Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kipas (kisah inspiratif anak panti asuhan) 1 (preview)

1,904 views

Published on

  • Be the first to comment

Kipas (kisah inspiratif anak panti asuhan) 1 (preview)

  1. 1. RESUMEKIPAS (1)Kisah Inspiratif Anak Panti Asuhan2013KIPAS (Kisah Inspiratif Anak Panti Asuhan) merupakan kumpulan karya tulis anak-anak panti asuhan yangfasilitasi oleh Senyum Community (SC) melalui program SeMANGAT menulis
  2. 2. KIPAS (Kisah Inspiratif Anak Panti Asuhan)KIPAS (Kisah Inspiratif Anak Panti Asuhan) merupakan kumpulan karya tulis anak-anak panti asuhan yangfasilitasi oleh Senyum Community (SC) melalui program SeMANGAT menulis-nya. 14 kisah yangdiungkap jujur dan apa adanya dari 14 anak yang tinggal di Panti Asuhan. Tidak Hanya bercerita sukaduka ketika mereka tinggal dip anti, mereka juga tidak segan bercerita bagaimana mereka bisa tinggaldisana dan menghadapi tantangan kehidupan sebagai anak panti asuhan. Keempat belas tulisan inibukan hanya cerita mereka, tapi juga ungakapan curahan hati mereka seolah-olah ingin menunjukankepada dunia “siapa sebenarnya mereka”14 tulisan ini merupakan hasil seleksi dari lebih dari 300 anak dari 6 panti asuhan. Harapanya setelahbuku terbit akan memberikan kebanggan sendiri bagi anak-anak tersebut dan memotivasi anak-anak lainuntuk ikut berkarya juga. Rencanya program ini juga bisa menjakau panti-panti dampingan SC lainnyayang hingga 2013 ini telah mendampingi lebih dari 20 panti Asuhan..
  3. 3. I BELIEVE I CAN REACH MY DREAMSOleh Atrelia Lelia Kurniandayani,“Semua cita-cita bagaikan kunang-kunang yang menari-nari dengan keindahancahayanya di kegelapan malam. Keindahan kunang-kunang itu seolah membuat gatal jemarisang penglihatnya untuk mengejar dan menangkapnya. Seperti cita-cita yang membuat gataltangan pemiliknya untuk meraihnya, bagaikan rasi bintang yang mampu memberikan arahkehidupan menuju kesuksesan.”*Namaku Atrelia Lelia Kurniandayani, nama yang Bapak ukirkan 15 tahun yang laluuntukku. Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang amat sederhana. Namun kesederhanaanitulah yang mampu membawaku kesini, ke pondok Pesantren/Panti Asuhan “Sabilul Huda”tercinta. Aku akan menceritakan sekilas perjalanan hidupku sebelum aku sampai di PP/PAsabillul Huda ini. 16 tahun yang lalu, tepatnya 26 april 1996 di kota Yogyakarta aku terlahirsebagai putri dari pasangan bapak Joko Suradal dan Ibu Asteria Widianti. Aku memiliki 3 orangkakak yang semuanya perempuan. Ketiga kakak perempuanku itu Mbak Anis, Mbak Danis, danMbak Ninda. Keempat anak perempuan dan seorang istri menjadi tanggungan Bapak. Ya, hanyaBapaklah yang menanggung “kehidupan” kami, karena beberapa bulan setelah kelahiranku Ibumengalami gangguan kejiwaanya.Bukan hal yang mudah bagi Bapak untuk menghidupi kami Ibu, ketiga kakakperempuanku, serta aku. Ditambah lagi, Bapak bukanlah pekerja yang selalu memiliki gaji tetap.Bapakku mencari nafkah dengan mengais kebun-kebun maupun bangunan yang sudah roboh.Dengan kekuatan magnet di tangannya, berharap akan ada paku atau sejenisnya yangmenempel pada magnet itu. Besi-besi yang diperoleh akan Bapak kumpulkan dalam sebuahkarung. Berhari-hari besi-besi itu akan Bapak kumpulkan terlebih dahulu hingga beratnyacukup, lalu dijual ke Juragan rongsokan langganan. Hasil penjualan besi-besi tersebut tidaksebanding dengan peluh yang menetes dari tubuh Bapak. Panasnya terik matahari yangmenyengat membuat kulit Bapak menjadi gelap. Dan, hasil dari usaha bapak hanya mampuuntuk menghidupi kebutuhan makan kami saja.Menyedihkan? Sekilas kalian mungkin merasa bahwa aku hidup dalam kesedihan,namun bagiku tidak! Meskipun aku dan keluargaku hidup dalam keterbatasan, dan aku sertaketiga kakakku hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, namun aku dan juga kakak-kakakku selalubahagia. Kami memiliki seseorang yang begitu hebat yaitu Bapak. Beratnya pekerjaan Bapaktidak pernah membuatnya berputus asa, dan Bapak menginginkan kami menjadi anak yang ber-ilmu. Bapak menginginkan kami untuk dapat meraih cita-cita. Bapak selalu memberikanmotivasi kepada kami berempat. Bapak selalu mengatakan bahwa kami adalah anak-anak yanghebat, dan kelak kami akan menjadi orang-orang sukses! Meskipun Bapak tahu bahwapenghasilan yang beliau dapatkan tidak cukup untuk membiayai biaya sekolah kami, namunBapak tidak pernah takut mendaftarkan kami untuk bersekolah.
