BANI BUWAIHI

2,837 views

Published on

  • Be the first to comment

BANI BUWAIHI

  1. 1. TINJAUAN SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA BANI BUWAYHA. Pendahulaun. Masa kejayaan Bani Buwahy merupakan era transisi berakhirnya kekuasaan bangsa Arab di Kekhalifahan Abbasiyah. Selama mengendalikan kekuasaannya di Baghdad, Dinasti Buwahy turut berjasa mengembangkan supremasi peradaban Islam di bidang ilmu pengetahuan dan sastra. Sederet ilmuwan, pemikir dan ulama besar lahir di era kekuasaan Buwauhi di kota Baghdad. Ulama, pemikir dan ilmuwan penting yang muncul di era kejayaan Buwayh antara lain; Al-Farabi (wafat 950 M), Ibnu Sina (980- 1037 M), Al-Farghani, Abdurahman Al-Shufi (wafat 986 M), serta Ibnu Maskawih (wafat 1030 M).1 Sumbangan ilmuwan dan intelektual yang berada dalam lindungan dan dukungan para penguasa Buwayh ini bagi pengembangan ilmu pengatahuan sungguh sangat besar. Tidak cuma itu, Philip K Hitti dalam bukunya History of Arab juga mencatat peran penting Bani Buwaihi dalam pembangunan di kota Baghdad. Menurut Hitti, di era kekuasaannya, para penguasa Buwaihy berhasil membangun masjid, rumah sakit, serta kanal- kanal. Pembangunan infrastruktur itu turut membuat sektor ekonomi, pertanian, perdagangan dan industri menggeliat.21 A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka Alhusna,1993). H. 3242 Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam ( Jakarta: PT Raja Grapindo, 1985). H. 231 1
  2. 2. Menurut Ensiklopedi Britannica Online, penguasa Buwayh sempat membangun bendungan jembatan yang membelah Sungai Kur dengan Shiraz. Jembatan itu mampu menyambungkan Dinasti Buwayh dengan kerajaan lainnya seperti Samanid, Hamdaniyah, Bizantium dan Fatimiyah. Penguasa Buwayh pun turut menopang geliat seni dan kesusasteraan.3B. PEMBAHASAN 1. Kronologis Kedatangan Bani Buwaih Masa pemerintahan Buwayh yaitu periode ketiga dari pemerintahan bani Abbasiah, dimana kekhilafahannya dikuasai oleh bani Buwaih sejak 334 -447 H/945-1055 M kehadiran bani Buwaihi berawal dari tiga orang putera Abu Syuja Buwayh, seorang pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu Ali, Hasan dan Ahmad. Untuk keluar dari tekanan kemiskinan, tiga bersaudara ini memasuki dinas militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan rezeki.4 sehingga sebagian besar ahli sejarah Islam merangkai awal dari kemunculan bani Buwayh dala paggung sejarah bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali bin Ahmad dalam psukan Makan Ibn Kali dari dinasti Saman, tetapi kamudian berpinadah ke kubu Mardawij. Ketika Mardawij tebunuh pada tahun 943, Ali sudah menjadi penguaa Isfahan dan sedang berusaha menjadi penguasa yang mandiri. Kira-kira dua tahun kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat 3 G.E. Bosworrt Dinasti-dinasti Ilam (Bandung: Mizan, 1993). H 122-123. 4 Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam (Bandung:Nuansa Cendikia, 2004), hal. 181 2
  3. 3. daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jendral Tuzun, penguasa sebenarnya atas Baghdad, Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah. Gelar mu’izz al- Daulah (yang memuliakan Negara) diperolehnya dari khalifah. Ia memerintah Baghdad selama leih dari 24 tahun, sementara kedua saudaranya menguasai bagian kerajaan sebelah timur.5 Sebenarnya keturunan Bani Buwayh adalah keturunan kaum Syi‟ah, dan bukan keturunan Bani Abbas secara langsung pada saat itu. Melihat kekuasaan Bani abbas yang semakin melemah di dalam bidang pemerinahan atau perpolitikan yang mngakibatkan timbulnya keinginan dari daulat-daulat kecil yang ada di bawah kekuasaan Baghdad. Kesempatan ini tidak kalah pentingnya bagi Ali sebagai pemimpin Bani Buwayh sehingga langkah awal yang dilakukan yaitu mulai menakkan di daerah-daerah Persia menjadikan Syiraz sebagi pusat pemerintahan. Ketika Mardawij meninggal, Bani Buwayh yang bermarkas di Syiraz itu berhasil menalukkan beberapa daerah di Persia seperti Rayy, Isfahan, dab daerah- daerah Jabal. Ali berusaha mendapat legalisasi dari Khlifah abbasiyah Al- Radhi Billah, dan mengirimkan sejumlah uang untuk pembendaharaan Negara.Ia berhasil mendapat legalitas itu. Kemudian, melakukan ekspasi ke Irak, Ahwaz, dan Wasith. Dari sini tetara Buwaih menuju Baghdad untuk merebut kekuasaan di pusat pemerintahan .ketika itu ,Baghdad dilanda kekisruhan politik, akibat perebutan jabatan Amir Al Umara‟ 5 Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am,(Bandung: Mizan, 2002), hal. 64 3
