Media Umat edisi 114

2,683 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,683
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
32
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Media Umat edisi 114

  1. 1. Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Harga Rp. 6000,- Luar jawa Rp. 7500,- www.mediaumat.com Sosok: Kenneth “Abdul Haleem” George Watson Aktivis Hizbut Tahrir Inggris Awalnya Salah Sangka, Lalu Jatuh Cinta Ustadz Menjawab Hukum Mengadopsi Anak Media Daerah Imam Masjid itu Ditembak Densus 88 Mancanegara Air Mata Arnoud Van Doorn Di Tanah Suci Muslimah Agar Anak Tak Jadi Korban Pelecehan
  2. 2. 2 Salam Media Pembaca Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Salam Redaksi Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu Salam Perjuangan! Alhamdulillah, di bulan suci Dzulhijjah 1434 H ini kami kembali bisa hadir di ruang baca Anda dengan menyajikan berbagai informasi yang khas. Semoga Anda dalam lindungan Allah SWT dan tetap istiqamah menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan-Nya. Pembaca yang dirahmati Allah, musim haji telah berlalu. Rombongan jamaah haji telah kembali berangsur-angsur dari Tanah Suci. Semoga mereka semua menjadi haji mabrur. Amin. Tentu kita berharap ada semangat baru yang dibawa oleh jamaah haji setelah mereka hampir sebulan lamanya berada di dua kota suci. Semangat untuk taat kepada Allah tanpa ada keberatan hati sedikitpun. Bukankah mereka dalam beberapa saat diuji oleh Allah untuk melepaskan hal-hal terkait duniawi. Jabatan dan kekayaan sementara ditanggalkan. Semua orang berkedudukan sama di hadapan Allah di Padang Arafah. Dan terbukti mereka bisa. Ketaatan mereka inilah yang kita tunggu. Jangan sampai para haji justru pulang membawa masa lalu kelam sebelum haji ditunaikan. Aktivitas melempar jumrah seharusnya menjadikan para haji membuang jauh-jauh hawa nafsunya yang mengarahkan kepada ketidaktaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pembaca yang dirahmati Allah, ketika orang berkorban dengan kambing dan sapi saat Idul Adha, ternyata ada pula orang yang tega mengorbankan orang lain demi nafsu setannya. Pembunuhan kini merajalela. Negeri ini menjadi tak aman. Kenapa di negeri yang katanya berbudaya luhur ini aksi kejahatan kelas berat ini justru muncul? Apa yang salah? Mengapa negara tak mampu melindungan warga negaranya? Inilah yang kami kupas dalam Media Utama kali ini. Selain itu, tak ketinggalan kami mengangkat tema soal dinasti politik di rubrik Fokus. Ya, ini adalah fenomena yang sebenarnya sudah diketahui lama tapi baru berani disuarakan sekarang setelah dinasti politik Ratu Atut (Gubernur Prov Banten) terlibat suap terhadap Ketua MK Akil Muchtar. Pembahasan tak kalah menarik bisa Anda dapatkan di rubrik lainnya. Ada soal adopsi anak di rubrik Ustadz Menjawab, bagaimana pandangan Kristen terhadap Nabi Ya'qub di Kristologi, dan fenomena Islam di ibukota Rusia pada rubrik Mancanegara. Jangan lewatkan pula pembahasan tentang APBN dalam negara khilafah di rubrik Siyasah. Tak lupa kami terus mengajak Anda untuk menjadi penyambung lidah perjuangan syariah dan khilafah ke tengah-tengah umat. Mari terus bahu membahu mencerdaskan umat. Tabloid ini bisa menjadi wasilah untuk itu. Maka dari itu, ajak kaum Muslimin membaca tabloid ini. Syukur-syukur kalau mau berlangganan. Akhirnya, semoga sajian kami bisa memperluas cakrawala berpikir Anda. Selamat membaca! Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu JELAJAHI www.mediaumat.com Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) menggelar Roundtable Discussion Tokoh Perempuan “Melawan Imperialisme AS terhadap Perempuan di Asia Tenggara melalui KTT APEC dan Rezim Pasar Bebas” di Gren Alia Cikini Jakarta, Kamis (10/10). Media Pembaca Tegakkan Khilafah Syariat Islam akan membawa rahmat kejayaan. Suatu umat yang jaya akan tercipta apabila disertai dengan sistem yang baik dan kepemimpinan yang amanah. Keduanya harus benar-benar ada, apabila salah satunya tidak ada, kemaslahatan umat tidak akan terjadi. Secara sistem, kita harus kembali kepada syariat Islam, karena dengan syariat Islam yang bersumber dari Allah SWT, kita akan mendapat rahmat dari Allah SWT yang Maha Sempurna. Pemimpin yang baik, adalah pemimpin yang mau tunduk kepada sistem yang baik dan bisa menegakkan syariat Islam. Oleh karena itu di era demokrasi sekarang ini, di mana umat hidup dengan keterpurukan disegala bidang, miskin, lemah, rendah diri, dan bodoh, marilah kita kembali kepada sistem yang penuh rahmat dan keberkahan, di dalamnya umat diatur oleh pemimpin yang amanah dengan syariat Islam yaitu khilafah. Hartati. Cembul Katapang-Kab Bandung. +6289649279xxx Penguatan bagi Pejuang Dakwah Dakwah adalah pilihan bukan pelarian. Dakwah adalah perjuangan bukan profesi. Dakwah adalah menyeru bukan kompromi atau toleransi buta. Dakwah adalah berpihak pada yang haq bukan yang bathil. Dakwah adalah memberi peringatan dan kabar gembira bukan hiburan yang bikin orang tertawa. Dakwah adalah kontinyuitas bukan sesaat. Dakwah adalah ikhlas, sabar dan istiqamah bukan tergesa-gesa dan cepat putus asa, dakwah butuh keikhlasan, pengorbanan, perjuangan untuk tegaknya syariah dan khilafah. Insya Allah. Muh.Erwin. PangkepSulsel. +6281355613xxx Zaman Mendekati Akhir Ya Rabb, Engkau telah memberitahu kami tentang peristiwa akhir zaman melalui lisan nabiMu, bahwa di akhir zaman rumah- rumah setan (night club, diskotik,bar dll) penuh ramai, sementara rumah-rumahMu (masjid, majelis taklim, majelis dzikir dll) dibiarkan lengang. Perempuan-perempuan dijadikan hiasan oleh tangan - tangan durjana. Ya Allah, sekarang semuanya jadi kenyataan. Berarti sekarang zaman sudah mendekati akhir. Wahai sahabat, apa yang sudah kita persiapkan untuk mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan Allah, sementara khilafah belum tegak di muka bumi. Umi Fila. Tangerang. +6287875171xxx Demokrasi hanya Ilusi Pemerintah melanggar demokrasi yang hanya merupakan ilusi. Katanya demokrasi menempatkan kebijakan ada pada rakyat atas nama suara yang terbanyak, tapi mengapa pada saat pemerintah mengeluarkan kebijakan seperti menaikkan harga BBM lalu kemudian mayoritas rakyat menolak kenaikan harga BBM namun tidak didengar oleh penguasa di negeri ini? Ini berarti suara mayoritas rakyat tidak lagi didengarkan oleh penguasa, tapi penguasa di negeri ini lebih mendengar dan berpihak kepada penguasa imperialis AS dari pada rakyatnya sendiri. Saatnya kita cmpakkan demokrasi, tegakkan syariah dan khilafah. Afdhal. Makassar-Sulsel. +6289699627xxx Dalih Demokrasi Allah tidak selalu memberikan apa yang hambaNya minta, tetapi Allah senantiasa mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Masalahnya, kebanyakan manusia tidak pernah mau meyakini hal itu. Mereka menilai apa yang terbaik bagi mereka adalah apa-apa yang dirasa baik dan mereka senangi atas dasar manfaat terhadap nafsu mereka. Inilah yang umumnya terjadi kepada penentang syariat Islam, mereka beranggapan bahwa syariat Islam tidak layak diterapkan di tengah-tengah kehidupan SMS Media Pembaca/Komentar untuk MU: 08998206844. SMS Redaksi: 081288020261. Sertakan Nama dan Asal Sertakan Nama dan Asal daerah. SMS Berlangganan: 0857 8013 7043 Penerbit: Pusat Kajian Islam dan Peradaban. Dewan Penasihat : KH Ma'ruf Amien, KH Nazri Adlani, KH Amrullah Ahmad, KH Syukron Makmun, KH Muhammad Arifin Ilham , KH Athian Ali M Dai, Achmad Michdan SH, H Azwir, KH dr Muhammad Utsman, H Hari Moekti, Ustadz Abu Bakar Baa'syir, AGH Sanusi Baco, Lc, KH DR Miftah Faridl, Dra Hj Nurdiati Akma M.Si, Dra Hj Nurni Akma, Prof Dr Ir Zoer’aini Djamal Irwan MS, KH Husin Naparin, Lc, MA. Penasihat Hukum: Achmad Michdan SH. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Farid Wadjdi. Pemimpin Perusahaan: Anwar Iman. Sidang Redaksi: Hafidz Abdurrahman, MR Kurnia, Harist Abu Ulya, Muhammad Ismail Yusanto, Rochmat S. Labib. Redaktur Pelaksana: Mujiyanto. Redaksi: W almaroky, Zulkifli, Joko Prasetyo, Iwan Setiawan, Zulia Ilmawati, Nanik Wijayati, Febrianti Abbasuni, Kholda. Kontributor Daerah: Rifan (Jatim), Fakhruddin (Babel), Apri Siswanto (Riau), Rikhwan Hadi (Sumbar), Kurdiyono & Ahmad Sudrajat (DIY), Eko (Sultra), Nazar Ali & Handani (Jabar), Bahrul Ulum (Sulsel), Abduh (Kalsel), Budianto Haris (Sumsel), Dani Umbara Lubis (Sumut), Dadan Hudaya (Banten) Desain dan Pracetak: Kholid Mawardi. Keuangan: Budi Darmawan . Marketing: Muhammad Ihsan. Sirkulasi: W Wahyudi. Iklan: Aris Rudito, M Rosyid Aziz. Alamat Redaksi: Jl. Prof. Soepomo No. 231, Jakarta Selatan 12790. Email: pembaca.tabloidmu@gmail.com. Iklan Pemasaran: Jl. Prof. Soepomo No. 231, Jakarta Selatan 12790. Email Iklan: iklan.tabloidmu@gmail.com . Email Marketing: marketing.tabloidmu@gmail.com Hunting Pemasaran: 085711044000, sms: 089650202478. Hunting Iklan: 085780137043. Rekening: Bank Muamalat No Rek 9064150699 a.n Budi Darmawan.