  4. 4. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, kami tumbuh dengan diajarkankemandirian oleh Bapak. Semakin bertambahnya usia, kami semakin menyadari betapaberatnya beban yang di tanggung oleh Bapak. Kamipun tidak tega membiarkan Bapakmengerjakan pekerjaan rumah sendirian sehingga kamipun sepakat untuk membentuk piket.Pembagian piket di rumah kami dilihat dari tingkat kelas kami masing-masing. Yang masihduduk dibangku sekolah dasar mendapatkan piket membersihkan rumah dan mencuci piring.Yang sudah SMP dan seterusnya harus mengerjakan piket masak. Lalu, apakah pembagian pikettersebut selalu berjalan lancar? Ternyata jawabnya tidak. Kami masih sering melempar-lemparkan piket harian tersebut. Dan kami semua akan terdiam dan menundukkan kepalaketika Bapak meneriaki kami kalau piket tidak berjalan lancar. Setelah Bapak selesai mengomel,kami berempat akan saling tatap-tatapan yang mengiyaratkan bahwa kami menunjuk satu samalain, dan hal tersebut sering membuat bapak kami jengkel. Lalu kamipun akan lari terbirit-biritdan langsung mengerjakan piket kami jika tahu Bapak telah mengambil alih pekerjaan rumahkami.Kalau kami tidak mengerjakan piket, dan semua itu sering kali terjadi membuat Bapakmarah. Saat Bapak marah, salah satu, salah dua, atau bahkan kami semua akan menangis jikamenyadari kesalahan-kesalahan kami. Namun hal itu tetap sering kali kami ulangi, walaupunkami sudah tahu jika tidak mengerjakan piket itu sesuatu yang salah. Kalian menanyakan apayang ibuku lakukan? Jangan berpikir dengan keterbatasan Ibu, lantas beliau hanya diamdirumah. Tidak, Ibuku ikut membantu di warung sayuran milik Nenekku. Terkadang akumendengar bahwa ibuku sering membuat kegaduhan, namun aku dan keluargaku tidakdiperbolehkan untuk menghalangi Ibuku pergi ke warung oleh nenekku. Biasanya saat Ibupulang dari warung Nenek, beliau akan membawa sayuran dan juga snack. Sayuran yangdibawa Ibu cukup membantu menghidupi keseharian kami.Seperti itulah beban tanggungan Bapak. Dan saat mengetahui semua itu apakahmembuat aku dan kakak-kakakku dapat berpikir dewasa. Mengeluh? Tentu saja kami seringmengeluh. Menangis? Itu pun juga sering aku dan kakak-kakaku lakukan. Namun segala halterjadi dalam perjalanan waktuku menumbuhkan pemahaman baru bagiku. Bagiku hidupadalah pilihan, dan aku tahu bahwa ada saatnya sebuah pilihan tak jatuh pada yang semestinyaseperti yang diinginkan. Ada saatnya aku ingin menangis ketika semua telah terjadi tidak sesuaidengan keingannanku, namun aku berusaha untuk tidak jatuhkan air mata di tempat yangsalah. Ada selalu mencoba untuk terus melangkah tanpa terus melihat ke masa lalu. Aku yakinakan ada banyak awal yang lebih baik di depan sana!*Bergulirnya waktu membawaku ke bangku kelas VII di SMP N 16 Yogyakarta, SMP yangsama dengan ketiga kakakku. Bagiku masa-masa SMP adalah masa-masa yang sangatmenyenangkan, di mana di masa itu aku menemukan sahabat-sahabatku. Walaupun sekarangkomunikasi yang terjadi antara aku dan sahabatku sangat di lakukan, namun merekalah yangturut mewarnai kehidupanku, Di kelas VIII aku dan ketiga temanku membentuk kelompokbelajar. Kelompok itu kami namai dengan sebutan SANNI, yang tentu saja memiliki kepanjanganyaitu nama kami masing-masing : S untuk Suci, A untuk aku sendiri Atrel, N untuk Nuri,dan Ni
  5. 5. untuk Ningsih. Bersama-sama dalam kelompok belajar kami memiliki semangat dalammenuntut ilmu.Setiap hari Minggu kami akan belajar kelompok yang bertempat dirumah salah satu darikami, dan di lakukan secara bergilir. Sangat menyenangkan bisa memiliki kelompok belajar,apalagi aku punya kelemahan pada pelajaran bahasa Inggris, dan aku senang bisa belajarbersama. Bisa dibilang setiap ulangan semester dari kelas VII hingga kenaikan kelas IX aku selaluremidi. Belajar dari hal tersebut, kami di kelas IX bersama-sama menghafalkan vocab, entahmengapa pelajaran Bahasa Inggris bagiku sangat menakutkan. Menghafal, menghafal danmenghafal, hingga akhirnya semua itu membuahkan hasil untukku! Nilai UN Bahasa Inggrismendapat nilai 9.00! dan itu sangat mengejutkanku. Dan akhirnya aku menyukai Bahasa Inggris.Diluar lingkungan sekolah tentu saja aku juga memiliki sahabat. Mereka adalah saudarasepupuku sendiri, anak kembar dari bulikku. Sebut saja Tifa dan