  4. 4. antara wazir dan pemimpin miiter. Para pemimpin militer meminta bantuan kepada Ahmad Ibnu Buwaih yang berkedudukan di Akhwaz permintaan itu dikabulkan, Ahmad dan pasukannya tiba di Baghdad pada tanggal 11 jumadil ula (334 H/945M). 6 2. Orang-Orang Bani Buwaih dan Khilafah Bani Abbasiah Buwaih bermahzab Syiah sehingga mereka patut menjadikan seorang khalifah dari syiah zaidiyah, akan tetapi mereka menerima kailafah Abbasiah. Sehingga timbullah pertanyaan apa yang menjadi penyebab semua itu? Seperti yang dicantumkan dalam buku Al isy yusuf, tahun 1968 M yaitu mereka adalah orang yang berpandangan jauh, para sejarawan menyebutkan bahwa Ahmad bin Buwaih, pernah bermusyawarah dengan orang-orang untuk menunjuk seorang khalifah dari keluarga Ali. Namun, orang-orangnya mengingatkan dia agar menjauhinya mereka berkata, ”jika kamu membawa salah seorang diantara mereka, kamu pasti menjadi pembantu, dan dia akan menjadi pemimpin. Dailam adalah kelompoknya. jika dia menyuruh orang untuk membunuhmu.kanu akan ada didalam tangannya seperti cincin. Adapun ketika kamu membiarkan khalifah Abbasiah, kamu akan menjamin untuk dirimu seseorang yang bisa kamu kendalikan sesuai dengan kehendakmu. Kamu bisa memecatnya jika kamu mau untuk mengantikannya dengan yang lain kapanpun kamu mau. 6 Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam (Bandung:Nuansa Cendikia, 2004), hal. 187 4
  5. 5. Orang-orang Dailam adalah kelompokmu.mereka tidak akan taat denga nama madzhab dan nama baiat yang ada didalam pundakmu.” Dengan hal itulah Ahmad bin Buwayh menghindari penunjukan kalangan keluarga Ali sebagai Khalifah. padahal pada awalnya rakyat Irak telah menerima Abbasiyah sebagai khilafah yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka, atau jabatan khalifah adalah jabatan yang bersifat mutlak di dalam agama yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat, dan inilah alasan untuk memnerima bani Abbasiyah menjadi khilafah pada masa itu. Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu‟tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi‟ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu‟tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu‟tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy‟ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu‟tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al- jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.73. Keadaan politik pada masa bani buwaihiyah Di dalam masalah politik yang berperan penting hanya bani buwaih yang memegang jabatan penting pada Amir Al umara‟, sehingga7 Ibid. hal. 188 5
  6. 6. orang-orang bani Buwaih menetapkan orang-orang Abbasiyah dalam pemerintahan, namun tidak memberikian kekuasaan. Mereka melarang khalifah memperoleh pendapatan untuk kemudian mereka ambil sendiriu.Mereka ,membuat pasukan khusus untuk khlifah yang berjumlah lima ribu dirham sehari. Hal tersebut terjadi dimasa Almustakfa.8 Sejak saat itu para khalifah tunduk kepada Bani Buwayh, sehingga para khalifah Abbasiyah benar-benar tinggal nama saja. Pelaksanaan pemerintahan sepenuhnya berada di tangan amir-amir Bani Buwaih.4. Bidang ilmu pengetahuan. Kekuasaan Buwayh mencapai puncaknya dibawah kepemimpinan „Addud Ad-Daulah (949-983). Hal yang menarik yang bisa kita banggakan dalam pola dan tatanan kehidupan masyrakat pada masa Dinasti ini. Sebagaimana para khalifah Abbasiyah periode pertama, para penguasa Bani Buwayh mencurahkan perhatian secara langsung dan sungguh-sungguh terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Para pangeran dan wazir Dinasti ini menjadi contoh dalam memberikan dukungan terhadap berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Pada masa tersebut, Baghdad sebagai tempat berkembangnya Dinasti tersebut mengalami kemajuan yang sangat pesat. Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan. Kedekatannya dengan para Ilmuan menjadikan loyalita mereka terhadap pemerintahan sangat8 Ibit. hal. 190 6
