lama. Sebagai contoh, kekeringan, kebakaran hutan, atau badai pada dasarnya dapatmembentuk kembali suatu daerah, sering selama beberapa dekade. Dalam salah satu contoh yangpaling dramatis dampak dari sebuah asteroid 65 juta tahun lalu diyakini punya begitu kondisiberubah secara radikal di bumi bahwa hewan dominan, dinosaurus, punah dan telah digantikanoleh mamalia (Alvarez et al. 1990). Pada skala waktu lebih lama, kebanyakan tempat di Bumi telah mengalami perubahaniklim yang cukup besar. Selama puncak zaman es terakhir, sekitar 21.000 tahun yang lalu,sebagian besar Kanada dan bagian utara Amerika Serikat berada di bawah ribuan meter dari es(Jansen et al. 2007). Vegetasi Kutub Utara berkembang, dan permukaan air laut sekitar 120 mlebih rendah daripada sekarang. Selama juta tahun terakhir Bumi telah mengalami serangkaianzaman es, dipisahkan dengan kondisi hangat. Suhu rata-rata global selama zaman es sekitar 4-7°C lebih dingin dari ini, dengan pendinginan dan pemanasan yang terjadi selama ribuan tahun(Jansen et al. 2007). Zaman es memicu respon ekologi yang luas, termasuk pergeseran besar dalam distribusitanaman dan hewan, serta kepunahan. Perubahan besar-besaran selama zaman es terakhir inimendorong ekosistem dari petak besar permukaan bumi seperti es yang didominasi lanskapberikutnya. Namun, perubahan ini umumnya cukup lambat dari yang hidup spesies bisa bergerakdan berkumpul kembali menjadi unsur baru, serta tampak alami, pada ekosistem es sebelumnya(Pitelka et al, 1997;.. Overpeck et al 2003). 10.000 tahun sejak zaman es terakhir tampak variasiDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 17PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  19. 19. iklim yang besar regional dan lokal, tetapi pada iklim skala global relatif stabil, dan perubahaniklim regional ini tidak mendorong spesies punah atau berhasil dalam skala perubahan ekosistemglobal terlihat selama transisi glasial -ke-interglasial. Bahkan ketika iklim global tidak berubahterasa, variabilitas iklim regional (kekeringan, badai, dan gelombang panas) dapat memilikidampak dramatis (sering bersifat jangka pendek). Data tentang respon ekosistem terhadap ancaman di masa lalu dapat memberikaninformasi berharga tentang tanggapan mungkin untuk perubahan iklim saat ini dan masa depan.Tetapi penting untuk mengenali bahwa tingkat saat ini peningkatan CO2 di atmosfer lebih cepatdaripada setiap saat diukur di masa lalu, menunjukkan bahwa perubahan iklim global akibatkegiatan manusia di era saat ini mungkin akan lebih cepat dari perubahan jangka panjang globalyang terkait dengan periode berakhirnya zaman es (Jansen et al. 2007). Salah satu kekhawatiranbesar tentang masa depan adalah bahwa perubahan iklim di beberapa tempat mungkin terlalucepat untuk organisme untuk menanggapi dalam cara-cara yang telah membantumempertahankan jasa ekosistem dalam menanggapi perubahan alami di masa lalu. Memahamibagaimana ekosistem cepat bisa dan tidak bisa menyesuaikan adalah salah satu tantangan utamadalam penelitian perubahan iklim.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 18PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  20. 20. BAB III DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP EKOLOGI LAUT DI INDONESIA Kawasan perairan menutupi sekitar 71 persen permukaan bumi. Berperan penting sebagaipenerima penyimpan, dan pendistribusi panas yang diserap dari radiasi sinar matahari melaluisistem sirkulasi arus laut dari daerah sekitar ekuator ke arah kedua kutub. Sirkulasi termohalinmenjadi sistem penyimpan energi dimana energi panas yang diterima permukaan air laut diangkutdan didistribusikan masuk ke laut dalam selama ribuan tahun. Melalui distribusi energi panas initerjadilah proses penguapan air dari permukaan laut yang menyediakan energi panas laten keatmosfer dan menstimulasi siklus hidrologi yang bisa membangkitkan badai dan siklon. Temperatur laut mempengaruhi kenaikan muka air laut secara langsung melalui kontrolterhadap panas dan tidak secara langsung melalui energi panas pantulan dari atmosfer yangmempengaruhi gunung es, lapisan es di kutub, dan siklus hidrologi. Penyerapan karbondioksida oleh laut secara alamiah dapat mengimbangi energi panas dari atmosfer ini Sistem kesetimbangan antara laut dan atmosfer pembentuk iklim seperti di atas akhir-akhir