Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
PENGGUNAAN ZAT PEWARNA ALAM PADA KAIN SASIRANGAN
Dosen
Dr. Ersis Warmansyah Abbas, M.Pd
Drs. Yudha Isrhasyuana, M.Pd
Oleh
...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia dianugrahi kekayaan yang berupa kekayaan alam maupun
kekayaan sejarah dan b...
tertentu agar terjadi reaksi antara bahan yang diwarnai, dengan zat warna dan
bahan yang digunakan untuk fiksasi (Pujilest...
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ZAT PEWARNA ALAM
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alami. Salah
satu sumber daya...
gugus pembawa warna sangat bervariasi dan akan berpengaruh terhadap warna
yang ditimbulkan. Zat warna alam yang diperoleh ...
Pencelupan dapat memberikan hasil yang baik karena adanya gaya ikat
antara zat warna dengan serat lebih besar daripada gay...
mengapa, dan bagaimana” dari gejala-gejala alam serta penerapannya dalam
teknologi dan kehidupan sehari-hari.
Di zaman glo...
2.4 FIKSASI WARNA
BAB III
PENUTUP
Simpulan dari pembahasan mengenai penggunaan zat pewarn alam pada
Kain Sasirangan adalah...
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, dkk. 2012. Penyuluhan Dan Pelatihan Pengrajin Kain Sasirangan Di
Kelurahan Seberang Mesjid Kecamat...
Cotton Fabric). Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jl.Kusumanegara No.7
Yogyakarta, Indonesia.
Damayanti. 2007. Optimalisasi...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Tugas atnopedagogie Kain sasirangan

744 views

Published on

Penggunaan zat pewarna alam pada Kain sasirangan

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Tugas atnopedagogie Kain sasirangan

  1. 1. PENGGUNAAN ZAT PEWARNA ALAM PADA KAIN SASIRANGAN Dosen Dr. Ersis Warmansyah Abbas, M.Pd Drs. Yudha Isrhasyuana, M.Pd Oleh Mutiara Havina Putri (A2C515011) PROGRAM STUDI MAGISTER KEGURUAN IPA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN 2015
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia dianugrahi kekayaan yang berupa kekayaan alam maupun kekayaan sejarah dan budaya yang begitu membanggakan. Kekayaan tersebut harus dilindungi, dipelihara, dilestarikan dan dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber alam hayati, terkenal dengan keanekaragaman tumbuh-tumbuhan yang mengandung berbagai macam zat warna. Zat warna alam merupakan hasil ekstraksi dari daun, batang, kulit, bunga, buah, akar tumbuhan dengan kadar dan jenis colouring matter bervariasi sesuai dengan spesiesnya. Setiap daerah di Indonesia memiliki potensi untuk penggunaan zat pewarna alami kerena ketersedian bahan baku yang melimpah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini menyebabkan pemakaian warna alami terdesak oleh pewarna buatan dan lambat laun pengetahuan tradisional tentang pewarna alami di Indonesia akan hilang secara perlahan-lahan yang pada akhirnya generasi-generasi muda tidak mengenal budaya dan tradisi nenek moyang mereka. Setiap daerah memiliki pakaian khas yang memiliki corak dan warna tertentu. Corak dan warna itu pada awalnya menggunakan pewarna alami. Kain sebagai bahan dasar pakain merupakan segala sesuatu yang dipakai, bahan pakaian, barang tenunan (Tim Pustaka Bahasa). Kain-kain tradisional Indonesia saat ini telah dikenal secara meluas oleh tidak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga dunia. Setiap daerah di Indonesia mempunyai kain tradisional yang mencirikan keunikan budaya daerah tersebut dengan teknik pembuatan kain yang berbeda pada setiap daerahnya. Kain Sasirangan merupakan jenis kain khas daerah Banjar, Kalimantan Selatan. Kain sasirangan adalah kain yang dibuat dengan cara menyirang atau menjeruju, yaitu mengikat kain dengan motif yang diinginkan menggunakan benang, kemudian kain tersebut dicelupkan ke dalam pewarna (Ahcmadi, 2009). Kain Sasirangan merupakan produk tekstil utama dan merupakan identitas Kalimantan Selatan. Menurut Subiyati dalam Wedyatmo dan Nugroho (2013: 2) menjelaskan bahwa untuk mengetahui kualitas suatu produk