Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Tabloid Diplomasi Edisi 15 Juli - 14 Agustus 2017

521 views

Published on

Tabloid Diplomasi Edisi 15 Juli - 14 Agustus 2017

Published in: Government & Nonprofit
  • Be the first to comment

Tabloid Diplomasi Edisi 15 Juli - 14 Agustus 2017

  1. 1. tidak untuk diperjualbelikan Diplomasitabloiddiplomasi.org tabloiddiplomasi@Kemlu.go.id @diplik_Kemluwww. Kemlu.go.id No. 107 tahun x tabloid Tgl. 15 Juli - 14 agustus 2017 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Direktorat Diplomasi Publik Jalan Taman Pejambon No. 6 Jakarta 10110 Telepon : 021-3813480 Faksimili : 021-3858035 Media Komunikasi dan Interaksi Pagelaran Indonesia Channel 2017 ProgramBeasiswaSenidanBudaya2017 Soft Power Diplomacy Yang Mencuri Perhatian Dunia
  2. 2. Surat Pembacacatatan redaksi Sungguh membanggakan bahwa Bahasa Indonesia semakin berkembang dan dipelajari oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Topik yang dimuat oleh Tabloid Diplomasi mengenai minat warga negara asing diluar negeri untuk mempelajari bahasa Indonesia merupakan hal yang sangat menggembirakan. Apalagi bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa populer ke-4 di Australia, sehingga saat ini banyak anak-anak SD di Australia yang dapat berbicara bahasa Indonesia dengan fasih. Belum lagi di Vietnam, yang telah secara resmi mengumumkan bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua disana. Perkembangan ini tentu saja merupakan peluang yang besar bagi kita untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Namun upaya untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional harus diawali dari bangsa Indonesia sendiri, yaitu dengan mencintai dan menghargai bahasa Indonesia itu sendiri. Kita harus bangga menggunakan bahasa Indonesia ketimbang menggunakan bahasa asing seperti Bahasa Inggris misalnya. Bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas bangsa yang harus terus kita jaga dan pelihara. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam aktifitas keseharian kita. Mari kita galakkan pemakaian bahasa Indonesia, dan jangan bangga dengan istilah asing yang saat ini telah sedemikian merajalela di kehidupan keseharian kita. Apalagi sebagai pemuda Indonesia, kita telah bersumpah bahwa kita memiliki bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia yang harus selalu kita junjung, baik di forum nasional maupun internasional.[] Muhammad Rifki Mahasiswa UNJ, Jakarta Asia Tenggara termasuk salah satu kawasan yang aman di dunia, semua konflik antar negara di kawasan ASEAN dapat diselesaikan dengan jalan damai. Namun persoalan konflik internal didalam negeri sebagian negara ASEAN masih terjadi seperti konflik di wilyah Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Saya mengapresiasi pemerintah RI yang berkomitmen untuk turut menciptakan perdamaian di kedua wilayah tersebut. Peran Indonesia untuk mewujudkan perdamaian di Asia Tenggara khususnya di Thailand dan Filipina, perlu terus dilakukan. Konflik yang terjadi di kedua negara tersebut berlangsung cukup lama dan sudah saatnya diakhiri. Peran aktif Indonesia sebagai pemimpin di ASEAN sangat diperlukan. Indonesia juga bisa memberi pengalaman keberagaman kepada masyarakat muslim di wilayah Mindanao dan Patani dengan pendekatan Islam Nusantara yang ramah dan moderat. Jika hal ini dilakukan maka lambat laun akan tercipta keharmonisan antar umat beragama yang akan berdampak pada upaya penyelesaian konflik secara damai. [] Dita Fakhrina Universitas Hasanudin Makasar Para pembaca setia Tabloid Diplomasi yang terhormat, pada edisi kali ini, tim redaksi mengangkat tema seputar kegiatan utama yang baru saja di gelar di Surabaya yaitu Pagelaran Indonesia Channel 2017. Pagelaran ini merupakan puncak sekaligus penutupan program BSBI 2017. Indonesia Channel 2017 menampilkan suguhan seni dan budaya kolosal bertajuk “Celebrating Diversity, Harnessing Harmony” di Gedung Empire Palace, Surabaya pada tanggal 18 Agustus 2017. Pada saat yang sama, dilaksanakan juga pameran hasil karya peserta BSBI 2017 berupa lukisan, foto, batik, ukiran kayu dan gerabah, perhiasan, dan lain-lainnya. Program BSBI dan Pagelaran Indonesia Channel 2017 mendapat sambutan yang cukup meriah dari masyarakat, terutama kalangan muda. Hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat, jumlah liputan media massa dan posting di berbagai media sosial. Program BSBI merupakan salah satu program strategis guna menarik minat para pemuda negara-negara sahabat untuk menjadi ‘Sahabat Indonesia’ di negara masing-masing. Oleh karena itu, Perwakilan RI di luar negeri perlu untuk senantiasa merangkul dan melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan khususnya yang menyangkut promosi Indonesia. Selain itu, Program BSBI merupakan bentuk kongkrit dari komitmen Kemenlu dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni dan budaya tradisional Indonesia. Artikel lainnya yang kami suguhkan adalah mengenai kegiatan Dinner with CEOs-Meet the Outstanding Student for the World (OSTW) and Indonesian Young Entrepreneurs yang diselenggarakan di Jakarta, dan juga topik mengenai perlindungan WNI di luar negeri berkaitan dengan isu standarisasi yang beragam. Melengkapi suguhan artikel pada edisi kali ini, kami juga tampilkan berbagai artikel menarik, diantaranya aktivitas PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. yang berminat melakukan ekspansi bisnis di Yordania; penyelenggaraan lokakarya bertema “Pengembangan Kemampuan Market and Trade Policy Intelligence terkait Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan Technical Barrier to Trade (TBT)” di Jakarta, serta peluang pengusaha Indonesia dalam bisnis pengadaan barang dan jasa di PBB. Berikutnya pertemuan perdana Joint Business Council (JBC) antara Indonesia-Jordan Business Council (IJBC) dan Jordan-Indonesia Business Council (JIBC) yang menandai semakin majunya hubungan bisnis kedua Negara. Sebagai tindak lanjut KTT IORA 2017 di Jakarta, Indonesia sebagai Ketua IORA periode 2016 – 2017 telah memimpin Pertemuan the 7th IORA Bi-Annual Meeting of the Committee of Senior Officials yang diselenggarakan di Bali. Berikutnya adalah kunjungan delegasi Indonesian Interfaith Scholarship (IIS) dari Uni Eropa (UE) tentang keberagaman dan keharmonisan di Indonesia. Pelaksanaan lokakarya terpadu bertajuk “Pengelolaan Media Digital Kemlu, Peningkatan Kapasitas Pejabat Penhumas dan Bimbingan Teknis Admin PPID”. Pertemuan ke- 44 Dewan Menteri Luar Negeri Negara- Negara Anggota OKI (OIC Council of Foreign Ministers/ CFM) membahas mengenai Pemuda dan Perdamaian, serta pentingnya pemahaman terhadap nilai- nilai dialog, toleransi dan saling menghargai perbedaan. Demikian beberapa artikel yang kami suguhkan dalam edisi kali ini. Kami ucapkan selamat membaca dan semoga bermanfaat. Salam Diplomasi.[]
  3. 3. daftar isi PENANGGUNG JAWAB Duta Besar Niniek K. Naryatie (Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik) Al Busyra Basnur (Direktur Diplomasi Publik) Azis Nurwahyudi (Sekretaris Direktorat Jenderal IDP) REDAKTUR Wahono Yulianto ANGGOTA REDAKTUR Agus Heryana Arif Suyoko Devdy Risa PENYUNTING/EDITOR Meylia Wulandari Cherly Natalia Palijama Amalia Maryafanti Khariri Cahyono DESAIN GRAFIS DAN FOTOGRAFI Arya Daru Pangayunan Ibnu Sulhan SEKRETARIAT Mahendra Hesty M. Lonmasa Darmia Dimu Orchida Sekarratri Agus Usmawan Kistono Alamat Redaksi Direktorat Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri RI, Lt. 12 Jl. Taman Pejambon No.6, Jakarta Pusat Telp. 021- 68663162,3863708, Fax : 021- 29095331, 385 8035 Tabloid Diplomasi edisi bahasa Indonesia dan Inggris dapat didownload di : http://www.tabloiddiplomasi.org Email : tabloiddiplomasi@Kemenlu.go.id Diterbitkan oleh Direktorat Diplomasi Publik, Direktorat Jenderal IDP Kementerian Luar Negeri R.I. Wartawan Tabloid Diplomasi tidak diperkenankan menerima dana atau meminta imbalan dalam bentuk apapun dari narasumber. Wartawan Tabloid Diplomasi dilengkapi kartu pengenal atau surat keterangan tugas. Apabila ada pihak mencurigakan sehubungan dengan aktivitas kewartawanan Tabloid Diplomasi, segera hubungi redaksi. Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau menyampaikan tanggapan, informasi, kritik dan saran, silahkan kirim email: tabloiddiplomasi@Kemenlu.go.id 11 Fokus Novel Karya Peserta BSBI Way to Indonesia; Two Lives, Two Face,one batik Fokus Utama 4 Pagelaran Indonesia Channel 2017 5 Program Beasiswa Seni dan Budaya 2017 Soft Power Diplomacy Yang Mencuri Perhatian Dunia 6 Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia Menyebarkan Budaya Toleransi Untuk Dunia yang Damai 7 Beasiswa Seni Dan Budaya Indonesia Dibalik Misi Pencapaian Diplomasi Fokus 8. Sanggar Seni Semarandana, Bali Puas dan bangga dengan Peserta BSBI 9 Rumah Budaya Rumata, Makasar Utamakan Interaksi Sosial Peserta BSBI 10 UPN “Veteran” Yogyakarta Mitra Kemlu Untuk Mengembangkan BSBI Program Kekhususan 12 Apa Kata Mereka ? BSBI Program Menakjubkan dan Inspiratif 13 Alumni OSTW Perluas Jejaring Melalui “Dinner With CEOs & Indonesian Young Entrepreneurs” 14. Seni Mediasi : Peran Indonesia Dalam Penyelesaian Konflik Filipina Selatan Sorot 15 Indonesia dan Singapura Gelar Dialog Lintas Agama Untuk Pertama Kalinya 16 Meningkatkan Akses Pasar Indonesia di Luar Negeri Melalui Penguatan Market and Trade Policy Intelligence 17 Pengusaha RI Bisa Mendunia Lewat Pengadaan Barang dan Jasa di PBB 18 Joint Business Council Tandai Kemajuan Hubungan Bisnis RI-Yordania 19 Negara Afrika dan Timteng Selesaikan Pelatihan Perikanan di Ambon 20 Indonesia Dorong Kerja Sama Nyata dalam 7th IORA Bi-Annual Meeting of CSO di Bali Lensa 21 Kunjungi Indonesia, Delegasi Uni Eropa Puji Toleransi di Indonesia 22 Lokakarya Terpadu Tingkatkan Kapabilitas Diplomat RI dalam Penguasaan Media Digital 23 Menlu: Nilai Perdamaian Harus Ditanamkan kepada Generasi Muda OKI 24 Wamenlu RI: “Keberagaman Indonesia Merupakan Aset Diplomasi”
