Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF “Leksikostatistik Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa"

12,264 views

Published on

Published in: Education
  • Dating for everyone is here: ♥♥♥ http://bit.ly/369VOVb ♥♥♥
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Sex in your area is here: ❶❶❶ http://bit.ly/369VOVb ❶❶❶
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here

LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF “Leksikostatistik Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa"

  1. 1. TUGAS LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF “Leksikostatistik Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa” Disusun Oleh : Dedik Winarno 13010110130041 Muhammad faizal Majid 13010110130051 Maulana Aji Nugroho 13010110130067 Pramoda Anindya Dipta 13010110130069 Gigih Panggayuh Utomo 13010110130072 SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO 2013
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan data dari beberapa sumber yang dihimpun, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak beraneka ragam bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. Komposisinya pun sangat beraneka ragam. Ada jenis bahasa daerah yang penuturnya seiring dengan berkembangnya waktu kian berkurang dikarenakan lemahnya tradisi untuk mewarisi bahasa leluhur masing-masing. Melemahnya bahasa daerah sendiri dikarenakan faktor anak muda jaman sekarang yang kurang berminat dalam menggunakan bahasa daerah untuk digunakan percakapan sehari – hari itu semua yang menjadi salah satu faktor semakin berkurangnya bahasa daerah. Ada juga jenis bahasa daerah yang penuturnya banyak akan tetapi kaidah-kaidah kebahasaan yang semestinya dipakai telah banyak yang diabaikan. Jika dianalisis lebih lanjut, keberagaman warna bahasa daerah yang ada di negeri ini pasti berasal dari sumber yang sama. Tidak heran jika ada beberapa kosakata dalam bahasa daerah yang letak geografisnya berjauhan tapi memiliki kesamaan. Salah satu samplenya adalah bahasa Melayu Deli dan bahasa Jawa. Didasari dari Ilmu Linguistik Historis Komparatif, yakni satu jenis disiplin ilmu yang mempelajari bahasa dalam bidang waktu serta perubahan- perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut, dibuatlah makalah yang berisi perbandingan 200 kosakata dalam bahasa Melayu Deli dan bahasa Jawa yang dilanjutkan dengan mencari waktu pisah antara bahasa Melayu Deli dengan bahasa Jawa. Dalam makalah ini metode yang kami gunakan adalah metode leksikostatistik, yakni sebuah metode dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan pengamatan kata-kata atau leksikon secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan prosentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain. Sedangkan metode glotokronologi adalah suatu teknik dalam linguistik historis yang berusaha mengadakan pengelompokan dengan lebih mengutamakan perhitungan waktu (time depth) atau perhitungan usia bahasa- bahasa kerabat. Dalam hal ini, usia bahasa dihitung secara umum, misalnya menggunakan satuan ribuan tahun (millenium). Kedua istilah tersebut saling tumpang tindih. Istilah-
  3. 3. istilah tersebut berusaha untuk menemukan data- data untuk suatu tingkat waktu yang agak tua dalam bahasa guna menentukan usia bahasa dan pengelompokan bahasa (Keraf, 1996:121-122) Dalam makalah ini, penulis mencari sumber data berasal dari kamus Bahasa Melayu Deli dan Bahasa Jawa. Namun, selain dari kamus tersebut, data juga bersumber dari wawancara dengan beberapa responden. 