Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035. Buku 2

6,320 views

Published on

dipublikasikan oleh Kementerian koordinator Bidang Kesejahteraan rakyat tahun 2012

3 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,320
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
558
Comments
3
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035. Buku 2

  1. 1. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 i GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT 2012
  2. 2. ii GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  3. 3. GRAND DESIGN PEMBANGUNANKEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 iii Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kementerian Dalam Negeri Kementerian Perencanaan Pembangunan/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Kementerian Kesehatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Sosial Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035 © Pemegang Copyright Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Diproduksi oleh : Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Editor : Sekretariat Tim Penyusunan Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011 - 2035 Tim Penyusun : 1. Kelompok Kerja Bidang Pengendalian Kuantitas Penduduk 2. Kelompok Kerja Bidang Peningkatan Kualitas Penduduk 3. Kelompok Kerja Bidang Pembangunan Keluarga 4. Kelompok Kerja Bidang Penataan Persebaran dan Pengaturan Mobilitas Penduduk 5. Kelompok Kerja Bidang Pembangunan database Kependudukan Kontributor: 1. Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gajah Mada 2. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia Cetakan pertama 2012 Hak cipta dilindungi undang-undang Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, et. al. Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035; — cet. 1 —Jakarta : Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2012, 126 hlm, 210 x 297 mm ISBN ____________________978-602-9476-28-6 GRANDDESIGN PEMBANGUNANKEPENDUDUKAN TAHUN2011-2035 iii
  4. 4. iv GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  5. 5. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 v MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT R.I Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua, sehingga penyusunan dokumen Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035 dapat diselesaikan. Kerja keras dan kerja cerdas semua pihak diwakili oleh kelompok-kelompok kerja yang secara bertahap, berhasil menyelesaikan dokumen acuan bagi Pembangunan Kependudukan di Indonesia. Masukan dari berbagai pihak telah memberikan kontribusi yang signifikan yang pada gilirannya akan bermanfaat bagi pelaksanaan pembangunan kependudukan secara lintas sektor. Terdapat 3 (tiga) aspek penting dalam kebijakan pembangunan kependudukan. Pertama, secara internal, dinamika kependudukan memasuki tahap krusial dengan ditandai oleh adanya perubahan kondisi demografi “di luar perkiraan”. Kondisi itu nampak dari perubahan angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk yang cenderung tidak bergerak maju (stagnan). Terlepas dari perbedaan interpretasi mengenai keadaan tersebut, kondisi ini perlu dicermati dan diantisipasi dengan kebijakan kependudukan yang tepat. Kedua, kebijakan pembangunan kependudukan belum sepenuhnya menjadi bagian integral dari kebijakan pembangunan. Hal ini tidak selaras dengan hasil ICPD (International Conference on Population and Development) tahun 1994 di Kairo yang mengamanatkan agar, pengintegrasian kebijakan kependudukan ke dalam kebijakan pembangunan nasional. Ketiga, pada waktu yang bersamaan dinamika kependudukan sedang mengarah ke fase windows of opportunity yang datangnya hanya sekali dan akan memberikan peluang untuk memperoleh bonus demografi. Ketiga hal tersebut merupakan alasan mengapa dibutuhkan suatu dokumen grand design pembangunan kependudukan untuk dijadikan arah bagi perumusan kebijakan dan program kependudukan. Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) selain diperlukan sebagai arah bagi kebijakan kependudukan di masa depan juga diharapkan dapat sejalan dengan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI). Dalam konteks KATAPENGANTAR
  6. 6. vi GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 pelaksanaannya diperlukan harmonisasi pelaksanaan kebijakan Pembangunan Kependudukan dengan Pembangunan Ekonomi Nasional serta Penanggulangan Kemiskinan. Dengan telah selesainya penyusunan dokumen ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi secara aktif. Kritik dan saran konstruktif sangat diharapkan dalam rangka penyempurnaan dokumen ini. Semoga Grand Design Pembangunan Kependudukan ini bermanfaat bagi pembangunan Nasional. Jakarta, Desember 2012 Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia H.R. AGUNG LAKSONO
  7. 7. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 vii KATA PENGANTAR .........................................................................................................v DAFTAR ISI ..........................................................................................................vii DAFTAR TABEL ...........................................................................................................ix DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK ...............................................................................x BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................................1 1.1. Latar Belakang ............................................................................................1 1.2. Dasar Hukum............................................................................................... 5 1.3. Visi ............................................................................................................ 6 1.4. Misi ............................................................................................................ 6 1.5. Arah Kebijakan............................................................................................7 1.6. Tujuan .......................................................................................................... 7 1.7. Sasaran .......................................................................................................... 8 BAB 2. KONDISI KEPENDUDUKAN INDONESIA SAAT INI ........................9 2.1. Kuantitas Penduduk....................................................................................9 2.2 Kualitas Penduduk.....................................................................................14 2.2.1. Pendidikan ......................................................................................14 2.2.2. Kesehatan .......................................................................................17 2.2.3. Pendapatan per Kapita .................................................................25 2.2.4. Indeks Pembangunan Manusia ....................................................27 2.2.5. Kondisi Kesetaraan dan Keadilan Gender ................................28 2.3. Pembangunan Keluarga............................................................................32 2.4. Persebaran dan Mobilitas Penduduk ......................................................34 2.5. Data dan Informasi Kependudukan ......................................................40 BAB 3. KONDISI YANG DIINGINKAN ................................................................47 3.1. Kuantitas Penduduk..................................................................................47 3.2. Kualitas Penduduk.....................................................................................49 3.3. Kondisi Keluarga.......................................................................................50 3.4. Persebaran dan Mobilitas Penduduk ......................................................51 3.5. Database Kependudukan .........................................................................53 3.6. Permasalahan dan Tantangan ..................................................................55 3.6.1. Kuantitas Penduduk ......................................................................56 3.6.2. Kualitas Penduduk.........................................................................59 3.6.3. Persebaran dan Mobilitas Penduduk ..........................................65 DAFTARISI
  8. 8. viii GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 BAB 4. POKOK-POKOK PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN ..................69 4.1. Pengendalian Kuantitas Penduduk .........................................................69 4.1.2. Pengaturan Fertilitas ....................................................................69 4.1.3. Penurunan Mortalitas ...................................................................70 4.1.4. Strategi Pengendalian Kuantitas ..................................................71 4.2 . Peningkatan Kualitas.................................................................................72 4.2.1. Dimensi Kesehatan .......................................................................72 4.2.2. Dimensi Pendidikan ......................................................................72 4.2.3. Dimensi Ekonomi .........................................................................72 4.2.4. Strategi Pengendalian Kualitas .....................................................72 4.3. Pembangunan Keluarga............................................................................74 Strategi Pembangunan Keluarga .............................................................75 4.4. Persebaran dan Pengarahan Mobilitas Penduduk.................................77 4.5. Pembangunan Database Kependudukan...............................................96 Strategi Pembangunan Database Kependudukan ................................96 BAB 5. ROADMAP ........................................................................................................103 5.1. Umum .......................................................................................................103 5.1.1. Pengendalian Kuantitas Penduduk............................................103 5.1.2. Peningkatan Kualitas Penduduk ................................................104 5.1.3 Pembangunan Keluarga..............................................................106 5.1.4 Penataan Persebaran dan Pengarahan Mobilitas Penduduk ......................................................................................106 5.1.5. Pembangunan Data dan Informasi Kependudukan ..............109 BAB 6. PENUTUP ........................................................................................................111 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................114 LAMPIRAN : Keputusan Menko Kesra No. 27 Tahun 2011, Tentang Tim Penyusunan Grand Design Pembangunan Kependudukan, Tahun 2011-2035 ........................................................................................................115
  9. 9. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 ix Tabel 2.1 Angka Partisipasi Sekolah Kasar dan Murni menurut Pendidikan 2000–2008 ..................................................................................15 Tabel 2.2 Angka Partisipasi Sekolah menurut Umur, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2006.......................................................................................16 Tabel 2.3 Angka Harapan Hidup Beberapa Negara di ASEAN, 1980-2011..........23 Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Miskin dan Angka Kemiskinan Tahun 2011 .............26 Tabel 2.5 Nilai IPM Beberapa Negara ASEAN1990-2011.......................................28 Tabel 2.6 Karakteristik Kepala Keluarga menurut Mata Pencaharian, 2008..........31 Tabel 3.1 Proyeksi TFR 2010-2035 ..............................................................................47 Tabel 3.2 Persentase Pengangguran Terbuka*) menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan 2007-2010 .......................................................62 Tabel 3.3 Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Daerah Tahun 1998-2011 .............................................................................63 Tabel 3.4 Kondisi Migrasi Internasional Tahun 2007-2009......................................66 Tabel 4.1 Kelas Ruang ....................................................................................................83 Tabel 4.2 Kelas Penduduk .............................................................................................84 Tabel 4.3 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sumatera .......................85 Tabel 4.4 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Kalimantan ...................87 Tabel 4.5 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sulawesi-Maluku- Maluku Utara..................................................................................................88 Tabel 4.6 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Papua .............................90 Tabel 4.7 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Bali-Nusa Tenggara .....91 Tabel 5.1 Roadmap Pengendalian Kuantitas Penduduk..........................................103 Tabel 5.2 Perkiraan Rata-Rata Lama Bersekolah (MYoS).......................................104 Tabel 5.3 Perkiraan Harapan Rata-Rata Lama Bersekolah (EYoS) .......................104 Tabel 5.4 Perkiraan Angka Partisipasi Murni 2015-2050.........................................105 Tabel 5.5 Perkiraan Angka Harapan Hidup 2015-2035...........................................105 Tabel 5.6 Perkiraan GNI per Kapita Indonesia 2011-2050....................................106 Tabel 5.7 Roadmap Pembangunan Keluarga ............................................................106 Tabel 5.8 Pokok-Pokok Roadmap Grand Design Pengarahan Mobilitas Penduduk 2010-2035 ...................................................................................107 Tabel 5.9 Roadmap Pmebangunan Data Base Kependudukan .............................109 DAFTARTABEL
