Kiki Niken Saputri observasi nilai seni kerajinan gerabah

13,362 views

Published on

3 Comments
10 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
13,362
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
3
Likes
10
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kiki Niken Saputri observasi nilai seni kerajinan gerabah

  1. 1. OBSERVASI NILAI SENI KERAJINAN GERABAH DI JL.MAYJEND PANJAITAN MALANG LAPORAN Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kesenian SD Yang Dibina Oleh Drs. Sumanto Oleh : Dian Novianti ( 109151415407) Kiki Niken Saputri ( 109151420271) UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN KSDP PROGRAM STUDI S1 PGSD FEBRUARI 2012
  2. 2. NILAI SENI KERAJINAN GERABAH DI JL.MAYJEND PANJAITAN MALANGA. Pendahuluan Gerabah merupakan perkakas yang terbuat dari tanah liat, dibentukkemudian dibakar dijadikan alat-alat yang berguna membantu kehidupan manusia.Pada masa lalu gerabah hanya dimanfaatkan untuk perabotan dapur saja, sehinggakurang mendapat perhatian khusus oleh penikmat seni. Namun, pada era sekaranggerabah mulai dilirik oleh masyarakat luas, karena gerabah sudah mempunyaibanyak modifikasi sehingga sekarang tidak hanya diletakkan didapur melainkandapat diletakkan di ruang tamu sebagai hiasan rumah. Gerabah juga merupakan salah satu wujud seni yang dapat dikembangkansesuai kreativitas. Pengembangan kerajinan gerabah juga dapat dijadikan seorangpendiik sebagai media untuk mebelajarkan anak. Semua pendidik wajib untukmengembangkan kreativitas yang ada dalam diri seorang anak. Pendidik jugadapat menggunakan karya seni berupa gerabah untuk menanamkan sikap cintaterhadap seni dalam negeri. Seni kriya berupa gerabah ini dapat dimasukkan dalam pembelajaran kelas2 semester 2 pada kurikulum yang mempunyai standar kompetensimengapresiasikan karya seni rupa pada kompetensi dasar menunjukkan sikapapresiatif terhadap unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi. Gerabah inijuga merupakan seni terapan sehingga dapat dimasukkan dalam pembelajaranSeni Rupa kelas IV semester 1 dengan Standar Kompetensi mengapresiasikankarya seni rupa, dengan kompetensi dasar menjelaskan makna seni rupa terapan,mengidentifikasi jenis karya seni rupa terapan yang ada di daerah setempat,menunjukkan sikap apresiatif terhadap kesesuaian fungsi karya seni rupa terapan,menunjukkan sikap apresiatif terhadap keartistikan karya seni rupa terapan. Banyaknya kesesuaian penggunaan gerabah sebagai media pendidik dalamkurikulum untuk mencapai tujuan intruksional, maka peneliti mengambil jeniskarya seni murni berwujud 3 dimensi berupa karya seni terapan yaitu gerabahuntuk menunjang kreativitas dalam diri anak yang pembuatannya masih bersifat
  3. 3. tradisional. Tidak banyaknya biaya yang dikeluarkan dan dapat tercapainya tujuanpembelajararan dalam penggunaan gerabah sebagai media pembelajaranmenjadikan pembelajaran semakin efektif dan efesien.B. Landasan Teori Gerabah biasa disebut sebagai tembikar atau keramik lokal. Gerabahbiasanya untuk menunjukkan barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat.Gerabah dibuat dari satu atau dua jenis tanah liat yang dicampur. Warnanya tidakbening, berpori, dan bersifat menyerap air. Campuran yang digunakan terdiri daripasir kasar atau pasir halus, dan pembakarannya antara 1000-1150 ºC, namunkadang-kadang lebih rendah dari itu. Diduga gerabah pertama kali dikenal pada masa neolitik (kira-kira 10.000tahun SM) di daratan Eropa dan mungkin pula sekitar akhir masa paleolitik (kira-kira 25.000 tahun SM) di daerah Timur. Menurut para ahli kebudayaan, gerabahmerupakan kebudayaan yang universal (menyeluruh), artinya gerabah ditemukandi mana-mana, hampir di seluruh bagian dunia. Gerabah muncul pertama kalipada waktu suatu bangsa mengalami masa foodgathering (mengumpulkanmakanan). Pada masa ini masyarakat hidup secara nomaden, senantiasaberpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam corak hidup sepertiitu wadah gerabah dapat digunakan secara efektif karena gerabah merupakanbenda yang ringan dan mudah dibawa-bawa. Selain itu gerabah juga merupakanbenda yang kuat, paling tidak lebih kuat daripada yang dibuat dari bahan lain,seperti kayu, bambu atau kulit binatang. Bahan utama pembuatan gerabah sangat mudah ditemukan, oleh karena itumerupakan hal yang wajar jika setiap masyarakat bisa menjadi produsen bagikepentingannya sendiri. Akan tetapi mengenai proses „penemuan‟ gerabah itusendiri, belum satu orang pun bisa menguraikannya secara ilmiah. Namun, dapatdigambarkan seperti berikut ini, pada waktu itu beberapa orang sedang membakarhasil buruannya, kebetulan pembakaran itu dilakukan di atas tanah yang tergolongjenis tanah liat. Setelah selesai membakar daging itu, mereka mendapatkan tanahdi bawahnya berubah menjadi keras. Dari sinilah muncul gagasan untuk membuatsuatu wadah dari tanah liat yang dibakar.
