Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Tabloid Diplomasi Maret 2017 Versif PDF

659 views

Published on

Tabloid Diplomasi Maret 2017 Versif PDF

Published in: Government & Nonprofit
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Tabloid Diplomasi Maret 2017 Versif PDF

  1. 1. tidak untuk diperjualbelikan Media Komunikasi dan Interaksi Diplomasitabloiddiplomasi.org tabloiddiplomasi@Kemenlu.org @diplik_Kemlu No. 103 tahun x tabloid Tgl. 15 MARET - 14 APRIL 2017 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Direktorat Diplomasi Publik Jalan Taman Pejambon No. 6 Jakarta 10110 Telepon : 021-3813480 Faksimili : 021-3858035 Jakarta Selenggarakan KTT IORA Untuk Pertama Kalinya
  2. 2. Surat Pembacacatatan redaksi Negara-negara tetangga kita telah menjadikan wilayah- wilayah perbatasan mereka sebagai sebuah pusat kegiatan ekonomi. Hal ini berbeda dengan pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, yaitu menjadikan wilayah-wilayah perbatasan sebagai wilayah pusat keamanan.Hal ini menjadikan situasi di suatu wilayah perbatasan antara Indonesia dengan negara tetangganya menjadi kontras. Padahal sudah menjadi tugas pemerintah untuk membangkitkan kegiatan ekonomi di wilayah-wilayah perbatasan agar penduduknya menjadi sejahtera. Karena itu perlu untuk diterapkan suatu sistem pengelolaan wilayah-wilayah perbatasan yang terintegrasi sehingga dapat dikembangkan menjadi pusat-pusat ekonomi yang baru. Sejauh ini, kabarnya pemerintah telah melakukan berbagai program dan kebijakan yang terkait dengan pemajuan daerah perbatasan. Kami sangat tertarik untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang telah dilakukan terkait dengan wilayah-wilayah perbatasan tersebut. Melalui surat ini kami berharap agar Tabloid Diplomasi dapat mengupas hal ini dan menjadikannya sebagai tema utama. Sehingga dengan demikian kami dapat lebih mengetahui mengenai keadaan wilayah perbatasan beserta segala permasalahannya. Demikian hal ini disampaikan, atas perhatian dan perkenan tim redaksi Tabloid Diplomasi, kami ucapkan banyak terimakasih. Salam Diplomasi. Chika Pahlevi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta. ------------------------------------------------------------------------------- Salam Diplomasi. Pada bulan Maret (13/3/2017) lalu, Presiden Joko Widodo telah secara resmi melantik 17 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBPP) Republik Indonesia yang ditugaskan di sejumlah negara sahabat. Cukup menarik bahwa dari sejumlah Dubes yang dilantik itu, sebagian besar (sekitar 75%) merupakan diplomat karir di KementerianLuar Negeri. Hal ini tentunya berbeda dengan masa Orde baru, dimana diplomat karir yang menjadi Duta Besar sangat sedikit jumlahnya. Saya sangat tertarik untuk mengetahui tentang perkembangan ‘Duta Besar RI’ dari masa kemasa, termasuk visi dan misi yang diemban oleh para Dubes tersebut. Untuk itu sudilah kiranya Tabloid Diplomasi untuk menyuguhkan artikel tentang hal tersebut. Demikian usul dari saya, dan atas perhatian tim redaksi tabloid Diplomasi, saya ucapkan terimakasih. Panca Wibawa, Mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta Para pembaca Tabloid Diplomasi yang terhormat, pada edisi 102 kali ini, kami menampilkan seputar penyelenggaraan KTT Indian Ocean Rim Association (IORA) pertama di Jakarta yang telah berjalan dengan sukses dan memperoleh hasil yang memuaskan sebagaimana diharapkan oleh Indonesia selaku tuan rumah dan Ketua IORA periode 2015-2017. IORA yang dibentuk pada 1997 di Mauritius, merupakan forum kerja sama antarnegara terbesar di kawasan Samudera Hindia. Saat ini IORA beranggotakan 21 negara dan didukung oleh 7 negara mitra wicara, yang hampir seluruhnya adalah juga anggota G20. IORA terbukti memiliki peran strategis dalam perekonomian dunia, karena kawasan Samudera Hindia yang membentang dari selatan Asia hingga Antartika ini merupakan samudera masa depan dengan potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. IORA adalah kekuatan geopolitik dan geoekonomi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, baik untuk perdagangan maupun investasi. Oleh karena itu diperlukan strategi yang komprehensif dalam memanfaatkan potensi ekonomi negara-negara IORA sebagai kawasan masa depan ekonomi dunia, IORA adalah peluang baru yang sangat strategis bagi Indonesia dan sejalan dengan strategi diversifikasi pasar ekspor. KTT IORA menghasilkan 4 dokumen, yaitu; IORA Concord, IORA Action Plan, IORA Declaration on Preventing and Countering Terrorism and Violent Extremism, dan Joint Declaration of the IORA Business Community to Build Partnerships for a Sustainable and Equitable Economic Growth untuk mendorong kawasan Samudera Hindia menjadi kawasan yang damai, stabil dan sejahtera. Untuk dapat menembus pasar baru di IORA tentunya tidak mudah, kita harus mengetahui betul apa yang dikehendaki oleh pasar dan produk yang kita tawarkan juga harus memiliki daya saing yang tinggi. Disamping itu, perlu dilakukan sinergi dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan dunia usaha melalui bingkai Indonesia Incorporated, sehingga produk-produk Indonesia memiliki daya dobrak yang lebih besar dalam menembus pasar-pasar baru. Indonesia harus fokus untuk meningkatkan kwantitas produk ekspor yang bernilai tambah, dan tidak lagi hanya mengandalkan bahan mentah dan komoditas. Hilirisasi di semua lini harus dipercepat dengan dukungan penuh para pelaku usaha. Struktur industri juga harus diperkuat untuk dapat menghasilkan produk yang bernilai tambah dan bersaya saing. Berikutnya adalah menjalin perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement) dengan negara-negara IORA. Sejauh ini, Indonesia sudah menjalin kesepakatan perdagangan bebas dengan Australia dan sejumlah negara IORA yang juga bergabung di ASEAN. []
  3. 3. daftar isi PENANGGUNG JAWAB Duta Besar Niniek K. Naryatie (Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik) Al Busyra Basnur (Direktur Diplomasi Publik) Azis Nurwahyudi (Sekretaris Direktorat Jenderal IDP) REDAKTUR Arif Suyoko PENYUNTING/EDITOR Agus Heryana Bambang Prihartadi Tangkuman Alexander Agus Badrul Jamal Etty Rachmawati Pinkan O Tulung Cherly Natalia Palijama Purnowidodo Meylia Wulandari Khariri Cahyono DESAIN GRAFIS DAN FOTOGRAFI Alfons M. Sroyer Arya Daru Pangayunan Ibnu Sulhan Tsabit Latief SEKRETARIAT Mahendra Hesty M. Lonmasa Darmia Dimu Orchida Sekarratri Agus Usmawan Kistono Dewa Putu Sastrawan Iskandar Syahputra Alamat Redaksi Direktorat Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri RI, Lt. 12 Jl. Taman Pejambon No.6, Jakarta Pusat Telp. 021- 68663162,3863708, Fax : 021- 29095331, 385 8035 Tabloid Diplomasi edisi bahasa Indonesia dan Inggris dapat didownload di : http://www.tabloiddiplomasi.org Email : tabloiddiplomasi@Kemenlu.go.id Diterbitkan oleh Direktorat Diplomasi Publik, Direktorat Jenderal IDP Kementerian Luar Negeri R.I. Wartawan Tabloid Diplomasi tidak diperkenankan menerima dana atau meminta imbalan dalam bentuk apapun dari narasumber. Wartawan Tabloid Diplomasi dilengkapi kartu pengenal atau surat keterangan tugas. Apabila ada pihak mencurigakan sehubungan dengan aktivitas kewartawanan Tabloid Diplomasi, segera hubungi redaksi. Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau menyampaikan tanggapan, informasi, kritik dan saran, silahkan kirim email: tabloiddiplomasi@Kemenlu.go.id MENLU BAHAS PERLINDUNGAN TKI ASAL LOMBOK DENGAN GUBERNUR NTB HAL 15 FOKUS UTAMA 4 Jakarta Selenggarakan KTT IORA Untuk Pertama Kalinya 5 KTT IORA Membuka Babak Baru Potensi Ekonomi Negara-Negara di lingkar Samudera Hindia 6 Memperkuat Poros Maritim Dan Konektivitas IORA 7 Insiatif dan Perkembangan Kerja Sama Ekonomi Dalam Kerangka IORA FOKUS 8 IORA Menjadi Ajang Promosi dan Pameran Produk Indonesia 8 IORA dan Diplomasi Ekonomi Presiden Jokowi 9 JAKARTA CONCORD 11 Presiden RI : KTT IORA Sangat Strategis dan Progresif 12 IORA Action Plan 2017-2021 Keselamatan dan Keamanan Maritim - Mempromosikan keselamatan dan keamanan maritim di kawasan 13 Indonesia Tawarkan Kerjasama Pariwisata dengan Negara Anggota IORA 14 Deklarasi IORA Tegaskan Perlawanan Terhadap Terorisme dan Radikalisme SOROT 15 Menlu Bahas Perlindungan TKI Asal Lombok dengan Gubernur NTB 16 Kemenlu Angkat Potensi Bisnis Provinsi Kepulauan Riau Melalui program Update from The Region (UFTR) 17 Dukungan Diplomasi Inovatif dalam Membangun Ekonomi Indonesia 18 Kemlu Beri Pelatihan Diplomasi Bagi 20 Pemda 19 Kuliah Umum Dan Sosialisasi Diplomasi Publik Ke Mahasiswa dan Pelajar di Kota Cirebon LENSA 20 Kemlu RI dan Universitas Budi Luhur Gelar Simulasi Sidang Bali Democracy Forum 20 MAN 1 Makassar Kenali Dunia Diplomasi di Kemlu 21 Plt Dirjen IDP, Niniek Kun Naryatie : Indonesia Adalah Laboratorium Dunia 22 Innovative Youth Project Menggalang Kesadaran Diplomasi Dikalangan Kawula Muda 23 Kemlu Dorong Mahasiswa Jadi Citizen Diplomat 24 Begini Cara FSAA Menyambut Hari Jadi KAA
  4. 4. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 Jakarta Selenggarakan KTT IORA Untuk Pertama Kalinya P osisi Samudera Hindia yang strategis ini mendorong negara-negara yang berada di wilayah ini untuk membentuk Indian Ocean Rim Association (IORA) yang kemudian diresmikan pada Maret 1997 di Mauritius. Sebagai satu-satunya organisasi regional di kawasan ini, IORA menjadi pemersatu negara-negara yang berada di kawasan Samudera Hindia dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan seimbang bagi seluruh anggota serta menciptakan landasan yang kuat bagi kerja sama ekonomi regional melalui upaya-upaya fasilitasi perdagangan dan menghilangkan hambatan- hambatan perdagangan. Untuk itulah maka IORA dibentuk berdasarkan pada pilar-pilar ekonomi, keamanan dan keselamatan maritim serta pendidikan dan kebudayaan. Yang menjadi prioritas dalam IORA adalah: Keselamatan dan keamanan maritim; Fasilitasi dan investasi perdagangan; Manajemen perikanan; Manajemen resiko bencana alam; Kerja sama akademis, ilmu pengetahuan dan teknologi; Pertukaran kebudayaan dan pariwisata. Disamping itu IORA juga mengangkat dua isu lintas sektoral, yaitu Blue Economy dan Women Empowerment. Saat ini, IORA beranggotakan 21 negara, yaitu: Afrika Selatan, Australia, Bangladesh, Komoros, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Persatuan Emirat Arab, Seychelles, Singapura, Somalia, Sri Lanka, Tanzania, Thailand dan Yaman. IORA juga menggandeng tujuh negara sebagai mitra dialog, yaitu: Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Mesir, Perancis dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Disamping itu juga terdapat dua organisasi peninjau, yaitu Indian Ocean Tourism Organization (IOTO) dan Indian Ocean Research Group (IORG). Dalam beberapa tahun terakhir IORA mengalami perkembangan yang pesat dan menjadi organisasi yang lebih luas dengan jumlah keanggotaan yang semakin besar. Perkembangan ini diawali sejak keketuaan India pada 2011-2013 dan Australia pada 2013-2015. Kerja sama berbagai bidang antarnegara anggota IORA direalisasikan dalam sejumlah platform, yaitu: Council of Minister (COM), Committee of Senior Officials (CSO), Indian Ocean Rim Academic Group (IORAG), Indian Ocean Rim Business Forum (IORBF), Working Group on Trade and Investment (WGTI), Working Group of Heads of Mission (WGHM), serta format TROIKA (terdiri dari Ketua, Wakil Ketua dan Ketua sebelumnya). Pada Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke-15 di Padang, Sumatera Barat tahun 2015 lalu, Indonesia secara resmi diangkat sebagai Ketua IORA periode 2015-2017 dengan Afrika Selatan sebagai Wakil Ketua. Dalam keketuaan IORA, Indonesia menetapkan tema, yaitu “Strengthening Maritime Cooperation in a Peaceful and Stable Indian Ocean”. Beberapa gagasan dan prakarsa strategis Indonesia pada masa keketuaannya dan telah disetujui, antara lain membentuk IORA Concord sebagai outcome strategis 20 tahun IORA, dan menyelenggarakan KTT IORA pada Maret 2017. Dua hal ini menjadi prioritas dalam memperkuat regionalisme di kawasan Samudera Hindia, pengarusutamaan gagasan Poros Maritim Dunia, memajukan kerja sama IORA dan isu lintas sektoral, serta melanjutkan penguatan institusi IORA. KTT IORA yang diselenggarakan pada 5-7 Maret 2017 di Jakarta ini merupakan pertemuan pertama para pemimpin negara-negara anggota IORA sejak berdiri pada 1997. Pertemuan ini mengangkat tema “Strengthening Maritime Cooperation for a Peaceful, Stable and Prosperous Indian Ocean” dan terdiri dari empat pertemuan, yaitu Pertemuan Tingkat Pejabat Tinggi (5 Maret 2017), Pertemuan Tingkat Menteri (6 Maret 2017), IORA Business Summit (6 Maret 2017), dan Konferensi Tingkat Tinggi IORA (7 Maret 2017). KTT ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk menekankan pentingnya konektivitas untuk menjembatani kepentingan bersama antara negara anggota IORA serta meningkatkan kerja sama antara negara-negara di tepi Samudera Hindia. [] Samudera Hindia merupakan wilayah samudera terbesar ketiga di dunia dan memiliki peran strategis dalam perekonomian dunia karena menjadi wilayah penghubung dan jalur transportasi aktivitas perdagangan internasional, termasuk pengiriman minyak dunia. FOKUS UTAMA 4 No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017
