Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Glosarium formulator kosmetik

1,359 views

Published on

Pengenalan dasar formulator kosmetik

Published in: Career
  • Be the first to comment

Glosarium formulator kosmetik

  1. 1. GLOSARIUM FORMULATOR KOSMETIK PENDAHULUAN Artikel ini sudah saya buat sejak 2015 dan terbengkalai, mungkin ada beberapa bagian yang tidak up date lagi. Karena sejak 2015 sudah tidak aktif dalam formulasi kosmetik lagi. Semoga tulisan ini bermanfaat buat rekan sekalian tentang dasar-dasar pengetahuan seorang formulator kosmetik. Teknologi dan tren kosmetik berkembang sangat pesat begitupun dengan regulasi nya. Sehingga keahlian seorang formulator hanya dapat teruji dengan jam terbang yang tinggi. Sedikit sharing dari saya semoga bermanfaat. Salam – Mala Pidiyanti Oktober 2017 BAGIAN 1 : BAHAN BAKU - INGREDIENT Chemicals – Bahan Kimia – Menurut kamus besar bahasa indonesia, kimia adalah Zat atau senyawa dengan susunan molekul tertentu CAS Number – Chemicals Abtract Services Number – Identifikasi numerik suatu bahan kimia yang meliputi unsur kimia, senyawa kimia, polimer, rangkaian senyawa biologis, senyawa campuran dan campuran logam (alloy). Jadi semua unsur atau bahan yang memiliki nama kimia maka otomatis juga memiliki identitas CAS Number pula. INCI - International Nomenclature Cosmetic Ingredient – Standarisasi penamaan bahan baku cosmetik sehingga mudah untuk dikenali dan berlaku universal di semua negara dan sebagai referensi bagi pihak regulator maupun konsumen dalam penandaan komposisi bahan penyusun suatu produk kosmetik. INCI name berbeda dengan nama senyawa kimia yang penamaannya mengikuti aturan IUPAC dimana untuk senyawa yang kompleks namanya menyesuaikan struktur dan unsur-unsur yang diikat oleh senyawa tersebut sehingga sangat sulit sekali untuk diucapkan apalagi diingat. Bahan baku yang kompleks dan sulit diidentifikasi struktur kimia penyusunya seperti wax, ekstrak atau minyak dari tumbuhan diberi INCI name berdasarkan nama latin sesuai asal nama tumbuhan atau organismenya ditambah keterangan dari bagian tumbuhan ia berasal, apakah dari akar (root), biji (seed), buah (fruit), daun (leave) dll. Contohnya seperti tabel dibawah ini :
  2. 2. NAMA UMUM INCI NAME Beeswax Beeswax (wax yang berasal dari sarang lebah) Candelillawax Euphorbia Cerifera (Candelilla) Wax Avocado Persea Gratissima Avocado Butter Hydrogenated Avocado Oil Avocado Oil Persea Gratissima (Avocado) Oil Bergamot Oil Citrus Aurantium Bergamia (Bergamot) Fruit Oil Babassu Oil Orbignya Oleifera (Babassu) Seed Oil Lalu bagaimana dengan air, apakah memiliki INCI name? Karena air juga merupakan senyawa kimia yang memiliki rumus empiris H2O, maka air juga memiliki identifikasi INCI name dan CAS number. INCI name air adalah Water dengan CAS Number 7732-18-5. Untuk produksi kosmetik, air yang digunakan merupakan jenis demineralised water yang sudah melewati proses penyulingan dengan sistem RO (Reverse Osmosis), sehingga bebas dari mineral, substansi padat lainnya dan substansi mikro organisme. CoA -Certificate of Analysis - Memuat data hasil pengujian suatu bahan kimia dengan parameter-parameter tertentu, untuk menunjukan kesesuaian kualitasnya terhadap standar yang telah ditetapkan. Bagi formulator, penting untuk meneliti CoA suatu bahan baku untuk memastikan kadar Active Matter dan pengotor – impurities - serta yeast/mould dari bahan yang akan digunakan dalam formulasi. Dan yang tidak kalah penting adalah informasi self life atau kadaluarsa suatu bahan. MSDS – Material Safety Data Sheet – Beberapa Manufacturer menggunakan istilah SDS atau