Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Prahlad maharaj

201 views

Published on

Kisah bhakti Prahlad Maharaj terhadap Sri Narasimha Dewa. Ditulis oleh Srila prabhupada dan diterbitkan oleh BBT (Bhaktivedanta Book Trust) dan disajikan dalam bahasa Indonesia

Published in: Spiritual
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Prahlad maharaj

  1. 1. i Prahlada Maharaj
  2. 2. ii Daftar Isi 1. Ayah yang Jahat Putra yang Suci.................................... 1 2. Sosok yang Paling Kita Cintai......................................... 13 3. Kita Sedang Menyia-nyiakan Hidup Kita......................... 20 4. Ilusi Keluarga................................................................... 24 5. Saya Mencintai Tuhan Lebih Dari Segalanya................. 31 6. Menginsafi Bahwa Tuhan Ada Di Mana-Mana................ 34 7. Karunia yang Sempurna.................................................. 40 Penulis................................................................................. 42
  3. 3. 1 Ayah yang Jahat, Putra yang Suci Pepatah mengatakan “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”. Karena itu, bagaimana bisa kepribadian paling jahat yang pernah ada, menjadi ayah dari seorang insan mulia? Disadur dari Bahagavata Purana terjemahan dan penjelasan oleh Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhup€da. Badai ganas mengamuk di tengah kegelapan. Deru angin terus- mene-rus menerjang, mencabut pohon-pohon besar. Awan tebal menye-limuti langit, dan halilintar menyambar-nyambar seolah tertawa. Ombak-ombak tinggi di samudera meratap seolah dirundung ke-sedihan. Serigala-serigala dan anjing melolong dengan suara sendu, dan burung-burung beterbangan menjerit dari sarangnya. Raksasa kembar Hiranyakasipu dan Hiranyaksatelah lahir. Hari demi hari, tahun demi tahun, mereka tumbuh menjadi sema-kin tangguh, semakin jahat, dan semakin berkuasa atas semua raksasa lainnya, yang bersekutu dengan mereka. Kemudian, di bawah pimpinan Hiranyaksadan Hiranyakasipu, para Raksasa berangkat untuk menaklukkan para dewa, administrator- administrator alam semesta dan musuh bebuyutan mereka. Dalam perang untuk mem-perebutkan kuasa atas alam semesta, para Raksasa berjaya, tapi pada akhirnya Sri Visnu sendiri membunuh Hiranyaksa. Kematian sauda-ranya membuat Hiranyakasipu diliputi rasa cemas dan amarah. Ia menggigit bibirnya dan memandang ke atas dengan mata meman-carkan cahaya kemarahan yang membuat langit menjadi penuh asap. Ia mengambil trisulanya, memandang ke sekeliling dengan penuh amarah, memperlihatkan gigi-giginya yang mengerikan, dan mulai berkata-kata kepada kawan-kawannya, para Raksasa. “Wahai kawan-kawanku,” ia berseru, “Sri Visnu semestinya bertin- 1
  4. 4. dak adil terhadap para dewa dan para raksasa, tapi sekarang Dia telah memihak para dewa dan membunuh saudara tercintaku, Hiranyaksa. Atas tindakan ini aku akan memenggal kepala-Nya! Dan dengan cucuran darah-Nya aku akan membuat senang hati Hiranyaksa saudaraku, yang begitu gemar minum darah. Hanya dengan cara demikian aku bisa tenang!” Pertama-tama, Hiranyakasipu mengirim kawan-kawannya, para raksasa, ke seluruh dunia untuk menciptakan kekacauan di kalang- an orang-orang lugu dan saleh, lalu ia pun bersiap untuk mewujud- kan rencana-rencana jahatnya sendiri. Hiranyakasipu bukan hanya ingin berkuasa atas alam semesta dan menguasai segala kesem- purnaan mistik tapi juga yang terpenting adalah ia ingin menjadi kekal. Untuk meraih tujuan yang terasa tidak mungkin diraih ini, ia pergi ke lembah Bukit Mandara dan mulai menjalani pertapaan yang keras sekali: ia berdiri di atas ujung-ujung jari kakinya dan menjaga tangannya tetap ke atas serta matanya mantap menatap langit. Sebagai hasil dari usaha keras Hiranyakasipu, rambut-rambut di kepalanya mulai memancarkan cahaya yang secemerlang ledakan bintang. Semua sungai dan samudera bergolak, dan seluruh gunung dan pulau di muka bumi mulai bergetar. Bintang-bintang dan planet- planet berjatuhan dari surga, dan api menjilat-jilat di segala penjuru. Sedemikian lamanya Hiranyakasipu mempertahankan dirinya dalam posisi yang sangat menyakitkan itu hingga rerumputan, semak- semak bambu, dan akhirnya rumah semut yang luas membungkus badan-nya. Semut-semut menggerogoti kulit, lemak, daging, dan darah di badannya, hingga hanya tulang kerangkanya yang tersisa. Melihat keadaannya yang mengerikan, para dewa berkata, “Hiranyakasipu yang jahat itu telah ditelan dosa-dosanya sendiri, bagai-kan seekor ular yang digerogoti semut-semut.” Merasa di atas angin seperti itu, para dewa, yang dipimpin oleh Indra, melancarkan se-rangan dahsyat ke arah para raksasa. Dengan menunjukkan kekuatan yang tak terduga, para dewa membantai para raksasa, dan untuk menyelamatkan nyawanya, panglima-panglima para raksasa berhamburan ke segala penjuru. Mereka melarikan diri dari kediam-annya dengan sangat tergesa-gesa, lupa akan istri, dan harta-ben-danya. Akhirnya, para dewa yang berjaya itu menguasai istana Hiranyakasipu dan menawan Ratu Kayadhu yang sedang
  5. 5. hamil, salah seorang permaisuri Hiranyakasipu. Ketika Raja Indra, pemimpin para dewa, membawa pergi Kayadhu, resi agung Narada muncul di tempat itu. “Wahai raja para dewa,” Narada berkata, “Anda tidak boleh menyeret dengan kasar seperti itu istri setia orang lain. Segera lepaskanlah dia! Tapi, Raja Indra menjawab, “Di dalam kandungan perempuan ini ada benih raksasa tangguh Hiranyakasipu. Oleh sebab itu, biar kami tawan dia sampai dia melahirkan anaknya; baru kemudian kami akan membebaskan dia.” Narada menjawab, “Anak di dalam kandungannya itu, yang akan dikenal dengan nama Prahlada, tidak berdosa sama sekali. Sebe- narnya, ia adalah seorang penyembah agung Tuhan—seorang abdi perkasa Sri Visnu, Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Anda tidak akan mampu membunuhnya.” Mendengar hal tersebut, Raja Indra menghormati kata-kata insan suci mulia Narada dan membebaskan Ratu Kayadhu. Kemudian, setelah mengalahkan pasukan para Raksasa, para dewa kembali ke kerajaannya. Narada membawa sang ratu ke tempat pertapaannya. Menjamin segala perlindungan baginya, Narada berkata, “Wahai anakku, ting- galah di sini sampai suamimu kembali.” Kayadhu menginginkan keselamatan putranya yang belum lahir, sehingga ia tinggal di bawah perlindungan Narada, dan mengabdi kepada sang resi dengan rasa bhakti yang besar. Oleh karena secara alami Narada sangat murah hati terhadap roh-roh yang jatuh, Narada memberi sang ratu ajaran- ajaran agama dan pengetahuan spiritual, dan kata-kata Narada bebas dari pecemaran material. Saat sang ratu mendengarkan ajaran-ajaran Narada, sang anak di dalam kandungannya juga mendengarkan de-ngan penuh perhatian ajaran-ajaran spiritual Narada. Demikianlah, bahkan sebelum kelahirannya, Prahlada telah menerima pendidikan spiritual. Sementara itu, penduduk lain di surga mendatangi Brahma, dewa tertinggi, untuk mengadukan bahwa cahaya terik yang masih me- mancar dari kepala Hiranyakasipu telah membuat planet-planet kediaman mereka menjadi tidak nyaman lagi untuk ditinggali. Men- dengar hal tersebut, Brahma dan dewa-dewa lainnya pergi menemui Hiranyakasipu untuk membujuk dan menghentikan pertapaan
  6. 6. 4 keras yang dilakukannya. “Aku kagum melihat ketahananmu!” kata Brahma begitu melihat Hiranyakasipu. “Walau digerogoti oleh cacing dan semut, engkau tetap menjaga udara kehidupanmu berputar di dalam tulang-tulang badanmu. Tentu ini menakjubkan! Atas pertapaan ke-ras ini, engkau berhak mendapat berkah dariku, dan Aku siap memberi berkah apa pun yang engkau inginkan.” Setelah menyam-paikan kata-kata tersebut, Brahma memercikkan air surgawi di atas kerangka badan Hiranyakasipu. Raksasa itu pun berubah wujud mendapatkan badan muda berwarna cemerlang keemasan menya-ingi kecemerlangan sambaran petir-petir. Hiranyakasipu langsung berkata kepada Brahma. “Berkatilah aku sehingga aku tidak bisa dibunuh oleh makhluk mana pun, tidak mati di dalam ataupun di luar kediaman mana pun, tidak mati saat siang ataupun malam, di tanah maupun di udara, tidak bisa dibunuh oleh makhluk mana pun yang Anda ciptakan, tidak bisa dibunuh oleh senjata apa pun, oleh manusia ataupun binatang—dengan kata lain, tidak bisa dibunuh oleh makhluk mana pun, baik yang hidup maupun tidak hidup, tanpa tandingan, berkuasa atas semua makh-luk hidup dan pemimpin-pemimpin mereka, dan mendapatkan segala kekuatan mistik.” Setelah Brahma memenuhi semua permintaan itu, Hiranyakasipu berseru, “Akhirnya, sekarang aku kekal dan tak terkalahkan! Seka- rang aku akan menantang Visnu dan membalas dendam atas kema-tian saudaraku!” Dalam waktu singkat, Hiranyakasipu menaklukkan semua planet di alam semesta, menduduki istana mewah Raja Indra, dan memaksa para dewa untuk bersujud di kakinya. Ia bahkan merampas persem- bahan-persembahan korban suci yang dimaksudkan untuk para dewa. Hiranyakasipu memerintah dengan sangat kejam, dan ia selalu mabuk karena meminum anggur dan minuman-minuman keras lain-nya yang berbau sangat menyengat. Pada saat yang sama Ratu Kayadhu kembali ke istana suaminya dan melahirkan seorang putra—Prahlada. Prahlada adalah sumber segala sifat rohani sebab Prahlada adalah seorang penyembah- murni Tuhan. Berkemantapan hati untuk mengerti Kebenaran Mutlak, Prahlada mengendalikan sepenuhnya indera dan pikirannya. Ia berbelas kasih terhadap semua makhluk dan menjadi kawan baik
  7. 7. 5 semua orang. Terhadap pribadi-pribadi yang terhormat, ia ber- perilaku layaknya seorang abdi rendah, terhadap orang malang ia bagaikan seorang ayah, dan terhadap rekan sederajatnya ia bagai- kan seorang saudara yang penuh rasa simpati. Selalu bersikap rendah hati, ia memandang guru-gurunya, guru spiritual, dan sau- dara-saudara seguru yang berusia lebih tua darinya sebagai sebaik Tuhan sendiri. Memang, ia sama sekali tanpa rasa sombong yang bisa saja muncul akibat pendidikannya yang baik, kekayaan, keru- pawanan, dan kelahiran dalam keluarga bangsawan. Hiranyakasipu tidak mengetahui bahwa Prahlada telah belajar tentang bhakti saat berada di dalam kandungan ibunya. Sehingga, ketika Prahlada menginjak usia lima tahun, Hiranyakasipu mengirim Prahlada bersekolah untuk mendapatkan pendidikan materialistik. Prahlada menempuh pendidikan bersama putra-putra Raksasa lainnya. Di sekolah, ia mendengarkan pelajaran-pelajaran tentang politik dan ekonomi, tapi ia tidak menyukainya sebab dalam mata pelajaran yang demikian murid diajarkan untuk memandang satu pihak sebagai kawan dan pihak lain sebagai musuh. Setelah Prahlada menjalani pendidikan selama beberapa waktu, suatu ketika Hiranyakasipu memangku Prahlada dan bertanya de- ngan penuh kasih sayang, “Putraku tercinta, ceritakanlah kepada ayah tentang mata pelajaran yang paling engkau sukai di sekolah.” Prahlada menjawab, “Wahai raja kaum Raksasa, sejauh mengenai yang saya pelajari dari guru spiritual saya, siapa pun yang mengang-gap bahwa badan dan kehidupan berumah tangganya yang bersifat sementara ini sebagai kesejatian pasti akan dihantui kecemasan, sebab ia telah jatuh ke dalam sumur kering, gelap dan hanya dipenuhi penderitaan. Hendaknya ia segera meninggalkan rumah, pergi ke tengah hutan, dan berlindung kepada Tuhan.” Tersentak, Hiranyakasipu tertawa sinis lalu berkata, “Seperti inilah kecerdasan seorang anak yang telah tercemari oleh kata-kata musuh!” Hiranyakasipu memerintahkan kepada prajuritnya, “Jaga ketat anak ini di sekolah. Para penyembah Tuhan bisa jadi datang ke sekolah-nya dengan menyamar. Karena itu, jaga jangan sampai kecerdasan anak ini dipengaruhi lebih lanjut oleh mereka.” Setelah membawa kembali Prahlada ke sekolah, guru-guru Prahlada (berkata kepadanya, “Prahlada yang baik, segala