ini terganggu oleh aktivitas manusia di muka bumi yang menimbulkan peningkatan produksigas-gas rumah kaca (GRK) sehingga menimbulkan perubahan iklim global. Perubahan iklim inidapat memicu beberapa bahaya alam di lingkungan laut dan pesisir yang diidentifikasi dandikaji oleh Working Group I of the Intergovernmental Panel on Climate Change (WG1-IPCC)sebagai berikut:1. Kenaikan temperatur air laut2. Peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrim (badai, siklon)3. Perubahan pola variabilitas iklim alamiah (El-Nino, La-Nina, IPO) yang menimbulkanbahaya lanjutan berupa: • Perubahan pola curah hujan dan aliran sungai • Perubahan pola sirkulasi angin dan arus laut4. Kenaikan muka air lautDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 19PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  21. 21. Kondisi tersebut di atas dapat saling mempengaruhi satu dengan lainnya di suatu daerahberpotensi mengalami berbagai gaya-gaya iklim atau berbagai ancaman yang dipicu olehperubahan iklim sekaligus. Australian Greenhouse Office (2005) menjelaskan pengaruhperubahan iklim terhadap bahaya yang akan timbul di wilayah pesisir dan laut berupa: • badai yang mempengaruhi curah hujan dan limpasan permukaan, • badai yang terkait dengan angin dan tekanan, serta • perubahan muka laut (variabilitas musiman, ENSO dan IPO). Perubahan-perubahan tersebut di atas kemudian berpengaruh terhadap: (i) suplaisedimen, (ii) gelombang dan swell (alunan gelombang), (iii) arus laut, (iv) badai pasut, (v)perubahan muka air laut. Sedangkan faktor eksternal lainnya yang tidak terkait langsung denganperubahan iklim adalah pasut dan (vi) tsunami, dimana pasut dibangkitkan oleh gaya tarikbenda-benda angkasa luar terutama bulan dan matahari, sedangkan gelombang tsunamiditimbulkan oleh aktivitas tektonik, vulkanik, dan tanah longsor bawah laut. Seluruh elemen dari(i) sampai dengan (vi) ini perlu ditinjau dalam menganalisis ancaman yang berpotensi terjadi diwilayah pesisir dan laut. A. Kenaikan Muka Air Laut di Indonesia Interaksi laut dan atmosfer terjadi dalam berbagai skala waktu dalam mengontrol, baiktemperatur udara dan permukaan laut. Skala waktu ini bervariasi dari harian (siang-malam),musiman, antar dekade (10 tahunan) hingga abad (100 tahunan). Laju kenaikan temperatur udaradapat diamati dengan menganalisis tren datanya, seperti yang dilakukan oleh Diposaptono (2009)untuk kota Jakarta dan Semarang (Gambar 6) dimana terjadi kenaikan temperatur udara rata-ratadari 25.5oC menjadi 27.5.oC atau sekitar 3.0oC selama kurung waktu 125 tahun (1865-1990) ataulaju kenaikan temperatur udara sekitar 0.024 oC/tahunDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 20PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  22. 22. Gambar 6: Tren suhu rata-rata udara di Jakarta dan Semarang periode 1860 hingga 2000Analisis kenaikan temperatur permukaan laut (TPL) juga telah dilakukan oleh beberapa penelitiseperti: • Levitus dkk (2000) meneliti dan menganalisis sekitar 5 juta data profil TPL pada kedalaman laut antara 0–300 meter (hingga kedalaman 3000 meter) dan menunjukkan bahwa terdapat kenaikan TPL secara global sekitar 0.31oC antara tahun 1948–1998 atau laju kenaikan TPL 0.0062oC/tahun yang berarti sudah terjadi sejak selesainya Perang Dunia II.Aldrin (2008) memperlihatkan tren kenaikan TPL di beberapa stasion di wilayah tengah dan baratperairan Indonesia (Gambar 6) dengan hasil pengukuran diperlihatkan pada Gambar 6, denganlaju kenaikan TPL untuk masing-masing statsion berbeda-beda dengan variasi kenaikan berkisarantara 0.008oC/tahun di Halmahera hingga 0.0268oC/tahun di Makassar (Gambar 7.c) Gambar di bawah ini (Gambar 7) menunjukkan posisi titik mooring pengukuran TPL, (b)hasil pengukuran (c) Laju kenaikan TPLuntuk setiap stasion (sumber data: Aldrin, 2008).Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 21PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  23. 23. Sofian (2009) menggunakan model proyeksi kenaikan TPL berdasarkan data NOAAOI (Gambar II.9) dan dari IPCC SRESa1b (IPCC, 2007) menggunakan model MRI_CGCM3.2(Gambar II.10). Gambar-gambar tersebut menunjukkan adanya kenaikan temperatur laut rata-ratasebesar 0,65oC, 1.10 oC, 1.70 oC dan 2.15 oC masing-masing pada tahun 2030 2050, 2080 dan2100 terhadap temperatur pada tahun 2000. Tren kenaikan TPL tertinggi terjadi di SamuderaPasifik, sebelah utara Pulau Papua, dan yang terendah terjadi di pantai selatan Pulau Jawa.