  3. 3. Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Editorial 3 mereka dengan berbagai dalih padahal alasan sebenarnya adalah penerapan syariat Islam yang akan menjadikan manusia sesuai dengan fitrahnya mereka rasa akan mengekang, membelenggu dan membatasi upaya mereka dalam memenuhi hawa nafsunya. Di sisi lain, demokrasi mereka yakini sebagai sistem yang tepat untuk diterapkan sebagai pengatur kehidupan, dalih yang mereka kemukakan; sesuai dengan HAM dan menjamin kebebasan, padahal untuk menjaga eksistensinya para penjaga demokrasi yang merupakan kepanjangan tangan kaum kapitalis, telah menjadi pelanggar HAM dan merenggut kebebasan jutaan kaum Muslim di dunia. Itulah salah satu karakter penganut sistem demokrasi yang hipokrit, munafik! Ari Laros. Sidoarjo-Jatim. +6285790809xxx Ada Salah dengan Hukum Belum selesai awak media memberitakan kasus dugaan praktik suap dalam fit and proper test calon hakim agung di Komisi III DPR Muncul lagi Kasus yang menimpa di lembaga Mahkamah Konstitusi (MK) yang melibatkan salah satu Ketua MK. Kasus-kasus ini tak ada akhirnya menimpa bangsa ini yang bernama Indonesia. Jika kita telusuri lebih jauh ada yang salah rasanya dengan penerapan hukum di negara ini. Kita terlalu bangga dengan hukum demokrasi. Padahal, inilah yang menjadi biang kerok sehingga membuat orang tidak beriman dan tidak ta'at pada sang Khaliq. Saatnya sekarang kita membuang demokrasi di bumi ini dengan menjadikan syariah dan khilafah salah satu kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. SAB. Pangkep-Sulsel. +6281342147xxx Komentar untukMU Tulisan Bagus Assalamualaikum. Tulisan Farid Wajdi tentang Jokowi "asik banget", membuat inget Abdurrahman Wahid jadi Presiden, al Baqarah 120 lenyap. Mega wakil. Abdurrahman lengser, Mega jadi Presiden, "laki-laki adalah pemimpin wanita", gugur, tatanan berubah, syaf wanita di istiqlal pun berubah, sejajar. Jokowi nyalon Presiden. Otomatis Ahok jadi Gubernur DKI. Maka al Maidah 51 sampai 57 gugur. Dengan seenaknya dhewe Ahok atur imam masjid dan seluruh kegiatan-kegiatan Islam. Nah lo!!! Obama datang dengan senyum kemenangan.Wassalam. Buya Amir. Desa Selawi-Lahat. +6285282364xxx Tidak Memberikan Solusi Kenapa dalam rubrik bisnis syariah MU edisi 111 yang berjudul "Harta Haram, Rugi...!" tidak memberikan solusi terhadap harta haram yang telanjur didapat, hanya ada 4 opsi perlakuan yang kesemuanya haram. Mana solusinya? Fadholi. Pasuruan. +6285645080xxx Cover Depan MU Assalamualaikum. Yang terhormat Redaksi Tabloid Media Umat, edisi no.113 11 Oktober 2013 dengan cover depan warna hijau sangat indah di pandang mata dan kalau bisa setiap terbit tetap warna tersebut. Juga kalau bisa garis putih di atas huruf M dihapus/dihilangkan, karena sedikit menyamarkan/menutup kata. M. Natsir Nashrullah. Ciomas. Bogor. +6281511670xxx Wassalamualaikum wr wb. Terima kasih atas kritikan dan masukannya. Kritikan insyaallah akan langsung ditanggapi oleh pengasuh rubrik. Redaksi Soal Jawab bersama Amir Hizbut Tahrir Ata Bin Khalil Abu Al-Rashtah klik www.hizbut-tahrir.or.id Visi Kenegaraan dan Janji Kemenangan S alah satu perkara penting yang harus dimiliki para pemimpin bangsa demikian juga rakyatnya adalah visi kenegaraan. Inilah yang justru hilang dari bangsa kita sehingga membuat bangsa ini hilang arah atau sekadar menjadi pembebek negara penjajah. Yang lebih parah lagi, mereka merelakan diri untuk dijajah oleh negara lain. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin kita bangkit? Visi kenegaraan ini merupakan perkara penting di dalam Islam. Islam telah menggariskan dengan sangat jelas negara Islam adalah negara adi daya yang akan memimpin dunia dan memberikan kebaikan kepada dunia. Negara ini dibangun dengan asas akidah Islam, yang menjadikan syariah Islam sebagai hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dalam Alquran surat Ali Imran: 110, Allah SWT menyatakan dengan tegas bahwa umat Islam merupakan umat yang terbaik (kuntum khaira ummah) dengan tugas yang jelas: menyeru kepada perkara yang ma'ruf (kebaikan), mencegah dari yang munkar (keburukan) dan beriman kepada Allah. Allah pun menjanjikan umat Islam akan menjadi pemimpin dunia sebagaimana firmannya dalam QS An Nuur: 55. Berkaitan dengan ayat ini Imam Ibnu Katsir, menyatakan, “Inilah janji dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW, bahwa Allah SWT akan menjadikan umat Nabi Muhammad SAW sebagai khulafâ' al-ardh; yakni pemimpin dan pelindung manusia. Dengan merekalah (para khalifah) akan terjadi perbaikan negeri dan seluruh hamba Allah akan tunduk kepada mereka.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, VI/77). Janji agung ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih pada generasi Sahabat belaka, namun berlaku juga sepanjang masa bagi orang-orang Mukmin yang beramal shalih. Imam asySyaukani berkata, “Inilah janji dari Allah SWT kepada orang yang beriman kepada-Nya dan melaksanakan amal shalih tentang kekhilafahan bagi mereka di muka bumi, sebagaimana Allah pernah mengangkat sebagai penguasa orang-orang sebelum mereka. Inilah janji yang berlaku umum bagi seluruh generasi umat. Ada yang menyatakan bahwa janji ini hanya berlaku bagi Sahabat saja. Sesungguhnya, pendapat semacam ini tidak memiliki dasar sama sekali. Alasannya, iman dan amal shalih tidak hanya khusus ada pada Sahabat saja, namun bisa saja dipenuhi oleh setiap generasi dari umat ini.” (Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, V/241). Ayat di atas dengan tegas menunjukkan umat Islam dengan negara Islam yaitu Khilafah Islam akan menjadi umat terbaik, pemimpin dan pelindung umat manusia (khulafâ' al-ardh), yang akan memperbaiki dunia. Visi kenegaraan inilah yang memberikan asa (harapan) dan tekad yang kuat kepada umat Islam terdahulu untuk mewujudkannya. Ketika Rasulullah SAW mengabarkan bahwa umat Islam akan menaklukkan Konstantinopel, kota dari sebuah negara adi daya dunia saat itu dalam hadistnya : “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan, dan sebaikbaik amir adalah amirnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu” (HR Ahmad), umat Islam dan para khalifah berusaha keras untuk mewujudkannya. Meskipun hadist ini adalah khabar, di dalamnya mengandung makna amal. Maka diberangkatkanlah sejumlah pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel hingga Allah memuliakan Muhammad al-Fatih dengan penaklukan itu. Penting dicatat, visi kenegaraan sebagai negara adi daya ini akan terwujud melalui tegaknya negara khilafah yang berlandaskan akidah Islam. Negara khilafah disegani oleh kawan dan ditakuti oleh musuh. Negara itu akan memberikan kebaikan kepada seluruh umat manusia dan memberikan sumbangan tak ternilai bagi peradaban dunia. Keberadaan negara khilafah secara jujur diakui kebesarannya oleh sejarawan Will Durant dalam The Story of Civilization: “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapapun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.” Visi sebagai umat yang terbaik, negara adi daya terbaik, ini harus terus menerus kita sampaikan kepada umat ini. Kita terbaik karena kita berpegang teguh pada Islam, satu-satunya agama yang benar. Kita terbaik karena kita memiliki Alquran dan Sunnah sebagai pedoman hidup yang dijamin kebenarannya. Perkara inilah yang terus menerus diajarkan oleh sang ulama, guru Muhammad al Fatih sang penakluk, al Alim al Kabir Aaq Syamsudin : “Engkau adalah pembebas Konstantinopel.” Kata-kata ini sangat membekas dalam diri al Fatih yang kemudian berhasil mewujudkannya. Lantas bagaimana sikap kita sekarang? Sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya, para Khulafa' ar-rasyiddin, kita tentu harus bersikap yang sama. Berusaha keras menegakkan kembali negara adi daya itu, yaitu negara Khilafah. Kalau Muhammad al Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, maka kita punya kesempatan untuk menaklukkan kota kedua yang dijanjikan oleh Rasulullah, yakni Roma. [] farid wadjdi
  4. 4. 4 Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Media Utama Pembunuhan Merajalela, Negara Tak Berdaya Jangankan melindungi masyarakat, aparat kepolisian sendiri tak luput dari peristiwa pembunuhan. K asus pembunuhan kian marak di negeri ini. Seolah nyawa diobral. Demikian mudah nyawa melayang dengan alasan yang kurang masuk akal. Pelaku pembunuhan pun berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan bawah hingga kalangan pejabat. Korbannya pun ada yang anak-anak, dewasa, hingga orang yang sudah tua. Bahkan pembunuhan terjadi di dalam satu keluarga. Motif yang melatarbelakanginya pun berbeda-beda. Ada yang motif ekonomi karena masalah utang piutang, tersinggung, hingga masalah asmara. Ada juga yang membunuh karena uang, menjadi algojo karena dibayar mahal. Fenomena itu menjelaskan bahwa saat ini orang tak lagi takut berbuat kejahatan, termasuk membunuh. Sedikit saja ada masalah, yang muncul adalah kekerasan. Kondisi ini seolah menda- pat pelaziman karena media massa mengeksploitasinya dengan membabi buta tanpa memperhitungkan dampak yang ditimbulkannya. Saking seringnya media menayangkan, sampai-sampai pembunuhan menjadi hal yang biasa. Budaya luhur yang digembor-gemborkan selama ini seolah telah lenyap. Kebanyakan bangsa ini telah menjadi pemberang. Sifat anarkhis menjadi adat kebiasaan baru. Negara sendiri tak berdaya dibuatnya. Jangankan melindungi masyarakat, aparat kepolisian sendiri tak luput dari peristiwa pembunuhan. Ada sebuah pergeseran nilai yang sangat mendasar dalam masyarakat. Norma-norma agama telah dipinggirkan. Sikap mengasihi sesama saudara —apalagi sesama Muslim— berganti menjadi sikap individualistik yang tak peduli lagi dengan nasib sesama. Secara individual, banyak orang telah kehilangan jati dirinya. Sifat kebinatangan, yang kuat memangsa yang lemah, malah mengedepan. Orang tak takut lagi dengan siapapun. Jangankan terhadap manusia, terhadap tuhan pun mereka tak takut. Bahkan ada yang lebih memilih uang daripada takut kepada tuhan. Situasi ini memang tidak berdiri sendiri. Secara sosio kultural, masyarakat sedang meng- alami transformasi ke arah kehidupan yang liberalistiksekuleristik. Nilai-nilai agama mulai dikikis secara sistemik. Manusia mulai diajari untuk menuruti hawa nafsunya sendiri. Dalam situasi seperti itu, hukum yang berfungsi menjaga masyarakat, ternyata tak bisa diharapkan. Keadilan ibarat jauh panggang dari api. Banyak faktor penyebabnya. Pertama, hukumnya sendiri penuh dengan celah yang bisa digunakan oleh orang untuk menghindar dari sanksi hukum, selain hukumnya sendiri merupakan produk penjajah Belanda. Kedua, pelaksana hukum pun sangat mudah dibeli. Tak heran jika kemudian banyak terpidana pembunuhan hanya mendapatkan hukuman ringan. Hukuman mati sangat jarang dilakukan, padahal ratusan orang sudah dijatuhi vonis mati. Bahkan yang aneh, terpidana mati pun masih bisa mendapat grasi dari presiden. Sistem hukum yang demikian terbukti tidak mampu menjerakan pelakunya dan mencegah masyarakat untuk melanggar hukum. Inilah fenomena umum dalam sistem hukum yang dibuat oleh manusia. Sistem Hukum Islam Apa yang terjadi dalam sistem yang ada sekarang sangat berbeda dengan sistem hukum Islam. Islam memiliki sistem hu- kum yang memiliki dua fungsi sekaligus yakni mencegah dan menebus. Mencegah dimaksudkan agar kejahatan yang sama tidak terulang atau ditiru oleh masyarakat lainnya. Sementara menebus dimaksudkan bahwa dengan pelaksanaan hukuman maka sanksi di akhirat sudah terhapus. Sanksi hukum dalam sistem hukum Islam sangat jelas dan memberi kepastian hukum. Bagi para pembunuh yang melakukan dengan sengaja maka tidak ada hukuman lain kecuali dibunuh. Tapi itu pun masih bisa batal dengan syarat wali korban memaafkan. Sebagai gantinya, pembunuh harus membayar diyat. Dan itu tak tanggung-tanggung yakni 100 ekor unta, 40 di antaranya harus bunting. Andai saja harga seekor unta Rp 10 juta, maka pembunuh harus membayar diyat sebesar Rp 1 milyar. Dengan sanksi yang demikian berat, pasti orang akan berpikir seribu kali untuk melakukan pembunuhan. Hanya saja sistem hukum Islam ini tidak akan bisa berjalan dalam sistem yang tidak islami seperti sekarang. Sistem hukum Islam memerlukan prasyarat yakni penerapan sistem Islam secara kaffah. Dan itu hanya ada dalam sistem khilafah. Penerapan hukum Islam dalam sejarah kaum Muslim terbukti mampu mencegah tindak pembunuhan sampai tingkat yang tidak terbayangkan sekarang. Pembunuhan sangat minim terjadi. Sebuah penelitian mengungkapkan, selama beberapa abad, hanya sekitar 200 orang yang terkena hukum mati. Mengapa itu bisa terjadi? Karena semua sistem berjalan secara islami. Sistem Islam mampu membentuk masyarakat yang takwa. Ketakwaan individu ini paling tidak menjadi benteng setiap orang untuk melanggar aturan Allah. Tata hubungan sosial pun berlandaskan kepada aturan main yang sangat jelas. Ini memungkinkan konflik sangat minim. Dan pengadilan bertindak sangat adil pada semua level masyarakat. Walhasil, untuk menuju kepada penerapan sistem hukum Islam mengharuskan penegakan khilafah. Tentu ini harus didahului dengan membangun masyarakat dengan mengembalikan prinsip hidup masyarakat dari prinsip kapitalisme-sekuler menjadi prinsip Islam. Dan itu butuh perjuangan. Di negara khilafah, keadilan akan menyinari bumi. Manusia akan dimanusiakan. Dan karenanya alam semesta pun akan merasakannya. Sehingga Allah akan menurunkan berkah dari langit dan bumi, mulai dari timur hingga barat. Di situlah Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam. [] mujiyanto