Titik. Tifa dan Titik satuangkatan denganku, walau usia mereka beberapa bulan dibawahku. Mereka bersekolah di SMPN 2 Sewon, Bantul. Aku, Tifa, Titik dan kakakku Mbak Ninda sering menginap bersama di rumahNenek. Pernah suatu hari, saat aku, Tifa dan Titik yang duduk dikelas IX, dan Mbak Ninda dudukdibangku SMA, bersama menginap dirumah Nenek. Izin kami pada orang tua kami masing-masing adalah menginap agar dapat belajar bersama, karena saat itu kami memang sedangmenempuh ulangan tengah semester I. Memang sebenarnya itulah tujuan kami, namun niatkami menginap sebenarnya lebih dominan untuk menonton film Harry Potter yang saat itudiputar 3 hari berturut-turut tiap malam. Karena kami tahu, jika dirumah kami pasti tidakdiperbolehkan untuk menonton, terlebih lagi jam tayang film tersebut tergolong larut malam.Bagiku itu sangat menyenangkan, apalagi ketika kami harus menghadapi teguran Nenek, dankami akan berpura-pura fokus pada buku yang kami bawa. Yap! bisa dibilang buku hanyadibawa, entah dipelajari atau tidak.Hari itu, detik menjelang ulangan semester I, ketika kepala TU sekolah kembalimemberikanku lembaran pemberitahuan biaya tunggakan sekolah, aku kembali tersadarkan,sungguh aku mulai mengutuk diriku. Aku menyesal telah melupakan tugas yang haruskuemban. Harusnya aku menyadari bahwa biaya sekolahku mungkin tidak dapat Bapak lunasi,dan semestinya hal tersebut memicuku untuk belajar lebih giat. Namun, apa yang aku lakukanselama ini? hanya belajar seadanya. Sungguh, aku merasa benar-benar bodoh! Lantas apa yangharus kulakukan dengan selebaran itu? Memberitahukan pada Bapak? Tentu saja aku tak tegamelakukannya, karena aku tahu bagaimana susahnya Bapak mencukupi kebutuhan sehari-harikami.Akhirnya malamnya aku putuskan untuk mencari surat keterangan tidak mampu diketua RT serta ketua RW ku. Namun hal itu tidak semudah yang kalian bayangkan, karenawalaupun keluargaku telah menempati rumah di suatu kampung bernama Minggiran, namunstatus kependudukan keluargaku tidak di kampung tersebut. Padahal sudah lebih dari 15 tahunkami tinggal disana, dan aku tak mengerti kenapa Bapak tidak mau mengurusi statuskependudukan kami. Oleh karena itu, aku mengambil sepeda ontel yang sering dipakai Bapakbekerja, dan dengan mengendarai sepeda ontel tersebut aku pergi menuju ketua RT dan RW diJogokaryan. Aku jelaskan maksud kedatanganku, dan bagi ketua RT dan RW kami itu hal yang
  6. 6. sudah biasa karena tidak hanya sekali ini aku memintanya. Aku dan kakak-kakakku sudahberulang kali meminta surat keringanan biaya sekolah itu. Dengan surat tersebut guru BK kudapat memahami keadaan keluargaku. Sehinggga tiap ada bantuan atau beasiswa, aku ikutmendapatkannya. Di kelas IX banyak beasiswa yang aku dapatkan. Entah dari BSM, BAZDA, atauyang lainnya. Aku sungguh bersyukur dengan keadaan ini, walaupun sebenarnya bantuan-bantuan tersebut belum mampu menutupi seluruh tunggakanku yang membengkak.Suatu hari pernah aku menceritakan hal itu pada Mbak Anis, dan dia selalu berkatapadaku semua itu pasti bisa kita lalui. Mbak Anis berkata jika nilai UN ku berdoa dalamperingkat 3 besar parallel, kemungkinan terbebas dari biaya sekolah sangatlah besar. Dan apayang aku pikirkan? Aku berpikir, mungkin itu hal yang mudah bagi Mbak Anis, yang menurutkuadalah pintar, sedangkan bagiku itu hal yang sulit. Aku bukanlah anak yang meyakinkan dirikalau aku pasti bisa. Semangat belajarku semakin meningkat, itu menurutku, belajar, belajardan belajar harus benar-benar kutekuni. Hampir tiap malam aku belajar hingga diatas pukul21.00, belajar kelompok dengan teman-teman tak lupa aku ikuti dengan rutin. Walau belajarkelompok lebih sering kami habiskan untuk bercerita, hehe..hitung-hitung refreshing.Hari demi hari berlalu, nilai rata-rata tes try out Alhamdulillah selalu naik. Perlahan rasapesimis mulai tergantikan dengan optimis, apalagi ketika try out ke 3 ku tingkat kotamadya, akumendapatkan peringkat 2 paralel di sekolah. Waktu terus berputar, dan akhirnya membawakupada ujian sekolah. Ujian sekolahku berjalan dengan menyenangkan walau tidak selalu lancar,entah mengapa aku senang mengahadapinya. Mungkin juga karena faktor dalam diriku yangingin segera lulus dari bangku SMP. Aku ingin segera duduk di bangku SMA! Aku menuju