Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Suriah Aleppo

225 views

Published on

kumpulan artikel terkait kondisi politik Suriah berdasarkan pandangan pelaku politik di lapangan, dari sudut pandang politik internasional yang sesuai dengan syariah islam.

Published in: News & Politics
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Suriah Aleppo

  1. 1. Inilah Bocoran Timeline Penyelesaian Suriah ala Amerika 07 Jan 2016 in Berita Luar Negeri Leave a comment AS Merencanakan Al Assad Akan Berkuasa Hingga Maret 2017 peta jalan konflik suriah Skenario terbaik pemerintahan Obama untuk transisi politik di Suriah bukanlah meramalkan Bashar Al Assad akan mengundurkan diri sebagai pemimpin negara itu sebelum Maret 2017, lebih lama dari masa jabatan Presiden Barack Obama setidaknya dua bulan, menurut sebuah dokumen yang diperoleh The Associated Press. Timeline dalam negeri yang disiapkan untuk para pejabat AS dalam menghadapi krisis Suriah menetapkan tanggal yang tidak ditentukan pada bulan Maret 2017 bagi Assad untuk “melepaskan” posisinya sebagai presiden dan bagi “orang-orang pada lingkaran dalam” untuk hengkang. Suriah, sesuai dengan strategi itu, akan mengadakan pemilihan presiden dan parlemen baru pada bulan Agustus 2017 – sekitar 19 bulan dari sekarang. Untuk sementara, Suriah akan diperintah oleh badan transisi. Tidak sedikit yang merasakan keretakan yang tumbuh antara Arab Saudi dan Iran, yang mendukung sisi yang berlawanan dalam konflik Suriah dan telah dilobi dengan keras agar setuju untuk bertemu di Wina untuk meniti masa depan bagi negara yang dilanda perang itu. Para pendukung utama Assad, yakni Rusia dan Iran, telah menolak semua upaya oleh kekuatan luar untuk menentukan kepemimpinan Suriah di masa depan, dan bersikeras bahwa keputusan ada di tangan rakyat Suriah. Namun, prioritas utama sekarang adalah membasmi Daesh dari markasnya di Suriah utara. Mengeluarkan Assad dari Suriah juga bisa membuat Iran kehilangan pijakan di jantung dunia Arab dan secara dramatis mengubah tingkat keamanan bagi negara-negara tetangga seperti Israel, Lebanon dan Turki. Dokumen yang diperoleh oleh AP menyebutkan proses politik baru Suriah dimulai bulan depan. Utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, telah menetapkan tanggal 25 Januari untuk memulai pembicaraan bagi perdamaian antara pemerintah dan oposisi di Jenewa.
  2. 2. Ini termasuk reformasi politik besar, pencalonan legislatif sementara dan konferensi donor internasional untuk membiayai masa transisi dan rekonstruksi Suriah. Namun, kemudian proses akan mengarah kepada apa yang disebut Washington sebagai akar penyebab seluruh konflik dan ancaman ekstrimis yang tumbuh di Timur Tengah dan di luar: akhir pemerintahan Assad di Suriah. Pada bulan Maret 2017, timeline itu berbunyi: “Asad melepaskan jabatan presiden dan orang dalam lingkarannya harus hengkang.” Dokumen itu menggunakan ejaan nama yang disukai oleh pemerintah AS, Al Assad. Pemerintah baru Suriah akan mengambil kekuasaan penuh dari badan transisi setelah pemilihan parlemen dan presiden pada bulan Agustus.(rz) http://gulfnews.com/news/mena/syria/us-sees-al-assad-staying-i Jalan Buntu Amerika, Rusia, dan Iran di Suriah! Pertanyaan: Kepala staf militer Rusia, jenderal Valery Gerasimov, mengatakan, “Kesabaran Rusia selama apa yang terjadi di Suriah telah habis dan bukan kesabaran Amerika Serikat” (Aljazeera, 21/6/2016). Hal itu mengisyaratkan kepada pernyataan Kerry bahwa kesabaran Amerika telah habis. Kerry mengatakan, “Rusia harus paham bahwa kesabaran Washington “sangat terbatas” terhadap tingkat komitmen penghentian tembak menembak” (Aljazeera.net, 15/6/2016). Menlu Rusia Lafrov telah menjawab pernyataan Kerry dalam keikutsertaannya pada forum Petersburg Internasional pada Kamis 12 Juni 2016. Lafrov mengatakan, “Saya telah membaca penjelasan yang dikeluarkan kementerian luar negeri Amerika seputar pernyataan Kerry. Mereka harus memiliki kesabaran yang lebih besar” (Russia today, 12/6/2016). Ini dari satu sisi. Dari sisi yang lain, sebelum itu dan dengan permintaan dari Iran, menteri pertahanan Rusia, Suriah, dan Iran bertemu di Teheran Kamis 9/6/2016 untuk mengkoordinasikan aksi militer di Suriah… Pertanyaannya, apakah ini berarti bahwa ada jalan buntu Amerika, Rusia, dan Iran terkait rencana-rencana Amerika sebelumnya untuk solusi (negosiasi, Jenewa, delegasi Riyadh). Jika demikian, apakah intervensi militer darat menjadi pilihan dan telah dekat dilakukan? Semoga Allah memberi balasan yang lebih baik kepada Anda. Jawab: Adapun bahwa di sana ada jalan buntu Amerika, Rusia, dan Iran di Suriah maka itu benar. Juga benar bahwa pada tingkat pertama itu adalah jalan buntu Amerika, sebab Rusia dan Iran adalah faktor yang membantu untuk politik Amerika di Suriah… Adapun jika itu berarti bahwa intervensi darat sudah di ambang pintu maka ini harus dilihat lagi bergantung pada arah orientasi jalannya berbagai kejadian… Untuk memahami hakikat apa yang terjadi maka harus diisyaratkan kepada point-point berikut: 1. Putaran terakhir negosiasi di Jenewa tanggal 22/4/2016 berhenti dengan penarikan diri oposisi dari negosiasi itu disebabkan tidak adanya keseriusan negosiasi menurut pandangan oposisi. Kemudian negosiator senior Muhammad ‘Alusy mengundurkan diri pada 30/5/2016 (al-gharbiyah.net). De Mistura tidak jadi mengumumkan
  3. 3. dimulainya putaran baru dari negosiasi. Sebelumnya “Steffan De Mistura utusan PBB untuk Suriah mengatakan bahwa pengumuman tanggal dimulainya putaran baru pembicaraan Suriah berikutnya akan dilakukan pada Kamis 26 Mei 2016” setelah dia berdiskusi dengan DK PBB. Hal itu meski aksi-aksi kekerasan lapangan masih terus berlanjut” (situs al-wasath, 26/5/2016). Setelah itu, pada 9/6/2016, “Steffan De Mistura utusan PBB ke Suriah, pada Kamis kembali mengatakan bahwa organisasi internasional tidak akan menggelar putaran baru dari pembicaraan damai Suriah di Jenewa sampai para pejabat dari masing-masing pihak sepakat atas kriteria kesepakatan peralihan politis yang mengakhiri tenggat yang dicapai pada 1 Agustus. De Mistura mengatakan kepada wartawan “sama sekali belum tiba waktunya untuk putaran ketiga secara resmi dari pembicaraan Suriah” (Baladi-news, 9/6/2016). 2. Tidak biasanya, Amerika mengumumkan dimulainya pemboman di dalam Suriah bertolak dari laut Mediterania. Ini adalah kali pertama Amerika melakukan pemboman semisal ini di kawasan dengan bertolak dari Mediterania sejak invasi Irak tahun 2003. Russia today mengutip pada 9/6/2016 dari surat kabar Amerika Wallstreet Journalyang menyatakan bahwa kapal pengangkut pesawat Amerika, Hary Truman, melakukan manuver tiba-tiba pada minggu lalu dan berlayar dari teluk ke laut Mediterania. Surat kabar tersebut menyatakan bahwa tujuan dari manuver ini adalah unjuk kekuatan di depan militer Rusia…” 3. Lima belas orang diplomat dan pejabat di kementerian luar negeri Amerika menandatangani dokumen yang diserahkan kepada presiden Obama. Dokumen itu menyerukan operasi militer di Suriah. Surat kabar Wallstreet Journal Amerika dalam edisinya Kamis 16 Juni menyatakan bahwa “15 orang pegawai kementerian luar negeri Amerika menandatangani surat yang menyeru Obama untuk melakukan operasi militer di Suriah…” (Russia today, 17/6/2016). 4. Dan terakhir kunjungan putera raja Saudi Muhammad bin Salman dan pertemuannya dengan presiden Obama pada 17/6/2016 di Gedung Putih. Dan itu adalah langkah yang langka untuk selain kepala negara. Demikian juga kunjungan menteri luar negeri Saudi, al-Jubair ke Amerika dan membahas krisis Suriah secara khusus dengan para pejabat Amerika… 5. Dengan menelaah sejumlah kunjungan, pertemuan dan pernyatan itu maka jelaslah hal-hal berikut: 1. Amerika merasakan kegagalan besar di Suriah. Negosiasi telah kehilangan momentumnya. Beberapa pemimpin negosiasi telah jatuh. Amerika belum menemukan pengganti untuk Asad. Sementara revolusi di Suriah tidak kehilangan vitalitasnya dan terus menekan menentang para negosiator. Dengan menelaah kembali apa yang telah dicapai Amerika berupa kemajuan di medan Suriah, menjadi jelas bahwa yang dipentingkan oleh Amerika adalah keterlibatan kelompok-kelompok bersenjata di dalam aktivitas politik (delegasi Riyadh dan Jenewa). Pengumuman penghentian aksi-aksi serangan pada 27/2/2016 adalah harapan besar Amerika melemparkan revolusi di dalam tungku dan koridor aktivitas politik untuk merekayasa pengganti Asad, tanpa tekanan lapangan revolusi. Seiring dengan meningkatnya suara-suara yang menyolok di dalam gerakan-gerakan bersenjata yang ikut serta di dalam delegasi Riyadh, suara-suara ini menentang proses politik. Hal itu menjadi tekanan terhadap gerakan-gerakan bersenjata dan faksi-faksi lainnya, disamping kebencian masyarakat terhadap langkah sebagian gerakan dalam proses politik yang hal itu membentuk opini umum menekan… Semua ini mengadakan aktivitas bersenjata masif menentang rezim, baik jujur atau temporer untuk kembali menarik kepercayaan masyarakat.