  10. 10. x GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 1.1 Tujuan Pembangunan Kependudukan Selama 2011-2035 .....................8 Gambar 2.2 Piramida Penduduk Indonesia Tahun 1971 dan 2010...........................11 Gambar 2.3 Melek Huruf Dewasa di Indonesia .........................................................17 Gambar 2.4 Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, dan Angka Kematian Ibu 1991-2007 ...........................................................................18 Gambar 2.5 Angka Kematian Bayi di Indonesia .........................................................19 Gambar 2.6 Disparitas Indeks Kematian Bayi dan Kematian Balita di Indonesia, 1991-2007 ............................................................................20 Gambar 2.7 Tren Prevalensi Gizi Kurang dan Gizi Buruk IndonesiaTahun 1989 – 2010 .................................................................................................21 Gambar 2.8 Angka Harapan Hidup Indonesia 1980–2011 ........................................22 Gambar 2.9 Persentase Rumah Tangga yang Mendapatkan Air Bersih di Indonesia 2000-2008 .............................................................................23 Gambar 2.10 Persentase Rumah Tangga yang Mengakses Jamban dan Septic Tank di Indonesia 2000-2008..........................................................24 Gambar 2.11 Pendapatan per Kapita di Indonesia 1980-2011 (Metode Atlas, US$)...................................................................................25 Gambar 2.12 Perkembangan Jumlah dan Angka Kemiskinan di Indonesia, 2004-2011 ....................................................................................................25 Gambar 2.13 Profil Persebaran Penduduk Tahun 1930 – 2010 ..................................35 Gambar 2.14 Peta Persebaran Kategori Kota ................................................................36 Gambar 2.15 Peta Ketimpangan Populasi dan Ekonomi.............................................37 Gambar 2.16 Kesenjangan Ekonomi Wilayah di Indonesia ........................................39 Gambar 2.17 Data Dasar (Database) Kependudukan di Indonesia ...........................42 Gambar 3.1 Perkembangan Rasio Ketergantungan Usia Anak-anak (< 15 tahun); produktif (15-64 tahun), Lansia (>65 tahun) serta Rasio Ketergantungan di Indonesia Tahun 1950-2050.........................49 Gambar 3.2 Kondisi Persebaran Penduduk yang Diinginkan pada Tahun 2035 ....51 Gambar 3.3 Kondisi Migrasi Internasional yang Diinginkan Tahun 2035 ..............52 Gambar 3.5 Pertumbuhan dan Ketimpangan Ekonomi di Indonesia .....................63 Gambar 4.1 Unsur-Unsur Pembangunan Sumber Daya Manusia ............................73 Gambar 4.2 Tema Pembangunan dan Interkoneksi Koridor Ekonomi (KE) ........82 DAFTARGAMBAR DANGRAFIK
  11. 11. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 xi Gambar 4.3 Strategi Penataan Persebaran Penduduk .................................................82 Gambar 4.4 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sumatera ......................................................................................................85 Gambar 4.5 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Kalimantan .................................................................................................87 Gambar 4.6 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sulawesi-Maluku-Maluku Utara ...............................................................89 Gambar 4.7 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Papua ............................................................................................90 Gambar 4.8 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Bali-Nusa Tenggara...................................................................................92 Gambar 4.9 Kerangka Penyelarasan Isu-Isu Strategis Grand Design SAK............96 Gambar 4.10 Tahap-tahap Penerapan KTP Berbasis NIK Nasional........................98 Gambar 4.11 Mekanisme Pembangunan Database Kependudukan dan Pemutakhirannya .......................................................................................99 Gambar 4.12 Pemanfaatan Database untuk Instansi/Lembaga, Masyarakat Dunia Usaha, dan Kepentingan Lainnya .............................................100 Gambar 4.12 dan 4.13 Pemanfaatan Database Kependudukan dan e-KTP untuk Mendukung Pemilu......................................................................101 Grafik 2.1 Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2000-2010 menurut Provinsi .....................................................................................................10 Grafik 2.2 Perkembangan IPG Periode 2004-2010.................................................28 Grafik 2.3 Perkembangan Komponen IPG, 2009-2010 .........................................29 Grafik 2.4 Perkembangan IDG Tahun 2004-2010..................................................30 Grafik 2.5 Penduduk 15 ke Atas Bekerja Sebagai Tenaga Profesional Kepemimpinan, Administrasi, Teknisi, 2009-2010...............................31
  12. 12. xii GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Grafik 2.6 Persentase PNS Perempuan, 2007-2010 ................................................31 Grafik 2.7 Persentase PNS yang Menduduki Jabatan Struktural, 2007-2010 ...................................................................................................32 Grafik 3.4 Ratio Ketergantungan 1971-2010 ...........................................................52 Grafik 3.5 Rasio Ketergantungan menurut Provinsi ..............................................53
  13. 13. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 1 1.1. Latar Belakang Kebijakan kependudukan di Indonesia sampai saat ini telah menunjukkan keberhasilannya, terutama jika dilihat dari sisi kuantitas penduduk. Sebagai contoh adalah penurunan angka kelahiran total (TFR) dan penurunan pertumbuhan penduduk secara konsisten selama periode 1970-2000. Akan tetapi, hasil sensus penduduk maupun survei akhir-akhir ini, misalnya Sensus Penduduk 2010 dan SDKI 2007, menunjukkan kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 misalnya menunjukkan bahwa TFR mengalami stagnasi. Demikian juga halnya dengan hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 yang secara nasional menunjukkan TFR dalam keadaan stalling. Hasil lain dari SP 2010 menunjukkan bahwa angka pertumbuhan penduduk meningkat dibandingkan dengan SP tahun 2000 meskipun peningkatannya tidak signifikan. Ada indikasi bahwa kedua hal tersebut berkaitan: stagnasi atau peningkatan TFR telah menjadi penyebab peningkatan pertumbuhan penduduk, me- ngingat bahwa secara nasional migrasi dianggap tidak berpengaruh terhadap perubahan jumlah penduduk. Jika hal ini berlangsung terus, dikhawatirkan tujuan kebijakan kependudukan dari sisi kuantitatif untuk mencapai Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) pada tahun 2015 seperti tercantum dalam RPJMN tidak dapat dicapai. Bahkan, bukan hanya target yang telah dicanangkan tidak dapat dicapai, tetapi perubahan tersebut akan menimbulkan masalah baru, baik dibidang kependudukan maupun masalah pembangunan pada umumnya. Bagi sebagian pengambil kebijakan, pertumbuhan penduduk yang meningkat dianggap tidak merisaukan. Akan tetapi, bagi sebagian yang lain, pertumbuhan penduduk yang meningkat dianggap sebagai salah satu hambatan dalam mencapai tujuan pembangunan secara luas. Sebagai salah satu ilustrasi, perubahan jumlah penduduk akan mempengaruhi BBBBBABABABABAB Pendahuluan 1 BBBBBABABABABAB GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 1
  14. 14. 2 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 demand yang kemudian harus dipenuhi oleh sektor lainnya, misalnya penyediaan kebutuhan dasar manusia, yaitu papan, pangan dan pakaian. Kekhawatiran banyak or- ang tentang keamanan pangan misalnya, secara langsung berhubungan dengan peningkatan jumlah penduduk yang tidak terkontrol. Demikian juga halnya dengan kebutuhan dasar lainnya. Memang hubungan antara keduanya tidak bersifat eksklusif karena ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kompleksitas hubungan, yaitu tehnologi dan orgarnisasi. Akan tetapi aspek kependudukan merupakan aspek penting dalam pembangunan, dan tidak dapat diabaikan. Salah satu isu penting lainnya yang terkait dengan perkembangan kuantitas penduduk di Indonesia adalah perubahan komposisi penduduk, khususnya menurut umur. Dengan tren perubahan komposisi penduduk menurut umur di masa lalu, diperkirakan Indone- sia akan mencapai tahap windows of opportunity tahun 2030-an. Hal ini hanya akan terjadi jika pengelolaan kuantitas penduduk, khususnya fertilitas, dilakukan dengan benar. Jika tidak, maka tahap tersebut akan terlewatkan dan Indonesia akan kehilangan momen- tum untuk mengakselerasi percepatan pencapaian tujuan pembangunan nasional. Tahap windows of opportunity ditandai dengan angka ketergantungan yang paling rendah dalam perkembangan perubahan komposisi penduduk menurut umur. Kondisi tersebut disertai dengan besarnya jumlah penduduk usia produktif, menurunnya jumlah penduduk usia anak-anak, dan meningkatnya jumlah penduduk lansia. Tahap ini merupakan kesempatan yang hanya datang sekali dan harus direspons dengan kebijakan yang memadai agar opportunity berubah menjadi bonus demografi. Jika tahap ini terjadi dan tidak ada intervensi yang tepat, maka kesempatan tersebut akan berubah menjadi disas- ter. Dengan cara berpikir tersebut, maka seharusnya telah disusun suatu arah dan penahapan pencapaian pembangunan kuantitas yang mampu mendorong terealisasinya tahap tersebut. Selain persoalan yang terkait dengan pertumbuhan dan komposisi penduduk, Indone- sia masih dihadapkan pada masalah ketimpangan distribusi penduduk, antara Jawa dan luar Jawa, atau antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur. Demikian juga halnya antara desa dan kota. Persolan ketimpangan distribusi penduduk pada dasarnya erat kaitannya dengan persoalan lingkungan. Di satu pihak ketimpangan distribusi penduduk melahirkan persoalan overpopulation yang ditunjukkan oleh, diantaranya, adalah kepadatan penduduk dan tekanan penduduk, di pihak lain muncul persoalan optimalisasi sumber daya alam, khususnya di daerah yang kaya sumber daya alam tetapi jumlah penduduknya sedikit. Persoalan kependudukan yang dihadapi Indonesia menjadi lebih kompleks karena selain masalah kuantitas, juga dihadapkan pada persoalan kualitas penduduk (terutama bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan pemerataan ekonomi). Contoh yang paling jelas
  15. 15. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 3 adalah rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia jika dibandingkan denganIPMdinegaratetanggaASEAN.Indonesiasemakinjauhtertinggaldenganbeberapa negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Permasalahan kuantitas dan kualitas penduduk pada akhirnya bukan hanya menggambarkan persoalan kependudukan, tetapi lebih dari itu, persoalan tersebut merupakan permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi Indonesia. Hal tersebut berkaitan juga dengan pemikiran secara konseptual bahwa hubungan antara kependudukan dan pembangunan ekonomi bersifat resiprokal (atau timbal balik). Dari satu sisi, ketika variabel kependudukan diletakkan sebagai variabel bebas, maka setiap intervensi untuk mengatasi permasalahan kependudukan tersebut akan memberikan kontribusi untuk mengatasi masalah pembangunan lainnya. Sementara itu, perubahan lingkungan strategis, baik pada skala internasional maupun internal, telah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika kebijakan kependudukan di Indonesia. Pada skala internasional, kesepakatan internasional, baik hasil dari ICPD di Kairo tahun 1994, MDGs, dan juga kesepakatan internasional lainya, telah menyebabkan perubahan orientasi kebijakan kependudukan juga. Sebagai contoh, prinsip-prinsip ICPD yang belum sepenuhnya tertuang dalam UU No. 10 Tahun 1992 menjadi salah satu pertimbangan penting dilakukannya amandemen UU tersebut yang kemudian menjadi UU No. 52 Tahun 2009. Arah kebijakan pembangunan kependudukan dan hasil ICPD yang menekankan pentingnya hak dan kesehatan reproduksi telah mewarnai program keluarga berencana di Indonesia pasca-ICPD. Selain itu, Indonesia memiliki komitmen untuk mengadopsi 20 tahun Plan of Action (PoA) ICPD yang mencakup tujuan penting kebijakan penduduk dan pembangunan, yaitu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development), pendidikan, kesetaraan gender, penurunan kematian maternal, anak dan bayi, peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk keluarga berencana dan kesehatan seksual. Kesepakatan hasil MDGs tahun 2000 berpengaruh sangat penting dalam mengarahkan pembangunan kependudukan. Target yang tertuang dalam MDGs, menjadi rujukan pokok penentuan indikator pencapaian pembangunan kependudukan sampai dengan saat ini. Bukan hanya dalam konteks pembangunan kependudukan, arah kebijakan pembangunan secara umum juga sangat diwarnai dan dipengaruhi MDGs. Sementara itu, dalam skala nasional ada dua aspek penting yang perlu dicatat. Pertama adalah perubahan pemerintahan dari Orde Baru ke Orde Reformasi yang diawali dengan krisis multidimensional tahun 1998. Krisis ekonomi telah menyebabkan menurunnya kemampuan ekonomi pemerintah untuk mendukung kebijakan kependudukan, khususnya program keluarga berencana, sebagaimana dilakukan pada masa Orde Baru.