  4. 4. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 Pagelaran Indonesia Channel 2017 Sebagai puncak sekaligus penutupan program BSBI 2017, telah diselenggarakan acara pagelaran seni dan budaya kolosal bertajuk “Indonesia Channel: Celebrating Diversity, Harnessing Harmony” di Gedung Empire Palace, Surabaya pada tanggal 18 Agustus 2017. Pada saat yang sama, dilaksanakan juga pameran hasil karya peserta BSBI 2017 berupa lukisan, foto, batik, ukiran kayu dan gerabah, perhiasan, dan lain-lainnya. Pada acara tersebut, Menlu RI, Retno LP Marsudi hadir untuk memberikan sambutan sekaligus menutup Program BSBI 2017, didahului oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang menyampaikan sambutan selamat datang. Selain itu, pagelaran Indonesia Channel 2017 juga dihadiri oleh Istri Wakil Gubernur Sumatera Barat, Duta Besar dan korps diplomatik negara sahabat, Pejabat Pemerintah Daerah, seniman, tokoh masyarakat, tokoh budaya, wartawan, para pelajar dan mahasiswa di Surabaya, alumni BSBI serta keluarga dan kerabat para peserta BSBI 2017. Acara ini terbuka untuk umum dengan jumlah penonton mencapai 1.600 orang. Sebagai bentuk dukungan dalam menyukseskan pagelaran Indonesia Channel 2017, dan untuk mempromosikan Kota Surabaya kepada para peserta BSBI, pada tanggal 15 – 19 Agustus 2017, Pemerintah Kota Surabaya menjamu para peserta pada acara Pertemuan dan makan malam dengan Walikota Surabaya. Selanjutnya mengundang para peserta pada Upacara HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Kantor Walikota Surabaya. Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya juga mengundang para peserta BSBI 2017 untuk mengikuti acara City Tour, Penanaman 58 pohon persahabatan di Taman Harmoni (dahulu merupakan Tempat Pembuangan Sampah terbesar di Surabaya), Festival Layang-Layang Internasional dan Festival Angkringan. Publikasi media juga dilakukan oleh Pemkot Surabaya dalam bentuk press conference dengan 47 media nasional dan lokal, serta penayangan iklan promosi Indonesia Channel melalui videotron di beberapa tempat strategis publik seperti Bandara Internasional Djuanda, Tunjungan Plaza, Balai Kota, dan lain-lain. Program BSBI dan Pagelaran Indonesia Channel 2017 mendapat sambutan yang cukup meriah dari masyarakat, terutama kalangan muda. Hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat, jumlah liputan media massa dan posting di berbagai media sosial. Program BSBI merupakan salah satu program strategis guna menarik minat para pemuda negara-negara sahabat untuk menjadi ‘Sahabat Indonesia’ di negara masing-masing. Oleh karena itu, Perwakilan RI di luar negeri perlu untuk senantiasa merangkul dan melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan khususnya yang menyangkut promosi Indonesia. Selain itu, Program BSBI merupakan bentuk kongkrit dari komitmen Kemenlu dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni dan budaya tradisional Indonesia. FOKUS UTAMA 4 No. 106 Tahun X - 15 Juni - 14 Juli 2017Dok.expatriatindonesia.id No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017
  5. 5. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 FOKUS UTAMA 5No. 106 Tahun X - 15 Juni - 14 Juli 2017 Program Beasiswa Seni dan Budaya 2017 Soft Power Diplomacy Yang Mencuri Perhatian Dunia Kementerian Luar Negeri c.q. Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik telah menyelenggarakan program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) 2017 yang berlangsung dari 7 Mei s/d 20 Agustus 2017. BSBI bertujuan untuk mempererat hubungan dengan negara sahabat melalui people-to-people contact dengan memanfaatkan keragaman seni budaya bangsa sebagai salah satu aset soft-power diplomacy Indonesia. Peserta BSBI 2017 kali ini berjumlah 58 orang yang berasal dari 45 negara termasuk 4 peserta asal Indonesia. Pada tanggal 20 Agustus 2017, para peserta BSBI 2017 telah kembali ke negaranya masing- masing, sementara 13 peserta lainnya asal negara Jepang, Korea Selatan, Jerman, Yunani, Serbia, Belanda, Ukraina, Australia, Hungaria, Slowakia, Kanada, Meksiko dan Argentina memperpanjang masa tinggalnya di Indonesia untuk tujuan studi dan melakukan kunjungan wisata ke berbagai destinasi wisata di Indonesia. Peserta yang memperpanjang masa tinggalnya di Indonesia untuk studi atau memperdalam kajian tentang seni dan budaya Nusantara, berjumlah 4 orang yaitu: Romain de Ferron (Perancis) untuk memperdalam seni akustik Padang, khususnya musik talempong, suling dan randai; Amdie Wirjoredjo (Suriname) untuk mempelajari tari klasik Remo, Jawa Timur; Andrei Zapsa (Moldova) untuk menulis novel “way to Indonesia”, yang terinspirasi dari kearifan lokal dan kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia; serta Ana Marin Lario untuk studi antroplogi Bugis dan Bali. Sejak diselenggarakannya program BSBI pada tahun 2003 hingga tahun 2017, jumlah alumni BSBI telah mencapai 776 orang yang berasal dari 69 negara. Program BSBI 2017 dibuka secara resmi oleh Menlu RI, Retno LP Marsudi di Gedung Pancasila, Jakarta pada tanggal 10 Mei 2017. Program diawali dengan pekan orientasi dan outbond training, dari tanggal 8 s/d 13 Mei 2017. Program orientasi ini bertujuan untuk mengenalkan Indonesia dari berbagai aspek seperti sejarah, seni, budaya dan kehidupan masyarakat. Orientasi tersebut diselenggarakan bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI), INDOSAT, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta berbagai museum di Jakarta (Museum Fatahilah, Monumen Nasional dan Museum Tekstil). Sedangkan outbond training dilakukan di The Village Bumi Kedamaian, Bogor yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan persahabatan di antara para peserta. Selanjutnya, para peserta melakukan pelatihan selama tiga bulan di sanggar dan universitas mitra kerja Kemenlu di lima kota, yaitu Surabaya, Makassar, Bali, Padang dan Yogyakarta dari tanggal 14 Mei s/d 13 Agustus 2017. BSBI 2017 dibagi ke dalam dua program, yaitu BSBI Program Reguler dan BSBI Program Kekhususan. BSBI Program Reguler berfokuskan pada pengenalan Indonesia dari aspek seni dan budaya. Program ini diikuti oleh 46 peserta. Mereka mendapatkan pelatihan mengenai seni tari, seni musik, Bahasa Indonesia dan kearifan lokal di berbagai sanggar seni yaitu Sanggar Semarandana di Bali, Studio Tydif di Surabaya, Rumah Budaya Rumata di Makassar dan Sanggar Sofyani di Padang. BSBI Program Kekhususan diikuti oleh 12 peserta dan dilaksanakan dengan pendekatan studi akademik di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Sesuai tema BSBI 2017 yaitu “Celebrating Diversity, Harnessing Harmony”, kurikulum BSBI program kekhususan difokuskan kepada studi tentang kebhinekaan, kerukunan umat beragama di Indonesia dan peran Indonesia dalam meningkatkan dialog antar umat beragama serta perdamaian dunia. Selain itu, para peserta juga mempelajari seni musik dan tari tradisional serta Bahasa Indonesia. Selama pelaksanaan program, Kemenlu RI juga melakukan evaluasi rutin untuk memantau perkembangan proses pembelajaran para peserta di masing-masing sanggar dan universitas. Selain itu, para peserta juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dan komunitas masyarakat setempat, seperti Peringatan Pesona Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Anugerah Lingkungan 2017 di Surabaya; Makassar International Writers Festival dan Panggung Lintas Budaya di Makassar; Minangkabau Fashion Festival di Padang; dan Upacara Penyucian Pura di Bali. Para peserta juga turut berpartisipasi dalam diskusi, seminar dan program sosial yang diadakan oleh universitas setempat.[] No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017
  6. 6. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 FOKUS UTAMA 6 Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia Menyebarkan Budaya Toleransi Untuk Dunia yang Damai Kemarin, Indonesia merayakan Ulang Tahun ke-72 Kemerdekaannya. Kemarin, Indonesia merayakan keragamannya. Keragaman telah membuat Indonesia menjadi kuat, kaya akan budaya dan menjadi bangsa yang dihormati. Oleh karena itu, keragaman seharusnya tidak memisahkan kita, namun sebaliknya, hal itu harus mempersatukan kita. Menghormati satu sama lain, toleransi, adalah bagian integral DNA kita. Kita harus memelihara ini. Keragaman bisa ditemukan di seluruh dunia, itu memberi warna pada dunia kita, itu memberi warna pada kemanusiaan. Kita harus merayakan keragaman. Merayakan keragaman berarti memahami perbedaan, menghargai perbedaan, saling menghormati satu sama lain. Budaya damai harus dipupuk dan disebarkan. Jembatan pemahaman dibutuhkan, untuk mencegah konflik dan perang. Membangun jembatan pemahaman merupakan bagian dari kebijakan luar negeri Indonesia. Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) merupakan salah satu upaya kami untuk membangun jembatan tersebut. Belajar mengenai budaya suatu negara berarti memahami kehidupan bangsanya, memahami cara berpikir masyarakatnya. Indonesia dengan bangga bisa menyajikan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia bagi mahasiswa internasional. Tahun ini juga merupakan tahun yang penting bagi BSBI, tahun ini kita merayakan ulang tahun BSBI ke 15. Dalam 15 tahun, BSBI telah mengumpulkan 776 alumni dari 69 negara. Di Belanda, alumni BSBI mendirikan Indonesia Netherlands Youth Society (INYS). Di Fiji, alumni BSBI membentuk kelompok tari yang disebut “Rako Pasifika” dan “Vou”. Seorang peserta dari Perancis telah membuat film dokumenter “Tarian Pakarena”. Sementara peserta dari Korea Selatan meluncurkan single dangdut “Papa Mama di Seoul”. Apalagi kemudian, 13 peserta memutuskan untuk melanjutkan studinya di Indonesia. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta BSBI tahun ini. Selamat atas telah diselesaikannya kursus. Semoga Anda membawa serta semangat, persahabatan dan kenangan Indonesia kemanapun Anda pergi. Anda sekarang adalah “Duta Besar Indonesia”. Anda adalah Sahabat Indonesia. Silahkan juga mengirimkan salam hangat kami kepada keluarga Anda, masyarakat dari negara anda masing-masing, undang mereka untuk berkunjung ke Indonesia. Saya menyampaikan terima kasih banyak kepada Walikota Surabaya yang telah menjadi tuan rumah acara ini. Surabaya telah menjadi salah satu kota simbol good governance, simbol perubahan dan kemajuan. Terima kasih juga kepada sanggar-sanggar yang telah menjadi mitra kegiatan; Sanggar Semarandana di Denpasar, Studio Tydif di Surabaya, Rumah Budaya Rumata di Makassar, Sanggar Sofyani di Padang, dan UPN “Veteran” Yogyakarta. Mari kita merayakan keragaman. Mari kita menyebarkan budaya toleransi, untuk dunia yang damai.[] (Disunting dari sambutan Menlu pada acara Indonesia Channel 2017) Indonesia dengan bangga bisa menyajikan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia bagi mahasiswa internasional. “ “ Menlu Retno LP Marsudi menyampaikan sambutan pada pembukaan Indonesia Channel 2017, di Surabaya (18/08) .