  4. 4. Pembuatan gerabah jelas membutuhkan api sebagai faktor yang utama,meskipun panas matahari barangkali dapat juga dipakai untuk fungsi yang samaMasyarakat yang belum mengenal api tentulah mustahil bisa memproduksigerabah. Dengan demikian, tafsiran bahwa gerabah mula pertama dikenal padamasa neolitik dapat diterima, sebab penemuan dan domestikasi api baru dikenalpada akhir masa paleolitik atau awal masa neolitik. Gerabah memiliki arti yang penting bagi manusia, sehingga ia dapatditerima dalam setiap kebudayaan dan terus semakin berkembang selama belumditemukan wadah lain yang memiliki tingkat efektifitas setinggi gerabah.Penggunaan wadah gerabah oleh suatu kelompok manusia memiliki arti pentingbahkan jauh lebih penting daripada yang bisa kita bayangkan. Dengan dikenalnyawadah yang kecil, mudah dibawa dan kuat, suatu kebudayaan maju selangkah lagike arah kebudayaan yang lebih tinggi. Kebutuhan gerabah yang beraneka ragam melahirkan tipe-tipe gerabahyang semakin banyak. Jika sebelumnya digunakan wadah lain yang jauh lebihsulit diperoleh, maka kini mereka bisa membuat wadah gerabah yang lebih mudahdidapat. Gerabah sebagai salah satu benda hasil kebudayaan manusia merupakanunsur yang paling penting dalam usaha untuk menggambarkan aspek-aspekkehidupan manusia. Sampai kini gerabah yang berhasil ditemukan terutamaberbentuk wadah, seperti periuk, cawan, pedupaan, kendi, tempayan, piring, dancobek. Gerabah atau kereweng (pecahan gerabah) sering kali ditemukan di antarabenda-benda lain pada situs arkeologi. Untuk keperluan studi arkeologi temuan inisangat besar manfaatnya, karena gerabah merupakan alat penunjuk yang baik darikebudayaan yang berbeda. Beberapa kereweng yang dapat dikenali tipenya bisadigunakan untuk menanggali benda-benda lain yang ditemukan di sekitarnya dandapat pula digunakan untuk menentukan hubungannya dengan kebudayaan lain.Selain itu gerabah merupakan benda yang sulit hancur sama sekali, terlebih lagikalau tersimpan dalam tanah. Itulah sebabnya gerabah yang telah berusia puluhanribu tahun pun masih bisa dikenali.
  5. 5. C. Jenis seni: Seni gerabahD. Bentuk : Macam-macam souvenir pernikahan , kendi, pigura, tempat pensil, celengan, rumah-rumahan, pajangan dinding, lukisan relief, dan mobil- mobilan.E. Media : Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan gerabah, yaitu sebagai berikut: 1. Alat a. Meja putar/ Perbot Wanita Perbot wanita berfungsi untuk membentuk bahan gerabah. Alat ini disebut sebagai perbot wanita karena biasa digunakan oleh kaum wanita yang diputar menggunakan tangan. Gambar 1.1 Perbot Wanita b. Perbot Laki-laki Perbot laki-laki mempunyai fungsi sama dengan perbot wanita yaitu untuk membentuk bahan gerabah. Perbedaan perbot laki-laki dan perbot wanita terdapat pada cara kerjanya, perbot laki-laki lebih menggunakan kaki untuk memutar alatnya sehingga lebih mempermudah pekerjaan.
  6. 6. Gambar 1.2 Perbot Laki-lakic. Cetakan Cetakan berfungsi untuk mencetak bahan gerabah sesuai denganpesanan yang diinginkan. Cetakan ini juga berfungsi untukmensimetriskan hasil gerabah yang diinginkan. Pembuatan cetakanpada gerabah ini masih dalam tingkat terbatas. Cetakan dianggapmempunyai kualitas rendah dalam hal produksi, karena dapat denganmudah ditiru oleh pengusaha lain sehingga ciri khasnya akan cepathilang. Gambar 1.2 Cetakan Asbakd. Babasan/ Tempat air Babasan/ tempat air berfungsi sebagai wadah air yang biasadiletakkan didekat perbot untuk mempermudah pekerjaan dalam prosespembuatan gerabah.
  7. 7. Gambar 1.3 Babasan/ tempat aire. Sendat Sendat merupakan sebutan dari senar yang mempunyai fungsiuntuk memotong gerabah setelah dibentuk pada perbot.f. Penggawe Penggawe merupakan sepotong bambu untuk membantumembentuk gerabah dalam proses pembuatan.g. Tungku pembakaran Tungku pembakaran berfungsi untuk membakar gerabah yangsudah dibentuk. Pembakaran gerabah ini dilakukan untuk memperkuattekstur tanah agar tidak mudh hancur. Gambar 1.4 Tungku Pembakaranh. Kuas Kuas berfungsi untuk memberian warna serta motif untukmemberikan kesan lebih menarik dan nyata.
  8. 8. Gambar 1.5 Kuas Cat2. Bahan a. Tanah liat Tanah liat merupakan bahan dasar utama dalam pembuatan gerabah. Gambar 1.6 Tanah Liat b. Pasir Pasir merupakan bahan campuran tanah liat, biasanya dengan menggunakan campuran 3:1 antara tanah liat dengan pasir. c. Cat minyak/ Cat air Cat minyak/ cat air merupakan bahan untuk memberikan warna pada gerabah agar terkesan menarik. Gambar 1.6 Cat minyak dan cat air
  9. 9. d. Lem kayu Lem kayu digunakan untuk melapisi gerabah sebelum di cat, agar gerabah lebih kuat dan untuk melapisi gerabah yang terdapat sedikit kecacatan berupa retakan.. Gambar 1.7 Lem kayu e. Sabun cuciF. Fungsi : 1. Sebagai souvenir Gerabah ini dapat dijadikan sebagai souvenir pernikahan sesuai dengan pemesanan yang diinginkan. Berikut merupakan contoh souvenir yang pernah dibuat. Gambar 1.8 Souvenir pernikahan
  10. 10. 2. Sebagai hiasan/ pajangan Saat ini gerabah tidak hanya diletakkan di dapur saja gerabah juga dapat diletakkan di ruang tamu, sebagai hiasan dinding untuk mempercantik rumah. Sebagai benda hias, yaitu seni gerabah yang dibuat sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya. Contohnya: hiasan dinding nomor rumah, hiasan dinding nama pemilik rumah, lukisan relief, dan lain-lain. Gambar 1.9 Hiasan dinding3. Sebagai benda pakai Sebagai benda pakai, yaitu gerabah yang tidak hanya menonjolan fungsi estetiknya, namun juga bisa dimanfaatkan sebagai benda pakai, seperti tempat pensil, asbak, tempat lilin, celengan dan lain-lain. Seperti pada gambar 2.0 gerabah berfungsi sebagai tempat penyimpan uang yang berbentuk unik-unik sehingga dapat menarik minat para konsumen. Gambar 2.1 Celengan
  11. 11. 4. Sebagai pajangan poto Gerabah juga dapat dimodifikasi sebagai tempat memajang foto. Gambar 2.2 Figura foto 5. Sebagai kerajinan kreasi anak Gerabah juga dapat sebagai media kreasi anak, seperti pada gambar 2.2 gerabah di cetak dan diberi warna dasar saja, kemudian anak dapat mewarnai sesuai keinginannya sehingga dapat meningkatkan kreativitasnya. Gambar 2.2 Gerabah tanpa warnaG. VisualisasiLangkah-Langkah Pembuatan: Gerabah merupakan hasil karya seni yang bahan utamanya berupa tanah liat.Berikut ini uraian mengenai proses pembuatan gerabah sebagai bentuk keseniantiga dimensi.
