Al quran hadist ~ ''hadis ditinjau dari kualitas & kuantitasnya''

6,661 views

Published on

Enjoy my presentation & see more on my account..
thanks for visit mine.. :)

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,661
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
40
Actions
Shares
0
Downloads
141
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Al quran hadist ~ ''hadis ditinjau dari kualitas & kuantitasnya''

  1. 1. Dalam menyampaikan sebuah hadits terkadang Nabi berhadapan dengan orang yang jumlahnya amat banyak, terkadang dengan beberapa orang, terkadang pula hanya dengan satu atau dua orang saja. Demikian juga halnya dengan para Sahabat Nabi, untuk menyampaikan hadits tertentu ada yang didengar oleh banyak murid, tetapi hadis yang lainnya lagi didengar oleh beberapa orang, bahkan ada yang didengar oleh satu orang saja. Begitu seterusnya sampai dengan generasi yang mengabadikan hadits dalam kitab-kitab. Sudah barang tentu, informasi yang dibawa oleh banyak orang lebih menyakinkan dibandingkan dengan informasi yang dibawa oleh hanya satu atau dua orang. Para ulama berbeda pendapat tentang pembagian hadits yang ditinjau dari segi kuantitas atau jumlah rawi yang menjadi sumber berita. Diantara mereka ada yang mengelompokkan menjadi tiga bagian, yakni hadits mutawatir, masyhur, ahad, dan ada yang membaginya menjadi dua yakni hadits mutawatir dan ahad. Ulama golongan pertama yang menjadikan hadits masyhur berdiri sendiri dan tidak termasuk bagian dari hadis ahad dianut sebagian ulama ushul, diantaranya adalah Abu Bakar Al Jashshah (305-307 H). Adapun golongan kedua diikuti oleh kebanyakan ulama ushul dan ulama kalam. Menurut mereka, hadits masyhur bukan merupakan hadits yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari hadits ahad, itulah sebabnya mereka membagi hadits menjadi dua bagian, yaitu mutawatir dan ahad. A. PEMBAGIAN HADITS DITINJAU DARI SEGI KUANTITASNYA
  2. 2. 1. Hadits Mutawatir a. Pengertian Hadits Mutawatir Secara etimologi, kata mutawatir berarti : Mutatabi’ (beriringan tanpa jarak). Dalam terminologi ilmu hadits, ia merupakan haidts yang diriwayatkan oleh orang banyak, dan berdasarkan logika atau kebiasaan, mustahil mereka akan sepakat untuk berdusta. Periwayatan seperti itu terus menerus berlangsung, semenjak thabaqat yang pertama sampai thabaqat yang terakhir. Dari redaksi lain pengertian mutawatir adalah : Hadits yang berdasarkan pada panca indra (dilihar atau didengar) yang diberitakan oleh segolongan orang yang mencapai jumlah banyak yang mustahil menurut tradisi mereka sepakat berbohong. Ulama mutaqaddimin berbeda pendapat dengan ulama muta’akhirin tentang syarat-syarat hadits mutawatir. Ulama mutaqaddimin berpendapat bahwa hadits mutawatir tidak termasuk dalam pembahasan ilmu isnad al-hadits, karena ilmu ini membicarakan tentang shahih tidaknya suatu khabar, diamalkan atau tidak, adil atau tidak perawinya. Sementara dalam hadits mutawatir masalah tersebut tidak dibicarakan. Jika sudah jelas statusnya sebagai hadits mutawatir, maka wajib diyakini dan diamalkan.