  5. 5. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 KTT IORA Membuka Babak Baru Potensi Ekonomi Negara-Negara di Lingkar Samudera Hindia KTT ini dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo dan dihadiri oleh 16 Kepala Negara/ Pemerintahan dari 21 negara anggota, perwakilan dari 7 negara mitra wicara, serta sejumlah organisasi internasional dan negara tamu yang memiliki ikatan kuat dengan Samudera India. IORA Summit 2017 dengan tema “Strengthening Maritime Cooperation for Peaceful, Stable and Prosperous Indian Ocean” ini merupakan KTT Pertama IORA dan juga menandai perayaan ‘20 Tahun IORA’. Kegiatan ini berlangsung dibawah keketuaan Indonesia untuk periode 2015-2017 yang merupakan wujud pelaksanaan Nawacita, yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia. KTT membahas sejumlah isu prioritas, diantaranya; masalah keamanan dan keselamatan maritim; fasilitasi perdagangan dan investasi; manajemen perikanan; manajemen resiko bencana; kerja sama akademis, ilmu pengetahuan dan teknologi; serta kerja sama pariwisata dan pertukaran budaya. Mengingat banyak potensi ekonomi yang belum tergali secara maksimal diantara negara- negara anggota IORA, pada penyelenggaraan IORA Summit 2017 kali ini juga dilangsungkan IORA Business Summit untuk yang pertama kali. Pertemuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan potensi ekonomi yang dapat membawa kesejahteraan yang lebih baik bagi negara- negara anggota IORA. Pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari berbagai sektor bisnis ini membahas isu-isu khusus yang menjadi perhatian negara- negara anggota dan juga masyarakat internasional, diantaranya; pemberdayaan dan globalisasi UKM, pemberdayaan perempuan melalui inovasi; digitalisasi dan kases keuangan; pariwisata; serta konektivitas dan infrastruktur. Pada pertemuan ini Pemerintah dan kalangan bisnis sepakat untuk mempererat kerja sama ekonomi antarnegara IORA. Kerja sama ini dimaksudkan untuk mewujudkan cita- cita seluruh negara anggota IORA dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan seimbang bagi seluruh negara anggota, serta menciptakan landasan yang kuat bagi kerja sama ekonomi regional. Secara keseluruhan, KTT menghasilkan empat dokumen, yaitu; IORA Concord, IORA Action Plan, IORA Declaration on Preventing and Countering Terrorism and Violent Extremism, dan Joint Declaration of the IORA Business Community to Build Partnerships for a Sustainable and Equitable Economic Growth untuk mendorong kawasan Samudera Hindia menjadi kawasan yang damai, stabil dan sejahtera. Selain itu, IORA Summit 2017 kali ini juga disemarakkan dengan rangkaian kegiatan pendukung antara lain pameran yang bertemakan “The Great Voyage Indian Ocean” yaitu berupa pameran reproduksi foto, peta klasik, artefak, karya seni dan foto-foto obyek wisata Nusantara. Pembentukan IORA di inisiasi oleh Perdana Menteri Afrika Selatan Nelson Mandela pada saat melakukan kunjungan ke India pada Maret 1995. Dua tahun kemudian, yaitu pada 5-7 Maret 1997, diselenggarakan KTT pertama di Mauritius bersamaan dengan terbentuknya Indian Ocean Rim Association for Regional Cooperation (IOR-ARC). Pada 2012, IOR-ARC kemudian berubah menjadi IORA. Indonesia mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (Indian Ocean Rim Association/IORA) yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) pada 5-7 Maret 2017. FOKUS UTAMA 5
  6. 6. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 Memperkuat Poros Maritim dan Konektivitas IORA M engawali paparannya, Presiden Joko Widodo menekankan betapa besarnya potensi bisnis yang ada di kawasan Samudera Hindia. “Kawasan Samudera Hindia ini adalah kawasan yang amat luas sekali. Di dalam kawasan raksasa ini banyak sekali tantangan-tantangan yang kita hadapi. Namun, karena saya pernah menjadi pengusaha, bahwa setiap tantangan itu justru menciptakan peluang bagi pengusaha. Di situlah peluang bisnisnya”. Samudera Hindia merupakan wilayah dimana lebih dari 2,7 miliar penduduk tinggal di negara-negara yang berbatasan dengannya. Hal itu menjadikan Samudera Hindia sebagai wilayah yang menyimpan potensi strategis untuk pengembangan bisnis global. “Saya mencatat bahwa setengah dari perjalanan kontainer adalah lewat Samudera Hindia. Yang kedua, dua pertiga pengapalan tanker energi itu lewat Samudera Hindia. Yang ketiga, 2,7 miliar orang itu tinggal di kawasan IORA. Oleh sebab itu, Samudera Hindia adalah samudera masa depan. Masa depan ekonomi dunia ada di kawasan ini”. Oleh karenanya, pertemuan bisnis antara Negara Lingkar Samudera Hindia tersebut dinilai memiliki peran dan arti yang besar. Kesempatan ini sekaligus sebagai momentum untuk memperkuat kemitraan antara negara-negara anggota IORA dalam mewujudkan kemakmuran di wilayah Samudera Hindia. “Indonesia ingin memperkuat poros maritim untuk dihubungkan dengan IORA. Sekali lagi, kami membutuhkan kemampuan bisnis Bapak/Ibu sekalian untuk menciptakan solusi atas berbagai peluang yang tadi saya sampaikan”. Presiden Joko Widodo juga sempat membagi kisahnya yang pernah memiliki pengalaman dalam dunia usaha sebelum mengemban amanah sebagai Presiden RI. “Sebelum saya masuk ke dunia politik, sekitar 12 tahun yang lalu, saya adalah pengusaha yang lebih dari 20 tahun hidup di dunia usaha. Boleh dibilang saya seperti Bapak/Ibu sekalian. Bagi saya menjadi seorang pengusaha itu sederhana; pelanggan kita menuntut kita untuk bekerja yang pertama ‘on time’, yang kedua memberikan harga yang kompetitif, yang ketiga ‘on spec’, artinya mutu yang baik”. Bila dibandingkan dengan saat dirinya menjadi seorang pengusaha, Presiden merasakan sendiri perkembangan teknologi yang sedemikian cepatnya dimana hal itu menimbulkan pengaruh tersendiri dalam dunia bisnis. Teknologi internet dan smartphone disebutnya mampu mendemokratisasi akses kepada seluruh kalangan dan memastikan agar semua orang dapat terhubung dengan baik. “Sekarang dengan mobile internet dan smartphone yang murah, platformnya sudah terbentuk bagi usaha kecil dan menengah, bagi wanita, dan bagi pengusaha muda. Yang namanya mobile internet itu secara otomatis jangkauannya sudah langsung menghubungkan nasional, regional, bahkan internasional”. Perkembangan teknologi yang sedemikian cepatnya tersebut tidak hanya menimbulkan keuntungan semata, namun juga terdapat tantangan di baliknya. Sebagai seorang yang pernah bergelut dengan dunia usaha, Presiden Joko Widodo paham betul bahwa Pemerintah juga dituntut untuk menyediakan solusi bagi tantangan-tantangan itu. “Menjadi tugas Pemerintah untuk memastikan supaya infrastruktur telekomunikasinya terbangun dengan baik, jaringan 3G, 4G dan nantinya jaringan 5G. juga jaringan kabel fiber optic untuk menyalurkan data-data bandwidth dalam jumlah yang besar dengan harga yang efisien. Dan menjadi tugas kami, tugas Pemerintah untuk mengurangi beban- beban yang menghambat dunia bisnis, regulasi serta perizinan yang berlebihan dan menghambat, serta mengurangi korupsi”. Oleh karenanya Presiden meminta kalangan dunia usaha, khususnya kepada sektor swasta dari negara- negara anggota IORA untuk mempercayakan hal tersebut kepada pemerintah Indonesia. Presiden juga membuka kesempatan seluas-luasnya kepada negara-negara IORA untuk bermitra dengan Indonesia sekaligus membawa kemakmuran di kawasan Samudera Hindia. “Kami dari kalangan Pemerintah bermaksud untuk bisa bekerja sama secara erat dengan Bapak/ Ibu sekalian, sektor swasta dari negara-negara anggota IORA supaya kita bisa membawa yang terbaik dari teknologi-teknologi terkini kepada kelompok usaha, para wanita, dan kaum muda negara-negara IORA”. Pada pembukaan IORA Business Summit 2017 yang dilangsungkan pada 6 Maret 2017 di Jakarta Convention Center, Presiden Joko Widodo berkesempatan menjadi pembicara utama di hadapan sejumlah Kepala Negara/ Pemerintahan, delegasi perwakilan Kamar Dagang dan Industri dari negara-negara anggota IORA dan tamu kehormatan. FOKUS UTAMA 6
  7. 7. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 FOKUS UTAMA 7 Insiatif dan Perkembangan Kerja Sama Ekonomi Dalam Kerangka IORA Kepentingan strategis Samudra Hindia memiliki arti penting sebagai jalur sea lines of communication (SLOCs) utama dan penghubungan antara Timur dan Barat dunia. Bagi perdagangan dunia, kawasan ini juga menjadi jalur lalu lintas 1/2 dari total kapal kontainer dunia, 1/3 bulk cargo, dan 2/3 dari kapal pengangkut minyak dunia serta jalur distribusi barang dari Asia, Afrika ke Eropa. Perlu dicatat pula, bahwa dengan total penduduk hampir ¼ populasi dunia dan tingkat migrasi penduduk yang dinamis, kawasan ini merupakan pasar yang sangat besar. Total perdagangan dunia di kawasan ini mencapai USD 4 miliar (2014 – 2015). Dalam rangka memperkuat kerja sama di bidang perdagangan dan investasi, IORA memiliki forum Working Group of Trade and Investment (WGTI). Selaku Ketua IORA periode 2015 – 2017, Indonesia berpandangan bahwa IORA perlu dikembangkan dengan memperkuat regionalisme dan mendorong habit of dialogue antar negara. Salah satu inisiatif utama adalah melalui IORA Concord sekarang Jakarta Concord. Jakarta Concord merupakan dokumen strategis yang berisi visi dan norma kerja sama IORA ke depan dan memuat 6 area prioritas kerja sama IORA, isu lintas sektoral, dan penguatan institusi. Jakarta Concord dilengkapi dengan IORA Action Plan yang memuat aksi nyata dari komitmen yang tertera di Concord. Implementasi program pada IORA Action Plan diharapkan dapat mendorong usulan dan inisiatif program kerja nyata di bidang fasilitiasi perdangangan, sebagai salah satu prioritas kerja sama IORA. Indian Ocean Rim Association (IORA) merupakan organisasi yang paling aktif bagi negara-negara di lingkar Samudra Hindia. IORA pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, menciptakan landasan kuat bagi kerja sama ekonomi dan mengurangi hambatan- hambatan perdagangan dan investasi. Manfaat Ekonomi Samudra Hindia bagi Indonesia • Sumber investasi pontensial dengan total bilai mencapai USD 3.05 miliar atau 41% dari seluruh nilai realisasi investasi; • Salah satu sentra pariwisata dunia yang mampu menarik 121,8 juta wisatawan, bernilai 146,8 miliar; • Perdagangan Indonesia dengan 14 negara IORA mengalami surplus di pihak Indonesia. TABEL: PERDAGANGAN RI - NEGARA IORA TAHUN 2016 (Dalam ribu USD, Sumber: Kemdag RI) No. Negara Total Ekspor Impor Neraca 1. Afrika Selatan 1.018.686,6 727.880,0 290.806,6 437.073,4 2. Australia 8.459.865,5 3.199.006,5 5.260.859,0 -2.061.852,5 3. Bangladesh 1.335.092,4 1.266.688,1 68.404,3 1.198.283,8 4. India 12.966.593,6 10.093.804,4 2.872.789,3 7.221.015,1 5. Iran 338.599,5 235.194,4 103.405,1 131.789,3 6. Kenya 210.801,4 200.781,4 10.020,0 190.761,4 7. Madagaskar 100.859,6 46.037,7 54.821,9 -8.784,1 8. Malaysia 14.312.952,5 7.112.008,2 7.200.944,3 -88.936,1 9. Mauritius 50.677,5 46.686,3 991,2 48.695,2 10. Mozambik 44.514,3 35.109,1 9.405,2 25.703,9 11. Oman 263.286,2 201.899,2 61.386,8 140.512,7 12. Persatuan Emirat Arab 2.928.307,6 1.612.105,6 1.316.201,9 295.903,7 13 Seychelles 11.331,6 4.221,7 7.110,0 -2.888,3 14. Singapura 25.794.730,4 11.246.431,9 14.548.298,5 -3.301.866,6 15. Somalia 42.437,0 42.437,0 0 42.437,0 16. Sri Lanka 306.531,6 262.228,4 44.303,2 217.925,2 17. Tanzania 223.348,4 154.452,8 68.895,6 85.557,2 18. Thailand 14.059.333,3 5.392.399,3 8.666.934,0 -3.274.534,6 19. Uni Komoro 3.814,0 2.111,4 1.702,0 408,8 20. Yaman 158.946,5 157.907,7 1.038,8 156.868,9 Jumlah 89.834.347,2 45.882.916,2 43.951.431 1.931.485.2 Website IORA : www.iora.net
