Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Etiket vaisnava

563 views

Published on

Buku saku ini berisikan berbagai aturan etika untuk menjadi seorang Vaisnava. Posisi sebagai Vaisnava bukanlah hal yang mudah. Sangat banyak pantangan, peraturan dan pertapaan yang harus dilaluinya. Karena itu jangan heran jika di dunia ini tidak banyak yang mampu menjadi seorang Visnava, meskipun dia sendiri mengklaim dirinya adalah Visnava. Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaisnava ini akan mengantarkan pada ada untuk belajar bersikap hidup layaknya seorang Vaisnava

Published in: Spiritual
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Etiket vaisnava

  1. 1. INTERNATIONAL SOCIETY FOR KRISHNA CONSCIOUSNESS ACARYA-PENDIRI: SRI SIMAD A.C. BHAKTIVEDANTA SWAMI PRABHUPADA SAMPRADAYA KESADARAN KRISHNA INDONESIA (SAKKHI)
  2. 2. INTERNATIONAL SOCIETY FOR KRISHNA CONSCIOUSNESS FOUNDER-ACARYA: HIS DIVINE GRACE A.C. BHAKTIVEDANTA SWAMI PRABHU- PADA SRI SRI RADHA GOPINATHA MANDIR 7, K. M. MUNSHI MARG, NEAR BHARATIYA VIDYA BHAVAN CHOWPATTY, MUMBAI - 400 007 E-mail: rgsevaka@vsnl.net Website: www.radhagopinath.com Phone: 2369 7228 Fax: 2367 7941
  3. 3. nama oà viñëu-pädäya kåñëa-preñöhäya bhü-tale çrémate bhaktivedänta-svämin iti nämine namas te särasvate deve gaura-väëé-pracäriëe nirviçeña-çünyavädi-päçcätya-deça-täriëe “Hamba bersujud dengan hormat kepada Sri Srimad A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, yang sangat dicintai oleh Sri Krishna, karena telah berlindung di kaki-padma-Nya.” “Sembah sujud kami kepadamu, wahai guru spiritual, abdi dari Bhaktisiddhanta Sarasvati Goswami. Anda bermurah hati menyampaikan ajaran-ajaran Sri Caitanyadeva dan menyampaikannya ke negara-negara Barat, yang penuh dengan filsafat impersonal dan kekosongan.”
  4. 4. Daftar Isi Sambutan ix Kata Pengantar xi BAGIAN I 1. Pengantar Singkat Mengenai Makna Penting Buku Ini 1 2. Esensi 3 BAGIAN II 1. Etika di Kuil/ Tempat Sembahyang 5 A) Bersikap Rendah Hati 5 B) Bersujud 5 C) Memusatkan Pikiran Kepada Arca 6 D) Sikap Duduk 7 E) Berbicara 8 F) Pakaian dan Penampilan 8 1. Tilaka 9 2. Rambut 9 3. Kanthi Mala (Kalung Tulasi) 11 4. Kumis dan Jenggot 12 G) Kebersihan dan Kesehatan 12 H) Perilaku Umum 14 I) Menghadiri Ceramah 16 J) Menghadiri Upacara Arati 16 K) Menghormati Maha-Prasadam/ Nirmalya 17 1. Bunga, Garlan/ Kalungan Bunga 18 2. Caranamrita 18 3. Lampu Ghee 19
  5. 5. 4. Pakaian Arca 19 5. Maha-Prasadam 20 2. Etika Lainnya 21 A) Memperlakukan Benda-Benda Suci 21 B) Kebiasaan Pribadi 22 C) Kirtana 24 D) Menari 25 E) Pembicaraan 27 F) Kegiatan Pengajaran 28 3. Prasadam 32 4. Dapur 34 Lampiran I (Mantra-Mantra Pranama) 37 Lampiran II (Bersujud) 49 Lampiran III (Memakai Tilaka) 42 Lampiran IV (Doa-Doa Prema-Dhvani) 46 Lampiran V (Doa untuk Mempersembahkan Bhoga) 49 Lampiran VI (Doa Prasadam) 50 BAGIAN III 1. Menghormati dan Melayani Prasadam 53 A) Melayani Prasadam 53 B) Menghormati Prasadam 56 C) Aturan Makan dan Minum Air 56 D) Banyaknya Makanan 57 E) Sehabis Makan 57 BAGIAN IV 1. Hubungan dengan Berbagai Golongan Penyembah 59 A) Tiga Golongan Penyembah 59 B) Hubungan dengan Guru Spiritual 59
  6. 6. C) Hubungan dengan Senior 60 D) Hubungan dengan Saudara Seguru 61 E) Hubungan dengan Perempuan 63 F) Hubungan dengan Tamu 63 G) Menyapa Vaishnava 63 H) Hubungan dengan Vaishnava Lain 64 I) Vaishnava Jangan Dilihat dari Sudut Pandang Material 64 J) Badan Seorang Vaishnava adalah Sebuah Kuil 64 K) Karunia Para Vaishnava Sangat Dibutuhkan 65 L) Hubungan Manis Dengan Sesama Vaishnava 65 2. Hubungan dengan Orang yang Bukan Penyembah 65 Lampiran VII (Menerima Tamu) 67 BAGIAN V 1. Sadhana 71 A) Mengucapkan Nama Suci Tuhan (Japa) 71 B) Empat Prinsip Aturan 80 C) Bergaul dengan Penyembah 80 D) Menghindari Orang yang Bukan Penyembah 81 E) Membaca 82 F) Pelayanan 83 G) Pemujaan Arca 83 H) Pertapaan 85 I) Prinsip-Prinsip yang Menguntungkan dan Tidak Menguntungkan 87 J) Para Brahmana 88 K) Pentingnya Waktu 88 Lampiran VIII (Makna Penting Mantra Panca-Tattva) 89
  7. 7. Lampiran IX (Sepuluh Jenis Kesalahan Terhadap Nama Suci) 91 Lampiran X (Mempersembahkan Arati) 92 Lampiran XI (Mengikuti Ekadasi-Vrata) 96 BAGIAN VI 1. Mengunjungi Tempat Suci 98 2. Sepuluh Jenis Kesalahan Terhadap Dhama Suci 100
  8. 8. SAMBUTAN KETUA UMUM DEWAN PENGURUS PUSAT SAMPRADAYA KESADARAN KRISHNA INDONESIA (SAKKHI) OM NAMO BHAGAVATE VASUDEVAYA! K a m i m e n y a m b u t b a i k t e r b i t n y a b u k u Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava oleh Tim Penerjemah untuk dapat digunakan sebagai pedoman bagi para penyembah dalam melakukan pelayanan bhakti sehari-hari. Etika Vaishnava merupakan perhiasan bagi para penyembah Krishna, yang mencerminkan kualitas kepribadian seorang Vaishnava. Dengan pemahaman dan pengamalan etika Vaishnava kita akan dapat terhindar dari kesalahan-kesa-lahan (aparadh) dalam pelayanan bhakti kepada Sri Krishna dan para penyembah-Nya, seperti nama aparadh, seva aparadh, vaishnava aparadh dan dhama aparadh. Srila Prabhupada mengatakan, bahwa apabila seorang penyembah ingin maju dalam bhakti maka yang perlu diubah adalah sifat rajas-tamas menjadi sifat sattvam dengan cara mengendalikan indera dan pikiran. Dengan hadirnya buku ini, dan dengan upaya untuk menerapkan dalam kehidupan sehari- hari, diharapkan sifat-sifat rajas-tamas dan perilaku vikarma kita berkurang, sehingga se-cara bertahap kita bisa maju sampai tataran sifat sattvam dan visudha sattvam sebagai landasan dalam melakukan bhakti yang murni kepada Sri Sri Radha-Krishna dan para penyembah-Nya. Dalam Siksastaka, Sri Gauranga Mahaprabhu mengatakan, bahwa dengan sikap toleransi, kerendahan hati, memberi penghormatan kepada setiap orang, dan tidak menuntut penghormatan dari siapa pun, barulah kita akan dapat mengucapkan nama suci Sri Krishna secara mantap. Jika kita telah mantap dan murni dalam pengucapan maha-mantra Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare,
  9. 9. Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare, barulah kita memenuhi syarat untuk memper-sembahkan bhakti yang murni dan ikut dalam lila rohani Sri Sri Radha-Krishna bersama para sakhi-Nya dan men-capai Krishna Prema Bhakti. Buku ini aslinya adalah terbitan ISKCON Sri Sri Radha Gopinatha Mandira, Cowpatty, Mumbai, India. Atas anjuran His Grace Sankirtana das, pembimbing Bhaktisastri, buku ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diter-bitkan oleh Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia. Selamat kepada para penyembah yang telah menerima dan mengamalkan buku Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava ini dan terima kasih kepada Tim Penerjemah (Sriman Anantavijaya dasa dan Sriman Brajabihari dasa) yang telah bekerja keras untuk menerjemahkan dan me-nerbitkan buku ini. Hari Bolo! Jay Srila Prabhupada! Jay Sri Sri Gaura-Nitai! Jay Sri Sri Radha-Krishna! Denpasar, 8 Agustus 2007 Ketua Umum DPP SAKKHI ttd ADIPURUSA DASA
  10. 10. Kata Pengantar Sri Caitanya Mahaprabhu menyatakan dalam Caitanya Caritamrita bahwa ketaatan pada etika Vaishnava adalah sebuah perhiasan, yang membuat seorang penyembah menjadi indah dan menarik di mata Tuhan dan di mata dunia. Oleh sebab itu, amatlah penting bagi semua pe-nyembah Tuhan untuk bisa benar-benar memahami etika dan gaya hidup yang demikian. Informasi tentang hal tersebut tersebar dalam berbagai buku dan di sini dirasakan adanya kebutuhan akan terse-dianya sebuah buku pedoman menyeluruh yang mengumpulkan bukan hanya prinsip-prinsip umum yang mendasar mengenai etika dan pola hidup Vaishnava, namun juga yang bisa menyajikan isu-isu dan masalah-masalah khusus yang berkaitan dengan kondisi nyata di center-center kita. Karya ini adalah sebuah usaha tulus guna memenuhi kebutuhan tersebut. Disebabkan oleh keterbatasan waktu, tidaklah mungkin untuk menguraikan lebih panjang lagi untuk bisa mencakup semua isu secara terperinci. Nanti-nya, berdasarkan masukan-masukan para penyembah, penambahan dan perbaikan lebih lanjut bisa dilakukan. Sementara itu, mohon memaafkan kesalahan dan keku-rangan karya ini. Karya ini bisa terwujud atas perhatian khusus yang di-berikan oleh H.H. Radhanatha Swami Maharaja. Beliau telah banyak membantu dalam meyakinkan dan menye-mangatkan penyembah untuk mengumpulkan data, dan memberi nasihat-nasihat berharga, yang terlahir dari pe-ngalaman panjang sebagai seorang penyembah dan pem-bimbing spiritual. Kami berharap dan berdoa memohon bimbingan dan pergaulan beliau senantiasa. Banyak penyembah lainnya telah meluangkan waktu dan
  11. 11. tenaga untuk memberi saran serta komentar dan me-ngetik serta mengedit naskah. Peran mereka sangat ber-harga dalam penyusunan karya ini. Kami menyampaikan terima kasih dengan sepenuh hati kepada mereka semua. Diharapkan bahwa karya ini, dalam cara sekecil apa pun, bisa membantu penyembah untuk melanjutkan misi Sri Caitanya, Avatara Keemasan pada zaman ini, dan Srila Prabhupada. Segala pujian kepada Sri Guru dan Sri Gaurangga!
  12. 12. 15Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava BAGIAN I 1. PENGANTAR SINGKAT MENGENAI MAKNA PENTING BUKU INI Isi buku pedoman ini dikumpulkan dari sumber-sumber seperti buku Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Ajaran Abadi Upadesamrita dan buku-buku lainnya, surat-surat dan pe-rintah-perintah Srila Prabhupada serta dari pengamatan atau saran berbagai penyembah. Sri Caitanya mengajarkan kepada Srila Sanatana Go-svami tentang perilaku seorang Vaishnava sebagai berikut: yadyapio tumi hao jagat-pävana tomä-sparçe pavitra haya deva-muni-gaëa tathäpi bhakta-svabhäva maryädä-rakñaëa maryädä-pälana haya sädhura bhüñaëa CC Antya 4.129-130 “Wahai Sanatana, meskipun engkau adalah penyelamat seluruh alam semesta dan meskipun para dewa dan orang-orang suci sekalipun tersucikan dengan menyentuh dirimu, sudah merupakan sifat dasar seorang penyembah melak-sanakan dan melindungi etika Vaishnava. Penerapan etika Vaishnava adalah perhiasan seorang penyembah.” maryädä-laìghane loka kare upahäsa iha-loka, para-loka dui haya näça CC Antya 4.131 “Apabila seseorang melanggar hukum-hukum etika, orang-orang akan mencibirnya sampai dia binasa baik di dunia ini maupun di akhirat.” Sri Caitanya Mahaprabhu juga memberikan lima perintah penting kepada Enam Gosvami dari Vrindavana. Berdasarkan 15
  13. 13. 16 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava perintah tersebut, dipandang perlu menuliskan aturan dan ketentuan untuk memenuhi tuntutan misi pengajaran ISKCON yang berkembang semakin luas. Perintah-perintah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Untuk mempelajari dengan cermat semua kitab suci wahyu dan mengambil intisari dari semua kitab tersebut di mana intisari dari semuanya adalah bhakti. 2. Untuk menggali tempat-tempat suci lila Krishna di Vrindavana. Untuk membuat Vrindavana Dhama menjadi tempat di mana orang-orang dari berbagai belahan dunia akan datang untuk berlindung dan memperoleh inspirasi. 3. Untuk membangun kuil-kuil yang indah dan mensta-nakan Arca-Arca yang mengagumkan serta menga-jarkan kepada dunia metode pemujaan Arca yang benar. 4. Dengan perilaku mereka sendiri; untuk memperli-hatkan sikap seorang Vaishnava dan etika yang benar di kalangan para Vaishnava. Sri Caitanya menganggap hal ini sebagai prinsip yang paling penting. Kita tidak hanya harus kuat secara filosofis namun kita harus mengerti bagaimana beretika dengan benar an-tara satu dan yang lain, terhadap atasan, terhadap bawahan, terhadap Tuhan dan terhadap roh-roh terikat. 5. Sri Caitanya memerintahkan kepada mereka untuk menegakkan etika Vaishnava melalui tulisan-tulisan demikian pula melalui perilaku mereka. 6. Dengan perilaku mereka sendiri; untuk memperli-hatkan apa yang merupakan tugas seseorang yang menempuh hidup pelepasan ikatan. 2. ESENSI Pola hidup seorang penyembah hendaknya sesuai dengan prinsip “Hidup sederhana, berpikir tinggi.” Ada banyak aturan dan ketentuan yang membimbing
  14. 14. 17Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava kehidupan seorang pernyembah tapi tujuan dari semua itu ialah untuk membantu kita “Selalu ingat pada Krishna Tidak pernah lupa pada Krishna” Ini adalah aturan yang paling penting dan semua aturan lain tunduk di bawah aturan ini.
