Konservasi mekanik dan kimia

18,010 views

Published on

0 Comments
7 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
18,010
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
340
Comments
0
Likes
7
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Konservasi mekanik dan kimia

  1. 1. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Degradasi tanah telah menjadi masalah sejak manusia menetap tanah danmulai mengolah tanah dan menyerempet hewan peliharaan. Kadang-kadang,degradasi lahan telah menjadi begitu parah yang telah memberikan kontribusiterhadap penurunan peradaban, contohnya untuk pembukaan lahan untukperkebunan dan pertanian, pembabatan hutan, dan lain sebagainya mengakibatkantekanan terhadap sumber daya alam. Tidak jarang aktivitas dilakukan tanpamempertimbangkan kemampuan lahan. Pada akhirnya, tidak sedikit lahanmengalami degradasi dan berubah menjadi lahan kritis. Banyaknya lahan pertanian yang sering dimanfaatkan sebagian penduduktidak menutup kemungkinan rusaknya tanah sebagai media pertanian apabilakurang terawat. Ditambah lagi karena terkontaminasi bahan-bahan kimia danbencana alam. Penggunaan dan pemanfaatan lahan/tanah ini juga harus diimbangidengan perbaikan dan pencegahan supaya tidak terjadi erosi tanah. Konservasi tanah adalah serangkaian strategi pengaturan untuk mencegaherosi tanah dari permukaan bumi atau terjadi perubahan secara kimiawi ataubiologi akibat penggunaan yang berlebihan, salinisasi, pengasaman, atau akibatkontaminasi lainnya. Ada banyak strategi yang digunakan untuk menangani erositanah, antara lain: pemilihan vegetasi penutup lahan, pencegahan erosi,pengaturan kadar garam, pengendalian keasaman, meningkatkan kelestarianorganisme tanah yang menguntungkan, pencegahan dan remediasi tanah darikontaminasi, dan mineralisasi. Untuk itu konservasi tanah perlu ditingkatkankhususnya di Indonesia. Salah satunya konservasi tanah dan air dengan cara vegetatif dan kimia,konservasi tanah ini diarahkan pada tiga perlakuan pokok, yaitu: (1) perlindungantanah dari butir-butir hujan dengan cara meningkatkan jumlah tutupan tanahdengan bahan organik dan tajuk tanaman; (2) mengurangi jumlah aliran 1
  2. 2. permukaan melalui peningkatan infiltrasi, kandungan bahan organik; dan (3)mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga kecepatan erosi dapatdikurangi. B. TujuanTujuan yang dapat dirumuskan dalam pembuatan makalah ini antara lain untukmengetahui:1. Apa yang dimaksud dengan konservasi tanah secara vegetatif dan kimia.2. Metode yang digunakan dalam konservasi tanah secara vegetatif dan kimia. 2
  3. 3. II. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Sitanala Arsyad (1989), Konservasi Tanah adalah penempatansetiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanahtersebut dan memperlakukkannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukanagar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi Air menurut Deptan(2006) adalah upaya penyimpanan air secara maksimal pada musim penghujandan pemanfaatannya secara efisien pada musim kemarau. Konservasi tanah dankonservasi air selalu berjalan beriringan dimana saat melakukan tindakankonservasi tanah juga di lakukan tindakan konservasi air, konservasi air padaprinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien mungkin, danpengaturan waktu sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukupair pada waktu musim kemarau. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidangtanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat hilirnya.Oleh karena itu maka konservasi tanah dan konservasi air merupakan dua halyang berhubungan erat, berbagai tindakan konservasi tanah merupakan jugatindakan konservasi air. Teknik konservasi tanah di Indonesia diarahkan pada tiga prinsip utamayaitu perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butir-butir hujan,meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah seperti pemberian bahan organik ataudengan cara meningkatkan penyimpanan air,dan mengurangi laju aliranpermukaan sehingga menghambat material tanah dan hara terhanyut (Agus et al.,1999). Manusia mempunyai keterbatasan dalam mengendalikan erosi sehinggaperlu ditetapkan kriteria tertentu yang diperlukan dalam tindakan konservasitanah.disertakan dalam merancang teknik konservasi tanah adalah nilai batas erosiyang masih dapat diabaikan (tolerable soil loss). Ketiga teknik konservasi tanahsecara vegetatif, mekanis dan kimia pada prinsipnya memiliki tujuan yang samayaitu mengendalikan laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakanuntuk diterapkan sangat berbeda. Oleh karena itu pemilihan teknik konservasiyang tepat sangat diperlukan. 3
