Bab II Kecerdasan Emosi pada Remaja yang Mengikuti Kelas Unggulan di SMPN 103 Jakarta (skripsi)

3,704 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,704
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
58
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab II Kecerdasan Emosi pada Remaja yang Mengikuti Kelas Unggulan di SMPN 103 Jakarta (skripsi)

  1. 1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecerdasan Emosional 1. Pengertian Kecerdasan Emosional Oxford Advanced Learner’s Dictionary (1996) mendefinisikan emosi sebagai “Setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis yang merupakan serangkaian kecenderungan untuk bertindak dengan adanya campuran, variasi, mutasi dan nuansanya yang berupa amarah, kesedihan, nikmat, cinta, terkejut, jengkel, dan malu” (Goleman, 2004). Emosi dipengaruhi oleh pengetahuan individu mengenai emosi dan bagaimana penanganannya (intelegensi), pengalaman, peran orang tua, guru, lingkungan. Hampir semua perilaku kita yang terus menerus atau yang mengarah ke tujuan adalah bernada emosional dan bahwa nada emosionallah yang memberi motivasi untuk serangkaian perilaku yang panjang (Riyanti, 1998). Cooper dan Sawaf (1998) menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilaian perasaan, untuk mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Howes dan Herald (dalam Mutadin, 2002) mengatakan pada intinya kecerdasan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. 6
  2. 2. 7 Goleman (2004) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. McClelland (dalam Hapsariyanti, 2006) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif yang akan menghasilkan orang-orang yang sukses dan memiliki kinerja yang tinggi. Menurut Schwartz (dalam Hapsariyanti, 2006) kecerdasan emosional adalah keajaiban dalam pemikiran yang memperlihatkan bagaimana keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh ukuran besar kecil otak seseorang tetapi lebih kepada gagasan atau pemikiran seseorang dalam mengamati, memahami dirinya, dan berinteraksi dengan orang lain. Sellovey dan Mayer (dalam Aprilia, 2007) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai sebuah bentuk kecerdasan emosional sebagai sebuah bentuk kecerdasan yang melibatkan kemampuan memonitor perasaan dan emosi diri sendiri atau orang lain, untuk membedakan diantara mereka dan menggunakan informasi untuk menuntun pikiran dan tindakan seseorang. Menurut Patton (dalam Aprilia, 2007), kecerdasan emosional adalah dasar-dasar pembentukan emosi yang mencakup keterampilan-keterampilan seseorang, untuk mengadakan impuls-impuls dan menyalurkan emosi yang kuat secara efektif. Hills (dalam Hapsariyanti, 2006), kecerdasan emosional adalah sebagai kekuatan berpikir alam bawah kecil otak sadar yang berfungsi sebagai kendali atau pendorong yang tdak digerakkan oleh sarana logis, namun harus berlatih mengendalikannya sehingga menjadi terbiasa. Tidak ada standar test Emotional Quantum (EQ) yang resmi dan baku. Namun kecerdasan emosi dapat ditingkatkan, baik terukur maupun tidak. Tetapi dampaknya dapat dirasakan baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Banyak ahli berpendapat kecerdasan emosi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup (Yunita, 2009).
  3. 3. 8 Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, menghargai diri dan orang lain, menempatkan emosinya pada porsi secara tepat, menunda kepuasan yang hanya bisa dinikmati oleh individu, karena emosi dapat mengatur pikiran, motivasi, tingkah laku, dan tindakan seseorang dalam menghadapi masalah dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. 2. Perkembangan Kecerdasan Emosional Konsep kecerdasan emosional bermula dari konsep kecerdasan sosial yang pertama kali diungkapkan oleh E.L. Thorndike di tahun 1920. Dalam artikelnya di Harper’s Magazine menyebutkan bahwa salah satu aspek kecerdasan emosional yaitu kecerdasan sosial (Goleman, 2004). Para psikolog membagi kecerdasan dalam tiga kelompok : a. Kecerdasan abstrak Kecerdasan abstrak adalah kemampuan untuk memahami dan memanipulasi dengan simbol verbal dan matematis. b. Kecerdasan konkret Kecerdasan konkret adalah kemampuan memahami dan memanipulasi objek. c. Kecerdasan sosial Kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memahami dan berhubungan dengan orang. Thorndike (dalam Goleman, 2004) mendefinisikan kecerdasan sosial sebagai kemampuan memahami dan mengatur laki-laki dan perempuan untuk dapat bertindak secara bijak. Gardner (dalam Goleman, 2004) memasukkan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal dalam teori kecerdasan. Kedua kecerdasan itu dimasukkan dalam kecerdasan sosial, ia mendefinisikannya : a. Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami orang lain, mengetahui apa yang dapat memotivasi individu, bagaimana individu dapat bekerja secara kooperatif. Orang yang berprofesi sebagai guru, politikus,
  4. 4. 9 salesman, dokter, perawat, dan pemimpin religius yang sukses adalah seseorang yang mempunyai kecerdasan interpersonal yang tinggi. b. Kecerdasan Intrapersonal Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri. Kecerdasan emosi atau kecerdasan emosional meliputi kecerdasan sosial dan menekankan pada pengaruh emosi pada kemampuan melihat situasi secara objektif dan dapat memahami diri sendiri serta orang lain. 3. Komponen-komponen Kecerdasan Emosional Goleman (2004) mengungkapkan lima wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan seharihari : a. Mengenali emosi diri atau kesadaran diri (self-awareness) Kesadaran diri adalah kemampuan seseorang untuk mengenali perasaan diri sendiri sewaktu perasaan itu timbul. Hal ini menyebabkan individu menyadari emosi yang sedang dialami serta mengetahui penyebab emosi tersebut terjadi serta memahami kuaitas, intensitas, dan durasi emosi yang sedang berlangsung. Kesadaran akan intensitas emosi memberi informasi mengenai besarnya pengaruh kejadian tersebut pada individu. Intensitas yang tinggi cenderung memotivasi individu untuk bereaksi sedangkan intensitas emosi yang rendah tidak banyak mempengaruhi individu secara sadar. Kesadaran akan durasi emosi yang berlangsung membuat individu dapat berpikir dan mengambil keputusan yang selaras dalam mengungkapkan emosinya. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan diri dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah (Mutadin, 2002). Menurut Mayer (dalam Goleman, 2004) kesadaran diri adalah waspada baik terhadap suasana hati maupun pikiran kita tentang suasana hati dimana orang
  5. 5. 10 akan cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi yakni dengan 1) Sadar diri Peka akan suasana hati mereka ketika mengalaminya. Kejernihan pikiran mereka tentang emosi telah melandasi kemandirian mereka dan keyakinan akan pendirian mereka. Mereka cenderung melihat kehidupan secara positif dan memiliki jiwa yang sehat. Apabila suasana hati sedang buruk, mereka mampu melepaskan diri dari suasana hati itu dengan lebih cepat. Hal ini terjadi karena mereka tidak risau dan larut di dalamnya, sehingga ketajaman pola pikir mereka menjadi pendorong untuk mengatur emosi. 2) Tenggelam dalam permasalahan Individu-individu yang seringkali dikuasai oleh emosi dan tidak berdaya untuk melepaskan diri, seolah-olah suasana hati mereka telah mengambil alih kekuasaan diri. Mereka mudah marah dan amat tidak peka terhadap yang dialami sehingga larut ke dalam perasaan tersebut sehingga tidak mampu untuk mencari perspektif baru. Akibatnya, mereka kurang berusaha untuk melepaskan diri dari suasana hati yang buruk. Seringkali mereka merasa kalah dan secara emosional mereka lepas kendali. 3) Pasrah Individu ini peka terhadap apa yang mereka rasakan, mereka juga cenderung menerima suasana hati mereka dan tidak berusaha untuk mengubahnya. Orang yang dapat mengenali perasaan yang muncul pada dirinya merupakan orang yang memiliki keputusan-keputusan pribadi dengan lebih mantap. Kesadaran diri membuat individu menjadi waspada dan tidak terhanyut ke dalam aliran emosi tersebut. Kurangnya kewaspadaan diri seseorang dapat mengakibatkan orang tersebut mudah larut dalam aliran emosi yang digunakan sebagai panduan dalam melakukan tindakan. b. Mengelola emosi atau pengendalian diri (self-control) Mengelola emosi atau pengendalian diri berarti menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat, sehingga terjadi keselarasan antara emosi dan lingkungan. Dengan kata lain, individu dapat mengungkapkan emosinya dengan
  6. 6. 11 kadar yang tepat pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat (Aristoteles dalam Goleman, 2004). Tujuan pengendalian diri adalah keseimbangan emosi bukan menekan emosi, karena setiap perasaan memiliki nilai dan makna tersendiri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila : 1) Mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan 2) Dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan dapat bangkit kembali dengan cepat dari semua itu c. Memotivasi diri (self-motivation) Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui : 1) Cara mengendalikan dorongan hati Semua emosi, sesuai dengan sifatnya membawa pada salah satu dorongan untuk bertindak. Setelah individu dapat menguasai dorongan hati tersebut, mereka mampu membaca situasi sosial dimana penundaan akan memberi manfaat lebih, mereka juga mampu mengacak perhatian agar tidak selalu berpusat pada godaan yang dihadapi, dan mampu menghibur diri selama mempertahankan kegigihan yang diperlukan untuk meraih sasaran. 2) Derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang Orang yang pintar mengatur emosi dapat memanfaatkan kecemasan antisipasi, misalnya bila akan berpidato atau mau ujian, untuk memotivasi diri guna mempersiapkan diri baik-baik, sehingga dapat melakukannya dengan sempurna. 3) Harapan Harapan adalah lebih dari pandangan yang optimis bahwa segala sesuatunya akan menjadi beres, mempunyai harapan berarti seseorang tidak akan terjebak dalam kecemasan, bersikap pasrah, atau depresi dalam menghadapi sulitnya tantangan atau kemunduran. 4) Optimisme Seligman (dalam Goleman, 2004) orang yang optimis menganggap kegagalan disebabkan oleh sesuatu yang dapat diubah sehingga mereka dapat berhasil pada masa-masa mendatang. 5) Keadaan flow (mengikuti aliran)
  7. 7. 12 Keadaan flow yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dalam flow, emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan tetapi juga bersifat mendukung, memberi tenaga, dan selaras dengan tugas yang sedang dihadapi. d. Mengenali emosi orang lain (empati) Mengenali emosi berarti kemampuan untuk menangkap sinyal-sinyal sosial secara tersembunyi yang mengisyaratkan hal-hal yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain atau lebih dikenal dengan empati. Empati dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain. e. Membina hubungan dengan orang lain atau keterampilan sosial (social skill) Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Untuk menangani emosi orang lain dibutuhkan dua keterampilan emosi yaitu pengendalian diri dan empati. Dengan landasan ini keterampilan berhubungan dengan orang lain akan menjadi matang atau tidak akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. Kemampuan ini memungkinkan seseorang membentuk suatu hubungan untuk menggerakkan dan mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan, mempengaruhi dan membuat orang lain merasa nyaman. Apabila individu tidak memiliki keterampilan-keterampilan semacam ini dapat menyebabkan seseorang seringkali dianggap angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan. Berdasarkan uraian di atas, komponen-komponen kecerdasan emosi yaitu mengenali emosi diri, dapat mengelola emosi dan mengendalikannya, dapat memotivasi diri, dapat mengenali emosi orang lain.