  8. 8. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 perusahaan binaan Kemendag (PT. Wirasindo Santakarya, PT. Jenggala Keramik, Nuanza Porselen Indonesia, PT. Out of Asia, Sepiring Indonesia, Citra Handicraft, ONIE Craft, Cita Tenun Indonesia, Chameo Couture, Permata Bunda, PT. Harendong Green Farm, PT. Kampung Kearifan Indonesia/ Javara), PT. Aksara Kencana Putra, Natural Nutrisi Global, PT. LEN Industri, PT New Sentosa International, PT. Dirgantara Indonesia, PT. Pindad, PT. Dok Kodja Bahari, serta PT. PAL). IORA Menjadi Ajang Promosi dan Pameran Produk Indonesia Aneka produk kreatif dari makanan, minuman, kerajinan, pariwisata, jasa kargo hingga industri strategis unggulan Indonesia yang ditampilkan pada IORA Trade Exhibition di Jakarta Convention Center (JCC), 5-7 Maret 2017 menarik para pemimpin negara IORA lain yang hadir. Pameran ini adalah sarana untuk lebih mengembangkan perdagangan, investasi dan pariwisata negara IORA Summit 2017, yaitu “Building Partnership for a Sustainable and Equitable Economic Growth”. Deretan stan dalam pameran antara lain menampilkan produk komoditi unggulan siap ekspor seperti kopi dan teh, produk sawit, nata de coco, produk spa, kerjaninan dan makanan, vaksin, souvenir, keramik, produk organik, jasa investasi, potensi pariwisata Wonderful Indonesia, serta pelayaran maupun transportasi laut. IORA Trade Exhibition merupakan bagian dari KTT IORA 2017. Tema yang diangkat dalam pameran adalah “Indonesia: Source of Natural and Creative Products”. Kegiatan pameran ini terasa lengkap dengan telah berlangsungnya sesi business-matching yang mampu mempertemukan secara instan pelaku bisnis dari negara-negara IORA. Peserta pameran cukup beragam, yaitu terdiri dari 9 pengusaha mandiri (PT. Pulau Sambu, PT. Inter Aneka Lestari Kimia, PT. Mustika Ratu, PT. Niramas Utama, PT. Bio Farma, Djakarta Lloyd, PT. Smart, PT. Sarinah dan PT. Tirta Ayu Spa); 4 asosiasi bisnis (Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia, Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, serta Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia); 5 Lembaga/Kementerian (BKPM, BEKRAF, Kemenpar, BPDP Sawit, dan Kemendag); serta 19 Selepas penandatanganan Jakarta Concord (7/3/2017), Presiden RI bersama-sama dengan PM Australia Malcolm Turnbull, PM Bangladesh Sheikh Hasina, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dan rombongan pemimpin negara IORA lainnya mengunjungi stan-stan pameran pada IORA Trade Exhibition. Dalam kunjungan tersebut, Presiden RI dan rombongan tamu negara antusias menyimak penjelasan oleh para pengusaha tentang produk-produk unggulan Indonesia yang dipamerkan. FOKUS 8 IORA dan Diplomasi Ekonomi Presiden Jokowi Dalam perjalanan IORA selama 20 tahun, tidak ada perkembangan yang berarti dari konferensi IORA tersebut karena hanya berupa pertemuan tingkat menteri. Baru saat ini digagas untuk melakukan pertemuan di tingkat yang lebih tinggi ketika Pemerintah Indonesia mengambil inisiatif untuk mengangkat kerja sama Samudera Hindia yang lebih jelas arahnya. Ini merupakan kerja sama ekonomi dalam bentuk mungkin formatnya ASEAN yang diperluas karena ada India, Afrika Selatan dan juga Australia. Dalam pelaksanaan KTT IORA tersebut, Presiden Joko Widodo menyempatkan bertemu dengan beberapa kepala negara seperti PM Bangladesh, Presiden Yaman, Presiden Iran, PM India, dan Presiden Mozambik untuk membicarakan kerja sama ekonomi, baik investasi maupun perdagangan. Dengan Bangladesh misalnya, Negeri Bengal itu ingin menambah impor gerbong kereta api sebanyak 250 gerbong. Mereka juga menawarkan kerja sama di bidang farmasi. Ada juga kelanjutan kerjasama dengan India, Iran dan Afrika Selatan yang akan ditindaklanjuti nantinya oleh Menteri Perdagangan. Dengan Bangladesh nilai perdagangan kita surplusnya cukup besar, sehingga memang pantas dilanjutkan kerjasamanya. Sementara dengan Afrika Selatan, Menteri Perdagangan akan segera ke sana untuk menindaklanjuti. DARMIN NASUTION Menko Perekonomian
  9. 9. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 FOKUS 9 JAKARTA CONCORD Jakarta Concord dibuat dengan mengikuti hak dan kewajiban hukum internasional, termasuk yang berada di bawah Piagam PBB dan Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut (UNCLOS). Para Pemimpin juga memperhatikan Resolusi 2832 (XXVI) Majelis Umum PBB tentang “Deklarasi Samudera Hindia sebagai Zona Damai” untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan dan untuk membangun zona damai. Pada dokumen ini, para Pemimpin IORA menekankan komitmen penguatan kerja sama terkait dengan Agenda PBB 2030 tentang Pembangunan Berkelanjutan dan memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dalam pencapaian pembangunan dan pertumbuhan yang berkelanjutan di kawasan strategis yang penting ini. Tidak ada ikatan sejarah dan budaya antara bangsa-bangsa dan masyarakat yang beragam di kawasan lingkar samudera Hindia, dan ini menawarkan kesempatan yang luas untuk meningkatkan berbagai bidang kerjasama ekonomi. Hubungan dan interaksi antara negara anggota IORA dilakukan dengan menghormati prinsip-prinsip kesetaraan kedaulatan, integritas wilayah, kemerdekaan politik, tidak- campur tangan dalam urusan internal negara lain, co- existence damai dan saling menguntungkan. Prestasi IORA dalam 20 tahun terakhir dan berbagai peluang yang ada mengharuskan negara-negara IORA untuk mengembangkan peluang tersebut dan berupaya untuk mengatasi tantangan bersama yang dihadapi Samudera Hindia, utamanya untuk kesejahteraan generasi masa depan. Para Pemimpin IORA menegaskan komitmen untuk membangun kawasan Samudera Hindia menjadi lebih damai, stabil dan makmur melalui peningkatan kerja sama, termasuk namun tidak terbatas pada 6 bidang prioritas: Keselamatan dan Keamanan Maritim; Fasilitasi Perdagangan dan Investasi; Pengelolaan Perikanan; Manajemen Risiko Bencana; Kerja sama Akademik, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; Pariwisata dan Pertukaran Budaya; dan isu lintas sektoral Pemberdayaan Perempuan. Disadari pula pentingnya moderasi sebagai pendekatan untuk melawan segala bentuk ekstremisme dan mempromosikan dialog, saling menghormati, pengertian, dan harmoni sosial, sehingga memberikan kontribusi terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan dan inklusif, pertumbuhan yang merata, stabilitas dan kemakmuran di kawasan Samudera Hindia. Diyakini pula mengenai pentingnya Blue Economy sebagai pendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan Samudera Hindia. Para Pemimpin IORA mengakui bahwa wilayah pesisir dan perairan maritim Samudera Hindia telah menyatukan kawasan tersebut dan selanjutnya menyambungkannya dengan kawasan-kawasan lain di dunia, dan karena itu maka menjadi penting untuk menjaga keselamatan dan keamanan maritim demi terciptanya perdamaian, stabilitas serta pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di kawasan. Pentingnya kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan dan anak perempuan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, juga ditegaskan. Disamping juga disadari pentingnya Mitra Dialog untuk memajukan tujuan asosiasi, serta pentingnya sinergi dan kerjasama regional untuk mempromosikan perdamaian, stabilitas dan kemakmuran. Ada 8 komitmen yang menjadi tujuan dalam Jakarta Concord yang disepakati oleh para Pemimpin IORA pada pelaksanaan KTT IORA di Jakarta. Pertama, komitmen untuk Mempromosikan Keselamatan dan Keamanan Maritim di kawasan melalui: ○ Peningkatan kerjasama dalam mencegah dan mengelola kecelakaan dan insiden di laut, serta mempromosikan koordinasi yang efektif antara pelayanan SAR penerbangan dan maritim; ○ Berbagi keahlian dan sumber daya untuk mengurangi substandard shipping dan mengelola risiko terhadap keselamatan kapal dan lingkungan laut di kawasan Samudera Hindia; ○ Memperkuat kerjasama regional untuk mengatasi tantangan lintas batas, termasuk pembajakan, perampokan bersenjata di laut, terorisme, perdagangan manusia, penyelundupan manusia, pergerakan orang yang bersifat irregular, perdagangan obat-obatan terlarang, perdagangan gelap satwa liar, kejahatan di sektor perikanan, dan kejahatan lingkungan; ○ Memastikan bahwa negara- negara di kawasan dapat melaksanakan kebebasan navigasi sesuai dengan hukum internasional, termasuk UNCLOS, sebagai konstitusi untuk samudera. Kedua, Meningkatkan Kerjasama Perdagangan dan Investasi di Kawasan dengan: ○ Mendorong aliran barang, jasa, investasi, dan teknologi yang lebih besar di lingkup intra-IORA, sebagai stimulus untuk lebih mengembangkan dan menumbuhkan perekonomian secara berkelanjutan; ○ Mencari cara untuk meningkatkan kapasitas produksi, daya saing, dan penambahan nilai produk di kawasan; Mempromosikan public-private partnership dalam pembangunan infrastruktur; ○ Penguatan keterlibatan sektor swasta, khususnya di UMKM, melalui dialog reguler dan interaksi antara pemerintah dan bisnis, termasuk pengusaha perempuan; ○ Melanjutkan reformasi regulasi untuk mendorong daya saing dan inovasi serta mempromosikan kemudahan dalam melakukan bisnis; ○ Meningkatkan konektivitas (kelembagaan, fisik, dan people-to-people) di kawasan Samudera Hindia, termasuk memfasilitasi pergerakan para pelaku bisnis; ○ Menyadari pentingnya pertumbuhan ekonomi dan keterampilan pembangunan dalam menghasilkan nilai tambah barang dan meningkatkan partisipasi dalam rantai nilai global; Para Kepala Negara/Pemerintahan, dan perwakilan lainnya, dari Negara Anggota IORA pada KTT yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Ulang Tahun ke- 20 IORA di Jakarta, 6-7 Maret 2017 telah menyepakati Jakarta Concord, dokumen yang dibuat atas dasar prinsip-prinsip dan tujuan Piagam IORA, yaitu mempromosikan kerja sama regional untuk Samudera Hindia yang damai, stabil dan sejahtera.
