Petunjuk teknis pemicuan di sekolah pemprov jawa timur 2012

3,840 views

Published on

Dokumen Petunjuk Teknis untuk pemicuan di sekolah, dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tahun 2012.

Petunjuk teknis pemicuan di sekolah pemprov jawa timur 2012

  1. 1. PETUNJUK TEKNIS PEMICUAN DI SEKOLAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR DINAS KESEHATAN Jl. Jenderal A.Yani No. 118TELP.(031) 8280356-8280653-8280660-8280713 Fax. (031) 8290423 Tlp. (031) 8273098 Fax. (031) 8273097 (Seksi PL) Surabaya 60231 TAHUN 2012
  2. 2. KATA PENGANTAR Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ) merupakan Program Nasional yangbersifat lintas program dan lintas sektor di bidang sanitasi dan merupakan pendekatanuntuk merubah perilaku higiene sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat denganmetode pemicuan. Salah satu tujuan program STBM adalah menurunkan kejadian diaredan penyakit berbasis lingkungan lainnya melalui intervensi terpadu dengan menggunakanpendekatan sanitasi total dengan metode pemicuan yang pada awalnya dikenal denganCommunity Led Total Sanitation (CLTS). Dalam perjalanannya STBM perlu pengembanganstrategi yang secara perlahan-lahan mencabut subsidi untuk pembangunan jamban. Ciri utama dari pendekatan ini adalah tidak adanya subsidi terhadap infrastruktur(jamban keluarga maupun sarana air bersih), dan tidak menetapkan blue print jamban,sehingga nantinya sarana akan dibangun sendiri oleh masyarakat. Pada dasarnya CLTSadalah “pemberdayaan” dan “tidak membicarakan masalah subsidi”. Artinya, masyarakatyang dijadikan “guru” dengan tidak memberikan subsidi sama sekali. Dari hasil pelaksanaan kegiatan pemicuan di komunitas (masyarakat umum) padabeberapa Kabupaten/ Kota di Jawa Timur menunjukkan bahwa metode tersebut cukupefektif untuk melakukan perubahan perilaku, khususnya buang air besar di masyarakat.Untuk meningkatkan program STBM yang mencakup 5 pilar maka perlu dilakukan berbagaiupaya terobosan agar menghasilkan output yang maksimal dengan memadukan kelima pilartersebut dalam satu gerakan yang terpadu. Salah satu terobosan adalah melakukanpemicuan di sekolah. Sekolah (khususnya Sekolah Dasar atau yang sederajad) dipilihsebagai sasaran pemicuan karena beberapa alasan antara lain : pada usia tersebut rasakasih sayang orang tua masih sangat besar, campur tangan orang tua masih dominan, padausia tersebut masih mudah kita bentuk generasi yang lebih berkualitas, pada usiatersebut masih semangat dan memiliki kebanggan tersendiri apabila dilibatkan pada suatukegiatan yang bisa menghasilkan sesuatu dan memberi rasa bangga. Oleh karena itu perludisusun petunjuk teknis pemicuan di sekolah. Namun demikian
  3. 3. Buku Petunjuk Teknis ini disusun sebagai panduan terhadap daerah yang akanmelakukan pemicuan di sekolah, baik di Sekolah Dasar (SD) atau yang sederajad misalMadrasah Ibtida’iyah (MI) maupun SMP atau yang sederajad, misal MTS. Buku inibersifat fleksibel dan terbuka untuk dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisimasing-masing daerah serta terbuka untuk menerima tambahan inovasi lainnya. Namundemikian buku juknis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu berbagai kritik,masukan dan saran dari semua pihak sangat diperlukan demi kesempurnaan buku ini.Semoga dengan tersusunnya buku ini bisa memberikan inspirasi tehadap semua pelakuSTBM untuk bisa berkarya dan berprestasi demi kemaslahatan masyarakat.Terima kasih. Amin. Seksi Penyehatan Lingkungan Bidang PPMK Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
  4. 4. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene dan sanitasi masih sangat besar. Hasil Studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka lainnya. Studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat untuk mencuci tangan dilakukan: (i) setelah buang air besar 12%; (ii) setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9%; (iii) sebelum makan 14%; (iv) sebelum memberi makan bayi 7%; dan (v) sebelum menyiapkan makanan 6%. Sementara studi BHS lainnya terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga, menunjukkan 99,20% telah merebus air untuk mendapatkan air minum, akan tetapi 47,50% dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli. Implikasinya, Diare, yang merupakan penyakit berbasis lingkungan, masih merupakan pembunuh nomor satu untuk kematian bayi di Indonesia dan menyumbang 42% dari penyebab kematian bayi usia 0-11 bulan. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya (Riset Kesehatan Dasar 2009). Disamping diare penyakit yang dikeluarkan melalui feces antara lain polio, hepatitis, cacing dan lain-lain. Dari sudut pandang ekonomi, Indonesia mengalami kerugian sekitar $6,3miliar akibat buruknya kondisi sanitasi dan higiene. Ini setara dengan 2,3% dari besarnya produk domestic bruto. Hasil studi WHO (2007), intervensi lingkungan melalui modifikasi lingkungan dapat menurunkan risiko penyakit diare sampai dengan 94%. Modifikasi lingkungan tersebut termasuk didalamnya penyediaan air bersih menurunkan risiko 25%, pemanfaatan jamban menurunkan risiko 32%, pengolahan air minum tingkat rumah tangga menurunkan risiko sebesar 39% dan cuci tangan pakai sabun menurunkan risiko sebesar 45 %. Laporan kemajuan Millenium Development Goals (MDGs) yang dikeluarkan oleh Bappenas pada tahun 2010 mengindikasikan bahwa peningkatan akses masyarakat terhadap jamban sehat (target MDGs 7.C) ini tergolong pada target yang membutuhkan perhatian khusus, karena kecepatannya akses yang tidak sesuai dengan harapan. Dari target akses sebesar 55,6% pada tahun 2015, akses masyarakat pada jamban keluarga yang layak pada tahun 2009 baru sebesar 34%. Terdapat ceruk 21% peningkatan akses dari sisa Waktu 6 tahun (2009-2015).
