Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Menjawab syubhat kepada Hizbut Tahrir

300 views

Published on

Jawaban atas ulasan Ust Idrus Romli

Published in: Government & Nonprofit
  • Hey guys! Who wants to chat with me? More photos with me here 👉 http://www.bit.ly/katekoxx
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here

Menjawab syubhat kepada Hizbut Tahrir

  1. 1. YANG DIMAKSUD DENGAN IMAMAH Imam An-Nawawi (Ulama Sunni): “Imamah, Khilafah, dan Imaratul Mukminin adalah SINONIM. Yang dimaksud dengannya adalah KEPEMIMPINAN UMUM DALAM URUSAN-URUSAN AGAMA DAN DUNIA.” Artinya IMAMAH bukan Negara Sekular. Al-Majmu’ Syarh Al- Muhadzdzab, juz 21, hlm 26
  2. 2. Imam Al-Ijiy (Ulama Sunni): “(Imamah adalah): penerus Rasulullah saw dalam menegakkan agama yang wajib ditaati oleh segenap umat Islam.” Negara sekular bukan Imamah. Al-Mawaaqif fiy ‘Ilm Al-Kalaam, hlm 395
  3. 3. Imam Al-Khatthabi (Ulama Sunni): “makna dari ‘Rasulullah saw tidak beristikhlaf’ adalah bahwa beliau tidak menunjuk seseorang menjadi khalifah, itu tidak berarti bahwa Beliau tidak memerintahkan hal tersebut (mengangkat Imam), tidak mengajarkannya, dan membiarkan perkara (agama Islam) terbengkalai tanpa ada yang mengurusi. … “. Masih menurut Beliau: Penundaan pemakaman jenazah Rasulullah saw menunjukkan wajibnya KHILAFAH. (Tharh At-Tatsriyb fiy Syarh At-Taqriyb, juz 8, hlm 75)
  4. 4. Hadits Rasulullah saw dalam Musnad Ahmad bin Hambal, nomor hadits 22273, bahwa masa kekhilafahan umat Islam hanya 30 tahun, setelah itu tidak ada lagi khilafah.
  5. 5. Al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari (Ulama Sunni), menjelaskan dalam kitabnya, Muthabaqat al- Ikhtira’at al-’Ashriyyah limaa Akhbara bihi Sayyid al-Bariyyah, hal. 43, bahwa Nabi saw telah mengabarkan, “Umat Islam akan dipimpin oleh banyak penguasa (tanpa penguasa tunggal).”
  6. 6. 1. Menurut Jumhur ‘Ulama Sunni umat Islam dilarang mempunyai lebih dari satu pemimpin. Imam Abu Zakariyya An-Nawawi (Ulama Sunni): “Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh mengangkat dua khalifah dalam satu masa, baik wilayah Negara Islam luas maupun tidak.” Syarh An-Nawawî ‘alâ Muslim, juz 12 hal 321.
  7. 7. Imam Ibnu Katsir (Ulama Sunni): “Dan adapun pengangkatan dua imam atau lebih di muka bumi, maka hal itu tidak boleh, berdasarkan Sabda Nabi saw: “Barang siapa yang mendatangi kalian sementara urusan kalian terkumpul (pada satu khalifah) dia ingin memecahbelah kalian maka bunuhlah dia seketika bagaimanapun dia.” Yang demikian ini adalah pendapat jumhur Ulama, ...” Tafsîr Ibn Katsîr, juz 1 hlm 222.