  10. 10. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 ○ Mempromosikan pengiriman, pelabuhan, transportasi dan aliansi- aliansi logistik di kawasan dengan kawasan lainnya di dunia; ○ Mendorong pengembangan standar-standar yang cocok untuk negara-negara anggota IORA, dengan mempertimbangkan standar internasional dan nasional. Ketiga, Mempromosikan Manajemen dan Pengembangan Perikanan yang Berkelanjutan dan Bertanggung dengan: ○ Meningkatkan manajemen berbasis ilmu pengetahuan dan konservasi sumber daya hayati laut, termasuk melalui dukungan dan perkuatan Regional Fisheries Management Organisations (RFMOs), serta meningkatkan mekanisme regional dan internasional untuk memerangi IUU fisihing; ○ Mempromosikan praktek lingkungan yang berkelanjutan dalam budidaya, perikanan tangkap kelautan, dan teknologi pasca panen. ○ Meningkatkan bantuan teknis dan pengembangan kapasitas dalam membina dan memperkuat perlindungan dan pelestarian lingkungan pesisir dan laut; ○ Mendukung langkah-langkah untuk meningkatkan kapasitas nelayan skala kecil sehingga sejalan dengan praktik perikanan berkelanjutan untuk mempromosikan dan memfasilitasi perdagangan ikan dan produk perikanan, serta akses ke pasar global dalam rangka meningkatkan mata pencaharian mereka. Keempat, Meningkatkan Manajemen Risiko Bencana di Kawasan dengan: ○ Mengakui kerentanan negara berkembang pulau kecil (Small Island Developing States/SIDS) dan pesisir terhadap perubahan iklim dan pengasaman laut, maka negara-negara IORA bekerja sama untuk melaksanakan ketentuan Paris Agreement mengenai perubahan iklim; ○ Penguatan kesiapan daerah bencana, ketahanan masyarakat, dan manajemen risiko bencana sesuai dengan Sendai Framework untuk pengurangan risiko bencana; ○ Meningkatkan sharing data geodetik, metode dan infrastruktur serta mengembangkan sistem peringatan dini terintegrasi lebih lanjut di kawasan untuk peramalan dan komunikasi terkait risiko dan bahaya bencana; ○ Meningkatkan kerjasama dengan pemangku kepentingan dalam menangani masalah yang berkaitan dengan bencana dan perubahan iklim melalui peningkatan kapasitas, termasuk berbagi informasi, pengalaman dan praktik terbaik untuk meningkatkan ketahanan masyarakat dalam meminimalkan gangguan kegiatan ekonomi. Kelima, Penguatan kerja sama Akademik, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan; ○ Meningkatkan pengetahuan ilmiah, mengembangkan kapasitas penelitian dan transfer teknologi kelautan, antara institusi penelitian dan pengembangan dengan akademisi; ○ Meningkatkan kesempatan untuk dapat mengakses dan menjangkau beasiswa dan pengembangan kapasitas untuk pembangunan manusia lebih lanjut, dengan fokus khusus pada tantangan Least Developed Countries (LDCs) dan SIDS; ○ Mempromosikan kolaborasi dan sharing teknologi dan inovasi dalam pelaksanaan e-Government dan solusi- solusi Informasi, Komunikasi, dan Teknologi (ICT) lainnya di kawasan; ○ Penguatan IORA-Regional Centre for Science & Technology Transfer (IORA- RCSTT) dan Fisheries Support Unit (FSU) untuk dapat lebih melakukan mandat mereka. Keenam, membina Pariwisata dan Pertukaran Budaya dengan: ○ Meningkatkan interaksi people-to-people untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi kawasan; Mendorong pembangunan berkelanjutan pariwisata berbasis masyarakat dan ekowisata; Mempromosikan warisan budaya dan memanfaatkan potensi ekonomi warisan budaya ini, termasuk situs dan properti World Heritage serta bekerjasama dan berbagi pengalaman untuk pembangunan berkelanjutan pariwisata; Menambah konektivitas kawasan dengan mendorong penerbangan dan jasa pengiriman langsung, termasuk kapal pesiar, dengan mendorong investasi di bidang infrastruktur yang diperlukan. Ketujuh, Memanfaatkan dan mengembangkan isu- isu lintas sektor dan tujuan prioritas dengan: ○ Mengembangkan peluang kelautan dengan mempromosikan Blue Economy sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif, penciptaan lapangan kerja dan pendidikan, berdasarkan manajemen berkelanjutan berbasis sumber daya laut; ○ Mempromosikan kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan dan anak perempuan; Memastikan hak, akses, dan peluang perempuan untuk partisipasi dan kepemimpinan dalam perekonomian; Menghilangkan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan dalam segala bentuknya, karena kemakmuran kawasan hanya akan terwujud sepenuhnya dengan berinvestasi dalam pemberdayaan perempuan dan anak perempuan; ○ Meningkatkan kerja sama dalam mempromosikan budaya demokrasi, good governance, pemberantasan korupsi, promosi dan perlindungan hak asasi manusia serta kebebasan fundamental. Kedelapan, Memperluas keterlibatan eksternal IORA dengan: ○ Meningkatkan dan memperdalam kerja sama dengan Mitra Dialog, termasuk berbagi keahlian teknis dan sumber daya lainnya yang saling menguntungkan; ○ Memperluas kerja sama dengan negara-negara di luar kawasan serta organisasi regional dan internasional yang relevan berdasarkan kepentingan bersama untuk meningkatkan profil IORA di kancah internasional; ○ Memperluas dan memperdalam keterlibatan dengan para pemangku kepentingan non- pemerintah, termasuk masyarakat sipil, kamar dagang, media dan pemuda di kawasan dalam rangka meningkatkan interaksi people-to-people untuk saling pengertian, kepercayaan dan pembangunan masyarakat di kawasan. ○ Penguatan lembaga IORA dengan menyediakan sumber daya yang memadai untuk Sekretariat IORA, serta meningkatkan dan memperkuat peran badan- badan khusus IORA. FOKUS 10
  11. 11. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 FOKUS 11 Presiden RI : KTT IORA Sangat Strategis dan Progresif Demikian ditegaskan oleh Presiden Jokowi dalam pernyataan pers usai menutup IORA Leader’s Summit di Jakarta Convention Center pada 7 Maret 2017 sore, yang disampaikan bersama dengan Troika IORA, yaitu PM Australia Malcolm Turnbull dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma. Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa penyelenggaraan KTT IORA pertama di Jakarta ini merupakan satu langkah strategis dan progresif dari para Pemimpin IORA untuk mendorong agar IORA mampu bergerak lebih cepat, mampu menghadapi situasi masa kini, dan juga mampu menghadapi tantangan di masa depan. Pertemuan kali ini juga merupakan tonggak pembaruan komitmen negara anggota IORA untuk mengintensifkan kerjasama IORA. “Semua pemimpin menyadari tantangan yang dihadapi saat ini. Semua pemimpin menyadari mengenai potensi yang dimiliki. Semua pemimpin IORA juga menyadari pentingnya untuk menjaga Samudera Hindia, Samudera yang mempersatukan negara anggota,” tegas Presiden Joko Widodo. Hal penting lainnya yang disambut dengan sangat baik oleh para pemimpin IORA adalah penyelenggaraan IORA Business Summit, dimana menurut Presiden Joko Widodo, jejaring dan kerja sama antara pengusaha harus terus diperkuat di masa mendatang. Sementara itu, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma menyatakan bahwa komitmen terhadap Jakarta Concord mampu meningkatkan kerja sama dan keberadaan IORA. Presiden Jacob Zuma juga menyambut baik forum bisnis yang diselenggarakan di sela- sela berlangsungnya KTT IORA, Ia menyatakan bahwa Afrika Selatan menyambut baik hasil dari pertemuan forum bisnis yang menandai deklarasi antara Kamar Dagang dan komunitas bisnis negara anggota IORA. Sedangkan Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, mewakili negaranya sebagai ketua IORA sebelumnya, menyatakan mendukung penuh komitmen negara-negara anggota IORA yang dituangkan dalam Jakarta Concorde, yang menurutnya tidak lain merupakan sebuah peta jalan bagi perjalanan IORA di masa depan. PM Malcolm Turnbull juga menegaskan kembali bahwa komitmen negara-negara IORA untuk bersama-sama membangun perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan, merupakan pernyataan penting tentang nilai-nilai bersama dan tujuan yang hendak dicapai di kawasan Samudera Hindia. Jakarta Concord yang ditandatangani para pemimpin IORA telah meneguhkan enam komitmen, yaitu: Memajukan keamanan dan keselamatan maritim; Meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi; Memajukan pengembangan dan pengelolaan perikanan yang berkesinambungan dan bertanggung jawab; Memperkuat  pengelolaan resiko bencana; Memperkuat kerja sama akademis dan ilmu pengetahuan; serta Memajukan kerjasama di bidang pariwisata dan kebudayaan. Selain enam kerjasama tersebut, para pemimpin juga mendorong IORA untuk memperkokoh kerja sama di tiga isu lainnya, yaitu: Blue Economy; Women empowerment; dan demokrasi, termasuk didalamnya isu mengenai good governance, pemberantasan korupsi, dan hak asasi manusia. PM Turnbull dan Presiden Zuma sependapat mengenai suksesnya kepemimpinan Indonesia. Leader’s Summit telah membawa kerja sama IORA pada tingkat yang lebih tinggi dan memperkuat komitmen negara-negara untuk memelihara kestabilan, keamanan dan kemakmuran di kawasan. Afrika Selatan akan menjadi Ketua IORA untuk periode 2017-2019. Presiden Zuma menuturkan akan bekerja secara lebih dekat dengan Indonesia guna memastikan implementasi hasil-hasil Leader’s Summit.  Hal paling utama, yang menjadi keinginan semua Pemimpin negara-negara anggota IORA, adalah menciptakan Samudera Hindia sebagai kawasan yang aman dan damai. Para Pemimpin juga berkomitmen untuk menghormati hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982, karena Samudera Hindia yang aman dan damai menjadi prasyarat utama bagi pelaksanaan kerja sama di berbagai bidang. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017