1.2 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Seberapa besar tingkat kesamaan kosakata Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa? b. Kapan kira-kira waktu pisah Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa? 1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Mengetahui prosentase kekerabatan kata antara Bahasa Melayu Deli dan Bahasa Jawa. b. Mengetahui waktu pisah Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi para peneliti lanjutan. b. Sebagai bahan motivasi untuk meningkatkan kegiatan penelitian bahasa daerah di Indonesia. c. Untuk melengkapi khasanah pustaka bahasa dan sastra daerah, khususnya di Perpustakaan Kementrian Pendidikan. d. Dapat dijadikan sumber informasi tentang linguistik daerah di nusantara. e. Bagi peneliti sendiri, menambah wawasan tantang kajian leksikostatistik Bahasa Melayu Deli dan Bahasa Jawa. 1.5 Teori yang Digunakan Teori merupakan prinsip dasar yang berlaku secara umum yang mempermudah seorang penulis dalam memecahkan suatu masalah. Teori yang menjadi acuan penulis adalah
  4. 4. teori leksikostatistik dan teori migrasi yang dikemukaakan Gorys Keraf dalam bukunya, Linguistik Bandingan Historis (1984). 1.6 Asumsi Dasar Leksikostatistik Ada empat macam asumsi dasar yang digunakan sebagai titik tolak untuk mencari jawaban mengenai usia bahasa, atau secara tepatnya dan bilamana terjadi diferensiasi antara dua bahasa atau lebih (Keraf, 1984: 123). Asumsi dasar tersebut adalah: a. sebagian dari kosa kata suatu bahasa sukar sekali berubah bila dibandingkan dengan bagian lainnya. b. retensi (ketahanan) kosakata dasar adalah konstan sepanjang masa. c. perubahan kosakata dasar pada semua bahasa adalah sama. d. bila prosentase dari dua bahasa kerabat (cognate) diketahui, maka dapat dihitung waktu pisah kedua bahasa tersebut. 1.7. Teknik Leksikostatistik Untuk menerapkan keempat asumsi dasar di atas, maka perlu mengambil langkah yang merupakan teknik metode leksikostatistik seperti: a. mengumpulkan kosakatabahasa kerabat. b. menetapkan pasangan-pasangan yang merupakan kata kerabat (cognate) dari kedua bahasa tersebut, penetapan kata kerabat adalah jika: a. pasangan itu identik b. pasangan itu memiliki korespondensi fonemis c. kemiripan secara fonetis d. satu fonem berbeda; c. menghitung usia atau waktu pisah kedua bahasa; W= keterangan: W= waktu peroisahan dalam ribuan tahun (millennium) yang lalu. r= retensi (prosentase konstan dalam seribu tahun atau indeks) C= prosentase kerabat log.= logaritma dari.
  5. 5. 1.8. Metode Pengumpulan Data Penulis memakai 2 jenis metode dalam pengumpulan data untuk pengerjaan makalah ini. Metode pertama yakni metode kepustakaan, yakni dengan mencari buku- buku yang berhubungan dengan penulisan makalah ini, khususnya kamus bahasa Melayu Deli-Indonesia serta kamus bahasa Jawa-Indonesia. Jenis metode kedua yakni metode wawancara, yakni dengan mewawancarai langsung para penutur bahasanya. Adapun responden yang kami wawancarai yakni: Dedik (21 tahun), penutur Bahasa Jawa. Faisal (21 tahun), penutur Bahasa Jawa. Tika (20 tahun), penutur Bahasa Melayu Deli. 1.9. Metode Analisis Data Tahap untuk menyelesaikan data yang terkumpul adalah menganalisisnya. Sehubungan dengan teknik yang penulis gunakan, yakni teknik leksikostatistik maka prosedurnya adalah sebagai berikut: a. mengumpulkan kosakata dasar bahasa kerabat, yaitu melalui metode kepustakaan serta metode Interviewer. b. Menghitung kata kerabat, yakni dengan mengikuti prosedur yang sudah ditentukan seperti: 1. Gloss yang tidak diperhitungkan. 2. Pengisolasian morfem terikat. 3. Penetapan kata kerabat. Rumus: C= x 100% Keterangan: C= cognates (kata kerabat) K= jumlah kosakata kerabat G= jumlah gloss c. Menghitung Waktu Pisah Waktu pisah antara dua bahsa kerabat yang telah diketahui prosentase kata kerabatnya, dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: W=
  6. 6. Keterangan: W = waktu peroisahan dalam ribuan tahun(millennium) yang lalu. r = retensi ( prosentase konstan dalam seribu tahun atau indeks ) C = prosentase kerabat Log. = logaritma dari.