ujianberikutnya, ujian praktek. Kalian tahu, ujian praktek yang paling kutakutkan adalah ujianpraktek agama bagian baca Al-qur’an. Jujur saat itu aku belum lancar membaca Al-qur’an,padahal nilai ujian sekolahku mata pelajaran agama, aku mendapat nilai yang hampir sempurna9.60.Sekilas akan aku ceritakan persiapanku mengahadapi ujian sekolah Agama. Seharisebelum aku dan teman-temanku menghadapi ujian sekolah Agama, aku dan teman-temankumendatangi Bapak Samdani, guru Agama kami. Kami berharap akan mendapatkan kisi-kisi soal,namun Bapak Samdani menyampaikan pada kami bahwa soal ujian sekolah Agama dibuat olehmenteri Pendidikan Agama. So, Bapak Samdani tidak mempunyai kisi-kisi soal yang kami minta.Sebagai gantinya Bapak Samdani memberikan kami sebendel materi Agama mulai dari kelas VIIsampai IX beserta latihan soal. Saat itu teman-temanku segera menyebar pemberitahuantentang materi dari Pak Samdani. Serempak seluruh teman-teman seangkatanku segera meng-copynya. Dan saat itu aku begitu malang, aku tidak mempunyai uang, hanya ada beberapa uangreceh di kotak pensilku. Karena tak tahu apa yang harus kulakukan, akhirnya kuputuskan untukpulang. Sesampainya di rumah aku mempersiapkan buku-buku yang esoknya akan diujiankan.Selesai menyiapkan buku-buku itu aku tidur untuk menghilangkan kekecewaanku tidak dapatikut meng-copy materi ujian Agama itu. Waktu Ashar tiba, aku terbangun lantas mengerjakankewajiban shalat Ashar, selesai itu aku menyelesaikan piket harianku.Setelah aku merasa pekerjaanku selesai, aku memutuskan untuk mandi. Seusai mandiaku kembali ke kamar dan mulai membuka buku paket agama kelas IX yang kupinjam dari
  7. 7. alumni /kakak kelasku dulu. Mengetahui aku tidak keluar kamar untuk makan, Bapakmendatangi kamarku dan menegurku,“Uwis sikik to Li, ayo maem dhisik, mengko sinau meneh.” Ujar Bapak padaku sekitarpukul 18.30“Inggih Pak…” Aku segera menutup buku paket Agama kelas IV ku yang memang sudahselesai kupelajari.Selama makan akhirnya aku menceritakan masalah yang terjadi di sekolah esok tadi.Melihat ekspresi Bapakku jadi merasa bersalah menceritakan masalahku tadi. Untukmenghilangkan rasa bersalahku pada Bapak, aku bercerita bahwa aku memiliki 2 adik kelas,kelas VII dan VIII yang rumahnya ada dibelakang Masjid Al-Falah, tak jauh dari rumahku.Rupanya Bapak tahu apa maksudku, dan setelah sholat Isya’ Bapak mengantarkanku dengansepeda ontelnya menuju rumah adik kelasku tadi untuk meminjam buku paket dari mereka.Sepulangnya dari meminjam buku Bapak menegurku agar aku jangan terlalu memaksakan diri,belajar secukupnya saja. Aku hanya tersenyum, menyadari selama ini aku lama tak ngobroldengan Bapak. Setelah meminjam buku aku menyempatkan diri untuk ngobrol dengan Bapak.Esok harinya aku bersemangat menuju sekolah, berpikir optimis, dan yakin aku bisamengalahkan teman-temanku. Dan Alhamdulillah, hasilnya cukup memuaskan begitu. Kembalipada ujian praktek Agamaku, sudah kukatakan diatas, ketakutanku di ujian praktek Agamaadalah membaca Al-qur’an. Saking takutnya menghadapi baca Qur’an esok pagi, malamnyasetelah aku menghafalkan materi yang lain, aku akhirnya membaca berlembar-lembar ayat Al-qur’an. Ya, ide gila memang, tapi itu tetap aku lakukan. Dan hasilnya? Huffff...mana mungkinlancar hanya dengan satu kali latihan bukan? Akhirnya keesokan harinya aku berangkat sekolahdengan hati tak tenang, aku takut menghadapi ujian praktek baca Al-qur’an .Ujian praktek Agama dibagi dengan beberapa bagian. Bagian demi bagian kujalani,hingga akhirnya aku harus menghadapi ujian praktek baca Al-qur’an. Degup jantungku semakinkencang ketika aku berjalan menuju Pak Samdani, guru yang menunggu tes baca Qur’an.“Ya..Atrelia, silakan buka Al-Qur’annya.” Begitu instruksi Bapak Samdani.“Baik Pak, surat apa?” tanyaku sedikit was-was.“Coba buka surat Al-baqarah dan kamu baca ayat 1-5.” kata Bapak Samdani.Pemanasan, mungkin ini hanya pemanasan. Sungguh, Al-Baqarah ayat 1-5 hampir diluarkepala. Mana mungkin suatu tes baca Al-qur’an semudah ini. Tak mau sibuk-sibuk berpikir yangtidak-tidak, aku segera membaca surat Al-Baqarah 1-5.“Cukup, baca Al-qur’anmu baik dan lancar.” ucap Bapak Samdani.“Haaah? Ini sudah selesai Pak?” tanyaku kaget.“Iya, ini bagian terakhir praktek Agama.” jawab Pak Samdani.
