LAPORAN PRATIKUM        PRODUKSI TERNAK PERAH                 Disusun oleh :Chandra Prabawa            23010111130078Ariaw...
BAB I                           MATERI DAN METODE1.1     Materi        Materi yang digunakan pada praktikum ini adalah bla...
Mengamati kedua termometer dry dan wet dengan melihat air raksa berhenti padaskala yang tertera. Kemudian untuk menentukan...
mencatat rata-ratanya, pengukuran pada pagi hari pukul 05.30, siang hari padapukul 12.00 dan malam hari pada pukul 21.00, ...
dan fungsi setiap bagiannya. Kemudian mengambil awetan preparat ambing daradan meletakkan pada sebelah awetan preparat amb...
BAB II                               HASIL DAN PEMBAHASAN     2.1.   Fisiologi Lingkungan dan Fisiologi ternak     Tabel 1...
pada dalam kandang lebih rendah 51% dibanding di luar kandang 71%. Padapukul 21.00 suhu menurun, di dalam dan di luar kand...
terakumulasi paling banyak dan merupakan titik puncak radiasi matahari padapukul 13.00 – 14.00, kemudian akan turun perlah...
tinggi mampu menaikkan frekuensi denyut nadi namun pada suhu lingkunganyang rendah akan menurunkan denyut nadi meskipun da...
panjang interval pemerahan maka makin tinggi produksi susu dan memungkinkanmeningkatnya berat jenis susu. Hal ini sesuai d...
Berdasarkan hasil praktikum anatomi ambing didapatkan hasil pengamatnpreparat awetan ambing laktasi terbagi menjadi empat ...
sedangkan di bagian dalam ambing terpisah menjadi bagian kanan dan kiri olehsuatu selaput pemisah tebal yang disebut ligam...
dengan pendapat Mukhtar (2006) yang menyatakan bahwa proses sintesis air susuoleh sel-sel epitel “glandula lactifera” dan ...
BAB III                         KESIMPULAN DAN SARAN       Suhu pada luar dan dalam kandang pada pagi, malam tidak berbeda...
mengamati ambing pada sapi secara langsung terlebih dahulu setelah itu barumengamati preparat awetan ambingnya.
DAFTAR PUSTAKAKanisius, A. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Kanisius, Yogyakarta.Dukes, H. 1955. The Physiology...
LAMPIRANLampiran 1. Perhitungan radiasi matahariR= δ T4Keterangan:R= Radiasi Matahari (Kcal m-2 jam-1)δ= Konstanta Stefann...
Lampiran 2. Perhitungan berat jenis susuBerat jenis = Berat jenis terukur – (27,5-T)x0,0002Keterangan :T = suhu terukurPem...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

laporan produksi ternak perah

6,025 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
6,025
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
82
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

laporan produksi ternak perah

  1. 1. LAPORAN PRATIKUM PRODUKSI TERNAK PERAH Disusun oleh :Chandra Prabawa 23010111130078Ariawan Agung P U 23010111130084Kristiani Dina Pratiwi 23010111130087Choirul Badriyah 23010111130088Nurul Afriyanti 23010111130089Nur Wakhid S 23010111130090 JURUSAN PETERNAKANFAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012
  2. 2. BAB I MATERI DAN METODE1.1 Materi Materi yang digunakan pada praktikum ini adalah black globe untukmengukur radiasi matahari, thermohigrometer untuk mengukur suhu dankelembaban di dalam kandang, termometer dry-wet untuk mengukur suhu dankelembaban diluar kandang, termometer klinis digunakan untuk mengukur suhutubuh ternak, stopwatch untuk menghitung waktu pada saat pengukuran frekuensinafas dan denyut nadi ternak, preparat awetan ambing sapi laktasi, preparatawetan ambing dara dan tiga ekor sapi FH.1.2 Metode1.2.1 Fisiologi Lingkungan Metode yang digunakan pada praktikum fisiologi lingkungan mengukursuhu dan kelembaban di dalam kandang dengan cara mengamatithermohigrometer yang digantung pada bagian tengah kandang, jarum pada skalakecil digunakan untuk mengamati suhu dengan satuan celcius sedangkan padajarum skala besar digunakan untuk mengamati kelembaban ruangan dengansatuan persen. Pengukuran dilakukan pada pagi hari pukul 05.30, siang hari padapukul 12.00 dan malam hari pada pukul 21.00, kemudian mencatat hasilnya padabuku praktikum. Mengukur suhu dan kelembaban lingkungan di luar kandangdengan menggunakan termometer dry-wet yang diletakkan di luar kandang.
