Hukum meminta jabatan

249 views

Published on

Hukum Meminta Jabatan

Published in: Leadership & Management
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
249
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
3
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hukum meminta jabatan

  1. 1. 1 Hukum Meminta Jabatan1 Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallâhu ‘anhu: “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” (Hadits Riwayat Al- Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz VIII, hal. 184, hadits no. 6722; juz IX, hal. 79, hadits no. 7146; dan Muslim, Shahîh Muslim, juz V, hal. 86, hadits no. 4370 dan juz VI, hal. 5, hadits no. 4819, dari Abdurrahman bin Samurah r.a.) Hadits ini juga diriwayatkan al-Imam al-Bukhari rahimahullâh dalam Shahîh al-Bukhâriy dengan judul “Siapa yang Tidak Meminta Jabatan, Allah subhanahu wa ta’ala Akan Menolongnya dalam Menjalankan Tugasnya” dan “Siapa yang Meminta Jabatan Akan Diserahkan Kepadanya (Dengan Tidak Mendapat Pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala dalam Menunaikan Tugasnya).” Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahullâh dalam Shahîh Muslim, yang diberi judul oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullâh “Bab larangan meminta jabatan dan berambisi untuk mendapatkannya.” Masih berkaitan dengan permasalahan di atas, juga didapatkan riwayat dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallîhu ‘anhu. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Dzar, Shahîh Muslim, juz VI, hal. 6, hadits no. 4823) 1 Dinarasikan kembali dengan beberapa penyelarasan dari tulisan Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari dalam http://asysyariah.com/hukum-meminta-jabatan/
  2. 2. 2 Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang2 dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Dzar, Shahîh Muslim, juz VI, hal. 7, hadits no. 4824) Al-Imam an-Nawawi rahimahullâh membawakan kedua hadits Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu di atas dalam kitab beliau Riyâdhush Shâlihîn, bab “Larangan meminta jabatan kepemimpinan dan memilih untuk meninggalkan jabatan tersebut jika ia tidak pantas untuk memegangnya atau meninggalkan ambisi terhadap jabatan.” Kepemimpinan yang Diimpikan dan Diperebutkan Menjadi seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mayoritas orang justru menjadikannya sebagai ajang rebutan khususnya jabatan yang menjanjikan lambaian rupiah (uang dan harta) serta kesenangan dunia lainnya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu: “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Hadits Riwayat Al- Bukhari dari Abu Hurairah r.a., Shahîh al-Bukhâriy, juz IX, hal. 79, hadits no. 7148) Bagaimana tidak, dengan menjadi seorang pemimpin, memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya berupa kepopuleran, penghormatan dari orang lain, kedudukan atau status sosial yang tinggi di mata manusia, menyombongkan diri di hadapan mereka, memerintah dan menguasai, kekayaan, kemewahan serta kemegahan. 2 Terlebih lagi bila memimpin lebih dari dua orang. (Syarh Riyâdhush Shâlihîn, juz II, hal. 472)
  3. 3. 3 Wajar bila kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini, banyak elite politik atau “calon pemimpin” di bidang lainnya, tidak segan-segan melakukan politik uang dengan membeli suara masyarakat pemilih atau mayoritas anggota dewan. Atau “sekadar” uang tutup mulut untuk meminimalisir komentar miring saat berlangsungnya masa pencalonan atau kampanye, dan sebagainya. Bahkan yang ekstrem, ia pun siap menghilangkan nyawa orang lain yang dianggap sebagai rival dalam perebutan kursi kepemimpinan tersebut, atau seseorang yang dianggap sebagai duri dalam daging yang dapat menjegal keinginannya meraih posisi tersebut. Nas’alullâh as-salâmah wal ‘âfiyah. Al-Muhallab rahimahullâh berkata sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bâri, juz XIII, hal. 135); “Ambisi untuk memeroleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ), dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi.” Seseorang yang menjadi penguasa dengan tujuan seperti di atas, tidak akan mendapatkan bagiannya nanti di akhirat kecuali siksa dan azab. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ۚ “Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Dan akhir yang baik itu hanya untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS al- Qashash/28: 83) Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullâh dalam tafsirnya mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwasanya negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal yang tidak akan pernah lenyap dan musnah, disediakan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yang tawadhu’ (merendahkan diri), tidak ingin merasa tinggi di muka bumi yakni tidak menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang lain, tidak merasa besar, tidak bertindak sewenang-wenang, tidak zalim, dan tidak membuat kerusakan di tengah mereka.” (Ibnu Katsîr, Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, juz III, hal. 412) Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâh berkata, “Seseorang yang meminta jabatan seringnya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, menguasai mereka, memerintah dan melarangnya. Tentunya tujuan yang demikian ini jelek adanya. Maka sebagai balasannya, ia tidak akan mendapatkan bagiannya di akhirat. Oleh karena itu, seseorang dilarang untuk meminta jabatan.” (Syarh Riyâdhush Shâlihîn, juz II, hal. 469)
  4. 4. 4 Sedikit sekali orang yang berambisi menjadi pemimpin, kemudian berpikir tentang kemaslahatan umum serta bertujuan memberikan kebaikan kepada hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala dengan kepemimpinan yang kelak bisa dia raih. Kebanyakan mereka justru sebaliknya, mengejar jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Program perbaikan dan janji- janji muluk yang digembar-gemborkan sebelumnya, tak lain hanyalah ucapan yang manis di bibir. Hari-hari setelah mereka menjadi pemimpin yang kemudian menjadi saksi bahwa mereka hanyalah sekadar mengobral janji kosong dan ucapan dusta yang menipu. Bahkan yang ada, mereka berbuat zalim dan aniaya kepada orang-orang yang dipimpinnya. Ibaratnya ketika belum mendapatkan posisi yang diincar tersebut, yang dipamerkan hanya kebaikannya. Namun ketika kekuasaan telah berada dalam genggamannya, mereka lantas memertontonkan apa yang sebenarnya diinginkannya dari jabatan tersebut. Hal ini sesuai dengan ungkapan ‘serigala berbulu domba’. Ini sungguh merupakan perbuatan yang memudaratkan diri mereka sendiri dan nasib orang-orang yang dipimpinnya. Betapa rakus dan semangatnya orang-orang yang menginginkan jabatan ini, sehingga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kerakusan terhadap jabatan melebihi dua ekor serigala yang kelaparan lalu dilepas di tengah segerombolan kambing. Beliau bersabda: “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. at- Tirmidzi dari Ka'ab bin Malik al-Anshari, Sunan at-Tirmidzi, juz IV, hal. 588, hadits no. 2376, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahîhul Musnad, juz II, hal. 178) Sifat Seorang Pemimpin Di tengah gencarnya para elite politik menambang suara dalam rangka memeroleh kursi ataupun jabatan, maka layak sekali apabila hadits yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah dan Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhuma di atas dihadapkan kepada mereka, khususnya lagi pada hadits Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu yang menyebutkan kriteria yang harus diperhatikan dan merupakan hal mutlak jika ingin menjadi pemimpin. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu, “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah.”
  5. 5. 5 Ucapan seperti ini bila disampaikan secara terang-terangan memang akan memberatkan bagi yang bersangkutan dan akan membekas di hatinya. Namun amanahlah yang menuntut hal tersebut. Maka hendaknya dijelaskan kepada orang tersebut mengenai sifat lemah yang melekat pada dirinya. Namun jika seseorang itu kuat, maka dikatakan kepadanya ia seorang yang kuat. Sebaliknya, bila ia seorang yang lemah maka dikatakan sebagaimana adanya. Yang demikian ini merupakan suatu nasihat. Tidaklah berdosa orang yang mengucapkan seperti ini bila tujuannya untuk memberikan nasihat, bukan untuk mencela atau mengungkit aib yang bersangkutan. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâh berkata, “Makna ucapan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu adalah beliau melarang Abu Dzar menjadi seorang pemimpin karena ia memiliki sifat lemah, sementara kepemimpinan membutuhkan seorang yang kuat lagi tepercaya. Kuat dari sisi ia punya kekuasaan dan perkataan yang didengar/ditaati, tidak lemah di hadapan manusia. Karena apabila manusia menganggap lemah seseorang, maka tidak tersisa kehormatan baginya di sisi mereka, dan akan berani kepadanya orang yang paling dungu sekalipun, sehingga jadilah ia tidak teranggap sedikit pun. Akan tetapi apabila seseorang itu kuat, dia dapat menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala, tidak melampaui batasan-batasan-Nya, dan punya kekuasaan. Maka inilah sosok pemimpin yang hakiki.” (Syarh Riyâdhus Shâlihîn, juz II, hal. 472) Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan kepada Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah amanat. Karena memang kepemimpinan itu memiliki dua rukun, kekuatan dan amanah. Hal ini dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh dengan dalil: “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS al-Qashash/28: 26) Penguasa Mesir berkata kepada Yusuf ‘alaihissalam: “Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” (QS Yûsuf/12: 54) Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat Jibril dengan menyatakan:
  6. 6. 6 “Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang memunyai kekuatan, yang memunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang memiliki ‘Arsy. Yang ditaati di kalangan malaikat lagi dipercaya.” (QS at-Takwîr/81: 19-21) Beliau rahimahullâh berkata, “Amanah itu kembalinya kepada rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tidak menjual ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala dengan harga yang sedikit, dan tidak takut kepada manusia. Inilah tiga perangai yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan terhadap setiap orang yang memutuskan hukuman atas manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ۚ “Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tapi takutlah kepada-Ku. Dan jangan pula kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS al-Mâidah/5: 44) [Lihat: As-Siyâsah asy- Syar’iyyâh, hlm. 12—13] Al-Imam al-Qurthubi rahimahullâh menyebutkan beberapa sifat dari seorang pemimpin ketika menafsirkan ayat: ۖۖ ۖ “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), kemudian Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagi imam (pemimpin) bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfiman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim’.” (QS al-Baqarah/2: 124) Beliau berkata, “Sekelompok ulama mengambil dalil dengan ayat ini untuk menyatakan seorang imam (pemimpin) itu harus dari kalangan orang yang adil, memiliki kebaikan dan keutamaan, juga dengan kekuatan yang
  7. 7. 7 dimilikinya untuk menunaikan tugas kepemimpinan tersebut.” (al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, juz II, hal. 74) Sebenarnya masih ada beberapa syarat pemimpin yang tidak disebutkan di sini karena ingin kami ringkas. Mudah-mudahan, pada kesempatan yang lain bisa kami paparkan. Nasihat bagi yang Sedang Berlomba Merebut Jabatan/Kepemimpinan Kepemimpinan adalah amanat, sehingga orang yang menjadi pemimpin berarti ia tengah memikul amanat. Tentunya, yang namanya amanat harus ditunaikan sebagaimana mestinya. Dengan demikian tugas menjadi pemimpin itu berat, sehingga sepantasnya yang mengembannya adalah orang yang cakap dalam bidangnya. Karena itulah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang tidak cakap untuk memangku jabatan karena ia tidak akan mampu mengemban tugas tersebut dengan semestinya. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Apabila amanah telah disia-siakan, maka nantikanlah tibanya hari kiamat. Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menyia- nyiakan amanat?’ Beliau menjawab, ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah tibanya hari kiamat’.” (Hadits Riwayat Al- Bukhari dari Abu Hurairah r.a., Shahîh al-Bukhâriy. juz VIII, hal. 129, hadits no. 6496) Selain itu, jabatan tidak boleh diberikan kepada seseorang yang memintanya dan berambisi untuk mendapatkannya. Abu Musa radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Aku dan dua orang laki-laki dari kaumku pernah masuk menemui Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Maka salah seorang dari keduanya berkata, ‘Angkatlah kami sebagai pemimpin, wahai Rasulullah’. Temannya pun meminta hal yang sama. Bersabdalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: “Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari, Shahîh al-Bukhâriy, juz IX, hal. 80, no. 7149)
  8. 8. 8 Hikmah dari hal ini, kata para ulama, adalah orang yang memangku jabatan karena permintaannya, maka urusan tersebut akan diserahkan kepada dirinya sendiri dan tidak akan ditolong oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallâhu ‘anhu di atas, ”Bila engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun bila diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” Siapa yang tidak ditolong maka ia tidak akan mampu. Tidak mungkin suatu jabatan itu diserahkan kepada orang yang tidak cakap. (Syarh Shahîh Muslim, 12/208, Fathul Bâri, 13/133, Nailul Authâr, 8/294) Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâh berkata, “Sepantasnya bagi seseorang tidak meminta jabatan apa pun. Namun bila ia diangkat bukan karena permintaannya, maka ia boleh menerimanya. Akan tetapi jangan ia meminta jabatan tersebut dalam rangka wara’ dan kehati-hatiannya, karena jabatan dunia itu bukanlah apa-apa.