Kumpulan tugas interpretasi ruang

17,134 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
17,134
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,489
Actions
Shares
0
Downloads
703
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kumpulan tugas interpretasi ruang

  1. 1. LAPORAN PETA RUPA BUMI DIGITAL INDONESIA “KOMPONEN-KOMPONEN PETA RUPA BUMI DIGITAL INDONESIA” Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Interpretasi Ruang Dikerjakan Oleh : Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Primadea Arijani 21040112140115 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013
  2. 2. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Interpretasi ruang merupakan suatu proses penerjemahan data-data yang bersifat keruangan. Penerjemahan ini memiliki arti memahami dan menganalisis keadaan suatu ruang atau wilayah. Salah satu data/informasi yang bersifat keruangan adalah peta. Kemampuan meninterpretasikan suatu ruang, terutama peta, sangat diperlukan dalam berbagai proses perencanaan wilayah dan kota. Kemampuan melakukkan interpretasi ruang harus diasah secara rutin agar rencana yang dihasilkan dapat direalisasikan secara cepat dan tepat sasaran. Dalam membuat suatu rencana wilayah di Indonesia, seorang perencana harus memiliki kemampuan membaca peta meliputi membayangkan, menganalisis, dan mempunyai pengetahuan umum yang luas. Selain itu, perencana juga memerlukan referensi peta sebagai acuan untuk mengembangkan suatu wilayah. Referensi peta yang digunakan harus bersumber dari instansi resmi agar tidak terjadi kekeliruan dalam perencanaan. Salah satu jenis peta yang dapat digunakan adalah peta rupabumi digital Indonesia. 1.2 Landasan Teori Peta Rupabumi Indonesia (RBI) adalah peta topografi yang menampilkan sebagian unsur-unsur alam dan buatan manusia di wilayah NKRI. Unsur-unsur kenampakan rupabumi dapat dikelompokkan menjadi 7 tema, yaitu: Tema 1 : Penutup lahan: area tutupan lahan seperti hutan, sawah, pemukiman dan sebagainya Tema 2 : Hidrografi: meliputi unsur perairan seperti sungai, danau, garis pantai dan sebagainya Tema 3 : Hipsografi: data ketinggian seperti titik tinggi dan kontur Tema 4 : Bangunan: gedung, rumah dan bangunan perkantoran dan budaya lainnya Tema 5 : Transportasi dan Utilitas: jaringan jalan, kereta api,
  3. 3. 2 kabel transmisi dan jembatan Tema 6 : Batas administrasi: batas negara provinsi, kota/kabupaten, kecamatan dan desa Tema 7 : Toponimi: nama-nama geografi seperti nama pulau, nama selat, nama gunung dan sebagainya
  4. 4. 3 BAB 2 ANALISIS KOMPONEN PETA RUPABUMI Data peta yang digunakan dalam proses analisis ini adalah peta rupabumi wilayah Gegerbitung yang diterbitkan oleh Bakosurtanal (Badan Koodinasi Survey dan Pemetaan dan Nasional). Peta ini merupakan hasil scanning peta asli. Namun, kualitas gambar cukup bagus sehingga pembaca masih bisa melihat atau membaca peta dengan jelas.
  5. 5. 4 Pada dasarnya dalam sebuah Peta rupabumi Indonesia akan ditemui 2 informasi, yaitu : 2.1 Muka peta Merupakan bagian pokok peta yang menunjukkan sejumlah obyek yang ada di daerah tertentu dan termasuk informasi tersebut. Informasi yang ditampilkan pada muka peta adalah kenampakan- kenampakan yang menggambarkan unsur-unsur sebagai berikut :  Buatan manusia, seperti jalan, rel kereta api, bangunan sawah, dan sebagainya.  Perairan, seperti laut, danau, rawa, sungai dan sebagainya.  Unsur alam, seperti gunung, bukit, pegunungan, lembah dan sebagainya.  Tumbuhan, seperti hutan, semak belukar, padang rumput, dan sebagainya
  6. 6. 5 2.2 Informasi tepi peta Merupakan bagian peta yang berisi penjelasan secara detil, yang dapat membentu menggunakan peta. Tata letak informasi tepi Peta Rupabumi Indonesia publikasi BAKOSURTANAL telah dibakukan untuk memudahkan pengguna dalam membaca peta. Keterangan : 1. Judul Peta 2. Petunjuk Letak Peta dan Diagram Lokasi 3. Informasi Sistem Referensi 4. Informasi Pembuat dan Penerbit Peta 5. Informasi Nama dan Nomor Lembar Peta 6. Legenda 7. Keterangan Riwayat Peta 8. Petunjuk Pembacaan Koordinat Geografi 9. Petunjuk Pembacaan Koordinat UTM 10. Pembagian Daerah Administrasi 11. Skala Grafis 12. Singkatan dan Kesamaan Arti Peta 13. Diagram Arah Utara 14. Nomor Lembar Peta Kiri Bawah 1 2 6 8 10111213 9 3 4 5 7 14
  7. 7. 6 2.2.1 Judul Peta Pada kolom judul peta, dapat ditemukan informasi sebagai berikut : 1. Judul Peta : Peta Rupabumi Indonesia 2. Skala : 1 : 25.000 3. Nomor Lembar : 1209-211 4. Nama Lembar :Gegerbitung 5. Edisi (Tahun Penerbitan/Pencetakan) : I-1999 2.2.2 Petunjuk Letak Peta dan Diagram Lokasi Petunjuk letak peta menunjukkan nomor dan nama lembar peta terhadap nomor dan lembar peta di sekelilingnya. Biasanya matrik petunjuk peta berukuran 3x3, dan lembar peta yang sesuai judul berada di tengah-tengah. Petunjuk letak peta sangat membantu pengguna dalam mencari nomor lembar peta-peta yang bersebelahan. Diagram lokasi berbentuk letak nomor peta pada area yang lebih luas, misalnya bagian dari Provinsi Jawa Barat. 2.2.3 Informasi Sistem Referensi Informasi sistem referensi terdiri dari informasi sistem proyeksi, sistem grid, datum horizontal dan vertical, satuan tinggi, dan selang kontur. Proyeksi peta adalah penggambaran sistematis dari garis-garis di atas permukaan bidang datar untuk menggambarkan garis-garis paralel dari
  8. 8. 7 lintang dan garis-garis meridian dari bujur bumi dari sebagian permukaan atau keseluruhan bola bumi. Proyeksi peta yang digunakan pada peta rupabumi Indonesia adalah proyeksi Transverse Mercator (TM) sedangkan sistem grid mengikuti sistem grid Universal Transverse Mercator (UTM). Grid peta adalah sistem koordinat persegi panjang yang ditumpang susun terhadap peta atau suatu penggambaran dari permukaan bumi yang mempunyai karakteristik dan ketelitian tertentu, sehingga dapat mengidentifikasi lokasi di permukaan bumi terhadap lokasi lainnya dan juga dipakai untuk perhitungan arah dan jarak terhadap titik lain. Datum yang dipakai biasanya datum horizontal dan datum vertikal. Sesuai dengan perkembangan, Indonesia mengalami beberapa penggunaan datum, misalnya Datum Indonesia 1974 (ID-1974). Saat ini, dipakai Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-1995) atau WGS84 untuk peta bumi yang dibuat setelah tahun 1995. 2.2.4 Informasi Pembuat dan Penerbit Peta Informasi pembuat dan penerbit peta merupakan instansi yang bertanggung jawab terhadap pembuatan dan peneribitan peta rupabumi Indonesia, dalam hal ini adalah BAKOSURTANAL. Peta rupabumi produksi BAKOSURTANAL ini juga dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta (Copy Rights) No. 19 tahun 2002.
  9. 9. 8 2.2.5 Informasi Nama dan Nomor Lembar Peta Informasi nama sangat penting untuk memudahkan pengguna mencari lokasi yang diinginkan. Nomor lembar dibuat secara sistematis untuk memudahkan pencarian pada indeks peta. 2.2.6 Legenda Suatu daftar atau tabel yang menunjukkan tanda-tanda atau simbol-simbol konvensional yang digunakan pada peta disertai warna dan deskripsinya ditampilkan di sebelah kanan tengah dari peta. Daftar ini lazim disebut dengan keterangan atau legenda. Legenda peta dibuat untuk simbol-simbol yang terdapat di dalam peta. Simbol di dalam peta dikelompokkan sebagai berikut : Gedung dan Bangunan Lainnya Gedung dan bangunan yang dimaksudkan dalam hal ini antara lain pemukiman, bangunan, tempat ibadah, kuburan, kantor, sekolah, dll. Simbol bangunan yang berupa kotak segiempat berwarna hitam bukan berarti menunjukkan sebagai rumah atau bangunan tunggal, melainkan merupakan gambaran bahwa di lokasi tersebut terdapat bangunan-bangunan atau kumpulan bangunan. Informasi yang menyertai pemukiman atau bangunan biasanya berupa teks yang menerangkan nama bangunan atau pemukiman tersebut. Jenis dan ukuran huruf yang dipakai untuk nama tempat (kota atau desa) mempunyai arti penting untuk membedakan status kelas tempat tersebut.
  10. 10. 9 Masalahnya adalah sempitnya ruang pada peta. Untuk itu, maka dimanfaatkan huruf besar atau kecil dalam menyatakan perbedaan kelas. Ukuran huruf semakin kecil jika tingkat atau kelas tempat tersebut juga semakin rendah (nama kampong lebih kecil daripada nama kota). Simbol-simbol bangunan umumnya berwarna hitam dan menunjukkan ciri alami dari obyek yang disimbolkan, misalnya simbol gereja akan menyertakan gambar salib, simbol masjid akan menyertakan gambar bulan sabit. Perhubungan Unsur simbol perhubungan yang dipetakan antara lain jalan, jalan kereta api, jembatan, stasiun, terminal bis, lapangan terbang dan obyek-obyek lain yang berkaitan. Simbol jalan, khususnya jalan raya, digambarkan dengan garis ganda berwarna hitam dengan warna isian merah. Semakin tinggi kelas jalan maka semakin lebar simbolnya. Garis tunggal dan putus-putus menunjukkan tingkat kelas jalan tersebut yang lebih rendah, misalnya jalan lain dan jalan setapak. Sesuai dengan spesifikasi teknis peta rupabumi Indonesia, kelas jalan dibagi menjadi 5, yaitu :  Jalan arteri, yaitu setara dengan jalan negara (yang menghubungkan antar ibukota propinsi), jalan propinsi (yang menghubungkan antar ibukota kabupaten), jalan bypass, jalan lingkar, dan jalan bebas hambatan (jalan tol).  Jalan kolektor, yaitu setara jalan kabupaten (menghubungkan antarkecamatan).  Jalan lokal, yaitu jalan di dalam kota.  Jalan lain-lain, yaitu setara jalan kecamatan (yang menghubungkan antardesa).  Jalan setapak, yaitu jalan kecil yang penting (misalnya di tengah hutan atau di atas gunung), namun bukan untuk lalu lintas kendaraan bermotor. Jembatan digambarkan bersilangan dengan sungai atau jalan lain. Pada bagian tepi jembatan umumnya dibuat dengan garis yang tebal. Jika jembatan tersebut berupa titian, maka digambarkan x pada persilangannya. Sedangkan terowongan dan tambangan digambarkan dengangaris putus- putus.
