Pengembangan Materi Ajar

11,874 views

Published on

Published in: Education
2 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
11,874
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
220
Comments
2
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pengembangan Materi Ajar

  1. 1. PENGEMBANGAN MATERI AJAR Oleh:Marlina
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN Pentingnya materi ajar dalam proses belajar mengajar tak dapat lagi dipungkiri.Dengan materi ajar yang disajikan, maka siswa akan dapat mencapai tujuanpembelajaran. Selain itu, materi ajar juga berfungsi sebagai alat untuk pencapaian tingkatpemahaman yang tinggi bagi siswa. Untuk menjadi pengajar yang baik, maka sudah menjadi sebuah kewajibanseorang pengajar untuk dapat memahami apa itu materi ajar dan seberapa pentingperanannya dalam proses belajar mengajar. Pemahaman semacam itu mutlak harusdimiliki oleh seorang pengajar yang berkompeten. Mengingat bahwa fungsi guru sebagaifasilitator dalam kegiatan pembelajaran adalah untuk menyampaikan materi kepada siswa.Namun, pada kenyataannya, meskipun kemutlakan itu diberlakukan, masih saja penyajianmateri ini belum maksimal. Ini dapat terlihat dari masih sederhananya penyajian materiatau bahkan dapat dikatakan belum mencapai target seharusnya. Mata kuliah pengembangan materi ajar kebahasaan merupakan satu mata kuliahyang diberikan pada mahasiswa kependidikan dengan tujuan untuk membangunpemahaman dan kemampuan untuk mengembangkan materi ajar dkhususnya dalambidang kebahasaan. Tujuan ini pada akhirnya akan dijadikan sebuah bekal bagi para calonguru agar ia memiliki kemampuan dalam mengembangkan materi ajar bagi pembelajarandi kelas. Dengan demikian, para guru tersebut akan mampu mencapai keterampilan dalammengembangkan materi atau bahan ajar sesuai dengan tujuan pembelajaran kebahasaanbagi siswanya. Di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diberlakkan di Indonesiapada saat ini, aspek kebahasaan yang menjadi fokus dalam pengajaran bahasa dan sastraIndonesia antara lain: pelafalan, pemilihan kata, penulisan judul, pengembangan paragraf,kelogisan kalimat, penulisan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca, kebenaran isikalimat, penggunaan kata hubung antarkalimat, dan penggunaan kata hubungantarparagraf. Poin-poin tersebut merupakan aspek-aspek yang menjadi fokus dalampembelajaran bahasa di sekolah. Aspek itu pula yang seharusnya dapat melekat dalampembelajaran bahasa Indonesia.
  3. 3. Secara umum, aspek-aspek tersebut tidaklah tercantum dalam indikatorpembelajaran. Namun pada dasarnya, aspek-aspek itulah yang harus mampu tercapaidalam pembelajaran. Walaupun penyajiannya tidak secara tersurat digambarkan dalamkurikulum, aspek kebahasaan tersebut mutlak harus dijadikan sebagai fokus kegiatan yangsecara berkesinambungan terus diajarkan kepada siswa. Ini dapat dilakukan denganmenerapkannya menjadi bagian penting dalam proses belajar bahasa dalam bidangkemahiran apa pun. Dengan penjelasan tersebut tentu dapat dipahami bahwa dalam mengajar bahasa,seorang guru harus mampu menyisipkan aspek kebahasaan dalam pembelajaran. Padaakhirnya, untuk dapat melakukan hal tersebut, pengajar harus kembali padakemampuannya mengembangkan materi ajar untuk kegiatan belajar mengajar. Demikanjuga akan dapat dipahami bahwa untuk dapat mengembangkan materi ajar diperlukanpemahaman khusus tentang cara bagaimana mengembangkan materi ajar yang tepat bagisiswa. Sebagai bentuk evaluasi mata kuliah, maka penulis akan berusahamengembangkan materi ajar kebahasaan pada pembelajaran menulis. Dengan indikatoryang tercantum dalam kurikulum, penulis mencoba mengidentifikasi aspek kebahasaanyang akan menjadi fokus dalam pembelajaran tersebut. Penulis mengembangkan sebuahmateri ajar dalam pembelajaran menulis sebagai fokus belajar bahasa dan mamaparkanbagaimana penyajian pengajaran aspek kebahasaan yang tercantum dalam kurikulumberkaitan dengan fokus kebahasaan tersebut.