  5. 5. Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Obral Nyawa Hampir setiap hari pembunuhan terjadi di Indonesia dengan berbagai motif dan dilakukan oleh berbagai kalangan. I ndonesia katanya negara yang berbudaya, tapi anehnya nyawa diobral dengan murahnya. Hampir setiap hari televisi menayangkan bagaimana rakyat meregang nyawa karena pembunuhan. Yang terbaru, Ramot Tambunan (30) terkapar bersimbah darah di Jalan Pengilar, Medan Amplas, Sabtu (19/10) malam. Laki-laki ini tewas dengan sembilan tikaman, setelah sempat baku hantam dengan pelaku. Sebelum tewas, warga sekitar sempat melihat Ramot terlibat perkelahian dengan kakak beradik HH (23) dan RH (21) di persimpangan jalan tersebut. Alasannya pun ternyata sepele, karena merasa tidak mendapat upah sesuai harapan setelah diajak bekerja sebagai buruh bangunan di kawasan Jalan Pancing, Medan. "Aku digaji harian, padahal itu kerja borongan," kata RH yang ditangkap polisi. Sehari sebelumnya, warga Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat digegerkan dengan penemuan mayat mengapung di kali Ciherang. Diduga, pria itu korban pembunuhan. Saat ditemukan terdapat luka di bagian leher diduga akibat sayatan senjata tajam, bahkan kondisinya nyaris putus. Kamis (17/10), di Palu, Sulawesi Tengah, bocah kelas 4 SD ditemukan tak bernyawa di sebuah penginapan di kota tersebut. Bocah itu ditemukan di dalam bak kamar mandi dengan posisi tertelungkup. Hasil olah tempat kejadian perkara menyebutkan, korban mengalami luka-luka di bagian anus akibat kekerasan seksual. Polisi sudah mengetahui identitas pelakunya dan sedang melakukan pengejaran. Di Bekasi, Jawa Barat Yusup alias Ucup (19) dengan sadis membunuh kawannya sendiri Yosep Giantino Raflistian (17), warga Cibitung pada Ahad (7/10). Ucup yang ditangkap lima hari kemudian mengaku tega melakukan itu karena ingin memiliki motor milik siswa kelas 3 SMK itu. Sebelum membunuh, Ucup mengajak kawannya itu minum miras di tanah lapang. Pada saat santai itulah, pelaku memukul kepala korban dari belakang menggunakan botol hingga botol itu pecah. Botol yang sudah pecah itu kemudian ditikamkan ke leher korban. Di Medan, Mustafa Bakri (21) tewas dengan dua lubang di dada dan di lengan, Sabtu (12/10) malam. Anak polisi ini terkapar bersimbah darah setelah ditikam Reza Falipi (25), yang diketahui adalah abang pacarnya. Peristiwa bermula dari kedatangan korban ke rumah pacarnya berinisial AA (13) di Jalan Pendidikan, Medan Tembung. Mahasiswa Yayasan Harapan itu datang dengan berjalan kaki karena rumah keduanya tidak begitu jauh. Kedatangan Mustafa menyulut emosi keluarga AA. Rupanya, orang tua AA tidak senang dengan kedatangan korban. Pemuda itu lantas langsung diusir. Tak terima diperlakukan demikian, keduanya terlibat perkelahian. Korban ditikam dengan pisau. Di Langkat, masih di Sumatera Utara, satu keluarga dibunuh. Korban adalah Misman (43) serta dua anaknya; Dedek Febrianto (21) dan adiknya Tria Winanda Aulia (13). Mayat ketiganya ditemukan warga di Kecamatan Batang Serangan, Kamis (10/10). Polisi belum bisa menyimpulkan siapa pelaku pembunuhan terhadap satu keluarga ini, namun polisi sudah mencurigai beberapa orang. Pembunuhan sadis satu keluarga pun terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Dua bocah yang tidak mengerti apa-apa, Kanaya Nadin Aulia Zahrani Wiyana (1) dan Keanu Rifky Ontoseno Wiyono (2), dibunuh perampok gara-gara menangis ketika aksi perampok an terjadi K amis (10/10). AM dan AR, dua peram- pok itu memukul balita ini dengan linggis dan melukai pembantu rumah tangga. Keduanya kabur membawa perhiasan emas. Heboh Kasus pembunuhan paling menghebohkan adalah pembunuhan terhadap Holly Angela (37) di apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Pembunuhan berencana itu terjadi di lantai 9 Apartemen Kalibata City yang dihuni oleh Holly pada senin (30/9) lalu. Bersamaan dengan terbunuhnya Holly, salah satu pelaku pembunuhan El Rizki pun tewas karena terjatuh dari lantai sembilang apartemen itu saat akan melarikan diri. Berdasarkan pengungkapan polisi, pembunuhan dilakukan berlima. Abdul dan Surya yang ditangkap kemudian, mengaku dibantu tiga rekanya yaitu El Riski, R dan PG—dua yang terakhir masih buron. Dari pengembangan kasus dan olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi akhirnya menetapkan suami siri Holly yaitu Gatot Supiartono sebagai tersangka. Auditor utama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini diduga sebagai otak dari pembunuhan tersebut. Pejabat eselon 1 BPK itu menyuruh pembunuh bayaran dan memberi imbalan uang Rp 250 juta kepada pembunuh. Motif pembunuhan karena Gatot kesal Holly memintanya menceraikan istri pertamanya. Aksi pembunuhan yang tergolong sadis dilakukan AS (18) terhadap mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM) Nur Halima (20) di Makassar awal Oktober lalu. Pelaku menikam tubuh korban berkali-kali. Tidak hanya itu, pelaku juga memerkosa jasad korban. Sebelumnya publik digegerkan pembunuhan Sisca Yofie Agustus lalu. Pasalnya, pengakuan dari dua tersangka yakni Wawan dan Ade penuh kejanggalan. Pelaku ini mengaku tidak sengaja membunuh. Pengakuan tersangka, korban memberontak ketika tasnya akan dijambret sehingga bergelayut ke tubuh pelaku yang berboncengan sepeda motor. Lalu rambut Sisca masuk gir motor dan tewas terseret. Rekonstruksi yang dilakukan polisi pun tidak sinkron dengan fakta yang ditemukan para saksi. Ada tudingan, di balik pembunuhan itu adalah anggota Polda Jawa Barat Kompol Albertus Eko Budiarto (atau istrinya), dengan motif asmara cinta segitiga, dimana kompol Albertus dan Sisca terlibat hubungan asmara selama bertahun-tahun tanpa ada ujung yang pasti. Namun polisi menyatakan Albertus tak terkait.[] emje dari berbagai sumber Penjara Tak Membuat Jera N amanya Sutinah (50). Perawakannya tidak terlalu tinggi. Bicaranya polos. Tapi siapa sangka, ia adalah pembunuh berdarah dingin. Ia dengan tega membunuh suaminya, Amang (58), Kamis (3/10) di rumah kontrakannya di Jl Pahlawan, Kampung Cerewet, Durenjaya, Bekasi Timur. Ia memukul bagian belakang kepala suami yang menikahinya secara siri tersebut dan kemudian membungkus jasad korban dengan kasur. Wanita itu mengaku membunuh karena sakit hati. Kepada polisi, ia mengaku kerap disakiti dan suaminya sering selingkuh. Ini adalah kali kedua Sutinah membunuh suaminya. Tahun 2011 lalu, ia baru bebas dari lembaga pemasyarakatan Pondok Bambu, Jakarta Timur, sebagai terpidana kasus pembunuhan. Ia divonis 4 tahun penjara. Namun ia hanya menjalani kurungan selama dua tahun karena mendapatkan proses asimilasi. Kasus terbaru ini akan mengantarkan kembali Sutinah ke penjara. Tapi apakah penjara akan membuatnya jera?[] emje
  6. 6. 6 Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Media Utama Ketika Rasa Takut Sudah Tercabut Ini bukan persoalan budaya Nusantara yang pudar, tapi akibat nilai-nilai agama khususnya Islam yang makin dipinggirkan. L ebih dari 113 orang telah dijatuhi hukuman mati. Terbanyak dari mereka terlibat kasus pembunuhan, berjumlah 60 orang. Sisanya adalah kasus narkoba 58 orang dan terorisme dua orang. Anehnya, eksekusi terhadap mereka sampai sekarang tak dilakukan. Bahkan ada terpidana yang sudah menunggu eksekusi puluhan tahun lamanya. Bersamaan dengan itu, jumlah pembunuhan di Indonesia, berdasarkan data statistik, trennya meningkat dari tahun ke tahun. Di DKI Jakarta misalnya, tahun 2012 lalu tercatat terdapat 69 kasus pembunuhan. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 67 kasus. Yang mencengangkan di Jawa Timur, tahun 2012 hanya ada sekitar 69 kasus pembunuhan, tapi tahun 2012 lalu tercatat 1.357 kasus pembunuhan. Secara umum, tindakan para pembunuh itu umumnya tidak dibalas setimpal. Hampir sebagian besar para pembunuh itu hanya dijatuhi hukuman penjara, mulai dari 4 tahun hingga seumur hidup. Itu pun mereka masih mendapatkan potongan hukuman atau remisi setiap tahunnya. Walhasil, sekitar setengah masa hukuman, mereka sudah bisa menghirup udara bebas. Mantan Komisioner Komnas HAM Saharuddin Daming menilai, pembunuhan yang marak di Indonesia terjadi karena hukuman yang ada tidak membuat jera. Pertimbangan putusan, katanya, biasanya hanya berdasarkan motif belaka. Misalnya dalam kasus pembunuhan, pembunuh yang melakukan perencanaan sebelumnya saja yang Hukum Positif tak Beri Kepastian S istem peradilan bertingkat yang berlaku di Indonesia memungkinkan hukum menjadi permainan. Orang yang divonis bersalah di tingkat pengadilan negeri, bisa dibebaskan oleh pengadilan tinggi, atau oleh Mahkamah Agung. Bahkan orang yang telah divonis mati sekalipun oleh Mahkamah Agung (MA) bisa bebas jika presiden memberikan grasi kepadanya. Kasus terbaru, Deni Setia Maharwan alias Rapi Mohammed Majid. Ia adalah terpidana mati kasus narkoba dan menjadi bagian dari jaringan narkoba internasional. Vonis hukuman mati Deni sempat dikuatkan putusan kasasi MA yang dijatuhkan pada 18 April 2001. Namun, vonis mati itu tak berlaku lagi setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi melalui Keppres Nomor 7/G/2012. Keppres yang ditandatangani SBY pada 25 Januari 2012 itu mengubah hukuman mati Deni menjadi hukuman seumur hidup. SBY juga memberikan grasi kepada gembong narkoba Merika Pranola alias Ola alias Tania. Grasi Ola, yang masih satu kelompok dengan Deni, tertuang dalam Keppres Nomor 35/G/20122 yang ditandatangani 26 September 2011. Juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, menjelaskan, Presiden memberikan grasi itu berdasarkan alasan HAM, konstitusional, dan kemanusiaan. "Dari sisi kemanusiaan, perubahan hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup bukan berarti yang terhukum bebas," katanya. Pengacara senior Mahendradatta menilai, sistem hukum yang berlaku di Indonesia memang sudah rusak dan kuno. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang menjadi rujukan dalan sistem hukum nasional memiliki banyak celah bagi orang untuk menghindar dari hukum. Di dalamnya banyak ketidakpastian. Banyak orang yang menafsirkan sendiri pasal-pasalnya. “Karena pasal itu tidak jelas,” katanya. Maklum, lanjut Ketua Presidium Tim Pengacara Muslim ini, KUHP merupakan hukum Belanda kuno yaitu Reglement Verondening. Di Belanda sendiri kitab hukum itu sudah lama tidak dipakai. Makanya, selama sistem hukum Indonesia tetap mengacu pada kitab tersebut, keadilan hukum tidak akan pernah terwujud di Indonesia. “Sudah hukum dari luar, kuno lagi, dalam arti kata buatan manusia lagi, sudah buatan manusia eh ternyata yang membuatnya itu adalah semangatnya untuk melindungi penjajah! Jadi yang masih mempertahankan hukum thaghut ini bukan naif kalau kata saya, tetapi sangat bodoh!” tandasnya. [] emje akan dijatuhi hukuman mati. “Ini jelas tidak menimbulkan efek jera yang tinggi. Karena pelaku dapat menyiasati sedemikan rupa agar tidak terkesan direncanakan,” katanya. Belum lagi, lanjutnya, penegakan hukum mudah diintervensi. Banyak orang yang mempunyai banyak finansial atau otoritas, bisa meringankan hukumannya. “Karena penegak hukum bisa dia beli. Itu kan sering terjadi,” paparnya. Selain itu, Saharuddin menilai faktor depresi sosial yang berat menjadi pemicu bagi masyarakat untuk marah dan gelap mata kemudian membunuh. Faktor ekonomi yang kian sulit menimbulkan stres yang tinggi di masyarakat sehingga persoalan-persoalan kecil yang remeh, diselesaikan dengan membunuh. Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia Shiddiq Al Jawi berpendapat, ada tiga faktor yang menyebabkan pembunuhan marak di Indonesia. Pertama, faktor individu pelakunya. Yakni, sikap dan mentalnya sudah rusak, misalnya tidak takut dosa, meremehkan nyawa manusia, kehilangan kontrol diri, dan sebagainya. Faktor kedua adalah kondisi keluarga atau masyarakat. Misalnya ada sengketa rumah tangga, terlilit utang, gagal usaha, dan sebagainya. Ini bisa mendorong orang nekat membunuh. Ini pun terkait dengan faktor pertama. Sedangkan faktor ketiga adalah lemahnya penegakan hukum oleh negara. Pembunuh hanya dikenai pasal tentang pembunuhan dengan hukuman maksimal 15 tahun. Senada dengan Saharuddin, kata Shiddiq, hukuman kurungan itu pun ma- sih bisa dibeli. Belum lagi, Kalau dipenjara petugasnya bisa disuap supaya mendapat fasilitas, seperti ruang penjara ber-AC, ruang khusus untuk bercinta, boleh membawa HP, dan sebagainya. Dan seterusnya. “Jadi, apa yang perlu ditakutkan? “ kata pengasuh rubrik 'Ustadz Menjawab' Media Umat ini. Pengamat sosial Iwan Januar menambahkan, bangsa ini sudah dirasuki budaya barbar. Menurutnya, ini bukan persoalan budaya Nusantara yang pudar, tapi akibat nilai-nilai agama khususnya Islam yang makin dipinggirkan. “Tapi ketika nilainilai Islam apalagi syariatnya dieliminasi dari kehidupan, inilah yang terjadi. Salah satunya adalah maraknya kekerasan,” katanya. Jika ditanya apa yang salah, ia menegaskan, sekulerisme inilah yang salah. Menurutnya, kaum Muslim sendiri yang harus bertanggung jawab karena mereka lebih memilih menjadi manusia sekuler ketimbang menjadi orang beriman dan bertakwa. Maka, lanjutnya, ada persoalan yang sangat mendasar dalam diri manusia Indonesia, khususnya, umat Islam yakni kehilangan nilai-nilai luhur yang dibangun oleh Islam. Oleh karena itu, pencegahan terhadap tindak kejahatan, termasuk pembunuhan, tidak cukup sekadar menambah jumlah polisi dan memberikan sanksi yang berat tapi harus membongkar landasan umat ini menggantinya dengan akidah Islam dan membangun kehidupan sesuai nilai-nilai Islam. “Artinya harus ada syariat Islam yang ditegakkan,” tandasnya. [] emje
