SlideShare a Scribd company logo

140 article text-232-1-10-20191229

Mochammad Jiva Agung Wicaksono

1 of 12
Download to read offline
Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101
Mochammad Jiva Agung Wicaksono
| 90
PERILAKU KUNCI PEMBELAJARAN EFEKTIF DALAM KONSEP
WAHYU MEMANDU ILMU (WMI)
Mochammad Jiva Agung Wicaksono
Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Email: jiva.uinsgd@gmail.com
Abstract: The concepts of modern education today are filled with the views of Western academics who in
fact are not Muslim. As Muslims we should ask at the same time test whether the understanding is in
accordance with what is desired by the teachings of Islam. The purpose of this paper is to examine the
harmony of understanding of effective learning as reviewed by Western experts with Islamic teachings
through the conceptual approach of Reaching Guiding Science. After analyzing, it can be concluded that
although it cannot yet fully accommodate the educational meanings contained in the sacred sources and
treasures of Islam, the understanding of effective learning understood by Western academics does not
conflict with the values of Islamic teachings.
Keywords: Revelation Guiding Science, Effective Learning, Key Behavior.
Abstrak: Konsep-konsep pendidikan modern hari ini dipenuhi dengan pandangan para akademisi Barat
yang notabenenya bukan beragama Islam. Sebagai umat Muslim kita pantas bertanya sekaligus menguji
apakah pemahaman tersebut telah sesuai dengan yang dikehendaki oleh ajaran Islam. Tujuan dari penulisan
ini ialah untuk menguji keselarasan pemahaman pembelajaran efektif sebagaimana yang dikaji oleh pakar
Barat dengan ajaran-ajaran Islam melalui pendekatan konsep Wahyu Memandu Ilmu. Setelah dianalisis,
dapat disimpulkan bahwa meskipun belum bisa menampung secara keseluruhan dari makna-makna
edukatif yang terkandung dalam sumber sakral dan khazanah Islam, pemahaman pembelajaran efektif yang
dipahami oleh akademisi Barat tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Kata Kunci: Wahyu Memandu Ilmu, Pembelajaran Efektif, Perilaku Kunci.
PENDAHULUAN
Idealnya seorang pendidik, demi ketercapaian tujuan pendidikan, memahami dan
menguasai konsep belajar sebagaimana yang diungkapkan oleh para pakar dan peneliti
pendidikan. Namun sepertinya fakta di lapangan menunjukkan bahwa mereka
memperlihatkan hal yang sebaliknya. Masih banyak guru di Indonesia yang tidak
memahami teori-teori (psikologi) pendidikan dan lebih nyaman mengajar sesuka hati.
Akibatnya mutu pendidikan di negeri kita masih dapat dikatakan rendah. Ini terbukti dari
hasil Ujian Kompetensi Guru (UKG) Nasional tahun 2018 yang hanya memperoleh nilai
rata-rata 53.02 dari skala 100. Skor ini bahkan berada di bawah standar kompetensi
minimal yang ditetapkan (Kemdikbud, 2018).
Jurnal As-Salam, Vol. 3 No. 3 September - Desember 2019
(Print ISSN 2528-1402, Online ISSN 2549-5593)
Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101
Mochammad Jiva Agung Wicaksono
| 91
Kalaupun ada guru yang dalam pemahaman dan praktiknya telah berkesesuaian
dengan teori-teori kependidikan, bagi penulis persoalannya tidak lantas selesai, sebab
sebagaimana yang telah diketahui bersama konsep-konsep ini mayoritas berasal dari
pandangan hidup (worldview) dan konstruk nilai para akademisi Barat yang cenderung
materialistik yang mana enggan untuk memasukkan nilai-nilai keagamaan ke dalamnya.
Tentu saja sikap ini sedikit-banyak berbeda dengan apa yang diyakini oleh umat Muslim
yang karena imannya tidak bisa melepaskan diri dan aktivitas berpikirnya dari sumber-
sumber keagamaan.
Berangkat dari isu ini UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sebagai salah satu
kampus berbasis keislaman, membuat dan menawarkan sebuah konsep integrasi antara
ilmu-ilmu Islam, yang datangnya dari sumber sakral dan peradaban Islam, dan ilmu
pengetahuan umum yang umumnya berasal dari para akademisi Barat. Ilmu-ilmu yang
disebut terakhir ini, yang tentunya tidak akan pernah dapat luput dari subjektivitas
primordial para penulisnya, perlu disesuaikan dengan prinsip-prinsip agama Islam
sehingga akidah umat Muslim tetap terjaga. Konsep tersebut diberi nama Wahyu
Memandu Ilmu (WMI).
Betapapun demikian, konsep WMI yang dibuat masih berupa bahan “mentah” yang
sifatnya general, sehingga para akademisi yang berkutat di ilmu-ilmu umum tersebut
perlu melakukan korelasi dan implikasi terhadapnya. Dengan demikian WMI berfungsi
sebagai alat atau pisau analisis bagi ilmu-ilmu yang akan dikaji. Dari sini penulis tertarik
untuk membahas seputar efektivitas pembelajaran menurut pakar pendidikan Barat yang
kemudian dianalisis menggunakan pendekatan WMI dalam buku Trilogi Wahyu
Memandu Ilmu yang disusun oleh para dosen UIN SGD Bandung. (Tim Konsorsium
Keilmuan WMI, 2018: 11). Kajian ini akan memudahkan para praktisi pendidikan (guru),
khususnya yang beragama Islam, untuk tetap berada dalam haluan ajaran Islam ketika
melakukan kegiatan pembelajaran apa pun.
LANDASAN TEORI
Wahyu Memandu Ilmu
Menurut Natsir konsep WMI telah dijadikan sebagai dasar penyusunan visi UIN
Sunan Gunung Djati Bandung sejak tahun 2008 silam, dan tujuh tahun kemudian secara
redaksional menjadi bagian yang tak terpisahkan dari visinya (Natsir, 2008, dalam
Samedi, 2019: 59-69). Dikatakan bahwa visi ini bertujuan untuk menjadikan wahyu
Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101
Mochammad Jiva Agung Wicaksono
| 92
sebagai pemandu dalam pengembangan keilmuan dan kependidikan disana sehingga
pembelajar terhindar dari pemisahan secara tegas (dikotomi) antara ilmu agama dan ilmu
umum dalam segala proses pembelajarannya, dan memahami bahwa segala ilmu pada
dasarya berasal dari Allah (Natsir, 2008; Samedi, 2019: 61).
Di dalam Buku Saku Wahyu Memandu Ilmu dinyatakan bahwa tiga kata ini (wahyu,
memandu, ilmu) bersifat genus/genera sebab ketiganya perlu dimaknai sebagai nama
pertama yang diikuti oleh nama kedua sebagai spesiesnya. Sebagai contoh, redaksi kata
wahyu perlu disandingkan dengan kata Alquran atau hadis sehingga memiliki makna
yang jelas dan spesifik, begitu pula dengan redaksi kata memandu dan ilmu (Tim
Konsorsium Keilmuan WMI, 2018).
Lebih lanjut diungkapkan bahwa konsep ini secara historis merupakan hasil galian
keilmuan Islam pada masa keemasan (era dinasti Abbasiyah) yang ditengarai tidak
sporadis, malah non dikotomis dan ensiklopedis, suatu konsep yang dapat dijadikan
sebagai alternatif spirit keilmuan baru umat Islam. Secara garis besar, konsep Wahyu
Memandu Ilmu didekati melalui empat dimensi: metaforis, filosofis, sufistik (piramida),
dan saintifik (gerak pendulum).
Untuk pendekatan metaforis di sini maksudnya ialah sebuah upaya penggambaran
sesuatu menggunakan sesuatu yang lainnya. Untuk konsep WMI, metaforanya adalah
roda sehingga disebut Metafora Roda Wahyu Memandu Ilmu (MR-WMI). Masing-
masing dari bagian roda (poros, pelak, ban) memiliki makna metaforisnya masing-
masing. Seperti bagian poros (hub) melambangkan pusat akidah, syariat, dan akhlak yang
terangkum dalam seluruh wahyu Allah, baik yang bersifat Quraniyah maupun Kauniyah.
Kemudian pelak roda (velg) yang terhubung dengan bagian poros oleh jeruji-jeruji
melambangkan rumpun disiplin ilmu yang terus berkembang. Adapun ban
melambangkan pengendalian dan ilmu sebagai penyalur energi yang berguna dalam
kehidupan melalui amal saleh (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018: 2-3).
Kemudian adalah pendekatan filosofis yang terbagi ke dalam tiga bagian besar
yakni ontologis-WMI, epistemologis-WMI, dan aksiologis-WMI. Sederhananya, di
dalam kerangka epistemologi ilmu-ilmu Islam (Islamic Studies) dijadikan sebagai
pemandu ilmu umum; akidah, akhlak, dan syariat, atau yang disebut sebagai sains
tauhidullah sebagai basis ontologisnya; serta amal saleh dan akhlak mulia sebagai basis