  16. 16. 4 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Krisis politik telah memengaruhi fokus perhatian pemerintah yang lebih pada kebijakan politk. Oleh karena itu kebijakan kependudukan di tahun-tahun awal reformasi terabaikan. Kedua, sejalan dengan perubahan pemerintahan tersebut, pemerintah melaksanakan otonomi daerah yang memberikan kekuasaan lebih besar kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menyusun, melaksanakan, serta melakukan moni- toring dan evaluasi pembangunan, termasuk di dalamnya kebijakan kependudukan. Seperti halnya yang terjadi di pusat, pemerintah kabupaten/kota lebih memfokuskan pada pembangunan politik dan ekonomi serta cenderung mengabaikan pembangunan kependudukan. Akibatnya adalah komitmen politik menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya. Oleh banyak kalangan, hal ini diklaim sebagai salah satu faktor yang ikut memengaruhi penurunan kinerja kebijakan kependudukan di Indonesia. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut di atas, diperlukan suatu acuan bagi pembangunan kependudukan di masa mendatang, baik dari sisi kebijakan umum dalam bentuk Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK). Hal ini merupakan tindak lanjut atau operasionalisasi Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Usaha untuk menyusun GDPK diawali oleh Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat dengan melibatkan semua pemangku kepentingan yang terkait dengan kebijakan kependudukan melalui pembentukan kelompok kerja (working group). Melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. 27 Tahun 2011 tentang penyusunan Grand Design terkait Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035 telah terbentuk lima kelompok kerja untuk menyusun GDPK yang masing-masing bertanggung jawab untuk menyusun grand design termasuk roadmap pembangunan kependudukan. Kelima kelompok kerja tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kelompok Kerja Bidang Pengendalian Kuantitas Penduduk (Kelompok Kerja I) 2. Kelompok Kerja Bidang Peningkatan Kualitas Penduduk (Kelompok Kerja II) 3. Kelompok Kerja Bidang Pembangunan Keluarga (Kelompok Kerja III) 4. Kelompok Kerja Bidang Penataan Persebaran dan Pengaturan Mobilitas Penduduk (Kelompok Kerja IV) 5. Kelompok Kerja Bidang Pembangunan Database Kependudukan (Kelompok Kerja V) Kelima kelompok kerja tersebut telah bekerja secara maksimal dan telah menghasilkan draf konsep grand design. Hasil dari kelima kelompok kerja tersebut merupakan sumber utama dalam penyusunan GDPK pembangunan kependudukan ini. Dengan kata lain, dokumen GDPK ini merupakan integrasi dan penyempurnaan hasil kerja dari kelima kelompok kerja. Diharapkan dokumen GDPK ini dapat menjadi landasan dan acuan bagi perumusan pro- gram atau kegiatan operasional untuk mengatasi permasalahan kependudukan di Indonesia serta mengintegrasikannya dengan dokumen pembangunan yang lainnya.
  17. 17. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 5 GDPK merupakan arahan kegiatan dalam tahapan lima tahunan pembangunan kependudukan Indonesia dengan melihat target pencapaian sampai dengan tahun 2035. Dengan demikian, dalam dokumen ini dicantumkan pula roadmap yang berisi kebijakan yang diperlukan untuk tiap lima tahunan sampai tahun 2035 sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas langkah-langkah yang perlu diambil oleh setiap kementerian/ lembaga dalam mendukung implementasi pembangunan kependudukan di Indonesia. Selain itu, penyusunan GDPK juga memerhatikan beberapa dokumen yang telah ada terlebih dulu, misalnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), dan Masterplan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI), Serta yang tidak kalah pentingnya adalah acuan regulasi yang terkait dengan kependudukan. Diharapkan dengan menggunakan referensi tersebut, GDPK yang dihasilkan merupakan dokumen yang komprehensif, akomodatif, dan terstruktur. 1.2. Dasar Hukum Beberapa peraturan yang menjadi dasar dalam penyusunan Grand Design Pembangunan Kependudukan adalah sebagai berikut. 1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (Pembukaan, Pasal 28B, pasal 33, dan pasal 34) 2. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Perkawinan 3. Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian 5. Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia 6. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) 7. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 9. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 10. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan 11. Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) 12. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan Pembangunan Nasional 13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri 14. Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI 15. Undang Undang No 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan 16. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 17. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang 18. Undang-Undang No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial
  18. 18. 6 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 19. Undang-UndangNo. 32 Tahun 2009TentangPerlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 20. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian 21. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009TentangKesehatan 22. Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga 23. Undang-Undang No. 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin 24. Undang-Undang No. 35 tahun 2010 tentang Narkotika 25. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 Tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; 26. Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. 27. Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional; 28. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional 29. Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2010 tentang Pembangunan yang Berkeadilan 1.3.Visi: “Terwujudnya penduduk yang berkualitas sebagai modal pembangunan untuk mencapai Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan sejahtera”. Penekanan visi pada pembangunan kualitas penduduk adalah jawaban kunci terhadap terjadinya “windows of opportunity” sehingga “bonus demografi” dapat dimanfaatkan sebagai modal dasar pembangunan. Dalam rangka mencapai visi tersebut, GDPK memiliki misi: 1.4. Misi: 1. Menempatkan aspek kependudukan sebagai titik sentral pembangunan dan mengintegrasikan kebijakan kependudukan ke dalam kebijakan pembangunan sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup 2. Mendorong tercapainya jejaring (networking) kebijakan antarpemangku kepentingan di tingkat pusat maupun daerah dalam membangun tata kelola kependudukan untuk mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan 3. Menciptakan sinkronisasi antarberbagai peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah di tingkat pusat dan daerah tentang kependudukan 4. Memfasilitasi perkembangan kependudukan ke arah yang seimbang antara jumlah, struktur, dan persebaran penduduk dengan lingkungan hidup, baik yang berupa daya dukung alam maupun daya tampung lingkungan serta kondisi perkembangan sosial dan budaya 5. Mengintegrasikan kegiatan ekonomi secara sinergis antara wilayah pertumbuhan
  19. 19. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 7 dengan wilayah perdesaan menjadi suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang mampu menarik gerak keruangan penduduk yang aman, nyaman, cepat, dan terjangkau 6. Membangun potensi dan sinergi aktor kependudukan, baik pada level individu, keluarga maupun masyarakat untuk meningkatkan kualitas penduduk yang mendukung pembangunan berkelanjutan 7. Membangun keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, dan harmonis yang berkeadilan dan berkesetaraan gender serta mampu merencanakan sumber daya keluarga dan jumlah anak yang ideal 8. Mewujudkan migrasi tenaga kerja internal dan internasional secara terarah, tertib, teratur, dan terlindungi 9. Membuka peningkatan partisipasi masyarakat dan transparansi kebijakan dalam membangun tata kelola kependudukan yang berpusat pada manusia, termasuk membangun sistem informasi dan data kependudukan yang transparan dan akuntabel 10. Membangun kesadaran, sikap, dan kebijakan bagi kesamaan hak dan kewajiban antarkelompok, termasuk kesadaran gender bagi terciptanya kehidupan yang serasi, selaras, dan seimbang demi tercapainya tujuan-tujuan pembangunan Sementara itu, arah kebijakan dari GDPK dapat dirumuskan adalah: 1.5. Arah Kebijakan: 1. Pembangunan kependudukan yang menggunakan pendekatan hak asasi sebagai prinsip utama 2. Pembangunan kependudukan yang mengakomodasi partisipasi semua pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat, daerah maupun masyarakat 3. Pembangunan kependudukan yang mendasarkan penduduk sebagai titik sentral pembangunan, yaitu penduduk sebagai pelaku (subjek) maupun penikmat (objek) pembangunan 4. Pembangunan kependudukan yang mampu menjadi bagian dari usaha untuk mencapai pembangunan berkelanjutan 5. Pembangunan kependudukan yang mampu menyediakan data dan informasi kependudukan yang valid dan dapat dipercaya Arah kebijakan ini seterusnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan GDPK sebagai berikut: 1.6. Tujuan 1. Tujuan utama pembangunan kependudukan adalah tercapainya kualitas penduduk yang tinggi sehingga mampu menjadi faktor penting dalam mencapai kemajuan bangsa. Hal itu dilakukan melalui pencapaian tujuan sebagai berikut.
  20. 20. 8 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 1.1 Tujuan Pembangunan Kependudukan Selama 2011-2035 Penduduk berkualitas sebagai modal pembangunan untuk mencapai Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan sejahtera Peningkatan Kualitas Penduduk Pengembangan Sistem Informasi Data Kependudukan yang berkualitas dan terintegrasi PengelolaanKuantitas penduduk PengarahanMobilitas Penduduk PembangunanKeluarga 1.7. Sasaran 1. Terwujudnya pembangunan berwawasan kependudukan yang berdasarkan pada pendekatan hak asasi untuk meningkatkan kualitas penduduk dalam rangka mencapai pembangunan berkelanjutan 2. Pencapaian windows of opportunity melalui pengelolaan kuantitas penduduk dengan cara pengendalian angka kelahiran, penurunan angka kematian, dan pengarahan mobilitas penduduk 3. Keluarga berkualitas yang memiliki ciri ketahanan sosial, ekonomi, budaya tinggi serta mampu merencanakan sumber daya keluarga secara optimal 4. Pembangunan database kependudukan melalui pengembangan sistem informasi data kependudukan yang akurat, dapat dipercaya, dan terintegrasi a. mewujudkan tercapainya tahap windows of opportunity melalui pengelolaan kuantitas penduduk yang berkaitan dengan jumlah, struktur/komposisi, pertumbuhan, dan persebaran penduduk b. mewujudkan keseimbangan sumber daya manusia dan lingkungan melalui pengarahan mobilitas penduduk serta pengelolaan urbanisasi c. mewujudkan keluarga yang berketahanan, sejahtera, sehat, maju, mandiri, dan harmonis yang berkeadilan dan berkesetaraan gender serta mampu merencanakan sumber daya keluarga 2. Terwujudnya data dan informasi kependudukan yang akurat (valid) dan dapat dipercaya serta terintegrasi melalui pengembangan sistem informasi data kependudukan Secara konseptual, tujuan pembangunan kependudukan selama 2011-2035 dapat digambarkan sebagai berikut:
  21. 21. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 9 Kondisi Kependudukan Indonesia Saat Ini 2.1. Kuantitas Penduduk Dalam banyak tulisan disebutkan bahwa salah satu masalah kependudukan klasik di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dan saat ini menduduki peringkat keempat tertinggi di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Berdasarkan asumsi bahwa jumlah yang besar tanpa disertai dengan kualitas yang memadai akan menjadi “beban” pembangunan, maka kebijakan pengendalian pertumbuhan penduduk memperoleh justifikasinya. Pada waktu yang bersamaan, kebijakan tersebut disertai dengan usaha untuk meningkatkan kualitas penduduk dalam rangka mengubah “beban” menjadi “aset” pembangunan. 2 BBBBBABABABABAB GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 9
  22. 22. 10 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Grafik 2.1. Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2000-2010 menurut Provinsi Sumber: SP 2000 dan 2010, BPS, Statistik Indonesia 2011 Kebijakan pengendalian pertumbuhan penduduk di Indonesia telah menunjukkan hasil yang ditandai dengan penurunan laju pertumbuhan penduduk. Pada periode 1971-1980 pertumbuhan penduduk Indonesia tercatat 2,32 persen kemudian menurun menjadi 1,97 persen pada periode 1980-1990. Sepuluh tahun berikutnya, 1990-2000, angka tersebut turun menjadi 1,45 persen. Akan tetapi, pada periode berikutnya ada kecenderungan pertumbuhan penduduk justru naik, yaitu menjadi 1,49 persen, dengan jumlah penduduk sebesar 237,6 juta jiwa.