  15. 15. 18 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava
  16. 16. 19Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava BAGIAN II 1. ETIKA DI KUIL/ TEMPAT SEMBAHYANG A) BERSIKAP RENDAH HATI Pada zaman dahulu para raja biasa bepergian dengan di-tandu. Salah satu aturan menyatakan bahwa orang hen-daknya jangan pernah masuk ke kuil dengan ditandu atau naik mobil atau dengan masih memakai sepatu. Maksud-nya ialah bahwa orang hendaknya melepas mentalitas sebagai raja yakni mentalitas sebagai Penguasa dan tuan, apa pun kualifikasi pribadi, kemampuan dan kedudukan sosialnya. Di antara para penyembahTuhan, khususnya di kuil, satu-satunya julukan yang berlaku ialah ‘PELAYAN DARI PELAYAN’. B) BERSUJUD Begitu masuk tempat sembahyang, pertama-tama kita hen-daknya bersujud (panchanga pranama) kepada para Vaishnava yang hadir dan mengucapkan doa: väïcä-kalpatarubhyaç ca kåpä-sindhubhya eva ca patitänäà pävanebhyo vaiñëavebhyo namo namaù “Hamba bersujud dengan hormat kepada semua Vaish-nava penyembahTuhan. Mereka bagaikan pohon pe-menuh keinginan yang da-pat memenuhi keinginan setiap orang, dan mereka penuh belas kasih terhadap roh-roh terikat yang jatuh.” Kemudian kita hendaknya bersujud (sujud dandavat penuh bagi laki-laki) kepada Srila Prabhupada, dengan memosisikan beliau berada di sebelah kiri kita, dan meng-ucapkan mantra paranati untuk beliau,“namo om visnu- padaya..” Kemudian, kita hendaknya men- dekati Arca dan bersujud dandavat 19
  17. 17. 20 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava penuh, dengan memosisikan Arca berada di sebelah kiri kita dan mengucapkan pranama mantra masing-masing Arca. Harus diperhatikan bahwa kita hendaknya jangan bersujud dengan satu tangan. Kedua tangan hendak-nya menopang badan saat bersujud dan kedua lengan harus terjulur. C) MEMUSATKAN PIKIRAN KEPADA ARCA a) Setelah bersujud kepada Arca kita hendaknya ‘darsana’ kepada Arca dengan penuh rasa bhakti dan memohon karunia Arca. b) Namun, kita hendaknya jangan langsung memandang wajah Arca secara penuh. Cara yang benar untuk ‘darsana’ kepada Tuhan diuraikan dalam Srimad Bha-gavatam 2.2.13, “Proses meditasi hendaknya dimulai dari kaki-padma Tuhan lalu berangsur-angsur ke wajah-Nya yang tersenyum. Meditasi hendaknya dipusatkan di kaki-padma kemudian betis, lalu ke paha dan de-ngan demikian semakin ke atas. Semakin pikiran mantap pada berbagai anggota badan satu demi satu, kecerdasan akan semakin disucikan.” c) Srila Prabhupada menguraikan di bagian penjelasan bahwa meditasi semacam itu akan membantu kita melepaskan diri dari pemuasan indera. Suasana hati penyembah saat ‘darsana’ ialah “OhTuhan, hamba adalah abdi-abadi-Mu. Mohon berkenan memberitahu hamba, bagaimana hamba dapat melayani-Mu?” Fungsi Arca besar di kuil adalah untuk memberi ‘darsana’ dan biasanya adalah istadeva dari sampradaya kita. Jadi merupakan hal wajar dan memperlihatkan sikap hormat jika pertama-tama kita melihat Mereka. Ada juga pertimbangan lain seperti: Jika ada tiga altar, seperti di Krishna Balarama Mandir di Vrindavana {atau Sri Sri Radha Rasbihari Mandir di Juhu}, Srila Lebih terperinci lihat Lampiran I di akhir bagian ini. (Hal. 37) Lebih terperinci lihat Lampiran II di akhir bagian ini. (Hal. 39)
  18. 18. 21Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Prabhupada biasanya bersujud terlebih dahulu di Altar Gaura-Nitai kemudian menuju Altar Krishna Bala-rama lalu ke Altar Sri Sri Radha-Syamsundar. Bisa juga penyembah ingin melihat Gurunya lebih dulu {namun foto Gurunya mungkin tidak ada} kemudian ‘darsana’ dengan proses menaik sampai pada Sri Krishna. Saat ‘darsana’, kita bisa berdiri di samping agar tidak mengalangi penyembah yang sedang duduk. Saat kita menghadap Arca, ‘darsana’ hendaknya dimulai dari sudut kiri menuju ke kanan, Arca demi Arca hingga ke sudut kanan. D) SIKAP DUDUK Ada beberapa aturan mengenai sikap duduk di tempat sembahyang: a) Saat duduk kita hendaknya jangan memperlihatkan kaki kepada Arca atau menjulurkan kaki ke arah Guru, Tulasi-devi dsb. Telapak kaki harus selalu ditutupi. b) Sebisa mungkin kita hendaknya menghindari duduk membelakangi Arca atau membelakangi vyasasana. (Namun, mungkin saja tata ruang kuil menghalangi kita untuk melak- sanakan prinsip ini). c) Kita hendaknya tidak menjulurkan kaki di hadapan Arca. d) Kita hendaknya tidak du-duk di hadapan Arca sambil memegang pergelangan kaki, siku atau lutut. (lihat gambar di samping) e) Kita hendaknya jangan ter-tidur saat duduk di hadapan Arca. E) BERBICARA a) Di hadapan Arca kita hendaknya jangan: - berbicara dengan suara keras - bertengkar - memarahi orang lain
  19. 19. 22 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava - berkata-kata kasar atau marah-marah - memuji orang lain - menjelek-jelekkan orang lain - menghina para dewa - terlibat dalam ‘prajalpa’ atau pembicaraan duniawi - berbohong - berbicara dekat penyembah yang sedang berjapa b) Orang boleh berbicara di hadapan Arca kepada tamu dan penyembah jika pembicaraan itu membantu peng-ajaran atau meningkatkan kesadaran Krishna mereka, namun semua pembicaraan lain hendaknya dilakukan di luar tempat sembahyang. F) PAKAIAN DAN PENAMPILAN a) Pakaian seorang penyembah harus sederhana, bersih dan khas, yang bisa mengingatkan orang lain tentang KRISHNA. b) Ketika datang ke kuil (khususnya untuk acara pagi, perayaan dan Sunday Feast) para penyembah hendak-nya berpakaian sebagai berikut: Laki-laki: dhoti dan kurta Perempuan: sari (kepala ditutup di hadapan laki-laki) Pakaian lain hendaknya dihindari kecuali dalam kea-daan terpaksa atau benar-benar dibutuhkan untuk pengajaran. c) Untuk laki-laki maupun perempuan, pakaian hendak-nya sederhana dan tidak mengikuti mode masa kini serta tidak mewah. Namun, pakaian harus rapi dan bersih. Hal-hal yang tidak perlu seperti parfum dan berbagai bentuk kosmetik serta make-up hendaknya dihindari. Kesederhanaan dalam berbusana sangatlah penting bagi seorang Vaishnava, baik di tempat sem- bahyang maupun di luar.
  20. 20. 23Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava d) Khususnya untuk acara pagi dan untuk semua program kuil, secara umum harus mengenakan pakaian bersih. Jangan memakai pakaian yang sudah dipakai pada hari sebelumnya. e) Sri Caitanya menyatakan bahwa seorang Vaishnava ada-lah orang yang ketika kita lihat mengingatkan kita kepada Krishna. Dengan demikian, semua penyembah harus teliti terhadap hal-hal berikut, yang menandai kita sebagai seorang Vaishnava: 1. Tilaka: Kita hendaknya selalu menghias badan dengan tilaka di dua belas bagian, setelah mandi. Orang yang tidak mengucapkan Nama Suci (ber-japa) dan tidak mengikuti prinsip-prinsip aturan tidak boleh memakai tilaka, terutama di luar kuil. 2. Rambut: Laki-laki: Para brahmacari dan sannyasi harus meng-gundul kepala sekali seminggu serta memakai sikha. Grhasta boleh melakukan hal yang sama.Tapi, sesuai dengan pelayanannya, mereka boleh memelihara rambut pendek dan rapi, dan kalau mungkin, mema-kai sikha kecil. Meskipun rupanya tidak ada petun-juk sastra mengenai ukuran sikha, secara tradisi para Gaudiya Vaish-nava memaki sikha kira-kira seu-kuran telapak kaki anak sapi, kurang lebih berdiameter 1,5 inchi (4 cm). Panjang sikha bisa be-bas, tapi harus selalu diikat erat dan hanya dilepas ikatannya saat mandi, saat dibersihkan atau saat meminyakinya. Begitu juga, saat akan tidur, mengikuti upacara pembakaran jenazah, atau menjalani masa berkabung, hendaknya sikha dibiarkan tidak terikat. Karena sikha yang tidak diikat meru-pakan tanda adanya kematian dalam keluarga, sung-guh tidak mujur Lebih terperinci lihat Lampiran III di akhir bagian ini. (Hal. 42)
  21. 21. 24 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava untuk menjalani tugas sehari-hari dengan sikha yang tidak diikat. Juga dikatakan bahwa kalau seseorang membiarkan sikha-nya tidak diikat, badan akan menjadi lemah. Saat mengikat sikha sehabis mandi, ucapkan mantra Hare Krishna atau kalau sudah diinisiasi dengan mantra Gayatri, ucapkan Brahma-Gayatri (mantra Gayatri bait pertama) dalam hati. Sikha hendaknya jangan dikepang (secara tradisi hanya perempuan yang mengepang rambut), juga hendak-nya jangan dibiarkan panjang dan tergerai. Srila Prabhupada menyebut-kan hal ini dalam sebuah perca- kapan dengan beberapa murid di Hawaii, “Sikha Gaudiya Vaishnava berdiameter satu setengah inchi, tidak lebih daripada itu. Sikha yang lebih besar daripada itu berarti Sampra-daya yang berbeda. Dan sikha harus diikat.” (6 Mei 1972, Hawaii.) Kalau sikha terlalu pendek untuk diikat, bisa dibiarkan lepas namun tidak acak- acakan. Perempuan: Lebih diutamakan bagi perempuan untuk memelihara rambut panjang dan diikat ke belakang. 3. Kanthi-Mala (Kalung Tulasi): Semua penyembah yang sudah menerima diksa harus memakai kanthi-mala setidaknya dua (2) atau tiga (3) lilitan. Mala harus dililitkan di sekitar pangkal tenggorokan dan hendaknya bisa dilihat dengan jelas. Penyembah yang belum mene-rima diksa namun telah mengikuti semua prinsip aturan selama bebe-rapa waktu dan yang ingin meneri-ma diksa juga boleh memakai kanthi-mala. KalungTulasi yang dipakai di leher menunjukkan penyerahan- diri seorang penyembah kepada Tuhan, karena itu orang yang memakai ka-lung Tulasi di lehernya sangat dicintai oleh Tuhan. Namun, orang berbuat kesalahan bila ia memakai kalungTulasi hanya sekadar meniru seorang Vaish-nava tanpa berusaha secara
  22. 22. 25Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava serius untuk berserah-diri kepada Tuhan. Disarankan agar jangan memakai kalung Tulasi apabila seseorang tidak mengikuti empat prinsip aturan. Beberapa penyembah juga memakai jenis mala bertuah lainnya baik yang terbuat dari Tulasi, biji bunga padma, tali dari ratha (kereta) Jagannatha, atau pavitra berbahan sutra saat melakukan puja, japa atau kegiatan suci lainnya, di mana benda- benda ini hendaknya dilepas saat mandi atau meninggalkan kuil atau rumah, dan saat ke kamar kecil. Kanthi-mala dipakai selalu, sebab kalung itu me-lindungi seseorang dari mimpi buruk, kecelakaan, serangan senjata dan utusan Yamaraja. Begitu melihat Tulasi-mala, para Yamaduta lari ketakutan bagai de-daunan diterbangkan angin. Penyembah yang tidak mengikuti prinsip-prinsip dasar, terutama mengucapkan Nama Suci dan empat prinsip aturan (yakni tidak makan daging, tidak berzinah, tidak berjudi, tidak mabuk-mabukan) hen-daknya jangan memakai kanthi-mala. Berbicara secara tegas, sekali kanthi-mala dipakai, bahkan bawang merah dan bawang putih pun tidak boleh melewati tenggorokan. Karena itu, orang hendaknya menasihati para pe-nyembah baru dengan cara seperti itu. 4. Jenggot dan kumis : Penyembah yang sudah menerima diksa atau yang akan menerima diksa hendaknya tidak memelihara kumis atau jenggot. (Namun, hendaknya diper-hatikan bahwa dalam beberapa ‘matha’ Vaishnava, laki-laki mencukur wajah dan kepalanya sekali saat bulan mati atau saat bulan purnama; dan dalam peri-ode Caturmasya mereka tidak bercukur sama sekali. Namun standar bagi kita ialah bercukur secara teratur dengan pengecualian untuk yatra tertentu atau alasan lain yang dapat dibenarkan).
  23. 23. G) KEBERSIHAN DAN KESEHATAN a) Seperti disebutkan sebelumnya, di tempat sembahyang harus memakai pakaian bersih. b) Sehabis menerima prasadam, lantai tempat menaruh piring harus dibersihkan. Hendaknya jangan melang- kahi area tempat prasadam, sebab tempat itu dianggap tercemar. Tempat di mana kita menerima prasadam menjadi tercemar, dan kalau kita melangkah di tempat itu, maka kaki harus segera dicuci. Area tempat kita menerima prasadam harus segera dibersihkan sehabis menerima prasadam. Oleh karena kuil harus sangat bersih, kita hendaknya berhati-hati agar tidak mence-mari kuil dengan tidak semestinya. c) Orang hendaknya jangan memasuki aula kuil tanpa mencuci tangan dan kaki sehabis makan. d) Orang hendaknya memasuki kuil dengan tangan dan kaki yang bersih. e) Orang hendaknya mandi sehabis buang air besar dan setelah itu baru boleh memasuki aula kuil. f) Orang hendaknya jangan memasuki kuil sehabis menghadiri pembakaran mayat atau sehabis menyentuh mayat. Ia harus mandi terlebih dahulu, setelah itu baru boleh memasuki kuil. g) Orang hendaknya jangan kentut atau beserdawa di dalam tempat sembahyang. h) Orang hendaknya menghindari memasukkan jari ke mulut, telinga atau hidung saat berada di tempat sem-bahyang. Kalau terpaksa harus melakukan hal itu (demikian juga di luar kuil), sehabis itu ia harus segera mencuci tangan. i) Selama mengalami menstruasi, para mataji boleh mengunjungi kuil, tetapi mereka tidak boleh melakukan pemujaan Arca, seperti arati, menghias Arca, memasak, membuat garlan atau tugas-tugas lainnya yang mem-butuhkan kehadiran mereka di ruang Arca atau di dapur, atau pekerjaan apa pun yang berhubungan secara lang-sung dengan Arca (misalnya menjahit pakaian Arca).