aksiologinya (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018: 5-10).
Mengenai pendekatan sufistik, diungkapkan bahwa pada dasarnya berpegang pada
prinsip “semua jalan menuju Tuhan.” Pendekatan ini dapat dibagi menjadi dua piramida:
Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101
Mochammad Jiva Agung Wicaksono
| 93
tegak dan terbalik. Jika di piramida tegak ilmu, iman, dan amal saleh terletak di posisi
terbawah, kemudian mengerucut ke ilmu dan teknologi, dan berakhir di wahyu, piramida
terbalik mengerucutkan ilmu, iman, dan amal saleh (Tim Konsorsium Keilmuan WMI,
2018: 11-17). Yang terakhir, di pendekatan saintifik, ilmu agama tidak lagi dijadikan
sebagai hanya salah satu kajian dari sekian banyak disiplin ilmu, namun telah dijadikan
sebagai payung besar ilmu-ilmu umum. Dari sini pada akhirnya dapat dikatakan bahwa
ilmu-ilmu agama Islam berposisi sebagai titik tumbu pendulum, jika dianalogikan dengan
teori pendulum, dan bukan sekadar bandul. Secara praktis produknya sudah banyak
dikembangkan, seperti Filsafat Islam, Hukum Islam, Pendidikan Islam, dan lain
sebagainya (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018: 17-23).
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan
menggunakan metode deskriptif analitis. Penulis memanfaatkan teknik pengumpulan data
melalui studi kepustakaan untuk mengorelasikan konsep perilaku kunci dalam
pembelajaran efektif dengan memakai analisis Wahyu Memandu Ilmu. Kajian pustaka
adalah metode pengumpulan data yang diarahkan dengan pencarian data dan informasi
melalui dokumen, baik dokumen tertulis, foto, gambar, artikel konseptual yang relevan,
hasil penelitian terdahulu, peraturan, kebijakan-kebijakan, teori-teori dari berbagai buku
teks, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam proses penulisan
(Sugiyono, 2014).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembelajaran efektif menjadi sebuah pembahasan hangat di kalangan pemerhati
pendidikan modern. Ciri khas utama dari pendekatan pembelajaran efektif ini ialah
kefokusannya pada pola pengajaran guru di kelas dan korelasinya (dampak) terhadap
siswa. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dikumpulkan oleh Nell J. Salkind, salah
seorang pakar Psikologi Pendidikan kontemporer, ditemukanlah setidaknya sepuluh
perilaku guru yang menunjukkan korelasi kuat dengan kinerja siswa yang diharapkan,
terutama yang diukur dengan penilaian kelas dan tes standar. Lima perilaku yang pertama
disebut perilaku kunci (key behaviors) karena dianggap penting untuk pengajaran yang
efektif dan menurut Salkind telah secara konsisten didukung oleh studi penelitian selama
tiga dekade terakhir, di antaranya ialah (1) kejelasan pengajaran; (2) variasi pengajaran;
Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101
Mochammad Jiva Agung Wicaksono
| 94
(3) orientasi tugas guru; (4) keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran; dan (5) tingkat
keberhasilan siswa. Sedangkan untuk lima perilaku sisanya (menggunakan ide-ide dan
kontribusi siswa, penataan, tanya-jawab, penyelidikan, dampak guru dan hubungan guru-
siswa) telah mendapat dukungan dari temuan penelitian dan secara logis terkait dengan
pembelajaran efektif, dan berguna sebagai kombinasi untuk menerapkan perilaku kunci
(Salkind, 2008: 321).
1. Kejelasan Pengajaran (Lesson Clarity)
Perilaku ini berkaitan dengan seberapa jelas presentasi guru di dalam kelas
yang diindikasikan dengan: (a) bisa mengutarakan dengan jelas poin-poin yang
disampaikan kepada siswa yang mungkin memiliki level pemahaman yang variatif;
(b) bisa menjelaskan konsep yang dapat membantu siswa mengikuti secara logis-
sistematis langkah demi langkah; (c) ada penyampaian oral secara langsung, dapat
didengar oleh semua siswa, dan terbebas dari segala macam gangguan.
2. Variasi Pengajaran (Instructional Variety)
Maksudnya adalah kemampuan dalam menyampaian pengajaran secara
variatif atau fleksibel. Bagi Salkind, salah satu cara efektif dalam menciptakan variasi
pengajaran adalah dengan melemparkan pertanyaan. Oleh karena itu, guru yang
efektif sudah semestinya mengetahui seni melempar pertanyaan ini dalam beragam
format pertanyaan, seperti pertanyaan faktual, pertanyaan prosedural/proses, dan lain
sebagainya. Aspek lain dari variasi pengajaran dapat juga diterapkan di dalam
penggunaan material, perlengkapan-perlengkapan, tampilan (display), dan ruang
tertentu di dalam kelas. Penerapan ini pada akhirnya akan menarik siswa terlibat
dalam segala proses pembelajaran dan prestasinya dalam ujian semester.
Senada dengan pandangan ini, Henson dan Eller mengatakan bahwa memang
pengajaran yang efektif itu bersifat kontekstual, maksudnya kesuksesan tersebut amat
tergantung pada situasi yang sedang berlangsung, dan guru harus dapat menyesuaikan
pendekatan (pengajarannya) pada setiap kelas yang diajar (Henson, K & Eller, B,
2012:11-12).
3. Orientasi Tugas Guru (Teacher Task Orientation)
Orientasi tugas guru adalah perilaku kunci yang mengacu pada berapa banyak
waktu kelas yang dikhususkan guru untuk tugas mengajar mata pelajaran akademik.
Semakin banyak waktu yang dialokasikan untuk tugas mengajarkan suatu topik
tertentu, semakin besar kesempatan yang harus dipelajari siswa. Beberapa hal yang
perlu dipertimbangkan adalah: (a) berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk
Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101
Mochammad Jiva Agung Wicaksono
| 95
merencanakan mengajar dan menyiapkan siswa untuk belajar? (b) berapa banyak
waktu yang dihabiskan untuk presentasi, mengajukan pertanyaan, dan mendorong
siswa untuk bertanya atau berpikir secara mandiri? (c) berapa banyak waktu yang
dihabiskan untuk menilai kinerja siswa?
4. Keterlibatan Siswa dalam Proses Pembelajaran
Ini merupakan tugas penting seorang guru, yakni bagaimana dia bisa
melakukan upaya pengondisian kelas yang aktif sehingga seluruh siswa dapat terlibat
dalam kegiatan pembelajaran. Salkind menyuguhkan beberapa saran dari para peneliti
agar siswa dapat terlibat secara aktif di kelas, di antaranya: (a) buat aturan yang
membolehkan siswa untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan
personal dan rutinitas kerja tanpa wajib meminta izin setiap waktu, (b) melakukan
rolling kelas atau bangku untuk memonitor kursi siswa dan untuk mengomunikasikan
kesadaran akan progress siswa, (c) pastikan bahwa tugas mandiri itu menarik,
berharga, dan cukup mudah untuk diselesaikan oleh setiap siswa tanpa arahan guru,
(d) minimalkan kegiatan yang menghabiskan waktu, seperti memberikan arahan dan
mengatur kelas untuk pengajaran, dengan menulis jadwal harian di papan tulis. Ini
akan memastikan bahwa siswa tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus
dilakukan, (e) manfaatkan sumber daya dan aktivitas yang ada pada, atau sedikit di
atas, tingkat pemahaman siswa saat ini, (f) hindari kesalahan waktu. Bertindak segera
untuk mencegah perilaku buruk terjadi atau meningkatkan keparahan sehingga tidak
mempengaruhi orang lain di kelas (Salkind, 2008).
5. Tingkat Keberhasilan Siswa
Ini mengacu pada tingkat di mana siswa memahami dan menyelesaikan soal-
soal latihan dan tugas dengan benar. Aspek penting dari penelitian yang dikutip
sebelumnya tentang orientasi tugas dan keterlibatan siswa adalah tingkat kesulitan
materi yang disajikan. Dalam studi ini, tingkat kesulitan diukur dengan tingkat di
mana siswa memahami dan menjawab pertanyaan dengan benar pada tes, latihan, dan
tugas. Para peneliti mengungkapkan bahwa tingkat keterlibatan siswa di dalam kelas
akan memiliki keselarasan dengan keberhasilan mereka di dalam ujian.
Moreno, setelah menganalisis pandangan para ahli, mencoba untuk
menggunakan bahasa dan pengklasifikasian yang berbeda namun memiliki banyak
irisan dengan apa yang dibahas oleh Salkind. Di dalam bukunya yang berjudul
Educational Psychology dia mengungkapkan bahwa ada dua kemampuan yang perlu