  23. 23. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 11 Terlepas dari kontroversi yang ada, kecenderungan bahwa angka pertumbuhan penduduk tahun 2000-2010 tidak menurun seperti yang diharapkan merupakan alarm bagi kebijakan pengendalian pertumbuhan penduduk di Indonesia. Dengan melihat tren yang terjadi tahun-tahun sebelumnya, diperkirakan tahun 2000-2010 pertumbuhan penduduk mencapai 1,27 persen dengan jumlah penduduk tahun 2010 sebesar 234,2 juta jiwa. Dengan demikian, hasil Sensus Penduduk tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan. Jumlah penduduk tahun tersebut menunjukkan sekitar 3,5 juta yang lebih besar 0,4 persen daripada proyeksi atau perkiraan dan pertumbuhan penduduk selama periode 2000-2010. Gambar 2.2. Piramida Penduduk Indonesia Tahun 1971 dan 2010 Sumber: Hasil Sensus Penduduk BPS, Tahun 2010, www.sp2010.bps.go.id Satu hal yang perlu dicatat adalah angka pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak homogen. Terdapat disparitas angka pertumbuhan menurut provinsi dan dalam konteks kebijakan kependudukan, hal ini harus menjadi perhatian tersendiri. Sebagai ilustrasi, pada umumnya angka pertumbuhan penduduk di provinsi-provinsi di Jawa lebih rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya di luar Jawa. Namun karena jumlah penduduk sangat besar di Jawa, maka pertumbuhan penduduk yang rendah di wilayah ini akan memberikan tambahan jumlah penduduk yang besar. Sebaliknya, di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur, dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit walaupun angka
  24. 24. 12 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 pertumbuhan penduduk lebih tinggi, kontribusi terhadap pertambahan jumlah penduduk secara absolut juga kecil. Dari sisi komposisi penduduk, telah terjadi perubahan yang cukup mencolok selama periode 1971-2010. Gambar 2.2 memperlihatkan bahwa tahun 1971 bentuk piramida penduduk Indonesia termasuk tipe ekspansif. Hal ini ditandai dengan bagian dasar (kelompok anak-anak) yang jauh lebih lebar dibandingkan dengan usia di atasnya. Di pihak lain bagian atas yang menunjukkan usia lansia cenderung mengecil sejalan dengan meningkatnya umur. Bentuk ini berubah secara drastis tahun 2010. Bagian bawah, yaitu pada kelompok 0-5 tahun, lebih rendah dibandingkan dengan usia 10-14 tahun serta pada waktu yang bersamaan usia produktif di tengah cembung dan kelompok lansia semakin membesar. Penduduk Indonesia dapat dikategorikan sebagai penduduk menengah karena memiliki umur me- dian sebesar 27,2 tahun, yaitu pemusatan penduduk terjadi pada kelompok umur 25-29 tahun. Pada 1971, penduduk Indonesia termasuk dalam kategori penduduk muda dengan umur media sebesar 18,5 tahun. Secara keseluruhan, tahun 2010 provinsi-provinsi di Indonesia mempunyai umur media kategori “muda”, kecuali empat provinsi yang termasuk kategori “tua”, yaitu DI Yogyakarta, Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Perubahan bentuk piramida ini sekaligus menggambarkan suatu proses demografi yang telah berlangsung selama hampir 40 tahun terakhir, yaitu perubahan fertilitas, kematian. dan mobilitas penduduk. Semakin mengecilnya penduduk usia anak-anak menggambarkan penurunan angka fertilitas dan meningkatnya penduduk usia lansia merupakan implikasi dari meningkatnya usia harapan hidup yang merupakan konsekuensi dari menurunnya angka kematian. Sementara itu, secara nasional angka migrasi tidak memengaruhi struktur penduduk secara signifikan sehingga kelompok usia produktif yang meningkat merupakan konsekuensi logis dari baby boom yang terjadi di masa-masa setelah kemerdekaan. Aspek lain yang penting untuk dibahas dari sisi komposisi penduduk adalah perubahan rasio ketergantungan. Pada 1971 tercatat rasio ketergantungan di Indonesia sangat tinggi, Jumlah penduduk Indonesia sesuai dengan hasil sensus 2010 adalah 237,6 juta jiwa merupakan nomor 4 dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat; Laju pertumbuhan penduduk pada periode 1970 sampai tahun 2010 memperlihatkan bahwa selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan penduduk Indone- sia mengalami stagnasi, yaitu berkisar antara 1,4-1,5 persen per tahun; Terjadi Perubahan rasio ketergantingan dari 86,8 (1971), 79,3 (1980), 67,8 (1990), 53,8 (2000), 51,3 (2010) jika kecenderungan penurunan ini berlangsung terus, maka diharapkan Indonesia akan segera mencapai fase ketika rasio ketergantungan mencapai titik terendah, yang disebut dengan windows of opportunity.
  25. 25. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 13 yaitu 86,8. Ini berarti setiap 100 penduduk produktif menanggung 86,8 penduduk tidak produktif yang terdiri dari lansia dan anak-anak. Angka tersebut turun menjadi 79,3 tahun 1980; 67,8 tahun 1990; 53,8 tahun 2000; dan 51,3 tahun 2010. Perubahan ini merupakan gambaran bahwa jumlah penduduk usia produktif semakin meningkat relatif terhadap pertambahan jumlah penduduk usia tidak produktif. Jika kecenderungan penurunan ini berlangsung terus, maka diharapkan Indonesia akan segera mencapai fase ketika rasio ketergantungan mencapai titik terendah, yang disebut dengan windows of opportunity. Sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya, seiring dengan perubahan lingkungan strategis sejak akhir tahun 1990-an, kebijakan kependudukan di Indonesia mengalami “kemunduran” yang ditandai dengan melemahnya program keluarga berencana (KB). Salah satu indikator melemahnya program KB dapat dilihat dari pencapaian angka peserta KB (CPR) yang stagnan. Berdasarkan data dua SDKI terakhir (tahun 2002 dan 2007), CPR relatif tidak berubah, yaitu sekitar 60 persen dan angka fertilitas total (TFR) sebesar 2,4 anak per perempuan. Di sisi lain angka kebutuhan kontrasepsi tidak terpenuhi (unmet need) KB justru meningkat dari 8,6 persen (2002) menjadi 9,1 persen (2007). Seperti halnya angka pertumbuhan penduduk, terdapat disparitas pencapaian program KB antarprovinsi. Disparitas pencapaian program ini sangat besar yang, antara lain, dapat ditunjukkan dari range peserta KB yang berkisar dari 40 persen (Maluku) sampai dengan 74 persen (Bengkulu). Angka prevalensi tersebut masih didominasi oleh pemakaian jenis kontrasepsi jangka pendek (67 persen). Hal ini diperburuk dengan persoalan yang lain, yaitu tingginya kebutuhan kontrasepsi tidak terpenuhi KB (unmet demand). Seperti halnya CPR, kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi juga memiliki kesenjangan yang cukup lebar antara provinsi yang satu dengan yang lain, yaitu antara 3,2 persen (Babel) sampai dengan 22,4 persen (Maluku) (lihat SDKI 2007). Dalam waktu yang bersamaan disparitas juga terjadi untuk angka fertilitas total. Agka fertilitas total antarprovinsi tercatat memiliki gap yang cukup besar, yaitu dari 1,8 per perempuan (DIY) sampai dengan 4,2 (NTT). Disahkannya Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga merupakan dasar untuk melakukan revitalisasi kebijakan kependudukan di Indonesia. Dari sisi kelembagaan, UU tersebut memberikan kesempatan yang besar untuk mengelola kebijakan kependudukan secara memadai dengan mengubah Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, UU No. 52 Tahun 2009 mengamanatkan terbentuknya BKKBD (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah) di setiap provinsi dan kabupaten/kota. Namun sampai dengan akhir tahun 2012 hanya beberapa kabupaten/ kota yang telah membentuk BKKBD dan belum ada satu pun provinsi yang
  26. 26. 14 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 membentuknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara nasional masalah kependudukan di Indonesia dari aspek pengendalian kuantitas adalah adanya kecenderungan stagnasi kinerja pembangunan kependudukan. Disamping itu, indikator kuantitas penduduk semuanya memperlihatkan adanya disparitas antar provinsi (bahkan juga antar kabupaten/kota). Hal ini tampaknya bersumber dari belum maksimalnya kebijakan pengendalian pertumbuhan dan jumlah penduduk. 2.2 Kualitas Penduduk 2.2.1 Pendidikan a. Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk, terutama usia muda yang masih sekolah. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan, seperti pertumbuhan jumlah murid, lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. Dengan demikian, naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. Pada 2009, Indonesia menargetkan Angka Partisipasi Kasar (Gross Enrollment Rate) di Sekolah Dasar (SD) sebesar 100 persen dan 96 persen pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) (Granado, et.al., 2007). Jika dilihat dalam Tabel 2.1, tampak bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan, baik dalam Angka Partisipasi Murni (APM) maupun Angka Partisipasi Kasar (APK) di tingkat SD dan SMP. Masih menurut Granado, sejak tahun 1970, enrollment rates di Indonesia meningkat secara signifikan sebagai dampak Angka partisipasi sekolah usia 19-24 di wilayah perdesaan masih jauh dari harapan, yaitu berkisar 5,94 persen. Terdapat kesenjangan yang cukup besar Angka Melek Huruf antara laki-laki (94,79 persen) dengan perempuan (89,97 persen). Kesenjangan Angka Melek Huruf juga terjadi antara perkotaan (96,32 persen) dan perdesaan (88,33 persen). Sesuai data Riskesdas 2010, prevalensi gizi kurang dan anak pendek (stunting) yaitu masing-masing 17,9 persen dan 35,6 persen. Dimana Indonesia menempati peringkat kelima dengan jumlah anak pendek terbanyak setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan. Data yang dirilis oleh UNDP 2011 menunjukkan bahwa Angka Harapan Hidup orang Indonesia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun yaitu 57,6 (1980); 65,7 (2000); 69,4 (2011).
  27. 27. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 15 Tabel 2.1 Angka Partisipasi Sekolah Kasar dan Murni menurut Pendidikan 2000–2008 Sumber: BPS, SUSENAS. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yakni SMA, tampak bahwa APM mengalami peningkatan dari tahun 1994, yakni 33,22 persen, meningkat menjadi 39,33 persen tahun 2000 dan 43,50 persen tahun 2005 serta tahun 2010 menjadi 45,48 persen. APM untuk perguruan tinggi juga mengalami peningkatan dari 7,92 persen tahun 1994 menjadi 7,95 persen tahun 2000, kemudian 8,71 persen tahun 2005, dan terakhir tahun 2010 meningkat pesat menjadi 11,01 persen. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan APM tertinggi tercatat di tingkat SMP dan SMA. Sementara itu, untuk tingkat SD, karena telah mencapai angka yang tinggi (hampir 100 persen), maka peningkatannya paling lambat. Tabel 2.2 lebih jelas menunjukkan adanya ketidakmerataan angka partisipasi sekolah di Indonesia. Wilayah perkotaan dalam segala kelompok umur umumnya memiliki tingkat partisipasi sekolah lebih tinggi, baik jika dilihat dari jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Perbedaan paling mencolok adalah pada kelompok usia 16-18 yang umumnya menduduki Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada pendidikan ini, perbedaan dapat mencapai sekitar 20 persen. dari pembangunan sekolah di seluruh wilayah negeri. Peningkatan ini cukup menggembirakan: APM SD tahun 1975 adalah sebesar 72 persen yang meningkat secara menyeluruh. Pada 2008 APM SD telah mencapai 93,96 persen. Untuk SMP, peningkatannya lebih mencengangkan karena sejak tahun 1970 yang angkanya masih berkisar 18 persen, tahun 2008 telah mencapai 66,98 persen.
