TEORI BELAJAR KECERDASAN BERGANDA
( MULTIPLE INTELLINGENCES )

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Belajar dan Pembela...
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa,karena atas karunia-Nya
makalah ini bisa terseles...
DAFTAR ISI

JUDUL..................................................................................................

i

KA...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu pengertian kecerdasan yang paling banyak digunakan adalah konsep
kecerdasan...
juga memiliki sikap dan perilaku yang beretika. Karena itu dalam sekolah dan perkuliahan
juga diberikan mata pelajaran yan...
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian IQ, EQ dan SQ
1. IQ (Intellegence Questiont)
Kecerdasan Intelektual/Intelligence Questien...
bukan pencetus pertama, telah mempopulerkan pada pertengahan 1990-an. Konsep
kecerdasan emosi ini dioperasionalkan menjadi...
yang kental dalam diri manusia modern adalah suka membaca. Namun, terkadang
kualitas intelektual tersebut tidak dibarengi ...
1. Kecerdasan Bahasa (Linguistic intelligence)
Yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan penguasaan kosa kata atau bahasa
lis...
tubuh yang diperlukan untuk berhasil dalam aktivitas-aktivitas seperti menari,
melakukan pantomim, berolahraga, seni bela ...
8. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence)
Adalah kecerdasan yang terkait dengan kemahiran dalam mengenali dan
meng...
kumpulkanlah berbagai macam benda yang memiliki beragam tekstur dan bentuknya
khas, cobalah kenali benda-benda tersebut de...
2. Guru
Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori
kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerda...
Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan
fasilitas pendukung selain guru yang berkualitas.Fas...
PENUTUP

A.Kesimpulan
1)
DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, T., 2002. Sekolah Para Juara : Menerapkan Multiple Intelegences di Dunia
Pendidikan.Bandung : K...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Makalah teori belajar kecerdasan berganda

5,531 views

Published on

Published in: Education, Technology
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,531
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
26
Actions
Shares
0
Downloads
137
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah teori belajar kecerdasan berganda