Recommended

Silmi kap nur hapiz 1192010170 uas filsafat_mpi-4_d
Silmi kap nur hapiz 1192010170 uas filsafat_mpi-4_dSilmi kap nur hapiz 1192010170 uas filsafat_mpi-4_d
Silmi kap nur hapiz 1192010170 uas filsafat_mpi-4_dSilmiKapNurHapiz
 
REKOMENDASI GAGASAN NEO-SUTARTO UNTUK UNIVERSITAS SRIWIJAYA (Respon Terhadap ...
REKOMENDASI GAGASAN NEO-SUTARTO UNTUK UNIVERSITAS SRIWIJAYA (Respon Terhadap ...REKOMENDASI GAGASAN NEO-SUTARTO UNTUK UNIVERSITAS SRIWIJAYA (Respon Terhadap ...
REKOMENDASI GAGASAN NEO-SUTARTO UNTUK UNIVERSITAS SRIWIJAYA (Respon Terhadap ...Arafah Pramasto, S.Pd.
 
Hakikat metode pendidikan islam
Hakikat metode pendidikan islamHakikat metode pendidikan islam
Hakikat metode pendidikan islamMiftahul Fikriyah
 
SAP PENGANTAR STUDI ISLAM byhq PERBAIKAN
SAP PENGANTAR STUDI ISLAM byhq PERBAIKANSAP PENGANTAR STUDI ISLAM byhq PERBAIKAN
SAP PENGANTAR STUDI ISLAM byhq PERBAIKANByhq Haque
 
Pengertian Psi ( pengantar studi islam )
Pengertian Psi ( pengantar studi islam )Pengertian Psi ( pengantar studi islam )
Pengertian Psi ( pengantar studi islam )Maulana Arief
 
Buku panduan metodologi studi islam
Buku panduan metodologi studi islamBuku panduan metodologi studi islam
Buku panduan metodologi studi islamAli Rif'an
 
Ilmu pendidikan islam I
Ilmu pendidikan islam IIlmu pendidikan islam I
Ilmu pendidikan islam IFauzi Din
 

More Related Content

What's hot

Pendekatan dalam pendidikan islam pendekatan berarti proses
Pendekatan dalam pendidikan islam pendekatan berarti prosesPendekatan dalam pendidikan islam pendekatan berarti proses
Pendekatan dalam pendidikan islam pendekatan berarti prosesarfiankurniawan22
 
INTEGRASI ILMU DAN AGAMA
INTEGRASI ILMU DAN AGAMAINTEGRASI ILMU DAN AGAMA
INTEGRASI ILMU DAN AGAMARidwan M. Said
 
Makalah pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
Makalah pendekatan dan metode dalam pendidikan islamMakalah pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
Makalah pendekatan dan metode dalam pendidikan islamShinta Ari Herdiana
 
Persentasi pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
Persentasi pendekatan dan metode dalam pendidikan islamPersentasi pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
Persentasi pendekatan dan metode dalam pendidikan islamShinta Ari Herdiana
 
Konsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis Pendidikan
Konsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis PendidikanKonsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis Pendidikan
Konsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis PendidikanDjadja Sardjana
 
Filsafat pendidikan islam
Filsafat pendidikan islamFilsafat pendidikan islam
Filsafat pendidikan islamyuandakusuma
 
Studi Islam Paradigma Komprehensif
Studi Islam Paradigma KomprehensifStudi Islam Paradigma Komprehensif
Studi Islam Paradigma KomprehensifKomunitas Islam
 
Strategi pembelajaran kooperatif pak agus copy
Strategi pembelajaran kooperatif pak agus   copyStrategi pembelajaran kooperatif pak agus   copy
Strategi pembelajaran kooperatif pak agus copyanida juita
 
Epistemologi kurikulum 2013_pasca_sarjan
Epistemologi kurikulum 2013_pasca_sarjanEpistemologi kurikulum 2013_pasca_sarjan
Epistemologi kurikulum 2013_pasca_sarjanMaman Med
 
Landasan Pendidikan
Landasan PendidikanLandasan Pendidikan
Landasan Pendidikanarsenius eda
 
Materi perkuliahan ttm ke 3
Materi perkuliahan ttm ke 3Materi perkuliahan ttm ke 3
Materi perkuliahan ttm ke 3MAHAMERUSOLO
 
Pendidikan falsafah islam dan timur
Pendidikan falsafah islam dan timurPendidikan falsafah islam dan timur
Pendidikan falsafah islam dan timurAna Roshila
 

What's hot (20)

Pendekatan dalam pendidikan islam pendekatan berarti proses
Pendekatan dalam pendidikan islam pendekatan berarti prosesPendekatan dalam pendidikan islam pendekatan berarti proses
Pendekatan dalam pendidikan islam pendekatan berarti proses
 
INTEGRASI ILMU DAN AGAMA
INTEGRASI ILMU DAN AGAMAINTEGRASI ILMU DAN AGAMA
INTEGRASI ILMU DAN AGAMA
 
Makalah pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
Makalah pendekatan dan metode dalam pendidikan islamMakalah pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
Makalah pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
 
klasifikasi ilmu dakwah
klasifikasi ilmu dakwahklasifikasi ilmu dakwah
klasifikasi ilmu dakwah
 
Revisi pid klmpk 12
Revisi pid klmpk 12Revisi pid klmpk 12
Revisi pid klmpk 12
 
Persentasi pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
Persentasi pendekatan dan metode dalam pendidikan islamPersentasi pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
Persentasi pendekatan dan metode dalam pendidikan islam
 
Dasar teori pendidikan
Dasar teori pendidikanDasar teori pendidikan
Dasar teori pendidikan
 
Konsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis Pendidikan
Konsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis PendidikanKonsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis Pendidikan
Konsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis Pendidikan
 
Filsafat pendidikan islam
Filsafat pendidikan islamFilsafat pendidikan islam
Filsafat pendidikan islam
 
metode keilmuan dakwah
 metode keilmuan dakwah metode keilmuan dakwah
metode keilmuan dakwah
 
Studi Islam Paradigma Komprehensif
Studi Islam Paradigma KomprehensifStudi Islam Paradigma Komprehensif
Studi Islam Paradigma Komprehensif
 
Propektifnn
PropektifnnPropektifnn
Propektifnn
 
Tugas Rye
Tugas RyeTugas Rye
Tugas Rye
 
Strategi pembelajaran kooperatif pak agus copy
Strategi pembelajaran kooperatif pak agus   copyStrategi pembelajaran kooperatif pak agus   copy
Strategi pembelajaran kooperatif pak agus copy
 
Tinjauan filosofis tentang pendidik
Tinjauan filosofis tentang pendidikTinjauan filosofis tentang pendidik
Tinjauan filosofis tentang pendidik
 
Pembentangan falsafah:)
Pembentangan falsafah:)Pembentangan falsafah:)
Pembentangan falsafah:)
 
Epistemologi kurikulum 2013_pasca_sarjan
Epistemologi kurikulum 2013_pasca_sarjanEpistemologi kurikulum 2013_pasca_sarjan
Epistemologi kurikulum 2013_pasca_sarjan
 
Landasan Pendidikan
Landasan PendidikanLandasan Pendidikan
Landasan Pendidikan
 
Materi perkuliahan ttm ke 3
Materi perkuliahan ttm ke 3Materi perkuliahan ttm ke 3
Materi perkuliahan ttm ke 3
 
Pendidikan falsafah islam dan timur
Pendidikan falsafah islam dan timurPendidikan falsafah islam dan timur
Pendidikan falsafah islam dan timur
 

Similar to 140 article text-232-1-10-20191229

RIZKY ARMANDA
RIZKY ARMANDARIZKY ARMANDA
RIZKY ARMANDASafitri
 
tugas filsafat (.docx
tugas filsafat (.docxtugas filsafat (.docx
tugas filsafat (.docxHimmatulfata
 
Resensi Artikel Jurnal Pendidikan Agama islam
Resensi Artikel Jurnal Pendidikan Agama islamResensi Artikel Jurnal Pendidikan Agama islam
Resensi Artikel Jurnal Pendidikan Agama islamSafitri
 
tugas filsafat (1).docx
tugas filsafat (1).docxtugas filsafat (1).docx
tugas filsafat (1).docxRaihanFahira2
 
tugas filsafat hakikat kurikulum pendidikan islam
tugas filsafat  hakikat kurikulum pendidikan islamtugas filsafat  hakikat kurikulum pendidikan islam
tugas filsafat hakikat kurikulum pendidikan islamShafaraFaiza
 
hakikat kurikulum dalam islam
hakikat kurikulum dalam islamhakikat kurikulum dalam islam
hakikat kurikulum dalam islamShafaraFaiza
 