  12. 12. 1. Pengambilan tanah Tahap ini merupakan tahap awal dalam pembuatan gerabah, dimanatanah liat sebagai bahan utama gerabah, diambil dengan cara memesan tanahliat yang baik dari daerah Wagir, Malang. Tanah liat yang baik berwarna merahcoklat atau putih kecoklatan. Tanah liat yang telah didapat ini kemudiandikumpulkan pada suatu tempat untuk proses selanjutnya. Gambar 2.3 Tanah liat2. Persiapan tanah Tanah liat yang telah dikumpulkan pada proses sebelumnya tadi disiramair hingga basah merata dan dicampur dengan pasir. Perbandingan campuranantara tanah liat dengan pasir tersebut berkiar antara 1:10. Pasir tidak bolehterlalu banyak dicampurkan karena akan membuat tanah terlalu kaku sehinggasulit dibentuk, namun pasir juga jangan terlalu sedikit dicampurkan melainkanharus sesuai porsinya. Pemberian air untuk membasahi tanah pun harusdiperhatikan, jangan terlalu sedikit sehingga tanah kurang lentur ataupun jaganterlalu banyak karena akan membuat tanah menjadi encer atau terlalu lumer.Tanah yang sudah siap kemudian didimakan selama satu hingga dua hari. Setelah itu, tanah liat digiling agar lebih rekat dan liat. Ada dua carapenggilingan yaitu secara manual dan mekanis. Penggilingan manual dilakukandnegan cara menginjak-injak tanah liat hingga menjadi ulet dan halus.Sedangkan secar mekanis dengan menggunakan mesin giling.
  13. 13. 3. Proses pembentukan Berikutnya dalam tahap pembuatan gerabah, ada proses pembentukanyang merupakan inti dari keseluruhan proses karena pada tahap ini akandihasilkan berbagai bentuk dan variasi gerabah sesuai dengan kebutuhan dankreativitas seniman itu sendiri. Setalah melewati proses penggilingan, makatanah liat siap dibentuk sesuai dengan keinginan. Aneka bentuk dan disaindepat dihasilkan dari tanah liat. Seberapa banyak tanah liat dan berapa lamawaktu yang diperlukan tergantung pada seberapa besar gerabah yang akandihasilkan, bentuk dan desainnya. Pada proses pembentukan, gerabah yang akan dibentuk dapatmenggunakan dua cara yaitu dibentuk sendiri secara manual (dengan tangan)atau membentuk dengan menggunakan cetakan. Untuk tanah yang akandibentuk menggunakan cetakan, sebaiknya tanah disiapkan yang lebih keras,sedangkan untuk tanah yang dibentuk secara manual, sebaiknya tanah lebihlembek. Alat yang digunakan dalam proses pembentukan tanah liat menjdibentuk-bentuk kesenian gerbah ini adalah perbot, babasan, penggawe, sendat,panchalan, dan tali gantungan. Pengrajin mengoperasikan perbot dengan carameletakkan tanah yang akan dibentuk diatas meja putar, kemudian menekan-nekan sesuai selera dan desain menggunakan tangan sambil menendang-nendangkan kaki pada panchalan. Kesamaan gerak dan konsentrasi sangatdiperlukan untuk dapat melakukannya. Untuk membantu pelunakan tanah liatagar mudah dibentuk, maka bisa menggunakan air yang dituangkan dalambabasan. Gambar 2.4 Proses pembentukan
  14. 14. Langkah selanjutnya dalam pembentukan gerabah adalah dekorasi, yaituteknik penyambungan untuk bentuk-bentuk yang membutuhakan obyek lainselain murni tanah liat hasil bentukan manual ataupun cetakan. Sebelum bentukgerabah siap disambung, maka dijemur dulu dalam waktu 6-7 jam, tergantungcuaca. Contoh dari penyambungan ini adalah pada gerabah bentuk kura-kura.Badan dari kura-kura ini terlebih dahulu dibentuk dengan menggunakan perbot,selanjutnya untuk memberikan organ kakinya, maka dibuat dengan teknikmenyambung tadi, yaitu menyambungkan tanah liat kecil sehingga menyerupaikaki kura-kura kemudian ditempelkan pada badannya. Gambar 2.5 Proses penyambungan4. Penjemuran Setelah tanah liat mengalami pembentukan dan penyambungan, makaberikutnya dilakukan tahap penjemuran. Bentuk gerabah yang sudah jadi atauhampir sempurna setelah mengalami proses penyambungan tadi tentunyamasih belum sepenuhnya kering, sedangkan gerabah yang bisa menjadi bendabernilai seni haruslah gerabah yang benar-benar sudah kering, untuk itulahbentuk-bentuk gerabah tadi perlu dijemur. Penjemuran benda-benda kerajinan gerabah ini tidak boleh dilakukandengan sembarangan, karena bisa mempengaruhi kualitas hasil akhir bendakerajinan gerabah. Hindarkan penjemuran gerabah tersebut di bawah terikmatahari langsung karena dapat merusak struktur gerabah dengan suhu yangterlalu tinggi. Cara paling tepat untuk menjemur gerabah adalah dengan tidakmenjemurnya secara langsung di luar ruangan, namun dijemur di dalam
  15. 15. ruangan yang mendapat cukup cahaya matahari, sehingga suhu tidak terlalutinggi tapi juga tidak terlalu rendah. Untuk mendapatkan hasil optimal mengenai tingkat kekeringan dankualitas benda kerajinan gerabah, maka waktu yang diperlukan untukmelakukan penjemuran relatif lama, yakni selama kurang lebih 3 sampai 4 hari.Namun hal ini juga tergantung pada cerah tidaknya cuaca. Jika cuacamendhung atau bahkan hujan, maka waktu yang diperlukan bisa lebih dari 3sampai 4 hari tersebut.5. Pembakaran Setelah gerabah telah benar-benar kering dan mengeras, tahapselanjutnya dalam proses pembuatan gerabah adalah proses pembakaran.Dalam tahap ini sendiri masih ada prosedur yang harus diperhatikan olehpengrajin gerabah agar produk buatannya tidak rusak ataupun gagal. Proseduryang harus ditempuh tersebut yaitu: a. Menata terlebih dahulu barang-barang kerajinan gerabah yang akan dibakar di dalam tungku bakar. Gambar 2.6 Gerabah yang siap dibakar b. Masukkan gerabah yang akan dibakar pada tungku dengan kapasitas yang sesuai. Misalnya untuk ukuran gerabah kecil, diletakkan pada tungku berkapasitas 800, sedangkan yang berukuran relatif besar pada tungku dengan kapasitas 6000 gerabah. c. Mulai memanaskan tungku pembakaran dengan api yang kecil terlebih dahulu. Api yang kecil ini bertujuan untuk memeratakan suhu pada proses awal pembakaran, memperoleh tingkat kekeringan yang optimal,