Safety Data Sheet. Silahkan googling arti dan isinya secara umum. Yang perlu diperhatikan bagi seorang formulator adalah informasi data komposisi bahan kimia penyusun dan % Active matter, data toksikologi bahan tersebut untuk memenuhi syarat keamanan produk atau safety assessment dalam menyusun PIF/DIP karena saat ini sudah menjadi mandatory. Data spesifikasi, handling dan storage juga perlu diperhatikan untuk referensi dalam hal standar penyimpanan yang aman dari bahan tersebut. Pricipal/Manufacturer Produsen baik perseorangan atau badan hukum yang memproduksi secara langsung bahan yang digunakan sebagai bahan baku kosmetik. Principal wajib mengeluarkan CoA dan MSDS serta IFRA untuk produsen Parfum Supplier/trader
  3. 3. Merupakan perseorangan atau perusahaan berbadan hukum yang melakukan penjualan bahan baku kosmetik dari Produsen bahan baku kosmetik kepada Produsen Produk Kosmetik. Satu bahan baku kosmetik dapat memiliki banyak trade name atau nama dagang, terutama untuk kategori bahan-bahan komoditi yang diproduksi oleh banyak perusahaan. INCI name dan CAS number ini untuk identifikasi bagi formulator maupun regulator dalam hal ini BPOM. Misal jika formulator ingin mensubsitusi dengan bahan baku yang diproduksi dari principal yang berbeda, maka subsituenya harus memiliki INCI dan CAS number yang sama. Apakah bahan baku dari principal yang berbeda (memiliki trade name yang berbeda) tetapi memiliki INCI Name dan CAS number yang sama memiliki karakteristik dan kualitas yang sama ? trus lapor BPOM ga/, NGERUBAH LABELLING PRODUK JADI? Bisa YA, bisa TIDAK. Mengapa ? Bisa YA, jika bahan baku tersebut sama-sama memiliki PROSENTASE ACTUAL/ACTIVE MATTER dan GRADE yang sama. Beberapa bahan baku terdiri dari campuran beberapa senyawa kimia, bisa terdiri dari beberapa active content dan pelarut. Dalam hal ini Formulator harus mencocokan data Ingredient dalam MSDS bahan baku tersebut. Biasanya dalam MSDS ada keterangan INCI name, CAS number dan % masing-masing INCI name. Jika bahan baku kosmetik tersebut merupakan senyawa kimia tunggal dan memiliki INCI Name dan CAS number yang sama, maka dapat dipastikan karakteristik bahan nya SAMA. GRADE dalam dunia bahan kimia, ada Analytical grade, Pharma Grade, Cosmetic Grade, Food Grade dan Technical Grade. Walaupun memiliki senyawa kimia dan INCI name yang sama, tetapi pengelompokan berdasarkan grade ini didasarkan dari kandungan impurities/pengotor yang menyertai bahan tersebut atau standar jumlah yeast mould per CFU (Colony form Unit). Pengotor yang dimaksud adalah kandungan logam berat dan materi lainnya, yang dapat dilihat datanya dari CoA bahan baku tersebut. Contoh kasus seorang formulator ingin membuat sabun dengan konsep soap base dan membutuhkan caustic soda untuk saponifikasi pastikan caustic yang dipakai yang sesuai untuk kosmetik. Caustic Soda hanya ada 2 grade, yaitu analytical grade dan technical grade. Untuk sabun mandi cukup menggunakan yang technical grade. Analytical grade memiliki tingkat kemurnian yang tinggi serta harga yang mahal dan hanya digunakan untuk keperluan metode analisa dilab penguji. Untuk pertanyaan yang sama dan jawabanya Bisa TIDAK, , jika bahan baku tersebut memiliki PROSENTASE ACTIVEL MATTER yang berbeda dan GRADE yang berbeda. Contoh kasus seorang formulator mencari CAPB dari principal lain, teliti dulu berapa kandungan ACTIVE MATTER (active content) nya lalu informasikan kepada supplier, INCI name dan prosentase active content yang diinginkan. Agar tidak terjadi kesalah pahaman. Sebagai ilustrasi tabel dibawah ini :