  8. 8. 6 kedamaian dan kemujuran bagimu. Sekarang, kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, jadi janganlah berbohong; jawablah dengan jujur. Anak-anak lain di sini tidaklah seperti dirimu; mereka tidaklah berbicara dengan cara yang menyim- pang tentang ‘Tuhan’. Dari mana engkau mendapat ajaran-ajaran seperti itu? Apakah musuh-musuh kita telah mencemari dirimu?” Prahlada menjawab, “Izinkan hamba menyampaikan sembah sujud penuh hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menyesatkan orang-orang yang berada di dunia sehingga di dalam pikiran mereka tercipta pembedaan-pembedaan seperti ‘kawan’ dan ‘musuh’. Sekarang hamba benar-benar melihat ketersesatan yang demikian, yang sebelumnya telah hamba dengar dari otiritas- otoritas yang terpelajar. “Oleh karena kita semua adalah abdi-abadi Tuhan, kita tidak berbeda satu sama lain, tapi orang-orang yang tidak menyadari keberadaan Tuhan di dalam dirinya selalu berpikir dalam ranah ‘kawan’ dan ‘musuh’. Tuhan Yang Maha Esa yang sama yang telah menciptakan keadaan ini telah memberi hamba kecerdasan untuk berpihak pada yang Anda sebut-sebut musuh. Sebagaimana besi ditarik oleh magnet, hamba tertarik kepada Tuhan.” Guru-guru Prahlada menjadi gusar. “Ambilkan tongkat!” “Prahlada telah merusak nama baik kita!” “Ia harus dihukum!” Terus mengancam Prahlada, Sanda danAmarka mulai mengajari Prahlada tentang cara-cara keagamaan palsu yang penuh kedunia- wian, cara menimbun kekayaan, dan kepuasan inderawi. Setelah beberapa waktu, mereka kembali membawa Prahlada ke hadapan ayahnya. Ketika Hiranyakasipu melihat Prahlada bersujud di ha- dapannya, dengan penuh kasih sayang ia memberkati putranya dan dengan riang gembira memeluk sang putra. Hiranyakasipu mendu-dukkan Prahlada di pangkuannya, sementara air mata haru menetes dari matanya ke wajah sang anak yang tersenyum, lalu berkata ke-pada putranya. “Prahlada putraku tercinta,” ia memulai. “Sudah cukup lama eng- kau mendengarkan begitu banyak hal dari guru-gurumu. Sekarang, sampaikan kepada ayah bagian mana dari pengetahuan tersebut
  9. 9. 7 yang engkau anggap paling baik.” Tanpa rasa takut, Prahlada berkata, “Mendengarkan dan meng- ucapkan tentang nama suci, wujud, sifat, perlengkapan, dan kegiatan Tuhan Yang Maha Esa; mengingat hal-hal tersebut; melayani kaki- padma Tuhan; mempersembahkan pemujaan penuh hormat kepada Tuhan dengan enam belas jenis sarana; memanjatkan doa-doa ke-pada Tuhan; menjadi pelayan Tuhan; menjadikan Tuhan sebagai kawan terbaik; dan berserah-diri kepada Tuhan (dengan kata lain, melayani Tuhan dengan badan, pikiran, dan kata-kata)—sembilan proses ini dikenal sebagai bhakti yang murni, dan hamba meman- dang siapa pun yang mempersembahkan hidupnya bagi pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui sembilan cara ini sebagai orang yang paling bijaksana, sebab ia telah memperoleh penge- tahuan yang lengkap.” Bibirnya gemetar karena marah, Hiranyakasipu menoleh ke arah Sanda. “Omong kosong apa ini! Sudah jadi ‘brahmana’ engkau se-karang! Engkau telah mengabaikan perintahku! Engkau telah berlin-dung kepada musuh-musuhku! Engkau telah mengajarkan tentang bhakti kepada anak malang ini!” Sanda dengan cepat membantah, “Wahai Raja, wahai musuh Indra! Apa pun yang dikatakan putra Anda itu bukanlah kami atau siapa pun yang lain yang mengajarkan. Bhakti-nya berkembang dengan sendirinya. Mohon hentikan amarahAnda. Jangan salahkan kami!” Hiranyakasipu berpaling kepada putranya dan berkata, “Engkau anak kurang ajar! Anggota paling terkutuk dalam keluarga kita! Jika bukan guru-gurumu yang mengajarimu semua ini, lalu siapa yang mengajarimu?!” Prahlada menjawab, “Orang-orang yang menerima orang buta yang terikat pada obyek-obyek indera lahiriah sebagai pemimpinnya tidak dapat mengerti bahwa tujuan kehidupan adalah untuk pulang, kembali kepada Tuhan, untuk tekun dalam bhakti kepada Sri Visnu. Hanya jika orang-orang yang demikian berlindung di kaki- padma seorang penyembah Sri Visnumereka bisa terbebas dari pencemaran material.” Dibutakan oleh amarah, Hiranyakasipu melempar Prahlada dari pangkuannya ke lantai. “Pelayan! Bawa dia pergi dan segera bunuh
  10. 10. 8 dia!” ia berteriak. “Dengan menjadi penyembah Visnu, Prahlada telah menjadi pembunuh saudaraku! Dia adalah ancaman, bagian badan yang terjangkit racun di tengah keluarga kita, dan dia harus segera disingkirkan! Bunuh dia! Jangan ditunda lagi!” Abdi-abdi Hiranyakasipu, Raksasa-Raksasa yang berwajah menge-rikan, dengan gigi-gigi yang tajam, dan janggut kemerahan, lalu mulai menusuk badan lembut Prahlada dengan trisula-trisula mereka. Me-reka berseru, “Tusuk dia! Tusuk dia!” Akan tetapi, Prahlada duduk tenang dan memusatkan pikiran kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, dan senjata-senjata para Raksasa tidak mempan di badannya. Melihat hal ini, Hiranyakasipu menjadi takut lalu menyusun berbagai cara untuk membunuh putra-nya. Ia melempar Prahlada ke bawah kaki gajah; ia melempar Prahlada ke tengah-tengah ular-ular besar yang sangat mengerikan; ia mengutuk Prahlada dengan membacakan mantra-mantra kutukan; ia melempar Prahlada dari puncak bukit; ia menciptakan ilusi-ilusi berupa bayangan-bayangan menakutkan; ia meracun Prahlada; ia tidak memberi makan Prahlada; ia menempatkan Prahlada di tengah-tengah situasi dingin menyengat, angin, api, dan air; ia bahkan melempari Prahlada dengan batu-batu besar untuk meremukkan Prahlada. Tapi, selama berlangsungnya penyiksaan ini, Prahlada hanya memusatkan pikiran kepada Sri Visnu, sehingga Prahlada tetap tak terluka. Hiranyakasipu menjadi sangat penasaran memi-kirkan apa lagi yang harus dilakukannya. Tapi Sanda dan Amarka masih menyimpan harapan bahwa me- reka akan mampu mengubah sang anak atas kekuatan ajaran-ajaran mereka. Jadi, sekali lagi Hiranyakasipu menyerahkan Prahlada di bawah didikan mereka, dan sekali lagi mereka mengajari Prahlada secara sistematis dan tak kenal lelah tentang keagamaan palsu yang penuh keduniawian, cara mengeruk kekayaan, dan kepuasan in- derawi. Tapi, manakala guru-guru meninggalkan ruang kelas untuk mengurus urusan rumah tangga mereka, Prahlada berceramah ke- pada teman-teman sekelasnya tentang sia-sianya kehidupan mate- rialistik. Kawan-kawannya mencintai dan menghormati Prahlada, dan disebabkan oleh usia mereka yang masih belia, mereka belum begitu dicemari oleh ajaran-ajaran gurunya. Demikianlah, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian kata-kata Prahlada.
  11. 11. 9 “Seseorang yang cukup cerdas,” Prahlada menyampaikan kepada mereka, “hendaknya berlatih bhakti sejak awal hidupnya, meninggalkan segala kesibukan lainnya. Badan sebagai manusia ini jarang sekali dicapai, walau badan ini juga bersifat sementara layaknya jenis-jenis badan yang lain. Dengan badan manusia, kita dapat me-laksanakan bhakti kepada Tuhan, dan bahkan sedikit saja bhakti yang tulus dapat memberi kita kesempurnaan yang lengkap. “Bentuk kehidupan sebagai manusia menyediakan kesempatan kepada kita untuk pulang, kembali kepada Tuhan. Oleh sebab itu, semua makhluk hidup, khususnya umat manusia, harus melayani kaki-padma Sri Visnu. Pelayanan suci ini adalah hal yang alami sebab Sri Visnu, Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, adalah kawan tercinta, tuan, dan yang mengharapkan kebaikan semua orang. “Hendaknya kita tidak berusaha untuk mendapatkan kepuasan inderawi saja, sebab hal itu hanya bermuara pada terbuang- buangnya waktu dan tenaga, tanpa manfaat spiritual yang nyata. Tapi, jika kita berusaha melayani Sri Visnu, maka pasti kita dapat mencapai keinsafan jati diri.” Semua putra para Raksasa menghargai ajaran-ajaran rohani Prahlada, dan mereka menyikapinya dengan sangat serius. Tapi Sanda dan Amarka menjadi takut. Mereka melihat bahwa dengan bergaul bersama Prahlada, murid-murid mereka menjadi penyembah Sri Visnu. Ketika kedua guru ini menghadap Hiranyakasipu dan meng-uraikan situasi yang berkembang, Hiranyakasipu menjadi marah besar. Badanya gemetar karena marah dan mendesis bagaikan ular yang terinjak, Hiranyakasipu memanggil putranya. Ketika Prahlada datang di hadapan ayahnya, tangannya diikat, dan Prahlada nampak damai dan tenang. Hiranyakasipu menatap Prahlada dengan bengis dan memarahinya dengan kasar: “Wahai pembuat masalah yang kurang ajar dan dungu! Wahai sampah bumi, engkau telah menantang kekuatanku, karena itu engkau adalah orang bodoh yang keras kepala! Hari ini aku akan mengantarkan kematianmu! Prahlada, kau kurang ajar, kau tahu bahwa jika aku marah maka semua planet di alam semesta bergetar! Katakan ke- padaku—atas kekuatan siapa engkau menjadi begitu lancang dan tanpa rasa takut?” Dengan tenang Prahlada menjawab, “Wahai Rajaku yang baik,
  12. 12. 10 sumber kekuatan hamba adalah sumber kekuatan Anda juga, dan merupakan sumber kekuatan semua orang. Baik makhluk hidup yang dapat berpindah tempat ataupun yang tidak dapat berpindah tempat, berderajat tinggi atau berderajat rendah, semua berada di bawah kendali Personalitas Tuhan Yang Maha Esa yang maha- perkasa.” “Engkau mengatakan bahwa ada makhluk yang lebih hebat dari-pada diriku,” kata Hiranyakasipu, “tapi di mana Dia? Jika Dia ada di mana-mana, maka mengapa Dia tidak ada di dalam tiang yang engkau lihat di hadapanmu ini? Apakah menurutmu Dia ada di tiang ini?” “Ya,” Prahlada menjawab, “Dia ada di sana.” Kemarahan Hiranyakasipu semakin menjadi-jadi. “Karena engkau berbicara omong kosong seperti itu,” ia berkata, “Aku akan memeng- gal kepalamu sekarang! Sekarang coba kita lihat bagaimana Tuhan pujaanmu datang untuk melindungimu!” Maka kemudian tepat pada saat itu, dari tiang yang sama yang ditunjuk oleh Hiranyakasipu, muncul wujud yang menakjubkan dan mengerikan, wujud yang belum pernah dilihat sebelumnya. Wujud itu setengah manusia setengah singa, dengan mata marah bagai emas cair, rambut wajah yang bersinar meluaskan ukuran wajah- Nya yang menakutkan, dan lidah setajam pisau silet yang bergerak- gerak bagai pedang sedang bertarung. Personalitas Tuhan Yang Maha Esa telah berinkarnasi dalam wujud amarah-Nya sebagai Tuhan Sri Narasimha deva. Kaget dan bingung, Hiranyakasipu memandang Sri Narasimha, lalu mengambil gadanya dan menyerang Sri Narasimha dengan penuh keberanian. Sri Narasimha mempermainkan Hiranyakasipu persis se-perti seekor elang mempermainkan seekor ular, berkali- kali mem-biarkan dia lolos dari ancaman kuku-kuku tangan padma- Nya. Akhirnya, Tuhan menangkap Hiranyakasipu dan meletakkan Hiranyakasipu di atas pangkuan-Nya. Kemudian, di pintu balairung istana, dengan mudah sekali Sri Narasimha merobek-robek badan Hiranyakasipu. Dengan kecerdikan rohani-Nya, Sri Narasimha dapat membunuh Hiranyakasipu tanpa melanggar berkah-berkah yang telah dberikan Brahma. Eksekusi itu terjadi bukan di dalam ataupun di luar ruangan,
  13. 13. 11 tapi di pintu; bukan di tanah ataupun di udara, tapi di atas pangkuan Sri Narasimha; bukan saat siang hari ataupun malam hari, tapi saat senja; bukan oleh manusia, binatang, atau dewa ataupun makhluk ciptaan mana pun, tapi oleh Personalitas Tuhan Yang Maha Esa; dan bukan oleh senjata apa pun, tapi dengan tangan padma Tuhan sendiri. Para dewa menaburi Sri Narasimha dengan bunga lalu meman- jatkan doa-doa penuh hormat, mengagungkan Sri Narasimha dan berterimakasih karena telah menyelamatkan alam semesta dari penindasan Hiranyakasipu. Prahlada juga memanjatkan doa-doa yang sangat indah ke hadapan Tuhan, dan hanya meminta kepada- Nya kekuatan untuk melayani dan mencintai Dia. Ketika Narasimha- deva mempersilakan Prahlada untuk meminta berkah, sang anak hanya meminta agar Sri Narasimha menyelamatkan semua orang, termasuk ayahnya yang jahat, dari kelahiran dan kematian yang dialami berulangkali di dunia ini. Atas kekuatan latihan bhakti yang diterimanya dari Narada sang penyembah murni Tuhan, Prahlada menjadikan hidupnya sukses—ia selalu ingat pada Tuhan dan me- muaskan Tuhan dengan cinta kasih bhakti-nya.
