Deteksi Dini Gangguan Belajar pada Anak

9,753 views

Published on

Terkadang sering kita temui adanya stigma negatif terhadap seorang anak terkait potensi akademis. Seringkali penilaian tanpa didasari alasan yang tepat. Sedangkan pada kenyataannya, seringkali kemampuan akademik seorang anak dipengaruhi oleh gannguan belajar yang tengah/telah dihadapi olehnya. Sehingga pendeteksian dini gangguan belajar pada anak sangatlah penting.

Published in: Education
  • Be the first to comment

Deteksi Dini Gangguan Belajar pada Anak

  1. 1. DETEKSI DINI GANGGUAN BELAJAR PADA ANAK<br />Gangguan belajar pada anak penting untuk dideteksi sejak dini. Hal ini karena gangguan belajar dapat mempengaruhi perasaan dan perilaku anak. Lebih jauh lagi, gangguan belajar pada anak bisa berakibat pada rasa frustrasi, marah oleh karena kegagalan dalam prestasi akademik yang akhirnya menyebabkan munculnya gangguan depresi yang kronis. Oleh karenanya penting sekali untuk ditangani secara serius.<br />Definisi<br />Gangguan belajar meliputi kemampuan untuk memperoleh, menyimpan, atau menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas yang dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan, atau pertimbangan dan mempengaruhi performa akademi. Gangguan belajar sangat berbeda dari keterlambatan mental dan terjadi dengan normal. Gangguan belajar hanya mempengaruhi fungsi tertentu, sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental, kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas. Terdapat tiga jenis gangguan belajar : gangguan membaca, gangguan menuliskan ekspresi, dan gangguan matematik. Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal. Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.<br />Jenis-jenis Gangguan Belajar<br /><ul><li>Gangguan Membaca (Disleksia)</li></ul>Gangguan membaca atau disleksia adalah ketrampilan membaca yang berada di bawah tingkatan usia pendidikan dan inteligensi anak. Ciri-ciri yang didapati diantaranya:<br /><ul><li>gagal dalam mengenali kata-kata,
  2. 2. lambat & tidak teliti bila membaca,
  3. 3. memiliki pemahaman yang buruk.
  4. 4. Empat persen dari anak usia sekolah di AS mengalami disleksia. Anak laki-laki 3-4 kali lebih banyak dari anak perempuan.
  5. 5. Gangguan Matematik (Diskalkulia)</li></ul>Gangguan matematik atau diskalkulia adalah ketrampilan matematik yang berada di bawah tingkatan usia pendidikan dan inteligensi anak. Ciri khasnya adalah kegagalan dalam ketrampilan:<br /><ul><li>linguistik (memahami istilah matematika, mengubah soal tulisan ke simbol matematika),
  6. 6. perseptual (kemampuan untuk memahami simbol dan mengurutkan kelompok angka),
  7. 7. matematik (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, serta cara mengoperasikannya),
  8. 8. atensional (mengkopi bentuk dengan benar, mengoperasikan simbol dengan benar).
  9. 9. Prevalensi sekitar 5% anak usia sekolah mengalami hal ini dan anak perempuan yang lebih banyak mengalami diskalkulia jika dibandingkan dengan anak laki-laki. Dan biasanya disertai gangguan belajar yang lain. Kebanyakan terdeteksi ketika berada di kelas 2 dan 3 SD (6-8 th). 
  10. 10. Gangguan Menulis Ekspresif (Spelling Dyslexia & Spelling Disorder)
  11. 11. Gangguan menulis ekspresif adalah ketrampilan menulis yang berada di bawah tingkatan usia pendidikan dan inteligensi anak. Cirri-cirinya adalah:
  12. 12. banyak ditemukan kesalahan dalam menulis, dan
  13. 13. penampilan tulisan yang buruk (cakar ayam)</li></ul>Biasanya sudah tampak sejak kelas 1-5 SD.<br /><ul><li>Gangguan belajar lainnya / tidak spesifik</li></ul>Gejala Gangguan dalam Belajar<br />Gejala anak yang mengalami gangguan dalam belajar dapat diamati dari perilaku mereka saat di kelas. Diantaranya adalah:<br /><ul><li>tidak dapat duduk tenang di tempatnya,
  14. 14. perhatian dengan jangka waktu yang pendek,
  15. 15. lambat menyelesaikan tugas atau bahkan,
  16. 16. tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan.</li></ul>Hal-hal di atas biasanya merupakan bentuk penghindaran dari pengerjaan tugas yang dirasa sulit oleh mereka yang mengalami gangguan dalam belajar.<br />Perkembangan anak sejak kecil juga bisa merupakan pertanda kemungkinan terjadinya gangguan belajar pada usia sekolah dasar. Anak dengan keterlambatan bicara (belum bisa mengucapkan kalimat sederhana di usia 2 tahun), bisa merupakan faktor prediksi terjadinya gangguan belajar. Begitupun dengan gangguan koordinasi motorik, terutama pada usia menjelang taman kanak-kanak, seperti mencetak dan mengkopi. Lambat dalam mempelajari nama-nama warna atau huruf, lambat dalam menyebutkan kata-kata untuk objek yang dikenal, lambat dalam menghitung, dan lambat dalam keahlian belajar lain. Sehingga belajar untuk membaca dan menulis kemungkinan tertunda. Gejala-gejala lain dapat berupa perhatian dengan jangka waktu yang pendek dan kemampuan yang kacau, berhenti bicara, dan ingatan dengan jangka waktu yang pendek. Anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan komunikasi. Beberapa anak mulanya menjadi frustasi dan kemudian mengalami masalah tingkah laku, seperti menjadi mudah kacau, hiperaktif, menarik diri, malu, atau agresif.