  3. 3. 2. Macam-macam hadis mutawatir Hadits mutawatir ada tiga macam, yaitu : 1) Hadits mutawatir Lafzhi, yaitu hadits yang diriwayatkan dengan lafaz dan makna yang sama, serta kandungan hukum yang sama, contoh : Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ini sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia siap-siap menduduki tempatnya di atas api neraka. Menurut Al-Bazzar, hadits ini diriwayatkan oleh 40 orang sahabat. Al-Nawawi menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh 200 orang sahabat. 2) Hadits Mutawatir Ma’nawi, yaitu hadits mutawatir yang berasal dari berbagai hadits yang diriwayatkan dengan lafaz yang berbeda-beda, tetapi jika disimpulkan, mempunyai makna yang sama tetapi lafaznya tidak. Contoh hadits yang meriwayatkan bahwa Nabu Muhammad SAW mengangkat tangannya ketika berdo’a. Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa Nabi Muhammad SAW, tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a hingga nampak putih kedua ketiaknya kecuali saat melakukan do’a dalam sholat istisqo’ (HR. Bukhori dan Muslim)
  4. 4. 3) Hadits Mutawatir ‘Amali, yakni amalan agama (ibadah) yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian diikuti oleh para sahabat, kemudian diikuti lagi oleh Tabi’in, dan seterusnya, diikuti oleh generasi sampai sekarang. Contoh, hadits-hadits nabi tentang shalat dan jumlah rakaatnya, shalat id, shalat jenazah dan sebagainya. Segala amal ibadah yang sudah menjadi ijma’ di kalangan ulama dikategorikan sebagai hadits mutawatir ‘amali.
  5. 5. 2. Hadits Ahad a. Pengertian Hadits Ahad Al Ahad jama’ dari ahad, menurut bahasa berarti al-wahid atau satu. Dengan demikian khabar wahid adalah suatu berita yang disampaikan oleh satu orang. Sedangkan ahad secara istilah, banyak didefinisikan para ulama, antara lain: “Khabar yang tiada sampai jumlah banyak pemberitanya kepada jumlah khabar mutawatir, baik pengkhabar itu seorang, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya dari bilangan-bilangan yang tiada memberi pengertian bahwa khabar itu dengan bilangan tersebut masuk ke dalam khabar mutawatir”. Ulama lainnya memberikan definisi:[ “khabar wahid adalah khabar yang dinukilkan seorang rawi dari seorang rawi yang lain, atau yang dinukilkan seorang rawi dari sekelompok rawi, atau sekelompok rawi menukil dari seorang rawi dan secara jumlah tidak sampai pada batasan jumlah hadits masyhur”
  6. 6. Melihat dari beberapa definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hadits ahad adalah sebagai berikut: 1) Hadits yang diriwayatkan oleh beberapa rawi, akan tetapi tidak mencapai derajat mutawatir 2) Perawi-perawi tersebut dalam jumlah mengalami variasi dalam setiap thabaqah (tingkatan) 3) Perawi-perawi dalam hadits ahad tidak berdasarkan jumlah, akan tetapi lebih tertuju pada kredibilitas perawi.
  7. 7. b. Pembagian Hadits Ahad 1) Hadits Masyhur Masyhur menurut bahasa ialah al-intisyar wa az-zuyu’ (sesuatu yang sudah tersebar dan populer). Atau Masyhur ialah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, tetapi belum mencapai derajat mutawatir. Menurut ulama ushul: “Hadis yang diriwayatkan dari sahabat, tetapi bilangannya tidak sampai ukuran bilang mutawatir, kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan demikian pula setelah mereka” Ada juga yang mendefinisikan: “Hadits yang mempunyai jalan yang terhingga, tetapi lebih dari dua jalan dan tidak sampai kepada batas hadis yang mutawatir”. Adapun menurut istilah terdapat beberapa definisi yang jika disimpulkan hadits masyhur adalah hadits yang: · Diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih · Hadis yang dalam jumlah setiap tingkatan tidak sama, tetapi jumlah lebih dari tiga · Hadis yang memiliki jalur terbatas · Hadis yang tidak mencapai derajat atau batasan mutawatir
  8. 8. Macam-macam hadits masyhur dapat dilihat dan dikaji dalam dua bagian besar, yaitu pembagian hadits masyhur dilihat dari tersebarnya (intisyaar) hadits dalam perspektif-perspektif dan pembagian hadits masyhur dilihat dari kualitas dari pembawa berita dalam rangkaian sanad. Hadits masyhur yang dilihat dari beberapa perspektif bahasa (intisyaar) – masyhur dalam pembicaraan khalayak, tidak berdasarkan pada kajian hadits yang sebenarnya, boleh jadi hadits masyhur itu hanya terdiri dari dua sanad, satu sanad, tidak bersanad, bahkan sanadnya palsu.