  4. 4. Pada dasarnya konservasi tanah secara vegetatif adalah segala bentukpemanfaatan tanaman ataupun sisa-sisa tanaman untukmengurangi erosi.Tanaman ataupun sisa-sisa tanaman berfungsisebagai pelindung tanah terhadapdaya pukulan butir air hujan maupun terhadap daya angkut air aliran permukaan(runoff), serta meningkatkan peresapan air ke dalam tanah (Setihadi, 2012).Keberadaan perakaran mampu memperbaiki kondisi sifat tanahyang disebabkanoleh penetrasi akar ke dalam tanah, menciptakanhabitat yang baik bagi organismedalam tanah, sebagai sumberbahan organik bagi tanah dan memperkuat dayacengkeram terhadap tanah (Foth, 1995, Killham, 1994, Agus et al., 2002).Perakaran tanaman juga membantu mengurangi air tanah yang jenuh olehairhujan, memantapkan agregasi tanah sehingga lebih mendukungpertumbuhantanaman dan mencegah erosi, sehingga tanah tidak mudah hanyut akibat aliranpermukaan, meningkatkan infiltrasi, dan kapasitas memegang air. Kemantapan struktur tanah merupakan salah satu sifat tanah yangmenentukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Yang dimaksud dengan carakimia dalam usaha pencegahan erosi, yaitu dengan pemanfaatan soil conditioneratau bahan-bahan pemantap tanah dalam hal memperbaiki struktur tanah sehinggatanah akan tetap resisten terhadap erosi (Kartasapoetra dan Sutedjo, 1985). Bahankimia sebagai soil conditioner mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadapstabilitas agregat tanah. Pengaruhnya berjangka panjang karena senyawa tersebuttahan terhadap mikroba tanah. Permeabilitas tanah dipertinggi dan erosiberkurang. Bahan tersebut juga memperbaiki pertumbuhan tanaman semusimpada tanah liat yang berat (Arsyad, 1989) 4
  5. 5. III. ISI Kerusakan yang dialami oleh tanah dan air karena faktor-faktor yangmerugikan, merupakan satu kesatuan oleh karena itu setiap perlakuan yangdiberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu dantempat-tempat hilirnya. Oleh karena itu maka konservasi tanah dan konservasi airmerupakan dua hal yang berhubungan erat, berbagai tindakan konservasi tanahmerupakan juga tindakan konservasi air. 1. Konservasi tanah dan air secara Vegetatif Konservasi tanah secara vegetatif adalah segala bentuk pemanfaatantanaman ataupun sisa-sisa tanaman untuk mengurangi erosi. Tanaman ataupunsisa-sisa tanaman berfungsi sebagai pelindung tanah terhadap daya pukulan butirair hujan maupun terhadap daya angkut air aliran permukaan (runoff), sertameningkatkan peresapan air ke dalam tanah. Kanopi berfungsi menahan laju butiran air hujan dan mengurangi tenagakinetik butiran air dan pelepasan partikel tanah sehingga pukulan butiran air dapatdikurangi. Batang tanaman juga menjadi penahan erosi air hujan dengan caramerembeskan aliran air dari tajuk melewati batang (stemflow) menuju permukaantanah sehingga energi kinetiknya jauh berkurang. Batang juga berfungsi memecahdan menahan laju aliran permukaan. Keberadaan perakaran tanaman jugamembantu mengurangi air tanah yang jenuh oleh air hujan, memantapkanagregasi tanah sehingga lebih mendukung pertumbuhan tanaman dan mencegaherosi, sehingga tanah tidak mudah hanyut akibat aliran permukaan, meningkatkaninfiltrasi, dan kapasitas memegang air. a. Penghutanan Kembali Penghutanan kembali (reforestation) secara umum dimaksudkan untukmengembalikan dan memperbaiki kondisi ekologi dan hidrologi suatu wilayahdengan tanaman pohon-pohonan. Penghutanan kembali juga berpotensi untukpeningkatan kadar bahan organik tanah dari serasah yang jauh di permukaan tanahdan sangat mendukung kesuburan tanah. Penghutanan kembali biasanya 5