  8. 8. Sungguh, aku benar-benar kaget sekaligus senang, tak disangka aku dapat melalui tesbaca Qur’an ini dengan baik, walaupun itu pun karena aku hafal sedikit-sedikit. Tapi syukurlah,aku senang sekali bisa melalui ujian praktek Agama ini dengan lancar. Hari demi hari akhirnyakulalui seluruh ujian praktek. Rasanya lega terbebas dari ujian sekolah dan ujian praktek disekolah. Dengan terbebas dari ujian sekolah dan ujian praktek maka aku dan teman-temanmulai terfokuskan dengan UN. Jadi, kami hanya tinggal belajar 4 mata pelajaran yang di UN-kan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA.*Waktu terus berjalan, begitu pula hari-hariku. Kini sehari sebelum ujian nasional tiba 24april 2011 bertepatan pula dengan ulang tahunku. Sedikit sedih memang, karena aku danteman-teman di kelas jika ada yang ulang tahun akan merayakannya, walau hanya dengan roti-roti yang ditumpuk dan kami hias sendiri serta menyiraminya dengan air, tepung, maupun telur.Sekarang? Sepi sekali, hanya sms-sms yang datang. Namun tak apalah,teman-temanku memangpernah berkata, takutnya jika aku masuk angin dan malah ga bisa ikut UN kan berabe jadinya.Dengan ucapan-ucapan pun aku senang mereka masih ingat dengan hari ulang tahunku. Malamtelah tiba, esok adalah hari pertama menghadapi UN, dan hari pertama dijadwalkan matapelajaran Bahasa Indonesia. Bapak yang tahu besok aku akan menghadapi UN tidak memaksakuuntuk belajar. Bapak malah menyuruhku untuk tidur lebih awal, dan biasa, orang Indonesiapasti merasa pelajaran Bahasa Indonesia itu mudah, seperti halnya aku. Menuruti saran Bapak,akhirnya aku tidur pada pukul 20.00 wib.25 April 2011 hari pertama UN akhirnya tiba. Dengan langkah kaki yang mantap akuberjalan menuju sekolah. “Aku pasti bisa!”, batinku. Sesampainya disekolah, aku menujuMushola sekolah. Sesuai saran guru kami, aku dan teman-temanku menjalankan shalat Dhuhaagar dimudahkan dalam mengerjakan soal UN. Setelah selesai, kami naik ke lantai 2 danberkumpul dengan teman-teman satu kelas kami. Sungguh tak kusangka, teman-temankubanyak yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku, walaupun telat tapi sungguh akumerasa senang. Apalagi disaat itu Pak Anwar, guru TIK di sekolah berkeliling untuk memotretsiswa-siswinya ketika detik-detik menghadapi UN, malah ikut memotretku ketika beberapateman mengucapkan ultah padaku. Dan sekarang foto itu terpampang di FB ku.Bel masuk akhirnya berbunyi, kami segera mengucapkan kata semangat satu sama lainsekaligus berjabat tangan, sebagai tanda kita pasti bisa. Setelah itu kami menuju ruang ujiannasional masing-masing yang telah ditentukan. Sunyi senyap. Semua murid fokus padapekerjaan masing-masing. Hanya terdengar langkah kaki guru pengawas yang berjalan kesana-kemari dengan mata awas, berusaha menyapu seisi kelas kalau-kalau ada murid yang bertindakcurang. Seusai mengerjakan UN Bahasa Indonesia, aku dan teman-temanku, tentu sajatermasuk SANNI menuju Mushola sekolah. Dan biasa melakukan hal yang tak penting(sebenarnya baru sadar sekarang sih), yaitu kami membahas soal yang kami kerjakan tadi.Padahal dengan membahasnya tentu saja tak bisa merubah apa yang sudah kita jawab tadi.Akibatnya aku justru menangis, teman-temanku bilang soal UN Bahasa Indonesia tadi ternyatabanyak yang diambil dari soal detik-detik. Malangnya aku, jawaban yang di detik-detik ternyatatidak sama denganku untuk soal yang sama. Karena itu, aku menjadi sangat down….dan untuk
  9. 9. pelajaran selanjutnya aku menjadi pesimis. Padahal kalian tahu, target hasil UNku adalah 38.00!Aku ingin mendapatkan peringkat 3 besar parallel, dan mungkin dapat terbebas dari biayatunggakanku. Namun Bapak memberiku semangat saat aku down, aku tak boleh menyia-nyiakannya suntiukan semangat dari Bapak! Aku harus bangkit, harus semangat, dan optimis.Akhirnya 4 hari yang menegangkan berlalu. Kami semua telah melalui UN, tinggalmenunggu hasil. Memang sedikit penasaran dan takut mendengar hasilnya, namun selamamenunggu hasilnya aku dan teman-teman banyak bermain. 