Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Page 1 of 6
MATERI KAJIAN KHUSUS TIAP SENIN BAKDA MAGHRIB
AKHLAQ QUR’ANI
MASJID BETENG BINANGUN KADIPATEN WETAN YOGYAKARTA...
Page 2 of 6
1. Siapakah Luqmân itu?
Terdapat perselisihan ulama dalam masalah penamaan ayah dan
nasabnya, kenabian dan pro...
Page 3 of 6
penuh hikmah,7
Luqmân memberi sebuah nasihat sangat berharga untuk
buah hatinya yang sangat ia sayangi.
Dia me...
Page 4 of 6
'Abdullah bin 'Abbâs r.a. berkata,
“Pada suatu hari, aku pernah dibonceng oleh Rasulullah SAW, dan beliau bers...
Page 5 of 6
... .
“Tidak ada seorang (bayi pun) yang dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam
keadaan fithrah (Islam), ma...
Page 6 of 6
kepada anak untuk memperhatikan dan memenuhi hak-hak ayahnya.
(Sebagaimana) firman Allah:
“Dan janganlah kamu ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Tafsîr qs luqmân, 31 ayat 13

1,658 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Tafsîr qs luqmân, 31 ayat 13

  1. 1. Page 1 of 6 MATERI KAJIAN KHUSUS TIAP SENIN BAKDA MAGHRIB AKHLAQ QUR’ANI MASJID BETENG BINANGUN KADIPATEN WETAN YOGYAKARTA Tafsîr QS Luqmân/31:13 Nasihat ‘Pertama dan Utama’ Luqmân Untuk Buah Hatinya Nash (Teks) Ayat al-Quran ۖ “Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS Luqmân/31:13). Tafsîr al-Mufradât : Ia memberi pelajaran kepadanya. Kata ya’izhu, berasal dari wa’azha – ya’izhu – wa’zhan wa ‘izhatan, yang bermakna: “mengajari atayu menasihati”. Dalam ayat ini, Luqman berperan sebagai pengajar atau penasihat bagi anaknya, yang berarti dia ‘tengah memberikan’ petuah yang diharapkan dapat dipahami, disikapi dan diamalkan oleh anaknya, demi kebaikan dirinya. : Janganlah kamu mempersekutukan Allah. Luqman, dalam hal ini, memberikan pelajaran dan nasihat pertama dan utama bagi anaknya agar menjauhi perilaku syirik (memertuhankan sesuatu selain Allah). Nasihat yang berisi larangan ini bermakna agar anaknya memiliki ‘upaya preventif’ agar tidak tejebak pada perilaku syirik dalam pelbagai bentuknya. Sebaliknya, tersirat di dalamnya nasihat Luqman agar anaknya bisa menjaga sikap tauhidnya. : Benar-benar kezaliman yang besar. Perilaku syirik itu merupakan kezaliman yang besar. Dalam pengertian, merupakan perilaku yang sangat menyimpang dari kaedah tauhid yang seharusnya dipegang erat oleh setiap orang, termasuk di dalamnnya bagi anak Luqman. Al-Îdhâh (Penjelasan)
  2. 2. Page 2 of 6 1. Siapakah Luqmân itu? Terdapat perselisihan ulama dalam masalah penamaan ayah dan nasabnya, kenabian dan profesi serta sifat-sifat fisiknya.1 , Al-Hâfizh Ibnu Katsîr menjelaskan, bahwa ia adalah Luqmân bin 'Anqâ bin Sadûn.2 Sebagian besar ulama Salaf menyatakan, Luqmân bukanlah nabi dan tidak pula mendapatkan wahyu, melainkan ia seorang wali Allah yang taat, shâlih, dan bijaksana, yang telah dikaruniakan oleh Allah berbagai keutamaan, berupa kecerdasan akal, kedalaman pemahaman terhadap Islam, sifat pendiam dan tenang, serta hikmah dalam berkata-kata.3 Adapun mengenai profesi Luqman, di antara para ulama terjadi perpedaan pendapat. Ada yang mengatakan, ia seorang budak hitam yang berprofesi sebagai tukang kayu. Ada pula yang mengatakan sebagai penjahit. Ada pula yang mengatakan sebagai penggembala. Dan ada pula yang mengatakan sebagai Qadhi (hakim) di masyarakat Bani Israil.4 Sedangkan mengenai sifat-sifat fisik beliau, banyak para ulama yang menjelaskan, ia adalah seorang budak Habasyah yang hitam, berbibir tebal, dan berkaki pecah-pecah.5 2. Syirik Merupakan Kezaliman Yang Amat Besar Pada ayat di atas, Luqmân menasihati anaknya, Tsarân6 agar tidak berbuat syirik. Sebagai seorang ayah yang telah dikaruniai Allah sifat bijaksana dan kemampuan berkata-kata dengan kedalaman makna dan 1 Lihat: Ath-Thabari, Jâmi' al-Bayân 'an Ta'wîl Âyi al-Qur`ân, XXI/78-80, Al- Qurthubi, Al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur`ân, XIV, 56-57, Ibn al-Jauzi, Zâd al-Masîr , VI/317-318 dan Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-'Azhîm, VI/333-335. 2 Lihat; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-'Azhîm, VI/336. Terdapat pendapat lain soal nasab beliau, seperti termaktub dalam dikemukakan oleh al-Qurthubi, Al- Jâmi' li Ahkâm al-Qur`ân, XIV/56). Di antaranya, Luqmân bin Ba'urâ bin Nahûr bin Târah. Dan Târah adalah Azar, ayah Nabi Ibrahim. 