Substitusi proses konvensional pada pembangkit listrik dengan proses teknologi igcc

1,783 views

Published on

Published in: Technology
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,783
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
187
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Substitusi proses konvensional pada pembangkit listrik dengan proses teknologi igcc

  1. 1. SUBSTITUSISUBSTITUSI PROSESPROSESKONVENSIONAL PADAKONVENSIONAL PADAPEMBANGKIT LISTRIK DENGANPEMBANGKIT LISTRIK DENGANPROSES TEKNOLOGI IGCCPROSES TEKNOLOGI IGCCPambudi Pajar Pratama BEng., MSc.
  2. 2. Green TechnologyGreen Technology Ketersediaan sumber energi dan adanya teknologi yang dapat mengubah sumber energimenjadi bentuk yang bermanfaat bagi masyarakat, merupakan salah satu faktor pemacupertumbuhan perekonomian dunia. Hal ini telah tercatat dalam sejarah revolusi industriyang dimulai dari penemuan mesin uap. Mesin uap merupakan salah satu bentukteknologi konversi energi. Pertumbuhan perekonomian membawa dampak yang negatif bagi sumber lingkunganhidup seperti air, udara, dan tanah. Dampak negatif tersebut dapat berupa pencemaransebagai akibat dari emisi polutan dan produk sampingan yang berupa limbah dariaktivitas penggunaan teknologi tersebut. Semakin meningkatnya jumlah penduduk duniaakan mengakibatkan semakin meningkatkan jumlah emisi dan limbah. Oleh karena itu masyarakat internasional menaruh perhatian terhadap jumlah emisi danlimbah yang dapat ditoleransi oleh sumber lingkungan hidup. Apabila toleransi tersebuttidak dilampaui, maka sumber lingkungan hidup masih akan mampu untuk memperbaruidiri.
  3. 3. Cadangan dan Penggunaan EnergiCadangan dan Penggunaan Energi Sumber daya energi batubara diperkirakan sebesar 36.5 milyar ton, dengan sekitar 5.1milyar ton dikategorikan sebagai cadangan terukur. Sumber daya ini sebagian besar berada di Kalimantan yaitu sebesar 61 %, di Sumaterasebesar 38% dan sisanya tersebar di wilayah lain. Menurut jenisnya dapat dibagi menjadi lignite sebesar 58.6 %, sub-bituminous sebesar26.6 %, bituminous sebesar 14.4 % dan sisanya sebesar 0.4 % adalah anthracite. Dewasa ini pemanfaatan sumber energi batubara juga semakin meningkat seiringmenurunnya produksi minyak bumi. Pemanfaatan terbesar batubara saat ini adalah sebagai bahan bakar pembangkit listrik.Dari total konsumsi domestik sebesar 56 Juta ton/tahun, dialokasikan untuk kebutuhanpembangkit listrik adalah sebanyak 21 Juta ton/tahun. Hampir separuh konsumsibatubara domestik dipergunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik
  4. 4. Kebijakan Energi Nasional (KEN)Kebijakan Energi Nasional (KEN) PP No.5 Tahun 2006 sebagai pembaruan Kebijaksanaan Umum Bidang Energi (KUBE)tahun 1998. KEN mempunyai tujuan utama untuk menciptakan keamanan pasokanenergi nasional secara berkelanjutan dan pemanfaatan energi secara efisien, sertaterwujudnya bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025. Untuk ituketergantungan terhadap satu jenis sumber energi seperti BBM harus dikurangi denganmemanfaatkan sumber energi alternatif di antaranya batubara. Untuk mendukung pencapaian sasaran bauran energi nasional yang dicanangkanpemerintah, salah satunya adalah melakukan kajian batubara secara nasional untukmengetahui kondisi sumberdaya, pengusahaan, dan pemanfaatan batubara, sertapermasalahannya, yang dapat digunakan untuk membuat langkah-langkah yangdiperlukan. Untuk mendukung kajian tersebut perlu melakukan terlebih dahulumembangun data base batubara nasional dari hasil pengumpulan data baik sekundermaupun primer.
