Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kabar JKPP Edisi 1

5 views

Published on

Kabar JKPP Edisi 1 Bulan April 1998

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Kabar JKPP Edisi 1

  1. 1. P U B L I K A S I JARINGAN KERJA PEMETAAN P A R T I S I P A T I F E 0 I S I A P R I L 1 9 9 D i t e r b i t k a n O l e h ; Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif Penanggung Jawab: Restu A c h m a l i a d i Redaksi; A r i a n t o Sangadji Kristianus A t o k Ketut D e d d y Longgena G i n t i n g Restu A c h m a l i a d i E d i t o r : M o h a m m a d D j a u h a r i d a r i r e d a k s i KABAR J K P P D I D U K U N G OLEH BSP - K E M A L A I N D0N ES I A d a f t a r i s i k a b a r i n d e k s 9 8 0 1 Sejarah Pemetaan dan Partisipasi Politik i n d e k s 9 8 0 2 Pemakaian Datum di Indonesia Pelatihan Inventorisasi Partisipatif i n d e k s 9 8 0 3 Daftarlstilah TatagunaTanah di Indonesia Muncul Kembali Edisi pertama Kabar JKPP terbit September 1996, Akan tetapi, setelah itu, Kabar JKPP tidur panjang, Seperti Putri Salju yang mati suri, tidur terlelap, menunggu sang pangeran datang mencium dan membangunkannya. Draft edisi kedua Kabar JKPP ini sebenamya sudah cukup lama dipersiapkan; hampir satu tahun, Akan tetapi, seperti biasa, banyak kendala yang menghalangi penerbtannya, Semoga pada masa selanjutnya Kabar JKPP bisa rutin hadir di hadapan para pembaca, Selama tahun 1998 direncanakan 4 edisi Kabar JKPP akan terbit, Pada edisi kedua ini, sebagian besar isi Kabar JKPP berkaitan erat dengan teknis pemetaan, Belum banyak hal baru, khususnya tentang perkembangan pemetaan partisipatif di Indonesia, Pada edisi-edisi berikutnya kami berharap bisa menyajikan tulisan-tulisan yang bervariasi, Kami mengundang para pembaca untuk menyumbangkan tulisan, ide-ide kritis tentang pemetaan partisipatif,dsb, Redaksi
  2. 2. Sejarahpemetaan & Partisipasi PolitikOleh Martua Sirait & Sandra Moniaga S ebelum kenal tuiisan, nenek moyang kita menggunakan informasi lisan dalam setiap pekerjaannya. Akan tetapi budaya itu sering kali sulit untuk dapat dipertahankan lagi sekarang ini. Dominasi tulisan latin yang begitu kuat memaksa kita memahami baca-tulis, Begitu pula dengan peta mental yang ada di dalam bayangan kita tidak lagi dapat dipertahankan tanpa bantuan gambar peta. Dominasi kartografi modern sebagai bagian dari budaya tulisan menganjurkan kita untuk dapat membaca dan membuat serta mengkomunikasikan tata ruang kita, Disisi lam, seperti juga tulisan dan informasi lainnya. sejarah menunjukkan bahwa pemetaan bukanlah kegiatan yang bebas nilai. Pada kenyataannya peta dapat menjadi alat kontrol. perencanaan, pengorganisasian sampai pada alat pemberdayaan masyarakat. Sejarah Pemetaan Peta tertua yang "diketahui" dan dapat dijumpai sekarang ini, berumur kira-kira 5 abad beaipa piringan tanah liat berbentuk kota Mesopotamia. Peta ini menunjukkan gunung-gunung, lembah sungai, peaimahan dan saluran irigasi. Ini membuktikan bahwa peta sudah sejak lama dikenal manusia dan digunakan sebagai alat pengelolaan suatu wilayah, Sementara masyarakat di Asia Tenggara, dalam hal ini Kerajaan Slam (sekarang Thailand) lebih mengenal peta kosmologi yang membagi ruang menjadi tiga bagian; dunia atas atau khayangan, dunia tengah tempat manusia hidup dan dunia bawah sebagai neraka, Peta ini digambarkan dalam bentuk seekor kura-kura , Hubungan manusia dengan dewa-dewa serta dengan arwah leluhur menjadi lebih penting dibandingkan hubungan antar kelompok manusia, Dengan berkembangnya hubungan antar kerajaan maka berkembang peta diagram untuk menjelaskan kekerabatan hubungan antar kerajaan di Asia Tenggara, Peta diagram ini tidak berskala, tetapi jelas menunjukkan arah datangnya kerabat tersebut dan bagaimana hubungan kekerabatan antar kerajaan itu terjalin, Akan tetapi peta diagram ini hanya dimiliki oleh para kerabat kerajaan, Sedangkan masyarakat umum menggunakan peta mental untuk menjelaskan seluruh hubungan dengan tata ruang di sekitarnya, Peta menjadi tidak tergambar dan merupakan pemahaman masing- masing pribadi atas realitas alam dan hubungan pengelolaan dan kepemilikannya, Peta mental tidak seragam tetapi mempunyai kesamaan dan masih dapat jelas dipahami sampai sekarang pada masyarakat- masyarakat adat di Indonesia, Dengan digunakannya untuk pertama kali garis lintang dan bujur pada tahun 1477 maka dimulailah titik awal berkembangya kartografi modem sejalan dengan pergerakan kolonialisme negara-negara Eropa, Pada saat itu peta menjadi alat pemerintah untuk memetakan wilayah jajahan sebagai wilayah kekuasaannya, Peta tersebut membatasi wilayah jajahan lainnya dan menunjukkan sumber daya apa yang ada di dalam wilayahnya, Periombaan pemetaan berlangsung terus sampai seluruh muka bumi terpetakan dan secara otomatis pula menjadi bagian kekuasaan si pembuat peta. Belanda, saat di Indonesia cukup gencar memetakan selunjh wilayah Hindia Belanda dengan mengirimkan bertiagai ekspedisi ke seluruh pelosok Indonesia sebagai pembuktian kekuasaanya pada dma internasional. Pada wilayah-wilayah yang diduga mempunyai potensi tambang dan sumber daya alam, dan untuk memudahkan pembangunan sarana transportasi. Pemerintah Belanda memprioritaskan pembuatan petanya, seperti Pulau Jawa , Madura untuk transportasi dan pesisir Kalimantan Timur, Sumatera Barat untuk pertambangan dan sumberdaya alam lainnya. Peta-peta Belanda sebagian tersimpan di Museum Geologi Bandung dan sebagian besar lagi tersimpan di museum Belanda. Dalam salah satu perjalanan ke wilayah Mahakam di tahun 1990 untuk mengunjungi PT Kelian Equatorial Mining (KEM) (Kismanto dan Martua Sirait dari Plasma, Mering Ngo dari Minguan Prospek, Ayi Vivananda dan saya dari sekretanat WALHI)