  24. 24. Selama masa tersebut, mataji yang bersangkutan hendaknya menghindari sentuhan fisik dengan siapa saja yang sedang atau akan melayani Arca. Mereka boleh mengikuti Tulasi-puja namun hendak-nya tidak mempersembahkan air kepada Tulasi-devi. Dalam keadaan apa pun, berjapa dengan japa-mala harus terus dilakukan. Tidak ada alangan material untuk mengucapkan Nama Suci Tuhan. Sejauh menyangkut situasi di rumah, para mataji yang beralangan hendaknya berusaha menjaga standar tadi sebisa mungkin. Dalam beberapa keadaan ba-rangkali hal tersebut tidak dapat diterapkan, seperti jika tidak ada orang lain yang memasak, dsb. Dalam keadaan demikian, mataji bersangkutan bisa mela-kukan apa yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban rumah tangga dan pada saat yang sama juga berusaha agar Arca yang ada di rumah bisa dilayani. Sebisa mungkin, anggota keluarga lainnya hendak-nya membantu dalam hal ini. H) PERILAKU UMUM a) Kita hendaknya selalu ingat bahwa kita adalah seorang penyembah dan wakil Guru dan Krishna. Apakah di kuil atau di rumah, saat bekerja di kantor atau di jalan, kita hendaknya menunjukkan perilaku yang bisa me-ngundang penghormatan terhadap Guru dan Krishna, dan hendaknya menghindari segala perilaku yang akan memberi kesan buruk terhadap Guru dan Krishna. b) Penyembah hendaknya jangan memakai perhiasan, jam tangan dsb., yang mahal dan menyolok. Bagi para mataji, perhiasan harus dipakai dengan penuh pertim-bangan (jika memang harus memakai) dan bagi laki-laki lebih baik menghindari sama sekali segala jenis perhiasan seperti kalung emas, gelang, dsb. c) Sebisa mungkin penyembah hendaknya menghindari menggunakan segala jenis barang yang terbuat dari kulit, dengan mengetahui semua itu sebagai hasil dari pembunuhan binatang. Kecuali tidak bisa dihindari dalam pelayanan, kita hendaknya
  25. 25. 28 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava menahan diri dari menggunakan sepatu kulit (dan juga barang- barang seperti tas, dompet, tali jam dsb.). d) Bahkan (dan khususnya) jika kita dikritik atau orang berbuat kesalahan terhadap diri kita, kita hendaknya mengambil sikap dengan tetap menjaga martabat. e)Tentu kita berusaha untuk mencegah diri kita ditipu orang atau kita akan mengambil tindakan ketika di-butuhkan, namun hendaknya kita berhati-hati agar menghindari pertengkaran, terlibat dalam adu mulut yang sia-sia, dan sebagainya. f) Secara khusus seorang penyembah harus berhati-hati dalam hubungan dengan lawan jenis. g) Srila Rupa Gosvami mengatakan bahwa seorang penyembah tidak boleh lalai dalam urusan biasa. De-ngan kata lain, kita hendaknya jangan mengabaikan tata krama dan formalitas biasa dengan menganggap semua itu sebagai hal duniawi (dan menganggap diri sudah rohani). h) Menyentuh seseorang dengan kaki adalah suatu kesa-lahan. Misalkan, kalau seseorang mesti melewati pe-nyembah yang sedang duduk di kuil, ia hen-daknya mengulurkan tangan untuk mengisya-ratkan bahwa ia ingin lewat sehingga mereka akan menggeser lutut untuk memberi jalan (lihat gambar.) Kalau tanpa sengaja seseorang menyentuh seorang penyembah dengan kakinya, ia hendaknya menyentuh badan penyembah bersangkutan dengan tangan kanan secara lembut dan (kemudian) menyentuhkan tangan kanannya ke kepalanya sendiri; hal ini akan menghapus kesalahan tersebut. I) MENGHADIRI CERAMAH a) Ketika menghadiri ceramah, kita hendaknya penuh perhatian dan tenang. Seorang penyembah yang banyak bicara atau mengantuk akan mengurangi semangat dan mengacaukan pikiran yang berpengaruh pada pence-ramah dan penyembah yang sedang mendengarkan. Hal itu juga menjadi kesan yang kurang bagus terhadap perkumpulan kita. b) Kalau seseorang benar-benar mengantuk, ia hendaknya bergeser
  26. 26. 29Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava ke dinding di tepi ruangan dan bisa berdiri. c) Aturan mengenai sikap duduk di dalam kuil sebagai-mana telah disebutkan sebelumnya hendaknya diikuti. d) Kita hendaknya menghindari keluar-masuk kuil atau ruangan tempat berlangsungnya ceramah. Hal ini sangat mengganggu. e) Para orang tua harus menjaga anak-anaknya. Kalau anak-anak ribut, mereka harus diajak keluar ruangan kuil. f) Pertanyaan yang relevan dan berhubungan dengan topik ceramah boleh diajukan, dengan sikap rendah hati. J) MENGHADIRI UPACARA ARATI Arati juga disebut niran-jana atau drsti, yang arti-nya mempersembahkan benda-benda bertuah de-ngan cara memutarkannya di hadapan seseorang un-tuk menghilangkan penga-ruh atau unsur-unsur ku-rang mujur, dengan tujuan perlindungan. Berbagai benda yang dipersembahkan, yang semuanya melambangkan unsur-unsur material dalam bentuknya yang suci dan obyek-obyek indera yang berkaitan (seperti suara, bentuk, sentuhan, dsb.) adalah bertuah dan me-nyucikan. Dengan demikian, semua upacara arati yang dipersem- bahkan kepada Tuhan adalah bertuah (mangala) tetapi arati pertama setiap hari, pada pagi hari, dianggap paling bertuah bagi semua yang menghadiri. Srila Visvanatha Cakravarti Thakura, dari masa per-tengahan abad ketujuh belas, adalah seorang guru spiritual agung dalam rangkaian garis Guru dan murid yang sadar akan Krishna. Beliau berkata, “Orang yang melantunkan doa-doa pujian yang indah ini kepada guru spiritual dengan suara keras dan penuh perhatian selama brahma-muhurta, pada akhir hayatnya akan mencapai pelayanan langsung kepada Krishna, Penguasa Vrindavana.”
  27. 27. 30 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava K) MENGHORMATI MAHA-PRASADAM / NIRMALYA Yang dimaksud nirmalya adalah garlan/ kalungan bunga, bunga, candana, air mandi (caranamrita), lampu ghee dan daun Tulasi yang telah dipersembahkan kepada Tuhan oleh pujari selama melakukan puja. Setelah puja selesai, para penyembah hendaknya menerima benda-benda ini di atas kepala, sambil berkata, “jaya maha-prasadam.” I. Bunga, garlan/ kalungan bunga: Orang hendaknya jangan bersikap tidak hormat ter-hadap nirmalya dengan melangkahinya atau mening-galkannya tergeletak di tempat kotor. Setelah diperlakukan dengan penghormatan semes-tinya, nirmalya seperti garlan dan bunga bisa dikum-pulkan lalu dihanyutkan di sungai, danau atau laut. Penyembah menerima prasadam garlan bunga dengan cara menyentuhkannya ke kepala, memakainya dan menciumnya. Penyembah menerima prasadam garlan Tulasi dengan menyentuhkannya ke kepala dan menciumnya, tapi tidak menggunakannya. II. Caranamrita : Meminum air mandi Sri Vi Šu ampuh untuk melebur pengaruh jutaan dosa misalnya dosa membunuh makhluk hidup lain. Tetapi, orang yang membiarkan air mandi yang suci itu jatuh ke tanah bahkan setetes pun harus mengalami derita delapan juta pengaruh dosa tersebut. (Hari-bhakti-vilasa) Srila Prabhupada menulis: Harus dilaksanakan ma-ngala- arati secara rutin di kuil pada pagi hari, satu setengah jam sebelum ma-tahari terbit. (Cc. Madhya, 23.334, penjelasan) Pujari (atau asisten pujari) hen-daknya membagikan caranamrita kepada para penyembah, yang hendaknya mengucap-kan sloka berikut saat meminum dan menaruhnya
  28. 28. 31Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava di kepala: Untuk menghindari agar tidak jatuh, taruh tangan kiri di bawah tangan kanan saat menerima maha-prasada, bunga nirmalya, daun dan manjari Tulasi atau Caranamrita. III. Lampu Ghee : Di kuil-kuil tradisional lampu ghee terlebih dahulu dibawa kepada Garuda, yang berdiri di belakang kuil. Di kuil-kuil ISKCON lampu ghee terlebih dahulu dibawa kepada Srila Prabhupada, Acarya-Pendiri ISKCON, sebab beliau adalah Vaisnava-srestha, pemim-pin para Vaishnava yang hadir, dalam hal senioritas. (Perempuan yang sedang beralangan hendaknya tidak menyentuh lampu.) Orang yang mengedarkan lampu prasada hendaknya tanggap Lebih lanjut Srila Prabhupada menekankan dalam buku Lautan Manisnya Rasa Bhakti tentang manfaat melihat upacara arati: Di dalam Skanda Purana terdapat uraian berikut mengenai hasil melihat arati (pemujaan) kepada Arca: “Apabila seseorang melihat wajah Tuhan saat arati berlangsung, ia bisa terbebas dari semua reaksi dosa yang berasal dari ribuan dan jutaan tahun sebelumnya. Ia bahkan diampuni dari dosa membunuh brahmana atau kegiatan terlarang yang sejenis itu.” (Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Bab 9) mengenai senioritas para penyembah yang hadir; namun, para penyembah yang hadir hendaknya juga jangan mudah tersinggung kalau terlewatkan saat lampu diedarkan. Lampu itu bukan dimaksudkan untuk menghormati atau memuliakan kita, melainkan justru kita yang di-maksudkan untuk menghormati lampu tersebut sebagai prasadam Tuhan dengan cara menyentuhkan api ke kening dengan singkat memakai kedua tangan sambil berkata, ‘jaya maha-prasadam’.
  29. 29. IV.Pakaian Arca : Jenis nirmalya lainnya yang digunakan adalah pakaian Arca. Pakaian Arca yang dibagikan sebagai prasadam Tuhan hendaknya dihormati. Kita bisa menghormati pakaian prasada dengan cara menyimpannya bersama perlengkapan puja lainnya, atau bahkan dengan menyimpannya dalam bingkai kaca dan menggantungnya di tembok seperti sebuah lukisan atau foto. Kita juga boleh memakainya, namun tegas kata, sebaiknya jangan memotong dan menjahit kembali pakaian tersebut, sebagaimana kebiasaan ini sudah tersebar luas. Kalau tindakan memotong dan menjahit itu harus dilakukan, sebaiknya hanya untuk pakaian sembahyang. Kantung japa dan kostum, yang akan digunakan untuk drama anak-anak bisa diterima (kalau drama itu bertujuan untuk mengagungkan Tuhan). Hindari menggunakan prasada pakaian apa pun di bawah pinggang Anda. V. Maha-prasadam : Sebagaimana yang lumrah dilakukan di beberapa kuil di India, setelah darsana- arati, pujari biasanya mem-bagikan sejumlah kecil prasadam kepada para penyem-bah langsung dari ruangan altar atau dari luar. Kadang-kadang untuk tujuan pengajaran sejumlah prasadam dibagikan kepada para tamu. Penyembah menghormati sisa makanan ini dengan cara segera memakannya, dengan sedikit bergeser ke samping çré-rädhä-kåñëa-pädodakaà prema-bhakti-daà mudä bhakti-bhäreëa vai pétvä çirasä dhärayämy aham “Air dari kaki-padma ®r… ®r… R€dh€ dan Krishna meng- anugerahkan bhakti yang murni kepada Mereka. Setelah meminum air tersebut dengan rasa riang dan penuh bhakti, aku menyimpan air itu di atas kepalaku.”
  30. 30. ruangan kuil supaya tidak langsung makan di hadapan Arca. Usahakan membagikan prasadam manisan kering, sebab prasadam yang basah bisa jatuh ke lantai. 2. ETIKA LAINNYA A) MEMPERLAKUKAN BENDA-BENDA SUCI I. Buku, japa, kartal, dsb., hendaknya jangan ditaruh di atas lantai atau di tempat yang kotor dan hendaknya dihormati sebagai alat-alat yang pantas dipuja. II. Hendaknya jangan menyentuh benda-benda suci de-ngan kaki atau menggunakan kaki untuk melakukan apa yang bisa dilakukan dengan tangan. III. Jika benda-benda suci tersebut jatuh ke lantai atau kaki kita menyentuhnya, segera angkat benda tersebut lalu sentuhkan ke kepala. IV. Hendaknya jangan melangkahi buku, penyembah, prasadam, bunga yang telah dipersembahkan kepada Tuhan atau melangkahi benda-benda suci lainnya. V. Semua benda suci hendaknya disimpan di tempat yang bersih dan rapi serta dijaga dengan hati-hati. Benda-benda tersebut tidak boleh dilempar melainkan harus diserahkan kepada orang lain dengan penuh kehati-hatian. VI. Benda-benda suci seperti japa, buku, tilak, dsb., hendaknya jangan dibawa ke kamar mandi. VII. Kita hendaknya berhati-hati memperlakukan foto Guru dan Krishna. Benda-benda tersebut harus diper-lakukan dengan penuh perhatian dan hormat. VIII. Chaddar (selendang/ syal) Hari-Nama hendaknya diperlakukan secara khusus. Karena Nama Suci tercetak pada kain tersebut, maka benda itu menjadi benda suci dan hendaknya jangan dibiarkan menyen-tuh lantai. IX. Kita hendaknya waspada saat bersujud agar kantung japa yang ada di tangan tidak menyentuh lantai. Japa hendaknya diletakkan terlebih dahulu sebelum ber-sujud.