  6. 6. dilakukan pada lahan-lahan kritis yang diakibatkan oleh bencana alam misalnyakebakaran, erosi, abrasi, tanah longsor, dan aktivitas manusia sepertipertambangan, perladangan berpindah, dan penebangan hutan. Hutan mempunyai fungsi tata air yang unik karena mampu menyimpan airdan meredam debit air pada saat musim penghujan dan menyediakan air secaraterkendali pada saat musim kemarau (sponge effect). Penghutanan kembali denganmaksud untuk mengembalikan fungsi tata air, efektif dilakukan pada lahan dengankedalaman tanah >3 m. Tanah dengan kedalaman <3 m mempunyai aliranpermukaan yang cukup tinggi karena keterbatasan kapasitas tanah dalammenyimpan air (Agus et al., 2002). Pengembalian fungsi hutan akan memakanwaktu 20-50 tahun sampai tajuk terbentuk sempurna. Jenis tanaman yangdigunakan sebaiknya berasal dari jenis yang mudah beradaptasi terhadaplingkungan baru, cepat berkembang biak, mempunyai perakaran yang kuat, dankanopi yang rapat/rindang. b. Wanatani Wanatani (agroforestry) adalah salah satu bentuk usaha konservasi tanahyang menggabungkan antara tanaman pohon – pohonan, atau tanaman tahunandengan tanaman komoditas lain yang ditanam secara bersama-sama ataupunbergantian. Penggunaan tanaman tahunan mampu mengurangi erosi lebih baikdaripada tanaman komoditas pertanian khususnya tanaman semusim. Tanamantahunan mempunyai luas penutupan daun yang relatif lebih besar dalam menahanenergi kinetik air hujan, sehingga air yang sampai ke tanah dalam bentuk aliranbatang (stemflow) dan aliran tembus (throughfall) tidak menghasilkan dampakerosi yang begitu besar. Sedangkan tanaman semusim mampu memberikan efekpenutupan dan perlindungan tanah yang baik dari butiran hujan yang mempunyaienergi perusak. Penggabungan keduanya diharapkan dapat memberi keuntunganganda baik dari tanaman tahunan maupun dari tanaman semusim. Penerapan wanatani pada lahan dengan lereng curam atau agak curammampu mengurangi tingkat erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkanapabila lahan tersebut gundul atau hanya ditanami tanaman semusim. Secara 6
  7. 7. umum proporsi tanama tahunan makin banyak pada lereng yang semakin curamdemikian juga sebaliknya. Tanaman semusim memerlukan pengolahan tanah dan pemeliharaantanaman yang lebih intensif dibandingkan dengan tanaman tahunan. Pengolahantanah pada tanaman semusim biasanya dilakukan dengan cara mencangkul,mengaduk tanah, maupun cara lain yang mengakibatkan hancurnya agregat tanah,sehingga tanah mudah tererosi. Semakin besar kelerengan suatu lahan, makarisiko erosi akibat pengolahan tanah juga semakin besar. Penanaman tanamantahunan tidak memerlukan pengolahan tanah secara intensif. Perakaran yangdalam dan penutupan tanah yang rapat mampu melindungi tanah dari erosi. Tanaman tahunan yang dipilih sebaiknya dari jenis yan dapat memberikan nilaitambah bagi petani dari hasil buah maupun kayunya. Selain dapat menghasilkankeuntungan dengan lebih cepat dan lebih besar, wanatani ini juga merupakan sistemyang sangat baik dalam mencegah erosi tanah. Sistem wanatani telah lama dikenal dimasyarakat Indonesia dan berkembang menjadi beberapa macam, yaitu pertanamansela, pertanaman lorong, talun hutan rakyat, kebun campuran, pekarangan, tanamanpelindung/multistrata, silvipastura, dan tanaman pagar. Pertanaman Sela Pertanaman sela adalah pertanaman campuran antara tanaman tahunandengan tanaman semusim. Sistem ini banyak dijumpai di daerah hutan atau kebunyang dekat dengan lokasi permukiman. Tanaman sela juga banyak diterapkan didaerah perkebunan, pekarangan rumah tangga maupun usaha pertanian tanamantahunan lainnya. Dari segi konservasi tanah, pertanaman sela bertujuan untukmeningkatkan intersepsi dan intensitas penutupan permukaan tanah terhadapterpaan butir-butir air hujan secara langsung sehingga memperkecil risiko tererosi.Sebelum kanopi tanaman tahunan menutupi tanah, lahan di antara tanamantahunan tersebut digunakan untuk tanaman semusim. Di beberapa wilayah hutan jati daerah Jawa Tengah, ketika pohon jatimasih pendek dan belum terbentuk kanopi, sebagian lahannya ditanami dengantanaman semusim berupa jagung, padi gogo, kedelai, kacang-kacangan, danempon-empon seperti jahe (Zingiber officinale), temulawak (Curcuma 7