  3. 3. I n d e k s : 9 8 0 1 B l Proses Penyederhanaan A2 A l Ruang,manusia dan Sumberdaya Alam Manipulasi Data Q B2 B3 PETA Pembuat Peta+Kepentingan D I Pemahaman D2 Pengguna Peta Gambar 1 . Generalisasi Peta Sumber: Kolaeny 1969 pada Wwichakull994 Ket: Al, Konsep Realitas menurut pembuat peta A2, Konsep realitas menurut pengguna peta Bl, Pembuat peta menyederhanakan sesuai dengan kepentingarmya B2, Pembuat peta yang berbeda dengan kepentingan yang berbeda B3, Memanipulasi data supaya dapat masuk ke dalam peta C, Hasil Peta DI, Peta yang dapat dipahami pengguna peta D2, Pengguna peta menterjemahkan peta A1-A2, Transformasi atau proses interpretasi menemukan satu peta wilayah adat atas kampung Tering Lama yang disimpan oleh Kepala Adat Tering Lama. Dan menurut beliau, seorang kepala adat Suku Dayak Bahau, bahwa peta tersebut dibuat di Belanda tetapi pada tahun 70an direvisi setelah adanya kesepakatan untuk pengembangan nesia, tetapi sampai tahun 1993 belum berhasil. Baru proyek teransmigrasi. Yang menarik peta tersebut pada tahun 1993 tersebut, saya melihat peta tua ternyata hanya disimpan oleh si "kepala adat", dan lagi atas wilayah adat masyarakat adat Bentian dan "berhasil" digunakan untuk "menjual" dan atau kawan-kawan di PL^SMA dan Lembaga Bina Benua "menuntut ganti rugi" atas sebagian wilayah adat Puti Jaji dalam proses advokasi atas kasus Bentian. mereka yang diperlukan oleh PT Kelian Equatorial Dalam proses pencarian ini, saya mendapat informasi Mining (PT KEM), salah satu pemegang hak dar Sdr Mering Ngo bahwa sebagian besar dan peta penambangan emas Kaltim. tua ini ada di arsip kantor Bupati, tetapi untuk wilayah Berangkat dari penemuan peta tersebut, dan Kapuas Hulu data-data ini sudah "hilang terbakar". fakta tentang 'keampuhan' nya sebagai alat bukti akan Tidak jelas apakah disengaja atau tidak. Tidak jelas kepemilikan wilayah adat dan sifat dinamis dari peta juga bagaimana untuk kabupaten lainnya. Mering wilayah adat saya mulai mencari tahu lebih jauh lagi menduga bahwa arsip asii masih tersimpan di Belanda. tentang keberadaan peta-peta semacam peta wilayah Pemetaan modern berkembang terus dengan adat Tering Lama untuk wilayah-wilayah adat lainnya bantuan penginderaan jauh sehingga pekerjaan di Kalimantan maupun du wilayah lainnya di Indo- pemetaan di lapangan semakin mudah dan semakin cepat. Setelah kemerdekaan, In- donesia tetap menggunakan peta- peta Belanda sebagai dasar pengelolaan wilayah. Peta tahun 1960an jawatan Topography AD bekerjasama dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat memetakan seluruh wilayah Indonesia dengan skala 1:250.000 dan gans tinggi 250 meter (JOG, Joint Operation Graphic) dan skala 1:500.000, garis tinggi 250 meter (TPC, Tactical Pilot Chart). Peta JOG inilah yang secara umum dipakai hampir setiap departemen di Indonesia untuk merencanakan kegiatannyatermasukTGHKpadatahun 1984. Tahun 1972 Jantop-AD menambah peta-petatersebut denga data-data baru dan memproduksi peta Pulau Jawa 1:50.000 dan Luarjawa 1:250.000 dengan ganstin^i 100 meter Pada tahun I980an pembuatan peta dasar dialihkan ke Bakosurtanal dengan membuat peta lebih detail dengan bantuan GIS dan alat bantu lapangan GPS, Sedangkan departemen-departemen yang ada bekerja sama dengan konsultan membuat peta sektornya masing-masing; pertambangan, transmigrasi dan sebagainya. Masyarakat membuat peta wilayahnya dengan menterjemahkan m e n t a l m ^ g mereka miliki kepada suatu peta moderen berskala, bergaris tinggi lengkap dengan perencanaan tata ruang serta sumber daya alam di wilayahnya. Terlihat dari mntutan sejarah bahwa peta moderen tidak dibuat dan dipakai oleh pemerintah saja tetapi juga swasta dan masyarakat membuat petanya masing-masing. Kenyataanya ini dipertegasoleh ketua Bakosurtanal bahwa peta bukan
  4. 4. hanya milik pemerintah tetapi dapat dibuat dan dimiliki oleh setiap orang; swasta, universitas dan masyarakat. Peta Sebagai Alat Penguasa Bentuk kepulauan Nusantara yang memanjang dari Sabang sampai Merauke sangat jelas di benak kita. Bila kita melihat peta buatan Jean Guerard dengan nama "Carte Universille Hydrographique" yang dibuat oleh Departemments des Cart;es et Plans tahun 1634 kita akan berkata; Mengapa Pulau Jawa bentuknya begitu? Mengapa semananjung tidak teriihat? Begitu juga dengan Pulau Sulawesi, mengapa teluk Tomimi menjadi begitu? Mengapa kepala bumng Irian (Fak- fak) tidak teriihat seperti kepala burung? Bagaimana dengan beribu-ribu hektar tanah masyarakat yang tidak tergambar disana? Jawabnya mungkin karena teknologi pemetaan pada saat itu belum begitu canggih untuk menggambarkan peta dengan akurat. Sebagaimana kita sadari, bahwa peta tidak menjadi alat yang netral lagi. Pemerintah, swasta dan masyarakat mempunyai kepentingan pada setiap lekukan bentuk daratan maupun lautan. Maka ada baiknya kita pahami proses generalisasi pada suatu pembuatan peta (liahat Gambar I).Sumber: Kolaeny 1969 pada Wnichakul 1994. Dari gambar I, jelas bahwa peta sangat tergantung pada pembuatnya dan juga pada penggunanya apalagi bila peta ini digunakan sebagai alat perencanaan pegelolaan sumberdaya alam di tingkat lokal. Akan jelas kepentingan siapa yang terakomodir? Kepentingan masyarakat atau kepentingan pemerintah? Sebagai contoh kasus dijabarkan di bawah ini perencanaan pengelolaan sumberdaya alam yang dilakukan dengan inisiatif pemerintah (TapangSambas-Kemayau, Sanggau), Lihat tabel I. Dari beberapa perijedaan pendekatan tadi sangatjelas bahwa kegiatan inisiatif-pemerintah ternyata lebih menekankan pada pendekatan tujuan (goal ori- ented) sedangkan kegiatan inisiatif-masyarakat lebih merupakan pendekatan proses (process oriented). Hal ini teriihat dengan waktu pendek yang dipaksakan untuk menyelesaikan keseluruhan proses yang cukup kompleks. Dinamika yang kompleks pada masyarakat tidak menjadi prioritas bagi pemerintah untuk dipahami. Sedangkan konsep kritena lahan yang ditawarkan proyek merupakan tawaran baku dan seragam untuk diterapkan pada keseluruhan proyek dengan bergantung pada peraturan dan konsep yang telah ada sebelumnya (TGHK). Prioritas pemerintah adalah; terjawabnya keterbatasan bahan mentah, tidak adanya lehan menganggur dan terjadi intensifikasi pertanian. Sehingga validasi tata guna lahan desa dalam suatu acara "adat" dimana sanksi yang jelas pula dijabarkan disana menjadi penting. Pendekatan-pendekatan ini tidak mengakomodir dinamika, kompleksitas daj fleksibilitas kenyataan di lapangan sehingga kesalahan pendekatan ini periu untuk diwaspadai dan tidak terulang pada kegiatan-kegiatan berbasis kerakyatan lainnya. Pengelolaan Sumberdaya Alam Sebagai Partisipasi Politik Sebelum beriakunya UUTR No.24 Tahun 