  16. 16. menguapkan kadar air pada gerabah sehingga benar-benar kering. Proses ini memerlukan waktu selama kurang lebih 5 jam. Gambar 2.7 Tungku pembakarand. Melakukan pembesaran api dengan cara menumpuk kayu bakar hingga ruang apai penuh oleh kayu, kemudian ditutup. Suhu pada proses pembesaran api ini berkisar antara 600-700o C.e. Setiap kurang lebih 30 menit sekali, tungku dibuka dan ditutup dengan cara mengundurkan dan menumpuk kembali kayu bakar, supaya api bisa merata sampai ke atas, selain itu juga merupakan cara untuk menghindari kegosongan pada gerabah.f. Untuk mengetahui tingkat kematangan, diamkan gerabah selama kurang lebih 10 menit, kemudian ditutup dengan genteng, kemudian letakkah arang diatas tungku.g. Langkah terakhir adalah pembongkaran gerabah yang telah matang dalam pembakarannya. Gambar 2.8 Pembongkaran gerabah
  17. 17. 6. Penyempurnaan Tahap ini merupakan tahap akhir dari proses pembuatan kerajinan gerabah, dimana kegiatan yang dilakukan adalah menyempurnakan gerabah yang sudah siap. Bentuk penyempurnaan dari gerabah ini meliputi, pemilahan dan pengecatan. Pemilahan yang dimaksud disini adalah memilih gerabah-gerabah yang mengalami keretakan untuk kemudian diperbaiki, namun apabila tingkat keretakan tinggi, maka gerabah harus dibuang. Gambar 2.9 Proses Penyempurnaan Sedangkan pewarnaan dalam proses penyempurnaan gerabah disini dapat menggunakan beberapa teknik, diantaranya: a. Teknik Usel: teknik ini merupakan salah satu bentuk variasi pengecatan yang dikreasikan oleh pengrajin sendiri dengan menggunakan warna dasaran putih dan dilanjutkan dengan warna-warna cerah. Sebelum dicat, gerabah terlebih dahulu dilapisi oleh lem kayu, hal ini bertujuan untuk merekatkan gaerabah dan membat warna tidak mudah luntur. Setelah itu diberi kesan busa dengan menggunakan sabun atau detergen. Gambar 3.1 Teknik Usel
  18. 18. b. Teknik Sawut: teknik ini dimulai dengan menggunakan warna dasaran hitam kemudian dilapisi pernis. Catnya adalah cat suzuka dengan ditambah born bubuk agar cepet kering. Gambar 3.2 Teknik Sawut c. Teknik Natural: teknik pengecatan natural ini menggunakan pewarna bubuk atau yang disebut pereb. Warna yang digunakan biasanya merah dicampur kuning dengan perbandingan 1:1. Cat ini juga dicampuri dengan lem kayu. Gambar 3.3 Teknik NaturalH. Nilai Estetika 1. Gerabah berbentuk Kura-kura Gambar 4.1 Gerabah Kura-kura
  19. 19. Komposisi Komposisi gerabah berbentuk kura-kura, meliputi:a. Jenis dan wujud seni Gerabah berbentuk kura-kura ini merupakan jenis seni murni. Kura-kura ini dapat dilihat di semua arah sehingga dimasukkan kedalam seni 3 Dimensi.b. Unsur/ elemen seni Pada gerabah berbentuk kura-kura ini terdapat elemen garis berupa garis lingkaran untuk membentuk bagian atas kura-kura, bagian dalam untuk tempat lilin, serta bagian mata. Terdapat juga garisn lurus untuk menggambarkan sepasang kaki kura-kura. Pewarnaan kura-kura ini menggunakan teknik pewarnaan sawut. Pewarnaan sawut yaitu pewarnaan benda, dimulai dari benda dilapisi warna putih atau hitam secara penuh/ keseluruhan kemudian diberikan warna yang diinginkan namun tidak secara merata. Pewarnaan pada gerabah bentuk kura-kura dapatdisesuaikan dengan minat pelanggan, sehingga macam warnanya beraneka ragam. Gerabah berbentuk kura- kura mempunyai tekstur agak kasar, karena faktor penggunaan cat dengan teknik sawut yang memamng dibuat tidak merata.c. Struktur penataan Pada gerabah berbentuk kura-kura, terdapat 2 pasang kaki yang terletak didepan dan dibelakang serta diberi pewarnaan kuning keemasan. Dua pasang kaki kura-kura tersebut mempunyai bentuk yang simetris dengan lainnya, diletakkan pada samping kiri dan samping kanan. Kura-kura ini juga mempunyai kepala yang dilengkapi oleh goresan kuas untuk memberikan kesan sepasang mata dan mulut. Sepasang mata mempunyai warna hitam dan putih dengan letak yang beraturan (simetris) dilengkapi dengan satu mulut berwarna merah muda. Bagian atas kura-kura diberikan lubang dan didalam lubang tersebut terdapat lingkaran tempat mendirikan lilin, sehingga gerabah kura-kura ini mempunyai multifungsi yaitu sebagai asbak
  20. 20. rokok serta sebagai tempat lilin. Pada bagian belakang kura-kura juga dilengkapi ekor. Untuk memberikan kesan yang lebih indah, kura-kura ini dilengkapi 3 cekungan yang terletak di atas lubang bagian tubuh kura- kura sebelah kanan, kiri dan belakang.Nilai estetis a. Ide/ gagasan Ide pembuatan kura-kura ini diperoleh dari sebuah kenyataan hidup, bahwa kura-kura merupakan hewan yang mempunyai umur panjang sehingga tujuan dasar pembuatan kura- kura ini yaitu berharap agar siapapun yang mempunyai kura-kura tersebut mempunyai umur panjang juga. b. Suasana Kura-kura mempunyai bentuk dan warna yang tidak terlalu kontras serta mempunyai sifat warna yang tenang jika dipandang, sehingga pada umumnya memberikan kesan bahagia, dimana hidup merupakan sebuah karunia yang tak ternilai harganya. c. Pesan Manusia boleh berharap dan berusaha mempunyai umur panjang seperti kura-kura namun tetap ALLAH lah yang menentukan seberapa panjang hidup kita didunia ini.Penampilana. Bakat Pembuatan kura-kura ini merupakan bakat yang dapat menggambarkan realita sebuah kehidupan ke dalam wujud seni. Pengrajin membuat gerabah kura-kura ini menggunakan teknik tradisional yaitu teknik putar dengan memberikan warna yang menggunakan teknik sawut. Kura-kura ini dilengkapi dengan motif yang dibuat dari goresan kuas untuk membentuk kesan hidup.