  4. 4. Walaupun memiliki INCI name dan CAS Number yang sama, tetapi akan menampilkan kualitas yang berbeda karena active content yang terkandung juga berbeda. Sehingga tidak dapat subsitusi head to head dengan prosentasi yang sama dalam formula. Tetapi bukan berarti tidak dapat menjadi alternatif subsitusi, dapat digunakan dengan menggunakan prosentase yang proposional. Dan tentunya perhatikan cost yang timbul, apakah ada perbedaan yang signifikan dari segi cost ketika memutuskan menggunakan subsitusi bahan. TRADE NAME INCI NAME CAS NUMBER % ACTUAL MATTER FUNGSI Tego Betaine C60 Cocamidopropyl Betaine 61789-40-0 35-55% Foam Booster, mild surfactant, builder/thicknener Amphitol 55 AB Cocamidopropyl Betaine 61789-40-0 25-35% Foam Booster, mild surfactant, builder/thicknener
  5. 5. BAGIAN 2 : PERATURAN PENGGUNAAN BAHAN Di Indonesia peraturan ini diatur dalam Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia Nomor : HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik bisa di download di laman : http://www.pom.go.id/index.php/home/search/kosmetik/hukum_perundangan/2 yang ada di halaman 2 dan 3 Sedangkan untuk tingkat negara-negara ASEAN dapat di download di web ACD langsung di link berikut : http://aseancosmetics.org/default/asean-cosmetics-directive/technical-documents Seorang formulator kosmetik harus selalu up date terhadap peraturan teknis penggunaan bahan baku kosmetik, kadar bahan–bahan yang digunakan sesuai dengan bahan yang diperbolehkan dan masih dalam batas prosentase yang diijinkan. Kalau sering-sering lihat pasti lama kelamaan akan hapal terutama untuk kategori bahan bakau yang diperbolehkan tetapi dibatasi penggunaan nya ini ada di lampiran II PerKa BPOM hk.00.05.42.1018 atau di ANNEX III – PART 1 yang direlease dalam ACD- Asean Cosmetic Directive. ACD direlease oleh ACA- Asian Cosmetic Association yang merupakan asosiasi kosmetik se Asia Tenggara yang terdiri dari pemerintah, pelaku usaha dan praktisi professional di bidang kosmetik yang tergabung dari semua negara di Asia tenggara (ASEAN) yang bertujuan untuk mengharmonisasi standard dan regulasi-regulasi di bidang kosmetik. ASEAN Cosmetic Directive (ACD), diterapkan mulai 1 Januari 2008 sampai sekarang. ACD yaitu peraturan di bidang kosmetik yang menjadi acuan peraturan bagi Negara ASEAN dalam pengawasan kosmetik yang beredar di ASEAN. Berikut Tabel Persyaratan Bahan Kosmetik yang direlease oleh BPOM dan ACD PerKa BPOM HK.00.05.42.1018 TECHNICAL DOCUMENT ACD LAMPIRAN I : DAFTAR BAHAN KOSMETIK YANG DILARANG Annexe II Part 1 : LIST OF SUBSTANCES WICH MUST NOT FORM PART OF THE COMPOSITION OF COSMETIC PRODUCTS LAMPIRAN II : DAFTAR BAHAN YANG DIIZINKAN DIGUNAKAN DALAM KOSMETIK ANNEX III – PART 1 : LIST OF SUBSTANCES WHICH COSMETIC PRODUCTS MUST
  6. 6. DENGAN PEMBATASAN DAN PERSYARATAN PENGGUNAAN NOT CONTAIN EXCEPT SUBJECT TO RESTRICTIONS AND CONDITIONS LAID DOWN LAMPIRAN III : DAFTAR BAHAN PEWARNA YANG DIIZINKAN DIGUNAKAN DALAM KOSMETIK) ANNEX III – PART 2 : LIST OF SUBSTANCES PROVISIONALLY ALLOWED LAMPIRAN IV : DAFTAR BAHAN PENGAWET YANG DIIZINKAN DIGUNAKAN DALAM KOSMETIK ANNEX IV – PART 1 : LIST OF COLOURING AGENTS ALLOWED FOR USE IN COSMETIC PRODUCTS1 LAMPIRAN V : DAFTAR BAHAN TABIR SURYA YANG DIIZINKAN DIGUNAKAN DALAM KOSMETIK ANNEX V - Botanicals Assessment ANNEX VI : LIST OF PRESERVATIVES WHICH COSMETIC PRODUCTS MAY CONTAIN ANNEX VII : LIST OF UV FILTERS WHICH COSMETIC PRODUCTS MAY CONTAIN Saya pribadi lebih senang berpatokan pada Annex yang di release oleh ACD, karena relative lebih up date ketimbang yang direlease BPOM. BPOM juga selalu up date ke anggota perkosmi jika akan mengeluarkan kebijakan baru terkait persyaratan