  28. 28. 16 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Hal ini menunjukkan bahwa di wilayah perdesaan lebih banyak anak tidak melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi karena cukup sulit mengakses SMA di wilayah perdesaan. Pada umumnya SMA hanya terdapat di ibukota kecamatan atau ibukota kabupaten sehingga biaya sekolah untuk transportasi dan asrama meningkat bagi siswa dari perdesaan yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Sementara itu, untuk partisipasi sekolah pada penduduk usia 19-24, perbedaan antara perdesaan dan perkotaan juga cukup tinggi. Angka partisipasi sekolah untuk usia ini di wilayah perdesaan masih jauh dari harapan, yaitu berkisar 5,94 persen. Gap antara perdesaan dan perkotaan untuk kelompok umur ini adalah berkisar 11,76 persen. Peningkatan yang cukup menggembirakan terhadap angka partisipasi murni (net enroll- ment) pada level nasional hingga mencapai 90 persen ternyata tidak terjadi secara merata. Menurut data Susenas tahun 2005, net enrollment rate terendah untuk SD adalah Papua sebesar 80 persen dan tertinggi adalah Kalimantan Tengah sebesar 95 persen. Untuk SMP, Provinsi Papua masih juga masuk dalam kategori terendah sekitar 41 persen, sedangkan tertinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tabel 2.2 Angka Partisipasi Sekolah menurut Umur, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2006 Sumber: Susenas, 2006
  29. 29. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 17 b. Angka Melek Huruf Menurut United Nation Development Program tahun 2005, angka melek huruf di Indonesia menduduki urutan ke-95, yaitu sebesar 87,9 persen. Menurut data BPS tahun 2007, anak usia 10-14 tahun yang mampu membaca dan menulis huruf latin sebesar 98,2 persen, tidak banyak perbedaan yang besar antara perkotaan dan perdesaan (98,8 persen dan 97,7 persen). Sementara itu, berdasarkan data Susenas, dari tahun 2000 hingga tahun 2008, jumlah penduduk yang melek huruf mengalami peningkatan dan rasio perempuan yang melek huruf lebih rendah daripada laki-laki, seperti yang tampak pada Gambar 2.3. Gambar 2.3. Melek Huruf Dewasa di Indonesia Sumber: BPS, 2000-2008. Data terakhir menurut Sensus Penduduk 2010 menunjukkan angka melek huruf di Indonesia tercatat 92,37 persen. Terdapat kesenjangan yang cukup besar antara laki- laki (94,79 persen) dengan perempuan (89,97 persen). Pada waktu yang bersamaan kesenjangan juga masih muncul antara perkotaan (96,32 persen) dan perdesaan (88,33 persen). Kesenjangan antarprovinsi ditunjukkan dengan tingginya angka melek huruf di DKI Jakarta (90,09 persen) dan rendahnya angka melek huruf di Papua (63,85 persen). 2.2.2. Kesehatan a. Angka Kematian Ada kemajuan yang konsisten pada indikator kesehatan, terutama angka kematian bayi (AKB), angka kematian balita (U5MR), dan rasio kematian ibu (AKI). Untuk semua indikator tersebut, telah terjadi penurunan secara signifikan meskipun masih di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kematian ibu menurun dari 390 per 100.000 kelahiran hidup tahun 1991 menjadi 307 per 100.000 KH tahun 2002 dan 228 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2007. Angka kematian bayi juga menurun, dari 68 per
  30. 30. 18 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 1000 KH tahun 1991 menjadi 35 per 1000 KH tahun 2002. Namun terjadi perlambatan penurunan AKB, tahun 2007 AKB hanya turun 1 point menjadi 34 per 1000 KH.Sementara itu, prevalensi gizi buruk menurun dari 25,8 persen tahun 2003 menjadi 18,4 persen tahun 2007 (lihat Gambar 2.4). Penurunan ini memang membuktikan dampak positif dari upaya pembangunan, khususnya kesehatan anak. Akan tetapi, jika dilihat pada besarnya penurunan, ada indikasi perlambatan penurunan pada era setelah desentralisasi. Pengurangan besarnya penurunan terlihat dari tingkat penurunan tahunan (ARR). Sebagai contoh, ARR untuk AKB, dan U5MR, angkanya telah turun dari tiga persen pada periode sebelum desentralisasi menjadi satu persen setelah desentralisasi. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengganggu pencapaian target MDGs. Sementara itu, angka kematian neonatal telah berkurang dari 32 per 1000 per KH tahun 1991 menjadi 19 per 1000 KH tahun 2007. Proporsi kematian neonatal jika dibandingkan dengan kematian bayi cukup tinggi yaitu 47% tahun 1991 dan terjadi peningkatan menjadi 57% tahun 2002. Namun tahun 2007, proporsi kematian neonatal turun menjadi 56% dari seluruh kematian bayi. Masih tingginya kematian kematian neonatal mencerminkan dua faktor kunci: masih tingginya persalinan di rumah dan belum optimalnya penerapan intervensi neonatal yang efektif dan tepat waktu. Gambar 2.4. Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, dan Angka Kematian Ibu 1991-2007 Sumber: SDKI 1991, 1994, 1997, 2002/2003, 2007
  31. 31. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 19 Selain isu perlambatan penurunan dan peningkatan proporsi, ada juga isu kesenjangan pencapaian antar daerah (lihat Gambar 2.5). Kesenjangan terjadi antara daerah perkotaan dan perdesaan, serta di antara berbagai status sosial ekonomi. Misalnya, angka kematian di bawah usia 5 tahun yang berkisar 22 di DI Yogyakarta dibandingkan dengan 96 di Sulawesi Barat. Angka kematian di bawah usia 5 tahun juga jauh lebih tinggi bagi anak- anak yang tinggal di daerah perdesaan (60 kematian per 1.000 kelahiran hidup) dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan (38 kematian per 1.000 kelahiran hidup). Data lainnya memperlihatkan bahwa secara nasional 46 persen kelahiran berlangsung di fasilitas kesehatan. Pada tingkat subnasional, terdapat variasi yang sangat tajam antardaerah dalam penggunaan fasilitas kesehatan untuk melahirkan, yaitu berkisar dari 91 persen di Bali sampi 8 persen di Sulawesi Selatan. Perbedaan yang sama juga terjadi antar kelompok sosial ekonomi. Jika 83 persen perempuan dalam kuintil kekayaan tertinggi melahirkan di fasilitas kesehatan, maka angka tersebut jauh lebih rendah, yaitu hanya 14 persen bagi perempuan dalam kuintil terendah. Sementara itu, persen perempuan dalam kuintil kekayaan tertinggi saat melahirkan mendapat bantuan dan hanya 65 persen dari mereka dalam kuintil terendah yang mendapat bantuan. Gambar 2.5. Angka Kematian Bayi di Indonesia Sumber: SDKI, 2007
  32. 32. 20 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 2.6. Disparitas Indeks Kematian Bayi dan Kematian Balita di Indonesia, 1991-2007 Sumber: SDKI 1991, 1994, 1997, 2002/3, 2007 Berkaitan dengan pemanfaatan fasilitas kesehatan, maka pola yang sama juga muncul. Hal itu ditunjukkan oleh fakta yang memperlihatkan 83 persen perempuan dalam kuintil kekayaan tertinggi dan hanya 14 persen perempuan dalam kuintil terendah, yang memanfaatkan fasilitas kesehatan. Sementara 34 persen perempuan dalam kuintil kekayaan tertinggi dibantu oleh dokter kandungan/ginekolog (OB/Gyn), hanya satu persen dari mereka dalam kuintil termiskin yang dibantu oleh OB/Gyn. Jika ditarik indeks kesenjangan dari dua indikator utama kesehatan anak serta tingkat kematian bayi dan balita, yaitu angka kematian jelas, tampak bahwa kesenjangan meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. b. Angka Gizi Buruk Kondisi kesehatan lain yang memengaruhi kualitas penduduk adalah masih tingginya angka gizi kurang dan gizi buruk, serta anak pendek karena ketidaksesuaian antara tinggi badan dengan usia standar (stunting) pada balita. Pada 2007 prevalensi anak balita yang mengalami gizi kurang dan pendek masing-masing 18,4 persen (dengan kasus gizi buruk sebesar 5,4 persen) dan 36,8 persen sehingga Indonesia termasuk di antara 36 negara di dunia yang memberi 90 persen kontribusi masalah gizi dunia (UN-SC on Nutrition 2008). Walaupun tahun 2010 prevalensi gizi kurang dan pendek menurun menjadi masing- masing 17,9 persen dan 35,6 persen, masih terjadi disparitas antarprovinsi yang perlu mendapat penanganan karena sifatnya yang spesifik di wilayah rawan pangan (Riskesdas, 2010). Indonesia menempati peringkat kelima dengan jumlah anak pendek terbanyak
  33. 33. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 21 setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan. Tinggi standar anak berusia 5 tahun adalah 110 cm. Namun tinggi rata-rata anak Indonesia umur lima tahun tahun 2010 diketahui lebih pendek 6,7 cm untuk anak laki-laki dan lebih pendek 7,3 cm pada anak perempuan. Gambar 2.7. Tren Prevalensi Gizi Kurang dan Gizi Buruk IndonesiaTahun 1989 – 2010 Sumber: UN-SC on Nutrition, 2008 Penyebab anak-anak bertubuh pendek adalah karena kurang gizi kronis sejak dalam kandungan. Parahnya kekurangan gizi ini banyak dipengaruhi oleh faktor kemiskinan dan kekurangtahuan orang tua sehingga anak dan ibu hamil tidak mendapat asupan gizi sesuai kebutuhan. Kurang gizi pada ibu hamil menyebabkan 11,1 persen bayi telah lahir dengan berat badan rendah, yaitu kurang dari 2.500 gram. Masalah gizi sangat terkait dengan ketersediaan dan aksesibilitas pangan penduduk. Berdasarkan data BPS, tahun 2009 jumlah penduduk sangat rawan pangan (asupan kalori <1.400 Kkal/orang/hari) mencapai 14,47 persen. Angka ini, telah meningkat dibandingkan dengan kondisi tahun 2008, yaitu 11,07 persen. Rendahnya aksesibilitas pangan (kemampuan rumah tangga untuk selalu memenuhi kebutuhan pangan bagi anggota keluarganya) mengancam penurunan konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman di tingkat rumah tangga. Pada akhirnya ini akan berdampak pada semakin beratnya masalah kurang gizi masyarakat, terutama pada kelompok rentan, yaitu ibu, bayi, dan anak.
  34. 34. 22 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 c. Angka Harapan Hidup Data yang dirilis oleh UNDP 2011 (lihat Gambar 2.8) menunjukkan bahwa Angka Harapan Hidup penduduk Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jika tahun 1980 usia harapan hidup Indonesia masih 57,6, maka tahun 2000 mengalami peningkatan menjadi 65,7. Pada 2011 rata-rata harapan hidup orang Indonesia menjadi 69,4 yang berarti sedikit di bawah rata-rata dunia, yaitu 69,8 tahun, tetapi jauh di bawah Norwegia (peringkat pertama dalam HDR 2011), yaitu 81,1 tahun. Gambar 2.8. Angka Harapan Hidup Indonesia 1980–2011 Sumber: UNDP, 2011 Angka harapan hidup Indonesia telah naik sebanyak 11,8 tahun sepanjang 1980-2011 (lihat Tabel 2.3). Viet Nam tahun 1980 memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia, tetapi tampak bahwa keadaan di Indonesia tahun 2011 jauh tertinggal dibandingkan dengan angka harapan hidup Viet Nam yang mencapai 75,2 tahun. Hal ini berarti bahwa di bidang kesehatan, pencapaian pembangunan Indo- nesia masih belum sebaik Viet Nam. Angka Harapan Hidup ini mencerminkan kondisi kesehatan seseorang dilihat dari asupan gizi, terhindar dari penyakit infeksi dengan imunisasi lengkap, cara hidup yang bersih dan sehat, kualitas pelayanan kesehatan yang baik, serta sehat mental dan perilaku. Seperti halnya dengan indikator lainnya, terdapat kesenjangan angka harapan hidup antarprovinsi. Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa angka harapan hidup tertinggi tercatat di DKI Jakarta (74,7 tahun) dan terendah di Gorontalo (63,2 tahun). Masih terdapat sembilan provinsi yang memiliki angka harapan hidup di bawah rata- rata nasional.