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.pdf
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.pdfHadist Pendekatan Pendidikan Islam.pdf
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.pdfZukét Printing
 
1. Pengantar Perkuliahan.pptx
1. Pengantar Perkuliahan.pptx1. Pengantar Perkuliahan.pptx
1. Pengantar Perkuliahan.pptxabdulwafi59
 
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMFILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMNurul Safiqa
 
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.docx
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.docxFILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.docx
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.docxAnnisaFajri3
 
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.docx
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.docxHadist Pendekatan Pendidikan Islam.docx
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.docxZukét Printing
 
Jurnal Ilmiah Pesantren Vol 3 No 2 Juli 2017
Jurnal Ilmiah Pesantren Vol 3 No 2 Juli 2017Jurnal Ilmiah Pesantren Vol 3 No 2 Juli 2017
Jurnal Ilmiah Pesantren Vol 3 No 2 Juli 2017jurnal ilmiah
 
Konsep pendidikan islam
Konsep pendidikan islamKonsep pendidikan islam
Konsep pendidikan islamASIMAH SAAT
 
Pengertian Tujuan dan Ruang Lingkup filsafat pendidikan Islam
Pengertian Tujuan dan Ruang Lingkup  filsafat pendidikan Islam Pengertian Tujuan dan Ruang Lingkup  filsafat pendidikan Islam
Pengertian Tujuan dan Ruang Lingkup filsafat pendidikan Islam Ikram ishadila (202127050)
 
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.docx
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.docxpaper mk filsafat pendidikan kelompok 1.docx
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.docxALABDALI2
 
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.pdf
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.pdfpaper mk filsafat pendidikan kelompok 1.pdf
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.pdfirnayunita2
 
Rekonstruksi pendidikan islam_di_indonesia
Rekonstruksi pendidikan islam_di_indonesiaRekonstruksi pendidikan islam_di_indonesia
Rekonstruksi pendidikan islam_di_indonesiaAveroez Averoez
 
Manajemen pendidikan-islam deden-makbuloh- erita tri yustinianigsih
Manajemen pendidikan-islam deden-makbuloh- erita tri yustinianigsihManajemen pendidikan-islam deden-makbuloh- erita tri yustinianigsih
Manajemen pendidikan-islam deden-makbuloh- erita tri yustinianigsihmahmudi moedy
 
Hakikat Pendidik dalam Islam
Hakikat Pendidik dalam IslamHakikat Pendidik dalam Islam
Hakikat Pendidik dalam IslamRizkyAdeaulia
 

Similar to 140 article text-232-1-10-20191229 (20)

RIZKY ARMANDA
RIZKY ARMANDARIZKY ARMANDA
RIZKY ARMANDA
 
tugas filsafat (.docx
tugas filsafat (.docxtugas filsafat (.docx
tugas filsafat (.docx
 
Tugas resume buku ilmu pendidikan islam
Tugas resume buku ilmu pendidikan islamTugas resume buku ilmu pendidikan islam
Tugas resume buku ilmu pendidikan islam
 
Resensi Artikel Jurnal Pendidikan Agama islam
Resensi Artikel Jurnal Pendidikan Agama islamResensi Artikel Jurnal Pendidikan Agama islam
Resensi Artikel Jurnal Pendidikan Agama islam
 
tugas filsafat (1).docx
tugas filsafat (1).docxtugas filsafat (1).docx
tugas filsafat (1).docx
 
tugas filsafat hakikat kurikulum pendidikan islam
tugas filsafat  hakikat kurikulum pendidikan islamtugas filsafat  hakikat kurikulum pendidikan islam
tugas filsafat hakikat kurikulum pendidikan islam
 
hakikat kurikulum dalam islam
hakikat kurikulum dalam islamhakikat kurikulum dalam islam
hakikat kurikulum dalam islam
 
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.pdf
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.pdfHadist Pendekatan Pendidikan Islam.pdf
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.pdf
 
1. Pengantar Perkuliahan.pptx
1. Pengantar Perkuliahan.pptx1. Pengantar Perkuliahan.pptx
1. Pengantar Perkuliahan.pptx
 
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMFILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
 
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.docx
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.docxFILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.docx
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.docx
 
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.docx
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.docxHadist Pendekatan Pendidikan Islam.docx
Hadist Pendekatan Pendidikan Islam.docx
 
Jurnal Ilmiah Pesantren Vol 3 No 2 Juli 2017
Jurnal Ilmiah Pesantren Vol 3 No 2 Juli 2017Jurnal Ilmiah Pesantren Vol 3 No 2 Juli 2017
Jurnal Ilmiah Pesantren Vol 3 No 2 Juli 2017
 
Konsep pendidikan islam
Konsep pendidikan islamKonsep pendidikan islam
Konsep pendidikan islam
 
Pengertian Tujuan dan Ruang Lingkup filsafat pendidikan Islam
Pengertian Tujuan dan Ruang Lingkup  filsafat pendidikan Islam Pengertian Tujuan dan Ruang Lingkup  filsafat pendidikan Islam
Pengertian Tujuan dan Ruang Lingkup filsafat pendidikan Islam
 
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.docx
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.docxpaper mk filsafat pendidikan kelompok 1.docx
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.docx
 
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.pdf
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.pdfpaper mk filsafat pendidikan kelompok 1.pdf
paper mk filsafat pendidikan kelompok 1.pdf
 
Rekonstruksi pendidikan islam_di_indonesia
Rekonstruksi pendidikan islam_di_indonesiaRekonstruksi pendidikan islam_di_indonesia
Rekonstruksi pendidikan islam_di_indonesia
 
Manajemen pendidikan-islam deden-makbuloh- erita tri yustinianigsih
Manajemen pendidikan-islam deden-makbuloh- erita tri yustinianigsihManajemen pendidikan-islam deden-makbuloh- erita tri yustinianigsih
Manajemen pendidikan-islam deden-makbuloh- erita tri yustinianigsih
 
Hakikat Pendidik dalam Islam
Hakikat Pendidik dalam IslamHakikat Pendidik dalam Islam
Hakikat Pendidik dalam Islam
 

Recently uploaded

Calon Penelaah Aksi Nyata Sejawat Batch 2.pdf
Calon Penelaah Aksi Nyata Sejawat Batch 2.pdfCalon Penelaah Aksi Nyata Sejawat Batch 2.pdf
Calon Penelaah Aksi Nyata Sejawat Batch 2.pdfIwanSumantri7
 
PPT - Ruang Kolaborasi 3.2 Angkatan 9 - Sesi 1.pdf
PPT - Ruang Kolaborasi 3.2 Angkatan 9 - Sesi 1.pdfPPT - Ruang Kolaborasi 3.2 Angkatan 9 - Sesi 1.pdf
PPT - Ruang Kolaborasi 3.2 Angkatan 9 - Sesi 1.pdfAGUSWACHID4
 
Strategi Perbaikan Proses Bisnis + Business Process Reengineering (BPR) _Pel...
Strategi Perbaikan Proses Bisnis + Business Process Reengineering (BPR)  _Pel...Strategi Perbaikan Proses Bisnis + Business Process Reengineering (BPR)  _Pel...
Strategi Perbaikan Proses Bisnis + Business Process Reengineering (BPR) _Pel...Kanaidi ken
 
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdfModul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdfricky987142
 
Kegiatan Asosiasi Guru Penulis PGRI.pptx
Kegiatan Asosiasi Guru Penulis PGRI.pptxKegiatan Asosiasi Guru Penulis PGRI.pptx
Kegiatan Asosiasi Guru Penulis PGRI.pptxRaimundus Prasetyawan
 
Refleksi dengan model W3 ( What, So What dan Now What)
Refleksi dengan model W3 ( What, So What dan Now What)Refleksi dengan model W3 ( What, So What dan Now What)
Refleksi dengan model W3 ( What, So What dan Now What)CahyadiWahyono
 
bab 5 konektivitas antar ruang dan waktu-1.pptx
bab 5 konektivitas antar ruang dan waktu-1.pptxbab 5 konektivitas antar ruang dan waktu-1.pptx
bab 5 konektivitas antar ruang dan waktu-1.pptxNurulyDybala1
 
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Fase D Bab 5 Jati Diri Bangsa Dan Bud...
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Fase D Bab 5 Jati Diri Bangsa Dan Bud...Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Fase D Bab 5 Jati Diri Bangsa Dan Bud...
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Fase D Bab 5 Jati Diri Bangsa Dan Bud...Abdiera
 