  8. 8. Imam As-Sinqithi (Ulama Sunni): Menurut Jumhur ‘Ulama: Bahwasannya Imam yang agung (khalifah) tidak boleh berjumlah lebih dari satu, bahkan wajib berjumlah satu, …” Adhwâ’ Al-Bayân fî Îdhâh Al- Qur’ân bi Al-Qur’ân, juz 1 hlm 83
  9. 9. Sementara hadits Rasulullah saw tentang akan berbilangnya pemimpin umat Islam adalah berbentuk ikhbaar (pemberitaan) bukan berbentuk tasyrii’ (penetapan hukum syara’). Sama halnya dengan pemberitaan Beliau akan banyaknya perilaku Zina dan Riba di akhir zaman, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dua dosa besar tersebut nantinya dimaklumi sebagai sesuatu yang boleh. Jadi, apabila terjadi khalifah atau pemimpin umat Islam berjumlah lebih dari satu maka itu adalah kemungkaran, merubahnya dengan cara yang baik adalah kewajiban kaum muslim. Dan aktivitas izaalatu- l-munkaraat (menghilangkan kemungkaran) bukanlah amalan yang sia-sia. Apalagi, pemimpin-pemimpin yang ada saat ini bukan pemimpin umat Islam, mereka sendiri tidak ingin disebut sebagai pemimpin umat Islam, dan negaranya juga tidak mau disebut sebagai negara Islam. Bahkan mereka berusaha mencegah negara mereka untuk menjadi negara Islam.
  10. 10. 2. Selain memberitakan akan berakhirnya kepemimpinan tunggal umat Islam, Rasulullah saw juga memberitakan akan datangnya kembali kekhilafahan atau kepemimpinan tunggal umat Islam (Musnad Ahmad nomor hadits 18596)
  11. 11. Al-Imam al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin al-Husain al- Baihaqi, berkata dalam kitabnya, Dalail al-Nubuwwah wa Ma’rifat Ahwal Shahib al-Syari’ah, juz 6, hal. 491, bahwa maksud khilafah al- nubuwwah dalam hadits Hudzaifah adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
  12. 12. Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani al-Asy’ari al- Syafi’i, ulama Sunni, kakek Syaikh Taqiyyudin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, menyebutkan dalam kitabnya, Hujjatullah ‘ala al-’Alamin fi Mu’jizat Sayyid al- Mursalin, hal. 527, bahwa yang dimaksud dengan khilafah al- nubuwwah dalam hadits Hudzaifah tersebut adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz.
  13. 13. 1. Bahwa khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah yang disebut hadits Ahmad adalah masa Khalifah Umar bin Abdil ‘Aziz ra. adalah merupakan asumsi seorang perawi bernama Habib bin Salim rahimahullaah, dia tidak termasuk hadits Rasulullah saw. 2. Habib bin Salim rahimahullaah sendiri tidak meyakini akan asumsinya tersebut, beliau hanya mengatakan “berharap”: 3. Kalaupun ada yang berpendapat demikian tentunya tidak berupa keyakinan yang kemudian menafikan kemungkinan-kemungkinan lainnya, karena landasannya sebatas asumsi seorang perawi yang beliau sendiri bahkan tidak sampai meyakininya.
  14. 14. 4. Menurut hadits Muslim Nomor 2913: Akan ada kembali kekhilafahan, (a)Hadits menyebutkan munculnya khalifah di akhir umat Nabi Muhammad saw., (b)Keterangan dua orang perawinya Abu Nadhrah dan Abu Al-’Alaa’ saat ditanya oleh Al-Jurairiy, Jelas yang dimaksud bukan kalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz,. Mengatakan tidak akan ada lagi khalifah berarti mengingkari hadits shahih ini.
  15. 15. 5. Masih dari sumber yang sama, yaitu hadits nomor 2914: akan muncul kembali Khalifah di Akhir Zaman. Tentunya bukan kalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, karena beliau hidup dekat dengan masa kenabian dan bukan di akhir zaman. Mengatakan tidak akan ada lagi khalifah berarti mengingkari hadits shahih ini.
  16. 16. Abu Ya’la Al- Mushiliy meriwayatkan hadits dari jalan Abu Hurairah, bahwa khilafah di akhir zaman nanti adalah khilafahnya Al- Imam Al-Mahdi. Itupun masanya sangat singkat, yaitu tujuh tahun saja. Musnad Abu Ya’la, juz 12 hlm 19.
  17. 17. Al-Mahdi memang khalifah di akhir zaman, tapi Beliau bukan satu- satunya. At-Thabaraniy meriwayatkan hadits shahih bahwa Beliau nanti dibai’at menjadi khalifah setelah khalifah sebelumnya wafat, itu tandanya sebelum beliau menjadi khalifah sudah berlangsung masa kekhilafahan. Pertanyaannya, darimana datangnya kekhilafahan tersebut? Apakah muncul dengan sendirinya? Majma’ Az-Zawaid, juz 7 hlm 433
  18. 18. Al-Imam Hujjatul Islam al-Ghazali berkata dalam al- Iqtishad fi al- I’tiqad, hal. 200, “Kajian tentang khilafah tidak penting, dan lebih selamat tidak mengkajinya.”