  7. 7. Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Media Utama 7 Sistem Hukum Islam Pasti, Menjerakan, dan Menebus Dosa Fungsi hukuman itu ada dua yakni mencegah si pelaku dan orang lain agar tidak mengulangi perbuatan tersebut serta menebus dosa bagi si pelaku atas kejahatan yang dilakukannya. C erita Sutinah yang membunuh sampai dua kali, tidaklah sendiri. Ternyata banyak pembunuh tak kapok dengan jeruji besi. Sebut saja Dedy Arianto Nasution, yang membunuh temannya gara-gara tak mau membayar utang. Dedy yang kemudian disebut sebagai Koboi Medan itu telah lima kali keluar masuk penjara dalam kasus yang berbeda. Kasus pertamanya juga pembunuhan. Ia divonis sembilang tahun, tapi yang ia jalani hanya setengahnya. Walhasil, cerita bahwa penjara tak membuat jera, benar adanya. Bahkan, di masyarakat berkembang opini bahwa orang jahat yang dipenjara, begitu keluar makin pintar karena mendapatkan pelajaran kejahatan yang lebih canggih di penjara. Nah hal ini tidak akan terjadi dalam sistem hukum Islam. Seperti halnya sistem hukum yang ada, Islam pun mengenal sanksi hukum bagi para pelaku kejahatan. Hanya saja ada fungsi yang berbeda antara Islam dan sistem hukum buatan manusia. Dalam Islam, fungsi hukuman itu ada dua yakni mencegah si pelaku dan orang lain agar tidak mengulangi perbuatan tersebut serta menebus dosa bagi si pelaku atas kejahatan yang dilakukannya. Makanya, hukuman di dalam Islam sangat keras dan tegas. Abdurrahman Al Maliki dalam bukunya Nidzam Uqubat menjelaskan, pembunuhan termasuk dalam pembahasan jinayat yakni pelanggaran yang terhadap badan yang didalamnya mewajibkan qishash atau harta (diyat). Ia membagi tiga kategori pembunuhan yakni pembunuhan yang disengaja, mirip disengaja, dan tidak disengaja. Sanksi bagi pembunuh disengaja adalah dibunuh jika wali orang yang dibunuh tidak memaafkan. Jika ada pengampunan, maka pembunuh harus membayar diyat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Amru bin Syu'aib diyat berupa 30 unta dewasa, 30 unta muda, dan 40 unta yang sedang bunting. Pembunuhan mirip disengaja adalah pembunuhan yang sengaja dilakukan tapi menggunakan alat yang umumnya tidak bisa membunuh. Kadang-kadang maksudnya untuk menyiksa tapi melampaui batas. Pembunuhan seperti ini sanksinya adalah diyat berupa 100 ekor unta, 40 di antaranya adalah unta bunting. Sedangkan pembunuhan yang tidak disengaja, seperti (1) orang yang tidak bermaksud membunuh tapi tindakannya menyebabkan orang terbunuh atau (2) pelaku membunuh orang di negeri kafir terhadap orang yang disangka kafir harby ternyata Muslim, maka sanksinya berbeda. Bagi tindakan (1) maka sanksu bagi yang bersangkutan hanya membayar diyat 100 ekor unta dan membayar kafarat dengan membebaskan budak. Jika tidak ada budak, maka ia harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Bagi pembunuhan model ke-2, maka cukup membayar kafarat tanpa diyat. Sementara itu, Islam pun mengatur sanksi terhadap orang-orang yang bersekutu dalam pembunuhan. Termasuk di dalamnya aktor yang memerintahkan tindak pembunuhan. Pihak-pihak yang bersekutu dalam pembunuhan ini sanksi- nya sama yakni dibunuh. Dengan sistem hukum yang demikian, maka orang akan berpikir seribu kali untuk melakukan tindak pembunuhan dan kejahatan lainnya yang bisa menimbulkan seseorang terbunuh. Di sinilah, sistem hukum Islam akan mampu mencegah orang untuk berbuat jahat. Dan bagi pembunuh, sanksi berupa dibunuh pun menjadi jalan pintas untuk menghindarkan diri dari siksa Allah di akhirat. Hanya saja, menurut Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Hafidz Abdurrahman, sistem hukum seperti itu tentu tidak mungkin bisa tumbuh dalam masyarakat yang sekuler seperti sekarang. Makanya, kata Hafidz, harus ada perombakan sistem hukum secara total termasuk pelaksana-pelaksana hukumnya. Sistemnya harus diganti dengan sistem Islam. Sistem itu Islam yang kaffah akan melahirkan masyarakat yang takwa. Dari situlah, takwa individu bisa mencegah seseorang dari tindakan kriminal, termasuk pembunuhan. Di sisi lain, masyarakat akan menjadi kontrol bagi anggotanya untuk tidak berbuat kriminal. Dan dari sisi negara, negara akan menjadi hakim yang adil yang memberikan keadilan bagi seluruh rakyat. Apakah Anda tidak ingin seperti itu? [] mujiyanto Khilafah, Negara Minim Pembunuhan T ahukah Anda, berapa kejahatan yang terjadi dalam pemerintahan Utsmaniyah selama berabad-abad? Menurut catatan sejarah dari Universitas Malaya, Malaysia, sepanjang kurun waktu itu hanya ada sekitar 200 kasus yang diajukan ke pengadilan. Jumlah ini jauh sangat kecil dibandingkan dengan kasus kejahatan yang terjadi di Indonesia tahun 2012. Jumlah ini jauh sangat-sangat kecil lagi dibandingkan dengan tindak kriminal yang terjadi di Amerika. Di negara dedengkot demokrasi itu, setiap tahun rata-rata ada 20 juta kasus kejahatan. Belakangan di Amerika marak berlangsung aksi penembakan yang menyebabkan banyak orang terbunuh tanpa ada kesalahan apapun. September lalu, sedikitnya 13 orang tewas di markas Angkatan Laut Amerika akibat ulah seorang mantan marinir yang menembak secara membabi buta. Sebelumnya, seorang pria secara membabi buta menembakkan senapan mesin ke arah penonton film di sebuah bioskop ketika ada pemutaran film Batman terbaru "The Dark Knight Rises." Sebanyak 12 orang tewas dan 59 orang cidera. Muncul tren di Amerika berupa pembunuhan massal yang dilakukan oleh individu. Kenyataan ini yang mengkhawatirkan warga Amerika. Nyatanya memang di negara adidaya itu kejahatan memang sangat luar biasa. Juru bicara kantor pendataan di Kementerian Kehakiman AS menandaskan, dari keseluruhan angka tersebut 4.300.000 kasus lebih terkait dengan aksi pemerkosaan, perampokan dan penganiayaan. Laporan yang sama menyebutkan bahwa di AS dengan populasi jumlah penduduk 300 juta jiwa, tercatat dari 100 orang tujuh di antaranya menjadi korban kejahatan dan pencurian. Menjadi pertanyaan kemudian adalah bukankah penduduk Amerika memiliki kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan dengan negara lain di dunia? Bukankah sistem hukumnya sudah stabil? Dan banyak pertanyaan lainnya? Walhasil, modernisasi tidak serta merta menjadikan rakyat sejahtera baik secara fisik maupun mental. Sistem kapitalisme akan melahirkan masyarakat yang rakus, tamak, dan rusak, meski dibungkus dengan kemajuan. Sebaliknya, Islam dengan sistem yang datang dari Yang Maha Benar akan melahirkan masyarakat yang harmonis karena kehidupan mereka sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia. Sistem Islam menjamin kehidupan warga negaranya lahir dan batin dengan tolok ukur kebahagiaan hanyalah menggapai ridha Allah SWT. Pantas jika dalam sistem seperti ini orang akan tercegah untuk berbuat kejahatan. Hanya orang-orang yang keblinger dan melampaui batas saja yang bertindak jahat. Tapi Islam pun telah menyiapkan seperangkat aturan hukum untuk membalas kejahatan rakyatnya sehingga virus kejahatan itu tak menyebar luas. Inilah fakta khilafah yang tak terbantahkan dalam sejarah. [] emje
  8. 8. Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Shaharuddin Daming, Mantan Komisioner Komnas HAM Hukum Kita Tidak Adil Pembunuhan akhir-akhir ini marak di tengah masyarakat dan melibatkan banyak kalangan. Bukan hanya kalangan bawah yang tertekan hidupnya dan motifnya urusan perut, tapi sampai kalangan atas. Mengapa mereka tidak ada yang merasa takut terhadap tindakan kejamnya itu? Apa yang salah? Berikut wawancara wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan mantan Komisioner Komnas HAM yang juga ahli hukum Saharuddin Daming. Berikut petikannya. Hukum ditegakkan tetapi pembunuhan semakin merajalela. Mengapa? Ini tentu masuk pada pendekatan sosio yuridis. Dimulai dengan aturan hukum kita yang tidak begitu masif memberikan jaminan perlindungan kepada korban mau pun kepada manusia secara keseluruhan. Kalau kita membongkar kondisi hukum di Indonesia yang merupakan impor dari Belanda, memang ada masalah. Termasuk Hukum Pidana yang di dalamnya ada pasal-pasal mengenai pembunuhan, terutama pembunuhan secara berencana, seluruhnya itu diambil dari hukum Belanda. Belanda sendiri mengambilnya dari hukum Romawi. Belanda membawa masuk ke Indonesia melalui asas konkordansi, ketika Belanda menjajah kita itu berarti hukum yang berlaku di Belanda diberlakukan pula di negara jajahannya. Di sinilah timbul masalah, karena secara sistem nilai, itu sangat berbeda antara hukum dengan subjek hukum yang terikat dengan hukum itu. Maksudnya? Sistem hukum yang mengikat itu kan dari Barat yang tentu bernilai Barat, yaitu individualis, sekuler, sedangkan di Indonesia, masyarakatnya itu komunal dan agamis. Di situ terjadi syok, masyarakat tidak mempunyai tatanan nilai yang padu padan antara hukum dengan hukum yang diberlakukan. Itu sarjana hukum dari dulu sudah tahu, tetapi mengapa syok itu terus saja dibiarkan. Maraknya pembunuhan terjadi juga lantaran ringannya hukuman? Ya, ancaman pidana bagi si pembunuh dengan kualifikasi pemberatan hukuman pidana hukuman mati misalnya, itu berangkat dari satu hal saja, yaitu motif. Hanya karena faktor “perencanaan” delik pembunuhan maka pelaku terancam pidana mati. Ini jelas tidak menimbulkan efek jera yang tinggi. Karena pelaku dapat menyiasati sedemikan rupa agar tidak terkesan direncanakan. Ke depan, seharusnya bukan hanya motif yang dilihat tetapi dampak dari pembunuhan juga. Misalnya, bapak yang dibunuh, anak dan istrinya pasti merana. Itu juga harus dipertimbangkan. Begitu juga dengan cara dia membunuh dapat dijadikan faktor pemberat agar dihukum mati. Jadi pelaku mutilasi pun harus dihukum mati. Artinya, hukum yang diperlakukan sekarang ini, secara psiko yuridis, tidak menimbulkan rasa takut atau pun efek jera. Karena hukum kita tidak cukup keras. Bila dibandingkan dengan qishash? Dalam pidana Islam tersebut, siapa pun yang membunuh, dengan cara apa pun, maka pasti pidana mati (qishash). Maka orang itu akan berhitung dua kali untuk melakukan pembunuhan, lantaran akan berhadapan dengan resiko yang sangat tinggi. Di samping itu juga hukum dapat dibeli? Ya, yang ikut juga memengaruhi adalah, penegakan hukum kita yang tidak adil. Sehingga banyak orang yang mempunyai banyak finansial atau otoritas, mungkin dengan menggunakan uang dan kekuasaan, dengan leluasa menghilangkan nyawa orang. Begitu dia marah, begitu dia dendam, itu dia tidak suka kepada orang yang mengganggu atau mengancam, ia gunakan uang atau kekuasaannya untuk menyuruh orang membunuh. Dia juga akan merasa yakin, dirinya tidak akan tersentuh hukum, karena penegak hukum bisa dia beli. Itu kan sering terjadi. Ada faktor lainnya? Faktor lainnya adalah depresi sosial kelas berat. Karena bangsa kita ini selain dihimpit masalah besar, ekonomi kita ditata untuk meningkatkan pendapatan negara, sehingga harga yang diproduksi oleh negara itu tinggi sehingga memicu harga-harga lain menjadi tinggi, ini memicu tingkat stres yang tinggi di tingkat masyarakat. Mereka berupaya mengejar penghasilan, sehingga nilai manusia itu diukur dari materi semata-mata. Tidak ada lagi penghargaan yang tinggi kepada manusia sebagai sosok yang harus dimuliakan. Sehingga persoalan-persoalan