01 Mei 2011 hari pertama libur.Karena sudah tidak ada lagi pelajaran, ternyata tak sesuai yang aku harapkan. Sebelumnya akusudah janjian dengan teman-temanku untuk bermain, namun Wallahu’alam, Allah yangmengatur rencana-rencana hambanya. Pukul 04.00 dini hari aku dibangunkan oleh Mbak Anis,awalnya sayup-sayup aku mendengar suara yang diucapkan Mbak Anis, semakin lamamekanisme pendengaranku mulai bekerja. Suara Mbak Anis akhirnya masuk dengan cepatnyake dalam daun telingaku menuju saluran pendengaran, ditangkap oleh gendang telinga, martil,tulang landasan, tulang sangguardi, jedela oval, koklea dan segera disalurkan oleh serabutsyaraf cranial menuju otak, lalu…hap…aku terbangun dari tidurku. Aku tak salah dengar, MbakAnis menyampaikan kabar bahwa nenekku meninggal. Setelah selesai sholat Shubuh, kamisekeluarga menuju rumah Nenek. Sungguh, duka yang terlihat dalam raut wajah saudara-saudaraku. Kami tetap berusaha mengikhlaskannya walau berat.Upacara pemakaman Nenek tercinta telah usai, kami sekeluarga kembali ke rumahalmarhumah Nenek. Memenuhi serangkaian adat Jawa, kami disibukkan oleh berbagaipekerjaan, entah menyiapkan hari yang adat Jawa sebut “Pitung Ndinanan” atau menyiapkanacara tahlilan dan lain sebagainya. Selama mempersiapkan acara tersebut, aku ikut menginap dirumah almarhumah Nenek karena memang sekolahku juga sudah libur. Selama menginapdirumah Nenek tak tertinggal Tifa dan Titik juga ikut menginap. Setelah meninggalnya Nenek,aku, Tifa, Titik, dan Mbak Ninda kerap sekali menginap bersama. Karena kami menginap ketikadetik-detik pengumuman hasil UN, kami sering mengobrolkan sekolah mana yang akan kamituju. Mbak Ninda yang sudah duduk di bangku SMA N 7 Jogjakarta mengusulkan pada kamiagar bersekolah di situ, dan kamipun setuju. Kami tidak sabar masuk SMA N 7 Jogjakarta karenakami ingin segera mengikuti MOS yang salah satu panitianya adalah Mbak Ninda. Kami (aku,Tifa, Titik) sering iseng berkata besok kalau MOS kami bertiga akan nakal bersama-sama,dihukum bersama-sama, dan berusaha membuat jengkel bersama-sama. Pokoknya kami benar-benar bersemangat ingin masuk SMA yang sama tersebut. Karena rumah Titik dan Tifa jauh dariSMA N 7, mereka berniat akan menempati rumah almarhumah Nenek dengan syarat aku danMbak Ninda juga ikut berdama mereka. Sungguh menyenangkan, membayangkan kami akantinggal bersama.Hari pengumuman hasil UN pun tiba, dan ternyata hasil UN ku sungguh tak sesuaitarget. Aku peringkat 30, dari sekitar 216 siswa, dengan nem 35,80. Rata-rata 9 pun tak ada.Menangis? tentu saja aku menangis, apalagi jika mengingat kekurangan biaya sekolahku.Bagaimana aku akan melunasinya? Ah aku benar-benar telah mengecewakan Bapak. Danmelanjutkan SMA pun aku tak tahu sanggup atau tidak. Lalu bagaimana rencana yang aku, Tifa,dan Titik susun untuk bersekolah di SMA N 7 Jogjakarta itu? ah, malah membuatku semakinterpuruk ketika mengingatnya. Sungguh, manusia memang dapat terbutakan dengan angan-
  10. 10. angannya sendiri, dan ketika terbangun dari angan-angan mereka yang terlalu tinggi, semua itumembuat hati dan pikiran kacau balau, dan hanya bisa menyesali angan-angan yang merekabuat tanpa usaha. Seperti aku, menyesal dan terpuruk. Dalam keterpurukanku itu, sungguhmasih ada bara api dalam hatiku. Masih ada semangat dalam jiwaku untuk tetap bersekolah.Dan cita-citaku? Bodoh benar aku baru menceritakannya sekarang. Aku memiliki cita-cita yangmembuat hidupku tetap memiliki arah tujuan, dan bara api di hatiku itulah tekadku. Akubercita-cita menjadi seorang guru dan mendirikan sekolah formal untuk anak-anak terlantar,maupun anak-anak miskin. Generasi Indonesia harus semakin pintar. Aku harus meraih cita-citaku itu!Hari yang kutakutkan tiba. Di hari pembagian ijazah, ijazahku tidak dapat diberikanpadaku. Ijazahku ditahan karena biaya tunggakanku yang sudah menumpuk. Aku kembali diberiselebaran kekurangan dengan jumlah totalnya adalah < 2,5 juta. Darimana uang sebanyak itukudapatkan? Uang gajianku selama liburan pun tidak cukup menutupinya. Ah, iya, ternyata akubelum menceritakkannya. Selama ini aku bekerja, baru mulai kelas VIII semester II memang,dan hasil gaji tersebut kugunakan untuk keperluan sekolah, seperti alat tulis maupun membeliLKS. Aku bekerja sebagai penunggu perpustakaan di Karangkajen. Nama perpustakan itu adalahRumah Dunia Q, pemiliknya sangat ramah dan baik, Mbak Uut, begitu aku memanggilnya.Mudah saja meminjam buku disana, hanya mendaftar lalu kalian boleh meminjamnya max 2buku untuk sekali pinjam. Soal biaya seikhlasnya aja. Aku benar-benar salut dengan Mbak Uutyang baik hati.Kembali pada ijazahku yang ditahan. Aku memang sempat berputus asa, namunsyukurlah aku tidak terjerumus dalam keterpurukan, karena selalu teringat dengan cita-citakuyang harus kuraih. Setelah pembagian ijazah itu, aku mendatangi wali kelasku. Saat itu hariSabtu, dan aku menanyakan untuk mengurusi ijazahku yang ditahan. Apa yang harus kulakukanselain menutupi seluruh biaya kekuranganku? Guruku hanya tersenyum dan berkata“Datanglah bersama orangtuamu