  8. 8. xanthorrizha), kencur (Kaemtoria galanga), kunir (Curcuma longa), dan laos(Alpinia galanga). Pilihan teknik konservasi ini sangat baik untuk diterapkan olehpetani karena mampu memberikan nilai tambah bagi petani, mempertinggiintensitas penutupan lahan, membantu perawatan tanaman tahunan danmelindungi dari erosi. Pertanaman Lorong Sistem pertanaman lorong atau alley cropping adalah suatu sistem dimanatanaman pagar pengontrol erosi berupa barisan tanaman yang ditanam rapatmengikuti garis kontur, sehingga membentuk lorong-lorong dan tanamansemusim berada di antara tanaman pagar tersebut. Sistem ini sesuai untukditerapkan pada lahan kering dengan kelerengan 3-40%, teknik konservasi yangcukup murah dan efektif dalam mengendalikan erosi dan aliran permukaan sertamampu mempertahankan produktivitas tanah. Gambar Flemingia congesta sebagai tanaman pagar dalam budidaya lorong Penanaman tanaman pagar akan mengurangi 5-20% luas lahan efektifuntuk budi daya tanaman sehingga untuk tanaman pagardipilih dari jenis tanamanyang memenuhi persyaratan di bawah ini: a. Merupakan tanaman yang mampu mengembalikan unsur hara ke dalam tanah, misalnya tanaman penambat nitrogen (N2) dari udara. b. Menghasilkan banyak bahan hijauan. c. Tahan terhadap pemangkasan dan dapat tumbuh kembali secara cepat sesudah pemangkasan. 8
  9. 9. d. Tingkat persaingan terhadap kebutuhan hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh dengan tanaman lorong tidak begitu tinggi. e. Tidak bersifat alelopati (mengeluarkan zat beracun) bagi tanaman utama. f. Sebaiknya mempunyai manfaat ganda seperti untuk pakan ternak, kayu bakar, dan penghasil buah sehingga mudah diadopsi petani. Talun Hutan Rakyat Talun adalah lahan di luar wilayah permukiman penduduk yang ditanamitanaman tahunan yang dapat diambil kayu maupun buahnya. Sistem ini tidakmemerlukan perawatan intensif dan hanya dibiarkan begitu saja sampai saatnyapanen. Karena tumbuh sendiri secara spontan, maka jarak tanam sering tidakseragam, jenis tanaman sangat beragam dan kondisi umum lahan seperti hutanalami Ditinjau dari segi konservasi tanah, talun hutan rakyat dengan kanopi yangrapat dapat mencegah erosi secara maksimal juga secara umum mempunyai fungsiseperti hutan. Kebun Campuran Berbeda dengan talun hutan rakyat, kebun campuran lebih banyak dirawat.Tanaman yang ditanam adalah tanaman tahunan yang dimanfaatkan hasil buah,daun, dan kayunya. Kadang-kadang juga ditanam dengan tanaman semusim.Apabila proporsi tanaman semusim lebih besar daripada tanaman tahunan, makalahan tersebut disebut tegalan. Kebun campuran ini mampu mencegah erosidengan baik karena kondisi penutupan tanah yang rapat sehingga butiran air hujantidak langsung mengenai permukaan tanah. Kerapatan tanaman juga mampumengurangi laju aliran permukaan. Hasil tanaman lain di luar tanaman semusimmampu mengurangi risiko akibat gagal panen dan meningkatkan nilai tambahbagi petani. Pekarangan Pekarangan adalah kebun di sekitar rumah dengan berbagai jenis tanamanbaik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Lahan tersebut mempunyaimanfaat tambahan bagi keluarga petani, dan secara umum merupakan gambarankemampuan suatu keluarga dalam mendayagunakan potensi lahan secara optimal.Tanaman yang umumnya ditanam di lahan pekarangan petani adalah ubi kayu, 9
  10. 10. sayuran, tanaman buah-buahan seperti tomat, pepaya, tanaman obat-obatan sepertikunyit, temulawak, dan tanaman lain yang umumnya bersifat subsisten. Tanaman Pelindung Tanaman pelindung adalah tanaman tahunan yang ditanam di sela-selatanaman pokok tahunan. Tanaman pelindung ini dimaksudkan untuk mengurangiintensitas penyinaran matahari, dan dapat melindungi tanaman pokok dari bahayaerosi terutama ketika tanaman pokok masih muda. Tanaman pelindung ini dapatdikelompokkan menjadi dua, yaitu: a. Tanaman pelindung sejenis yang membentuk suatu sistem wanatani sederhana (simple agroforestry). Misalnya tanaman pokok berupa tanaman kopi dengan satu jenis tanaman pelindung misalnya: gamal (Gliricidia sepium), dadap (Erythrina subumbrans), lamtoro (Leucaena leucocephala) atau kayu manis (Cinnamomum burmanii). b. Tanaman pelindung yang beraneka ragam dan membentuk wanatani kompleks (complex agroforestry atau sistem multistrata). Misalnya tanaman pokok berupa tanaman kopi dengan dua atau lebih tanaman pelindung misalnya: kemiri (Aleurites muluccana), jengkol (Pithecellobium jiringa), petai (Perkia speciosa), kayu manis, dadap, lamtoro, gamal, durian (Durio zibethinus), alpukat (Persea americana), nangka (Artocarpus