  35. 35. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 23 Tabel 2.3. Angka Harapan Hidup Beberapa Negara di ASEAN, 1980-2011 Sumber: www.undp/org d. Air dan Sanitasi Pada 1992, hanya 14,7 persen rumah tangga Indonesia memiliki akses terhadap air minum perpipaan, tetapi tahun 2000 jumlah ini telah meningkat menjadi 19,2 persen. Namun angka tersebut turun 14,6 persen tahun 2009. Sementara itu, jumlah rumah tangga dengan akses nonpipa pelayanan air minum, seperti sumur dan sumber air yang dilindungi, terus meningkat dari 38,2 persen tahun 1994 menjadi 43,4 persen tahun 2000 dan selanjutnya meningkat menjadi 54,1 persen tahun 2009. Dengan demikian, jumlah orang yang memiliki akses ke air minum yang aman (pipa air minum dan dilindungi nonpipa air minum) terus meningkat dari 54,4 persen tahun 1994 menjadi 68,7 persen tahun 2009. Dari data 1994 yang mencapai 54,4 persen, target MDGs telah meningkat menjadi 77,2 persen tahun 2009. Data inilah yang digunakan sebagai pengganti data lainnya. Secara umum, upaya untuk mencapai target MDGs telah berada dalam jalur yang benar. Gambar 2.9 Persentase Rumah Tangga yang Mendapatkan Air Bersih di Indonesia 2000-2008 Sumber: Susenas 2000-2008
  36. 36. 24 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 2.9 memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih selama periode 2001-2008. Namun tampak dengan jelas bahwa di awal tahun 2000-an kondisinya masih belum stabil yang terlihat dari kecenderungan penurunan selama periode 2000-2003. Kondisi membaik setelah tahun 2003 ditunjukkan oleh peningkatan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih secara konsisten. Sehubungan dengan fasilitas sanitasi dasar, proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak (yang harus memenuhi kriteria menjadi keluarga dengan jamban berventilasi dan septic tank) terus meningkat antara tahun 1995 dan 2009. Angkanya mencapai 18,2 persen tahun 1995 dan meningkat menjadi 42,5 persen tahun 2009. Gambar 2.10 memperlihatkan bahwa selama periode 2000-2008 jumlah rumah tangga dengan sanitasi yang layak meningkat secara signifikan dari 33,44 persen menjadi hampir separuh (49,54 persen). Dalam waktu yang bersamaan indeks disparitas mengalami penurunan dari 0,33 tahun 2000 menjadi 0,22 tahun 2008. Hal ini sekaligus menggambarkan perbaikan sanitasi rumah tangga, tetapi perlu juga dicatat bahwa masih terdapat 50 persen rumah tangga yang belum memiliki sanitasi yang layak. Gambar 2.10. Persentase Rumah Tangga yang Mengakses Jamban dan Septic Tank di Indonesia 2000-2008 Sumber: Susenas 2000-2008
  37. 37. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 25 2.2.3. Pendapatan per Kapita Data pada Gambar 2.11 menunjukkan bahwa GNI per kapita Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan sejak tahun 2000. Hal yang sama pula terjadi dengan kelompok negara lain di wilayah Asia Pasifik dan negara kelompok berpendapatan rendah. Dibandingkan dengan beberapa negara berkembang di Asia Pasifik, peningkatan yang dialami Indonesia relatif lebih lambat, tetapi tetap berada di atas negara berpendapatan menengah rendah. Pendapatan per kapita yang meningkat ternyata belum diimbangi dengan pemerataan. Hal ini ditandai dengan indeks gini dari 0,31 (2000) meningkat menjadi 0,41 tahun 2011. Di pihak lain, peningkatan pendapatan per kapita tersebut juga masih menyisakan persoalan lain yang cukup serius, yaitu jumlah penduduk miskin yang masih sangat besar. Gambar 2.11. Pendapatan per Kapita di Indonesia 1980-2011 (Metode Atlas, US$) Sumber: diolah dari data Bank Dunia, 2011 Gambar 2.12. Perkembangan Jumlah dan Angka Kemiskinan di Indonesia, 2004-2011 Sumber: BPS, 2011
  38. 38. 26 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Indonesia mengalami fase terburuk selama Orde baru ketika terjadi krisis ekonomi tahun 1998. Hal itu ditandai dengan angka kemiskinan yang mencapai 24,2 persen yang meningkat dari 15,1 persen tahun 1990. Pada 2011, angka kemiskinan menurun menjadi 12,4 persen. Gambar 2.12 memperlihatkan bahwa pada periode 2004-2006 terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin dan juga angka kemiskinan. Pada periode setelahnya jumlah penduduk miskin dan angka kemiskinan secara konsisten mengalami penudukan. Meskipun angka kemiskinan menurun, secara absolut jumlah penduduk miskin sangat besar, yaitu lebih dari 30 juta orang. Hal ini menjadi isu penting dalam program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Tabel 2.4 memperlihatkan bahwa terdapat kesenjangan antarpulau. Sebagai konsekuensi dari jumlah penduduk yang terkonsentrasi di Jawa, maka jumlah penduduk miskin terbesar terdapat di Jawa kemudian disusul oleh Sumatera. Akan tetapi, jika dibandingkan angka kemiskinan antarpulau, terlihat adanya pola yang berbeda. Jawa, Sumatera, dan Sulawesi adalah pulau dengan angka kemiskinan yang hampir sama, yaitu sekitar 12 persen. Kalimantan adalah pulau dengan angka kemiskinan terendah dan Maluku bersama dengan Papua adalah pulau dengan angka kemiskinan tertinggi. Tabel 2.4. Jumlah Penduduk Miskin dan Angka Kemiskinan Tahun 2011 Sumber: BPS, 2011 Indonesia juga berhasil menurunkan jumlah penduduk yang berpenghasilan kurang dari USD 1 per hari (PPP). Pada 1990 tercatat jumlah penduduk yang berpenghasilan kurang dari USD 1 per hari adalah 20,6 persen dan turun menjadi 5,9 persen tahun 2008. Sementara itu, jumlah penduduk yang berpenghasilan kurang dari USD 2 per hari menurun dari 56,1 persen tahun 2007 menjadi 46,1 persen tahun 2010. Terlepas dari penurunan ini, jumlah absolut penduduk yang berpenghasilan kurang dari USD 1 maupun USD 2 masih sangat besar.
  39. 39. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 27 Berdasarkan kriteria garis kemiskinan yang digunakan jumlah penduduk miskin sangat besar dan akan lebih besar lagi jumlahnya jika menggunakan pendekatan human capabil- ity. Banyak penduduk tidak mampu mengakses kebutuhan dan layanan dasar untuk hidup layak. Melalui 12 program penanganan kemiskinan dengan dana yang amat besar dari Rp18 trilliun (2000) yang meningkat menjadi Rp64,6 trilliun (2010), tetap saja penurunan jumlah penduduk miskin relatif lambat dibandingkan dengan peningkatan jumlah anggaran untuk penanganan kemiskinan. 2.2.4. Indeks Pembangunan Manusia Dengan memerhatikan sejumlah indikator pembangunan kualitas manusia sebagaimana telah dijelaskan di atas, implikasinya adalah pada nilai IPM Indonesia secara umum. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menurut data UNDP tahun 2009 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-108 dari 169 negara. Peringkat 108 tersebut adalah termasuk kategori medium. Peringkat ini memang belum memuaskan karena masih cukup banyak indikator pembangunan manusia yang belum mencapai hasil sebagaimana diharapkan jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, khususnya negara tetangga ASEAN. Dibandingkan dengan negara ASEAN, Indonesia berada pada urutan keenam dari 10 negara. Peringkat tersebut mengalami penurunan tahun 2011, tetapi masih masuk dalam kategori medium human development dan menduduki peringkat 124 dari 187 negara dengan nilai HDI sebesar 0,617. Nilai setiap indikator dalam HDI tersebut terdiri dari angka harapan hidup saat lahir 69,4 tahun, Adult years of schooling 5,8 tahun dan expected years of schooling 13,2 tahun; dan GNI per kapita PPP sebesar $ 3.716. Posisi Indonesia tahun 2011 ini jauh di bawah sesama negara ASEAN: Singapura (26), Brunei Darussalam (33), Malay- sia (61), Thailand (103), dan Filipina (112); serta China (101). Akan tetapi, posisi Indonessia masih lebih tinggi dibandingkan dengan Viet Nam (128), India (134), dan Timor Leste (147) . Kendati peringkat menurun, tren angka indeks sesungguhnya mengalami peningkatan secara absolut. Grafik di bawah menunjukkan bahwa IPM Indonesia tahun 1980 sebesar 0,423. Rata-rata pertumbuhan nilai HDI sebesar 1,23 persen per tahun (1980-2011). Namun khusus rata-rata pertumbuhan HDI antara periode 2000-2011 adalah sebesar 1,17 persen per tahun. Dengan demikian, selama periode 2000-2011 nilai HDI mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
  40. 40. 28 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tabel 2.5 Nilai IPM Beberapa Negara ASEAN1990-2011 Sumber: www.undp.org 2.2.5 Kondisi Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) Kondisi pencapaian pembangunan gender di Indonesia dari waktu ke waktu memperlihatkan perkembangan yang semakin membaik seperti terlihat pada Grafik 2.2. Tahun 2004 IPG secara nasional sebesar 63,94, kemudian naik menjadi 65,81 tahun 2007 dan bergerak naik lagi secara perlahan hingga menjadi 67,20 tahun 2010. Meskipun meningkat tetapi hasil yang dicapai upaya pembangunan kualitas hidup masih menguntungkan penduduk laki-laki seperti tampak pada indikator komposit yang digunakan untuk menilai kesenjangan gender, yaitu IPG menunjukkan angka yang lebih rendah dibanding IPM, yaitu selama kurun waktu 2004-2010 secara nasional IPG selalu Grafik 2.2. Perkembangan IPG Periode 2004-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011.
  41. 41. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 29 menunjukkan posisi lebih rendah dibandingkan IPM dengan rasio perbandingan antara IPG terhadap IPM pada kisaran 93 persen. Artinya, meskipun IPG selalu meningkat selama periode 2004-2010, tetap kesenjangan gender masih terjadi. Komponen IPG yang mempunyai kontribusi terhadap kenaikan IPG adalah sumber pendapatan, angka harapan hidup, angka melek huruf, dan rata-rata lama sekolah seperti dalam grafik berikut. Grafik 2.3. Perkembangan Komponen IPG, 2009-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011. Meskipun pertumbuhan komponen IPG relatif lambat namun upaya peningkatan perlu terus dilakukan untuk itu diperlukan program peningkatan kapasitas dasar yang mencakup berbagai pelayanan dasar kesehatan, maupun pendidikan, termasuk kemudian akses ekonomi yang diberikan pemerintah kepada semua penduduk, termasuk juga bidang- bidang sosial lainnya agar kualitas sumberdaya perempuan semakin membaik dan pada gilirannya kualitas hidup manusia Indonesia akan meningkat. Pertumbuhan yang lain yang perlu diperhatikan dalam melihat KKG adalah IDG. IDG dibentuk berdasarkan tiga komponen, yaitu keterwakilan perempuan dalam parlemen, perempuan sebagai tenaga profesional, teknisi, kepemimpinan dan ketatalaksanaan, dan sumbangan pendapatan.
  42. 42. 30 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tampak bahwa peranan perempuan dalam pengambilan keputusan tahun 2004 baru mencapai sebesar 59,70 persen dari peranan yang dijalankan laki-laki, kemudian meningkat menjadi 68,15 persen tahun 2010. Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011 Peranan perempuan dalam pengambilan keputusan di Indonesia yang diukur melalui IDG memperlihatkan perkembangan yang semakin membaik namun persamaan dalam peranan bagi perempuan lebih bermakna pemberdayaan perempuan yang mengandung upaya peningkatan kapabilitas perempuan untuk berperan serta dalam berbagai bentuk pengambilan keputusan serta memiliki kesempatan dalam kegiatan ekonomi secara strategis. Berikut ini adalah kondisi terkini dari komponen IDG yang menunjukkan kondisi yang menunjukkan peranan perempuan dalam pengambilan keputusan. Grafik 2.4. Perkembangan IDG Tahun 2004-2010 Tabel 2.6. Perkembangan Jumlah Anggota DPR RI, 1955-2009 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011.