  9. 9. u 2) Hadits ‘Aziz Hadits ‘aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada satu thabaqah saja, kemudian orang-orang meriwayatkannya. Atau yang dikategorikan sebagai hadis aziz yaitu: 1) Disetiap tabaqah hanya terdapat dua perawi saja. 2) Disalah satu tabaqah hanya terdapat dua perawi, meskipun di tabaqah lainnya lebih dari tiga perawi. Contoh hadits ‘aziz pada thabaqah pertama: Artinya: “Kami adalah orang-orang terakhir di dunia yang terdahulu pada hari kiamat”. (H.R Ahmad dan An Nasa’i). Hadits tersebut diriwayatkan oleh dua orang sahabat (thabaqah) pertama, yakni Hudzaifah ibn Al Yaman dan Abu Hurairah, hadits tersebut pada thabaqah kedua sudah menjadi masyhur sebab melalui periwayatan Abu Hurairah, hadits diriwayatkan oleh tujuh orang yaitu Abu Salamah, Abu Hazim, Thawus, Al A’raj, Abu Shalih, Humam, dan ‘Abd Ar Rahman.
  10. 10. 3) Hadits Garibb Hadits Gharib adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi (sendirian) pada tingkatan maupun sanad. Dengan batasan tersebut, maka apabila suatu hadits diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi saw dan baru pada tingkatan berikutnya diriwayatkan oleh banyak rawi, hadits tersebut dipandang sebagai hadits gharib. Hadits Gharib dibagi menjadi dua macam, yaitu hadits gharib mutlak dan hadits gharib nisbi. Hadits gharib mutlak adalah hadits yang gharabahnya (perawi satu orang) terletak pada pokok sanad, pokok sanad adalah ujung sanad yaitu seorang sahabat. Contohnya hadist gharib mutlak: Artinya: “Kekerabatan dengan jalan memerdekakan, sama dengan kekerabatan dengan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan”. hadits di atas diterima dari Nabi oleh Ibnu Umar dan dari Ibnu Umar hanya Abdullah bin Dinar saja yang meriwayatkannya. Abdullah bin Dinar adalah seorang tabi’in yang hafizh, kuat ingatannya, dan dapat dipercaya.
  11. 11. Sedangkan hadist gharib nisbi adalah hadits yang terjadi gharabah (perawinya satu orang) di tengah sanad. Peneyendirian seorang rawi seperti itu biasanya terjadi berkaitan dengan keadilan dan kedhabitan (kesiqahan) perawi atau mengenai tempat tinggal/kota tertentu. Contohnya hadits gharib nisbi berkenaan dengan kesiqahan perawi antara lain adalah: Artinya: “Dikabarkan bahwa Rasulullah SAW pada hari raya kurban dan hari raya fitrah membaca Surat Qaf dan Surat Al Qamar” Hadits tersebut diriwayatkan melalui dua jalur , yakni jalur Muslim dan Jalur Ad Daruqutni. Melalui jalur Muslim terdapat rentetan sanad: Muslim, Malik, Dumrah bin Said, Ubaidillah, dan Abu Waqid Al Laisi yang menerima langsung dari Rasulullah saw. Adapun melalui jalur Daruqutni, terdapat rentetan sanad: Daruqutni, Ibnu Lahiah, Khalid bin Yazid Urwah, Aisyah yang langsung menerima dari Nabi saw. Pada rentetan sanad yang pertama, Dumrah bin Said Al Muzani disifati sebagai seorang muslim yang tsiqah. Tidak seorangpun rawi-rawitsiqah yang meriwayatkan hadits tersebut selain dirinya sendiri. Sementara itu, melalui jalur kedua, Ibnu Lahiah yang meriwayatkan hadits tersebut dari Khalid bin Yazid dari Urwah dari Aisyah. Ibnu Lahiah disifati sebagai seorang rawi yang lemah.