  4. 4. Hal itu mengakibatkan direbutnya kembali daerah-daerah strategis selatan Aleppo dalam banyak tahapan (pertempuran al-‘Ais, lalu Khan Tauman dan setelahnya). Semua ini telah membelah deklarasi Amerika Rusia atas penghentian aksi-aksi serangan. Jadi tidak ada lagi kelayakan bagi kelanjutan negosiasi Jenewa di bawah kondisi meletusnya situasi medan yang menjadi senapan yang hampir membunuh proses politik… Begitulah, Amerika berada di dalam kebuntuan. 2. Pertempuran selatan Aleppo dari aspek medan pertempuran mencerminkan kekalahan besar bagi himpunan besar Iran dan kelompoknya. Maka Iran meminta tambahan kekuatan darat di Suriah. Seiring dengan berbagai kerugian (kekalahan) dan minimnya kemenangan, hal itu ditambah lagi beberapa hambatan dalam meringankan larangan ekonomi terhadap Iran setelah penandatanganan perjanjian Nuklir Iran di Jenewa yang menyebabkan berkurangnya alokasi keuangan untuk operasi militer Iran di Suriah. Begitulah, Iran telah benar-benar tersedot dalam bantuan-bantuan militer untuk Asad. Karena itu, Iran dengan perintah dari Amerika meminta dukungan dari Rusia dan terjadilah pertemuan para menteri pertahanan di Teheran … Artinya, Iran juga berada dalam kebuntuan. 3. Adapun Rusia, sejumlah faktor-faktor telah terjadi, membuat Rusia tidak mampu atau kehilangan kehendak dalam memenuhi permintaan Amerika. Maka Amerika menginginkan dari Rusia tambahan operasi-operasi militer untuk menghentikan orang-orang revolusioner di perbatasan kontrol mereka saat ini, artinya memotong harapan kemajuan lapangan. Dan itulah yang dilakukan oleh Rusia sejak intervensinya di Suriah pada 30/9/2015 sampai belum lama ini. Menlu AS, Kerry bergembira pada 11/2/2016 di KTT donor untuk Suriah di London bahwa Rusia akan mencabut gerakan-gerakan bersenjata di Suriah dalam tiga bulan”. Tujuan ini yang jadi ambisi Amerika untuk disukseskan dengan intervensi Rusia. Adapun faktor-faktor yang muncul dan membuat intervensi Rusia tidak tuntas adalah sebagai berikut: – Di samping sangat kerasnya permusuhan Rusia terhadap Islam dan ketakutan besarnya dari kondisi keislaman revolusi Suriah, Rusia memandang bahwa di dalam intervensinya di Suriah ada kesempatan untuk mengekspos keagungan Suriah yang telah hilang sejak runtuhnya Uni Soviet. Itu adalah kesempatan mengekspos kekuatan udara, satelit dan rudal kaliber dan kemampuannya membom Suriah dari laut Kaspia dan laut Mediterania. Amerika memprediksi bahwa serangan-serangan brutal ini akan merealisasi tujuan Amerika dan memaksa penduduk Suriah untuk bernegosiasi dengan rezim dengan berbagai syarat Amerika. Akan tetapi hal itu gagal. – Rusia juga ingin memutus isolasi internasional dan sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia setelah mengabungkan semenanjung Krimea dan memicu Ukraina timur. Dan ini sama sekali belum terjadi. Sebaliknya kutukan negara-negara justru makin meningkat terhadap Rusia. Gap pun makin melebar antara Rusia dengan Uni Eropa yang tidak meredakan berbagai tuduhan terhadap Rusia, bahkan juga tidak meredakan sindiran Mahkamah Kriminal Internasional. Inggris adalah negara Eropa yang paling mengutuk Rusia. Kemudian Jerman yang memasukkan Rusia sebagai “antagonis” yakni musuh di dalam buku putihnya. Kanselir Jerman Angela Merkel dalam pertemuan KTT G-7 di Jepang pada 26/5/2016 menolak untuk sekedar dibahas peringanan sanksi dari Rusia. – Rusia merupakan negara yang lemah secara ekonomi dan tidak memungkinkan Rusia terus membiayai perang jauh dari perbatasannya, khususnya Rusia jatuh di bawah sanksi-sanksi barat. Harga minyak yang terus menurun memperparah Rusia.
  5. 5. Pendarahan belanjanya di Suriah tidak mungkin ditanggung Rusia untuk jangka panjang. Termasuk dalam biaya Rusia adalah komitmen finansial yang diberikan kepada orang-orang yang berperang di Suriah, jumlah mereka mencapai 25 ribu personel menurut statistik kementerian pertahanan Rusia: “sebanyak 25 ribu tentara dan sipil Rusia ikut serta sejak September 2015 dalam perang yang berkecamuk di Suriah, menurut apa yang dijelaskan oleh UU yang disetujui oleh para legislator Rusia Selasa tentang keputusan penempatan “tentara lama” untuk perang ini (Sky news arabic, 21/6/2016). – Rusia sangat khawatir dengan masa depan kesepakatannya dengan Amerika tentang Suriah ketika pemerintahan Amerika berganti setelah pemilu presiden November 2016. Karena itu Rusia berharap mengakhiri misi perangnya di Suriah sebelum Obama lengser atau intervensinya terjadi dengan kesepakatan terbuka dengan Amerika. Karena itu, Rusia secara terus menerus meminta agar koordinasi Rusia dengan Amerika di Suriah dikeluarkan secara terbuka, satu perkara yang Amerika memalingkan muka darinya… Rusia meminta serangan bersama Amerika-Rusia terhadap kelompok- kelompok yang melanggar “penghentian aksi-aksi serangan” dan Amerika menolak… – Yang aneh adalah pemahaman yang buruk dari Rusia bahwa Rusia menganggap dirinya sebagai partner untuk Amerika minimal dalam masalah Suriah. Rusia ingin menerjemahkan berbagai pertemuan Lafrov –Kerry yakni keputusan-keputusan tentang krisis Suriah, diterjemahkan ke koalisi militer terbuka di Suriah. Rusia tidak paham bahwa duet Lafrov-Kerry dikeluarkan oleh Amerika untuk menghalangi negara- negara Eropa melakukan intervensi dalam krisis Suriah. Rusia tidak paham hanyalah bidak catur, meski besar, di meja kerja Amerika. Demi mempertahankan pengaruh Amerika di Suriah dan menghadapi munculnya Islam di dalam revolusi Suriah, Amerika mempergunakan Iran dan kelompoknya kadang-kadang, dan lain kali mempergunakan Rusia. Akan tetapi Rusia yang didorong oleh ilusi kebesaran menduga bahwa Rusia adalah partner Amerika di Suriah. Ini yang menjelaskan pernyataan Kerry bahwa kesabaran Amerika sangat terbatas terkait Rusia di Suriah. Artinya Kerry meminta Rusia maju dengan cepat untuk menyelamatkan kekuatan Asad yang sedang limbung khususya selatan Aleppo. Ini yang juga menjelaskan keheranan Lafrov terhadap pernyataan Kerry dan seruannya kepada Amerika untuk memiliki kesabaran. Amerika memandang Rusia sebagai bidak catur di tangan Amerika. Sedangkan Rusia memandang intervensinya di Suriah sebagai model kerjasama internasional dengan Amerika!… Karena semua faktor ini, Rusia juga berada di dalam kebuntuan. 6. Begitulah, Amerika berada dalam kebuntuan, Rusia ada dalam kebuntuan dan Iran ada dalam kebuntuan. Dan seperti yang kami katakan barusan, itu pada tingkat pertama merupakan kebuntuan Amerika. Karena itu, situasi ini menjadi masalah besar bagi Amerika di bawah pendarahan besar kekuatan Asad, Iran dan kelompoknya. Yang tampak bahwa Amerika memandang Iran telah terkuras secara tidak sederhana di Suriah dan bahwa intervensi Iran secara militer, meski bisa memperpanjang umur rezim di Damaskus, namun tidak beperan dalam solusi di Suriah. Juga di bawah kegagalan Rusia dalam menuntaskan posisi di Suriah dengan memaksa warga Suriah tunduk di depan rezim diktator meskipun Rusia telah melakukan pemboman secara brutal dan menggunakan rudal yang membakar. Di bawah kegagalan ini, maka pilihan Amerika di Suriah sungguh menjadi sangat sempit, khususnya Amerika berada dalam masa pemilu dan kedua partai baik Republik maupun Demokrat menggunakan masa ini dalam menampakkan keburukan satu sama lain. Ini tambahan bagi apa yang telah disebutkan di atas.Para diplomat yang berpandangan Amerika harus melakukan itervensi sendiri…. Dan karena itu Amerika menampakkan diri konsern membahas