  8. 8. 13 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional DePorter, B., Mark, R., dan Mourie, S.S. (2002) menyatakan guru adalah salah satu faktor yang berperan dalam pembentukan kecerdasan emosi siswanya karena : a. Guru harus menggunakan keadaan positif anak untuk menarik mereka ke dalam pembelajaran di bidang yang dapat mengembangkan potensi mereka dengan memberikan tugas, membanjiri mereka dengan tantangan (Gardner dalam DePorter, B., Mark, R., & Mourie, S.S., 2002), b. Guru harus membangun hubungan dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian guna membangun kehidupan yang bergairah, membukakan jalan untuk memasuki dunia baru mereka, mengetahui kuatnya minat mereka, berbagi kesuksesan, berbicara dengan bahasa hati sehingga dapat memudahkan guru dalam melibatkan siswa, mengelola kelas, memperpanjang perhatian selama belajar, serta meningkatkan kegembiraan, c. Menumbuhkan rasa saling memiliki akan membuat orang dengan sukarela menyumbang, merasa berdaya, dan diterima apa adanya, dengan menyingkirkan ancaman, mengizinkan otak untuk bersantai sejenak, melibatkan emosi sehingga dapat mengoptimalkan proses belajar, rasa saling memiliki sejati membuat orang merasa berdaya untuk keluar dan mempertaruhkan zona nyaman mereka demi kesuksesan dan pembelajaran. Rasa ini juga dapat menciptakan bahasa dukungan dan standar dalam memperlakukan satu sama lain dengan hormat, d. Memberikan teladan bagaimana membangun hubungan, memperbaiki kredibiltitas, dan meningkatkan pengaruh yang di timbulkan dari modelling dalam diri individu juga salah satu cara ampuh dalam membangun hubungan dan memahami orang di sekitarnya, semakin mereka tertarik dan mulai mencontoh kita sebagai figur yang layak dijadikan obyek modeling, e. Memberikan disiplin yang adil, saat adu kekuatan dan kemampuan dengan landasan yang kukuh serta garis pedoman yang jelas, serta setiap orang bermain dengan peraturan yang sama tanpa adanya perbedaan, f. Mengajarkan siswa cara berkonsentrasi, mencatat yang efektif, belajar untuk ujian, meningkatkan kecepatan membaca, pemahaman, dan kemampuan mereka untuk menghafalkan, berarti guru sudah mengajarkan cara menjadi pelajar yang
  9. 9. 14 sukses yang dapat berkarier dalam akademis serta dapat melihat pada diri sendiri sebagai individu sepanjang hidupnya. Menurut Goleman (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional adalah a. Keluarga Kehidupan keluarga merupakan hal yang paling berpengaruh dalam membangun kecerdasan emosi. Keluarga merupakan sekolah pertama untuk mempelajari emosi. Orang tua yang kecerdasan emosinya tinggi akan menguntungkan anak, karena orang tua dapat memilih tindakan-tindakan dan pola asuh yang sesuai bagi anak untuk meningkatkan kecerdasan emosi anak. Gottman (dalam Aprilia, 2007), mengadakan penelitian terhadap 119 keluarga, dengan mengamati bagaimana orang tua dan anak-anak saling bereaksi dalam situasi-situasi penuh emosi, membagi tipe orang tua menjadi dua kategori besar : 1) Orang tua yang memberi bimbingan kepada anak-anak mereka tentang dunia emosi (pelatih emosi), 2) Orang tua yang tidak melakukannya. b. Pengalaman Semakin anak bertambah dewasa, semakin sedikit waktu yang dihabiskan dalam keluarga. Pengalaman-pengalaman di luar rumah akan memperkaya kecerdasan emosi anak. Hal-hal yang ditemui di luar rumah ada yang dapat meningkatkan atau justru mengurangi kecerdasan emosi. Teori Bandura mengenai belajar sosial mengatakan seseorang akan mempelajari perannya dalam kontak sosial (dalam Sarwono, 2004). Demikian juga dengan kecerdasan yang dapat dipelajari dari adanya kontak sosial dengan orang lain (Goleman, 2004). Sarwono (2004) dalam artikelnya menyebutkan beberapa hal yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosional : a. Peran orang tua Di Barat, ekspresi positif orang tua umumnya dinyatakan berhubungan dengan kemampuan sosialisasi yang positif dari anak, sedangkan emosi negatif orang tua
  10. 10. 15 berkaitan dengan sosialisasi negatif (Eisenberg dkk., dalam Sarwono 2004). Sementara itu, hampir semua penelitian menyatakan bahwa sikap, pengasuhan dan kondisi orang tua, secara langsung atau tidak akan mempengaruhi kemampuan pengendalian emosi anak. Eisenberg, dkk. (dalam Sarwono, 2004) mengemukakan bahwa perilaku emosional orang tua berpengaruh pada perilaku pengendalian diri dan pernyataan diri anak. Tetapi sebaliknya tidak terbukti bahwa perilaku anak berpengaruh pada gaya asuh orang tua. b. Perlakuan yang tidak baik Dalam penelitiannya Shields (dalam Sarwono, 2004) ditemukan bahwa individu yang diperlakukan dengan baik lebih menunjukkan perilaku kesulitan dalam menyesuaikan diri (maladaptive). Perilaku maladaptive yang dimaksud adalah ketidakmampuan mengendalikan amarah dan menolak berteman, sedangkan perilaku yang adaptif adalah perilaku prososial dan suka berteman. Chang melakukan penelitian di Cina terhadap 325 sampel anak, menunjukkan bahwa perlakuan kasar dari orang tua berpengaruh langsung dan tidak pada pengendalian emosi anak dan pada gilirannya mempengaruhi agresivitas anak, perlakuan kasar ayah juga lebih mempengaruhi agresivitas anak. c. Sekolah Disamping pengaruh orang tua terhadap prestasi individu di sekolah, kecerdasan emosional individu di sekolah dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan emosional para kepala sekolah, dan hubungan dengan teman-temannya. Misalnya pada penelitian terhadap 589 kepala sekolah (pria dan wanita, SLTP dan SLTA) membuktikan bahwa ada hubungan yang kuat antara kecerdasan emosional kepala sekolah dengan bagaimana cara mereka mengelola konflik (Noghabs, dalam Sarwono 2004). d. Gender, usia dan budaya 1) Gender Pria dengan kecerdasan emosional yang tinggi memiliki komitmen yang tinggi, bertanggung jawab, simpatik dan menunjukkan keperduliannya dalam hubungan sosial. Ia mudah bergaul, ceria dan tidak mudah merasa cemas, mereka mampu mengatur kehidupan emosi mereka sehingga dapat merasa
  11. 11. 16 tenang, senang dengan diri sendiri dan orang lain serta lingkungan (Goleman, 2004). Mubayidh (2006) menjelaskan bahwa “Setiap jenis kelamin memiliki kecerdasan emosional dalam batas-batas tertentu sesuai dengan potensi setiap individu”, yang dimaksudkan dalam batas-batas tertentu sesuai potensi individu adalah masing-masing individu memiliki cara khusus untuk mengekspresikan emosionalnya yang dicerminkan melalui wilayah-wilayah kecerdasan emosional. Wilayah-wilayah kecerdasan emosional berkembang dengan berbeda sesuai dengan potensi kecerdasan emosional yang dimiliki oleh masing-masing jenis kelamin. Menurut Mubayidh (2006) pada umumnya laki-laki lebih berkembang dalam hal perasaan jati diri dan kemampuan dalam menghadapi kesulitan (mengelola diri sendiri), sedangkan pada perempuan lebih berkembang dalam hal hubungan antar sesama, tanggung jawab sosial dan empati dengan orang lain. Perasaan jati diri maksudnya yaitu laki-laki lebih mampu untuk menghargai jati diri dan potensi yang dimiliki, kemampuan menghadapi kesulitan maksudnya adalah laki-laki lebih mampu menghadapi kemungkinan adanya peristiwa buruk yang menimpanya, kesulitan yang dihadapinya, serta tegang dalam menghadapi situasi tanpa kehilangan kendali dan kehilangan inisiatif; maksud dari hubungan antar sesama yaitu perempuan lebih mampu membangun hubungan timbal balik yang saling menguntungkan, mampu melestarikan hubungan yang ditandai dengan adanya sifat kasih sayang, dalam hal tanggung jawab sosial, perempuan mampu menunjukkan kerja sama dengan orang lain, perempuan mampu menjadi anggota yang memberikan perannya baik dalam berhubungan dengan anggota-anggota lain dalam kelompoknya, dalam hal yang berhubungan dengan empati, perempuan lebih mampu mengenali, merasakan dan menghargai apa yang dirasakan oleh orang lain. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hernowo (2010) bahwa rata-rata wilayah kecerdasan emosi tertinggi pada laki-laki terdapat pada kemampuan dalam mengelola emosi, sedangkan rata-rata wilayah kecerdasan emosi tertinggi pada perempuan terdapat pada
  12. 12. 17 kemampuan dalam mengenali emosi diri sendiri (tanpa perbandingan jenis kelamin), dan dalam membina hubungan (dengan perbandingan jenis kelamin) kecuali pada wilayah empati. Zahara (2008) menyatakan bahwa wanita yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dapat mengekspresikan perasaan dengan tepat, hal ini menyebabkan mereka lebih asertif. Mereka mudah bergaul dan merasa dunia penuh arti bagi dirinya. Mereka dapat mengendalikan stres, jarang cemas apalagi tenggelam dalam kepedihan yang berlarut-larut. Mereka merasa tenang, spontan, dan terbuka terhadap pengalaman baru. 2) Usia Menurut Mubayidh (2006) kecerdasan emosional manusia akan bertambah tinggi seiring dengan bertambahnya umur. Puncak kecerdasan emosional terjadi pada akhir usia 40 tahun, sedangkan pada kecerdasan intelektual (IQ) mencapai puncaknya pada masa remaja, setelah melewati usia 50 tahun, kecerdasan intelektual seseorang menjadi menurun (Hernowo, 2010). Penurunan ini tidak terjadi pada kecerdasan emosional (EQ), lebih lanjut Mubayidh (2006) menjelaskan bahwa ada sebagian orang yang kecerdasan emosionalnya stabil dan tidak berubah sesuai dengan perjalanan waktu. Seseorang mungkin sangat rajin di usia 16 tahun, dan masih stabil bahkan saat sudah berusia 40 tahun, meskipun ada pula orang yang kecerdasan emosionalnya berubah secara drastis karena pengaruh keadaan dan peristiwa yang dialami (Hernowo, 2010). Hernowo (2010) mengemukakan bahwa hasil data deskripsi subjek berdasarkan usia diperoleh data bahwa rata-rata kecerdasan emosional yang paling tinggi terdapat pada subjek yang berusia 18 tahun, sedangkan kecerdasan emosional yang paling rendah terdapat pada subjek yang berusia 14 tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan tingkat usia mempengaruhi kecerdasan emosional.