1992, Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) menajdi sangat dominan terhadap perencanaan tata ruang pedesaan di Indonesia. Dimana 75% luas daratan Indonesia ada di bawah kontrol Departemen Kehutanan. Sifat TGHK yang unisektoral dan berdasar pata peta JOG I : 250.000 tidaklah dapat diandalkan untuk menyelesaikan konflik tata guna lahan di In- donesia. Dengan beriakunya UUTR No.24 Tahun 1992 dimana perencanaan tata'ruang wilayah dilakubn di tingkat nasional, propinsi, kabupaten serta Instruksi Menten Dalam Negeri N0.46 Tahun 1994 tentang Pemasyakatan Pola Tata Desa menugaskan kecamatan serta desa untuk membuat perencanaan tata ruang wilayahnya. Saat ini hampir selumh propinsi telah selesai dengan perencanaan tata ruang wilayahnya dan sebagian kabupaten sudah selesai dengan perenanaan tata ruangnya untuk lima tahun ke depan. Tetapi belum banyak kecamatan apalagi desa yang mampu merencanakan tata ruangnya. Ini merupakan salah satu peluang yang harus direbut oleh masyarakat untuk lebih dahulu melaksanakan pemetaan serta perencanaan tata ruang wilayahnya dalam bentuk wilayah desa atau wilayah adat. Peta ini sehanjsnya menjadi alat bagi masyarakat untuk melindungi kepentingannya. Sehingga pada akhirnya nanti masyarakat lokal ikut terlibat langsung dalam perencanaan tata ruang wilayah kecamatannya maupun wilayah kabupatennya. Penutup Kenyataan bahwa dorongan kartografi moderen yang begitu kuat memaksa masyarakat umum untuk memahaminya kalau tidak mau hanyut ditelan arus modernisasi. Seperti juga peta kosmologi dan peta mental yang menjadi milik masyarakat umum, maka peta moderen adalah penting menjadi milik masyarakat yang dapat dan dijangkau setiap lapisan masyarakat.Tabel I. Perbandingan Pendekatan Pemerintah dan Masyarakat dalam Perencanaan Tata Ruang
  5. 5. Insiatif Pemerintah Keterlibatan Pemerintah Swasta Masyarakat Cakupan Peta Lama Pemetaan Teknik Pemetaan Katagori Lahan Kreteria Lahan Pengelolaan Lahan Partisipasi Masyarakat Kontrol Masyarakat terhadap hasil peta Wilayah administrasi desa Sdesa Hampirsama dengan TGHK unisektoral (kehutanan) Penyampaian informasi (token participative) Rendah I n d e k s : 9 8 0 1 Insiatif Masyarakat Masyarakat Wilayah ditentukan sendiri Ditentukan oleh masyarakat Pengumpulan dan pengolahan data oleh masyarakat Penugau / pemukiman Paya/rawa Uma Bukit / ladang Babas/ bera ladang Getah / kebun karet Temawang / TembawangEngkabang / kebun Tengkawang Gerupung /kebun buah Rimak/ hutan tutupan Lokal Tersebar Kemitraan dan pendelegasian Tinggi 3 bulan terus- menerus pada 59 pemukiman bersamaan Pengumpulan data oleh masyarakat dan pengolahan data oleh proyek Usaha Tani Hutan Menetap Hutan Produksi Terbatas Hutan Lindung Menjadi satu kesatuan Validasi Peta Upacara adat "Ngudas' (simbolik) Baku Menjadi bahan diskusi Fleksibel
  6. 6. ^ 3 # � Pemakaian Datmn di Indonesia Oleh Y. Ketut Deddy Muliastra B ila mata anda ditutup dan dipindahkan dari tennpat anda biasa hidup ke suatu tempat yang tidak anda ketahui, kemudian setelah sampai di tujuan tuiup mata anda dibuka, lalu apa yang anda rasakan ? Anda pasti merasa kehilangan onentasi dan muncul pertanyaan di mana saya berada ? Berapa jauh saya sekarang berada dan tempat asal saya ? Di mana letak saya (ke arah utara ? selatan ? tenggara ? atau yang lam ?) dan tempat asal saya' Tempat asal anda berfungsi sebagai referensi untuk mengetahui di mana anda sekarang berada. Bila kemudian anda bercerita tentang letak suatu tempat kepada orang lain dan anda mendeskripsikan tempat rt;u terhadap tempat asal anda, sedangkan orang yang anda ajak bicara tidak tahu di mana tempat asal anda tersebut, maka apa yang terjadi ? Tentu saja orang yang anda ajak bicara mengerti apa yang anda maksud, tetapi bingung di mana lokasi yang anda ceritakan. Beruntung bila yang mendeskripsikan lokasi tersebut adalah manusia sehingga dapat bertanya lebih lanjut bila ingin lebih jelas. Tetapi bagaimana kalau deskripsi lokasi tergambar dalam peta ? Referensi dibutuhkan untuk memperjelas 6 deskripsi suatu tempat yang tergambar dalam peta. Referensi ini sangat erat kaitannya dengan sistem koordinat yang biasa kita dapat dalam pelajaran matematika. Bila kita berbicara mengenal jarak suatu tempat dari tempat yang lain, kita bisa memakai sistem koordinat satu dimensi, sedangkan bila ingin tahu arahnay maka kita akan memakai sistem koordinat dua atau tiga dimensi. Kita tidak akan puas dengan sistem koordinat tersebut bila yang kita gambarkan adalah bumi yang besar dan berbentuk bulat telur Tentunya akan diari dengan perhitungan yang njmit untuk sistem koordinat yang cocok untuk kasus tersebut. Sistem koordinat yang dipilih untuk mendeskripsikan lokasi yang tergambar di peta ini disebut sebagai sistem referensi. Sistem Koordinat Geografis/ Geodetis Sustu sistem referensi yang sangat terkenal adalah sistem koordinat geografis atau sering juga disebut sistem koordinat geodetis. Sistem koordinat ini dikembangkan oleh Greenwich (dari Inggris) yang membagi bumi menjadi dua bagian irisan yaitu irisan melintang yang disebut garis lintang mulai dari katulistiwa (equator), membesar ke arah kutub (utara maupun selatan), sedangkan yang lain membujur mulai dari garis Greerwich (dekat Inggris karena Greenwich berasal dari Inggris), membesar ke arah barat dan timur Satuan skala koordinat dibagi dalam derajat dari lintang 0� sampai 90� dan bujur 0� sampai 180�. Sistem ini juga sangat terkenal untuk pembagian sistem waktu internasional. Karena itu sistem ini sangat banyak digunakan dalam navigasi dan deskripsi suatu tempat.Gambar I. Sistem Koordinat Geografis / Geodetis. Koordinat ini biasa d^ulis atau disebutkan dalam satuan derajat, menrt, dan detik. Misalnya I �00'30" LU (lintang utara) dan I I5�03'00'BT (bujur timur). Nilai I menit sama dengan 60 detik dan I derajat sama dengan 60 menit. Kadang-kadang dalam perhitungan dibutuhkan angka satuan derajat dalam desimal, sehingga satuan menit dan detik harus dikonversi ke satuan desimal dengan cara; Derajat + (menil/60) + (detik/3600) Misalnya I W 3 0 " = I + (0/60) + (detik/3600) = 1.00833333333 derajat. Datum Pemakaian sistem koordinat geografis atau geodetis memakai bidang matematis yang berbentuk bulat telur, yang disebut ellipsoid (seperti teriihat pada gambar I). Bentuk bumi sebenarnya tidak sehaluse/- lipsoid, tetapi untuk memudahkan perhitungan matematis, maka dipilih bentuk effipsoid ini sebagai bentuk yang mewakili bentuk bumi. Referensi ketinggian yang paling umum digunakan adalah ketinggian di atas pennukaan laut rata- rata. Perkembangan sistem referensi tinggi menggunakan geoid, yaitu permukaan potensial yang sama (equipotensia!) yang melalui permukaan air laut rata-rata ke daratan. Sehingga dengan geoid bisa diperkirakan secara matematis bentuk bumi dan tinggi suatu tempat di mana saja terhadap geoid ini (yang secara teoritis sama dengan tinggi air laut rata-rata). Walaupun bentuk bumi bisa ditentukan dari geoid, perhitungan untuk sistem referensi horisontal sangat