  12. 12. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 IORA Action Plan 2017-2021 regional untuk promosi UKM; Membangun sebuah platform online IORA (IORA Trade Repository) untuk memberikan informasi tentang tarif dan rules of origin untuk membantu dan meningkatkan fasilitasi perdagangan dan bisnis; Membentuk IORA Guide for Investment untuk membantu mempromosikan investasi. Inisiatif jangka menengah: Merevitalisasi Indian Ocean Rim Business Forum (IORBF) sebagai platform untuk berbagi informasi tentang perdagangan dan investasi dan memperkuat hubungan antara WGTI, Kamar Dagang IORA dan sektor swasta; Mengeksplorasi kemungkinan promosi dan kerja sama di bidang jasa keuangan antara negara-negara anggota. Inisiatif jangka panjang: Eksplorasi kelayakan IORA Bisnis Travel Card (IBTC) untuk meningkatkan integrasi ekonomi antara negara-negara anggota. Pengelolaan Perikanan - Mempromosikan manajemen dan pengembangan perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Inisiatif jangka pendek: Merevitalisasi FSU melalui pelaksanaan FSU Action Plan; Menandatangani MoU dengan FAO dan IOTC untuk pengembangan pengelolaan perikanan regional dan berbagi informasi. Inisiatif jangka menengah: Melaksanakan proyek peningkatan kapasitas bersama dengan FAO dan organisasi terkait, termasuk budidaya untuk mengatasi ketahanan pangan. Inisiatif jangka panjang: Mengeksplorasi mekanisme IORA untuk memerangi illegal, Inisiatif jangka pendek: Membentuk Kelompok Kerja (Pokja) IORA untuk Keselamatan dan Keamanan Maritim; Meningkatkan kerja sama dengan Kantor dan Instansi PBB untuk mendukung Pokja IORA dalam mengatasi tantangan keselamatan dan keamanan bersama; Mendorong negara anggota untuk menandatangani MoU IORA tentang SAR (Search and Rescue); Eksplorasi pembentukan Institut Maritim Malaysia sebagai IORA Centre di bidang keselamatan dan keamanan maritim. Inisiatif jangka menengah: Melaksanakan program pelatihan dan peningkatan kapasitas; Penerapan MoU IORA tentang SAR; mengeksplorasi lebih lanjut proposal untuk membangun IORA Cenres di bidang keselamatan dan keamanan maritim. Inisiatif jangka panjang; Eksplorasi jaringan pengawasan regional berbagai lembaga negara-negara anggota yang sudah ada, termasuk sharing data dan pertukaran informasi mengenai sistem transportasi maritim. Fasilitasi Perdagangan dan Investasi - Meningkatkan kerjasama perdagangan dan investasi di kawasan. Inisiatif jangka pendek: Mengorganisir pengembangan kapasitas dan dukungan teknis mengenai perdagangan dan investasi regional dengan fokus pada fasilitasi dan reduksi hambatan perdagangan, termasuk melalui kerjasama yang lebih erat dengan Pokja Perdagangan dan Investasi (Working Group on Trade and Investment /WGTI); Memperkuat kerjasama unreported and unregulated (IUU) fishing. Manajemen Risiko Bencana - Meningkatkan ketahanan dan respon terhadap manajemen risiko bencana. Inisiatif jangka pendek: Meningkatkan kerjasama dengan Inter-governmental Oceanographic Commission (IOC-UNESCO), serta organisasi dan lembaga multilateral lainnya. Inisiatif jangka menengah: Mengeksplorasi penciptaan IORA Center untuk berbagi informasi manajemen risiko bencana, keahlian dan praktik terbaik, serta pelaksanaan program pelatihan dan pengembangan kapasitas. Inisiatif jangka panjang: Membangun ketahanan melalui sistem peringatan dini, latihan regional, dan pelatihan pengurangan risiko bencana yang terkoordinasi. Kerja sama Akademik, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi - Memperkuat kerjasama akademik, ilmu pengetahuan dan teknologi. Inisiatif jangka pendek: Memperkuat Indian Ocean Rim Academic Group (IORAG); memperkuat Regional Centre Ilmu Pengetahuan dan Alih Teknologi (Regional Centre for Science and Technology Transfer /RCSTT); melembagakan Indian Ocean Dialogue sebagai mekanisme tahunan untuk multi-sektor dan keterlibatan jalur 1,5; Membuat data base lembaga pendidikan tinggi yang diakui oleh negara-negara anggota. Inisiatif jangka menengah: Memperkuat kerjasama dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi di Samudera Hindia, termasuk University Mobility in the Indian Ocean Region (UMIOR); Mendukung RCSTT untuk mempromosikan ilmu pengetahuan dan teknologi; Memperkuat IORAG melalui berbagi informasi dan pengetahuan; Melaksanakan program pelatihan dan peningkatan kapasitas; Melakukan studi kelayakan Universitas Teknis dan Kejuruan Samudera Hindia di Bangladesh. Inisiatif jangka panjang: Mengeksplorasi proyek-proyek kerjasama dengan International Solar Alliance dan IRENA. Pariwisata dan Pertukaran Budaya - Mendorong pariwisata dan pertukaran budaya. Inisiatif jangka pendek: Membentuk Core Group Pariwisata; Memperkuat Core Group Budaya. Inisiatif jangka menengah: Melakukan studi kelayakan untuk mengeksplorasi potensi pariwisata kapal pesiar; mendirikan IORA Tourism Resource Centre dan website di Kesultanan Oman. Inisiatif jangka panjang: Mengembangkan proyek- proyek peningkatan kapasitas bersama di sektror pariwisata, termasuk pariwisata berbasis masyarakat untuk mereduksi kemiskinan, warisan budaya dan ekowisata. Blue Economy - Memanfaatkan dan mengembangkan blue economy di kawasan. Inisiatif jangka pendek: Membentuk Pokja Blue Economy; Menerapkan hasil- hasil lokakarya Blue Economy Core Group serta pertemuan- pertemuan tingkat Menteri dan pejabat tinggi. Inisiatif jangka menengah: Mengembangkan mekanisme kerjasama yang sesuai untuk pembangunan berkelanjutan di FOKUS 12 Keselamatan dan Keamanan Maritim - Mempromosikan keselamatan dan keamanan maritim di kawasan No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017
  13. 13. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 FOKUS 13 Indonesia Tawarkan Kerjasama Pariwisata dengan Negara Anggota IORA Menteri Pariwisata Arief Yahya menjadi salah satu panelis dalam acara IORA Business Forum di Jakarta Convention center pada 6 Maret 2017. Dalam forum bisnis tersebut Menteri Arief Yahya memaparkan mengenai kerja sama pariwisata Indonesia dengan negara anggota dan mitra wicara IORA. Menpar Arief Yahya mengangkat tema “Enhancing Tourism and Connectivity through Improvement in Infrastructure” dan menjelaskan seputar prospektif Indonesia dalam mengembangkan pariwisata dan konektivitas melalui pembangunan infrastruktur yang berkesinambungan dan merata di seluruh penjuru nusantara, termasuk di 10 destinasi pariwisata prioritas yang dijadikan sebagai “Bali Baru”. Investasi di 10 destinasi pariwisata prioritas ini ditawarkan kepada para investor dari negara-negara anggota IORA. Indonesia menargetkan kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2019. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sejumlah regulasi yang mempermudah investor. Beberapa kebijakan yang dimaksud, yakni memberikan bebas visa kunjungan singkat (BVKS) kepada 169 negara dan mempermudah izin masuk kapal yacht dan kapal pesiar ke perairan Indonesia dengan mencabut Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT).  10 destinasi pariwisata prioritas tersebut adalah Danau Toba (Sumatera Utara); Tanjung Kelayang (Bangka Belitung); Tanjung Lesung (Banten); Kepulauan Seribu (DKI Jakarta); Candi Borobudur (Jawa Tengah); Bromo Tengger Semeru (JawaTimur); Mandalika (Lombok, NTB); Labuan Bajo (Flores, NTT); Wakatobi (Sulawesi Tenggara); dan Morotai (Maluku). Menpar Arief Yahya juga memaparkan program konektivitas udara dalam rangka meningkatkan “seat capacity” untuk mendukung target 20 juta wisman pada tahun 2019.  Menurutnya, konektivitas udara sangat penting dalam mendukung pariwisata, mengingat sekitar 75 persen kunjungan wisman ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara sehingga tersedianya seat pesawat yang cukup menjadi kunci untuk mencapai target 2019. Konferensi Tingkat Tinggi IORA 2017 sangat strategis karena dihadiri sejumlah kepala negara dari 21 negara anggota serta 7 negara mitra wicara dan dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo. IORA Summit 2017 ini mengangkat tema “Strengthening Maritime Cooperation for Peaceful, Stable & Prosperous Indian Ocean” merupakan KTT pertama sebagai perayaan 20 Tahun IORA di bawah keketuaan Indonesia untuk periode 2015- 2017.  KTT membahas sejumlah isu prioritas, antara lain, masalah keamanan dan keselamatan maritim; fasilitasi perdagangan dan investasi; manajemen perikanan; manajemen risiko bencana; kerja sama akademis, ilmu pengetahuan dan teknologi; serta kerja sama pariwisata dan pertukaran budaya. Inisiatif jangka menengah: Menjalin kerja sama dengan UN- Women dan organisasi- organisasi yang relevan untuk peningkatan kapasitas dan pertukaran informasi; Inisiatif-inisiatif terbaik untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi perempuan, seperti misalnya Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Perempuan; Melaksanakan program pelatihan dan pengembangan kapasitas. Inisiatif jangka panjang: Mengorganisir kegiatan- kegiatan untuk memperkuat kapasitas ekonomi dan partisipasi perempuan dalam bisnis. sektor blue economy, termasuk program-program pelatihan dan pengembangan kapasitas. Inisiatif jangka panjang: Meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir melalui program pembangunan kapasitas. Pemberdayaan Ekonomi Perempuan - Mempromosikan kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan dan anak perempuan. Inisiatif jangka pendek: Membentuk Pokja Pemberdayaan Ekonomi Perempuan; Membentuk Forum Bisnis Perempuan di dalam Indian Ocean Rim Business Forum (IORBF). Pengaturan Kelembagaan dan Perluasan Keterlibatan - Penguatan Sekretariat IORA dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Inisiatif jangka pendek: Memperkuat kapasitas Sekretariat IORA untuk mendukung negara-negara anggota dan memperdalam kerja sama regional; Memperkuat administrasi dan fungsi Dana Khusus IORA untuk melaksanakan program- program pembangunan berkelanjutan; Menjalin kerja sama dengan badan-badan regional lainnya seperti Uni Afrika dan ASEAN. Inisiatif jangka menengah: Melakukan program-program outreach dan diplomasi publik; Memperkuat keterlibatan dengan negara-negara Mitra Dialog melalui kolaborasi kongkrit; Menyelenggarakan pertemuan-pertemuan tingkat menteri, pejabat tinggi atau para ahli yang diperlukan untuk mempromosikan prioritas- prioritas IORA dan bidang- bidang lintas-sektor. Inisiatif jangka panjang: Memperdalam kerjasama antara akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, masyarakat sipil serta badan-badan regional dan multilateral; Mengeksplorasi pembentukan Dana Pembangunan IORA. ARIEF YAHYA Menteri Pariwisata  No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 Alamat: Gedung Sapta Pesona, Jalan Medan Merdeka Barat No. 17, Gambir, RT.2/RW.3, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110 Situs web: kemenpar.go.id