3 Lihat: Al-Qurthubi, Al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur`ân, XIV/56), Ibn al-Jauzi, Zâd al-Masîr, VI//318), Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-'Azhîm , VI/334-335) dan Ath-Thabari, Jâmi' al-Bayân 'an Ta'wîl Âyi al-Qur`ân, XXI//80. 4 Keterangan-keterangan tentang ini dapat dilihat di Ath-Thabari, Jâmi' al- Bayân 'an Ta'wîl Âyi al-Qur`ân, XXI/79), dan Ibn al-Jauzi, Zâd al-Masîr, VI/317- 318. 5 Lihat: Ath-Thabari, Jâmi' al-Bayân 'an Ta'wîl Âyi al-Qur`ân, XXI/79), Al- Qurthubi, Al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur`ân, XIV/56), Ibn al-Jauzi, Zâdul-Masîr, VI/318) dan Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-'Azhîm, VI/33. 6 Disebutkan oleh Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir, bahwa namanya adalah Tsarân. Lihat: Al-Jâmi' li Ahkâm al Qur'ân, XIV/58 dan Tafsîr al-Qur'ân al-'Azhîm, VI/336.
  3. 3. Page 3 of 6 penuh hikmah,7 Luqmân memberi sebuah nasihat sangat berharga untuk buah hatinya yang sangat ia sayangi. Dia menasihati anaknya agar tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, karena syirik merupakan kezaliman yang amat besar. Karena dalam perbuatan syirik ini tidak ada suatu pun perbuatan dosa yang paling besar dan buruk daripada dosa menyekutukan Allah dengan makhluk- Nya, dosa menyamakan derajat Allah yang Maha Sempurna dan Yang Maha berhak untuk disembah karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya; dengan makhluk-Nya yang sarat kekurangan dan kelemahan.8 Oleh sebab itu, Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang yang berbuat syirik, jika ia sampai mati dalam keadaan belum bertaubat dari perbuatan syiriknya. Allah berfirman: ۚ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS an-Nisâ`/4: 48). Syirik merupakan kezaliman yang sangat besar; dan keimanan seorang muslim tidak mungkin lurus dan benar jika, masih tercampur dengan kezaliman ini, karena tidak mungkin sebuah keimanan dan tauhid bercampur dengan kesyirikan dan kekufuran. Ayat di atas juga memberikan isyarat yang jelas kepada para ayah atau orang tua, para guru, pengajar dan pembimbing secara umum, agar mereka menasihati anak-anaknya sejak dini. Yaitu dengan menanamkan dan memahamkan serta mengajarkan prinsip-prinsip dasar ke-Islaman dan keimanan, berupa aqidah atau tauhid. Hal ini pun telah dicontohkan oleh seorang ayah, pembimbing, dan guru yang terbaik, yaitu Rasulullah SAW , tatkala beliau menasihati sepupunya, 'Abdullah bin 'Abbâs r.a. yang saat itu umurnya masih sangat belia.9 7 QS Luqmân/31: 12. 8 Lihat: Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-'Azhîm, VI/336) dan As-Sa’di, Taisîr al-Karîm ar-Rahmân, II/424. 9 Umur beliau saat itu kurang dari 15 tahun. Lihat: Al-‘Utsaimin, Syarh al- Arba'în an-Nawawiyyah, hal. 201.
  4. 4. Page 4 of 6 'Abdullah bin 'Abbâs r.a. berkata, “Pada suatu hari, aku pernah dibonceng oleh Rasulullah SAW, dan beliau bersabda: "Wahai anak, sesungguhnya aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; 'Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di depanmu. Jika kamu ingin meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika kamu ingin memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat bergabung untuk memberikan sebuah manfaat kepadamu, mereka semua tidak akan bisa memberikan manfaat itu kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Dan jika mereka semua bergabung untuk memberikan sebuah madharrat/bahaya kepadamu, mereka semua tidak akan bisa memberikan madharrat/bahaya itu kecuali jika Allah telah menetapkannya (pula) untukmu. Pena telah diangkat, dan buku catatan (amal) telah kering'."10 3. Pesan dan Nasihat IbnuQayyim al-Jauziyah Untuk Para Ayah, Orang Tua dan Pendidik Secara Umum Sebelum merenungkan nasihat Ibnu Qayyim al-Jauziyah, marilah kita renungi dan pahami terlebih dahulu sabda Rasulullah berikut: 10 HR at-Tirmidzi dari Abdullah bin Abbas, Sunan at-Tirmidzi, IV/667, hadits no. 2516. Hadits ini – menurut At-Tirmidzi, “hasan-shahîh”. Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan bahwa hadits ini ‘shahîh’. Lihat: Al-Jâmi’ ash- Shaghîr wa Ziyâdatuh, I/1392, hadits no, 31931.