tekstil harus ditinjau dari dua aspek, yaitu aspek fisika maupun kimia. Aspek fisika ditinjau melalaui pengujian- pengujian yang meliputi: pengujian kekuatan tarik kain, kekuatan sobek kain dan mengkeret kain. Sedangkan dari aspek kimia ditinjau melalui pengujian misalnya daya serap kain dan ketahanan luntur warna kain. Penggunaan pewarna alami untuk kain sasirangan tentunya harus mempunyai ketahanan luntur yang baik sebagai produk tekstil yang menggunakan zat warnaan. Maka dari itu perlu dilakukan proses fiksasi zat warna. Fiksasi dapat berfungsi memperkuat warna dan merubah zat warna alami sesuai dengan jenis logam yang mengikatnya serta untuk mengunci zat warna yang telah masuk kedalam serat. Proses fiksasi pada prinsipnya adalah mengkondisikan zat pewarna yang telah terserap dalam waktu
  3. 3. tertentu agar terjadi reaksi antara bahan yang diwarnai, dengan zat warna dan bahan yang digunakan untuk fiksasi (Pujilestari, 2014: 2). Pembelajaran mengenai kain sasirangan yang terdapat pada mata pelajaran Mulok hanya mencakup penggunaan cara pewarnaan motif sasirangan dengan menggunakan pewarna kimia. sebaiknya diajarkan juga penggunaan pewarna alami yang materinya terdapat pada mata pelajaran IPA, karena didalamnya terdapat proses fiksasi untuk menghasilkan warna yang lebih baik dan tahan lama oleh sebab itu sebaiknya materi pewarna alami untuk pakaian dimasukkan kedalam kurikulum IPA secara nasional. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis melihat bahwa ada persoalan mengenai penguasaan konsep zat pawarna alam pada Sasirangan Oleh karena itu, penulis mengangkat judul “Penggunaan Zat Pewarna Alam pada Kain Sasirangan”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan , maka rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah cara memanfaatkan tumbuhan sebagai pewarna alami pada kain sasirangan? 2. Bagaimanakah proses pewarnaan kain sasirangan menggunakan zat pewarna alami melalui fiksasi? 3. Bagaimanakah penerapan kurikulum IPA yang berkaitan dengan proses fiksasi pada pewarnaan Kain Sasirangan? 1.3 Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Memahami cara memanfaatkan tumbuhan sebagai pewarna alami pada kain sasirangan. 2. Memahami proses pewarnaan kain sasirangan menggunakan zat pewarna alami melalui fiksasi. 3. Memahami penerapan kurikulum IPA yang berkaitan dengan proses fiksasi pada pewarnaan Kain Sasirangan. 1.4 Manfaat Penulisan Penulisan ini diharapkan dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan alam khususnya yang terkait dengan zat pewarna alam dan fiksasi warna.
  4. 4. BAB II PEMBAHASAN 2.1 ZAT PEWARNA ALAM Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alami. Salah satu sumber daya alam yang dapat digunakan adalah zat pewarna alam (ZPA). Zat warna adalah bahan pewarna yang mudah larut dalam air, atau dilarutkan dalam air, serta mempunyai daya tarik terhadap serat. Konsep gerakan kembali ke alam (back to nature) merekomendasikan bahwa zat warna alam sebagai pewarna yang ramah baik bagi lingkungan maupun kesehatan karena kandungan komponen alaminya mempunyai nilai beban pencemaran yang relatif rendah, mudah terdegradasi secara biologis dan tidak beracun sehingga potensi untuk mencemari lingkungan kecil. Bahan pewarna alam meliputi pigment yang telah terdapat dalam bahan atau terbentuk pada proses pemanasan, penyimpanan atau pemprosesan. Beberapa pigmen alami yang banyak terdapat di sekitar kita adalah klorofil, karoteniod, tannin dan antosianin.Umumnya, pigmen-pigmen ini tidak cukup stabil terhadap panas, cahaya dan pH tertentu. Proses penggunaan warna-warna alam untuk pewarna pakaian ternyata sudah dilakukan oleh nenek moyang kita secara turun temurun. Pada awalnya pewarnaan pakaian seperti kain Sasirangan menggunakan pewarna alam yang bersumber dari berbagai jenis tumbuhan yang memiliki ekstrak warna sesuai yang dibutuhkan. Namun, dalam kenyataan sekarang ini penggunaan warna alam sebagai pewarna Sasirangan sudah banyak ditinggalkan. Penggunaan