  11. 11. 10 Jalan atau rel kereta api digambarkan dengan simbol garis tunggal berwarna hitam. Umumnya hanya dibedakan dengan jalan kereta api rangkap dan jalan kereta api tunggal. Kelas yang lebih rendah diberikan untuk jalan lori, yaitu dengan mengurangi ketebalan garisnya. Tumbuh-tumbuhan Untuk tumbuh-tumbuhan didalam peta berupa sawah irigasi dan tadah hujan, kebuh/ perkebunan, hutan, semak/belukar, tegalan/ ladang, rumput/ tanah kosong, dan hutan rawa. Unsur tumbuh- tumbuhan pada umumnya dibatasi dengan garis warna hijau, disertai dengan symbol-simbol yang membentuk pola tertentu untuk pohon atau tanaman. Untuk sawah irigasi diberi symbol kotak-kotak teratur berwarna biru, dan untuk sawah tadah hujan diberi symbol kotak-kotak tidak teratur. Warna biru menggambarkan unsur air yang terkandung pada sawah. Sawah irigasi adalah lahan yang diusahakan untuk padi dengan cara irigasi, sedangkan sawah tadah hujan adalah yang diusahakan untuk padi dengan cara tadah hujan. Hutan ditampilkan dengan isian tidak teratur berwarna hijau, sedangkan semak atau belukar dengan pola isian yang sama tetapi memiliki kerapatan yang lebih rendah daripada hutan. Kebun/ perkebunan diberi isian warna hijau tanpa pola, demikian pula dengan tegalan/ ladang diberi warna kuning tanpa pola. Untuk daerah yang berumput dan lahan kosong tidak diberi isian
  12. 12. 11 warna atau putih saja. Sedangkan hutan rawa disimbolkan dengan warna hijau dan berpola garis putus-putus berwarna biru. Relief/ Titik Kontrol Relief adalah isitilah umum untuk menunjukkan bentuk permukaan lapangan pada bidang vertikal. Penyajian relief di peta dengan cara menunjukkan tinggi dan bentuk permukaannya, diatas atau dibawah datum yang biasanya dipakai, yaitu permukaan laut. Penyajian relief pada peta rupabumi memiliki tingkat kelengkapan dan ketelitian bermacam-macam sesuai dengan skalanya. Untuk relief umumnya diberi warna oranye, coklat, dan hitam. Warna oranye menggambarkan keadaanrelief tanah biasa dan warna hitam menggambarkan kondisi tanah daerah yang berbatu atau diperkeras. Sedangkan titik kontrol digambarkan dengan simbol titik dengan angka untuk Titik Tinggi, segitiga dengan tiitk untuk Titik Triangulasi, persegi dengan titik untuk Titik Tinggi Geodesi (TTG) dan bintang untuk Titik Astronomi (A) dan Gaya Berat (GB). Titik tinggi dengan angka menunjukkan tinggi suatu lokasi dalam satuan meter diatas permukaan laut. Titik triangulasi terdapat tiga kelas yaitu primer (P), sekunder (S), dan tertier (T). Batas Administrasi Simbol untuk batas administrasi biasanya selalu garis tunggal dengan ketebalan bervariasi, garis putus-putus atau kombinasi titik-titik diantara garis putus-putus tersebut. Batas administrasi internasional biasanya ditambah dengan strip warna untuk menonjolkan penyajiannya.
  13. 13. 12 Perairan Unsur perairan umumnya diberi warna biru dengan garis batas (outline) biru. Unsur perairan yang dimaksud antara lain laut, rawa, empang, penggaraman, sungai, danau, bendungan, dan lainnya. Penggaraman digambarkan sebagai suatu area dengan isian warna biru muda dan batas garis tepi berwarna hitam. Sedangkan empang diberi isian warna biru dengan pola kotak-kotak tidak teratur berwarna putih. Sungai, anak sungai, kanal irigasi, dan selokan akan digambarkan dalam garis ganda, jika skalanya memungkinkan. Tetapi jika sebaliknya maka hanya dengan garis tunggal saja. 2.2.7 Keterangan Riwayat Peta Catatan riwayat peta diletakkan pada sebelah kanan di bawah daftar keterangan (legenda) yang menerangkan tentang sumber data untuk penyusunan peta, metode kompilasi, tahun pemotretan foto udara, survei lapangan, catatan penting lain misalnya “Peta ini bukan referensi resmi batas administrasi nasional atau internasional”.
  14. 14. 13 2.2.8 Petunjuk Pembacaan Koordinat Geografi dan UTM Tabel petunjuk pembacaan koordinat geografi dan koordinat grid UTM diletakkan disebelah kanan bawah. Tulisan berwarna biru untuk pembacaan koordinat geografi dan tulisan berwarna hitam untuk koordinat grid UTM. Petunjuk koordinat bertujuan memberikan ilustrasi bagaimana pengguna membaca koordinat geografi atau koordinat grid UTM. Salah satu indikasi biasanyadiberikan contoh titik tinggi beserta nilai ketinggian atau symbol bangunan dan nama obyek. Pada dasarnya sistem koordinat pada peta rupabumi menggunakan sistem koordinat grid geografi (gratikul) dengan warna biru, sedangkan grid UTM diberikan pada keempat sisi peta dan diberi warna hitam. Koordinat geografi mempunyai satuan derajat, menit dan detik. Lintang geografi diberi indikasi Utara (U) atau Selatan (S). Bujur geografi untuk wilayah Indonesia akan selalu mengarah ke Timur (T). Contoh salah satu koordinat pojok kanan bawah peta (L, B atau ɸ,λ) : ɸ=115º 15’00” T dan λ= 08º 45’00”. Koordinat yang sama bila dihitung dalam sistem grid UTM adalah X,Y : 0307491 Mt dan 9032336 mU. 2.2.9 Pembagian Daerah Administrasi Pembagian daerah administrasi merupakan sketsa dari gambaran pembagian wilayah administrasi sebenarnya yang ada pada isi peta. Gambar ini dapat membantu para pembaca peta mengetahui cakupan wilayah yang dipetakan. Pembagian wilayah administrasi tersebut meliputi wilayah propinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa. Koordinat UTM Koordinat geografis
  15. 15. 14 2.2.10 Skala Grafis Terdapat dua tipe skala, yaitu skala numerik dan skala grafis. Skala numerik adalah skala yang dinyatakan dengan angka, misalnya 1:25.000, diletakkan secara jelas dibagian kanan atas peta dan juga dibagian tengah bawah, biasanya diatas skala grafis. Skala grafis diletakkan dibagian tengah bawah dan umumnya dinyatakan dalam kilometer. Skala grafis digambarkan dalam bentuk unit batang disertai nilai per unit. Contoh: 1 unit batang mempunyai satuan panjang 1 km; satuan ini dapat dibagi menjadi 10 bagian. Jadi satu bagian kecil adalah 100 meter (lihat gambar). 2.2.11 Singkatan dan Kesamaan Arti Peta Peta umumnya menampilkan sejumlah singkatan atau kesamaan arti (glossary). Singkatan atau nama-nama geografi antara satu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama. Glosari diletakkan dibagian bawah, sebelah kanan/ kiri skala grafis. Sebagai contoh, sebutan sungai di daerah Jawa Barat (Ci) tidak sama dengan di Pulau Bali (Tukad, Yeh, Pangkung). Contoh singkatan, Tel= Teluk, Tg= Tanjung, dan sebagainya.
  16. 16. 15 2.2.12 Diagram Arah Utara Setiap peta mempunyai informasi yang perlu untuk menentukan arah sebenarnya, arah grid dan arah magnetik atas garis manapun pada peta. Informasi ini diberikan dalam bentuk diagram dengan catatan penjelasan.diagram ini diletakkan dibagian paling kiri bawah.
  17. 17. 16 BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Peta rupabumi Indonesia merupakan salah satu jenis peta yang dapat digunakan sebagai referensi dalam melakukkan pendekatan suatu wilayah Unsur-unsur informasi yang ada pada peta rupabumi Indonesia cukup detail dan tersusun rapi sehingga pembaca dapat dengan mudah menginterpretasikan gambar yang ada pada peta. Hal-hal yang perlu dikuasai dalam membaca peta adalah meliputi memahami peta, menganalisis peta, dan memilki pengetahuan umum yang luas. Kemampuan menginterpretasikan peta akan dapat berkembang apabila dilakukkan latihan secara rutin. 3.2 Saran Kami menyadari dalam pembuatan laporan peta rupabumi Indonesia ini belum sempurna, Maka dari itu, bagi para penerus agar dapat membuat laporan yang lebih baik.
  18. 18. 17 DAFTAR PUSTAKA Warsito, Heru dkk. 2004. Panduan Membaca Peta Rupabumi Indonesia. Cibinong : Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. http://www.bakosurtanal.go.id/peta-rupabumi/. Tanpa Angka Tahun. “Peta Rupabumi“ dalam Bakosurtanal. Diunduh Sabtu, 23 Maret 2013.
  19. 19. LAPORAN GPS “PEMBUATAN TITIK KONTUR MENGGUNAKAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)” Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Interpretasi Ruang Dikerjakan Oleh : BUNGA KASIH AGYAPUTERI 21040112140113 DWITANTRI REZKIANDINI LESTARI 21040112130071 FERA WAHYU PINANTI ISLAMIYAH 21040112110111 SYARIF HIDAYATULLAH 21040112130085 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013
  20. 20. 1 I. TUJUAN a) Memahami cara-cara menggunakan GPS dalam mencari titik koordinat dan ketinggian. b) Mengetahui fungsi dan prinsip kerja GPS. c) Mengetahui cara-cara mengolah data dari GPS ke personal computer. d) Melatih diri dalam melakukkan survei lapangan untuk melakukkan pendekatan terhadap suatu wilayah. e) Mengetahui cara-cara membuat peta kontur. II. KAJIAN LITERATUR 2.1. Pengertian GPS GPS adalah singkatan dari Global Positioning System yang merupakan sistem untuk menentukan posisi dan navigasi secara global dengan menggunakan satelit. Sistem yang pertama kali dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika ini digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil seperti survei dan pemetaan (Winardi, Tanpa Angka Tahun). 2.2. Prinsip Kerja GPS Menurut Winardi (Tanpa Angka Tahun), sistem GPS, yang nama aslinya adalah NAVSTAR GPS (Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning System), mempunyai tiga segmen yaitu : satelite, pengontrol, dan penerima/pengguna. Satelit GPS yang mengorbit bumi, dengan orbit dan kedudukan yang tetap (koordinatnya pasti), seluruhnya berjumlah 24 buah di mana 21 buah aktif bekerja dan 3 buah sisanya adalah cadangan.  Satelit berguna untuk menerima dan menyimpan data yang ditransmisikan oleh stasiun-stasiun pengontrol, menyimpan dan menjaga informasi waktu berketelitian tinggi (ditentukan dengan jam atomic di satelit), dan memancarkan sinyal dan informasi secara kontinyu ke pesawat penerima (receiver) dari pengguna.  Pengontrol bertugas untuk mengendalikan dan mengontrol satelit dari bumi baik untuk mengecek kesehatan satelit, penentuan dan prediksi orbit dan waktu, sinkronisasi waktu antarsatelit, dan mengirim data ke satelit.  Penerima bertugas menerima data dari satelit dan memprosesnya untuk menentukan posisi (posisi tiga dimensi yaitu koordinat di bumi
  21. 21. 2 plus ketinggian), arah, jarak, dan waktu yang diperlukan oleh pengguna. Ada dua macam tipe penerima yaitu tipe NAVIGASI dan tipe GEODETIC. Yang termasuk receiver tipe NAVIGASI antara lain : Trimble Ensign, Trimble Pathfinder, Garmin, Sony, dan lain sebagainya, Sedangkan tipe GEODETIC antara lain : Topcon, Leica, Astech, Trimble seri 4000 dan lain-lain. 2.3. Pengertian Kontur Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian sama. Nama lain garis kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis lengkung horisontal. Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu, maka bentuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta. (Arifin, Tanpa Angka Tahun) 2.4. Sifat Garis Kontur Adapun sifat-sifat garis kontur menurut Arifin (Tanpa Angka Tahun), adalah: a. Garis-garis kontur saling melingkari satu sama lain dan tidak akan saling berpotongan. b. Pada daerah yang curam garis kontur lebih rapat dan pada daerah yang landai lebih jarang. c. Pada daerah yang sangat curam, garis-garis kontur membentuk satu garis. d. Garis kontur pada curah yang sempit membentuk huruf V yang menghadap ke bagian yang lebih rendah.Garis kontur pada punggung bukit yang tajam membentuk huruf V yang menghadap ke bagian yang lebih tinggi. e. Garis kontur pada suatu punggung bukit yang membentuk sudut 90° dengan kemiringan maksimumnya, akan membentuk huruf U menghadap ke bagian yang lebih tinggi. f. Garis kontur pada bukit atau cekungan membentuk garis-garis kontur yang menutup-melingkar.