  7. 7. I n d e k s : 9 8 0 2 rumit bila menggunakan geoid ini sebagai bentuk dasar, sehingga sistem referensi horisontal dipisahkan dengan sistem referensi vertikal. Akibatnya, untuk mempertahankan ketelitian hitungan dengan perbedaan sistem referensi ini, setiap negara memilih satu titik yang dijadikan titik acuan di mana antara ellip- soid dan geoid berhimprtan. Titik acuan ini yang disebut dengan datum horisontal. Datum sebagai referensi acuan koordinat sehingga ada dua datum, yaitu datum vertikal dan datum horisontal. Datum vertikal vertikal yang dipakai di seluruh dunia untuk kepentingan praktis hampir sama yaitu geoid. Geoid ditentukan dengan perhitungan teoritis matematis dengan menggunakan data gaya berat. Padahal tidak semua tempat te^edia data gaya berat sehingga tidak semua tempat bisa ditentukan geo/d-nya. Seringkali dalam prakteksehari- hari ^oid disamakan dengan air laut rata-rata (atau msl atau dpi). Kadang-kadang dalam peta disebutkan da- tum vertikal yang memakai ellipsoid, Harus hati-hati dengan pemakaian datum tersebut. Datum vertikal untuk kepentingan praktis biasanya dipakai ketinggian di atas geoid karena air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah (ke laut), sedangkan bila memakai ketinggian di atas ellipsoid, belum tentu air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah (lihat seperti gambar 2, perbedaan ellipsoid dan geoid di mana kedua referensi tersebut tidak sama). Datum yang dipakai di setiap negara tersebut disebut datum lokal, Sistem pengukuran posisi dengan satelit, seperti GPS dan Doppler, memakai satu sistem datum global yang pemilihan effipsoid berdasarkan pengukuran astronomis, Doppler menggunakan NWL-9D dan GPS menggunakan WGS-84, Yang membedakan ellipsoid satu dengan yang lain adalah nilai sumbu panjang (a), nilai sumbu pendek (b), dan nilai pipih atau flattening (f),Gambar 2, Blipsoid, Geoid, dan Pemnukaan Bumi. Pada jaman penjajahan, orde lama, dan U t a r a S e l a t a n Gambar. 1 Gambar. 3 keterangan gambar Gambar.l, Sistem koordinat Geografis/Geodetis Gambar.2, Ellipsoid, Geoid dan Permukaan Bumi Gambar.3, Ellipsoid
  8. 8. pemnulaan orde baru, Indonesia menggunakan beberapa datum lokal dengan menggunakan ellipsoid Bessel 1841. Sangat sulrtnya mengukur posisi antar pulau mengakibatkan tidak bisa mengukur koordinat trtik-titik kontrol dalam satu sistem nasional, Teknologi pengukuran untuk pemetaan masih terbatas pada waktu itu. Padatahun 1970-an dipikirkan untuk membuat satu sistem nasional yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Pada saat itu teknologi satelit Doppler memungkinkan untuk mengukurtirik-titik kontrol nasional. Penyatuan sistem ini abn mengefisienkan pekerjaan pemetaan di Indonesia. Untuk itu ditentukan titik yang dianggap berhimpit antara geoid dan ellipsoid GRS-1967 yang dianggap cocok mewakili wilayah Indonesia. Titik tersebut terletak di Padang dan disebut Indo- nesia Datum- l974(ID-74). Koordinat yang tergambar pada peta akan mengacu pada datum yang dipakai pada waktu peta tersebut dibuat. Penggabungan infonmasi yang bersumber dari beberapa peta sudah tentu harus memperhatikan datum yang dipakai dan juga hasil pengukuran GPS harus ditransformasikan ke datum yang digunakan atau diset, dengan memasukkan parameter transformasi yang diberikan di bawah, pada alat GPS supaya hasil ukuran mengacu pada datum yang dipilih. Untuk menyatukan sistem referensi satu dengan yang lainnya sering dipakai transformasi koordinat metode Molodensky. Beberapa parameter untuk transfomnasi tersebut disediakan untuk mempennudah transformasi koordinat tersebut. Akhir-akhir ini peri<embangan teknologi satelit Navstar GPS untuk mengukur posisi sangat populer, sehingga tersedia parameter-parameter transfonnasi dari sistem GPS ke datum lokal. Daftar Ellipsoid yang Dipakai di Indonesia Ellipsoid Sumbu Panjang (a) Sumbu Pendek (b) Flattening (f) Bessel 1841 6.377.397,2 meter 6.356.079,0 meter 1/299,15 GRS-67 6.378.160,0 meter 6.356.774,5 meter 1/298,247 N W L - 9 D 6.378.145,0 meter 6.356.759,769489 meter 1/298,25 W G S - 8 4 6.378.137,0 meter 6.356.752,314 meter 1/298,257223563 Daftar Parameter Transformasi dari Datum WGS-48 ke Datum Lain yang Dipakai di Indonesia Datum Delta a (m) Deltaf(IO ^X) Delta X(m) Delta Y (m) Delta Z (m) N W L - 9 D -23 -0,001 14930 0,0 0,0 4,5 I D - 7 4 (Padang) -23 -0,001 14930 -24 -15 5 Genuk (jawa) 739,845 0,10037483 - 3 7 7 681 -50 M o n c o n l o w e (Sulawesi) 739,845 0,10037483 Tidak tersedia T d a k tersedia Tidak Tersedia Bangka dan Belitung 739,845 0,10037483 -384 6 6 4 -48 Gunung Segara 739,845 0,10037483 -403 6 8 4 41 (Kalimantan bagian T e n g;ara) D a t u m D e m p o 739,845 0,10037483 Tidak tersedia Tidak tersedia Tidak Tersedia (Sumatra Selatan) Bukit Serindung 739,845 0,10037483 Tidak tersedia Tidak tersedia T d a k Tersedia (Kalimantan Barat)