  5. 5. Sasaran Energi Mix Nasional 2025Sasaran Energi Mix Nasional 2025Dalam kebijakan bauran energi nasional 2025, pemakaian batubara diharapkanmencapai 33% (Gambar 1.), Pemerintah telah mengeluarkan peraturan yangdigunakan sebagai landasan di dalam kebijakan pengusahaan batubara, yaitu :Kepmen ESDM No.1128 Tahun 2004, tentang Kebijakan Batubara Nasional.Perpres No.5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.Inpres No.2 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Batubara yangDicairkan Sebagai Bahan Bakar Lain.Gambar 1. Sasaran Energi Mix Nasional 2025
  6. 6. Sasaran Energi Mix Nasional 2025Sasaran Energi Mix Nasional 2025Dalam sasaran bauran energi nasional tersebut, batubara menempati urutan pertama didalam penggunaan energi. Hal tersebut dikarenakan oleh :1.Sumber daya batubara cukup melimpah, yaitu 61,3 miliar ton, dengan cadangan 6,7 miliarton (Pusat Sumber Daya Geologi, 2005).2.Dapat digunakan langsung dalam bentuk padat, atau dikonversi menjadi gas (gasifikasi)dan cair (pencairan).3.Harga batubara kompetitif dibandingkan energi lain.4.Teknologi pemanfaatan batubara yang ramah lingkungan telah berkembang pesat, yangdikenal sebagai Teknologi Batubara Bersih (Clean Coal Technology).Clean coal technology adalah teknologi pemanfaatan batubara untuk mengurangi polusi daribatubara. Secara umum clean coal technology terdiri dari empat kategori, yaitu : pencucianbatubara (coal washing), pengontrolan polutan pada pembangkit listrik, peningkatan efisiensipembakaran, penangkapan dan penyimpanan karbon.
  7. 7. Clean Coal TechnologyClean Coal Technology1. Pencucian batubara (coal washing) Pencucian batubara bertujuan untuk mengurangi pengotor pada batubaraseperti sulfur, abu dan mineral-mineral bawaan.2. Pengontrolan polutan pada pembangkit listrik Polutan yang berupa partikel dapat dikurangi dengan menggunakanElectrostatic Precipitators (ESPs) dan fabric filters. ESPs adalah teknologi yangpaling banyak digunakan. Pada corong asap dipasang piringan yangmenangkap partikel buangan hasil pembakaran batubara. Partikel-partikeltersebut kemudian ditarik menggunakan tenaga eletrik. Gas NOx dapat dikurangi dengan Low-NOx Burners (LNB). Alat ini digunakanuntuk mengurangi pembentukan NOx dengan cara mengatur temperatur nyalaapi dan kondisi kimia pada tempat pembakaran batubara. Teknologi yangdigunakan selain LNB yaitu Selective Catalytic or Non-Catalytic Reduction(SCR/SNCR). Namun teknologi ini lebih mahal dan jarang digunakan. Gas SO2 dapat dikurangi dengan Flue Gas Desulpurisation (FGD). FGD basahsering digunakan untuk menyerap SO2 menggunakan bahan kimia yangmenyerap sulphur (sorbent).
  8. 8. Clean Coal TechnologyClean Coal Technology3. Peningkatan efisiensi pembakaran Upercritical Pulverised Coal Combustion (PCC)Teknologi ini menggunakan tekanan dan suhu yang tinggi. PCC dapatmeningkatkan efisiensi panasa yang dihasilkan sebesar 35%-45%. Fluidised Bed Coal Combustion (FBC)Teknologi ini menggunakan suhu yang lebih rendah untuk pembakaranbatubara dan dapat mengurangi pembentukan gas NOx dan SOx. Coal GasificationBatubara direaksikan dengan uap air dan udara atau oksigen dengan suhuyang tinggi untuk membentuk synthetic gas (carbon monoxide danhydrogen). Synthetic gas dapat dibakar untuk menghasilkan listrik ataudiproses lebih lanjut menjadi bahan bakar seperti diesel oil. Teknologicoal gasification yang berkembang antara lain :Integrated Coal Gasification Combined Cycle (IGCC)Integrated Gasification Fuel Cells (IGFC)
  9. 9. Clean Coal TechnologyClean Coal Technology4. Penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) Teknik penangkapan CO2 sendiri secara umum dapat digolongkan menjadi 3 teknik, yaituteknik penangkapan pasca-pembakaran, pra-pembakaran dan pembakaran denganoxygen murni (oxyfuel). Teknik penangkapan CO2 dengan pasca-pembakaran sejauh ini merupakan teknik yangpaling banyak digunakan dan dianggap paling mapan untuk menangkap CO2. Dalamteknik pasca-pembakaran, CO2 dipisahkan dari gas hasil pembakaran. Teknik penangkapan CO2 dengan teknik pra-pembakaran pada dasarnya menggunakanteknik gasifikasi batubara dalam sebuah reformer yang menghasilkan gas campuran CO2dan H2. CO2 kemudian dipisahkan dari H2 untuk dikompresi dan diinjeksikan ke dalam titikpenyimpanan. Pemanfaatan teknik penangkapan CO2 dengan pra pembakaran lebihterkenal dengan sebutan Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC).