  22. 22. 3 g. Garis kontur harus menutup pada dirinya sendiri. h. Dua garis kontur yang mempunyai ketinggian sama tidak dapat dihubungkan dan dilanjutkan menjadi satu garis kontur. III. ALAT DAN BAHAN  GPS (Global Positioning System)  Peta lokasi dari Google Earth  Alat tulis (spidol, pulpen, penggaris, pensil, penghapus, tipe-x)  Lembar catatan titik koordinat dan ketinggian  Papan jalan  Kertas HVS A3  Komputer (telah diinstall ArcGIS dan MapSource) IV. LANGKAH KERJA a) Menentukan Koordinat Lokasi dengan Menggunakan GPS 1. Tentukan titik ujung koordinat pada peta lokasi. Hal ini bertujuan agar tim mengetahui batas-batas wilayah survey sehingga tidak terjadi kesalahan tempat survei. Sumber : Dokumen Pribadi
  23. 23. 4 2. Buat grid pada peta. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam menentukan titik. Sumber : Dokumen Pribadi 3. Setelah itu, beralih ke GPS. Pilih simbol sinyal. Perhatikan titik koordinat dan akurasi pada GPS. Sumber : Buku Panduan Menggunakan Oregon 437304 9219930 437054 9219535 437304 9219535 437054 9219930 Koordinat Akurasi
  24. 24. 5 4. Setelah menemukan titik yang diinginkan, kembali ke Main Menu pilih Mark Way Point Save and Edits Beri Nama Titik  Pilih simbol centang . Sumber : Buku Panduan Menggunakan Oregon 5. Jika ingin melihat titik, kembali ke Main Menu  Manage Waypoint. 6. Catat titik koordinat dan ketinggian pada lembar survei. b) Mengolah Data dari GPS ke Personal Computer 1. Setelah data dari GPS diubah kedalam jenis file dxf, jalankan program ARcGIS Sumber : Dokumen Pribadi
  25. 25. 6 2. Sebelum memulai pengerjaan sebaiknya ubah dulu Units keukuran Meter dengan cara klik kanan pilih Data Frame Properties, pada Units pilih Meters Sumber : Dokumen Pribadi 3. Setelah pengaturan Units pilih Add Data untuk menambahkan data dan pilih data yang ingin dimasukkan Sumber : Dokumen Pribadi
  26. 26. 7 4. Pada ArcToolbox pilih Data Management Tools  General Sumber : Dokumen Pribadi 5. Lakukan Double Klik pada pilihan Merge 6. Pada input data set pilih data yang berupa point Sumber : Dokumen Pribadi 7. Klik kanan pada Point_Merge1 dan pilih Open Attribute Table
  27. 27. 8 8. Pada Attribute Table Point_Merge1 hapus field yang bernama BlkLineTyp dengan cara klik kanan pada BlkLineTyp dan pilih Delete Field dan pilih OK. Sumber : Dokumen Pribadi 9. Pilih Options dan pilih Add Field Sumber : Dokumen Pribadi 10. Tentukan nama Field dan pilih Long Interger Sumber : Dokumen Pribadi
  28. 28. 9 11. Klik kanan pada Field Tinggi dan pilih Field Calculator Sumber : Dokumen Pribadi 12. Pada Field Calculator double klik pada Elevation dan dibagi 3.28 agar ukurannya menjadi meter Sumber : Dokumen Pribadi
  29. 29. 10 13. Setelah selesai klik kanan pada Point_Merge1  pilih Properties  pilih tab Labels Sumber : Dokumen Pribadi 14. Pada Label Field pilih tinggi dan pilih OK Sumber : Dokumen Pribadi
  30. 30. 11 15. Klik kanan pada Point_Merge1  pilih Label Features, dan pada layar akan tampil ketinggian dari tiap titik Sumber : Dokumen Pribadi 16. Klik kanan pada Point_Merge1  pilih Properties  pilih Symbologi Sumber : Dokumen Pribadi 17. Klik pada gambar Symbol  pilih jenis simbol yang diinginkan  tentukan ukuran simbol  pilih OK
  31. 31. 12 Sumber : Dokumen Pribadi 18. Setelah selesai pilih Editor  pilih Start Editing Sumber : Dokumen Pribadi 19. Pilih salah satu titik dan hapus satu titik supaya keterangan tinggi titik hanya satu Sumber : Dokumen Pribadi 20. Setelah selesai menghapus semua pilh Editor  pilih Stop Editing  pilih Save
  32. 32. 13 Sumber : Dokumen Pribadi 21. Setelah selesai masukkan data jalan dan sungai tembalang dengan cara pilih Add Data  pilih data sungai dan jalan  pilih Add Sumber : Dokumen Pribadi 22. Pilih ikon Layout View  klik kanan pada sembarang tempat  pilih Page and Print Setup Sumber : Dokumen Pribadi
  33. 33. 14 23. Pada Page and Print Setup pilih Size A3 dan centang pada pilihan Scale Map Elements to Changes in Page Size dan pilih OK Sumber : Dokumen Pribadi 24. Pada tampilan Layout View perbesar area lembar kerja Sumber : Dokumen Pribadi 25. Klik kanan pada lembar kerja  pilih Properties  pilih Tab Grids
  34. 34. 15 Sumber : Dokumen Pribadi 26. Pilih New Grid  pilih Measure Grid  pilih Labels Only  pilih Measure Grid  pilih Labels Only  Centang pada Place A Border Between grid and axis labels dan place a border outside the grid  pilih Finish  pilih OK 27. Setelah selesai mulai dengan pembuatan ITP, untuk pengetikan nama pilih ikon New Text dan tulis apa yang diinginkan, untuk memasukkan gambar pilih insert kemudian pilih picture, dan untuk memasukkan skala atau arah mata angina pilih insert dan pilih scale bar atau scale text untuk skala dan pilih north arrow untuk arah mata angina dan tentukan jenis yang diinginkan. Sumber : Dokumen Pribadi
  35. 35. 16 28. Hasil pembuatan ITP Sumber : Dokumen Pribadi c) Membuat Peta Kontur Pembuatan garis kontur dapat dilakukkan dengan berbagai cara antara lain dengan metide interpolasi linear dan grafis.  Metode Interpolasi Metode ini digunakan dengan menghitung titik tinggi yang akan mewakili garis kontur dengan cara membandingkan antara jaraj pada peta dengan jarak sebenarnya. Setelah titik-titik tinggi yang akan mewakili garis kontur tersebut diperoleh, maka selanjutnya adalah menghubungkan titik-titik tersebut menjadi sebuah garis.  Metode Grafis Metode ini pada dasarnya membagi dengan garis-garis bantu. Hubungkan 2 titik, lalu tarik garis lurus sehingga membentuk sebuah segitiga. Bagilah garis bantu sembarang menjadi bagian yang sama besar dan tarik garis yang sejajar. V. HASIL 5.1. Tabel No. Titik x y z (ketinggian/m) Keterangan T1 0437166 9219751 212 T2 0437246 9219729 213 T3 0437198 9219729 211 T4 0437179 9219691 212 T5 0437174 9219677 209 T6 - - - - T7 - - - - T8 0437253 9219800 212 T9 0437258 9219804 213 T10 0437209 9219800 212 T11 0437212 9219814 212 T12 0437196 9219814 212 T13 0437192 9219821 212 T14 0437182 9219798 209
  36. 36. 17 T15 0437156 9219784 208 T16 0437133 9219784 213 T17 0437192 9219775 211 T18 0437171 9219783 208 T19 0437147 9219776 208 T20 0437275 9219785 209 T21 0437279 9219809 208 T22 0437258 9219854 207 T23 0437249 9219884 207 T24 0437248 9219857 T25 0437239 9219910 208 T26 0437241 9219932 210 T27 0437213 9219892 209 T28 0437208 9219870 208 T29 0437215 9219848 209 T30 0437197 9219840 207 T31 0437297 9219883 207 T32 0437237 9219939 207 T33 0437225 9219922 206 T34 0437117 9219667 211 T35 0437121 9219679 215 T36 0437108 9219671 215 T37 0437107 9219666 215 T38 0437204 9219678 215 T39 0437216 9219685 214 T40 0437242 9219679 215 T41 0437244 9219674 215 T42 0437266 9219675 213 T43 0437280 9219709 215 T44 0437282 9219638 215 T45 0437291 9219627 217 T46 0437301 9219549 214 T47 0437281 9219563 213 T48 0437270 9219579 211 T49 0437252 9219578 212 T50 0437251 9219553 211 T51 0437231 9219591 211 T52 0437228 9219578 211 T53 0437202 9219577 212 T54 0437193 9219561 213 T55 0437185 0219555 213 T56 0437183 9219575 211 T57 0437131 9219568 212 T58 0437098 9219562 212 T59 0437082 9219567 214 T60 0437094 9219596 213 T61 0437094 9219613 212 T62 0437009 9219624 213 T63 0437251 9219607 210 T64 0437236 9219639 207 T65 0437212 9219634 209
  37. 37. 18 T66 0437198 9219635 211 T67 0437186 9219625 210 T68 0437146 9219629 211 T69 0437115 9219623 212 T70 0437060 9219646 212 T71 0437040 9219646 213 T72 0437167 9219718 211 Sumber : Hasil Survei Lapangan VI. KESIMPULAN Penguasaan GPS merupakan suatu keharusan bagi seorang calon perencana. Hal ini bertujuan untuk menganalisis kondisi atau keadaan suatu wikayah. Selain itu, dengan menggunakan GPS, seorang perencana dapat melakukkan pendekatan dan mengetahui lingkungan fisik dalam suatu wilayah. Walaupun GPS memiliki beberapa kekurangan, keberadaan GPS sangat berguna bagi bidang perencanaan wilayah dan kota. GPS membantu dalam menentukan ketinggian, koordinat, dan pembuatan peta. Hal-hal tersebut sangat berguna bagi perencanaan pembangunan suatu wilayah.
  38. 38. 19 DAFTAR PUSTAKA Arifin, Zainal. Tanpa Angka Tahun. Modul 10 : Garis Kontur. Jurusan Teknik Sipil Universitas Mercu Buana. Diktat Mata Kuliah Interpretasi Ruang. 2013 Winardi. Tanpa Angka Tahun. Penentuan Posisi dengan GPS untuk Survei Terumbu Karang. Pusat Oseanografi LIPI.
  39. 39. LAPORAN PENGINDERAAN JAUH “INTERPRETASI CITRA MANUAL” Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Interpretasi Ruang (TKP 256) Dosen Pengampu : Dra. Bitta Pigawati, Dipl. GE, MT. Dikerjakan Oleh : Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013
  40. 40. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 1 I. TUJUAN Tujuan praktikum ini yaitu : 1. Mangetahui cara interpretasi citra secara manual 2. Mengetahui karakteristik suatu wilayah dari sebuah peta citra 3. Mengetahui kunci-kunci interpretasi manual yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi suatu objek II. KAJIAN LITERATUR 2.1. Pengertian Penginderaan Jauh Penginderaan jauh ialah berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi (Lindgren). Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer, tagun 1979, Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. 2.2. Pengertian Interpretasi Citra Estes dan Simonett (1975) dalam Sutanto (1992) mengatakan bahwa interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Interpretasi citra penginderaan jauh dapat dilakukan dengan dua cara yaitu interpretasi secara manual dan interpretasi secara digital (Purwadhi, 2001). 2.3. 8 Kunci Interpretasi Citra Manual Interpretasi secara manual adalah interpretasi data penginderaan jauh yang mendasarkan pada pengenalan ciri atau karakteristik objek secara keruangan. Karakteristik objek dapat dikenali berdasarkan 9 unsur interpretasi yaitu bentuk, ukuran, pola, bayangan, rona atau warna, tekstur, situs, asosiasi dan konvergensi bukti. Interpretasi secara digital adalah evaluasi kuantitatif tentang informasi spektral yang disajikan pada citra. Dasar interpretasi citra digital berupa klasifikasi citra pixel
  41. 41. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 2 berdasarkan nilai spektralnya dan dapat dilakukan dengan cara statistik. Adapun 8 macam kunci interpretasi foto udara secara manual antara lain: RONA DAN WARNA Rona (tone / color tone / grey tone) adalah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan obyek pada citra. Berbeda dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan, warna menunjukkan tingkat kegelapan yang lebih beraneka. Ada tingkat kegelapan di dalam warna biru, hijau, merah, kuning, jingga, dan warna lainnya. Rona dan warna disebut unsur dasar. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya rona dan warna dalam pengenalan obyek. Tiap obyek tampak pertama pada citra berdasarkan rona atau warnanya. Setelah rona atau warna yang sama dikelompokkan dan diberi garis batas untuk memisahkannya dari rona atau warna yang berlainan, barulah tampak bentuk, tekstur, pola, ukuran dan bayangannya. BENTUK Bentuk merupakan variabel kualitatif yang memerikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek (Lo, 1976). Bentuk merupakan atribut yang jelas sehingga banyak obyek yang dapat dikenali berdasarkan bentuknya saja. Ada dua istilah di dalam bahasa Inggris yang artinya bentuk, yaitu shape dan form. Shape ialah bentuk luar atau bentuk umum, sedang form merupakan susunan atau struktur yang bentuknya lebih rinci. Baik bentuk luar maupun bentuk rinci, keduanya merupakan unsur interpretasi citra yang penting. Banyak bentuk yang khas sehingga memudahkan pengenalan obyek pada citra. Contoh pengenalan obyek berdasarkan bentuk  Gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L, U, atau berbentuk empat segi panjang  Tajuk pohon palma berbentuk bintang, tajuk pohon pinus berbentuk kerucut, dan tajuk bambu berbentuk bulu-bulu