  31. 31. 34 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava X. Kita hendaknya berhati-hati memperlakukan perleng-kapan Arca seperti pakaian, perhiasan, berbagai wa-dah, dsb. Contohnya, pakaian dan handuk hendaknya dilipat dan disimpan dengan baik, wadah-wadah air hendaknya ditaruh di tempat yang baik, dsb. Kalau tangan menyentuh lantai atau menyentuh sesuatu yang tidak bersih, kita hendaknya mencuci tangan sebelum kembali menyentuh perlengkapan Arca. Krishna tidak berbeda dengan perlengkapan-Nya, dan memperlakukan perlengkapan Krsna dengan tidak baik berarti memperlakukan Krishna dengan tidak baik pula. Maka bhakti yang sejati tidak akan bangkit di hati. Kita harus sadar selalu bahwa berbagai benda ini bukanlah benda-benda biasa, melainkan semua digunakan dalam pelayanan kepada Krishna sehingga pantas dipuja. B) KEBIASAAN PRIBADI I. Orang yang bersungguh-sungguh menempuh kehi-dupan spiritual hendaknya bangun pagi-pagi sekali, lebih bagus lagi sebelum jam ‘brahma-muhurta’ yakni satu setengah jam sebelum matahari terbit. II. Setelah bangun, pertama-tama gosok gigi. III. Kemudian kita hendaknya mandi dengan air dingin dan setelah selesai memakai pakaian bersih, memulai sadhana sehari-hari. IV. Mandi hendaknya dilakukan setelah: - bangun di pagi hari - tidur siang lebih dari satu jam - buang air besar - berkeringat banyak, atau - tercemar dengan cara apa pun (sehabis dari tempat pembakaran mayat). V. Kesehatan dan kebersihan pribadi hendaknya dijaga. Kuku hendaknya tetap bersih dan pendek. Potongan kuku harus dibuang di tempat sampah. Srila Rupa Goswami bahkan menyebutkan bahwa orang harus teliti menjaga kebersihan
  32. 32. 35Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava gigi dengan baik dan teratur. VI. Tangan dan kaki hendaknya dicuci sehabis buang air kecil dan tangan hendaknya dicuci bersih dengan sabun sehabis buang air besar. Mereka yang sudah diinisiasi brahmana harus melilitkan tali suci di telinga kanan saat ke kamar kecil. VII. Hendaknya hanya tangan kanan yang digunakan untuk makan, berjapa dengan menggunakan japa-mala, mempersembahkan sesuatu, menerima sesu-atu, dsb. VIII. Cuci tangan, kaki dan mulut sebelum dan sesudah melayani prasadam. IX. Cuci tangan sehabis minum air. X. Jangan meludah saat makan. XI. Jangan meludah ke air. XII. Sannyasi hendaknya mandi tiga kali sehari, grhastha dan brahmacari mandi sekurang-kurangnya dua kali sehari. XIII. Mandilah sehabis bercukur, berhubungan badan atau datang dari tempat pembakaran mayat. XIV. Sebaiknya istirahat/ tidur sekitar enam (6) sampai enam setengah (6 1/2) jam setiap malam. Kebanyak-an tidur atau kurang tidur tidak baik untuk kesa-daran Krishna kita. XV. Kita hendaknya berusaha tidur di atas lantai atau dengan alas yang agak keras. Tempat tidur yang empuk dan mewah hendaknya dihindari. XVI. Tidur yang paling baik adalah dengan posisi miring ke arah kiri. Jika tidak memungkinkan, bisa dengan terlentang, tapi jangan tidur telungkup. XVII. Hendaknya jangan membuang-buang energi Krishna seperti sabun, pasta gigi, listrik, air, dsb. Hendaknya matikan lampu dan kipas, manakala tidak diper-lukan. XVIII.Hendaknya gunakan uang Krishna dengan bijak-sana dan penuh tanggung jawab, dengan bertanya pada diri sendiri apakah pengeluaran ini benar-benar perlu untuk meningkatkan pelayanan kepada Krishna. C) KIRTANA I. Memimpin kirtana pada suatu satsanga merupakan sebuah
  33. 33. 36 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava kehormatan di mana seseorang mewakili seluruh hadirin di hadapan Arca. Oleh sebab itu, kita hendaknya sadar akan hal ini dan memimpin kirtana hanya bila diminta. II. Kita hendaknya hanya menyanyikan kirtana-kirtana yang dibenarkan (otoritatif). III. Doa prema-dhvani (jaya om visnu-pada.......) pada akhir kirtana hendaknya diucapkan oleh penyembah paling senior yang hadir, misalnya sannyasi atau murid Srila Prabhupada. IV. Hendaknya hanya doa prema-dhvani baku yang diucapkan, kecu-ali pada acara-acara tertentu seperti hari kemunculan, di mana pujian yang cocok bisa ditambahkan. V. Ada melodi-melodi standar yang harus dinyanyikan pada saat- saat tertentu. Khususnya pada acara pagi, doa samsara-dava dan Hare Krishna maha-mantra hendaknya dinyanyikan dengan menggunakan melo-di pagi. VI. Kirtana hendaknya sederhana dan bisa diikuti dan diulangi dengan mudah oleh hadirin. VII. Semua penyembah hendaknya menyanyi bersama-sama dengan penuh semangat. VIII. Semua penyembah hendaknya mengikuti melodi yang sama seperti yang dinyanyikan oleh pemimpin kir-tana. Karena itu, para penyembah harus memberi perhatian penuh setiap Disebutkan dalam Srimad-Bhagavatam 3.20.46 (Penjelasan): “Pagi-pagi sekali, satu setengah jam sebelum ma-tahari terbit, disebut brahma-muhurta. Selama brahma-muhurta ini dianjurkan untuk melakukan kegiatan spiritual. Kegiatan spiritual yang dilakukan saat subuh memberi hasil yang jauh lebih baik dibandingkan jika dilakukan pada saat lain.” saat. IX. Pemain mridanga dan kartala hendaknya berada dekat dengan pemimpin kirtana, mengamati dengan saksama, dan MENYESUAIKAN KECEPATAN PERMA-INAN
  34. 34. 37Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava MEREKA DENGAN LAGU YANG DINYANYIKAN PEMIMPIN KIRTANA. Karena itu, pemain mridanga dan kartala harus memberi perhatian khusus. X. Pola umum pada kirtana pagi hendaknya doa-doa samsara- dava, panca-tattva mantra, Hare Krishna maha-mantra dan hari haraye namah krsna yadavaya namah, (gopal govinda ram sri madhu-sudhana). XI. Bila ada dua atau lebih pemain kartala, mereka harus bermain dengan serasi. Begitu juga dengan pemain mridanga. XII. Kirtana harus indah dan merdu dan tidak sekadar keras. D) MENARI I. Srila Rupa Goswami menyatakan bahwa kita hen-daknya belajar untuk menari di hadapan Arca. II. Hendaknya menari dengan lemah gemulai dan ber-semangat, tidak kasar dan liar. III. Menari menurut tradisi Gaudiya seperti yang diper-lihatkan oleh Sr…la Prabhupada hendaknya menjadi standar. IV. Sebagai tambahan, tarian bisa di-lakukan dalam berbagai formasi. Misalnya: - barisan penyembah yang secara ber-irama saling mendekati satu sama lain dan kemudian mundur. - penyembah membentuk barisan, yang satu di belakang yang lain, sambil terus menghadap Arca, ber-gerak maju-mundur secara berirama. - penyembah bergerak dalam sebuah lingkaran (lihat gambar di bawah). V. Para penyembah harus berhati-hati agar formasinya tetap terjaga dan mereka tetap berada dalam barisan. VI. Ketika menari dalam formasi, para penyembah hen-daknya mengangkat tangan, berpegangan tangan, dsb., sebagaimana diperlukan untuk formasi tertentu itu. VII. Tarian ini bukanlah sebuah “olahraga untuk tontonan” dan para penyembah hendaknya jangan hanya berdiri dan menonton. Semua hendaknya ikut serta. Tapi, bagi mereka yang tidak berkenan (khususnya tamu dan pendatang baru
  35. 35. 38 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava atau mereka yang sedang sakit) hendaknya jangan dipaksa. VIII. Tarian yang bisa membahayakan penyembah lainnya hendaknya dihindari, misalnya: - dua penyembah bertepuk tangan dan berputar-putar, sebab itu bisa membahayakan penyembah lain. - berputar-putar sendirian sambil merentangkan tangan. - melemparkan anak (dan bahkan anak yang su-dah besar) di udara atau mengangkat mereka. - mendorong secara berlebihan saat bergerak da-lam lingkaran. IX. Laki-laki dan perempuan hendaknya menari di tempat terpisah. X. Kita hendaknya kita selalu memerhatikan gerakan penyembah yang memimpin, lalu menyesuaikan diri. Tarian yang sempurna adalah seperti gaya Sri Caitanya yakni dengan mengangkat tangan atau mencakupkan tangan dengan penuh semangat dan rasa bhakti. E) PEMBICARAAN I. Dorongan untuk berbicara sangatlah kuat dan begitu kita mendapat kesempatan kita mulai berbicara. Srila Prabhupada menjelaskan bahwa kalau kita tidak ber-bicara tentang Krishna- katha maka kita hanya akan berbicara hal yang bukan-bukan. II. Pembicaraan seperti itu disebut ‘prajalpa’ yang lahir dari identifikasi (penyamaan diri) material kita. Karena itu penyembah harus menahan diri dari prajalpa. III. Semua buku duniawi juga merupakan wujud nyata dorongan untuk berbicara. Dalam “Upadesamrita” Srila Prabhupada menjelaskan bahwa orang-orang mater-ialistik membaca bertumpuk-tumpuk koran, majalah dan novel, mengisi teka-teki silang dan melakukan banyak hal yang Lebih terperinci lihat Lampiran IV di akhir bagian ini. (Hal. 46) bukan-bukan. Dengan gaya hidup seperti ini, orang hanya membuang-buang waktu dan energinya yang amat berharga.
  36. 36. 39Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Di negara-negara Barat, orang-orang tua yang sudah pensiun bermain kartu, memancing, menonton televisi dan berdebat tentang rencana-rencana sosiopolitik yang tidak berguna. Semua ini dan kegiatan yang bukan-bukan lainnya termasuk dalam kategori prajalpa. Orang cerdas yang berminat dalam kesadaran Krishna hendaknya jangan pernah melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan ini. IV. Srila Rupa Goswami menganjurkan proses Krishna- katha berbicara tentang segala pokok bahasan yang berhubungan dengan Krishna sebagai cara untuk me-ngatasi dorongan berbicara. Oleh sebab itu, kalau kita harus berbicara, hendaknya kita berbicara tentang Krishna-katha. V. Sebelum menyampaikan sesuatu hendaknya kita mempertimbangkan apakah - itu perlu? - itu baik? - itu tepat? VI. Penyembah hendaknya menghindari pembicaraan yang menyakiti hati orang lain, terutama penghinaan ter-hadap penyembah lain, yang merupakan kesalahan pertama terhadap Nama Suci. ‘Vaishnava aparadha’ pasti akan cepat sekali mematahkan benih bhakti kita yang lembut. F) KEGIATAN PENGAJARAN I. Tindakan dan perilaku kita sendiri adalah pengajaran terbaik sebab perbuatan lebih meyakinkan daripada kata-kata belaka. Seperti pepatah mengatakan “Tin-dakan Anda sudah berbicara banyak sehingga saya tidak perlu lagi mendengar apa yang Anda katakan.” II. Pengajaran artinya untuk mengubah hati, bukan sekadar mengalahkan orang lain secara intelektual. III.Tentu saja ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh menyajikan filsafat kita dengan benar. Semua penyem-bah harus berusaha mempelajari buku-buku Srila Prabhupada dan memahaminya dengan seksama dan berusaha menyampaikannya dengan penuh keyakinan sebagaimana yang telah ia baca dan dengar,
  37. 37. 40 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava dengan sikap rendah hati. IV. Tidaklah perlu membaca buku-buku lain atau men-dengar dari ahli filsafat lain untuk belajar bagaimana cara mengajarkan. Pelayan tulus sang Guru adalah pengajar terbaik. V. Prinsip pengajaran dijelaskan dengan baik oleh Srila Rupa Goswami dalam Bhakti Rasamrita Sindhu: VI. Pada dasarnya, yang akan mengubah hati orang bu-kanlah semata-mata karena filsafat yang kita sam-paikan namun utamanya pada seberapa luas kita telah mengamalkan filsafat itu dalam kehidupan kita dan menginsafi pengetahuan itu secara nyata. VII. Pengajaran kita hendaknya dilakukan dengan sikap rendah hati dan bukan dengan sikap tinggi hati. VIII. Saat mengajarkan kita hendaknya hanya mengulang kata-kata Guru dan menyampaikan ajaran-ajarannya seperti seorang tukang pos dan hendaknya tidak pernah berpikir bahwa kita mengetahui lebih banyak daripada para acarya terdahulu, tentang bagaimana cara mengajarkan. Kita diberi kuasa sesuai dengan seberapa besar kerendahan hati kita untuk menyam- paikan petuah-petuah mereka. IX. Kita harus memperlihatkan rasa belas kasih dan perhatian kepada orang yang sedang kita ajarkan. Barangkali kita perlu memberi perhatian terhadap masalah-masalah kecil dalam
  38. 38. 41Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava kehidupan materialnya. X. Kita harus menyampaikan kebenaran, tetapi sesuai dengan desa, kala dan patra, yakni tempat, waktu dan orangnya. Tujuan kita ialah untuk membuat orang menjadi sadar akan Krsna dan kita harus mengajarkan sambil senantiasa menyimpan tujuan ini dalam pi-kiran dan melakukan apa yang dipandang perlu. XI. Kita harus memiliki pendekatan berimbang saat me- ngajarkan. Pengajar yang baik akan selalu mengerti kebutuhan penyembah dalam golongan yang ber-beda-beda. Seperti halnya dalam kehidupan material ada pegawai bank, pengacara, dokter dan sebagainya, dalam kehidupan spiritual pun dibutuhkan (dan akan selalu ada calon yang ingin untuk) tahap pelepasan ikatan dan juga mereka yang hidup berumah tangga atau golongan profesional. Kedua jenis penyembah itu diperlukan dan bernilai. XII. Saat mengajarkan kepada orang tertentu, pendekatan kita hendaknya adalah untuk memberi nasihat apa yang terbaik untuk kesadaran Krishna orang tersebut. XIII. Dibutuhkan brahmacari-brahmacari yang berkua-lifkasi, grhastha yang berkualifikasi, vanaprastha yang berkualifikasi dan sannyasi yang berkualifikasi dan kita hendaknya menyemangatkan seseorang me-nurut kedudukan di mana ia dapat mencapai kema-juan spiritual yang terbaik dan melayani misi Srila Prabhupada. XIV. Etika-etika dasar harus diikuti ketika penyembah lain juga sedang mengajarkan. Hendaknya ia jangan dipotong secara
  39. 39. 42 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava tiba-tiba kecuali ada hal mendesak. XV. Sopan santun yang lumrah harus diikuti, misalnya bertutur kata sambil tersenyum, siap membantu ka-lau ada orang yang membutuhkan bantuan atau bimbingan. XVI. Orang-orang baru hendaknya dibuat merasa layaknya berada di rumah sendiri dan hendaknya disambut dengan penuh cinta kasih dan ramah tamah. XVII. Khususnya saat Sunday feast di kuil, penyembah hendaknya lebih mengutamakan bergaul dengan tamu dan pendatang baru kemudian barulah dengan sesama penyembah. XVIII. Ketika mengajarkan kepada orang baru, kita harus selalu ingat bahwa mengajarkan kepada penyembah adalah hal yang sama pentingnya, kalau tidak lebih penting. Jadi, saat kita membuat penyembah baru merasa betah seperti di rumah sendiri, para penyembah yang sudah biasa datang hendaknya jangan diabaikan. XIX. Pada program-program luar, pendatang baru dan tamu bisa didahulukan untuk mengajukan pertanyaan seusai ceramah, khususnya bila waktu terbatas. Penyembah-penyembah bisa mengajukan perta-nyaan yang masih berkaitan untuk menciptakan suasana di mana para pendatang baru akan merasa disemangatkan untuk mengajukan pertanyaan, atau bila pendatang baru sudah selesai mengajukan per-tanyaan tapi masih ada waktu tersisa untuk perta-nyaan berikutnya. XX. Kita hendaknya jangan mengajarkan/ menganjurkan hal yang melanggar hukum-hukum di suatu wilayah tertentu dengan dalih melakukan sesuatu untuk Krishna. Penyembah juga harus mematuhi hukum-hukum ini. XXI. Kita hendaknya jangan bersifat sektarian. Kita hen-daknya menghormati semua agama dan jalan spiri-tual yang bonafide. Khususnya kita hendaknya memperlihatkan rasa hormat terhadap Sampradaya Vaishnava lainnya. 3. PRASADAM I. Yang paling pertama dan utama, kita hendaknya hanya makan prasadam yakni makanan yang sudah diper-sembahkan kepada
  40. 40. 43Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Krishna dengan rasa bhakti. II. Idealnya kita hanya memakan makanan yang - dimasak oleh penyembah - dipersembahkan kepada Krishna oleh penyembah - disiapkan oleh penyembah Kita hendaknya berusaha sebisa mungkin mendekati standar ideal ini sebagaimana yang dapat kita jalani secara nyata dengan mempertimbangkan keterbatasan kehidupan kota dan keperluan pengajaran. III. Kecuali benar-benar diperlukan untuk pengajaran atau pelayanan, makanan yang dimasak oleh orang yang bukan penyembah hendaknya dihindari. IV. Dengan semangat yang sama, semua makanan komersil seperti coklat, es krim, keripik, minuman bersoda, biskuit, roti dsb., jangan disediakan di rumah. Untuk tamu, kita bisa menyajikan makanan yang dibuat sendiri dan minuman alami seperti air jeruk, jus buah, dsb. V. Makanan komersil mungkin bisa dikonsumsi saat me-lakukan perjalanan jauh atau dalam keadaan terpaksa. Ketika prasadam yang dibawa tidak mencukupi atau sebagai tambahan, hendaknya lebih dipilih mengon-sumsi makanan mentah dan yang tidak dimasak seperti buah, kacang-kacangan, susu, dsb., daripada makanan yang dimasak secara komersil. VI.Terkadang saat mengadakan perjalanan jauh atau dalam tujuan pengajaran atau tuntutan pekerjaan mungkin saja kita terpaksa makan di restoran. Sebisa mungkin, kita hendaknya memilih restoran yang murni vegeta-rian dan selanjutnya juga mesti berhati-hati memesan makanan yang tanpa bawang merah dan/ atau bawang putih. VII.Kita hendaknya memakan prasadam yang bersifat sattvik dan yena tena prakäreëa manaù kåñëa niveçayet “Entah bagaimana caranya, kita harus berpikir tentang Krishna.”