  10. 10. Clean Coal TechnologyClean Coal Technology4. Penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) Teknik pembakaran dengan oksigen murni (oxyfuel) dikembangkan untuk menghindaridilution oleh nitrogen dalam gas hasil pembakaran. Oksigen murni diperoleh denganproses pemisahan oksigen dari udara dalam sebuah Air Separation Unit (ASU). Namundemikian, pembakaran dengan oksigen murni menyebabkan suhu pembakaran menjaditinggi (setidaknya suhu sekitar 1400°C telah dilaporkan). Akibatnya, ketahanan materialmenjadi isu penting dalam pengembangan oxyfuel saat ini.
  11. 11. Teknologi Pemanfaatan BatubaraTeknologi Pemanfaatan BatubaraSecara umum, teknologi pemanfaatan batubara terbagi menjadi pembakaran(combustion), pirolisis (pyrolysis), pencairan (liquefaction), dan gasifikasi(gasification).1.Pembakaran (Combustion)Pembakaran merupakan pemanfaatan batubara secara langsung untukmemperoleh energi panas, menghasilkan produk sampingan berupa gasbuang (flue gas) dan abu. PLTU merupakan salah satu contohpemanfaatan batubara secara langsung, dimana batubara dibakar di boileruntuk menghasilkan panas yang akan digunakan untuk mengubah airmenjadi uap air (steam), yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkanturbin uap dan memutar generator untuk menghasilkan energi listrik.
  12. 12. Teknologi Pemanfaatan BatubaraTeknologi Pemanfaatan Batubara2. Pirolisis (Pyrolysis)Pada pirolisis, batubara dipanaskan dalam kondisi tanpa oksigen. Padakeadaan demikian, zat terbang (volatile matter) di dalamnya akanterusir keluar. Bila suhu pemanasannya rendah, proses ini disebutpirolisis suhu rendah (low temperature pyrolysis), menghasilkanproduk berupa bahan bakar padat non asap (coalite). Sedangkanpada pirolisis suhu tinggi, bila batubara yang diproses adalahbatubara kokas, maka akan dihasilkan kokas yang keras. Selainpadatan yang disebut char ataupun kokas, produk sampingan berupagas dan material cair yang disebut tar juga akan dihasilkan padapirolisis.
  13. 13. Teknologi Pemanfaatan BatubaraTeknologi Pemanfaatan Batubara3. Pencairan (Liquifaction)Untuk menghasilkan produk cairan dari batubara yang karakteristiknyamenyerupai minyak, perlu diupayakan agar kandungan hidrogennyadiperbanyak sehingga mendekati minyak. Proses ini disebut denganhidrogenasi (hydrogenation), dimana batubara dipanaskan dalamkondisi tekanan tertentu, disertai penambahan katalis. Pencairanbatubara dengan metode ini merupakan salah satu pencairanbatubara secara langsung (direct coal liquefaction, DCL) yang disebutdengan proses Bergius. Selain itu, Jepang pun berhasilmengembangkan sendiri teknologi DCL ini dengan menggabungkan 3macam metode pencairan pada batubara bituminus yaitu, direct
  14. 14. Teknologi Pemanfaatan BatubaraTeknologi Pemanfaatan Batubara3. Teknologi Gasifikasi (Gasification) Gasifikasi (gasification) adalah konversi bahan bakar karbon menjadiproduk gas – gas yang memiliki nilai kalor yang berguna. Pengertianini tidak memasukkan istilah pembakaran (combustion) sebagaibagian daripadanya, karena gas buang (flue gas) yang dihasilkan daripembakaran tidak memiliki nilai kalor yang signifikan untukdimanfaatkan [Higman, van der Burgt, 2003]. Berbeda dengan pembakaran batubara, gasifikasi adalah prosespemecahan rantai karbon batubara ke bentuk unsur atau senyawakimia lain.