  7. 7. BAB II ISI 2.1 Bahasa Melayu Deli Bahasa Melayu termasuk dalam bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Menurut statistik penggunaan bahasa di dunia, penutur bahasa Melayu diperkirakan mencapai lebih kurang 250 juta jiwa yang merupakan bahasa keempat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa-bahasa di dunia. Bahasa Melayu mencakup sejumlah bahasa yang saling bermiripan yang dituturkan di wilayah Nusantara dan di Semenanjung Melayu. Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei, Indonesia(sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga dikenal sebagai bahasa Malaysia); bahasa nasional Singapura; dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (sebagai bahasa Indonesia). Bahasa Melayu merupakan lingua franca bagi perdagangan dan hubungan politik di Nusantara sejak sekitar A.D 1500-an. Migrasi kemudian juga turut memperluas pemakaiannya. Selain di negara yang disebut sebelumnya, bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, yang menjadi bagian Australia. Suku Melayu Deli, adalah salah satu suku melayu yang mendiami kabupaten Deli Serdang. Penyebaran meliputi kota Medan, Deli Tua, daerah pesisir, pinggiran sungai Deli dan Labuhan. Di kota Medan suku Melayu Deli banyak menempati daerah pinggiran kota. Populasi suku Melayu diperkirakan lebih dari 2 juta orang. Suku Melayu Deli berbicara dalam bahasa Melayu Deli. Sekilas bahasa Melayu Deli mirip dengan bahasa Indonesia dengan logat melayu yang kental dan pengucapan yang lebih singkat dan cepat. Pada beberapa tempat, bahasa Melayu Deli menggunakan dialek 'e', mirip dengan bahasa Maye-Maye dan bahasa Malaysia. Contoh bahasa Melayu Deli: Indonesia - Melayu Deli kau = ko, kow ini = ni itu = tu
  8. 8. Bahasa Melayu Deli, memiliki sub-bahasa di kota Medan yang berkembang menjadi salah satu dialek bahasa Melayu, yaitu bahasa Medan. Bahasa Medan pada dasarnya sama dengan bahasa Melayu Deli, namun banyak menyerap bahasa-bahasa lain, seperti dari bahasa Batak Toba, Batak Karo, Batak Mandailing, China, India, Arab, Minangkabau, Inggris, Belanda dan lain-lain. Sedangkan logat bahasa Medan banyak dipengaruhi logat batak, sehingga logatnya terdengar semi melayu dan semi batak. Bahasa Indonesia Bahasa Melayu Deli (normal) Bahasa Bahasa Melayu Deli (sopan) di atas .. di luhur .. palih luhur .. di belakang .. di tukang .. palih pengker .. di bawah .. di handap .. palih handap .. di dalam .. di jero .. palih lebet .. di luar .. di luar .. palih luar .. di samping .. di sisi .. palih gigir .. di antara .. dan .. di antara .. jeung .. antawis .. sareng .. Bahasa Indonesia Bahasa Melayu Deli (normal) Bahasa Melayu Deli (sopan) Sebelum saacan, saencan, saméméh Sateuacan
  9. 9. Sesudah Sanggeus Saparantos Ketika Basa Nalika Besok Isukan Enjing Bahasa Indonesia Bahasa Melayu Deli (normal) Bahasa Melayu Deli (sopan) Lapar Tina Tina Ada Aya Nyondong Tidak Embung Alim Saya Urang Abdi/sim kuring/pribados 2.1.2 Letak Geografis Deli Serdang Kabupaten Deli Serdang berada pada ordinat 2°57’-3°16’ LU 98°33’-99°27’ BT, Provinsi Sumatera Utara. Luas daerahnya 2.808,91 km2 . Berada 5 meter di atas permukaan laut. Total populasi 1,790,431 jiwa (sensus pada tahun 2010) yang terdiri atas: Penduduk 35.378.483 jiwa yang terdiri dari: Suku Melayu 55%, Suku Jawa 18%, Suku Karo 10%, selebihnya terdiri dari: Suku Batak, Minang, Tionghoa. Secara administratif, daerah dibagi menjadi 22 kecamatan dan 389 / 14 kelurahan. Ibukotanya adalah Lubuk Pakam. Batas-batas: Utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Kabupaten Langkat, Selatan berbatasan dengan Kotamadya Medan dan Kecamatan Sunggal, Barat berbatasan dengan Kecamatan Hamparan Perak, Timur berbatasan dengan Kecamatan Persut Sei Tuan dan Kotamadya Medan.