  19. 19. Syaikh Taqiyyuddin al- Nabhani berkata dalam kitab al- Syakhshiyyat al- Islamiyyah, juz 2, hal. 19 bahwa “Bengpangku tangan dari menegakkan khilafah termasuk dosa terbesar, dan menghentikan eksistensi Islam dalam ranah kehidupan. Semua kaum Muslim dosa besar karenanya.”
  20. 20. 1. Al-Imam Al-Ghazali (Ulama Sunni) berkata: “menghindari pembahasan imamah lebih selamat daripada membahasnya, iya kalau sudah benar (pemahamannya), bagaimana jika ternyata salah?”. Beliau kemudian membagi pembahasan imamah menjadi tiga topik: • Kewajiban mengangkat imam  untuk membantah kalangan yang mengingkari wajibnya imamah • Apakah Imam telah ditetapkan oleh nash  untuk membantah pendapat sebagaimana yang dianut Rafidhah bahwa Imam Ali bin Abi Thalib ra telah ditetapkan sebagai Imam berdasarkan hadits Ghadir Khum • Akidah Ahlus Sunnah terhadap Shahabat Nabi dan Khulafa Rasyidun  untuk membantah kalangan yang mengkultuskan mereka dan juga kalangan yang mengingkari kekhalifahan mereka. (Al-Iqtishaad fiy Al-I’tiqaad, hal. 200-207)
  21. 21. Berikut juga keterangan Imam Hasan Al-’Aththar (Ulama Sunni) dalam Hasyiyah beliau atas Jam’u-l-jawaami’, juz 2 hlm 487:
  22. 22. 2. Yang menyatakan Imamah adalah kewajiban yang Sangat Besar bukan hanya Hizbut Tahrir. Muhammad bin Ahmad As-Safarini Al-Hambali (Ulama Sunni), dalam Lawâmi’ Al-Anwâr, juz 2 hlm 419:
  23. 23. Ibnu Hajar Al-Haitamiy (Ulama Sunni), dalam Ash-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hlm 10:
  24. 24. Syamsuddin Ar-Ramli (Ulama Sunni), dalam Ghâyah Al-Bayân Syarhu Zubad Ibn Ruslân, hlm 23:
  25. 25. Muhammad Al-Hashkifi Al-Hanafi (Ulama Sunni), dalam Ad-Durr Al-Mukhtaar syarh Tanwiyr Al-Abshaar, hlm 75:
  26. 26. “Ekstrem”: Hanzhalah bin Ar-Rabiy’ ra. (Sahabat sekaligus Juru Tulis Rasulullah saw) menyebutkan bahwa dengan tanpa Khilafah Umat Islam bisa hina dan sesat seperti umat Yahudi dan Nasrani! Taariykhu-th- Thabariy, hlm 776
  27. 27. “Ekstrem”: ‘Umar bin Khaththab ra. memerintahkan untuk membunuh anggota syura’ dari kalangan sahabat pilihan jika menghambat proses pemilihan khalifah, dan para sahabat lainnya tidak ada yang menolak bertanda mereka setuju. Al-Kaamil fi-t- taariykh, juz 2 hlm 461
  28. 28. “Ekstrem”: Umar bin Khaththab ra. menyebutkan bahwa dengan meninggalkan Had Rajam saja umat bisa sesat! Dan tanpa Khilafah banyak hudud ditinggalkan. Shahiyh Al- Bukhariy, hadits nomor 6829
  29. 29. “Ekstrem”: Imam Taqyuddin Abu Bakr Al- Hishniy (Ulama Sunni) menyebutkan bahwa menurut para ulama istighfar yang disertai dengan diantaranya keridhaan tidak menerapkan hudud adalah terhitung sebagai dosa! Kifayatu-l- Akhyaar, hlm 242
  30. 30. Al-Imam Fakhruddin al-Razi, berkata dalam tafsirnya, al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib, juz 13, hal. 204, bahwa tampilnya seorang pemimpin yang zalim adalah akibat kezaliman yang dilakukan oleh rakyat.