  41. 41. 44 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava hindari makanan yang rajasik, yakni makanan yang terlalu pedas, banyak minyak dan mewah. VIII. Bhoga harus dipersembahkan dengan cara yang benar di rumah. IX. Prasadam hendaknya jangan disia-siakan. Prasadam yang berlebih hendaknya disisihkan ke piring lain sebelum dimakan. X. Setelah semua anggota keluarga selesai makan, jika prasadam masih tersisa, bisa disimpan selama bebe-rapa saat untuk dimakan berikutnya jika memung-kinkan, atau dibagikan kepada orang lain. XI. Prasadam hendaknya dimakan dengan menggunakan tangan kanan; tangan kiri hanya untuk menyentuh anggota badan lainnya. XII. Saat melayani prasadam, sendok yang dipakai untuk membagikan hendaknya jangan sampai menyentuh piring atau prasadam yang telah dimakan sebagian. XIII. Makan prasadam hendaknya jangan berlebihan dan lebih baik pada saat yang teratur setiap hari. Makan berlebihan dan memakan makanan yang salah tidak baik untuk kehidupan spiritual dan juga tidak baik untuk kesehatan. Mengendalikan pola makan akan membantu kita mengendalikan lidah dan pada gilirannya ini akan membantu kita mengendalikan indera-indera. XIV. Sebelum menghormati prasadam doa yang sesuai mesti diucapkan. XV. Prasadam harus dihormati dengan kesadaran bahwa ini adalah karunia Krishna dan tidak berbeda dengan Krishna. Oleh sebab itu, kecuali diperlukan untuk pengajaran, sebaiknya kita diam. Mendengarkan pelajaran atau kaset pada saat ini juga bermanfaat. XVI. Bila ada tamu datang berkunjung ke rumah kita, bhoga yang sudah dipersembahkan kepada Arca di rumah menjadi maha-prasadam yang hendaknya dibagikan kepada semua tamu sedikit-sedikit. Pra-sadam yang segar dan hangat hendaknya dihidang-kan sesuai kebutuhan masing-masing
  42. 42. 45Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava tamu, termasuk Guru dan sannyasi. XVII.Bila Vaishnava senior hadir, kita hendaknya sabar menunggu sampai mereka mulai makan dan setelah itu barulah kita mulai makan (kecuali kita diminta agar mendahului). XVIII. Kita boleh bangun berdiri setelah selesai menghor-mati prasadam hanya bila semua sudah selesai makan (kecuali seizin Vaishnava senior yang hadir saat itu). XIX. Maha-prasadam Guru hendaknya jangan dibagikan di hadapan para pendatang baru. XX. Setelah mulai memakan prasadam, hendaknya jangan menyentuh apa pun dengan tangan kanan. XXI. Hendaknya kita jangan membagikan prasadam ke-cuali kita sudah mencuci kedua tangan. XXII. Kita hendaknya jangan memakan prasadam di ha-dapan umum, di depan orang karmi, misalnya sambil berjalan di jalanan, atau saat berarak-arakan. Sebisa mungkin, prasadam hendaknya dihormati di tempat tersendiri atau berkumpul bersama penyembah lain. 4. DAPUR I. Dapur merupakan perluasan altar sebab apa pun yang dimasak akan dipersembahkan kepada Arca. Jadi, apa pun yang dikerjakan di dapur harus dilakukan dengan penuh hati-hati dan penuh perhatian untuk Arca. II. Tempat di mana Arca distanakan secara formal seperti halnya di kuil, standar yang diharapkan cukup tinggi dan ketat. Sebagai perbandingan, beberapa kelong-garan bisa dilakukan dalam hal persembahan kepada Arca rumah tangga di mana tidak mungkin untuk mem-pertahankan standar yang sama. Misalnya, aturan menyatakan bahwa hendaknya jangan makan di dapur atau di hadapan Arca. Tapi, di banyak rumah, altar, dapur dan meja makan semua ada dalam satu ruangan, jadi tidaklah mungkin untuk mengikuti aturan tadi. III. Akan tetapi, para grhastha hendaknya selalu berpikir untuk mencapai standar ideal dan berusaha sedapat mungkin untuk
  43. 43. 46 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava mendekati standar tersebut, menye-suaikan dengan situasi mereka sendiri. Kita hendaknya selalu ingat bahwa kita memasak untuk Krishna. Se-makin kita berhati-hati terhadap aturan kecil ini, kita akan menjadi semakin sadar bahwa kita memasak bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk Krishna. IV. Hanya pakaian bersih dan tak tercemar yang boleh di-gunakan untuk memasak. Pakaian yang sudah digunakan di luar atau di kamar mandi tidak boleh digunakan. V. Kuku harus bersih dan dipotong pendek. Tangan harus dicuci begitu memasuki dapur sebelum mulai mema-sak. Di kuil, sebelum memasak harus mandi. Di rumah juga lebih baik melakukan demikian. VI. Kita hendaknya tidak memasukkan sesuatu ke dalam mulut ketika berada di dapur. Kita hendaknya tidak mencuci mulut atau berkumur di bak dapur. Terutama, kita hendaknya tidak ‘mencicipi’ atau ‘mencium’ masakan untuk mengetahui rasanya. VII. Bila mungkin, hendaknya jangan makan atau minum di area dapur. Jika hal ini tidak bisa dihindari, tirai di hadapan Arca harus ditutup. VIII. Alat-alat bhoga khusus yang digunakan memasak untuk Arca, dan piring serta gelas untuk memper-sembahkan bhoga, hendaknya disimpan dan dicuci secara terpisah dari piring, cangkir dan gelas yang digunakan anggota keluarga untuk makan dan minum. IX. Jika seseorang menderita penyakit infeksi, ia hen-daknya jangan melakukan sesuatu di area dapur yang bisa mencemari bhoga dan alat-alat memasak. X. Jika kita menyentuh lantai atau tempat sampah, atau anggota badan bagian bawah, kita harus mencuci tangan. XI. Hendaknya jangan berbicara yang bukan-bukan di dapur. XII. Permukaan kompor, bak pencuci di dapur, dsb., hendaknya dibersihkan sebelum dan sesudah memasak. XIII. Kita hendaknya bekerja dengan hati-hati namun efisien dan menghindari terjadinya kekacauan. XIV. Apa pun yang terjatuh ke lantai tidak boleh ditaruh di atas meja. Kalau sayuran jatuh ke lantai, cuci terlebih dahulu
  44. 44. 47Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava baru bisa digunakan. XV. Tidak boleh langsung memasuki dapur sehabis meng- gunakan kamar kecil, kecuali langsung mandi. XVI. SANGAT PENTING: Penyembah harus sangat berhati-hati agar tidak ada rambut yang jatuh dan mencemari persembahan. Perhatian yang sungguh- Lebih terperinci lihat Lampiran V di akhir bagian ini. (Hal. 49) sungguh harus diberikan dalam hal ini. Penyembah harus menjaga rambutnya tertutupi dengan baik saat memasak. XVII. Maha-prasadam hendaknya jangan dimakan lang-sung dari piring Arca, melainkan dipindahkan ke alat atau piring lainnya sebelum dimakan. Standar kuil menetapkan bahwa kita hendaknya jangan makan sebelum piring Arca selesai dicuci. Lebih terperinci lihat Lampiran VI di akhir bagian ini. (Hal. 50)
  45. 45. 48 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Lampiran I MANTRA-MANTRA PRANAMA Srila Prabhupada pranati nama oà viñëu-pädäya kåñëa-preñöhäya bhü-tale çrémate bhaktivedänta-svämin iti nämine namas te särasvate deve gaura-väëé-pracäriëe nirviçeña-çünyavädi-päçcätya-deça-täriëe “Hamba bersujud dengan hormat kepada Sri Srimad A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, yang sangat dicintai oleh Sri Krishna,karenatelahberlindungdikaki-padma-Nya.Sembahsujud kami kepadamu, wahai guru spiritual, abdi dari Bhaktisiddhanta Sarasvati Goswami. Anda ber-murah hati menyampaikan ajaran- ajaran Sri Caitanyadeva dan menyampaikannya ke negara-negara Barat, yang penuh dengan filsafat impersonal dan kekosongan.” Gaurangga pranama namo mahä-vadänyäya kåñëa-prema-pradäya te kåñëäya kåñëa-caitanya-nämne gaura-tviñe nama “Wahai inkarnasi yang paling murah hati! Engkau adalah Krishna sendiri yang muncul sebagai Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu. Engkau muncul dengan warna keemasan milik Srimati Radharani, dan menyebarluaskan cinta kasih yang murni kepada Krishna. Kami bersujud dengan hormat kepada-Mu.” Sri Krishna pranama he kåñëa karuëä-sindho déna-bandho jagat-pate gopeça gopikä-känta rädhä-känta namo ‘stu te “Sri K Ša yang hamba cintai, Engkau kawan bagi orang yang
  46. 46. 49Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava menderita dan asal mula ciptaan. Engkau tuannya para gopi dan kekasih Radharani. Hamba bersujud dengan hormat kepada-Mu.” Panca-Tattva mantra païca-tattvätmakaà kåñëaà bhakta-rüpa-svarüpakam bhaktävatäraà bhaktäkhyaà namämi bhakta-çaktikam “Hamba bersujud kepada Sri Krishna Caitanya, Prabhu Nityananda, Sri Advaita, Gadhadara, Srivasa dan semua yang lainnya dalam garis perguruan bhakti.”