  14. 14. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 Deklarasi IORA Tegaskan Perlawanan Terhadap Terorisme dan Radikalisme P emerintah negara- negara anggota IORA tegas mengutuk semua tindakan terorisme dan menawarkan simpati yang tulus kepada para korban, keluarga korban, dan rakyat dari negara- negara yang terkena dampak; Mengakui bahwa terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan regional serta internasional, merusak pembangunan ekonomi dan kohesi sosial; Menyadari bahwa terorisme dan ekstremisme kekerasan tidak terikat oleh batas-batas nasional dan karena itu dibutuhkan kerjasama di semua tingkatan; lokal, nasional, regional, dan internasional untuk dapat secara efektif melawan, mencegah dan mengatasi kondisi yang kondusif terhadap terorisme dan ekstremisme kekerasan; Menekankan kebutuhan untuk bekerja sama dalam mengatasi kondisi yang kondusif bagi pertumbuhan dan penyebaran terorisme dan ekstremisme kekerasan dalam masyarakat; Menegaskan kembali peran pemerintah, lembaga internasional dan regional serta masyarakat sipil dalam melawan terorisme dan ekstremisme kekerasan; Menekankan pentingnya orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan masyarakat sipil dalam melawan dan mencegah radikalisasi pemuda; Menyadari bahwa pendidikan dan informasi adalah penting untuk mempromosikan moderasi, yang menekankan toleransi, pengertian, saling menghormati dan inklusivitas, sebagai nilai- nilai utama dalam mencegah dan melawan terorisme dan ekstremisme kekerasan. Menolak setiap upaya untuk mengaitkan ekstremisme kekerasan dengan agama, kelompok etnis, budaya, atau kebangsaan; Menekankan prinsip- prinsip kesetaraan kedaulatan, integritas wilayah, kemerdekaan politik, tidak campur tangan dalam urusan internal, ko-eksistensi damai, dan saling menguntungkan; Menegaskan kembali dukungan terhadap efektifitas pelaksanaan semua resolusi PBB dan deklarasi terorisme internasional, termasuk strategi Global-Counter-Terrorism dan resolusi Majelis Umum PBB berjudul “WAVE: Mencegah Kekerasan Ekstrimisme A/ RES/70/109”. Dunia menentang kekerasan dan ekstremisme, sebagaimana berlaku untuk masing-masing negara anggota, menghormati hukum internasional dan hak asasi manusia sambil melawan ekstremisme kekerasan. Negara-negara anggota IORA menyatakan telah mencapai pemahaman bersama untuk: 1. Mengecam terorisme dan ekstremisme kekerasan dalam segala bentuk dan manifestasinya; 2. Memutuskan untuk berdiri bersama-sama dalam mencegah dan melawan terorisme serta ekstremisme kekerasan; 3. Bekerja untuk mendukung upaya masing-masing negara anggota dalam melawan ancaman terorisme dan ekstremisme kekerasan, termasuk melalui upaya peningkatan kerjasama dan koordinasi, dialog serta berbagi informasi, keahlian, praktik terbaik dan pelajaran, termasuk dalam membendung pendanaan terorisme; 4. Bekerja sama untuk melawan teroris dan ideologi ekstremisme kekerasan serta propaganda, antara lain dengan mempromosikan pesan- pesan positif, seperti rasa hormat, toleransi, co-eksistensi, inklusi, keragaman dan kohesi sosial; 5. Mempromosikan peran pendidikan dan masyarakat dalam membangun ketahanan terhadap ekstremisme kekerasan, termasuk membina inklusi dan menghormati berbagai budaya dan keyakinan, serta meningkatkan peran perempuan dalam mencegah dan melawan terorisme dan ekstremisme kekerasan; 6. Berkolaborasi untuk keberhasilan rehabilitasi, deradikalisasi, dan mengintegrasikan kembali individu radikal untuk meningkatkan kohesi sosial; 7. Mendorong dialog lebih dekat dengan dan antara masyarakat sipil, agama, budaya, pendidikan dan lembaga-lembaga lainnya yang mencegah dan melawan terorisme serta ekstremisme kekerasan; 8. Mendukung penguatan lembaga-lembaga nasional dan regional yang mengkhususkan diri dalam mencegah dan melawan terorisme dan ekstremisme kekerasan; 9. Memperkuat tekad untuk melanjutkan upaya menyelesaikan konflik, kemiskinan, menghilangkan marginalisasi, mempromosikan pembangunan berkelanjutan, tata pemerintahan yang baik, hak asasi manusia dan supremasi hukum, meningkatkan pemahaman antar budaya, dan menjamin penghormatan terhadap semua agama, nilai-nilai agama, keyakinan dan budaya dalam menangani terorisme dan ekstremisme kekerasan; 10. Terus bekerja dengan PBB serta lembaga-lembaga internasional dan regional lainnya untuk mencegah dan menangkal terorisme serta ekstremisme kekerasan. [] FOKUS 14 No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017
  15. 15. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 SOROT 15 Menlu Bahas Perlindungan TKI Asal Lombok dengan Gubernur NTB “Perlindungan WNI merupakan prioritas bagi Kementerian Luar Negeri, dan upaya meningkatkan kualitas pelayanan di Perwakilan RI akan terus dilakukan’, demikian Menlu RI Retno Marsudi menyampaikan saat melakukan pertemuan dengan Gubernur NTB di Mataram (31/4).  Pada pertemuan tersebut, Menlu RI juga menyampaikan bahwa kerjasama Kemlu dan Pemerintah Daerah sangat penting untuk  pembenahan yang dilakukan secara simultan di baik hulu dan hilir. Secara khusus Menlu RI membahas masalah perlindungan TKI asal NTB yang bekerja di berbagai sektor pekerjaan di Malaysia, khususnya di perkebunan kelapa sawit, selain membahas juga isu perdagangan dan investasi di daerah. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menlu Retno ke Penang dan Johor 15-17 Maret 2016 lalu. “Saya sudah berjanji kepada TKI kita yang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Penang dan Johor untuk bersama-sama pemangku kepentingan di daerah mencarikan solusi dari berbagai keluhan mereka”, terang Menlu Retno menjelaskan isi pertemuannya dengan Gubernur NTB. Sementara itu, Gubernur NTB menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kemlu, atas berbagai upaya perlindungan yang diberikan kepada warga NTB yang mencari nafkah sebagai TKI di luar negeri. Saat ini, NTB telah memprakarsai pembenahan tata kelola Perlindungan TKI seperti prakarsa Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) yang bahkan dijadikan model di tingkat nasional. Selain bertemu secara khusus dengan Gubernur NTB, dalam kunjungan ke Mataram Menlu juga berkesempatan menyampaikan keynote speech di depan peserta Rapat Koordinasi dan Bimbingan Teknis Penyelesaian Kasus WNI di Luar Negeri bagi Pemangku Kepentingan di Daerah. Pertemuan yang berlangsung di Mataram (29-31/3) tersebut dihadiri oleh 82 pemangku kepentingan dari Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT. Terdapat sekitar 1,3 juta TKI yang terdata di Malaysia. Sebagian bekerja di perkebunan-perkebunan kelapa sawit. Sekitar 90% TKI sektor perkebunan di Malaysia berasal dari Lombok. [] Alamat Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Jl. Pejambon No.6. Jakarta Pusat, 10110. Indonesia http://perlindungan.kemlu.go.id/ No. Telp (+62 21) 381 31 86 Fax (+62 21) 381 31 52
  16. 16. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 Kemenlu Angkat Potensi Bisnis Provinsi Kepulauan Riau Melalui program Update from The Region (UFTR) H al itu disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri pada Updates From The Region (UFTR) dengan tema “Exploring Business Opportunities in Kepulauan Riau Province” bertempat di ruang Nusantara, Kementerian Luar Negeri, tanggal 11 April 2017. UFTR adalah salah satu program Kemlu yang bertujuan untuk menjembatani potensi ekonomi, pariwisata dan budaya daerah dengan peluang pasar dan investasi luar negeri. Kegiatan UFTR diawali dengan Laporan Plt. Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Niniek K. Naryatie, dilanjutkan dengan sambutan dari Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Dr. H. Nurdin Basirun, S.Sos, M.Si. dan Wakil Menteri Luar Negeri, A.M Fachir. UFTR tersebut dihadiri oleh sekitar 200 undangan yang terdiri dari Duta Besar Perwakilan Negara Sahabat, Korps Diplomatik, perwakilan organisasi bisnis negara sahabat di Jakarta, pejabat Kementerian Luar Negeri, dan jajaran pejabat Provinsi Kepulauan Riau. Plt. Dirjen IDP, dalam laporannya menyatakan bahwa UFTR ini bertujuan menciptakan peluang pasar dan investasi luar negeri bagi daerah di bidang bisnis, pariwisata dan investasi (TTI) serta kuliner dengan mempromosikan potensi provinsi Kepulauan Riau kepada pihak luar negeri. Sebelumnya, UFTR Provinsi Kepulauan Riau diselenggarakan tahun 2013. Sementara itu Diplomatic Tour ke Provinsi tersebut diselenggarakan tahun 2016. Gubernur Provinsi Kepulauan Riau dalam sambutannya mengundang kepada para Duta Besar dan Diplomatic Corps negara sahabat untuk datang ke Kepulauan Riau dan berinvestasi di sektor pariwisata, industri dan maritim. Tampil sebagai narasumber pada sesi diskusi panel tersebut adalah, Gubernur Provinsi Kepulauan Riau; Direktur Fasilitasi Promosi Daerah – BKPM RI, Husen Maulana, SIP, M.Si; Tenaga Ahli Pembangunan Regional - Sekretariat Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, Edib Muslim dan General Manager PT. Bintan Resort Cakrawala - Abdul Wahab serta dimoderatori oleh Staf Ahli Menlu Bidang Hubungan Antarlembaga – Duta Besar Salman Al Farisi. Dalam diskusi panel tersebut para narasumber menjelaskan mengenai insentif pemerintah kepada para investor baik berupa tax holiday maupun kemudahan dalam perizinan. Khususnya untuk provinsi Kepulauan Riau, terdapat beberapa perusahaan asing yang telah beroperasi di provinsi tersebut pada kawasan industri Free Trade Zone (FTZ) di Batam, Bintan dan Karimun (BBK). Selain BBK, Tanjung Pinang juga diusulkan menjadi Kawasan FTZ. Kawasan FTZ kedepannya akan menjadi pusat industri, destinasi wisata dan hub untuk transportasi. Selain itu Provinsi Kepulauan Riau juga telah mengusulkan Natuna, Anambas dan Lingga (NAL) untuk menjadi kawasan ekonomi khusus yang berfungsi sebagai pusat ekonomi maritim, perikanan dan pertanian. Dalam kesempatan tersebut juga, dipaparkan mengenai success story dari PT. Bintan Resort Cakrawala dalam berbisnis di provinsi Kepulauan Riau.[] SOROT 16 “Tahun 2016, Indonesia telah menandatangani 149 perjanjian ekonomi baik yang bilateral maupun multilateral. Kemenlu telah mendukung kesuksesan penyelenggaraan Trade Expo Indonesia 2016 yang telah dihadiri oleh 125 negara dengan total nilai transaksi 974.76 juta USD dan 31 perjanjian dagang senilai 200 juta USD telah ditandatangani”.