  13. 13. 18 3) Budaya Sebuah penelitian di Jepang membuktikan bahwa laki-laki Jepang cerewet soal nilai-nilai pelajaran, tetapi cuek dalam membantu Ibu di rumah dan pengendalian emosi (misalnya menahan emosi), sedangkan perempuan Jepang sebaliknya, rewel dalam pekerjaan rumah tangga, namun tetap peduli soal pelajaran sekolah dan dapat melakukan pengendalian amarah; walaupun menurut antropolog Benedict, orang Jepang berbudaya malu dan orang tua tidak memberi pelatihan khusus tentang pengendalian emosi (Sogon dalam Sarwono 2004). Penelitian pada 72 anak prasekolah membuktikan bahwa mereka mampu mengerti emosi orang lain. Kemampuan ini berkembang sejalan dengan pertambahan usia. Individu yang sudah lebih besar mampu memahami emosi dalam hubungan antar tiga orang, dan dapat menyesuaikan diri dengan baik kepada emosi itu (Hayasi dalam Sarwono 2004). Berdasarkan uraian di atas, faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional yaitu guru, keluarga atau orang tua, pengalaman, perlakuan yang tidak baik, sekolah, gender, usia dan budaya. 5. Aspek-aspek Kecerdasan Emosional Dalam artikel yang terdapat di Harper’s Magazine menyebutkan bahwa salah satu aspek kecerdasan emosional yaitu kecerdasan sosial (Goleman, 2004). Salovey dan Mayer (dalam Aprilia, 2007) mengemukakan bahwa ada empat macam aspek dasar kecerdasan emosional : a. Mengendalikan emosi Ketidakmampuan mengendalikan emosi, atau membedakan dengan benar emosi, membuat semua keterampilan lain tidak berguna. Ada dua lokasi dalam mengendalikan emosi (Davis dalam Aprilia, 2007) : 1) Pada diri sendiri Emosi dapat memberikan informasi atau dengan jelas memberitahu bagaimana anda sedang mengevaluasi sesuatu, orang, benda, situasi, gagasan. Mengetahui secara akurat emosi dapat memberikan masukan tentang apa yang disukai, tidak disukai, atau yang bertentangan.
  14. 14. 19 Emosi juga dapat memberikan petunjuk bagaimana berperilaku yang tepat dalam situasi yang dihadapi. Banyak emosi merupakan tanda bagi anda tentang kemana akan mengarahkan perhatian dan bagaimana mengarahkan energi. 2) Pada lingkungan Emosi dapat membuat seseorang peka terhadap situasi yang terjadi serta dapat menempatkan dirinya di lingkungan tempat ia berada. b. Memahami emosi Memahami emosi berarti mengetahui dengan seksama penyebab, akibat serta cara berkembang dan berubahnya emosi setiap saat sangat penting sementara individu berusaha menggunakan emosi agar berfungsi dengan efektif di dunia ini. Hal-hal yang harus dipahami tentang emosi adalah apa yang menyebabkannya. Memahami penyebab emosi individu itu sendiri, tetapi juga ketika dirasakan orang lain dan lebih penting lagi adalah mengetahui mengapa perasaan itu muncul. Hal kedua dalam memahami emosi adalah pengaruh yang dihasilkan akibat emosi, mengetahui asal emosi, mengetahui bagaimana emosi mempengaruhi orang yang mengalami juga penting. Keuntungan memiliki pengertian emosi yang akurat adalah membantu menghindari bersikap emosional akibat mendapatkan pengaruh yang tidak diinginkan dari tingkah laku. Memahami emosi diri akan memiliki manfaat serupa dengan memahami emosi orang lain. Terakhir, berkaitan dengan memiliki pengertian umum tentang cara kerja emosi. Kemampuan memahami emosi lebih banyak ditentukan oleh pengetahuan individu tentang teori emosi karena dengan memiliki pengetahuan tentang teori emosi dapat membantu individu, khususnya ketika sedang dihadapkan dengan situasi baru yang melibatkan orang-orang yang mungkin kurang dikenal. Ketika ketiga bentuk emosi dikombinasikan, campuran yang kuat akan terbentuk dengan mengombinasikan pemahaman penyebab emosi, akibat emosi dan cara kerja dapat mengantisipasi perilaku orang lain dengan lebih baik, bahkan yang paling mudah dapat mempengaruhi reaksi emosi orang disekitarnya.
  15. 15. 20 c. Mengatur emosi Keterampilan ini pada intinya adalah tentang bereaksi dengan suatu cara terhadap emosi yang kita hadapi dalam hidup. Kemampuan mengendalikan emosi membuat individu dapat memiliki fleksibilitas yang besar dalam emosi serta kehidupan sosial. Kemampuan ini dapat membuat individu dapat mengendalikan rangsangan sehingga dapat memaksimalkan rangsangan, lebih tabah dalam menghadapi frustasi dan godaan, mencegah dampak buruk dari hasutan orang lain, serta dapat bertindak tepat meskipun ada tekanan dari orang lain untuk melakukan hal yang sebaliknya. Kemampuan ini juga dapat membantu individu untuk membuat orang lain, tidak hanya mengurangi atau meningkatkan emosi positif, tetapi meningkatkan keinginan orang lain untuk berusaha keras dan menghdapi tantangan. d. Menggunakan emosi Penggunaan emosi adalah pengembangan alami terhadap pengaturan emosi. Menggunakan emosi dengan sukses berarti mampu ketika diperlukan. Memanfaatkan kekuatan emosi ini untuk mencapai sasaran, misalnya : 1) Menggunakan emosi untuk mempengaruhi kinerja Emosi dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja dengan beberapa cara, misalnya dengan memanfaatkan motivasi rasa malu dan kecemasan social, mengenali manfaat kekuatan kemarahan dan mengubah strategi dalam mecapai sasaran, menggunakan ketekunan untuk mengatur segala sesuatu sehingga tahu bahwa tidak tekun hanya akan membuahkan hasil yang sangat tidak diinginkan, dan juga menggunakan emosi dan sejarah emosi untuk membantu mencapai sasaran. 2) Menggunakan emosi untuk meningkatkan diri secara umum Dengan menggunakan teknik penilaian kembali secara kognitif dan perencanaan aktif sangat berguna untuk menciptakan dan mempertahankan suasana hati yang positif. Pengaruh suasana hati yang positif cenderung membuat anda lebih terbuka terhadap pengalaman, kemungkinan besar mau menyelidiki, menjadi kreatif dan mau mencoba hal-hal baru.