  31. 31. Hizbut Tahrir merubah sistem dengan berdakwah di tengah-tengah dan bersama umat (masyarakat) sampai mereka menjadikan Islam sebagai pandangan hidupnya, sehingga akhirnya mereka sendirilah yang menuntut penerapan Syari’at dan Khilafah.
  32. 32. Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi (Ulama Sunni) berkata dalam al-’Aqidah al- Thahawiyyah, “bahwa Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak memiliki konsep menggulingkan pemerintahan yang sah, meskipun mereka telah berbuat kezaliman.”
  33. 33. Yang haram digulingkan adalah Pemerintahan Islam. Menurut Ibnu Katsir (Ulama Sunni) bahwa jika pemerintah Islam mengganti atau mencampur syari’at Islam dengan syari’at lain, maka wajib untuk dilengserkan. Tafsiyr Al-Qur-aan Al-’Azhiym (tafsir Ibn Katsir) juz 3 hlm 131.
  34. 34. Adapun merubah pemerintahan yang tidak Islami, maka dengan mencontoh perjalanan dakwah Rasulullah saw saat periode Mekah, yaitu dengan dakwah tanpa kekerasan.
  35. 35. Syaikh Taqiyyuddin al- Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, dengan mengadopsi dari Mu’tazilah, menegaskan dalam kitabnya, al- Syakhshiyyat al- Islamiyyah, juz 1, hal. 71 dan 72, bahwa perbuatan manusia tidak ada kaitannya dengan keputusan Allah.
  36. 36. Al-Imam al-Hafizh al-Kabir Abu Bakar Ahmad bin al- Husain al-Baihaqi, w. 458 H, berkata dalam kitabnya, al- I’tiqad ‘ala Sadzhab al-Salaf Ahl al- Sunnah wa al- Jama’ah, hal. 53- 54, bahwa semua perbuatan manusia adalah ciptaan Allah dan terjadi sesuai dengan keputusan Allah.
  37. 37. Ungkapan bahwa perbuatan manusia yang bersifat ikhtiyariy tidak termasuk Qadha’, bukan berarti menganggapnya sebagai ciptaan manusia. Karena: 1.Yang dimaksud Qadha’ di situ adalah perbuatan-perbuatan yang terjadi di luar kehendak manusia yang telah ditetapkan oleh Allah swt. (Asy- Syakhshiyyah Al- Islaamiyyah, juz 1 hlm 94)
  38. 38. 2. Perbuatan manusia yang bersifat pilihan adalah berupa intifaa’ (pemanfaatan) manusia atas khashyyat (sifat- sifat khusus) yang telah Allah swt tetapkan pada benda-benda. (Asy- Syakhshiyyah Al- Islaamiyyah, juz 1 hlm 96) Jadi Hizbut Tahrir tidak pernah mengatakan bahwa manusia bisa menciptakan perbuatannya
  39. 39. Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, berkata dalam al- Syakhshiyyat al- Islamiyyah, juz 1, hal. 73, bahwa “Ahlus Sunnah sama dengan Jabariyyah”.
  40. 40. 1. Yang dimaksud Ahlus Sunnah oleh Syaikh Taqyuddin An-Nabhaniy dalam pembahasan Qadha dan Qadar adalah Al-Asy’ariyyah 2. Dalam pembahasan Qadha dan Qadar pada hakikatnya pendapat keduanya (Ahlus Sunnah dan Jabariyyah) adalah sama, yaitu bahwa perbuatan manusia baik berupa ketaatan maupun kemaksiatan adalah ketetapan dan ciptaan Allah swt. Bedanya Asy’ariyyah mengenal apa yang dinamakan dengan Kasb Ikhtiyariy, yaitu hamba kuasa memilih perbuatannya. Namun meskipun demikian yang terjadi tetap apa yang telah ditetapkan Allah swt, baik dipilih maupun tidak. Karena suatu perbuatan akan terjadi manakala kuasa manusia sejalan dengan kuasa Allah swt.