  5. 5. Untuk mencapai sasaran sanitasi MDGs tersebut, harus ditemukan carauntuk lebih mempercepat akses sanitasi baik di perdesaan maupun di perkotaan.Di sisi lain dengan anggaran pemerintah yang terbatas maka perlu dilakukan cara-cara yang lebih efektif dan inovatif. Mengatasi permasalahan tersebut Pemerintah Indonesia melaluiKementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengembangkan dokumenStrategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengandikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor852/MENKES/SK/IX/2008, yang menjadikan STBM sebagai Program Nasionaldan merupakan salah satu sasaran utama dalam RPJMN 2010–2014, yangmenargetkan bahwa pada akhir tahun 2014, tidak akan ada lagi masyarakatIndonesia yang melakukan praktik buang air besar sembarangan (BABS). Didalam STBM terdapat 5 pilar kegiatan utama antara lain : 1. Upayamerubah perilaku masyarakat untuk tidak Buang Air Besar Sembarangan (BABS),tetapi BAB di jamban, 2. Membiasakan cuci tangan pakai sabun, 3. Mengelola airminum dan makanan yang aman, 4. Mengelola sampah dengan benar, 5. Mengelolalimbah cair rumah tangga dengan aman. Dengan demikian STBM menekankankepada 5 (lima) perubahan perilaku tersebut diatas. Pendekatan yang dipakaidalam STBM untuk merubah perilaku hygiene dan sanitasi melalui pemberdayaanmasyarakat dengan metode “pemicuan”. Pemicuan yang sudah dilaksanakan selama ini lebih banyak ditujukanterhadap masyarakat umum, disamping juga dilakukan berbagai strategi untukmempercepat tercapainya ODF (Open Defecation Free), yaitu suatu kondisidimana masyarakat tersebut sudah tidak ada yang breperilaku BABS, tetapisudah BAB di jamban. Kegiatan STBM harus didukung oleh semua pihak sertaperlu adanya upaya-upaya inovatif, termasuk juga sasaran pemicuan. Oleh Karenaitu kita kembangkan pemicuan terhadap siswa di sekolah yang keluarganya masihberperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Dalam pemicuan di sekolahperlu adanya petunjuk teknis yang dapat dipakai sebagai acuan oleh pihak-pihakyang akan melakukan pemicuan di sekolah. Buku petunjuk teknis ini tidak bersifat kaku, tetapi fleksibelmenyesuaikan situasi dan kondisi masing-masing daerah. Bahkan buku juknis inidapat dikembangkan dan terbuka untuk memberikan banyak variasi agarmenghasilkan efek yang lebih optimal.