  1. 1. TEORI BELAJAR KECERDASAN BERGANDA ( MULTIPLE INTELLINGENCES ) Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran Dosen Pengampu : Andhika Ayu W. M.Pd Oleh: 1. Diyah Sri Hariyanti (1051500083) 2. Yenti Sri Astuti (1051500082) 3. Muslikhah R.M. (1051500088) 4. Sidiq Widodo (1051500096) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO 2011
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa,karena atas karunia-Nya makalah ini bisa terselesaikan dengan baik. Salah satu karakteristik penting dari individu yang perlu difahami oleh guru sebagai pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang tidak memahami kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi proses pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal potensi yang ada pada dirinya.Oleh karena itu pembelajaran ini di harapkan dapat meningkatkan bakat dan kecerdasaan terutama di kalangan mutu pendidikan nasional saat ini. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu menyelesaikan makalah ini,serta saran dan kritik dari pembaca, penulis harapkan demi kesempuraan makalah ini Akhirnya,kami berharap makalah ini bermanfaat bagi seluruh civitas akademika,khususnya bagi para mahasiswa agar dapat mengikuti proses belajar mengajar di universitas secara efektif. Sukoharjo,7 desember 2011 penulis
  3. 3. DAFTAR ISI JUDUL.................................................................................................. i KATA PENGANTAR......................................................................... ii DAFTAR ISI......................................................................................... iii BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang.............................................................. B. Rumusan Masalah........................................................ C. Tujuan............................................................................ BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian IQ, EQ dan SQ........................................... 1
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu pengertian kecerdasan yang paling banyak digunakan adalah konsep kecerdasan yang dipaparkan oleh Wechsler. Kecerdasan menurut Wechsler didefenisikan sebagai konsep generik yang melibatkan kemampuan individual untuk berbuat dengan tujuan tertentu. Sedangkan menurut Chaplin (1975) kecerdasan merupakan kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, dikenal ada 3 jenis kecerdasan, yaitu: kecerdasan intelektual(IQ), kecerdasan emosional(EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan intelektual diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi Prancis abad ke-20. Dalam kecerdasan ini, kajiannya hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif saja. Kemudian timbul kajian Emosional Quotient(EQ) oleh pakar psikologi, Daniel Goleman(1997). Emosional Quotient(EQ) dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi prestasi seseorang. Goelman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali diri sendiri dan orang lain. Pada dasarnya kecerdasan intelektual(IQ) dan kecerdasan emosional(EQ) berpangkal pada kecerdasan spiritual(SQ) yang dapat membuat seseorang tidak hanya mengejar kesuksesan dunia dengan IQ dan EQ yang ia miliki untuk dirinya sendiri dengan menghalalkan segala cara. Karena itu, Spiritual Quotient(SQ) merupakan pengendali terhadap segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia. Kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi tidak menjamin seseorang dapat meraih kesuksesan sesuai yang dia inginkan. Karena seseorang yang mempunyai tingkat intelektualitas yang tinggi namun memiliki kecerdasan emosi (EQ) yang rendah maka sering kali ia gagal karena tidak bisa mengendalikan emosi, berempati dan bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapi. Namun, kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) harus dilandasi dengan kecerdasan spiritual (SQ) yang mengontrol segala perilaku manusia baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Oleh karena itu, sekolah maupun perkuliahan sebagai salah satu lembaga pendidikan yang akan memasok kebutuhan sumber daya manusia pada masyarakat, berusaha menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di bidangnya tapi
  5. 5. juga memiliki sikap dan perilaku yang beretika. Karena itu dalam sekolah dan perkuliahan juga diberikan mata pelajaran yang menunjang terbentuknya karakter peserta didik seperti; agama, kewarganegaraan, dan kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah atau di kampus. Salah satu karakteristik penting dari individu yang perlu difahami oleh guru sebagai pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang tidak memahami kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi proses pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal potensi yang ada pada dirinya. Akibat penanganan salah seperti yang dilakukan oleh sistem persekolahan saat ini kita telah kehilangan bakat-bakat cemerlang. Individu-individu yang cerdas tidak dapat mengembangkan potensi diri mereka secara optimal. Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Inteligence) yang dikemukakan oleh Howard Gardner seorang professor psikologi dari Harvard University akan dijadikan acuan untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan individu. Tulisan ini bertujuan untuk membahas dan lebih memahami tentang upaya yang perlu dilakukan oleh guru dan pendidik dalam membantu memfasilitasi pengembangan potensi individu peseta didik.