  41. 41. 3. Yang menyatakan bahwa Asy’ariyyah memiliki kesamaan dengan Jabariyyah bukan hanya Syaikh Taqyuddin. Berikut Al-Imam Al-Ijiy (Ulama Sunni) dalam kitabnya Al-Mawaqif hlm 428
  42. 42. Juga Al-Imam Al-Jurjaniy (Ulama Sunni), dalam kitabnya At-Ta’riyfaat, hlm 66
  43. 43. Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, berkata dalam al- Syakhshiyyat al- Islamiyyah, juz 1, hal. 53, bahwa “Ta’wil pertama kali dilakukan oleh kalangan teolog, bukan ulama salaf”.
  44. 44. Al-Imam al-Syaukani (Ulama Syiah Zaidiyah), berkata dalam kitabnya Irsyad al-Fuhul, mengutip dari al- Imam al-Zarkasyi (Ulama Sunni) dalam al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, bahwa ta’wil terhadap nushush mutasyabihat dilakukan oleh ulama salaf.
  45. 45. Hizbut Tahrir tidak sedang mengkritik ta’wil, melainkan mengkritik manhaj Kaum Mutakallimin yang menjadikan akal sebagai asas dalam menta’wil, bukan ayat Al- Qur’an. (Asy-Syakhshiyyah Al-Islaamiyyah, juz 1 hlm 55-56)
  46. 46. Taqiyyuddin al- Nabhani berkata dalam kitabnya, al- Syakhshiyyat al- Islamiyyah, juz 1, hal. 43, bahwa yang dimaksud, “Qadar dalam hadits Jibril adalah ilmu Allah”. Dengan demikian berarti al-Nabhani menisbatkan keburukan kepada Allah swt.
  47. 47. Syaikh Abdullah al-Harari (Ulama Sunni), berkata dalam kitabnya, al-Syarh al-Qawim ‘ala al-Shirath al- Mustaqim, hal. 228, bahwa “Maksud Qadar dalam hadits Jibril adalah al-Maqdur (sesuatu yang diputuskan Allah) atau Makhluk, yang boleh dilabel sifa baik dan buruk.”
  48. 48. Syaikh Nawawi Banten, berkata dalam kitabnya Kasyifat al- Saja Syarh Safinah al- Naja, hal. 12, “Tidak boleh menisbatkan kejelekan kepada Allah.”
  49. 49. Maksud dari iman kepada Qada’ dan Qadar baik dan buruknya dari Allah swt: Mengimani bahwa perbuatan-perbuatan yang terjadi oleh manusia atau atasnya yang bersifat “memaksa” dan khashiyyat yang ada pada benda-benda adalah dari Allah swt bukan dari Manusia, dan tidak ada peran manusia di dalamnya.  al- Maqdur (sesuatu yang diputuskan Allah). Jadi tidak ada penisbatan kejelekan kepada Allah swt tersebut. (Asy- Syakhshiyyah Al- Islaamiyyah, juz 1 hlm 94)
  50. 50. Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani berkata dalam kitab al- Syakhshiyyat al- Islamiyyah, juz 1, hal. 132, bahwa “Para nabi dan rasul itu ma’shum setelah menjadi nabi dan rasul. Sedangkan sebelum menjadi nabi dan rasul, mereka tidak ma’shum.”
  51. 51. Al-Imam Muhammad al- Dasuqi (Ulama Sunni), berkata dalam kitabnya, Hasyiyah ‘ala Ummi al-Barahin, hal. 163, “Para nabi itu terjaga dari dosa besar dan kecil, sengaja dan tidak sengaja, sebelum dan sesudah menjadi nabi.”
  52. 52. Imam Al-Amidiy (Ulama Sunni): menurut Qadhi Abu Bakar Ibnu Al-’Arabiy (Ulama Sunni) dan jumhur ulama madzhab kami (Syafi’iyyah), serta banyak dari kalangan mu’tazilah, bahwa para nabi memungkinkan untuk bermaksiat sebelum kenabiannya, baik dosa besar maupun kecil, bahkan boleh kerasulan orang yang sebelumnya kafir. Al- Ihkaam fiy Ushuuli-l- Ahkaam, juz 1 hlm 227
  53. 53. Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani berkata dalam kitab al-Tafkir, hal. 149 bahwa “Siapa saja mampu berijtihad.”