kecil yang remeh, diselesaikan dengan membunuh. Apakah media massa juga berperan dalam menyuburkan tren pembunuhan? Tentu, khususnya media audio visual. Tayangan-tayangan kasus pembunuhan tersebut dapat menginspirasi sebagian penonton yang berpotensi untuk meniru. Karena televisi itu, lebih sering menayangkan modusnya, tapi minim tayangan pelaku ketika dipidana. Tidak pernah ada penayangan, si anu dihukum mati apalagi siaran langsung, ya tidak ada. Karena yang terakhir ini sebagai sesuatu yang dilarang. Akibatnya? Masyarakat tidak tahu, kalau orang membunuh dengan cara begitu akan dipidana dengan cara yang sangat sadis, hingga orang merasa takut. Jadi efek rasa takut akibat perbuatan keji itu tidak ada. Inilah hikmahnya, mengapa dalam pidana Islam itu ada yang disebut dengan hukum rajam. Terpidana itu ketika dieksekusi dipertontonkan. Tujuannya apa? Agar menimbulkan ketakutan untuk melakukan hal yang sangat keji, karena resikonya begitu. Sebenarnya, menurut saya, ada penempatan humanisme yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia itu. Yang disebut humanisme itu hanya sebatas seruan-seruan moral, tetapi ketika persoalan-persoalan yang sudah melampaui pelanggaran hukum, humanisme itu menjadi kerdil. Mengapa? Itu karena tidak lain, kita menggunakan model pendekatan bernegara itu secara sekuler, yang melihat manusia itu tidak lebih dalam bentuk moral semata. Tentu berbeda kalau kita menggantungkan semua proses kehidupan berbangsa dan bernegara itu dalam konteks Islam. Dalam konteks Islam, manusia itu ditempatkan tidak hanya dalam konteks moral semata-mata tetapi ada keterkaitannya dengan soal akidah, ibadah dan amanah dari Allah SWT. Sehingga kita ini diikat dalam satu persaudaraan yang sangat dalam. Ini belum membahas bagaimana hukum pidana Islam dalam kasus pembunuhan yang berisiko sangat tinggi, dalam membicarakan humanisme saja sudah sangat menyeluruh dan tidak hanya bahas soal moral. Jadi itu yang menyebabkan mengapa belakangan ini terjadi pembunuhan yang sporadis. Bagaimana mengatasi semua masalah ini? Satu-satunya jalan menurut saya ya, kembalikan soal ke agama Islam. Karena Islam sudah memberikan tekanan bahwa kita ini harus sadar di tengah-tengah kita ini hadir iblis dan aliansi setan. Merekalah yang terus menggelindingkan pengaruhpengaruh jahat agar kita melakukan segala bentuk kejahatan. Karena itu, Allah SWT sudah memberikan peringatan bahwa setan itu dalam segala bentuknya adalah musuhmu yang nyata, karena itu jauhi, jangan ikuti kemauannya. Sekarang ini masalahnya, manusia itu bukan menjauhi, malah bersahabat dengan iblis. Karena pelindung satu-satunya, yaitu Islam, malah dijauhi, disingkirkan dari akar tradisi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu menjadi penyebab utama dan untuk membangun peradaban yang menempatkan manusia secara bermartabat tiada lain, ya harus menjadikan Islam sebagai aturan yang mengikat bangsa ini secara formal. Karena hanya Islamlah yang dapat memberikan respon terhadap pertanyaan mengapa orang itu melakukan kejahatan. Jadi sampai kiamat pun, bila negara kita tetap sekuler tidak akan pernah ketemu pemecahannya.[]
  9. 9. Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Muhammad Shiddiq Al Jawi, Anggota DPP HTI Akibat Meninggalkan Syariat Islam Pembunuhan merajalela lantaran sistem yang diterapkan meminggirkan syariat Islam. Sehinggga pemikiran, perasaan dan aturan yang berkembang di tengah masyarakat menjadi rusak dan merusak. Lantas bagaimana syariat Islam meminimalisir angka pembunuhan? Bagaimana pula agar syariat Islam dapat ditegakkan? Temukan jawabannya dalam perbincangan wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Shiddiq Al Jawi. Berikut petikannya. Bagaimana tanggapan Anda dengan maraknya pembunuhan di Indonesia? Ini tanda masyarakat Indonesia telah mengalami kerusakan hebat. Karena dalam ajaran Islam, membunuh satu jiwa itu seakan-akan membunuh seluruh manusia (QS Al Maidah: 32). Bahkan jika korban pembunuhan itu seorang Muslim, Islam menilainya sebagai sesuatu yang sangat besar di sisi Allah, sampaisampai Nabi SAW bersabda, “Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR Ibnu Majah no 2619). Apa penyebab pembunuhanpembunuhan itu terjadi? Banyak faktor penyebabnya. Tapi secara garis besar ada tiga. Pertama, faktor individu pelakunya. Yakni, sikap dan mentalnya sudah rusak, misalnya tidak takut dosa, meremehkan nyawa manusia, kehilangan kontrol diri, dan sebagainya. Kedua, faktor kondisi keluarga atau masyarakat. Misalnya ada sengketa rumah tangga, terlilit utang, gagal usaha, dan sebagainya. Ini bisa mendorong orang nekat membunuh. Ketiga, faktor lemahnya penegakan hukum oleh negara. Misalnya hukum yang bisa direkayasa atau dibeli, atau hukuman ringan yang tidak menimbulkan efek jera. Mengapa dengan alasanalasan tersebut, mudah sekali seseorang melampiaskannya dengan membunuh? Karena tidak ada sesuatu yang dia takutkan. Dia merasa tidak perlu berpikir panjang sebelum membunuh. Mengapa? Karena dia sudah belajar dari realitas yang rusak ini, yang memberi banyak peluang atau dorongan untuk gampang membunuh. Pembunuh paling dikenai pasal 338 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun. Kalau diadili hakimnya bisa disuap agar vonis lebih ringan. Kalau dipenjara petugasnya bisa disuap supaya mendapat fasilitas, seperti ruang penjara ber-AC, ruang khusus untuk bercinta, boleh membawa HP, dan sebagainya. Dan seterusnya. Jadi, apa yang perlu ditakutkan? Bukankah dengan realitas seperti itu, orang jadi tidak takut dan tidak perlu berpikir panjang lagi untuk membunuh? Ada yang menyatakan dendam dan amarah tak terbendung sebagai penyebab utama pembunuhan. Bagaimana pendapat Anda? Yang Anda sebutkan itu, seperti kebencian dan dendam, adalah faktor yang menyangkut individu. Prinsipnya, individu bisa rusak karena masyarakatnya rusak. Masyarakat itu sendiri tidak hanya kumpulan individu, melainkan suatu sistem sosial yang diikat oleh unsur pemikiran, perasaan, dan peraturan. Sekarang ini sayangnya kita dipaksa hidup dalam masyarakat demokrasisekuler yang didominasi oleh pemikiran, perasaan, dan peraturan yang serba rusak. Pemikiran rusak, misalnya sekulerisme yang menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Perasaan rusak, misalnya pemujaan yang berlebihan terhadap harta benda, sehingga orang tidak mikir lagi halal dan haram. Peraturan rusak, misalnya sistem ekonomi kapitalis yang menimbulkan kesenjangan lebar antara si kaya dengan si miskin, dan sebagainya. Wajar, akibat dari kerusakan masyarakat ini adalah rusaknya mentalitas individuindividunya. Ditambah lagi hukuman yang tidak membuat jera... Iya, hukuman bagi pembunuh yang berlaku saat ini memang tidak ada efek jeranya. Terlalu ringan hukumannya, maksimal hanya penjara 15 tahun. Jarang ada yang dihukum mati. Kalau dihukum mati pun, tidak langsung dieksekusi. Tapi menunggu waktu lama karena ada proses banding, kasasi, grasi, dan sebagainya, sehingga publik sudah lupa kasusnya. Kalau dieksekusi mati pun, tidak dilakukan di muka umum, tapi dilakukan secara tertutup dengan penuh kerahasiaan. Jadi, mana mungkin sistem hukum yang toleran terhadap pembunuhan ini bisa membikin jera? Bagaimana syariat Islam memberikan solusi atas berbagai masalah pembunuhan tersebut? Syariah Islam memberikan solusi pada dua level. Pertama, perbaikan umum, yaitu perbaikan masyarakat, dengan cara mengoreksi berbagai pemikiran, perasaan, dan peraturan yang menyimpang dari Islam. Pemikiran rusak seperti sekulerisme tidak boleh ada, wajib dihancurkan. Perasaan rusak seperti pemujaan berlebihan kepada harta benda, dihilangkan dengan dakwah Islam yang menggugah kesadaran. Selanjutnya peraturan rusak juga harus dienyahkan, seperti sistem kapitalis yang tidak adil, sistem pidana Barat yang tidak memberi efek jera, dan sebagainya. Kedua, perbaikan khusus, yaitu perbaikan sistem pidana (nizhamul 'uqubat), dengan cara menghentikan penerapan sistem pidana Barat warisan penjajah, diganti dengan sistem pidana Islam berdasarkan Alquran dan Sunah. Bagaimana syariat Islam bisa menekan berbagai faktor penyebab dari berbagai aspek yang membuat seseorang dengan mudahnya, timbul kebencian, dendam, mudah tersinggung, dll, yang ujungnya dilampiaskan dengan membunuh? Syariah Islam mengatasi masalah itu dengan dua cara. Pertama, memperbaiki sikap dan mental individunya dengan memperkuat keimanan dan ketakwaannya. Syariah Islam, misalnya, telah menerangkan bahwa membenci orang lain itu tidak baik, kecuali membenci karena Allah, misalnya membenci orang yang berbuat maksiat. Dendam itu tidak baik, karena yang lebih utama adalah memberi maaf dan bersabar. Dan seterusnya. Kedua, menyelesaikan akar masalahnya, mengapa kok sampai timbul kebencian, dendam, mudah tersinggung, dll? Jika karena perselisihan rumah tangga, atau karena utang piutang, atau karena sengketa bisnis, syariah Islam mempunyai hukum-hukum syara' yang sangat mencukupi sebagai solusinya, termasuk solusi berupa pengadilan syariah (al qadha`) yang adil. Apakah syariat Islam tersebut bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan yang berlaku sekarang? Tidak bisa, kecuali secara parsial. Karena sistem pemerintahan saat ini adalah pemerintahan sekuler, yang memosisikan agama hanya menjadi persoalan pribadi yang mengatur hubungan individu dengan tuhannya. Agama, dalam hal ini Islam, tidak diposisikan secara benar sebagai pengatur segala bidang kehidupan, seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Islam sekarang telah mengalami reduksi atau distorsi yang luar biasa, yakni tidak diposisikan secara benar sesuai contoh Rasulullah SAW, melainkan diposisikan sesuai ideologi sekulerisme yang dipaksakan oleh kaum kafir penjajah. Inilah mengapa syariat Islam tak bisa diterapkan pemerintahan sekarang. Lantas apa yang harus dilakukan agar syariat Islam tersebut dapat terlaksana secara sempurna sehingga darah warga negaranya pun terjaga? Yang harus dilakukan, adalah menegakkan sistem pemerintahan yang pro syariah. Itulah khilafah. Karena khilafah sajalah satu-satunya sistem pemerintahan yang menjamin penerapan syariah Islam secara keseluruhan (kaaffah). Sistem pemerintahan sekarang adalah sistem sekuler yang buruk dan terbukti gagal, termasuk gagal melindungi darah warga negaranya sendiri. Apakah kegagalan ini mau terus dipertahankan? Tidak bisa. Karenanya, harus segera diganti dengan Negara Khilafah.[]
  10. 10. 10 Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Aspirasi Mereka Bicara Maraknya Pembunuhan Dadang Hawari, Psikiater Pemerintah Tak Tegas Masyarakat sekarang ini tidak aman. Kejahatan yang dilakukan tidak hanya maling namun juga korupsi di semua lini mulai dari aparat sipil hingga militer. Pemerintah sudah tidak mampu menyetop peredaran narkoba. Sedangkan, minuman keras adalah pemicu kekerasan dan pemerintah melegalkan, padahal Allah melarang. Dengan situasi masyarakat yang seperti ini, ini merupakan sumber kerusakan. Orang sekarang ini tidak bisa membedakan lagi mana yang halal mana yang haram. Melihat pembunuhan marak harusnya pemerintah bertindak tegas, prosedurnya muter-muter kelamaan, dan tidak mau memakai hukum yang Allah ciptakan. Orang Islam sendiri tidak ingin menerapkan hukum Allah padalah Allah yang menciptakan manusia, pencuri maling potong tangannya. Yang kena hukuman mati tidak dilakukan eksekusi malah diberikan keringanan hukuman. Ini bagaimana? Hukuman tidak kuat, karena penyelenggara hukum main juga.[] Seto Mulyadi, Psikolog Anak Perlu Gerakan Perlindungan Anak Kekerasan pada anak terjadi karena kesalahan paradigma orang dewasa terhadap anak. Paradigma itu apakah orang tua, keluarga seperti kakek , paman, sepupu dan sebagainya kemudian juga guru, aparat baik kepolisian yang menyiksa dan menghukum anak-anak yang ditangkap. Paradigma yang salah ini adalah karena menganggap anak tidak berdaya dan boleh diperlakukan apa saja oleh orang dewasa. Jadi paradigma ini harus diubah dengan kampanye besar-besaran dengan gerakan nasional stop kekerasan pada anak. Kekerasan pada anak jumlahnya terus semakin bertambah berarti upaya merubah paradigma tadi belum efektif. Karena memang hanya diserukan pada para aktivis. Secara yuridis hukum sudah melindungi anak, namun pada implementasinya masih lemah.