  7. 7. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 FOKUS UTAMA 7 Dok.Dok. Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia Merujuk pada testimoni para peserta dan status peserta di sosial media (Facebook, Twitter dan Instagram), pelaksanaan program BSBI dan Indonesia Channel 2017 dinilai telah memberikan kesan mendalam kepada peserta. BSBI bermanfaat untuk pembentukan karakter, penjajakan/pembangunan karir dan peningkatan pengetahuan serta pengalaman peserta. BSBI telah menciptakan keluarga baru dan kecintaan terhadap rumah kedua, yaitu Indonesia. Materi seni budaya, kearifan lokal, studi ekskursi, proyek karya individu/group dan aktifitas/ tugas pendukung lainnya yang diberikan dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan BSBI telah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kemenlu cq. Direktorat Diplomasi Publik. Materi bersifat variatif dan terdapat banyak kelas tambahan atas pemintaan dan ketertarikan peserta. Namun, khusus untuk studi Bahasa Indonesia (BI), di masing-masing sanggar mitra perlu dilakukan pembenahan, utamanya perihal jumlah jam pengajaran Bahasa Indonesia di universitas tertunjuk, yaitu sebanyak 32 jam selama 3 bulan. Publikasi media lokal dan nasional terhadap aktivitas peserta di daerah tidak merata, sehingga kedepan perlu kemitraan dengan media (TV, radio dan cetak/online) nasional untuk publikasi pelaksanaan BSBI yang dibuat secara reguler. Di sisi lain, dukungan yang diberikan Pemerintah Kota Surabaya cukup besar dan perlu mendapatkan apresiasi. Merujuk hasil penelitian dan analisa Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Kemenlu RI bekerjasama dengan ASEAN Study Centre Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia pada tahun 2015, dari 4 (empat) program soft power dalam bentuk beasiswa Pemerintah Indonesia (Pemri) untuk warga negara asing, program BSBI merupakan beasiswa terbaik, dikaji dari pengukuran efektifitas dan integrasi tata kelola serta pencapaian misi yang sesuai dengan tujuan diplomasi Indonesia. Adapun 4 (empat) program beasiswa Pemri untuk warga negara asing adalah; Darmasiswa oleh Kemendikbud; Kemitraan Negara Berkembang oleh Dikti; Beasiswa Unggulan oleh Kemendikbud; dan BSBI oleh Kemenlu. Indikator penilaian didasarkan pada proses perencanaan, penyebaran informasi, seleksi, pelaksanaan, pemantauan dan kelembagaan alumni. Hingga saat ini belum ada kelembagaan terhadap alumni BSBI oleh Dit. Diplomasi Publik dan Perwakilan RI di negara penerima. Pembentukan komunitas atau asosiasi alumni BSBI di masing-masing negara dilaksanakan secara parsial atau berdasar pada inisiatif alumni di negara setempat. Dit. Diplomasi Publik dan Perwakilan RI di luar negeri telah mengelola database alumni, namun pemanfaatan alumni di luar negeri masih perlu ditingkatkan. Pada 2003 – 2009, Program BSBI diperuntukkan hanya untuk program reguler, kemudian pada 2010 – 2017 program BSBI diperluas dengan memberikan program kekhususan yang diperuntukkan untuk peserta yang memiliki pengetahuan lebih tentang Indonesia dan mengikuti studi Indonesia di negara asalnya. Selain materi seni dan budaya, program kekhususan juga memberikan materi perkuliahan tentang Indonesia dan ASEAN dari berbagai aspek, antara lain aspek politik, ekonomi, dan lainnya. Pada tahun 2018, merujuk dari persentase materi seni dan budaya program kekhususan dan program reguler adalah berbeda, sehingga terdapat perbedaan hasil pendidikan dan pelatihan antara sanggar dan universitas (sebagai pelaksana program kekhususan). Hal tersebut dikarenakan perbedaan bobot materi seni dan budaya yang diberikan. Selama 15 tahun, pelaksanaan program BSBI dilakukan di 5 (lima) kota/ keterwakilan daerah yaitu Jawa (Jogja dan Surabaya), Sumatera (Padang), Bali, dan Indonesia Timur (Makassar, Sulawesi Selatan). Pada 2018, direncanakan penyusunan kembali komposisi sanggar mitra yang memenuhi keterwakilan daerah di Indonesia, yaitu; Jawa diwakili oleh D.I. Yogyakarta, Cirebon, Jawa Barat; Bali dan Nusa Tenggara diwakili oleh Bali; Sumatera diwakili oleh Padang, Sumatera Barat; Kalimantan diwakili oleh Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur; dan Sulawesi diwakili oleh Kendari, Sulawesi Barat. Pemilihan kota sebagai tempat pelatihan para peserta ini bersifat selektif. Kota tujuan pembelajaran haruslah memiliki akses dan infrastruktur yang baik dan mudah dijangkau, seperti bandara, rumah sakit, universitas, taman budaya, pusat perbelanjaan dan fasilitas umum lainnya. Standar hidup layak yang mencakup akomodasi dengan ketentuan kamar memiliki AC, kamar mandi dalam/modern, TV, akses internet dan fasilitas penunjang lainnya, konsumsi harian dan transportasi selama mengikuti program pelatihan. Sanggar juga menjalankan fungsi konsultasi dan Liaison kepada peserta dan aktif bekerjasama dengan pemerintah daerah dan media setempat serta kreatif mengikutsertakan peserta pada sejumlah kegiatan yang kaya akan nilai kearifan lokal, sosial, seni dan budaya Nusantara. Kesan para peserta dan penonton terhadap pagelaran Indonesia Channel meningkat setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari laporan infografis sosial media dan peningkatan jumlah penonton setiap tahunnya. Penanaman makna kepada peserta bahwa pagelaran Indonesia channel sebagai wadah apresiasi, dan kepada penonton (untuk memotivasi pemuda tentang kecintaan terhadap seni budaya Nusantara) tercapai. Karena itu konsep pagelaran Indonesia Channel setiap tahunnya harus menarik dan mampu membaca keinginan penonton dan tren terkini. Pagelaran Indonesia Channel harus ditangani oleh tim yang ahli dalam seni pertunjukan. Kedepan, pelaksanaan program BSBI selama 3 bulan dan pagelaran Indonesia Channel diharapkan dapat dipublikasikan lebih meluas melalui kemitraan dengan media TV nasional skala besar yang memilki konten siaran budaya yang tinggi dan pemuda sebagai penyimak utamanya. Meskipun program BSBI sudah berjalan dengan baik dan lancar, sesuai arahan Menlu RI, namun kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut agar dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan membawa manfaat lebih besar untuk bangsa dan negara.[] Niniek Kun Naryatie Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Dibalik Misi Pencapaian Diplomasi
  8. 8. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 FOKUS 8 Sanggar Seni Semarandana, Bali Puas dan Bangga Dengan Peserta BSBISanggar Seni Semarandana adalah sebuah sanggar yang bergerak di bidang kesenian dan kebudayaan Bali khususnya seni tari dan seni tabuh (musik tradisional Bali). Sanggar Seni Semarandana berdiri sejak 5 Juli 1998, beralamat di Banjar Gambang, Munggu, Mengwi, Kabupaten Badung Provinsi Bali. Sanggar ini beranggotakan para seniman dan pecinta kesenian serta kebudayaan Bali. Selain menjadi tempat pengembangan dan pelestarian kesenian Bali, Sanggar Seni Semarandana juga berperan didalam pengenalan kesenian dan kebudayaan Bali kepada masyarakat internasional. Sejak tahun 2003, kami menjadi mitra program BSBI yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kami dari pihak Sanggar selaku penanggung jawab merasa puas dan bangga kepada para peserta BSBI. Para peserta selalu serius sehingga cepat mengerti tentang apa yang diajarkan oleh para pelatih. Adapun materi yang diajarkan dalam program BSBI, antara lain adalah: Seni Tari, Seni Tabuh (gamelan), Seni Rupa (lukis), Tata Rias, pengenalan Busana dan Adat Istiadat Bali, serta Bahasa Indonesia. Sanggar Seni Semarandana bekerjasama dengan IKIP PGRI Bali dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Selain itu, kami juga bekerjasama dengan media massa, diantaranya NET TV, TVRI Bali, Bali Pos, Jawa Pos dan Radar Bali untuk mempublikasikan program BSBI ini. Namun demikian, pelaksanaan BSBI di Sanggar Seni Semarandana tidaklah tanpa hambatan. Terkadang terdapat peserta yang memiliki minat terlalu spesifik di luar program yang telah diagendakan. Hal tersebut menuntut kami untuk lebih luwes dalam mengemas program dan membuat kami lebih kreatif untuk mengakomodir berbagai hal tersebut. Dengan adanya kegiatan BSBI ini di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, diharapkan semakin banyak wisatawan yang datang untuk melakukan kunjungan sehingga berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah Badung.[] Sanggar Tari dan Musik Sofyani, Padang Pengajaran jiwa Masyarakat Minangkabau Kepada Peserta BSBI Kesenian adalah sebagian dari jiwa masyarakat Minangkabau, oleh sebab itu pendidikan kesenian adalah mutlak bagi orang Minang. Tidak satu kemampuan baik di darat maupun di pesisir yang tidak mempunyai sasaran atau ruang, tempat anak anak muda belajar dan berguru kesenian “nagari” nya, sesuai menurut iklim setempat. Kesenian Minangkabau tidak menutup pintu bagi masuknya unsur – unsur baru, asalkan saja unsur – unsur pembaruan tidak menggoyahkan salah satu sendi yang menupang adat dari dalam yaitu; alua jo patuik (harmonisasi), ukua jo jangko (ruang dan gerak) dan reso jo pareso (rasa dan analisa). Pendidikan kesenian di Minangkabau bertujuan memperbaiki “budi” dan memperindah “baso” (sopan santun), yang tergambar dalam prinsip melalui sebuah pantun: “Nan kuriak iyolah kundi Nan sirah iyolah saga Nan baiak iolah budi nan indah iyolah baso” Dalam perjalanan kami, Sanggar Tari dan Musik Sofyani di setiap kegiatan kami, lebih cenderung merupakan pengabdian dan dedikasi untuk masyarakat dan Daerah Sumatera Barat daripada Komersialisasi. Padang adalah salah satu mitra termuda BSBI tahun 2016, karena tahun 2016 merupakan pertama kalinya BSBI di Padang. BSBI merupakan program yang sangat berarti bagi kami. Melalui program ini kami bisa menambah wawasan, relasi dan teman dari berbagai negara. Salah satu hal yang menarik adalah saat menjalani bulan puasa. Sebagian dari mereka yang berbeda agama, juga ikut menjalani ibadah puasa, berbuka bersama dan melakukan ibadah tarawih. Mereka juga ikut untuk menyambut hari Raya Idul Fitri. Hal tersebut menunjukkan indahnya perbedaan jika semua dapat saling menghargai. Program ini tidak hanya bermakna bagi peserta, namun sekaligus memacu para muda mudi untuk belajar lagi dan menghargai budaya kita sendiri. Melalui BSBI kekeluargaan terjalin dengan hangat antara peserta BSBI dan anggota sanggar, walaupun sekali-kali ada masalah, dan karena ada masalah itu lah hubungan kami (anggota sanggar) dan peserta BSBI menjadi tambah erat dan tambah kompak. Secara keseluruhan, program ini membuat kami merasa bertanggung jawab dan bisa membawa nama baik seni dan budaya Indonesia. Orang luar negeri saja mempelajari budaya kita, masa kita tidak? []