  4. 4. BAB II PEMBAHASAN2.1 Materi atau Bahan Ajar Sebelum penulis memaparkan sebuah contoh pengembangan materi ajar, adabaiknya kita kembali menelaah apa itu materi atau bahan ajar. Menurut W. Gulo, bahan ajar disebut sebagai materi pelajaran. Materi pelajarandapat dibedakan antara materi formal dan materi informal. Materi formal adalah isipelajaran yang terdapat dalam teks resmi (buku paket di sekolah). Sedangkan materiinformal ialah bahan-bahan pelajaran yang bersumber dari lingkungan yang berangkutan.(W. Gulo, 2002: 9)Bila kita menilik pernyataan tersebut maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa materi ajarkhususnya yang formal mengacu pada buku paket. Namun, apakah hanya sebatas bukupaket? Tentu tidak dapat kita mbil kesimpulan begitu saja. Berdasarkan penjelasan R. ibrahim dan Nana Syaodih, materi pelajaranmerupakan suatu yang disajikan oleh guru untuk diolah kemudian dipahami oleh siswa,dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan intruksional yang telah ditetapkan. Dengan katalain, materi pelajaran merupakan salah satu unsur atau komponen yang penting artinyauntuk mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Materi-materi pelajaran terdiri dari fakta-fakta,generalisasi, konsep, hukum atau aturan, dan sebagainya yang terkandung dalam matapelajaran. (R. Ibrahim dan Nana Syaodih S, 2002: 100) Di sini, R. Ibrahim dan Nana Syaodih menjelaskan secara lebih luas apa yangdimaksud dengan materi pelajaran. Bahwasanya jika W. Gulo mengatakan bahwa materipelajaran terbagi menjadi materi formal dan informal, maka mereka merincinya secaralebih luas sebagai segala hal yang dapat dijadikan sarana untuk pencapaian tujuanpembelajaran. Ini menggambarkan bahwa ketika W. Gulo menyatakan materi informalberhubungan dengan lingkungan sekitarnya yang berhubungan, R. Ibrahim dan Nana S.secara lebih khusus menjabarkan lingkungan tersebut adalah yang berupa fakta-fakta,generalisasi, konsep, hukum atau aturan, dan sebagainya yang terkandung dalam matapelajaran. Jadi, menurut dua pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa materi pelajaran
  5. 5. itu dapat diambil dari segala sesuatu yang ada di sekitar siswa. Dengan syarat sesuatutersebut berhubungan dengan pelajaran tersebut. Selanjutnya, Dakir menjelaskan kriteria dalam meilih bahan pengajaran.Menurutnya, bahan ajar itu hendaknya : A. Bersifat pedagogis, artinya bahan hendaknya berisikan hal-hal yang normatif. B. Bahan hendaknya bersifat psikologis, artinya, bahan ajar harus memperhatikan kejiwaan peserta didik dalam hal ini siswa yang mempergunakannya. Bahan ini harus disesuaikan dengan perhatian, minat, kebutuhan, dan perkembangan jiwa anak yang belajar. C. Bahan hendaknya disusun secara didatis, artinya, bahan yang tertulis tersebut dapat diorganisir sedemikian rupa sehingga mudah untuk diajarkan. D. Bahan hendaknya bersifat sosiologis, artinya, bahan jangan ampai bersifat kontroversial dengan keadaan masyarakat sekitarnya. E. Bahan hendaknya bersifat yuridis, artinya bahan yang disusun jangan bertentangan dengan Undang-Undang dasar 1945, GBHN, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah No. 27,28, 29, dan 30. Begitu juga bahan sebaiknya tidak bertentangan dengan berbagaian peraturan lainnya. (Dakir, 2004: 14) Bila setiap pengajar memperhatikan ketentuan-ketentuan tersebut, tentu dapat kitajamin bahwa materi atau bahan ajar yang kelak disajikan kepada siswa adalah bahan ajaryang telah memenuhi aturan. Oleh karenanya tak perlu lagi ada kekhawatiran akanbentuk-bentuk materi ajar dan efeknya bagi siswa. Demikian kiranya, sedikit mengulas tentang apa itu materi atau bahan ajar. Dengansedikit pemahaman tersebut tentu kini persepsi dan pemehaman tentang apa itu materiatau bahan ajar akan lebih memudahkan kita dalam mengembangkan bahan ajar bagisiswa di kelas.2.2 Tata Bahasa Pendidikan Terdapat perbedaan antara tata bahasa pendidikan dan bahasa ilmiah. Olehkarenanya, alangkah lebih baik jika pengajar dapat mengetahui batasan-batasan dari tatabahasa pendidikan yang layak atau tak layak disajikan bagi siswa.