  9. 9. I n d e k s : 9 8 0 2 Pelatihan Invetorisai Partisipatif Antara tanggal 1 dan 13 Desember 1997 berlangsung Lokakarya Pelatihan Inventarisasi Partisipatif (LPIP) di Samarinda. Peserta LPIP adalah aktivis dari berbagai Ism yang memiliki perhatian terhadap isu-isu sistem pengelolaan hutan yang dikembangkan oleh masyarakat. Peserta yang mengikuti LPIP adalah aktivis dari Ism-lsm berikut: SHK-Kaltim, WWF-Lorentz, WWF-Kayan Mentarang, Watala (Lampung), Yayasan Tanah Merdeka (Palu), Plasma, Walhi KalseL YKPHM (Irian), SHK-Kalbar, PPSDAK-Pancur Kasih (Kalbar), Latin (Bogor), Lembaga Adat Asmat, dan Bikal. Metode inventarisasi hutan bukanlah hal baru di dalam dunia kehutanan. Setiap rencana eksploitasi hutan selalu menyert;akan hasil inventarisasi potensi hutan sebagai dasar rencana penebangan hutan. Akan tetapi inventarisasi partisipatif adalah hal yang baru. Inventarisasi partnsipatif berpengertian luas, tetapi bisa diartikan sebagai suatu kegiatan inventarisasi yang dilakukan masyarakat untuk menghitung potensi hutannya sendiri. Inventarisasi partisipatif, sebagai sesuatu yang baru, tentunya memerlukan kajian yang kritis di masa mendatang; apa keuntungan dan kerugiannya; apakah perlu dikembangkan di masa mendatang; dsb. Di dalam proses pelatihan ternyata sangat teriihat perbedaan yang tajam pada studi kasus yang dikaji (Kalbar, Kaltim, Sulteng). Kondisi permasalahan yang berbeda memerlukan pendekatan inventarisasi yang berbeda. Kajian terhadap inventarisasi partisipatif, baik filosofi, metodologi dan efeknya, perlu dilakukan terus. Ide dasar inventarisasi partisipatif cukup menarik. Dengan inventarisasi partisipatif masyarakat, sebagai komunaL bisa mengetahui potensi alam yang dimilikinya. Informasi tentang potensi alam ini bisa dipergunakan sebagai alat negosiasi apabila terjadi perubahan kebijakan tentang pemanfaatan ruang di suatu wilayah; misalnya perkebunan besar, HTI, dsb. Akan tetapi, kalau tidak hati-hati, informasi hasil inventarisasi part;isipatif bisa menjadi bumerang bagi masyarakat. Untuk menghindari hal ini, masyarakat sendiri lah yang menentukan jenis potensi alam yang akan diinventarisasi. Informasi yang memang ingin disimpan oleh masyarakat sebaiknya tidak perlu diinventarisasi. Masyarakat juga bertindak sebagai pengontrol pemanfaatan informasi hasil inventarisasi. Metode dan teknik inventarisasi partisipatif tidaklah terlalu rumit. Teknik inventarisasi partisipatif cukup mudah untuk diadopsi oleh masyarakat. Fleksibilitas metode sangat besar; tergantung kemauan masyarakat. Tetapi inventarisasi partnsipatif memerlukan curahan tenaga masyarakat yang cukup besar. Manfaat hasil inventarisasi partisipatif tentunya harus seimbang dengan curahan tenaga yang diperlukan. Rencana pemanfaatan hasil inventarisasi yang tajam sangat diperlukan agar "kerja berat" yang dilakukan bisa dirasakan manfaatnya. Selama pelatihan dan diskusi analisis studi kasus para peserta merasakan perlunya menggali informasi-informasi lain di dalam masyarakat, selain informasi-informasi hasil inventarisasi partisipatif. Misalnya informasi-informasi tentang pengetahuan ekologi asli masyarakat (Indigenous Ecological Knowledge), Ethnobotany, dsb. PLASMA Jl. Tekukur No. 5 Samarinda 75117 - Kaltim Telp./Fax: (0541) 37934 e-mail; danum@smd.mega.net.id SekretariatJKPP Jl. Citarum Blok B. XI/12 Kompiek Bogor Baru Bogor - 16152 Telp. (0251) 379143 Fax. (0251) 379825 e-mail; jkpp@indo.net.id 9
  10. 10. Daftar Peristilahan Tataguna Tanah di Indonesia Oleh Arif Wicaksono A Absolute products atau produk pertanian: Produk yang berasal dari sektor pertanian yang tidak diperoleh dengan cara menebang pohon. Termasuk dalam sektor pertanian dalam hal ini adalah tanah kering tanaman semusim, pertanian tanah sawah, kebun pekarangan dan perkebunan. Absolute protection forest atau hutan lindung mutlak : Hutan yang di dalamnya tidak diijinkan adanya pengambilan hasil hutan. Agro-industry atau agro-industri atau industri pertanian: Jenis industri yang memproses hasil pertanian, perkebunan dan/atau kehutanan. Agro industri dalam kontek ini meliputi - sebagai contoh - gudang- gudang tempat pengumpulan, pengeringan dan penimbangan teh, tembakau, dsb; tempat penggergajian, tetapi juga termasuk pra-pengolahan lateks, pabrik pengalengan nenas, dsb. Airport complex atau kompiek lapangan terbang: Kompiek lapangan terbang terdiri dari lapangan itu sendiri (yaitu landasan dan tempat parkir pesawat) temnasuk semua fasilitas terkait lainnya, seperti terminal penumpang, ruang parkin hanggar pesawat, restoran, perumahan pegawai, dsb. Umumnya fasilitas ini tergabung dalam satu kompleks; pada dasarnya informasi dapat diperoleh dari peta topografi. Alley cropping atau budidaya lorong: Pengaturan ruang penanaman tanaman pangan di antara pagar tanaman beri<ayu atau lajur-lajur belukar dan/atau antara pohon yang secara periodik dipangkas untuk mencegah naungan antara tanaman. Animal husbandry atau peternakan: Sistem pertanian di mana binatang peliharaan menghasilkan produksi untuk dikonsumsi dan/atau untuk memperoleh pendapatan. Associated use atau penggunaan gabungan atau asosiasi penggunaan: Jenis penggunaan padasebidang tanah tertentu di mana penggunan tersebut bukan merupakan penggunaan utama pada bidang tanah itu. Pada umumnya bentuk asosiasi penggunaan tanah memberikan sumbangan terhadap produksi total tanah, baik untuk konsumsi sendiri atau melalui penjualan di pasar Penggunaan gabungan tidak dipertimbangkan dalam kelasifikasi penggunaan tanah untuk sebidangtanah tertentu,tetapi ini dicatat dalam lembar data lapang. Sebagai contoh adalah; pemeliharaan ikan pada areal persawahan atau penggembalaan temak setelah tanaman selesai dipanen. Avenue cropping atau tanaman lorong: Lihat budidaya lorong. B Bare land atau tanah terbuka: Tanah yang tidak ditanami atau dengan penanaman jarang dimana permukaan tanahnya mempunyai lebih dari 50% batu atau tanah tert)uka, yang ditentukan dari penutupan foto udara. Sub divisi dibuat atas dasar apakah tanah tertjuka muncul seara alami atau dibuat oleh manusia. Brackish v^^ater atau air payau: Air dengan tingkat salinitas sedang, yaitu antara air asin dan air tawar. Brackish/salt water pond atau tambak air payau/asin: Kelas Perairan. Tubuh air kecil buatan manusia, mengandung baik air payau maupun air asin. Built-up land atau pemukiman: Suatu istilah umum yang menunjukkan tanah yang tertutup oleh struktur buatan manusia, bangunan dan hasil aktivitas manusia lainnya dan digunakan untuk pemukiman, industri, pertambangan, rekreasi dan pariwisata. Bund atau pematang: Batas-batas sawah atau pematang/tanggul, terutama pada padi sawah, dibuat agar bidang sawah menjadi rata atau mendekati rata sehingga cocok untuk ingasi lembah atau untuk irigasi alur.