  9. 9. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 FOKUS 9 Rumah Budaya Rumata, Makassar Sejak tahun 2012 Rumata’ Art Space dipercaya menjadi salah satu “Rumah” untuk peserta yang datang dari belahan dunia yang tertarik untuk belajar seni & budaya Indonesia. Kesempatan bagi kami pula untuk memperkenalkan Rumata’ Artspace yang saat ditunjuk sebagai bagian dari keluarga besar Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) waktu itu, kami baru berumur satu tahun. Program yang diprakarsai oleh Kementriaan Luar Negeri ini adalah momen mengenalkan budaya Indonesia lebih luas. Selain dalam hal diplomasi, program ini menjadi interaksi sosial antara peserta, pemerintah, sanggar seni dan masyarakat lokal di setiap daerah. Rumata’ Artspace menjadi satu-satunya perwakilan untuk Indonesia Timur sampai saat ini dan merupakan pusat seni yang paling muda diantara sanggar lainnya sebelum Sofyani Arts Padang bergabung pada tahun 2016 kemarin. Selama 5 tahun keikutsertaan dalam BSBI, alumni yang datang dari berbagai negara adalah sahabat Rumata’ sampai detik ini. Tidak ada yang menyangka bahwa ada beberapa alumni yang akan kembali dan betah untuk tinggal lebih lama di Makassar. Atau hal sederhana lainnya, seperti bertegur sapa melalui media sosial. Alumni-alumni yang pulang ke rumah kami adalah mereka yang tertarik untuk lebih mendalami budaya Indonesia khususnya Sulawesi Selatan. Brune Charvin (Perancis), alumni BSBI 2013, kembali datang untuk belajar Tari Pakkarena (tarian klasik Makassar yang mengajarkan keseimbangan antara kekuatan- kelembutan, feminim-maskulin, ombak-karang dan nilai-nilai yang mengingatkan manusia kepada akar budaya/tradisi). Selain Brune, Shin (Korea Selatan) pernah juga mengadakan pameran seni lukis pada dua tahun lalu di Rumata’ Artspace. Kemudian Victor Nicolae Ciobanu (Rumania) adalah alumni BSBI 2016 yang sampai hari ini masih berada di Makassar untuk mendalami budaya dan musik lokal. Victor tertarik dan belakangan ini sering berkolaborasi dengan seniman musik tradisional Makassar. Dalam kurun waktu di atas, program BSBI menjadi bagian yang tak terpisahkan dari serangkain program yang dijalankan oleh Rumata’ Artspace. Harapan kami Program BSBI ini masih terus dilaksanakan secara berkesinambungan setiap tahun agar budaya Indonesia yang sangat kaya dan beragam dikenal luas oleh setiap orang. Besar harapan kami bahwa semua alumni mendapatkan banyak manfaat setelah mereka kembali ke negaranya masing-masing dan Indonesia menjadi ‘Rumah’ bagi semua. Terima kasih kami ucapkan kepada Kemenlu RI.[] Utamakan Interaksi Sosial Peserta BSBI Tahun 2010 awal yang membanggakan bagi kami saat terpilih diantara sanggar-sanggar tari di Surabaya untuk mendapat kesempatan bergabung di program BSBI (Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia). Tydif Art Center adalah salah satu dari 4 sanggar yang direkomendasikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya untuk diajukan sebagai pembina pada program BSBI. Pada awalnya kami sebagai sanggar yang memiliki banyak kegiatan dan kesibukan dengan latihan, pementasan, berproses kekaryaan tari merasa sangat terbebani karena harus membina pemuda pemudi asing dalam berkesenian, hal ini lebih tepatnya kami katakan sebagai bentuk tugas pada negara. Inilah yang dapat kami lakukan untuk Bangsa dan Negara agar kami dapat menjalankan program ini dengan baik. Seiring dengan berjalannya waktu ternyata kami yang awalnya terbebani berubah menjadi menikmati sebuah kebersamaan, kekeluargaan, saling belajar banyak hal mulai dari intropeksi diri sampai mendapatkan pengalaman hidup yang sangat berarti. Tidak terasa 7 tahun sudah keterlibatan kami pada program BSBI ini, setiap tahun dalam waktu 3 bulan merupakan sebuah perjuangan untuk memberikan yang terbaik pada peserta tidak hanya memperkenalkan seni, budaya, keunggulan lokal daerah, karakter masyarakat juga berbagai macam interaksi yang menyenangkan di kalangan anak muda. Menyatukan karakter yang berbeda dari berbagai bangsa bukan hal yang mudah tetapi disitulah letak keunikannya. Tydif Art Center sebagai salah satu pembinaan berlokasi di Surabaya yang metropolis kadangkala kurang diminati orang asing, hal tersebut sebagai tantangan bagi kami. Tidak hanya memperkenalkan Kota Surabaya tetapi juga keunggulan beberapa daerah di Jawa Timur. Walau dalam 3 bulan hanya beberapa daerah di luar Jawa Timur yang kami perkenalkan, tetapi sangat membuat mereka senang. Pada awalnya, biasanya peserta tertarik melihat sajian tarian dan film yang kami tampilkan pada presentasi tetapi kurang berminat berada di kota metropolis. Untuk itu, kami membuat program kegiatan yang ada keterlibatannya dengan Pemkot Surabaya, mengikuti agenda kegiatan Disbudpar Kota Surabaya. Kami juga menambahkan program Socio Culture yaitu 1 minggu peserta berada di luar daerah Surabaya, di kota kecil berkumpul dengan masyarakat, berlatih tari dan music bersama kelompok musik daerah. Beberapa tahun ini kami bekerjasama dengan Pemda Pamekasan melalui Sanggar Musik Putra Meonk. Dalam 3 bulan, yang awalnya kurang tertarik, di bulan pertama kami mencoba eksplorasi untuk mengenal karakter dan apa keinginan mereka untuk berada di program ini, bulan ke-2 kami mulai mengenal satu sama lain, bahkan peserta mencoba mengikuti rutinitas kita dan saling berinteraksi untuk mencoba menyatukan diri. Pada akhirnya di bulan yang terakhir kami sama-sama tidak ingin terpisahkan karena kami sama-sama tahu susah bagi kami untuk bisa bertemu lagi dengan terbentangnya samudera, lautan bahkan benua. Program BSBI ini memiliki keunikan tersendiri tidak hanya pemberian materi seni dan budaya, tetapi juga belajar pemahaman karakter bangsa yang berbeda. Peserta yang kebanyakan non muslim kadangkala bisa menilai masyarakat muslim di Indonesia, yang menurutnya berbeda seperti yang mereka dengar di negara lain. Muslim di Indonesia baik dan terbuka untuk menerima perbedaan seperti itu anggapannya. [] Sanggar Studio Tydif, Surabaya Perkenalkan Seni, Budaya, Keunggulan Lokal dan karakter Masyarakat jawa timur
  10. 10. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 UPN “Veteran” Yogyakarta Mitra Kemlu Untuk Mengembangkan BSBI Program Kekhususan FOKUS 10 Diplomasi modern memungkinkan pemerintah dan masyarakat menjadi aktor utama dalam hubungan antar- bangsa. Di satu sisi, diplomasi pada umumnya menempatkan pemerintah sebagai aktor utama dalam politik luar negeri. Pemerintah bertindak sebagai perumus dan pelaksana kebijakan luar negeri. Namun demikian, demokratisasi juga memberi peluang luas kepada masyarakat --baik secara individu maupun kelompok-- untuk berpartisipasi aktif dalam politik luar negeri. Diplomasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan jejaring antar-masyarakat yang telah terjalin dan tersebar di berbagai negara. Selain itu, diplomasi juga bisa dilakukan sebagai prakarsa bersama antara pemerintah dan masyarakat, seperti Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI). BSBI merupakan salah satu upaya serius Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk menjalankan diplomasi antar- masyarakat atau people-to-people diplomacy. Melalui program reguler dan kekhususan BSBI, Kemenlu mengajak generasi muda dari berbagai negara (termasuk Indonesia) untuk memperoleh pengalaman hidup secara langsung dengan tinggal dan belajar mengenai Indonesia yang multikultur. Kemenlu telah menunjuk UPN “Veteran” Yogyakarta, khususnya Jurusan Ilmu Hubungan Internasional (HI), sebagai mitra lokal dalam pelaksanaan BSBI Kekhususan sejak 2013 hingga sekarang. Dalam empat tahun ini, BSBI Kekhususan telah mengusung berbagai tema, meliputi: Future Indonesianist (2013), Unity in Diversity (2014), ASEAN (2015), dan Poros Maritim (2016). Melalui BSBI Kekhususan, peserta dari berbagai negara dapat mempelajari seni-budaya Indonesia, termasuk berbagai isu kontemporer, meliputi politik, ekonomi, Islam, multikulturalisme, media, dan sebagainya. Tinggal dan belajar selama 3 bulan di UPN “Veteran” Yogyakarta telah memberikan banyak pengalaman berharga dan unik mengenai kehidupan lokal di Yogyakarta yang berbeda dengan peserta BSBI reguler di Denpasar, Makasar, Padang, termasuk Surakarta (Solo) dan Bandung. Pengalaman hidup yang unik itu bahkan membawa peserta itu kembali menengok kampus mereka di UPN “Veteran” Yogyakarta dan tempat kost mereka. BSBI Kekhususan telah memberikan kesempatan emas untuk menerapkan berbagai teori dan konsep mengenai hubungan internasional, khususnya dalam diplomasi antar-masyarakat secara langsung kepada peserta. Berkat BSBI Kekhususan, UPN “Veteran” Yogyakarta telah memiliki 42 alumni internasional yang tersebar di hampir 20 negara hanya dalam waktu 4 tahun ini. Kenyataan ini tentu saja secara signifikan menambah jejaringan sosial kampus kami di berbagai negara di dunia. Salah satu hal yang menarik adalah saat menjalani bulan puasa. Sebagian dari mereka yang berbeda agama, juga ikut menjalani ibadah puasa, berbuka bersama dan melakukan ibadah tarawih. Mereka juga ikut untuk menyambut hari Raya Idul Fitri. Hal tersebut menunjukkan indahnya perbedaan jika semua dapat saling menghargai. Program ini tidak hanya bermakna bagi peserta, namun sekaligus memacu para muda mudi untuk belajar lagi dan menghargai budaya kita sendiri. Melalui BSBI, kekeluargaan terjalin dengan hangat antara peserta BSBI dan anggota sanggar, walaupun sekali-kali ada masalah, dan karena ada masalah itu lah hubungan kami (anggota sanggar) dan peserta BSBI menjadi tambah erat dan tambah kompak. Secara keseluruhan, program ini membuat kami merasa bertanggung jawab dan bisa membawa nama baik seni dan budaya Indonesia. Orang luar negeri saja mempelajari budaya kita, masa kita tidak? Berbeda dengan program reguler, BSBI Kekhususan telah memberikan pengalaman bagi kami untuk menyusun program kegiatan selama 3 bulan yang berbeda dari tahun ke tahun sesuai tema khusus yang telah didesain oleh Kemenlu. Pengalaman menyusun, menjalankan, dan merevisi program BSBI Kekhususan telah meningkatkan pemahaman kami mengenai urgensi diplomasi antar- masyarakat dalam hubungan antar-bangsa. Pemberdayaan kemampuan ini juga berlanjut pada komitmen kami untuk meningkatkan kualitas hubungan kami dengan jejaring kelembagaan yang telah kami miliki selama ini di tingkat lokal, yaitu di Yogyakarta dan sekitarnya. Selama 3 bulan pelaksanaan BSBI Kekhususan, kami melibatkan berbagai lembaga, seperti partai politik, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), beberapa kampus, lembaga-lembaga keagamaan, media massa (radio, surat kabar, dan televisi lokal), berbagai lokasi wisata, sekolah-sekolah, dan berbagai individu akademisi serta penggiat seni-budaya di Yogyakarta. Sesuai tema, pelibatan lembaga dan individu itu selalu berbeda dari tahun ke tahun. BSBI Kekhususan juga telah memberikan peluang berharga bagi mahasiswa kami di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional untuk memiliki hubungan individual langsung dengan peserta dari berbagai negara. Perjumpaan dan interaksi langsung selama 3 bulan telah memungkinkan mahasiswa kami dan peserta BSBI Kekhususan untuk mengembangkan minat mereka, baik dalam studi dan kehidupan paska-studi. Kenyataan bahwa banyak peserta BSBI masih berstatus mahasiswa S1 dan S2 juga memberikan dampak positif bagi mahasiwa kami untuk saling mengenal budaya, suasana akademik, dan kemungkinan studi lanjut di kampus peserta BSBI di berbagai negara. Berbagai peran telah dilakukan mahasiswa kami, meliputi liaison officer (kunjungan, bahasa Indonesia, dan dokumentasi), asisten pelatih tari, pendamping diskusi dan interaksi dengan mahasiswa untuk tugas-tugas penulisan esai. Pengalaman mengelola BSBI selama 4 tahun ini tentu saja tidak dapat terhindar dari beberapa permasalahan tak terduga. Berinteraksi dengan 10 hingga 12 peserta dari negara yang berbeda memerlukan kemampuan penyesuaian diri yang luar biasa, baik di antara kami di UPN “Veteran” maupun peserta BSBI Kekhususan. Upaya serius sejak hari pertama hingga hari terakhir dalam pelaksanaan BSBI adalah berusaha menghilangkan perbedaan antara ‘kami’ dan ‘mereka’. Dalam konteks diplomasi antar-masyarakat, berbagai perbedaan itu pada akhirnya disatukan oleh satu tujuan dari program kekhususan BSBI ini, yaitu mempelajari dan mengenal Indonesia secara secara lebih utuh dan langsung di Yogyakarta yang multikultur. [] Berkat BSBI Kekhususan, UPN “Veteran” Yogyakarta telah memiliki 42 alumni internasional yang tersebar di hampir 20 negara hanya dalam waktu 4 tahun ini. “ “