besok Senin”. Pulang sekolah aku memberitahukan hal itupada kakakku, namun ternyata Bapak tidak mau datang walaupun sudah kubujuk berulang kali.Baiklah, tak mengapa, aku berniat untuk skip 1 tahun. Ya, aku berniat berhenti 1 tahun untukbekerja dan mengumpulkan uang! Mungkin terlalu sombong, memang lulusan SMP dapatbekerja jadi apa? Meskipun bingung namun tekadku sudah bulat bahwa aku akan bekerja,mengumpulkan uang, untuk menembus ijasahku.Entah mengetahui kabar darimana, Bulik mendengar aku akan berhenti 1 tahun.Mungkin karena tidak tega, bersama Tifa, Bulik mengajakku kesekolahku. Bulik yang tidak tahuseluk-beluk sekolahku, malah ikut turun tangan mengurusi ijazahku. Apa yang Bulik lakukansungguh membuatku terharu, Bulik mengajak aku keruang TU, meminta keringanan biaya,namun Kepala TU menganjurkan kami ke guru BK. Akhirnya kami ke guru BK. Setelahmenyampaikan maksud kami, guru BK menyuruhku untuk mencari surat-surat keterangan tidakmampu dahulu. Akhirnya kami pulang dengan tangan kosong tanpa ijazahku. Tak mau menyia-nyiakan usaha Bulik, malamnya aku kembali mencari surat-surat keterangan tidak mampuuntuk mencari keringanan biaya. Setelah mendapatkannya, aku benar-benar membujuk Bapaksupaya mau ke sekolah bersamaku. Aku mengatakan, Bulikku saja mau ikut turun tangan,
  11. 11. kenapa Bapak tidak? Sedikit jengkel memang aku membujuk Bapak, namun akhirnya Bapak punbersedia.Keesokan harinya, Bapak memboncengkan aku dengan sepeda ontelnya menujusekolah. Hanya membawa sedikit uang dan surat-surat yang aku kumpulkan tadi malam, kamimenemui kepala sekolahku. Setelah cukup lama berdebat, akhirnya munculah keputusan darikepala sekolahku. Mendengar keputusan itu aku hampir menangis, sungguh Allah Maha Adil.Allah menyampaikan keadilannya melalui Bapak Istiyono, bapak kepala sekolah tersebutmemutuskan aku terbebas dari biaya tunggakan kurang lebih 2,5 juta, bebas dengan surat-suratyang kubawa. Setelah itu bapak kepala sekolah membuat surat kuasa yang cukup simple diselembar kertas. Kemudian, dengan kertas itu aku disuruh menemui Bu Unung di perpustakaanuntuk mengambil ijazahku. Sebelum keluar dari ruangan kepala sekolah, aku dan Bapakmengucapkan terima kasih. Setelah mengambil ijazah dan sedikit ngobrol dengan Bu Unung,aku dan Bapak pulang ke rumah, dan hatiku benar-benar lega.Beberapa hari setelah ijazahku diberikan, aku menginap bersama Titik dan Tifa.Pendaftaran sekolah negeri, termasuk SMA N 7 Jogyakarta masih cukup lama. Hari pertamamenginap, ternyata Bulikku mengatakan akan mendaftarkan Tifa dan Titik di SMTI. Saat itu akusedikit kaget, dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimana rencana kami untuk masuk SMA N 7jogja itu? Sedikit kecewa memang, mengapa saat ijazahku sudah dapat kuambil, mereka malahmembatalkan rencana mereka? Padahal aku sudah optimis dapat melanjutkan sekolahbersama. Namun aku tidak berhak meyalahkan mereka, aku hanya bisa memendamkekecewaanku. Aku juga sadar, bahwa jalan hidup setiap orang berbeda. Aku merubahperasaan kecewaku, dan entah mengapa aku ikut senang melihat mereka bersemangatmendaftar di SMTI. Aku berusaha menyemangati mereka, aku juga yakin tali persaudaraan kamitidak akan terputus walau ditempat berbeda. Aku yakin, kami akan tetap bisa bermainbersama.Suatu malam ketika mengobrol bersama di kamar, tiba-tiba dering sms masuk ke dalamhandphone bututku. Aku berjalan dan membuka sms itu, kulihat nama pengirimnya, MbakDanis? Aku heran, tumben Mbak Danis sms. Mbak Danis tinggal di asrama ETOS, asrama ETOSadalah asrama dari beasiswa ETOS. Kami bisa dibilang jarang berkomunikasi, mungkin jugakarena kesibukan kuliahnya. Namun jangan salah, walau kami jarang berkomunikasi, Insyallahkami tetap saling mengetahui keadaan satu sama lain. Dan tentang ijazahku yang ditahanpunMbak Danis juga tahu. Sekarang mungkin Mbak Danis sudah tahu kalau ijazahku sudah bisadiambil. Dan untuk mengantisipasi hal yang sama di SMA kelak Mbak Danis mengirimku smsyang berisi tawaran untukku. Tawaran untuk tinggal di Pondok Pesantren, dimana PondokPesantren itu akan menyekolahkanku dan tidak memungut biaya sedikitpun. Entah mengapatanpa pikir panjang aku mengatakan iya! Aku benar-benar tertarik walaupun sebelumnya takpernah sedikitpun terlintas dalam benakku akan tinggal di Pondok Pesantren. Bahkan bisadibilang aku anti dengan Pondok Pesantren. Setelah aku selesai sms-an dengan Mbak Danis akukembali berkumpul dengan Tifa, Titik dan Mbak Ninda.“Ciee Lili, smsan sama sapa tuh..lama banget.” Celetuk Tifa asal-asalan.