  6. 6. B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan a. Tujuan Umum Merubah perilaku masyarakat agar tidak BABS, tetapi BAB di jamban melalui siswa sekolah yang bertindak sebagai agen perubahan di dalam keluarganya. b. Tujuan Khusus 1) Menggugah kesadaran siswa sekolah tentang pentingnya berperilaku bersih dan sehat. 2) Meningkatkan pengetahuan siswa sekolah tentang alur perjalanan penyakit dan dampak negative yang ditimbulkan 3) Menjadikan siswa sekolah sebagai agen perubahan untuk memberikan pengaruh terhadap orang tua dan anggota keluarga lainnya 4) Sebagai data dasar ilmiah untuk dijadikan bahan diskusi dalam forum atau event pertemuan lainnya dalam memecahkan masalah yang harus segera diselesaikan bersama-sama termasuk dengan komite sekolah. 2. Sasaran Sasaran kegiatan adalah siswa Sekolah Dasar atau yang sederjad (SD/MI) Kelas 2, 3, 4, 5 dan SMP atau yang sederajadC. Landasan Hukum 1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan 2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah 3. Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan 4. Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan 5. Kepmenkes Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan 6. Kepmenkes Nomor 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum 7. Kepmenkes No. 867/Menkes/SK/XI/2006 tentang Pedoman Penyelenggaran dan Pembinaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) 8. Kepmenkes No. 1429/Menkes/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelengaraan Kesehatan Lingkungan di Sekolah 9. Kepmenkes RI No. 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
  7. 7. 10. Permenkes RI Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum 11. Permenkes RI Nomor 1429/Menkes/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan di Sekolah.II. TAHAPAN KEGIATAN Pemicuan di sekolah dilakukan melalui beberapa tahapan, tahap pertama yaitu tahap persiapan atau pra pemicuan. Pada tahap ini dilakukan koordinasi dengan sektor terkait yaitu dengan memberikan pengertian yang sekaligus merupakan upaya advokasi khususnya terhadap sektor pendidikan bahwa kualitas anak didik adalah menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang pendidik, kualitas anak didik tidak hanya dibidang akademik saja tetapi juga dibidang perilaku keseharian mereka termasuk perilaku higienis. Oleh karena itu sektor kesehatan ikut terpanggil untuk ikut berpartisipasi membantu dalam rangka perubahan perilaku siswa yang lebih baik. Dan yang lebih penting adalah ikut berperan serta meningkatkan kualitas lingkungan sekolah serta memperkecil resiko penularan penyakit yang berdampak negatif terhadap anak didik serta masyarakat umum lainnya. Selanjutnya adalah melaksanakan rangkaian kegiatan sebagai berikut : A. Pendataan/inventarisasi lokasi sasaran Pemetaan adalah pengumpulan data terhadap sekolah yang diperkirakan masih memiliki siswa dengan keluarga yang berperilaku BABS. Data ini sangat penting dalam penentuan lokasi agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran yang tepat. Pendataan bisa berasal dari Sanitarian/petugas kesehatan lingkungan Puskesmas atau dari sumber lainnya. B. Rapat Persiapan di tingkat Kabupaten Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah melakukan rapat koordinasi. Dalam kegiatan ini dilakukan berbagai informasi yang menyangkut strategi pelaksanaan, sektor yang terlibat dan rencana sasaran (sekolah) yang akan dijadikan sasaran. Sektor yang terlibat dalam pertemuan antara lain : Diknas setempat, UPT Diknas lokasi kegiatan, Puskesmas wilayah kegiatan, Camat lokasi kegiatan, Kepala Sekolah yang akan menjadi sasaran kegiatan, guru kelas 2,3,4,5, Guru atau penanggungjawab UKS di sekolah tsb, Tim Pembina UKS.
  8. 8. C. Rapat Persiapan di tingkat Kecamatan Dalam kegiatan ini lebih ditujukan kearah jadwal pelaksanaan pemicuan serta pelatihan singkat teknis memicu di sekolah dasar. Yang terlibat dalam rapat persiapan di tingkat ini adalah sanitarian atau fasilitator yang sudah pernah dilatih CLTS, guru UKS, Kepala Sekolah, Kepala Puskesmas, Camat dan lain- lain ( menyesuaikan ) D. Pelaksanaan Kegiatan Dalam tahap ini dilakukan pemicuan baik di dalam gedung maupun di luar gedung, sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan. Pemicuan dapat dilakukan secara rutin, periodik agar menghasilkan dampak yang lebih cepat dan lebih maksimal. E. Monitoring dan Evaluasi ( Monev ) Monev dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait. Data yang penting dalam monev antara lain: jumlah siswa yang terpicu dan berhasil mempengaruhi keluarga mereka untuk membuat jamban, kendala yang dihadapi, upaya alternatif solusi, bentuk pemicuan yang lebh pas dan lain-lain. Rangkaian langkah tersebut diambil sebagai upaya efisiensi kegiatan, namun demikian