  16. 16. 21 3) Menggunakan emosi untuk mempengaruhi orang lain Dengan membuat orang lain bertindak dengan cara yang kita inginkan. Pada dasarnya dapat dianggap sebagai sasaran utama hubungan sosial, dan nampak bahwa kecerdasan emosi yang terbangun secara baik. 4) Menggunakan emosi untuk mengatasi konflik dengan lebih baik Perselisihan dengan orang lain tidak dapat dihindari, tetapi cara itu terjadi sebagian berada dalam kendali individu. Emosi berbahaya dan melukai. Merupakan sesuatu yang berhasil dipengaruhi orang yang cerdas secara emosional misalnya dengan cara : Merespon dengan tepat di saat awal konflik akan terjadi, respon yang membangun cenderung membuat segalanya lebih baik, memberikan informasi kepada orang lain tentang apa yang individu rasakan dan alasannya, tujuannya adalah menunjukkan emosi individu dengan tepat dan tidak menyalahkan orang lain; dan tidak memberikan respon terhadap hasutan. Menurut Stein dan Book (dalam Hapsariyanti, 2006) terdapat beberapa aspek kecerdasan emosional yaitu a. Empati Kemampuan untuk menyadari, memahami dan menghargai perasaan dan pikiran orang lain. Empati adalah peka terhadap apa, bagaimana dan latar belakang perasaan dan pikiran orang lain sebagaimana orang tersebut merasakan dan memikirkannya. Bersikap empatik artinya mampu membaca orang lain dari sudut pandang emosional. Orang empatik peduli pada orang lain dan memperlihatkan minat dan perhatiannya pada orang lain. Stone dan Dillehunt (dalam Hapsariyanti, 2006) menambahkan bahwa empati merupakan kemampuan memahami perasaan dan masalah orang lain, dan berpikir dengan sudut pandang individu dengan menghargai setiap perbedaan perasaan orang mengenai berbagai hal. b. Hubungan antarpribadi Kemampuan membina dan memelihara hubungan yang saling memuaskan yang ditandai dengan keakraban dan saling memberi serta menerima kasih sayang. Unsur kecerdasan emosional ini tidak hanya berkaitan dengan keinginan untuk
  17. 17. 22 membina persahabatan dengan orang lain, tetapi juga dengan kemampuan merasa tenang dan nyaman dalam jalinan hubungan tersebut. c. Sikap fleksibel Kemampuan menyesuaikan emosi, pikiran dan perilaku dengan perubahan situasi dan kondisi. Unsur kecerdasan emosional ini mencakup seluruh kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak biasa, tidak terduga dan dinamis. Orang yang fleksibel adalah orang yang tangkas dan mampu bekerja sama. d. Kesadaran diri secara emosional Kemampuan untuk mengenal dan memilah-milah perasaan, memahami hal yang sedang dirasakan dan mengapa hal itu dirasakan, dan mengetahui penyebab munculnya hal tersebut. Stone dan Dillehunt (dalam Hapsariyanti, 2006) mengatakan bahwa kesadaran diri secara emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengamati diri dan mengenal perasaan-perasaannya, dan mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan dan reaksinya terhadap sesuatu. e. Optimisme Kemampuan melihat sisi terang kehidupan dan memelihara sikap positif, sekalipun ketika berada dalam kesulitan. Optimisme mengasumsikan adanya harapan dalam menghadapi kehidupan. Optimisme adalah pendekatan yang positif terhadap kehidupan sehari-hari. f. Kebahagiaan Kemampuan untuk merasa puas dengan kehidupan yang dialami, bergembira dengan diri sendiri dan dengan orang lain, serta bersenang-senang. Kebahagiaan adalah gambaran dari kepuasan diri, kepuasan secara umum dan kemampuan menikmati hidup. Seseorang yang bahagia sering merasa senang dan nyaman, baik selama bekerja maupun pada waktu luang, menikmati hidup dengan bebas, serta menikmati kesempatan yang ada disetiap menjalani kehidupan. g. Kemandirian Kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berpikir dan bertindak, serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional. Seseorang yang mandiri mengandalkan dirinya sendiri dalam merencanakan dan
  18. 18. 23 membuat keputusan penting. Selain itu, seseorang yang mandiri juga bisa saja meminta dan mempertimbangkan pendapat orang lain sebelum akhirnya membuat keputusan yang tepat untuk diri sendiri. Perlu diketahui, seseorang yang meminta pendapat orang lain jangan selalu di anggap pertanda ketergantungan. Orang yang mandiri mampu bekerja sendiri dan tidak mau bergantung dengan orang lain dalam memenuhi harapan dan kewajiban tanpa dikendalikan oleh sesuatu yang ada. Sedangkan menurut Goleman (dalam Hapsariyanti, 2006) terdapat pula aspekaspek : a. Mengenali emosi diri Kesadaran diri dengan mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan diri sendiri yang sesungguhnya membuat seseorang berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah orang yang andal bagi kehidupan diri seseorang itu sendiri, karena mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan diri yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan mengenai suatu masalah maka seseorang tersebut akan dapat memahami keterbatasan yang ada pada dirinya. b. Mengelola emosi Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan baik adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri merupakan kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan ini akan terus muncul bertarung melawan perasaan-perasaan buruk yang menguasai dirinya, sementara orang yang pandai dapat bangkit kembali dengan jauh lebih baik seperti yang diharapkan. c. Memotivasi diri sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitannya untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan
  19. 19. 24 menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional adalah menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati sehingga terciptalah suatu keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang dilakukan dan dikerjakan. d. Mengenali emosi orang lain atau berempati Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain sehingga orang lain merasa nyaman dan tenang berada di dekatnya. e. Membina hubungan Seni dalam membina hubungan, sebagian besar merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antarpribadi. Orang-orang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan hubungan yang baik dengan orang lain. Salovey, Stroud, Woolery dan Epel (dalam Hapsariyanti, 2006) berkata ada beberapa aspek penting kecerdasan emosi yaitu sejauh mana kemampuan individu untuk melakukan refleksi terhadap perasaannya sendiri dan mengatur perasaan tersebut. Kemampuan ini harus diawali dengan adanya kemauan individu untuk memperhatikan emosinya dan mengalami emosi tersebut dengan jelas (Salovey, dkk. dalam Hapsariyanti, 2006). Terdapat beberapa aspek kecerdasan emosional yang merupakan ciri-ciri individu yang cerdas secara emosional sehingga mampu mengungkapkan perasaannya pada diri dan orang lain : a. Atensi Kemampuan individu untuk memperhatikan mood dan emosinya. b. Kejelasan Kemampuan individu untuk membedakan perasaan-perasaannya. c. Pengaturan Kemampuan individu untuk mengatur moodnya. Berdasarkan uraian di atas, aspek-aspek kecerdasan emosional meliputi mengenal dan memilah perasaan, mengendalikan emosi, memahami emosi, mengatur emosi,
  20. 20. 25 menggunakan emosi, empati, kemampuan membina dan memelihara hubungan dengan orang lain, menyesuaikan emosi, kemampuan untuk dapat melihat sisi terang kehidupan sekalipun ketika berada dalam kesulitan, kemampuan untuk merasa puas dengan kehidupan yang dialami serta bergembira dengan diri sendiri dan orang lain, kemampuan untuk mengatasi mengarahkan dan mengendalikan diri dalam berpikir dan bertindak serta tidak bergantung pada orang lain. 6. Area Kecerdasan Emosi Baron (dalam Stein & Book, 2004) ada lima area dalam kecerdasan emosi : a. Area intrapribadi Area ini terkait dengan kemampuan seseorang untuk mengenal dan mengendalikan diri sendiri yang melingkupi kesadaran diri, perilaku asertif, kemandirian, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Kesadaran diri merupakan kemampuan untuk mengenali perasaan dan mengapa seseorang merasakannya, pengaruh perilaku seseorang terhadap orang lain. Perasaan asertif merupakan kemampuan menyampaikan secara jelas pikiran dan perasaan seseorang saat membela diri dan mempertahankan pendapat. Kemandirian merupakan kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri, berdiri dengan kaki sendiri. Penghargaan diri yaitu kemampuan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan seseorang dan menyenangi diri sendiri meskipun memiliki kelemahan. Aktualisasi diri merupakan kemampuan mewujudkan potensi yang dimiliki seseorang dan merasa puas dengan potensi yang diraih dalam kehidupan pribadi. b. Area antarpribadi Berkaitan dengan keterampilan bergaul yang dimiliki seseorang serta kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain yang meliputi empati, tanggung jawab sosial dan hubungan antarpribadi. Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain, dan untuk melihat dunia dari sudur pandang orang lain. Tanggung jawab sosial adalah kemampuan untuk menjadi angota masyarakat yang dapat bekerja sama dan yang bermanfaat bagi kelompok masyarakatnya. Hubungan antarpribadi mengacu pada kemampuan untuk