[] Ahmad Yani, Komisi III DPR RI Pelayanan Polisi Harus Prima Ini yang kemarin saya tanyakan kepada Pak Tarman pada waktu uji kelayakan dan kepatutannya menjadi Kapolri, dalam kondisi umat merasa amat tidak aman dan nyaman karena terjadi pembunuhan begitu banyak, kekerasan begitu banyak di mana-mana. Polisi sendiri pun dengan masih berpakaian dinas dibunuh. Itu yang saya tanyakan, langkahlangkah apa yang akan diambil oleh pihak kepolisian. Karena ini kan tupoksinya polisi. Pak Tarman jawab, itu betul dan dirinya akan mengokohkan dua langkah yaitu preventif dan represif berupa penegakan hukum. Saya katakan, tindakan preventif yang selama ini dilakukan dengan mobil patroli itu sangat tidak efektif. Biaya operasional BBM nya pun tersendat-sendat. Karena itu saya sarankan diperbanyak pos polisi yang memudahkan masyarakat mengakses dengan cepat bila terjadi apa-apa. Kedua, Babinkamtibmas itu menjadi penting, maka polisi itu di setiap Polres dan Polsek harus mengoptimalkan Babinkamtibmas, berkoordinasi dengan RT RW mendatangi masyarakat. Siapa saja penduduk yang baru datang, yang dicurigai, dll, jadi ini sekaligus mendeteksi dini teroris. Dalam konteks penegakan hukum, saya kira polisi sudah mulai kan. Harus betul-betul tidak ada toleransi terhadap pelaku-pelaku kriminal, apakah dia itu perorangan atau pun terorganisir. Kalau sudah seperti itu, rakyat baru merasa aman. Kehadiran polisi dapat dirasakan. Akhrinya polisi jadi sahabat rakyat. Kalau sekarang kan belum. Jadi polisi harus memberikan pelayanan yang prima, jangan sampai rakyat mengadu ke polisi malah timbul masalah lagi.[] Irjen Pol Ronny F Sompie, Kadiv Humas Mabes Polri Perlu Kepedulian Masyarakat Persentasi terungkapnya kasus dan berhasil dalam melakukan penangkapan terhadap tersangka sangat bergantung kepada jejak yang diperoleh penyidik untuk mengungkap setiap kasus pembunuhan. Serapih-rapihnya pelaku dalam berupaya menghilangkan jejaknya, ada saja jejak yang tertinggal dan bisa menjadi bukti yang mengantar penyidik kepada analisis siapa pelakunya. Kalau tempat kejadian sudah tidak murni dan rusak akibat sudah diacak-acak oleh orang yang menemukan kejadian ini pertama kali, tentu menyulitkan proses pengolahan tempat kejadian untuk menemukan jejak pelakunya. Untuk mengatasi rusaknya tempat kejadian pembunuhan, perlu ada kepedulian masyarakat untuk menutup dan menjaga agar tempat kejadian masih murni seperti sediakala saat diterima laporannya dari masyarakat sampai penyidik Polri datang dan melakukan tindakan di tempat kejadian dalam rangka mengolahnya dan menemukan jejak pelaku pembunuhan.[] Mahendradatta, Pakar dan Praktisi Hukum Bodoh! Kalau Masih Pertahankan KUHP Pembunuhan berencana itu kan ada di Pasal 338 KUHP. Kalau dikatakan banyak celah dalam KUHP, ya pastinya. Kenapa? Karena itukan hukum Belanda kuno yaitu Reglement Verondening. Sedangkan di Belanda sendiri sudah lama tidak dipakai. Tapi malah diberlakukan lagi oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1949. Jadi apa yang bisa kita harap dari UU seperti itu? Yang lucu adalah, sekarang saya berbicara sebagai Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim ya, yang lucu adalah orang kadang-kadang terlalu menghina-hina syariah. Itu dianggapnya sebagai hukum dari luar. Apa tidak lebih parah ini, sudah hukum dari luar, kuno lagi, dalam arti kata buatan manusia lagi, sudah buatan manusia eh ternyata yang membuatnya itu adalah semangatnya untuk melindungi penjajah! Jadi yang masih mempertahankan hukum thagut ini bukan naif kalau kata saya, tetapi sangat bodoh! Jadi sudah pasti banyak celahnya dalam KUHP itu. Contohnya, sudah banyak orang yang menafsirkan sendiri pasal-pasalnya itu. Karena pasal itu tidak jelas. Seperti frasa “tidak sengaja” ditafsirkan sendiri-sendiri bahkan di Indonesia tafsirannya malah mengikuti pakar hukum Belanda yang sekarang sudah tidak laku lagi di Belanda, karena terlalu diperluas makna“kesengajaan”-nya.[] Iwan Januar, Pengamat Sosial Islam Dipinggirkan, Budaya Barbar Marak Kekerasan semakin mengkhawatirkan di Tanah Air karena mengalami peningkatan secara kuantitas maupun kualitasnya. Hampir setiap hari kita mendapat pemberitaan kekerasan bukan di satu atau dua tempat, tapi banyak tempat bahkan tidak sedikit yang berujung pada pembunuhan. Kualitas kekerasan yang terjadi juga makin meningkat. Pelaku bukan saja sekadar ingin mencelakakan korban tapi juga ingin memberikan rasa sakit yang sangat dan efek kerusakan yang parah kepada korban. Seperti terlihat penggunaan air keras dalam beberapa kasus. Korban yang disasar ada yang sporadis ada juga yang spesifik. Dalam kasus geng motor, pelemparan air keras di bus, pelaku tidak pandang bulu. Siapa saja bisa jadi korban. Tapi dalam kasus penembakan polisi tampak jelas ada kekerasan yang memang terarah. Bahwa bangsa kita dulu dikenal ramah, itu kan dulu. Pergeseran nilai-nilai budaya sudah berjalan cepat dan masif di Tanah Air. Kebersamaan dan jiwa gotong royong sudah diganti dengan individualistik. Di banyak sekolah bahkan pesantren sudah masuk budaya bullying. Di jejaring sosial orang terbiasa saling mencaci maki, bahkan sesama aktifis dakwah hal ini terjadi. Kemudian KDRT meningkat bahkan anak-anak jadi korban. Termasuk ada bayi yang dicabuli hingga meninggal. Apa artinya ini? Bangsa ini sudah dirasuki budaya barbar. Ini bukan persoalan budaya Nusantara yang pudar, tapi akibat nilai-nilai agama khususnya Islam yang makin dipinggirkan. Budaya Nusantara itu penopang terbesarnya adalah ajaran Islam. Tapi ketika nilai-nilai Islam apalagi syariatnya dieliminasi dari kehidupan, inilah yang terjadi. Salah satunya adalah maraknya kekerasan. Jadi kalau ditanya apa yang salah? Sekulerisme ini yang salah. Siapa yang bertanggung jawab? Kaum Muslimin yang lebih memilih menjadi manusia sekuler ketimbang menjadi orang beriman dan bertakwa. Maka kekerasan di Tanah Air tidak akan berhenti hanya sekadar meningkatkan jumlah polisi atau sanksi yang berat, tapi harus membongkar landasan umat ini menggantinya dengan akidah Islam dan membangun kehidupan sesuai nilai-nilai Islam. artinya harus ada syariat Islam yang ditegakkan.[] fm-joy
  11. 11. Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Telaah Wahyu 11 Kemenangan Berpihak kepada Kaum Muslimin Oleh: Rokhmat S Labib, MEI Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati (TQS Ali Imran [3]: 13). K Allah SWT berfirman: Qad kâna lakum ayah fî fiatayni [i]ltaqatâ (sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu [bertempur]). Kandungan ayat ini bahwa pihak yang diseru ayat ini adalah orang kafir secara umum. Ibnu 'Abbas, sebagaimana dikutip Abu Hayyan, adalah di antara yang berpendapat demikian. Ayat ini berguna untuk menciptakan rasa takut kepada mereka dan memberitahukan bahwa Allah SW T akan menolong agama-Nya. Sungguh, Dia telah memperlihatkan kepada mereka contoh nyata yang dialami kaum musyrik Quraisy yang kalah, terbunuh, dan ditawan. Menurut lainnya, ditujukan kepada orang Mukmin. Di antaranya, sebagaimana dikutip Abu Hayyan, adalah Ibnu Mas'ud dan al-Hasan. Ini berarti, ayat tersebut mengokohkan dan mengobar- masih kelanjutan dari ayat sebelumnya. Dalam ayat tersebut Allah SWT berfirman: Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburukburuknya" (TQS Ali Imran [3]: 12). Ada beberapa penjelasan tentang pihak yang diseru ayat ini. Menurut al-Alusi, khithâb ayat in ditujukan kepada kaum Yahudi di Madinah. Kesimpulan ini didasarkan kepada sabab nuzul ayat ini, setelah Perang Badar Yahudi Qunaiqa' berkata, “Sesungguhnya Quraisy adalah orang-orang bodoh. Seandainya mereka (kaum Mukmin) memerangi kami, niscaya kamu akan menyaksikan para ksatria”. Lalu turunlah ayat ini. Ada juga yang mengatakan kan semangat jiwa umat Islam. Sebab, ketika mereka diperintahkan menyampaikan perkataan tersebut kepada kaum kafir (bahwa kaum kafir akan dikalahkan dan dimasukkan ke dalam neraka), memungkinkan bagi kaum munafik dan orang yang lemah imannya menganggap mustahil berita tersebut. Bisa jadi, khithâb ini ditujukan kepada mereka semuanya, baik kaum Mukmin, kaum Yahudi, maupun kaum kafir. Yang pasti, ayat ini memberikan bukti kebenaran ancaman tersebut, bahwa telah ada âyah bagi mereka. Pengertian ayah di sini adalah 'alâmah 'azhîmah (tanda yang besar) yang menunjukkan kebenaran firman Allah dalam ayat sebelumnya. Demikian penjelasan al-Syaukani dan al-Alusi. eimanan dan kekufuran tidak akan bersatu. Demikian pula para pengembannya. Ketika masingmasing memegang erat prinsipnya dan berupaya mewujudkannya dalam kehidupan, maka pertarungan antara keduanya tak terhindarkan. Dua Kelompok yang Berlawanan Bukti kebenaran itu adalah peristiwa yang terjadi pada fiatayni iltafatâ, dua golongan yang bertemu. Pengertian fiah adalah firqah atau jamâ'ah dari kalangan manusia. Sedangkan iltafatâ dalam ayat ini berarti pertemuan dalam medan pertempuran dan peperangan. Menurut para mufassir, pertemuan dua kelompok yang dimaksud adalah Perang Badar. Golongan pertama dalam perang tersebut adalah: Fiat[un] tuqâtilu fî sabîlil-Lâh (segolongan berperang di jalan Allah). Mereka adalah fiah mu`minah, golongan kaum Mukmin. Tepatnya, adalah Rasulullah SAW bersama orangorang Mukmin. Sebab, merekalah yang terjun dalam peperangan tersebut. Mereka disebut berperang di jalan Allah SWT karena perang mereka dilandasi oleh keimanan, menjalankan ketaatan kepada Allah SWT, untuk menegakkan agama-Nya, dan mengharapkan keridhan-Nya. Tetang perangnya kaum Mukmin, Allah SWT berfirman: Orangorang yang beriman berperang di jalan Allah (TQS al-Nisa' [4]: 76). Sedangkan golongan kedua: Wa ukhrâ kâfirah (dan [segolongan] yang lain kafir). Mereka adalah orang-orang yang ingkar kepada Allah SWT dan perkara keimanan lainnya. Berkebalikan dengan kaum Mukmin yang berperang di jalan Allah SWT, golongan ini berperang di jalan selain-Nya. Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut (TQS al-Nisa' [4]: 76).. Kemudian diberitakan peristiwa yang terjadi pada perang tersebut dengan firman-Nya: Yarawnahum mitslayhim ra`ya al'ayn (yang dengan mata kepala melihat [seakan-akan] orangorang Muslimin dua kali jumlah mereka). Kata ra'y al-'ayn merupakan mashdar muakkid, berguna untuk mengukuhkan kata yarawnahum (mereka melihat mereka). Artinya, mereka benarbenar melihat secara jelas dan nyata, dan tidak ada kekaburan tentangnya. Demikian al-Syaukani dalam tafsirnya. Ada beberapa penjelasan tentang pelaku dan objek yang dimaksud ayat ini. Di antaranya adalah penafsiran yang mengatakan bahwa kaum kafir melihat jumlah kaum Mukmin dua kali lipat, yakni 950 pasukan. Semuanya bersenjatakan lengkap. Di antara yang berpendapat demikian, sebagaimana dikutip al- Alusi, adalah al-Sudi. Diriwayatkan dari Said bin Aus, dia berkata: Kaum musyrikin menawan seseorang dari pasukan kaum Muslimin. Mereka bertanya kepadanya, “Berapa jumlah kalian?” dijawab, “Tiga ratus dan beberapa puluh orang.” Mereka berkata, “Kami tidak melihat kalian kecuali dilipatgandakan dari jumlah kami.” Maksud mereka, jumlah pasukan kaum Muslimin adalah seribu sembilan ratus.” Dengan jumlah yang terlihat lebih banyak tersebut membuat mereka menjadi gentar, takut, cemas, dan gelisah. Dikatakan Ibnu Katsir, Allah SWT menjadikan hal itu sebagai sebab bagi kemenangan Islam atas mereka. Pertolongan Allah SWT bagi Kaum Mukmin Allah SWT berfirman: Wallâh yuayyidu bi nashrihi man yasyâ` (Allah menguatk an dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya). Dijelaskan alAlusi, kata yuayyidu berarti yuqawwi (menguatkan). Sedangkan bi nashrihi berarti bi 'awnihi (pertolongan-Nya). Dalam Perang Badar itu, kaum Muslim diberikan pertolongan oleh-Nya sehingga tampil menjadi pemenang. Allah SWT memenangkan keimanan atas kekufuran, memuliakan kaum Mukmin dan menghinakan kaum kafir. Perang Badar memang luar biasa. Dalam beberapa aspek, pasukan kaum kafir tampak lebih unggul. Jumlah mereka lebih dari dari dua kali lipat, 950 pasukan. Seratus di antara pasukan berkuda. Mereka juga terdiri para pasukan terlatih dengan persenjataan lebih lengkap. Sehingga, mereka pun optmis akan mendapatkan kemenangan. Akan tetapi, bayangan dan harapan mereka hancur. Mereka menderita kekalahan besar. Banyak pemimpinnya terbunuh, seperti 'Utbah bin Rabi'ah, Abul Hakam bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, dan lain-lain. Tentang pertolongan Allah SWT dalam perang Badar diberitakan lebih lengkap dalam firman-Nya: Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah (Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Muk- Ikhtisar: 1. Kaum kafir pasti akan terkalahkan. 2. Kemenangan kaum Muslimin dalam perang menjadi salah satu buktinya. 3. Allah SWT memberikan pertolonganNya kepada orang yang dikehendakiNya. min: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" (TQS Ali Imran [3]: 123-124). Tentang bantuan pasukan malaikat ini diceritakan dalam banyak riwayat. Abu Dawud alMazini berkata, “Selagi aku mengejar salah seorang musyrik untuk menebasnya, tiba-tiba kepalanya sudah tertebas sebelum pedangku mengenainya. Aku sadar bahwa rupanya dia telah dibunuh seseorang sebelum aku.” Ibnu 'Abbas berkata, “Tatkala seseorang dari pasukan Muslimin berusah keras menghabisi salah seorang musyrik di hadapannya, tiba-tiba dia mendengar suara lecutan cambuk di atasnya dan suara seorang penunggang kuda yang berkata, “Majulah terus wahai Haizum?” Lalu orang Muslim itu memandang orang musyrik tersebut sudah terjerembab. Seorang Anshar melihat kejadian itu dan memyampaik annya kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Engkau benar. Itulah pertolongan dari langit ketiga.” Allah SWT berfirman: Inna fî dzâlika la'ibrah li uliy al-abshâr (sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati). Yang ditunjuk oleh dzâlika adalah al-nashr (pertolongan) yang diberikan Allah SWT kepada pasukan kaum Muslimin. Sungguh dalam peristiwa itu ada 'ibrah, pelajaran berharga, bagi ulî al-abshâr. Kata al-abshâr merupakan bentu jamak dari kata al-bashar (penglihatan), bermakna al-bashîrah. Menurut Abu Hayyan, artinya orang-orang yang memiliki akal sehat yang menerima pelajaran. Demikianlah. Peristiwa Perang Badar itu harus menjadi salah satu bukti kekuasaan Allah. Sehebat apa pun kekuatan kafir, mereka pasti akan dapat dikalahkan. Jika Allah SWT berkehendak mengalahkan dan menghinakan suatu kaum, siapa yang bisa menghalangi-Nya? Wal-Lâh a'lam bi al-shawâb.[]