heterophyllus), cempedak (Artocarpus integer), dan lain sebagainya. Tajuk tanaman yang bertingkat menyebabkan sistem ini menyerupaihutan, yang mana hanya sebagian kecil air yang langsung menerpa permukaantanah. Produksi serasah yang banyak juga menjadi keuntungan tersendiri darisistem ini. Silvipastura Sistem silvipastura sebenarnya adalah bentuk lain dari sistem tumpangsari, tetapi yang ditanam di sela-sela tanaman tahunan bukan tanaman panganmelainkan tanaman pakan ternak seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum),rumput raja (Penniseitum purpoides), dan lain-lain. Silvipastura umumnyaberkembang di daerah yang mempunyai banyak hewan ruminansia. Hasil kotoran 10
  11. 11. hewan ternak tersebut dapat dipergunakan sebagai pupuk kandang, sementarahasil hijauannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Sistem ini dapatdipakai untuk mengembangkan peternakan sebagai komoditas unggulan di suatudaerah. Pagar Hidup Pagar hidup adalah sistem pertanaman yang memanfaatkan tanamansebagai pagar untuk melindungi tanaman pokok. Manfaat tanaman pagar antaralain adalah melindungi lahan dari bahaya erosi baik erosi air maupun angin.Tanaman pagar sebaiknya tanaman yang mempunyai akar dalam dan kuat,menghasilkan nilai tambah bagi petani baik dari hijauan, buah maupun dari kayubakarnya. Gambar Pagar hidup dengan tanaman Gliricidia sepium untuk melindungi tanaman padi gogo. Untuk tanaman pagar dapat dipilih jenis pohon yang berfungsi sebagaisumber pakan ternak, jenis tanaman yang dapat menghasilkan kayu bakar, ataujenis-jenis lain yang memiliki manfaat ganda. Tanaman-tanaman tersebut ditanamdengan jarak yang rapat (< 10 cm). Karena tinggi tanaman bisa mencapai 1,5 – 2m maka pemangkasan sebaiknya dilakukan 1-2 kali setahun. c. Strip Rumput Teknik konservasi dengan strip rumput (grass strip) biasanyamenggunakan rumput yang didatangkan dari luar areal lahan, yang dikelola dansengaja ditanam secara strip menurut garis kontur untuk mengurangi aliranpermukaan dan sebagai sumber pakan ternak. Strip rumput, hampir sama dengan 11
  12. 12. sistem pertanaman lorong, dibuat mengikuti kontur (sabuk gunung) dan lebar strip0,5 m atau lebih, dimaksudkan untuk mengurangi erosi dan penyedia pakanternak. Gambar Strip rumput gajah (Pennisetum purpureum) sebagai tanaman penguat teras. Persyaratan tanaman strip rumput terutama bagi rumah tangga yangmemiliki ternak ruminansia, cocok untuk daerah beriklim kering maupun daerahberiklim basah, jenis rumput yang digunakan mempunyai penyebaran perakaranvertikal yang dalam sehingga daya saingnya terhadap tanaman utama menjadirendah, jenis rumput yang tahan naungan dan kekeringan, mempunyai dayaadaptasi yang tinggi pada tanah yang tidak subur, dan sangat baik jikamemberikan efek alelopati terhadap hama. Contohnya, aroma yang dihasilkanvetiver dapat mengusir tikus. Penanaman dan pemeliharaan strip rumput yaiturumput ditanam menurut kontur terdiri dari 3 barisan rumput atau lebih denganjarak antara barisan 20 cm, lebar strip rumput 0,5 m atau lebih, jarak antara striprumput tergantung yang diinginkan dan bervariasi dari 2,5 m untuk kemiringan60% sampai 40 m untuk kemiringan 5%, jika ditanam dari biji memerlukantenaga kerja lebih sedikit dibandingkan dengan dari stek/tunas hidup/bonggol. d. Mulsa Dalam konteks umum, mulsa adalah bahan-bahan (sisa tanaman, serasah,sampah, plastik atau bahan-bahan lain) yang disebar atau menutup permukaantanah untuk melindungi tanah dari kehilangan air melalui evaporasi. Mulsa jugadapat dimanfaatkan untuk melindungi permukan tanah dari pukulan langsung 12
  13. 13. butiran hujan sehingga mengurangi terjadinya erosi percik (splash erosion), selainmengurangi laju dan volume limpasan permukaan (Suwardjo, 1981). Bahan mulsayang sudah melapuk akan menambah kandungan bahan organik tanah dan hara.Mulsa mampu menjaga stabilitas suhu tanah pada kondisi yang baik untukaktivitas mikroorganisma. Relatif rendahnya evaporasi, berimplikasi padastabilitas kelengasan tanah. Secara umum mulsa berperan dalam perbaikan sifatfisik tanah. Pemanfaatan mulsa di lahan pertanian juga dimaksudkan untukmenekan pertumbuhan gulma. Gambar Aplikasi mulsa pada pertanaman jagung Pemberian mulsa dimaksudkan untuk menutupi permukaan tanah