warna alam banyak ditinggalkan dengan berbagai alasan, antara lain: a. Proses pembuatan warna alam memerlukan waktu yang panjang. b. Warna alam tidak tahan lama disimpan sebelum proses pewarnaan. c. Daya tahan warna alam cenderung mudah pudar. d. Proses pencelupan/pewarnaan memerlukan waktu yang panjang dan harus dilakukan berulang-ulang. Pengulangan yang dilakukan lebih banyak akan menghasilkan warna yang lebih baik. Zat warna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pewarna Kain Sasirangan beberapa diantaranya adalah daun pohon nila (indofera), kunyit (Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). Zat warna alam dapat diperoleh dengan berbagai cara sesuai sifat dari masingmasing bahan pembawa warna. Bahan pembawa warna ada yang dapat digunakan secara langsung, dan ada yang harus melalui ekstraksi maupun fermentasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Cara ekstraksi untuk memperoleh
  5. 5. gugus pembawa warna sangat bervariasi dan akan berpengaruh terhadap warna yang ditimbulkan. Zat warna alam yang diperoleh dari tumbuhan atau zat warna mordan merupakan zat warna yang dapat bersenyawa dengan oksida-oksida logam dengan membentuk senyawa berwarna yang tidak larut dalam air. Proses ekstraksi pada semua bahan secara garis besar adalah sama yaitu mengambil pigmen atau zat warna yang terkandung dalam bahan. Perlakuan ekstraksi dengan cara pemanasan dengan merebus bahan pembawa zat warna alam menggunakan air adalah cara yang paling banyak dilakukan. Air yang ditambahkan untuk ekstraksi bahan pembawa warna jumlahnya tertentu dengan tujuan efisiensi dan untuk memperoleh ketuaan warna. Perebusan dilakukan hingga volume air menjadi setengahnya, apabila menghendaki larutan zat warna lebih kental, perebusan dapat dilanjutkan sehingga volume sisa perebusan menjadi sepertiga dari volume awal. Untuk biji kesumba (bixa) pengambilan warna secara langsung yaitu biji kesumba dipisahkan dari kelopaknya kemudian ditimbang dan diremas-remas selanjutnya. Ekstraksi terhadap daun indigo dilakukan dengan cara fermentasi, daun indigo ditimbang dan ditambahkan air sesuai perlakuan dan dibiarkan selama 24 jam. Daun dipisahkan dengan cara penyaringan kemudian ditambahkan larutan air kapur 40 g/l dan campuran dibiarkan selama 12 jam. Lapisan bagian atas yang berwarna kuning dibuang dan lapisan bawah yang berwarna biru diambil sebagai zat warna alam indigo. Perlakuan ekstraksi menggunakan perbandingan jumlah air dan bahan pewarna memberikan hasil ketahanan warna kain katun setelah pencelupan yang berbeda beda tergantung bahan pewarna yang diekstrak. 1.3 2.2 PROSES PEMBUATAN KAIN SASIRANGAN Cara membuat kain sasirangan di Kalimantan Selatan kebanyakan masih memakai cara tradisional yang tidak perlu memakai mesin cetak. Secara garis besarnya, proses pembuatan kain sasirangan dibagi menjadi 4 tahap, yaitu: Apabila yang menggunakan zat pewarna alam, kain yang sudah dipotong- potong dan digambari motif, kemudian pola dijahit jelujur sesuai dengan pola yang tergambar di kain. Benang untuk menjelujur lalu ditarik kuat-kuat sampai kain menyatu. Jelujuran yang kuat ini nantinya menghalangi daerah-daerah tertentu dari pengaruh hisapan larutan pewarna. Kain lalu siap memasuki tahap pewarnaan. Cara mewarnai kain yaitu yang pertama adalah mencelupkan kain ke dalam larutan pewarna, lalu dicelupkan kedalam larutan garamnya (fiksasi), maka akan timbul warna di kain. Kain kemudian ditiriskan lantas dilepas jahitan jelujurnya. Damayanti (2007), fiksasi merupakan proses ikatan antara zat warna dengan serat. Waktu fiksasi sangat mempengaruhi kekuatan ikatan dimana waktu yang terlalu pendek akan menghasilkan ikatan yang lemah, sedang waktu fiksasi yang terlalu lama akan menyebabkan hidrolisa zat warna reaktif sehingga dibutuhkan waktu fiksasi yang optimal. Proses fiksasi warna akan mempengaruhi penyerapan zat warna kedalam serat kain, ketahanan luntur warna hasil pewarnaan yang berkaitan erat dengan proses pencelupan warna.