urutan langkah tersebut bisa berubah atau dimodifikasi sesuai dengan sikon masing- masing daerah. Sebagai contoh apabila memungkinkan pertemuan di tingkat Kabupaten dilaksanakan sedemikian rupa sebagai langkah pertama, sehingga dipakai sebagai ajang koordinasi yang lebih besar, baru langkah selanjutnya dilakukan pendataan dan seterusnya.III. PENTINGNYA PEMICUAN DI SEKOLAH Jumlah Sekolah Dasar (SD) atau yang sederajad (MI) di Indonesia sangat banyak, di Jawa Timur jumlah SD dan MI sekitar 19.779 buah. Satu hal yang penting bahwa setiap anak pada dasarnya adalah mewakili/identik dengan satu rumah atau satu KK atau lebih. Sehingga dengan demikian apabila kita memicu satu kelas artinya identik dengan memicu sejumlah KK sebanyak siswa didalam kelas tersebut. Pemicuan ini juga didasari bahwa anak usia sekolah SD masih bisa kita kendalikan sehingga bisa dijadikan sebagai agen perubahan. Kualitas siswa pada dasarnya adalah menjadi tanggungjawab sepenuhnya para pendidik. Kualitas siswa tidak hanya dibidang prestasi akademik, tetapi juga menyangkut bagaimana perilaku sehari-hari siswa dari sekolah bersangkutan. Karena
  9. 9. sebuah sekolah tidak hanya bertujuan mencetak generasi yang pandai dalam bidang akademik saja tetapi juga menyangkut kualitas moral, dimana perilaku keseharian termasuk didalamnya. Oleh karena itu sektor kesehatan membantu sektor pendidikan untuk ikut berperan serta meningkatkan kualitas siswa khususnya dalam bidang kesehatan lingkungan dalam hal ini adalah upaya merubah perilaku siswa dan keluarganya. Perubahan perilaku tersebut memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap upaya menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit yang berbasis lingkungan.IV. TEKNIS PEMICUAN Pemicuan di Sekolah Dasar atau yang sederajad : Pemicuan di SD dilakukan khususnya terhadap sekolah yang memiliki siswa yang belum memiliki jamban dan keluarganya masih berperilaku BABS (Buang Air Besar Sembarangan/di sembarang tempat). Oleh karena itu perlu pemetaan sekolah mana yang memiliki siwa dengan kriteria tersebut diatas. Guru kelas harus tahu siapa saja siswa yang belum punya jamban dan keluarganya masih BABS. Pada dasarnya pemicuan di Sekolah Dasar ( SD ) adalah memanfaatkan rasa kasih sayang orang tua terhadap anaknya yang masih dalam masa anak-anak dan masih dalam tahap pendidikan dasar. Disamping itu pemicuan terhadap siswa SD adalah juga memanfaatkan sifat dasar usia anak SD yang masih mudah untuk diatur, mudah dipengaruhi oleh orang diatasnya serta spirit belajar yang tinggi. Pemicuan di Sekolah Dasar idealnya dilakukan tehadap siswa kelas 2, 3, 4 dan 5. Sedangkan untuk kelas 1 mereka masih dianggap dalam masa adaptasi dari TK ke SD. Namun demikian apabila situasi dan kondisi setempat memungkinkan serta ada alasan atau pertimbangan tertentu, maka pemicuan dapat dilakukan juga terhadap siswa kelas 1. perhatian orang tua masih dominan sehingga kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan hasil pemicuan, karena melibatkan orang tua anak didik. Siswa kelas 1 juga dianggap masih memiliki jiwa kebanggan yang tinggi apabila dilibatkan pada suatu kegiatan tertentu. Kelas 5 dilibatkan karena pada usia tersebut mereka sudah mulai berani dilibatkan untuk terjun di masyarakat. Sehingga demikian pemicuan di SD disesuaikan dengan sikon masing-masing daerah, yang penting bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
  10. 10. Teknis pemicuan di SD tidak sama dengan pemicuan di masyarakat yangdikenal dengan CLTS, namun pada dasarnya metode yang digunakan hampir sama yaitudengan pendekatan partisipatory yaitu melibatkan obyek sasaran terlibat secaraaktif dan ikut berpartisipasi dalam proses kegiatan yang sedang dilakukan sehinggaobyek sasaran diperlakukan sebagai subyek dan diberi peran yang lebih tinggi. Jenis pemicuan di SD dapat dilakukan semuanya (secara gabungan) atausebagian, sesuai dengan sikon setempat. Namun kegiatan akan lebih maksimal apabilasemua teknis pemicuan “dicoba” untuk dilakukan atau secara gabungan.Teknis pemicuan di SD pada dasarnya terbagi menjadi 2 :1. Pemicuan di dalam gedung2. Pemicuan di luar gedung1. Pemicuan di dalam gedung Pemicuan di dalam gedung adalah proses pemicuan didalam kelas, pemicuan ini membutuhkan keterampilan, kesabaran dan peran aktif guru dan atau dibantu oleh pihak diluar institusi sekolah, misal petugas kesehatan atau petugas dari kantor diknas setempat ( misal UPTD Diknas ). Beberapa teknis yang bisa dilakukan antara lain :1.1. Diskusi Alur Perjalanan Penyakit. Pemicuan model ini dilakukan dengan cara diskusi kelompok, jumlah kelompokmenyesuaikan misal dibagi mejadi 5 . Topik diskusi adalah tentang alur perjalananpenyakit mulai dari kotoran manusia sampai masuk ke tubuh manusia dan manusia bisasakit. Alat peraga yang