  7. 7. tinggi. Istana pemerintahan pernah dijadikan sebagai tempat pertemuan Ilmuwan saat itu. Bahkan saat itu dibangun Rumah sakit besar yang terdiri dari 24 orang Dokter, dan digunakan juga sebagai tempat Praktek mahasiswa Kedokteran saat itu. Di bidang sastrawan Para penguasa saling berlomba-lomba dalam mengumpulkan para sastrawan untuk menyampaikan syair-syair indahnya di istana. Sehingga bukan sebuah keanehan jika sarjana dan penyair sering kali melakukan pengembaraan dari satu istana menuju istana yang lain. Para penguasapun sering mengumpulkan para kerabatnya dalam sebuah majlis atau pertemuan untuk mempelajari disiplin ilmu pengetahuan seperti; ilmu kalam, hadits, fikih, kesusastraan dan lain sebagainya dengan dipandu oleh para guru yang diundang secara khusus ke dalam istana. Selain di istana, pertemuan dalam membahas ilmu pengetahuan juga diselenggarakan di masjid-masjid, rumah-rumah pribadi, kedai-kedai, alun-alun bahkan di taman-taman kota Pada masa Dinasti Buwaihy merupakan titik puncak dari apayang disebut "humanisme", karena betapa kosmopolitannya atmosferbudaya pada saat itu. Percampuran pemikiran di antara orang-orang Islam,Kristen, Yahudi, Kaum Pagan, kelompok-kelompok aliran teologi dankelompok religius sangat menghargai pluralitas. Titik tolak kesepakatanmereka adalah bahwa "ilmu-ilmu kuno" adalah milik seluruh umat manusiadan tidak ada satu kelompok religius atau kultural satu pun dapatmengklaim kepemilikan eksklusif ilmu-ilmu tersebut. Dimana semangat 7
  8. 8. pluralitas itu mereka kembangkan atas prinsip "shadaqah" yang diartikan "persahabatan" yaitu sebuah prinsip hubungan lintas budaya dan religius yang mendasarkan hubungannya pada kemanusiaan. Ini berarti hubungan mereka tidak didasarkan pada ras, suku atau agama, tetapi pada kenyataan bahwa mereka adalah manusia.9 . Pada masa Bani Buwaih ini banyak bermunculan ilmuwan besar, di antaranya, al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-Ala al- Maarri (973-1057 M), Al-Kindi, Sijistani, Nadhim, Al-Amiri, Ibn Rusyd dan kelompok Ikhwan al-Shafa. Dan pada masa ini dilakukan penerjemahan terhadap ratusan karya-ilmiah Yunani-Romawi ke bahasa Arab oleh Hunain Ibn Ishaq, penerjemah Kristen Nestorian, Yuhanna ibn Hailan dan sebagainya. Yang bertempat di Baghdad dan Iran sebagai pusat peradaban Islam dengan beragam istana, dibawah kontrol dinasti Buwaihy yang dipimpinan oleh Adhud Al-Daulah. Karya-karya Ilmuan besar diantaranya: 1). Al-Farabbi (w.950 M) Al-Farabi tempil sebagai filosof yang menguasai berbagai cabang ilmu seperti : ilmu alam, matematika, astronomi dan lain-lain. Aliran filsafat Yunani yang mempengaruhinya ialah filsafat Plato, Aristoteles, 9 Muhammad jalaluddun Surur, Tarikh al-Hadharah al-Islamiah (Fi al-ayarq al-fikral-Arabi,1976). H. 51 8