  14. 14. 12 Ketika gurunya sedang tidak hadir, Prahlada mengajarkan ilmu pengetahuan kesadaran Tuhan kepada teman-teman sekelasnya, dimulai dari pengucapan nama-nama suci Tuhan.
  15. 15. 13 Uraian berikut ini diambil dari rangkaian ceramah tentang Srimad Bhagavatam, Skanda 7, Bab 6, yang disampaikan oleh Srila Prabhupada pada tahun 1968. Sosok yang Paling Kita Cintai Hari ini saya akan menyampaikan sejarah tentang seorang penyem- bah Tuhan, yang masih kanak-kanak, bernama Prahlada Maharaja. Prahlada lahir dalam keluarga yang sangat ateis. Ada dua jenis orang di dunia ini: para iblis (asura) dan para dewa (sura). Apa perbedaan yang ada di antara mereka? Perbedaan utama: para dewa, atau orang-orang saleh, berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan para iblis memiliki mental ateis. Para iblis tidak percaya akan adanya Tuhan sebab mereka bermental materialistik. Dua golongan manusia ini selalu ada di dunia ini. Pada saat sekarang ini, disebabkan oleh Zaman Kali (Zaman Pertengkaran), jumlah iblis meningkat, tapi penggolongan ini sudah ada sejak awal terciptanya dunia. Kejadian yang akan saya kisahkan kepada Anda ini terjadi dahulu kala, beberapa juta tahun setelah terjadinya penciptaan. Prahlada Maharaja adalah putra dari orang yang paling bermental ateis dan juga orang yang paling tangguh secara material. Oleh karena masyarakat di sekelilingnya bermental materialistik, anak ini tidak memiliki kesempatan untuk mengagungkan Tuhan. Karak- teristik seorang insan agung adalah ia sangat bersemangat meng- umandangkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Yesus Kristus 13
  16. 16. contohnya, beliau sangat bersemangat untuk mengumandangkan keagungan Tuhan, tapi orang-orang jahat salah memahami beliau, sehingga beliau disalib. Ketika Prahlada Maharaja berusia lima tahun, ia disekolahkan. Begitu ada waktu istirahat di sekolah, ketika guru tidak berada di kelas, ia menyampaikan kepada teman-temannya, “Teman- temanku yang baik, mendekatlah. Kita akan membicarakan tentang kesadaran Tuhan.” Kejadian ini diuraikan dalam Srimad Bhagavatam, Skanda Tujuh, Bab Enam. Prahlada sang penyembah Tuhan berkata, “Teman-temanku yang baik, pada usia muda ini, inilah saatnya untuk men-jalani kesadaran Tuhan.” Teman-teman kecilnya menjawab, “Oh, sekarang saatnya kita ber-main-main. Untuk apa kita menjalani kesadaran Tuhan?” Menjawab pertanyaan ini, Prahlada Maharaja berkata, “Jika eng- kau cerdas, maka engkau harus memulai bhagavata-dharma sejak masa kanak-kanak.” Srimad Bhagavatam menyajikan bhagavata-dharma, atau proses yang menuntun menuju pengetahuan ilmiah tentang Tuhan Yang Maha Esa. Bhagavata berarti “Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa,” dan dharma berarti “prinsip-prinsip aturan.” Kehidupan sebagai manusia sangatlah jarang dicapai. Ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat besar. Oleh karena itu Prahlada berkata, “Teman-temanku yang baik, engkau lahir sebagai umat manusia yang beradab. Jadi, walaupun badanmu ini bersifat sementara, badan ini memberikan kesempatan terbesar.” Tidak ada orang yang me-ngetahui berapa lama ia akan hidup. Dihitung bahwa pada zaman ini badan manusia dapat hidup sampai usia seratus tahun. Akan tetapi, seiring berjalannya Zaman Kali, usia hidup, ingatan, sifat welas asih, keagamaan, dan semua hal baik lainnya berkurang. Jadi, tidak seorang pun memiliki jaminan akan bisa hidup lama pada zaman ini. Namun tetap, kendati bentuk kehidupan sebagai manusia ini bersifat sementara, Anda dapat mencapai kesempurnaan hidup tertinggi saat Anda berada dalam bentuk kehidupan manusia. Kesempurnaan apakah itu? Yaitu mengerti tentang Tuhan Yang Maha Esa yang maha-ada. Hal ini tidak dimungkinkan dalam bentuk kehidupan lain. Kita sampai pada bentuk kehidupan manusia ini
  17. 17. setelah menjalani proses evolusi bertahap, jadi ini merupakan kesempatan yang langka. Atas aturan alam, pada akhirnya badan manusia diberikan kepada Anda agar Anda dapat mengangkat diri dalam kehidupan spiritual lalu pulang kembali kepada Tuhan. Pada sloka berikutnya Prahlada Maharaja akan berkata, “Orang- orang yang dibelenggu oleh energi material di dunia material ini tidak tahu apa tujuan kehidupan manusia. Mengapa bisa demikian? Sebab mereka telah disesatkan oleh energi luar yang memukau milik Tuhan. Mereka lupa bahwa kehidupan ini merupakan sebuah kesem-patan untuk mengerti tujuan tertinggi kesempurnaan, yakni Tuhan.” Mengapa kita hendaknya sangat berkeinginan mengetahui tentang Tuhan? Prahlada Maharaja memberikan alasannya: “Tuhan adalah sosok yang paling kita cintai. Tapi kita lupa akan hal ini.” Kita semua ingin memiliki teman karib—semua orang menginginkannya. Seorang laki-laki ingin berteman dekat dengan seorang perempuan, dan perempuan ingin berteman dekat dengan laki-laki. Atau, seorang laki-laki ingin berteman dengan laki-laki, dan seorang perempuan ingin berteman dengan perempuan. Semua orang ingin memiliki teman karib, teman yang sangat dekat. Mengapa demikian? Kita menginginkan kerjasama seorang teman yang akan dapat membantu kita. Ini adalah bagian dari perjuangan untuk hidup, dan ini wajar. Tapi, kita tidak tahu bahwa teman terdekat kita adalah Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Bagi mereka yang sudah membaca Bhagavad-gita akan mene- mukan sloka bagus ini di Bab Lima: “Jika engkau menginginkan kedamaian, maka engkau harus mengerti secara sempurna bahwa segala sesuatu di dunia ini dan di dunia lain adalah milik Tuhan, bahwa Tuhan adalah penikmat segalanya, dan bahwa Tuhan adalah teman terbaik bagi semua makhluk.” Untuk apa kita melaksanakan pengekangan diri? Untuk apa kita melaksanakan ritual-ritual ke- agamaan? Untuk apa kita berderma? Semua kegiatan ini dimak- sudkan untuk memuaskan Tuhan, tidak ada maksud lain. Dan apabila Tuhan puas, Anda akan mendapatkan hasilnya. Baik Anda ingin mencapai kebahagiaan material yang lebih baik ataupun ke- bahagiaan spiritual, baik Anda ingin hidup lebih baik di planet ini ataupun di planet-planet lain—apa pun yang Anda inginkan akan
  18. 18. 16 Anda peroleh apabila Anda berhasil memuaskan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, Tuhan adalah teman kita yang paling tulus. Apa pun yang Anda inginkan dari-Nya, bisa Anda dapatkan. Namun, orang cerdas tidak menginginkan sesuatu yang tercemar kedunia-wian. Di dalam Bhagavad-gita Krishna menyatakan bahwa melalui ke- giatan-kegiatan yang saleh orang dapat mengangkat diri sampai planet material tertinggi, yang dikenal sebagai Brahmaloka. Usia hidup di sana berjuta-juta tahun. Anda tidak dapat membayangkan usia hidup di sana; ilmu hitung Anda tidak akan efektif. Bhagavad- gita menyatakan bahwa usia Brahma sedemikian panjangnya hingga 4.320.000.000 menurut perhitungan tahun kita hanyalah duabelas jam bagi beliau. Krishna bersabda, “Kedudukan apa pun yang engkau inginkan, dimulai dari kedudukan semut sampai kedudukan Brahma, bisa engkau dapatkan. Tetapi, berulangnya kelahiran dan kematian akan tetap terjadi. Namun demikian, jika dengan mem-praktikkan kesadaran Tuhan engkau datang kepada- Ku, maka eng-kau tidak harus kembali ke dalam keadaan material yang penuh derita ini.” Prahlada Maharaja menyampaikan hal yang sama: Kita hendaknya mencari teman yang paling kita cintai, Tuhan. Mengapa Tuhan meru- pakan teman yang paling kita cintai? Secara alami kita mencintai Tuhan. Sebagai penjelasan, apa yang Anda anggap sebagai hal yang paling Anda cintai? Pernahkah Anda memikirkannya? Diri Anda sendiri adalah hal yang paling Anda cintai. Saya sedang duduk di sini, tapi apabila terdengar suara sirine kebakaran maka saya akan langsung memperhatikan diri saya sendiri: “Bagimana cara saya menyelamatkan diri?” Kita lupa pada teman-teman kita dan bahkan kita lupa pada saudara kita: “Pertama-tama saya harus menyelamat-kan diri saya sendiri.” Perlindungan-diri adalah yang pertama dalam hukum alam. Dalam makna yang paling kasar, kata atma—”diri”—mengacu pada badan. Dalam tataran yang lebih halus, pikiran atau kecerdasan adalah atma, dan dalam makna sejatinya atma berarti sang roh. Pada tataran kasar kita sangat berkecenderungan melindungi dan memuaskan badan, dan pada tataran yang lebih halus kita sangat berkecenderungan memuaskan pikiran dan kecerdasan. Tapi, di
  19. 19. 17 atas tataran pikiran dan kecerdasan, pada tataran spiritual, kita dapat mengerti, “Saya bukanlah pikiran, kecerdasan, ataupun badan ini. Aham brahmasmi—saya adalah roh, bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan Yang Maha Esa.” Itulah tataran pemahaman yang sejati. Prahlada Maharaja menyatakan bahwa di antara semua entitas hidup, Visnu, Tuhan adalah insan tertinggi yang mengharapkan ke- sejahteraan semua makhluk. Oleh karena itulah kita semua sedang mencari Visnu. Apabila seorang anak kecil menangis, apa yang di- inginkannya? Ibunya. Namun ia belum mampu mengungkapkan hal ini. Atas susunan alam ia memiliki badan, yang terlahir dari badan ibunya, sehingga ada hubungan sangat dekat antara badannya dengan badan ibunya. Si anak tidak akan senang pada perempuan lain. Si anak menangis, namun ketika perempuan yang merupakan ibunya datang dan menggendongnya, ia langsung berhenti menangis. Si anak belum mampu mengungkapkan hal ini, tapi hubungannya dengan ibunya merupakan hukum alam. Demikian pula, secara alami kita berusaha untuk melindungi badan kita. Inilah yang dimaksud perlindungan-diri. Ini merupakan hukum yang alami bagi para makhluk hidup, seperti halnya makan adalah hukum yang alami. Demikian pula halnya dengan tidur. Mengapa kita melindungi badan ini? Sebab di dalam badan ada sang roh. Apa sebenarnya roh itu? Sang roh adalah bagian dari Tuhan. Seperti halnya kita yang melindungi tangan atau jari-jemari kita oleh karena semua itu adalah bagian dari keseluruhan badan kita, demikian pula kita berusaha menyelamatkan diri kita oleh karena hal ini adalah proses perlindungan diri bagi Yang Kuasa. Yang Kuasa tidak perlu melindungi diri, tapi hal ini merupakan wujud cinta kita ke- pada-Nya, rasa cinta yang kini berada dalam keadaan terputar-balik. Jari-jemari dan tangan dimaksudkan bertindak untuk kepentingan keseluruhan badan; begitu saya ingin tangan saya mendekat ke wajah saya, ia bertindak demikian, dan begitu saya ingin jari-jemari saya memainkan gendang ini, ia melakukannya. Ini adalah keadaan wajar baginya. Demikian pula, kita sedang mencari Tuhan, untuk menggunakan energi kita dalam pelayanan kepada-Nya. Akan tetapi, oleh karena kita berada di bawah cengkeraman energi yang menye-satkan, kita tidak mengetahui kenyataan tersebut.