digunakan adalah kartu atau kertas yang bergambar. Gambartersebut antara lain terdiri dari : gambar orang BAB di sembarang tempat, gambartinja, gambar lalat, gambar makanan, gambar orang makan, gambar orangsakit/gambar orang yang opname di rumah sakit. Setiap kelompok mendiskusikantopik yang sama, yaitu menyusun alur perjalanan penyakit. Setelah selesai menyusunurutan gambar masing-masing kelompok bercerita tentang gambar tersebut. Setelahselesai guru kelas mulai memicu siswa dengan cara bertanya : misalnya apakahperilaku BABS itu baik? Mengapa tidak baik? Siapa diantara siswa yang keluarganyamasih BABS? Kemudian siswa tersebut ditanya mengapa masih berperilaku demikian?Bagaimana perasaan siswa tersebut bila BABS seperti itu? Bila kotoran yangditimbulkan bisa menyebabkan orang disekitar menjadi sakit, bagimana perasaannya?Apakah tidak merasa bersalah dan merasa berdosa? Pertanyaan juga ditujukanterhadap siswa yang sudah memiliki jamban dan ditanyakan bagaimana perasaan BAB
  11. 11. di jamban? Dan bagaimana bila disekitar rumah masih ada orang yang masih BABS?Kemudian ditanya kepada seluruh siswa apa BABS itu perilaku yang baik atau yangburuk? Guru akhirnya merumuskan hasil diskusi berupa kesimpulan bahwa BABS itutidak baik dan harus segera dirubah. Guru dapat memodifikasi pertanyaan dan dapat juga menghubungkan denganagama, misalnya perilaku bersih pada dasarnya adalah bagian dari iman, dengansunnah Nabi, cerita agama dan lain-lain.1.2. Testimoni Di depan Kelas Kegiatan dilakukan dengan cara siswa bercerita didepan kelas denganpenekanan topik apa yang dilakukan dipagi hari sebelum berangkat ke sekolah danBAB dimana. Testomini di tujukan beberapa siswa saja, khususnya terhadap siswayang belum punya jamban dan keluarganya masih BABS. Testimoni disettingsedemikian rupa sehingga ada kesempatan testimoni oleh siswa yang sudah punyajamban. Kegiatan ini dengan cara manajemen konflik, dalam arti konflik yang positif,yaitu membandingkan perilaku yang sudah benar (siswa yang sudah punya jamban)dengan perilaku yang belum benar (siswa yang belum punya jamban). Guru dapatmenanyakan terhadap siswa yang sudah punya jamban, yaitu bagaimana perasaansiswa bila sudah punya jamban. Jawaban siswa diharapkan dapat memicu siswa yangmasih belum punya jamban. Pertanyaan selanjutnya juga ditujukan terhadap siswayang belum punya jamban, apakah tidak ingin meniru siswa yang sudah punya jamban.Frekwensi testimoni bisa diatur oleh guru kelas, misal 1 minggu sekali, pada haritertentu, sebagai pembuka mata pelajaran tertentu. Setelah kegiatan testimoni, maka pada hari berikkutnya guru kelas dapatmelakukan pertanyaan terhadap siswa yang belum punya jamban. Pertanyaan dapatdilakukan sesering mungkin atau secara periodik.1.3. Sandiwara Tamu Penting Kegiatan dilakukan secara tim lintas sektor yang terdiri dari 3 orang antaralain: guru kelas, petugas kesehatan (misal petugas Puskesmas), petugas Diknas (misalUPT Diknas). Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan memanfaatkan rasa kasih sayangorang tua terhadap anak. Obyek sasaran yang sesungguhnya adalah siswa yang belumpunya jamban. Oleh karena itu guru kelas harus memiliki data pasti siapa saja siswayang belum punya jamban dan masih berperilaku BABS, sebagaimana penjelasandiatas. Skenario yang akan dilaksanakan adalah seakan-akan dikelas tersebutkedatangan 2 orang tamu penting (petugas kesehatan dan petugas diknas). Dijelaskan
  12. 12. kepada siswa bahwa tamu penting tersebut akan mengajak guru kelas untuk bersama-sama mengunjungi rumah siswa. Dikatakan bahwa siswa yang bernama…… (sebut namasiswa yang belum punya jamban. Jumlah siswa bisa lebih dari satu, misal 3 orangsiswa), siswa tersebut akan mendapat kehormatan akan dikunjungi oleh tim (gurukelas, petugas kesehatan, petugas diknas). Jelaskan bahwa tim akan berkunjungdengan misi utama mau melihat jamban siswa dan tim akan mau memanfaatkan(numpang buang hajat) jamban tersebut atau mau BAB di rumah siswa yang akandikunjungi. Jelaskan kapan tim akan berkunjung, misal bulan depan atau 2 bulankedepan (menyesuaikan). Sampaikan kepada siswa bersangkutan untuk memberitahukepada orang tuanya dan tujuan utama kunjungan tim. Harapan dari sandiwara iniadalah setelah dirumah si anak akan “merengek” terhadap orang tuanya untuk segeradibuatkan jamban karena akan ada tamu penting yang akan datang dan akan buang airbesar di rumah (padahal siswa tidak memiliki jamban). Hari selanjutnya guru kelasmenanyakan siswa apakah keluarga siswa sudah siap untuk menerima kunjungan tamu.Pertanyaan dapat dilakukan sesering mungkin atau secara periodik. Satu hal penting adalah konsekwensi janji tim, yaitu akan benar-benarmengunjungi rumah siswa apabila ternyata siswa tersebut ternyata benar-benartelah dibuatkan jamban oleh orang tuanya.1.4. Penugasan