  11. 11. I n d e k s 9 8 0 3 Bunded fields atau tanah pertanian berpematang: Kompiek tanah pertanian yang dibatasi oleh galengan-galengan atau pematang yang dibuat manusia untuk pengelolaan tanaman pangan (beririgasi), Sama dengan sawah, di mana sawah mengacu pada stmkturfisik tanah dan tidak mengacu pada pengelolaan tanaman. Teras-teras pada tanah-tanah tinggi, yang dibangun untuk tujuan konservasi tanah dan air, tidak masuk dalam klasifikasi tanah pertanian berpematang. c Cash crop atau tanaman tuna!/ perdagangan Tanaman yang dihasilkan para petani berskala kecil, tidak untuk konsumsi sendin tetapi untuk dijual di pasar untuk tujuan memperoleh pendapatan. Temnasuk dalam tanaman tunai adalah yang disebut tanaman peri<ebunan (tanaman industri), dan juga tanaman lain yang diproduksi untuk tujuan komersial. (Lihat juga: tanaman perkebunan). Cemetery atau kuburan: Tanah yang dirancang untuk menguburkan orang yang meninggal. Kuburan umumnya tidak dapat diidentifikasi bentuknya di foto udara dan lokasinya harus ditentukan di lapangan, melalui wawancara dengan penduduk lokal atau dari data sekunder Di lapangan, kuburan dapat dikenali melalui adanya nisan, batu nisan, pohon beringin dan kamboja. Central business district atau daerah pusat perdagangan: Daerah pemukiman di kota- kota besar yang dirancang untuk aktivte sektor tersier, meliputi aktivitas komersial (kanton bank, dsb.) dan pelayanan umum. Daerah pusat perdagangan umumnya ditandai oleh padatnya gedung-gedung bertingkat tinggi. Luas daerah pusat perdagangan sulit ditentukan dari foto udara. Commerce and services atau perusahaan dan jasa: Kelas Pemukiman. Daerah pemukiman yang dirancang untuk aktivitas tersier. Kelas penggunaan tanah ini meliputi areal perdagangan dan juga pelayanan umum. Sama dengan daerah pusat perdagangan. Complex mapping units atau unit pemetaan kompleks: Poligon-poligon yangterdiri dari gabungan kelas-kelas tutupan/ penggunaan tanah yang terlalu kecil untuk ditampilkan secara tersendiri pada skala peta akhir karena ukurannya lebih kecil dari unit pemetaan terkecil. Akan tetapi pada skala yang lebih besar kelas- kelas ini dapat didelineasi seara terpisah sebagai unit-unit tersendiri. Sama dengan unit kompleks foto udara tetapi terdapat dalam skala peta akhir Unit- unit pemetaan kompleks ditunjukkan dalam legenda peta sebagai suatu gabungan unit-unit peta utama dengan menggunakan tanda Warna dan pola yang digunakan untuk unit pemetaan kompleks adalah kelas penggunaan tanah yang dominan. Constructed cover atau tutupan buatan: Lihat tutupan buatan manusia. Convertible production forest atau Hutan produksi yang dapat dikonversi: Lihat hutan produksi normal. Cropping intensity atau intensitas penanaman: Ukuran intensitas penanaman pada sebidang tanah. Intensitas penanaman dapat dinyatakan dalam bentukjumlah tahun penanaman dalam 10 tahun atau dengan jumlah panen per tahun. Cultivated land atau tanah terkelola: Tanah yang digunakan untuk pertanian dengan semua jenis asosiasi tutupan. jenis-jenis tutupan terkelola atau tanah terkelola pada dasarnya mencakup semua tanah yang masuk dalam kelasifikasi Tanah kering tanaman semusim, Pertanian tanah sawah, Kebun dan Perkebunan. D Dense forest atau hutan rapat: Subkelas Hutan tanah kering. A- real yang masuk dalam klasifikasi sebagai hutan tanah kering berpohon, dimana tutupan phonnya > 75 % . Subdivisi lebih lanjut dibuat atas dasar apakah vegetasinya alami atau ditanami dan apakah tutupan pohonnya homogen atau campuran, Dense homestead garden atau kebun rapat: Subkelas Kebun campuran rapat. Tanah yang masuk dalam klasifikasi Kebun campuran dimana tutupan udara didominasi oleh lapisan belukar >75%. Dense settlement atau perumahan padat: Subkelas Perumahan. Tanah terbangun yang digunakan untuk tujuan pemukiman dimana rumah-rumah dan tutupan buatan lainnya >65 % dari tanah itu dan rata-rata jarak antara rumah <20 meter Dense swamp forest atau hutan rawa lebat: Subkelas Hutan rawa. Areal yang masuk dalam klasifikasi hutan rawa dan mempunyai tutupan pohon >75%. Dispersed residential area atau perumahan jarang tidak teratur: Subkelas Perumahan jarang. Tanah yang masuk dalam klasifikasi Perumahan jarang dan tidak mempunyai pola geometrik yang
  12. 12. nampak (dari foto udara). Dispersed residential area, low density atau perumahan jarang kepadatan rendah: Subkelas dari Perumahan jarang tidak teratur. Tanah masuk dalam klasifikasi perumahan jarang tidakteratur, dimana rumah-rumah dan tutupan pennukaan buatan lainnya adalah antara 5-20% dan jarak antara rumah berkisar dari 100 hingga 400 meter Dispersed residential area, medium density atau perumahan jarang kepadatan sedang: Subkelas dari Perumahan jarang tidak teratur Tanah yang masuk dalam klasifikasi perumahan jarangtidakteratur, diimana rumah-rumah dan tutupan pennukaan buatan lainnya antara 20- 65%, dan jarak rata-rata antara rumah berkisar dari 20 hingga 100 meter Dispersed settlement atau perumahan jarang: Subkelas Perumahan. Tanah terbangun untuk tujuan perumahan, dimana rumah dan tutupan pennukaan buatan lainnya adalah 5-65 % dari tanah itu dan jarak rata-rata antara rumah beri<isar dari 100 hingga 400 meter. I 2 Dominant crop atau tanaman dominan : Tanaman pertanian (tanaman pangan atau tanaman pohon) yang mencakup >75% areal, yang diukur dengan tutupan di foto udara. Dominant species atau spesies dominan : Spesies vegetasi alami yang mencakup > 75% area yang diukur dari tutupan foto udara. Double cropping atau tanaman