  11. 11. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 FOKUS 11 Novel Karya Peserta BSBI Way to Indonesia : Two Lives, Two Faces, One Batik Dua peserta program BSBI 2017, yaitu Andrei E.P.S. Zapsa dari Moldova dan Christine May Nikola dari Fiji, disela-sela kesibukan mereka mengikuti program BSBI, telah menyempatkan diri berkolaborasi untuk menulis sebuah novel. Di penghujung program BSBI 2017, mereka berdua meluncurkan sebuah novel bertajuk “Way to Indonesia : Two Lives, Two Faces, One Batik”. “Burung Bulbul di sangkar emas. Bisa juga dari intan, tapi sangkar tetaplah sangkar”, kata Andi Chandra. Andi Chandra adalah seorang putri Sulawesi yang terjebak di antara salah satu kerusuhan besar politik. Dalam keadaan sulit untuk mencari kehidupannya sendiri, sang putri kemudian bertemu dan berhubungan dengan seorang anak desa yang menyerahkan kehidupan sederhananya untuk mencari tempat tinggalnya di masyarakat. Sang putri sangat merindukan kehidupan yang dimilikinya. Pasangan dari dua dunia yang berbeda ini harus bekerja sama untuk menyatukan keluarga mereka, dan entah bagaimana caranya menghindari dunia mereka untuk tidak bertabrakan tanpa suatu kehidupan yang mendikte mereka. Demikian ringkasan cerita dari novel yang digarap bersama oleh Andrei dan Christine. Novel ini adalah sebuah jalinan cerita yang penuh dengan humor, politik dan asmara yang terinspirasi oleh elemen fiktif dan non- fiktif selama penulisnya berpartisipasi dalam program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2017. Andrei Zapşa adalah seorang komposer dan konduktor. Dia adalah penulis Great War: Last Archangel, The Missing Shard dan The Crown of Power, sebuah trilogi fantasi pertama yang ditulis di negaranya. Dia juga menulis The Call of King, sebuah novel yang bersejarah. Pada saat yang sama, Andrei adalah pendiri dan konduktor pertama orkestra yang sukses, seperti orkestra Mezzo Youth Symphony, Makassar Youth String Orchestra dan Orkes Simfoni Şt. Neaga College di Chişinău. Karena aktivitasnya yang luar biasa di bidang sastra, dia dianugrahi penghargaan “Heroes of the Moldova” untuk kategori sastra pada tahun 2016. Saat ini, Andrei bekerja di Financial-Banking College di Chisinau, dan mengajar ilmu ekonomi. Christine May Nikola adalah seorang penulis kreatif dan baru saja lulus dari South Pacific University, Fiji. Ia adalah seorang Jurnalis dan Psikolog yang saat ini sedang mengikuti studi pasca sarjana di bidang Psikologi. Sepulang kuliah, Christine bekerja sebagai jurnalis di sebuah perusahaan surat kabar besar di Fiji dan kemudian mengundurkan diri untuk melakukan traveling. Ia sangat menikmati pekerjaan non- voluntary seperti mengajar anak-anak di komunitas rentan. Saat ini Christine tinggal bersama keluarganya di Fiji.[]
  12. 12. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 FOKUS 12 No. 106 Tahun X - 15 Juni - 14 Juli 2017 Sebelum bergabung dengan BSBI, saya bahkan tidak bisa membayangkan bahwa program ini akan menjadi ‘bom’ ! BSBI adalah program yang memberi para peserta pengalaman baru, teman baru, kenangan baru dan perasaan baru. Kami pernah diberitahu di Kementerian Luar Negeri RI, bahwa “BSBI adalah program yang mengubah hidup” ... apakah kata-kata ini benar ?? Saya belum pernah jauh dari keluarga saya sebelumnya - program ini adalah perjalanan besar saya ke luar negeri. Saya belajar banyak, saya banyak melihat dan banyak merasakan. Dan salah satu alasan paling penting untuk selalu bahagia berada di Indonesia adalah bahwa orang-orang yang mengelilingi saya selama ini – Ibu (ibu Diaztiarmi), para anggota sanggar Tydif, para guru, para relawan, dan Tim kami Tim Surabaya, yang menempatkan diri sebagai keluarga saya. Saya juga memperoleh berkah berupa teman-teman baru yang setia - orang-orang yang selalu mendukung dan menghibur saya, orang-orang yang berkontribusi terhadap perubahan pandangan saya terhadap banyak aspek kehidupan. Setiap anggota Keluarga Besar Surabaya kami telah memainkan peran integral selama program berlangsung - masing-masing seperti potongan dari sebuah puzzle - masing- masing tidak tergantikan. Di sini, di Surabaya, kami menemukan diri kami dalam kapasitas sebagai penari (selama 3 bulan kami menguasai tarian tradisional seperti tarian Sampur Urban, Cak & Ning, dan Greget), musisi (belajar bermain gamelan), master batik, pelajar (kami memiliki kelas Bahasa Indonesia), perancang (kami terlibat dalam proyek pembuatan jurnal kami sendiri yang didedikasikan untuk seluruh Indonesia), aktor (dalam film pendek yang diambil oleh salah satu sukarelawan) dan lain- lainnya. Fitur lain yang membuat program ini jadi penuh warna dan tak terlupakan adalah kenyataan bahwa kami mengunjungi begitu banyak tempat menarik. Salah satu tempat paling mengesankan yang kami kunjungi adalah Gunung Bromo. Pemandangan yang bagus, tapi pada saat yang sama juga menakutkan sebagai gunung berapi yang sangat mistis, yang membuat legenda menarik di belakangnya, jalan sempit, setiap langkah yang tampaknya menjadi langkah terakhir, cuaca yang membeku, udara segar, ruang yang sangat besar ... setiap bagian dari tempat ini membuat Anda tinggal di sana dengan napas tertahan. Selain itu, berkat program BSBI ini, yang kami jelajahi tidak hanya Surabaya, tapi juga bagian lain dari Jawa Timur, seperti Madura (Sumenep), kota Batu, dan kota Kediri. Saya benar-benar merasakan perasaan baru, kesan dan emosi yang benar-benar baru. Saya menjerit dan tertawa, saya sangat senang seperti anak kecil yang diberi mainan baru. Saya berasumsi bahwa tidak ada kata- kata yang bisa menggambarkan perasaan ini .. Setelah terjalinnya hubungan yang begitu rumit dengan Indonesia selama lima tahun terakhir, kali ini saya datang ke sini sungguh sangat berbeda. Meski tradisi dan budaya negeri ini akrab bagi saya, tapi pada titik tertentu, Indonesia selalu membuat Anda kagum dan terkesan. Bila Anda berada jauh dari rumah dan orang yang dicintai, sangat penting untuk merasakan dukungannya. Hambatan bahasa, budaya dan cara berpikir yang berbeda dapat menyebabkan beberapa kesulitan selama bulan pertama. Tapi, di sisi lain, sungguh menakjubkan betapa cepatnya Anda bisa mendekati orang yang Anda kenal hanya selama beberapa minggu. Untuk dua minggu pertama Program BSBI, keluarga kecil khusus kami yang terdiri dari dua belas siswa telah melalui berbagai hal. Tapi entah bagaimana, karena segala sesuatu terjadi karena suatu alasan, kami berhasil mengatasi semua masalah, dan saling bergantung satu sama lain. Yang pasti, mereka yang berada di Indonesia, atau Asia untuk pertama kalinya, akan sulit menghadapi cara hidup yang sama sekali berbeda. Apalagi, bahasa Jawa di sini lebih sering digunakan daripada bahasa Indonesia, karena masyarakat setempat memiliki pengaruh yang besar terhadap rutinitas sehari-hari masyarakat Indonesia di sini. Tapi bagaimana dengan 700 bahasa lain yang juga diucapkan di indonesia? Orang-orang di sini bangga dengan beragam budaya mereka, karena motto mereka adalah Bhinneka Tunggal Ika. Sulit dipercaya bahwa negara ini masih bersatu, mengingat kenyataan bahwa ada lebih dari 17 ribu pulau. Dunia harus mengambil beberapa kelas pelajaran tentang bagaimana menjadi saling bersatu dan saling menghormati. Semua orang memiliki latar belakang yang berbeda; mereka berasal dari keluarga yang berbeda dengan sikap dan kepercayaan yang berbeda. Apa yang bisa Anda pelajari adalah bagaimana bersyukur atas apapun yang Anda miliki dalam hidup Anda. Dan jika Anda tidak puas, Anda harus bekerja lebih keras untuk mengubahnya, - inilah yang telah saya pelajari dari orang Jawa. Cara orang Jawa menjalankan tradisi mereka akan memukau Anda, cara mereka memperlakukan keluarga mereka akan membuat Anda berubah pikiran dan membuka hati Anda. Dan akhirnya, Anda akan menjadi bagian dari keluarga dan tradisi mereka. Bantuan sederhana dan tidak mementingkan diri sendiri serta rasa syukur yang sama murninya, tidak salah lagi adalah kearifan lokal yang patut untuk dipelajari dan karenanya memungkinkan untuk jatuh cinta pada Jogja dan Indonesia selangkah demi selangkah setiap hari.[] LAZZAT JUMATAEVA (Peserta BSBI 2017 dari Uzbekistan) Apa Kata Mereka ? BSBI Program Menakjubkan dan Inspiratif ANASTASIIA PUSTYLYNK (peserta BSBI 2017 dari Ukraina) No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017
  13. 13. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 FOKUS 13No. 106 Tahun X - 15 Juni - 14 Juli 2017 Direktorat Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri bekerjasama dengan Innovative Youth Project (IYP) menyelenggarakan Dinner with CEOs-Meet the Outstanding Student for the World (OSTW) and Indonesian Young Entrepreneurs, Jumat 28 Juli 2017 di, Mercantile Athletic Club, Jakarta. IYP sendiri merupakan perhimpunan anak- anak muda kreatif yang mendorong kalangan muda Indonesia berinovasi dan berprestasi serta menghubungkannya dengan stakeholders terkait. Duta Besar Benny Bahana Dewa mengatakan dengan diadakannya acara ini diharapkan dapat mendorong terciptanya jejaring entrepreneur muda, dan semangat kewirausahaan di kalangan anak-anak muda Indonesia baik para perserta OSTW- maupun generasi muda dengan para pengusaha Indonesia dari berbagi bidang terutama CEOs perusahaan- perusahaan start-up yang berbasis teknologi informasi. Sebagai penerus bangsa, merupakan hal yang penting bagi generasi muda untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan anak-anak muda. Disamping itu, acara ini dapat menjadi sarana untuk saling berbagi pengalaman, memperluas networking, dan melahirkan kerjasama yang konkret di masa yang akan datang. OSTW adalah salah satu program unggulan Direktorat Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri yang bertujuan untuk mendorong anak muda berprestasi Indonesia terutama di bidang wirausaha. Peserta OSTW pada bulan April 2017 berjumlah 12 orang melakukan kunjungan ke India. Di India peserta bertemu dengan CEOs berbagai perusahaan dan pejabat pemerintah setempat. Acara ini dihadiri oleh narasumber Agus Muharram, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM yang menyampaikan Keynote Speech. Sementara itu Danang Rizky Ginanjar, Staf Khusus Menteri PPN/ Kepala Bappenas, Gaery Undarsa, CCO & Co-Founder Tiket.com, dan M. Alfatih Timur, CEO Kitabisa menjadi narasumber dalam panel discussion yang bertema Creative Strategies to Win the Market and Increase Profit. Melalui acara ini, diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk bisa lebih menjadi kreatif dalam berkreasi dan menciptakan berbagai terobosan yang inovatif. Lebih lanjut diharapkan agar acara tersebut juga dapat menjadi salah satu faktor pendorong untuk meningkatkan minat wirausaha di kalangan generasi muda, yang kelak akan berdampak pada peningkatan perekonomian Indonesia. [] Alumni OSTW Perluas Jejaring Melalui “Dinner With CEOs & Indonesian Young Entrepreneurs” Danang Rizky Ginanjar, Staf Khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas, Gaery Undarsa, CCO & Co-Founder Tiket.com, dan M. Alfatih Timur, CEO Kitabisa menjadi narasumber dalam panel discussion yang bertema Creative Strategies to Win the Market and Increase Profit (28/08). No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017