  21. 21. b. Keterampilan Salah satu keterampilan yang banyak diminati oleh konsumen yaitu gerabah berbentuk kura-kura. Dulunya, kura-kura mempunyai bentuk ekor yang panjang, namun seiring berjalannya waktu ternyata pemberian ekor panjang pada kura-kura dianggap tidak efisien. Banyak kerugian yang didapat karena banyak ekor kura-kura yang patah, baik saat proses pembuatan maupun pengiriman barang. Sehingga diperoleh ide untuk memotong bagian ekor menjadi lebih pendek, namun tidak menghilangkan kesan indah pada kura-kura. Hal tersebut, dibutuhkan sebuah keterampilan oleh pengrajin untuk menyiasati banyaknya kerugian sehingga dapat meminimalisir kerugian dan mendapat untung sebanyak-banyaknya tanpa megurangi minat pelanggan. c. Sarana Pembuatan kerajinan gerabah kura-kura ini menggunakan sarana yang cukup sederhana. Bahan utama yang mudah ditemukan yaitu tanah liat, serta fasilitas tempat pembuatan yang masih menggunakan alat tradisional yaitu meja putar. Tempat pembakaran yang disesuaikan dengan kapasitas produksi barang. Sebuah gerobak dorong untuk memindahkan gerabah yang sudah melalui proses pembakaran ke tempat pengecatan.2. Gerabah berbentuk ikan pari Gambar 4.2 Gerabah Ikan Pari
  22. 22. Komposisi Komposisi gerabah berbentuk kura-kura, meliputi:d. Jenis dan wujud seni Gerabah berbentuk ikan pari merupakan jenis seni murni. Ikan pari ini dapat dilihat di semua arah sehingga dimasukkan kedalam seni 3 Dimensi.e. Unsur/ elemen seni Pada gerabah berbentuk pari ini terdapat elemen garis berupa garis lingkaran untuk membentuk bagian atas kura-kura, bagian dalam untuk tempat lilin, serta bagian mata. Terdapat juga garis lurus untuk menggambarkan kesan hidup bagian sirip ikan pari. Serta garis lengkung untuk membentuk bagian sirip dan mulut ikan pari. Pewarnaan ikan pari menggunakan teknik pewarnaan sawut. Pewarnaan sawut yaitu pewarnaan benda, dimulai dari benda dilapisi warna putih atau hitam secara penuh/ keseluruhan kemudian diberikan warna yang diinginkan namun tidak secara merata. Pewarnaan pada gerabah bentuk ikan pari dapatdisesuaikan dengan minat pelanggan, sehingga macam warnanya beraneka ragam. Gerabah berbentuk ikan pari juga mempunyai tekstur agak kasar, karena faktor penggunaan cat dengan teknik sawut yang memamng dibuat tidak merata.f. Struktur penataan Pada gerabah berbentuk ikan pari terdapat sepasang sirip yang terletak di bagian kanan dan kiri badan ikan yang simetris serta dilengkapi ekor pada bagian belakang ikan. Pada sirip dan ekor ikan pari diberi garis kuning untuk memberikan kesan hidup sirip dan ekor. Ikan pari ini dilengkapi tonjolan dibagian depan untuk memberikan kesan mulut. Pada bagian mulut, diberikan cekungan untuk menggambarkan mulut yang agak terbuka. Gerabah berbentuk ikan pari mempunyai satu mata yang berwarna hitam dibagian tengahnya dan disekitar warna hitam dilengkapi warna putih. ikan pari mempunyai bagian tubuh yang bersatu dengan kepalanya, sehingga tidak ada variasi berupa tonjolan khusus untuk
  23. 23. bagian kepala. Bagian atas ikan pari terdapat dan didalam lubang tersebut terdapat lingkaran tempat mendirikan lilin, sehingga gerabah ikan pari mempunyai kemiripan fungsi seperti kua-kura yaitu sebagai asbak rokok serta sebagai tempat lilin. Pada bagian belakang kura- kura juga dilengkapi ekor. Untuk memberikan kesan yang lebih indah, ikan pari ini juga dilengkapi 3 cekungan yang terletak di atas lubang bagian tubuh ikan pari sebelah kanan, kiri dan belakang.Nilai estetis d. Ide/ gagasan Ide pembuatan gerabah berbentuk pari, diperoleh dari sebuah kenyataan hidup. Ikan pari mempunyai sifat yang tenang namun mempunyai kewibawaan yang tinggi sehingga jangan sekali-kali mencari gara-gara dengannya. e. Suasana Ikan pari mempunyai bentuk dan warna yang tidak terlalu kontras serta mempunyai sifat warna yang tenang jika dipandang, sehingga pada umumnya memberikan kesan damai, dimana kehidupan ini dijalani dengan penuh ketenangan namun tetap mempunyai kewibawaan dalam membawa hidup. f. Pesan Jangan pernah macam-macam dengan orang yang mempunyai sikap tenang, karena dibalik ketenangnnya tersimpan kewibawaan yang besar dan jika mereka merasa terusik maka yang mengusik akan secepatnya mengetahui akibat perbuatannya.Penampilana. Bakat Pembuatan ikan pari ini merupakan bakat yang dapat menggambarkan realita sebuah kehidupan ke dalam wujud seni. Pengrajin membuat gerabah ikan pari juga menggunakan teknik
  24. 24. tradisional yaitu teknik putar dengan memberikan warna yang menggunakan teknik sawut. Ikan pari ini dilengkapi dengan motif yang dibuat dari goresan kuas untuk membentuk kesan hidup.b. Keterampilan Salah satu keterampilan yang banyak diminati oleh konsumen yaitu gerabah berbentuk ikan pari. Dulunya, ikan pari mempunyai bentuk sirip dan ekor yang panjang, karena dianggap kurang efesien maka diadakan modifikasi bentuk pada ikan pari. Banyak kerugian yang didapat karena banyak sirip dan ekor ikan pari yang patah, baik saat proses pembuatan maupun pengiriman barang. Sehingga diperoleh ide untuk memotong bagian ekor dan sirip menjadi lebih pendek, namun tidak menghilangkan kesan keindahan pada ikan pari. Hal tersebut, dibutuhkan sebuah keterampilan oleh pengrajin untuk mensiasati banyaknya kerugian sehingga dapat meminimalisir kerugian dan mendapat untung sebanyak-banyaknya tanpa megurangi minat pelanggan.c. Sarana Pembuatan kerajinan gerabah ikan pari ini menggunakan sarana yang cukup sederhana seperti pembuatan gerabah yang lainnya. Bahan utama yang mudah ditemukan yaitu tanah liat, serta fasilitas tempat pembuatan yang masih menggunakan alat tradisional yaitu meja putar. Tempat pembakaran yang disesuaikan dengan kapasitas produksi barang. Sebuah gerobak dorong untuk memindahkan gerabah yang sudah melalui proses pembakaran ke tempat pengecatan.