agarterhindar dari pukulan butir hujan. Mulsa merupakan teknik pencegahan erosiyang cukup efektif. Jika bahan mulsa berasal dari bahan organik, maka mulsa jugaberfungsi dalam pemeliharaan bahan organik tanah. Bahan organik yang dapatdijadikan mulsa dapat berasal dari sisa tanaman, hasil pangkasan tanaman pagardari sistem pertanaman lorong, hasil pangkasan tanaman penutup tanah ataudidatangkan dari luar lahan pertanian.Fungsi lain mulsa adalah : a. Jika sudah melapuk dapat meningkatkan kemampuan tanah menahan air sehingga air lebih tersedia untuk pertumbuhan tanaman, dan memperkuat agregat tanah. b. Mengurangi kecepatan serta daya kikis aliran permukaan. 13
  14. 14. c. Mengurangi evaporasi, memperkecil fluktuasi suhu tanah, meningkatkan jumlah pori aerasi sebagai akibat meningkatnya kegiatan jasad hidup di dalam tanah dan meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah. d. Menyediakan sebagian zat hara bagi tanaman. e. Dianjurkan menggunakan 6 ton mulsa/ha/tahun atau lebih. Bahan mulsa yang paling mudah didapatkan adalah sisa tanaman. f. Mulsa diberikan dengan jalan menyebarkan bahan organik secara merata di permukaan tanah. g. Bahan mulsa yang baik adalah bahan yang sukar melapuk seperti jerami padi dan batang jagung. h. Mulsa dapat juga diberikan ke dalam lubang yang dibuat khusus dan disebut sebagai mulsa vertikal. Pemberian mulsa mampu meningkatkan laju infiltrasi, sisa tanamansebanyak 4-6 t/ha mampu mempertahankan laju infiltrasi, serta menurunkankecepatan aliran Mulsa yang diberikan sebaiknya berupa sisa tanaman yang tidak mudahterdekomposisi misalnya jerami padi dan jagung dengan takaran yang disarankanadalah 6 t/ha atau lebih. Bahan mulsa sebaiknya dari bahan yang mudah diperolehseperti sisa tanaman pada areal lahan masing-masing petani sehingga dapatmenghemat biaya, mempermudah pembuangan limbah panen sekaligusmempertinggi produktivitas lahan. e. Sistem Penanaman menurut Strip Penanaman menurut strip (strip cropping) adalah sistem pertanaman,dimana dalam satu bidang lahan ditanami tanaman dengan jarak tanam tertentudan berselang-seling dengan jenis tanaman lainnya searah kontur. Misalnyapenanaman jagung dalam satu strip searah kontur dengan lebar strip 3-5 m atau 5-10 m tergantung kemiringan lahan, di lereng bawahnya ditanam kacang tanahdengan sistem sama dengan penanaman jagung, strip rumput atau tanamanpenutup tanah yang lain. Semakin curam lereng, maka strip yang dibuat akan semakin sempitsehingga jenis tanaman yang berselang-seling tampak lebih rapat. Sistem ini 14
  15. 15. sangat efektif dalam mengurangi erosi hingga 70-75% dan vegetasi yang ditanam(dari jenis legum) akan mampu memperbaiki sifat tanah walaupun terjadipengurangan luas areal tanaman utama sekitar 30-50%. Gambar Sistem pertanaman menurut strip searah kontur Sistem ini biasa diterapkan di daerah dengan topografi berbukit sampaibergunung dan biasanya dikombinasikan dengan teknik konservasi lain sepertitanaman pagar, saluran pembuangan air, dan lain-lain. Penanaman menurut stripmerupakan usaha pengaturan tanaman sehingga tidak memerlukan modal yangbesar. f. Penyiangan Parsial Penyiangan parsial merupakan teknik dimana lahan tidak disiangiseluruhnya yaitu dengan cara menyisakan sebagian rumput alami maupuntanaman penutup tanah (lebar sekitar 20-30 cm) sehingga di sekitar batangtanaman pokok akan bersih dari gulma. Tanaman penutup tanah yang tidakdisiangi akan berfungsi sebagai penahan erosi. Pada dasarnya teknik inimenyerupai strip rumput dimana vegetasi gulma mampu menahan aliranpermukaan dan mengendapkan material terangkut. Hasil tanaman yang disiangidikembalikan ke lahan atau ditumpuk sebagai barisan sisa tanaman sehingga dapatmenambah bahan organik bagi tanah dan memperbaiki sifat tanah. Teknik penyiangan yang termasuk dalam penyiangan parsial adalah: Strip tumbuhan alami Pada dasarnya teknik ini adalah menyisakan sebagian lahan yang tidakditanami sehingga rumput alami tumbuh membentuk strip yang kurang lebihsejajar dengan garis kontur. Teknik in banyak diterapkan untuk tanaman semusim 15