  5. 5. Page 5 of 6 ... . “Tidak ada seorang (bayi pun) yang dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fithrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, dan Majusi…”11 Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyatakan, bahwa sebagian Ulama berpendapat: “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada ayah -- pada hari Kiamat nanti -- (tentang) apa yang telah dilakukannya terhadap anaknya, sebelum Allah bertanya kepada anak, (tentang) apa yang telah dilakukannya terhadap ayahnya.”12 Karena, sebagaimana ayah memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh anaknya, maka anak pun memiliki hak yang harus di penuhi oleh ayahnya. Dan sebagaimana Allah berfirman: ... “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) baik kepada dua orang ibu-bapaknya ...” (QS -al-'Ankabut/29: 8), maka Allah pun berfirman: ... “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (QS at-Tahrim/66: 6), dan 'Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: "Yaitu, ajarilah dan didiklah anak-anak kalian!".13 Sehingga, perintah Allah kepada ayah untuk memperhatikan dan memenuhi hak-hak anaknya, lebih Allah dahulukan daripada perintah-Nya 11 HR al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, II/118, hadits no. 1358 dan HR Muslim, Shahîh Muslim, VIII/52, hadits no. 6926, dari Abu Hurairah. 12 Lihat: Abu 'Abdillah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyûb az-Zar'i, Tuhfah al-Maudûd bi Ahkâm al-Maulûdh. 386-387. 13 Atsar ini dishahîhkan oleh Syaikh Salim bin 'Id al-Hilâli dalam tahqîq beliau terhadap kitab Tuhfat al-Maudûd bi Ahkâm al-Maulûd, hal. 375.
  6. 6. Page 6 of 6 kepada anak untuk memperhatikan dan memenuhi hak-hak ayahnya. (Sebagaimana) firman Allah: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan...” (QS al-Isrâ`/17: 31), sehingga barang siapa melalaikan pendidikan anaknya agar mengetahui hal-hal yang bermanfaat untuknya, dan menyia-nyiakannya; maka sungguh ia telah berbuat keburukan terhadap anaknya dengan seburuk-buruknya. Dan mayoritas anak, tidaklah mereka menjadi rusak melainkan karena ayahnya. Ayahnyalah yang lalai mendidik anaknya, dan lalai menanamkan serta memahamkan prinsip-prinsip dasar agama dan sunnah-sunnahnya. Akhirnya, (ayah seperti inilah yang) telah menyia- nyiakan anaknya (sendiri) sejak kecil, dan tidak memberinya manfaat. Sehingga ketika ia telah dewasa, ia pun tidak (bisa) memberikan manfaat apapun kepada ayahnya. Seperti yang pernah terjadi pada sebagian anak yang mencela ayahnya (karena kelalaiannya), ia berkata: "Wahai ayahku, sebagaimana engkau tidak mendidikku saat masa kecilku, maka kini saat aku telah dewasa mendurhakaimu! Wahai ayahku, sebagaimana engkau telah menyia-nyiakan diriku (dahulu) ketika aku bayi, maka kini aku pun menyia- nyiakanmu ketika engkau menjadi seorang kakek tua". Kesimpulan dan ‘Ibrah (Pelajaran Yang Dapat Dipetik) Dari Ayat ini Dari pembahasan di atas, dapat diperoleh kesimpulan dan ‘ibrah, bahwa ayat ini (QS Luqmân/31: 13) menerangkan bahwa ‘pendidikan’ anak harus dimulai dengan penanaman nilai tauhid. Karena nilai tauhid inilah yang akan mengarahkan anak itu menjadi orang yang berakhlak mulia. Sebaliknya, ketika anak dibiarkan untuk mencerap nilai-nilai syirik, maka kelak ‘dia’ akan cenderung memiliki akhlak (yang) tercela. Dan kepada orang tua, sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya, disarankan agar selalu menanamkan jiwa tauhid kepada anak-anaknya sejak dini, dengan nasihat dan keteladanan. Utamanya dengan melatih mereka untuk menghindari perilaku ‘syirik’, disamping menanamkan cara berpikir yang benar, dengan berupaya untuk selalu membangun kecerdasan tauhid pada diri mereka dalam menghadapi semua persoalan hidupnya. Melatih mereka untuk selalu mau dan berani bekerja keras, bersikap ikhlas dan tawakal (berserah diri) hanya kepada Allah. Wallâhu A'lamu bish-Shawâb. Yogyakarta, 16 Februari 2015

×