  20. 20. 18 Itulah kesalahan kita. Saat ini, dalam bentuk kehidupan manusia, kita mendapat ke-sempatan untuk mengerti kedudukan kita yang sebenarnya. Hanya karena Anda-Anda ini umat manusialah Anda semua datang ke tempat ini untuk belajar tentang kesadaran Krishna, tentang tujuan yang sebenarnya bagi kehidupan Anda. Saya tidak dapat meng-undang kucing dan anjing untuk duduk di sini. Itulah beda antara umat manusia dan kucing serta anjing. Seorang manusia dapat me-ngerti arti penting mengetahui tujuan sejati kehidupan ini. Namun jika ia menyia-nyiakan kesempatan ini, maka itu merupakan kema-langan besar. Prahlada Maharaja berkata, “Tuhan adalah pribadi yang paling kita cintai di antara semuanya. Kita harus mencari Tuhan.” Lalu, bagaimana dengan kebutuhan material kehidupan kita? Prahlada Maharaja menjawab, “Engkau mencari kepuasan inderawi, tapi ke- puasan indera-indera diperoleh dengan sendirinya melalui kontak dengan badan ini.” Oleh karena babi memiliki jenis badan tertentu, kepuasan inderanya diperoleh dengan cara memakan kotoran, hal yang paling menjijikkan bagi Anda. Begitu selesai buang air besar, Anda langsung menjauh untuk menyingkir dari bau yang tidak sedap—tapi babi sedang menunggu-nunggu. Begitu Anda buang kotoran, babi akan langsung menikmati kotoran tersebut. Jadi, ter-dapat berbagai jenis kepuasan indera menurut berbagai jenis badan. Setiap jiwa yang memiliki badan material memperoleh kepuasan indera. Jangan kira babi yang memakan kotoran itu tidak bahagia. Mereka menjadi gemuk dengan cara demikian. Mereka sangat bahagia. Contoh yang lainnya adalah unta. Unta sangat gemar makan ran- ting berduri. Mengapa? Sebab ketika unta memakan ranting berduri, ranting-ranting itu melukai lidahnya, darah keluar, dan ia mengecap darahnya sendiri. Lalu ia berpikir, “Saya sedang menikmati.” Inilah kepuasan indera. Kepuasan seks juga seperti itu. Kita menikmati darah kita sendiri, dan kita berpikir diri kita sedang menikmati. Inilah kebodohan kita. Para entitas hidup di dunia material ini adalah makhluk spiritual, namun oleh karena ia memiliki kecenderungan untuk menikmati, untuk mengeksploitasi energi material, ia kontak dengan sebuah badan. Ada 8.400.000 jenis makhluk hidup, yang masing-masing
  21. 21. 19 memiliki badan yang berbeda-beda. Sesuai dengan badannya ter- sebut, mereka memiliki indera tertentu yang digunakannya untuk menikmati jenis kepuasan tertentu. MisalkanAnda diberikan ranting berduri untuk Anda makan: “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, ini ada makanan yang sangat enak. Makanan ini disahkan oleh para unta. Ini sangat enak.” Maukah Anda memakannya? “Tidak! Apa itu yang Anda berikan kepada saya?” Oleh karena kita memiliki badan yang berbeda dengan badan unta, kita tidak menyukai ranting berduri. Tapi, jika Anda memberikannya kepada seekor unta, ia akan mene- rimanya sebagai makanan yang sangat enak. Kemudian, jika babi dan unta dapat menikmati kepuasan indera tanpa harus berusaha keras, mengapa kita sebagai manusia harus berusaha keras untuk mendapatkannya? Sebenarnya itu bisa kita dapatkan tanpa berusaha keras—tapi itu bukanlah pencapaian ter-tinggi kita. Fasilitas-fasilitas untuk menikmati kepuasan indera diberikan oleh alam, apakah ia merupakan seekor babi, unta, atau seorang manusia. Jadi, mengapa Anda mesti berusah keras untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas yang memang sudah ditakdirkan untukAnda terima, atas aturan alam? Dalam bentuk kehidupan apa pun kebutuhan badaniah dipuaskan melalui pengaturan oleh alam. Kepuasan ini sudah diatur, seperti halnya penderitaan sudah dite- tapkan. Senangkah Anda terjangkit demam? Tentu tidak. Mengapa Anda bisa terjangkit demam? Kita tidak tahu. Tapi demam itu tetap datang, bukankah demikian? Ya. Apakah Anda berusaha menda- patkan demam itu? Tidak. Lalu, bagaimana demam itu bisa datang? Atas susunan alam. Itulah satu-satunya jawaban. Dan jika pende- ritaan Anda datang karena aturan alam, kebahagiaan Anda juga akan datang atas aturan alam. Jangan memusingkan hal tersebut. Itulah petuah yang diberikan oleh Prahlada Maharaja. Jika Anda menerima derita hidup tanpa usaha khusus, demikian pula Anda akan menerima kebahagiaan tanpa melakukan usaha khusus. Lalu, apa tujuan sebenarnya bentuk kehidupan manusia ini? Me-ngembangkan kesadaran Tuhan. Hal-hal lain akan diperoleh atas aturan alam, yang pada puncaknya merupakan aturan Tuhan. Bahkan jika saya tidak berusaha memperolehnya, saya akan dise- diakan apa pun yang memang akan saya peroleh disebabkan oleh kegiatan masa lampau saya dan jenis badan tertentu yang saya
  22. 22. 20 miliki. Oleh karena itu, perhatian utama kita hendaknya adalah mencari tujuan tertinggi kehidupan manusia. “Kita Sedang Menyia-nyiakan Hidup Kita!” Oleh karena itu, daripada berusaha keras memuaskan indera-indera untuk meningkatkan kebahagiaan material, kita hendaknya ber- usaha mencapai kebahagiaan spiritual dengan cara mempraktikkan kesadaran Krishna. Seperti yang dikatakan Prahlada Maharaja, “Walau-pun hidupmu dalam badan manusia ini bersifat sementara, hal ini sangatlah berharga. Jadi, daripada berusaha meningkatkan kenik-matan indera materialmu, tugasmu adalah mengarahkan kegiatan-kegiatanmu dengan satu atau lain cara dalam kesadaran Krishna.” Kecerdasan kita yang lebih tinggi kita terima bersama dengan badan manusia ini. Oleh karena kita memiliki kesadaran yang lebih tinggi, kita hendaknya berusaha mendapatkan kenikmatan yang lebih tinggi dalam hidup ini, yakni kenikmatan spiritual. Dan bagai- mana caranya kenikmatan spiritual itu dapat diperoleh? Orang hen- daknya mengkhusukkan dirinya dalam melayani Tuhan Yang Maha Esa, yang memberikan kepuasan berupa pembebasan (moksa). Kita hendaknya mengalihkan perhatian untuk mencapai kaki-padma Krishna, yang dapat membebaskan kita dari dunia material ini. Tapi, tidak bisakah kita menikmati saja pada kehidupan saat ini dan tekun dalam pelayanan kepada Tuhan dalam kehidupan kita yang berikutnya? Prahlada Maharaja menjawab, “Sekarang kita se-dang dalam belenggu material. Sekarang saya memiliki badan ini, tapi saya pasti akan meninggalkannya setelah beberapa tahun, lalu saya harus menerima badan yang lain. Sekali engkau menerima satu badan lalu menikmati seperti yang didiktekan oleh indera-indera badanmu, engkau menyiapkan badan lain akibat kenikmatan indera tersebut, dan engkau mendapatkan badan lain sesuai dengan ke-hendakmu itu.” Tidak ada jaminan bahwa Anda akan mendapatkan badan manusia. Hal itu tergantung pada kegiatan Anda. Jika kegiatan Anda seperti kegiatan dewa,
  23. 23. 21 Anda akan mendapatkan badan dewa. Dan jika kegiatan Anda seperti kegiatan seekor anjing, Anda akan mendapatkan badan anjing. Pada saat ajal, takdir tidak berada di tangan Anda—takdir Anda ada di tangan alam. Bukan tugas kita untuk berspekulasi mengenai badan material apa yang akan kita peroleh berikutnya. Pada saat sekarang ini, mari kita berusaha saja mengerti bahwa badan manusia ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk mengembangkan kesadaran spiritual kita, kesadaran Krishna kita. Oleh karena itu, kita hendaknya segera menyibukkan diri dalam pelayanan kepada Tuhan. Maka kita akan mencapai kemajuan. Berapa lama kita harus menjalaninya? Selama badan ini masih bisa bekerja. Kita tidak tahu kapan badan ini akan berhenti ber-fungsi. Orang suci agung Maharaja Parikesit mendapatkan peringatan tujuh hari: “Badan Anda akan berakhir dalam waktu satu minggu.” Akan tetapi, kita tidak tahu kapan badan kita akan berakhir. Mana-kala kita berada di jalan, ada kemungkinan tiba-tiba terjadi kece-lakaan. Kita hendaknya bersiap senantiasa. Kematian itu selalu terjadi. Kita hendaknya tidak berpikir optimis, “Semua orang akan mati, tapi saya akan tetap hidup.” Bagaimana Anda akan bisa terus hidup apabila semua orang pasti mati? Kakek Anda sudah mati, buyut Anda sudah mati, kerabat keluarga Anda yang lainnya sudah mati—mungkinkahAnda akan bisa terus hidup?Anda juga akan mati. Dan anak-anak Anda juga akan mati. Oleh karena itu, sebelum kematian datang, selama kita memiliki kecerdasan manusia ini, mari kita tekun dalam kesadaran Krishna. Inilah petuah dari Prahlada Maharaja. Kita tidak tahu kapan badan ini akan berakhir, jadi mari kita se-segera mungkin menyibukkan diri dalam kesadaran Krishna dan bertindak sesuai yang dianjurkan. “Namun jika saya segera menyi-bukkan diri dalam kesadaran Krishna, bagaimana dengan pencaharian hidup saya?” Itu akan diatur. Dengan gembira saya sampaikan kepadaAnda mengenai keyakinan diri yang dimiliki oleh seorang sisya di salah satu cabang kami. Terjadi suatu perselisihan pendapat. Sisya lain berkata, “Kamu tidak memikirkan bagaimana cara kita bisa terus mempertahankan kegiatan kita di sini,” dan ia menjawab, “Oh, Krishna akan menyediakan segalanya.” Ini keyakinan yang sangat bagus; saya sangat senang mendengarnya.