  10. 10. 2.1.3 Sejarah dan penyebaran Nama Melayu mulai dikenal pada masa berdirinya kerajaan Melayu di wilayah Sungai Batanghari yang kini membelah Propinsi Jambi. Dari sini kemudian kemungkinan tersebar hingga ke semenanjung Melayu. Suku Melayu merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia setelah Suku Jawa dan Sunda. Pulau Sumatera merupakan dasar dari asal bahasa Melayu. Kerajaan-kerajaan Melayu pernah ada dan tersebar hingga ke Pulau Kalimantan (Borneo). Daerah Siak merupakan pusat Melayu di daratan, Melayu dialek 'o' banyakdipakai di pedalaman Riau. Kepulauan Riau: Sudah sangat diketahui bahwa Kepulauan Riau adalah pusat kebudayaan Melayu di Indonesia. dari sinilah katanya Bahasa Indonesia berakar, serupa dengan Johor. 2.1.4 Variasi dalam Bahasa Melayu Ada kesulitan dalam mengelompokkan bahasa-bahasa Melayu. Sebagaimana beberapa bahasa di Nusantara, tidak ada batas tegas antara satu varian dengan varian lain yang penuturnya bersebelahan secara geografis. Perubahan dialek seringkali bersifat bertahap. Untuk kemudahan, biasanya dilakukan pengelompokan varian sebagai berikut: 1. Bahasa-bahasa Melayu Tempatan (Lokal) 2. Bahasa-bahasa Melayu Kerabat (Paramelayu, Paramalay = Melayu "tidak penuh") 3. Bahasa-bahasa kreol (bukan suku/penduduk melayu) berdasarkan bahasa Melayu Jumlah penutur bahasa Melayu di Indonesia sangat banyak, bahkan dari segi jumlah melampaui jumlah penutur bahasa Melayu di Malaysia maupun di Brunei Darussalam. Bahasa Melayu dituturkan mulai sepanjang pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu hingga pesisir Pulau Borneo dan kota Negara, Bali. 2.1.5 Peta Kabupaten Deli Serang (pemakaian dialek Melayu Deli)
  11. 11. 2.1.6 Letak geografis jawa tengah Jawa tengah adalah salah satu profinsi Indonesia yang bertempat pada bagian tengah Pulau Jawa. Profinsi ini bersebelahan dengan Profinsi Jawa Barat di bagian sebelah barat, di bagian timur berbatasan dengan Profinsi Jawa Timur, di bagian sebelah selatan berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Samudra Hindia, dan di bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa. Profinsi Jawa Tengah juga meliputi Pulai Nusakambangan di bagian selatan dan Kepulauan Karimun Jawa di bagian Laut Jawa, sehingga Profinsi Jawa Tengah memiliki luas wilayah sekitar 32.548 km², atau sekitar 25,04% dari luas keseluruhan Pulau Jawa. lokasi geografis Profinsi Jawa Tengah 5o 40' karo 8o 30' Lintang Selatan juga antara 108o 30' dengan 111o 30' Bujur Timur (hal tersebut termasuk Pulau Karimunjawa). Jarak paling jauh dari barat sampai timur adalah ± 263 Km, dari sisi utara sampai arah selatan 226 Km (tidak termasuk pulau Karimunjawa). Profinsi Jawa Tengah dibagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, yaitu: No Nama Kabupaten Kilometer Persegi 1 Banjarnegara 1.096,74 km² 2 Banyumas 1.329,02 km² 3 Batang 788,00 km2 4 Blora 1.820,59 km² 5 Boyolali 1.015,10 km² 6 Brebes 1.281,115 km² 7 Cilacap 1.657,73 km² 8 Demak (tidak tercantum) 9 Grobogan (tidak tercantum) 10 Jeporo (tidak tercantum) 11 Karanganyar (tidak tercantum) 12 Kebumen 1.281,115 km²