  9. 9. dan Neoplatonisme. Selain itu ia sebagai seorang muslim yang telah mempelajari pelajaran agama dengan baik ia pun mendapat pengaruh dari ajaran tersebut. Disini Al-Farabi juga menyesuaikan filsafatnya dengan ajaran islam, seperti: filsafatnya tentang kenabian ia mengakui adanya nabi, dan nabi itu lebih tinggi dari filosof. Dimana maksudnya nabi mempunyai mukzijat sedangkan filosof hanya menggunakan akal pikiran untuk berfilsafat. Dengan demikian dasar pemikiran filsafat yang digunakan Al-Farabi yaitu memadukan ajaran filsafat dengan ajaran agama. karya-karya Alfarabi adalah 1. Syuruh risalah aainun al-kabir al-Yunani 2. Al-Ta‟liqat 3. Risalah fina yajibu ma‟rifat qabla ta‟allumi al-falsafah 4. Risalah fi itsbt al-mufaraqah2). Ibn Sina (980-1033M), Ibnu Sina telah menghasilkan beberapa karya monumental di bidang ilmu pengetahuan,. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ketika berbicara tentang pemikiran Islam atau ilmu pengetahuan Islam, maka tidak terlepas dari kontribusi Ibnu Sina. Bahkan dapat dikatkan bahwa berbicara tentang Ibnu Sina berarti berbicara tentang pemikiran dan kejayaan Islam. Beberapa karya intelektual Ibnu Sina, dapat diklasifikasikan ke dalam 15 bidang ilmu yaitu: 1) Falsafah umum, 2) 9
  10. 10. Logika, 3) Sastra, 4) Syair, 5) Ilmu-ilmu Alam, 6) Psikologi, 7) Kedokteran, 8) Kimia, 9) Matematika, 10) Metafisika, 11) Tafsir al- Qur‟an, 12) Tasawuf, 13) Akhlak, Rumah Tangga, politik, dan nubuwwah, 14) Surat-surat pribadi, 15) Serba ragam „3). Ibn Maskawaih (w.1030M) Miskawiah adalah ilmuwan suka meneliti dalam pengetahuan ilmiah dan akademis. Ia adalah ahli dan mampu di bidang Biologi; ia merupakan ilmuwan pertama yang menemukan kehidupan tumbuhan secara umum, membahas tentang evolusi. Ia adalah sarjana sosiologi, yang ahli tentang kebudayaan dan peradaban dengan spesifikasi pada disiplin Psikologi, dalam bidang psikologi ia termasuk ahli dibidangnya. Ia adalah peneliti dan pemikir etika, kerohanian dan penulis besar buku akhlak. Miskawaih adalah salah seorang tokoh filsafat dalam Islam yang memusatkan perhatiannya pada etika Islam. Meskipun sebenarnya ia pun seorang sejarawan, tabib, ilmuwan dan sastrawan. Pengetahuannya tentang kebudayaan Romawi, Persia, dan India, disamping filsafat Yunani, sangat luas. Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Miskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh Bani Buwaihi yang beraliran Syi‟ah dan berasal dari keturunan Parsi Bani Buwaihi yang mulai berpengaruh sejak Khalifah al Mustakfi dari Bani Abbas mengangkat Ahmad bin Buwaih sebagai perdana menteri dengan gelar Mu‟izz al Daulah pada 945 M. pada masa inilah Miskawaih memperoleh 10
  11. 11. kepercayaan untuk menjadi bendaharawan. „Adhud al Daulah. Juga pada masa ini Miskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan, dan pujangga. Tapi, disamping itu ada hal yang tidak menyenangkan hati Miskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Miskawaih lalu tertarik untuk menitikberatkan perhatiannya pada bidang etika Islam. 10 Latar belakang pendidikannya tidak diketahui secara rinci, hanya sebagian yang dapat diketahui antara lain terkenal memepelajari sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibnu Kamil al-Qadhi, mempelajari filsafat dari Ibnu al-Akhmar dan mempelajari kimia dari Abi Thayyib. Dalam bidang pekerjaan tercatat bahwa pekerjaan utama Ibnu Miskawaih adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan, dan pendidik anak para pemuka dinasti Buwaihiyyah. Selanjutnya, Ibnu Misakawaih juga dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa. Keahlian Ibnu Miskawaih dibuktikan dengan karya tulisnya berupa buku dan artikel. Jumlah buku dan artikel yang berhasil ditulis oleh Ibnu Miskawaih ada 41 buah. Semua karyanya tidak luput dari kepentingan pendidikan akhlak (tahzib al-Akhlak), diantara karyanya adalah: 1. Al-Fauz al-Asghar 2. al-Fauz al-Akbar 3. Tajarib al-Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar yang ditulis pada tahun 369 H/979 M)10 Tholhah.Imam “Membuka Jendela Pendidikan hal 240 11