teknis bahan kosmetik. Up date lainnya bisa berasal dari release opini dari SCCP (SCIENTIFIC COMMITTEE ON CONSUMER PRODUCTS) dan CIR (COSMETIC INGREDIENT REVIEW). Up date ini juga diperlukan kaitannya dengan peraturan safety assessment dalam penyusunan PIF/DIP. Mengenai DIP akan saya bahas di artikel tersendiri. Part 3 : Organisasi kosmetik nasional dan international yang perlu diketahui Nasional : Perkosmi : Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia Himpunan ini terdiri dari pemilik perusahaan kosmetik dan key person yang bekerja di perusahaan kosmetik seperti regulatory affair, R&D, operasional manufaktur serta trader bahan baku kosmetik. Selain di organisasi tingkat nasional/pusat, perkosmi juga ada di tingkat propinsi di indonesia. Untuk keanggotaan, cukup membayar iuran tahunan atas nama perusahaan, jadi keanggotaanya melekat pada nama perusahaan bukan pada perseorangan karyawan diperusahaan tersebut. HIKI : Himpunan Ilmuwan Kosmetik Indonesia Himpunan ini diketuai oleh Pharm.Dr.Joshita Djajadisastra MS.PhD. Nama perhimpunan ini di generalisir menjadi ‘Scientist’, di beberapa negara perhimpunan sejenis dinamai dengan ‘Chemist’, di Australia namanya Australian Society of Cosmetic Chemist (ASCC), di amerika Society of Cosmetic Chemist disingkat SCC , sedangkan di Inggris The Society of Cosmetic Scientists disingkat SCS. Di indonesia anggotanya lebih banyak di dominasi oleh kalangan akademik dan mayoritas dari farmasis dan dermatolog, sehingga penggunaan scientist lebih
  7. 7. mewakili dan general. Di inggris maupun di amerika, himpunan sejenis sudah berkembang pesat, bahkan memiliki program kursus distance learning dan mendapat sertifikat resmi setara D3 dibidang kosmetik, ada beberapa konsentrasi ilmu kosmetik, jika tertarik bisa buka web SCS. Keanggotaan di HIKI melekat pada nama perorangan bukan pada institusi, keanggotan diperpanjang setiap setahun sekali dengan membayar iuran tahunan. International ACA : Asean Cosmetic Association Organisasi ini terdiri dari 10 negara di ASEAN, yang bertujuan untuk mengharmonisasi dan menetapkan regulasi di bidang kosmetik, meng up grade kompetensi praktisi di bidang kosmetik di masing-masing negara dan memberikan kemudahan untuk pemasaran produk kosmetik antar negara ASEAN. Negara-negara yang lebih maju di bidang science maupun regulasi kosmetiknya, di tunjuk sebagai lead country. Malaysia misalnya sebagai lead country untuk kosmetik GMP atau CPKB, Singapura sebagai lead country untuk safety evaluation dan Thailand sebagai lead country untuk Scientific Committee. Pada Juni 2013, ACA menerbitkan ASEAN Consumer Information Handbook on Cosmetic Products Volume 1, yang bisa di download di web ACA. IFSCS : The International Federation of Societies of Cosmetic Chemists Ini organisasi dunia versi HIKI, karena membawahi berbagai negara yang memiliki organisasi seperti HIKI. IFSCS pertama kali diproklamirkan pada 9 September 1959 di Belgia, yang terdiri dari SCC (USA), SCS (UK), SFC (France), SEQC (Spain), DGK (Germany), SBCC (Belgium), DKKS (Denmark), SSCC (Switzerland). Saat ini keanggotaannya sudah berkembang menjadi 57 negara. CIR : COSMETIC INGREDIENT REVIEW Mengenai CIR berikut saya kutip langsung dari Web nya : “The Cosmetic Ingredient Review was established in 1976 by the industry trade association (then the Cosmetic, Toiletry, and Fragrance Association, now the Personal Care Products Council), with the support of the U.S. Food and Drug Administration and the Consumer Federation of America. Although funded by the Council, CIR and the review process are independent from the Council and the cosmetics industry. CIR operates under a set of procedures. General policy and direction are given by a 7-member Steering Committee chaired by the President and CEO of the Council, with a dermatologist representing the American Academy of Dermatology, a toxicologist representing the Society of Toxicology, a consumer representative representing the Consumer Federation of America, an industry scientist (the current chair of the Councils CIR Committee),