  24. 24. 22 Jika kucing dan anjing bisa mendapatkan makanan, tidakkah Krishna juga akan menyediakan makanan bagi kita, apabila kita sadar-Krishna dan mengabdikan diri secara penuh kepada-Nya? Apakah Krishna tidak tahu terima kasih? Tidak demikian. Di dalam Bhagavad-gita Krishna bersabda, “Arjuna yang baik, Aku seimbang kepada semua orang.Aku tidak iri kepada siapa pun, dan tidak seorang pun merupakan kawan istimewa bagi-Ku, tapi Aku memberikan perhatian khusus kepada orang yang tekun dalam kesadaran Tuhan.” Seorang anak yang masih kecil bergantung se-penuhnya pada orangtuanya, sehingga orangtua memberikan per-hatian khusus kepada anaknya itu. Walaupun orangtua baik kepada semua anaknya, namun bagi anaknya yang masih kecil yang selalu menangis “Ibu!” mereka memberikan perhatian yang lebih. “Ada apa anakku?” Ini hal yang alami. Apabila Anda bergantung sepenuhnya kepada Krishna, yang telah menyediakan makanan bagi anjing, burung, dan binatang lainnya—bagi 8.400.000 jenis kehidupan—mana mungkin Krishna tidak menye-diakan makanan bagi Anda? Keyakinan yang seperti ini adalah tanda penyerahan diri.Akan tetapi, kita hendaknya jangan berpikir, “Oleh karena Krishna menyediakan makanan bagi saya, sekarang saya akan tidur saja.” Tidak bisa demikian, Anda harus bekerja, tapi tanpa rasa takut. Anda hendaknya menyibukkan diri secara total dalam kesadaran Tuhan, yakin bahwa Krishna akan memelihara dan me-lindungi Anda. Selanjutnya, mari kita hitung usia hidup kita. Pada zaman saat ini dikatakan bahwa kita dapat hidup paling lama sampai usia seratus tahun. Sebelumnya, pada Satya-yuga, zaman kebaikan, manusia dapat hidup sampai usia 100.000 tahun. Lalu, pada zaman berikutnya, Treta-yuga, manusia dapat hidup sampai usia 10.000 tahun. Pada zaman berikutnya, yang bernama Dvapara-yuga, manusia dapat hidup sampai usia 1,000 tahun. Saat ini, pada zaman ini, yang ber-nama Kali-yuga, perkiraan umur manusia adalah sampai 100 tahun. Akan tetapi lambat-laun, seiring berjalannya Kali-yuga, usia hidup kita akan semakin berkurang. Inilah apa yang disebut-sebut kema-juan dalam peradaban modern. Kita sangat bangga karena merasa diri sudah bahagia dan sedang memajukan peradaban. Akan tetapi, hasilnya adalah: kendatipun kita berusaha
  25. 25. 23 menikmati kehidupan material, usia hidup kita diperpendek. Kemudian, dengan mengasumsikan bahwa seseorang hidup selama seratus tahun, jika ia tidak memiliki informasi tentang ke-hidupan spiritual, maka setengah dari seratus tahun itu sudah disia-siakan pada malam hari dalam kegiatan tidur dan kegiatan seks. Hanya itu. Ia tidak ada kegiatan lain. Dan pada siang hari, apa yang menjadi perhatiannya? “Di mana ada uang? Di mana ada uang? Saya harus memelihara badan ini.” Dan apabila ia punya uang: “Sekarang saya akan menghabiskan uang ini untuk istri dan anak saya.” Jadi, di mana keinsafan rohaninya? Pada malam hari ia menghabiskan waktunya dengan cara tidur dan melakukan hubungan seks, dan pada siang hari ia menghabiskan waktunya bekerja keras mengumpulkan uang. Hanya itukah tujuan hidupnya? Betapa buruknya kehidupan yang demikian! Rata-rata orang diilusikan pada masa kanak-kanak, dengan sibuk bermain-main. Seringkali ini berjalan sampai usia duapuluh tahun. Lalu, ketika Anda menjadi tua, sekali lagi, selama duapuluh tahun Anda tidak dapat berbuat banyak. Ketika seseorang menua, indera- inderanya tidak lagi berfungsi dengan baik. Anda sudah banyak melihat ada orang tua; tidak ada hal lain yang mereka lakukan selain beristirahat. Baru saja kami menerima sepucuk surat dari salah sorang sisya kami yang melaporkan bahwa neneknya telah lumpuh dan telah mengalami penderitaan selama tiga setengah tahun bela-kangan. Jadi, pada usia tua, segalanya menuju akhir, begitu Anda berusia delapan puluh tahun. Oleh karena itu, dari lahir sampai usia dua puluh tahun, segalanya sudah tersia-siakan; dan bahkan apabila Anda hidup selama seratus tahun, selama dua puluh tahun lagi pada akhir usiaAnda juga tersia-siakan. Jadi empat puluh tahun tersia-siakan dengan cara demikian. Dan pada usia pertengahan, nafsu seks begitu kuat, sehingga selama dua puluh tahun lagi bisa tersia-siakan. Dua puluh tahun, dua puluh tahun, dan dua puluh tahun—enam puluh tahun berlalu. Inilah analisis kehidupan yang disampaikan oleh Prahlada Maharaja. Kita menyia- nyiakan hidup kita, bukannya menggunakan hidup kita untuk maju dalam kesa-daran Tuhan.
  26. 26. 24 Ilusi Keluarga Prahlada Maharaja menyampaikan kepada kawan-kawannya, “Kalian harus segera mulai mempraktikkan kesadaran Krishna.” Semua anak raksasa itu lahir di keluarga ateis yang materialistik, namun untungnya mereka mendapatkan pergaulan Prahlada, yang meru-pakan seorang penyembah-agung Tuhan sejak lahir. Manakala Prahlada mendapat kesempatan, ketika guru mereka keluar ruangan kelas, ia sering mengajak, “Teman-temanku yang baik, ayo kita mengucapkan Hare Krishna; inilah waktunya untuk memulai kesa-daran Krishna.” Kemudian, seperti yang sudah saya sampaikan, beberapa anak berkata, “Tapi kita masih kanak-kanak. Ayo kita bermain-main saja. Kita tidak akan meninggal dalam waktu dekat. Mari kita bersenang- senang, dan nanti belakangan kita akan memulai kesadaran Krishna.” Orang tidak tahu bahwa kesadaran Krishna adalah kenikmatan ter-tinggi. Mereka pikir pemuda-pemudi yang bergabung dalam gerakan kesadaran Krishna ini adalah orang-orang bodoh. “Karena dipengaruhi oleh Prabhupada mereka bergabung dengan kesadaran Krishna dan meninggalkan semua hal yang memberi kenikmatan.” Tapi sebe-narnya tidaklah demikian. Pemuda-pemudi ini semuanya cerdas dan terdidik, berasal dari keluarga-keluarga yang sangat terhormat; mereka bukan orang bodoh. Mereka benar- benar sedang menikmati hidup dalam masyarakat kita ini; jika tidak demikian mereka tidak akan mau mengorbankan waktunya yang berharga untuk perkum-pulan ini. Sebenarnya ada kehidupan yang membahagiakan dalam kesa- daran Krishna, tapi orang tidak tahu akan hal itu. Mereka berkata, “Apa gunanya kesadaran Krishna ini?” Apabila seseorang tumbuh dalam lingkungan yang terikat kegiatan kepuasan indera, sangat sulit baginya untuk keluar dari keadaan tersebut. Oleh karena itu, menurut tata aturan Veda, dalam masa kehidupan sebagai siswa, yang dimulai sejak umur lima tahun, anak-anak diajarkan tentang kehidupan spiritual. Itu disebut brahmacarya. Seorang brahmana mendedikasikan hidupnya untuk mencapai kesadaran tertinggi— kesadaran Krishna atau kesadaran Brahman.
  27. 27. 25 Ada banyak aturan dalam kehidupan brahmacarya. Sebagai contohnya, betapa pun kayanya ayah seorang anak, sebagai brahmana anak itu menyerahkan diri untuk dididik di bawah bimbingan seorang guru spiritual dan beraktivitas di ashram sang guru layaknya ia seorang pelayan rendahan. Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Kita mendapatkan pengalaman nyata dimana pemuda-pemuda yang berasal dari keluarga yang sangat terhormat tidak enggan melakukan pekerjaan apa pun di sini. Mereka mencuci perabotan, mengepel lantai—segalanya. Ada ibu seorang sisya yang heran melihat anaknya ketika sang anak berkunjung ke rumah. Sebelumnya, anak itu bahkan tidak mau disuruh pergi ke toko, sedangkan sekarang ia tekun bekerja dua puluh empat jam sehari. Kecuali seseorang me-rasakan kebahagiaan, bagaimana mungkin ia dapat menyibukkan dirinya dalam sebuah proses seperti kesadaran Krishna ini? Ini semua semata-mata disebabkan oleh pengucapan Hare Krishna. Inilah aset kita satu-satunya—mantra Hare Krishna. Orang bisa merasa riang hanya dengan kesadaran Krishna. Sebenarnya kesadaran Krishna merupakan kehidupan yang penuh kebahagiaan. Akan tetapi, apabila seseorang tidak terlatih untuk itu, ia tidak akan bisa menjalaninya. Prahlada Maharaja mengatakan bahwa semua orang terikat pada rasa kasih sayang terhadap keluarga. Apabila seseorang terikat pada urusan-urusan keluarga, ia tidak akan dapat mengendalikan indera-inderanya. Sewajarnya setiap orang ingin mencintai orang lain. Diperlukan adanya masyarakat, hubungan pertemanan, dan rasa cinta. Semua itu adalah permintaan-permintaan sang roh, tapi semua itu telah tercerminkan secara terputarbalik. Saya melihat bahwa banyak orang perempuan dan laki-laki di negara Anda ini belum bekeluarga, tapi mereka mengarahkan cintanya pada kucing dan anjingnya. Oleh karena mereka ingin mencintai seseorang namun mereka tidak melihat ada orang yang pantas dicintainya, mereka mengarahkan cinta mereka yang berharga itu pada kucing dan anjing. Perhatian kita adalah untuk memindahkan rasa cinta kita ini kepada Tuhan. Bagamainapun, rasa cinta ini harus diarahkan kepada sesuatu—kepada Tuhan. Inilah kesadaran Krishna.Apabila Anda mengarahkan cintaAnda kepada Krishna, itulah kesempurnan. Tapi saat ini, oleh karena orang-orang sedang merasa frustrasi dan
  28. 28. 26 tertipu, mereka tidak tahu ke mana harus mengarahkan cintanya, sehingga pada akhirnya mereka mengarahkan rasa cintanya kepada kucing dan anjing. Setiap orang dibelenggu oleh rasa cinta duniawi. Sangatlah sulit untuk mengembangkan kehidupan spiritual apabila seseorang asyik dalam cinta kasih duniawi, sebab belenggu cinta ini sangatlah kuat. Oleh karena itu Prahlada menyarankan agar orang belajar kesadaran Krishna sejak masa kanak-kanak. Ketika seorang anak berusia lima atau enam tahun—begitu kesadarannya berkembang— hendaknya ia disekolahkan untuk dididik, dan Prahlada Maharaja mengatakan bahwa pendidikan tersebut hendaknya pendidikan yang sadar-Krishna sejak awal sekali. Masa dari usia lima tahun sampai usia lima belas tahun merupakan masa yang sangat berharga; Anda dapat melatih seorang anak dalam kesadaran Tuhan, dan ia akan menjadi sem-purna. Apabila seorang anak tidak terlatih dalam kesadaran Tuhan, me- lainkan ia larut dalam kehidupan material, sangatlah sulit baginya untuk mengembangkan kehidupan spiritual. Apa itu kehidupan ma- terial atau materialisme? Materialisme berarti bahwa kita semua yang ada di dunia material ini dengan satu atau lain cara ingin menikmati dunia material ini walaupun kita sebenarnya adalah roh yang bersifat spiritual. Kecenderungan untuk menikmati ini hadir dalam wujudnya yang murni di dunia spiritual, dalam hubungan dengan Tuhan. Kita telah datang ke dunia material ini untuk terlibat dalam kenikmatan yang tercemar, seperti halnya orang di Bowery berpikir bahwa ia dapat merasakan kenikmatan dengan cara minum minuman keras. Prinsip dasar kenikmatan material adalah hubungan seks. Oleh karena itu, Anda akan menemukan kegiatan seks ini bukan hanya dalam masyarakat manusia tapi juga dalam masyarakat kucing, anjing, burung—di mana-mana. Selama siang hari, seekor burung dara melakukan hubungan seks sekurang- kurangnya dua puluh kali. Inilah kenikmatan baginya. Srimad Bhagavatam menegaskan bahwa kenikmatan material didasarkan tidak lebih pada hubungan seks antara pria dan wanita. Pada permulaan seorang pemuda berpikir, “Oh, gadis itu menarik,” dan gadis itu berpikir, “Pemuda itu menarik.” Ketika mereka bertemu, kontaminasi material itu menjadi dominan. Dan
  29. 29. 27 ketika mereka benar-benar melakukan hubungan seks, mereka menjadi lebih terikat, menjadi terikat sepenuhnya. Bagaimana bisa demikian? Begitu seorang pria dan seorang wanita menikah, mereka menginginkan tempat tinggal. Kemudian mereka punya anak. Dan ketika mereka sudah punya anak, mereka menginginkan status sosial—masyarakat, pertemanan, dan cinta kasih. Dengan cara demikian ikatan material terus berkembang. Dan semua hal ini memerlukan uang. Orang yang sangat materialistik akan berani menipu siapa pun, membunuh siapa pun, mengemis, meminjam, atau mencuri—segala cara untuk mendapatkan uang. Ia tahu bahwa tempat ting-galnya, keluarganya, istri dan anak-anaknya tidak bisa terus ada selamanya. Semua itu bagaikan buih ombak di laut: buih itu tercipta, lalu lenyap setelah beberapa saat. Tapi orang menjadi sangat terikat. Ia akan mengorbankan kemajuan spiritualnya untuk memburu uang yang digunakannya untuk mempertahankan semua itu. Kesadaran-nya yang sudah terputarbalik—”Aku adalah badan ini. Diriku adalah milik dunia material ini. Aku adalah penduduk negara ini. Aku bagian dari masyarakat ini. Aku beragama ini. Aku milik keluarga ini.”—menjadi semakin parah. Di mana kesadaran Tuhan orang yang demikian? Ia menjadi sedemikian terbelenggunya hingga uang menjadi lebih berharga baginya daripada hidupnya sendiri. Dengan kata lain, ia sanggup membahayakan hidupnya demi uang. Orang yang berumah tangga, buruh, pedagang, pencuri, perampok—semua memburu uang. Ini adalah ilusi. Orang tersesat di tengah-tengah keterikatannya. Prahlada Maharaja mengatakan bahwa dalam keadaan seperti ini, bila Anda terlalu larut dalam kehidupan materialistik, Anda tidak bisa mengembangkan kesadaran Tuhan. Oleh karena itulah orang hendaknya berlatih kesadaran Krishna sejak masa kanak- kanak. Tentu saja, Sri Chaitanya Mahaprabhu begitu murah hati hingga Dia berkata, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Walaupun Anda sudah melewatkan kesempatan untuk memulai kesadaran Krishna sejak masa kanak-kanak, mulailah sekarang, tidak memandang kedudukan Anda saat ini.” Itulah ajaran Caitanya Mahaprabhu. Sri Caitanya tidak pernah berkata, “Oleh karena engkau tidak memulai kesadaran Krishna sejak masa kanak-kanak, maka engkau tidak akan bisa mencapai kemajuan.”