<br />Faktor Penyebab Gangguan dalam Belajar<br />Masalah kesulitan belajar ini, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk memberikan suatu bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu faktor apa yang menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu :<br />1.Faktor Internal (faktor dari dalam diri anak itu sendiri ) yang meliputi:<br />1)Faktor fisiologi<br />Faktor fisiologi adalah faktor fisik dari anak itu sendiri. seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran menjadi tidak sempurna. Selain sakit faktor fisiologis yang perlu kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.<br />2)Faktor psikologis<br />Faktor psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan, ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam faktor psikoogis ini adalah intelligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki IQ cerdas (110 – 140), atu genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90 – 110) tentunya tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan anak yang memiliki IQ dibawah 90 atau bahkan dibawah 60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu, maka orang tua dan guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki anak atau anak didiknya. Selain IQ faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi, kondisi kesehatan mental anak, dan juga tipe anak dalam belajar.<br />2. Faktor ekstern (faktor dari luar anak) meliputi:<br />1)Faktor sosial<br />Seperti cara mendidik anak oleh orang tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang cukup mendapatkan perhatian, atau anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagimana hubungan orang tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang bertemu, atau bahkan terpisah. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar anak.<br />2)Faktor-faktor non sosial<br />Faktor-faktor non sosial yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah faktor guru di sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta kurikulum.<br />Cara Mengatasi Gangguan dalam Belajar<br />Anak yang mengalami gangguan belajar sering kali akan menunjukkan gangguan perilaku. Hal ini bisa berdampak pada hubungan antara mereka dengan orang-orang di sekitarnya (keluarga, guru dan teman-teman sebaya). Untuk itu anak perlu didampingi untuk menghadapi situasi ini.<br />Orang tua merupakan guru yang pertama dan terdekat dengan anak. Dengan demikian, peran orang tua sangat penting untuk mengenali permasalahan apa yang dialami anak. Selain itu, penting juga untuk menemukan kekuatan atau kemampuan yang dimiliki anak. Hal ini akan membantu orang tua mendukung anak mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri anak. <br />Pengobatan yang paling berguna untuk menangani masalah gangguan dalam belajar adalah pendidikan yang secara hati-hati disesuaikan dengan individu anak. Cara seperti membatasi makanan aditif dan menggunakan vitamin dalam jumlah besar seringkali dicoba tetapi tidak terbukti. Tidak ada obat-obatan yang cukup efektif pada pencapaian akademis, intelegensi, dan kemampuan pembelajaran umum.<br />Tugas anak adalah bermain, maka proses belajar pun sebaiknya menjadi proses yang menyenangkan untuk anak. Apalagi pada anak dengan gangguan belajar, penting untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membebani anak. Kenali hal apa yang membuat anak merasa senang. Misalnya, jika anak tersebut menyukai lagu tertentu, ajak anak itu belajar sambil memutarkan lagu tersebut. Ijinkan anak membawa mainan kesayangannya saat belajar. Jika anak senang dengan suatu obyek tertentu, misalnya kereta api, sertakan bentuk kereta api dalam pelajaran. Sebagai contoh, anak dengan gangguan berhitung, saat belajar berhitung dapat digunakan gambar kereta api yang dia senangi. Lakukan pula proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya.<br />Anak dengan gangguan belajar juga bisa mengalami perasaan rendah diri karena ketidakmampuannya atau karena sering diejek oleh teman-temannya. Untuk itu, penting bagi orang tua memberikan pujian jika ia berhasil melakukan suatu pencapaian. Misalnya, bila suatu kali anak berhasil mendapat nilai yang cukup baik atau mengerjakan tugas dengan benar, maka orang tua hendaknya memberi pujian pada anak. Hal ini akan memotivasi anak untuk berbuat lebih baik, meningkatkan rasa percaya diri dan membantu anak merasa nyaman dengan dirinya.<br />Keterlibatan pihak sekolah juga perlu diperhatikan karena sebagian besar waktu belajar anak ada di sekolah. Harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan. Kemudian diskusikan juga dengan guru kelas mengenai kesulitan dan kemampuan anak dalam belajar. Posisi tempat duduk anak di kelas juga bisa membantu anak untuk lebih berkonsentrasi dalam belajar. Akan lebih baik jika anak duduk di depan kelas sehingga perhatiannya tidak teralih ke anak-anak lain atau ke jendela kelas. <br />Masalah gangguan belajar penting sekali dipahami oleh orang tua dan guru sehingga dapat mendukung dan membantu anak dalam belajar. Jika ditangani dengan tidak benar maka hanya akan menambah permasalahan pada anak. Deteksi dan konsultasi dini pada anak yang diduga mengalami gangguan belajar menjadi faktor penting sehingga anak dapat segera ditangani dengan tepat. Kerja sama antara orang tua dan guru diperlukan untuk membantu anak menghadapi permasalahan gangguan belajar tersebut.<br />Dikutip dari berbagai sumber<br />

×