  42. 42. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 3 UKURAN Ukuran ialah atribut obyek berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume. Karena ukuran obyek pada citra merupakan fungsi skala, maka di dalam memanfaatkan ukuran sebagai unsur interpretasi citra harus selalu diingat skalanya. Contoh pengenalan obyek berdasarka ukuran:  Lapangan olah raga di samping dicirikan oleh bentuk segi empat, lebih dicirikan oleh ukurannya, yaitu sekitar 80 m x 100 m bagi lapangan sepak bola, sekitar 15 m x 30 m bagi lapangan tennis, dan sekitar 8 m x 10 m bagi lapangan bulu tangkis. TEKSTUR Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra (Lillesand dan Kiefer, 1979) atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual (Estes dan Simonett, 1975). Tekstur sering dinyatakan dengan kasar, halus, dan belang-belang. Contoh pengenalan obyek berdasarkan tekstur:  Hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang, semak bertekstur halus. POLA Pola, tinggi, dan bayangan pada dikelompokkan ke dalam tingkat kerumitan tersier. Tingkat kerumitannya setingkat lebih tinggi dari tingkat kerumitan bentuk, ukuran, dan tekstur sebagai unsur interpretasi citra. Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah. Contoh:  Pola aliran sungai sering menandai struktur geologi dan jenis batuan. Pola aliran trellis menandai struktur lipatan. Pola aliran yang padat mengisyaratkan peresapan air kurang sehingga pengikisan berlangsung efektif. Pola aliran dendritik mencirikan jenis tanah atau jenis batuan serba sama, dengan sedikit atau tanpa pengaruh lipatan maupun patahan. Pola aliran dendritik pada umumnya terdapat pada batuan endapan lunak, tufa
  43. 43. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 4 vokanik, dan endapan tebal oleh gletser yang telah terkikis (Paine, 1981) BAYANGAN Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada di daerah gelap. Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan pada umumnya tidak tampak sama sekali atau kadang- kadang tampak samar-samar. Meskipun demikian, bayangan sering merupakan kunci pengenalan yang penting bagi beberapa obyek yang justru lebih tampak dari bayangannya. Contoh:  Cerobong asap, menara, tangki minyak, dan bak air yang dipasang tinggi lebih tampak dari bayangannya. SITUS Bersama-sama dengan asosiasi, situs dikelompokkan ke dalam kerumitan yang lebih tinggi pada Situs bukan merupakan ciri obyek secara langsung, melainkan dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya. Contoh:  Tajuk pohon yang berbentuk bintang mencirikan pohon palma. Mungkin jenis palma tersebut berupa pohon kelapa, kelapa sawit, sagu, nipah, atau jenis palma lainnya. Bila tumbuhnya bergerombol (pola) dan situsnya di air payau, maka yang tampak pada foto tersebut mungkin sekali nipah. ASOSIASI Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek lain. Adanya keterkaitan ini maka terlihatnya suatu obyek pada citra sering merupakan petunjuk bagi adanya obyek lain. Contoh:  Di samping ditandai dengan bentuknya yang berupa empat persegi panjang serta dengan ukurannya sekitar 80 m x 100 m, lapangan sepak bola di tandai dengan adanya gawang yang situsnya pada bagian tengah garis belakangnya. Lapangan sepak bola berasosiasi dengan gawang. Kalau tidak ada
  44. 44. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 5 gawangnya, lapangan itu bukan lapangan sepak bola. Gawang tampak pada foto udara berskala 1: 5.000 atau lebih besar. III. ALAT DAN BAHAN - Citra Quick Bird - Kalkir A4 - MiliIpen - Pensil Warna - Penggaris - Drawing Pen for OHP - Plastik Mika - Benang - Milimeter Block - Penjepit Kertas IV. LANGKAH KERJA 1. Ambillah peta citra yang telah disediakan. 2. Tumpuk peta citra dengan platsik mika. Setelah itu, jepit kedua lembar tersebut dengan penjepit kertas agar posisi peta citra dan plastik mika tidak berubah. 3. Lakukkan identifikasi objek pada peta citra dengen menggunakan 8 kunci interpretasi citra. Buatlah tabel seperti berikut ini : No. Rona/Warna Tekstur Ukuran Bentuk Pola Situs Asosiasi Objek 4. Tandai objek yang memilki karakteristik berbeda-beda di atas plastik mika dengen menggunakan drawing pen for OHP. 5. Jiplak objek yang telah ditandai di plastik mika ke kertas kalkir berukuran a4 dengen menggunakan milipen. 6. Warnai objek-objek tersebut sesuai dengan warna yang terdapat pada citra dengan menggunakan pensil warna. 7. Untuk mengukur panjang jalan dan sungai, gunakan benang, kemudian ukur panjang benang dengan menggunakan penggaris. 8. Untuk mengukur luas, gunakan millimeter block dengan rumus : Luas Daerah = Jumlah Kotak x Luas Kotak Sebenarnya
  45. 45. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 6 V. HASIL DAN ANALISIS 5.1. Menghitung Ukuran Objek No. Objek Objek Perhitungan Ukuran 1 Sawah tanpa padi Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 24 x 100.000.000 cm2 = 2.400.000.000 cm2 = 240.000 m2 2 Semak- semak Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 7 x 100.000.000 cm2 = 700.000.000 cm2 = 70.000 m2 3 Sawah berpadi Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 9 x 100.000.000 cm2 = 900.000.000 cm2 = 90.000 m2 4 Pemukiman Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 28,5 x 100.000.000 cm2 = 2.850.000.000 cm2
  46. 46. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 7 = 285.000 m2 5 Tanah kering Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 6 x 100.000.000 cm2 = 600.000.000 cm2 = 60.000 m2 6 Jalan raya Panjang garis sebenarnya = 1 cm x 10.000 = 10.000 cm Panjang jalan raya = 28 x 10.000 = 280.000 cm = 2800 m 7 Pabrik Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 2,5 x 100.000.000 cm2 = 250.000.000 cm2 = 25.000 m2 8 Pepohonan Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 4 x 100.000.000 cm2 = 400.000.000 cm2 = 40.000 m2 9 Kolam renang Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2
  47. 47. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 8 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 1 x 100.000.000 cm2 = 100.000.000 cm2 = 10.000 m2 10 Tanah berumput Luas kotak sebenarnya = (1 cm x 10.000) x (1 cm x 10.000) = 100.000.000 cm2 Luas daerah = jumlah kotak x luas kotak sebenarnya = 3 x 100.000.000 cm2 = 300.000.000 cm2 = 30.000 m2 5.2. Tabel Identifikasi Objek Citra No. Objek Objek Rona/ Warna Tekstur Bentuk Pola Situs Asosiasi 1 Sawah tanpa padi Gelap/ Coklat tua Halus Persegi Teratur Dekat sema k- sema k dan pepo hona n Jalan pematang sawah 2 Semak- semak Teran g/Hija u muda Sedang Persegi Tidak teratur Dekat sawa h Sawah 3 Sawah berpadi Gelap/ Hijau tua Halus Persegi Teratur Dekat sema k- sema k dan pepo Jalan pematang sawah
  48. 48. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 9 hona n 4 Pemukiman Gelap/ Coklat oranye Kasar Persegi Tidak teratur Di tepi jalan Atap coklat atau oranye 5 Tanah kering Teran g/Cokl at muda Halus Persegi Tidak teratur - - 6 Jalan raya Agak gelap/ Abu- abu Halus Garis Teratur Sepa njang sawa h dan pemu kiman Garis pembatas jalan 7 Pabrik Teran g/Abu- abu muda Halus Persegi Teratur Di tepi jalan Atap seng 8 Pepohonan Gelap/ Hijau tua Kasar Lingkar an tidak sempur na Tidak teratur Dekat deng an ruma h - 9 Kolam renang Teran g/Biru muda Halus Persegi Teratur Dekat deng an ruma h Papan lompat 10 Tanah berumput Teran g/Hija u muda Halus Persegi Teratur Dekat bang unan -
  49. 49. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 10 Analisis : Dari kedua tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap objek memilki karakteristik masing-masing. Walaupun sejenis, hutan, semak-semak, dan rumput memilki karakteristik yang berbeda. Hutan memilki tekstur kasar, semak-semak memilki tekstur sedang, dan rumput memiliki tekstur halus. Hal yang lainnya adalah pemukiman memiliki tekstur yang kasar. Hal ini disebabkan karena rumah-rumah dalam suatu pemukiman memilki ketinggian yang berbeda-beda. Selain itu, terdapat pula suatu objek yang memilki keterkaitan dengan objek lain. Seperti pemukiman selalu berkaitan dengan atap yang berwarna coklat tua atau oranye. Sawah, semak-semak, dan pepohonan selalu berkaitan satu sama lain. Kolam renang berkaitan dengan papan lompat. Pabrik berkaitan dengan atap yang terbuat dari seng. Jalan raya berkaitan dengan garis pembatas jalan. Dan masih banyak lagi objek lainnya yang saling berkaitan. VI. KESIMPULAN Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu sebagai berikut : 1. Kemampuan interpretasi citra penginderaan jauh sangat dibutuhkan oleh seorang perencana untuk mengidentifikasi karakteristik suatu wilayah tanpa kontak langsung dengan wilayah tersebut. 2. Untuk mengidentifikasi suatu objek pada citra, dibutuhkan kunci interpretasi citra. 3. Sebuah wilayah memiliki objek-objek dengan karakteristik yang berbeda- beda sehingga membutuhkan interpretasi yang berbeda pula.
  50. 50. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 11 DAFTAR PUSTAKA Dwi, Ichwan. 2009. “Interpretasi Citra dengan Menggunakan Delapan Unsur Interpretasi” dalam I-Geography. http://one-geo.blogspot.com/2009/12/interpretasi-citra-dengan- menggunakan.html. Diunduh pada Sabtu, 8 Desember 2012. http://jurnal-geologi.blogspot.com/2010/01/unsur-interpretasi-citra.html. Tanpa Angka Tahun. “Unsur Interpretasi Citra” dalam Jurnal Geologi. Diunduh Sabtu, 8 Desember 2012. Pangi dan Pigawati, Bitta. 2011. Pengolahan Data Citra. Semarang: Biro Penerbit Plano UNDIP.
  51. 51. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Manual 12 LAMPIRAN 1. Peta Objek Hasil Interpretasi Citra 2. Tabel Kunci Interpretasi Citra
  52. 52. LAMPIRAN 2 TABEL KUNCI INTERPRETASI CITRA No. Objek Objek Rona/Warna Tekstur Bentuk Pola Situs Asosiasi Ukuran 1 Sawah tanpa padi Gelap/Coklat tua Halus Persegi Teratur Dekat semak- semak dan pepohonan Jalan pematang sawah 0,24 km 2 2 Semak-semak Terang/Hijau muda Sedang Persegi Tidak teratur Dekat sawah Sawah 0,07 km 2 3 Sawah berpadi Gelap/Hijau tua Halus Persegi Teratur Dekat semak- semak dan pepohonan Jalan pematang sawah 0,09 km 2 4 Pemukiman Gelap/Coklat oranye Kasar Persegi Tidak teratur Di tepi jalan Atap coklat atau oranye 0,285 km 2 5 Tanah kering Terang/Coklat muda Halus Persegi Tidak teratur - - 0,06 km 2 6 Jalan raya Agak gelap/Abu-abu Halus Garis Teratur Sepanjang sawah dan pemukiman Garis pembatas jalan 2,8 km 7 Pabrik Terang/Abu-abu muda Halus Persegi Teratur Di tepi jalan Atap seng 0,025 km 2 8 Pepohonan Gelap/Hijau tua Kasar Lingkaran tidak sempurna Tidak teratur Dekat dengan rumah - 0,04 km 2 9 Kolam renang Terang/Biru muda Halus Persegi Teratur Dekat dengan rumah Papan lompat 0,01 km 2 10 Tanah berumput Terang/Hijau muda Halus Persegi Teratur Dekat bangunan - 0,03 km 2
  53. 53. LAPORAN PENGINDERAAN JAUH “INTERPRETASI CITRA MENGGUNAKAN ARCGIS” Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Interpretasi Ruang (TKP 256) Dosen Pengampu : Dra. Bitta Pigawati, Dipl. GE, MT. Dikerjakan Oleh : Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013
  54. 54. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 1 I. TUJUAN Tujuan praktikum ini yaitu : 1. Mangetahui cara interpretasi citra secara manual dan digital 2. Mengetahui karakteristik suatu wilayah dari sebuah peta citra 3. Mengetahui kunci-kunci interpretasi manual dan mengolah peta citra dengan ArcGIS. II. KAJIAN LITERATUR 2.1. Pengertian Penginderaan Jauh Penginderaan jauh ialah berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi (Lindgren). Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer, tagun 1979, Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. 2.2. Pengertian Interpretasi Citra Estes dan Simonett (1975) dalam Sutanto (1992) mengatakan bahwa interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Interpretasi citra penginderaan jauh dapat dilakukan dengan dua cara yaitu interpretasi secara manual dan interpretasi secara digital (Purwadhi, 2001). 2.3. 8 Kunci Interpretasi Citra Manual Adapun 8 macam kunci interpretasi foto udara secara manual antara lain:  Rona dan Warna Rona (tone / color tone / grey tone) adalah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan obyek pada citra. Berbeda dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan, warna menunjukkan tingkat kegelapan yang lebih beraneka.
