Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Identifikasi dan inventarisasi penyakit tanaman tomat

1,696 views

Published on

This presentation talk about, tomato disease identification in Lembang, Bandung, Indonesia

Published in: Science
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Identifikasi dan inventarisasi penyakit tanaman tomat

  1. 1. IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI PENYAKIT PADA TANAMAN TOMAT di BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN LEMBANG Rijal Masruri 11/318029/PN/12356 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
  2. 2. METODE β€’ LAPANGAN 1. Penghitungan Intensitas dan Insidensi 2. Pengambilan Sampel β€’ Laboratotium 1. Sterilisasi Alat 2. Pembuatan Media 3. Isolasi 4. Identifikasi 5. Inokulasi
  3. 3. Kegiatan Lapangan Lahan D 7 dengan luas Β± 2500 π‘š2 , dan jumlah tanaman tomat Β± 2000 tanaman berumur 50 hari yang di tumpang sari dengan cabai dan sawi.
  4. 4. Penghitungan Intensitas Penyakit tanaman β€’ Rumus yang digunakan 𝐼𝑃 = Ζ© 𝑛 Γ— 𝑣 𝑍 Γ— 𝑁 Γ— 100% β€’ N = jumlah tanaman yang diamati β€’ Z = nilai skoring tertinggi β€’ n = jumlah tanaman yang memiliki skoring sama β€’ v = nilai skoring tanaman
  5. 5. Penghitungan Intensitas Penyakit tanaman Sampel yang diamati adalah yang bergejala bercak dan hawar, sebanyak 200 tanaman dari Β± 2000 populasi tanaman yang ada. Dengan pola pengambilan sampel :
  6. 6. Penghitungan Intensitas Penyakit tanaman β€’ Bercak Nilai skoring mengacu pada Sastrahidayat (2011), dengan skoring : 0 = tanaman sehat 1 = > 0 - < 10 % bagian daun terserang 2 = > 10 - < 20 % bagian daun terserang 3 = > 20 - < 40 % bagian daun terserang 4 = > 40 - < 60 % bagian daun terserang 5 = > 60 - < 100 % bagian daun terserang
  7. 7. Penghitungan Intensitas Penyakit tanaman β€’ Hawar Nilai skoring mengacu pada (Henfling, 1979 cit Ambarwati et al, 2012), dengan skoring : 0 = tanaman sehat 1 = 1 - 10 % bagian daun terserang 2 = 11 - 20 % bagian daun terserang 3 = 21 - 40 % bagian daun terserang 4 = 41 - 60 % bagian daun terserang 5 = 61 - 80 % bagian daun terserang 6 = 81 - 100 % bagian daun terserang
  8. 8. Penghitungan Insidensi Penyakit tanaman Dari hasil pengamatan dilapangan, penghitungan insidensi dilakukan untuk gejala bercak, hawar, layu, kerdil dan mosaik. Rumus yang digunakan 𝐼𝑛𝑠𝑖𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖 = π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘‘π‘Žπ‘›π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘‘π‘Žπ‘›π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘‘π‘– Γ— 100%
  9. 9. Pengambilan sampel tanaman bergejala
  10. 10. LABORATORIUM
  11. 11. STERILISASI ALAT β€’ Autoclave β€’ Spons β€’ Ember BAHAN β€’ Peralatan yang akan di sterilisasi β€’ Sabun β€’ Air
  12. 12. Langkah-langkah sterilisasi β€’ Alat beserta media di autoclave selama 1 jam pada suhu 1210C β€’ Alat dipisahkan dari media yang masih menempel dan dicuci dengan sabun β€’ Ditiriskan dan dimasukan ke autoclave khusus sterilisasi alat , diautoclave selama 1 jam dengan suhu 1210C. β€’ Pengovenan alat-alat dengan suhu 1500C selama 1 jam
  13. 13. PEMBUATAN MEDIA Alat dan bahan media PDA β€’ Alat : hotplate (pemanas), magnetic stirrer, erlenmeyer ukuran 2000 ml saringan, lap, pisau, dan kamera. β€’ Bahan untuk 1 liter : kentang 200 gram, agar 20 gram, gula 20 gram (penganti dextrose), aquades Alat dan bahan media TZC β€’ Alat : hotplate (pemanas), magnetic stirrer, erlenmeyer ukuran 2000 ml saringan, lap, pisau, botol stok ukuran 200 ml dan kamera. β€’ Bahan 1. Larutan TZC A : dektrose /sukrosa sebanyak 10 g, pepton 10 g, casamino acid 1 g, agar 20 gr, dan aquades 1 liter 2. Larutan TZC B : cairan TZC 100 ml