  47. 47. 50 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Lampiran II BERSUJUD (Pranama/ Namaskara) Pada pagi hari atau kapan pun mengunjungi kuil kita hendaknya bersujud kepada Arca setelah Arca dibangun-kan, sebab ditetapkan dalam sastra bahwa kita hendaknya tidak mengganggu Tuhan dengan cara bersujud ketikaTuhan sedang beristirahat atau sedang mandi. (Juga hen-daknya jangan mengelilingiTuhan pada saat ini). Juga, kita hendaknya bersujud di luar ruang Arca, ja-ngan bersujud di dalam, sebab dianjurkan untuk bersujud dari jarak yang tidak terlalu dekat. Di dalam ruang Arca, persembahkan pranama dengan cara mencakupkan ta-ngan, dengan mengucapkan mantra dan dengan pikiran. Astanga Pranama : Kitab Hari-bhakti-vilasa menguraikan bagaimana cara mempersembahkan dandavat-pranama: Bersujud dengan delapan anga kaki, lutut, dada, ta-ngan, kepala, penglihatan, pikiran dan kata-kata. Dengan kedua kaki, lutut, dada, tangan dan kepala menyentuh lantai dan mata memandang ke bawah setengah terpejam, ucapkan doa yang cocok sambil bermeditasi bahwa ke-pala Anda berada di bawah kaki- padma Tuhan. (Tangan hendaknya dijulurkan di depan kepala, bukan di samping kepala atau dilipat di samping dada.) Pancanga Pranama: Untuk melakukan pancanga pranama, lakukan sembah sujud dengan lima anga lutut, lengan, kepala, kecer-dasan dan kata-kata. (Dada tidak menyentuh lantai.) Merupakan suatu kesa-lahan bila bersujud dengan satu tangan yaitu, dengan satu tangan direntangkan di depan kepala sedangkan yang satu lagi memegang kantung japa atau benda- benda suci lainnya jauh dari lantai. Sebelum bersujud, apa pun
  48. 48. 51Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava yang dipegang harus diletakkan terlebih dahulu. Laki-laki bisa melakukan pranama yang mana pun, se-dangkan bagi perempuan secara tradisi hanya melakukan pancanga- pranama. Saat bersujud, pertama-tama ucapkan pranama-mantra Guru kita sendiri, kemudian pranama Srila Prabhupada dan setelah itu pranama-mantra untuk Arca di altar. MENGHORMATI VAISHNAVA Terkadang kita harus menahan diri untuk bersujud secara fisik kepada seorang Vaishnava sebab dengan berbuat demikian mungkin akan menyebabkan ketidaknyamanan. Tapi, kita tidak dilarang untuk menyampaikan sembah sujud di dalam pikiran; maka kemudian kita mencari kesempatan lain untuk bersujud secara fisik. Aturan ini bisa diterapkan ketika menyampaikan sem-bah sujud kepada atasan; apakah seorang Vaishnava ataupun bukan. Kemudian, ada dua saat di mana kita hendaknya menyampaikan sembah sujud kepada atasan, yakni pertama ketika kita melihat atasan tersebut dan sekali lagi ketika atasan tersebut yang melihat kita. 51
  49. 49. 52 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Lampiran III MEMAKAI TILAKA Setelah mengenakan pakaian bersih, du-duklah di atas asana yang bersih (sebaik-nya tikar dari rum-put kusa) lalu pakai urdhva- pundra atau Visnu-tilaka di dua belas bagian badan. Hendaknya jangan memakai tilaka di kamar mandi. Yang dimaksud dengan tilaka adalah tanda yang dibuat di badan dengan menggunakan berbagai bahan. Urdhva-pundra artinya dua tanda vertikal yang dibuat di kening dan anggota badan lainnya untuk memperlihatkan penye-rahan-diri kepada Sri Vi Šu. Kitab Padma P™raŠa danYajurVeda menyatakan bahwa urdhva- pundra melambangkan kaki-padma Vi Šu. Dua belas bagian badan yang ditandai dengan urdhva-pundra bukanlah sembarang tempat. Bagian-bagian tersebut adalah tempat peka yang dapat dengan mudah menyerap energi spiritual yang dihasilkan dengan pengucapan nama-nama Sri Vi Šu dan menempatkan Tuhan di posisi itu di dalam pikiran. Kalau seorang penyembah memakai tanda Tuhan dan mengucapkan nama-Nya, Tuhan puas dan tinggal ber-sama dia. Dengan cara demikian badan material menjadi sebuah kuil suci Tuhan. Brahmanda P™raŠa menyatakan bahwa seorang pe-nyembah yang memakai tilaka dengan penuh perhatian saat bercermin atau melihat bayangannya di air akan mencapai kediaman tertinggi Tuhan. Dengan memakai tilaka di tempat-tempat ini dan mengucapkan nama-nama Vi Šu, orang menyucikan dan mengabdikan badannya untuk melayani Sri Vi Šu. Kitab Hari-bhakti-vilasa menyebutkan bahwa tilaka urdhva- pundra boleh jadi berbeda bentuk, warna dan bahan menurut Sampradaya penyembah bersangkutan, namun ciri-ciri lain kurang lebih sama.
  50. 50. 53Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Tanda tersebut hendaknya jangan lengkung, tidak rata, tidak menyatu, kotor atau berbau tidak enak. Di kening, posisi pusat antara dua garis hendaknya terbuka dari alis mata hingga batas tumbuh rambut di kepala, dan bagian bawahnya harus tersambung. Bagian yang tertutup penuh (tulasi) panjangnya boleh sampai tiga perempat turun hingga ke hidung. Saat memakai tilaka, dua garis vertikal yang melambangkan kaki- padma Tuhan dibuat terlebih dahulu, kemudian daun tulasinya. Disebutkan bahwa Sri Vi Šu bersemayam di bagian tengah, sedangkan Brahma berada di bagian kiri dan Siva di bagian kanan. Srila Prabhupada menasihati penyembah-penyembah di New York agar berusaha menghindari gopi-candana terjatuh saat menggosok di telapak tangan, “Jangan sampai terbuang. Itu berharga.” Jika gopi-candana jatuh ke lantai, segera bersihkan tempat itu. Ucapkan mantra berikut (A) saat menggosok gopi-candana di telapak tangan kiri; kemudian, saat memakai tilaka dan membersihkan bagian tengah, ucapkan nama dari wujud Tuhan yang sesuai (B). Sebagai alternatif, ucapkan satu baris sloka di bawah pada saat membuat tilaka di tempat yang telah ditunjuk di badan Anda. Setelah setiap baris sloka, saat mem-bersihkan bagian tengahnya (sebagai tempatTuhan ber-semayam), ucapkan nama untuk wujud Tuhan yang sesuai. (B) 1) Kening: oà keçaväya namaù 2) Perut (di atas pusar): oà näräyaëäya namaù 3) Dada: oà mädhaväya namaù 4) Tenggorokan: oà govindäya namaù 5) Perut bagian kanan: oà viñëave namaù 53
  51. 51. 54 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava 6) Lengan kanan: oà madhusüdanäya namaù 7) Pundak kanan: oà trivikramäya namaù 8) Perut bagian kiri: oà vämanäya namaù 9) Lengan kiri: oà çrédharäya namaù 10) Pundak kiri: oà håñékeçäya namaù 11) Punggung atas: oà padmanäbhäya namaù 12) Punggung bawah: oà dämodaräya namaù Sikha tidak ditandai dengan tilaka; melainkan, setelah mencuci tangan kanan, usapkan air yang masih tersisa di tangan ke sikha sambil mengucapkan oà väsudeväya namaù. Ada larangan di dalam kitab Brhan-Naradiya Purana untuk bersujud kepada seorang Vaishnava saat ia sedang mandi, mengumpulkan kayu untuk korban suci, me-metik bunga, membawa air, atau sedang menghormati prasadam. Jika kita dalam keadaan tidak suci, contoh-nya, jika kita sedang makan, mandi, atau memakai sepatu atau kepala tertutupi, kita hendaknya tidak menyampaikan sembah sujud ataupun menerima sembah sujud secara fisik.
  52. 52. 55Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Lampiran IV DOA-DOA PREMA DHVANI • jaya Om Viñëu-päda Paramahaàsa Parivräjakäcärya Añöottara-çata çré çrémad A.C. Bhaktivedanta Svämé Mahäräja Çréla Prabhupäda   ki jaya. Segala pujian kepada acarya Om Vi Šu-pada 108 Tridandi Goswami A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, yang telah berkeliling ke mana-mana, mengajarkan keagungan Sri Hari, dan yang mantap pada tingkatan sannyasa tertinggi. • Acarya-pendiri ISKCON-BBT Çréla Prabhupäda   ki jaya. Segala pujian kepada Srila Prabhupada, Acarya-pendiri ISKCON. • jaya Om Viñëu-päda Paramahaàsa Parivräjakäcärya Añöottara-çata çré çrémad Bhaktisiddhänta Sarasvaté Gosvämé Mahäräja Çréla Prabhupäda   ki jaya. Segala pujian kepada acarya OmVisnupada 108Tridandi Goswami Bhaktisiddhanta Sarsvati Prabhupada, yang berkeliling dunia, mengajarkan keagungan Sri Hari, dan yang mantap pada tingkatan sannyasa tertinggi. • ananta-koöi vaiñëava-vånda   ki jaya. Segala pujian kepada jutaan Vaishnava tanpa batas. • nämäcärya çréla haridäsa öhäkur   ki jaya. Segala pujian kepada Namacarya Srila Haridasa Thakura. • prem-se kaho çré-kåñëa-caitanya-prabhu-nityänanda-çri-
  53. 53. 56 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava advaita-gadädhara-çréväsädi çré-gaura-bhakta-vånda   ki jaya. Pujilah dengan penuh cinta nama-nama Sri Krishna Caitanya, Prabhu Nityananda, Sri Advaita, Sri Gadadhara, Srivasa dan semua penyembah Sri Caitanya. • çré -çré-rädhä-kåñëa- g o p a - g o p é n ä t h a ç y ä m a - k u ë ò a rädhä-kuëòa giri- govardhana   ki jaya. Segala pujian kepada Radha dan Krishna, para gembala sapi, sapi- sapi, Syama-kunda, Radha-kunda dan Bukit Govardhana. (Kita bisa memuji Arca-arca di Srila Prabhupada mengagungkan tilaka dalam penjelasan Srimad- Bhagavatam berikut ini: Pada Kali-yuga sulit bagi sese-orang untuk mendapatkan emas atau perhiasan bertatahkan per-mata, tapi dua belas tanda tilaka di badan sudah cukup sebagai hiasan penuh kemujuran untuk menyucikan badan. (SB 4.12.28 penjelasan) kuil pada saat ini) • sri mayapur-dhäma   ki jaya. Segala pujian kepada Sri Mayapura-dhama. • våndävana-dhäma   ki jaya. Segala pujian kepada Sri Vrindavana-dhama. • jagannätha-puré-dhäma   ki jaya. Segala pujian kepada Sri Jagannatha-puri dhama. • gaìgämayé   ki jaya. Segala pujian kepada Gangga-devi. • yamunämayé   ki jaya. 56
  54. 54. 57Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Segala pujian kepada Yamuna-devi. • tulasédevé   ki jaya. Segala pujian kepada Tulasi-devi. • bhaktidevé   ki jaya. Segala pujian kepada Bhakti-devi. • çré hari-näma saìkértana   ki jaya. Segala pujian kepada pengucapan nama suci Sri Hari secara bersama-sama. • samäveta bhakta-vånda   ki jaya. Segala pujian kepada para penyembah yang berkumpul. • gaura-premänande   hari-haribol. • Segala pujian kepada semua penyembah yang berkumpul di sini. (tiga kali) • Segala pujian kepada Çré Guru dan Çré Gauräìga.
  55. 55. 58 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava (Contoh: Ucapkan laläöe keçavaà dhyäyen lalu buat tanda tilaka di kening Anda; lalu ucapkan oà keçaväya namaù dan bersihkan bagian tengahnya.) (A) laläöe keçavaà dhyäyen näräyaëam athodare vakñaù-sthale mädhavaà tu govindaà kaëöha-küpake viñëuà ca dakñiëe kukñau bähau ca madhusüdanam trivikramaà kandhare tu vämanaà väma-pärçvake çrédharaà väma-bähau tu håñékeçaà tu kandhare påñöhe ca padmanäbhaà ca kaöyäà dämodaraà nyaset
  56. 56. 59Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Lampiran V DOA UNTUK MEMPERSEMBAHKAN BHOGA Setelah semua bhoga ditempatkan dengan baik di piring dan gelas Arca, makanan itu hendaknya ditaruh di depan altar. Mantra-mantra berikut hendaknya diucapkan masing-masing tiga kali sambil membunyikan genta dengan tangan kiri : i) Srila Prabhupada pranati mantra. ii) namo mahä-vadänyäya kåñëa-prema-pradäya tekåñëäya kåñëa-caitanya-nämne gaura-tviñe nama “Wahai inkarnasi yang paling murah hati! Engkau adalah Krissna sendiri yang muncul sebagai Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu. Engkau muncul dengan warna keemasan milik Srimati Radharani, dan menyebarluaskan cinta kasih yang murni kepada Krishna. Kami bersujud dengan hormat kepada-Mu.” iii) namo brahmaëya-deväya go-brähmaëa-hitäya ca jagat-hitäya kåñëäya govindäya namo namaù “Wahai Tuhan, Engkau adalah yang mengharapkan kese- jahteraan sapi-sapi dan para brahmana, dan Engkau ada-lah yang mengharapkan kesejahteraan seluruh umat manusia dan dunia.” Persembahan dibiarkan di altar selama beberapa menit dan kemudian dibawa ke luar setelah bersujud.