  17. 17. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 SOROT 17 Dukungan Diplomasi Inovatif Dalam Membangun Ekonomi Indonesia S ejarah mencatat bahwa kebijakan luar negeri yang dilakukan banyak negara sejak dahulu pada dasarnya bertujuan untuk kemakmuran ekonomi. Dewasa ini, berbagai tantangan global seperti pelonjakan pertumbuhan penduduk, krisis pengungsi, dampak Brexit, kelesuan ekonomi Tiongkok dan kebijakan Trump mempertegas arti penting strategi diplomasi dalam menunjang ekonomi negara. Dalam meraih kepentingan ekonomi nasional saat ini, para diplomat dituntut untuk merubah mindset. Tujuan diplomasi tidak semata hanya menjual barang dan menarik investasi, tapi yang terpenting adalah mempererat hubungan baik. Untuk itu, diplomat perlu menelurkan ide-ide baru, langkah-langkah inovatif, pemahaman akan kepentingan nasional, serta kemampuan menjembatani perbedaan antara Indonesia dengan negara-negara lain. Demikian, antara lain pesan yang disampaikan Muhammad Lutfi dalam uraiannya di hadapan para peserta pelatihan Sesdilu 58, pada hari Jumat, tanggal 24 Maret 2017, bertempat di Pusdiklat Kementerian Luar Negeri. Diplomasi berperan penting sebagai “pengintai” dalam memahami berbagai fenomena global untuk kemudian diterjemahkan dalam kebijakan yang mendorong kegiatan ekonomi. Sebagai contoh, diplomasi Indonesia harus dapat mengantisipasi kecenderungan sikap proteksionisme sejumlah negara sehingga tetap dapat menarik investasi yang lebih berkualitas untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan alih teknologi. Sebagai middle income country, Indonesia perlu investasi yang tidak lagi untuk penyerapan tenaga kerja semata, namun harus mampu mendorong industrialisasi yang kuat sehingga dapat melepaskan diri dari middle income trap. Di sisi lain, untuk memperluas pengembangan ekonomi dituntut pula untuk dapat melakukan investasi di negara lain atau menjadi pemain global ataupun regional. Mantan Mendag dan Kepala BKPM yang pernah menjabat sebagai Dubes RI di Tokyo tersebut juga mencontohkan sejumlah negara yang dinilai inovatif dan mampu memanfaatkan keunggulannya, seperti Thailand yang berhasil memasyarakatkan kulinarinya secara global. Selain itu, Singapura juga dinilai mampu memanfaatkan perwakilan negaranya secara efektif dan efisien dengan mengandalkan jejaring bisnis warganya. Untuk itu, para diplomat diharapkan dapat engage semua pihak karena membangun hubungan baik dengan semua pihak merupakan dasar penting dalam mencapai misi diplomasi khususnya diplomasi ekonomi Indonesia.[] DIPLOMASI BERPERAN PENTING SEBAGAI “PENGINTAI” DALAM MEMAHAMI BERBAGAI FENOMENA GLOBAL UNTUK KEMUDIAN DITERJEMAHKAN DALAM KEBIJAKAN YANG MENDORONG KEGIATAN EKONOMI. www.kemlu.go.id/pusdiklat/id/
  18. 18. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 Kemlu Beri Pelatihan Diplomasi Bagi 20 Pemda P engetahuan dan keterampilan di bidang diplomasi dan hubungan luar negeri dibutuhkan oleh Pejabat Daerah guna mendukung pencapaian tujuan kerjasama internasional. Pelatihan Teknis Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri yang diselenggarakan Kemenlu, sangat penting untuk membekali Pejabat Pemda pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan perjanjian internasional dan protokol. Pelatihan juga penting untuk memberikan pemahaman mengenai strategi untuk memasarkan potensi daerah di luar negeri. Sekretaris Daerah Provinsi Bangka Belitung, Dr. Yan Megawandi, menyampaikan hal ini dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan Pelatihan Teknis Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri Bagi Pejabat Pemerintah Daerah, Pangkalpinang (20/3). Selain bertujuan meningkatkan kapasitas, Yan juga menyampaikan bahwa pelatihan ini memberi kesempatan kepada peserta yang berasal dari berbagai Pemda untuk menguatkan jejaring. “Kesempatan untuk mendiskusikan berbagai topik yang berkaitan dengan penyelenggaraan hubungan luar negeri oleh Pemda,” tuturnya. Pada kesempatan yang sama Kepala Pusdiklat Kemenlu, Eko Hartono, menggarisbawahi peran penting Pemda sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri. Mempertimbangkan hal tersebut, terdapat keperluan bagi pejabat Pemda untuk memiliki pengetahuan yang memadai mengenai hubungan luar negeri, kebijakan luar negeri dan perjanjian internasional. Diperlukan juga keterampilan teknis yang berkaitan dengan hubungan luar negeri seperti keprotokolan, promosi potensi ekonomi dan wisata dan perlindungan WNI di luar negeri. Materi yang disampaikan dalam pelatihan yang akan berlangsung hingga tanggal 24 Maret 2017 ini, antara lain mencakup sinergi Pemda dan Kemenlu dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri, peran Pemda dalam mendukung diplomasi ekonomi, perjanjian internasional, dan perlindungan WNI di luar negeri. Selain itu, juga disampaikan materi keterampilan di bidang protokol dan etiket pergaulan internasional serta promosi wisata dan budaya daerah di luar negeri. Selain pembelajaran di kelas, juga dilakukan proses pembelajaran dalam bentuk kunjungan ke lapangan dan diskusi kelompok. Narasumber pelatihan berasal dari satuan kerja di lingkungan Kemenlu yaitu Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, Kantor Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi serta Duta Besar Senior. Pelatihan diikuti oleh 40 peserta dari 20 Pemda Provinsi, Kabupaten dan Kota. Pelatihan Teknis Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas Pejabat Pemda selaku pemangku kepentingan guna meningkatkan dukungan dan peran aktif mereka dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri. Pelatihan ini diselenggarakan secara rutin oleh Pusdiklat Kemenlu. [] (Sumber: Pusdiklat/Yo2k) SOROT 18 okezone.com Pelatihan Teknis Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri Bagi Pejabat Pemerintah Daerah, Pangkalpinang. (foto: Pusdiklat)
  19. 19. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 19 Kuliah Umum Dan Sosialisasi Diplomasi Publik Ke Mahasiswa dan Pelajar di Kota Cirebon D irektorat Diplomasi Publik pada tanggal 5 April 2017 menyelenggarakan kegiatan Public Lecture tentang Diplomasi Publik bagi mahasiswa se-Kota Cirebon dengan menggandeng Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC). Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 250 mahasiswa dan dosen dari 10 perguruan tinggi di Cirebon. Prof. Dr. Khaerul Wahidin – Rektor UMC dalam sambutan pembukaan menyatakan bahwa meskipun di zaman hard power, Nabi Muhammad SAW mengedepankan diplomasi dan soft power dalam mengembangkan Islam. Direktur Diplomasi Publik Al Busyra Basnur menyampaikan bahwa apapun profesi mahasiswa Cirebon nantinya, tidak akan terlepas dari pengaruh hubungan antar negara. Sementara itu, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral Kemenlu, Fikry Cassidy menyampaikan bahwa kerja sama bilateral, regional dan multilateral adalah kunci untuk melaksanakan diplomasi maritim. Selanjutnya, pada tanggal 6 April, Direktorat Diplomasi Publik Kemenlu bekerja sama dengan Balai Pelayanan dan Pengawasan Pendidikan (BP3) Wilayah V Jawa Barat menyelenggarakan Sosialisasi Diplomasi Publik untuk pelajar se-Cirebon. Tema kegiatan ini adalah “Diplomasi Kemaritiman Indonesia dan Peran Pemuda Dalam Mendukung Diplomasi Publik”. Kegiatan ini dihadiri sekitar 250 orang pelajar dan guru pendamping. Dalam sambutannya, Kepala BP3 Wilayah V – Dra. H. Dewi Nurhulaela, Mpd menyampaikan harapannya agar anak-anak muda mendapatkan pencerahan dan ilmu yang berguna saat berada di luar negeri, juga penjelasan tentang tugas pokok dan fungsi serta kerja diplomat Indonesia di luar negeri. Kasubdit Isu-isu Aktual dan Strategis, Direktorat Diplomasi Publik, Kemenlu – Agus Haryana menyampaikan bahwa people-to-people contact yang baik merupakan salah satu pendukung agar hubungan dengan negara lain dapat terjalin dengan baik. Sedangkan Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral, Kemenlu – Fikry Cassidy memaparkan 5 pillar dalam kebijakan Presiden RI Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim, meliputi: budaya, sumber daya, infrastruktur, diplomasi dan pertahanan maritim.[] SOROT
  20. 20. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 LENSA 20 Kemlu RI dan Universitas Budi Luhur Gelar Simulasi Sidang Bali Democracy Forum K ementerian Luar Negeri RI bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Budi Luhur kembali menyelenggarakan kegiatan Junior Short Diplomatic Course (JSDC) Simulation of Bali Democracy Forum (BDF) IX di Kampus Universitas Budi Luhur, Ciledug, Jakarta. Tema kegiatan sesuai dengan BDF IX yaitu “Religion, Democracy, and Pluralism”. (22/3) Dalam pembukaan, Ketua HIMAHI Universitas Budi Luhur, Fahrel W. menyebutkan dalam laporannya bahwa kegiatan JSDC telah berlangsung sebanyak 17 kali, dan simulasi sidang BDF telah dilaksanakan semenjak tahun 2013. Kegiatan JSDC tersebut diikuti oleh para pelajar tingkat SMA se-Jakarta dan Tangerang. “Bali Democracy Forum IX sangat relevan dengan keadaan Indonesia saat ini. Dalam berdiplomasi kita juga harus mengandalkan soft-power. Penting untuk mempersiapkan sumber daya manusia terdidik dengan nilai- nilai kebudiluhuran,” ujar Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Didik Sulistyanto, Rektor Universitas Budi Luhur, dalam sambutannya di hadapan para peserta. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Diplomasi Publik, Al Busyra Basnur, sampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan, mengingat kegiatan tersebut sangat penting karena dapat menanamkan nilai – nilai demokrasi khususnya kepada peserta pelajar SMA/K sebagai generasi muda. Kegiatan juga berguna untuk memperkenalkan tata cara pelaksanaan sidang melalui peranan peserta sebagai diplomat. Simulasi yang diikuti oleh sekitar 240 pelajar dan guru dari 24 SMA/K se-Jakarta dan Tangerang berjalan dengan baik. Para peserta, diberi kesempatan untuk berperan menjadi Presiden, Menteri Luar Negeri, Duta Besar, dan representatif dalam menyampaikan best practices dan sharing of experiences dalam berdemokrasi di negara masing-masing. Pada akhir simulasi, Tim Juri yang diketuai oleh Duta Besar Sunten Z. Manurung memberikan penghargaan untuk 4 kategori pemenang, yaitu SMAN 29 Jakarta sebagai Best Speaker dan Country Statement (Best Position Paper), SMA Catholic St. John untuk Best Delegate dan Best Country Team. (Sumber: Dit. Diplomasi Publik / Infomed)​ No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 MAN 1 Makassar Kenali Dunia Diplomasi di Kemlu Kementerian Luar Negeri telah menerima kunjungan 50 pelajar yang didampingi 4 orang guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Makassar (27/3). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program study tour MAN 1 Makassar ke beberapa kota di Jawa. Adapun tujuan kunjungan ke Kementerian Luar Negeri adalah untuk memperoleh informasi serta meningkatkan pengetahuan mengenai diplomasi dan politik luar negeri langsung dari pejabat di Kementerian Luar Negeri. Rombongan MAN 1 Makassar diterima oleh Kasubdit Isu-isu Aktual dan Strategis (IAS), Direktorat Diplomasi Publik, yang menyampaikan apresiasi atas kunjungan rombongan. Selanjutnya, Kasubdit IAS menyampaikan paparan singkat mengenai tugas pokok Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI, profesi diplomat dan tugas utamanya serta program-program kegiatan diplomasi publik yang sebagian besar melibatkan kalangan pemuda. Secara khusus disampaikan pula informasi mengenai program dialog lintas agama, dimana Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan negara lainnya tentang kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia. Dalam bahasa yang sederhana, dijelaskan bahwa keberagaman Indonesia -- baik dari segi budaya maupun agama – namun tetap dapat hidup berdampingan secara harmonis, merupakan aset diplomasi publik yang penting dalam mendukung pencapaian kebijakan luar negeri dan citra Indonesia di masyarakat internasional. Para pelajar tampak menyimak paparan yang disampaikan dan antusias menanyakan berbagai hal seperti bagaimana pelajar/ pemuda dapat melakukan diplomasi tanpa harus menjadi diplomat, bagaimana cara untuk dapat menjadi diplomat, apa saja yang dilakukan oleh Perwakilan RI dalam melindungi TKI, dan sebagainya. Pimpinan rombongan menyampaikan apresiasi atas penerimaan kunjungan mereka ke Kementerian Luar Negeri. []