Siswa Dalam kegiatan ini siswa diberi tugas dengan topik pentingnya kesehatanlingkungan, dan penekanan kesehatan lingkungan lebih dittikberatkan pada pentingnyaBAB di jamban yang sehat. Penugasan bisa dalam bentuk tulisan singkat tentangpentingnya kebersihan lingkungan, dalam bentuk puisi, kliping, madding dan lain-lain.Hasil penugasan kemudian didiskusikan bersama dan didiskusikan bagaimanasebaiknya lingkungan dan perilaku yang sehat.1.5. Diskusi Hasil Pendataan Kegiatan ini memanfaatkan hasil pendataan terhadap siswa, sebagaimanacontoh form. Guru kelas akan menyampaikan hasil pendataan terhadap siswa danmenyampaikan pentingnya memiliki jamban yang sehat dan pentingnya perilaku BAB dijamban sehat, sambil mengingatkan siswa tentang hasil diskusi hasil pemicuansebelumnya. Guru dapat menceritakan betapa bahagianya apabila seluruh siswa dalamkelas tersebut sudah tidak ada yang BABS. Hasil pendataan dapat digunakan sebagai sarana untuk pemicuan, yaitu dengancara permainan kelompok. Masing-masing siswa dibagi ke dalam kelompok sesuai
  13. 13. dengan status kepemilikan jamban, sehingga terdapat kelompok : punya jambansendiri, sharing/numpang, tidak punya jamban dan BABS. Dari masing-masingkelompok guru akan menanyakan wakil dari masing-masing kelompok dan tujuan daripermainan ini adalah guru bisa menanyakan secara rutin terhadap kelompok yangbelum memiliki jamban dan kapan kira-kira orang tua murid membuat jambanwalaupun dalam bentuk sesederhana mungkin sesuai kemampuan keluarga siswa. Hasil pendataan siswa tersebut dapat dipakai sebagai bahan rapat dengankepala sekolah agar mendapat perhatian dan bisa didiskusikan dengan orang tuasiswa.1.6. Kompetisi, Reward and Punishmen Kegiatan ini membutuhkan biaya karena harus menyediakan reward, namundemikian reward tidak harus mahal. Reward bisa dalam bentuk barang yang murah,tetapi berguna untuk siswa, misal buku atau alat tulis lainnya. Reward bisa dalambentuk lain sesuai dengan kreatifitas masing-masing sekolah. Reward akan diberikanterhadap siswa yang sudah memiliki jamban yang tadinya tidak punya jamban danberperilaku BABS. Dan siswa yang sudah berubah tersebut dapat didramatisir untukdijadikan bahan kompetisi dan pemicu terhadap siswa lain yang masih belum punyajamban. Guru akan membuat kompitisi dengan memberikan reward terhadap siswayang paling cepat memiliki jamban dalam keluarganya. Punishment atau hukuman diberikan terhadap siswa yang keluarganya masihbelum berubah, walalupun sudah dipicu dengan berbagai cara. Punishmen yangdiberikan hendaknya yang bersifat mendidik dan tidak berbahaya, misal denganmemberikan tugas menulis tentang bahaya berak ditempat terbuka dan dampaknyaterhadap orang lain.2. Pemicuan di luar gedung Pemicuan di luar gedung adalah proses pemicuan di luar kelas, prinsip pemicuan pada dasarnya sama dengan pemicuan di dalam gedung yaitu memberikan kesadaran siswa untuk selanjutnya bisa mempengaruhi orang tua siswa. Yang membedakan adalah bentuk kegiatan pemicuan. Beberapa teknis yang bisa dilakukan antara lain :
  14. 14. 2.1. Pemetaan Teknis pemicuan model ini hampir sama dengan pemicuan di masyarakat.Proses penggambaran peta dilakukan di halaman sekolah dengan menggunakan bahanyang mudah didapat, misal dengan kapur tulis, bubuk kapur, tepung, ranting pohon(untuk menggambar peta bila halaman sekolah hanya berupa tanah). Mekanismepemicuan adalah sebagai berikut : siswa berdiri dalam posisi melingkar sedangkanfasilitator (guru kelas atau petugas kesehatan atau petugas lainnya) berada ditengah.Acara dimulai dengan dinamika kelompok atau pencairan suasana yang menyenangkanbagi seorang anak. Setelah suasana cair dan menyenangkan siswa disuruhmenggambar peta di halaman tentang posisi sekolah dan lingkungan sekitarnya. Petajuga menggambarkan tempat-tempat dimana masyarakat sekitar masih BAB disembarang tempat. Disini informasi dari siswa sangat diperlukan. Setelah peta sudahtergambar proses pemicuan dimulai dengan cara menanyakan terhadap siswabagaimana keadaan sekolah ini bila disekitar sekolah masih banyak masyarakat yangmasih berperilaku BAB disembarang tempat. Setiap pendapat siswa memilikikesempatan yang sama, sesuai pendapat diperhatikan dan diskusikan bersama. Darihasil pemetaan ini nantinya siswa dapat melakukan kegiatan pendataan diluar gedungpada kesempatan yang lain.2.2. Pendataan masyarakat di sekitar sekolah Kegiatan ini pada dasarnya adalah kelanjutan kegiatan pemetaan, tetapidilakukan pada kesempatan yang lain. Dalam kegiatan ini siswa melakukan pendataanterhadap rumah disekitar sekolah. Setiap siswa melakukan pendataan antara 5 s/d 10rumah, tetapi sebagai tahap awal atau tahap pembelajaran, maka pendataan dapatdilakukan secara berkelompok agar siswa memiliki keberanian untuk berlatih terjundidalam masyarakat.