  15. 15. Teknologi Pemanfaatan BatubaraTeknologi Pemanfaatan Batubara3. Teknologi Gasifikasi (Gasification) Secara sederhana, batubara dimasukkan ke dalam reaktor dan sedikit dibakarhingga menghasilkan panas. Sejumlah udara atau oksigen dipompakan danpembakaran dikontrol dengan uap agar sebagian besar batubara terpanaskanhingga molekul-molekul karbon pada batubara terpecah dan dirubah menjadi”coal gas”. Coal Gas merupakan campuran gas-gas hidrogen, karbon monoksida,nitrogen serta unsur gas lainnya. Karena proses ini merupakan konversimaterial yang mengandung karbon, maka semua hidrokarbon sepertibatubara, minyak, vacuum residue, petroleum coke atau petcoke, Orimulsion,bahkan gas alam dapat digasifikasi untuk menghasilkan gas sintetik (syngas).
  16. 16. Jenis Penggas (Jenis Penggas (GasifierGasifier)) Untuk melangsungkan gasifikasi diperlukan suatu suatu reaktor.Reaktor tersebut dikenal dengan nama gasifier. Ketika gasifikasidilangsungkan, terjadi kontak antara bahan bakar dengan mediumpenggasifikasi di dalam gasifier. Kontak antara bahan bakar denganmedium tersebut menentukan jenis gasifier yang digunakan. Terdapat 3 jenis penggas (gasifier) yang banyak digunakan untukgasifikasi batubara, yaitu tipe moving bed (lapisan bergerak), fluidizedbed (lapisan mengambang), dan entrained flow (aliran semburan).Karena masing–masing penggas memiliki kelebihan dan kekurangan,maka alat mana yang akan digunakan lebih ditentukan olehkarakteristik bahan bakar dan tujuan gasifikasi.
  17. 17. Jenis Penggas (Jenis Penggas (GasifierGasifier))Tabel 1. Perbandingan Jenis – Jenis GasifierParameter Fixed/Moving Bed Fluidized Bed Entrained BedUkuran umpan < 51 mm < 6 mm < 0.15 mmToleransi kehalusan partikel Terbatas Baik Sangat baikToleransi kekasaran partikel Sangat baik Baik BurukToleransi jenis umpan Batubara kualitasrendahBatubara kualitasrendah danbiomassaSegala jenisbatubara, tetapitidak cocok untukbiomassaKebutuhan oksidan Rendah Menengah TinggiKebutuhan kukus Tinggi Menengah RendahTemperatur reaksi 1090 °C 800 – 1000 °C > 1990 °CTemperatur gas keluaran 450 – 600 °C 800 – 1000 °C > 1260 °CProduksi abu Kering Kering TerakEfisiensi gas dingin 80% 89.2% 80%Kapasitas penggunaan Kecil Menengah BesarPermasalahan Produksi tar Konversi karbon Pendinginan gasproduk
  18. 18. Aplikasi Gasifikasi BatubaraAplikasi Gasifikasi Batubara1. Bahan Bakar Sintetik (Coal to Liquid, CTL) Batubara digasifikasi terlebih dulu untuk menghasilkan gas sintetik yangkomposisi utamanya terdiri dari hidrogen (H2) dan karbon monoksida (CO),kemudian dilanjutkan dengan proses Fischer-Tropsch (FT) untukmenghasilkan hidrokarbon ringan (paraffin). Hidrokarbon tersebut kemudiandiproses lebih lanjut untuk menghasilkan bensin dan minyak diesel. Karena nilai oktan pada produk bensin yang dihasilkan rendah, makadilakukan upaya untuk menghasilkan bensin bernilai oktan tinggi dari gassintetik ini. Proses tersebut dilakukan dengan memproduksi metanol dari gassintetik terlebih dulu, kemudian metanol diproses untuk menghasilkan bensinbernilai oktan tinggi. Metode ini disebut MTG (Methanol to Gasoline), yangdikembangkan oleh Mobil pada tahun 1970an.