  14. 14. Pembuatan media PDA β€’ Kentang dicuci dan dipotong kecil-kecil, lalu dicuci kembali sampai bersih β€’ Rebus dalam 1 liter aquades Β± 1 jam β€’ Pisahkan sari kentang dan kentangnya β€’ Tambahkan aquades hingga volumenya 1 liter β€’ Tambahkan 20 gram agar dan 20 gram gula, dan dipanaskan kembali sampai mendidih dan semuanya tercampur dengan bantuan stirrer β€’ Tuangkan ke dalam botol untuk disterilisasi dalam autoclave selama 1 jam pada suhu 1210C
  15. 15. Pembuatan Media TZC 1. Panaskan dektrose/sukrosa sebanyak 10 g, pepton 10 g, casamino acid 1 g, agar 20 gr dalam 1 liter aquades sampai semua bahan larut Β± Β½ jam (Larutan TZC A) 2. Masukan dalam ukuran 200 ml di dalam botol dan di autoclave bersamaan dengan larutan TZC B dengan wadah terpisah selama 1 jam dengan suhu 1210C. 3. Untuk pencampuran untuk 200 ml TZC A, tunggu larutan TZC A sampai hangat-hangat kuku, lalu tambahkan 200 Β΅l Larutan TZC B 4. Plating di petridish
  16. 16. Isolasi Alat β€’ Laminar air flow cabinet β€’ Jarum ent β€’ Jarum ose β€’ Petrisdish β€’ Bunsen β€’ Label β€’ Kamera β€’ Pinset β€’ Gunting β€’ Plastik sil Bahan β€’ Media PDA dan TZC β€’ Alkohol β€’ Sampel tanaman bergejala
  17. 17. Isolasi Tunggu 3-7 hari
  18. 18. Identifikasi Alat β€’ Mikroskop β€’ Laminar air flow cabinet β€’ Jarum ent β€’ Jarum ose β€’ Kaca preparat β€’ Cover glas β€’ Bunsen β€’ Tusuk gigi β€’ Kamera β€’ Selotipe β€’ Mikropipet Bahan β€’ Biakan murni β€’ KOH 3% β€’ Media TZC β€’ Aquades
  19. 19. Identikasi Jamur dan organisme menyerupai jamur Pengamatan makroskopis : 1. Warna koloni 2. Pertumbuhan koloni Pengamatan mikroskopis : 1. Morfologi hifa 2. Morfologi spora / konidiofor dll Inokulasi
  20. 20. Identikasi Bakteri Pengamatan makroskopis : 1. Warna koloni Uji KOH 3% 1. Untuk melihat apakah bakteri tersebut gram negatif atau positif Ditumbuhkan pada media selektif
  21. 21. Hasil Identifikasi
  22. 22. Hasil pengamatan visual Gejala penyakit abiotik, diduga kekurangan unsur P. seluruh daun menjadi hijau tua, muncul pigmen unggu pada daun, terutama daun yang tua (Handayani, 2014) Menimbulkan bercak- bercak hijau muda atau kuning yang tidak teratur. Diduga disebabkan oleh Tobaco mosaic virus, atau Cucumber mosaik virus Pertumbuhan tanaman tidak normal, tanaman menjadi kerdil dan keluar bungga lebih cepat. Diduga disebabkan oleh serangan Tobaco crinkle virus, atau Tomato Yellow leaf curl virus
  23. 23. Sampel 1 (gejala hawar) sporangium berbentuk seperti buah lemon, hifa tidak bersekat, dari gejala dan bentuk sporagium yang didapat, tanaman terserang Phytophthora sp Gambar : Wulandari et al, 2014 Menurut wulandari et al (2014), berwarna putih dan tipis. Tekstur koloni agak tebal, rapat dan kasar. Pola pertumbuhan koloni radial dengan bentuk menyerupai kelopak bunga
  24. 24. Sampel 2 (bercak pada daun) Hasil pengamatan mikroskopis Warna koloni pada media pada bagian tengah berwarna abu-abu dikelilingi koloni berwarna agak kuning dan ada warna abu-abu dibagian luar Diduga Alternaria spp, dengan hifa yang masih muda hialin (tidak berwarna), yang sudah tua berwarna coklat muda dengan konidiofor tegak dan bersekat, spora berbentuk seperti gada bersekat dengan warna coklat
  25. 25. Sampel 3 (Layu) Belum teridentifikasi, gejala layu, dimulai dari daun tua. Biakan berwarna putih agak unggu pada bagian atas petridish, dan bagian bawah berwarna hitam di tengah dan dikelilingi biakan berwarna kuning tua sampai kuning muda. Hifa tidak berwarna, dan memiliki banyak inti (senositik), terdapat seperti klamidospora