  12. 12. 12 Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Media Daerah Suasana wilayah rumah Suardi Imam Masjid itu Ditembak Densus 88 Pemerintahan yang anti Islam ini pada akhirnya menangkapi merekamereka yang mempelajari Islam dan membuat stigma negatif. I dul Adha tahun ini menjadi akhir tragis Suardi (51), selepas balik dari Makassar, Kamis (17/10). Suardi ditemukan tewas ditembak oleh Densus 88. Dua hari sebelumnya, ia menjadi imam shalat Idul Adha. Benarkah ia seorang teroris seperti yang disangkakan polisi? Suardi tak lagi bisa membela diri. Aksi penembakan Densus 88 terhadap terduga teroris di wilayah Sulawesi Selatan bukan pertama kalinya. Januari lalu, di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar juga terjadi penembakan yang menewaskan satu orang dengan tuduhan sama terduga teroris. Kasus berulang dengan nasib korban tragis, tidak ada delik tidak ada pembelaan, mereka tewas dibunuh. Suardi, berasal dari Dusun Cebba, Desa Allinge, keca-matan Amali, Bone. Mantan PNS guru di sekolah Dasar Inpres Ka-lakkang Kec. Amali ini dikenal sebagai aktivis dakwah di bebe-rapa kelompok kajian seperti Wahdah dan Hidayatullah. Selain aktif di beberapa kelompok kaji-an Suardi juga dikenal masyara-kat sebagai Imam Masjid SMPN 2 Bila, Kec Amali sekaligus membina TPA di rumahnya yang tidak jauh dari masjid tersebut. Setelah mengundurkan diri Kenapa Suami Saya di Bunuh? uasana duka meliputi rumah Suardi. Tangis pun tak terbendung ketika jenazah Suardi tiba. Ismawati masih tak mengerti kenapa suami dibunuh. Apa yang salah dari suaminya. “Suami saya bukan teroris tapi mereka tuduh teroris,” ucapnya lirih sambil memeluk kedua anaknya. Ismawati pun mempertanyakan keterlibatan suaminya yang dituduh terlibat tindakan terorisme namun tanpa bukti. ”Saya pribadi tidak terlalu bermasalah tapi kasihan anak-anak saya masih kecil-kecil, sudah dicap anak teroris. Padahal belum tentu benar bapaknya teroris. Kenapa suami saya ditembak padahal baru terduga," ujarnya dengan suara parau. Yang jelas Suardi telah meninggal. Ia tak bisa lagi membela diri. Lagilagi kasus kebiadaban aparat Densus 88 kembali terulang. Kasus ditutup bersamaan jenazah Suardi dimakamkan.[] fatih S dari PNS, Suardi semakin aktif membina dan membentuk kelompok-kelompok kajian di beberapa masjid termasuk di masjid di dekat rumahnya. Masyarakat setempat mengetahui bahwa pengajian yang Suardi bina kurang lebih seputar masalah-masalah ibadah dan akhlak. Untuk menafkahi keluarganya pasca mundur dari PNS, Suardi menekuni bisnis-bisnis peternakan ayam, berkebun coklat dan dagang. Sedangkan istrinya yang juga masih PNS sebagai guru ikut membantu suaminya kala dia tidak mengajar di sekolah. Ismawati (istri Suardi) menuturkan kepada Media Umat bahwa suaminya hanyalah sekolah guru mengaji yang membina anak-anak TPA di rumah dan masjid dekat rumah dan membina pengajian bapak-bapak dan anak muda seminggu sekali tiap hari Selasa malam, tidak lebih dari itu. Memang, menurut istrinya, kadang suaminya pergi ke Makassar beberapa hari untuk mengikuti kajian di sana. Satu tahun terakhir, menurut pengakuan anggota keluarga yang lain, mereka pernah diajak Suardi ke Makassar dan Kab Mamuju untuk mengikuti kajian. Selain kajian juga diajarkan berlatih renang dan permainan senjata kurang lebih sekitar 2 – 4 minggu tidak pulang ke rumah. Tapi, menurutnya, itu hanya untuk kebutuhan olahraga dan kebugaran, bukan yang lain. Proyek Terorisme Menurut istrinya, usai menjadi imam shalat Idul Adha di masjid dekat rumahnya pada Selasa, Suardi bersama anak per- tamanya (17 tahun) pergi ke Makassar selama 2 hari. Pada Kamis waktu hendak pulang ke Bone, mereka dibuntuti mobil sejak dari Makassar. Kurang lebih 10 km sebelum sampai rumahnya, tepatnya di jalan poros yang sepi, kirikanannya kebun coklat di Dusun Kampung Baru Toddang Bonga Desa Teamusu (Alinge), mobilnya diserempet oleh mobil yang membuntuti dari Makassar. Sesaat setelah berhenti penumpang mobil yang menyerempet mengeluarkan senjata dan langsung menembak Suardi dan langsung meninggal di tempat tanpa ada perlawanan. Aksi ini terjadi sekitar pukul 5 sore. Warga kaget mengira ada perampok yang ditembak. Sedangkan, anak Suardi diamankan Densus 88, ada juga sahabat Suardi bernama Joni yang berasal dari Kab Jeneponto. Pihak keluarga pun meragukan Suardi memiliki atau membawa senjata. Mendengar suaminya tertembak polisi, istri Suardi ketakutan dan bersembunyi di rumah keluarganya. Ismawati kaget saat mendengar, hasil penggeledahan Densus di rumahnya menemukan pistol dan peluru, granat, bahan pembuat bom, dan uang 1 peti. Padahal, menurut Ismawati, sebelum pergi bersembunyi, dia mengaku tidak pernah ada dia lihat barangbarang tersebut di rumahnya, yang ada adalah pupuk tanaman sisa yang belum terpakai di kebun coklatnya. Humas DPD I HTI Sulsel, Dirwan Abdul Jalil mengkritik sikap Densus 88 yang melakukan aksi penembakan tanpa proses hukum pada Suardi padahal Suardi dikenal masyarak at sekitar sebagai orang baik, saleh dan banyak membantu warga. “Densus 88 harus membuktikan tuduhan mereka jangan sampai hanya klaim sepihak atau korban salah tembak sebagaimana beberapa orang sebelumnya,” ujarnya kepada Media Umat. Ulama Sulsel, H M Basri pun geram terhadap sikap Densus 88. Menurut Pimpinan pondok tahfidzul Qur'an Makassar ini, penembakan ini adalah murni order Densus 88 untuk mencari pundipundi penghidupan. Densus menciptakan sebuah modus, menyebut Makassar berbahaya dan merupakan sarang teroris. “Saya rasa semua itu cuma rekayasa saja. Karena ini merupakan order. Merupakan proyek. Maka tidak ada cara kecuali melakukan yang seperti itu,” tuturnya kepada Media Umat. Basri juga menambahkan, hal inilah yang membuat negara ini morat marit. Negara ini tidak bisa aman lagi, karena banyak orang dibunuh tanpa salah. “Baru terindikasi sudah ditembak,” katanya. Pemerintahan yang anti Islam ini pada akhirnya menangkapi mereka-mereka yang mempelajari Islam, dan mulai ditengarai sebagai teroris. Islam ini di jadikan sebagai momok yang menakutkan. Harapan Basri, semoga Allah melaknat mereka dengan laknat yang sangat keras karena ini pelanggaran hak asasi manusia yang luar biasa.[] iton/fatih
  13. 13. Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Media Nasional 13 Pemprov DKI Beri Izin Gedung Kedubes Amerika Dibangun Sangat naif memandang pembangunan renovasi Kedubes Amerika hanya dilihat dari segi teknis, ini sangat konyol. G edung lama Kedubes Amerika Serikat yang berjejer dengan Gedung Wakil Presiden di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta sudah diruntuhkan. Ini menandakan gedung itu siap dibangun dengan gedung baru sesuai rencana. Peralatan besar sudah tampak berada di sekitar Kedubes Amerika. Terkait pembangunan itu Kepala Perijinan Bangunan P2B Heru Hermawanto membenarkan bahwa pembangunan gedung Kedubes Amerika telah mendapatkan izin pembangunannya. Pemda hanya mengecualikan gedung Syahrir. “Kalau wilayah Amerika sendiri tidak masalah, dan P2B telah mengeluarkan izinnya, bukan gedung Syahrirnya karena itu kewenangan Kementerian Pariwisata,” ungkap Kepala Perijinan Bangunan P2B Pemda DKI Jakarta Heru Hermawanto kepada Media Umat, Jumat (11/10) di Gedung Penataan dan Pengawasan Bangunan (P2B), Jakarta. Menurutnya, izin itu dikeluarkan karena secara teknis telah memenuhi syarat. “Kalau kita murni teknis, kaidah-kaidah pembangunannya sudah terpenuhi. Teknis itu arsitektur, struktur dan instalasi,” ungkapnya. Heru juga menyatakan untuk relokasi gedung Syahrir sebenarnya sejak zaman Gubernur Sutiyoso sudah ada izin, hanya saja masih berkendala hingga saat ini di Kementerian Pariwisata. Menanggapi hal itu, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto mengkritik sikap Pemprov DKI Jakarta, yang dianggapnya sangat naif hanya melihat persoalan pembangunan Kedubes Amerika itu dari segi teknisnya saja. “Melihat persoalan ini hanya dari segi teknis itu sangat naif, bagaimana bisa memandang gedung Kedutaan Besar Negara seperti Amerika hanya dipandang dari segi teknis, ini sangat konyol,” ujarnya kepada Media Umat. Ismail pun menambahkan kalau pemerintah tidak mengerti tugas pokok dan fungsinya sebagai penjaga kedaulatan rakyat. “Ini juga khusus ditunjukkan pada pemerintah pusat,” tegasnya. Menurut Ismail, meskipun Pemda DKI Jakarta berargumentasi ini persoalan teknis harusnya pemerintah pusat menganulir perizinan tersebut dengan pertimbangan gedung kedutaan yang akan direnovasi dengan sebesar itu memiliki fungsi dan tugas pokok sangat besar untuk kepentingan Amerika. “Tentunya kepentingan itu untuk mencengkeram Indonesia dengan dominasi ekonomi mereka di Indonesia,” terangnya. Harusnya juga, lanjut Ismail, Pemda daerah yang dipimpin Jokowi dari partai yang katanya nasionalis memberikan saran kepada pemerintah pusat untuk tidak menyetujui pembangunan ini. Pemerintah AS akan membangun kompleks Kedubes AS di Jakarta senilai US$ 450 juta. Gedung yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan No 4 Jakarta Pusat itu akan dimodernisasi dengan menggunakan teknologi dan standar tinggi dalam hal perancangan dan tata ruang. Pembangunan gedung baru 10 lantai yang menempati lahan seluas 36 ribu meter persegi ini ditargetkan akan selesai pada 2017. Pihak AS menyatakan gedung baru itu akan menampung para staf kedutaan dan misi AS untuk ASEAN di Jakarta. Kalau gedung ini jadi, menurut Ismail, ini akan menjadi gedung Kedubes AS ketiga terbesar setelah di Irak dan Pakistan. “Ketiganyakan negeri Muslim, kita bisa melihat kalau Amerika memiliki perhatian khusus terhadap negeri ini, baik secara politis maupun ekonomi, jadi sangat konyol memandangnya hanya dari segi teknis,” pungkasnya.