  6. 6. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian IQ, EQ dan SQ 1. IQ (Intellegence Questiont) Kecerdasan Intelektual/Intelligence Questient (IQ) merupakan kecerdasan dasar yang berhubungan dengan proses kognitif, pembelajaran (kecerdasan intelektual) kecenderungan menggunakan kemampuan matematis-logis dan bahasa, pada umumnya hanya mengembangkan kemampuan kognitif (menulis, membaca, menghafal, menghitung dan menjawab). Kecerdasan ini sering kita kenal dengan kecerdasan rasional, karena menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah. Tingkat kecerdasan intelektual seseorang dapat di uji melalui tes, yakni dengan ujian daya ingat, daya nalar, penguasaan kosa kata, ketepatan menghitung, dan menganalisis data. Kecerdasan Intelektual muncul sejak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, sejak sejak anak berada di dalam kandungan(masa pranata) sampai tumbuh menjadi dewasa. Kecerdasan rasional ini merupakan aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas seseorang dalam perolehan pembelajaran. Proses kerja Intelligence Questient(IQ) terkenal dengan linier. Pertanyaan menimbulkan jawaban dalam hal yang begitu mirip dengan cara neuron (sel saraf mencari) neuron lain.(Covey, Steven, 2004). Intelegensi adalah suatu konsep yang dioperasionalisasikan dengan suatu alat ukur, dan keluaran dari alat ukur inilah yang berupa IQ. Angka yang keluar adalah angka berdasarkan satuan tertentu. Semacam ‟gram‟ untuk berat dan ‟meter‟ untuk jarak. Konsep inilah yang harus diluruskan agar tidak menimbulkan beragam penafsiran, IQ adalah satuan ukur. Ketika disadari seiring berjalannya waktu, manusia mulai menyadari bahwa faktor emosi tidak kalah pentingnya dalam mendukung sebuah kesuksesan, bahkan dipandang lebih penting dari pada kecerdasan intelegensi. Daniel Goleman, walaupun
  7. 7. bukan pencetus pertama, telah mempopulerkan pada pertengahan 1990-an. Konsep kecerdasan emosi ini dioperasionalkan menjadi alat ukur dan keluarannya disebut EQ. 2. EQ (Emotional Quotient ) Kecerdasan emosi atau dikenal dengan istilah Emotional Quotient (EQ) adalah kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya. EQ ini tidak saling bertabrakan dengan IQ karena memang punya wilayah „kekuasaan‟ yang berbeda. IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dan diasosiasikan dengan otak kiri. Sementara, EQ lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan). Kalau ingin mendapatkan tingkah laku yang cerdas maka kemampuan emosi juga harus diasah. Untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara baik kita memerlukan kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri dan orang lain secara baik. Di sinilah fungsi dari kecerdasan emosi. Melalui kecerdasan emosi diharapkan semua unsur yang terlibat dalam pendidikan dan pembelajaran dapat memahami diri dan lingkungannyasecara tepat, memiliki rasa percaya diri (PD) , tidak iri hati, dengki, cemas, takut, murung, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah marah. 3. SQ (Spiritual Quotient) Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan kemampuan individu terhadap mengelola nilai-nilai, norma-norma dan kualitas kehidupan dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan pikiran bawah sadar atau lebih dikenal dengan suara hati (God Spot). Kecerdasan Spiritual (SQ) yang memadukan antara kecerdasan intelektual dan emosional menjadi syarat penting agar manusia lebih memaknai hidup dan menjalani hidup penuh berkah. Terutama pada masa sekarang, dimana manusia modern terkadang melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu. Manusia modern adalah manusia yang mempunyai kualitas intelektual yang memadai, karena telah menempuh pendidikan yang memadai pula. Salah satu ciri
  8. 8. yang kental dalam diri manusia modern adalah suka membaca. Namun, terkadang kualitas intelektual tersebut tidak dibarengi dengan kualitas iman atau emosional yang baik, sehingga berkah yang diharapkan setiap manusia dalam hidupnya tidak dapat diperoleh. B. Teori kecerdasan menurut Howard Gadner Pada tahun 1983, seorang ahli psikologi bernama Howard Gardner dari Manchester Instituit of Technology (MIT) dalam bukunya Frames of Mind, mengembangkan model kecerdasan selama lebih dari dua puluh tahun dengan menjelajahi berbagai disiplin ilmu, seperti neoubiologi, antropologi, psikologi, filsafat dan sejarah. Ia menemukan bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai potensi kecerdasan. Tipe kecerdasan yang dikembangkannya adalah kecerdasan majemuk (Multiple Intellegences). Kecerdasan majemuk ini dikembangkannya berdasarkan hasil penelitian para pakar lainnya, yaitu Jean Piaget. Gardner akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, dan bukanlah unit kepemilikan tunggal. Kecerdasan merupakan serangkaian kemampuan dan keterampilan yang dapat dikembangkan. Kecerdasan ada pada setiap manusia tetapi dengan tingkat yang berbeda-beda. Titik tekan dari teori kecerdasan majemuk Gadner terletak pada kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan untuk menciptakan suatu produk atau karya. Secara lebih terperinci dapat dinyatakan sebagai berikut : a. Kemampuan untuk menciptakan suatu produk yang efektif atau menyumbangkan pelayanan yang bernilai dalam suatu budaya. b. Sebuah perangkat keterampilan menemukan atau menciptakan bagi seseorang dalam memecahkan permasalahan dalam hidupnya. c. Potensi untuk menemukan jalan keluar dari masalah-masalah yang melibatkan penggunaan pemahaman baru. Berdasarkan kesimpulan itu, Gardner memperkenalkan kecerdasan majemuk (Multiple Intellegences) yang terbagi menjadi 8 kecerdasan yaitu:
  9. 9. 1. Kecerdasan Bahasa (Linguistic intelligence) Yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan penguasaan kosa kata atau bahasa lisan maupun tulis, dan secara luas, komunikasi. Contoh orang yang memiliki kecerdasan bahasa yaitu pengarang, penyair, wartawan, pembicara, pembaca berita. William Shakespeare, Martin Luther King Jr, Soekarno, Putu Wijaya, Taufiq Ismail, Hilman “Lupus” Hariwijaya merupakan tokoh yang berhasil menunjukkan kecerdasan ini hingga puncak, demikian pula para jurnalis hebat, ahli bahasa, sastrawan, orator pasti memiliki kecerdasan ini. 2. Kecerdasan Matematis/Logis (logical/mathematical intelligence) Yaitu kecerdasan yang berkaitan erat dengan berpikir deduktif- induktif/beralasan, numerasi, dan pola-pola berpikir abstrak. Ciri ragam kecerdasan ini adalah pada kemampuan memecahkan berbagai masalah abstrak dan memahami hubungan sebab akibat. Bentuk kecerdasan ini termasuk yang paling mudah distandarisasikan dan diukur. Kecerdasan ini sebagai pikiran analitik dan sainstifik dan bisa melihatnya dalam diri ahli sains, programmer komputer, akuntan, banker dan tentu saja ahli matematika. Tokoh-tojoh yang terkenal antara lain Madame Currie, Blaise Pascal, B.J. Habibie. 3. Kecerdasan Spasial (visual/spatial intelligence) Orang yang memiliki kecerdasan spasial adalah orang yang memiliki kapasitas dalam berfikir secara tiga dimensi. Contoh – contoh orang yang memiliki kecerdasan spasial adalah pelaut, pilot, pematung, pelukis daan arsitek. Kecerdasan spasial memungkinkan individu dapat mempersepsikan gambar-gambar baik internal maupun eksternal dan mengartikan atau mengkomunikasikan informasi grafis. 4. Kecerdasan Kinestetik (Kinesthetic intelligence) Yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan gerak fisik (gerak tubuh dan anggota tubuh), termasuk syaraf otak motorik yang mengontrol gerak tubuh dan anggota tubuh. Bentuk kecerdasan ini memungkinkan terjadinya hubungan antara pikiran dan
  10. 10. tubuh yang diperlukan untuk berhasil dalam aktivitas-aktivitas seperti menari, melakukan pantomim, berolahraga, seni bela diri dan memainkan drama.Sebut saja Michael Jordan, Martha Graham (penari balet), dan Susi Susanti adalah mereka yang unggul dengan kecerdasan kinestetiknya. 5. Kecerdasan Musikal (Musical/rhythmic intelligence) Yaitu kecerdasan yang yang berkaitan dengan nada, irama, pola titi nada, dan warna nada. Kecerdasan ini berupa tingkatan sensitivitas pada pola-pola suara dan kemampuan untuk merespon musik secara emosional.Bentuk kecerdasan ini sangat menyenangkan, karena musik memiliki kapasitas untuk mengubah kesadaran kita, menghilangkan stress dan meningkatkan fungsi otak.Tokoh-tokoh yang sudah mengembangkan kecerdasan ini misalnya Stevie Wonder, Melly Goeslow, dan Titik Puspa. 6. Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal intelligence) Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat memahami dan dapat melakukan interaksi secara fektif dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal akan dapat dilihat dari beberapa oranng seperti guru yang sukses, pekerja sosial, aktor, politisi. Saat ini orang mulai menyadari bahwa kecerdasan interpersonal merupakan salah satu faktor yang sangat kesuksesan seseorang. 7. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal intelligence) Adalah kecerdasan yang berkenaan dengan pengetahuan diri. Ciri kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan kemampuan untuk bertanggung jawab atas konsep-diri, sikap perilaku, perasaan, dan tindakan yang dilakukan. Bentuk kecerdasan ini merupakan kemampuan untuk memahami dan mengartikulasikan cara kerja terdalam dari karakter dan kepribadian. Kecerdasan ini sering dinamakan dengan kebijaksanaan. Berkaitan dengan jurusan psikologi atau filsafat. Tokoh-tojoh sukses yang dapat dikenalkan untuk memperkaya kecerdasan ini adalah para pemimpin keagamaan dan para psikolog.
  11. 11. 8. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence) Adalah kecerdasan yang terkait dengan kemahiran dalam mengenali dan mengklasifikasi banyak spesies flora dan fauna dalam lingkungan seseorang. Kecerdasan ini meningkatkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam dan fenomenanya. Contohnya formasi awan dan gunung. Bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, kemampuan membedakan benda mati seperti mobil, rumah, dan sampul kaset (CD). C. Kegiatan untuk meningkatkan kecerdasan ganda Sejumlah cara atau metode dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuankemampuan individu. Setiap metode digunakan untuk meningkatkan jenis kecerdasan yang spesifik yaitu: 1. Meningkatkan kecerdasan bahasa dapat dilakukana dengan cara mengadakan permainan merangkai kata, membuat buku harian atau menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiran setiap harinya sebanyak 250 kata, dan sediakan waktu untuk bercerita secara teratur dengan keluarga atau sahabat. 2. Cara untuk meningkatkan kecerdasan spasial yaitu seringlah berlatih permainan gambar tiga dimensi, puzzle, kubus, dan teka-teki visual lainnya, dekorasi ulang interior dan taman rumah, buatlah struktur benda dengan logo, atau bahan mainan tiga dimensi lainnya. 