  19. 19. Aplikasi Gasifikasi BatubaraAplikasi Gasifikasi Batubara2. Pembangkit Listrik (Coal to Power) Standar mutu lingkungan yang semakin ketat tentunya akan memaksa fasilitaspembangkit listrik yang telah terpasang untuk dapat mengakomodasi peraturantersebut. Ada 3 pilihan yang dapat dilakukan untuk itu, yaitu pertama, memodifikasi danmeng-upgrade fasilitas sehingga teknologi pembersihan pasca pembakaran(postcombustion clean up technology) dapat diterapkan, kedua, memodifikasisistem pembangkitan berbahan bakar batubara menjadi pembangkitankombinasi berbahan bakar gas alam (Natural Gas Combined Cycle, NGCC),dan yang ketiga, memodifikasi sistem pembangkitan dengan memanfaatkanmekanisme gasifikasi batubara untuk menghasilkan pembangkitan kombinasi.[Childress, 2000]. Pada pilihan pertama, biaya pemasangan peralatan pembersihan pascapembakaran sangat besar. Sebagai contoh, untuk pembangkit berbahan bakarbatubara serbuk (pulverized coal) yang saat ini mendominasi, biayapemasangan unit desulfurisasi (Flue Gas Desulfurization, FGD) dapatmencapai 20% dari total biaya pembangunannya.
  20. 20. Aplikasi Gasifikasi BatubaraAplikasi Gasifikasi Batubara2. Pembangkit Listrik (Coal to Power) Untuk pilihan kedua yaitu mekanisme NGCC, meskipun emisi yang rendahdapat dicapai, tapi ongkos bahan bakar yang relatif tinggi otomatis akanmempengaruhi biaya pembangkitan. Pilihan ketiga merupakan alternatif terbaik, dimana pembangkitan kombinasitersebut mampu menghasilkan emisi yang sangat rendah denganmengoptimalkan fasilitas pembangkit yang ada serta menggunakan bahanbakar berbiaya rendah yaitu batubara. Pembangkit listrik yang memanfaatkangas sintetik hasil gasifikasi batubara disebut dengan IGCC (IntegratedGasification Combined Cycle). Pada IGCC, pembangkitan listrik dihasilkan darimekanisme kombinasi antara turbin gas, HRSG (Heat Recovery SteamGenerator), dan turbin uap.
  21. 21. Aplikasi Gasifikasi BatubaraAplikasi Gasifikasi Batubara3. Industri kimia (Coal to Chemical) Gas sintetik hasil gasifikasi batubara juga dapat digunakan sebagaibahan baku industri kimia, diantaranya untuk pembuatan ammonia,pupuk, metanol, DME (Dimethyl Ether), olefin, paraffin, dan lain – lain.Eastman Chemical di Kingsport, Tennessee, AS, memanfaatkangasifikasi batubara untuk memproduksi bahan baku industri kimia yaituasam asetat. Fasilitas ini beroperasi sejak tahun 1983, menggunakanpenggas Texaco.
  22. 22. IGCC (Integrated GasificationIGCC (Integrated GasificationCombined Cycle)Combined Cycle) Teknologi IGCC ini mempunyai kelebihan yaitu dalam hal bahan bakar : tidak adapembatas untuk tipe, ukuran dan kandungan abu dari batubara yang digunakan. Dalam hal lingkungan : emisi SO2, NOX, CO2 serta debu dapat dikurangi tanpapenambahan peralatan tambahan seperti de-SOX dan de-NOX dan juga limbah cairserta luas tanah yang dibutuhkan juga berkurang. Disamping itu pembangkit listrik IGCC mempunyai produk sampingan yangmerupakan komoditi yang mempunyai nilai jual seperti sulfur dan tar (light oil). Mula-mula batubara yang sudah diproses secara fisis (ukuran +20 mm – 100 mm)diumpankan ke dalam reaktor akan mengalami proses pembakaran yang dikontrololeh steam dan angin sehingga tidak terbentuk api tetapi bara. Kecuali bahanpengotor, batubara bersama-sama dengan oksigen dikonversikan menjadihidrogen, karbon monoksida, methana, CO2, H2, N2.
  23. 23. IGCC (Integrated GasificationIGCC (Integrated GasificationCombined Cycle)Combined Cycle)Gambar 2. Gambar Diagram Alir Proses IGCC
  24. 24. IGCC (Integrated GasificationIGCC (Integrated GasificationCombined Cycle)Combined Cycle)Gambar 3. Diagram Proses Simulasi IGCC menggunakan Aspen Plus 7.3
  25. 25. IGCC (Integrated GasificationIGCC (Integrated GasificationCombined Cycle)Combined Cycle) Gasifikasi umumnya terdiri dari empat proses, yaitu pengeringan, pirolisis,oksidasi, dan reduksi. Pada proses gasifikasi ada suatu proses juga yang tidakkalah pentingnya adalah proses desulfurisasi yang mana sebagai penghilanghidrogen sulfurisasi yang merupakan gas beracun. Pada gasifier jenis tipe gasifikasi unggun tetap (fixed bed gasification), kontakyang terjadi saat pencampuran antara gas dan padatan sangat kuat sehinggaperbedaan zona pengeringan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi tidak dapatdibedakan. Salah satu cara untuk mengetahui proses yang berlangsung pada gasifier jenis iniadalah dengan mengetahui rentang temperatur masing-masing proses, yaituproses pengeringan (T > 1500C), proses pirolisis/devolatilisasi (150 < T < 5500C),proses oksidasi (70 < T < 5500C) dan proses reduksi (50 < T < 1200C).