  3. 3. Mengamati kedua termometer dry dan wet dengan melihat air raksa berhenti padaskala yang tertera. Kemudian untuk menentukan suhu diambil dari termometerdry sedangkan untuk mengukur kelembabannya selisih dari kedua termometerdigunakan sebagai acuan mengukur kelembaban lingkungan tersebut sesuaicatatan yang tertera pada tengah termometer dan sejajar dengan skala termometerwet. Pengukuran dilakukan pada pagi hari pukul 05.30, siang hari pada pukul12.00 dan malam hari pada pukul 21.00, kemudian mencatat hasilnya pada bukupraktikum. Pengukuran radiasi matahari dengan cara mengamati termometer padablack globe, lalu angka yang diperoleh dimasukkan kedalam rumus yang terteradan hasilnya merupakan radiasi matahari dilingkungan tersebut. Pengukurandilakukan pada pagi hari pukul 05.30, siang hari pada pukul 12.00 dan malam haripada pukul 21.00, kemudian mencatat hasilnya pada buku praktikum.1.2.2 Fisiologi Ternak Metode yang dilakukan pada fisiologi ternak mengukur suhu tubuh ternakdengan cara menyalakan terlebih dahulu termometer klinis, memasukan kedalamrektal sapi sampai semua lempengan kuning masuk, tunggu hingga berbunyi danlihat angka yang tertera pada termometer. pengukuran dilakukan dua kali danmencatat rata-ratanya, pengukuran ini dilakukan pada pagi hari pukul 05.30, sianghari pada pukul 12.00 dan malam hari pada pukul 21.00, kemudian mencatathasilnya pada buku praktikum. Mengukur denyut nadi dengan cara yaitu mencaridenyut nadi pada pangkal ekor lalu tekan dengan tangan, menghitung berapa kalidenyut nadi yang terasa setiap satu menit. Pengukuran dilakukan dua kali dan
  4. 4. mencatat rata-ratanya, pengukuran pada pagi hari pukul 05.30, siang hari padapukul 12.00 dan malam hari pada pukul 21.00, kemudian mencatat hasilnya padabuku praktikum. Mengukur frekuensi nafas dengan cara meletakkan tangan didepan hidung sapi, kemudian hitung berapa frekuensi pernafasannya selama satumenit. Pengukuran dilakukan dua kali dan mencatat rata-ratanya, pengukuranpada pagi hari pukul 05.30, siang hari pada pukul 12.00 dan malam hari padapukul 21.00, kemudian mencatat hasilnya pada buku praktikum.1.2.3 Perhitungan Berat Jenis Susu Metode yang dilakukan pada praktikum produksi dan perhitungan beratjenis susu dilakukan dengan cara menuangkan susu hasil pemerahan siang harikedalam gelas ukur 500 ml sampai batas 500 ml, memasukkan perlahanlaktodesimeter kedalam gelas ukur yang sudah berisi susu, melepaskanlaktodesimeter dan tunggu sampai laktodesimeter mengapung dengan tenang.Mengamati skala hitam untuk menentukan berat jenis susu terukur dan skala putihuntuk menentukan suhu terukur. Memasukkan angka-angka tersebut kedalamrumus berat jenis makan akan ditemukan berat jenis susu tersebut. Mengulangipada susu hasil pemerahan pagi dan mencatat hasil kedua perhitungan pada bukupraktikum.1.2.4 Anatomi Ambing Metode yang dilakukan pada praktikum anatomi ambing adalahmengambil preparat awetan ambing sapi laktasi lalu mengamati tiap bagiannya
  5. 5. dan fungsi setiap bagiannya. Kemudian mengambil awetan preparat ambing daradan meletakkan pada sebelah awetan preparat ambing laktasi, mengamatiperbedaan dari kedua awetan preparat ambing tersebut.