  12. 12. 13 Kendal (tidak tercantum) 14 Klaten 655,56 km² 15 Kudus 425,17 km2 16 Magelang 1.085,73 km2 17 Pati 1.419,07 km² 18 Pekalongan (tidak tercantum) 19 Pemalang 1.115.31 km² 20 Purbalingga 777.76 km² 21 Purworejo (tidak tercantum) 22 Rembang (tidak tercantum) 23 Semarang 981,95 km2 24 Sragen 946,49 km2 25 Sukoharjo 466,66 km2 26 Tegal 878,79 km2 27 Temanggung 870,25 km2 28 Wonogiri 1.822,37 km2 29 Wonosobo 984,68 km2 No Nama Kota 1 Magelang 2 Surakarta 3 Salatiga 4 Semarang 5 Pekalongan 6 Tegal Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa yang ada di Indonesia. Bahasa Jawa dituturkan oleh lebih dari 80 juta orang, baik yang berada di Indonesia sendiri maupaun di Luar negeri. Bahasa Jawa merupakan rumpun dari bahasa Austronesia setelah Malayo- Polenisia, Malayo-Polenisia inti, dan Sunda-Sulawesi. Bahasa ini dituliskan dengan tiga sistem penulisan, yaitu dengan aksara Jawa, aksara Arab, dan aksara latin. Bahasa Jawa adalah bahasa yang dipakai dan berkembang di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Selain ketiga daerah tersebut, Bahasa Jawa juga digunakan di wilayah lain seperti kota Serang, Cilegon, dan kabupaten Tanggerang, khususnya pantai utara atau pesisir utara dari Cirebon sampai Karawang. Dalam penggunaan bahasa jawa, setiap daerah yang menggunakan bahasa jawa tentunya memiliki ciri khas tersendiri. Seperti dalah logat serta dialek. Contohnya adalah dialek daerah Semarangan tentunya sangat berbeda
  13. 13. dengan dialek Banyumasan. Dialek Banyumasan tentunya juga sangat berbeda dengan dialek daerah Pati. Selain dari daerah-daerah yang disebutkan, bahasa Jawa juga dipergunakan di luar daerah jawa namun tetap di dalam wilayah Indonesia, yaitu digunakan di Lampung (61,9%), Sumatra Utara (32,6%), jambi (27,6%), Sumatra Selatan (27%), dan Aceh yang dikenal sebagai Aneuk Jawoe sebesar (15,87%). 2.1.7 Persebaran Bahasa Jawa Dalam penyebarannya, penyebaran bahasa Jawa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor tersebut adalah perpindahan penutur bahasa menuju ke tempat yang berbeda bahasa. Misalnya adalah transmigrasi, urbanisasi atau bahkan bisa melalui proses merantau yang berartikan mencari mata pencaharian di tempat yang mempunhyai perbedaan dalam hal kebahasaan. Dalam proses tersebut, orang jawa yang melakukan kegitan tersebut membawa bahasa jawa beserta kebudayaan-kebudayaan jawa. Sehingga, di tempat tersebut mampu tercipta suatu perkampungan baru yang menggunakan bahasa serta kebudayaan jawa yang dibawa oleh orang jawa tersebut. Hal tersebut terjadi di perkampungan Jawa di Suriname, Amerika Selatan. Perkampungan tersebut terjadi akibat bangsa atau suku jawa yang dibawa oleh Belanda pada abad ke-19 sebagai pekerja bebas oleh para tentara Belanda. Sama halnya dengan perkembangan TKI (Tenaga Kerja Indonesia), semakin banyaknya TKI Jawa yang lama tinggal dan beranak pinak, maka kehidupannya tak akan lepas dengan bahasa dan kebudayaan Jawa. 2.1.8 Variasi Bahasa Jawa Bahasa Jawa mempunyai berbagai macam keragaman variasi, dan sampai sekarang variasi tersebut masih terpelihara kelestariannya. Variasi bahasa tersebut adalah dialek. Dialek bahasa jawa dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Yaitu kelompok barat meliputi Banten, Cirebon, Tegal, Banyumasan, dan Bumiayu. Kelompok tengah meliputi Pekalongan, Kedu, Bagelan, Semarang, Pantai Utara (Jepara, Demak, Kudus, Pati), Blora, Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Kelompok tengah ini biasa dikenal sebagai bahasa Jawa Tengahan atau Matraman. Dialek Surakarta dan Yogyakarta menjadi acuan baku pemakaian resmi bahasa jawa. Sedangkan kelompok timur meliputi Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro), Surabaya, Malang, Jombang, Tengger, dan Banyuwangi.