  12. 12. B. PEMBAGIAN HADITS DITINJAU DARI SEGI KUALITASNYA Sebagaimana telah dikemukakan bahwa hadits mutawatir memberikan pengertian yang yaqin bi al- qath’, artinya Nabi Muhammad benar-benar bersabda, berbuat atau menyatakan taqrir (persetujuannya) di hadapan para sahabat berdasarkan sumber-sumber yang banyak dan mustahil mereka bersepakat berdusta kepada Nabi. Karena kebenaran sumbernya sungguh telah menyakinkan, maka ia harus diterima dan diamalkan tanpa perlu diteliti lagi, baik terhadap sanad-nya maupun matan-nya. Berbeda dengan hadits ahad yang hanya memberikan faedah zhanni (dugaan yang kuat akan kebenarannya), mengharuskan kita untuk mengadakan penyelidikan, baik terhadap matan maupun sanad-nya, sehingga status hadits tersebut menjadi jelas apakah dapat diterima sebagai hujjah atau ditolak. Sehubungan dengan itu, para ulama ahli hadits membagi hadits dilihat dari segi kualitasnya, menjadi tiga bagian, yaitu hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dha’if.
  13. 13. 1. HADITS SHAHIH a. Pengertian Hadits Shahih Menurut istilah, hadits shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang adil, sempurna ingatannya, sanad-nya bersambung-sambung, tidak ber-‘illat, dan tidak janggal. Definisi yang lain dinyatakan oleh Al Suyuthi: “Hadis yang bersambung sanadnya,diriwayatkan oleh perawi yang adil lagi dhabit, tidak syaz, dan tidak ber’illat” b. Syarat Hadits Shahih Menurut muhaddisin, suatu hadits dapat dinilai shahih apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Rawinya bersifat adil Menurut Ar Razi, keadilan adalah tenaga jiwa yang mendorong untuk selalu bertindak takwa, menjauhi dosa-dosa besar, menjauhi kebiasaan melakukan dosa-dosa kecil, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan mubah yang menodai muru’ah, seperti makan sambil berdiri di jalanan, buang air (kencing) di tempat yang sembarangan, bergurau berlebihan, dll
  14. 14. Menurut Syuhudi Ismail, kriteria-kriteria periwayat yang bersifat adil, adalah: · Beragama Islam · Berstatus mukalaf · Melaksanakan ketentuan agama · Memelihara muru’ah 2) Rawinya bersifat dhabit Dhabit adalah bahwa rawi yang bersangkutan dapat menguasai hadisnya dengan baik, baik dengan hafalan yang kuat atau dengan kitabnya, lalu ia mampu mengungkapkan kembali ketika meriwayatkannya Kalau seseorang mempunyai ingatan yang kuat, sejak menerima hingga menyampaikan kepada orang lain dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan saja, orang itu dinamakan dhabtu shadri, sedangkan kalau apa yang disampaikan itu berdasarkan buku catatan (teks book) ia disebut dhabtu kitab. Rawi yang ‘adil dan sekaligus dhabith disebuttsiqah. 3) Sanad-nya bersambung Yang dimaksud dengan ketersambungan sanad adalah bahwa setiap rawi hadits yang bersangkutan benar-benar menerimanya dari rawi yang berada di atasnya dan begitu selanjutnya sampai kepada pembicara yang pertama. Jadi suatu sanad hadits dapat dinyatakan bersambung apabila: · Seluruh rawi dalam sanad itu benar-benar tsiqat (adil dan dhabit) · Antara masing-masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya dalam sanad itu benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan hadits secara sah menurut ketentuan tahamul wa ada al hadits
  15. 15. 4) Tidak ber-‘illat Maksud bahwa hadist yang bersangkutan terbebas dari cacat kesahihannya, yakni hadits itu terbebas dari sifat samar-samar yang membuatnya cacat, meskipun tampak bahwa hadits itu tidak menunjukan adanya cacat tersebut. 5) Tidak syadz (janggal)[ Kejanggalan hadits terletak pada adanya perlawanan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul (yang dapat diterima periwayatannya) dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih kuat (rajah) daripadanya, disebabkan kelebihan jumlah sanad dalam kedhabitan atau adanya segi-segi tarjih yang lain.