ganda : Kelas dari Pertanian tanah sawah. Tanah yang masuk dalam klasifikasi pertanian tanah sawah (=sawah) dan digunakan untuk 2 x tanam setahun. Subdivisi didasari<an atas tanaman yang dikelola dan/atau jadwal rotasi tanaman (Subkelas 4.3.1.: 2xpadi; Subkelas 4.3.2.; Ix padi, Ix tanaman lain). Definsi lain ; ukuran intensitas penanaman dimana dua tanaman ditanam secara berurutan dalam setahun pada bidang tanah dengan persemaian atau penanaman satu tanaman setelah panen tanaman yang lain. Dryland agriculture atau tanah kering tanaman semusim : Sistem pertanian tanpa irigasi dimana tanaman pangan ditanam dengan musim tanam yang pendek. Tanaman berkayu hanya ditemukan pada pematang atau batas-batas tanah/ lapang. Dryland forest with shrubs atau hutan tanah kering dengan belukar: Kelas Hutan. Area dengan drainase yang baik dengan tutupan belukar terdin dan spesies berkayu dengan ketinggian 1,5 - 5 meter yang menutupi lebih dari 50% diukur dari tutupan foto udara, dan dengan tutupan pohon <30%. Dryland forest with trees atau hutan tanah kering berpohon : Kelas Hutan. Area dengan drainase yang baik dengan tutupan pohon terdiri dari spesies berkayu dengan ketinggian >5 m, dimana > 30% diukur dari tutupan di foto udara, dan dimana tutupan belukamya <30%. E Emplacement atau emplasemen; Subkelas Perumahan padat Tanah yang masuk dalam klasifikasi perumahan padat dengan fungsi utama sebagai perumahan karyawan. Estate atau perkebunan Kelas Pericebunan. Perkebunan milik negara atau swasta dimana terdapat pengelolaan tanaman perkebunan berskala besar yang berorientasi pasar Dalam kaitan ini tanaman perkebunan didefinisikan sebagai tanaman yang ditanam untuk produksi masal suatu komoditas tertentu (teh, kopi, karet, tembakau, kelapa sawit, dsb.), Subdivisi dibuat menurut jenis tanaman. Estate crop atau tanaman perkebunan : Disebut juga tanaman industri, Tanaman yang ditanam pada usaha perkebunan , biasanya untuk produksi masal komoditas tertentu berskala besar (teh, karet, kelapa sawrt dsb). Lihat juga tanaman tunai/perdagangan. F Food crops atau tanaman pangan : Subkelas Tanah kering tanaman semusim permanen atau Tegalan Tanaman dengan produksi dalam bentuk biji-bijian (tanaman gandum), akar atau umbi yang ditanam untuk konsumsi manusia. Forest atau hutan : Area yang ditanami dengan vegetasi beri<ayu, dimana pohon-pohon tinggi (yi. spesies berkayu dengan ketinggian >5 m) membentuk komponen dominan seperi;i diukur dari tutupan foto udara (dalam hal ini hutan tanah kering yang didominasi pepohonan) atau dimana belukar (yi. spesies berkayu dengan ketinggian 1,5 - 5 m) membentuk komponen dominan. Hutan dapat diidentifikasikan dari foto udara oleh adanya wama gelap, tekstur kasar dan kenampakan tinggi yang jelas bila diamati di bawah stereoskop. Hutan juga dapat berupa hutan alami atau hutan yang sengaja ditanam.
  13. 13. I n d e k s 9 8 0 3 Forestry products atau hasil hutan : Produk yang berasal dari produksi sektor kehutanan, Hasil hutan mencakup sebagai contoh kayu, rotan, bambu, dsb. Fresh water atau air tawar : Air dengan kandungan garam terlarut <0,2%(contoh <2000 ppm). Air tawar ada yang bisa diminum dan ada yang tidak bisa diminum, Biasanya semua air yang berasal dari sumber air di daratan atau air (khusus) tadah hujan digolongkan mengandung air tawar Fresh water ponds atau kolann air tawar : Kelas Perairan. Tubuh air kecil buatan manusia yang tidak mengalir dan mengandung air tawar Grass/herb layer atau lapisan rumput/paku- pakuan Lapisan vegetasi yangterdiri dari rerumputan dan paku-pakuan (termasuk paku-pakuan, alang-alang, r u m p u t tinggi, dsb. ternnasuk spesies tanah basah). Grassland atau padang: Daerah terbuka dengan vegetasi dominan rerumputan dan paku-pakuan. Grassland/herbland atau padang rumput/ paku/alang-alang : Kelas Padang rumput Tanah berdrainase baik yang didominasi dengan tutupan rerumputan dan paku- pakuan (>50%) dengan tanaman pepohonan dan juga belukar < 10%. Grass marsh atau rumput rawa : Subkelas Tanah rawa, Tanah berdrainase bunjk dan ditumbuhi oleh lebih dari 50% rerumputan dan tanaman semak dengan tutupan pepohonan <30% dan tutupan belukar <I0%, Grass savanna atau padang rumput : Subkelas Sabana. Tanah yang masuk dalam klasifikasi Sabana dan mempunyai tutupan belukar <30%. Grazing : land use activity where live- stock is fed on grasses and fodder crops by freely rooming the fields. Padang pengembalaan : aktifitas penggunaan tanah tempat dimana temak diberi makan rerumputan dan makanan temak dengan ara dilepas bebas di padang. H Harbour complex atau kompiek pelabuhan : Subkelas Transportasi. Pelabuhan laut itu sendiri, termasuk demnaga, gudang dan dan fasilitas lainnya seperti kantor terminal penumpang, dsb. Pada dasarnya informasi diperoleh dari peta topografi. Hedgerow intercropping atau pagar antar tanaman: Lihat budidaya lorong. Highway/bus terminal complex atau jalan raya/kompleks terminal bus : Subkelas Transportasi. Area yang digunakan untuk terminal bus, meliputi halte bus, fasilitas penumpang, ruang tunggu, warung-warung makanan, dsb. Homestead garden atau kebun : Area yang ditanami sejumlah tanaman tetapi dengan tutupan dominan tanaman tahunan dan hasil yang diperoleh tidak dengan menebang pohon. Kebun dapat berupa vegetasi yang semuanya ditanam dengan sengaja, atau terdiri dari campuran vegetasi asli dan spesies yang sengaja ditanam. Perumahan dan tutupan buatan lainnya mencakup < 5 % dan jarak-rata-rata antar rumah >400 m. Homogeneous forest atau