Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Karakteristik perkembangan moral peserta didik

7,302 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Karakteristik perkembangan moral peserta didik

  1. 1. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN MORALPESERTA DIDIKDiposkan oleh Aby Farhan di 1/01/2012 1 komentarLawrence Kohlberg mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan kedalamenam tahap perkembangan moral yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi kedalam tigatingkatan: prakonfensional, konvensional, dan pascakonvensional. Karakteristik untuk masing-masing tahapan perkembangan moral yang dimaksud disajikan dalam tabel berikut ini.No Tingkat Umur Nama Karakteristik1 Tingkat 1 0-9 Prakonvensional thn Tahap 1 Moralitas heteronomi Melekat pada aturan (orientasi kepatuhan dan hukuman) Tahap 2 Individualisme/ Kepentingan nyata instrumentalisme individu. Menghargai (orientasi minat pribadi) kepentingan oranglain2 Tingkat 2 9-15 Konvensional thn Tahap 3 Reksa interpersonal Mengharapkan hidup (orientasi keserasian yang terlihat baik oleh interpersonal dan orang lain dan konformitas (sikap anak kemudian telah baik)). menganggap dirinya baik. Tahap 4 Sistem sosial dan hati nurani Memenuhi tugas (orientasi otoritas dan sosial untuk menjaga pemeliharaan aturan sosial sistem sosial yang (moralitas hukum dan berlangsung. aturan))3. Tingkat 3 Diatas Pascakonvensional 15 thn Tahap 5 Kontrak sosial Relatif menjungjung tinggi aturan dalam memihak kepantingan dan kesejahteraan untuk semua. Tahap 6 Prinsip etika universal Prinsip etis yang dipilih sendiri, bahkan
  2. 2. ketika ia bertentangan dengan hukumPerkembangan moral menurut Piaget terjadi dalam dua tahapan yang jelas. Tahap pertamadisebut “tahap realisme moral” atau “moralitas oleh pembatasan” dan tahap kedua disebut“tahap moralitas otonomi” atau “moralitas oleh kerjasama atau hubungan timbal balik”.Pada tahap pertama, perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpapenalaran atau penilaian. Mereka menganggap orang tua dan semua orang dewasa yangberwenang sebagai maha kuasa dan anak mengikuti peraturan yang diberikan oleh mereka tanpamempertanyakan kebenarannya.Pada tahap kedua, anaka menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. Tahap inibiasanya dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12 tahun atau lebuh. Anakmulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral.C. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan MoralBerdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melaluiidentifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model.Bagi para ahli psikoanalisis, perkembangan moral dipandang sebagai proses internalisasi norma-norma masyarakat dan dipandang sebagai kematangan dari sudut organik biologis. Menurutpsikoanalisis, moral dan nilai menyatu dalam konsep superego yang dibentuk melalui jalaninternalisasi larangan-larangan atau perintah-perintah yang datang dari luar (khususnya orangtua) sedemikian rupa, sehingga akhirnya terpencar dari dalam diri sendiri.Teori-teori lain yang non psikoanalisi beranggapan bahwa hubungan anak-orang tua bukan satu-satunya sarana pembentukan moral. Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendirimempunyai peran penting dalam pembentukan moral.Dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup terterntu, Banyakfactor yang mempengaruhi perkembangan moral peserta didik, diantaranya yaitu:1) Faktor tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.2) Faktor seberapa banyak model (orang-orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-orangyang terkenal dan hal-hal lain) yang diidentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal.3) Faktor lingkungan memegang peranan penting. Diantara segala segala unsur lingkungan socialyang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah unsure lingkungan berbentuk manusiayang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.4) Faktor selanjutnya yang memengaruhi perkembangan moral adalah tingkat penalaran.Perkembangan moral yang sifatnya penalaran menurut Kohlberg, dipengaruhi olehperkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh piaget. Makin tinggi tingkat penalaranseseorang menrut tahap-tahap perkembangan piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.5) Faktor Interaksi sosial dalam memberik kesepakatan pada anak untuk mempelajari danmenerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam pergaulandengan orang lain.D. Upaya Optimalisasi Perkembangan MoralHurlock mengemukakan ada empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak dalammengoptimalkan perkembangan moralnya, yaitu :
  3. 3. 1) Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkandalam hukum. Harapan tersebut terperinci dalam bentuk hukum, kebiasaan dan peraturan.Tindakan tertentu yang dianggap “benar” atau “salah” karena tindakan itu menunjang, ataudianggap tidak menunjang, atau menghalangi kesejahteraan anggota kelompok. Kebiasaan yangpaling penting dibakukan menjadi peraturan hukum dengan hukuman tertentu bagi yangmelanggarnya. Yang lainnya, bertahan sebagai kebiasaan tanpa hukuman tertentu bagi yangmelanggarnya.2) Pengambangan hati nuranni sebagai kendali internal bagi perliaku individu. Hati nuranimerupakan tanggapan terkondisikan terhadap kecemasan mengenai beberapa situasi dantindakan tertentu, yang telah dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan agresif denganhukum.3) Pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah mengembangkan hati nurani, hatinurani mereka dibawa dan digunakan sebagai pedoman perilaku. Rasa bersalah adalah sejenisevaluasi diri, khusus terjadi bila seorang individu mengakui perilakunya berbeda dengan nilaimoral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi. Rasa malu adalah reaksi emosional yang tidakmenyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya.Penilaian ini belum tentu benar-benar ada, namun mengakibatkan rasa rendah diri terhadapkelompoknya.4) Mencontohkan, memberikan contoh berarti menjadi model perilaku yang diinginkan munculdari anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk moral anak.5) Latihan dan Pembiasaan, menurut Robert Coles (Wantah, 2005) latihan dan pembiasaanmerupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia dini. Sikap orangtua dapat dijadikan latihan dan pembiasaan bagi anak. Sejak kecil orang tua selalu merawat,memelihara, menjaga kesehatan dan lain sebagainya untuk anak. Hal ini akan mengajarkan moralyang positif bagi anak6) Kesempatan melakukan interaksi dengan anggota kelompok sosial. Interaksi sosial memegangperanan penting dalam perkembangan moral. Tanpa interaksi dengan orang lain, anak tidak akanmengetahui perilaku yang disetujui secara social, maupun memiliki sumber motivasi yangmendorongnya untuk tidak berbuat sesuka hati.Interaksi sosial awal terjadi didalam kelompok keluarga. Anak belajar dari orang tua, saudarakandung, dan anggota keluarga lain tentang apa yang dianggap benar dan salah oleh kelompoksosial tersebut. Disini anak memperoleh motivasi yanjg diperlukan untuk mengikuti standarperilaku yang ditetapkan anggota keluarga.Melalui interaksi sosial, anak tidak saja mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral, tetapmereka juga mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana orang lain mengevaluasi perilakumereka. Karena pengaruh yang kuat dari kelompok sosial pada perkembangan moral anak,penting sekali jika kelompok sosial, tempat anak mengidentifikasikan dirinya mempunyaistandar moral yang sesuai dengan kelompok sosial yang lebih besar dalam masyarakat.Sumber-Sumber: Sudarwan Damin dan Khairil, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 80-81 Ahmad Fauzi dkk, Perkembangan Peserta Didik, (LAPIS PGMI, 2008), hlm 9-12

×