  16. 16. c. Klasifikasi Hadits Shahih Para ulama hadits membagi hadits shahih memjadi dua macam, yaitu: 1) Shahih Li dzatihi, yaitu hadits yang memenuhi syarat-syarat atau sifat-sifat hadits maqbul secara sempurna, yaitu syarat-syarat yang lima sebagaimana tersebut di atas. 2) Shahih Li Ghairihi, yaitu hadits dibawah tingkatan sahih yang menjadi hadits shahih karena diperkuat oleh hadits-hadits lain. sekiranya hadits yang memperkuat itu tidak ada, maka hadits tersebut hanya berada pada tingkatanhadits hasan. Hadits sahih li ghairihi hakekatnya adalah hadits hasan lizatih (hadits hasan karena dirinya sendiri) Hadits dibawah ini merupakan contoh hadits hasan li dzatih yang naik derajatnya menjadi hadits shahih li ghairih
  17. 17. 2. HADITS HASAN a. Pengertian Hadits Hasan Hadits hasan adalah hadist yang telah memenuhi lima persyaratanhadits shahih sebagaimana disebutkan terdahulu, hanya saja bedanya, padahadits shahih daya ingatan perawinya sempurna, sedangkann pada hadits hasan daya ingatan perawinya kurang sempurna. Menurut Ibn Hajar, hadis hasan adalah: “Khabar ahad yang dinukil oleh orang yang adil, kurang sempurna hapalannya, bersambung sanadnya, tidak cacat, dan tidak syadz” 4. HADITS DHA’IF a. Pengertian Hadits Dha’if Hadits dha’if secara bahasa berarti hadits yang lemah. Secara istilah hadits dha’if adalah hadits yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadits maqbul (hadits shahih atau hadits hasan). Contoh hadits dha’if: Artinya: “Barangsiapa yang mendatangi pada seorang wanita menstruasi (haid) atau pada seorang wanita dari jalan belakang (dubur) atau pada seorang dukun, maka ia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw”. Hadist tersebut diriwayatkan oleh At Tirmidzi melalui jalan Hakim Al Atsram dari Abu Tamimah Al Hujaimi dari Abu Hurairah dari Nabi SAW. Dalam sanad itu terdapat seorang dha’if yaitu Hakim Al Atsram yang dinilaidha’if oleh para ulama.
  18. 18. Yang dapat disimpulkan dari makalah ini, antara lain sebagai berikut: 1. Hadits ditinjau dari segi kuantitasnya dibagi menjadi dua, yaitu hadits mutawatir danhadits ahad 2. Hadits mutawatir terbagi menjadi tiga macam yaitu: mutawatir lafzhi, mutawatir ma’nawi, dan mutawatir ‘amali 3. Sedangkan hadits ahad dibagi menjadi tiga yaitu: masyhur, ‘azis, gharib (gharib mutlak dan gharib nisbi) 4. Hadits ditinjau dari segi kualitasnya dibagi menjadi tiga, yaitu hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dha’if. 5. Baik hadist shahih maupun hadits hasan terbagi menjadi dua yaitu lidzatih danlighairihi. 6. Para perawi hadits mutawatir tidak perlu di persoalkan , baik mengenai keadilan maupun ke-dhabit-annya,sebab dengan adanya persyaratan yang begitu ketat,sebagaimana telah di tetapkan di atas ,menjadikan mereka tidak mungkin melakukan dusta

×