  6. 6. intervensi… dan mengirimkan pengangkut pesawat Hary Truman dari Teluk ke laut Mediterania… dan melakukan pemboman dari laut Mediterania ke wilayah Suriah… Dan menteri pertahanan Saudi Muhammad bin Salman diundang dan bertemu dengan presiden Obama di kantor Gedung Putih yang merupakan perkara langka untuk selain kepala negara, guna menampakkan kepada para pengamat bahwa tujuannya adalah bersifat militer secara istimewa! 7. Meski demikian, politik pemerintahan Amerika saat ini seperti yang ditunjukkan oleh pernyataan-pernyataan para pejabatnya adalah menjadikan intervensi secara militer pertama-tama menggunakan tangan-tangan para pengikut, kelompok dan antek- antek… Juru bicara luar negeri Amerika Jhon Kirby menyatakan bahwa Amerika tidak mengubah politiknya terkait Suriah. Kirby mengatakan, sebagai komentar atas kemungkinan perubahan politik Washington seputar Suriah: “kami terus yakin bahwa penyelesaian politik di Suriah adalah solusi yang lebih baik”. Kirby juga menegaskan bahwa pemerintahan presiden Amerika saat ini, Barack Obama, akan terus fokus pada mengadakan solusi damai untuk krisis Suriah sampai berakhirnya masa pemerintahannya (Russia today, 17/6/2016)…. Dan berkaitan dengan memo para diplomat maka yang lebih rajih akan diselesaikan secara politik dan bukan secara militer. Aljazeera.net pada 18/6/2016 mengutip dari surat kabar Washington Times, “bahwa Gedung Putih bekerja keras untuk menutupi dampak memo para diplomat. Washington Times menisbatkan ucapan kepada juru bicara Gedung Putih Jennifer Friedman bahwa pemerintahan Obama terbuka untuk mendengar beragam ide apapun tentang pembicaraan di Suriah, akan tetapi presiden Obama tidak berpandangan solusi secara militer untuk krisis Suriah. Washington Times menambahkan bahwa memo tersebut dinilai sebagai yang terbaru selama bertahun-tahun frustasi terkait politik Obama terhadap krisis Suriah di antara para diplomat Amerika saat ini dan sebelumnya serta banyak orang dari mereka yang bekerja di dalam pemerintahan Obama sendiri”. Ringkasnya: 1. Amerika berada dalam kebuntuan adalah benar… Adapun intervensi militer Amerika secara darat, maka yang lebih rajih hal itu ditunda sampai pada waktunya. Pemerintahan Amerika saat ini bekerja agar yang berperang darat adalah para pengikut, antek dan komplotannya, dan ini berlanjut sampai akhir masa Obama… kecuali jika muncul perkara baru di luar konteks. 2. Namun perkara yang menarik perhatian adalah meskipun tidak adanya pergolakan internasional di Suriah seperti yang ada di Libya dan Yaman, akan tetapi “yang bertarung” internasional hanya satu yaitu Amerika dan Amerika menggunakan Rusia, Iran, rezim, para pengikut dan komplotan dengan berbagai kejahatan brutal yang bermacam-macam… Meski demikian, Amerika dan pengikutnya telah gagal menundukkan warga Suriah hingga hari ini untuk melaksanakan rencana-rencana Amerika dan menyertakan rezim diktator di dalam pemerintahan padahal pihak yang bertarung dengan Amerika adalah warga Suriah dengan kemampuan fisik mereka yang sama sekali tidak sebanding dengan kemampuan negara-negara itu. Meski demikian, Syam tetap tegar terhadap ambisi negara-negara itu, para pengikut dan komplotannya! Sebab semua itu adalah Islam yang agung yang menggerakkan warga Syam dalam melawan kekufuran dan para pemeluknya dan kezaliman dan para pendukugnya… Islam yang agung yang memenuhi hati orang-orang jujur dan mukhlis … sampai meskipun bergerak di dalam hati masyarakat secara emosional tanpa disertai pemikiran yang sepadan … dan hingga meskipun bergerak di hati
  7. 7. pihak lain untuk tujuan yang tidak lurus… Akan tetapi emosi islami adalah celupan yang dominan di dalam suasana dan ide-ide Islam diteriakkan dengan keras oleh banyak orang … Inilah yang menggagalkan Amerika hingga hari ini: sorotan cahaya Islam di Syam padahal pancaran cahaya Islam itu sama sekali belum ada di dalam negara yang menghimpun umat, lalu bagaimana seandainya sudah begitu? Di atas semuanya, untuk perkara ini adalah apa yang sesudahnya ﴿ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬َ‫س‬َ‫و‬َُُ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ُ‫وا‬‫م‬َ‫ل‬َ‫ظ‬َُُّ‫َي‬‫أ‬ُُ‫ب‬َ‫ل‬َ‫ق‬ْ‫ن‬‫م‬َُُ‫ن‬‫و‬‫ب‬ِ‫ل‬َ‫ق‬ْ‫ن‬َ‫ي‬﴾ “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (TQS asy-Syu’ara’ [26]: 227) 22 Ramadhan 1437 H 27 Juni 2016 M http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political- questions/38117.html#sthash.b21g6Sp0.dpuf Hakikat Apa Yang Terjadi Seputar Aleppo dan Suria Sekarang? 16 Dec 2016 in Headline, Soal Jawab, Soal Jawab Amir HT Leave a comment ‫سم‬ ‫ب‬ ‫هللا‬ ‫رحمن‬ ‫ال‬ ‫يم‬ ‫رح‬ ‫ال‬ Jawab Soal Pertanyaan: Turki mengintensifkan kontaknya dengan Russia seputar medan Suria dengan tujuan untuk membuka kembali negosiasi rekonsiliasi model Amerika. BBC pada 3/12/2016 menyebutkan, “Mevlud Çavuşoğlu menyebutkan bahwa Turki bertukar pendapat dengan Russia… untuk mencapai solusi bagi krisis Suria. Presiden Turki Racep Tayyip Erdogan berdiskusi melalui telepon tentang masalah Suria dengan sejawatnya presiden Russia Vladimir Putin, minimal sebanyak tiga kali dalam satu minggu lalu. Sementara Çavuşoğlu bertemu dengan menteri luar negeri Russia Sergei Lavrov di Turki pada Kamis untuk membahas masalah yang sama”. Meski dengan semua itu. Russia tetap mengintensifkan serangan brutalnya terhadap Aleppo sampai-samai Russia menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB pada 5 Desember 2016 terhadap draft resolusi yang menyatakan penghentian aksi-aksi militer beberapa hari di Aleppo. Lalu apa yang mendorong Turki, meski dengan kebrutalan Russia itu, untuk melakukan pembicaraan dengan Russia? Jawab: Supaya jawabannya jelas kami paparkan perkara-perkara berikut: Pertama, sejak lebih dari dua bulan lalu, Amerika menampakkan seolah-olah memperburuk sikapnya dengan Russia. Hal itu dalam konteks ketika terjadi kritik keras dari Eropa yang diarahkan ke Russia akibat kerasnya kebrutalan serangan udara Russia terhadap Aleppo. Demikian juga kerasnya penolakan di dalam negeri Suria untuk peran Amerika, dimana penolakan itu mencapai puncaknya dengan terjadinya penolakan oleh faksi-faksi kombatan yang bergabung dalam operasi Turki “Perisai Eufrat” terhadap eksistensi pasukan khusus Amerika di tengah mereka. Kemudian Amerika paham
  8. 8. bahwa operasi militer yang lebih keras untuk menundukkan warga Suria dan orang- orang revolusioneris merupakan pra syarat mutlak yang wajib mendahului kembalinya negosiasi yang bisa menyediakan untuk Amerika sebagian elemen keberhasilan. Sejak saat itu, Amerika mulai mengumpulkan tipudayanya pada beberapa arah: 1- Amerika mendorong Russia untuk mempercepat pengiriman satuan militer yang lebih mematikan. Terlihat telah tiba kapal induk pengangkut pesawat Russia satu- satunya Kuznetsov ke pantai Suria pada 1/11/2016 bersama armada perangnya khususnya kapal penjelajah pengangkut rudal, dan langsung memulai operasi pengintaian di atas target-target Suria terutama di atas Aleppo. Ini tambahan terhadap pesawat-pesawat tempur dan peralatan tempur milik Russia di Suria khususnya di lapangan udara Humaimim. 2. Amerika mendatangkan pasukan tambahan Iran dan kelompoknya, khususnya ke wilayah Aleppo. 3. Amerika mendinginkan sebagian besar front lainnya di Suria melalui Saudi, Turki dan lainnya. Pengaruh negara-negara ini terjadi melalui dolar yang diberikan ke faksi-faksi yang berperang. Hal itu makin membesar dalam bentuk membunyikan alarm hancurnya gencatan senjata dan perdamaian. Terlihat bus sarat dengan orang- orang revolusioneris dan keluarga mereka ke Idlib. Semua itu untuk membuka ruang bagi rezim guna mengirimkan dukungan ke Aleppo dari front-front yang mendingin itu. Hal itu masih ditambah lagi dengan upaya negara-negara itu memicu fitnah di dalam Aleppo sendiri. Fitnah-fitnah itu yaitu bentrokan-bentrokan diantara orang- orang revolusioneris yang dikepung. Dan segala puji hanya bagi Allah, fitnah itu telah berhasil dikendalikan… 4. Semua yang disebutkan sebelumnya masih ditambah dengan terus berlanjutnya kampanye Erdogan “Perisai Eufrat” dan upayanya menarik lebih banyak faksi-faksi kombatan yang berafiliasi kepada Turki ke pertempuran al-Bab setelah Jarablus. Semua itu untuk melemahkan front sebenarnya di Aleppo, yang mensuport dalam pembukaan blokade yang mencekik atas kota Aleppo dan daerahnya… (Laporan- laporan lapangan menyebutkan bahwa oposisi bersejata Suria kehilangan sepertiga wilayah yang dikuasainya di timur Aleppo. Hal itu disebabkan penarikan sejumlah besar kombatan oposisi dari front-front pertempuran di Aleppo untuk mendukung pasukan Turki dalam pertempurannya melawan ISIS dan kelompok-kelompok Kurdi dalam operasi “Perisai Eufrat”. Direktur observeratori Suria untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for human rights) Rami Abdurrahman dalam pernyataannya kepada Sky News arabic pada Senin menyatakan bahwa perintah- perintah Turki sampai ke para kombatan yang berafiliasi dalam pasukan Free Syirian Army untuk bergabung ke pasukan yang memerangi ISIS dalam operasi “Perisai Eufrat” yang diluncurkan oleh Ankara sebulan lalu melawan ISIS dan kelompok Kurdi yang ditakutkan oleh Ankara bisa meluaskan kontrol terhadap daerah-daerah perbatasan. Abdurrahman menjelaskan bahwa intervensi Turki adalah kata rahasia dan sebab penting kekalahan oposisi, akibat penggunaan faksi-faksi yang berafiliasi kepada Turki di Free Syrian Army dalam pertempuran Turki sendiri. Hal itu menyebabkan kosongnya front-front dari tentara oposisi yang diasumsikan dihadapi oleh pasukan Suria dan sekutu-sekutunya” (Sky News arabic, 28/11/2016). Kedua, begitulah terjadi tekanan riil dan besar terhadap orang-orang revolusionaris Aleppo dengan lepasnya banyak distrik yang sebelumnya telah berhasil mereka bebaskan. Orang-orang revolusionaris itu pun dikepung di area yang lebih sempit dan terus terjadi pemboman sengit dan ancaman direbutnya distrik-distrik lainnya. Di sini