  15. 15. Bentuk form pendataan dapat menggunakan contoh sbb : Status kepemilikan Jenis jambanNo Nama KK Alamat KK jamban Punya Tidak Numpang Closet Cemplung Lain212345 dst….Selanjutnya hasil pendataan dapat digunakan sebagai bahan diskusi baik terhadapsiswa sendiri maupun terhadap orang tua siswa.
  16. 16. 2.3. Pendataan masyarakat di sekitar rumah siswa Kegiatan ini hampir sama dengan pendataan disekitar sekolah, tetapi kegiatan dilakukan disekitar rumah masing-masing siswa dengan cara pemberian tugas dari guru terhadap muridnya. Masing-masing siswa mendata antara 5 s/d 10 rumah (apabila siswa mampu melakukan pendataan melebih dari target yang ditetapkan, juga diperbolehkan). Akan lebih baik apabila penekanan pendataan terdapat rumah yang belum punya jamban dan pada kolom bawah diberi keterangan tambahan alasan tidak BAB di jamban. Bentuk form yang dipakai dapat menggunakan form pendataan di sekitar sekolah. Selanjutnya hasil pendataan dapat digunakan sebagai bahan diskusi baik terhadap siswa sendiri maupun terhadap orang tua siswa. Monitoring Higiene Bergambar (Kegiatan Higiene Sekolah Dasar) RUMAHKU DAN LINGKUNGAN SEKITAR (SD _________________ /Kelas ___ )Nama murid: .................................................. Tanggal: .........................................................Tempat tinggal: Desa/dusun ................................ / ............................... RT/RW .............. / ........... Rumah Saya Keterangan gambar: Tempat cuci tangan JambanHasil belajarku tentang lingkungan rumahku:1. Jumlah rumah yang punya jamban? ........ rumah2. Dibuang dimana tinja anak balita? ................................................................................................3. Jumlah rumah yang punya tempat cuci tangan? ......... rumah4. Jumlah rumah yang tempat cuci tangan-nya tersedia air & sabun untuk cuci tangan? ......... rumah5. Pada saat apa anggota rumah tangga mencuci tangan? ............................................................................................
  17. 17. 2.4. Kunjungan teman Kegiatan ini lebih mengutamakan ajang silaturohmi antar siswa, sekaligus memanfaatkan acara tersebut untuk memberikan pemicuan terselubung. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk penugasan beberapa kelompok siswa yang sudah punya jamban untuk berkunjung ke rumah seorang siswa yang belum punya jamban. Kunjungan dilakukan diluar jam pelajaran atau pada hari libur. Penekanan kunjungan tetap dalam rangka silaturohmi antar siswa, disela-sela pembicaraan dalam kunjungan tersebut nantinya sebagian siswa dapat berpura-pura mau buang air besar, apabila ditawarkan buang air besar tidak dijamban sebaiknya menolak dan berpura-pura tidak jadi buang air besar. Setelah itu kelompok siswa pengunjung dapat bertanya kepada keluarga siswa tersebut mengapa tidak bikin jamban, padahal jamban tidak harus mahal. Harapan dari kegiatan ini adalah keluaga siswa merasa tergerak untuk membangun jamban, walaupun dalam bentuk sederhana sekalipun. Hasil kunjungan kelompok dapat dilaporkan kepada guru kelas pada saat masuk sekolah pada hari berikutnya. Nantinya didalam kelas, guru kelas akan memberikan ucapan pujian terhadap siswa yang dikunjungi karena telah menerima kelompok temannya dengan baik dan ramah, tetapi akan lebih baik kalau siswa juga memiliki jamban sehingga kalau ada teman yang sedang berkunjung tidak repot untuk melayani apabila ada yang buang air besar. Pemicuan di SMP atau yang sederajad : Untuk Pemicuan di SMP pada dasarnya dapat mengdopsi pemicuan di SD, namun dengan pengembangan yang lebih besar kearah kegiatan diluar gedung. Sasaran adalah siswa kelas 1 dan 2, sedangkan kelas 3 tidak dilibatkan karena sudah disibukkan dengan ujian nasional dan persiapan masuk ke jenjang lebih tinggi (SMA). Pemicuan di SMP bisa mengkombinasikan dengan kegiatan wawancara di masyarakat, siswa SMP dapat dijadikan agen perubahan atau fasilitator ringan. Siswa dapat diajari untuk melakukan kunjungan rumah. Ditingkat SMP kegiatan Pramuka juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pemicuan, khususnya kegiatan diluar gedung.V. TINDAK LANJUT PASCA PEMICUAN Setelah dilakukan berbagai bentuk pemicuan, maka kegiatan yang harus dilakukan selanjutnya adalah tindak lanjut pasca pemicuan. Hal ini dilakukan apabila