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 22PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  24. 24. Gambar 8: Tren kenaikan tempeeratur permukaan laut berdasarkan data NOAA OI (Sofian, 2009) B. Cuaca Ekstrim Kenaikan temperatur permukaan laut (TPL) ternyata berpengaruh terhadap peningkatankejadian cuaca ekstrem (badai, siklon). Fenomena ini diungkapkan oleh Saunders dan Lea padaJurnal Nature edisi 29 Januari 2008 (dalam: USAID, 2009), bahwa setiap kenaikan temperaturmuka air laut sebesar 0,5oC berkorelasi dengan peningkatan frekuensi dan aktivitas badai(hurricane) sebesar 40 persen. Badai tropis adalah suatu kawasan dengan radius minimal 100 km2 yang pusatnyaberupa kumpulan awan badai. Badai ini biasanya muncul di lintang rendah (5°LU dan 5°LS)yang dipicu dari kumpulan 3 sampai 5 buah awan badai di sekitar ekuator. Makin jauh dariekuator, makin banyak awan badainya, yang kemudian membentuk ekor awan badai. Dengandemikian, wilayah Indonesia dengan posisi lintang antara 6°LU dan 12° LS beruntung takmendapat kondisi badai yang dahsyat kecuali awan badai karena badai umumnya berputarmenjauhi ekuator. Badai tropis selalu muncul di dua wilayah pada dua musim (Gambar 10),yaitu:Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 23PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  25. 25. • di selatan wilayah Indonesia pada musim hujan, khususnya di Samudra Hindia mulai barat daya, selatan hingga tenggara wilayah Indonesia, dan • di bagian utara pada musim kemarau, khususnya di sekitar Laut Cina Selatan dan sebelah barat Samudra Pasifik Meskipun wilayah Indonesia tidak secara langsung terkena badai siklon, namun ekorbadai tersebut serta gelombang laut yang dibangkitkannya sering menerjang pantai-pantai yangmenghadap ke Samudera Hindia, Laut Cina Selatan, Pasifik Barat dan Laut Banda. Umumnya siklon tropis terjadi pada musim angin barat dan peralihan ke musim angintimur (Desember– April), yang mana paling sering terjadi pada bulan Januari dan Februari (T.W.Hadi, 2008). Pola musiman inilah yang menyebabkan kejadian cuaca ekstrem dapat dipengaruhioleh perubahan iklim global. Pola tersebut akhir-akhir ini “diganggu” oleh lebih seringnyakejadian El-Nino dan La-Nina. Selama kejadian El-Nino, daerah yang berpotensi siklon tropis diPasifik Barat cenderung bergeser ke arah timur menjauhi perairan Indonesia, sebaliknya siklontropis semakin banyak terjadi selama kejadian La-Nina karena temperatur muka air laut semakinbertambah Badai tropis dapat menimbulkan kondisi alam yang tidak beraturan. Kejadian awan badaibisa disebut ekstrem bila terjadi beberapa fenomena berikut: • Hujan deras berintensitas tinggi (hujan badai), yang dapat menimbulkan dampak turunan seperti banjir dan merusak infrastruktur. • Angin kencang yang berputar dan berubah arah dengan kecepatan 60-350 km/jam (angin badai) yang dapat menerbangkan atap rumah, dan merobohkan pohon dan papan reklame, serta menganggu sistem transportasi laut.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 24PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  26. 26. Gambar 9: Distribusi tinggi gelombang badai sebagai hasil simulasi model di pantaiselatan Pulau Jawa (N.S. Ningsih, 2009) Gelombang badai (storm surges) yang dibangkitkan oleh badai tropis dan dapatmenimbulkan gelombang besar dan merambat ke wilayah pesisir, seperti Badai Jacob yangterjadi pada tahun2007. Badai ini melanda pesisir selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara danmenimbulkan dampak kerusakan di wilayah pesisir, erosi pantai, mengganggu pelayaran danmenyebabkan tidak melautnya para nelayan. Melalui pemodelan numerik, Ningsih (2009)menunjukkan adanya pengangkatan muka laut rata-rata (MSL) sekitar 50 cm selama terjadinyabadai tersebut (Gambar 8). Di daerah pesisir, elevasi muka air laut rata-rata dipengaruhi oleh gelombang badai danakan lebih meningkat dengan keberadaan gelombang angin yang dipengaruhi oleh musim.Gelombang angin ini dianggap dapat merepresentasikan (proxy) bahaya gelombang badai,karena besar-kecilnya gelombang tergantung pada angin yang membangkitkannya. Polagelombang angin musiman untuk bulan Januari mewakili kejadian pada musim angin Barat(Gambar 10.a) dan untuk bulan Agustus mewakili kondisi pada musim angin Timur (Gambar10.b). Sedangkan gelombang maksimum yang umumnya terjadi pada bulan Desemberdiperlihatkan pada Gambar 10.c. Data gelombang yang digambarkan pada Gambar 10 inidiperoleh darialtimeter Significant Wave Height (SWH) dari Januari 2006 sampai Desember 2008(Sofian, 2009).Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 25PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  27. 27. Gambar 10: Tinggi gelombang rata-rata pada bulan Januari (a) dan Agustus (b), sertagelombang maksimum (Sofian, 2009) C. Dampak terhadap Ekosistem Terumbu Karang Perubahan iklim memicu kenaikan suhu permukaan bumi, termasuk suhu air laut sertamencairnya es di kutub mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut. Kenaikan mukaair laut secara umum akan mengakibatkan dampak antara lain: (a) meningkatnya frekuensi danintensitas banjir, (b) perubahan arus laut, (c) meluasnya intrusi air laut, (d) ancaman terhadapkegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnyapulau-pulau kecil. Spesies yang paling rentan terhadap perubahan iklim memiliki habitat yang khusus,toleransi lingkungan yang terbatas dan besar kemungkinannya untuk dikalahkan olehperubahan ikim dan memiliki ketergantungan akan pemicu atau interaksi lingkungan khususyang kemungkinannya besar untuk dihancurkan oleh perubahan iklim. Perubahan iklim akan mengakibatkan kenaikan suhu air laut sekitar 0,2 hingga 2,5derajat Celsius. Sedikit saja suhu berubah dapat menyebabkan dampak yang besar terhadapvitalitas, pertumbuhan dan laju reproduksi organisme laut. Ada beberapa hal berkaitan yangDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 26PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  28. 28. ditimbulkan dengan naiknya suhu bumi terhadap ekosistem terumbu karang, yaitu pemutihankarang Sebagian besar karang adalah binatang-binatang kecil (polip) yang hidup berkoloni danmembentuk terumbu. Mereka mendapatkan makanannya melalui dua cara, yaitu (1) denganmenggunakan tentakel mereka untuk menangkap plankton dan (2) melalui alga kecil(zooxanthellae) yang hidup di jaringan karang. Beberapa jenis zooxanthellae dapat hidup disatu jenis karang. Biasanya mereka ditemukan dalam jumlah besar dalam setiap polip, hidupbersimbiosis, memberikan warna pada polip energi dari fotosintesis dan 90% kebutuhankarbon polip. Zooxanthellae menerima nutrisi-nutrisi penting dari karang dan memberikansebanyak 95% dari hasil fotosintesisnya (energi dan nutrisi) kepada karang. Dalam karang pembentuk terumbu, kombinasi fotosintesis dari alga dan proses fisiologilainnya dalam karang membentuk kerangka batu kapur (kalsium karbonat). pembentukankerangka yang lambat ini, diawali dengan pembentukan koloni dan kemudian membentukkerangka kerja tiga dimensi yang rumit menjadikan terumbu karang sebagai tempat berlabuhbagi banyak jenis biota, yang banyak di antaranya penting untuk kehidupan masyarakat dankomunitas pesisir. Pemutihan karang terjadi akibat berbagai asidifikasi laut dan kenaikan suhu air laut,yang menyebabkan degenerasi atau hilangnya zooxanthellae pewarna dari jaringan karang.Dalam keadaan normal, jumlah zooxanthellae berubah sesuai dengan musim sebagaimanapenyesuaian karang terhadap lingkungannya. Kenaikan suhu mengganggu kemampuan zooxanthellae untuk berfotosisntesis, dandapat memicu produksi kimiawi berbahaya yang merusak sel-sel mereka. Pemutihan dapat pulaterjadi pada organisme-organisme bukan pembentuk terumbu karang seperti karang lunak (softcoral), anemone dan beberapa jenis kima raksasa tertentu (Tridacna spp.), yang jugamempunyai alga simbiosis dalam jaringannya. Selain kenaikan suhu, penyebab terjadinya pemutihan karang adalah tingginya tingkatsinar ultraviolet, kurangnya cahaya, tingginya tingkat kekeruhan, sedimentasi, penyakit, kadargaram yang tidak normal dan polusi.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 27PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  29. 29. 