  14. 14. 2.1.9 Peta Persebaran Bahasa Jawa
  15. 15. BAB III PEMBAHASAN 3.1 Daftar 200 Kata Leksikostatistik Morris Swadesh No. Bahasa Indonesia Bahasa Melayu Bahasa Jawa Kekerabatan (Gloss) Deli 1 abu abam awu - 2 air aer banyu - 3 akar - oyot - 4 aku awak aku - 5 alir - mili - 6 anak anak anak + 7 anjing - asu - 8 angin angin angin + 9 apa - apa - 10 api bara geni - 11 apung apong kambang - 12 asap - asep - 13 awan - mega - 14 bagaimana - piye - 15 baik baek apik - 16 balik - walik - 17 banyak banak akeh - 18 bapak abi bapak - 19 baring bam glethak - 20 baru - anyar - 21 basah - teles - 22 batu batu watu + 23 beberapa - sepira - 24 belah - sigar - 25 benar - bener - 26 benih - wiji - 27 bengkak - abuh - 28 berenang - renang - 29 berjalan - mlaku - 30 berat - abot - 31 beri upeti weneh - 32 besar tegap gedhe - 33 bilamana - kapan - 34 binatang - kewan -
  16. 16. 35 bintang - lintang + 36 buah buah woh - 37 bulu - wulu - 38 bunga - kembang - 39 bunuh bunoh pati - 40 buru (ber-) - oyak - 41 buruk burok elek - 42 burung burung manuk - 43 busuk busok bosok + 44 daging - daging - 45 dan - lan - 46 danau - tlaga - 47 darah - getih - 48 datang - teka - 49 daun daon godhong - 50 debu abu awu + 51 dekat ambang cedhak - 52 dengan - karo - 53 dengar - krungu - 54 di dalam - jero - 55 pada - ing - 56 dingin - adhem - 57 di mana - endi - 58 diri (berdiri) - ngadhek - 59 di sini - kene - 60 di situ - kono - 61 jahit jait dondom - 62 jalan pasar dalan - 63 jantung jantung jantung + 64 jatuh cicir tiba - 65 jauh jaoh adoh - 66 jeram - grojogan - 67 dorong - surung - 68 dua - loro + 69 duduk - jagong + 70 ekor ikor buntut - 71 empat - papat + 72 engkau - kowe - 73 gali korek kedhuk - 74 garam - uyah - 75 ganuk (meng-) - - - 76 gelembung - - - 77 gemuk tambun lemu - 78 gigi gigi untu -
  17. 17. 79 gigit kikil cokot - 80 gosok puyu gosok - 81 gunung jabal gunung - 82 hantam tumbuk antem - 83 hati hati ati + 84 hijau - ijo - 85 hidung hidong irung + 86 hidup - urip - 87 hisap jujub sedot - 88 hitam bajak ireng - 89 hitung kera itung - 90 hujan hujan udan + 91 hutan utan alas - 92 ia - deweke - 93 ibu ende ibu - 94 ikan - iwak - 95 ikat tambat iket - 96 istri istri bojo - 97 itu - kuwi - 98 kabut sagup pedhut - 99 kaki kaki Sikil - 100 kalau kalau menawa - 101 kami, kita - aku kabeh - 102 kamu - kowe kabeh - 103 kanan - tengen - 104 karena, sebab kerne amarga - 105 kata (ber-) - ngomong - 106 (ber-)kelahi - gelut - 107 kepala - sirah - 108 kering kering garing + 109 kecil kecit cilik - 110 kiri kidal kiwa - 111 kotor kumal reget - 112 kulit - kulit - 113 kuku - kulite uwit - 114 kuning - kuning - 115 kutu tungau tuma - 116 lain - liya - 117 langit - langit - 118 laut - segara - 119 lebar - amba - 120 leher - gulu - 121 lelaki jantan lanang - 122 lempar tepelohong balang -