[] fatih mujahid MEDIA GAUL Korean Wave? No Way! Oleh: Eresia N Winata, Yogyakarta K orea? Arggh! Remaji mana yang tidak kenal dengan aksi Song Hye Gyo dan Rain Bi di drama komedi Full House? Remaja mana yang tidak kenal betapa centil dan seksinya para vokalis SNSD (So Nyeu Shi Dae)? Atau adakah yang merasa asing dengan personil Super Junior yang guanteng nan imut2 itu? Yap. Ngomongin korea memang gak ada matinya, mulai dari boyband, girlband, sampai dramanya yang terkenal banget. Gak bisa dipungkiri kalo daya tarik artis Korea itu bisa bikin manusia, baik laki-laki maupun wanita dari segala usia jadi klepekklepek. Mereka cantik, tampan, tinggi semampai, kulit putih mulus, akting mereka top, dan tentu saja dandanan plus outfit (fashion) yang mereka kenakan selalu seger buat diliat. Makin banyaklah bermunculan penyanyi karbitan dalam negeri yang ngadopsi penampilan n gaya artis Korea, sebut aja SM*SH, 7 Icon, HITZ, dll. Korean Wave (gelombang Korea) berhasil banget deh membuat manusia Asia dan sebagian Eropa kesengsem berat sama mode, artis, dan budaya yang disebarluaskan lewat drama, film, dan lagu-lagu mereka. Wajar kalo bejibun banget yang jadi fans berat pemeran drama en personil girlband/boybandnya. Namun, tahukah kamu kalau sebenarnya Korea merupakan negeri dengan beberapa fakta aneh yang mencengangkan? Pertama: Separuh Orang Korea adalah ATHEIS! Menurut berita yang dilansir KBS (siaran eksternal Korea Selatan) hanya 53,1 persen orang Korea yang punya agama. Itu berarti ada sekitar 46,9 persen atau 24 juta orang Korea yang atheis. Gak kebayang ya orang-orang ini makan, tidur, kerja, n sekolah tanpa sebuah keimanan pada Pencipta. Mereka gak akan malu untuk mengatakan bahwa mereka gak percaya pada Tuhan! Kedua: Korea adalah negara dengan angka bunuh diri NOMER 1 di dunia. Sebagai sebuah negara kapitalis dengan industri yang maju, tentu saja persaingan hidup di sana sangat tinggi. Orang Korea memiliki waktu belajar dan kerja lebih tinggi dibanding Jepang. Jangankan orang biasa, para artis Korea pun harus bekerja mati-matian untuk bisa survive di sana. Seorang pelajar SMA menuntut ilmu hingga 13-15 jam/hari. Lihat pula bagaimana Kim Yoona (vokalis SNSD) yang mengaku tidur tidak lebih dari 10 jam tiap minggunya. Semua ini menjadi rutinitas yang sangat melelahkan dan bikin stres. Menurut Menteri Kesehatan Korea Selatan ada sekitar 35 orang Korea bunuh diri SETIAP HARI, baik dari kalangan artis maupun orang biasa. Artis Park Jin Hee mengungkapkan dalam tesisnya bahwa lebih dari 40 persen artis Korea mengalami depresi dan ingin mengakhiri hidupnya. Bahkan ada situs yang bisa dipakai untuk dijadikan tempat ketemu n janjian untuk bunuh diri. Ckckck, parah! Ketiga: Operasi plastik adalah hal biasa. Sebuah lembaga pekerja berbasis online di Seoul mengadakan survey mengenai 'seberapa penting penampilan untuk orang Korea' mendapatkan hasil bahwa 90 persen responden pria dan wanita menginginkan operasi plastik untuk mendukung penampilan mereka. Guys, operasi plastik di Korea sana sudah sama seperti kebutuhan akan makan, gak bisa ditinggalin. Rata-rata orang Korea berusia 18-35 tahun lebih menginginkan hadiah supaya mata, dagu, pipi, dan hidung mereka dirombak dengan operasi plastik dibanding keinginan memiliki gadget atau kendaraan pribadi. Apalagi di kalangan artis, wah justru aneh kalo gak operasi. Pantengin aja tuh artis korea, rata-rata semua hasil operasi bo! Jait sana robek sini, tambal sulam, gak orisinil. Sama seperti angka bunuh diri, budaya operasi plastik di Korea merupakan yang NOMER WAHID DI DUNIA. Olala.. Fakta-fakta di atas sangat kontras dengan corak kehidupan Muslim yang senantiasa dihiasi keimanan dan pengabdian pada Allah SWT. Keimanan pada Allah SWT adalah kunci kesuksesan dunia akhirat, ia ibarat cahaya penunjuk jalan. Wajar kalau akhirnya orang-orang Korea ini gampang banget bunuh diri. Diputusin pacar, lompat dari gedung. Gak punya uang, gantung diri. Gak lulus sekolah, minum racun. Ini fakta bahwa orang yang atheis itu tidak mampu bersabar dan mencari solusi atas masalah yang menimpa mereka. Mereka gak punya tempat memohon, tempat meminta, tempat berkeluh kesah karena mereka gak percaya sama Allah. Wah ngeri euy! Makanya, hati-hati deh dengan Korean Wave yang kian mengganas. Kalo nggak dikendalikan, aktivitas nonton drama & acara Korea bisajadi bikin kita benerbener ngefans berat sama mereka. Sampe rela ngabisin ratusan ribu buat beli tiket konser, atau niru cara berpakaian wanita korea yang suka banget pakein baju adek bayinya (maksudnya minim banget getoh >.<), atau bagi yang laki-laki demen banget niru gaya pria Korea yang cenderung sangat girly (mirip banci), atau rela berantem kalo ada yang jelek-jelekin idolanya, atau malah kepikiran untuk operasi plastik atau bahkan bunuh diri ala mereka kalo ada masalah. Naudzubillah! Jangan sampe deh. HARAM! So..kalo memang kamu bener-bener ngerasa seorang Muslim dan pantas menjadi penghuni taman-taman indah di jannah sebagai tempat kembali yang kekal, udah saatnya kamu bertekad bulat en berkata mantap, “Woiiiii artis korea,,, LO..GUE..END!!!”[]
  14. 14. 14 Media Umat | Edisi 114, 20 Dzulhijjah 1434 H - 3 Muharram 1435 H/ 25 Oktober - 7 November 2013 Ekonomi Penelitian rinci pada tahun 2009 dalam jurnal PLoS ONE menemukan makanan sampah per orang Amerika Serikat telah melonjak 50 persen sejak tahun 1974. I deologi kapitalisme tak mampu menyejahterakan warga dunia. Kemajuan yang dicapai ternyata hanya diperuntukkan bagi sebagian warga dunia. Yang lain tetap menjadi sasaran eksploitasi dan tak beranjak dari kondisi kemiskinan dan kelaparan. Bank Dunia dalam rilisnya yang dikeluarkan Ahad (13/10) lalu mengungkapkan, jumlah penduduk sangat miskin yang hidup kelaparan di dunia telah mengalami penurunan dalam tiga dekade terakhir. Namun, sejak 2010 angka tersebut belum mencakup 400 juta anak-anak kelaparan. Dan sepertiga dari angka tersebut hidup dalam kondisi yang parahnya bukan main. Laporan itu menyebutkan pada tahun 2010, penduduk miskin berkurang 721 juta orang yang berpenghasilan US$ 1,25 per hari jika dibandingkan dengan tahun 1981. Namun jumlah tersebut pun mencakup angka anak-anak yang jumlah tidak proporsional, ditandai dengan 400 Juta Anak Kelaparan, Setengah Makanan Dunia Dibuang satu dari tiga penduduk miskin dan kelaparan merupakan anakanak, dibanding satu dari lima penduduk miskin yang hidup di garis kemiskinan adalah anakanak. Di negara miskin, presentase tersebut malah lebih buruk lagi. “Kita menyaksikan sendiri sebuah pergerakan bersejarah mengenai penduduk yang mengeluarkan diri mereka dari garis kemiskinan dalam tiga dekade terakhir, tapi jumlah anak-anak miskin dan kelaparan masih banyak dan perlu dilakukan upaya lebih besar lagi," kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. Ia mengatakan, dunia bisa mencapai target dalam menyelesaikan persoalan kemiskinan dan memberikan kesejahteraan bagi mereka, tapi hanya dengan cara bekerja sama dengan kepentingan yang baru. “Anak-anak seharusnya tidak dihukum ke kehidupan tanpa harapan, tanpa pendidikan yang baik, dan tanpa akses pada kesehatan yang baik. Kita harus melakukan yang lebih baik bagi mereka," katanya. Enam bulan lalu, Gubernur Bank Dunia Group memaparkan dua target yakni mengakhiri kemiskinan di tahun 2030 dan mempromosikan kesejahteraan dengan menjaga pertumbuhan pendapatan di bawah 40 persen dari populasi di negara berkembang. Penurunan angka kemiskinan melaju sangat cepat dari yang diperkirakan. Sementara angka kemiskinan menurun, 35 negara dengan pendapatan rendah 26 negara berada di benua Afrika menghasilkan 100 juta rakyat miskin yang baru selama tiga dekade terakhir. Di tahun 2010, 33 persen dari kehidupan tersebut berada di negara berpendapatan rendah. Kelebihan Makanan Jika di negara-negara miskin yang umumnya berada di belahan bumi bagian selatan, maka di belahan bumi utara —negara Barat yang umumnya adalah penjajah— mengalami kondisi yang sebaliknya. British Institution of Mechanical Engineers (IMechE) mengeluarkan hasil studi yang sangat mengejutkan. Sebuah studi baru menemukan hingga setengah dari makanan dunia dibuang tanpa dimakan. Mereka mengklaim bahwa 30 hingga 50 persen dari semua biji-bijian, buah-buahan, sayuran dan daging yang dihasilkan tiap tahun dibuang. Jumlah ini hampir 2,2 milyar ton dari seluruh makanan dunia yang terbuang di tempat sampah. Laporan ini ditulis rinci oleh IMechE dalam judul "Global Food: Waste Not, Want Not.” “Jumlah makanan yang terbuang dan hilang di seluruh dunia sangat mengejutkan," kata tim Fox, kepala Energi dan Lingkungan di IMechE. Penelitian rinci pada tahun 2009 dalam jurnal PLoS ONE menemukan makanan sampah per orang Amerika Serikat telah melonjak 50 persen sejak tahun 1974. Bahkan di negara-negara berkembang, limbah makanan adalah endemik. Bukan karena konsumen menolaknya. Menurut laporan IMecE, di daerah seperti sub-Sahara Afrika dan Asia Tenggara, makanan dibuang karena pembusukan akibat pengiriman dan infrastruktur penyimpanan. Pasar juga menyalahkan atas penggunaan tanggal yang ketat sering mengakibatkan makanan yang masih baik dijual cepat. Sehingga seringkali mendorong konsumen untuk membeli makanan lebih dari yang dapat mereka konsumsi realistis. Laporan IMechE merekomendasikan perbaikan infrastruktur di negara-negara berkembang. Selain itu perubahan kebijakan ritel yang mendorong limbah sebagai cara praktis untuk mengurangi limbah makanan. Apa yang terjadi ini menunjukkan sebenarnya dunia tidak kekurangan pangan dan tidak terbebani dengan kenaikan jumlah penduduk. Yang menjadi masalah adalah distribusi harta kekayaan dunia termasuk pangan yang tidak merata. Harta kekayaan hanya berputar di negara-negara Barat. Inilah hasil ideologi kapitalisme. [] emje Bisnis Syariah Haris Islam LKP Pusat HTI, Coach di Bidang Bisnis Syariah I ndonesia merupakan pasar yang empuk bagi investor asing. Dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa, serta pertumbuhan kelas menengah yang sangat signifikan, Indonesia bisa menjadi pasar potensial yang begitu menjanjikan. Lihat saja jumlah waralaba asing di sampai dengan Maret 2013 sudah mencapai 400 waralaba. Tentu saja bombardir ini tidak akan berhenti sampai di sini. Dengan alasan pertumbuhan ekonomi, pemerintah justru semakin menggenjot investasi asing masuk ke Indonesia. Tahun ini saja nilai investasi asing diperkirakan mencapai Rp 272,6 trilyun. Di ajang Trade Expo Indonesia (TEI), sudah ada 19 negera yang menyatakan kesediaannya untuk berinvestasi di Indonesia. Tak tanggung-tanggung nilainyapun cukup besar yakni US$ 1 milyar. Belum lagi investor asing dari pertemuan pemerintah Indonesia dengan negara-negara anggota APEC di Bali beberapa waktu yang lalu. Yang membuat ironi adalah masuknya investor asing ini tidak disertai dengan regulasi untuk membentengi moral bangsa ini. Bagaimana tidak, investor asing banyak sekali yang menyasar bisnis 3F yakni : Food, Fashion and Fun. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa bisnis 3F inilah yang digunakan ideologi kapitalis untuk merusak moral kaum Muslim. Tak ayal lagi kebejatan moral bangsa ini pun semakin sulit dibendung. Pemerintah tidak peduli lagi makanan penduduknya halal ataukah haram, mereka juga tidak peduli jika wanita di negeri ini mengumbar aurat bahkan berfoya-foya dengan banyaknya tempattempat hiburan yang dibuka. Sebut saja di bidang makanan (food), Lotteria, restoran fast food dari Korea ini akan membuka 100 Gempuran Investor Asing Hancurkan Moral cabang sampai dengan 2015. Tentu kehalalan dari produknya pun masih kita ragukan. Belum lagi departemen store yang didalamnya banyak menjual makanan dan minuman yang haram juga terus tumbuh. Ada Gallery La Fayette dari Prancis (Juni 2013) & Central Department Store asal Thailand (Mei 2013). Semua itu semakin menyuburkan gaya hidup konsumerisme. Di bidang pakaian (fashion), meskipun bisnis kerudung dan jilbab cukup menjamur di Indonesia namun gempuran dari barat pun mulai terasa. Lihat saja peritel fesyen asal Taiwan, IROO, juga sudah membuka tokonya yang pertama kali di Indonesia Agustus 2013. Selain itu Uniqlo, merek fesyen kenamaan asal Jepang, telah membuka toko pertamanya di Indonesia pada Juni 2013. Sebelumnya juga ada Penshoppe (Filipina) yang menjual pakaian santai sehari-hari. Bukankah bisnis ini juga akan menumbuh suburkan exploitasi terhadap aurat wanita? Belum lagi bisnis di bidang hiburan (fun). Bisnis ini telah mengalami pertumbuhan yang begitu pesat. Berapa jumlah konser musik yang diselenggarakan di negeri ini. Di tahun 2012 saja ada 50 artis asing yang manggung di Indonesia. Bahkan di tahun 2013 ini angkanya sudah melewati 50 jadwal konser. Belum lagi konser musik artisartis lokal yang menjamur sampai ke kampung-kampung. Mampukah kita menolaknya ramai-ramai semua konser ini, seperti yang pernah kita lakukan pada konsernya Lady Gaga? Belum lagi ajang Miss World di Bali beberapa waktu yang lalu, juga turut serta menumbuh suburkan konteskontes sejenis di negeri ini. Belum lagi bisnis hiburan di bidang ajang pencarian bakat anak-anak muda. Hampir semua stasiun televisi di Indonesia membuat acara yang serupa. Bukankah ini perusakan moral anak muda yang dibuat secara sistematis? Gempuran investor dan bisnis asing telah menjajah negeri ini. Di sisi lain pengusaha negeri ini ikut-ikutan membebek kepada mereka. Mereka asyik memikirkan bisnis mereka sembari terus menjalin kerjasama dengan para investor asing. Padahal ideologi kapitalismelah yang dipakai para investor asing itu untuk menjalankan bisnis mereka. Ideologi yang tidak pernah mengenal kata halal haram, tidak pernah menghargai aurat wanita dan tidak pernah menghargai ketinggian moral. Tapi hanya mengenal kata keuntungan dan kekayaan. Maka bisa dipastikan, para pengusaha Muslim juga akan ikut tergerus dengan ideologi kapitalisme. Lantas siapa lagi yang bisa kita harapkan untuk memperbaiki negeri ini? Maka, kepada para pengusaha Muslim perlu diingatkan bahwa berbisnis bukan hanya mencari untung melainkan juga ridha Allah SWT. Jangan sampai bertambahnya uang kita diikuti bertambahnya dosa kita. Sudah saatnya kita bangkit! Sudah saatnya menjalin kerja sama dengan pengusaha Muslim lainnya. Menjalin kerjasama juga dengan ulama, akademisi, politikus, tokoh masyarakat dan seluruh komponen umat. Bukan sekadar untuk tujuan bisnis semata, melainkan untuk tujuan yang lebih mulia yakni kemulian Islam dan kaum Muslimin. Bersama-sama berjuang, menyongsong surga di depan mata dengan menerapkan nilai-nilai syariah disegala aspek kehidupan serta menegakkan institusi yang menjaga syariah yakni khilafah.[]

×