  12. 12. 4. Usn al-Farid (kumpulan anekdot, syair, pribahasa dan kata-kata mutiara). Tartib al-Sa‟adah (tentang akhlak dan politik) 5. al-Musthafa (syair-syair pillihan). 6. Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak) 7. al-jami‟ 8. al-Syiar (tentang aturan hidup) 9. Tentang pengobatan sederhana (mengenai kedokteran) 10. Tentang komposisi Bajat (mengenai seni memasak) 11. Kitab al-Asyribah (mengenai minuman). 12. Tahzib al-Akhlaq (mengenai akhlaq) Menurut Ibnu Miskawaih dasar pendidikan adalah: 1) Syariat Ibnu Miskawaih tidak menjelaskan secara pasti tentang dasar pendidikan.Namun secara tegas ia menyatakan bahwa syari‟at agama merupakan faktorpenentu bagi lurusnya karakter manusia, yang menjadikan manusia terbiasamelakukan perbuatan terpuji, yang menjadikan jiwa mereka siap menerimakearifan (hikmah), dan keutamaan (fadilah), sehingga dapat memperolehkebahagiaan berdasarkan penalaran yang akurat. Dengan demikian syariatagama merupakan landasan pokok bagi pelaksanaan pendidikan yang merujukkepada Al-Qur‟an dan Sunnah. Oleh karena itu, prinsip syariat harusditerapkan dalam proses pendidikan, yang meliputi aspek hubungan manusia 12
  13. 13. dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan makhluk lainnya. 2) Psikologi Menurut Ibnu Miskawaih, antara pendidikan dan pengetahuan tentang jiwa erat kaitannya. Untuk menjadikan karakter yang baik, harus melalui perekayasaan (shina‟ah) yang didasarkan pada pendidikan serta pengarahan yang sistematis. Itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan mengetahui jiwa lebih dahulu. Jika jiwa dipergunakan dengan baik, maka manusia akan sampai kepada tujuan yang tertinggi dan mulia. Maka dari itu, jiwa merupakan landasan yang penting bagi pelaksanaan pendidikan. Pendidikan tanpa pengetahuan psikologi laksana pekerjaan tanpa pijakan. Dengan demikian teori psikologi perlu diaplikasikan dalam proses pendidikan. Dalam hal ini Ibnu Miskawaih adalah orang yang pertama kali melandaskan pendidikan kepada pengetahuan psikologi. Ia adalah perintis psikologi pendidikan, dan layak disebut sebagai „Bapak Psikologi Pendidikan‟.C. Metode Pendidikan Menurut Ibnu Miskawaih Definisi metode yang digunakan dalam topik ini identik dengan alat, karena fungsinya sebagai pelancar terjadinya proses pendidikan, dan cara yang harus dilakukan. Ada beberapa metode pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih, di antaranya adalah : 1) Metode alami (thabi‟i) 13
  14. 14. Manusia mempunyai metode alami yang dilakukan sesuai dengan proses alam. Cara ini berangkat dari pengamatan potensi manusia, di mana potensi yang muncul lebih dahulu, selanjutnya pendidikannya diupayakan sesuai dengan kebutuhan. Menurut Ibnu Miskawaih potensi yang pertama terbentuk bersifat umum yang juga ada pada hewan dan tumbuhan, kemudian baru potensi yang khusus manusia. Oleh karena itu, pendidikan harus dimulai dengan memperhatikan kebiasaan makan dan minum, karena dengannya akan terdidik jiwa syahwiyyah, kemudian baru yang berhubungan dengan jiwa ghadhabiyah yang berfungsi memunculkan cinta kasih, dan baru muncul jiwa nathiqah yang berfungsi memenuhi kecenderungan pengetahuan. Urutan ini yang disebut dengan metode alamiah.2) Metode Bimbingan Metode ini penting untuk mengarahkan subjek didik kepada tujuan pendidikan yang diharapkan yaitu mentaati syariat dan berbuat baik. Hal ini banyak ditemukan dalam Al-Qur‟an, yang menunjukkan betapa pentingnya nasihat dalam interaksi pendidikan yang terjadi antar subjek-didik. Nasihat merupakan cara mendidik yang ampuh yang hanya bermodalkan kepiawaian bahasa dan olah kata.3) Metode Ancaman, Hardikan, dan Hukuman Berangkat dari metode yang sebelumnya, jika subjek-didik tidak melaksanakan nilai yang telah diajarkan, maka mereka diberi berbagai cara 14