  43. 43. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 31 Grafik 2.5. Penduduk 15 ke Atas Bekerja Sebagai Tenaga Profesional Kepemimpinan, Administrasi, Teknisi, 2009-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011 Grafik 2.6. Persentase PNS Perempuan, 2007-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011. Grafik 2.7. Persentase PNS yang Menduduki Jabatan Struktural, 2007-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011.
  44. 44. 32 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 2.3. Pembangunan Keluarga Sebagian besar dari 62,3 juta keluarga Indonesia masih belum mampu menjalankan peran dan fungsi keluarga secara optimal, baik fungsi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Fungsi ekonomi diharapkan dapat mendorong keluarga agar dapat membina kualitas kehidupan ekonomi keluarga, sekaligus dapat bersikap realistis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga. Fungsi pendidikan, bukan hanya berhubungan dengan kecerdasan, melainkan juga termasuk pendidikan emosional dan juga pendidikan spiritualnya. Fungsi kesehatan berintikan bahwa setiap keluarga dapat menerapkan cara hidup sehat dan mengerti tentang kesehatan reproduksinya. Termasuk di dalamnya adalah pemahaman tentang alat kontrasepsi maupun pengetahuan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi para remaja. Tidak berfungsinya sistem keluarga secara baik terutama disebabkan oleh masih banyak keluarga In- donesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, kurang sejahtera, dan kurang berketahanan sosial. Hal ini dapat dilihat dari data berikut ini. a. Hasil pendataan keluarga tahun 2010 menemukan masih terdapat Keluarga Sejahtera I dan prasejahtera atau keluarga miskin sebesar 44,8 persen. b. Data penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) Pusdatin 2009 menunjukkan fakir miskin (2,9 juta), keluarga miskin (6,9 juta), keluarga hampir miskin/rentan (7,6 juta) RTLH ( 5,9 juta), anak terlantar (3,2 juta), anak jalanan (83,776), WTS (97,403). Tabel 2.7 menunjukkan karakteristik Kepala Keluarga (KK) menurut mata pencaharian tahun 2008. Uniknya adalah KK miskin di perkotaan cukup banyak menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian (30,02 persen) dan sebanyak 14.71 persen tidak bekerja. Untuk mereka yang tinggal di pedesaan, masih menggantungkan hidupnya pada pertanian (68,99 persen). Untuk kelompok rumah tangga tidak miskin di perkotaan, lebayankan KK banyak bekerja (12,19 persen), tetapi 15.38 persen banyak yang tidak bekerja. Sebaliknya rumah tangga tidak miskin di perdesaan dominan masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian 55,2 persen dan 7,91 persen yang tidak bekerja. Hasil pendataan keluarga tahun 2010 menemukan masih terdapat Keluarga Sejahtera I dan prasejahtera atau keluarga miskin sebesar 44,8%, Sesuai dengan data penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) Pusdatin 2009 menunjukkan fakir miskin (2,9 juta), keluarga miskin (6,9 juta), keluarga hampir miskin/rentan (7,6 juta) dan RTLH ( 5,9 juta). Angka ini tergolong tinggi dan perlu usaha untuk pemberdayaan ekonomi keluarga untuk memperbaiki kondisi tersebut. Kepala Keluarga miskin di perkotaan cukup banyak menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian (30,02 persen) dan sebanyak 14.71 persen tidak bekerja, di pedesaan, masih menggantungkan hidupnya pada pertanian (68.99 persen).
  45. 45. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 33 Tabel 2.7. Karakteristik Kepala Keluarga menurut Mata Pencaharian, 2008 Sumber: Badan Pusat Statistik Dampak dari tidak berfungsinya keluarga secara optimal adalah munculnya beberapa permasalahan dari sisi internal maupun eksternal keluarga. Dari sisi internal keluarga, beberapa dampak yang teridentifikasi adalah sebagai berikut. 1. Penyikapan terhadap pola berkeluarga Sebagian keluarga belum memahami pola keluarga yang ideal sehingga ketidakpahaman ini menghambat implementasi pola keluarga ideal. 2. Pemenuhan hak dasar keluarga Pemenuhan hak dasar keluarga, seperti partisipasi dalam pendidikan serta akses terhadap pelayanan kesehatan, perumahan, dan sosial, belum sepenuhnya tercapai. 3. Berkaitan dengan ketahanan keluarga • Rendahnya tingkat partisipasi keluarga terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial • Adanya konflik antarkelompok di beberapa daerah • Rendahnya partisipasi keluarga untuk terlibat dalam kegiatan organisasi di masyarakat • Rendahnya kemampuan keluarga dalam memelihara kearifan lokal dan dalam mengelola sumber daya Dampak eksternal keluarga yang dapat dicatat adalah sebagai berikut. 1. Daya dukung lingkungan Pertambahan penduduk yang tidak terkendali menyebabkan daya dukung lingkungan berkurang, seperti beralih fungsinya lahan produktif (sawah dan perkebunan) untuk permukiman dan makin berkurangnya ketersediaan air bersih. Penduduk yang bertambah mengakibatkan mobilitas yang tinggi dan meningkatkan jumlah alat transportasi. Hal ini menyebabkan pencemaran udara yang akan berpengaruh pada gangguan kesehatan. Pertambahan penduduk meningkatkan jumlah limbah rumah
  46. 46. 34 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 tangga/industri dan sampah sehingga meningkatkan pencemaran lingkungan yang akan menyebabkan gangguan kesehatan. 2. Penyikapan terhadap program yang prokeluarga. Kebijakan dan program pendukung kesejahteraan keluarga yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat belum terintegrasi dan terkoordinasi. 2.4. Persebaran dan Mobilitas Penduduk MasalahkependudukanklasikdiIndonesia,selainjumlah penduduk yang besar, adalah persebaran penduduk yang tidakmerata,baikantarpulau,provinsimaupunantardesa dan kota. Kesenjangan pembangunan antarwilayah merupaan salah satu penyebab terjadinya permasalahan persebaran penduduk. Kesenjangan tersebut akan memengaruhi pola, arah, dan tren mobilitas penduduk. Kecenderungannya adalah arus mobilitas penduduk berasal dari daerah yang belum maju menuju ke daerah yang lebih maju. Di pihak lain, mobilitas penduduk semakin meningkat seiring dengan peningkatan sarana dan prasarana transportasi, komunikasi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi. Beberapa faktor tersebut turut menjadi penentu arah, arus, dan volume mobilitas penduduk dari daerah-daerah padat penduduk, seperti Jawa, Bali, dan NTB, ke beberapa wilayah perkembangan ekonomi baru, seperti Sumatera, Kalimantan, dan Kawasan Timur In- donesia. Hal ini seiring dengan peningkatan secara signifikan perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Namun perlu dicermati pula adanya arus balik mobilitas penduduk dari wilayah-wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia timur ke Jawa, khususnya kaum terpelajar dan kaya dari beberapa daerah tersebut. Di samping itu, ada pula penurunan jumlah migrasi atau mobilitas penduduk kelas menengah ke bawah dari Jawa ke luar Jawa akibat kebijakan-kebijakan dan kondisi daerah tujuan yang kurang kondusif. Data menunjukkan bahwa tahun 1970, sekitar 65 persen penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Hasil Sensus Penduduk tahun 1980 menunjukkan 62 persen penduduk yang ada masih berkonsentrasi di Pulau Jawa dan untuk periode dua sensus selanjutnya (1990 dan 2000) masih sekitar 60 persen penduduk tinggal di Pulau Jawa. Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan sedikit penurunan, yaitu Pulau Jawa masih dihuni oleh Pulau Jawa yang luasnya 6,8% dihuni oleh 57,5% penduduk, sementara 5 Pulau lain (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua) yang luasnya 89,5% dihuni oleh 37% penduduk. Dalam konteks ini persebaran penduduk menjadi hal penting dalam rangka mendukung keberhasilan MP3EI, terutama dikaitkan dengan kualitas penduduk. Ketidakseimbangan pembangunan antara desa dan kota, sebagai akibat dari urban bias policy, telah menyebabkan terjadinya migrasi dari desa ke kota yang mengakibatkan tingkat urbanisasi meningkat dengan cepat.
  47. 47. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 35 Gambar 2.13. Profil Persebaran Penduduk Tahun 1930 – 2010 Sumber: BPS, 2011 Keterangan: Untuk persebaran penduduk Indonesia dari tahun 1930 – 2010, penduduk di Pulau Jawa mengalami penurunan walaupun tidak terlalu signifikan (dari 69 persen menjadi 58 persen). Sementara itu, penduduk yang berdomisili di luar Pulau Jawa mengalami kenaikan dari 39 persen menjadi 42 persen. Gambar 1.14 dan 1.15 menunjukkan ketidakseimbangan persebaran penduduk yang disebabkan oleh terkonsentrasinya kota-kota metropolitan dan kota-kota besar di wilayah Jawa-Bali dan Sumatera. Hanya sedikit kota besar di luar kedua pulau besar ini, yaitu sebagian di Kalimantan dan Sulawesi. Kota metropolitan kategori besar dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta orang adalah Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Kota metropolitan kategori kecil dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta orang adalah Palembang, Semarang, dan hanya satu kota di Kawasan Timur Indonesia, yakni Makassar. Wilayah Indonesia Timur biasanya hanya berada pada kategori kota sedang. Memusatnya keberadaan kota metropolitan dan kota besar di Jawa-Bali dan Sumatera ini berdampak pada terkonsetrasinya penduduk yang lebih besar di kedua pulau tersebut. sekitar 58 persen penduduk Indonesia. Dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia, Pulau Sumatera yang luasnya 25,2 persen dihuni oleh 21,3 persen penduduk, Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Kalimantan yang luasnya 28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Sulawesi yang luasnya 9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk, dan Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk.
  48. 48. 36 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 2.14. Peta Persebaran Kategori Kota Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Keterangan: Kondisi Kota MetropolitanAktual (penduduk > 1 juta) tahun 2010 adalah Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang digolongkan sebagai kota metropolitan besar. Kemudian kota metropolitan kecil adalah Palembang dan Semarang. Jumlah migran risen terus meningkat dari waktu ke waktu. Migran risen adalah penduduk pada lima tahun terakhir mempunyai tempat tinggal yang berbeda (baik provinsi, kabupaten atau kota). Hasil Sensus Penduduk 2010 mencatat 5,396 juta jiwa penduduk atau 2,5 persen penduduk merupakan migran masuk risen antarprovinsi. Persentase migran risen di daerah perkotaan tiga kali lipat lebih besar daripada migran risen di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 3,8 dan 1,2 persen. Menurut jenis kelamin, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan, 2,83 juta jiwa berbanding 2,6 juta jiwa. Seks rasio migran risen adalah 110,3. Data tersebut menunjang teori bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak melakukan perpindahan. Beberapa provinsi merupakan daerah tujuan migran adalah Kepulauan Riau, Papua Barat, dan DI Yogyakarta. Daerah-daerah ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi migran. Pada umumnya alasan utama pindahnya para migran ini adalah karena pekerjaan, mencari pekerjaan, atau sekolah. Seperti halnya migran risen, jumlah migran seumur hidup juga meningkat dari waktu ke waktu. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 mencatat 27.975.612 penduduk atau 11,8 persen penduduk merupakan migran masuk seumur hidup antarprovinsi. Persentase
  49. 49. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 37 migran seumur hidup di daerah perkotaan hampir tiga kali lipat daripada migran seumur hidup di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 17,2 dan 6,3 persen. Menurut jenis kelamin, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan: 14.736.632 berbanding 13.238.980 orang. Rasio jenis kelamin migran seumur hidup adalah 111,3. Data tersebut menunjang teori bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak melakukan perpindahan. Beberapa provinsi merupakan daerah tujuan migran adalah Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur. Daerah tersebut mempunyai daya tarik tersendiri bagi migran. Pada umumnya alasan utama pindahnya para migran ini adalah karena pekerjaan, mencari pekerjaan, atau melanjutkan sekolah. Indonesia mengalami peningkatan urbanisasi yang cukup pesat. Pada 1990, urbanisasi atau daerah yang dikategorikan daerah urban masih berjumlah sekitar 30 persen, meningkat terus menjadi 42 persen tahun 2000, dan meningkat lagi menjadi 54 persen pada Sensus Penduduk tahun 2010. Gambar 2.15. Peta Ketimpangan Populasi dan Ekonomi Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Keterangan: Luas Pulau Jawa adalah sekitar 7 persen dari seluruh luas daratan Indonesia dan ditempati sekitar 60 persen penduduk Indonesia (2010). Kontribusi Pulau Jawa terhadap Produk Domestik Regioal Bruto Nasional adalah 59 persen.