  9. 9. meski ada seruan-seruan internasional yang meminta penghentian tembak menembak, Amerika menemukan kesempatan yang mungkin sebagai kesempatan yang tepat untuk menghidupkan jalur politik untuk solusi di Suria, di bawah iklim baru yang menuntut percepatan dan tidak mungkin ditunda. Hal itu ditujukkan oleh fakta-fakta berikut: 1. Amerika paham bahwa pencabutan distrik-distrik penting sebelah timur Aleppo bukan akhir untuk revolusi Suria. Pembersihan orang-orang revolusionaris di berbagai daerah Suria merupakan mimpi yang mustahil dicapai. Amerika paham bahwa tahun-tahun revolusi yang panjang di Suria telah mengadakan iklim islami yang berbahaya. Oleh karena itu, Amerika bersegera untuk menghancurkan iklim ini. Politik dan lobi-lobi lebih efektif dalam menghancurkannya daripada alat-alat militer yang justru menambah bersinar iklim itu. Amerika yang telah putus asa bahwa pembunuhan dan penghancuran dan peningkatan keduanya, untuk bisa menundukkan rakyat di Suria. Oleh karena itu, Amerika sejak beberapa tahun telah menunggu kesempatan untuk solusi politik sesuai rencana-rencananya. 2. Pemerintahan Obama saat ini akan meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari 2017. Obama masih bermimpi bisa meninggalkan Gedung Putih dengan keberhasilan yang bisa dicatatkan untuk pemeritahannya. Karenanya, setelah masuknya Pasukan Suria ke distrik-distrik Aleppo, Russia menyebutkan bahwa menteri luar negeri Kerry berupaya histeris untuk mencapai kesepakatan di Aleppo. Russia Today pada 28/11/2016 telah menyebutkan, “Yuri Ushakov deputi presiden Russia, pada Senin 28 November 2016 mengatakan: “jika Anda bertanya tentang upaya Kerry maka itu sangat intensif”. Ia menyusuli dengan mengatakan, “kita bisa menyifati upaya ini bahwa itu luar biasa, mengingat intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kontak telepon diantara kedua menteri luar negeri Amerika dan Russia, di mana dalam kontak itu difokuskan pada satu masalah yaitu Suria”. 3. Amerika mewakilkan kepada Turki dan melatihnya untuk melakukan peran politik menonjol mewakili Amerika, sampai pada tingkat seolah-olah bilateral Kerry-Lavrov digantikan oleh bilateral Russia-Turki. Ini yang menjelaskan kontak-kontak intensif Turki pada jangka waktu belakangan untuk mencabut distrik-distrik timur Aleppo. Demikian juga peningkatan histeris dalam pertemuan-pertemuan para pejabat Turki dengan sejawat mereka para pejabat Russia dan kunjungan-kunjungan para pejabat Turki ke Lebanon dan Iran… Kunjungan-kunjungan dan pertemuan-pertemuan Turki yang diintensifkan dan menyolok itu adalah sebagai berikut: 4. “Hari Sabtu 26/11/2016 presiden Iran Hassan Rouhani di Teheran bersama menteri luar negeri Turki Mevlud Cavusoglu membahas krisis Suria, masalah-masalah regional lainnya ditambah masalah hubungan-hubungan bilateral kedua negara. Kantor berita republik Islam Iran, IRNA, memberitakan bahwa menteri luar negeri Turki melanjutkan diskusinya di Teheran dengan sejawatnya menteri luar negeri Iran Mohammed Jawad Zharif…” (Al-Jazeera.net, 26/11/2016). 5. Dari pihaknya, kantor berita Anadul mengatakan, “Cavusoglu, menteri luar negeri Turki, bersama Riyadh Hijab membahas pentingnya penghentian tembak menembak segera dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Aleppo, disamping upaya yang dikerahkan untuk mengadakan solusi politik bagi pertikaian di Suria” (Al-Jazeera.net, 30/11/2016). 6. Kunjungan Lavrov ke Turki pada 30/11/2016: “menteri luar negeri Russia, Sergei Lavrov, mengumumkan bahwa kesepakatan-kesepakatan Russia-Turki seputar Suria, pada tingkat militer, diplomatik dan politik, tinggal diimplementasikan…” (Russia today, 1/12/2016). Lavrov menambahkan, “Russia dan Turki akan melanjutkan
  10. 10. pembahasan-pembahasan untuk mencapai solusi bagi krisis Suria secepat mungkin…” (Al-Jazeera.net, 1/12/2016). 7. Presiden Turki Racep Tayyib Erdogan telah “mendiskusikan masalah Suria melalui telepon dengan sejawatnya presiden Russia Putin minimal sebanyak tiga kali dalam seminggu lalu…” (BBC, 2/12/2016). 8. “Menteri luar negeri Turki, Mevlud Cavusoglu mengatakan dalam konferensi pers di kota Alanya Turki, dengan ditemani sejawatnya menlu Russia Sergei Lavrov, “kami sepakat pentingnya menghentikan tembak menembak untuk mengakhiri malapetaka” (BBC arabic, 1/12/2016). Ia mengatakan, “Turki berdiskusi dengan Russia dan Iran, dua sekutu Assad, dan juga dengan Suria dan Lebanon untuk mencapai solusi bagi krisis Suria” (BBC, 2/12/2016). 9. Sputnik mengutip dari Samir Nashar anggota koalisi oposisi pada Kamis 1 Desember 2016 yang mengatakan, “terjadi pertemuan-pertemuan sejak tiga hari lalu dengan upaya Turki, dan itu sangat tertutup. Faksi-faksi yang bertemu adalah faksi-faksi yang Turki bisa melakukan suatu pengaruh atasnya, akan tetapi dari pertemuan- pertemuan itu tidak keluar hasil yang bisa dirasakan” (Russia today, 1/12/2016). Surat kabar the Financial Timespada Kamis 1 Desember 2016 menyebutkan bahwa sejumlah pemimpin oposisi Suria “melangsungkan pembahasan rahasia dengan para pejabat Russia melalui pengaturan oleh Turki untuk mengakhiri perang yang terus berlangsung di kota Aleppo. The Financial Times menambahkan bahwa “empat anggota dari oposisi yang ada di utara Suria memberitahunya bahwa Turki mengatur pembicaraan-pembicaraan dengan para pejabat Russia di ibukota Ankara” (BBC arabic, 1/12/2016). …”Gerakan “Ahrar asy-Syam al-Islamiyah” atas nama “front islami” memimpin negosiasi dengan para pejabat Russia untuk mencapai gencatan senjata di Aleppo. Hasilnya, mengharuskan pengeluaran para tentara dari “front Fatah Syam” melalui Al-Kastilo dan dibukanya jalan untuk mengungsikan orang- orang yang cacat dan sakit dari distrik-distrik timur di bawah supervisi tim di bawah PBB. Sumber-sumber al-Mudun menunjuk kepada perginya “Fatah Syam” untuk Aleppo akan terjadi melalui rencana Turki, dimana Ankara akan menangani masalah pemberian bantuan-bantuan ke distrik-distrik yang diblokade belakangan” (Al- Mudun, 3/12/2016). 10. Adapun kerelaan Amerika terhadap pergerakan Turki itu, maka hal itu tampak dalam sambutan kementerian luar negeri Amerika terhadap negosiasi itu… “… Dan dalam briefing media, Mark Toner, juru bicara kementerian luar negeri Amerika pada Kamis 1 Desember 2016 mengatakan: “kami melihat laporan-laporan bahwa Russia bernegosiasi dengan orang-orang revolusionaris Suria…”. Toner mengatakan: “adapun reaksi kami, maka kami siap menyambut semua upaya riil yang ditujukan meringankan penderitaan rakyat Suria khususnya di Aleppo” (Russia today, 1/12/2016). Amerikalah yang berada di belakang apa yang terjadi apalagi Amerika bersepakat dengan Russia atas jalannya negosiasi dan rekonsiliasi. “Menteri luar negeri Russia pada Sabtu 3 Desember mengungkap bahwa sejawatnya menteri luar negeri Amerika John Kerry memberinya usulan-usulan seputar rekonsiliasi di Aleppo “selaras dengan sikap-sikap yang dipegang oleh Russia” (Russia today, 3/12/2016). … “Lavrov mengatakan di dalam konferensi pers bahwa Russia dan Amerika Serikat akan memulai pembicaraan-pembicaraan tentang penarikan dilakukan di Jenewa pada besok sore atau Rabu pagi. Ia menjelaskan bahwa menteri luar negeri Amerika John Kerry “mengirimkan usulan-usulan tentang rute-rute dan penentuan waktu penarikan” (Dar al-Hayat, 5/12/2016). “Ia menegaskan bahwa pihak Russia siap memulai diskusi mulai hari Senin 5 Desember 2016. Akan tetapi Washington