  15. 15. secara bertahap sehingga kembali kepada tatanan nilai yang ada. Seperti ancaman, kemudian baru hukuman, baik bersifat jasmani atau rohani.4) Metode Pujian Jika subjek didik melaksanakan syariat dan berperilaku baik, maka ia perlu dipuji dihadapannya. Hal ini agar mereka merasa bahwa perbuatan tersebut mendapat nilai tambah bagi dirinya. Jika pandangan ini menyebar, akan semakin gencar subjek-didik melaksanakan kebajikan.D. Asas Pendidikan Menurut Ibnu Miskawaih Yang dimaksud dengan asas di sini adalah hal-hal yang mendasar, yang perlu diperhatikan dalam proses kegiatan pendidikan seperti: 1. Asas bertahap, yaitu asas yang didasarkan pada perbedaan yang dimiliki oleh tiap individu agar pendidikan berdaya dan berhasil guna. 2. Asas kesiapan, di mana manusia mempunyai kesiapan untuk memperoleh tingkatan, antara yang satu berbeda dengan yang lain. 3. Asas gestalt, yaitu mendahulukan pengetahuan yang umum, baru yang terinci, karena partikular tidak dapat dipisahkan dari hal yang universal. 4. Asas keteladanan, yaitu pemberian contoh yang baik bagi subjek didik, baik dalam keluarga, sekolah 5. Asas kebebasan, di mana subjek didik bebas memilih antara kemuliaan dan kehinaan, atau menjadi makhluk yang setingkat malaikat. Itu semua diserahkan kepada subjek didik. 15
  16. 16. 6. Asas pembiasaan. Asas ini merupakan upaya praktek dalam pembinaan subjek didik, sesuai dengan kebiasaan hidupnya, karena kebiasaan hidup susah untuk diubah.E. Hubungan Pendidik Dan Subjek Didik 1. Pendidik Ibnu Miskawaih mengelompokkan orang yang melakukan usaha pendidikan di antaranya adalah: orang tua, guru atau filsuf, pemuka masyarakat dan raja atau penguasa. Guru dan filsuf mempunyai kedudukan yang istimewa yaitu sebagai Bapak Ruhani, Tuan Manusia dan kebaikannya adalah Kebaikan Ilahi. Hal ini karena dia mendidik murid dengan keutamaan yang sempurna (al fadillah at tammah), mengajarinya dengan kearifan yang mapan (al-hikmahtul balighah) dan mengarahkannya kepada kehidupan yang abadi (al-hayah al abadiyah) dalam kenikmatan yang kekal (an-ni‟mah al abadiyah). Ibnu Miskawaih menyatakan guru dan filsuf adalah penyebab eksistensi intelektual manusia. 2. Subjek Didik Pengertian subjek didik yaitu semua orang yang memperoleh atau memerlukan bimbingan, bantuan dan latihan, baik berupa ilmu, ketrampilan atau lainnya, guna mengembangkan dirinya sebagai individu, anggota masyarakat dan hamba Tuhan yang paripurna. Menurut Ibnu Miskawaih, hubungan antara pendidik dan subjek didik 16
  17. 17. harus didasarkan pada kemanusiaan yaitu cinta, kasih sayang, persahabatan, keadilan, kebaikan dan fadhilah. Hal ini karena manusia adalah makhluk sosial yang harus membagi cinta dan kasih sayang, bersahabat, menegakkan keadilan dan berupaya memperoleh keutamaan. Sehingga dalam pendidikan harus terjadi komunikasi dua arah (interaksi), bahkan multi arah (transaksi).F. Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Miskawaih Ibnu Miskawaih memusatkan perhatiannya kepada filsafat akhlak. Karena itu corak pemikiran pendidikannya bertendensi moral. Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Miskawaih adalah: 1. Kebaikan dan kebahagiaan Manusia yang ingin diwujudkan oleh pendidikan adalah manusia yang baik, bahagia dan sempurna. Kebaikan, kebahagiaan dan kesempurnaan adalah suatu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Seluruhnya adalah berkaitan dengan akhlak, etika dan moral. Untuk mencapai tingkatan tersebut, harus memiliki 4 kualitas, yaitu; kemampuan dan semangat yang kuat, ilmu pengetahuan yang esensial- substansial, malu kebodohan, dan tekun melakukan keutamaan dan konsisten mendalaminya. 2. Tercapainya Kemuliaan Akhlak Manusia yang paling mulia ialah yang paling besar kadar jiwa rasionalnya, dan terkendali. Oleh karena itu pembentukan individu yang 17
  18. 18. berakhlak mulia terletak pada bagian yang menjadikan jiwa rasional ini unggul dan dapat menetralisir jiwa-jiwa lain. Tujuan pendidikan yang diinginkan Ibnu Miskawaih adalah idealistik-spiritual, yang merumuskan manusia yang berkemanusiaan. Rumusan ini sejalan dengan fungsi kerasulan Muhammad yang digambarkan dalam Al-Qur‟an dan Sunnah yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Qalam: ayat 4: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Dari sinilah kebanyakan para ahli pendidik Muslim sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling pokok adalah pendidikan budi pekerti dan jiwa. Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam inilah kemudian menjadi penentu bagi keberhasilan pendidikan Islam. Sebagaimana yang terangkum dalam firman Allah SWT (QS. Al- Baqarah: 201) “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"[*]. [*] inilah do‟a yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.3. Sebagai Sarana Sosialisasi Individu Manusia adalah makhluk sosial, maka pendidikan harus berfungsi sebagai proses sosialisasi bagi subjek didik. Kebijakan manusia sangat banyak jumlahnya, yang tidak mampu dicapai oleh individu, perlu bergabung dengan kelompok lain untuk tujuan tersebut. Gagasan ini 18