hutan sejenis : Area yang ditutupi dengan vegetasi yang masuk dalam klasifikasi hutan, dimana terdapat satu spesies dominan yang menutupi >75% area, yang diukur dengan tutupan di foto udara. Homogeneous homestead garden atau kebun sejenis: Subkelas Kebun (Kelas 5.1). Tanah yang dikelaskan sebagai kebun pekarangan dan yang tutupan di foto udara untuk satu tanaman sebanyak >75% subdivisi dibuat menurut jenis tanaman yang dominan. Hotel complex atau kompleks hotel: Area yang dimiliki oleh sautu hotel, meliputi bangunan yang sesunguhnya, kebun, tempat parkir dan fasilitas lain di luar gedung seperti kolam renang, lapangan tenis, dsb. Housing estate atau perumahan teratur : Subkelas Perumahan padat (Subkelas I.I.I .2.). Tanah yang masuk dalam klasifikasi perumahan padat dan pola geometns tampak jelas (dari foto udara). Hunting reserve atau taman perburuan jenis hutan lindung yang berisi berbagai binatang untuk dibum sehingga bisa digunakan untuk taman perburuan untuk rekreasi. Industry atau industri : Kelas Pemukiman (Kelas 1.3.). Kegiatan penggunaan tanah yang bertujuan untuk memroses produk- produk nonpertanian, pertanian dan hutan. Infrastructure atau infra struktur : Kelas Pemukiman (Kelas 1.4.). Semua jenis fasilitas untuk kemudahan pengguna tanah, seperti untuk
  14. 14. transportasi, rel<reasi dsb. Temiasuk juga pelabuhan laut, bandara udara dan kompleks jalan/rel kereta api, taman, kompleks olah raga, fasilitas rekreasi, hotel dan obyek pariwisata. L Lake atau danau : Kelas Perairan (kelas 10.2.). Suatu tubuh air alami yang tidak mengalir, lebih luas dan lebih dalam dari pada kolam. Subdivisi dibuat atas dasar apakah danau mengandung air sepanjang tahun atau hanya selama beberapa bulan saja. Limited production forest atau hutan produksi terbatas Hutan produksi yang hanya dapat dieksploitasi dengan cara tebang pilih. Limited protection forest atau hutan lindung terbatas : Hutan dimana di dalamnya diijinkan adanya pengambilan hasil kayu dan hasil hutan lainnya secara terbatas. Low intensity of cropping atau penanaman dengan intensitas rendah : Subkelas Tanah kering tanaman semusinm sementara atau Ladang (Subkelas 3.2.2.). Bentuk ladang dengan rata-rata penanaman terjadi kurang dari 3 tahun setiap 10 tahun. M Main crop atau tanaman utama : Lihat tanaman dominan. Man-made bare land atau tanah terbuka buatan : Kelas tanah terbuka (Kelas 9.2.). Tanah terbuka dengan tutupan lebih dan 50%, yang diukur dari tutupan foto udara, berupa tanah kosongatau batuan yang disebabkan oleh manusia. Subdivisi dibuat berdasarkan penyebab terbukanya tanah. Man-made cover atau tutupan buatan Bentuk-bentuk tutu pan tanah hasil construction, seperti misalnya, gedung, jalan dan sebagainya. Tutupan buatan manusia pada dasarnya mencakup semua tanah yang diklasifikasikan sebagai Pemukiman (Kelas utama I), juga rentangan tanah yang diklasifikasikan sebagai Proses pertambangan (Kelas 2.1.). Man-made freshwater reservoir atau waduk air tawar buatan : Kelas Perairan (kelas 10.1.). Danau buatan yang terbentuk dengan cara membendung sungai untuk penyimpanan air Marshland atau tanah rawa : Kelas Padang (Kelas 7.4). Daerah yang tertutupi oleh vegetasi yang masuk dalam klasifikasi padang tetapi dengan kondisi berawa. Lokasi ini tergenangi baik secara periodik, yang diakibatkan oleh pengaruh pasang, atau secara permanen jika periode penggenangan secara komulatif lebih dari 6 bulan pertahun. Tanahrawadapat dikenali pada foto udara melalui lokasi dan rona abu-abu yang lebih gelap dan tekstur yang lebih halus bila dibandingkan dengan padang kering. Medium density of cropping atau penanaman intensitas sedang : Subkelas Tanah kering tanaman semusim sementara atau Ladang (Subkelas 3.2.1.). Bentuk tanah kering tanaman semusin dengan rata-rata penanaman 3 sampai 7 tahun dalam 10 tahun. Mined area atau daerah pertambangan : Kelas Pertambangan (Kelas 2.2.). Daerah yang (bam saja) ditambang dan belum ditutupi oleh vegetasi atau dialihkan untuk penggunaan yang lain. Subdivisi dibuat berdasarkan jenis hasil yang ditambang. Mining atau pertambangan : Daerah yang digunakan untuk pengambilan bahan dari bumi, baik melalui penggalian atau pertambangan terbuka (batubara, gambut, dsb.) atau tertutup (emas, besi, minyak dsb). Daerah pertambangan meliputi bangunan pengotanah dan fasilfes terkait lainnya, (Kelas utama 2) Mixed forest atau hutan campuran : Daerah yang ditutupi oleh vegetasi yang tergolong sebagai hutan, dimana tidak ada spesies dominan diukur dengan tutupan di foto udara. Mixed homestead garden atau kebun campuran : Kelas Kebun (Kelas 5.2,). Tanah yang masuk dalam klasifikasi kebun dimana tutupan yang tampak di foto udara terbentuk dari berijagai campuran tanaman. Subdivisi dibuat berdasarkan tutupan lapisan pohon/belukar dominan pada foto udara. Mixed land use atau penggunaan tanah campuran Kombinasi kelas-kelas penutup/ penggunaan tanah yang betul-betui tercampur sehingga sulit untuk dapat dipisahkan, bahkan pada skala peta yang lebih besar juga tidak dapat dipisahkan. Campuran atau penggunaan tanah campuran ditunjukkan pada legenda peta sebagai suatu kombinasi unit-unit penyusun utama dengan menggunakan tanda T (contoh: 1.1.1/1.2.). Wama dan pola yang digunakan pada unit-unit pemetaan menunjuk pada pen^unaan tanah campuran dominan.
  15. 15. I n d e k s : 9 8 0 3 Alamat Redak si Kabar-JKPP Jl. Citarum 10 Bogor Baru Bogor16152 Jawa Barat-Indonesia Telp.-H62-0251-314020 Fax.+62-0251-379825 E-mail: jkpp@indo.net.idy I 5

×