  12. 12. “Wah, gak lah..huuu Tifa tuh ngarang ah..” Balasku membantah.“Alah Lili tu mengelak aja.” Sahut Titik.“Haddduuh kalian sok tau bener.” Kataku sambil menimpuk Titik dengan bantal.“Dari siapa to Li?” Mbak Ninda akhirnya ikut tertarik.“Hehehe, dari Mbak Danis.” Jawabku.Lalu aku menceritakan maksud sms dari Mbak Danis. Aku juga sudah mengatakanbahwa aku menyetujuinya. Ah, benar-benar tak mudah menyampaikan hal itu. Aku begitu beratmengungkapkannya, apalagi melihat ekspresi mereka yang terdiam mendengar ceritaku benar-benar saat itu aku hampir menangis. Aku tak bisa membayangkan akan berpisah denganmereka. Tinggal di Pondok berarti aku akan jarang bertemu mereka. Aku tak bisa menahan airmata ketika mereka mengatakan hal yang sama dengan yang kurasakan. Namun melihatkumenangis, mereka buru-buru menghiburku dan memberiku semangat. Mereka mengatakanpadaku bahwa kami tetap akan bersama, kami tetap akan bermain dan bercerita bersamaketika bertemu. Mbak Ninda mungkin sedikit sedih karena kami bertiga tidak jadi bersekolahdisekoah yang sama dengannya. Namun Mbak Ninda meyakinkanku untuk tetap mengambilkeputusan tinggal di Pondok Pesantren. Dia mengatakan padaku, bisa jadi melalui PondokPesantren itulah aku dapat meraih apa yang kuinginkan. Ternyata begitu pula tanggapan dariBapak, beliau mendukungku. Dengan dukungan-dukungan itu aku menjadi bersemangat danyakin, I believe I can do it!*Tanggal 13 Juni 2011, Mbak Danis mengantarkanku untuk melihat-lihat PondokPesantren yang akan kutinggali. Disana setelah mendaftar, kami melihat-lihat pondok itu. Ditempat tersebut banyak sekali anak-anak, karena ternyata selain menjadi Pondok Pesantrentempat itu merangkap sebagai Panti Asuhan pula. Sungguh tempat yang mulia, batinku. Saatitu, ternyata juga ada usaha yang baru dijalankan oleh Pondok tersebut, yaitu membuatminuman herbal. Selesai melihat-lihat dan diperkenalkan dengan santri-santri putri dikamarnyaoleh mbak Nisa (Mbak Anis) salah satu santri disana, aku dan Mbak Danis pulang menujurumah. Setelah aku pertimbangkan dengan matang aku memutuskannya untuk berangkat kepondok tanggal 25 Juni 2011, tepat di hari Minggu. Dan malam sebelum aku berangkat kePondok, aku mengayuh sepeda ontel milik Bapak menuju rumah Nenek untuk berpamitandengan saudara-saudaraku disana. Tak lupa aku juga berpamitan dengan Mbak Uut dan teman-temanku. Selesai berpamitan, aku kembali mengayuh sepedaku, dan entah mengapapenglihatanku menjadi buyar, aku menangis! Karena menangis, aku tidak jadi pulang. Akumengayuh sepedaku mengelilingi jalan-jalan yang ingin kulihat, seolah-olah aku jugaberpamitan dengan jalan-jalan itu. Setelah merasa puas berkeliling, aku memutuskan untukpulang.Selama berbaring hendak tidur aku tidak bisa terpejam, ada rasa sedih sekaligus senangdalam hatiku. Sedih karena harus meninggalkan keluarga, teman-teman, dan sahabat-sahabat,
  13. 13. serta kampung halaman yang selama 14 tahun menemaniku. Namun ada rasa senang pula dihatiku. Dengan mengambil keputusan itu, aku yakin dapat merubah pandanganku di dunia. Akuyakin aku bisa meraih cita-citaku, aku yakin dapat. Aku yakin ,aku pasti menjadi yang lebih baik.Pukul 09.00 tanggal 25 Juni 2011. Aku diantar oleh Bapak menggunakan sepeda motor milikBulik menuju Podok Pesantren /PA Sabilul Huda. Sesampainya di Pondok, aku dan Bapakdisambut oleh Mbak Putri salah satu pengasuh di pondok tersebut. Setelah cukup lamabercakap-cakap, Bapak akhirnya mohon diri untuk berpamitan. Setelah melihat Bapak pergimengendarai motor tadi, aku dibantu oleh Mbak Putri membawakan barang-barangku menujukamar santri putri.Dan mulai hari ini, tanggal 25 Juni 2011 dimulailah perjuanganku untuk meraih cita-citaku,dan aku yakin aku pasti bisa. Beberapa hari tinggal di Pondok Pesantren sudah mampumembuatku mengetahui arti kehidupan perjuangan, persahabatan, dan satu lagi yang hampirkulupakan selama ini, yaitu mengajarkanku Ilmu Agama. Sungguh, tinggal di tempat inimemperlebar wawasanku tentang makna kehidupanku. Dan sekarang aku akan memulaikehidupan baruku. Aku akan berjuang meraih cita-citaku menjadi seorang guru dan medirikansekolah formal untuk anak-anak terlantar. Aku yakin, pasti dapat kuraih.I believe I can Get My Dreams THE END 

×