  21. 21. 26 menciptakan dan mempertahankan hubungan yang saling menguntungkan, dan ditandai oleh rasa memberi dan menerima serta adanya rasa kedekatan emosional. c. Area penyesuaian diri Berkaitan dengan kemampuan untuk bersikap lentur dan realistis, dan untuk memecahkan aneka masalah yang muncul, yang meliputi uji realitas, fleksibel, dan pemecahan masalah. Uji realitas merupakan kemampuan untuk melihat sesuatu sesuai kenyataannya, bukan seperti yang diinginkan atau ditakuti. Fleksibel diperlukan untuk menyesuaikan perasaan pikiran dan tindakan dengan keadaan yang berubah-ubah. Pemecahan masalah merupakan kemampuan untuk mendefinisikan permasalahan, kemudian bertindak untuk mencari pemecahan yang jitu. d. Area pengendalian stres Terkait dengan kemampuan seseorang untuk bertahan menghadapi stres dan mengendalikan impuls, yang meliputi ketahanan menanggung stres, dan mengendalikan impuls. Ketahanan menanggung stres diperlukan untuk tetap tenang dan konsentrasi, serta tetap tegar dalam menghadapi konflik emosi. Pengendalian impuls merupakan kemampuan untuk menahan atau menunda keinginan untuk bertindak. e. Area suasana hati umum Suasana hati yang umum berkaitan dengan keoptimisan dan kebahagiaan dalam diri. Optimisme adalah kemampuan untuk mempertahankan sikap positif realistis yang sulit. Kebahagiaan adalah kemampuan untuk mensyukuri kehidupan, menyukai diri sendiri dan orang lain, dan untuk bersemangat serta bergairah dalam melakukan setiap kegiatan. Berdasarkan uraian di atas, area kecerdasan emosi meliputi area : intrapribadi, antarpribadi, penyesuaian diri, pengendalian stress, suasana hati umum. 7. Ciri-ciri Individu yang Memiliki Kecerdasan Emosional Zahara (2008) ciri-ciri individu yang memiliki kecerdasan emosional : a. Pria dengan kecerdasan emosional yang tinggi memiliki komitmen yang tinggi, bertanggung jawab, simpatik dan menunjukkan keperduliannya dalam hubungan
  22. 22. 27 sosial. Ia mudah bergaul, ceria dan tidak mudah merasa cemas, mereka mampu mengatur kehidupan emosi mereka sehingga dapat merasa tenang, senang dengan diri sendiri dan orang lain serta lingkungan (Goleman, 2004), b. Wanita yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dapat mengekspresikan perasaan dengan tepat, hal ini menyebabkan mereka lebih asertif. Mereka mudah bergaul dan merasa dunia penuh arti bagi dirinya. Mereka dapat mengendalikan stres, jarang cemas apalagi tenggelam dalam kepedihan yang berlarut-larut. Mereka merasa tenang, spontan, dan terbuka terhadap pengalaman baru. Menurut Richard Herinstein dan Charles Murray (dalam Goleman, 2004) kecerdasan emosional selain memiliki beberapa faktor juga memiliki beberapa ciriciri tambahan yaitu a. Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri b. Bertahan menghadapi frustasi c. Mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan d. Mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir e. Berempati dan berdoa Berdasarkan uraian di atas, ciri-ciri individu yang memiliki kecerdasan emosional yaitu punya komitmen yang tinggi, bertanggung jawab, simpatik, menunjukkan keperduliannya, berempati, mudah bergaul, ceria, tidak mudah cemas, mampu mengatur emosi, asertif, dapat memotivasi diri, dapat bertahan menghadapi frustasi, dapat mengendalikan dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan, dapat menjaga agar stres tidak mengendalikan pikiran dan perasaan. B. Kelas Unggulan 1. Pengertian Kelas Unggulan Kelas unggulan adalah kelas tertentu dengan sejumlah siswa yang telah dikelompokkan karena prestasinya yang menonjol (di atas normal), kemudian diberi program pengajaran dengan kurikulum yang berlaku, ditambah pendalaman materi secara khusus meliputi mata pelajaran Matematika, IPA dan Bahasa
  23. 23. 28 Inggris, dengan standar prestasi melalui sistem evaluasi tertentu http://www.sdnsukasari4tng. sch.id /Info-Sekolah/kelas-unggulan.php). Kelas Unggulan adalah kelas yang dipersiapkan secara dini untuk pengembangan kelas yang memiliki sejumlah siswa dengan minat, bakat, kemampuan, dan kecerdasan yang tinggi, diasuh oleh sejumlah pembimbing atau guru atau tutor yang profesional dan handal di bidangnya, melaksanakan kurikulum dengan menekankan pada mata pelajaran Matematika, IPA, Seni, Olahraga, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Ketrampilan Komputer, serta didukung sarana dan prasarana yang memadai (http://smpyabakii1-clp.sch.id/ profil.php?num=27). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kelas unggulan adalah kelas tertentu yang dipersiapkan secara dini untuk pengembangan kelas yang memiliki sejumlah siswa dengan minat, bakat, kemampuan, dan kecerdasan yang tinggi, diasuh oleh sejumlah pembimbing atau guru atau tutor yang profesional dan handal di bidangnya dengan sejumlah siswa yang telah dikelompokkan karena prestasinya yang menonjol (di atas normal), kemudian diberi program pengajaran dengan kurikulum yang berlaku, ditambah pendalaman materi secara khusus meliputi mata pelajaran Matematika, IPA, Seni, Olahraga, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Ketrampilan Komputer, dengan standar prestasi melalui sistem evaluasi tertentu serta didukung sarana dan prasarana yang memadai. 2. Dasar Konseptual Kelas Unggulan Dasar konspetual kelas unggulan (http://www.sdnsukasari4tng.sch.id/InfoSekolah/kelas-unggulan.php): a. Setiap anak pada dasarnya memiliki kemampuan, bakat dan minat yang berbeda-beda, maka setiap anak perlu mendapat pelayanan belajar yang memadai agar kemampuan bakat dan minat yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal.
  24. 24. 29 b. Anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, apabila tidak memperoleh pelayanan khusus, akan menimbulkan perilaku negatif seperti : lekas bosan terhadap tugas rutin, memaksakan pendapat kepada orang lain, kurang sikap tenggang rasa, acuh tak acuh, dan mudah tersinggung yang akhirnya akan menghambat perkembangan dirinya. c. Pengelompokan siswa yang memiliki kecerdasan di atas normal ke dalam kelas khusus, akan memudahkan guru/pendidik dalam memberikan pelayanan belajar, sehingga siswa akan memperoleh kesempatan berkembang lebih cepat. 3. Tujuan Kelas Unggulan Tujuan kelas unggulan (www.sdnsukasari4tng.sch.id/Info-Sekolah/ kelasunggulan.php): a. Memberi kesempatan kepada siswa yang memiliki kecerdasan di atas normal untuk mendapat pelayanan khusus, sehingga mempercepat pengembangan bakat dan minat yang dimilikinya. b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih cepat menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan, sesuai dengan ketentuan kurikulum sekolah dasar (khusus kelas unggulan). c. Mempersiapkan lulusan menjadi siswa unggul dalam ilmu pengetahuan, budi pekerti dan keterampilan sesuai dengan tingkat perkembangannya. 4. Ciri-ciri Kelas Unggulan Kelas unggulan adalah kelas yang dipersiapkan secara dini untuk pengembangan kelas yang memiliki ciri-ciri (dalam http://smpyabakii1-clp.sch.id/profil.php?num= 27) : a. Memiliki sejumlah siswa dengan minat, bakat, kemampuan, dan kecerdasan yang tinggi.
  25. 25. 30 b. Diasuh oleh sejumlah pembimbing atau guru atau tutor yang profesional dan handal di bidangnya. c. Melaksanakan kurikulum dengan menekankan pada mata pelajaran Matematika, IPA, Seni, Olahraga, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Ketrampilan Komputer. d. Didukung sarana dan prasarana yang memadai, antara lain : 1) Kelas yang nyaman dan representatif. 2) Laboratorium IPA, Bahasa dan Komputer. 3) Ruang Pusat Belajar Sekolah (PBS) multimedia yang dilengkapi dengan sistem audiovisual yang lengkap. 4) Perpustakaan yang memiliki minimal 2.000 judul buku yang relevan dan ruang yang cukup luas untuk belajar sendiri. 5) Lapangan olahraga dan atau ruangan yang dapat meningkatkan kebugaran jasmani dan peningkatan prestasi. 6) Ruang pengembangan minat dan bakat siswa lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan. 7) Suasana belajar dan lingkungan yang kondusif. 8) Buku belajar, diktat dan bang soal latihan yang menunjang. 9) Jumlah siswa di kelas antara 20 sampai 30 siswa, sehingga belajar menjadi lebih efektif. 10) Di dalam kelas dilengkapi dengan alat pembelajaran yang lengkap dan memadai. 5. Pandangan Masyarakat Mengenai Kelas Unggulan Mukti (2008) berkata, “Penyelenggaraan kelas unggulan melalui proses rekrutmen untuk melihat potensi siswa dilakukan secara multidimensional. Rekrutmen dilakukan dengan mengembangkan konsep keberbakatan dari Renzulli, Reis dan Smith (1978). Konsep itu menyebutkan bahwa anak berbakat mempunyai IQ minimal 125 menurut skala Wechsler, selain itu harus mempunyai task commitment dan creativity quotion di atas rata-rata. Dari sisi waktu, penyelenggaraan kelas akselerasi menguntungkan, siswa yang bakat intelektualnya
  26. 26. 31 tinggi dibantu secara khusus, sehingga mereka mendapatkan bantuan pengajaran lebih sesuai bakatnya. Mereka akan dapat cepat lulus, diperkirakan setahun lebih awal dibanding siswa biasa. Dengan program percepatan ini diharapkan siswa berbakat tidak bosan di kelas yang sama dengan siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas, dan dia dapat terus maju dengan cepat. Kelas model ini memang menjanjikan siswa lebih cepat selesai dibandingkan melalui tahapan-tahapan pada umumnya. Dalam perdebatan soal pendidikan nasional, banyak dipersoalkan kurangnya pendidikan nilai di sekolahsekolah, dari SD sampai SMU. Disadari, kebanyakan sekolah terlalu menekankan segi kognitif saja, tetapi kurang menekankan segi nilai kemanusiaan yang lain. Maka mulai disadari pentingnya pendidikan nilai, termasuk pendidikan budi pekerti dan segi-segi kemanusiaan lain, seperti emosionalitas, religiusitas, sosialitas, spiritualitas, kedewasaan pribadi, dan afektivitas. Masalahnya, pendidikan nilai tidak bisa dipercepat, bahkan instan. Pendidikan nilai kemanusiaan memerlukan latihan dan penghayatan yang membutuhkan waktu lama, sehingga sulit dipercepat. Misalnya, penanaman nilai sosialitas perlu diwujudkan dalam banyak tindakan interaksi antarsiswa dan kerja sama; penanaman nilai penghargaan terhadap manusia lain membutuhkan latihan dan mungkin hidup bersama orang lain, dan tidak cukup hanya dengan pengajaran pengetahuannya. Perkembangan intelektual dan moral anak yang baik tidak secara langsung, mereka harus dipaksa melalui tahapan-tahapan perkembangan sebagaimana anakanak pada umumnya. Memaksakan diri dalam berbagai ketimpangan tiada ubahnya mengejar gengsi orang tua untuk mempunyai anak-anak cerdas dan gengsi sekolah, karena yang ingin dianggap sekolah unggulan, serta biaya pendidikan di kelas tersebut memang agak mahal”. “Yang kita khawatirkan, kelas unggulan yang mendewakan kecerdasan intelektual hanya akan melahirkan tamatan pendidikan yang cerdas, pintar, dan terampil, tetapi tidak memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang memadai” (Suara Merdeka dalam Tuhusetya, 2008).