  14. 14. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 Fokus 14AntaraNews.com Seni Mediasi : Peran Indonesia Dalam Penyelesaian Konflik Filipina Selatan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menggelar acara peluncuran dan bedah buku berjudul “The Art of Mediation: Indonesia’s Role in the Quest for Peace in Southern Philippines” di Ruang Nusantara Kemlu RI, (31/7). Buku karya Jamal Maidan Flores mantan speech writer dan proof reader di era Menlu Ali Alatas ini membahas tentang peran Indonesia dalam proses mediasi antara kelompok separatis Moro di Filipina Selatan (MNLF) dengan Pemerintah Filipina. Peluncuran dan bedah buku dihadiri oleh para Duta Besar, Eselon I dan II di lingkungan Kementerian Luar Negeri, para akademisi, mahasiswa dan mahasiswi pemerhati hubungan internasional serta undangan dari kalangan pers nasional. Bertindak sebagai moderator Endi M. Bayuni (Chief Editor The Jakarta Post) dan menjadi pembahas Teuku Rezasyah MA, PhD (Universitas Padjajaran Bandung). Kepala BPPK, Dr. Siswo Pramono dalam sambutan pembukanya menyampaikan kedekatan penulis dengan Menlu Ali Alatas, sehingga muncul istilah “di-Jamilkan” untuk dokumen yang masuk ke meja beliau. Beberapa tokoh diplomasi Indonesia yang terlibat langsung dalam mediasi perdamaian memberikan sambutan dalam acara peluncuran dan bedah buku. Dr. Hasan Wirayuda, Duta Besar Wiryono Sasrohandoyo, dan Duta Besar Rezlan Ishar Jenie merupakan beberapa tokoh yang turut memberikan sambutan hangat atas peluncuran buku yang membahas peran kunci Indonesia dalam proses perdamaian di Filipina Selatan. Buku “The Art of Mediation: Indonesia’s Role in the Quest for Peace in Southern Philippines” ini menjadi istimewa karena hadir ditengah minimnya literatur mengenai kiprah Indonesia di kancah Diplomasi Internasional. “Kehebatan Indonesia dalam Diplomasi Internasional telah diakui oleh dunia, namun sayang kurangnya literatur yang memuat kiprah Indonesia tersebut,” ungkap Wiryono Sastrohandoyo selaku Diplomat Indonesia yang terlibat dalam proses mediasi perjanjian perdamaian di Filipina Selatan pada tahun 1996. Pernyataan tersebut juga diamini oleh pembahas dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah yang mengatakan bahwa perlunya memoar yang berguna sebagai pengingat akan aktifnya Indonesia dalam Diplomasi Internasional. “Perlunya memoar yang mengingatkan kita tentang kiprah Diplomasi Indonesia,” ujar Teuku. Hadirnya buku ini diharapkan menjadi tambahan sumber informasi atas kiprah Indonesia di kancah Diplomasi Internasional. Selama ini masyarakat kurang menghargai kiprah Indonesia tersebut, hal ini disebabkan oleh minimnya literatur yang memuat informasi tersebut. Adanya buku ini juga diharapkan dapat meningkatkan rasa bangga masyarakat terhadap Indonesia yang telah diakui kehebatannya dalam Diplomasi Internasional. [] THE ART OF MEDIATION: INDONESIA’S ROLE IN THE QUEST FOR PEACE IN SOUTHERN PHILIPPINES DIRECTORATE OF INFORMATION AND MEDIA DIRECTORATE-GENERAL OF INFORMATION AND PUBLIC DIPLOMACY MINISTRY OF FOREIGN AFFAIRS OF THE REPUBLIC OF INDONESIA 2016 Kehebatan Indonesia dalam Diplomasi Internasional telah diakui oleh dunia, namun sayang kurangnya literatur yang memuat kiprah Indonesia tersebut “ “WiryonoSastrohandoyo
  15. 15. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 SOROT 15 Indonesia dan Singapura Gelar Dialog Lintas Agama Untuk Pertama Kalinya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) c.q. Direktorat Diplomasi Publik, Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik bekerjasama dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan KBRI Singapura menyelenggarakan The 1st Indonesia-Singapore Interfaith and Intercultural Dialogue (ISID) pada tanggal 11-14 Juli 2017 di Singapura. Penyelenggaraan The 1st ISID adalah Dalam upaya menjaga dan meningkatkan nilai persatuan, perdamaian dan toleransi dalam majemuknya masyarakat dunia serta memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura. The 1st ISID dibuka oleh Bapak Tan Chuan Jin, Menteri Sosial dan Pembangunan Keluarga Singapura dan Bapak Lukman Hakim Saifuddien, Menteri Agama Indonesia. ISID dilaksanakan dengan format forum dialog dan site visit ke pusat peribadatan, studi dan kajian keagamaan di Singapura dengan melibatkan sejumlah tokoh agama, akademisi, pemuda, kalangan akar rumput dan perwakilan pemerintah kedua negara. ISID ditutup oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, A.M. Fachir dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur sekaligus Menteri Transportasi, Khaw Boon Wan. Adapun hasil the 1st ISID a.l.Youth Faith Leaders Camp di tahun 2018, penerbitan buku tulisan para tokoh agama dan pertukaran mahasiswa belajar agama dan keberagaman. Catatan untuk mendapat perhatian lebih lanjut yaitu perlunya kebijakan pemerintah yang menjadikan tempat terbuka sebagai common space dan perlunya pendirian galeri harmony in Diversity di Indonesia sebagai sarana pendidikan toleransi sejak usia sekolah dan pusat informasi tentang agama- agama yang diakui negara. Delegasi Indonesia (Delri) dipimpin oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddien dan Wakil Menteri Luar Negeri RI, A.M. Fachir sebagai alternate Ketua. Anggota delegasi Indonesia adalah Duta Besar Niniek Kun Naryatie, Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik; Arif Zahmhari, Ph.D, aktivis Nahdatul Ulama dan Rektor Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ); Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah; Romo Agustinus Ulahayanan, Pr, Sekretaris Komisi Hubungan Antar Umat Beragama (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia; Pdt. Dr. Marthin Lukito, Pengajar Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta; Pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun; Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, tokoh agama Hindu/ Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali, Ketua Asosiasi FKUB Indonesia; dan Bhikhu Jayamedho (Herman Satriyo Endro), pendiri organisasi Buddhis seperti Magabudhi, Dhammadipa, Arama Center dan Walubi. Rangkaian kegiatan ISID antara lain courtesy call delegasi Indonesia kepada Menteri Kebudayaan, Komunitas dan Pemuda Singapura pada tanggal 11 Juli 2017 dan Menteri Luar Negeri Singapura pada tanggal 13 Juli 2017. Forum ISID diisi dengan dialog dan diskusi terbuka serta site visit ke Komunitas Islam di Masjid Ba’alwi dan Majelis Agama Islam Singapura, Komunitas Katolik/ Kristen di Church of St. Mary of the Angels, Komunitas Hindu di Hindu Endownment Board, dan Komunitas Buddha di Mahakaruna Buddhist Society. The 1st ISID diinisiasi pertama kali oleh pemerintah Indonesia dan mendapat sambutan positif pemerintah Singapore pada pertemuan Wakil Menteri Luar Negeri RI dengan Presiden Singapore’s Inter-Religious Organisation (IRO) and Galery of Harmony in Diversity pada tanggal 17 Januari 2017. The 1st ISID mengusung tema “Sharing of Best Practices, Lessons Learnt and Way Forward”, menggarisbawahi pentingnya kerjasama dan komitmen kedua negara untuk menguatkan nilai persatuan, perdamaian dan toleransi untuk menghadapi tantangan peradaban global saat ini, antara lain ekstremisme berbasis agama dan budaya, terorisme, radikalisme dan islamophobia. Singapura adalah mitra dialog lintas agama Indonesia ke-27. Pemerintah Singapura sepakat untuk melanjutkan sesi dialog lintas agama dan setuju untuk melaksanakannya di Indonesia dua tahun yang akan datang. The 1st ISID mengusung sejumlah program sebagai bentuk keberlanjutan the 1st ISID 2017, antara lain Indonesia- Singapura Youth Camp for Future Faith Leaders yang akan fokus pada hubungan antar agama; membuat buku berisi kompilasi paper dari para pembicara dan peserta the 1st ISID 2017 dan pertukaran mahasiswa untuk belajar agama dan keberagaman. Pada tanggal 14 Juli 2017, the 1st ISID ditutup secara resmi oleh Khaw Boon Wan, Menteri Koordinator bidang Infrastruktur sekaligus Menteri Transportasi Singapura dan A.M. Fachir, Wakil Menteri Luar Negeri RI. Hadir juga untuk memberikan testimoni pada sesi penutupan tersebut yaitu Duta Besar RI untuk Singapura, Presiden Inter- Religious Organisation (IRO) Singapura, Imam Masjid Ba’alwi, Mufti Singapura, Mufti Singapura periode 1994 – 2010, tokoh agama Indonesia dan lainnya.[]
  16. 16. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 SOROT 16 Untuk menghadapi dampak dari penerapan standar tersebut terhadap akses pasar ekspor Indonesia, Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral, Kementerian Luar Negeri, bekerja sama dengan Institute for Training and Technical Cooperation (ITTC) World Trade Organization (WTO) mengadakan lokakarya bertema “Pengembangan Kemampuan Market and Trade Policy Intelligence terkait Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan Technical Barrier to Trade (TBT)” pada 2-4 Agustus 2017 di Jakarta. Lokakarya selama 3 hari tersebut dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai kementerian terkait seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Badan Standarisasi Nasional (BSN), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Lokakarya ini menghadirkan para ahli dari Sekretariat WTO dan Pejabat terkait di lingkungan pemerintah. Dari Sekretariat WTO, hadir Dr. Faustin M. Luanga, Kepala Divisi Regional Asia dan Pasifik, ITTC- WTO, dan Mr. Alexis Masoot, Dispute Settlement Lawyer, Rules Division-WTO. Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan akses pasar ke berbagai negara yang disebabkan karena penerapan standar oleh negara mitra dagang, baik standar kesehatan, lingkungan, dan teknis (labeling & packaging). Dalam Perjanjian Perdagangan di WTO telah ditegaskan bahwa penerapan standar tidak Meningkatkan Akses Pasar Indonesia di Luar Negeri Melalui Penguatan Kemampuan Market and Trade Policy Intelligence diperbolehkan apabila ditujukan untuk membatasi perdagangan. Namun kenyataannya Indonesia banyak mengalami hambatan produk ekspor karena permasalahan standar seperti pada kasus pala, kelapa sawit, coklat, hasil laut, dsb. Beberapa hambatan tersebut disebabkan karena adanya isu persaingan dagang yang menggunakan dalih standar, khususnya terkait Sanitary and Phytosanitary (SPS) measures dan Technical Barriers to Trade (TBT). Lokakarya ini diharapkan dapat menunjang diplomasi ekonomi melalui penguatan kapasitas SDM Pejabat Indonesia terutama dalam menyusun kebijakan perdagangan guna menunjang ekspor Indonesia ke luar. Secara khusus lokakarya ini membahas berbagai tantangan akses pasar yang dihadapi produk Indonesia di pasar internasional akibat penerapan standar serta membahas upaya yang dapat dilakukan Indonesia dalam mengatasi dampaknya. “Pelaksanaan Diplomasi Ekonomi yang efektif memerlukan peningkatan peran dan kapasitas SDM dalam mencermati dan mengantisipasi berbagai peluang dan tantangan yang dapat berkontribusi terhadap upaya pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.” Demikian disampaikan Tri Purnajaya, Direktur Perdagangan, Komoditas dan Kekayaan Intelektual (PKKI) dalam sambutan kuncinya mewakili Plt Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri. [] Foto: (Ki-Ka) Tri Purnajaya, Direktur PKKI (Narasumber), Ditya Agung Nurdianto, Kasubdit Pertanian dan Pengembangan Komoditas (Moderator) dan Fajarini Puntodewi, Kepala Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri (Narasumber) dalam Lokakarya Pengembangan Kemampuan Market Intelligence terkait SPS dan TBT, Jakarta, 2-4 Agustus 2017