  26. 26. Sampel 4 (Layu) Belum teridentifikasi, gejala layu. Bagian atas petrisidh biakan berwarna putih saat berumur 4 hari dan menjadi abu-abu pada umur >7 hari dan membentuk benjolan pada bagian tengah, dan bagian bawah putih pada umur <4 hari dan agak kuning pada umur >7 hari. Hifa tidak berwarna, bersekat dan tidak berinti pada umur < 4 hari dan memiliki banyak inti (senositik) pada umur > 7 hari, spora berbentuk bulat dan bisa membelah.
  27. 27. Sampel 5 a (bercak pada daun) Hasil pengamatan mikroskopis Warna koloni pada media pada bagian tengah berwarna abu-abu dikelilingi koloni berwarna agak kuning dan ada warna abu-abu dibagian luar Diduga Alternaria spp, dengan hifa yang masih muda hialin (tidak berwarna), yang sudah tua berwarna coklat muda dengan konidiofor tegak dan bersekat, spora berbentuk seperti gada bersekat dengan warna coklat
  28. 28. Sampel 5 b (bercak pada daun) Belum teridentifikasi, gejala bercak. Bagian atas petrisidh biakan berwarna abu-abu pada bagian tengah dan abu-abu agak putih pada bagian luar, dan bagian bawah berwarna coklat pada bagian tengah dan dikelilingi biakan berwarna putih agak kekuningan, dan pada bagian terluar berwarna abu-abu. Hifa tidak berwarna, bersekat dan berinti (hifa seluler), dan bercabang
  29. 29. Sampel 6 (busuk buah) Belum teridentifikasi, gejala busuk pada pangkal dan ujung buah. Bagian atas petrisidh, biakan berwarna putih dan membentuk gelombang tidak beraturan, dan bagian bawah berwarna hitam agak keputih-putihan dengan bagian tengah berwarna hitam pekat. Hifa tidak berwarna, bersekat dan berinti (hifa seluler), dan bercabang
  30. 30. Sampel 7 (layu) Nenes / ose
  31. 31. Sampel 7 (layu) Dari hasil pengujian KOH 3%, menunjukan bahwa bakteri merupakan bakteri gram negatif. Dan pada saat di tanam pada media TZC, terlihat koloni yang berwarna merah, yang menjadi ciri dari Rasltonia solanacearum yang ditanam pada media TZC
  32. 32. Sampel 8 (bercak buah) Belum teridentifikasi, gejala bercak pada buah mirip gejala yang disebabkan oleh Xanthomonas campersirs pv. Vesicatoria. Tapi setelah dilakukan pengujian gram, bakteri adalah gram positif sedangkan Xanthomonas campersirs pv. Vesicatoria merupakan bakteri gram negatif
  33. 33. Intensitas penyakit tanaman 60,80% 64,08% 59,00% 60,00% 61,00% 62,00% 63,00% 64,00% 65,00% bercak hawar Histogram Instensitas Penyakit Tomat instensitas penyakit tomat
  34. 34. Insidensi penyakit tanaman 5,75% 3,90% 1,50% 96,50% 98,00% 0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% 120,00% layu kerdil mozaik bercak hawar Histogram Insidensi Penyakit Tomat Insidensi penyakit tomat
  35. 35. KESIMPULAN β€’ Penyakit tanaman tomat di sekitar wilayah Balitsa yang berhasil teridentifikasi antara lain adalah Phytophthora sp, Alternaria sp, Rasltonia solanacearum, Tobaco mosaic virus, Cucumber mosaik virus, Tobaco crinkle virus,Tomato Yellow leaf curl virus serta gejala kekurangan unsur P. β€’ Phytophthora sp. menunjukan gejala hawar, Alternaria sp. menunjukan gejala bercak, Rasltonia solanacearum menunjukan gejala layu, Tobaco mosaic virus, dan Cucumber mosaik virusi menunjukan gejala mosaik, Tobaco crinkle virus, dan Tomato Yellow leaf curl virus menunjukan gejala kerdil. β€’ Intensitas gejala bercak sebesar 60,80% dan intensitas gejala bercak sebesar 64,08% β€’ Insidensi / kejadian dari gejala hawar sebesar 98 %, gejala bercak 96,5%, gejala layu 5,75 %, kerdil 3,9 % dan mosaik 1,5%.
  36. 36. Terimakasih

Γ—