  55. 55. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 2  Bentuk Bentuk merupakan variabel kualitatif yang memerikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek (Lo, 1976). Bentuk merupakan atribut yang jelas sehingga banyak obyek yang dapat dikenali berdasarkan bentuknya saja.  Ukuran Ukuran ialah atribut obyek berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume.  Tekstur Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra (Lillesand dan Kiefer, 1979) atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual (Estes dan Simonett, 1975). Tekstur sering dinyatakan dengan kasar, halus, dan belang-belang.  Pola Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah.  Bayangan Bayangan sering menjadi kunci pengenalan yang penting bagi beberapa obyek yang justru lebih tampak dari bayangannya.  Situs Bersama-sama dengan asosiasi, situs dikelompokkan ke dalam kerumitan yang lebih tinggi pada Situs bukan merupakan ciri obyek secara langsung, melainkan dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya.  Asosiasi Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek lain. Adanya keterkaitan ini maka terlihatnya suatu obyek pada citra sering merupakan petunjuk bagi adanya obyek lain. 2.4. Pengertian Deliniasi Deliniasi adalah penarikan garis batas sementara suatu wilayah atau suatu negara di atas peta.
  56. 56. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 3 2.5. Pengertian Tata Guna Lahan Tata guna lahan adalah sebuah pemanfaatan lahan dan penataan lahan yang dilakukan sesuai dengan kodisi eksisting alam. Tata guna lahan berupa:  Kawasan permukiman Kawasan permukiman ini ditandai dengan adanya perumahan yang disertai prasana dan sarana serta infrastrukutur yang memadai. Kawasan permukiman ini secara sosial mempunyai norma dalam bermasyarakat. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-15% (datar hingga landai).  Kawasan perumahan Kawasan perumahan hanya didominasi oleh bangunan- bangunan perumahan dalam suatu wilayah tanpa didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-15% (datar hingga landai).  Kawasan perkebunan Perkebunan ini ditandai dengan dibudidayakannya jenis tanaman yang bisa menghasilkan materi dalam bentuk uang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% (landai).  Kawasan pertanian Kawasan pertanian ditandai oleh adanya jenis budidaya satu tanaman saja. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8- 15% (landai).  Kawasan ruang terbuka hijau Kawasan terbuka hijau ini dapat berupa taman yang hanya ditanami oleh tumbuhan yang rendah dan jenisnya sedikit. Namun dapat juga berupa hutan yang didominasi oleh berbagai jenis macam tumbuhan. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 15-25% ( agak curam ).  Kawasan perdagangan Kawasan perdagangan ini biasanya ditandai dengan adanya bangunan pertokoan yang menjual berbagai macam barang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-8% ( datar )
  57. 57. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 4  Kawasan industri Kawasan industri ditandai dengan adanya proses produksi baik dalam jumlah kecil maupun dalam jumlah besar. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% ( hingga landai ).  Kawasan perairan Kawasan perairan ini ditandai oleh adanya aktifitas perairan, seperti budidaya ikan, pertambakan, irigasi, dan sumber air bagi wilayah dan sekitarnya. Standar Warna Tata Guna Lahan No Keterangan Kode Warna Warna 1. Kawasan Permukiman Padat 42 2. Kawasan Permukiman Sedang 41 3. Kawasan Permukiman Rendah 2 4. Kawasan Pasar Tradisional 12 5. Kawasan Perdagangan dan Pertokoan 1 6. Kawasan Institusi, Pemerintahan, dan Pendidikan 141 7. Ruang Terbuka dan Areal Rekreasi, taman 3 8. Kawasan Industri 252 9. Kawasan Pertambakan 4 10. Lahan Pertanian 74 11. Lahan Perkebunan 76 12. Hutan dan Kawasan Konservasi 137 13. Perairan, Genangan Air, Danau 5 14. Fasilitas Transportasi: Terminal dan Stasiun KA 183 15. Kawasan Militer 143 16. Lahan Kosong dan Padang Rumput 81 17. Kuburan 200
  58. 58. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 5 III. ALAT DAN BAHAN - Peta Citra Kawasan Kampus Undip Tembalang - Komputer yang telah diinstall ArcGIS IV. LANGKAH KERJA 1. Buka aplikasi ArcGISArcMap. Pilih jenis pengolahan yang akan dilakukkan. Dalam praktikum ini, pilih A new empty map. Setelah itu klik OK.
  59. 59. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 6 Maka akan muncul tampilan seperti berikut ini. 2. Mengatur satuan yang akan dipakai. ViewData Frame Properties. Maka, akan muncul kotak dialog berikut ini. Pilih kolom GeneralPada kolom Map dan Display, pilih MetersApply OK.
  60. 60. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 7 3. Mengatur satuan koordinat. ViewData Frame Properties Kolom Coordinate System. Pada kolom Select Coordinate System, pilih Predifined  Projected Coordinate System UTM  WGS 1984  WGS 1984 UTM Zone 49S. Setelah itu, pilih Apply dan klik OK. 4. Memasukkan gambar FileAdd Data atau klik ikon Add Data pada Toolbar . Pilih seperti gambar di bawah ini.
  61. 61. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 8 Lalu, akan muncul tampilan seperti berikut ini. 5. Untuk melakukkan digitasi, warna peta harus dihilangkan. Double click warna batas wilayah  Pilih hollow  outline width 2  outline color : red  OK.
  62. 62. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 9 Lalu, akan muncul tampilan seperti berikut ini. 6. Buat Attribute Table sesuai degan 8 kunci intepretasi diatambah dengan kolom keterangan dan kode. Klik kanan pada layer batas wilayah  Open Attribute Table  Options Add Field Name (kunci interpretasi citra)Type : Text OK.
  63. 63. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 10 Semua kolom attribute table dibuat :
  64. 64. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 11 7. Setelah itu, mulai digitasi peta. Editor  Start Editing  Cut Polygon Features Klik bagian dalam peta  Pilih icon pensil  Mulai digitasi.
  65. 65. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 12 8. Setiap selesai digitasi, buka attribute table, lalu lengkapi bagian-bagian tabel 8 kunci interpretasi citra.  Kolom ketrangan diisi dengan penggunaan lahan.  Kolom kode diisi dengan angka sesuai obyek. Gambar pengisian kolom attribute table Jika sudah selesai mengisi attribute table, pilih Editor  Stop Editing. 9. Menghitung ukuran kawasan. Sorot judul kolom ‘ukuran’  klik kanan  calculate geometry Yes  OK.
  66. 66. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 13
  67. 67. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 14 10. Memberikan nomor kode pada peta. Klik kanan pada layer batas wilayah Properties  Labels  Label Field : kode  Ubah tulisan dan ukuran font. Lalu, pilih Symbology  Categories  Unique Value Value Field : Kode Add All Values Ubah Warna  OK.
  68. 68. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 15 11. Jika nomor belum keluar, klik kanan pada layer batas wilayah  pilih label features. Gambar peta setelah diberi label kode 12. Setelah diberi kode, berilah warna. Klik mouse bagian kanan pada layer yang telah didigit  Properties  Symbology  Categories  Unique Features  Value field : Keterangan  Add All Values  Klik value tiap keterangan  pilih warna yang sesuai  Apply  OK.
  69. 69. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 16 Gambar peta yang telag diberi warna sesuai standar TGL 13. Setelah itu, lakukkanlah layouting. Ubah tampilan peta ke tampilan layout. Lihat gambar di bawah ini. Tampilan Layout
  70. 70. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 17 14. Maka, akan muncul tampilan seperti berikut ini. Untuk mengubah format kertas, pilih menu File  Pages and Print Setup. Gambar kertas setelah diubah formatnya
  71. 71. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 18 15. Buatlah ITP. Berikut ini adalah menu-menu yang dapat digunakan untuk membuat ITP.  Masukkan skala : insert  Scale Bar  Masukkan orientasi : insert North Arrow  Masukkan logo Undip : insert Picture  Masukkan legenda : insert  Legend 16. Berikan grid pada peta. View  Data Frame Properties  New Grid  Pilih format yang diinginkan. Membuat Rectangle Memasukan huruf Jenis Font Font Size Font Format Warna Huruf Warna Rectangle Warna Garis
  72. 72. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 19
  73. 73. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 20 V. HASIL DAN ANALISIS 5.1. Attribute Table keterangan kode rona_warna bentuk ukuran tekstur lahan kosong 2 hijau persegi 52206 sedang permukiman sedang 6 coklat tua persegi 8380 kasar permukiman sedang 6 coklat tua persegi 39052 kasar lahan kosong 2 hijau tua berkelok 78225 sedang lahan kosong 2 hijau tua berkelok 71371 sedang kawasan pendidikan 1 biru tua persegi 6517 kasar lahan kosong 2 hijau tua berkelok 12839 sedang kawasan pendidikan 1 putih persegi 27317 kasar kawasan pendidikan 1 putih persegi 6006 kasar kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 36425 kasar lahan kosong 2 hijau tua berkelok 27307 kasar kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 19359 kasar kawasan pendidikan 1 abu-abu persegi 4000 kasar kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 14868 kasar lahan kosong 2 hijau tua berkelok 36464 sedang taman 3 hijau tua berkelok 8040 sedang kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 25928 kasar kuburan 4 hijau tua persegi 3036 kasar kawasan pendidikan 1 abu-abu tua persegi 17835 kasar jalan 5 abu-abu garis 5058 halus jalan 5 abu-abu garis 30857 halus taman 3 hijau persegi 1576 sedang jalan 5 abu-abu garis 1092 halus taman 3 hijau persegi 4197 halus jalan 5 abu-abu garis 2031 halus kawasan pendidikan 1 abu-abu tua persegi 87391 kasar lahan kosong 2 hijau persegi 13294 sedang kawasan pendidikan 1 abu-abu tua persegi 1494 kasar kawasan pendidikan 1 abu-abu tua persegi 5625 kasar lahan kosong 2 hijau persegi 13649 sedang kawasan pendidikan 1 abu-abu tua persegi 40270 kasar taman 3 coklat hijau persegi 7308 sedang lahan kosong 2 hijau persegi 5201 sedang kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 24453 kasar kawasan pendidikan 1 abu-abu tua persegi 118836 kasar pemukiman padat 6 oranye coklat persegi 49963 kasar lahan kosong 2 hijau berkelok 33358 sedang kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 5936 kasar lahan kosong 2 hijau persegi 8576 sedang
  74. 74. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 21 jalan 5 abu-abu garis 23462 halus kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 97334 kasar pemukiman padat 6 oranye coklat persegi 25946 kasar jalan 5 abu-abu garis 59110 halus kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 22257 kasar kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 2240 kasar kawasan pendidikan 1 coklat tua persegi 5288 kasar lahan kosong 2 hijau persegi 18752 halus lahan kosong 2 hijau tua berkelok 48276 sedang lahan kosong 2 hijau tua berkelok 1.#QNAN sedang lahan kosong 2 hijau berkelok 4626 sedang sungai 7 abu-abu berkelok 1963 sedang sungai 7 abu-abu berkelok 8095 sedang keterangan pola bayangan situs asosiasi lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung rumput dan semak permukiman sedang tidak teratur ada dekat jalan setapak atap coklat permukiman sedang tidak teratur ada dekat jalan setapak atap coklat lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung semak dan pohon lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung semak dan pohon kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama lapangan parkir lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung semak dan pohon kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama lapangan parkir kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama lapangan parkir kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama lapangan parkir lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung semak dan pohon kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama lapangan parkir kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama pos satpam kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama lapangan parkir lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung semak dan pohon taman tidak teratur tidak ada depan gedung semak dan pohon kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama lapangan parkir kuburan tidak teratur tidak ada pinggir gedung semak dan pohon kawasan pendidikan teratur ada pinggir jalan utama lapangan parkir jalan teratur tidak ada di antara kawasan pendidikan aspal jalan teratur tidak ada di antara kawasan pendidikan aspal taman teratur tidak ada di depan gedung rumput dan semak jalan teratur tidak ada di antara taman aspal taman teratur tidak ada di depan gedung rumput jalan teratur tidak ada di antara gedung dan taman aspal kawasan pendidikan tidak teratur ada di pinggir jalan utama lapangan parkir