Suku Bare'e (Baree) di Sulawesi Bagian Tengah
Suku Bare'e (Baree) di Sulawesi Bagian TengahSuku Bare'e (Baree) di Sulawesi Bagian Tengah
Suku Bare'e (Baree) di Sulawesi Bagian TengahPejuangKeadilan2
 
PPT PERSIAPAN OBSERVASI (MODUL AJAR).pptx
PPT PERSIAPAN OBSERVASI (MODUL AJAR).pptxPPT PERSIAPAN OBSERVASI (MODUL AJAR).pptx
PPT PERSIAPAN OBSERVASI (MODUL AJAR).pptximamasyari24
 
STUNTING SEDERHANA. Pengertian Stunting, ciri, ciri, gejala(penyebab), pengob...
STUNTING SEDERHANA. Pengertian Stunting, ciri, ciri, gejala(penyebab), pengob...STUNTING SEDERHANA. Pengertian Stunting, ciri, ciri, gejala(penyebab), pengob...
STUNTING SEDERHANA. Pengertian Stunting, ciri, ciri, gejala(penyebab), pengob...SantiKartini1
 
PPT OPTIMALISASI KOMUNITAS BELAJAR .pptx
PPT  OPTIMALISASI KOMUNITAS BELAJAR .pptxPPT  OPTIMALISASI KOMUNITAS BELAJAR .pptx
PPT OPTIMALISASI KOMUNITAS BELAJAR .pptxAhmadMuzaniMPdI
 
Pentaksiran Praktikal (Project) Cg Afifah (1) KUMPULAN.pptx
Pentaksiran Praktikal (Project) Cg Afifah (1) KUMPULAN.pptxPentaksiran Praktikal (Project) Cg Afifah (1) KUMPULAN.pptx
Pentaksiran Praktikal (Project) Cg Afifah (1) KUMPULAN.pptxNursyahirsyahmiSyahi
 
Teks Terjemahan Website Desa Wisata Melung.pdf
Teks Terjemahan Website Desa Wisata Melung.pdfTeks Terjemahan Website Desa Wisata Melung.pdf
Teks Terjemahan Website Desa Wisata Melung.pdfKangMargino
 
ppt-hindari-ghibah-lakukan-tabayun-ikm-kelas-7-bab-8.pptx
ppt-hindari-ghibah-lakukan-tabayun-ikm-kelas-7-bab-8.pptxppt-hindari-ghibah-lakukan-tabayun-ikm-kelas-7-bab-8.pptx
ppt-hindari-ghibah-lakukan-tabayun-ikm-kelas-7-bab-8.pptxAgusRahmat39
 
Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1.pptx
Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1.pptxTugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1.pptx
Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1.pptxlaodesupriono1
 
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1.pdf-MAS'UDIN MUH. JINAN-SGP ANGKATAN-9_SMP ...
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1.pdf-MAS'UDIN MUH. JINAN-SGP ANGKATAN-9_SMP ...DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1.pdf-MAS'UDIN MUH. JINAN-SGP ANGKATAN-9_SMP ...
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1.pdf-MAS'UDIN MUH. JINAN-SGP ANGKATAN-9_SMP ...MasudinMuhJinan
 
PKM-dlm-Pembelajaran.ppt dan yang lain sebagaimana
PKM-dlm-Pembelajaran.ppt dan yang lain sebagaimanaPKM-dlm-Pembelajaran.ppt dan yang lain sebagaimana
PKM-dlm-Pembelajaran.ppt dan yang lain sebagaimanaAdrianLopez621575
 
Kamus Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal woordenboek), Indonesia - Bare'e
Kamus Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal woordenboek), Indonesia - Bare'eKamus Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal woordenboek), Indonesia - Bare'e
Kamus Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal woordenboek), Indonesia - Bare'ePejuangKeadilan2
 
FORMULIR PERENCANAAN OBSERVASI KELAS.docx
FORMULIR PERENCANAAN OBSERVASI KELAS.docxFORMULIR PERENCANAAN OBSERVASI KELAS.docx
FORMULIR PERENCANAAN OBSERVASI KELAS.docxRamadhaniRamadhani23
 

Recently uploaded (20)

Calon Penelaah Aksi Nyata Sejawat Batch 2.pdf
Calon Penelaah Aksi Nyata Sejawat Batch 2.pdfCalon Penelaah Aksi Nyata Sejawat Batch 2.pdf
Calon Penelaah Aksi Nyata Sejawat Batch 2.pdf
 
PPT - Ruang Kolaborasi 3.2 Angkatan 9 - Sesi 1.pdf
PPT - Ruang Kolaborasi 3.2 Angkatan 9 - Sesi 1.pdfPPT - Ruang Kolaborasi 3.2 Angkatan 9 - Sesi 1.pdf
PPT - Ruang Kolaborasi 3.2 Angkatan 9 - Sesi 1.pdf
 
Strategi Perbaikan Proses Bisnis + Business Process Reengineering (BPR) _Pel...
Strategi Perbaikan Proses Bisnis + Business Process Reengineering (BPR)  _Pel...Strategi Perbaikan Proses Bisnis + Business Process Reengineering (BPR)  _Pel...
Strategi Perbaikan Proses Bisnis + Business Process Reengineering (BPR) _Pel...
 
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdfModul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya - Final.pdf
 
Kegiatan Asosiasi Guru Penulis PGRI.pptx
Kegiatan Asosiasi Guru Penulis PGRI.pptxKegiatan Asosiasi Guru Penulis PGRI.pptx
Kegiatan Asosiasi Guru Penulis PGRI.pptx
 
Refleksi dengan model W3 ( What, So What dan Now What)
Refleksi dengan model W3 ( What, So What dan Now What)Refleksi dengan model W3 ( What, So What dan Now What)
Refleksi dengan model W3 ( What, So What dan Now What)
 
bab 5 konektivitas antar ruang dan waktu-1.pptx
bab 5 konektivitas antar ruang dan waktu-1.pptxbab 5 konektivitas antar ruang dan waktu-1.pptx
bab 5 konektivitas antar ruang dan waktu-1.pptx
 
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Fase D Bab 5 Jati Diri Bangsa Dan Bud...
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Fase D Bab 5 Jati Diri Bangsa Dan Bud...Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Fase D Bab 5 Jati Diri Bangsa Dan Bud...
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Fase D Bab 5 Jati Diri Bangsa Dan Bud...
 
Suku Bare'e (Baree) di Sulawesi Bagian Tengah
Suku Bare'e (Baree) di Sulawesi Bagian TengahSuku Bare'e (Baree) di Sulawesi Bagian Tengah
Suku Bare'e (Baree) di Sulawesi Bagian Tengah
 
PPT PERSIAPAN OBSERVASI (MODUL AJAR).pptx
PPT PERSIAPAN OBSERVASI (MODUL AJAR).pptxPPT PERSIAPAN OBSERVASI (MODUL AJAR).pptx
PPT PERSIAPAN OBSERVASI (MODUL AJAR).pptx
 
STUNTING SEDERHANA. Pengertian Stunting, ciri, ciri, gejala(penyebab), pengob...
STUNTING SEDERHANA. Pengertian Stunting, ciri, ciri, gejala(penyebab), pengob...STUNTING SEDERHANA. Pengertian Stunting, ciri, ciri, gejala(penyebab), pengob...
STUNTING SEDERHANA. Pengertian Stunting, ciri, ciri, gejala(penyebab), pengob...
 
PPT OPTIMALISASI KOMUNITAS BELAJAR .pptx
PPT  OPTIMALISASI KOMUNITAS BELAJAR .pptxPPT  OPTIMALISASI KOMUNITAS BELAJAR .pptx
PPT OPTIMALISASI KOMUNITAS BELAJAR .pptx
 
Pentaksiran Praktikal (Project) Cg Afifah (1) KUMPULAN.pptx
Pentaksiran Praktikal (Project) Cg Afifah (1) KUMPULAN.pptxPentaksiran Praktikal (Project) Cg Afifah (1) KUMPULAN.pptx
Pentaksiran Praktikal (Project) Cg Afifah (1) KUMPULAN.pptx
 
Teks Terjemahan Website Desa Wisata Melung.pdf
Teks Terjemahan Website Desa Wisata Melung.pdfTeks Terjemahan Website Desa Wisata Melung.pdf
Teks Terjemahan Website Desa Wisata Melung.pdf
 
ppt-hindari-ghibah-lakukan-tabayun-ikm-kelas-7-bab-8.pptx
ppt-hindari-ghibah-lakukan-tabayun-ikm-kelas-7-bab-8.pptxppt-hindari-ghibah-lakukan-tabayun-ikm-kelas-7-bab-8.pptx
ppt-hindari-ghibah-lakukan-tabayun-ikm-kelas-7-bab-8.pptx
 
Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1.pptx
Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1.pptxTugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1.pptx
Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1.pptx
 
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1.pdf-MAS'UDIN MUH. JINAN-SGP ANGKATAN-9_SMP ...
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1.pdf-MAS'UDIN MUH. JINAN-SGP ANGKATAN-9_SMP ...DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1.pdf-MAS'UDIN MUH. JINAN-SGP ANGKATAN-9_SMP ...
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1.pdf-MAS'UDIN MUH. JINAN-SGP ANGKATAN-9_SMP ...
 