  18. 18. 123 lidah - ilat - 124 lihat keleh ndelok - 125 lima lima lima + 126 licin elir lunyu - 127 (ber-) ludah beludah idu - 128 lurus - lenceng - 129 main - dolan - 130 makan baham mangan - 131 malam - bengi - 132 mata mata mripat - 133 matahari - srengenge - 134 mati, meninggal - mati - 135 merah - abang - 136 mereka - dheweke - 137 minum turap umbe - 138 mulut - cangkem - 139 muntah ngeledak muntah - 140 nama nama jeneng - 141 napas nafas ambekan - 142 nyala nyala urup - 143 nyanyi nyanyi nembang - 144 orang orang uwong - 145 panas angat panas - 146 panjang - dawa - 147 pasir - wedhi - 148 pegang - cekel - 149 pendek pandak cendhek - 150 peras - peres - 151 perempuan betina wadon - 152 perut perot weteng - 153 pikir - mikir - 154 pohon pokok uwit - 155 potong iris kethok - 156 punggung - geger - 157 putih puteh putih + 158 rambut - rambut - 159 rumput - suket - 160 sayap kepak suwiwi + 161 satu - siji - 162 sedikit - sethithik - 163 siang - awan - 164 siapa - sapa - 165 sempit - sesek - 166 semua semue kabeh -
  19. 19. 167 suami - bojo - 168 sungai - kali - 169 tajam - - - 170 tahu - ngerti - 171 tahun taun taun + 172 takut - wedi - 173 tali tali tali + 174 tanah - lemah - 175 tangan - tangan - 176 terik - ngentang - 177 telingga - kuping - 178 telur telor endhog - 179 terbang mabur mabur + 180 tertawa baha guyu - 181 tidak tida ora - 182 tidur beradu turu - 183 tiga - telu - 184 tikam - - - 185 tipis nipis tipis + 186 tiup(me-) - sebul - 187 cacing - cacing - 188 cium(bau) memahi ngambu - 189 tua tua tuwa + 190 cuci basoh kumbah - 191 tulang - balung - 192 tebal - kandel - 193 tumpul - kethul - 194 tongkat - teken - 195 ular ular ula + 196 usap usab usap + 197 usus - usus - 198 air bah - banjir - 199 musim kemarau kemarau ketiga - 200 minum - ngumbe -
  20. 20. Tabel 1. Pengisolasian Morfem Terikat No Gloss Melayu Jawa 23 Bohong Dupak (ng-) apusi 125 Kulum Kemut (ng-)emut 141 (me-)nari Ngebeng ngibing 143 (me-)ngantuk Ngantak ngantuk 145 (me-)ngerti Reti mudheng 146 (me-)ngigau Igau nglindur 149 (me-)nunjuk Acung Tudhing 150 mimpi Impi Ngimpi Tabel 1. Pengisolasian Morfem Terikat No Gloss Melayu Jawa 23 Bohong Dupak (ng-) apusi 125 Kulum Kemut (ng-)emut 141 (me-)nari Ngebeng ngibing 143 (me-)ngantuk Ngantak ngantuk 145 (me-)ngerti Reti mudheng 146 (me-)ngigau Igau nglindur 149 (me-)nunjuk Acung Tudhing 150 mimpi Impi Ngimpi Tabel 2. Penetapan Kata Kerabat (cognate a. Pasangan itu identik (total ada 11 kata) No Glos Melayu Jawa 1 acar Acar acar 3 alim Alim alim 41 dadar dadar dadar 72 haram haram haram 81 imam imam imam 82 imsak imsak imsak 94 janji janji janji 102 Jinjit jinjit jinjit 114 kempot kempot kempot 120 keset keset keset
  21. 21. 161 nangka nangka nangka b. Pasangan itu memiliki korespondensi fonemis (total ada 9 kata) Dari analisis terbentuk korespondensi fonemis /e-i/, /a-e/,/i-hi/ No Gloss Sunda Melayu 83 hati Hate Hati 97 itu Eta Itu 35 bintang Bentang Bintang 124 lihat Tingali Tengok 140 nama Name Nama 131 malam Malem Malam 104 karena, sebab Sabab Sebab 89 hitung Itung Hitung 84 hijau Ijo Hijau c. Kemiripan secara fonetis Kemiripan secara fonetis yakni bahwa ciri-ciri fonetisnya harus serupa sehingga dapat dianggap alofon. d. Satu fonem berbeda (total ada 21 kata) No Glos Melayu Jawa 6 Baca Baca maca 18 Biawak Menyawak mencawak 35 Cara care cara 36 Catat catet cathet 38 Celaka bala mala 44 Debu abu awu 58 Gatal gatal gatel 88 Jagung jagong jagung 101 Jilat jilat dilat 104 Kain kaen kain 107 Kapas kapok kapuk 108 Karam karam kerem 124 Kualat kualat kuwalat 134 Lutut dengkul dhengkul 140 Menara benara menara