  6. 6. BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN 2.1. Fisiologi Lingkungan dan Fisiologi ternak Tabel 1. Fisiologi Lingkungan Suhu (oC) Kelembaban (%) Radiasi (Kcal m-2No Waktu jam-1) Dalam Luar Dalam Luar1 05.30 WIB 24 27 68 72 389,262 12.00 WIB 31 35 46 32 461,633 21.00 WIB 25 23 68 95 386,66 Sumber: Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2012. Tabel 2. Fisiologi Ternak Berat Produksi Suhu Tubuh Ternak Denyut Frekuensi Jenis SusuNo Jam (oC) Nadi Napas Susu (liter) (gr/cm3) 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 05.30 36,75 37,2 35,9 53 56 54 25 24 46 - - - 1,0249 2 12.00 38 38,4 38,45 61 63 63 46 33 61 - - - 3 14.00 - - - - - - - - - - - - 1,0260 4 21.00 38,45 37,9 37,1 72 70 59 31 35 62 - - - Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2012. Berdasarkan praktikum fisiologi lingkungan dapat diketahui pada pukul 05.30 suhu di dalam kandang dan diluar kandang yaitu menunjukkan 240C, sedangkan kelembaban di dalam dan di luar kandang berbeda jauh antara 74% dan 96 %. Kemudian pada pukul 12.00 suhu meningkat, antara suhu di dalam dan di luar kandang tidak berbeda jauh antara 31,50C dan 310C sedangkan kelembaban
  7. 7. pada dalam kandang lebih rendah 51% dibanding di luar kandang 71%. Padapukul 21.00 suhu menurun, di dalam dan di luar kandang tidak berbeda jauhantara 250C dan 240C sedangkan kelembaban tidak berbeda jauh antara 70% dan74%. Suhu antara di dalam dan di luar kandang tidak berbeda jauh karena sistemperkandangannya setengah terbuka sehingga suhu diantara dalam dan luarkandang tidak berbeda jauh. Hal ini sesuai dengan pendapat Kanisius (1995) yangmenyatakan bahwa ventilasi kandang untuk sapi perah di daerah tropis cukupdengan ventilasi alami, sistem perkandangan seperti ini disebut sistemperkandangan semi terbuka. Kelembaban tertinggi pada pagi hari yaitu 74% untukdi luar kandang dan 96% untuk di dalam kandang, hal ini dikarenakan di pagi haritidak banyak terjadi penguapan air atau pelepasan panas sehingga kelembabanmenjadi tinggi. Kelambaban yang tidak sesuai dengan standar menyebabkanaktivitas ternak terganggu. Hal ini sesuia dengan pendapat Frandson (1992) yangmenyatakan bahwa pada wilayah tropis seperti di Indonesia, kelembaban udarayang baik dan nyaman bagi ternak adalah lebih dari 60%. Temperatur yang tinggiakan mempengaruhi tingkat konsumsi pada ternak dan menurunkan sensasi lapar.Kelembaban dapat mempengaruhi mekanisme pengaturan temperatur tubuh ternakdan tubuh dapat pula memperoleh panas secara langsung dari radiasi matahari.Hasil dari radiasi matahari dapat dilihat bahwa radiasi matahari paling banyakturun sampai ke bumi pada siang hari yaitu 461, 63 Kcal m-2 jam-1, kemudianpada pagi hari 389,26 Kcal m-2 jam-1 dan malam hari 386,66 Kcal m-2 jam-1.Radiasi matahari paling tinggi pada waktu siang hari dikarenakan radiasi matahaributuh waktu hingga terpancar semua ke bumi sehingga pada siang hari
  8. 8. terakumulasi paling banyak dan merupakan titik puncak radiasi matahari padapukul 13.00 – 14.00, kemudian akan turun perlahan pada malam hari sedangkanpada pagi hari merupakan suhu terendah sebelum mencapai puncak. Hal ini sesuaidengan pernyataan Purwanto et al., (1995) yang menyatakan bahwa radiasimaksimal dicapai pada saat matahari mencapai zenith, sedangkan radiasi minimaldicapai pada saat matahari berada pada posisi terendah. Berdasarkan praktikum fisiologi ternak didapatkan hasil suhu tubuh ternaktertinggi pada malam hari mencapai 38,450C, siang hari 380C dan pada pagi hari36,750C. Pengukuran denyut nadi tertinggi pada malam hari yaitu 72 kali/menit,siang hari 61 kali/menit, dan pada pagi hari 52,5 kali/menit. Pengukuran frekuensinafas tercatat pada siang hari 46 kali/menit, malam hari 31 kali/ permenit danpada pagi hari 25 kali/menit. Suhu tubuh ternak pada siang hari lebih tinggidikarenakan suhu