  18. 18. masih ada keluarga siswa yang masih berperilaku BABS. Beberapa tindak lanjut yangbisa dilakukan antara lain :1. Pembahasan dengan Komite Sekolah Tujuan dari pembahasan ini antara lain : membahas hasil pemetaan yang telah dilakukan siswa apakah lingkungan sekolah mereka telah terbebas dari bahaya penularan penyakit yang disebabkan oleh tinja, bagaimana solusi yang tepat, membahas jamban yang murah tetapi cukup aman. Diharapkan dari pembahasan tersebut komite memberikan pengaruh kuat (memicu) para warga di sekitar sekolah maupun orang tua yang belum punya jamban untuk dapat merubah perilakunya.2. Pendekatan Supplay Sebagaimana diketahui bahwa didalam STBM terdapat 3 komponen strategi, yaitu : penciptaan demand, penguatan dan mendekatkan supplay dan menciptakan lingkungan yang mendukung (enabling environment). Yang dimaksud dengan supplay disini adalah semua pihak (tukang, penjual bahan bangunan, wirausaha) yang bergerak dibidang pembuatan sarana sanitasi dasar (jamban). Wirausaha disini bisa berasal dari siapa saja yang mampu atau sanggup membangun jamban dengan biaya yang murah. Oleh karena itu apabila ada keluarga siswa yang terpicu (artinya sudah ada demand atau kebutuhan), maka langkah selanjutnya adalah harus dilakukan upaya untuk mendekatkan supplay terhadap masyarakat yang sudah merasa butuh jamban (sebagai demand) dan pihak sekolah dapat mendukung dengan cara memberikan informasi tentang opsi model jamban yang murah tetapi sehat dengan cara berkoordinasi dengan sektor kesehatan setempat (Puskesmas atau Dinas Kesehatan). Pendekatan supplay ini dapat memanfaatkan wirausaha sanitasi yang sudah terbentuk, sehinga disini terdapat keuntungan timbal balik disemua pihak.3. Penciptaan lingkungan yang mendukung ( enabling environment ) Apabila hasil kegiatan pemicuan di sekolah sudah menampakkan tanda- tanda kearah positif, maka langkah kita adalah ikut membantu mencarikan solusi, misal dengan memberikan informasi tentang jamban murah tapi sehat, dengan cara berkoordinasi dengan koordinasi antara sektor pendidikan (dalam hal ini sekolah) dengan sektor kesehatan (dalam hal ini Puskesmas atau Dinas Kesehatan), Koordinasi tersebut dalam rangka mencarikan solusi realisasi
  19. 19. pembuatan jamban dengan harga murah tapi sehat, dimana salah satu opsi adalah dengan melibatkan wirausaha sanitasi. Semua kegiatan tindak lanjut tersebut akan mencapai hasil yang lebih maksimal apabila kita juga turut menciptakan lingkungan yang mendukung, misal : dengan melakukan kootrdinasi dan advokasi terhadap stakeholder (institusi, tokoh formal dan non formal, organisasi kemsyarakatan dll) agar kegiatan tersebut mendapat dukungan, minimal dukungan politis ataupun dukungan kebijakan, turut aktif melakukan pembinaan dan sosialisasi pemicuan di sekolah, ikut terlibat aktif melakukan monev dan lain-lainVI. MONITORING DAN EVALUASI ( MONEV ) Kegiatan monev perlu dilakukan sebagai bagian dari proses suatu kegiatan guna melihat kemajuan. Untuk monev kegiatan pemicuan di SD, monev lebih diditikberatkan pada sampai seberapa besar orang tua siswa yang terpicu yang dibuktikan dengan pembuatan jamban rumah tangga oleh orang tua siswa, khususnya terhadap keluarga siswa yang sebelumnya berperilaku BABS. Oleh karena itu beberapa pelaksanaan kegiatan pemicuan pada dasarnya juga merupakan upaya monev, seperti misalnya kegiatan pemicuan didalam dalam bentuk testimoni di depan kelas sebagaimana dijelaskan diatas secara tidak langsung juga merupakan bagian monev terhadap keluarga siswa karena bisa menggambarkan seberapa jauh perubahan yang ada pada keluarga siswa.VII. PENUTUP Pemicuan di Sekolah Dasar ini perlu dilakukan karena merupakan kegiatan yang bersifat partisipatif sehingga sekaligus dapat melatih seorang anak didik untuk berjiwa lebih mandiri, lebih berani tampil, punya jiwa sosialisasi, adaptif dan masih banyak keuntungan-keuntungan lain yang didapat. Pemicuan ini juga menguntungkan sekolah bersangkutan karena output atau lulusan siswa memiliki nilai lebih bila dibanding hanya output akademik saja. Dan yang lebih penting adalah turut berperan serta dalam membantu menurunkan angka kesakitan dan kematian yang merupakan indikator derajad kesehatan dengan visi kesejahteraan masyarakat secara umum.

×