  11. 11. meminta penundaaan sedikit untuk pertemuan para ahli. Diprediksi bahwa diskusi itu akan dimulai Selasa sore atau Rabu pagi” (Russia today, 5/12/2016). Karena semua itu, pergerakan Turki akhir-akhir ini dan intensitasnya, lebih berat dari keberadaanya bahwa hanya Turki saja yang berada di belakang semua itu. Ditegaskan bahwa Amerika lah yang mendorong Turki, selangkah demi selangkah… Amerika pulalah yang mengatur negosiasi-negosiasi dengan Russia sesuai usulan- usulan yang diberikan oleh Amerika kepada Russia pada waktu di mana pemerintahan Obama mengkalkulasi hari-hari itu dengan cermat, dengan harapan bisa merealisasi suatu keberhasilan walaupun hanya di Aleppo saja pada minggu- minggu tersisa dari masa pemerintahan Obama itu. Ketiga: adapun kesempatan untuk keberhasilan Amerika dalam menempatkan faksi- faksi kombatan di meja perundingan dan menghidupkan kembali aktivitas politik di Suria, maka hal itu ditentukan oleh fakta-fakta berikut: 1. Di dalam Suria, penolakan terhadap solusi damai makin meningkat. Warga Suria telah yakin tentang konspirasi negara-negara arab dan Turki terhadap mereka bersama Amerika dan Russia. Telah menjadi jelas dan tidak bisa diragukan lagi bahwa negara-negara itu menentang revolusi Suria… Situasi dalam negeri ini menekan faksi-faksi untuk memperbaiki jalannya setelah banyak tercemar dengan afiliasi luar negeri dan terpengaruh dengan dukungan finansial yang kotor. Hal itu tampak dalam perdamaian, gencatan senjata dan pendinginan berbagai front serta komitmen terhadap garis merah dan instruksi-instruksi dari ruang koordinasi MOC – Military Operations Center-. Pergerakan tiba-tiba rakyat di dalam Suria yang menekan faksi-faksi ini mendahului serangan rezim dan sekutunya terhadap wilayah timur Aleppo. Adapun sekarang, pergerakan itu makin membesar menyifati faksi- faksi yang melakukan gencatan senjata sebagai pengkhianat dan menuntut dikeluarkannya para pemimpin faksi-faksi itu dari rel. Berhadapan dengan serangan militer sengit itu, faksi-faksi di dalam Aleppo berinisiatif membubarkan diri dan membentuk Jaysy al-Halab (Tentara Aleppo) dan menjadi satu kekuatan. Itu merupakan langkah yang baik yang mudah-mudahan menuntun kepada terbebas dari afiliasi-afiliasi luar negeri di depan bahaya yang mengancam. “Samir Nasyar anggota koalisi oposisi Suria menyesalkan tidak diperolehnya hasil-hasil dalam negosiasi faksi-faksi dengan Russia di Turki. Ia menyesalkan bahwa keputusan asasi kembali kepada kelompok bersenjata yang bertahan di kota Aleppo. Ia mengatakan, “pertemuan-pertemuan itu tidak mengeluarkan hasil yang nyata sebab mereka yang diblokade di dalam kota Aleppo, keputusan mereka menjadi independen dari kepemimpinan mereka yang ada di luar kota, dan berikutnya keputusan tersebut memiliki independensi luar biasa berkaitan dengan orang-orang yang dikepung di dalam kota tersebut” (Russia today, 1/12/2016). Kelompok-kelompok bersenjata di dalam Aleppo itu tidak peduli dengan negosiasi-negosiasi khianat dan ancaman- ancaman brutal untuk menyerah yang terjadi di luar Aleppo. “Pejabat di oposisi Suria mengatakan bahwa komandan tentara oposisi tidak akan menyerahkan timur Aleppo kepada pasukan pemerintah. Hal itu setelah Russia berkata bahwa Russia siap melakuka pembicaraan-pembicaraan dengan Amerika Serikat tentang penarikan semua tentara oposisi dari kawasan tersebut, sesuai apa yang dinyatakan oleh kantor berita Reuterspada Sabtu…” (Al-Jazeera, 3/12/2016). 2. Begitulah, rakyat yang bangun niscaya menemukan puncak revolusi “Aleppo” ada di bawah bahaya mengancam, mereka tidak terdorong untuk menyerah dan menyetujui solusi-solusi politik. Akan tetapi mereka justru terdorong dengan daya lebih besar
  12. 12. untuk meluruskan jalan faksi-faksi yang berafiliasi kepada negara-negara arab dan Turki. Faksi-faksi yang dukungan finansial kepadanya diubah menjadi rem besar yang menghalanginya melajutkan revolusi… Begitulah yang buruk dibedakan dari yang baik… Yang buruk patuh kepada tuan-tuan di Turki, Saudi dan lainnya dan bergegas kepada aktivitas politik yang tunduk kepada Amerika, sekutunya dan kelompoknya dan jatuh ke parit mereka yang melakukan konspirasi terhadap revolusi… Sedangkan yang baik, tekad mereka benar dan tidak tunduk kecuali kepada Allah SWT. Yang baik inilah, dengan ijin Allah, yang akan membuat tipudaya yang dikumpulkan oleh Amerika, Iran, Russia, Turki dan negara-negara Arab menjadi debu yang ditiup angin. Serangan brutal dan keteguhan legendaris perlawanan di Aleppo ini, semua itu tidak hanya mengungkap yang buruk dalam skala lokal saja, akan tetapi juga mengungkap semua yang buruk khususnya regional Iran, Saudi dan Turki. Iran berkontribusi dengan aksi-aksi pembunuhan brutal yang hanya dikalahkan oleh aksi-aksi pembunuhan Russia sesuai rencana Amerika. Saudi berkontribusi dengan dana kotor yang menyuapi sebagian faksi untuk berkontribusi dalam negosiasi khianat. Sedangkan Turki, mengambil penyesatan sebagai senjata untuk menjalankan rencana-rencana Amerika. Turki berteriak bahwa Turki tidak akan menghinakan Aleppo, nyata justru menghinakannya di depan mata. Bukan hanya itu. Bahkan kakinya yang tertanam di kawasan Aleppo tidak melindungi Aleppo dan malah dialihkan dari Aleppo ke wilayah yang jauh! Kemudian suaranya makin tinggi bahwa Turki tidak akan mentolerir Hamma kedua, nyatanya terjadi Hamma kedua dan ketiga tetapi Turki tidak bergerak dan diam saja! Ketika Turki dipermalukan oleh sikap-sikap ini, belakangan Turki berusaha kembali berteriak lebih keras lagi dan Erdogan menyatakan bahwa Perisai Eufrat yang dimaksudkan adalah “hengkangnya Asad”. “Presiden Turki Racep Tayyip Erdogan melalui pidatonya di forum yang didedikasikan untuk al-Quds (Jerusalem) di Istanbul pada Selasa 29 November 2016 mengatakan: “… dan kami masuk ke Suria bersama Free Syrian Army”. Erdogan menyusuli dengan ucapannya: “kenapa kami masuk? Kami masuk supaya kita bisa menghentikan pemeritahan diktator Asad yang meneror warga Suria dengan negara teroris. Masuknya kita bukan karena sebab lainnya” (Russia today, 29/11/2016). Akan tetapi belum sampai gema suaranya hilang, Erdogan menarik kembali untuk menyenangkan Rusia yang membom Aleppo siang dan malam! “Presiden Erdogan menyampaikan pidato dalam pertemuan tiga puluh Mehter yang diselenggarakan di kompleks kepresidenan al-Kulliyah. Presiden Racep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa operasi Perisai Eufrat yang terus berlangsung di Suria dipimpin oleh angkatan bersenjata Turki tidak menargetkan person atau negara tertentu. “Operasi yang berlangsung sejak 24 Agustus itu menargetkan organisasi-organisasi teroris” (TRT arabic, 1/12/2016). Russia paham bahwa pernyataan Erdogan tentang hengkangnya Asad adalah kosong dari makna. Menteri luar negeri Russia mengomentarinya pada Kamis 1 Desember 2016 dengan mengatakan: “Moskow dalam ranah praktis bersandar kepada kesepakatan-kesepakatan yang dicapai antara kedua presiden yang diimplementasikan dan bukan kepada pernyataan-pernyataan personal dari pihak yang banyak menyampaikan pernyataan” (Russia today, 1/12/2016)… Dan hari ini 7/12/2016 dalam kujungan Yildirim ke Moskow, ia menyatakan dengan jelas dalam wawancara dengan kantor berita Interfax Russia bahwa operasi Perisai Eufrat “tidak terkait dengan kejadian-kejadian yang terjadi di pusat kota Aleppo dan tidak ada hubungannya dengan operasi perubahan rezim Suria” (al-Khaleej on line, 7/12/2016).