  25. 25. 3. Gerabah bentuk “Lukisan Relief”Gambar 4.3 Lukisan Relief “Membangun Ekonomi” dan “Ceria di Pantai”Komposisi gerabah berbentuk Lukisan Relief ini meliputi: a. Jenis dan wujud seni Gerabah dengan bentuk lukisan relief ini merupakan salah satu jenis seni murni dan termasuk karya seni rupa dua dimensi. b. Unsur/elemen seni Sebagai sebuah karya seni, tentunya gerabah jenis ini mengandung berbagai unsur atau elemen seni. Unsur yang paling menonjol dari karya seni ini adalah garis lurus dan lengkung. Pada lukisan relief berjudul “Bermain di Pantai”, terlihat bahwa unsur garis lengkung cukup mendominasi, seperti pada penggambaran matahari yang berbentuk setengah lingkaran, pohon kelapa, manusia, ikan, serta yang paling banyak menunjukkan garis lengkung yakni debur ombak di pantai. Sedangkan untuk unsur garis lurus ditunjukkan pada bentuk perahu yang dianaiki oleh anak-anak serta bagian pinggir dari lukisan atau frame dari kulisan tersebut. Unsur garis lengkung dan garis lurus juga namapak mendominasi pada lukisan relief berjudul “ Membangun Ekonomi”. Hampir sama dengan lukisan sebelumnya, lukisan “Membangun Ekonomi” ini juga memperlihatkan dominasi garis lengkung pada penggambaran obyek- obyeknya secara keseluruhan, sedangkan garis lurusnya terpotret dalam bingkai atau frame dari lukisan ini. Selanjutnya berkenaan tentang tekstur, kedua lukisan ini sama-sama merupakan lukisan yang tidak hanya dapat dilihat saja, tapi juga dapat
  26. 26. diraba sesuai obyek yang digambarkan, sehingga jelas bahwa strukturnya kasar. Warna yang digunakan pelukis hanya berupa warna hitam dan emas, namun dimodifikasi lagi dengan tambahan pernis untuk menapilkan kesan eksotis. Teknik pewarnaan yang dipakai oleh kedua lukisan ini dalah teknik sawut, dimana sebelum diwarnai, lukisan ini terlebih dahulu diberi warna dasaran hitam.c. Struktur Penataan Lukisan relief sebagai salah satu bentuk kerajinan gerabah ini disusun atau ditata dengan cukup indah dan elegan. Pada lukisan “Bermain di Pantai”, terdapat empat obyek utama yang dilikus yaitu anak-anak, pohon kelapa, debur ombak pantai, dan matahari. Dalam lukisan ini digambarkan 4 orang anak sedang bergembira menaiki sebuah perahu cadik kecil, kemudian kelima temannya yang lain memanjat pohon kelapa. Di bawah perahu yang dinaikan anak-anak tersebut terdapat tiga ekor ikan yang sedang bernag, kemudian ombak pantainya terlihat berdebur. Pada bagian tengah lukisan, tepatnya pada bagian tengah garis horizon, terdapat matahari yang sedang dalam proses tenggelam. Selanjutnya di bagian pinggir dari segala sisi lukisan, dibatasi oleh bingkai atau frame yang bentuknya berundak-undak dan terbuat dari kayu. Pembagian obyek pada kedua sisi lukisan ini tidak sama, sehingga tergolong bentuk tak simetris. Pada lukisan berikutnya, yakni lukisan “Membangun Ekonomi”, digambarkan bahwa ada dua pasang laki-laki yang sedang melakukan aktivitas ekonomi. Satu pasang pertama melakukan aktivitas mengotong ikan bersama-sama, sedangkan satu pasang yang lain sedang bahu membahu dalam rangka mendorong gerobak yang berisikan tumpukan karung beras. Digambarkan pula tigapohon kelapa di sekitas orang-orang tersebut. pada bagian samping, atas dan bawah lukisan dibatasi oleh bingkai atau frame yang terbuat dari kayu. Lukisan ini tergolong bentuk asimetris, kerena obyek yang berada di bagian kiri dan kanan berbeda.Warna dari kedua lukisan ini sendiri terlihat klasik dengan menggunakan teknik sawut.