  17. 17. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 SOROT 17 dalam lima tahun terakhir belum pernah mencapai angka US$100 ribu per tahun. Namun demikian, jumlah ini masih sangat kecil apabila dibandingkan dengan potensi yang ada. Total nilai pengadaan barang dan jasa yang dilakukan PBB mencapai US$17 milyar atau senilai Rp 232 triliun, dan Indonesia baru mampu meraup kurang dari 1%nya. “Posisi Indonesia sebagai pemasok terbesar barang dan jasa ke PBB di antara negara-negara ASEAN secara langsung menunjukkan Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan. Hanya sekarang tinggal bagaimana caranya memperluas penetrasi atau mencari kesempatan di lini bisnis lain yang belum banyak diikuti oleh negara-negara lain,” lanjut Anita. Direktur Pengadaan PBB, Dmitry Dovgopoly, yang menjadi narasumber mengungkapkan potensi pengadaan barang dan jasa yang besar di Misi Pemeliharaan Perdamaian (MPP) PBB. “Setiap tahun kami membelanjakan US$8 miliar Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mendorong pengusaha Indonesia untuk memanfaatkan peluang pengadaan barang dan jasa di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang potensinya sangat besar. Dengan kapasitas yang dimiliki, pengusaha Indonesia diyakini mampu bersaing dengan negara lain untuk memenangi proyek pengadaan barang dan jasa di PBB.​ “Pengusaha Indonesia perlu memanfaatkan secara optimal peluang pengadaan barang dan jasa di PBB, karena peluangnya besar dan Indonesia memiliki kapasitas untuk itu,” ujar Anita Luhulima, Acting Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kemlu, dalam sambutan pada Seminar Bisnis Pengadaan Barang dan Jasa PBB di Hotel Aryaduta, Jakarta (3/8). Berdasarkan data yang dirilis United Nations Global Market tahun 2016, total nilai pengadaan barang dan jasa perusahaan Indonesia di PBB adalah US$106 juta atau Rp1,4 triliun. Nilai ini adalah yang tertinggi di antara negara- negara anggota ASEAN, yang pada MPP PBB yang saat ini memiliki 100 ribu pasukan yang tersebar di seluruh dunia, terutama Afrika”. “Kami sangat membutuhkan produk-produk berkualitas untuk memenuhi kebutuhan kami, seperti kendaraan lapis baja, tenda dan jasa keamanan. Dalam waktu dekat, kami juga merencanakan untuk melakukan pengadaan ban dalam skala  besar,” ungkapnya. Dmitry menyampaikan bahwa pengadaan di PBB tidak dilakukan secara terpusat. Artinya, kantor PBB dan badan- badannya di Indonesia juga dapat melakukan pengadaan secara mandiri. Beberapa produk yang selama ini menjadi kebutuhan utama badan- badan PBB adalah kendaraan, obat-obatan, panganan, alat komunikasi, jasa kargo, dan transportasi udara. Dmitry juga menggarisbawahi prinsip pengadaan di PBB, seperti keadilan, transparansi, dan kompetisi internasional. “Ini menjamin produk yang diperoleh merupakan produk dengan kualitas yang terbaik,” ujar Dmitry. Hal senada juga disampaikan oleh Charu Mehta, wakil kantor PBB di Indonesia yang juga menjadi narasumber. “Sudah saatnya kerja sama yang lebih erat dibangun antara PBB dengan sektor swasta, karena memberi keuntungan kepada kedua belah pihak.” Seminar bisnis yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral Kemenlu tersebut berkolaborasi dengan kantor PBB di Indonesia. Seminar ini adalah kontribusi Kemenlu guna meningkatkan partisipasi pengusaha Indonesia dalam berbagai proyek pengadaan barang dan jasa PBB. Seminar terdiri dari tiga sesi yang membahas mengenai peluang pengadaan di PBB, mekanisme pengadaan PBB, dan pengalaman dengan perusahaan yang telah berhasil menjadi rekanan PBB. Di sesi terakhir, peserta diberikan kesempatan untuk melakukan konsultasi bisnis dengan badan-badan PBB yang ada di Indonesia. Selain kedua narasumber di atas, seminar tersebut juga diisi narasumber dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Pura Barutama, dan PT Chitose. Hadir pula Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) Robin Asad Suryo, perwakilan KADIN, serta lebih dari 100 peserta seminar yang berasal dari berbagai lini bisnis, seperti transportasi, IT, telekomunikasi, kesehatan, perhotelan, konsultan, dan jasa kargo.[] Pengusaha RI Bisa Mendunia Lewat Pengadaan Barang dan Jasa di PBB
  18. 18. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 SOROT 18 Joint Business Council Tandai Kemajuan Hubungan Bisnis RI-Yordania  “Pertemuan Perdana Joint Business Council (JBC) antara Indonesia-Jordan Business Council (IJBC) dan Jordan-Indonesia Business Council (JIBC) menandai semakin majunya hubungan bisnis antara Indonesia dan Yordania,” ungkap Dubes RI Andy Rachmianto dalam sambutan pada pertemuan JBC di Kamar Industri Yordania, Selasa (1/8). Ditegaskan oleh Dubes RI agar JBC mampu berperan aktif dan mencari terobosan-terobosan baru guna meningkatkan kerja sama konkret di bidang perdagangan, industri, investasi, dan pariwisata. Dalam pertemuan, JBC sepakat membentuk komite- komite sektoral yang potensial bagi pengembangan kerja sama kedua negara, yaitu komite industri, makanan, furnitur, pariwisata, pendidikan dan pelatihan, kesehatan, kulit dan tekstil, dan tenaga kerja terampil. Sektor-sektor inilah yang diharapkan dapat menjadi pendorong bagi kemajuan hubungan ekonomi, perdagangan, dan investasi kedua negara. JBC berkomitmen untuk berperan aktif dalam mempromosikan berbagai kegiatan pameran yang diselenggarakan di masing- masing negara, serta menggalang para pelaku bisnis kedua negara untuk dapat ambil bagian dalam pameran-pameran dimaksud. JBC juga menyepakati perlunya mendirikan Indonesian House di Yordania dan Jordanian House di Indonesia, sebagai wadah mempromosikan produk-produk potensial kedua negara serta memudahkan para pelaku bisnis kedua negara mengembangkan usahanya. Menandai diresmikannya pembentukan JBC, Presiden IJBC dan Ketua JIBC menandatangani Agreement on the Establishment of Joint Business Council between Indonesia-Jordan Business Council (IJBC) dan Jordan- Indonesia Business Council (JIBC) yang disaksikan oleh Dubes RI serta seluruh pengurus IJBC dan JIBC yang hadir pada pertemuan dimaksud. (Sumber: KBRI Amman) Info Grafis Capaian KBRI Spanyol di Bidang Kerjasama Ekonomi
  19. 19. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 19SOROT Negara Afrika dan Timteng Selesaikan Pelatihan Perikanan di Ambon Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi menutup kegiatan pelatihan di bidang perikanan yang diikuti oleh 12 negara Afrika dan Timur Tengah di Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Ambon pada Senin pagi, 24 Juli 2017 waktu setempat. Pelatihan yang resmi dibuka pada 17 Juli 2017 lalu tersebut diikuti oleh 14 peserta dari Djibouti, Kenya, Madagaskar, Mozambique, Mauritania, Mesir, Namibia, Nigeria, Senegal, Sudan, Zimbabwe, dan Aljazair. Selama berada di Ambon, para peserta telah diberikan materi dan mendapat kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung alat penangkap ikan ramah lingkungan seperti perangkap bubu dan Keramba Jaring Apung (KJA), teknik pengolahan produk hasil laut yang dikembangkan di Indonesia serta pengembangan dan budidaya ikan hias. Direktur Kerja Sama Teknik, M. Syarif Alatas, yang mewakili Kemlu untuk menutup program kegiatan pelatihan menyampaikan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia bisa berkontribusi melalui pemberian bantuan peningkatan kapasitas kepada negara-negara berkembang lainnya di dalam kerangka Kerja Sama Selatan-Selatan. Sejak tahun 1980-an, Indonesia telah melaksanakan program peningkatan kapasitas tersebut bagi banyak negara di berbagai belahan dunia. Sektor perikanan merupakan prioritas Pemerintah Indonesia dan menjadi salah satu program peningkatan kapasitas unggulan. Indonesia akan terus mengembangkan teknologi di bidang perikanan yang berkelanjutan. Melalui pelatihan ini, Indonesia ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan bidang perikanan yang diharapkan bermanfaat dan dapat diterapkan di negara masing-masing para peserta Afrika dan Timur Tengah. Khusus untuk Afrika dan Timur Tengah, hingga tahun 2016 telah terlaksana sejumlah 160 program peningkatan kapasitas di berbagai bidang bagi lebih dari 1300 orang peserta. Diharapkan bahwa dengan keikutsertaan peserta Afrika dan Timur Tengah akan dapat lebih mendorong pengembangan jejaring di antara sesama peserta yang berbeda negara dengan Indonesia dan juga pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di negara masing-masing. Ke depan, Pemerintah Indonesia akan terus berkomitmen untuk memberikan bantuan peningkatan kapasitas bagi negara-negara Afrika dan Timur Tengah di bidang- bidang yang menjadi kebutuhannya dan sejalan juga dengan kepentingan nasional RI. (Sumber: Dit. KST)
  20. 20. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 sorot 20 No. 106 Tahun X - 15 Juni - 14 Juli 2017 Indonesia Dorong Kerja Sama Nyata Dalam 7th IORA Bi-Annual Meeting of CSO di Bali Sebagai tindak lanjut KTT IORA 2017 di Jakarta, Indonesia sebagai Ketua IORA periode 2016 – 2017 telah memimpin Pertemuan the 7th  IORA Bi-Annual Meeting of the Committee of Senior Officials yang diselenggarakan di Bali pada 2 – 3 Agustus 2017. Pertemuan dihadiri oleh para pejabat tinggi (senior officials) dari 21 negara anggota IORA. Pada Pertemuan tersebut, Indonesia antara lain mendorong kerja sama yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat, sebagaimana dimandatkan oleh para pemimpin negara-negara IORA dan disepakati dalam dokumen IORA Action Plan. “Perlu untuk segera menindaklanjuti hasil- hasil KTT IORA, melalui implementasi Rencana Aksi yang telah disepakati. Revitalisasi Indian Ocean Rim Business Forum (IORBF) dan Working Group on Trade and Investment (WGTI) merupakan bagian dari upaya tersebut, agar kerja sama perdagangan dan ekonomi diantara anggota IORA dapat ditingkatkan”, ujar Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Dubes Desra Percaya, selaku ketua Pertemuan. “Kerja sama Keamanan dan Keselamatan Maritim, Blue Economy, dan Women`s Economic Empowerment perlu didorong melalui pembentukan working group”, sambung Dirjen Aspasaf. Pertemuan 7th  Bi-Annual CSO fokus membahas tindak lanjut KTT IORA dan pertemuan terkait lainnya, termasuk implementasi Rencana Aksi dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, yang telah disepakati dalam 5 tahun kedepan. Rencana aksi memberikan fokus pada upaya mengatasi tantangan, terlebih dengan perubahan geopolitik dan geoekonomi di kawasan Samudera Hindia. Penguatan organisasi IORA serta kerja sama dengan mitra wicara dan organisasi internasional maupun regional lainnya didorong agar dapat memberikan kontribusi konkret. Indonesia telah memprakarsai penguatan kerja sama IORA untuk lebih solid guna menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. Selama keketuaan Indonesia, IORA telah hasilkan capaian utama yaitu Jakarta Concord, yang merupakan visi dan norma kerja sama IORA untuk menggali peluang serta meningkatkan kesejahteraan kawasan. Selain itu, KTT IORA yang diselenggarakan pada 7 Maret 2017 lalu di Jakarta merupakan pertemuan tingkat kepala negara/ pemerintahan pertama dalam rangka memperingati 20 tahun organisasi tersebut. Keberhasilan KTT IORA tegaskan kepemimpinan Indonesia sebagai negara maritim yang mendorong pembaruan komitmen negara-negara anggota IORA untuk tingkatkan kerja sama menuju kawasan Samudera Hindia yang damai, stabil, dan sejahtera. (Aspasaf/Infomed) No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017
  21. 21. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 LENSA 21No. 106 Tahun X - 15 Juni - 14 Juli 2017 Toleransi di tengah keberagaman di Indonesia menjadi contoh negara-negara di dunia. Oleh karena itu, dengan melihat langsung di Indonesia tentu akan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman delegasi Indonesian Interfaith Scholarship (IIS) dari Uni Eropa (UE) tentang keberagaman dan keharmonisan di Indonesia tersebut. Hal itu disampaikan oleh Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Duta Besar Niniek Kun Naryatie, ketika menerima delegasi IIS 2017 yang didampingi oleh Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Kementerian Agama RI, Ferimeldi, Ph.D di Kementerian Luar Negeri RI, Senin (24/7). Lebih lanjut, Dubes Niniek menyampaikan bahwa toleransi menjadi darah daging dan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Toleransi itu akan lahir, berkembang dan dapat dipelihara dengan baik melalui pemahaman yang utuh terhadap yang lain. Delegasi IIS adalah para pemangku kepentingan di Uni Eropa (UE) yang terlibat dalam penentuan arah kebijakan luar negeri UE. Delegasi IIS terdiri dari akademisi, NGO dan anggota sekretariat parlemen Eropa. Program IIS tahun 2017 merupakan yang ke-4, diselenggarakan atas kerja sama Kementerian Agama dan KBRI Brusel. Delegasi IIS berada di Indonesia untuk mempelajari keberagaman dan keharmonisan umat beragama. Mereka akan berkunjung dan berdialog dengan berbagai pihak dan kalangan di Jakarta, Semarang, Bali, dan Yogyakarta. (Sumber: Dit. Diplik) ​ Kunjungi Indonesia, Delegasi Uni Eropa Puji Toleransi di Indonesia “Toleransi menjadi darah daging dan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Toleransi itu akan lahir, berkembang dan dapat dipelihara dengan baik melalui pemahaman yang utuh terhadap yang lain.” Duta Besar Niniek Kun Naryatie No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017