  8. 8. Chair of the CIR Expert Panel, and the Council’s Executive Vice President for Science. “ CIR mengeluarkan jaminan keamanan (safety assessment) suatu bahan/senyawa kimia yang digunakan untuk kosmetik berdasarkan pendapat para ahli yang terdiri dari 7 steering committee yang berasal dari 7 lembaga terkait di Amerika, yakni Personal Care Product Council, American Academy of Dermatology, the Society of Toxicology, Consumer Federation of America, R&D dari kalangan Industri, CIR Expert Panel dan the Council’s Executive Vice President for Science. IFRA – International Fragrance Association- Berdiri pada 1973, tugas utamanya adalah mengeluarkan IFRA Standard yang berisi batas penggunaan bahan baku parfum, spesifikasi yang diperbolehkan dan bahan-bahan yang dilarang untuk pembuatan parfum. IFRA Standard di release oleh IFRA Committee, mereka terus bekerja untuk menetapkan standar baru yang di release melalui IFRA mandemen, saat ini telah dikeluarkan Index of IFRA Standards – 48th Amendment pada Juni 2015 Index of IFRA Standards –48th Amendment. Dalam Index ada 3 kategori rekomendasi IFRA, yakni : P (prohibited) The material should not be used as a fragrance ingredient. -Senyawa yang tidak boleh digunakan sebagai bahan baku parfum- R (restricted) The use of the material should be limited quantitatively. -Senyawa yang boleh digunakan tetapi dibatasi secara kuantitatif penggunaanya pada parfum- S (specified) The material should only be used if it meets certain purity criteria or if it used in conjunction with other materials. -Senyawa yang hanya boleh digunakan jika berada pada kemurnian tertentu atau jika digunakan bersamaan dengan senyawa lain- IFRA juga mengeluarkan The IFRA Code of Practice, merupakan dokumen komprehensif yang mensupport komitmen IFRA untuk menghasilkan produk yang aman digunakan bagi konsumen dan juga aman bagi lingkungan. Anda dapat mengunjungi web nya di www.ifraorg.org. Berikut saya kutip tujuan direleasenya code of practice “The Code of Practice applies to the manufacture and handling of all fragrance materials, for all types of applications and contains the full set of IFRA Standards” IFRA juga merelese ANNEX yang mengklasifikasikan sediaan kosmetik dalam IFRA class, sebagai referensi produsen dalam menerbitkan sertifikat IFRA
  9. 9. ANNEX: Definition of IFRA Classes Finished product types IFRA class Toys; Lip Products of all types (solid and liquid lipsticks, balms, clear or colored etc…) Class 1 Deodorant and Antiperspirant products of all types (spray, stick, roll-on, under-arm and body etc...) Class 2 Hydroalcoholic products applied to recently shaved skin (EdT range) Class 3.A Hydroalcoholic products applied to recently shaved skin (fine fragrance range) Class 3.B Eye Products of all types (eye shadow, mascara, eyeliner, eye make-up, etc…) including eye cream Men’s Facial Creams and Balms Class 3.C Tampons Class 3.D Hydroalcoholic Products applied to unshaved skin (EdT range) Ingredients of Perfume Kits Scent Strips for Hydroalcoholic Products, "scratch and sniff", other paper products not mentioned elsewhere for which skin exposure is only incidental (e.g. spectacle cleaning tissues) Class 4.A Hydroalcoholic Products applied to unshaved skin (Fine Fragrance range) Class 4.B Hair Styling Aids and Hair Sprays of all types (pumps, aerosol sprays, etc…); Hair Deodorant Body Creams, Oils, Lotions of all types (including baby creams, lotions, oils) Fragrance Compounds for Cosmetic Kits, Foot Care Products Class 4.C Fragrancing Cream Class 4.D Women's Facial Creams/Facial Make-up (excluding eye cream); Facial Masks; Hand Cream Wipes or refreshing tissues for Face, Neck, Hands, Body Class 5