  13. 13. Keempat: begitulah, Amerika berkoordinasi secara penuh dengan Russia dalam serangan-serangan brutalnya. Amerika lah yang ada di belakang “Perisai Eufrat” yang targetnya adalah menarik faksi-faksi dari front Aleppo ke operasi “Perisai Eufrat” dan berikutnya memperlemah front Aleppo… Demikian pula, Amerika jugalah yang mengatur negosiasi-negosiasi faksi-faksi yang mencurigakan dengan Russia dan yang berada di belakang mobilisasi Iran dan para pengikutnya. Kemudian Amerika lah yang berada di belakang dihalanginya senjata yang efektif dari oposisi. Hal itu tidak diubah dengan apa yang dilansir oleh media massa pada 7/12/2016 bahwa DPR Amerika telah “menyetujui rancangan undang-undang yang memberi kesempatan kepada pemerintahan presiden terpilih Donald Trump untuk mengirimkan rudal-rudal anti pesawat darat ke udara kepada faksi-faksi oposisi di Suria… Surat kabarthe Washington Post mengutip bahwa rancangan resolusi tersebut mencakup beberapa batasan untuk mentransfer senjata-senjata ini” (Al-‘Arabiya, 7/12/2016). Keputusan itu datang pada injury time setelah Aleppo hampir hancur lebur, dan pengiriman senjata itu masih diragukan akan benar-benar terjadi. Dan jika pun benar terjadi maka itu akan menjadi senjata yang dilucuti! Senjata itu tidak akan digunakan kecuali dengan ijin dari musuh Islam dan kaum Muslim. Dan apakah tanaman berduri bisa diharapkan berbuah anggur?! Kemudian, rancangan undang-undang ini disetujui untuk diimplementasikan bukan sekarang, akan tetapi pada masa Trump yang sebelum masa pemerintahannya dimulai telah mengumumkan untuk meghalangi senjata dari oposisi! Sungguh itu merupakan penyesatan di atas penyesatan dan sungguh merupakan kedustaan yang besar … Meskipu semua itu, Aleppo bagaimanapun penghancuran yang menimpanya, Aleppo akan bangkit kembali. Bumi Syam seluruhnya dan Aleppo khususnya akan menjadi duri beracun di tenggorokan Amerika, Rusia, para pengikut dan kelompoknya, yang akan mengguncang peraduan mereka dan membunuh mereka karena kejahatan-kejahatan mereka. Mereka tidak akan menikmati kemenangan yang mereka klaim. Mereka tidak bisa masuk negeri kecuali setelah menghancurkannya, itu adalah kemenangan palsu… Dan mereka tidak bisa mengalahkan para pejuang kecuali setelah para pejuang itu syahid adalah kemenangan yang kalah… Mereka mengumpulkan rudal-rudal, bom-bom barel, dan pasukan ribuan untuk menghadapi ratusan atau beberapa ribu. Meski demikian, mereka tidak bisa menghadapi para pejuang kecuali dengan pemboman dari udara dan kapal-kapal perang, maka itu merupakan kemenangan pengecut yang takut untuk menghadapi langsung para ksatria. Kemenangan seperti itu akan lenyap… Sungguh, Amerika dan Russia serta sekutu, kelompok dan para pengikutnya ingin mengulangi kejahatan-kejahatan brutal mereka meniru sejarah teman-teman mereka sebelumnya kaum salibis dan Moghul Tatar dengan kejahatan-kejahatan yang mereka perbuat di Irak dan negeri Syam. Akan tetapi, mereka tidak mengambil pelajaran dari nasib kaum salibis dan Moghul Tatar. Mereka telah dicampakkan oleh kaum Muslim dari negeri mereka dan kaum Muslim bangkit kembali. Kemuliaan Islam dan kaum Muslim pun kembali lagi. Khilafah mereka menjadi kuat kembali. Mereka pun membebaskan kota Heraklius dan kota itu menjadi kota Islam “Istanbul”. Mereka juga mendekati Moskow dan mengetuk pintu-pintu Wina. Hari-hari itu silih berganti dipergilirkan. Dan sungguh hari esok bagi orang yang menantinya adalah dekat. ﴿‫و‬َ‫س‬َ‫ي‬َ‫ع‬َ‫ل‬َ‫م‬َُ ‫و‬ََّ‫ذ‬ِ‫ي‬‫ن‬ َ َََََ‫ي‬َ‫ا‬ ‫و‬‫ن‬‫ي‬ََّ ‫و‬َ‫ن‬َْ‫و‬َ‫ل‬َ‫ي‬ٍَ ‫و‬َ‫ََن‬َِ‫ي‬ٍََ‫ن‬َ‫ذ‬﴾ “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (TQS asy-Syu’ara’ [26]: 227). Rabu, 8 Rabiul Awal 1438 H 7 Desember 2016 M
  14. 14. http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political- questions/40910.html#sthash.3SsbgJeo.dpuf 03 November 2015 Revolusi Suriah: Tantangan Berat dan Solusinya Revolusi Suriah sudah berlangsung selama empat tahun lebih, sejak awal Maret 2011 hingga kini belum ada tanda-tanda berakhir. Menyisakan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi di sana? Korban sipil berjatuhan sudah sekian banyak. Pengungsian sudah menjadi pembahasan dunia internasional dan masalah pelik yang membawa dampak ikutan. Berbagai konferensi dan perundingan internasional sudah dilakukan. Namun hingga kini, masalah Suriah seolah tidak menemukan solusi yang berarti. Tantangan Berat Secara faktual, lamanya revolusi di Suriah ini menunjukkan adanya tantangan yang berat, yang menurut beberapa kalangan dianggap sebagai kelanjutan dari Arab Spring. Dugaan beratnya revolusi di jantung fertile cresent ini adalah, karena lokasi revolusi berada di pertemuan dua konflik besar di Timur Tengah: Arab Spring dan invasi Amerika Serikat di Irak. Upaya menggulingkan rezim Bashar Assad oleh para kelompok bersenjata di Suriah berkelindan dengan perjuangan melawan hegemoni Amerika Serikat yang salah satunya melahirkan kelompok ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) atau Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL). Kelompok Bersenjata Suriah Sulit Bersatu Dengan medan konflik yang meluas, tak hanya persoalan Suriah, namun juga beririsan dengan kepentingan-kepentingan lainnya, maka inilah yang menjadikan kelompok- kelompok revolusioner di Suriah, termasuk faksi-faksi bersenjatanya, sulit untuk bersatu. Awalnya, pihak yang melawan rezim Bashar Assad bersatu di bawah naungan Suriah National Council (SNC). Sayap bersenjata terhimpun dalam Tentara Pembebasan Suriah Free Syrian Army (FSA), yang anggotanya berasal kelompok-kelompok bersenjata dan tentara rezim yang membelot terhadap pemerintah Suriah. Kemudian muncul kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Supreme Military Council (SMC) yang didukung Barat. Juga terdapat Syrian Revolutionary Front (SRF), yang komandan utamanya, Jamal Maarouf, bersekutu dengan Arab Saudi. Selain mereka, ada Tentara Islam/Jaisy al-Islam, sebuah koalisi baru dari faksi moderat yang disponsori oleh Qatar. Mereka terus bekerja sama dengan CIA dan intelijen Saudi serta Qatar. Jaysh al-Islam ini dibiayai Arab Saudi dan menggunakan personel militer Pakistan untuk melatih anggotanya. Milisi bersenjata ini terdiri atas 60 kelompok bersenjata dan diklaim memiliki 25.000 anggota yang dibentuk untuk melawan ISIS serta Pemerintah Suriah. Kelompok-kelompok ini lebih memfokuskan diri pada wilayah sekitar Ibukota Damaskus dan memiliki pengaruh di wilayah utara Suriah. Dari kelompok yang menghendaki Revolusi Islam, lahirlah kelompok Jabhah al- Nushrah/Front Nusra, yang memiliki afiliasi dengan Al-Qaeda. Kelompok ini menguasai pedesaan di Aleppo, Idlib dan Hama’ di wilayah barat laut Suriah. Kemudian ada kelompok ISIS. ISIS menguasai wilayah utara dan timur Suriah, khususnya yang berbatasan dengan Irak dan Turki. Konflik Internal
  15. 15. Keberadaan berbagai kelompok bersenjata ini, apalagi belum kuatnya persatuan di antara mereka, menjadikan secara internal rawan konflik. Sebagai contoh, saat ISIS mendeklarasikan negara Islam pada 29 Juni 2014, perselisihan ISIS dengan beberapa faksi bersenjata di Suriah terlihat makin tajam dari sebelumnya. Konflik baru pun bermunculan. Melansir Al-Arabiya, sebelumnya ada 11 kelompok, yang terdiri dari Liwa al-Jihad fi Sabilillah, Liwa’ ats-Tsuwar ar-Raqqah, Tajammu’ Kataib Manbaj, Al-Jabhah asy-Syarqiyah Ahrar Suriah, dan lainnya. Mereka mengultimatum pihak I’tilaf al- Wathani as-Suri (Oposisi Nasional Suriah) untuk memperoleh senjata untuk melawan ISIS. Kemudian terjadi konflik ISIS dengan Jabhah an-Nushrah. Saat itu ISIS mendapatkan rampasan besar dari pihak Jabhah an-Nushrah dengan melakukan sergapan terhadap konvoi Jabhah an-Nushrah, saat mereka meninggalkan Deir Zour menuju pinggiran Provinsi Himsh. Selain itu, Jaisy al-Islam dari Jabhah al-Islamiyah, yang mendominasi wilayah Ghouthah Timur yang terletak di pinggiran Damaskus, telah melancarkan serangan terhadap pasukan ISIS di wilayah Maida’a. Serangan itu berhasil membuat ISIS keluar dari wilayah tersebut. Human Rights Watch Suriah menyinggung peningkatan konflik internal di antara kelompok-kelompok bersenjata tersebut, termasuk ISIS, Front Nusra dan FSA (Free Syrian Army). Lembaga pemantau HAM tersebut mengumumkan bahwa bentrokan antarkelompok di berbagai wilayah utara Suriah telah merenggut nyawa sekitar 7.000 orang; 5.641 dari mereka tercatat sebagai bagian dari kelompok bersenjata tersebut. Konflik antarkelompok bersenjata di Suriah ini mengindikasikan belum satunya visi perjuangan dari faksi-faksi yang ada. Bergantung pada External Support Kelompok-kelompok revolusioner di Suriah ternyata juga mendapatkan external support dari pihak luar yang berbeda-beda. Ini memungkinkan adanya kebergantungan mereka pada pihak luar yang bisa jadi memiliki agenda dan kepentingan tersendiri di Suriah. Amerika Serikat, Turki, Qatar dan Arab Saudi adalah kekuatan negara asing yang mendukung pihak pelawan rezim. Sebaliknya, Rusia, Iran dan Hizbullah dari Libanon adalah kekuatan asing yang mendukung pemerintahan rezim Bashar Assad. Dukungan mereka dapat berupa bantuan diplomatik, logistik, persediaan senjata hingga kehadiran personel militer di lapangan. Rusia membantu rezim Assad dengan bentuk mengirim persenjataan militer terbaru. Iran membantu rezim Assad mengirim bantuan dalam bentuk kehadiran tentara rahasia di Suriah. Rusia secara aktif terlibat membantu tentara Suriah. Rusia menyediakan teknologi pengumpulan intelijen, mengirim senjata kepada pasukan Assad dan mempertimbangkan pengiriman s-300 sistem pertahanan udara canggih ke Suriah. Bahkan dalam bantuan serangan terbarunya 2015 ini, prioritas utama Rusia adalah menyerang kelompok Al-Qaeda yang bersekutu dengan Al-Nusra. Rusia menganggap Al- Qaeda lebih berbahaya ketimbang ISIS. Serangan udara Rusia diyakini telah menghancurkan 40 persen infrastruktur kelompok bersenjata di Suriah. Sejak 30 September 2015, atas permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad, Rusia telah melakukan serangan udara ke basis ISIS di Suriah. Dalam melancarkan serangan udara, Rusia mengerahkan pengebom garis depan Su-25, Su-24M, Su-34, dan Su-30 CM. Rusia juga mengerahkan kapal perang yang ditempatkan di Laut Persia. Kepala Direktorat Utama Operasi Angkatan Bersenjata Rusia, Andrey Kartapolov, mengatakan bahwa pasukan Rusia menggunakan amunisi presisi tinggi dalam serangan udara, yang memiliki deviasi maksimum terhadap target kurang dari lima meter. “Semua target sedang diteliti secara mendalam, menggunakan data dari ruang dan intelijen radio-