  6. 6. Menurut Nurhadi yang dikutipnya dari pernyataan Samsuri bahwa latar belakanglahirnya tata bahasa pendidikan atau dengan nama lain tata bahasa pedagogik adalahatas adanya perbedaan mendasar antara tata bahasa ilmiah dengan tata bahasapendidikan. Menurut Samsuri, bahasa linguistik yang baik, belum tentu juga termasukkriteria yang baik bagi bahasa belajar anak-anak. Tata bahasa linguistik cenderung tidakmemiliki norma penentu baik dan buruknya berbahasa. Pernyataan lain yang dikutipNurhadi adalah pernyataan fries dan Lado yang menyatakan bahwa tata bahasapedagogik adalah latihan-latihan untuk mendapatkan kebiasaan pemakaian bahasa yangdipelajari dan bukan pembicaraan tentang bahasa yang bersangkutan. Pandangan inimelahirkan satu prinsip yang cukup terkenal yang menyatakan bahwa ‘ajarkan bahasa,dan bukan tentang bahasa’. (Nurhadi, 1995: 105) Secara lebih lugas Nurhadi menjelaskan bahwa pada prinsipnya yang dimaksudtat bahasa pendidikan adalah sebuah model tata bahasa yang dirancang untukkepentingan pengajaran bahasa. Tata bahasa pendidikan disusun untuk membantumemperlancar kemahiran berbahasa siswa pada bahasa yang dipelajari dan menjadipegangan guru dalam menyajikan bahan pelajarannya. Tata bahasa ini sudah melaluitahap seleksi dari tata bahasa ilmiah. Selain itu, tata bahasa ini juga telah disusun denganmempertimbangkan kondisi psikologi dan sosiologi bahasa dan belajar bahasa Indonesia.Jadi, adanya tata bahasa pendidikan adalah dengan melalui proses penyederhanaan tatabahasa ilmiah. Di dalam tata bahasa pendidikan tidak melulu diajarkan struktur bahasa,tetapi juga mencakup kaidah berbahasa yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah sistemmateri pelajaran bahasa, dan diintegrasikan dengan materi keterampilan berbahasa, yaitumendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Pembelajaran bahasa yang disajikandalam tata bahasa pendidikan lebih bersifat komunikatif. Maksudnya adalah pengajaranlebih mengarah kepada penguasaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, bukanhanya sekadar pengetahuan kebahasaan saja. Menurut Kurikulum 1994, pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasadisusun atas dasr fungsi bahasa dan kebutuhan siswa. Dengan demikian diharapkanakhirnya siswa akan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan situasi yangsebenarnya dan yang bertujuan, bukan situasi yang dibuat-buat. Materi juga tidak disusunsecara teratur. Hanya dibedakan dari segi penekanannya saja.