  26. 26. IGCC (Integrated GasificationIGCC (Integrated GasificationCombined Cycle)Combined Cycle) Proses pengeringan, pirolisis, dan reduksi bersifat menyerap panas (endotermik),sedangkan proses oksidasi bersifat melepas panas (eksotermik). Pada pengeringan, kandungan air pada bahan bakar padat diuapkan oleh panasyang diserap dari proses oksidasi. Pada pirolisis, pemisahan volatile matters (uap air, cairan organik, dan gas yangtidak terkondensasi) dari arang atau padatan karbon bahan bakar jugamenggunakan panas yang diserap dari proses oksidasi. Pembakaran mengoksidasi kandungan karbon dan hidrogen yang terdapat padabahan bakar dengan reaksi eksotermik, sedangkan gasifikasi mereduksi hasilpembakaran menjadi gas bakar dengan reaksi endotermik.
  27. 27. IGCC (Integrated GasificationIGCC (Integrated GasificationCombined Cycle)Combined Cycle)
  28. 28. IGCC (Integrated GasificationIGCC (Integrated GasificationCombined Cycle)Combined Cycle)
  29. 29. Perbandingan Proses Teknologi IGCC denganPerbandingan Proses Teknologi IGCC denganProses Konvensional pada Pembangkit ListrikProses Konvensional pada Pembangkit Listrik Efisiensi pembangkit listrik dengan menggunakan teknologi IGCC ini berkisarantara 38 - 45 % dan yang lebih tinggi 5 - 10 % dibandingkan PLTU batubarakonvensional. Hal ini dimungkinkan dengan adanya proses gasifikasi sehinggaenergi yang terkandung dalam batubara dapat digunakan secara efektif dandigunakannya HRSG untuk membentuk suatu daur kombinasi antara turbin gasdan turbin uap. Penggunaan IGCC sangat menguntungkan karena pada pembangkitkonvensional memerlukan sistem scrubbing gas yang besar untuk membersihkansulphur pada gas buang. Sebagian besar proses gasifikasi memerlukan batubararelatif kering yaitu kurang dari 15% kelembaban. Jika kelembaban tinggi, efisiensiakan rendah. Sehingga perlu untuk mengeringkan batubara dan mengumpankankedalam gasifikator dalam butiran dengan ukuran + 20 mm – 100 mm.
  30. 30. Perbandingan Proses Teknologi IGCC denganPerbandingan Proses Teknologi IGCC denganProses Konvensional pada Pembangkit ListrikProses Konvensional pada Pembangkit Listrik Coal gasifier tidak mengeluarkan polutan hingga ramah lingkungan. Instalasi peralatan tidak membutuhkan ruang yang luas, penggunaan air sebagaipendingin terbatas, dan biaya operasional dalam jangka panjang akan rendah. Kecuali menghasilkan coal gas, mineral pada batubara yang tidak terbakar akantertampung dibagian bawah reaktor sebagai slag serta material padatan lainnyayang dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Hanya sebagian kecil fraksi mineral yang ikut terbakar dan membentuk debu yangakan dipisahkan dengan dust cyclone. Tar yang merupakan by-product dari pemutusan rantai karbon akan dipisahkanmenggunakan electric tar separator dan dapat dimanfaatkan sebagai minyakbakar.
  31. 31. Perbandingan Proses Teknologi IGCC denganPerbandingan Proses Teknologi IGCC denganProses Konvensional pada Pembangkit ListrikProses Konvensional pada Pembangkit Listrik Pemakaian batubara dalam jumlah besar ini dapat menimbulkan dampaklingkungan bila kurang tepat dalam pemilihan teknologinya. Oleh karena itu pemanfaatan batubara untuk pembangkit listrik di masamendatang perlu menerapkan teknologi batubara bersih, seperti IGCC (IntegratedGasification Combined Cycle).Gambar 4. Data Historis dan Proyeksi Pembangkit Listrik

×