lingkungan pada siang hari tinggi ini menunjukan adanyahubungan antara fisiologi lingkungan dan fisiologi ternak. Hal ini sesuai denganpendapat Williamson dan Payne (1993) menambahkan bahwa Kelembaban relatiferat hubungannya dengan tingkat penguapan air dari tubuh ternak ke lingkungan.Penguapan air ini menyebabkan suhu di lingkungan ternak menjadi lebih tinggiketika siang hari. Selain suhu tubuh tinggi, denyut nadi dan frekuensi nafas padasiang hari seharusnya juga lebih tinggi dikarenakan untuk menyesuaikan cekamanpanas. Sedangkan pada hasil praktikum malam hari denyut nadi dan suhu tubuhternak lebih tinggi dimungkinkan ternak sedang mengalami stres. Hal ini tidaksesuai pendapat Dukes (1955) yang menyatakan bahwa suhu lingkungan yang
  9. 9. tinggi mampu menaikkan frekuensi denyut nadi namun pada suhu lingkunganyang rendah akan menurunkan denyut nadi meskipun dalam batas yang normal. Perbedaan suhu tubuh, denyut nadi dan frekuensi nafas dipengaruhi olehbeberapa faktor antara lain keadaan fisiologi lingkungan, tingkat stres, aktivitas,bobot badan, umur, kehamilan dan aktivitas pencernaan terutama rumen. Hal inisesuai dengan pendapat Williamson dan Payne (1993) yang menyatakan bahwafaktor-faktor yang mempengaruhi denyut nadi pada ternak adalah aktifitas ternak,stres atau cekaman suhu serta kelembaban lingkungan. Frandson (1992)menambahkan bahwa peningkatan frekuensi nafas sangat efisien untukmembuang panas tubuh yang terlalu tinggi. Tingginya frekuensi nafas sangatberkaitan dengan pola makan dan ruminasi yang berakibat pada turunnya efisiensipenampilan produksi. Sapi melepaskan panas tubuh secara induksi dengan caramelakukan laying yaitu menempelkan tubuh pada lantai dan secara konveksilewat angin. Jika radiasi matahari tinggi sapi melepas panas tubuh lewat keringat.Hal ini sesuai dengan pendapat Williamson dan Payne (1993) yang menyatakanbahwa tingkah laku berbaring pada sapi merupakan cara untuk menanggulangitemperatur tubuh secara konduksi dan lama sapi berbaring melakukan remastikasidipengaruhi oleh suhu lingkungan dan ukuran tubuh. Berdasarkan hasil praktikum produksi dan berat jenis susu, berat jenis susuhasil pemerahan siang hari lebih rendah dari hasil pemerahan pagi hari yaitu1,0249 g/ml dan 1,0256 g/ml. Berat jenis susu hasil pemerahan pagi hari lebihtinggi dari pada siang hari dikarenakan pada waktu malam hari sapi diberikanpakan hijauan hal ini dapat menyebabkan naiknya berat jenis susu dan semakin
  10. 10. panjang interval pemerahan maka makin tinggi produksi susu dan memungkinkanmeningkatnya berat jenis susu. Hal ini sesuai dengan pendapat pendapat Frandson(1992) yang menyatakan bahwa berat jenis susu pada pemerahan sapi perah dipagi hari lebih tinggi daripada sore hari. Munif (2008) menambahkan bahwa beratjenis susu sapi standar adalah 1, 028 gram/cm3.2.2. Anatomi Ambing Berdasarkan hasil praktikum Produksi Ternak Perah tentang materianotomi ambing diperoleh data sebagai berikut :Gambar ambing tampak atas Gambar ambing tampak samping Sumber: Data Primer Praktikum Produksi Ternak Perah, 2012. Ilustrasi 1. Anatomi AmbingKeterangan : 1. Teat meatus 2. Teat cistern 3. Annular fold 4. Gland cistern 5. Ductus mayor 6. Ligamentum suspensorium medialis 7. Ligamentum suspensorium lateralis 8. Lobulus 9. Lobus tidak dapat dilihat oleh mata telanjang 10. Alveoli