  16. 16. dan sudah berkembang di Mandano Utara. Meskipun teknik ini efektifmengurangi erosi, tetpi teknik ini juga mengurangi areal produktif lahan pertaniansekitar 5-15%. Penyiangan sekeliling batang tanaman pokok Teknik ini dapat diterapkan pada penyiangan dimana tanah tertutupi olehgulma rumput maupun tanaman penutup tanah lain yang sengaja ditanam.Penyiangan dilakukan di sekeliling batang tanaman pokok dengan diametersekitar 120 cm. Gambar Sistem penyiangan parsial pada pertanaman lada dengan penutup tanah Arachis pintoi Dengan memanfaatkan teknik penyiangan ini pada areal tanaman kopiumur satu tahun dengan kemiringan lereng 62-63% dan umur 16 tahun dengankelerengan 46-49%, curah hujan yang sama menghasilkan aliran permukaanberturut-turut sebesar 3,4% dan 6,3% dari jumlah curah hujan dan erosi yangdihasilkan berturut-turut sebesar 1,6 dan 1,3 ton/ha. Penyiangan sekeliling batangtanaman pokok ini juga dimaksudkan untuk mencegah hama dan penyakitmenyerang tanaman pokok dengan tetap memelihara keberadaan tanaman penutuptanah. g. Penerapan Pola Tanam Pola tanam adalah sistem pengaturan waktu tanam dan jenis tanamansesuai dengan iklim, kesesuaian tanah dengan jenis tanaman, luas lahan,ketersediaan tenaga, modal, dan pemasaran. Pola tanam berfungsi meningkatkanintensitas penutupan tanah dan mengurangi terjadinya erosi. Biasanya petani 16
  17. 17. sudah mempunyai pengetahuan tentang pola tanam yang cocok dengan keadaanbiofisik dan sosial ekonomi keluarganya berdasarkan pengalaman dan kebiasaanpendahulunya. Pengalaman menunjukkan bahwa dalam suatu usaha tani, erosimasih terjadi. Pemilihan pola tanam yang tepat dapat meningkatkan keuntunganbagi petani dan meningkatkan penutupan tanah sehingga erosi dapat dikurangi.Misalnya penanaman padi gogo yang disisipi jagung pada awal musim hujan,setelah panen disusul penanaman kedelai dan pada saat bera ditanami benguk(Mucuna sp.). Jenis tanaman dapat lebih bervariasi tergantung keinginan petanidan daya dukung lahannya. Pertanaman majemuk yang merupakan salah satu bagian dalam pola tanampada dasarnya merupakan sistem dimana satu bidang olah ditanami lebih dari satujenis tanaman pangan. Misalnya dalam satu bidang olah ditanami sekaligustanaman jagung, padi gogo, mukuna (benguk), dan kedelai. Sistem ini bertujuanuntuk mempertinggi intensitas penggunaan lahan, dan dapat mengurangi risikogagal panen untuk salah satu tanaman, meningkatkan nilai tambah bagi petani danjuga termasuk tindakan pengendalian hama dan pengendalian erosi. Denganpenerapan pertanaman majemuk, penutupan tanah akan lebih rapat sehinggamampu melindungi tanah dari pukulan air hujan secara langsung dan menahanaliran permukaan. Sistem pertanaman yang termasuk sistem pertanaman majemukadalah sistem pergiliran tanaman (crop rotation), tumpang sari (inter cropping),dan tumpang gilir (relay cropping).Kelebihan konservasi tanah secara vegetatif: Memelihara kestabilan striktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. Penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. Disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah, sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi.. Memiliki nilai ekonomis sehingga dapat menambah penghasilan petani. 17
  18. 18. Kekurangan konservasi tanah secara vegetatif: Tidak semua tanaman dapat digunakan untuk melaksanakan konservasi tanah secara vegetatif, sehingga secara tidak langsung akan menghambat pertumbuhan tanaman. 2. Konservasi tanah dan air secara Kimia Teknik konservasi tanah secara kimiawi adalah setiap penggunaan bahan-bahan kimia baik organik maupun anorganik, yang bertujuan untuk memperbaikisifat tanah dan menekan laju erosi. Cara kimia dalam usaha pencegahan erosi, yaitu dengan pemanfaatan soilconditioner atau bahan-bahan pemantap tanah dalam hal memperbaiki strukturtanah sehingga tanah akan tetap resisten terhadap erosi. Bahan kimia sebagai soilconditioner mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap stabilitas agregattanah. Pengaruhnya berjangka panjang karena senyawa tersebut tahan terhadapmikroba tanah. Permeabilitas tanah dipertinggi dan erosi berkurang. Bahantersebut juga memperbaiki pertumbuhan tanaman semusim pada tanah liat yangberat. Gambar soil conditioner Bahan kimiawi yang termasuk dalam kategori ini adalah pembenah tanah(soil conditioner) seperti: a. MCS, campuran dimethyldichlorosilane dan methyl-trichlorosilane(Van Bavel, 1950). Berupa cairan yang mudah menguap, gas yang terbentuk 18