1. Perubahan Distribusi Ekosistem Terumbu Karang Terumbu karang dapat tumbuh dengan maksimal pada daerah dengan suhu tahunanrata- rata 1800C. Suhu tersebut merupakan suhu paling optimal sekaligus suhu pembatas, di 0mana rentang temperatur tidak boleh terlalu jauh. Kenaikan antara 1,1 hingga 6,4 C akanmenyebabkan pergeseran pada distribusi ekosistem terumbu karang. Pergeseran tersebutakan menyebabkan area yang lebih sempit dibandingkan keadaan semula dan diperkirakanbahwa kemampuan organisme ekosistem terumbu karang di daerah baru sangatlah kecil.Akibatnya, luas ekosistem akan menjadi berkurang atau bisa dikatakan bahwa ekosistem akanmenuju ke arah penurunan menjadi ekosistem yang minor atau kecil. 2. Penurunan Potensi Kalsifikasi 0rganisme di ekosistem terumbu karang menggunakan ion kalsium dan ion karbonatdari air laut untuk menyekresikan rangka kalsium karbonat. Penurunan konsentrasi ion dapatmempengaruhi laju pembentukan rangka, tetapi karbonat lebih sedikit bila dibandingka ndengan kalsium, dan diketahui juga berperan penting dalam kalsifikasi di koral. Konsentrasi ionkarbonat akan menurun seiring dengan kenaikan kadar karbondioksida di laut, sehinggaproses kalsifikasi akan menjadi lebih lambat. Koral dan alga calcareous adalah dua komponenekosistem terumbu karang yang terpengaruh. Hal tersebut tentunya akan mengganggu lajupembentukan koral dan juga densitas rangka koral. Laju yang rendah aka n menyebabkanberkurangnya kemampuan untuk mendapatkan ruang hidup dan densitas yang rendahmenyebabkan rangka yang terbentuk rapuh serta mudah rusak oleh faktor fisik sertabioerosi. Pengaruh lain pemanasan global adalah perubahan kondisi kimiawi air laut yangakan menyebabkan dissolusi dari CaCO3 yang menyebabkan hilangnya struktur rangka koral.Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa kelangsungan hidup ekosistem terumbu karangdipengaruhi oleh pemanasan global. Selain itu, ada satu hal yang penting berkaitan denganpangaruh pemanasan global terhadap ekosistem terumbu karang, yaitu pemanasan globaldiperkirakan akan menyebabkan gangguan ekosistem terumbu karang yang sifatnya kronisDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 28PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  30. 30. dan akut apabila berinteraksi dengan faktor selain kenaikan suhu, antara lain adanya E- Nino, lperubahan sirkulasi air laut, dan pengambilan berlebihan oleh manusia. 3. Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang Belajar dari kerusakan hutan Indonesia, maka untuk menyelamatkan kelestariannyadibuatlah hutan lindung. Demikian pula di laut, sudah saatnya dibuat "Daerah PerlindunganLaut (DPL)" untuk menyelamatkan ekosistem terumbu karang yang masih tersis. BanyakDPL yang masih tetap dijarah dan terjadi kegiatan pengerusakan terhadap ekosistem terumbukarang. Karenanya, terbukti di Indonesia hutan adat jauh lebih terjaga kelestariannyadibandingkan hutan lindung. Karena hutan adat dimiliki oleh masyarakat dan dijaga olehmasyarakat. Demikian pula dengan di laut, Daerah perlindungan Laut Berbasis Masyarakat(DPL-BM) jauh lebih banyak yang memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Faktorutama yang menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang di Indonesia karena kurangnyakepedulian masyarakat untuk menjaga dan melestarikan ekosistem ini. DPL-BM merupakanprogram dengan kegiatan utama memberikan wawasan kepada masyarakat dan menanamkankepedulian untuk bersama-sama menjaga ekosistem pesisir yang ada disekitarnya yang dijadikanDPL-BM. Dengan program DPL-BM, masyarakat akan dirangsang untuk mengembangkankearifan lokal, peningkatan rasa memiliki terhadap ekosistem terumbu karang sehingga akanberkembangnya metode penangkapan yang ramah lingkungan dan lestari. DPL-BM merupakan program konservasi laut yang berdasarkan aspirasi masyarakat,dilaksanakan oleh masyarakat dan untuk kesejahteraan masyarakat. Program ini melibatkanmasyarakat sekitar sebagai pengawas yang akan terus menjalankan program dalam menjagakelestarian ekosistem terumbu karang. Salah satu cara melestarikan terumbu karang yang patutdipertimbangkan ialah membuat sebanyak-banyaknya Daerah Perlindungan Laut (MarineProtected Area) seperti Taman Nasional Laut, Cagar Alam Laut, dan Suaka MargasatwaLaut. Sebab, terumbu karang merupakan biota yang dapat memperbaiki dirinya sendiri setelahkerusakan, namun perlu didukung dengan strategi pemulihannyaDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 29PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  31. 