3. Meningkatkan kecerdasan matematis logis dapat dilakukan dengan cara berlatih menghitung soal-soal matematika sederhana di kepala ( berapa 21 X 40 dalam 5 detik), pelajari cara menggunakan sempoa, sering-seringlah mengisi teka-teki silang/asah otak lainnya. 4. Kecerdasan musikal dapat dilatih dengan cara mengunjungi konser atau pertunjukan musik, bernyanyilah di kamar mandi atau di manapun yang memungkinkan untuk bersenandung, luangkan waktu selama satu jam setiap minggu untuk mendengarkan gaya musik yang tidak dikenal akrab (western, jazz, country, world music ,dll). 5. Meningkatkan kecerdasan kinestetik dapat dilakukan dengan carai bergabung dan berlatih bersama dengan klub olahraga di lingkungan, pelajarilah kegiatan dansa,
  12. 12. kumpulkanlah berbagai macam benda yang memiliki beragam tekstur dan bentuknya khas, cobalah kenali benda-benda tersebut dengan mata tertutup. 6. Cara atau metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal yaitu belilah kotak kartu nama, penuhi dengan nama kontak bisnis, teman, kenalan, kerabat, dan orang lain, serta tetaplah menjalin hubungan dengan mereka; luangkan waktu selama 15 menit setiap hari untuk mempraktekkan mendengarkan secara aktif dengan pasangan hidup atau sahabat dekat; bekerjasamalah dengan satu orang atau lebih dalam sebuah proyek yang berdasarkan pada kesamaan minat (seni kain perca, pemain bass, penulisan artikel tentang pantai). 7. Meningkatkan kecerdasan intrapersonal dapat dilakukan dengan cara pilihlah tokoh favorit yang positif, dan baca serta jadikan mereka sebagai kawan imajinasi dalam memecahkan suatu permasalahan yang membutuhkan waktu pemahaman yang dalam, lakukanlah sesuatu yang menyenangkan diri sekurang-kurangnya sekali sehari, luangkan waktu sekitar sepuluh menit setiap sore hari untuk meninjau kembali secara mental berbagai macam perasaan dan gagasan yang dialami. 8. Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan naturalis antara lain peliharalah hewan favorit, tingkatkan frekuensi melihat acara-acara mengenai program flora dan fauna, (ini yang paling mudah) cobalah untuk menahan dari untuk tidak merusak lingkungan, seperti mencorat-coret meja, menginjak rumput kantor, memetik bunga yang sedang tumbuh. D. Faktor – Faktor Penting dalam Implementasi Teori Kecerdasan Ganda Implementasi teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut : 1. Orang tua murid Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid, perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda di sekolah dapat berhasil. Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu memeberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.
  13. 13. 2. Guru Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu : a. Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa b. Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional. Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa. 3. Kurikulum Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka langkah – langkah berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004) mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu : a. 30 % pembelajaran langsung b. 30 % belajar kooperatif c. 30% belajar independent Implementasi teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan pembelajaran.Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki. Guru musik misalnya, selain mampu memainkan instrumen musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehimgga dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musikal.
  14. 14. Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas pendukung selain guru yang berkualitas.Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik. Fasilitas dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda antara lain : peralatan musik, peralatan olah raga dan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik. 4. Sistem penilaian Sistem penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda berbeda dengan sistem penilaian yang digunakan pada sekolah konvensional. Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya berasumsi bahwa semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak berorientasi pada input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses dan kemajuan (progress) yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu keterampilan yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini adalah metode penilaian portofolio.Sistem penilaian portofolio menekankan pada perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah keterampilan atau pengetahuan.
  15. 15. PENUTUP A.Kesimpulan 1)
  16. 16. DAFTAR PUSTAKA Armstrong, T., 2002. Sekolah Para Juara : Menerapkan Multiple Intelegences di Dunia Pendidikan.Bandung : Kaifa Budiningsih, C. Asri, 2005. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta : Rineka Cipta. Campbel, L, et al. 1996. Teaching and Learning through Multiple Intelegences.Massachusetts : Allyn and Bacon Dalton, J. 1990. Creative Thinking and Cooperative Talk in Small Group.Australia : Thomas Nelson Dryden, G.S. 1999. Revolusi Cara Belajar : Keajaiban Pikiran. Bandung : Kaifa Meier, Dave. 2000. The Accerated Learning Handbook : A Creative Guide to Designing and Delivering Faster, More Effective Training Programs. Massachusetts : Allyn and Bacon

×