  75. 75. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 22 lahan kosong tidak teratur tidak ada di belakang gedung semak dan pohon kawasan pendidikan tidak teratur ada di pinggir jalan utama lapangan parkir kawasan pendidikan tidak teratur ada di pinggir jalan utama lapangan parkir lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung semak kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama gedung-gedung taman tidak teratur tidak ada pinggir jalan utama rumput dan pohon lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung rumput kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama gedung dan lapangan parkir kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama gedung-gedung pemukiman padat tidak teratur tidak ada di antara kawasan pendidikan rumah-rumah lahan kosong tidak teratur tidak ada di belakang gedung dan pemukiman semak dan pohon kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama gedung dan lapangan parkir lahan kosong tidak teratur tidak ada pinggir jalan utama semak dan pohon jalan teratur tidak ada di antara pemukiman dan kawasan pendidikan aspal kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama gedung dan lapangan pemukiman padat tidak teratur tidak ada pinggir jalan rumah-rumah jalan teratur tidak ada di antara pemukiman dan kawasan pendidikan aspal kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama gedung-gedung kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama gedung dan lapangan kawasan pendidikan tidak teratur ada pinggir jalan utama gedung dan lapangan lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung rumput lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung semak dan pohon lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung semak dan pohon lahan kosong tidak teratur tidak ada belakang gedung dan pemukiman semak dan pohon sungai tidak teratur tidak ada belakang gedung dan pemukiman semak dan pohon sungai tidak teratur tidak ada belakang gedung semak dan pohon 5.2. Analisis Dari salinan attribute table di atas, wilayah kampus undip dibagi menjadi beberapa bagian yaitu : a. Kawasan Pendidikan Kawasan pendidikan terdiri dari gedung-gedung kuliah dan lapangan parkir. Gedung-gedung di kawasan pendidikan pada umumnya berwarna abu-abu dan biru tua. Menurut hasil analisis, kawasan pendidikan merupakan kawasan yang mendominasi kawasan
  76. 76. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 23 kampus Undip Tembalang. Luas kawasan pendidikan mencapai 569.379m2 atau 44,7% dari luas seluruh daerah. b. Pemukiman Pemukiman terdiri dari rumah-rumah penduduk, kos-kosan, dan pertokoan yang sebagian besar bersatu dengan rumah penduduk. Ada 2 jenis pemukiman di kawasan kampus Undip Tembalang, yaitu pemukiman sedang dan pemukiman padat. Pemukiman sedang terletak agak jauh dari wilayah kampus. Sedangkan pemukiman padat terletak lebih dekat dengan wilayah kampus. Pemukiman di wilayah kampus Undip Tembalang berpola tidak teratur. Luas pemukiman di wilayah kampus Undip Tembalang mencapai 75.909m2 atau 6% dari luas seluruh daerah. c. Lahan Kosong Lahan kosong merupakan lahan yang telah memiliki dasar kepemilikan dan dapat berupa lahan terbangun maupun tidak terbangun yang tidak dimanfaatkan secara optimal oleh penguasa lahan tersebut. Jumlah lahan kosong di kawasan kampus Undip Tembalang terbilang cukup banyak yakni mencapai 424.144m2 atau 33,3% dari luas seluruh daerah. Lahan kosong yang belum dimanfaatkan ini akan dibangun gedung-gedung baru untuk perkuliahan atau dijadikan ruang terbuka hijau. d. Taman Taman di wilayah kampus Undip Tembalang masih sangat minim. Di wilayah ini hanya terdapat 3 taman. Padahal taman merupakan salah satu objek terpenting yang harus dimiliki setiap kampus. Taman berfungsi sebagai lokasi untuk berbagai kegiatan mahasiswa. Luas taman di kawasan kampus Undip Tembalang hanya 21.121m2 atau 1.7% dari luas seluruh daerah. e. Kuburan Di kawasan kampus Undip Tembalang, terdapat beberapa lahan yang diperuntukkan untuk kuburan. Luas wilayah kuburan di kawasan kampus Undip Tembalang adalah 3036m2 . f. Jalan Berdasarkan peta citra, jalan difungsikan sebagai akses untuk menuju gedung-gedung perkuliahan. Jalan-jalan di kawasan kampus
  77. 77. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 24 Undip Tembalang saling berkaitan satu sama lain, yakni menghubungkan antara kawasan pendidikan dan pemukiman. g. Sungai Kawasan kampus Undip Tembalang dilewati sungai yang cukup lebar. Namun, berdasarkan peta citra, sungai tersebut tidak terawat dengan baik dan kurang diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari warna sungai yang gelap dan tertutup semak belukar yang tidak terawat. VI. KESIMPULAN Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu sebagai berikut : 1. Kemampuan interpretasi citra penginderaan jauh sangat dibutuhkan oleh seorang perencana untuk mengidentifikasi karakteristik suatu wilayah tanpa kontak langsung dengan wilayah tersebut. 2. Untuk mengidentifikasi suatu objek pada citra, dibutuhkan kunci interpretasi citra. 3. Sebuah wilayah memiliki objek-objek dengan karakteristik yang berbeda- beda sehingga membutuhkan interpretasi yang berbeda pula.
  78. 78. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 25 DAFTAR PUSTAKA Dwi, Ichwan. 2009. “Interpretasi Citra dengan Menggunakan Delapan Unsur Interpretasi” dalam I-Geography. http://one-geo.blogspot.com/2009/12/interpretasi-citra-dengan- menggunakan.html. Diunduh pada Sabtu, 8 Desember 2012. http://id.wikipedia.org/wiki/Pertahanan_laut. Tanpa Angka Tahun. “Pertahanan Laut” dalam Wikipedia. Diunduh Sabtu, 13 April 2013. http://jurnal-geologi.blogspot.com/2010/01/unsur-interpretasi-citra.html. Tanpa Angka Tahun. “Unsur Interpretasi Citra” dalam Jurnal Geologi. Diunduh Sabtu, 8 Desember 2012. http://kasihdalamkata.blogspot.com/2010/01/tata-guna-lahan.html. Tanpa Angka Tahun. “Tata Guna Lahan: dalam Kasih dalam Kata. Diunduh Sabtu. 13 April 2013. Pangi dan Pigawati, Bitta. 2011. Pengolahan Data Citra. Semarang: Biro Penerbit Plano UNDIP.
  79. 79. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 26 LAMPIRAN 1. Peta Citra Kampus Undip Tembalang 2. Peta Tata Guna Lahan Kampus Undip Tembalang 3. Print Screen Attribute Table
  80. 80. ATTRIBUTE TABLE
  81. 81. LAPORAN PENGINDERAAN JAUH “PENGOLAHAN PETA CITRA DAN PETA TATA GUNA LAHAN” Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Interpretasi Ruang (TKP 256) Dosen Pengampu : Dra. Bitta Pigawati, Dipl. GE, MT. Dikerjakan Oleh : Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013
  82. 82. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 1 I. TUJUAN Tujuan praktikum ini yaitu : 1. Mangetahui cara pengolahan peta citra dan peta tata guna lahan. 2. Memahami teknik penggabungan band, koreksi geometrik, koreksi radiometrik dan cropping peta citra menggunakan software ER Mapper. 3. Memahami teknik digitasi peta citra yang meghasilkan peta tata guna lahan dengan menggunakan software ArcGIS. 4. Mengetahui pemanfaatan lahan di suatu kawasan berdasarkan peta citra. II. KAJIAN LITERATUR 2.1. Pengertian Peta Citra Peta citra satelit merupakan kombinasi data peta rupabumi jenis vektor dengan data satelit orthogonal jenis raster yang dioverlay secara terintegrasi pada sistem referensi koordinat pemetaan (Dodi S, dkk dalam Gantin). Pemetaan citra satelit pada dasarnya lebih mempertimbangkan segi kualitas geometris dan sajian citra, selebihnya untuk melaksanakan analisis/interpretasi citra diserahkan kepada para pengguna. Dasar pertimbangan produksi peta citra satelit : a. Hasil pengolahan data citra penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan informasi dan pemetaan sumberdaya alam. b. Keberadaan berbagai citra satelit yang multi resolusi serta ditunjang oleh kemampuan perangkat keras dan lunak untuk kebutuhan pemetaan. c. Penggunaan teknik penginderaan jauh dinilai relatif murah dibandingkan dengan teknik pembuatan peta yang menggunakan survei tristis dan survei udara/fotogrametris. d. Data citra satelit dimungkinkan untuk memutakhirkan peta rupabumi dan lainnya. e. Keberadaan Stasiun Bumi Satelit Sumber Alam (SBSSA) LAPAN yang menjadi sumber data untuk produksi peta citra satelit. f. Dengan adanya durasi lintasan satelit dari daerah yang sama kurang dari satu bulan, maka produksi peta citra dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat. (Gantin, Tanpa Angka Tahun)
  83. 83. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 2 2.2. Pengertian Tata Guna Lahan Tata guna lahan adalah sebuah pemanfaatan lahan dan penataan lahan yang dilakukan sesuai dengan kondisi eksisting alam. Tata guna lahan berupa:  Kawasan permukiman Kawasan permukiman ini ditandai dengan adanya perumahan yang disertai prasana dan sarana serta infrastrukutur yang memadai. Kawasan permukiman ini secara sosial mempunyai norma dalam bermasyarakat. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-15% (datar hingga landai).  Kawasan perumahan Kawasan perumahan hanya didominasi oleh bangunan- bangunan perumahan dalam suatu wilayah tanpa didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-15% (datar hingga landai).  Kawasan perkebunan Perkebunan ini ditandai dengan dibudidayakannya jenis tanaman yang bisa menghasilkan materi dalam bentuk uang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% (landai).  Kawasan pertanian Kawasan pertanian ditandai oleh adanya jenis budidaya satu tanaman saja. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8- 15% (landai).  Kawasan ruang terbuka hijau Kawasan terbuka hijau ini dapat berupa taman yang hanya ditanami oleh tumbuhan yang rendah dan jenisnya sedikit. Namun dapat juga berupa hutan yang didominasi oleh berbagai jenis macam tumbuhan. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 15-25% (agak curam).  Kawasan perdagangan Kawasan perdagangan ini biasanya ditandai dengan adanya bangunan pertokoan yang menjual berbagai macam barang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-8% (datar).
  84. 84. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 3  Kawasan industri Kawasan industri ditandai dengan adanya proses produksi baik dalam jumlah kecil maupun dalam jumlah besar. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% (hingga landai).  Kawasan perairan Kawasan perairan ini ditandai oleh adanya aktifitas perairan, seperti budidaya ikan, pertambakan, irigasi, dan sumber air bagi wilayah dan sekitarnya. Standar Warna Tata Guna Lahan No Keterangan Kode Warna Warna 1. Kawasan Permukiman Padat 42 2. Kawasan Permukiman Sedang 41 3. Kawasan Permukiman Rendah 2 4. Kawasan Pasar Tradisional 12 5. Kawasan Perdagangan dan Pertokoan 1 6. Kawasan Institusi, Pemerintahan, dan Pendidikan 141 7. Ruang Terbuka dan Areal Rekreasi, taman 3 8. Kawasan Industri 252 9. Kawasan Pertambakan 4 10. Lahan Pertanian 74 11. Lahan Perkebunan 76 12. Hutan dan Kawasan Konservasi 137 13. Perairan, Genangan Air, Danau 5 14. Fasilitas Transportasi: Terminal dan Stasiun KA 183 15. Kawasan Militer 143 16. Lahan Kosong dan Padang Rumput 81 17. Kuburan 200
  85. 85. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 4 III. ALAT DAN BAHAN - Citra ALOS Kota Semarang - Komputer yang telah diinstall Er Mapper - Komputer yang telah diinstall ArcGIS IV. LANGKAH KERJA a. Penggabungan Band 1. Buka aplikasi Er Mapper 2. Pilih menu File  Open  Pilih satu file jenis .tif  OK.
  86. 86. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 5 Maka akan muncul tampilan seperti berikut ini : 3. Pilih menu View  Algorithm atau klik ikon pada toolbar. Maka akan muncul tampilan seperti berikut ini : 4. Klik icon untuk menduplikasi layer. Jumlah layer yang diduplikasi sesuai dengan jumlah band dari citra yang akan diolah. Dalam praktikum ini, jumlah band citra adalah 4. atau
  87. 87. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 6 5. Double click layer  Ubah nama  Load Dataset  Pilih sesuai dengan nomor band  OK this layer only. Hal ini diberlakukan untuk semua band citra.