  50. 50. 38 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Hubungan antara migrasi dan ketimpangan pembangunan ekonomi antarwilayah bersifat resiprokal. Di satu pihak pola migrasi seperti yang telah disebutkan di atas menyebabkan ketimpangan ekonomi antardaerah. Akan tetapi, ketimpangan ekonomi antarwilayah dapat memengaruhi volume dan arah migrasi. Oleh karenanya, dalam pengelolaan migrasi, sifat hubungan seperti ini harus menjadi perhatian. Pola kesenjangan ekonomi wilayah di Indonesia secara umum dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Wilayah Jawa dan Bali • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 62 persen PDRB 62,00 • Pertumbuhan ekonomi: 5,89 persen PE 5,89 • Pendapatan per kapita: Rp11,27 juta PPK 11,27 • jumlah penduduk miskin: 20,19 juta jiwa (12,5 persen) JPM 12,50 2. Wilayah Sumatera • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 21,55 persen PDRB 21,55 • Pertumbuhan ekonomi: 4,65 persen PE 4,56 • Pendapatan per kapita: Rp 9,80 juta PPK 9,80 • Jumlah penduduk miskin: 7,3 juta jiwa (14,4 persen) JPM 14,40 3. Wilayah Kalimantan • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 8,83 persen PDRB 8,83 • Pertumbuhan ekonomi: 5,26 persen PE 5,26 • Pendapatan per kapita: Rp13,99 juta PPK 13,99 • Jumlah penduduk miskin: 1,21 juta jiwa (9 persen) JPM 9,00 4. Wilayah Sulawesi • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 4,6 persen PDRB 4,60 • Pertumbuhan ekonomi: 7,72 persen PE 7,72 • Pendapatan per kapita: Rp. 4,98 juta PPK 4,98 • Jumlah penduduk miskin: 2,61 juta jiwa (17,6 persen) JPM 17,60 5. Wilayah Papua • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 1,28 persen PDRB 1,28 • Pertumbuhan ekonomi: 0,6 persen PE 0,60 • Pendapatan per kapita: Rp. 8,96 juta PPK 8,96 • Jumlah penduduk miskin: 0,98 juta jiwa (36,1 persen) JPM 0,98 6. Wilayah Maluku • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 0,32 persen PDRB 0,32 • Pertumbuhan ekonomi: 4,94 persen PE 4,94 • Pendapatan per kapita: Rp. 2,81 juta PPK 2,81 • Jumlah penduduk miskin: 0,49 juta jiwa (20,5 persen) JPM 20,50
  51. 51. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 39 Gambar 2.16. Kesenjangan Ekonomi Wilayah di Indonesia Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Secara spasial ketimpangan ekonomi di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.16. Data dan gambar tersebut menunjukkan bahwa Jawa dan Bali masih merupakan pusat pertumbuhan. Kontribusi Jawa dan Bali terhadap PDB sangat dominan, yaitu hampir dua pertiga. Pulau lain yang memiliki kontribusi terhadap PDB terbesar kedua adalah Sumatera, yaitu sekitar 20 persen, disusul oleh Kalimantan dengan sekitar delapan persen. Pulau-pulau lainnya memiliki kontribusi yang sangat rendah, bahkan kontribusi Maluku kurang dari satu persen. Memerhatikan hal ini tidak aneh jika kemudian arus migrasi cenderung ke Jawa Bali dan juga ke Sumatera. Namun ada hal menarik yang dapat menjadi dasar dalam pengarahan mobilitas penduduk di masa depan. Sulawesi memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi. Hal ini merupakan 7. Wilayah Nusa Tenggara • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 1,42 persen PDRB 1,42 • Pertumbuhan ekonomi: 3,5 persen PE 3,50 • Pendapatan per kapita: Rp. 3,18 juta ; PPK 3,18 • Jumlah penduduk miskin: 2,17 juta jiwa (24,8 persen) JPM 24,80
  52. 52. 40 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 potensi dan jika didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai, maka di masa depan Sulawesi akan memiliki peran ekonomi lebih besar. Tren mobilitas penduduk di Indonesia pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, yakni kebijakan ekonomi makro, kebijakan politik nasional, gaya hidup, dan globalisasi. Kebijakan ekonomi makro pada era Orba (1967-1998) telah menghasilkan pemusatan ekonomi di Jawa dan kota besarnya sehingga mendorong mobilitas desa- kota secara besar-besaran khusunya ke kota-kota di Jawa. Sementara itu, persebaran penduduk melalui transmigrasi mati suri seiring dengan berakhirnya era Orba dan digantikan era reformasi (yang menghasilkan kebijakan desentralisasi). Pengembangan transmigrasi saat ini lebih bertumpu pada transmigrasi swakarsa dan kerja sama antardaerah provinsi/(kabupaten/kota) yang didukung oleh kebijakan pengembangan kawasan pusat pertumbuhan ekonomi terpadu (Kapet). Munculnya era Otonomi Daerah dalam beberapa hal menurunkan minat dan tingkat penduduk melakukan transmigrasi yang dicirikan oleh munculnya kebijakan di beberapa daerah yang melakukan pembatasan migrasi masuk penduduk (atau mensyaratkan syarat yang memberatkan pendatang). Kondisi ini mendorong semakin meningkatnya migran spontan dan migrasi keluarga. Secara umum dapat digambarkan bahwa fenomena mobilitas penduduk di Indonesia ditandai dengan tetap meningkatnya mobilitas antardaerah dan hanya di beberapa daerah terjadi penurunan, peningkatan konsentrasi penduduk di perkotaan, peningkatan mobilitas nonpermanen, peningkatan mobilitas internasional, peningkatan arus mobilitas tenaga kerja dari luar negeri (khususnya perempuan untuk ke wilayah Asia). 2.5. Data dan Informasi Kependudukan Dalam pembangunan kependudukan, administrasi kependudukan sebagai suatu sistem merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari adminstrasi pemerintahan dan administrasi negara dalam rangka pemberian perlindungan terhadap hak-hak individu penduduk, melalui pelayanan publik dalam bentuk penerbitan dokumen kependudukan (Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, Akta Catatan Sipil). Sesuai amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagai landasan hukum pelaksanaan kebijakan administrasi kependudukan dan data dasar (database) kependudukan nasional dan terwujudnya tertib administrasi kependudukan, pada gilirannya nanti akan dapat didayagunakan untuk kepentingan-kepentingan perumusan kebijakan pemerintahan dan perencanaan pembangunan yang berbasis administrasi kependudukan, sehingga akan terwujud pembangunan administrasi kependudukan yang berkelanjutan. Sumber data kependudukan dapat diambil dari beberapa sumber. Pertama, sensus penduduk dengan informasi yang dikumpulkan bersifat umum, dilakukan di seluruh
  53. 53. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 41 Indonesia, untuk semua penduduk, tidak menggunakan sampel penduduk atau sampel wilayah, dan dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Kedua, survei kependudukan untuk pengumpulan data umum dan khusus. Data kependudukan yang umum didapatkan dari SUPAS (Survei Penduduk Antar Sensus) yang dilaksanakan 10 tahun sekali dan yang khusus misalnya Sakernas untuk bidang ketenagakerjaan yang dikumpulkan dua kali dalam setahun. Disamping itu, Indonesia juga melaksanakan Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang terdiri dari Susenas inti untuk pengumpulan data pokok bidang sosial ekonomi yang dilakukan sekali setahun dan Susenas Modul untuk data yang lebih rinci atau khusus, seperti pendapatan, pengeluaran, kesehatan, pendidikan, perumahan, lingkungan tempat tinggal, dan sosial budaya lainnya yang dilakukan setiap tiga tahun. Di luar kedua survei ini, masih ada yang lain, seperti SDKI serta Survei Upah dan Perjalanan dan lain sebagainya. Ketiga, registrasi atau pendaftaran penduduk yang dilakukan setiap saat apabila ada perubahan status kependudukan. Dalam sistem ini, penduduk dan/atau rumah tangga harus melaporkan perubahan status kependudukan mulai dari RT, RW, dan dusun. Apabila penduduk atau rumah tangga pasif melaporkan kepada petugas pencatatan dan pelaporan, akan terjadi kekurangan cacah perubahan status kependudukan yang terjadi. Sifat pasif dalam melaporkan perubahan status kependudukan merupakan kelemahan utama dari pelaksanaan registrasi/pendaftaran penduduk. Secara normatif, registrasi penduduk merupakan sumber data yang paling ideal. Hal ini didasarkan pada karakteristik data registrasi penduduk. Pertama, dari sisi cakupan, registrasi penduduk dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia mencaku unit administrasi terkecil, yaitu desa/ kalurahan. Hal ini memungkikan penggunaan hasil registrasi penduduk untuk perencanaan pembangunan secara menyeluruh. Kedua, registasi penduduk dilaksanakan secara kontinyu, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan setiap waktu. Sebagai sumber data yang ideal, registrasi penduduk sampai dengan saat ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu masalahnya adalah kualitas data yang rendah. Sumber masalah tersebut diantaranya adalah penggunaan sistem pasif yang dalam tingkat tetentu bersamaan dengan kurangnya kesadaran penduduk untuk melaporkan kehadian demografis, menyebabkan data yang terkumpul underreporting. Persoalan yang perlu dicari pemecahannya adalah membuat penduduk lebih proaktif untuk melaporkan perubahan status kependudukan kepada petugas yang berwenang pada tingkat dusun dan desa, bahkan RT sebagai ujung tombak pendaftaran penduduk. Memperkuat pemahaman dalam pencatatan dan pelaporan pada lini paling bawah ini sangat penting karena kelengkapan dan kualitas data berada pada tingkat desa. Pada tingkat desa inilah sebagian besar daftar isian atau formulir pencatatan tersedia secara lengkap. Data dan informasi kependudukan di Indonesia belum tertata dengan baik, meskipun usaha untuk membangun Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) sebagai amanat UU No. 23 tahun 2006 telah dilaksanakan.
  54. 54. 42 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 2.17. Data Dasar (Database) Kependudukan di Indonesia Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Data dasar (database) kependudukan adalah kumpulan berbagai jenis data kependudukan yang tersimpan secara sistematik, terstruktur, dan saling berhubungan menggunakan perangkat lunak, perangkat keras, dan jejaring komunikasi data. Untuk itu, diperlukan adanya penataan administrasi kependudukan yang merupakan rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan, serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain. Untuk membangun data dasar (database) kependudukan, saat ini sedang dibangun Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dalam kerangka administrasi kependudukan, yang terdiri dari hal-hal berikut. 1. Sistem Pendaftaran Penduduk (Dafduk) • Pencatatan biodata penduduk per keluarga • Pencatatan atas pelaporan peristiwa kependudukan • Pendataan penduduk rentan kependudukan • Pelaporan penduduk yang tidak dapat melapor sendiri

×