  54. 54. Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani, Ulama Sunni dan kakek pendidi Hizbut Tahrir berkata dalam kitabnya Hujjatullah ‘ala al-’Alamin, hal. 773, bahwa “Ijtihad telah terputus sejak ratusan tahun yang lalu.”
  55. 55. Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani, berkata dalam kitabnya Hujjatullah ‘ala al-’Alamin, hal. 775, bahwa “Yang mengaku mujtahid sekarang ini tidak punya akal, dan tidak tahu malu.”
  56. 56. Az-Zarkasyi (Ulama Sunni): Nukilan bahwa ada kesepakatan atas sudah tertutupnya pintu ijtihad adalah hal aneh, karena perkara ini termasuk khilafiyyah. Ulama Hanabilah berpendapat: tidak boleh ada suatu masa yang kosong dari keberadaan seorang mujtahid. Pendapat ini ditegaskan oleh Abu Ishaq dan Az-Zubairiy. Ibnu Daqiq: ini pendapat pilihan kami! Irsyaadu-l-fuhuwl, hlm 1037
  57. 57. Yang menyatakan bahwa ijtihad lebih mudah dilakukan di masa sekarang bukan hanya Syaikh Taqyuddin An- Nabhani. Asy-Syaukani berkata ijtihad bagi kalangan mutaakhkhirun lebih gampang dan mudah daripada ijtihad bagi kalangan mutaqaddimun. Irsyaadu-l-Fuhuwl, hlm 1039
  58. 58. Syaikh Taqiyyuddin al- Nabhani, pendidi Hizbut Tahrir, berkata dalam kitab al-Nizham al- Ijtima’i fi al-Islam, hal. 57 bahwa “laki-laki boleh menyalami perempuan dan sebaliknya tanpa tabir antara keduanya.”
  59. 59. Membolehkan bersalaman dengan wanita ajnabiyyah selama tidak khawatir menimbulkan fitnah bukanlah pendapat asing, bahkan dia adalah pendapat Mayoritas Ulama di luar Syafi’iyyah. Lihat keterangan Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy (Ulama Sunni) dalam Al-Fiqhu-l-Islaamiy wa Adillatuhu, juz 3 hlm 567.
  60. 60. Naskah asli fatwa Hizbut Tahrir hal. 226 yang membolehkan ciuman laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan bukan sumai istri, asal tidak bermaksud berzina.
  61. 61. Bahwa Hizbut Tahrir membolehkan berciuman dengan wanita ajnabiyyah adalah anggapan keliru yang bertentangan dengan fakta, dan bahwa naskah fatwa tersebut sebagai produk yang diadopsi Hizb juga tidak benar. An-Nizham Al- Ijtimaa’iy fiy –l- Islaam, hlm 57.
  62. 62. Naskah asli fatwa Hizbut Tahrir hal. 279, yang membolehkan menonton filem mesum.
  63. 63. Bahwa Hizbut Tahrir mengeluarkan fatwa membolehkan nonton film porno adalah tuduhan keji. Menurut Syaikh Taqyuddin An- Nabhaniy gambar porno (baik yang bergerak maupun tidak) adalah gambar terlarang karena bertentangan dengan peradaban islam. Nizhaam Al- Islaam, hlm 68.
  64. 64. Amir Hizbut Tahrir yang sekarang (Syaikh ‘Atha’ Abu Rusythah) saat ditanya tentang hukum melihat film porno, beliau menegaskan bahwa melihat film porno hukumnya haram karena bisa menjadi wasilah kepada keharaman. Ajwibah As-ilah: http://www.hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/HTAmeer/QAsingle/1543/ (16/02/12) :‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬ :‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬ :‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬ :‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬‫ل‬
  65. 65. Naskah asli fatwa Hizbut Tahrir hal. 78, yang membolehkan bekerja menjadi agen negara kafir.
  66. 66. Menjadi agen (kaki-tangan/mata-mata) negara kafir menurut Hizbut Tahrir adalah haram, dari sisi memberi jalan kepada kaum kafir untuk menang, dan keharaman aktivitas memata-matai kaum muslim.

×