  88. 88. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 7 6. Setelah itu, simpan file. Pilih menu File  Save as  isi nama file ‘citragabung’  isi tipe file ‘ER Mapper Raster Dataset (.ers)’  OK. 7. Tutup file, kemudian buka kembali file ‘citragabung’ yang telah disimpan. File  Open  citragabung.ers. Maka akan tampil tampilan seperti berikut ini : Band telah digabungkan
  89. 89. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 8 b. Koreksi Geometrik 1. Buka aplikasi ER Mapper. Setelah itu, buka file citra yang telah digabungkan bandnya. File  Open  citragabung.ers. 2. Pilih menu Process  Geocoding Wizard Isi step 1 sampai dengan 5 Step 1 (Start) Input file : citragabung.ers Geocoding type : Polynomial Setelah itu klik Save dan klik step 2) Polynomial Setup Step 2 (Polynomial Setup) Polynomial order : Linear Setelah itu klik Save dan klik step 3) GCP Setup
  90. 90. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 9 Step 3 (GCP Setup) Klik Change, lalu akan muncul : Pengisian Datum : WGS 84 Pengisian Projection : SUTM 49
  91. 91. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 10 Pengisian Coord system type : Eastings/Northings Setelah semuanya terisi klik OK  Save  4) GCP Edit Step 4 (GCP Edit)  Dalam keadaan off  Arahkan pointer sesuai titik pada gambar citra dari google earth  Masukkan koordinat titik dari google earth yang telah diketik ulang dalam notepad  Lakukkan penitikkan searah atau bertolak belakang jarum jam  Setelah membuat titik, ubah on menjadi off. Lihat RMS-nya. Semakin kecil RMS, semakin sesuai dengan titik.  Apabila RMS-nya masih besar, ubah kembali posisi titik dengan mengarahkan pointer pada titik yang akan diubah. Setelah itu, klik Save  Pilih 5) Rectify Untuk menambah titik
  92. 92. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 11 Step 5 (Rectify) Pilih Save and Start Rectification  OK. Setelah itu pilih file  Save as  File name : citragabungrek  File type : ER Mapper Raster Dataset (.ers)  Close c. Koreksi Radiometrik 1. Buka aplikasi ER Mapper. Setelah itu, buka citra yang telah digabungkan band dan dikoreksi geometric. Pilih menu File  Open  citragabungrek.ers 2. Pilih menu View  Algorithm atau klik ikon pada toolbar. Maka akan muncul tampilan seperti berikut ini : atau
  93. 93. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 12 3. Pilih Edit Transform Limits  Periksa Actual Input Limits  Apabila 0, dibirakan  Apabila bukan 0, pilih Edit Formula  Masukkan rumus  Apply Changes  Close. Hal ini berlaku untuk RGB. Rumus : INPUT1-(angka Actual Input Limits yang terkecil) Setelah itu, pilih File  Save As  File name : citragabungrekradio  File type : ER Mapper Raster Dataset (.ers)  Close d. Cropping 1. Buka aplikasi ER Mapper. Setelah itu, buka file citra yang telah digabungkan bandnya. File  Open  citragabungrekradio.ers. 2. Pilih menu Utilities  Import Vector and GIS Formats  ESRI Shape File  Import. Pilih file dalam bentuk .shp
  94. 94. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 13 Map projection : SUTM 49  Set Color : Red  OK  OK  Close
  95. 95. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 14 3. Pilih menu View  Algorithm atau klik ikon pada toolbar. 4. Pilih Edit  Add Vector Layer  Annotation/Map Composition 5. Pada Layer Annotation, pilih Load Data set  pilih file dalam bentuk .erv  OK. Batas telah muncul. atau
  96. 96. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 15 Batas telah muncul 6. Pilih ikon , maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini. Lalu perbesar peta dengan memilih ikon , drag pada peta. Peta yang telah diperbesar
  97. 97. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 16 7. Setelah itu, beri nama batas wilayah pada citra. Klik ikon pada tools, klik bagian dalam batas peta citra  klik ikon  isi dengan ‘batas_wilayah’  Apply  Close. 8. Simpan batas. Kilk ikon  Raster Region  OK Close.
  98. 98. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 17 9. Menghitamkan daerah selain daerah yang diinginkan. Algorithm  Edit Formula  if inregion (‘batas_wilayah’) i1 else null  Apply changes. Hal ini berlaku untuk RGB. 10. Simpan file. Pilih menu File  Save as  File name : citragabungrekradiocrop  File type : ER Mapper Raster Dataset (.ers)  Close PETA SUDAH SIAP DIDIGITASI DALAM ARCGIS if inregion (‘batas_wilayah’) i1 else null
  99. 99. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 18 e. Digitasi dengan ArcGIS 1. Buka aplikasi ArcGISArcMap. 2. Pilih jenis pengolahan yang akan dilakukkan. Dalam praktikum ini, pilih A new empty map. Setelah itu klik OK. 3. Mengatur satuan yang akan dipakai. ViewData Frame Properties. Maka, akan muncul kotak dialog. Pilih kolom GeneralPada kolom Map dan Display, pilih MetersApply OK. 4. Mengatur satuan koordinat. ViewData Frame Properties Kolom Coordinate System. Pada kolom Select Coordinate System, pilih Predifined  Projected Coordinate System UTM  WGS 1984  WGS 1984 UTM Zone 49S. Setelah itu, pilih Apply dan klik OK. 5. Memasukkan gambar FileAdd Data atau klik ikon Add Data pada Toolbar . Pilih terboyo.ers dan terboyo.shp. 6. Untuk melakukkan digitasi, warna peta harus dihilangkan. Double click warna batas wilayah  Pilih hollow  outline width 2  outline color : red  OK. 7. Buat Attribute Klik kanan pada layer batas wilayah  Open Attribute Table  Options Add Field Name : Keterangan Type : Text OK.
  100. 100. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 19 8. Setelah itu, mulai digitasi peta. Editor  Start Editing  Cut Polygon Features Klik bagian dalam peta  Pilih icon pensil  Mulai digitasi. 9. Setiap selesai digitasi, buka attribute table, lalu lengkapi bagian keterangan sesuai dengan tata guna lahan. Jika sudah selesai mengisi attribute table, pilih Editor  Stop Editing. 10. Setelah semua bagian didigitasi, berilah warna. Klik mouse bagian kanan pada layer yang telah didigit  Properties  Symbology  keterangan
  101. 101. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 20 Categories  Unique Features  Value field : Keterangan  Add All Values  Klik value tiap keterangan  pilih warna yang sesuai  Apply  OK. 11. Setelah itu, lakukkanlah layouting. Untuk mengubah format kertas, pilih menu File  Pages and Print Setup. 12. Buatlah ITP. Berikut ini adalah menu-menu yang dapat digunakan untuk membuat ITP. Membuat Rectangle Memasukan huruf Jenis Font Font Size Font Format Warna Huruf Warna Rectangle Warna Garis Tampilan Layout
  102. 102. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 21  Masukkan skala : insert  Scale Bar  Masukkan orientasi : insert North Arrow  Masukkan logo Undip : insert Picture  Masukkan legenda : insert  Legend 13. Berikan grid pada peta. View  Data Frame Properties  New Grid  Pilih format yang diinginkan. 14. Untuk membuat legenda pada peta citra. Buka wilayah di google earth  gunakan Snipping Tool untuk mengidentifikasi kawasan (Start  All Programs  Acessories  Snipping Tool)  Drag  Save as. V. HASIL DAN ANALISIS Peta Citra Peta Tata Guna Lahan
  103. 103. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 22 Analisis : Berdasarkan pengamatan penulis, wilayah Kelurahan Terboyo Kulon, Semarang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu : 1. Pemukiman Padat Pemukiman padat di Kelurahan Terboyo Kulon terletak di antara kawasan pertambakan. Hal ini menandakan bahwa mata pencaharian sebagian besar masyarakat Kelurahan Terboyo Kulon adalah nelayan atau pengusaha tambak. Selain itu, pemukiman berpola tidak teratur. 2. Kawasan Industri Kawasan industri terletak di sekitar pemukiman padat dan kawasan tambak. Berdasarkan hal tersebut, kemungkinan besar bidang industri di Kelurahan Terboyo Kulon adalah bidang perikanan. Luas dan jumlah kawasan industri di Kelurahan Terboyo Kulon terbilang cukup besar dan banyak. 3. Kawasan Pertambakan Kelurahan Terboyo Kulon terletak di daerah pesisir pantai, sehingga banyak sekali ditemukan kawasan pertambakan. Walaupun memiliki tekstur yang sama halusnya dengan perairan, kawasan pertambakan dan perairan masih tetap dapat dibedakan. Kawasan pertambakan terdapat sekat atau pemisah antara lahan tambak yang satu dengan lahan tambak yang lain, sedangkan daerah perairan tidak memiliki sekat atau pemisah. Kawasan pertambakan merupakan kawasan terbesar di Kelurahan Terboyo Kulon. 4. Perairan Perairan di Kelurahan Terboyo Kulon berupa laut dan muara sungai. Pada peta citra, terlihat jelas suatu garis yang berkelok-kelok berakhir pada suatu daerah yang lebih luas. Dari hal tersebut, penghuni dapat mengidentifikasi adanya sungai yang bermuara di laut yang berlokasi di Kelurahan Terboyo Kulon. 5. Jalan Akses jalan di Kelurahan Terboyo Kulon tidak terlalu banyak. Hal ini dapat disebabkan karena sebagian besar wilayah di Kelurahan Terboyo adalah berupa air. Akses jalan yang tersedia hanya terdapat untuk tujuan ke kawasan industri serta pemukiman.
  104. 104. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 23 VI. KESIMPULAN Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu sebagai berikut : 1. Kemampuan interpretasi citra penginderaan jauh sangat dibutuhkan oleh seorang perencana untuk mengidentifikasi karakteristik suatu wilayah tanpa kontak langsung dengan wilayah tersebut. 2. Software Er Mapper dan ArcGIS merupakan software yang dapat membantu interpretasi suatu peta citra. 3. Sebuah wilayah memiliki objek-objek dengan karakteristik yang berbeda- beda sehingga membutuhkan interpretasi yang berbeda pula.
  105. 105. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 24 DAFTAR PUSTAKA Gantin, Tuti dan Slamet Soelaeman. Tanpa Angka Tahun. Pemetaan Citra Satelit. http://kasihdalamkata.blogspot.com/2010/01/tata-guna-lahan.html. Tanpa Angka Tahun. “Tata Guna Lahan: dalam Kasih dalam Kata. Diunduh Sabtu. 13 April 2013. Pangi dan Pigawati, Bitta. 2011. Pengolahan Data Citra. Semarang: Biro Penerbit Plano UNDIP.
  106. 106. Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Laporan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh 25 LAMPIRAN 1. Peta Citra Kelurahan Terboyo Kulon Semarang 2. Peta Tata Guna Lahan Kelurahan Kulon Terboyo
  107. 107. LAPORAN INTERPRETASI CITRA “UJI KLASIFIKASI CITRA” Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Interpretasi Ruang (TKP 256) Dikerjakan Oleh : Bunga Kasih Agyaputeri 21040112140113 Dwitantri Rezkiandini Lestari 21040112130071 Fera Wahyu Pinanti Islamiyah 21040112110111 Syarif Hidayatullah 21040112130085 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013
  108. 108. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 1 I. TUJUAN Tujuan praktikum ini yaitu : 1. Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi lahan yang terdapat di suatu wilayah berdasarkan citra. 2. Mahasiswa dapat membuat peta klasifikasi lahan menggunakan aplikasi ERMapper dan ArcGIS berdasarkan standar warna peta tata guna lahan. 3. Mahasiswa dapat melakukan pemotongan citra satelit menggunakan ERMapper. 4. Mahasiswa dapat mengetahui apakah klasifikasi lahan pada citra sesuai dengan klasifikasi lahan sebenarnya pada suatu wilayah. II. KAJIAN LITERATUR 2.1. Pengertian Klasifikasi Citra Klasifikasi citra merupakan proses yang berusaha mengelompokkan seluruh pixel pada suatu citra ke dalam sejumlah class (kelas), sedemikian hingga tiap class merepresentasikan suatu entitas dengan properti yang spesifik (Chein-I Chang dan H.Ren, 2000). Klasifikasi citra penginderaan jauh (inderaja) bertujuan untuk menghasilkan peta tematik, dimana tiap warna mewakili sebuah objek, misalkan hutan laut, sungai, sawah dan lain-lain (Agus Zainal Arifin dan Aniati Murni 2007). Klasifikasi citra digital merupakan proses pengelompokan piksel ke dalam kelas-kelas tertentu. Hal ini sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam klasifikasi multispektral ialah bahwa setiap objek dapat dibedakan dari yang lainnya berdasarkan nilai spektralnya (Projo Danoedoro,1996). Pada umumnya Klasifikasi citra digital yang digunakan adalah klasifikasi terselia (supervised). Menurut Projo Danoedoro (1996) klasifikasi supervised ini melibatkan interaksi analis secara intensif, dimana analis menuntun proses klasifikasi dengan identifikasi objek pada citra (training area). Sehingga pengambilan sampel perlu dilakukan dengan mempertimbangkan pola spektral pada setiap panjang gelombang tertentu, sehingga diperoleh daerah acuan yang baik untuk mewakili suatu objek tertentu.