  11. 11. Berdasarkan hasil praktikum anatomi ambing didapatkan hasil pengamatnpreparat awetan ambing laktasi terbagi menjadi empat bagian, kurtir depanbelakang yang dipisahkan oleh ligamentum suspensorium lateralis dan kuartirkanan dan kuartir kiri yang dipisahkan oleh ligamentum suspensorium medialis.Antara kuartir depan lebih kecil dibandingkan kuartiir belakang. Bagian-bagianambing dimulai dari alveolus yang merupakan tempat menyaringnya darah,alveoli berkumpul menjadi lobuli dan lobuli bersatu menjadi lobus. Bagian dalamlobus terdapat lumen, lumen terdapat sel-sel epitel yang ber fungsi menyerap zat-zat dari dalam darah yang masuk ke lobus dan mensintesisnya menjadi susu.Setelah lumen penuh susu akan mengalir ke sinus laktoverus dan menuju ke majorduct. Gland cistern adalah pengumpulan dari semua saluran ambing dan sebagaitempat penampungan susu yang disentesis. Kemudian annular fold akan menahansusu di dalam ambing terhadap tekanan yang timbul akibat akumulasi susu. Didalam gland cistern yang dilakukan oleh otot spingter dengan cara kerjamengencang dan mengendor, fungsi lainnya untuk mencegah bakteri pada saatpemerahan. Selanjutnya akan menuju steak canal atau teat cistern dan akan keluar melalui teat meatus. Hal ini sesuai dengan pendapat Munif (2008) yangmenyatakan bahwa ambing seekor sapi betina terbagi menjadi empat kuartir yangterpisah, dua kuartir bagian depan biasanya berukuran sekitar 20% lebih kecil darikuartir bagian belakang dan kuartir-kuartir itu bebas atau tidak berhubungan satusama lain. Ditambahkan oleh Mukhtar (2006), ambing sapi di bagian luarterbungkus oleh dinding luar yang disebut ligamentum suspensorium lateralis
  12. 12. sedangkan di bagian dalam ambing terpisah menjadi bagian kanan dan kiri olehsuatu selaput pemisah tebal yang disebut ligamentum suspensorium medialis. Perbedaan anatomi ambing sapi laktasi dan sapi dara dapat dilihata padapraktikum ini, yaitu ambing sapi dara dari bentuk dan beratnya lebih kecildibandingkan dengan ambing sapi laktasi karena pada ambing sapi dara ambingtersebut berkembang secara maksimal. Puting ambing sapi dara juga lebih kecildan masih tertutup. Perbedaan yang terakhir terlihat pada pembagian kuartir, padaambing sapi dara hanya dipisahkan antara kuartir kanan dan kuartir kiri denganligamentum suspensorium medialis, belum terbagi antara kuartir depan dan kuartirbelakangan karena ambing sapi dara belum berkembanga maksimal. Hal ini sesuaidengan pedapat Mukhtar (2006) yang menyatakan bahwa pertumbuhan kelenjarsusu dari lahir sampai pubertas terus berlangsung, pada sapi muda pertumbuhansistem duktus terus berlangsung dan hasilnya terlihat pada ambing sapi dewasa,ukuran kuartir terus bertambah, sebagian pada timbunan jaringan lemak sampaibagian depan dan kuartir belakang, masing-masing menyatu dan bergabung padabagian dasar ambing, berat ambing pada anak sapi sampai pubertas terusmeningkat, demikian pula kapasitasnya. Prekusor dari pembentukan susu adalah darah. Rumen membentuk lemaksusu lalu dibawa oleh darah, usus membentuk lemak, asam amino, vitamin yangakan dibawa oleh darah, jaringan lemak menghasilkan lemak yang dibawa olehdarah dan hati menghasilkan glukosa yang akan menjadi laktosa susu dibawa olehdarah. Darah di saring di alveolus lalu melewati lobus dan masukke dalam lumendan kemuadian zat-zat makan tersebut akan disintesis menjadi susu. Hal ini sesuai
  13. 13. dengan pendapat Mukhtar (2006) yang menyatakan bahwa proses sintesis air susuoleh sel-sel epitel “glandula lactifera” dan proses mengalirnya air susu darisitoplasma ke lumen alveoli serta pencurahan air susu dari alveoli kesisterna/sinus ke luar. Ketika lumen penuh maka air susu akan turun melalu sinuslaktoverus menuju ke major duct. Dari major duct dan semua saluran ambingmenuju gland cistern. Annular fold menahan susu agar tidak keluar, setelahmendapatkan rangsangan maka rangsangan tersebut akan diproses didalamhipotalamus dan akan mengeluarkan hormon oksitosin. Otot spingter pada annularfold akan mengendor dan susu akan menuju ke steak canal atau teat cistern danakan keluar melalui teat meatus. Hal ini sesuai dengan pendapat Sodiq dan Zainal(2008) yang menyebutkan bahwa di ujung putting terdapat lubang yang disebutcanal streak atau Teat meatus. Teat cistern terletak tepat setelah saluranpengeluaran bersatu dengan sisterne kelenjar pada dasar ambing.