  57. 57. 60 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Lampiran VI DOA PRASADAM (Doa-doaberikutinihendaknyadinyanyikansebelummenghormati prasadam Tuhan) 1) Pujian kepada prasadam Tuhan mahä-prasäde govinde näma-brahmaëi vaiñëave svalpa-puëyavatäà räjan viçväso naiva jäyate “Wahai Raja! Orang yang memiliki sedikit sekali kegiatan saleh, keyakinan mereka terhadap maha-prasadam, Sri Govinda, terhadap Nama Suci dan para Vaishnava tidak pernah muncul.” (Mahabharata) 2) Prasada-sevaya çaréra avidyä-jäl, jadendriya tähe käl jéve phele viñaya-sägare tä’ra madhye jihvä ati-, lobhamay sudurmati, tä’ke jetä kaöhina saàsäre kåñëa baòa dayämay, karibäre jihvä jay, sva-prasädänna dila bhäi sei annämåta päo, rädhä-kåñëa-guëa gäo, preme òäko caitanya-nitäi “Wahai Tuhan, badan material ini adalah gumpalan ke-bodohan, dan indera-indera adalah jaringan jalan menuju kematian. Entah bagaimana, kami telah jatuh ke dalam samudera kenikmatan indera material ini, dan di antara semua indera lidahlah yang paling rakus dan sulit diken-dalikan; sangatlah sulit untuk mengendalikan lidah di dunia ini. Namun Engkau, Sri Krishna yang hamba cintai, 60
  58. 58. 61Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava begitu bermurah hati kepada kami dan memberikan prasadam yang nikmat ini hanya untuk mengendalikan lidah. Sekarang kami menerima prasadam ini dengan sepuas hati dan memuliakan Sri Sri Radha-Krishna, dan dengan cinta kasih memohon bantuan Sri Caitanya dan Sri Nityananda.” bhäi-re! eka-dina çäntipure, prabhu adwaitera ghare, dui prabhu bhojane bosilo çäk kori’ äswädana, prabhu bole bhakta-gaëa, ei çäk kåñëa äswädilo heno çäk-äswädane, kåñëa-prema aise mane, sei preme koro äswädana jaòa-buddhi parihari’, prasäd bhojana kori’, ‘hari hari’ bolo sarva jan “Wahai saudaraku! Suatu hari di Santipur, di rumah Sri Advaita, Sri Caitanya dan Nityananda duduk untuk makan siang. Ketika Sri Caitanya mencicipi sayur hijau, Dia ber-kata, ‘Wahai penyembah- Ku, sak ini begitu lezat! Pasti Sri Krishna telah mencicipinya.’” “Saat mencicipi sak seperti ini, cinta kasih kepada Krishna terbit di hati. Dengan rasa cinta kasih kepada Tuhan seperti itu engkau hendaknya mencicipi prasada ini. Dengan meninggalkan segala paham duniawi, dan menerima prasadaTuhan, kalian semua ucapkan ‘Hari! Hari!’ “
  59. 59. 62 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava
  60. 60. 63Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava BAGIAN III 1. MENGHORMATI DAN MELAYANI PRASADAM Bagaimana cara prasadam dilayani dan dihormati adalah hal penting dalam budaya Vaishnava. Krishna dan Guru sangat puas bukan hanya ketika makanan dimasak dan dipersembahkan dengan baik namun juga ketika prasa-dam dilayani dengan penuh perhatian dan dihormati secara layak. A) MELAYANI PRASADAM Idealnya, prasadam hendaknya dibagikan oleh Vaishnava yang sudah menerima diksa. Ia hendaknya suci dalam pikiran, badan, perilaku dan pakaian dan bisa melakukan pekerjaan dengan cekatan, tenang dan efisien. Sebisa mungkin, hindari berbicara dengan suara keras dan hin-dari kegaduhan yang mengganggu. Harus dipastikan bahwa hidangan yang akan dibagikan memang masih hangat (bukan dihangatkan kembali karena sudah lama) dan bahwa semua hidangan yang hendak dibagikan sudah ada atau akan datang untuk dibagikan pada saat yang tepat. Baik yang membagikan maupun alat yang digunakan untuk membagikan hendaknya jangan pernah sampai menyentuh piring atau tangan mereka yang sedang makan, sebab hal ini akan mencemari yang sedang membagikan dan alat-alat yang digunakan untuk membagikan. Jika hal ini terjadi, seseorang hendaknya segera mencuci tangan dan alat-alat yang tercemar sebelum melanjutkan mem-bagikan prasada. Prasadam diletakkan dengan lembut di atas piring yang masih ada ruang kosongnya (jangan di atas garam, misal-nya), hati-hati agar tidak tercampur hidangan yang asin dengan hidangan yang manis. Prasadam hendaknya tidak dibagikan langsung ke tangan orang yang sedang makan, kecuali yang dibagikan adalah potongan- 63
  61. 61. 64 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava potongan kecil maha-prasadam. Kecuali saat membagikan manisan kering atau makanan kering, kita hendaknya membagikan prasadam dengan menggunakan sendok, bahkan untuk membagikan garam sekalipun. Hanya tangan kanan yang boleh digunakan untuk mem- bagikan prasadam dan hendaknya jangan menyentuh apa pun yang tidak suci (mulut, kaki, rambut atau badan bagian bawah). Juga hendaknya jangan menguap, bersin atau meludah. Wadah prasadam hendaknya jangan sampai menyentuh kaki siapa pun. Urutan yang benar untuk membagikan berbagai hidangan adalah: · Air hendaknya dibagikan pertama. · Ketika para Gaudiya Vaishnava melayani prasadam, mereka memulai makanan utama dengan makanan yang pahit, seperti sukta dan bayam. · Kemudian dilanjutkan dengan dal dan gorengan (seperti pakaura dan kentang goreng). · Setelah itu sayur-sayuran lainnya (sabji), secara ber-urutan dari sabji yang sederhana hingga mewah dan dari yang basah hingga kering. · Kemudian sabji basah yang mewah kembali dibagikan. · Diikuti oleh raita dan chutney. · Akhirnya manisan dibagikan dari yang sedikit manis hingga paling manis. · Nasi dan capati hendaknya dibagikan dari awal dan ditambah sesuai kebutuhan, sampai mereka yang menghormati prasadam menghabiskan semua sabjinya. (Kalau bisa, capati hendaknya dibagikan saat masih hangat). Prasadam yang dibagikan bisa sedikit, namun ketika penyembah menghabiskan satu jenis makanan, kita hen-daknya selalu siap untuk menambahkan. Kita hendaknya memberikan sebanyak yang mereka inginkan. Hendaknya jangan pelit dan menyimpan di belakang karena kita ingin memakannya nanti. Prasadam dimaksudkan untuk diba-gikan. Hendaknya jangan sampai penyembah ditinggal dengan piring kosong kecuali saat sudah selesai makan. Yang membagikan atau tuan rumah bisa menjelaskan hal-hal 64
  62. 62. 65Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava baik berkaitan dengan hidangan yang sedang dibagikannya. Kecuali diperlukan untuk pengajaran, kita hendaknya tidak berbicara ketika menghormati prasadam. Mendengar ceramah atau kaset pada saat ini juga ber-manfaat. Beberapa penyembah bisa membacakan Buku Krishna atau Srila Prabhupada Lilamrita. Semua orang yang ada dalam satu kelompok hendaknya diberikan jenis hidangan yang sama. Bila sekelompok orang makan bersama-sama, hendaknya jangan mem-berikan jenis hidangan kepada seseorang di mana jenis hidangan itu tidak diberikan kepada yang lainnya. Penyembah yang sedang membagikan prasadam hendak-nya jangan pilih kasih. Kalau memungkinkan, mereka yang sedang menjalani diet khusus hendaknya makan di tempat terpisah. Prasadam bisa dibagikan dari wadah yang biasa digu-nakan untuk keperluan tersebut. Wadah hendaknya jangan diseret di sepanjang lantai dan juga hendaknya jangan ada suara gemerincing yang diciptakan oleh gagang wadah itu atau alat-alat lainnya. Setelah semua selesai menghormati prasadam, tempat itu harus segera dibersihkan. Penyembah juga dapat me-ngumpulkan sisa makanan yang jatuh dari piring dan membuangnya ke tempat sampah. B) MENGHORMATI PRASADAM Saat menghormati prasadam hendaknya kita dalam kea-daan bersih, sudah mencuci tangan, kaki dan mulut. Sikha juga harus diikat, kepala jangan ditutup (bagi laki-laki) dan tidak memakai alas kaki. Hendaknya makan di tempat yang bersih, lapang dan tenang. Kalau bisa hindari makan di dalam kendaraan. (Saat mengadakan yatra hal ini sulit dihindari). Hendaknya jangan makan saat sandhya (saat matahari terbit, tepat tengah hari atau matahari terbenam), sebelum mandi, atau sebelum melakukan japa Gayatri atau pemu-jaan Arca pada pagi
  63. 63. 66 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava hari. Juga, tidaklah baik makan lagi sebelum makanan yang sudah dimakan sebelumnya dicerna dengan baik. Sebaiknya makan dengan sikap duduk bersila, tidak dengan kaki terjulur. Menaruh piring di atas pangkuan juga tidak baik. Ayurveda menganjurkan duduk di lantai (dengan asana) saat prasadam, dengan posisi bersila untuk mempermudah pencernaan. Namun, bagi mereka yang berumur lebih dari lima puluh tahun (saat kondisi badan tidak lagi mendukung), bisa makan sambil duduk di kursi. Sebelum mulai makan, hendaknya kita memandang ke arah prasadam dan menyampaikan penghormatan, sambil ingat bahwa ini adalah karunia Krsna. Kita hendaknya menga-gungkan prasadam Tuhan dengan cara mengucap-kan doa pujian. C) ATURAN MAKAN DAN MINUM AIR Saat makan atau minum, jangan membuat suara yang mengganggu atau mencari-cari kejelekan rasa prasadam itu. Gunakan hanya kelima jari tangan kanan untuk me-nyentuh atau memasukkan makanan ke dalam mulut. Makan dengan menggunakan jari-jari tangan dianjurkan sebab proses pencernaan berawal saat jari-jari merasakan sentuhan makanan. Tangan kiri hendaknya digunakan hanya untuk meng-ambil gelas air, dan kemudian saat meminum air usahakan jangan sampai bibir menyentuh gelas. Potong atau robek makanan yang berukuran lebar seperti capati dan puri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan dan kemudian masukkan ke dalam mulut dalam ukuran kecil-kecil. Jangan menggunakan tangan kiri untuk memotong/ merobek capati dan puri. Hendak-nya jangan memakan makanan yang lebar dengan cara memasukkan ke dalam mulut lalu merobeknya dengan menggunakan gigi. Saat tangan kanan masih bersih (sebelum mulai makan), bisa digunakan memegang gelas untuk meminum air supaya gelas tidak menyentuh bibir. Saat sudah mulai makan, tangan kanan menyentuh mulut, jadi kita hendak-nya mengambil gelas dengan
  64. 64. 67Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava tangan kiri dan meminum air tanpa menyentuh bibir. Jika tidak bisa meminum dengan baik, bisa menggunakan tangan kanan dan minum dengan menggunakan bibir. D) BANYAKNYA MAKANAN Makan berlebihan menyebabkan penyakit dan mengu-rangi umur, juga bisa menghentikan kemajuan spiritual kita, menimbulkan dosa dan menjadikan kita sebagai sasaran kritik. Idealnya kita makan supaya setengah bagian perut kita berisi makanan, seperempat bagian terisi air dan sisanya udara. E) SEHABIS MAKAN Dibenarkan untuk mengucapkan prema-dhvani sehabis makan, sebelum beranjak bangun. Sehabis makan dan saat menunggu yang lainnya sele-sai, kita bisa mengucapkan dengan suara keras berbagai sloka dan doa yang mengagungkan Tuhan. Untuk menghormati yang lain yang masih sedang ma-kan, semua yang berada dalam satu baris hendaknya me-nunggu yang lainnya dalam baris yang sama selesai, sebelum beranjak bangun. Setelah beranjak bangun, kita hendaknya segera men-cuci tangan tanpa menunda lagi, kemudian berkumur sekurang- kurangnya tiga kali dan akhirnya mencuci kaki. Jangan tidur atau melakukan pekerjaan berat apa pun langsung sehabis makan. Sebaiknya kita menenangkan pikiran begitu selesai makan, dengan cara mengingat Tuhan, berjapa serta men-diskusikan lila-Nya. Selesai makan, area tempat makan hendaknya segera dibersihkan dengan air. 67
  65. 65. 68 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava
  66. 66. 69Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava BAGIAN IV 1. HUBUNGAN DENGAN BERBAGAI GOLONGAN PENYEMBAH A) TIGA GOLONGAN PENYEMBAH Srila Rupa Gosvami menyatakan dalam Upadesamrita bahwa orang hendaknya menghormati di dalam pikiran penyembah yang mengucapkan Nama Suci Krishna, ber-sujud dengan penuh hormat kepada penyembah yang sudah menjalani inisiasi spiritual, dan bergaul serta mela-yani dengan tulus seorang penyembah murni yang sudah maju dalam bhakti yang tidak pernah menyimpang dan yang hatinya bebas sepenuhnya dari kecenderungan mengkritik orang lain. B) HUBUNGAN DENGAN GURU SPIRITUAL a) Kita hendaknya bersikap rendah hati di hadapan Guru dan melakukan pelayanan kepada Guru. b) Kita hendaknya mengemban perintah Guru dengan se-penuh jiwa dan raga. c) Di hadapan Guru, kita hendaknya jangan mengajarkan orang lain tanpa menerima izin Guru. d) Saat Guru masih ada, hendaknya kita tidak menerima murid kita sendiri. e) Kita hendaknya bersungguh-sungguh menjalankan pe-rintah Guru tanpa membantah. Kita hendaknya tidak mengabaikan perintah Guru dengan berpikir bahwa kita mengetahui “maksud yang sebenarnya”. f) Kita hendaknya jangan pernah mengajari Guru kita sendiri. Bahkan jika kita ingin menyampaikan sesuatu kepada Guru dengan berpikir bahwa informasi ini mungkin bisa membantu, kita hendaknya selalu me-nyampaikannya dengan sikap sangat
  67. 67. 70 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava rendah hati. g) Kita hendaknya jangan berbantahan dengan Guru. h) Kita hendaknya jangan memamerkan kemampuan kita di hadapan Guru dan hendaknya selalu bersikap rendah hati. i) Kita hendaknya jangan pernah duduk sejajar dengan Guru kecuali atas restunya. Seperti halnya Sri Krishna tidak berbeda dengan Nama atau gambar-Nya, begitu pula tidak ada perbedaan antara Guru dan nama serta gambarnya, sehingga kita hendaknya menyimpan gambar Guru dan Krishna di tempat yang layak. Kita hendaknya jangan membaca buku yang ditulis bukan oleh Guru dan parampara kecuali atas izin dan restu Guru. C) HUBUNGAN DENGAN SENIOR a) Dalam tradisi Vaishnava, menghormati orang yang lebih senior daripada kita merupakan suatu ungkapan pen-ting kerendahan hati kita. b) Dalam deretan senioritas, Vaishnava yang paling senior adalah Guru, yang harus dihormati sebagai wakil Tuhan, jadi beliau harus dihormati layaknya penghor-matan lepada Krishna sendiri. c) Berikutnya adalah para sannyasi. Di kalangan para san-nyasi sendiri, senioritas dipertimbangkan berdasarkan siapa yang menerima diksa sannyasa lebih dahulu. Kita hendaknya bersujud dengan hormat kepada setiap sannyasi, khususnya bila kita lebih dahulu me-lihat mereka. Ba h k a n s a n n y a s i mayavadi sekalipun hendaknya dihormati dengan pantas, meskipun Lebih terperinci lihat Lampiran VI (Hal. 50) kita hendaknya jangan bergaul dengan mereka. d) Berikutnya adalah saudara seguru Guru kita. Mereka hendaknya dihormati seperti kita menghormati Guru. e) Penyembah yang sudah menerima diksa Brahmana hendaknya dihormati. Kembali, senioritas ditentukan berdasarkan siapa yang didiksa lebih dahulu.