  7. 7. 2.3 Contoh Pengembangan Materi Ajar Kebahasaan dalam Pembelajaran Menyunting Karangan Setelah kita memahami tentang materi atau bahan ajar dan bagaimanapenyajiannya sesuai dengan tata bahasa pendidikan, maka selanjutnya penulis akanmencoba membuat satu contoh pengembangan materi ajar kebahasaan yang berkenaandengan pembelajaran menyunting karangan. Berdasarkan indikator yang didapatkan dalam kurikulum yang berkenaan denganpembelajaran menyunting karangan, pebulis menemukan beberapa aspek kebahasaanyang secara bersamaan dapat diajarkan dalam kegiatan pembelajaran ini. Tujuan akhirdari pembelajaran ini adalah siswa dapat menyunting karangan sendiri atau teman.Namun, pada kenyataannya, tujuan ayang lebih nyata adalah bahwa setelah pembelajaranini diharapkan siswa dapat memiliki keterampilan khususnya menulis dengan baik sesuaidengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan alasan itlah penulis memaparkan secara lebih rinci perihal penggunaanejaan dan tanda baca. Kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca yang sesuai EYDsudah barang tentu menjadi hal yang paling mendasar bagi seseorang dalam menulis. Bilaseseorang telah dapat menguasai atau dapat menerapkan aturan-aturan penggunaanejaan dan tanda baca, maka ia tak akan lagi kesulitan untuk dapat membuat tulisan yangbenar. Penyajian materi dalam penggunaan ejaan dan tanda baca ini mencakupkemampuan penggunaan huruf kapital, huruf cetak miring, penulisan kata, penulisanserapan, dan pemakaian tanda baca. Secara lebih terperincinya penulis memaparkan jugasegala hal yang berkaitan dengan penulisan kata (terdiri dari kata dasar, kata turunan,bentuk ulang, gabungan kata, kata depan di, ke, dan dari, kata si dan sang, partikel,singkatan, akronim, serta angka dan bilangan). Bagian pemakaian tanda baca penulismemaparkan pemakaian tanda titik, tanda koma, tanda petik, tanda petik tunggal, titikkoma, apostrof, garis miring, tanda kurung siku, tada seru, tanda hubung, elipsis, kurungbuka dan tutup, tanda titik dua, dan tanda tanya. Penulis menjabarkan semuanya dalam penyajian materi yang diikuti oleh contoh.Hal ini dengan alasan bahwa siswa harus dapat belajar secara nyata, bukan sekadar teori,sehingga pembelajaran akan membekas dalam diri dan ingatan siswa. Untukpenjabarannya yang panjang, penulis berusaha menggunakan kata pengantar yangdiharapkan cukup komunikatif dan sederhana, sehingga siswa tidak merasa bosan
  8. 8. membacanya. Selain itu, pengantar ini digunakan dengan maksud siswa lebih mampuberinteraksi dengan materi. Selain penggunaan ejaan dan tanda baca, pembelajaran menyunting karanganjuga mencakup pembelajaran pilihan kata. Terdapat beberapa identifikasi dalampembelajaran pilihan kata ini, antara lain bagaimana menggunakan kata sehinggamudahdipahami, kata yang tidak menimbulkan ambiguitas, kata yang sesuai konteks, kataragam baku, dan sebagainya yang dapat dilihat pada bagian selanjutnya. Dalampenyajiannya, penulis berusaha menggunakan pengantar yang sifatnya komunikaif.Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana. Mengingat bahwa siswa,khususnya siswa SMP, memerlukan bahasa yang mudah dipahaminya dan tercapaimolehkemampuan daya nalarnya. Selanjutnya, bagian lainnya dalam pengembangan materi ajar kebahasaan ini,penulis mengembangkan pembelajaran yang berhubungan dengan efektivitas kalimat dankepaduan paragraf. Penyajian materi ini berhubungan dengan penggunaan kalimat, mulaidari kalimat aktif dan pasif, kalimat logis, serta kalimat efektif yang menggunakan ragambaku, serta dalam penyusunan kalimat. Untuk Materi kepaduan paragraf, penulismenghubungkannya dengan materi penggunaan tanda hubung inter dan antarkalimat. Penyajian materi ini tentu lebih ditekankan pada contoh. Serupa dengan alasansebelumnya, ini dilakukan agar siswa secara langsung dapat belajar bernbahasa. Bukansekadar teori saja. Selain itu, terdapat juga bagian lainnya, yakni adanya