  10. 10. Mouthwash, Toothpaste Class 6 Intimate Wipes; Baby Wipes Class 7 A Insect Repellent (intended to be applied to the skin) Class 7 B Make-up Removers of all types (not including face cleansers) Hair Styling Aids Non-Spray of all types (mousse, gels, leave-in conditioners etc...) Nail Care All Powders & Talcs (including baby powders and talcs) Class 8 Liquid Soap, Bar Soap (toilet soap); Depilatory; Conditioner (rinse-off), Shampoos of all types (including baby shampoos) Face Cleansers of all types (washes, gels, scrubs, etc…) Shaving Creams of all types (stick, gels, foams, etc…) Body Washes of all types (including baby washes) Shower Gels of all types; Bath Gels, Foams, Mousses, Salts, Oils and other products added to bathwater Class 9.A Feminine hygiene pads / liners Class 9.B ‘Other’ Aerosols (including air fresheners sprays but not including deodorant/antiperspirants, hair styling aids spray) Class 9.C Hand wash/Machine wash Laundry Detergents of all types (liquid, powder, tablet, etc…) including Laundry Bleaches Other Household Cleaning Products (fabric cleaners, soft surface cleaners, carpet cleaners etc…) Dry Cleaning Kits Fabric Softeners of all types including fabric softener sheets Hand Dishwashing Detergent. Hard Surface Cleaners of all types (bathroom and kitchen cleansers, furniture polish etc...) Shampoos for pets Class 10.A Diapers Class 10.B
  11. 11. Toilet seat wipes All non-skin contact, including: Air Fresheners and fragrancing of all types (excluding aerosol products): plug-ins, solid substrate, membrane delivery; Toilet blocks; Joss Sticks, Incense; Insecticides (mosquito coil, paper, electrical, etc...excluding aerosols); Plastic articles (excluding toys); Candles; Fuels; Paints; Floor wax; Liquid refills for air fresheners (cartridge system) Class 11.A All incidental skin contact, including: Machine Dish wash Detergents and Deodorizers. Machine only Laundry Detergents (e.g. liquitabs) Deodorizers/Maskers (e.g. fabric drying machine deodorizers, carpet powder) Pot pourri, fragrancing sachets, liquid refills for air fresheners (non- cartridge systems), etc... Shoe polishes; Cat Litter; Animal Sprays (excluding aerosols); Treated Textiles (e.g. starch sprays, fabric treated with fragrances after wash, deodorizers for textiles or fabrics, tights with moisturizers); Odored Distilled Water (that can be added to steam irons) Class 11.B BAGIAN 4 : KATEGORI KOSMETIK Karena kita masih bagian dari Negara ASEAN, maka untuk kategori kosmetik ini saya ambil dari ACD ANNEX 1 yang dikeluarkan oleh ACA sebagai berikut : - Creams, emulsions, lotions, gels and oils for the skin (hands, face, feet, etc.). - Face masks (with the exception of chemical peeling products). - Tinted bases (liquids. pastes, powders). - Make-up powders, after-bath powders, hygienic powders, etc. - Toilet soaps, deodorant soaps, etc. - Perfumes, toilet waters and eau de Cologne. - Bath and shower preparations (salts, foams, oils. gels, etc.). - Depilatories. - Deodorants and anti-perspirants. - Hair care products. - hair tints and bleaches.