  68. 68. 71Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava f) Penyembah yang menerima diksa lebih dahulu daripada kita hendaknya dihormati. g) Penghormatan khusus harus diberikan kepada penyem-bah yang berusia lebih tua daripada kita. h) Hendaknya kita jangan mengajar orang lain di hadapan Vaishnava senior tanpa memperoleh restunya terlebih dahulu. i) Saat lampu ghee diedarkan kepada para penyembah setelah arati, senioritas harus diperhatikan. D) HUBUNGAN DENGAN SAUDARA SEGURU a) Sesama saudara seguru hendaknya saling memanggil “Prabhu”. Akan tetapi, kita hendaknya jangan mencoba menjadi Prabhu hanya karena kita dipanggil demikian. Kita hendaknya tetap sebagai pelayan semata dan mem-perlakukan yang lainnya sebagai Prabhu. b) Kita adalah pelayan dari saudara seguru dan kita harus melayani sesuai dengan tingkatan tertentu saudara seguru kita. Kepada saudara seguru yang lebih senior, hendaknya kita bertanya dengan rendah hati, mematuhi nasihatnya dan berusaha menjadi pelayan yang patuh. Terhadap saudara seguru yang sejajar, kita hendak-nya melayani dengan sikap bersahabat, saling memban-tu dan menyemangatkan. Terhadap yang lebih junior daripada kita, hendaknya kita melayani mereka dengan cara membimbing, meng-arahkan, menyemangatkan dan memberi pencerahan. c) Ketika bertemu dengan saudara seguru hendaknya kita bersujud sambil mengucapkan doa väïcä-kalpatarubhyaç ca kåpä-sindhubhya eva ca patitänäà pävanebhyo vaiñëavebhyo namo namaù d) Kita hendaknya kita jangan pernah menerima saudara seguru sebagai pelayan kita kecuali diizinkan atau diperintahkan oleh Guru. e) Kita harus menghindari agar pepatah “Keakraban melahirkan
  69. 69. 72 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava sikap tidak hormat” memasuki hubungan antar penyembah. Hubungansesamapenyembahhen-daknyapenuhpenghormatan dan tanpa berbuat kesa-lahan serta tanpa sikap berpura-pura. f) Penyembah tidak boleh memanggil sesama penyembah dengan menggunakan nama karminya. g) Hendaknya jangan memuji diri sendiri atau membang-gakan prestasi atau kemampuan diri sendiri kepada penyembah lain. Kita hendaknya mengetahui bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki kualifikasi. Apa pun yang mampu kita lakukan semata- mata atas karunia Guru dan para Vaishnava. h) Apabila ada saudara seguru yang mengalami kesulitan karena sakit atau kehilangan anggota keluarga dan/ atau sedang mengalami gangguan emosi karena alasan tertentu, kita harus membantu dengan kata-kata atau tindakan. Seperti pepatah mengatakan “Kawan dalam kesusahan adalah kawan sejati.” Persaudaraan di antara penyembah akan diuji saat mengalami kesulitan. Kita tidak dapat mengabaikan perkembangan yang seperti itu dengan menganggapnya sebagai ‘duniawi’. i) Kalau ada penyembah yang menyimpang dari jalur bhakti dan tidak lagi bergaul dengan para penyembah selama waktu tertentu, ia hendaknya jangan disalahkan karena berada dalam ‘maya’ atau dinasihati sedemikian rupa sehingga semakin mendorong mereka menjauh dari kaki-padma Guru. Kita harus memberi kasih sa-yang, dorongan dan persahabatan dan menjadikan mereka kembali merasa sebagai satu keluarga dalam pergaulan penyembah. E) HUBUNGAN DENGAN PEREMPUAN a) Seorang perempuan hendaknya sungguh-sungguh di- hormati, terutama kalau ia seorang Vaishnavi, dan hendaknya diperlakukan sebagaimana mestinya. b) Seorang brahmacari hendaknya memandang setiap perempuan sebagai ibunya dan seorang grhastha hen-daknya melihat setiap perempuan kecuali istrinya sendiri sebagai ibu. c) Brahmacari hendaknya bergaul dengan para Mataji ha-nya sejauh yang diperlukan untuk melakukan pela-yanan bhakti
  70. 70. 73Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava dan tidak lebih daripada itu. F) HUBUNGAN DENGAN TAMU Ketika ada tamu datang berkunjung ke kuil atau rumah kita, menurut etika Vaishnava kita harus memperlakukan mereka dengan penuh hormat dan kasih sayang. Mereka hendaknya disambut dengan tutur kata yang manis, tempat duduk, air dan prasadam sesuai kemam-puan kita. G) MENYAPA VAISHNAVA a) Srila Prabhupada harus disapa sebagai “His Divine Grace,” Guru dan sannyasi sebagai “His Holiness” dan saudara seguru sebagai “His Grace” b) Nama saudara seguru bisa diberi awalan “Sriman”. c) Nama seorang brahmacari bisa ditambahi dengan sebutan “Brahmacari”, misalnya Krishna dasa Brahma-cari, seorang grhastha dengan sebutan “Adhikari” dan seorang sannyasi dengan sebutan “Maharaja,” “Swami” atau “Goswami.” H) HUBUNGAN DENGAN VAISHNAVA LAINNYA Kita boleh menghormati, namun hendaknya jangan ber-gaul dengan orang-orang golongan berikut: # Vaishnava dengan watak yang buruk atau meragukan # Para Sahajiya # Sampradaya Vaishnava yang tidak bisa dipercaya # Para Sannyasi Mayavadi I) VAISHNAVA JANGAN DILIHAT DARI SUDUT PANDANG MATERIAL a) Srila Rupa Gosvami menyatakan dalam ‘Upadesamrita’ berkaitan dengan Vaishnava: “..... Penyembah yang demikian hendaknya jangan dilihat dari sudut pandang material. Memang, hen-daknya tidak dianggap penting kalau seorang penyembah memiliki badan yang lahir 73
  71. 71. 74 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava dalam keluarga rendah, badan dan wajah yang kurang baik, badan cacat, badan sakit atau badan lemah.” b) Dengan kata lain, kita hendaknya mengabaikan segala kekurangan badaniah berupa penampilan yang kurang baik, kelahiran rendah, pendidikan rendah, dsb. Setiap Vaishnava yang berusaha melayani Tuhan harus diang-gap Suci. c) Dinyatakan dalam sastra bahwa merupakan mentalitas jahat bila menganggap seorang Vaishnava berasal dari kasta tertentu atau menganggapnya sama dengan orang biasa. J) BADAN SEORANGVAISHNAVA ADALAH SEBUAH KUIL a) Badan seorang Vaishnava harus dipandang sebagai kuil Vishnu. Karena itu, ketika bersujud kepada seorang Vaishnava kita hendaknya ingat bahwa kita juga sedang bersujud kepada Sri Vishnu yang bersemayam di hati. b)Oleh sebab itu, kita hendaknya jangan pernah melang-kahi badan seorang Vaishnava. K) KARUNIA PARA VAISHNAVA SANGAT DIBUTUHKAN a) Kita hendaknya tidak memulai suatu kegiatan penting dalam kehidupan kita tanpa terlebih dulu menerima karunia para Vaishnava. b) Orang harus selalu menganggap dirinya bergantung pada karunia para Vaishnava. L) HUBUNGAN CINTA KASIH SESAMA VAISHNAVA a) Srila Rupa Gosvami menjelaskan dalam Upadesamrita bahwa ada enam pertukaran cinta kasih sesama Vaishnava : · memberi hadiah sebagai sumbangan, · menerima hadiah sebagai sumbangan, · mengungkapkan isi hati secara rahasia, · bertanya secara rahasia, · menerima prasadam, · memberi prasadam. b) Bila seseorang mengunjungi kuil ia hendaknya mene-rima prasadam dari para Vaishnava. c) Bagi para grhastha, merupakan kewajiban mereka un-tuk
  72. 72. 75Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava mengundang para Vaishnava ke rumahnya untuk menyuguhi prasadam. d) Hadiah yang paling bernilai yang bisa kita berikan atau terima adalah Krishna-katha, pengetahuan spiritual kesadaran Krishna. e) Para grhastha yang tinggal di luar kuil hendaknya ber-usaha mengundang penyembah yang berada dalam tahap pelepasan ikatan untuk mengajarkan di rumah mereka. 2) HUBUNGAN DENGAN ORANG YANG BUKAN PENYEMBAH I. Kita hendaknya tidak membiarkan orang yang bukan penyembah menyentuh kaki kita. Tetapi kalau mereka bersikeras untuk melakukannya dan tidak ada cara untuk menghindar, kita bisa mengingat para acarya terdahulu dan Guru, dan terima namaskara mereka lalu kembalikan sambil mencakupkan tangan. II. Dua golongan orang yang bukan penyembah Kepada orang yang tulus kita hendaknya menjadi orang yang mengharapkan kebaikan. Dengan sikap hormat, kita hendaknya berusaha memberi pencerahan dan memberi pergaulan Guru kita. Tetapi kita hendaknya jangan menerima pergaulan mereka dengan sibuk da-lam kegiatan yang memberi mereka kesenangan hidup misalnya dalam kegiatan duniawi. Terkait para ateis, kita hendaknya menghindari me- reka. Merupakan kesalahan terhadap Nama Suci jika kita mengajarkan kepada orang-orang semacam itu.Tapi, kita boleh mengajarkan jika mereka mau men-dengar dari kita dengan sikap rendah hati. III. Menyapa orang yang bukan penyembah a) Jika orang tersebut seorang teman, kita bisa meng-ucapkan Hare Krishna dan sambil mencakupkan tangan menyentuh kepala kita. b) Jika orang tersebut anggota keluarga kita yang lebih tua maka kita hendaknya mengucapkan Hare Krishna dan bersujud kepadanya. IV. Kalau kita berhadapan dengan orang yang mengkritik Guru,
  73. 73. 76 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Vaishnava atau sastra, maka kita harus mampu mengalahkannya dalam adu argumen atau mening-galkan tempat itu dengan segera. Mendengarkan penghinaan seperti itu merupakan salah satu halangan terbesar bagi kemajuan spiritual kita.
  74. 74. 77Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava Lampiran VII MENERIMA TAMU   ATITHI-SEVA (di kuil atau di rumah) Kata Sanskerta ‘atithi’ artinya ‘tidak terjadwal’. Tamu yang tidak terjadwal atau tak terduga dianggap sebagai utusan Tuhan, sebab kedatangannya tanpa pemberitahuan, ba-rangkali Tuhan ingin menguji penyembah-Nya dan ingin melihat bagaimana kesiapannya untuk melayani dalam segala situasi. Dengan pemahaman seperti ini, kita hen-daknya melayani tamu tersebut. Lebih terperinci lihat Lampiran VII di akhir bagian ini. (Hal. 67) Kuil Tuhan, baik yang terbuka untuk umum maupun di rumah pribadi, hendaknya menjadi sebuah tempat di mana pengunjungnya dapat ikut serta dalam kegiatan kuil sebisa mungkin. Dalam ISKCON, pene-rimaan tamu secara layak sangatlah penting, sebab perkumpulan kita adalah sebuah misi pengajaran. Penerimaan tamu seca-ra layak dapat mencip-takan perbedaan antara orang yang datang ke kuil sekali dan tidak pernah kembali, atau menjadi tamu yang teratur berkunjung dan akhirnya menjadi penyembah Krishna. Pengunjung yang datang teratur, tamu yang diundang khusus, life member, Vaishnava yang berkunjung, kerabat para Vaishnava semua hendaknya diperlakukan sede-mikian rupa sehingga mereka akan merasa nyaman dan ingin datang kembali. Setiap penyembah harus belajar bagaimana melayani tamu, tetapi penyembah yang tinggal di kuil yang secara teratur memuja Arca hendaknya memiliki keahlian khusus dalam hal ini, sebab mereka secara langsung mewakili Sang Pemilik kuil. Bahkan pemujaan Arca kelas-utama secara mewah sekalipun, akan gagal memikat kedatangan tamu kalau penghuni kuil mengabaikan
  75. 75. 78 Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava sang tamu. Penerimaan tamu secara layak merupakan tugas khusus para grhastha. Kalau para grhastha tidak melayani secara hangat tamu tak terduga, tidak peduli siapa dia, maka dia melakukan kesalahan besar. Namun bukan hanya para grhastha, siapa saja dalam setiap asrama dan varna hen-daknya menerima tamu dengan layak. Unsur utama dalam menerima tamu adalah penyam-paian rasa hormat dan kenyamanan, meliputi makanan dan air, tempat duduk, tutur kata yang manis, pelayanan demi kenyamanan sang tamu (seperti fasilitas kamar mandi), dan tempat untuk beristirahat. Ketika tamu baru datang, kita hendaknya datang me-nyambut dan ketika tamu pergi, hendaknya kita mene-maninya, setidak- tidaknya sampai di depan rumah atau halaman. Persembahkan pe-mujaan sederhana ataupun terperinci. (Supaya praktis, kita bisa memuja tamu de-ngan dua jenis sarana, yakni krim cendana dan bunga atau garlan atau tempat duduk dan air pencuci kaki.) Memberikan hadiah seperti pakaian, emas, uang atau biji-bijian. Kita hendaknya menghormati orang yang lebih tua, orang tua danGurudengancarabangkitdaritempatduduk,memperkenalkan diri lalu bersujud. Pemujaan dan hadiah disediakan untuk Guru. PERILAKU YANG PANTAS MENJADI SEORANG TAMU Seorang tamu Vaishnava hendaknya berperilaku ideal, baik tuan rumahnya juga Vaishnava ataupun simpatisan/ teman baik para Vaishnava. Berikut ini adalah beberapa etika umum yang diterapkan sebagai tamu Vaishnava : 1) Jika Anda tamu yang diundang, hendaknya jangan melebihi/ memperpanjang waktu kunjungan. Misalnya, kalau diundang untuk makan-makan, Anda bisa beris-tirahat sejenak sehabis makan untuk memperlancar pen-cernaan, tapi jangan membebani tuan rumah dengan tinggal dan berbincang- bincang selama berjam-jam, kecuali diminta untuk itu.
  76. 76. 79Pedoman Etika dan Pola Hidup Vaishnava 2) Jangan mengajak tamu/ teman sendiri dalam memenuhi undangan kita. Kalau kita ingin mengajak tamu lain, minta izin terlebih dahulu kepada tuan rumah. 3) Jika diizinkan menggunakan telepon, mesin fax atau fasilitas semacam itu, tawarkan untuk membayar biaya pemakaian. 4) Ketika berencana untuk mengunjungi teman atau ke-nalan tanpa diundang, usahakan agar calon tuan rumah mengetahui kapan Anda tiba dan berapa lama ingin tinggal. 5) Kecuali diundang atau telah menyampaikan kepada tuan rumah, usahakan agar tidak tiba di kuil atau di rumah yang akan menjamu kita pada siang hari atau pada awal sore hari, saat Arca maupun orang-orang umumnya beristirahat setelah makan siang. 6) Apabila tinggal selama beberapa hari di rumah yang menjamu kita, dibenarkan untuk memberikan hadiah kenang-kenangan kepada anggota keluarga tersebut sebagai ucapan terima kasih. PROSEDUR UNTUK MENERIMA VAISHNAVA Kita hendaknya memberi perhatian khusus untuk men-jamu Vaishnava senior, sannyasi dan terutama Guru kita. Sebelum tamu Vaishnava itu tiba, tempat tinggalnya harus disiapkan, dibersihkan dan dilengkapi dengan sarana yang diperlukan (seperti panca- patra, cermin, tilaka, han-duk, air minum serta tempat tidur yang bersih). Kalau bisa, sediakan satu set buku Srila Prabhupada. Kita juga bisa menyediakan beberapa dupa, pegangan dupa serta korek api. Ruangan untuk tamu juga bisa dihiasi dengan vas bunga, gambar-gambar rohani dsb. Ketika seorang tamu Vaishnava tiba, kita hendaknya ke luar untuk menyambut, lebih baik lagi dengan kirtana, garlan serta krim cendana (kecuali cuaca di luar dingin). Kemudian kita bersujud dan menyambut dengan kata-kata manis lalu mengajak tamu duduk. Apabila kita menerima Guru kita sendiri, hendaknya kita memuja beliau pada saat ini (seizin beliau) dengan mempersembahkan arati, mempersembahkan bunga di kaki beliau dan bersujud. Kita harus siap menyuguhkan prasadam dengan segera, tapi terlebih dahulu tanyakan apakah tamu tersebut ingin mandi atau beristirahat sebelum menerima prasadam. Jika pantas,

×