  30. 30. 28 Tidak. Sri Caitanya sangat murah hati. Sri Caitanya telah memberi kita proses yang bagus ini yakni peng-ucapan Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare. Baik Anda masih muda ataupun sudah tua—tidak memandang kedudukan Anda—mulailah melaku- kannya. Anda tidak tahu kapan hidup Anda akan berakhir. Jika Anda mengucapkan nama suci dengan tulus, bahkan hanya sekali saja, itu akan memberikan efek yang sangat besar. Hal itu akan menyelamatkan Anda dari bahaya yang paling besar—menjadi binatang dalam kehidupan berikutnya. Kendati baru berusia lima tahun, Prahlada Maharaja berbicara layaknya orang yang sangat berpengalaman dan terdidik sebab ia menerima pengetahuan dari guru spiritualnya, Narada Muni. Hal ini terungkap dalam bab berikutnya dari Srimad Bhagavatam ini. Kebijaksanaan tidak tergantung pada usia, melainkan tergantung pada pengetahuan yang diterima dari sumber yang lebih tinggi. Orang tidak dapat menjadi bijak hanya karena usianya yang sudah lanjut. Tidak. Pengetahuan harus diterima dari sumber yang lebih tinggi; maka seseorang dapat menjadi bijak. Tidak memandang apa- kah dia baru berusia lima tahun ataupun sudah berusia limapuluh tahun. Seperti pepatah mengatakan, “Dengan kebijaksanaan orang menjadi orang tua, bahkan tanpa usianya menjadi tua.” Jadi, walaupun Prahlada baru berusia lima tahun, melalui kema- juan pengetahuan ia menyampaikan ajaran yang sempurna kepada teman-teman sekelasnya. Beberapa orang barangkali merasa bahwa ajaran-ajaran ini sulit diterima. Misalkan seseorang sudah menikah dan Prahlada berkata, “Jalanilah kesadaran Krishna.” Orang itu akan berpikir, “Oh, bagaimana saya bisa meninggalkan istri saya? Kami bahagia berbincang-bincang bersama, duduk bersama menikmati. Bagaimana bisa saya meninggalkannya?” Keterikatan keluarga itu sangatlah kuat. Saya sudah berusia tua—tujuh puluh dua tahun. Saya sudah berada jauh dari keluarga selama empat belas tahun terakhir ini. Namun, kadangkala saya juga memikirkan istri dan anak-anak saya. Hal ini sangatlah wajar. Tapi itu tidak berarti bahwa saya harus pulang. Inilah pengetahuan. Ketika pikiran mengembara
  31. 31. 29 memikirkan ke-puasan indera, orang hendaknya segera menyadari, “Ini adalah ilusi.” Menurut sistem Veda, orang harus meninggalkan kehidupan ke- luarga secara tegas pada usia lima puluh tahun. Orang harus pergi. Tidak ada pilihan lain. Dua puluh lima tahun pertama adalah untuk kehidupan sebagai siswa. Dari usia lima tahun sampai dua puluh lima tahun, orang hendaknya dididik dengan sangat baik dalam kesadaran Krishna. Prinsip dasar pendidikan hendaknya adalah kesadaran Krishna, tidak ada yang lain. Maka hidup akan terasa me-nyenangkan dan sukses, baik pada kehidupan saat ini maupun kehidupan berikutnya. Pendidikan yang sadar-Krishna artinya orang dilatih untuk meninggalkan kesadaran material sepenuhnya. Itulah kesadaran Krishna yang sempurna. Namun bila sang siswa tidak mampu menangkap intisari kesa- daran Krishna, maka ia diizinkan untuk menikah dengan istri yang baik dan menjalani kehidupan berumah tangga yang damai. Dan oleh karena ia telah terlatih dalam prinsip-prinsip dasar kesadaran Tuhan, ia tidak akan menjadi larut dalam kehidupan material. Orang yang hidup secara sederhana—hidup sederhana dan berpikiran tinggi—dapat maju dalam kesadaran Tuhan bahkan di tengah- tengah kehidupan keluarga. Jadi, kehidupan keluarga itu sendiri tidaklah disalahkan. Akan tetapi, jika orang melupakan identitas spiritualnya dan menjadi ter- ikat dalam urusan material, maka ia tersesat. Misi hidupnya tersesat. Jika orang berpikir, “Saya tidak dapat melindungi diri dari serangan keinginan seks,” maka biarlah dia menikah. Itu sudah ditetapkan. Tapi, jangan melakukan hubungan seks yang tidak sah. Jika Anda menginginkan seorang pemudi, jika Anda menginginkan seorang pemuda, menikahlah dan hidup dalam kesadaran Krishna. Orang yang terlatih dalam kesadaran Krishna sejak masa kanak- kanak secara alami menjadi tidak berkecenderungan pada cara hidup duniawi, dan pada usia lima puluh tahun ia meninggalkan kehidupan yang demikian. Bagaimana ia mulai meninggalkan hal tersebut? Suami dan istri meninggalkan rumah dan melakukan perziarahan suci bersama. Apabila dari usia dua puluh lima tahun sampai lima puluh tahun seseorang berada dalam kehidupan ber-keluarga, maka semestinya ia memiliki anak yang sudah tumbuh dewasa.
  32. 32. 30 Jadi, pada usia lima puluh tahun sang suami memercayakan urusan keluarga kepada beberapa putranya yang juga berkeluarga, lalu ia bersama istrinya pergi berziarah ke tempat-tempat suci untuk dapat melupakan ikatan-ikatan keluarga. Setelah sang suami matang sepenuhnya dalam ketidakterikatan, ia menyuruh istrinya pulang kepada anak-anaknya, dan ia hidup sendiri. Itulah sistem Veda. Kita harus memberikan kesempatan kepada diri kita sendiri untuk maju dalam kehidupan spiritual, langkah demi langkah. Jika tidak demikian, jika kita tetap terikat pada kesadaran material sepanjang usia kita, maka kita tidak akan bisa menyempurnakan kesadaran Krishna kita, dan kita akan menyia-nyiakan kesempatan yang kita peroleh pada bentuk kehidupan manusia ini. Yang disebut-sebut sebagai kehidupan berkeluarga yang bahagia berarti bahwa kita memiliki istri dan anak-anak yang sangat men- cintai kita. Dengan demikian, kita menikmati hidup ini. Akan tetapi, kita tidak tahu bahwa kenikmatan ini palsu, bahwa kenikmatan ini berada pada tataran yang palsu. Dalam sekejap, bisa saja kita di-paksa meninggalkan kenikmatan ini. Kematian tidak berada di bawah kendali kita. Kita mempelajari dari Bhagavad-gita bahwa jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan sangat terikat ke- pada istrinya, hasilnya adalah dalam kehidupan berikutnya ia akan mendapatkan badan perempuan. Dan jika sang istri sangat terikat kepada suaminya, ia akan mendapatkan badan laki-laki pada ke- hidupan berikutnya. Demikian pula, jika Anda bukan orang yang berkeluarga danAnda terikat pada seekor kucing atau anjing, maka kehidupan Anda yang berikutnya akan sebagai kucing ataupun anjing. Inilah hukum karma, atau alam material. Secara keseluruhan, maksudnya adalah bahwa orang hendaknya memulai kesadaran Krishna segera. Misalkan seseorang berpikir, “Setelah menyelesaikan kehidupan yang giat ini, ketika saya sudah tua dan tidak ada lagi yang mesti dilakukan, maka saya akan pergi kepada masyarakat kesadaran Krishna dan mendengarkan sesuatu di sana.” Tentu boleh saja pada waktu itu seseorang menjalani ke- hidupan spiritual, tapi apa jaminannya bahwa ia akan hidup sampai usia tua itu? Kita bisa meninggal dunia kapan saja; jadi, menunda- nunda kehidupan spiritual sangatlah berisiko. Oleh karena itu, orang hendaknya memanfaatkan kesempatan yang ada saat ini untuk
  33. 33. 31 maju dalam kesadaran Krishna. Itulah tujuan perkumpulan kita ini: memberikan kesempatan kepada semua orang untuk memulai ke-sadaran Krishna pada usia berapa pun. Dan melalui proses peng-ucapan: Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare, kemajuan akan sangat cepat dicapai. Hasilnya akan langsung dapat dilihat. Kami meminta tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang telah berkenan menghadiri ceramah kami atau membaca buku-buku kami untuk mengucapkan Hare Krishna pada waktu senggang Anda di rumah, dan membaca buku-buku kami. Itulah permintaan kami. Kami yakin bahwa Anda akan merasakan bahwa proses ini menyenangkan dan sangat efektif. “Saya Mencintai Tuhan Lebih Dari Segalanya!” Selanjutnya, Prahlada Maharaja memberikan pernyataan lebih lanjut tentang rumitnya kehidupan material. Ia membandingkan dengan ulat sutera orang berumah tangga yang larut dalam keterikatan. Ulat sutera membungkus dirinya di dalam sebuah kepompong yang terbuat dari ludahnya sendiri, sampai ia berada dalam sebuah pen- jara yang membuat dirinya tidak bisa lolos. Dengan cara yang sama, ikatan orang berumah tangga yang materialistik demikian eratnya hingga ia tidak bisa keluar dari kepompong berupa ikatan keluarga. Kendati ada banyak sekali penderitaan dalam kehidupan berke- luarga yang materialistik, ia tidak dapat melepaskan diri. Mengapa demikian? Ia mengira bahwa hubungan seks dan makan hidangan yang lezat adalah hal yang paling penting. Oleh karena itu, walau ada begitu banyak penderitaan, ia tidak dapat meninggalkannya. Dengan cara demikian, bila seseorang terlalu larut dalam kehi- dupan keluarga, ia tidak dapat memikirkan kepentingan sejatinya— meloloskan diri dari kehidupan material. Walaupun ia selalu di- ganggu oleh tiga jenis penderitaan kehidupan yang materialistik, tetap saja, disebabkan oleh rasa kasih sayang yang kuat terhadap keluarga, ia tidak bisa keluar. Ia tidak tahu dirinya sedang menyia-
  34. 34. 32 nyiakan usia hidupnya yang terbatas hanya untuk kasih sayang terhadap keluarga. Ia menyia-nyiakan hidup yang dimaksudkan untuk menginsafi identitas dirinya yang kekal, menginsafi kehi- dupan spiritualnya yang sejati. “Oleh karena itu,” Prahlada berkata kepada teman-temannya kaum raksasa, “tinggalkanlah pergaulan dengan orang yang hanya mengejar kenikmatan material. Bergaullah dengan orang-orang yang sudah menjalani kesadaran Krishna.” Itulah nasihat Prahlada. Ia me-ngatakan kepada teman-temannya bahwa kesadaran Krishna ini mu-dah dicapai. Mengapa? Sebenarnya kita sangat mencintai kesadaran Krishna ini, tapi kita telah melupakannya. Oleh karena itu, orang yang menjalani kesadaran Krishna semakin merasakan manfaatnya dan melupakan kesadaran materialnya. Jika Anda berada di negara asing, barangkali Anda melupakan kampung halaman, anggota keluarga dan teman-teman yang sangat Anda cintai. Akan tetapi, apabila secara tiba-tiba Anda ingat pada kampung halaman dan teman-temanAnda, maka seketika itu pikiran Anda khusuk memikirkan hal tersebut: “Bagaimana caranya saya bisa bertemu mereka?” Di San Francisco salah seorang teman kami menyampaikan bahwa ia sudah sejak lama meninggalkan anaknya yang masih kecil untuk pergi ke luar negeri. Baru-baru ini sepucuk surat datang dari putranya yang sudah tumbuh besar, dan seketika itu sang ayah ingat pada rasa kasih sayangnya terhadap putranya lalu mengirim sejumlah uang. Rasa kasih sayang itu datang dengan sendirinya, walau ia sudah lupa pada anaknya itu selama bertahun- tahun. Demikian pula, rasa kasih sayang kita kepada Krishna begitu dekatnya hingga begitu terjadi suatu sentuhan kesadaran Krishna, kita langsung membangkitkan kembali hubungan kita dengan Krishna. Setiap orang memiliki hubungan tertentu dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah dilupakannya. Tapi seiring dengan kemajuan kesadaran Krishna kita, perlahan-lahan kesadaran lama kita mengenai hubungan kita dengan Krishna dibangkitkan. Dan ketika kesadaran kita benar-benar berada pada tataran yang jernih, kita dapat mengerti hubungan khusus kita dengan Krishna. Orang barangkali memiliki hubungan dengan Krishna sebagai seorang putra atau abdi, sebagai kawan, sebagai orang tua, atau sebagai