31. D. Isu-isu Ekologis Laut Lainnya Masih banyaknya konflik kepentingan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir danpulau- pulau kecil sehingga banyak lahan konservasi diubah menjadi lahan pemukiman dankegiatan produktif (industri, tambak, pertanian, pariwisata). Misalnya, degradasi hutan mangrovedari 5,21 juta ha pada tahun 1982 menjadi 2,5 juta ha pada tahun 1993 (KKP, 2005). Di sampingitu kondisi terumbu karang telah mencapai tingkat kerusakan rata-rata sekitar 40% pada tahun2005 (KKP, 2005). Faktor-faktor penyebabnya antara lain: (1) kegiatan manusia, misalnyapenangkapan dengan alat yang merusak (illegal fishing) dan eksploitasi berlebih(overfishing), pencemaran dan sedimentasi, perencanaan yang kurang tepat, dampakpembangunan di darat, serta (2) faktor alam seperti pengaruh El-Nino, La-Nina, badai, gempabumi, dan banjir.:belum optimalnya pengelolaan konservasi laut dan perairan umum’ masihlemahnya pengawasan dan pengendalian pencemaran di pesisir. Munculnya berbagai isu tersebut antara lain diakibatkan oleh dua faktor utama: (1)Faktor strategi pembangunan yaitu masih lekatnya paradigma pembangunan masa lalu yanglebih berorientasi ke darat (terresterial), dimana prioritas alokasi sumberdaya pembangunan lebihdiarahkan pada sektor-sektor daratan, sehingga potensi sektor kelautan dan perikanan belumsepenuhnya dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan dipesisir dan pulau-pulau kecil; (2) Faktor kurangnya kesadaran terhadap potensi dampak perubahaniklim yaitu kurang banyak diperhatikannya aspek aspek dan proyeksi- proyeksi dalam prosesperencanaan dan pengelolaan pembangunan sektor. Implikasinya adalah perlunya menguatkanimplementasi lima pilar strategi pembangunan sektor kelautan dan perikanan yaitu strategi: • pro-poor (pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan), • pro-job (penyerapan tenaga kerja), • pro-growth (pertumbuhan ekonomi), • pro-business (memberdayakan usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah di bidang kelautan dan perikanan), dan • pro-sustainable (pemulihan dan pelestarian lingkungan perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil, serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim)Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 30PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  32. 32. Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 31PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  33. 33. BAB IV KESIMPULAN Perubahan iklim dunia tidak dapat dilelakkan. Suhu permukaan bumi terus meningkat, dantingkat gas rumah kaca terus bertambah. Perubahan ini akan berdampak pada ekosistem di darat dan laut,keterkaitan antar species, pertumbuhan populasi dan sebagian tidak mampu beradaptasi sehingga dapatmendekati kepunahan. Perubahan iklim adalah proses yang berskala global, tetapi denganmanifestasi wilayah dan daerah beragam. Dampak ekologi lazimnya berlangsung lokal danbervariasi dari tempat ke tempat. Untuk menerangkan bagaimana perubahan iklim telahmempengaruhi spesies tertentu dan ekosistem khususnya ekosistem laut, Dampak sederhana perubahan iklim dapat menyebabkan berbagai respon yang signifikan,bahkan jika perubahan tidak begitu keras yakni kematian organisme. Organisme dapat bereaksiterhadap perubahan suhu atau presipitasi dengan mengubah waktu peristiwa seperti migrasi ataumunculnya daun, yang pada gilirannya memiliki efek riak yang keluar ke bagian lain dariekosistem. Data tentang respon ekosistem terhadap ancaman di masa lalu dapat memberikaninformasi berharga tentang tanggapan mungkin untuk perubahan iklim saat ini dan masa depan.Tetapi penting untuk mengenali bahwa tingkat saat ini peningkatan CO2 di atmosfer lebih cepatdaripada setiap saat diukur di masa lalu, menunjukkan bahwa perubahan iklim global akibatkegiatan manusia di era saat ini mungkin akan lebih cepat dari perubahan jangka panjang globalyang terkait dengan periode berakhirnya zaman es. Dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut antara lain kenaikan paras/muka airlaut karena mencairnya es di kutub; cuaca ekstrim seperti badai dan gelombang tinggi;pemutuhan terumbu karang dan perubahan ekologi lainnya. Upaya terintegrasi diperlukan khususnya dalam langkah-langkah adaptasi terhadapperubahan iklim khususnya di untuk menjaga kelestarian ekosistem kelautan dan menjagaketahanan pangan bagi suplai perikanan antara lain: dikelolanya pesisir dan laut dalam suatukesatuan dengan mengedepankan aspek konservasi melalui pembentukan daerah perlindunganlaut (DPL). DPL berbasis masyarkaat (BM) merupakan program dengan kegiatan utamaDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 32PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  34. 