  14. 14. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Suhu pada luar dan dalam kandang pada pagi, malam tidak berbeda jauhdari suhu lingkungan disebabkan sistem kandang yang setengah terbukamenyebabkan suhu luar dan dalam kandang hampir sama. Kelembapan tertinggiterjadi pada pagi hari, karena pada pagi hari tidak terjadi penguapan karena sinarmatahari sehingga kelembapan tinggi. Radiasi matahari tertinggi terjadi padasiang hari, hal ini disebabkan pada siang hari merupakan titik puncak dari panasmatahari yang turun ke bumi. Tinggi rendahnya frekuensi denyut nadi, pernafasandan suhu tubuh ternak dipengaruhi oleh tingkat kesetresan pada ternak, umurternak, bobot ternak, keadaan lingkungan dan beberapa faktor dalam tubuh ternaklainnya. Perbedaan ambing pada sapi laktasi dan sapi dara adalah ukurannya yangberbeda, pada puting bagian belakang belum berkembang, teat meatus pada sapidara belum terbuka, ligamentum suspensorium lateralis belum terbentuksempurna pada sapi dara. Berat Jenis susu tertinggi terjadi pada pemerahan pagihari karena interfal waktu pemerahan yang lebih panjang dibanding pemerahansore hari, juga pemberian pakan hijauan pada malam hari yang akan menyebabkankualitas dan kuantitas susu lebih baik dari waktu sore hari. Sebaiknya pada praktikum produksi ternak perah menggunakan alat yanglebih canggih dan tradisional sehingga praktikan dapat menggunakan kedua alattersebut dan membandingkannya. Sebaiknya waktu mengamati ambing, praktikan
  15. 15. mengamati ambing pada sapi secara langsung terlebih dahulu setelah itu barumengamati preparat awetan ambingnya.
  16. 16. DAFTAR PUSTAKAKanisius, A. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Kanisius, Yogyakarta.Dukes, H. 1955. The Physiology of Domestic Animal. 7th edition. Comstock Publishing Denville.Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.Munif. 2008. Memilih Ternak Sehat. Multiply, Indonesia. (http://sapiology.com). (diakses pada 2 November 2012 pada pukul 21.58).Purwanto BP, A. B. Santoso dan A. Murfi. 1995. Fisiologi Lingkungan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.Sodiq, A. dan Z. Abidin. 2008. Meningkatkan Produksi Susu Kambing Peranakan Etawa. Agromedia Pustaka : JakartaWilliamson dan Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  17. 17. LAMPIRANLampiran 1. Perhitungan radiasi matahariR= δ T4Keterangan:R= Radiasi Matahari (Kcal m-2 jam-1)δ= Konstanta Stefann Boltzman (4,903 x 10-8)T= Suhu mutlak dalam derajat Kelvin (273+oC)Pagi:R = δ T4 = (4,903 x 10-8)(273+25,5 oC)4 =389,26 Kcal m-2 jam-1Siang:R = δ T4 = (4,903 x 10-8)(273+38,5 oC)4 =461,63 Kcal m-2 jam-1Malam:R = δ T4 = (4,903 x 10-8)(273+25 oC)4 =386,66 Kcal m-2 jam-1
  18. 18. Lampiran 2. Perhitungan berat jenis susuBerat jenis = Berat jenis terukur – (27,5-T)x0,0002Keterangan :T = suhu terukurPemerahan Pertama:Berat jenis = Berat jenis terukur – (27,5-T)x0,0002 = 1,025-(27,5-27)x0,0002 =1,0249Pemerahan Kedua:Berat jenis = Berat jenis terukur – (27,5-T)x0,0002 = 1,0256-(27,5-29,5)x0,0002 =1,0264

×