  35. 35. 33 istri atau kekasih tercinta. Semua hubungan ini tercermin secara terputarbalik dalam kehidupan di dunia material.Akan tetapi, begitu kita sampai pada tataran ke-sadaran Krishna, hubungan lama kita dengan Krishna dibangkitkan. Kita cenderung mencintai—semua orang demikian. Pertama-tama saya mencintai badan saya sebab diri saya berada di dalam badan ini. Jadi, sebenarnya saya mencintai diri saya lebih dari mencintai badan saya. Namun, diri saya itu memiliki hubungan sangat dekat dengan Krishna sebab sang diri adalah bagian tak terpisahkan dari Krishna. Oleh karena itu saya mencintai Krishna lebih dari segalanya. Dan oleh karena Krishna mahameluas atau berada di mana-mana, saya mencintai segala sesuatu. Tapi sayangnya, kita lupa bahwa Krishna, Tuhan, berada di mana- mana. Ingatan ini harus dibangkitkan. Begitu kita membangkitkan kembali kesadaran Krishna, kita dapat melihat segala sesuatu dalam hubungan dengan Krishna, maka kita mencintai segala sesuatu. Con-tohnya, saya mencintai Anda dan Anda mencintai saya. Tapi, cinta tersebut berada pada tataran badan yang bersifat sementara ini. Apabila cinta saya kepada Krishna berkembang, saya akan mencintai bukan hanyaAnda melainkan juga semua makhluk hidup sebab julukan luar ini, badan, akan terlupakan. Ketika seseorang menjadi sadar akan Krishna sepenuhnya, ia tidak berpikir seperti ini, “Ini manusia, ini binatang, ini kucing, ini anjing, ini cacing.” Ia melihat semuanya sebagai bagian tak terpisahkan dari Krishna. Hal ini di-jelaskan dengan sangat baik di dalam Bhagavad-gita: “Orang yang sudah benar-benar terpelajar dalam kesadaran Krishna menjadi orang yang mencintai semua makhluk di alam semesta ini.” Sebelum orang mantap dalam tataran kesadaran Krishna, tidak ada soal persaudaraan universal. Jika kita benar-benar ingin menerapkan pemikiran tentang per-saudaraan universal, maka kita harus sampai pada tataran kesadaran Krishna, bukan kesadaran material. Selama kita berada dalam kesa-daran material, obyek-obyek cinta kita akan terbatas. Akan tetapi, apabila kita benar-benar dalam kesadaran Krishna, obyek-obyek cinta kita akan bersifat universal. Hal ini dinyatakan oleh Prahlada Maharaja: “Mulai dari tumbuh-tumbuhan yang tidak bisa berpindah tempat sampai makhluk hidup tertinggi, Brahma,
  36. 36. 34 Personalitas Tuhan Yang Maha Esa hadir di dalam segala sesuatu melalui perbanyakan-Nya sebagai Paramatma, aspek Tuhan yang bersemayam di hati setiap makhluk. Begitu kita menjadi sadar-Krishna, perbanyakan Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Paramatma, mendorong kita untuk mencintai setiap obyek dalam hubungan dengan Krishna.” Menginsafi Bahwa Tuhan Ada Di Mana-mana Prahlada Maharaja memberitahukan kepada teman-teman seke- lasnya tentang kemaha-adaan Tuhan.Akan tetapi, walaupun Tuhan maha-ada melalui perbanyakan dan energi-Nya, itu tidak berarti Tuhan kehilangan personalitas-Nya. Ini hal yang penting. Kendati Tuhan maha-ada, namun Tuhan tetap sesosok pribadi. Menurut per-sepsi material kita, apabila sesuatu bersifat maha-ada, maka sesuatu itu pasti tidak memiliki personalitas, tidak memiliki aspek yang terlokalisir (berada di tempat tertentu). Tapi Tuhan tidaklah demikian. Sebagai contoh, sinar matahari bersifat maha-ada atau berada di mana-mana, tapi matahari juga memiliki aspek terlokalisir, yakni planet matahari itu sendiri, dan Anda dapat melihat planet matahari itu. Di sana bukan hanya ada planet matahari, tapi di dalam planet matahari ada dewa matahari, yang bernama Vivasvan. Kita mendapatkan informasi ini dari kesusastraan Veda. Tidak ada cara lain untuk mengerti apa yang terjadi di planet-planet lain kecuali dengan cara mendengarkan dari sumber-sumber absah atau otoritas. Dalam peradaban modern, kita menerima para ilmuwan sebagai otoritas dalam bidang ini. Kita mendengar ada seorang ilmuwan berkata, “Kami telah melihat bulan; keadaan di sana seperti ini,” dan kita percaya pada kata-kata tersebut. Kita sendiri belum pergi ke bulan bersama ilmuwan itu, tapi kita percaya kepadanya. Kepercayaan adalah prinsip dasar pemahaman. Anda bisa percaya kepada para ilmuwan, atau Anda bisa percaya kepada Kitab-kitab Veda. Terserah kepada Anda untuk memilih sumber yang Anda percayai. Bedanya adalah, informasi dari kitab-kitab Veda tidak pernah salah, sementara informasi yang diterima dari
  37. 37. 35 para ilmuwan bisa saja salah. Mengapa informasi yang diberikan para ilmuwan bisa salah? Sebab orang biasa yang dibelenggu oleh alam material memiliki empat kekurangan. Apa saja kekurangan tersebut? Yang pertama adalah bahwa manusia yang berada dalam keadaan terbelenggu memiliki indera-indera yang tidak sempurna. Kita melihat bahwa matahari nampak seperti sebuah piringan kecil. Mengapa demikian? Matahari jauh lebih besar daripada bumi ini, tapi kita melihat matahari seperti sebuah piringan. Semua orang tahu bahwa daya lihat, daya dengar kita, dsb, terbatas. Dan oleh karena indera-inderanya tidak sempurna, roh yang terbelenggu pasti berbuat kesalahan, betapa pun hebatnya ia sebagai seorang ilmuwan besar. Belum terlalu lama di negara ini terjadi musibah ketika para ilmuwan berusaha mengirim sebuah roket ke luar angkasa namun ketika lepas landas roket itu terbakar menjadi abu. Jadi, terjadi kesalahan pada saat itu. Roh yang terbelenggu pasti berbuat kesalahan, sebab itulah sifat dari kehidupan yang terbelenggu. Kesalahan itu barang-kali sangat besar ataupun sangat kecil—itu tidak penting—tapi manusia yang dibelenggu oleh alam material pasti berbuat kesalahan. Selanjutnya, roh terbelenggu pasti terilusi. Hal ini terjadi apabila ia terus-menerus salah mengira sesuatu hal sebagai hal lain. Sebagai contoh, kita kira badan ini adalah sang diri. Oleh karena diri saya bukanlah badan ini, maka apabila saya mengira badan ini sebagai diri saya, itulah ilusi. Seluruh sunia berjalan di bawah ilusi bahwa “Saya adalah badan ini.” Oleh karena itulah tidak ada kedamaian. Saya berpikir bahwa saya orang India, Anda berpikir bahwa Anda orang Amerika, dan orang yang lahir di Cina berpikir dirinya orang Cina.Apa sebenarnya sebutan-sebutan “Orang Cina,” “OrangAmerika,” dan “Orang India,” ini? Ini adalah ilusi berdasarkan badan. Itu saja. Kecenderungan untuk menipu adalah kekurangan keempat dari kehidupan yang terbelenggu. Barangkali saya orang bodoh, tapi saya akan berkoar-koar menyatakan bahwa saya sangat terpelajar. Orang yang terilusi dan berbuat kesalahan adalah orang bodoh, tapi masih juga orang-orang bodoh tersebut menempatkan dirinya sebagai sumber pengetahuan yang tidak pernah salah. Jadi, semua roh yang terbelenggu memiliki indera-indera yang tidak sempurna,
  38. 38. 36 mereka pasti berbuat kesalahan dan terilusi, dan mereka dipe- ngaruhi oleh kecenderungan untuk menipu. Bagaimana kita dapat mengharapkan pengetahuan sejati dari roh- roh terbelenggu macam itu? Tidak ada kemungkinannya kita dapat menerima pengetahuan yang sejati dari mereka. Baik seseorang merupakan ilmuwan, filsuf, atau apa pun, oleh karena ia terbelenggu ia tidak dapat memberikan informasi yang sempurna, tidak meman- dang betapa terdidiknya ia. Ini merupakan sebuah fakta. Kemudian seseorang barangkali bertanya, “Bagaimana cara kita bisa mendapatkan informasi yang sempurna? Caranya adalah dengan menerima pengetahuan melalui garis perguruan guru-guru spiritual yang dimulai dari Krishna. Di dalam Bhagavad-gita Sri Krishna berkata kepada Arjuna, “Pengetahuan Bhagavad-gita ini pertama kali di-sabdakan oleh-Ku kepada dewa matahari, dan dewa matahari menyampaikan kepada putranya, Manu. Pada gilirannya, Manu menyampaikan pengetahuan ini kepada Isvaku putranya, lalu Isvaku menyampaikan kepada putranya. Dengan cara demikian pengetahuan ini diteruskan. Namun sayang sekali garis perguruan itu saat ini terputus. Oleh karena itulah, wahai Arjuna, Aku menyab- dakan pengetahuan yang sama kepadamu sebab engkau adalah kawan baik-Ku dan penyembah-Ku.” Inilah proses untuk menerima pengetahuan yang sempurna—menerima vibrasi rohani yang turun dari sumber yang lebih tinggi. Keseluruhan pengetahuan Veda ada- lah vibrasi rohani untuk membantu kita mengerti Tuhan. Jadi, Prahlada Maharaja mengatakan bahwa Personalitas Tuhan Yang Maha Esa identik dengan Roh Utama yang maha-ada, Paramatma. Keterangan yang sama ditemukan dalam Brahma- samhita—bahwa walaupun Tuhan berada di kediaman rohani-Nya sendiri, Tuhan maha-ada atau berada di mana-mana. Tapi tetap saja, walaupun Tuhan ada di mana-mana, kita tidak dapat melihat- Nya dengan indera-indera kita yang tidak sempurna. Prahlada Maharaja kemudian berkata, “Kendati Tuhan tidak nampak, Tuhan masih bisa dirasakan. Orang cerdas dapat mera- sakan kehadiran Tuhan di mana-mana.” Bagaimana mungkin? Pada siang hari, orang yang berada di dalam kamar pun tahu bahwa ma- tahari sedang bersinar. Oleh karena ada sinar di kamarnya, ia dapat mengerti bahwa matahari sedang bersinar di angkasa. Demikian
  39. 39. 37 pula, orang yang sudah menerima pengetahuan yang sempurna da- lam garis perguruan mengetahui bahwa segala sesuatu merupakan perluasan energi Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu mereka melihat Tuhan ada di mana-mana. Apa yang dapat kita rasakan dengan indera-indera material kita? Kita dapat melihat apa yang bisa dilihat oleh mata material—tanah, air, api. Tapi kita tidak bisa melihat udara, kendati kita dapat me- rasakannya melalui sentuhan. Kita dapat mengerti bahwa udara itu ada melalui suara, dan kita dapat mengerti bahwa kita memiliki pikiran sebab kita bisa berpikir, merasakan, dan menginginkan. Demikian pula, kita dapat mengerti bahwa kita memiliki kecerdasan yang membimbing pikiran. Jika kita melangkah lebih jauh lagi, kita dapat mengerti, “Diri saya adalah kesadaran.” Dan orang yang masih lebih maju lagi dapat mengerti bahwa sumber kesadaran adalah sang roh dan, di atas semuanya, Roh Yang Utama. Hal-hal kasat mata di sekeliling kita adalah perluasan dari energi inferior (lebih rendah) Tuhan, tapi Tuhan juga memiliki energi superior (lebih tinggi)—kesadaran. Kita harus mengerti tentang kesadaran ini dari otoritas yang lebih tinggi, tapi kita juga dapat merasakannya secara langsung. Sebagai contoh, kita dapat merasakan bahwa ada kesadaran yang tersebar ke seluruh badan. Jika saya mencubit bagian mana pun dari badan saya ini, saya akan merasakan sakit; itu berarti bahwa ada kesadaran di sekujur tubuh saya. Di dalam Bhagavad-gita Krishna mengatakan bahwa kita hendaknya berusaha mengerti bahwa kesadaran tersebar ke seluruh badan dan bahwa kesadaran bersifat kekal. Demikian pula, kesadaran tersebar di seluruh alam semesta. Tapi kesadaran tersebut bukan kesadaran kita. Itu adalah kesadaran Tuhan. Jadi, Tuhan, Roh Yang Utama, berada di mana-mana melalui kesadaran- Nya. Orang yang mengerti hal ini maka ia telah memulai kesadaran Krishna-nya. Proses yang kita jalani adalah mengarahkan kesadaran kita ke-pada kesadaran Krishna—itu akan menyempurnakan diri kita. Tidak benar bahwa kita menyatu ke dalam kesadaran tersebut. Dalam satu makna kita “menyatu,” tapi kita tetap mempertahankan individualitas kita. Itulah beda antara filsafat kaum impersonalis (orang yang tidak mengakui keberadaan wujud pribadi Tuhan) dan