  6. 6. Pencelupan dapat memberikan hasil yang baik karena adanya gaya ikat antara zat warna dengan serat lebih besar daripada gaya yang bekerja antara zat warna dengan air. Rasyid Djufri (1976:92) menyebutkan ada 4 jenis ikatan antara zat warna dengan serat kain, yaitu: 1. Ikatan Hidrogen Ikatan sekunder yang terbentuk karena atom hidrogen pada zat warna mengadakan ikatan yang lemah dengan gugus anhidroksi (-OH) yang terdapat pada serat selulosa atau amina (-NH) pada serat sutera. 2. Ikatan Elektrovalen Ikatan yang timbul karena gaya tarik-menarik antara ion-ion atau muatan yang berlawanan. Serat bermuatan negatif ( kation ) , sedangkan zat warna mempunyai gugus anion yang bermuatan positif. Kedua muatan yang berlawanan ini saling tarik menarik dengan gaya tarik listrik yang kuat. 3. Gaya-gaya Van der Walls Gaya tarik menarik antara zat warna dengan serat yang terjadi karena molekul-molekul zat warna memiliki gugus hidrokarbon yang sesuai dengan serat, sehingga pada waktu pencelupan zat warna ingin terlepas dari air dan bergabung dengan serat. 4. Ikatan Kovalen Zat warna berikatan dengan serat dengan ikatan kimia, atau seolaholah bereaksi dengan serat. Ikatan kovalen adalah ikatan yang sangat kuat, sehingga menghasilkan ketahanan luntur yang tinggi. Pada proses pencelupan kain dalam pemberian warna pada kain Sasirangan dengan zat warna alam membutuhkan proses fiksasi (fixer) yaitu proses penguncian warna setelah kain dicelup dengan zat warna alam agar warna memiliki ketahanan luntur yang baik atau sebagai bahan pengikat warna pada kain (Fitrihana, 2012). Untuk mengikat warna pada kain Sasirangan diperlukan cairan pengikat yang juga berasal dari alam seperti tawas [K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O], kapur tohor (CaO), jeruk nipis, garam dapur, gula kelapa, gula jawa, asam jawa, kapur, tunjung (FeSO4), air kelapa, cuka (Susanto, 1998 : 70). Penggunaan larutan fiksasi dalam proses pewarnaan kain akan membuat warna menjadi tidak mudah pudar serta tahan terhadap gosokan. Proses fiksasi pada prinsipnya adalah mengkondisikan zat pewarna yang telah terserap dalam waktu tertentu agar terjadi reaksi antara bahan yang diwarnai, dengan zat warna dan bahan yang digunakan untuk fiksasi (Pujilestari, 2014: 2). Pembelajaran mengenai zat warna pakaian khususnya pada kain Sasirangan serta penguatan warna atau fiksasi dimaksudkan agar siswa mengetahui secara benar dan tepat bagaimana prosesnya agar menjadi tambahan pengetahuan mengenai zat warna pakaian. PENDIDIKAN IPA Ilmu pengetahuan alam atau sains merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam yang meliputi mahluk hidup dan mahluk tak hidup. Pengetahuan sains diperoleh dan dikembangkan dengan berlandaskan pada serangkaian penelitian yang dilakukan dalam mencari jawaban pertanyaan “apa,
  7. 7. mengapa, dan bagaimana” dari gejala-gejala alam serta penerapannya dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari. Di zaman globalisasi seperti sekarang, sangat diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia salah satu caranya adalah melalui pendidikan. telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan pendidikan, upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dilakukan untuk memenuhi tujuan pendidikan. Upaya tersebut dapat direalisasikan melalui tiga jalur pendidikan yaitu pendidikan formal, non formal dan informal. Pendidikan formal dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, dimulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. Dalam dunia pendidikan, pendekatan melalui budaya sangat cocok dipakai sebagai salah satu aspek pendukung pencapaian target pendidikan, terutama pendidikan di Indonesia yang memiliki multi budaya. Sejarah mencatat pendekatan kultural (cultural approach) telah terbukti efektif dalam membentuk peradaban bangsa. Hal ini dibuktikan dengan kisah sembilan wali (wali songo) yang berhasil menyebarkan agama Islam di Jawa (Mendikbud, 2014). Salah satu tujuan Kurikulum 2013 yang sedang berlaku saat ini adalah untuk mempersiapkan peserta didik Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia (PermenDIKBUD No.059/2014). Lebih lanjut secara singkat diuraikan bahwa kurikulum 2013 dikembangkan menggunakan filosofi budaya sebagai berikut. 2. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. 3. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik Bruner (1991) menyatakan belajar akan berhasil lebih baik jika selalu dihubungkan dengan kehidupan orang yang sedang belajar (anak didik). Didukung dengan pendidikan yang berakar dari budaya, maka apabila dikaitan dengan penggunaan zat pewarna alam pada Kain Sasirangan dapat masuk menjadi salah satu pelajaran IPA di sekolah. Khususnya pada daerah Kalimantan Selatan yang akan sangat baik, karena selain memberikan wawasan mengenai zat pewarna alam untuk pakaian, juga dapat sebagai upaya pelestarian budaya daerah diluar pelajaran Muatan Lokal. Dalam pembuatan Kain Sasirangan dengan zat warna alam, dapat dijadikan materi pelajaran pada bagian jenis zat pewarna alam yang dapat digunakan serta mengenai konsep fiksasi warna dan ketahanan luntur dari zat warna alam.