  12. 12. - products for waving, straightening and fixing, - setting products, - cleansing products (lotions, powders, shampoos), - conditioning products (lotions, creams, oils), - hairdressing products (lotions, lacquers, brilliantines). - Shaving products (creams, foams, lotions, etc.). - Products for making-up and removing make-up from the face and the eyes. - Products intended for application to the lips. - Products for care of the teeth and the mouth. - Products for nail care and make-up. - Products for external intimate hygiene. - Sunbathing products. - Products for tanning without sun. - Skin-whitening products. - Anti-wrinkle products. BAGIAN 5 : KONSTRUKSI FORMULA KONSTRUKSI FORMULA SEDIAAN KRIM 1. Air 2. Bahan aktif : Agar bahan aktif yang dimasukan dalam formula dapat memberikan efficacy yang maksimal maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : Solubility : bahan aktif dapat larut dengan pada media apa. Apakah perlu dilarutkan terlebih dahulu atau dapat langsung dimasukan kedalam base formula di tahap akhir Compatibility : Cek apakah ada senyawa kimia yang dapat merusak atau bekerja berlawanan dengan aktifitas bahan aktif. Untuk menghindari kesalahan dalam formulasi dan supaya bahan aktif yang digunakan tidak mubazir. pH : pastikan pH yang sesuai pada produk akhir yang disarankan agar bahan aktif yang digunakan tetap stabil Temperatur : Berapakah toleransi suhu maksimal, dimana bahan aktif yang digunakan tidak terdekomposisi atau rusak Color : Apakah warna bahan aktif cukup pekat atau Apakah bahan aktif yang digunakan menyebabkan perubahan warna pada base, carilah bahan antioksidan yang sesuai untuk mencegah discolorisastion bahan aktif tersebut.
  13. 13. 3. Emolient : Emolient merupakan bahan yang dapat memberikan efek menghaluskan atau soft feel pada kulit. Umumnya dari golongan ester atau turunan silicone 4. Moisturiser : Moisturser merupakan bahan yang dapat memberikan efek melembabkan pada kulit dengan cara meningkatkan level TEWL (Trans Epidermal water loss), sehingga kulit lebih kenyal. 5. Preservative : hati-hati dengan formaldehid donor (FD), seperti DMDMH, imidazolydinil urea dan methylene glycol karena kecenderunganya yang akan melepaskan formaldehyde. Paraben masih umum digunakan, sebagai bahan yang efektif dan murah, namun saat ini pembatasannya semakin ketat, golongan paraben seperti isopropyl, isobutyl dan rantai yang lebih panjang lagi sudah dilarang untuk digunakan, sedang methyl paraben, propyl paraben masih diperbolehkan dalam konsentrasi 0,2%. Emolien seperti Caprylil Glycol, sorbitan Caprylate diklaim mempunyai aktifitas anti mikroba, tetapi penggunaanya secara tunggal tidaklah cuckup untuk untuk menghambat bakteri gram positif maupun gram negatif secara maksimal sehingga dalam formula tetap dibutuhkan preservatif lain nya untuk ditambahkan dalam formula. Oleh karena itu emolien tersebut masuk dalam kategori Preservative booster 6. Rheologi Modifier/Pengental : yang umum digunakan adalah Carbomer (Chemical name : Carboxy vynil Poplymer), dengan nama dagang yang popular seperti carbopol 940 NF dan synthalen K tetapi masih butuh di netralisasi dengan basa supaya mengembang dan mengental. Kelemahanya adalah hanya tahan di pH paling rendah 6.5, tidak tahan terhadap electrolit dan surfaktan selain nonionik surfaktan. Jika formulator dituntut untuk formulasi pada pH dibawah 6,5. dapat menggunakan pengental dari golongan polymeric Sufactan seperti Aristoflex AVC dengan INCI name Ammonium Acryloyl DimethYl Taurate/VP Copolimer. Aristoflex AVC ini tahan hingga pH 2, memiliki resistensi yang baik terhadap elektrolit, dan dapat melarutkan bahan yang bersifat non polar (oil like) dengan baik, karena sifat surfaktansi nya. 7. Sistem emulsi : Pemilihan sistem emulsi menentukan efektifitas sistem deliveri bahan aktif kosmetik pada permeasi sub kutan. Sistem emulsi yang saat ini dikenal adalah oil in water O/W, water in oil W/O, water in silicone W/S dan sistem crystal lamellar W/O/W. Nah yang sistem W/O/W ini terus terang saya lupa berat, karena belum sempat mempraktekan