  27. 27. Nilai Estetis a. Ide/Gagasan Ide atau gagasan dalam membuat karya seni ini didapatkan pengrajin dari realita sehari-hari yang pernah dialami oleh pengrajin sendiri. Ide tersebut muncul saat pengrajin sedang berpergian ke pantai dan melihat segerombolan anak-anak yang tengah asyik bermain di pantai dengan penuh kegembiraan. Hal ini memunculkan ide di benak pengrajin untuk diabadikan dalam bentuk karya, yakni lukisan relief. Untuk lukisan relief “Membangun Ekonomi”, juga didapat pengrajin dari hasil pengamatannya terhadap kondisi perekonomian negara kita saat ini yang sedang kacau. b. Suasana Jika dilihat dari posisi matahari yang digambarkan dalam lukisan “Ceria di Pantai”, dapat disimpulkan bahwa susana yang ditunjukkan oleh pengrajin adalah susanan pada sore hari. Selain itu menilik dari penggambaran anak-anak yang tekesan bahagia, maka lukisan ini juga ingin menampilkan susanan ceria. Sedangkan untuk lukisan “Membangun Ekonomi”, pengrajin/pelukis bernuansakan agak sendu. Hal ini terlihat dari ekspresi yang terpampang pada wajah laki-laki dalam lukisan tersebut. c. Pesan Pada lukisan “Ceria di Pantai”, terkandung makna yang cukup menarik, yang mana pada lukisan ini, pengrajin/pelukis berusaha menggambarkan keindahan suasana pantai dan keceriaan yang turut menyertainya. Dalam lukisan ini digambarkan sekelompok anak kecil tengah bersuka cita bermain di pantai. Ini merupakan sebuah gambaran dari fungsi lain dari pantai yang mungkin sering kita lupakan. Selain sebagai tempat wisata, penghibur dari segala kejenuhan aktivitas sehari-hari, samapai tempat untuk mencari rezeki, pantai juga merupakan surga bagi anak-anak, khususnya anak-anak yang tinggal di sekitar pantai itu sendiri. Selanjutnya pada lukisan “Membangun Ekonomi”, mengandung pesa bahwa setiap warga masyarakat hendaknya saling bahu membahu untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi di negeri ini, baik yang memiliki mata pencaharian di laut maupun di darat, hendaknya saling membantu satu sama lain, karena kodrat manusia
  28. 28. sebagai makhluk sosial tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal kegiatan ekonomi.Penampilan a. Bakat Untuk bisa menghasilkan suatu karya yang bernilai seni tinggi dan unik, tentunya memerlukan bakat yang mendukung, seperti halnya pembuatan lukisan relief ini. Pengrajin/pelukis berupaya menuangkan ide dan bakat yang dimilikinya dalam bentuk lukisan unik yang terbuat dari tanah liat berdasarkan pengamatan tehadap obyek-obyek di kehidupan sehari-harinya. Pembuatan lukisan ini dilakukan pengrajin/pelukis dengan manual, yakni menggunakan tangan langsung tanpa menggunakan cetakan, sehingga pengrajin/pelukis bebas menuangkan bakatnya dengan menambahkan atau bahkan mengurangi obyek-obyek yang hendak ia lukis. Pewarnaan yang hanya terdiri dari dua warna, yaitu hitam dan emas pun menambahkan kesan klasik dan elegan pada karya seni ini. b. Ketrampilan Karya lukis yang terbuat dari tanah liat ini nampaknya masih belum terlalu akrab di telingan dan pandangan masyarakat umum, sehingga dapat menjadi salah satu bentuk ketrampilan baru atau modifikasi dari gerabah dan seni lukis yang sudah sering terlihat selama ini. Sebagai sebuah ketrampilan baru yang unik, pengrajin/pelukis bermaksud untuk mengkolaborasiakan antara seni lukis dengan seni kriya sehingga menghasilkan siatu bentuk karya yang menarik bagi penikmat seni. Kedepannya, pengrajin/pelukis juga berharap bahwa lukisan relief ini bisa dipasarkan dan dipublikasikan sehingga bisa menambah khasanah dalam ilmu pengetahuan, khususnya di bidang seni, serta bisa menjadi sebuah variasi dalam seni rupa. c. Sarana Peralatan atau sarana-sarana yang digunakan untuk menghasilkan lukisan relief ini tergolong cukup sederhana. Untuk bahan utama dalam pembuatan obyek-obyek lukis disini pengrajin/pelukis menggunakan bahan yang
  29. 29. mudah dijangkau dan terjangkau, yakni tanah liat. Sedangkan untuk bingkainya sendiri, pengrajin memakai bingkai dari kayu yang telah dibentuk dan diplitur terlebih dahulu denagn alat plitur, serta diwarnai dengan cat minyak berwana hitam dan emas, serta ditambahi bron untuk membuat kesan elegan. Alat untuk mengecat itu sendiri menggunakan kuas.4. Gerabah bentuk Hiasan Dinding Gambar 4.4 Gerabah Hiasan Dinding Komposisi gerabah jenis hiasan dinding ini meliputi: a. Jenis dan wujud seni Gerabah jenis hiasan dinding ini termasuk dalam seni murni dan juga termasuk dalam seni kriya. Selain itu, hiasan dinding ini dapat dilihat dari segala arah maka dimasukkan dalam seni tiga dimensi. b. Unsur/elemen seni Pada gerabah berbentuk hiasan dinding ini, terdapat elemen- elemen atau unsur seni di dalamnya, yaitu elemen garis, khususnya garis lengkung yang digunakan untuk membentuk bagian utama hiasan dinding, dalam hal ini berbentuk seperti cobek yang bertuliskan nama dan nomor rumah dari pemilik. Selain itu, garis lengkung juga menjadi salah satu unsur dalam bentuk bandul dari hiasan dinding ini. Terdapat pula unsur garis lurus, yakni untuk membuat tulisan yang terpahat pada hiasan dinding tersebut. Teknik pewarnaan yang digunakan dalam hiasan dinding ini adalah teknik sawut, yaitu dengan menggunakan warna dasaran hitam, kemudian
  30. 30. dipoles dengan warna biru kehijauan, dan terakhir dilapisi pernis. Namun dalam hal pewarnaan hiasan dinding ini juga bisa disesuiakan dengan permintaan konsumen, jadi tidak mutlak menggunakan teknik sawut. Tekstur pada hiasan dinding ini, khususnya hiasan dinding berupa nomor dan nama pemilik rumah, berupa tekstur kasar. Huruf dan nomor yang dipahatkan pada hiasan dinding ini merupakan suatu indikasi bahwa teksturnya kasar.c. Struktur penataan Bentuk penataan gerabah jenis hiasan dinding ini terkesan menarik dan unik. Selain bagian utama dari hiasan dinding yang berbentuk mirip cobek, di bagian bawahnya di tambah pula assesoris berupa bandul dengan bentuk dan gambar yang unik. Dalam salah satu contoh hiasan dinding, yakni hiasan dinding untuk nama instansi, terdapat tulisan berbentuk huruf timbul yang ditulis melingkar sesuai dengan bentuk hiasan, dalam hal ini bentuknya menyerupai cobek. Kemudian pada bagian bawahnya tedapat assesoris berupa bandul yang disatukan dengan menggunakan tali yang terbuat dari tambang. Pada bandul tersebut, terdapat gambar dua orang yang terlihat seperti sedang memanjat, yang satunya memanjat naik ke atas, sedangkan yang satunya lagi memanjat turun seolah-olah antara keduanya saling menggapai. Keberadaan assesoris ini merupakan pelengkap sekaligus menambah nilai plus untuk hiasan dinding tersebut. Dilihat dari bentuk kerajinan ini, hiasan didnding ini tergolong simetris.Nilai Estetisa. Ide/Gagasan Ide atau gagasan dari pembuatan karya seni ini awalnya hanya berasal dari buah pikiran pengrajin, yaitu bagaimana caranya agar gerabah berbentuk cobek yang selama ini identik dengan dapur dapat dimanfaatkan dalam bentuk lain, yakni berupa hiasan dinding yang
  31. 31. tentunya dapat memiliki nilai seni yang cukup tinggi darpdapa cobek biasa. Berangkat dari buah pikiran tersebut, pengrajin tertarik untuk membuat hiasan dinding yang memiliki bentuk dasar menyerupai cobek.b. Suasana Suasana yang ditampilkan pengrajin dalam karya seni gerabah berbentuk hiasan dinding ini adalah suasana tenang namun juga berwibawa. Hal ini nampak pada penggunaan warna-warna terang dan struktur penataan yang unik dan elegan dari hiasan dinding ini. Karena pada umumnya hiasan dinding ini digunakan untuk memberi nomor rumah dan nama pemilik rumah, maka perlu memapilkan suasana yang nyaman dan berwibawa sehingga bisa mencerminkan diri pemilik rumah ini sendiri.c. Pesan Assesoris yang terpajang denagn indah dibawah hiasan dinding ini, yaitu bandul dengan gambar dua orang sedang memanjat, merupakan letak dari pean yang hendak disampaikan pengrajin. Dalam hal ini penggambaran dua orang yang sedang memanjat dengan arah berlawanan dan memperlihatkan kedua tangan dari masing-masing pemanjat yang seolah ingin saling menggapai, memiliki makna khusus yang sangat bijak. Gambar tersebut menyiratkan makna bahwa sebagai sesama manusia kita harus saling tolong-menolong, baik itu dari kalangan atas maupun kalangan bawah tidak ada sekat pemisah antara si kaya dan si miskin, justru dalam hal ini, si kaya yang digambarkan berupa orang yang memanjat turun ke bawah, hendaknya dapat membantu atau menolong orang lain yang berada pada tingkat ekonomi di bawahnya, yakni berupa gambar orang yang berusaha memanjat ke atas dan menggapai tangan orang yang satunya.