  40. 40. 38 filsafat yang sadar-Krishna. Para filsuf impersonalis mengatakan bahwa kesempurnaan berarti kita menyatu ke dalam Yang Kuasa dan ke-hilangan identitas kita. Kita mengatakan bahwa dalam tingkatan sempurna kita menyatu ke dalam Yang Kuasa tapi kita memper-tahankan individualitas kita. Bagaimana bisa demikian? Sebuah pesawat terbang lepas landas dari bandara dan terus naik ke ang-kasa, dan ketika pesawat itu sudah sangat tinggi kita tidak dapat melihatnya: kita hanya bisa melihat langit. Tapi pesawat itu tidaklah hilang—ia masih di sana. Contoh lainnya adalah tentang seekor burung berbulu hijau masuk ke dalam pohon besar yang rimbun. Kita tidak dapat membedakan burung itu dengan pohon, tapi keduanya tetap ada. Demikian pula, kesadaran tertinggi adalah Krishna, dan apabila kita menghubungkan kesadaran individual kita dengan Yang Kuasa, kita menjadi sempurna—tapi kita tetap mem- pertahankan individualitas kita. Orang luar barangkali berpikir bah- wa tidak ada perbedaan antara Tuhan dan penyembah murni-Nya, tapi hal seperti itu hanyalah disebabkan oleh pengetahuan yang sempit. Masing-masing individu mempertahankan individualitasnya secara kekal, bahkan ketika ia terhubung dengan Yang Kuasa. Prahlada Maharaja mengatakan bahwa kita tidak dapat melihat keberadaan kesadaran—baik kesadaran tertinggi maupun kesa- daran individual—tapi kesadaran itu ada. Bagaimana kita bisa me-ngerti bahwa kesadaran itu ada? Kita dapat mengerti tentang kesadaran tertinggi dan kesadaran individual hanya dengan me- rasakan kebahagiaan. Oleh karena kita memiliki kesadaran, kita dapat merasakan €nanda, atau kenikmatan. Tanpa kesadaran, tidak ada rasa kenikmatan. Disebabkan adanya kesadaran ini kita dapat menikmati hidup dengan cara mempekerjakan indera-indera sesuka hati kita. Akan tetapi, begitu kesadaran pergi meninggalkan badan, kita tidak dapat lagi menikmati indera-indera kita. Kita memiliki kesadaran sebab kita adalah bagian tak terpisahkan dari kesadaran tertinggi. Sebagai contoh, percikan api hanyalah merupakan partikel kecil dari api, tapi percikkan api itu juga api. Setetes air Samudera Atlantik memiliki kualitas yang sama dengan keseluruhan air di samudera itu—rasanya juga asin. Demikian pula, oleh karena potensi untuk menikmati ada dalam Tuhan Yang Maha Esa, kita juga dapat menikmati kepuasan. Tuhan adalah
  41. 41. 39 para-maisvara, pengendali utama; oleh karena itulah kita juga merupakan isvara-isvara, atau pengendali. Sebagai contoh, saya memiliki suatu daya kendali untuk meminum air ketika saya terbatuk. Menurut kapasitas kita, setiap orang memiliki suatu daya kendali. Tapi kita bukan pengendali tertinggi. Sang Pengendali Tertinggi adalah Tuhan, Krishna. Oleh karena Krishna adalah pengendali tertinggi, Krishna dapat me-ngendalikan segala urusan alam semesta melalui berbagai potensi-Nya. Saya juga merasakan bahwa saya mengendalikan urusan badaniah saya sampai batas tertentu. Tapi, oleh karena saya bukan pengendali tertinggi, apabila ada sesuatu yang salah terjadi di dalam badan ini, saya harus pergi ke dokter. Demikian pula, saya tidak memiliki kendali atas badan-badan lainnya. Saya menyebut tangan ini sebagai “tangan saya” sebab saya dapat bekerja menggunakan tangan ini dan menggerakkanya menurut keinginan saya. Tapi saya bukan pengendali tangan Anda. Jika saya berkeinginan untuk meng-gerakkan tangan Anda, itu tidak di bawah kuasa saya; itu ada di bawah kuasa Anda. Anda dapat menggerakkan tanganAnda jikaAnda menginginkannya. Jadi, saya bukanlah pengendali badan Anda, dan Anda bukanlah pengendali badan saya, tapi Roh Yang Utama adalah pengendali badan Anda dan badan semua makhluk. Di dalam Bhagavad-gita, Tuhan menyatakan bahwa Anda, sang roh, ada di dalam badan Anda dan bahwa badan Anda adalah lapangan kegiatan Anda. Jadi, apa pun yang Anda lakukan dibatasi oleh lapangan badan. Seekor binatang yang diikat pada suatu tempat dapat bergerak di sekitar tempat itu saja tapi ia tidak bisa bergerak melewati wilayah tersebut. Demikian pula, aktivitas Anda dan ak-tivitas saya diikat oleh batasan-batasan badan kita. Badan saya adalah lapangan aktivitas saya, dan badan Anda adalah lapangan aktivitasAnda. Tapi Krishna bersabda, “Aku hadir di dalam semua lapangan aktivitas.” Dengan demikian, sebagai Roh Yang Utama atau Paramatma, Krishna mengetahui apa yang terjadi di dalam badan saya, di dalam badan Anda, dan di dalam jutaan dan miliaran badan lainnya. Oleh karena itu, Krishna adalah pengendali tertinggi. Kita memiliki energi yang terbatas, tapi energi Krishna tidak ada batasnya. Melalui daya
  42. 42. 40 kendali-Nya, melalui kehendak tertinggi-Nya, ciptaan material ini bergerak. Hal ini juga ditegaskan dalam Bhagavad-gita, di mana Krishna menyatakan, “Seluruh alam material bekerja di bawah kendali-Ku. Segala hal menakjubkan yang engkau lihat di dunia material ini terjadi hanyalah di bawah pengawasan-Ku, di bawah kendali-Ku.” Karunia yang Sempurna Prahlada Maharaja kemudian menyampaikan kesimpulannya: “Teman-temanku yang baik, oleh karena Tuhan ada di mana-mana dan karena kita merupakan bagian tak terpisahkan dari Tuhan, tugas kita adalah berkarunia kepada semua makhluk hidup.” Apabila ada seseorang yang berkedudukan di bawah kita, kita wajib membantu orang itu. Sebagai contoh, oleh karena keadaan seorang anak kecil tidak berdaya, ia bergantung pada kasih sayang orang tuanya: “Ibu, saya ingin ini.” “Ya, anakku sayang.” Kita hendaknya bermurah hati kepada semua makhluk hidup dan berkarunia kepada mereka. Bagaimana cara kita dapat berkarunia kepada semua orang? Ada jutaan orang miskin, jadi bagaimana cara kita berkarunia kepada mereka semua? Mampukah kita menyediakan pakaian dan makanan bagi semua orang yang kekurangan di dunia ini? Itu tidak mungkin. Lalu, bagaimana cara kita dapat berkarunia kepada semua makhluk hidup? Dengan memberi mereka kesadaran Krishna. Itulah cara Prahlada Maharaja memberikan karunia sejati kepada teman- teman sekelasnya. Semua temannya itu bodoh, tidak tahu tentang kesa-daran Krishna, dan oleh karena itu Prahlada memperlihatkan kepada mereka bagaimana cara menjadi sadar-Krishna. Ini adalah karunia tertinggi. Jika Anda benar-benar ingin berkarunia kepada semua makhluk hidup, maka beri mereka pencerahan dalam kesadaran Krishna, seperti yang dilakukan Prahlada Maharaja. Jika tidak demi-kian, secara material adalah di luar kemampuan Anda untuk ber-belas kasih kepada semua makhluk hidup. “Teman-temanku yang baik,” Prahlada berkata, “tinggalkanlah kehidupan jahat ini. Tinggalkanlah semua hal yang bukan-bukan ini.” Prahlada Maharaja meminta teman-temannya untuk mening-galkan
  43. 43. 41 aspek jahat yakni kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak ada. Oleh karena mereka lahir dalam keluarga para raksasa dan diajari oleh guru raksasa, teman-teman Prahlada berpikir, “Siapa itu Tuhan? Tuhan itu tidak ada.” Kita menemukan dalam Bhagavad-gita bahwa orang yang memiliki mentalitas seperti ini disebut orang jahat, sebab mereka selalu berusaha berbuat jahat. Barangkali mereka merupa-kan pengacara yang sangat terpelajar, sebagai contoh, tapi mereka berencana menipu. Kami memiliki pengalaman nyata. Ada peng-acara yang sangat terpelajar dan berkualifikasi serta berpakaian sangat rapi, tapi mentalitasnya lebih rendah daripada mentalitas anjing. “Orang ini punya uang, jadi ayo kita menyusun rencana untuk menipu dia.” Mereka hanyalah orang-orang jahat. Untuk apa mereka menipu? Hanya demi kepuasan indera, seperti halnya seekor keledai yang tidak tahu tujuan hidup. Ia dipelihara oleh tukang cuci, yang memuati punggungnya dengan pakaian sebanyak mungkin. Dengan cara demikian keledai bekerja sepanjang hari mengangkut beban ini hanya demi seikat rumput. Demikian pula, orang yang materialistik bekerja sangat keras hanya demi ke- puasan indera yang remeh. Oleh karena itu, mereka dibandingkan dengan keledai. Mereka selalu merencanakan sesuatu yang jahat. Mereka merupakan manusia kelas terendah sebab mereka tidak percaya kepada Tuhan. Mengapa? Pengetahuannya telah dirampok oleh pengaruh energi material. Oleh karena mereka mengabaikan keberadaan Tuhan, ilusi menyelimuti mereka: “Ya, Tuhan itu tidak ada. Bekerja keras dan berbuat dosalah sehinggaAnda akan dikirim ke neraka.” Prahlada Maharaja meminta kepada teman-temannya kaum asura agar mereka meninggalkan pemikiran bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika kita meninggalkan pemikiran yang bukan-bukan ini, maka Tuhan Yang Maha Esa, yang berada melampaui persepsi kita, akan puas dan berkarunia kepada kita.
  44. 44. 42 Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada datang ke Amerika tahun 1965 pada usia enampuluh sembilan tahun untuk memenuhi perintah guru spiritualnya. Dalam kurun waktu yang singkat, duabelas tahun, beliau menyajikan kesusastraan Veda dalam bentuk tujuh puluh buku terjemahan berbahasa Inggris. Buku- buku karyanya sangat dihormati oleh kalangan akademik atas keabsahannya, kedalaman dan kejelasannya, dan kini digunakan sebagai buku acuan standar di universitas-universitas di seluruh dunia. Pada saat yang sama Srila Prabhupada terus-menerus ber- keliling dunia mengajarkan kesadaran Krishna. Pada tahun 1966, beliau mendirikan ‘International Society for Krishna Consciousness’ (ISKCON/ Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional) di New York. Beliau membimbing perkumpulan tersebut dan melihatnya tumbuh menjadi sebuah perkumpulan mendunia yang terdiri atas pasraman-pasraman, sekolah, kuil, dan komunitas pertanian. Beliau meninggalkan bumi ini pada tahun 1977 di Vrindavana, India. Murid- muridnya lalu meneruskan perkumpulan yang telah beliau rintis. Penulis

×