  14. 14. hanya membaca teorinya. Bagi yang tertarik untuk mempelajari sistem W/O/W ini bisa minta training ke Lautan luas atau ke tim nya BASF untuk praktek di lab mereka. Pemilihan sistem emulsi ini pada akhirnya akan mengarahkan formulator untuk menentukan : 1. Emulsifier 2. Co-Emulsifier 3. Oil phase : umumnya berasal dari emollient yang dipilih 8. Parfum : Parfum dengan dengan direction seperti vanilla, white flower, sandalwood dan wangi manis seperti strawberry seiring berjalan nya waktu akan berubah warna menjadi kecoklatan sehingga akan mempengaruhi warna base kosmetik setelah beberapa waktu. Sehingga pemilihan packaging juga harus dipertimbangkan untuk mensiasati perubahan warna ini. 9. Anti UV : Anti Uv diperlukan untuk melindungi produk agar tidak mudah mengalami kerusakan akibat paparan sinar matahari selama di display di toko, untuk melindungi warna produk agar tetap stabil dan tidak mengalami perubahan. Jadi anti UV yang dimaksud bukanlah anti UV yang digunakan untuk klaim SPF . Pemilihan kemasan produk yang berwarna opak juga sebagai solusi untuk hal ini. KONTRUKSI FORMULA RINSE OFF DENGAN BASE SURFAKTAN Konstruksi formula di bawah ini saya ambil dari tulisanya bapak Eryc Abrutyn, artikel selengkapnya bisa di lihat di link berikut : http://www.specialchem4cosmetics.com/markets/hair-care/articles.aspx?id=9801 Berikut tulisan beliau yang saya sadur kedalam bahasa indonesia. Terus terang setuju sekali terhadap pemikiran beliau yang sudah punya jam terbang tinggi, dan memang seperti itulah adanya yang kami – formulator - lakukan pada saat formulasi cleansing produk. Berikut tips nya : Pada saat membuat konstruksi formula, maka kita harus mengelompokan nya berdasarkan sifat fungsional nya. Berikut konstruksinya : 1. Water 2. Primary Surfactant(s) – as a primary ingredients
  15. 15. 3. Co-Surfactant(s) – to added structure in formulation as thickener and foam booster. alkanolamid MEA, Alkanolamid DEA or Betaine is accordingly as co-surfactant 4. Rheology Modifier(s) – There are two types of rheology modifiers: polymeric and high melting point wax. Polymeric thickeners include Acrylate-chemistry, cellulosic, and gums (guar, xanthan and locust). High molecular weight/melting point waxes (e.g., Stearyl Alcohol and PEG esters) produce crystalline structures that provide suspension of insoluble components. Their performance properties include: o Controlling rheology and yield stress—modifying appearance, flow, and texture to alter pour and at-rest characteristics o Stabilizing oils and suspended particles o Thickening of surfactants - i.e., those that do not thicken with the addition of salt o Aesthetic modification - e.g., to impart a modified feel during application o Viscosity stabilization - i.e., preventing viscosity drift during long-term high- temperature stability testing 5. Preservative(s) - since cleansing product tend to be based on aqueous systems at relatively neutral pH, preservatives are critical to maintaining a micro-organism-free system 6. pH Adjuster(s) - alkaline and/or acidic (e.g., sodium hydroxide and citric acid) 7. Miscellaneous Functional Ingredients - o Emolliency & Moisturization (e.g., glycerin, fatty acid esters, polymers), o Rinse-off aids o UV Stabilizers for colorants o Pearlizing agents o Antioxidants o Color o Fragrance Tulisan berikutnya akan saya bahas mengenai konstruksi formula sediaan lainya. Semoga bermanfaat.

×