  32. 32. Penampilana. Bakat Pembuatan hiasan dinding dari tanah liat ini tentunya dihasilkan oleh tangan-tangan seni yang telah berbakat. Hal ini dikarenakan bentuk dan bahan penyusun yang unik dari hiasan dinding tersebut, yakni berbentuk seperti cobek dengan ditambahi oleh hiasan bandul di bawahnya. Cobek yang selama ini dikenal masyarakat sebagai salah satu peralatan dapur, kini bisa dinikmati nilai seni atau keindahannya dalam bentuk lain setelah disulap oleh tangan-tangan seni yang bertalenta tinggi, yaitu dalam bentuk hiasan dinding.b. Keterampilan Suatu bentuk karya seni akan memiliki nilai keindahan yang tidak terlepas dari bagiaman sang pengrajin mengggunakan ketrampilannya. Pada hiasan dinding ini, terdapat beberapa bentuk yang unik dan khas yang merupakan hasil ketrampilan yang tinggi dari sang pengrajin. Ketrampilan tersebut meliputi ketrampilan dalam mengolah dan mengkreasikan benda gerabah yang sudah ada selama ini sebagai cobek yang digunakan di dapur, menjadi hiasan dinding yang unik. Selanjutnya ketrampilan dalam hal memadukan warna dengan menggunakan teknik pewarnaan yang tepat sehingga dapat diperoleh kesan tersendiri. Ketrampilan lain yaitu dalam hal penambahan assesoris yang menambah nilai plus dari karya inis endiri, karena dalam assesoris tersebut selain menggambarkan kesan keindahan, juga menyiratkan makna yang mendalam dan bijak.c. Sarana Adapun sarana atau alat yang diperlukan selama pembuatan karya seni ini antara lain tanah liat sebagai bahan utama pembuatan. Kemudian ditunjang dnegn penggunaan alat kerajinan gerabah seperti perbot, tungku pembakaran, dan kuas serta cat sebagai media pewarnaan dari hiasan dinding ini. Selain itu, dipergunakan pula tali tambang yang berfungsi untuk mengaitkan bagian utama hiasan
  33. 33. dinding yang berbentuk cobek, dengan assesoris berupa bandul yang diletakkan di bagian bawahnya.Sumber informan: Kerajinan gerabah yang kami observasi in,i diambil dari perusahaan“Maron Jaya Art Shop” yang berlokasi di Jl. Mayjend Panjaitan gang 17A, no.72, Malang. Perusahaan yang dipimpin oleh Bapak Ngadiono, mulai dirintis tahun1987 dan terus berkembang sampai sekarang sehingga mempunyai karyawansejumlah 6 orang. Melalui belajar secara otodidak yang dimulai sejak usia 8tahun. Perusahaan gerabah ini telah berhasol memasarkan hasil kerajinannyahingga di daerah luar Jawa, seperti Sumatra, Kalimanta, dan Sulawesi. BapakNgadiono mempunyai tujuan untuk mengembangkan usahanya serta dapatmemanfaatkan lingkungan sekitar sebagai lapangan kerja baru. Gambar 5.1 Bapak Ngadiyono
  34. 34. DAFTAR RUJUKANGunawan. 2008. Seni Kriya Nusantara,(Online), http://senikriyaa.blogspot.com/, diakses pada tanggal 10 Februari 2012)Mindra Faisaliskandiar. 2010. Gerabah: Sejarah dan Peranannya, (Online), http://hurahura.wordpress.com/2010/03/24/gerabah-sejarah-dan- peranannya/, diakses pada tanggal 13 Februari 2012Muhajirin. 2010. Seno Kerajinan Nusantara, (Online), http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Seni%20Kerajinan%20Nusantara.pdf , diakses pada tanggal 10 Februari 2012)Pendet, I Ketut Muka. 2011. Analisis Bentuk Dan Fungsi Gerabah Banyumulek Lombok Barat, (Online), http://www.isi-dps.ac.id/wp- content/uploads/downloads/2010/02/ANALISIS-BENTUK-DAN-FUNGSI- GERABAH-BANYUMULEK.pdf, diakses pada tanggal 10 Februari 2012)Wikipedia. 2012. Tembikar, (Online), http://id.wikipedia.org/wiki/Tembikar, diakses pada tanggal 12 Februari 2012).......... 2011. Kerajinan Gerabah, (Online), http://kreasijepara.blogdetik.com/kerajinan-gerabah/, diakses pada tanggal 10 Februari 2012)......... 2010. Pengertian Gerabah, (Online), http://www.isi- dps.ac.id/berita/pengertian-gerabah, diakses pada tanggal 13 Februari 2012)

×