  19. 19. merupakan jalan rintis lahirnya sosiologi pendidikan yang di kembangkan oleh para sosiolog modern.11 5). Al-Afghani Beberapa karyanya 1. di bidang politik, yang mengajarkan bahwa semua umat Islam harus bersatu di bawah pimpinan seorang khalifah untuk membebaskan mereka dari penjajahan Barat..12 2. Dibidang Agama, Jamaluddin al-Afghani berpendapat, bahwa kesejahteraan umat Islam tergantung a) Akal manusia harus disinari dengan tauhid, membersihkan jiwanya dari kepercayaan Tahyul b) Orang harus merasa dirinya dapat mencapai kemuliaan budi pekerti yang utama c) Orang harus menjadikan aqidah, sehingga prinsip yang pertama dan dasar keimanan harus diikuti dengan dalil dan tidaklah keimanan yang hanya ikutan semata (taqlid).13 3. Ajarannya tentang Qada dan Qodar Menurut al-Jabr (fatalism), qada dan qodar adalah penyerahan diri secara mutlak tanpa usaha dan ini suatu ajaran baru (bid‟ah) dalam 11 Ibid. hal 240-241 12 M. Sholihan Manan dan Hasanuddin Amin, Pengantar Perkembangan Pemikiran Muslim(dalam Studi Sejarah), PT. Sinar Wijaya, Surabaya, 1988, hlm. 128 13 Ibid. 131 19
  20. 20. agama yang dimasukkan dalam ajaran Islam oleh musuh Islam untuk suatu tujuan politik tertentu agar Islam hancur dari dalam. 14 7). Al-Masudi (956) Dikenal sebagai seorang sejarawan pengembara dan ahli geografi Arab. Buku-buku Karyanya adalah: Kitab Akhbar az-Zaman (sejarah dunia), Kitab al-Ausat (tentangn sejarah umum) kemudian kedua kitab tersebut digabung menjadi kitab Muruj adz-Dzahab wa Ma‟adin (Meadows of Gold and Mines of Precious Stones), Kitab at-Tanbih wa al- Isyraf (tentang filsafat alam dan teori evolusi). 8). Abu ar-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni (973-1048) Nama lengkapnya adalah Abu ar-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni. ia mahir matematika, astronomi, fisika, sejarah, geografi, bahasa, dan budaya. Buku-buku karyanya tentang sejarah peradaban India yaitu: Tahqiq ma li al-Hind min Maqulah Maqbulah fi al- Aql Au Mardzulah, Tarikh al-Umam asy-Syaqiyah, dan Tarikh al-Hind (sejarah Hindia). Karyanya dalam bidang matematika, Kitabal-Qanun al- Mas‟udi fi al-Haya wa an-Nujum (astronomi geografi dan matematika). Dalam bidang filsafat, al-Irsyad, Tahdid Nihayat al-Amakin Litashih Masafat al-Masakin, dll. Beliau telah menulis karyanya sampai 138 karya. Sampai meninggalnya tahun 1050 di 14 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta:Bulan Bintang, 2001, cet.13, hlm. 47 20
  21. 21. 9). Abdurrahman bin Umar as-Sufi Abul Husayn nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Umar as-Sufi Abul Husayn. Ia lahir tahun 903 M (291 H) di Rayy, Persia. Ia seorang astronom terkenal yang bekerja di istana bersama amir Adud al-Dawla. Karyanya yang terkenal adalah Kitab al-Kawakib ats-Tsabit al-Musawwar (tentang catalog bintang). Karya lainnya yang telah diilustrasi kembali seperti Notices at Extraits (oleh Causin de Parceval), Description des Etoiles Fixes par Abd al-Rahman as-Sufi (oleh H.C.F.C Schjellerup di St. Petersburg, 1874). Beliau meninggal pada tahun 986 M/37610). Abu Ali al-Hasan bin al-Haytsam al-Basri al-Misri nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Hasan bin al-Haytsam al-Basri al- Misri. Masyarkat Barat lebih mengenalnya dengan sebutan (al-Hazen 1973), Avenalan, Avenetan. Lahir tahun 1038 di Basrah, Irak. Ia adalah ahli fisika dan matematika terbaik. Selain itu ia menguasai beragam ilmu, seperti fisika, astronomi, matematika, pengobatan, dan filsafat. Pendidikan tingginya ia tempuh di Universitas Al-Azhar. Karya beliau dibidang Optik yaitu: Kitab fi Al-Manasit (Kamus Optika), buku-buku tentang lingkaran cahaya dan gerhana, tentang astronomi dll. Beliau wafat tahun 1039.15 Tokoh-tokoh Kesusastraan Bahasa arab dan fersia 15 Wahyu Murtiningsih, Biografi Para Ilmuwan Muslim,(Yogyakarta: Insan Madani, 2008.). 21