  16. 16. elektronik, footages drone dan informasi dari penyadapan radio. Kami juga menggunakan data dari intelijen Suriah, Iran dan Irak, termasuk sumber yang menyamar,” kata Kartapolov, seperti dikutip Russia Today. Arab Saudi dan Amerika Serikat juga memberi support berupa persenjataan dan bantuan pelatihan kemiliteran terhadap personel anti-rezim. Presiden Barack Obama, misalnya, menjanjikan akan menggelontorkan dana sebesar US$500 juta atau sekitar 6 triliun rupiah lebih untuk melatih dan mempersenjatai faksi-faksi bersenjata oposisi Suriah yang dianggap ‘moderat’. Amerika menargetkan akan merekrut 5.000 pejuang “moderat” pro-Amerika, namun di lapangan hanya berhasil melatih dan mempersenjatai 54 orang saja. Kemudian, Jenderal Lloyd Austin, komandan militer AS di Timur Tengah, melaporkan bahwa saat ini hanya tersisa empat atau lima saja pejuang oposisi Suriah yang telah dilatih dan dipersenjatai AS, mengingat kelompok Jabhah Nushrah telah menyerang mereka saat 50-an orang pejuang tersebut mencoba kembali ke Suriah. Alhasil, sebagaimana pernyataan sejumlah pejabat AS, program tersebut dinilai gagal total. Washington juga secara diam-diam telah mendukung langkah Arab Saudi dan Qatar untuk memberikan senjata dan uang tunai kepada kelompok bersenjata untuk melawan ISIS di Suriah. Arab Saudi telah meningkatkan pasokan senjata untuk tiga kelompok pemberontak musuh rezim Presiden Suriah Bashar Assad. Peningkatan pasokan senjata itu terjadi setelah serangan Rusia di Suriah semakin gencar. Pasokan senjata-senjata modern dari Saudi salah satunya senjata anti-tank. Ada tiga kelompok pemberontak Suriah yang menerima pasokan senjata modern dari Saudi yakni, Jaish al-Fatah (Tentara Penaklukan), Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan Front Selatan. Sebaliknya, kelompok ISIS dan al-Nusra depan tidak menerima pasokan senjata Saudi. Dengan beragamnya agenda para kelompok revolusioner ini, mereka belum fokus dalam menghancurkan kekuatan Bashar Assad. Justru kondisi yang terjadi pada kelompok-kelompok perjuangan di Suriah ini memberikan peluang bagi musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Revolusi Suriah terutama yang mengarahkan perjuangannya ke Revolusi Islam. Sedari awal, para pemimpin negara-negara Barat secara terbuka mendorong rezim Suriah dan oposisi menuju Konferensi Perdamaian Jenewa II yang dirancang oleh mereka. Mereka juga membentuk kelompok Friends of Syria dan menyelenggarakan konferensi di Istanbul, Turki. Konferensi Friends of Syria itu meminta NATO yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk mendukung paramiliter dengan menyerang pangkalan rudal militer Suriah. Akar Masalah Pangkal dari berlarut-larutnya revolusi di Suriah bermuara pada dua: adanya campur tangan negara-negara Barat dalam revolusi ini; adanya perbedaan visi perjuangan dari kelompok-kelompok revolusioner di Suriah. Pertama: campur tangan negara-negara Barat ini menunjukkan bahwa mereka memiliki agenda masing-masing dalam konflik di negeri tersubur di Timur Tengah ini. Suriah adalah “lahan” kepentingan politis negara-negara Barat di kawasan Timur Tengah. Banyak pihak yang terlibat di sana. Ada Iran, Rusia, Amerika Serikat dan Israel serta tentu saja PBB. Jika dipetakan secara umum, kekuatan di atas terbagi menjadi dua kekuatan utama: (1) Rezim yang berkuasa di Suriah, pimpinan Presiden Bashar al- Assad, yang didukung oleh Iran dan Rusia; (2) Kekuatan oposisi yang ingin menjatuhkan Assad, yang didukung Amerika Serikat, Israel, sejumlah negara Eropa Barat, beberapa negara Islam di Timur Tengah (Arab Saudi dan Qatar) serta negara Islam dari Persia (Turki). PBB melibatkan diri dalam upaya mendamaikan perang
  17. 17. saudara di Suriah. Namun, sebagaimana biasa, keberpihakan PBB adalah ke rezim yang berkuasa, atau ke pihak Amerika Serikat. Kedua: Perbedaan visi perjuangan dari para kelompok revolusioner ini juga tidak bisa ditutup-tutupi. Namun demikian, perbedaan ini berupaya diselesaikan. Salah satunya adalah ketika beberapa faksi Islam yang ikut berjuang di Suriah menandatangani “Piagam Kehormatan Revolusioner”. Piagam yang terdiri dari 11 poin itu menetapkan pengawasan kerja revolusi agar tetap bertujuan untuk menggulingkan rezim Assad. Piagam tersebut ditandatangani oleh beberapa faksi Islam di antaranya, Persatuan Islam Tentara Syam, Tentara Mujahidin, Korps Syam, Front Islam dan Brigade al- Furqon. Isinya menegaskan bahwa tujuan dari revolusi bersenjata di Suriah adalah untuk menggulingkan Rezim Assad. Piagam yang diterbitkan dalam bahasa Arab dan Inggris tersebut menekankan untuk mempertahankan integritas wilayah Suriah, mencegah upaya perpecahan dengan segala cara yang tersedia. Ditegaskan pula, kekuatan revolusi percaya bahwa itu harus menjadi keputusan politik dan militer dalam revolusi. Faksi-faksi Islam tersebut juga menyeru semua kekuatan yang berjuang di Tanah Suriah untuk ikut menandatangani piagam itu agar menjadi satu tangan dalam upaya menggulingkan Rezim Assad yang tiranik. Menuju Revolusi Islam Untuk menjadikan Revolusi Suriah menjadi sebagai Revolusi Islam maka mutlak untuk menolak segala bentuk campur tangan negara-negara Barat dalam revolusi rakyat ini. Negara-negara Barat penuh dengan agenda dan kepen-tingan masing-masing di Suriah. Mereka mengerahkan segenap cara untuk dapat me-wujudkan agenda dan kepentingan mereka itu. Para pejuang revolusi Suriah juga mesti waspada terhadap para penguasa negeri kaum Muslim yang menjadi antek dari negara-negara Barat. Mereka adalah kaki tangan negara-negara Barat untuk dapat mewujudkan kepentingan mereka itu. Revolusi Suriah ibarat proxy war; kadang negara-negara Barat tidak turun langsung untuk memperjuangkan kepentingan mereka, namun menggunakan pihak ketiga. Kelompok-kelompok revolusioner di Suriah semestinya menyadari bahwa keterpecah- belahan mereka menjadi makanan empuk negara-negara Barat untuk melakukan politik devide et impera. Karena itu persatuan di antara mereka adalah mutlak. Fokus dan bekerjasama dalam satu visi yang sama, kembali pada alasan awal Revolusi Suriah digulirkan, yakni bagaimana rezim yang sewenang-wenang terhadap rakyat dapat ditumbangkan. Apa yang dilakukan oleh 22 tanzhim jihad dan kelompok revolusioner bersenjata Suriah untuk membentuk “Koalisi Qalamun Barat” di pedesaan Damaskus merupakan hal yang positif untuk menyatukan perjuangan. Wilayah Qalamun merupakan wilayah strategis bagi rezim Suriah. Wilayah itu berada di perbatasan yang menghubungkan Ibukota Damaskus dan Libanon. Koalisi ini berupaya melakukan koordinasi dan merencanakan operasi militer serta meminimalisasi segala kemungkinan buruk bagi mujahidin dalam melancarkan operasi. Tanzhim Jihad dan kelompok revolusioner bersenjata yang tergabung dalam koalisi itu meliputi brigade 11 pasukan khusus yaitu Brigade Mutahabbin Billah, Brigade Ahrar Qalamun, Brigade Usudus Sunnah, Liwa Tahrir Syam, Liwa Tahrir Kalamoon, Liwa Habib Mushtafa dan brigade-brigade lainnya. Ketika negara-negara Barat penuh dengan agenda dan kepentingannya, maka upaya ikut campur mereka dalam penyelesaian konflik di Suriah tentu tidak terlepas dari agenda dan kepentingannya itu. Apapun bentuknya. Alasan humanitarian, alasan stabilitas kawasan, alasan terrorism, atau alasan lainnya tidak lain hanyalah kedok dari kepentingannya yang tersembunyi.