34. memberikan wawasan kepada masyarakat dan menanamkan kepedulian untuk bersama-samamenjaga ekosistem pesisir yang ada disekitarnya yang dijadikan DPL-BM. Dengan programDPL-BM, masyarakat akan dirangsang untuk mengembangkan kearifan lokal, peningkatan rasamemiliki terhadap ekosistem terumbu karang sehingga akan berkembangnya metodepenangkapan yang ramah lingkungan dan lestari. Pembangunan sektor kelautan dan perikanan secara strategis antara lain: pro-poor(pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan); pro-job (penyerapan tenaga kerja);pro-growth (pertumbuhan ekonomi); pro-business (memberdayakan usaha mikro, usaha kecil,dan usaha menengah di bidang kelautan dan perikanan), dan pro-sustainable (pemulihan danpelestarian lingkungan perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil, serta mitigasi dan adaptasiterhadap perubahan iklim) #Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 33PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  35. 35. DAFTAR PUSTAKAAldrin E. (2008). Predicting Precipitation Intencity for Vulnerability Assessment, Power Point.,Presented in a Round Table Discussion on Dveloping a Methodology and Information Sharingfor Vulnerability assessment to Climate Change in Indonesia, KLH-GTZ, 10 July 2008, JakartaAustralian Greenhouse Office, Department of the Environment and Heritage (2005). ClimateChange Risk and Vulnerability, Promoting an Efficient Adaptation Response in Australia, FinalReport, The Allen Consulting GroupCao, L., K. Caldeira, and A. K. Jain. (2007). Effects of carbon dioxide and climate change onocean acidification and carbonate mineral saturation. Geophysical Research Letters 34:5.Chapin, F. S., III, B. H. Walker, R. J. Hobbs, D. U. Hooper, J. H. Lawton, O. E. Sala, and D.Tilman. (1997). “Biotic control over the functioning of ecosystems.” Science 277:500-503Dewan Kelautan Indonesia (2008): Perumusan Kebijakan Lintas Sektoral dlam RangkaPercepatan Pembangunan Perikanan, Pariwisata Bahari, dan Jasa Kelautan, Power Point,Seminar UNCLOS, Hotel Jayakarta, 06 Nopember2008Diposaptono, S., Budiman, F. Agung (2009). Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisirdan Pulau-Pulau Kecil. Penerbit Buku Ilmiah Populer, cetakan I, Bogor.Diposaptono, S. (2009), Review Draft Road Map Pengarusutamaan Isu Perubahan Iklim SektorPesisir dan Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Oktober 2009.Doney, S. C., V. J. Fabry, R. A. Feely, and J. A. Kleypas. Forthcoming: “Annual Review ofMarine Sciences.” Available at http://arjournals.annualreviews.org/toc/marine/forthcomingIndonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR), Sektor Kelautan dan Perikanan (2010),BAPPENASEmanuel, K. (2005). “Increasing destructiveness of tropical cyclones over the past 30 years.”Nature 436:686-688.Fabry, V. J., B. A. Seibel, R. A. Feely, and J. C. Orr. (2008). “Impacts of ocean acidification onmarine fauna and ecosystem processes.” ICES Journal of Marine Sciences 65:414.IPCC (2007). Climate Change 2007 - The Physical Science Basis: Contribution of WorkingGroup I to the Fourth Assessment Report of the IPCC. Cambridge, Cambridge UniversityPress.IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). (2007a). Summary for policymakers. IN:Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group IIDadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 34PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  36. 36. to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, eds. M. L.Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. v. d. Linden, and C. E. Hanson.Cambridge, U.K.:Cambridge University Press.IPCC. (2007b). Summary for Policymakers. IN: Climate Change 2007: The Physical ScienceBasis: Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of theIntergovernmental Panel on Climate Change, eds. S. Solomon, D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M.Marquis, K. B. Averyt, M.Tignor, and H. L. Miller. pp. 1-21. Cambridge, U.K.: CambridgeUniversity Press.IPCC. (2007c). Summary for Policymakers. IN: Climate Change 2007: “Mitigation. Contributionof Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel onClimate Change.” eds., B. Metz, O. R. Davidson, P. R. Bosch, R. Dave, and L. A. Meyer. pp. 1-23. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press.IPCC. (2007d). Climate Change 2007: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, IIand III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, eds.R. K. Pachauri and A. Reisinger. Geneva: IPCC.Jansen, E., J. Overpeck, K.et.al. 2007. Palaeoclimate. IN: Climate Change 2007: The PhysicalScience Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of theIntergovernmental Panel on Climate Change, eds. S. Solomon, et.al.. Cambridge, U.K.:Cambridge University PressKementerian Kelautan dan Perikanan (2005). Rencana Strategis Pembangunan Kelautan danPerikanan Tahun 2005–2009. Dokumen tersedia pada situs www.KKP.go.idKementerian Kelautan dan Perikanan (2009). Rancangan Blueprint Pengelolaan Industri Kelautan.Workshop Kebijakan Kelautan Indonesia, 12 Oktober 2009Kementerian Kelautan dan Perikanan (2010). Renstra Strategis Kementerian Kelautan danPerikanan 2010-2014.Kunkel, K.etal. (2008). “Observed changes of weather and climate extremes.” IN: Weather andClimate Extremes in a Changing Climate. Eds. Karl T. R., and G. R. Meehl. U.S. ClimateChange Science Program, Synthesis Assessment Product 3.3, Chapter 2. Executive Office of thePresident.Lucky Kristi (2010). “Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Ekosistem Terumbu Karang,”Program Studi Oceanografi, Universitas Diponegoro.Mote, P., A. F. Hamlet, M. P. Clark, and D. P. Lettenmaier. 2005. “Declining mountainsnowpack in western North America.” Bulletin of the American Meteorological Society 86:39-49 National Research Council of the NationalAcademies (2008), Ecological Impacts of ClimateChange, Washington D.C.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 35PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
  37. 37. Ningsih, N.S. (2009). Gelombang Badai Pasang. Dalam Buku: Majelis Guru Besar InstitutTeknologi Bandung, Mengelola Resiko Bencana di Negara Maritim Indonesia, Bandung.Orr, J. C., et.al. (2005). “Anthropogenic ocean acidification over the twenty-first century and itsimpact on calcifying organisms.” Nature 437:681-686Overpeck, J. T.,et.al. (2006). “Paleoclimatic evidence for future ice-sheet instability and rapidsea-level rise.” Science 311:1747-1750.Pitelka, L. F., et.al. (1997). “Plant migration and climate change.” American Scientist 85:464-473.Raven, J. K., Caldeira, H. et.al. (2005). Ocean acidification due to increasing atmosphericcarbon dioxide. London: The Royal Society.Rothrock, D. A., D. B. Percival, and M. Wensnahan. (2008). “The decline in arctic sea-icethickness: Separating the spatial, annual, and interannual variability in a quarter century ofsubmarine data.” Journal of Geophysical Research 113Sofyan, I. (2009). Roadmap Pengarusutamaan Isu Perubahan Iklim dalam PerencanaanPembangunan Nasional Kajian Dasar Akademis (Scientific Basis). Draft Laporan, Bappenas –GTZ.Tilman, D., P. B. Reich, and J. M. H. Knops. (2006). “Biodiversity and ecosystem stability in adecade-long grassland experiment.” Nature 441:629-632.USAID (2009). Adapting to Coastal Climate Change: A Guidebook for DevelopmentPlanners. The Coastal Resources Center – University of Rhode Island (CRC–URI) andInternational Resources Group (IRG)Walter, M. K., et.al. (2006). Methane Bubbling from Siberian that Lake as a Positive Feedbackto Climate Warming.” Nature 443:71-75Webster, P. J., G. J. Holland, J. A. Curry, H.-R. Chang.( 2005). “Changes in Tropical CycloneNumber, Duration, and Intensity in a Warming Environment.” Science 309:1844-1846Westerling, A. L., H. G. Hidalgo, D. R. Cayan, and T. W. Swetnam. (2006). “Warming andearlier spring increase western U.S. forest wildfire activity.” Science 313:940-943Worm, B., E. B. Barbier, N. Beaumont, J. E. Duffy, C. Folke, B. S. Halpern, J. B. C. Jackson, H.K. Lotze, F. Micheli, and S. R. Palumbi. (2006). “Impacts of biodiversity loss on oceanecosystem services.” Science 314:787-790.Dadang SetiawanPROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN 36PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA

×