PKM-dlm-Pembelajaran.ppt dan yang lain sebagaimana
PKM-dlm-Pembelajaran.ppt dan yang lain sebagaimanaPKM-dlm-Pembelajaran.ppt dan yang lain sebagaimana
PKM-dlm-Pembelajaran.ppt dan yang lain sebagaimana
 
Kamus Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal woordenboek), Indonesia - Bare'e
Kamus Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal woordenboek), Indonesia - Bare'eKamus Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal woordenboek), Indonesia - Bare'e
Kamus Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal woordenboek), Indonesia - Bare'e
 
FORMULIR PERENCANAAN OBSERVASI KELAS.docx
FORMULIR PERENCANAAN OBSERVASI KELAS.docxFORMULIR PERENCANAAN OBSERVASI KELAS.docx
FORMULIR PERENCANAAN OBSERVASI KELAS.docx
 

140 article text-232-1-10-20191229

  • 1. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 90 PERILAKU KUNCI PEMBELAJARAN EFEKTIF DALAM KONSEP WAHYU MEMANDU ILMU (WMI) Mochammad Jiva Agung Wicaksono Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Email: jiva.uinsgd@gmail.com Abstract: The concepts of modern education today are filled with the views of Western academics who in fact are not Muslim. As Muslims we should ask at the same time test whether the understanding is in accordance with what is desired by the teachings of Islam. The purpose of this paper is to examine the harmony of understanding of effective learning as reviewed by Western experts with Islamic teachings through the conceptual approach of Reaching Guiding Science. After analyzing, it can be concluded that although it cannot yet fully accommodate the educational meanings contained in the sacred sources and treasures of Islam, the understanding of effective learning understood by Western academics does not conflict with the values of Islamic teachings. Keywords: Revelation Guiding Science, Effective Learning, Key Behavior. Abstrak: Konsep-konsep pendidikan modern hari ini dipenuhi dengan pandangan para akademisi Barat yang notabenenya bukan beragama Islam. Sebagai umat Muslim kita pantas bertanya sekaligus menguji apakah pemahaman tersebut telah sesuai dengan yang dikehendaki oleh ajaran Islam. Tujuan dari penulisan ini ialah untuk menguji keselarasan pemahaman pembelajaran efektif sebagaimana yang dikaji oleh pakar Barat dengan ajaran-ajaran Islam melalui pendekatan konsep Wahyu Memandu Ilmu. Setelah dianalisis, dapat disimpulkan bahwa meskipun belum bisa menampung secara keseluruhan dari makna-makna edukatif yang terkandung dalam sumber sakral dan khazanah Islam, pemahaman pembelajaran efektif yang dipahami oleh akademisi Barat tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Kata Kunci: Wahyu Memandu Ilmu, Pembelajaran Efektif, Perilaku Kunci. PENDAHULUAN Idealnya seorang pendidik, demi ketercapaian tujuan pendidikan, memahami dan menguasai konsep belajar sebagaimana yang diungkapkan oleh para pakar dan peneliti pendidikan. Namun sepertinya fakta di lapangan menunjukkan bahwa mereka memperlihatkan hal yang sebaliknya. Masih banyak guru di Indonesia yang tidak memahami teori-teori (psikologi) pendidikan dan lebih nyaman mengajar sesuka hati. Akibatnya mutu pendidikan di negeri kita masih dapat dikatakan rendah. Ini terbukti dari hasil Ujian Kompetensi Guru (UKG) Nasional tahun 2018 yang hanya memperoleh nilai rata-rata 53.02 dari skala 100. Skor ini bahkan berada di bawah standar kompetensi minimal yang ditetapkan (Kemdikbud, 2018). Jurnal As-Salam, Vol. 3 No. 3 September - Desember 2019 (Print ISSN 2528-1402, Online ISSN 2549-5593)
  • 2. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 91 Kalaupun ada guru yang dalam pemahaman dan praktiknya telah berkesesuaian dengan teori-teori kependidikan, bagi penulis persoalannya tidak lantas selesai, sebab sebagaimana yang telah diketahui bersama konsep-konsep ini mayoritas berasal dari pandangan hidup (worldview) dan konstruk nilai para akademisi Barat yang cenderung materialistik yang mana enggan untuk memasukkan nilai-nilai keagamaan ke dalamnya. Tentu saja sikap ini sedikit-banyak berbeda dengan apa yang diyakini oleh umat Muslim yang karena imannya tidak bisa melepaskan diri dan aktivitas berpikirnya dari sumber- sumber keagamaan. Berangkat dari isu ini UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sebagai salah satu kampus berbasis keislaman, membuat dan menawarkan sebuah konsep integrasi antara ilmu-ilmu Islam, yang datangnya dari sumber sakral dan peradaban Islam, dan ilmu pengetahuan umum yang umumnya berasal dari para akademisi Barat. Ilmu-ilmu yang disebut terakhir ini, yang tentunya tidak akan pernah dapat luput dari subjektivitas primordial para penulisnya, perlu disesuaikan dengan prinsip-prinsip agama Islam sehingga akidah umat Muslim tetap terjaga. Konsep tersebut diberi nama Wahyu Memandu Ilmu (WMI). Betapapun demikian, konsep WMI yang dibuat masih berupa bahan “mentah” yang sifatnya general, sehingga para akademisi yang berkutat di ilmu-ilmu umum tersebut perlu melakukan korelasi dan implikasi terhadapnya. Dengan demikian WMI berfungsi sebagai alat atau pisau analisis bagi ilmu-ilmu yang akan dikaji. Dari sini penulis tertarik untuk membahas seputar efektivitas pembelajaran menurut pakar pendidikan Barat yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan WMI dalam buku Trilogi Wahyu Memandu Ilmu yang disusun oleh para dosen UIN SGD Bandung. (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018: 11). Kajian ini akan memudahkan para praktisi pendidikan (guru), khususnya yang beragama Islam, untuk tetap berada dalam haluan ajaran Islam ketika melakukan kegiatan pembelajaran apa pun. LANDASAN TEORI Wahyu Memandu Ilmu Menurut Natsir konsep WMI telah dijadikan sebagai dasar penyusunan visi UIN Sunan Gunung Djati Bandung sejak tahun 2008 silam, dan tujuh tahun kemudian secara redaksional menjadi bagian yang tak terpisahkan dari visinya (Natsir, 2008, dalam Samedi, 2019: 59-69). Dikatakan bahwa visi ini bertujuan untuk menjadikan wahyu
  • 3. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 92 sebagai pemandu dalam pengembangan keilmuan dan kependidikan disana sehingga pembelajar terhindar dari pemisahan secara tegas (dikotomi) antara ilmu agama dan ilmu umum dalam segala proses pembelajarannya, dan memahami bahwa segala ilmu pada dasarya berasal dari Allah (Natsir, 2008; Samedi, 2019: 61). Di dalam Buku Saku Wahyu Memandu Ilmu dinyatakan bahwa tiga kata ini (wahyu, memandu, ilmu) bersifat genus/genera sebab ketiganya perlu dimaknai sebagai nama pertama yang diikuti oleh nama kedua sebagai spesiesnya. Sebagai contoh, redaksi kata wahyu perlu disandingkan dengan kata Alquran atau hadis sehingga memiliki makna yang jelas dan spesifik, begitu pula dengan redaksi kata memandu dan ilmu (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018). Lebih lanjut diungkapkan bahwa konsep ini secara historis merupakan hasil galian keilmuan Islam pada masa keemasan (era dinasti Abbasiyah) yang ditengarai tidak sporadis, malah non dikotomis dan ensiklopedis, suatu konsep yang dapat dijadikan sebagai alternatif spirit keilmuan baru umat Islam. Secara garis besar, konsep Wahyu Memandu Ilmu didekati melalui empat dimensi: metaforis, filosofis, sufistik (piramida), dan saintifik (gerak pendulum). Untuk pendekatan metaforis di sini maksudnya ialah sebuah upaya penggambaran sesuatu menggunakan sesuatu yang lainnya. Untuk konsep WMI, metaforanya adalah roda sehingga disebut Metafora Roda Wahyu Memandu Ilmu (MR-WMI). Masing- masing dari bagian roda (poros, pelak, ban) memiliki makna metaforisnya masing- masing. Seperti bagian poros (hub) melambangkan pusat akidah, syariat, dan akhlak yang terangkum dalam seluruh wahyu Allah, baik yang bersifat Quraniyah maupun Kauniyah. Kemudian pelak roda (velg) yang terhubung dengan bagian poros oleh jeruji-jeruji melambangkan rumpun disiplin ilmu yang terus berkembang. Adapun ban melambangkan pengendalian dan ilmu sebagai penyalur energi yang berguna dalam kehidupan melalui amal saleh (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018: 2-3). Kemudian adalah pendekatan filosofis yang terbagi ke dalam tiga bagian besar yakni ontologis-WMI, epistemologis-WMI, dan aksiologis-WMI. Sederhananya, di dalam kerangka epistemologi ilmu-ilmu Islam (Islamic Studies) dijadikan sebagai pemandu ilmu umum; akidah, akhlak, dan syariat, atau yang disebut sebagai sains tauhidullah sebagai basis ontologisnya; serta amal saleh dan akhlak mulia sebagai basis aksiologinya (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018: 5-10). Mengenai pendekatan sufistik, diungkapkan bahwa pada dasarnya berpegang pada prinsip “semua jalan menuju Tuhan.” Pendekatan ini dapat dibagi menjadi dua piramida:
  • 4. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 93 tegak dan terbalik. Jika di piramida tegak ilmu, iman, dan amal saleh terletak di posisi terbawah, kemudian mengerucut ke ilmu dan teknologi, dan berakhir di wahyu, piramida terbalik mengerucutkan ilmu, iman, dan amal saleh (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018: 11-17). Yang terakhir, di pendekatan saintifik, ilmu agama tidak lagi dijadikan sebagai hanya salah satu kajian dari sekian banyak disiplin ilmu, namun telah dijadikan sebagai payung besar ilmu-ilmu umum. Dari sini pada akhirnya dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu agama Islam berposisi sebagai titik tumbu pendulum, jika dianalogikan dengan teori pendulum, dan bukan sekadar bandul. Secara praktis produknya sudah banyak dikembangkan, seperti Filsafat Islam, Hukum Islam, Pendidikan Islam, dan lain sebagainya (Tim Konsorsium Keilmuan WMI, 2018: 17-23). METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Penulis memanfaatkan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan untuk mengorelasikan konsep perilaku kunci dalam pembelajaran efektif dengan memakai analisis Wahyu Memandu Ilmu. Kajian pustaka adalah metode pengumpulan data yang diarahkan dengan pencarian data dan informasi melalui dokumen, baik dokumen tertulis, foto, gambar, artikel konseptual yang relevan, hasil penelitian terdahulu, peraturan, kebijakan-kebijakan, teori-teori dari berbagai buku teks, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam proses penulisan (Sugiyono, 2014). HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran efektif menjadi sebuah pembahasan hangat di kalangan pemerhati pendidikan modern. Ciri khas utama dari pendekatan pembelajaran efektif ini ialah kefokusannya pada pola pengajaran guru di kelas dan korelasinya (dampak) terhadap siswa. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dikumpulkan oleh Nell J. Salkind, salah seorang pakar Psikologi Pendidikan kontemporer, ditemukanlah setidaknya sepuluh perilaku guru yang menunjukkan korelasi kuat dengan kinerja siswa yang diharapkan, terutama yang diukur dengan penilaian kelas dan tes standar. Lima perilaku yang pertama disebut perilaku kunci (key behaviors) karena dianggap penting untuk pengajaran yang efektif dan menurut Salkind telah secara konsisten didukung oleh studi penelitian selama tiga dekade terakhir, di antaranya ialah (1) kejelasan pengajaran; (2) variasi pengajaran;
  • 5. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 94 (3) orientasi tugas guru; (4) keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran; dan (5) tingkat keberhasilan siswa. Sedangkan untuk lima perilaku sisanya (menggunakan ide-ide dan kontribusi siswa, penataan, tanya-jawab, penyelidikan, dampak guru dan hubungan guru- siswa) telah mendapat dukungan dari temuan penelitian dan secara logis terkait dengan pembelajaran efektif, dan berguna sebagai kombinasi untuk menerapkan perilaku kunci (Salkind, 2008: 321). 1. Kejelasan Pengajaran (Lesson Clarity) Perilaku ini berkaitan dengan seberapa jelas presentasi guru di dalam kelas yang diindikasikan dengan: (a) bisa mengutarakan dengan jelas poin-poin yang disampaikan kepada siswa yang mungkin memiliki level pemahaman yang variatif; (b) bisa menjelaskan konsep yang dapat membantu siswa mengikuti secara logis- sistematis langkah demi langkah; (c) ada penyampaian oral secara langsung, dapat didengar oleh semua siswa, dan terbebas dari segala macam gangguan. 2. Variasi Pengajaran (Instructional Variety) Maksudnya adalah kemampuan dalam menyampaian pengajaran secara variatif atau fleksibel. Bagi Salkind, salah satu cara efektif dalam menciptakan variasi pengajaran adalah dengan melemparkan pertanyaan. Oleh karena itu, guru yang efektif sudah semestinya mengetahui seni melempar pertanyaan ini dalam beragam format pertanyaan, seperti pertanyaan faktual, pertanyaan prosedural/proses, dan lain sebagainya. Aspek lain dari variasi pengajaran dapat juga diterapkan di dalam penggunaan material, perlengkapan-perlengkapan, tampilan (display), dan ruang tertentu di dalam kelas. Penerapan ini pada akhirnya akan menarik siswa terlibat dalam segala proses pembelajaran dan prestasinya dalam ujian semester. Senada dengan pandangan ini, Henson dan Eller mengatakan bahwa memang pengajaran yang efektif itu bersifat kontekstual, maksudnya kesuksesan tersebut amat tergantung pada situasi yang sedang berlangsung, dan guru harus dapat menyesuaikan pendekatan (pengajarannya) pada setiap kelas yang diajar (Henson, K & Eller, B, 2012:11-12). 3. Orientasi Tugas Guru (Teacher Task Orientation) Orientasi tugas guru adalah perilaku kunci yang mengacu pada berapa banyak waktu kelas yang dikhususkan guru untuk tugas mengajar mata pelajaran akademik. Semakin banyak waktu yang dialokasikan untuk tugas mengajarkan suatu topik tertentu, semakin besar kesempatan yang harus dipelajari siswa. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah: (a) berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk
  • 6. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 95 merencanakan mengajar dan menyiapkan siswa untuk belajar? (b) berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk presentasi, mengajukan pertanyaan, dan mendorong siswa untuk bertanya atau berpikir secara mandiri? (c) berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menilai kinerja siswa? 4. Keterlibatan Siswa dalam Proses Pembelajaran Ini merupakan tugas penting seorang guru, yakni bagaimana dia bisa melakukan upaya pengondisian kelas yang aktif sehingga seluruh siswa dapat terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Salkind menyuguhkan beberapa saran dari para peneliti agar siswa dapat terlibat secara aktif di kelas, di antaranya: (a) buat aturan yang membolehkan siswa untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan personal dan rutinitas kerja tanpa wajib meminta izin setiap waktu, (b) melakukan rolling kelas atau bangku untuk memonitor kursi siswa dan untuk mengomunikasikan kesadaran akan progress siswa, (c) pastikan bahwa tugas mandiri itu menarik, berharga, dan cukup mudah untuk diselesaikan oleh setiap siswa tanpa arahan guru, (d) minimalkan kegiatan yang menghabiskan waktu, seperti memberikan arahan dan mengatur kelas untuk pengajaran, dengan menulis jadwal harian di papan tulis. Ini akan memastikan bahwa siswa tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus dilakukan, (e) manfaatkan sumber daya dan aktivitas yang ada pada, atau sedikit di atas, tingkat pemahaman siswa saat ini, (f) hindari kesalahan waktu. Bertindak segera untuk mencegah perilaku buruk terjadi atau meningkatkan keparahan sehingga tidak mempengaruhi orang lain di kelas (Salkind, 2008). 5. Tingkat Keberhasilan Siswa Ini mengacu pada tingkat di mana siswa memahami dan menyelesaikan soal- soal latihan dan tugas dengan benar. Aspek penting dari penelitian yang dikutip sebelumnya tentang orientasi tugas dan keterlibatan siswa adalah tingkat kesulitan materi yang disajikan. Dalam studi ini, tingkat kesulitan diukur dengan tingkat di mana siswa memahami dan menjawab pertanyaan dengan benar pada tes, latihan, dan tugas. Para peneliti mengungkapkan bahwa tingkat keterlibatan siswa di dalam kelas akan memiliki keselarasan dengan keberhasilan mereka di dalam ujian. Moreno, setelah menganalisis pandangan para ahli, mencoba untuk menggunakan bahasa dan pengklasifikasian yang berbeda namun memiliki banyak irisan dengan apa yang dibahas oleh Salkind. Di dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology dia mengungkapkan bahwa ada dua kemampuan yang perlu