  27. 27. 32 6. Dampak Kelas Unggulan a. Dampak Positif Suyanto (2008) mengemukakan bahwa dengan adanya program ini diharapkan siswa berbakat tidak bosan di kelas yang sama dengan siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas, dan dia dapat terus maju dengan cepat. Kelas model ini memang menjanjikan siswa lebih memahami, mengerti dan mendalami minat, bakat, serta pelajaran dibandingkan dengan siswa yang belajar di kelas reguler. b. Dampak Negatif Menurut Suyanto (2008) pengelompokan siswa secara homogen berdasarkan kemampuan akademik menjadi kelas superbaik, amat baik, baik, sedang, kurang, sampai ke kelas di bawah rata-rata. Yang ikut memprihatinkan (Suyanto, 2008), pengelompokan itu disertai program promosi dan degradasi. Siswa yang tidak mampu mempertahankan prestasi akademiknya bisa dikeluarkan dari kelas superbaik ke kelas sedang. Bahkan mungkin bisa meluncur ke kelas di bawah rata-rata. Kalau ini terjadi, maka dunia pendidikan telah lepas dari lingkaran dan dinamika kehidupan kontekstual yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Implikasinya, out-put yang dilahirkan oleh institusi pendidikan kita hanyalah generasigenerasi berotak brilian dan cerdas intelektualnya, tetapi miskin kecerdasan hati nurani dan spiritual. Yang pada akhirnya justru membikin mereka menjadi asing hidup di tengah-tengah masyarakat serta tidak memiliki kepekaan dalam merasakan denyut nadi kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya. 7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelas Unggulan a. Orang Tua 1). Wawasan dan pendidikan Menurut Faizah (2008) ada beberapa jenis orang tua menurut wawasan dan pendidikan :
  28. 28. 33 a). College Degree Parents (orang tua intelek) Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anakanaknya. Sering melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Orang tua dengan tipe ini, percaya bahwa pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka "Superkids", Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah. b). Gold Medal Parents (orang tua selebritis) Kelompok ini adalah kelompok orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia. Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anakanaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi "seorang Bintang Sejati". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.
  29. 29. 34 Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang. Puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara mata kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar. Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan keluar sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas. Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. c). Do-it Yourself Parents Merupakan kelompok orang tua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Orang tua dengan tipe ini, sering menjadi pelayanan profesional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids" dengan konsep “earlier is better".
  30. 30. 35 Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih. d). Outward Bound Parents (orang tua paranoid) Untuk orang tua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anakanaknya. Tujuan orang tua dengan tipe ini sederhana, yakni agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka Iebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep "Superkids" karena mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang dengan melatih kecakapan anaknya, contohnya melatih untuk melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat" sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anakanaknya adalah terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril" dengan lingkungannya. e). Prodigy Parents (orang tua instan) Merupakan kelompok orang tua yang sukses dalam karier namun
  31. 31. 36 tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Orang tua dengan tipe ini memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu orang tua dengan tipe ini memandang sekolah dengan sebelah mata, dan menganggap sekolah sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya. Tidak kalah mengejutkannya, orang tua dengan tipe ini memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti orang tuanya tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anakanaknya. Oleh karena itu orang tua seperti ini sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Bukubuku instan dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang Kiat-kiat mengajarkan bayi membaca" karangan Glenn Doman, atau "Kiat-kiat mengajarkan bayi matematika" karangan Siegfried, "Berikan anakmu pemikiran cemerlang" karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-kiat mengajarkan anak dapat membaca dalam waktu enam Hari" karangan Sidney Ledson. f). Orang tua ngrumpi Merupakan kelompok orang tua yang memiliki dan menyenangi pergaulan, terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Kelompok orang tua yang kurang bahagia dalam perkimpoiannya yang menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi sebagai orangtua. Atau pun jika memiliki aktivitas di kelompoknya maka akan lebih berorientasi kepada
  32. 32. 37 kepentingan kelompoknya. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak sebagai "Superkids". Namun banyak dari anak-anak dalam kelompok ini biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan. Namun banyak dari anak-anak dalam kelompok ini biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan. g). Milk and Cookies Parents (orang tua ideal) Kelompok ini merupakan kelompok orang tua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Orang tua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus yang sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orang tua yang melakukan "miseducation" dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva dengan memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua. Kelompok ini memenuhi rumah tangga dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya, berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak kelompok ini pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orang tua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Orang tua jenis ini begitu yakin bahwa anak mem-butuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan
  33. 33. 38 sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik 2). Peran orang tua Orang tua sangat bertanggung jawab mendidik anak-anak, terutama dari segi pendidikan moralnya, seperti perbaikan jiwa anak, meluruskan penyimpangan, mengangkat anak dari seluruh kehinaan dan menganjurkan bergaul yang baik dengan orang lain (Adniesta, 2009). Cassidy (dalam Hawadi, 2001) menyebutkan ada lima hal yang mungkin bisa menjadi pegangan bagi orang tua di dalam mendidik anaknya yang tergolong anak berbakat : a). Berlaku sebagai pendorong anak dengan sekolahnya yakni orangtua memberikan informasi tentang kekuatan-kekuatan dan gaya belajar yang dimiliki oleh anak, b). Menyediakan kesempatan belajar di rumah maupun di luar rumah, c). Bantulah anak pada setiap tugas yang diberikan oleh sekolah, d). Berperan sebagai mentor, dan tidak segan-segan bertukar pikiran dengan orang tua lainnya maupun dengan anak-anak lain, e). Menasihati anak, f). Mengembangkan materi pelajaran yang diberikan untuk anak sesuai dengan minat dan kemampuannya, g). Bantu guru dengan membuat bahan pelajaran tambahan, Bantu dalam kelas atau perpustakan, menawarkan keahlian dalam kelas kecil atau kelompok kecil siswa untuk memenuhi pengalaman pengayaan bagi siswa. Peran orang tua menumbuhkan percaya diri remaja (Lie, 2003) : a). Dampingi dalam proses perubahan dirinya dengan menjelaskan perubahan sebagai proses yang alamiah dan semua orang juga
  34. 34. 39 mengalaminya, membiarkan remaja bereksperimen dalam batas yang wajar, memberikan pujian pada kelebihan fisik yang mereka miliki, b). Dampingi untuk belajar membedakan mana yang baik dan buruk, c). Dampingi dalam proses pencarian identitas dengan bercerita saat orang tua berada dalam masa remaja, d). Dengarkan mereka, e). Biarkan mereka berpendapat dan berkeinginan dengan memberikan pengarahan-pengarahan, f). Jadilah teman buat mereka, g). Pahami kebutuhannya dan bimbinglah ia agar masuk dalam lingkungan yang baik, h). Beritahu cara untuk berinteraksi dengan teman lawan jenis karena mereka akan merasa canggung dan kaku, i). Berikan pendidikan seks dan seksualitas. Dukungan orang tua dapat berupa dukungan moril maupun materil dan juga orangtua dapat melihat dan mengerti minat yang diinginkan anak yang mempengaruhi prestasi yang dicapai oleh anak dengan menjadikan orangtua sebagai tempat konsultasi yang nyaman, mengajak anak menganalisa motivasi dengan alasannya, hal ini akan membuat anak mencoba untuk menerapkan cara berpikir analitis (dalam Hartaji, 2009). Susilowati (dalam Hartaji, 2009), bagi anak yang sudah mengetahui apa bakat, minatnya dan terbiasa mengambil keputusan sendiri, tidak banyak mengalami kendala dalam memilih meski terkadang anak tidak mengetahuinya sehingga bingung ketika harus memilih sehingga dibutuhkan bantuan orangtua untuk memilihkan apa yang terbaik untuk anaknya. 3). Dampak negatif orangtua Di pendidikan tingkat pra sekolah, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, setiap awal tahun ajaran baru para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya
  35. 35. 40 kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukkan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu menyuap atau membayar supaya anaknya dapat bersekolah, perilaku para orang tua seperti ini secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan, sehingga mengakibatkan anak cenderung mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara dalam mengatasi masalah (Adniesta, 2009). Kebingungan siswa ada pula yang disebabkan sikap orang tua yang memaksakan anak memilih sesuai pilihan jurusan yang orang tua inginkan, bukan berdasarkan kemauan dan minat anaknya (Susilowati dalam Hartaji, 2009). Beberapa orangtua tanpa sadar mengarahkan anak untuk menyelesaikan “keinginan dan ambisi tidak sampainya” di masa lalu sehingga dapat dipastikan bahwa pilihan anak bukanlah karena ambisi orang tua, atau karena kecemasan dan cara berpikir yang keliru dalam mempersepsi masa depan anak (Hartaji, 2009). Orang tua yang memilihkan tanpa memperdulikan minat anaknya biasanya akan membuat anak merasa terbebani dalam menjalani hidup dan tidak memiliki motivasi meskipun ada yang menjalaninya hanya demi menyenangkan hati orang tua mereka, akan tetapi hal ini membuat mereka merasa terkekang dan terbebani sehingga sulit bagi mereka untuk berprestasi (Hartaji, 2009). b. Diri 1). Kecerdasan Intelektual Menurut Terman intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak (Winkel, 1996). Kecerdasan intelektual ialah kemampuan untuk mengolah dan berfikir kognitif yang terukur dengan angka-angka sejak kita di bangku sekolah hingga kuliah, yang merupakan kemampuan yang diolah pada otak sebelah kiri (http://smkn1bongas-tkj.blogspot.com/). 2). Kecerdasan Spiritual
  36. 36. 41 Merupakan kemampuan kita untuk berahlak mulia dan mengenal siapa diri kita dan Tuhan yang dilaksanakan, dapat dimaknai dan diaplikasikan dalam kehidupan, artinya perilaku merupakan cerminan dari ibadah yang telah dilaksanakan (http://smkn1bongas-tkj.blogspot.com/). Kecerdasan spiritual tinggi mengandung beberapa aspek (Satria, 2008): a). Sikap ramah tamah Adanya minat bersosialisasi, menyesuaikan diri dengan kelompok, dan menikmati berbagai aktivitas kelompok. b). Kedekatan Kebutuhan untuk memberikan cinta dan untuk merasa dicintai. c). Keigintahuan Dorongan untuk menyelidiki, tertarik dengan berbagai hal. d). Kreatifitas Membuat yang belum pernah ada. e). Konstruksi Memiliki perasaan batiniah yang kaya, menekankan pada kontrol diri atau harga diri. f). Penegasan diri Pengabdian kepada masyarakat dan untuk kepentingan transpersonal. g). Religius Penemuan makna dan nilai dalam segala aktivitas dari sudut pandang agama. Beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual (Satria, 2008) : a). Motif Niat, tujuan hidup yang menggerakkan potensi dari permukaan sehingga membuat seseorang bertindak. b). Memiliki kesadaran diri Membuat diri selalu berusaha untuk bertindak dengan baik dan benar. c). Disiplin.