  22. 22. 143 mengantuk ngantak ngantuk 154 mobil, bus umum motor montor 183 Rasa rase rasa 185 Ringan enteng entheng 196 Tua tua tuwa 200 Waktu waketu wektu Dua fonem berbeda No Glos Melayu Jawa 2 Adat Ade adat 8 Bagi Bagika Bagi 9 bahasa Bahasa Basa 40 Dada Dada dhadha 69 Hafal Hafal apal 125 Kulum Kemut Ngemut 141 menari Ngebeng ngibing 142 mendung Mendong mendhung 147 mentah Matah mentah 150 mimpi Impi ngimpi 160 Nanas Enas nanas Tahun Pisah Dari 200 buah kata maka dapat dilihat bawa kata yang memiliki: a. Bunyi yang sama total = 60 kata b. Kemiripan bunyi makna sama = 21 kata Jumlah kekerabatan = 81 kata atau 40,5% Menghitung Waktu Pisah Bahasa Jawa dengan Bahasa Melayu deli Kemiripan bunyi makna sama = 21 kata Jumlah kekerabatan = 81 kata atau 40,5% Menghitung Waktu Pisah Bahasa Jawa dengan Bahasa Melayu deli W= log. C 2 log. R W= log. 40,5% 2 log. 81% W= 1,61 3,81 W= 0,42
  23. 23. Jadi, waktu pisah Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu Deli adalah 0,42 tahun yang lalu. Hasil terakhir ini dapat diubah menjadi tahun biasa setelah dikalikan dengan seribu. Tahun pisah Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu Deli adalah 2013 – 420 = 1593 M. Jadi, Bahasa Jawa berpisah dengan Bahasa Melayu Deli dari sebuah bahasa induk pada tahun 1593 M. BAB IV 4.1 Simpulan Berdasarkan uraian teoritis yang dikemukakan pada leksikostatistik memberi perbandingan antara Bahasa Sunda dan Bahasa Melayu maka penulis menyimpulkan sebagai berikut: 1. Bahasa memiliki peranan yang sangat penting sebagai sarana komunikasi. 2. Bahasa selalu berubah sesuai perkembangan dan pengaruh lingkungan. 3. Leksikostatistik adalah suatu teknik dalam pengelompokkan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokkan itu berdasarkan prosentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain. 4.2 Saran Setelah memperhatikan dan menganalisa mengenai leksikostatistik, Bahasa Sunda degan Bahasa Melayu, penulis dapat memberi saran: 1. Melihat pentingnya fungsi bahasa di Indonesia agar dapat diperhatikan bagi pendidikan terutama peneliti dan pembaca yang bertujuan sebagai pengembangan bahasa khususnya bahasa daerah.
  24. 24. 2. Di era globalisasi ini bahasa daerah sudah semakin terkikis oleh sebab itu kita sebagai Bangsa Indonesia yang beragam suku harus melestarikan budaya dan bahasa ibu (basic vocabulary) agar terpelihara dan tidak punah. Daftar Pustaka Hayati Chairil, dkk. 1985. Kamus Melayu Deli – Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta. Sugiarto, dkk. Kamus Indonesia – Daerah. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

×