latihan padasetiap bagian pengembangan. Latihan ini didasarkan pada aspek yang diajarkan. Jadi,ketika bagian itu membahas secara langsung tentang penggunaan ejaan dan tanda baca,maka latihan yang disajikan pun adalah yang berkenaan dengan pembelajaran tersebut.Demikian seterusnya. Namun, tidak hanya itu saja. Setelah siswa benar-benar memahami perihalpenggunaan ejaan dan tanda baca, pemilihan kata, keefektifan kalimat, dan kepaduanparagraf, penulis juga menyajikan latihan umum yan mencakup sekalian pembahasan.Latihan ini diberikan dengan tjuan agar siswa benar-benar dapat secara utuh menerapkanapa yang telah dipelajarinya. Ada pun untuk tujuan tersebut juga disajikan latihan untuksiswa membuat karangan. Selain itu, dalam latihan tersebut siswa juga diajarkan untukdapat berdiskusi. Pada bagian ini penulis mencoba mengintegrasikan pengajaran tidak
  9. 9. hanya pada kemampuan menulis, melainkan juga menggabungkannya dengankemampuan lainnya, seprti salah satnya adalah berbicara. Untuk benar-benar mengevalasi hasil pembelajara, penulis mencoba melakukanpenajaman kepada siswa dengan memberikan tugas mengisi LKS. LKS ini dibuat sebagaibahan penajaman materi siswa. Diharapkan dengan LKS ini siswa dapat lebih menguasaimateri yang telah diajarkan. Bagian yang terpenting dalam LKS ini adalah siswa dimintauntuk menulis karangan. Maksud dari penulis meminta siswa membuat karangan adalahagar dapat terlihat secara lebih nyata apakah siswa sudah mencapai kemampuan menuliskarangan dengan menerapkan materi yang telah didapatkannya. Seperti dikatakan oleh Uzer, ruang lingkup materi bagi siswa adalah materi yangtercantum dalam GBPP. Namun, bila memungkinkan siswa dapat diberi programpengayaan, baik secara vertikal maupun horizontal tentang materi pelajaran yangdipelajarinya. (Moh. Uzer Usman, 2001: 50-51) Demikianlah pemaparan penulis perihal pengembangan materi ajar kebahasaandalam pembelajaran menyunting karangan. Untuk lebih jelasnya, penulis menyajikansemua yang disebutkan di atas dalam sebuah contoh pengembangan materi ajar yangterdiri dari pengidentifikasian aspek kebahasaan berdasarkan indikator. Untuk contohpengembangannya disajikan dalam bagian uraian, contoh, dan latihan. Selanjutnya untukpenajaman disajikan LKS sepereti telah disebutkan sebelumnya.
  10. 10. BAB III PENUTUP Berdasarkan contoh pengembangan materi ajar di atas, dapat dikemukakanbahwa dalam mengembangkan materi ajar kebahasaan dalam pembelajaran menyuntingkarangan dapat diajarkan aspek kebahasaan yang meliputi penggunaan ejaan dan tandabaca, pemilihan kata, keefektifan kalimat, dan kepaduan paragraf. Diharapkan setelahpembelajaran ini dilakukan siswa akan mampu menyunting karangan sendiri ataukarangan teman. Namun pada akhirnya, siswa dapat membuat tulisan denganpenggunaan kaidah tata bahasa indonesia yang baik dan benar. Pembelajaran aspekkebahasaan ini dapat diintegrasikan ke dalam pengajaran kemahiran, baik menulis,membaca, menyimak, atau berbicara. Dalam penyajiannya, materi ini disajikan dengan bahasa yang sederhana dankomunikatif, menggunakan tata bahasa pendidikan. Hal ini agar siswa dapat denganmudah memahami maksud dari isi materi. Selain itu, pembelajaran dapat dirasakan lebihmenyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa. Untuk lebih memancing kemampuansiswa disajikan latihan-latihan yang bertujuan untuk mengevaluasi hasil daripembelajaran. Selain itu dilanjutkan dengan adanya penajaman materi yang disajikanmelalui LKS. DAFTAR PUSTAKA
  11. 11. Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.Gulo, W.2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Gramedia Widiasarana.Ibrahim, R dan Nana Syaodih. 2002. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.Nurhadi. 1995. Tata Bahasa Pendidikan landasan Penyusunan Buku Pelajaran Bahasa. Semarang: IKIP Semarang Press.Uzer usman, Moh. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosdakarya.

×