  19. 19. bercampur dengan air tanah. Senyawa yang terbentuk membuat agregat tanah stabil. b. Krilium (W.P. Martin & G. Taylor, 1952). Merupakan garam natrium dari polyacrylonitrile yang terhidrolisa.Bahan kimia lainnya yang sering digunakan untuk konservasi tanah dan air: a. Polimer tak terionisasi: Polyvinyl alcohol (PVA) b. Polyanion: Polyvinyl acetate (PVa), Polyacrylonitrile setengah terhidrolisa (Hp PAN), Poly acrylic acid (PAA), Vinyl acetate malcic acid copolymer (VAMA) c. Polication: Dimethylaminoethylmetacrylate (DAEMA) d. Dipole polimer (gugus + dan -): Polyacrylamide (PAM). Contoh penggunaan PAM bersifat non-hidrofobik, memiliki bagian aktif amide yang mengikat -OH pada butir liat melalui ikatan hidrogen. Cara aplikasi: PAM dicampur air dengan perbandingan volume tertentu. Dicampur tanahdengan menyemprotkan emulsi tersebut ke permukaan tanah kemudioan diadukdengan cangkul/garu.Pengaruh terhadap perbaikan struktur tanah dipengaruhi: BM polimer, optimum PAM 106 Kandungan air tanah, optimum pada titik lengkung terbesar pada kurva pF. Konsentrasi emulsi, tanah berkadar liat tinggi lebih sedikit daripada tanah berpasir. 19
  20. 20. e. Emulsi Bitumen. Bitumen Preparat termurah, mengandung gugus aktif Carboxyl. Pengaruhnya menyebabkan tanah lebih hidrofobik sehingga sangat bermanfaat bagi pembentukan agregat tanah yang mudah mengeras Kelompok a,b,c & d bersifat non hidrofobik; Kelompok e bersifat non-hidrofilik; Kelompok b & e dapat meningkatkan KTK. Bahan-bahan ini diaplikasikan ke tanah dengan tujuan untuk memperbaikistruktur tanah melalui peningkatan stabilitas agregat tanah, sehingga tahanterhadap erosi. Kemantapan struktur tanah merupakan salah satu sifat tanah yangmenentukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Penggunaan bahan-bahanpemantap tanah bagi lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang baru dibukasesunggunya sangat diperlukan mengingat: a. Lahan-lahan bukaan baru kebanyakan masih merupakan tanah-tanah virgin yang memerlukan banyak perlakuan agar dapat didayagunakan dengan efektif. b. Pada waktu penyiapan lahan tersebut telah banyak unsur-unsur hara yang terangkat. c. Pengerjaan lahan tersebut menjadi lahan yang siap untuk kepentingan perkebunan, menyebabkan banyak terangkut atau rusaknya bagian top soil, mengingat pekerjaannya menggunakan peralatan-peralatan berat seperti traktor, bulldozer dan alat-alat berat lainnya. d. Pada waktu penyiapan lahan tersebut telah banyak unsur-unsur hara yang terangkat, sehingga diperlukan pasokan unsur hara tambahan. e. Pengerjaan lahan tersebut menjadi lahan yang siap karena penambahan bahan kimia,sehingga tanah menjadi lebih subur. Teknik konservasi dengan kimiawi jarang digunakan petani jikadibandingkan dengan cara konservasi mekanik ataupun vegetasi, terutama karenaketerbatasan modal, sulit pengadaannya serta hasilnya tidak jauh beda denganpenggunaan bahan-bahan alami. Selain itu sebagian tanah sensitif terhadappenggunaan bahan kimia, dengan penggunaan yang dilakukan terus-menerusmaka tanah tersebut tidak akan produktif. 20
  21. 21. IV. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan1. Konservasi secara vegetatif adalah segala bentuk pemanfaatan tanaman ataupun sisa-sisa tanaman untuk mengurangi erosi, berfungsi sebagai pelindung tanah terhadap daya pukulan butir air hujan maupun terhadap daya angkut air aliran permukaan (runoff), serta meningkatkan peresapan air ke dalam tanah. Teknik konservasi secara kimiawi adalah setiap penggunaan bahan-bahan kimia baik organik maupun anorganik, yang bertujuan untuk memperbaiki sifat tanah dan menekan laju erosi.2. Teknik konservasi secara vegetatif: f. Penghutanan Kembali. g. Wanatani antara lain pertanaman sela, pertanaman lorong, talun hutan rakyat, kebun campuran, pekarangan, tanaman pelindung, silvipastura, dan pagar hidup. h. Strip Rumput. i. Mulsa. j. Sistem Penanaman menurut Strip. k. Penyiangan Parsial antara laian strip tumbuhan alami dan penyiangan sekeliling batang tanaman pokok. l. Penerapan Pola Tanam.3. Konservasi tanah dan air secara Kimia, dengan menggunakan soil conditioner dan bahan kimia lainnya seperti polimer tak terionisasi Polyvinyl alcohol (PVA), Polyanion, dan bitumen. 21

×