  21. 21. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 LENSA 21 Plt Dirjen IDP, Niniek Kun Naryatie : Indonesia Adalah Laboratorium Dunia K ementerian Luar Negeri selenggarakan kegiatan “Open House”, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Kemlu untuk senantiasa “membuka pintu” agar dapat berinteraksi serta berdiskusi dengan konstituen domestik mengenai politik luar negeri dan diplomasi RI. Open House kali ini bekerja sama dengan Innovative Youth Project, dihadiri oleh para Ketua dan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai universitas di Jakarta dan sekitarnya, antara lain: Universitas Mercu Buana, Kalbis Institute, London School of Public Relations, Universitas Budi Luhur, Universitas Gunadarma, Universitas Taruma Negara Universitas Indonesia, dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. (31/3) Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (Dirjen IDP), Duta Besar Niniek Kun Naryatie, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa senangnya dapat berkumpul dengan para mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa. Plt. Dirjen IDP mendorong mahasiswa untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan agar mampu berkompetisi. “Indonesia adalah “laboratorium dunia”, banyak sekali yang dapat dipelajari, jangan malah orang asing yang lebih banyak memanfaatkan laboratorium dunia ini”, demikian ditambahkan Duta Besar Niniek. Direktur Diplomasi Publik, Al Busyra Basnur, dalam paparannya memberikan motivasi kepada para mahasiswa untuk terus memelihara dan memperluas networking serta memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk menyampaikan hal-hal positif tentang Indonesia. “Dengan begitu, para mahasiswa telah ambil bagian dalam sebagian dari kegiatan diplomasi publik”, ujar Al Busyra. Dijelaskan pula berbagai program kegiatan Kemlu yang melibatkan pemuda, seperti Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia, Outstanding Student for The World, Kuliah Umum, dsb. Sementara Innovative Youth Project dalam paparannya mengenai “Super Diplomacy” menyampaikan proposal kepada para Ketua dan perwakilan BEM untuk menjalin networking dan mengadakan kegiatan-kegiatan dalam rangka memberikan kontribusi terhadap diplomasi Indonesia. Kegiatan Open House yang juga disisipi dengan tour ke Gedung Pancasila ditutup dengan jamuan makan malam oleh Plt. Dirjen IDP. Pemutaran video “Kemlu TV” dan sharing pengalaman oleh diplomat senior dan diplomat junior pada kesempatan jamuan makan malam melengkapi rangkaian kegiatan Open House.[] No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017
  22. 22. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 LENSA 22 Innovative Youth Project Menggalang Kesadaran Diplomasi Dikalangan Kawula Muda K etertarikan kalangan muda untuk menggeluti dan mengikuti acara- acara internasional semakin besar. Melalui jaringan persahabatan global mereka aktif menghadiri forum kebudayaan dan diplomasi. Melihat Trend ini, maka Kevin Busyra tertarik untuk mengenalkan anak muda dengan dunia diplomasi dengan mendirikan sebuah lembaga Innovative Youth Project. Innovative Youth Project memiliki 5 program yaitu; Super Gathering, Super Social, Super Diplomacy, Super Visit dan Super Fashion. Sebagai organisasi baru dan independen, Innovative Youth Project membutuhkan sebuah diferensiasi dari organisasi- organisasi yang lainnya, karena itulah maka semua program kami menggunakan nama ‘super’. Hal tersebut hanya bersifat eye catching agar terkesan ‘wow’ atau keren. Saat ini Innovative Youth Project memiliki 35 orang anggota, dimana struktur projek berupa programe base. Setiap program dijalankan oleh tim khusus agar lebih fokus. Program-program Innovative Youth Project dampaknya bersifat jangka panjang, karena itu dibutuhkan tenaga anak- anak muda yang benar-benar fokus dan mendalami program tersebut. Sejauh ini program Innovative Youth Project baru pada tahap sebagai fasilitator. Melalui berbagai macam koneksi dimiliki. Innovative Youth Project aktif melakukan diskusi dan bertemu dengan berbagai pihak yang kompeten di bidangnya Kegiatan pertama yang dilakukan Innovative Youth Project adalah program Super Gathering dimana pada tanggal 28 oktober 2016, betepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Saat itu Innovative Youth Project menyelenggarakan sebuah kegiatan bernama Dinner With CEO, yaitu salah satu bentuk gathering yang casual dimana kami mempertemukan para young entrepreneurs dengan pemerintah dan beberapa Top CEO. Acara tersebut diselenggarakan di salah satu hotel di Jakarta, yang merupakan tempat yang cukup berkelas bagi anak-anak muda. Cukup banyak yang hadir pada acara tersebut, yaitu sekitar 70 orang, diantaranya CEO Sinar Mas, CEO IBM, dan ada juga beberapa CEO dari Singapura. Para CEO yang hadir pada saat itu berpandangan bahwa acara tersebut sangat bagus. Mereka sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, mengingat selama ini jarang sekali ada event yang mempertemukan para Young Entrepreneur yang belum punya nama dengan para top CEO, sehingga ini menjadi peluang yang bagus sekali untuk menjalin networking dan sekaligus juga membuat sesuatu yang baru setalah dilakukan diskusi dan mematangkan kreatifitas antara satu dan lainnya. Program kedua Innovative Youth Project adalah Super Social yang merupakan sebuah inovasi program yang mendesain agar semua penduduk di Indonesia memiliki kesamaan peluang untuk memperoleh masa depan yang lebih baik. Saat ini, Innovative Youth Project sedang menyelenggarakan program Super Diplomacy, dimana kami membuat awareness mengenai betapa pentingnya para pemuda untuk go internasional melalui diplomasi. Di bidang apapun mereka berkecimpung atau apapun karir mereka, mereka pasti membutuhkan skill untuk berdiplomasi, khususnya yang mengacu kepada skill individu, yaitu bagaimana caranya bernegosiasi untuk menarik perhatian orang agar menuju kepada apa yang kita inginkan. Diplomasi itu bukan hanya untuk orang yang ingin menjadi diplomat, melainkan sebuah skill tentang bagaimana caranya bernegosiasi dan berbicara kepada orang lain. Jadi target dari program ini tidak spesifik kepada para anak muda yang ingin menjadi diplomat atau bekerja di Kementerian Luar Negeri. Ilmu berdiplomasi ini memang harus diberikan kepada seluruh generasi muda, mengingat perkembangan teknologi komunikasi digital yang sudah sangat maju. Saat ini, komunikasi sudah tidak ada batasnya lagi, sehingga kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja dan dari mana saja termasuk dari luar negeri. Karena itu, generasi muda harus dibekali dengan kemampuan berdiplomasi, yang baik agar dapat mempresentasikan Indonesia dengan baik. Kemampuan berdiplomasi anak-anak muda ini tentunya juga akan membantu perkembangan Indonesia. Namun sayang kalangan muda belum memahami secara tepat apa dan bagaimana berdiplomasi. Melalui program ini Innovative Youth Project akan mengunjungi kampus- kampus untuk menanamkan ilmu berdiplomasi. Kegiatan ini dilakukan semata-mata untuk menanamkan kesadaran mengenai betapa pentingnya ilmu berdiplomasi. Dari semua program yang dilakukan oleh Innovative Youth Project, semuanya memiliki benang merah yang bertujuan untuk mengharumkan nama bangsa dan negara. [] No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 KEVIN BUSYRA Ketua Innovative Youth Project
  23. 23. No. 103 Tahun X - 15 Maret - 14 April 2017 LENSA 23 Kemlu Dorong Mahasiswa Jadi Citizen Diplomat K ementerian Luar Negeri Republik Indonesia menerima Kunjungan Kerja Lapangan (KKL) para mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Semarang (28/2). Direktur Informasi dan Media, Siti Sofia Sudarma, menyambut para mahasiswa ini di Gedung Garuda yang bersejarah. “Selain Gedung Pancasila yang menjadi ikon Kemlu, Gedung Garuda ini tidak kalah bersejarahnya, di sini terletak Treaty Room dimana semua perjanjian-perjanjian penting Indonesia dengan negara lain disimpan dan dijaga” ungkap Direktur Infomed. Setelah sedikit berbagi cerita mengenai sejarah gedung-gedung di Kementerian Luar Negeri, Direktur Infomed memulai paparannya dengan menjelaskan fungsi dan peran komunikasi dalam diplomasi Indonesia. “Pencapaian politik luar negeri dan diplomasi tidak akan berarti banyak jika tidak bisa dikomunikasikan secara efektif kepada publik” tegas Direktur Infomed.  Karena itu, efektivitas diseminasi informasi sangat penting dalam membangun kepercayaan publik dan juga sebagai bagian dari akuntabilitas dan transparansi dalam rangka reformasi birokrasi. Dalam era interkonektivitas seperti saat ini, diplomasi tidak lagi semata-mata menjadi tugas para  diplomat. Saat ini individu dari seluruh dunia memiliki kemampuan untuk berbagi informasi dan ide- ide serta bekerja sama untuk menyelesaikan tantangan dan menjembatani perbedaan.  Tidak terkecuali para mahasiswa, setiap mahasiswa harus memahami peran dan dampak positif yang mereka miliki sebagai bagian dari masyarakat diplomasi global dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam diplomasi Indonesia melalui skema citizen diplomacy. Mahasiswa sebagai generasi milenial yang akrab dengan media digital diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan diplomasi Indonesia. Unggahan-unggahan para mahasiswa mengenai budaya, kuliner maupun tradisi Indonesia di media sosial yang mereka miliki sudah merupakan bagian dari citizen diplomacy. Dari unggahan- unggahan inilah, dunia tahu bahwa Raja Ampat adalah surga pariwisata tersembunyi  di timur Indonesia atau Jakarta adalah kota metropolitan yang tak kalah dengan New York atau Tokyo. Terkait penyebaran informasi, Direktur Infomed tidak lupa mengingatkan bahwa para mahasiswa harus pandai-pandai menyikapi suatu informasi, harus selalu diteliti apakah informasi tersebut valid dan berasal dari sumber- sumber yang terpercaya “selalu cek dan cek kembali, jadilah digital citizen yang cerdas dan bijak” pesan Direktur Infomed. Para mahasiwa Universitas Semarang terlihat sangat antusias dalam sesi diskusi kali ini, pertanyaan-pertanyaan terkait dunia diplomasi maupun isu-isu terkini silih berganti datang dari para mahasiswa. Menambah meriah suasana diskusi, Direktur Infomed pun mengetes pengetahuan para mahasiswa melalui serangkaian trivia. Sebagai penghargaan bagi antusiasme mereka, Direktur Infomed memberikan kenang-kenangan berupa buku hasil karya Kemlu, berjudul “Indonesia’s Solidarity with Palestine”.   Terima kasih kunjungannya teman-teman Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Semarang! Ayo rekan-rekan Universitas lain, kami tunggu kehadirannya di Kemlu RI! []
  24. 24. Diplomasitabloiddiplomasi.org tabloiddiplomasi@Kemenlu.org @diplik_Kemlu No. 103 tahun x tabloid Tgl. 15 maret - 14 april 2017 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Direktorat Diplomasi Publik Jalan Taman Pejambon No. 6 Jakarta 10110 Telepon : 021-3813480 Faksimili : 021-3858035 Begini Cara FSAA Menyambut Hari Jadi KAA swadaya masyarakat (LSM) internasional sebagai aktor non-negara yang berkontribusi terhadap upaya perdamaian dunia,” ujar Koordinator Sekretariat FSAA, Jefri Raditiyo. Jefri menambahkan, hasil kajian itu diharapkan dapat bermanfaat bagi SMKAA, khususnya dalam pengembangan program Bahasa Esperanto di Indonesia. Pasalnya, sejak kali pertama didirikan di SMKAA pada tahun 2009 SMKAA, Klab Esperanto mengadopsi Nilai- nilai KAA sebagai pesan utama yang ingin disampaikan melalui pengajaran Bahasa Esperanto. Saat diwawancara, Qonita mengaku, “Komunitas internasional Esperanto melibatkan banyak peran komunitas lokal di setiap negara dalam mengembangkan Bahasa Esperanto. Akibatnya, tercipta hubungan interkoneksi dan interrelasi antar aktor non-negara di sejumlah negara. Hubungan itu sangat efektif untuk meneruskan berbagai Banyak Jalan Menuju Roma! Demikian pula halnya dengan cita-cita perdamaian dunia. Hal itu menjadi perhatian komunitas epistemik Forum Studi Asia Afrika SMKAA dalam acara diseminasi Sabtu (25/03) di Museum KAA di Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. Dalam acara itu, dua pegiat Bahasa Esperanto asal komunitas Esperanto Bandung, yakni Qonita Qurrotayun dan Iyan Septiyana bersama-sama membedah peran lembaga swadaya masyarakat internasional dalam mengembangkan cara-cara mencapai perdamaian dunia melalui Bahasa Esperanto. “Untuk menyambut Hari Jadi KAA tahun ini (red – 2017), kami menggelar acara ini (red – diseminasi) dengan tema perdamaian dan masyarakat internasional. Kami pada diseminasi kali ini bekerja sama dengan Klab Bahasa Esperanto SMKAA. Pasalnya, komunitas ini telah melakukan kajian perihal kontribusi lembaga pesan perdamaian lintas negara.” Gadis asal Sukabumi yang kini tengah tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pasundan itu juga mengatakan, “Kajian ini berangkat dari rasa ingin tahu saya terhadap transformasi besar dalam isu studi HI, khususnya isu keamanan non- tradisional dan pluralisme dalam aktor HI.” Iyan yang tampil bersama Qonita menjelaskan dalam paparannya, “Bahasa Esperanto awalnya dirancang dengan idealisme kerja sama demi perdamaian di kawasan Eropa. Lambat laun bahasa ini berkembang pesat di masa Perang Dingin. Yang menarik adalah bahasa ini makin populer justru di era pasca Perang Dingin”. Kecanggihan teknologi informasi dan transportasi, lanjut Iyan, berkontribusi besar terhadap perkembangan Bahasa Esperanto. Yang menjadi titik tekan kajiannya adalah sejauh mana indikator- indikator LSM dalam konsep International Society menurut mazhab English School hadir dalam lembaga swadaya masyarakat internasional yang mengembangkan Bahasa Esperanto sebagai instrumentasi perdamaian dunia. Peran LSM, menurut Iyan, adalah strategis bagi Bahasa Esperanto. Sebab, aktor non- negara dan sub-negara juga penting. Iyan yang kini tengah menimba ilmu di Sekolah Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Katholik Parahyangan itu menambahkan, “Sekuritisasi isu tak terelakkan lagi wajib melibatkan aktor non-negara dan bahkan, sub-negara. Dalam situasi itu Bahasa Esperanto kini terus berkembang pesat”.[] Sumber: Forum Studi Asia Afrika SMKAA Klab Esperanto SMKAA membagikan hasil kajian mereka perihal upaya LSM internasional dalam menciptakan perdamaian melalui penyebarluasan Bahasa Esperanto, Sabtu (25/3) di Museum KAA. (Sumber Foto: Dok. FSAA SMKAA)

×