  37. 37. 42 3). Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk dapat mempengaruhi dan diterima orang lain dengan baik yang mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya (http://smkn1bongas-tkj.blogspot.com/). Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi belajar yang tinggi diperlukan Kecerdasan Intelektual (IQ) yang juga tinggi. Namun, menurut hasil penelitian IQ bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang, tetapi ada banyak faktor lain yang mempengaruhi salah satunya adalah kecerdasan emosional (Xyber, 2008). Artikel “On The Road on Chairman Lou” (The New York Times dalam http://smpyabakii1-clp.sch.id/profil.php?num=27), menyebutkan bahwa IQ sesungguhnya tidak cukup untuk menerangkan kesuksesan seseorang, ketika skor IQ dikorelasikan dengan tingkat kinerja dalam karier mereka, besarnya selisih IQ terhadap kinerja hanyalah sekitar 25%, bahkan untuk analisis yang lebih seksama yang dilakukan American Psycological Press (dalam http://jurnalskripsi.com) angka yang lebih tepat bahkan tidak lebih dari 10%. Hal ini berarti bahwa IQ setidaknya dibutuhkan paling sedikit sekitar 96% untuk menentukan seseorang. Serta menurut penelitian kinerja atau yang dilakukan keberhasilan oleh Goleman menyebutkan pengaruh IQ hanyalah sebesar 20% saja, sedangkan 80% dipengaruhi oleh faktor lain termasuk di dalamnya EQ. Sehingga dengan
  38. 38. 43 kata lain IQ dapat dikatakan gagal dalam menerangkan atau berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang (Goleman, 2000). 4). Potensi Dasar Hurlock (1993) menyatakan minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih, minat penting pada semua usia karena minat memainkan peran yang penting dalam kehidupan seseorang dan berdampak besar atas perilaku, bentuk dan intensitas aspirasi anak, serta bagaimana anak akan sikap; minat mempunyai ciri : a). Tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental b). Pada waktu pertumbuhan terlambat dan kematangan dicapai, minat akan menjadi lebih stabil. c). Tergantung pada kesiapan belajar secara fisik dan mental d). Seperti saat anak akan bermain bola, bila mereka memiliki kekuatan dan koordinasi otot yang diperlukan maka mereka bisa bermain bola. e). Kesempatan belajar f). Minat tumbuh dari rumah, dengan bertambahnya lingkup sosial, mereka menjadi tertarik pada minat orang di luar rumah. g). Perkembangan minat mungkin terbatas h). Ketidakmampuan fisik dan mental serta adanya pengalaman sosial membatasi minat anak. i). Budaya j). Mereka tidak diberi kesempatan untuk menekuni minat yang dianggap tidak sesuai bagi kelompok buadaya mereka. k). Minat berbobot emosional l). Minat yang berbobot melemahkan minat. m). Minat itu egosentris emosional tidak menyenangkan akan
  39. 39. 44 Berlandaskan keyakinan bahwa kepandaian merupakan langkah penting menuju kedudukan yang menguntungkan dan bergengsi di masa depan. Manusia mempunyai potensi dasar yang sudah merupakan fitrahnya berupa (Hasan, 1994) : a). bakat, b). insting, c). nafsu, d). karakter, e). keturunan, f). intuisi, g). potensi berpikir (pembentukan pengertian, pendapat, keputusan), h). potensi merasa (subyek dan obyek yang ada di lingkungan yang akan mempengaruhi individu menerima dan mengembangkan dirinya pada eksistensi dalam lingkungan), i). potensi kemauan (mencapai atau melakukan sesuatu yang ada di dalam atau luar diri yang menjadikan individu sebagai pribadi yang kuat dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan diri dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya), j). potensi motivasi (pengembangan dan pembinaan potensi individu). Winkel (1996) menyatakan bahwa manusia mempunyai potensi : a). Bakat khusus Bakat khusus adalah sesuatu yang dibentuk dalam kurun waktu sejumlah tahun dan merupakan perpaduan dari taraf intelegensi pada umumnya, komponen intelegensi tertentu, pengaruh pendidikan dalam keluarga dan di sekolah, minat dari subyek sendiri. b). Organisasi kognitif Organisasi kognitif menunjuk pada cara materi yang sudah dipelajari, disimpan dalam ingatan; apakah tersimpan secara sistematis atau tidak.
  40. 40. 45 Hal ini sangat tergantung pada cara materi dipelajari dan diolah; makin mendalam dan makin sistematis pengolahan materi pelajaran, makin baiklah taraf organisasi dalam ingatan itu sendiri. c). Kemampuan berbahasa Mencakup kemampuan untuk menangkap inti suatu bacaan dan merumuskan pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh itu dalam bahasa yang baik, sekurang-kurangnya bahasa tertulis. d). Daya fantasi Daya fantasi berupa aktivitas kognitif yang mengandung pikiranpikiran dan tanggapan-tanggapan, yang bersama-sama menciptakan sesuatu dalam alam kesadaran. Dalam alam fantasi orang tidak hanya menghadirkan kembali hal-hal yang pernah diamati, tetapi menciptakan sesuatu yang serba baru. Keberbakatan merupakan perkembangan yang asimetris dalam kemampuan kognitif yang tinggi, dan intensitas yang tinggi ini dikombinasikan dengan pengalaman dalam kesadaran yang secara kualitatif berbeda dari norma biasanya (Hawadi, 2001). Kemudian, Hawadi (2001) menyatakan bahwa keunikan dari bakat yang dimiliki anak membutuhkan penanganan yang khusus dalam merawat, mendidik, dan memberikan konseling sebagai upaya agar keberbakatan mereka berkembang optimal. 5). Gaya Belajar Ada tiga gaya belajar siswa (Fatimah, 2009) : 1) Visual Siswa ini memproses informasi baru ketika mereka diberikan ilustrasi atau demonstrasi dengan menggunakan media gambar, symbol, dan lain-lain. 2) Auditorial
  41. 41. 46 Siswa ini memproses informasi baru ketika mereka berbicara dan mendengar. 3) Kinestetik Siswa ini memproses informasi baru ketika mereka menyentuh, memanipulasi, memperagakan, menulis, menjelaskan objek, berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar. 6). Kondisi Fisik Miarso (2005), kondisi fisik siswa meliputi masukan energi (energy intake), mobilitas dan durasi. Faktor durasi dalam kondisi fisik adalah rentangan waktu yang diperlukan dalam mengaktifkan indera setelah menerima berbagai rangsangan. 7). Kondisi Emosional Miarso (2005), kondisi emosional meliputi motivasi, preservasi (ketangguhan), tanggung jawab, dan kesetiakawanan. Kondisi emosional bergantung pada rangsangan yang diterima dan pengalaman sebelumnya terhadap rangsangan yang semacam. Kondisi ini terdiri atas tiga komponen dasar, yaitu komponen kognitif (pikiran, keyakinan dan harapan) yang menentukan intensitas tanggapan; komponen fisik yang meliputi perubahan dalam tubuh seperti tertawa, takut, cemas, marah, pernafasan meningkat, detak jantung berdebar; dan komponen perilaku yang merupakan ungkapan emosi melalui ekspresi wajah, nada suara, dan gerak anggota tubuh. 8). Kondisi Sosiologikal Miarso (2005), kondisi sosiologikal meliputi percaya diri, hubungan dengan teman sebaya, hubungan dalam kelompok, dan pengakuan adanya otoritas secara vertikal dan lateral. Percaya diri merupakan keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk melakukan hal-hal tertentu. Percaya diri ini meliputi : nilai diri yaitu perasaan tentang hal yang layak
  42. 42. 47 diperoleh; bangga diri (selfesteem) yaitu perasaan bangga akan apa yang dapat dicapai; percaya diri yaitu keyakinan untuk dapat berhasil; hargadiri (self-respect) yaitu sikap menyayangi atau menghormati diri; dan puas diri (self-acceptance) yaitu perasaan untuk menerima apa yang menjadi bagiannya. Hubungan dengan teman sebaya merupakan interaksi antara sesama siswa dalam kelas, dalam sekolah maupun siswa antar sekolah sejenjang, yang diperlukan untuk bertukar dan saling menguji pengetahuan, pengalaman, minat (hobby), kemampuan, dan keterampilan. Hubungan dalam kelompok merupakan usaha saling membantu, menghargai dan bekerjasama dalam mengerjakan tugas bersama baik yang diberikan oleh guru maupun atas prakarsa sendiri. Pengakuan adanya otoritas merupakan pemahaman atas struktur, dan hirarki dalam suatu kelompok atau organisasi. Pengakuan ini diwujudkan antara lain dengan menghormati dan menaati peraturan, mematuhi petunjuk guru, mengikuti tata tertib kelas atau organisasi. 9). Kondisi Psikologikal Miarso (2005), kondisi psikologikal merupakan unsur-unsur bawaan maupun lingkungan yang mempengaruhi pola berpikir, bersikap dan bertindak seseorang. Siswa yang berasal dari latar belakang keluarga dan sosial yang berbeda dan dengan pembawaan yang berbeda pula perlu mendapat perhatian dan penanganan yang memungkinkan pengakuan atas perbedaan tersebut. Mengingat sangat bervariasinya kondisi ini, tidak ada satu resep yang dapat berlaku secara umum. Berbagai teori, model, konsep dan prosedur dikemukakan oleh para ahli dan praktisi. Namun semua ini memerlukan kebijaksanaan dan kiat guru dalam menghadapi siswanya. Berbagai strategi dan metode perlu dipilih, dikembangkan dan digunakan oleh guru sesuai dengan situasi, kondisi dan tujuan belajar. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kelas unggulan yaitu orang tua, dan diri.