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/470) Al-Imam an-Nawawi rahimahullâh berkata ketika mengomentari hadits Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu, “Hadits ini merupakan pokok yang agung untuk menjauhi kepemimpinan, terlebih lagi bagi seseorang yang lemah untuk menunaikan tugas-tugas kepemimpinan tersebut. Adapun kehinaan dan penyesalan akan diperoleh bagi orang yang menjadi pemimpin sementara ia tidak pantas dengan kedudukan tersebut, atau ia mungkin pantas namun tidak berlaku adil dalam menjalankan tugasnya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menghinakannya pada hari kiamat, membuka kejelekannya, dan ia akan menyesali kesia-siaan yang dilakukannya. Adapun orang yang pantas menjadi pemimpin dan bisa berlaku adil, maka akan mendapatkan keutamaan yang besar sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang sahih seperti hadits, ‘Ada tujuh golongan yang Allah lindungi mereka pada hari kiamat, di antaranya imam (pemimpin) yang adil.’ Juga hadits yang disebutkan setelah ini tentang orang-orang yang berbuat adil nanti di sisi Allah subhanahu wa ta’ala (pada hari kiamat) berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Demikian pula hadits-hadits lainnya. Kaum muslimin sepakat akan keutamaan hal ini. Namun bersamaan dengan itu, karena banyaknya bahaya dalam kepemimpinan tersebut, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memeringatkan darinya, demikian pula ulama. Beberapa orang yang saleh dari kalangan pendahulu kita mereka menolak tawaran sebagai pemimpin dan mereka bersabar atas gangguan yang diterima akibat penolakan tersebut.” (Syarh Shahîh Muslim, juz XII, hal. 210—211) Ada sebagian orang menyatakan bolehnya meminta jabatan dengan dalil permintaan Nabi Yusuf ‘alaihissalam kepada penguasa Mesir: ۖ
  9. 9. 9 “Yusf pun berkata: Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS Yûsuf/12: 55) Maka dijawab, bahwa permintaan beliau ‘alaihissalâm ini bukan karena ambisi beliau untuk memegang jabatan kepemimpinan. Namun semata karena keinginan beliau untuk memberikan kemanfaatan kepada manusia secara umum, sementara beliau melihat dirinya memiliki kemampuan, kecakapan, amanah, dan menjaga terhadap apa yang tidak mereka ketahui. (Taisîr al- Karîmirrahmân, hlm. 401) Al-Imam asy-Syaukani rahimahullâh berkata, “Nabi Yusuf ‘alaihissalam meminta demikian karena kepercayaan para nabi terhadap diri mereka dengan sebab adanya penjagaan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap dosa-dosa mereka (ma’shum). Sementara syariat kita yang sudah kokoh (tsabit) tidak bisa ditentang oleh syariat umat yang terdahulu sebelum kita, karena bisa jadi meminta jabatan dalam syariat Nabi Yusuf ‘alaihissalam pada waktu itu dibolehkan.” (Nailul Authar, juz VIII, hal. 294) Ketahuilah, wahai mereka yang sedang memerebutkan kursi jabatan dan kepemimpinan sementara dia bukan orang yang pantas untuk mendudukinya, kelak pada hari kiamat kedudukan itu nantinya akan menjadi penyesalan karena ketidakmampuannya dalam menunaikan amanat sebagaimana mestinya. Al-Qadhi al-Baidhawi rahimahullâh berkata, “Karena itu, tidak sepantasnya orang yang berakal, bergembira, dan bersenang-senang dengan kelezatan yang diakhiri dengan penyesalan dan kerugian.” (Fathul Bâri, 13/134) Faedah Hadits 1. Kepemimpinan, jabatan, kekuasaan, dan kedudukan tidak boleh diberikan kepada orang yang memintanya, berambisi untuk meraihnya, dan menempuh segala cara untuk bisa mendapatkannya. 2. Orang yang paling berhak menjadi pemimpin, penguasa, dan memangku jabatan/ kedudukan adalah orang yang menolak ketika diserahkan kepemimpinan, jabatan, dan kedudukan tersebut dalam keadaan ia benci dan tidak suka dengannya. 3. Kepemimpinan adalah amanat yang besar dan tanggung jawab yang berat. Maka wajib bagi yang menjadi pemimpin untuk memerhatikan hak orang-orang yang di bawah kepemimpinannya dan tidak boleh mengkhianati amanat tersebut. 4. Keutamaan dan kemuliaan bagi seseorang yang menjadi pemimpin dan penguasa apabila memang ia pantas memegang kepemimpinan dan kekuasaan tersebut. Sama saja, baik ia seorang pemimpin negara yang adil, bendahara yang tepercaya, ataukah karyawan yang menguasai bidangnya. 5. Ajakan kepada manusia untuk tidak berambisi meraih kedudukan tertentu, khususnya bila ia tidak pantas mendapat kedudukan tersebut.
  10. 10. 10 6. Kerasnya hukuman bagi orang yang tidak menunaikan kepemimpinan dengan semestinya, tidak memerhatikan hak orang-orang yang dipimpin, dan tidak melakukan upaya optimal dalam memerbagus urusan kepemimpinannya. Wallâhu a‘lamu bish-shawâb.

×