  8. 8. 2.4 FIKSASI WARNA BAB III PENUTUP Simpulan dari pembahasan mengenai penggunaan zat pewarn alam pada Kain Sasirangan adalah: 1. Pewarna alam yang dapat digunakan pada Kain Sasirangan diantaranya daun pohon nila (indofera), kunyit (Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava), biji ramania (gandaria) atau buah karamunting dan kulit buah rambutan. Untuk bahan fiksasi warna adalah tawas [K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O], kapur tohor (CaO), jeruk nipis, garam dapur, gula kelapa, gula jawa, asam jawa, kapur, tunjung (FeSO4), air kelapa, dan cuka. 2. Proses pewarnaan Kain Sasirangan dengan zat pewarna alam dengan teknik pencelupan langsung ke dalam larutan pewarna. Kemudian dicelupkan kedalam larutan garamnya (fiksasi), maka akan timbul warna di kain, setelah itu kain dijemur agar warna cepat meresap ke kain. 3. Konsep IPA yang terdapat dalam pewarnaan kain dan fiksasi warna Kian Sasirangan diantaranya mengetahui jenis zat warna yang ramah lingkungan, konsep ikatan kimia, gaya Van der Walls serta penggunaan cairan pengikat untuk mengunci warna kain.
  9. 9. DAFTAR PUSTAKA Achmadi, dkk. 2012. Penyuluhan Dan Pelatihan Pengrajin Kain Sasirangan Di Kelurahan Seberang Mesjid Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin Dalam Rangka Peningkatan Mutu Dan Kualitas Sasirangan. PKMK-2-9-2. Diakses, 28 Agustus 2015. Moerdoko Wibowo, dkk. 1975. Evaluasi tekstil bagian kimia. Bandung: Institut Teknologi Tekstil. Rasyid Djufri. 1976. Teknologi pengelantangan, pencelupan dan pencapan. Bandung: Institut Teknologi Tekstil. Hartanto, Sugiarto & Shigeru Watanabe. 1993. Teknologi Tekstil. Jakarta: PT. Pradnya Paramita. Fitrihana, Noor. 2007. Teknik Eksplorasi Zat Pewarna Alam Dari Tanaman Di Sekitar Kita Untuk Pencelupan Bahan Tekstil. http;//batikyogya.wordpress.com/2007/08/02/Teknik-Eksplorasi-Zat- Pewarna-Alam-Dari-TanamanDi-Sekitar-Kita-Untuk-Pencelupan-Bahan- Tekstil. Diakses tgl 07 Oktober 2015. Fitrihana, Noor. 2012. Teknik Eksplorasi Zat Pewarna Alam dari Tanaman di Sekitar Kita Untuk Pencelupan Bahan Tekstil online at http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132297145/TEKNIK%20PEMBUA TAN%20ZAT%20WARNA%20ALAM%20UNTUK%20BAHAN%20TEKST IL%20%20DARI%20TANAMAN%20DISEKITAR%20%20KITA.pdf [diakses tanggal 29 Maret 2015] Sewan Susanto. (1973). Batik Indonesia. Yogyakarta : BBKB-Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri, Dep. Perindustrian. Lestari, P. 2014. Ekstraksi Tanin Dari Daun Alpukat (Persea Americana Mill.) Sebagai Pewarna Alami (Kajian Proporsi Pelarut dan Waktu Ekstraksi). Jurnal Teknologi Pertanian. PP : 1-6. Universitas Brawijaya. Malang Titiek Pujilestari. 2014. Pengaruh Ekstraksi Zat Warna Alam Dan Fiksasi Terhadap Ketahanan Luntur Warna Pada Kain Batik Katun (The Effect Extraction Method And Fixation Of Natural Dyes To Color Fastness On
  10. 10. Cotton Fabric). Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jl.Kusumanegara No.7 Yogyakarta, Indonesia. Damayanti. 2007. Optimalisasi Waktu dan Temperatur Proses Fiksasi Pada Pencelupan Zat Warna Reaktif, Jurnal Teknika ATW,Vol 1 No 4,hal 20.

×