  43. 43. 48 C. Remaja 1. Pengertian Remaja Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescence yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Menurut Adams dan Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock (1990) karena pada masa remaja individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan. Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan secara kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda.
  44. 44. 49 Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Papalia dan Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Remaja adalah tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa (Mar’at, 2005). Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak hingga dewasa yang dimulai pada usia 11 hingga 20 tahun. 2. Aspek-aspek Perkembangan pada Masa Remaja a. Perkembangan Kognitif Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru. Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu 1) Interaksi dari struktur otak yang telah sempurna, 2) Lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi Kedua hal ini memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001). Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah
  45. 45. 50 mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya. Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001). Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain (Papalia & Olds, 2001). Elkind (dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel. Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi cerita itu tidaklah benar". Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang
  46. 46. 51 diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) menjelaskan personal fabel sebagai berikut : Personal fabel adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri (self-destructive) oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil karena perilaku seksual yang dilakukannya, atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya saat mengendarai mobil, atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya. b. Perkembangan Kepribadian dan Sosial Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001). Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar. Mar’at (2005), karena remaja meluangkan lebih sedikit waktunya bersama orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan dunia yang lebih luas maka remaja dihadapkan dengan bermacam nilai dan ide, sehingga hal ini mengakibatkan remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua
  47. 47. 52 serta mengembangkan ide-ide mereka sendiri karena menyadari memiliki kemampuan, bakat dan pengetahuan tertentu. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991). Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth D. (2001)). Conger (1991) dan Papalia dan Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991). Studi-studi kontemporer tentang remaja, juga menunjukkan bahwa hubungan yang positif dengan teman sebaya diasosiakan dengan penyesuaian sosial yang positif (Santrock dalam Mar’at, 2005). Kelly dan Hansen (dalam Mar’at, 2005) menyebutkan enam fungsi positif dari teman sebaya : 1) Melalui interaksi dengan teman sebaya, remaja belajar bagaimana memecahkan pertentangan-pertentangan, 2) Memperoleh dorongan emosional dan sosial untuk mengambil peran dan tanggung jawab mereka, 3) Melalui percakapan dan perdebatan dengan teman sebaya, remaja belajar mengekspresikan ide dan perasaan serta mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah, 4) Mengembangkan sikap dan tingkah laku dengan berperan sebagai wanita atau pria, 5) Remaja mengevaluasi nilai-nilai yang dimilikinya dengan nilai-nilai yang dimiliki teman sebayanya serta memutuskan mana yang benar dapat membantu remaja mengembangkan kemampuan penalaran moral,
  48. 48. 53 6) Meningkatkan harga diri dengan menjadi orang yang disukai membuat remaja merasa senang akan dirinya sendiri. Berdasarkan uraian di atas, aspek-aspek perkembangan pada masa remaja meliputi perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan pribadi dan sosial. 3. Ciri-ciri Masa Remaja Masa remaja adalah suatu masa perubahan, karena pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Gunarsa (dalam Nurul, 2003) melihat masa remaja sebagai masa kritis, masa dimana remaja dihadapi dengan masalah yang banyak. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja (Hurlock, 1973): a. Peningkatan emosional Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm dan stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah. b. Perubahan yang cepat secara fisik Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  49. 49. 54 c. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada halhal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa. d. Perubahan nilai Dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa. e. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut. Hurlock (dalam Yuningsih, 2005) menerangkan bahwa masa remaja sebagai periode yang penting, sebagai periode peralihan, dan sebagai periode perubahan dan pencarian identitas. a. Masa remaja sebagai periode yang penting Masa remaja sebagai periode yang penting karena individu dihadapi dengan perubahan secara fisik dan psikologis. Tanner (dalam Nurmala, 2003) mengatakan bahwa sebagian anak muda yang berusia antara 12 dan 16 tahun dihadapkan dengan berbagai kejadian-kejadian sepanjang hidupnya, terutama yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan, sehingga individu membutuhkan penyesuaian secara mental dan perlu untuk membentuk sikap, nilai dan minat baru. b. Masa remaja sebagai periode peralihan Dalam periode ini, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan, namun perlu disadari bahwa apa yang telah terjadi akan meninggalkan kenangan yang berharga, akan mempengaruhi pola perilaku dan
  50. 50. 55 sikap individu. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau masa peralihan karena remaja belum memperoleh status sebagai orang dewasa tetapi bukan juga berstatus sebagai anak-anak, karena ketidak jelasan atas status inilah, maka akan menguntungkan individu, hal ini disebabkan karena status ini memberi individu pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya. c. Remaja sebagai periode perubahan Selama masa awal remaja, ketika terjadi beberapa perubahan secara fisik, perilaku dan sikap yang pesat. Apabila perubahan fisik menurun, maka perilaku dan sikap juga ikut menurun. Ada empat perubahan yang sama dan bersifat universal : 1) Meningginya emosi yang intensitasnya tergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologi. Perubahan emosi lebih menonjol pada awal periode akhir masa remaja. 2) Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial disekitar individu supaya dapat berkesan, walaupun dapat menimbulkan masalah baru. Remaja akan merasa dibebani dengan masalah baru sampai dapat benar-benar dapat menyelesaikannya menurut kemuan dan kepuasannya sendiri. 3) Dengan adanya perubahan minat dan perilaku, maka nilai-nilai juga akan ikut berubah. Hal-hal yang dianggap penting pada masa kanak-kanak akan dianggap tidak penting lagi setelah individu dewasa. d. Sebagai masa pencarian identitas Pada akhir masa anak-anak, penyesuaian diri dengan standar kelompok geng adalah jauh lebih penting bagi anak yang lebih besar daripada dirinya. Anak yang lebih tua dalam kelompok akan cenderung lebih cepat dalam berpikir, berbicara dan berperilaku. Terjadinya penyimpangan dalam kelompok akan cendering membahayakan keanggotaan dalam kelompok tersebut. Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting, walaupun dengan berjalannya waktu individu akan mulai mendambakan identitas dirinya dan merasa tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam kelompoknya dalam segala hal.
  51. 51. 56 Berdasarkan uraian di atas, ciri-ciri masa remaja yakni adanya peningkatan emosional, adanya perubahan yang cepat secara fisik, adanya perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan pengaruhnya dalam hubungan dengan orang lain, adanya perubahan anggapan dan kepentingan, adanya keinginan untuk bebas dan bertanggung jawab, sebagai masa dimana memasuki berbagai periode yakni periode yang penting, sebagai periode peralihan, dan sebagai periode perubahan dan pencarian identitas. 4. Tugas Perkembangan Remaja Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst (dalam Gunarsa, 1990) antara lain : a. Memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan, b. Memperoleh peranan sosial, c. Menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif, d. Memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya, e. Mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri, f. Memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan, g. Mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga, h. Membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup. Erikson (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis kelima dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001). Diantara tugas-tugas perkembangan remaja adalah pencarian identitas diri (Erikson dalam Sari, 2006). Sari (2006) mengemukakan bahwa remaja yang berhasil mengatasi krisis identitas akan merasa aman dan diterima, sedangkan yang tidak berhasil individu akan menarik diri dari lingkungan sosial dan keluarga karena
  52. 52. 57 mereka merasa tidak diterima oleh lingkungan sekitar. Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tugas-tugas perkembangan remaja meliputi memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan; memperoleh peranan sosial; menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif; memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya; mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri; memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan; mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga; membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup; mencari identitas untuk menemukan siapa dirinya dan peranannya dalam masyarakat. D. Kecerdasan Emosi pada Remaja yang Mengikuti Kelas Unggulan di SMPN 103 Jakarta Cooper dan Sawaf (1998) menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Howes dan Herald (dalam Mutadin, 2002) mengatakan pada intinya kecerdasan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. McClelland (dalam Hapsariyanti, 2006) kecerdasan emosional sebagai seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif yang akan menghasilkan orang-orang yang sukses dan memiliki kinerja yang tinggi. Karena dengan adanya emosi, maka seseorang dapat mengendalikan amarah, kesedihan yang mempengaruhi individu terutama pada remaja, level usia pelajar (siswa) Sekolah Menengah. Pada remaja terjadi peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm dan
  53. 53. 58 stress yang merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja (http://rumahbelajarpsikologi.com). Peningkatan emosi merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya dimana pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, remaja harus lebih mandiri dan bertanggung jawab karena diharapkan remaja dapat mengarahkan ketertarikan pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain karena remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa. Siswa yang memasuki kelas unggulan dan memiliki kecerdasan emosi akan dapat memahami lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri dan orang lain (Howes dan Herald dalam Mutadin, 2002), serta dapat mempengaruhi peningkatan potensi keberhasilan dan prestasi belajar siswa yang mengikuti kelas unggulan. Mukti (2008) mengatakan siswa yang berbakat tidak bosan di kelas yang sama dengan siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas, dan dapat terus maju dengan cepat dengan mengikuti kelas unggulan. Menurut Goleman (dalam Wahyuningsih, 2004), individu yang memiliki kecerdasan akademis tinggi cenderung memiliki rasa gelisah, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin serta cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat. Apabila seorang remaja yang mengikuti kelas unggulan memiliki kecerdasan emosi yang rendah maka cenderung akan keras kepala, sulit bergaul, dan cenderung putus asa bila mengalami masalah, tidak mudah percaya kepada orang lain, tidak peka dengan kondisi lingkungan sehingga membuat individu menjadi asing hidup di tengah-tengah masyarakat serta tidak memiliki kepekaan dalam merasakan denyut nadi kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya.

×