  22. 22. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 LENSA 22 Lokakarya Terpadu Tingkatkan Kapabilitas Diplomat RI dalam Penguasaan Media Digital dalam negeri dan internasional. Portal Situs Kemlu ini mengintegrasikan situs-situs dari Perwakilan-Perwakilan Indonesia di luar negeri. Melalui media sosial, Kementerian Luar Negeri semakin aktif berinteraksi melalui akun resmi Twitter, Facebook, dan Instagram yang terintegrasi dengan Portal Kemlu. Upaya Kementerian Luar Negeri dalam memanfaatkan media digital kini semakin diakui. Pada tahun 2016 Menlu mendapatkan Penghargaan dari IT&TELCO sebagai TOP ICT Leadership 2016 dan Kemlu mendapatkan TOP Implementation of Ministry 2016 dan TOP Digital Transformation Readiness 2016. Pesatnya perkembangan di dunia digital seiring dengan timbulnya konsekuensi, bahwa Kemlu harus mampu mengiringinya dengan adaptasi dan inovasi. Melalui lokakarya ini sejumlah inovasi akan dilakukan, yaitu: (i) pengembangan Elektronik Media di lingkungan Kemlu dan Perwakilan RI; dan (ii) integrated and collaborative blog yang menjadi inovasi dalam Situs Portal Kemlu dan Perwakilan RI. Lokakarya terpadu juga akan menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi upaya peningkatan citra positif RI, strategi diplomasi digital dan peningkatan pengelolaan situs- situs Perwakilan. Dalam Lokakarya ini turut dilaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama I-Media antara Kemlu dengan LKBN Antara. Adanya Perjanjian Kerja Sama akan semakin memaksimalkan pemanfaatan media digital dalam diseminasi informasi Kemlu dengan publik. [] (Infomed) ​Sebagai upaya menjawab tantangan dalam perkembangan dan dinamika informasi dan teknologi, Kementerian Luar Negeri mengadakan Lokakarya Terpadu bertajuk “Pengelolaan Media Digital Kemlu, Peningkatan Kapasitas Pejabat Penhumas dan Bimbingan Teknis Admin PPID” di Bogor (26/7). Dibuka oleh Plt. Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Dubes Niniek Kun Naryatie, lokakarya yang akan berlangsung selama 3 hari ini menghadirkan para diplomat yang kini sedang menjalankan tugas di 132 Perwakilan Indonesia yang tersebar di berbagai Negara serta perwakilan dari unit-unit di Kemlu. Lokakarya menghadirkan para Narasumber dari berbagai lini, baik pemerintah, perwakilan jurnalis, praktisi media massa, konsultan media serta konsultan media kreatif untuk berbagi wawasan kepada para peserta lokakarya. Dalam sambutannya, Dubes Niniek mengutip kata-kata Tom Fletcher dalam buku Naked Diplomacy (2016), “Digital changes every aspects of what diplomat do.” Dalam era digital, para diplomat dituntut untuk dapat memaksimalkan penggunaan media digital dalam melaksanakan tugasnya. Media digital memungkinkan para diplomat untuk me​njangkau lebih jauh, lebih luas serta lebih cepat kepada para pemangku kepentingan Kemlu, terutama dalam hal perlindungan WNI di luar negeri. Publik dapat segera tahu mengenai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan Perwakilan RI di berbagai negara, baik mengenai sepak terjang diplomasi Indonesia di forum internasional maupun meriahnya pertunjukan kesenian Indonesia. Kecepatan informasi ini juga menjadi sangat bermanfaat saat terjadi situasi darurat di suatu negara, sehingga WNI yang membutuhkan dapat segera mendapatkan informasi yang benar. Tentunya kemajuan digital dalam pelaksanaan diplomasi memunculkan berbagai peluang sekaligus tantangan. Pertama; Dunia digital mengubah partisipan, mendorong semangat keterbukaan dan transparansi dalam diplomasi. Kedua; Dunia digital menciptakan sumber informasi baru dan paradox of plenty, banyaknya informasi yang beredar juga memunculkan fenomena hoax (berita palsu). Pengelolaan media digital yang baik diharapkan dapat memberikan informasi yang benar sekaligus mengcounter berita hoax yang bermunculan. Ketiga; Dunia digital mengaburkan batas. Diplomat harus dapat memaksimalkan manfaatkan dunia digital sebagai sarana membangun jejaring dan berkolaborasi. Para diplomat harus terjun ke berbagai kanal digital, tidak terkecuali media sosial, agar dapat mengikuti secara dekat informasi yang berkembang, berinteraksi dengan masyarakat dan memberikan tanggapan secara cepat dan akurat. Kementerian Luar Negeri melalui kanal-kanal digital yang dimiliki berupaya memberikan pelayanan diseminasi informasi terbaik untuk para pemangku kepentingannya. Situs Portal Kemlu, yang diatur melalui Permenlu 03/2012, menjadi gerbang utama diseminasi informasi kepada publik di
  23. 23. No. 107 Tahun X - 15 Juli - 14 Agustus 2017 LENSA 23 Jika kita membesarkan generasi muda dengan konflik, saya khawatir mereka akan merasa nyaman dengan konflik dan tidak paham apa artinya dialog. Demikian disampaikan Menlu RI di hari kedua (11/7) Pertemuan ke 44 Dewan Menteri Luar Negeri Negara- Negara Anggota OKI (OIC Council of Foreign Ministers/ CFM).  Dalam pertemuan debat umum khusus mengenai Pemuda dan Perdamaian,” Menlu kembali menyampaikan pentingnya pemahaman terhadap nilai-nilai dialog, toleransi dan saling menghargai perbedaan. Menlu menekankan bahwa semua negara OKI memiliki kewajiban untuk meneruskan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda. “Jika anak- anak dibiasakan dengan kekerasan maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang penuh dengan kekerasan. Jika anak-anak hanya melihat senjata, maka saya khawatir anak-anak akan berkeyakinan bahwa senjata akan dapat menyelesaikan semuanya,” tegasnya. Lebih lanjut Menlu menyampaikan bahwa kondisi kondusif harus diciptakan oleh negara-negara OKI agar generasi muda dapat tumbuh lebih baik. Selain kondisi kondusif, kerja sama OKI yang terpusat pada pendidikan untuk anak-anak muda juga perlu ditingkatkan, salah satunya terkait entrepreneurship.  Menlu juga mendorong agar negara- negara anggota OKI dapat mengimplementasi OIC-2035 program aksi khususnya terkait peningkatan kapasitas bagi generasi muda.  Pertemuan tahunan para Menlu negara OKI tersebut telah mengesahkan sekitar 120 Resolusi mengenai berbagai isu, baik isu-isu di bidang politik dan keamanan maupun ekonomi, sosial dan budaya. Beberapa resolusi hasil yang menjadi perhatian Indonesia terkait resolusi mengenai kawasan Asia Tenggara, seperti resolusi mengenai isu Rohingya dan resolusi situasi di Filipina Selatan.  Melalui resolusi mengenai Rohingnya, Indonesia terus mendorong pentingnya OKI memberikan kontribusi positif terhadap upaya untuk mencari solusi jangka panjang di Rakhine State. Secara khusus, Indonesia mendorong agar OKI mendukung Pemerintah Myanmar dalam melakukan proses perdamaian di Rakhine State, termasuk dalam bentuk pemberian bantuan kemanusiaan serta peningkatan kapasitas. Terkait resolusi mengenai Filipina Selatan, Indonesia secara khusus mendorong OKI dan masyarakat internasional untuk memprioritaskan bantuannya kepada proses perdamaian di Filipina Selatan agar tidak terganggu dengan adanya ancaman keamanan berbagai kelompok teroris di kawasan. Indonesia juga menekankan bahwa ancaman keamanan dan teror di Mindanao telah menjadi ancaman bagi perdamaian dan keamanan kawasan dan global. Selain kedua resolusi tersebut juga diadopsi resolusi mengenai tindak lanjut dari inisiatif Indonesia terkait pembentukan Contact Group on Peace and Conflict Resolution yang menyepakati untuk segera menyelesaikan penyusunan Terms of Reference (TOR) contact group tersebut. Disamping itu, Indonesia juga telah menggagas dikeluarkannya resolusi terkait pentingnya kerjasama seluruh negara OKI pada forum OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF). Resolusi IBRAF tersebut diusulkan Indonesia yang selalu memajukan peran penting media sebagai salah satu pilar demokrasi, serta merupakan salah satu pemangku kepentingan dalam upaya memerangi terorisme melalui pengelolaan berita yang positif dan konstruktif. Di sela-sela KTM OKI, Menlu RI telah melakukan 17 pertemuan, antara lain dengan Palestina, Pakistan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Tajkistan, Mesir, Qatar, Pantai Gading, Gambia, Kuwait, Bangladesh, Guinea, Suriname, Niger, Iran, Sekjen OKI, dan juga dengan Commissioner General dari UNRWA. Dalam berbagai pertemuan tersebut, selain peningkatan kerja sama bilateral juga secara khusus dibahas mengenai pencalonan Indonesia untuk Dewan Keamanan PBB, kerja sama teknis, serta upaya untuk meningkatkan mekanisme kerja OKI agar lebih transparan, demokratis, dan inklusif. [] (sumber: BDSP) Menlu Retno Marsudi dalam KTM ke-44 OKI bertema “Youth, Peace and Development in a World of Solidarity” di Abidjan, Pantai Gading (11/7). (foto: BDSP) Menlu: Nilai Perdamaian Harus Ditanamkan kepada Generasi Muda OKI
  24. 24. No. 107 tahun x Tgl. 15 juli - 14 Agustus 2017 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Direktorat Diplomasi Publik Jalan Taman Pejambon No. 6 Jakarta 10110 Telepon : 021-3813480 Faksimili : 021-3858035 Wamenlu RI: Keberagaman Indonesia Merupakan Aset Diplomasi Swasta di Tanah air. Wamenlu A.M. Fachir menyampaikan bahwa  Tema yang diangkat sangat relevan untuk dibahas dalam Sarasehan mengingat kondisi kebangsaan yang tengah kita alami. Wamenlu menyitir bahwa para founding fathers Indonesia telah menyadari sejak awal bahwa ke-bhinekaan adalah modal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kodrat bangsa kita adalah keberagaman,” ujar Wamenlu. Keberagaman di Indonesia dengan bermacam adat istiadat, bahasa, etnis, agama, hendaknya menjadikan kita semakin mempererat persatuan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dr.  A.M. Fachir membuka secara resmi Seminar Sarasehan “Keindonesiaan Kita” di Ruang Nusantara, Kementerian Luar Negeri RI (19/7). Seminar diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI dan HUT Kementerian Luar Negeri RI ke-72. Hadir para Pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kementerian Luar Negeri, para Duta Besar,  fungsional diplomat, lembaga think tank, serta mahasiswa- mahasiswi peminat hubungan Internasional dari beberapa Perguruan Tinggi Negeri dan dan kesatuan, bukan sebaliknya menimbulkan perpecahan. “Ke-bhinekaan kita sedang diuji,” ungkapnya. Pentingnya pemahaman akan nilai toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara oleh seluruh anak bangsa harus terus dipupuk dan ditumbuhkembangkan bersama,” imbuh Wamenlu Fachir. Keberagaman di tanah air telah menjadi aset diplomasi Indonesia dalam penyelenggaraan berbagai forum  internasional. Mengambil contoh Dialog Lintas Agama, Bali Demokrasi Forum (BDF),  Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) yang menjadi primadona dalam Diplomasi Publik. “Keberagaman Indonesia Merupakan Aset Diplomasi,” pungkasnya. Bertindak selaku moderator Duta Besar Bunyan Saptomo, dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Anhar Gonggong, Sejarawan, Dosen Sejarah Universitas Indonesia, Prof. Dr. Aleksius Jemadu, Pengamat Hubungan Internasional, Universitas Pelita Harapan, Dr. Siswo Pramono, Kepala BPPK Kementerian Luar Negeri. [] Diplomasitabloiddiplomasi.org tabloiddiplomasi@Kemlu.go.id @diplik_Kemluwww. Kemlu.go.id tabloid ​ Wamenlu, Dr.  A.M. Fachir buka Seminar Sarasehan “Keindonesiaan Kita” 

×