  22. 22. 1. Al-Ashfani, Abu al-Faraj (897-966 2. Badi al-Zaman al Hamadzani (933-1007) 3. Abu Hayyan at-Tauhidi (1018) 4. Daqiqi (1020) 5. Rudaqi (930-an) 6. Al-Firdausi, Abu al-Qosim (920-1020 7. Abu Sa‟id ibn Abi al-Khair (1049.165. Kemuduran Bani Buwayh Kekuatan politik Bani Buwaih tidak bertahan lama, setelah generasi pertama (tiga bersaudara) kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak mereka. Masing-masing merasa berhak atas kekuasaan pusat. Misalnya, pertikaian antara „Izz Al-Daulah Bakhtiar, putera Mu‟izz Al-daulah dan „Adhad Al-Daulah, putera Imad Al-daulah, dalam perebutan jabatan amir al-umara. Perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Bani Buwaih ini merupakan salah satu faktor internal yang membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahan mereka. Faktor internal lainnya adalah pertentangan dalam tubuh militer, antara golongan yang berassal dari Dailam dengan keturunan Turki. Ketika amir al-umara dijabat oleh Mu’izz Al-Daulah persoalan itu dapat diatasi, tetapi manakala jabatan itu diduduki oleh orang-orang yang lemah, masalah tersebut16 Murtiningsih, Biografi Para Ilmuan Muslim. (Yogyakarta: Insan Madani, 2008), hal. 45 22
  23. 23. muncul kepermukaan, mengganggu stabilitas dan menjatuhkan wibawa pemerintah.17C. Kesimpulan 17 Harun Nasution . Ensiklopedi Islam.(Jakarta : Djambatan, 1992). H. 186. 23
  24. 24. Masa pemerintahan Buwaih yaitu periode ketiga dari pemerintahan baniAbbas, dimana kekhilafahannya dikuasai oleh bani Buwaih sejak 334 -447H/945-1055 M, Di dalam masalah politik orang-orang bani Buwaih menetapkanorang-orang Abbasiyah dalam pemerintahan, namun tidak memberikankekuasaan. Pelaksanaan pemerintahan sepenuhnya berada di tangan amir-amirBani Buwaih. pendidikan islam pada masa kerajaan buwaih berkembang pesat, hal initerlihat pada masa ini banyak bermunculan ilmuwan besar, di antaranya al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Abdurrahman al-Shufi (w. 986M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-Ala al-Maarri (973-1057 M), Al-Kindi,Sijistani, Nadhim, Al-Amiri, Ibn Rusyd dan kelompok Ikhwan al-Shafa. Yangsebagian besar para ilmuwan tersebut muncul pada paruh terakhir Abad ke-4H/ke-10 M, dibawah kontrol dinasti Buwaihiyyah yang dipimpinan oleh AdhudAl-Daulah. Kekuasaan Bani Buwaih tidak bertahan lama, setelah generasi pertama(tiga bersaudara) kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak mereka.Masing-masing merasa berhak atas kekuasaan pusat dan juga terjadinyapertentangan dalam tubuh militer, ini merupakan faktor internal yang membawakemunduran dan kehancuran pemerintahan mereka. Daftar Pustaka 24
  25. 25. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Alhusna,1993G.E. Bosworrt Dinasti-dinasti Ilam. Bandung: Mizan, 1993Harun Nasution . Ensiklopedi Islam.(Jakarta : Djambatan, 1992). H. 186.Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: PT Raja Grapindo, 1985M. Sholihan Manan dan Hasanuddin Amin, Pengantar PerkembanganPemikiran Muslim (dalam Studi Sejarah), PT. Sinar Wijaya, Surabaya, 1988Murtiningsih, Biografi Para Ilmuan Muslim. Yogyakarta: Insan Madani, 2008Muhammad jalaluddun Surur, Tarikh al-Hadharah al-Islamiah .Fi al-ayarq al- fikral, 1976Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am, Bandung: Mizan, 2002Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam. Bandung: Nuansa Cendikia, 2004Wahyu Murtiningsih, Biografi Para Ilmuwan Muslim.Yogyakarta: Insan Madani, 2008. 25

×