  109. 109. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 2 2.2. Jenis-jenis Klasifikasi Citra Dalam klasifikasi citra ada dua metode yang dapat digunakan, yaitu :  Klasifikasi Citra Terawasi (Supervised Classification) Penggunaan istilah terawasi disini mempunyai arti berdasarkan suatu referensi penunjang, dimana kategori objek-objek yang terkandung pada citra telah dapat diidentifikasi. Klasifikasi ini memasukkan setiap piksel citra tersebut kedalam suatu kategori objek yang sudah diketahui. Sebelum klasifikasi dilakukan, maka kita harus memasukkan input sebagai dasar pengklasifikasian yang akan dilakukan. Dengan klasifikasi ini, kita lebih bebas untuk memilah data citra sesuai dengan kebutuhan. Misalnya dalam suatu kawasan kita hanya akan melakukan klasifikasi terbatas pada jenis jenis kenampakan secara umum misal jalan, pemukiman, sawah, hutan, dan perairan. Hal tersebut dapat kita lakukan dengan klasifikasi ini. Proses input sampel juga cukup mudah, hanya saja perlu ketelitian dan pengalaman agar sampel yang kita ambil dapat mewakili jenis klasifikasi. Baik buruknya sampel diwujudkan dalam nilai indeks keterpisahan. Proses klasifikasi dengan pemilihan kategori informasi yang diinginkan dan memilih training area untuk tiap ketegori penutup lahan yang mewakili sebagai kunci interpretasi merupakan klasifikasi terbimbing. Klasifikasi terbimbing digunakan data penginderaan jauh multispectral yang berbasis numeric, maka pengenalan polanya merupakan proses otomatik dengan bantuan komputer. Klasifikasi terbimbing yang didasarkan pada pengenalan pola spectral terdiri atas tiga tahapan, yaitu: 1. Tahap training sample: analisis menyusun kunci interpretasi dan mengembangkan secara numeric spectral untuk setiap kenampakan dengan memeriksa batas daerah (training area). 2. Tahapan klasifikasi: setiap pixel pada serangkaian data citra dibandingkan steiap kategori pada kunci interpretasi numeric, yaitu menentukan nilai pixel yang tak dikenal dan paling mirip dengan kategori yang sama. Perbandingan tiap pixel citra dengan kategori pada kunci interpretasi dikerjakan secara numeric dengan menggunakan berbagai strategi klasifikasi
  110. 110. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 3 (dapat dipilih salah satu dari jarak minimum rata-rata kelas, parallelepiped, kemiripan maksimum). Setiap pixel kemudian diberi nama sehingga diperoleh matrik multi dimensi untuk menentukan jenis kategori penutupan lahan yang diinterpretasi. 3. Tahapan keluaran: hasil matrik didenileasi sehingga terbentuk peta penutupan lahan, dan dibuat tabel matrik luas berbagai jenis tutupan lahan pada citra.  Klasifikasi Citra Tak Terawasi (Unsupervised Classification) Proses klasifikasi disebut tidak terawasi, bila dalam prosesnya tidak menggunakan suatu referensi penunjang apapun. Hal ini berarti bahwa proses tersebut hanya dilakukan berdasarkan perbedaan tingkat keabuan setiap piksel pada citra. Klasifikasi citra tak terawasi mencari kelompok-kelompok (cluster) piksel-piksel, kemudian menandai setiap piksel kedalam sebuah kelas berdasarkan parameter-parameter pengelompokkan awal yang didefinisikan oleh penggunanya. Klasifikasi unsupervised melakukan pengelompokan data dengan menganalisa cluster secara otomatis dan menghitung kembai rata-rata kelas (class mean) secara berulang-ulang dengan computer. Sumbu horizontal menunjukkan nilai piksel pada band2 dan sumbu vertical menunjukkan nilai kecerahan piksel pada band1. Pengelompokan piksel menjadi kelas spectral diawali dengan menentukan jumlah kelas spectral yang akan dibuat. Penentuan jumlah kelas ini dapat dilakukan dengan memperhatikan jumlah puncak histogram sehingga diperoleh jumlah kelas spectral yang akan dibentuk. Setelah jumlah kelas spectral ini ditentukan kemudian dipilih pusat-pusat kelas spectral terhadap setiap pusat kelas spectral. Berdasarkan hasil pengukran jarak ini setiap piksel dikelompokkan ke dalam suatu kelas spectral yang memiliki jarak terdekat. Setelah setiap piksel dikelompokkan lalu masing-masing rata- rata kelas spectral dihitung kembali. Kemudian dilakukan lagi pengukuran jarak setiap piksel terhadap rata-rata kelas baru ini dan
  111. 111. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 4 akhirnya piksel dikelompokkan ke dalam kelas spectral yang memiliki jarak terdekat. Parameter yang menentukan pemisahan dan pengelompokan piksel-piksel menjadi kelas spectral yaitu: 1. Standar deviasi maksimum, nilai standari deviasi maksimum yang sering digunakan berkisar antara 4,5 sampai 7 2. Jumlah piksel minimum dalam sebuah kelas spectral dinyatakan dalam persen (%). 3. Nilai pemisahan pusat kelas yang dipecah 4. Jarak minimum antara rata-rata kelas spectral, berkisar antara 3,2 sampai 3,9. Proses pemisahan dan pengelompokkan piksel-piksel menjadi kelas-kelas spectral terus diulangi dan akan dihentikan bila telah memenuhi salah satu ketentuan: 1. Jumlah iteasi maksimum, jumlah iterasi dapat ditentukan sesuai dengan kebutuhan 2. Jumlah piksel yang kelas spektralnya tidak berubah antara iterasi (dalam persentase, %). Setelah kelas spectral terbentuk umumnya dilakukan proses asosiasi antaa obyek dan kelas spectral terbentuk untuk mengidentifikasi kelas spectral menjadi kategori obyek tertentu. Pengidentifikasian kelas spectral menjadi obyek tertentu dapat dilakukan menggunakan suatu data acuan atau referensi penunjang. Setelah semua kelas spectral teridentfikasi kemudian dapat dilakukan penyederhaan untuk menggabungkan kelas-kelas yang tergolong sama, misalnya pengabungan perkampungan 1 dan perkampungan 2 menjadi satu kelas perkampungan. Hasil klasifikasi dapat ditunjukka dari gradasi warna yang terbentuk yang menunjukkan jenis kelas yang dikelompokkan oleh komputer.
  112. 112. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 5 2.3. Tujuan dan Manfaat Klasifikasi Citra 1. Mengidentifikasi besarnya perubahan liputan lahan di suatu wilayah. 2. Mengidentifikasi pengurangan dan penambahan kawasan di suatu wilayah. 3. Menguji keterandalan citra dalam identifikasi objek atau kawasan tertentu. 4. Menganalisis pengelolaan tata ruang di suatu wilayah. III. ALAT DAN BAHAN - Aplikasi ER Mapper - Aplikasi ArcGIS - Citra ALOS Semarang 2009 - Global Positioning System (GPS) IV. LANGKAH KERJA Mengolah citra dengan menggunakan er mapper 1. Buka aplikasi ER Mapper, lalu buka citra yang sudah dicropping. Kemudian klik Process  Classification  ISOCLASS Unsupervised Classification.
  113. 113. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 6 2. Kemudian masukkan data cropping pada Input Dataset dan Output Dataset. Kelas klasifikasi minimal terdiri dari 6 kelas dan maksimal 8 kelas. Pilih OK, tunggu beberapa saat, klik OK, close kotak dialog unsupervised classification. 3. Tutup kotak dialog lalu buka kembali folder output. Citra akan berwarna hitam seperti berikut ini.
  114. 114. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 7 4. Lalu klik process pada ER Mapper  Classification  Edit Class/Region Color and Name. Akan muncul kotak dialog baru untuk memberi warna pada citra yang telah di cropping. Sesuaikan warna dan nama sesuai dengan standard warna tata guna lahan yang berlaku. Setelah itu, pilih Save. 5. Klik Edit pada Edit Algorithm dan pilih Change Raster Layer  Class Display. Lalu kanan pada Class Display dan pilih Class Display Layer.
  115. 115. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 8 6. Simpan file citra yang telah diwarnai. File  Save As  File name : citrarekradiogajah_class1.ers File type : ER Mapper Raster Data Set. Mengolah citra dengan menggunakan ArcMap 1. Buka file citra yang telah diberi warna klasifikasi citrarekradiogajah.ers. File  Add data  citrarekradiogajah.ers. 2. Pilih ArcCatalog  New  Shapefile
  116. 116. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 9 3. Lalu, akan muncul kotak dialog. Nama : koreksi  Feature type : point. Setelah itu, menentukan coordinate system. Pilih Edit… 4. Maka akan muncul kotak dialog. Pilih Select  Projected Coordinate System  UTM  WGS1984  WGS 1984 UTM zone 49S  Add. 5. Drag shapefile koreksi ke ArcMap.
  117. 117. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 10 6. Membuat Attribute Table. Klik kanan pada layer koreksi  Options  Add field  Name : nomor  Text  OK. Lalu buat lagi field keterangan. 7. Lakukkan penitikan pada ArcMap. Pilih Editor  Start Editing  Open Attribute File  tulis nomor titik dan keterangan titik  Editor  Stop Editing. Lakukan langkah ini sampai mencapai jumlah titik yang diinginkan. Setiap melakukan penitikan, catat dan simpan koordinat tiap titik. 8. Memberi label titik. Klik kanan pada layer koreksi  Properties  Label  tentukan font size dan font color  OK.
  118. 118. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 11 9. Memunculkan label nomor. Klik kanan pada layer koreksi  Labe Features. Label nomor telah muncul. 10. Setelah itu, lakukkanlah layouting peta. Melakukkan survei lapangan 1. Setelah menentukan titik, lakukkanlah survei lapangan. 2. Cari koordinat titik yang telah ditentukan dalam ArcMap. 3. Catat pada lembar survey, apakah lahan sesuai dengan keterangan pada ArcMap atau tidak. 4. Lakukkanlah analisis dari survei lapangan.
  119. 119. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 12 V. HASIL DAN ANALISIS 5.1. Peta Klasifikasi Citra 5.2. Tabel Atribut dan Survei No x y keterangan survei 1 434506.598 9223562.989 hutan hutan 2 434346.726 9223644.924 hutan hutan 3 430475.37 9223864.343 hutan hutan 4 434186.281 9223771.418 pemukiman pemukiman 5 422972.865 9223978.244 hutan hutan 6 433885.185 9224001.85 ruang terbuka ruang terbuka 7 434027.946 9224050.187 hutan hutan 8 434482.133 9223777.473 hutan hutan 9 434630.514 9223688.669 hutan hutan 10 433214.56 9224489.539 pemukiman pemukiman 11 432964.816 9224478.864 pemukiman pemukiman 12 432634.939 9224170.017 hutan hutan 13 433127.712 9225372.869 ruang terbuka pemukiman 14 432676.455 9224448.011 pemukiman pemukiman 15 432448.728 9224581.41 ruang terbuka pemukiman 16 432472.627 9224706.883 pemukiman pemukiman 17 432977.763 9225241.535 pemukiman pemukiman 18 434118.023 9224595.868 pertanian pertanian 19 434620.321 9224168.253 lahan kosong lahan kosong
  120. 120. Kelompok 13 Laporan Uji Klasifikasi Citra 13 20 435082.308 9223682.469 pemukiman pemukiman 21 432410.375 9225204.975 ruang terbuka ruang terbuka 22 435040.07 9226170.81 hutan hutan 23 434049.915 9225298.545 ruang terbuka ruang terbuka 24 435478.068 9224244.587 pemukiman pemukiman 25 433761.074 9225082.166 lahan kosong lahan kosong 26 433712.207 9225725.023 pemukiman pemukiman 27 433871.781 9225137.387 lahan kosong lahan kosong 28 434062.673 9225048.9 lahan kosong lahan kosong 29 433780.126 9224938.431 lahan kosong lahan kosong 30 434283.955 9225774.549 hutan hutan 31 434859.098 9224127.104 lahan kosong lahan kosong 32 434846.85 9224208.961 lahan kosong lahan kosong 33 434786.503 9224169.526 lahan kosong lahan kosong 34 434591.052 9226508.677 pemukiman pemukiman 35 434965.459 9224867.282 pemukiman pemukiman 36 433899.963 9224567.494 perkebunan perkebunan 37 434030.261 9224627.922 pertanian pertanian 38 433969.833 9220686.461 pertanian pertanian 39 433972.665 9224541.057 perkebunan perkebunan 40 434074.637 9224513.675 perkebunan perkebunan 41 434617.539 9225392.126 lahan kosong lahan kosong 42 434647.812 9225497.284 lahan kosong lahan kosong 43 434986.225 9226021.592 ruang terbuka ruang terbuka 44 435624.401 9223682.584 ruang terbuka ruang terbuka 45 435858.794 9223652.842 ruang terbuka ruang terbuka 46 434430.351 9226095.178 ruang terbuka ruang terbuka 47 435030.894 9225736.191 ruang terbuka ruang terbuka 48 434420.147 9225830.845 hutan hutan 49 434010.484 9224665.843 pertanian pertanian 50 434065.718 9224598.393 pertanian pertanian 51 434171.748 9224522.748 pertanian pertanian 52 434134.216 9224582.227 pertanian pertanian 53 434028.704 9224526.992 perkebunan perkebunan 54 433916.854 9224284.243 perkebunan perkebunan 55 433972.56 9224205.875 perkebunan perkebunan 56 434057.537 9224201.155 perkebunan perkebunan

×