  18. 18. Karena itu penyelesaian dari konflik Suriah ini, bila arahnya adalah menuju Revolusi Islam, harus difokuskan bukan hanya untuk menumbangkan rezim yang ada, namun harus didorong menuju tegaknya Islam secara kaffah melalui dukungan penuh dari umat Islam yang tak lain adalah kembali tegaknya Khilafah Rasyidah. Insya Allah. Amin. [Dari berbagai sumber]. [Budi Mulyana, S.IP., M.Si.; Dosen Hubungan Internasional UNIKOM Bandung – Mahasiswa Program Doktor Hubungan Internasional UNPAD – LKI DPP HTI] Hakikat ‘Rekonsiliasi’ AS-Rusia (Jawab-Soal Bersama Amir Hizbut Tahrir) April 29th, 2016 Soal: Sudah diketahui bahwa intervensi Rusia ke wilayah udara Suriah terjadi dengan persetujuan Amerika dalam sebuah kesepakatan busuk. Dengan kesepakatan itu, Rusia melakukan tugasnya melayani kepentingan Amerika di Suriah dengan imbalan: Amerika menutup mata dari pendudukan Rusia atas Crimea, juga dari apa yang terjadi di timur Ukraina. Dari sini bisa dipahami adanya politik ‘rekonsiliasi’ antara Rusia dan Amerika. Namun, belakangan ini terjadi peristiwa yang menjadikan Rusia dijauhkan dari KTT Nuklir yang diatur oleh Obama. Demikian juga terjadi konfrontasi/perang Azerbaijan yang didukung Amerika dengan Armenia yang didukung Rusia. Semua itu membuat ‘rekonsioliasi’ itu menjadi kacau. Pertanyaannya, bagaimana menjelaskan hal ini? Jawab: Putin yang pernah menjadi direktur KGB pada saat Uni Soviet, merindukan kembali peran internasional yang menonjol yang dulu dimiliki oleh Uni Soviet bersama Amerika. Karena itu ia setuju melakukan peran permusuhan jahat di Suriah untuk kepentingan Amerika dengan mengokohkan pemerintahan Bashar sampai Amerika menemukan pengganti Bashar. Sebelumnya pemerintahan Bashar hampir tumbang. Amerika khawatir kekosongan pasca tumbangnya Bashar itu akan diisi oleh kekuaan islami yangmukhlis. Putin beranggapan bahwa dengan melayani Amerika di Suriah akan meredakan reaksi Amerika atas Rusia terkait problem perbatasan selatan Rusia di Crimea dan seputar Ukraina. Nyatanya, ini masalah yang berbeda dengan masalah pelayanan di Suriah! Intervensi Rusia di Suriah dalam memerangi kaum Muslim, dengan pertolongan Allah SWT, akan membuat Rusia merasakan bencana dan malapetaka yang terjadi bersama dengan problem-problem Ukraina, ditambah titik di lautan kemarahan kaum Muslim terhadap Rusia. Sungguh, hari esok bagi orang yang menunggunya adalah dekat. Ini dari satu sisi. Di sisi lain, Putin beranggapan bahwa Amerika akan memberi Rusia imbalan dengan mengangkat peran internasional Rusia dalam berbagai masalah internasional. Sungguh, ini adalah kebodohan politik. Sebabnya, negara yang tegak di atas ideologi Kapitalisme—seperti AS, red.—tidak punya nilai kecuali manfaat dan mengekpsloitasi
  19. 19. pihak lain. Karena itu negara-negara kapitalis yang kuat akan mengerahkan daya upaya untuk menghegemoni negara-negara kapitalisme yang lebih lemah. Amerika, Eropa dan Rusia sama-sama mengikuti ideologi Kapitalisme. Ini berbeda dengan masa sebelumnya saat Barat mengikuti ideologi Kapitalisme, sementarea Uni Soviet mengikuti ideologi Sosialisme-komunisme. Masing-masing ideologi memiliki nilai yang saling bersaing satu sama lain. Saat itu keduanya mungkin untuk bersaing memperebutkan kontrol dan pengaruh serta menjadi pesaing yang biasa diantisipasi. Adapun terkait negara-negara besar yang mengadopsi Kapitalisme maka hegemoni akan tetap jadi milik negara kapitalis yang kuat. Kesepakatan negara kuat dengan negara-negara lain yang berasal dari ideologi yang sama adalah untuk melayani negara kuat itu dan bukan agar negara lain itu menjadi pesaingnya. Karena itu Amerika tidak menerima Eropa atau Rusia menjadi pesaingnya jika negara-negara itu memiliki kekuatan pada tingkat yang bisa menjadi pesaing Amerika. Hal itu karena ideologi Kapitalisme tegak di atas manfaat dan bagian yang lebih besar adalah untuk pihak yang lebih kuat. Begitulah, anggapan Putin tersebut—bahwa jika Rusia melayani kepentingan Amerika di Suriah maka Amerika akan meredakan problem-problem regional dan internasional Rusia—adalah anggapan yang keliru. Hal itu tampak dengan jelas dalam dua perkara yang disebutkan di dalam pertanyaan, yaitu KTT Nuklir dan perang antara Azerbaijan dan Armenia. Terkait KTT Nuklir, Amerika telah mengadakan dan menyiapkan program dan jadwal kerja untuk KTT Nuklir itu. Dalam semua itu Amerika mengabaikan Rusia yang merupakan negara nuklir kedua di dunia. KTT berlangsung dari 31 Maret 2016 hingga 1 April 2016. Di dalam KTT Nuklir itu, Amerika berusaha mengokohkan diri sebagai kekuatan besar, adidaya serta pemimpin historis yang memimpin semua negara di dunia dan bisa melakukan apa saja yang diinginkan, di mana saja dan kapan saja. Amerika bahkan tidak memberikan perhatian sama sekali kepada Rusia dan tidak mengikutsertakan Rusia di dalam persiapan KTT Nuklir sebagai negara nuklir terbesar kedua. Sebelumnya Kremlin menegaskan bahwa persiapan KTT memerlukan kerjasama dengan Rusia. Kremlin juga menegaskan bahwa kajian isu-isu berkaitan dengan keamanan nuklir menuntut upaya bersama dan memperhatikan kepentingan dan sikap pihak-pihak lain. Ini yang dikatakan oleh Juru Bicara Kremlin Dimitri Biskov. Akan tetapi, ia menjelaskan secara langsung bahwa Moskow, selama persiapan KTT, menghadapi kekurangan dalam kerjasama dalam hal kajian isu-isu dan topik-topik yang tersusun dalam jadwal kerja, disertai kampanye media provokatif dari pihak Amerika Serikat (Russia Today, 31/3/2016). Selama seruan dan penyelenggaraan KTT tampak sekali Wasingthon meremehkan— sampai pada batas merendahkan—Rusia. Inilah yang mendorong Putin untuk tidak hadir. Meskipun sebabnya adalah Amerika mengabaikan Rusia dalam persiapan dan pelaksanaan konferensi, reaksi Amerika terhadap ketidakhadiran Putin lebih dingin dan
  20. 20. meremehkan Rusia dibandingkan dengan selama Perang Dingin terjadi. Wakil Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Ben Rhodes, mengatakan, “Kami yakin, dengan keputusannya tidak berpartisipasi mengirimkan delegasi tingkat tinggi di KTT Keamanan Nuklir di Washington minggu ini, Rusia telah menyia-nyiakan kesempatan bagi dirinya sendiri pada tingkat pertama. Semua yang dilakukan Rusia hanya akan mengisolasi dirinya sendiri dengan tidak berpartisipasi seperti yang mereka lakukan dulu.” (Situs al-Badeel dan Reuters, 31/3/2016). Bahkan Obama menurunkan “nilai” Rusia dengan menempatkan Rusia setara dengan Korea Utara. Obama mengatakan di akhir KTT Nuklir, “Masih banyak pekerjaan yang dituntut untuk mengurangi arsenal nuklir Rusia dan Korea Utara.” Ia menambahkan, “Pekerjaan kita belum berhenti. Banyak bahan-bahan nuklir yang harus diamankan pada tingkat global.” (Al-Jazeera.net, 1/4/2016). Begitulah. Tampak jelas sejauh mana Amerika meremehkan Rusia dalam masalah KTT Nuklir! Adapun terkait perang antara Azerbaijan dan Armenia, perang meletus secara hampir tiba-tiba di sepanjang garis demarkasi antara Armenia dan Azerbaijan di kawasan Pegunungan Karabagh pada 2/4/2016. Para pemimpin politik dan militer diundang di Baku, Ibukota Azerbaijan, untuk sebuah pertemuan darurat. Demikian juga Armenia melakukan hal yang sama. Ini seperti yang dinyatakan oleh Presiden Armenia Serge Sarkisiyan, “Sungguh itu merupakan pertempuran bersenjata paling berbahaya sejak dibangun gencatan senjata pada tahun 1994.” (Al-Jazeera.net, 3/4/2016). Bisa disimpulkan bahwa pengaruh Rusia sangat stabil di Armenia yang menjadi tuan rumah satu dari pangkalan militer Rusia terbesar yang meliputi resimen 102 militer Rusia dan menjadi markas sekitar 5.000 tentara Rusia. Rusia memberikan hibah dan utang ke Armenia yang miskin sumberdaya. Rusia memberikan dukungan militer kepada Armenia pada periode konflik dengan Azerbaijan atas daerah Pegunungan Karabagh sebelum dan setelah pecahnya Uni Soviet. Rusia kala itu adalah penengah yang memaksakan penghentian tembak-menembak di antara kedua kubu pada tahun 1994. Hal itu untuk kemenangan Armenia, sebab Armenia dan kelompoknya di wilayah Karabagh telah menguasai wilayah keturunan Azeri secara penuh dan menduduki 9% wilayah Azerbaijan lainnya di sebelah barat dan selatan wilayah Karabagh, bahkan juga wilayah timurnya. Karena itu, Rusia fokus untuk menghentikan perang paling akhir ini. Adapun peran Amerika dalam perang yang meletus ini dilakukan dari balik tirai, bahkan tanpa tirai. Situs Almashrialyawm pada 31/3/2016 memberitakan, “Presiden Azerbaijan pada Rabu 30/3/2016 di Washington, di depan Menteri Luar Negeri AS, Kerry, telah meminta Armenia untuk menarik “segera” militernya dari Nagorani Qurrah Bakh, wilayah yang menjadi persengketaan kedua negara. Kerry menerima Presiden Azerbaijan di sela-sela KTT internasional seputar keamanan nuklir yang diorganisir oleh Presiden Barack Obama selama dua hari, Kamis dan Jumat. Aliyev di depan Kerry mengatakan kepada para wartawan, “Kami berterima kasih kepada Pemerintah AS atas
  21. 21. upayanya untuk mengadakan jalan guna menyelesaikan konflik panjang antara Armenia dan Azerbaijan.” Ia menambahkan, “Konflik wajib diselesaikan berdasarkan kaidah resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan penarikan segera dan tidak bersyarat militer Armenia dari wilayah kami.” Adapun Kerry menyerukan, “Penyelesaian final konflik yang membeku di Nagorani Qurrah Bakh dan solusi itu haruslah solusi negosiatif.” Azerbaijan, minyaknya dan pipa yang mengalirkan minyaknya ke Laut Hitam dan Turki telah menarik perhatian besar Amerika sejak Azerbaijan merdeka tahun 1991. Hal itu juga meliputi pentingnya Azerbaijan dalam per-saingan Rusia-Amerika. Dengan itu maka pernyataan Presiden Azerbaijan tiga hari sebe-lum meletusnya perang, sementara pernyataan itu dia lontarkan dari Washington dengan disertai oleh Menlu AS Kerry, mengindikasikan tanpa diragukan lagi bahwa Amerikalah yang memicu perang di serambi Rusia Kaukasus. Ini merupkaan ancaman untuk kepentingan-kepen-tingan Rusia di Armenia dan Kaukasus. Kawa-san ini sangat sensitif untuk Rusia. Artinya, dengan menyulut perang ini, Amerika telah memberikan pukulan-pukulan ke pihak Rusia. Ringkasnya, merupakan suatu kebodohan politik saat Putin beranggapan bahwa dengan kesepakatannya yang jahat dengan Amerika di Suriah, dia akan mendapat kemurahan Amerika dengan meredakan problem-problem wilayah dan internasional Rusia. Akan tetapi, batas-batas kesepakatan itu akan terus terbatas di Suriah disebabkan pelayanan Rusia untuk kepentingan-kepentingan Amerika dan tidak mesti melebihi hal itu sampai isu-isu internasional lainnya. Ini menjelaskan ketegangan hubungan Amerika-Rusia di KTT Nuklir dan perang antara Azerbaijan dan Armenia, meski tenangnya hubungan Amerika Rusia di Suriah. [Sumber: http://hizb-ut- tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/36514.html#sthash.2XUTP4jE. dpuf ]

×