  • 7. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 96 dimiliki oleh seorang guru efektif, yakni pengetahuan profesional dan keterampilan profesional. Yang pertama terbagi menjadi pengetahuan perihal konten, pedagogik, peserta didik, dan kurikulum. Sedangkan yang kedua terbagi menjadi keterampilan merencanakan, mengomunikasikan, memotivasi, mengatur (management) kelas, menilai, dan menggunakan teknologi (Moreno, 2010: 12; Fetsco & McClure, 2005: 2- 3). Aspek-aspek ini dilengkapi oleh Santrock dengan menambahkan aspek komitmen dan kepedulian (Santrock, 2011: 6). Analisis Efektivitas Pembelajaran Melalui Konsep WMI Lima perilaku kunci pembelajaran efektif sebagaimana yang diuraikan Salkind sebenarnya senafas, meskipun belum bisa menampung secara holistik, dengan apa yang disampaikan oleh Islam. Makna filosofis-religius dari pengajaran efektif dapat ditemukan dalam surat Al-Quran “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi. Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh. Saling menasihati dalam kebajikan, dan saling menasihati dalam kesabaran” (Al-Asr, 103: 1-4). Ayat ini berbicara penuh mengenai efektivitas dan efisiensi waktu, bahwasanya termasuk orang yang merugi dunia-akhirat mereka yang tidak mengisi aktivitas kehidupannya dengan sesuatu yang bermanfaat atau baik (amal saleh). Konsep efektivitas ini pun lebih dipertegas lagi di dalam surat Al-Insyirah ayat 7-8 di mana Allah menganjurkan manusia untuk segera beralih ke suatu aktivitas lain setelah menyelesaikan suatu aktivitas tertentu, tanpa menunda-nunda atau memperlamanya “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (Al-Insyirah, 94: 7-8). Karena sasaran efektivitasnya bersifat global, maka jelas bahwa perintah ini juga berlaku di dalam ranah kependidikan dan pengajaran. Berkaitan dengan perilaku kunci kejelasan pengajaran (lesson clarity) misalnya, pertama dan terutama sekali yang patut diberitahu di sini ialah bahwa sesungguhnya watak alamiah ajaran Islam itu sendiri adalah jelas, terang benderang. Tidak samar-samar atau membingungkan. Banyak ayat Alquran yang menyinggung hal ini, mulai dari al- Baqarah ayat 2, 99, 256, dan lain sebagainya. “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah, 2: 2); “Dan sungguh Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad) dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain orang-orang yang fasik.” (Al-Baqarah, 2: 99);
  • 8. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 97 “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dan jalan yang sesat.” (Al-Baqarah, 2: 256). Bukan hanya isi atau kontennya yang jelas, yang bersumber dari Allah langsung kepada pembawa isinya (Rasulullah) pun membawakannya dengan gamblang. Diriwayatkan bahwa kalaupun ada sesuatu yang tidak dipahami oleh para sahabat, mereka akan bertanya, dan kemudian Rasulullah segera memberikan klarifikasinya. Pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah pun tidak terlepas dari penggunaan metode yang variatif. Mulai dari metode pengisahan (berkaitan dengan umat-umat terdahulu agar dapat ditarik ibrahnya) hingga metode penganalogian. Yang disebut terakhir ini tersebar di berbagai ayat, salah satunya ialah kepemilikan orang kafir (baik harta maupun keluarga) yang dianalogikan layaknya tanaman yang dirusak oleh angin dingin, seperti yang tertuang dalam firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, baik harta maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak akan dapat menolak azab Allah... Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di kehidupan dunia ini adalah seperti perumpamaan angin yang mengandug hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Ali Imran, 3: 116-117). Demikian juga hadis suka berisi nasihat yang bersifat metaforis. Salah satu contohnya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim). Islam menganggap penting pengajaran perumpamaan. Bukan hanya karena dapat mengaktifkan imajinasi, tapi lebih jauh dari itu karena perumpamaan dapat memberi gambaran konkret (berbasis alat indra) hal-hal yang abstrak dan gaib, sebab banyak ajaran Islam yang memuat aspek-aspek non- materi seperti Allah, malaikat, surga-negara, amal saleh, dan lain sebagainya. Kembali ke variasi pengajaran, para pakar pendidikan Islam di era modern ini mencoba menggali metode-metode pengajaran dari sumber suci. Tujuannya agar kembali menjadikan Alquran dan sunnah teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar sebagai bacaan karena ingin memperoleh ganjaran pahala. Salah satunya adalah Syahidin, Profesor dari Universitas Pendidikan Indonesia ini menamakannya sebagai metode pendidikan Qurani. Di dalam bukunya yang cukup komprehensif, karena memuat aspek filosofis, teoritis, dan aplikatif, Syahidin menemukan beragam metode pendidikan
  • 9. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 98 yang termuat di dalam Alquran. Di antaranya, seperti: (a) metode amtsal yang kira-kira telah penulis paparkan sebelumnya, (b) metode kisah Qurani. Menurutnya keunikan dari kisah Qurani dibanding kisah lain ialah sama sekali tidak ada unsur dongeng di dalamnya, semua bersifat historis, (c) metode ibrah-mauidzah, sebuah metode pengajaran yang dapat membuat kondisi psikis siswa mengetahui intisari perkara yang mempengaruhi perasaannya, yang diambil dari pengalaman orang lain maupun hidupnya sendiri hingga sampai pada tahap perenungan dan penghayatan yang berakhir pada semangat melakukan amal saleh, (d) metode targib-tarhib atau bujukan dan ancaman, (e) metode latihan dan pengulangan, dan (f) metode hiwar atau dialog (Syahidin, 2009:79- 162). Basis dari metode amtsal adalah dari hadits Muttafaqun alaih: “Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca Alquran ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanya pun enak dan perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca Alquran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca Alquran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca Alquran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanya pun pahit.” Sedangkan kisah Qurani bisa kita temukan langsung dari banyaknya ayat yang menceritakan mengenai kisah-kisah terdahulu supaya pembaca dapat menarik makna edukatifnya. Lalu mengenai metode ibrah-mauidzah, kita bisa melihatnya secara jelas dari sebuah hadits tenar yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: Suatu ketika seseorang tengah kehausan berjalan di suatu jalan dan kebetulan ia mendapati suatu sumur. Kemudian dia segera turun ke dalam sumur itu untuk minum. Setelah itu dia naik lagi. Saat itu tiba-tiba ia mendapati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan terlihat sedang menjilati tanah karena kehausan. Orang tersebut bergumam, “Sungguh, anjing ini begitu kehausan sebagaimana rasa hausku tadi.” Setelah itu orang tersebut kembali ke dalam sumur dan mengisi sepatunya dengan air, kemudian membawanya naik dengan cara menggigit di mulutnya, lalu memberikannya kepada anjing tersebut. Maka Allah menerima kebaikannya itu dan berkenan mengampuni dosa-dosanya. Mereka (para sahabat) lalu bertanya: “Wahai Rasulullah apakah kita bisa beroleh pahala terkait dengan binatang?” Beliau menjawab, “Pada tiap-tiap hati yang basah (makhluk hidup) pasti ada pahala.” (HR.Bukhari dan Muslim). Jelas bahwa hadits di atas akan memberikan pengaruh psikologis yang luar biasa terhadap para sahabat yang mendengar cerita tersebut. Lalu mengenai metode targib-
  • 10. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 99 tarhib (bujukan dan ancaman) kita bisa merujuknya pada suatu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. “Dari Sabrah bin Ma'bad Al Juhani RA, dia berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Perintahkanlah anak-anak untuk mengerjakan shalat, apabila telah berumur tujuh tahun Dan apabila telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia karena meninggalkannya.” (HR. Abu Dawud). Terakhir, mengenai metode hiwar, kita bisa melihatnya dari hadis panjang yang disampaikan oleh Umar bin Khattab. “Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Saw. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha nabi. Kemudian ia berkata: “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah Saw menjawab, “Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, “Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.” Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, “Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Saw menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu berkata lagi: “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang tanda- tandanya!” Nabi menjawab, “Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.” Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” Dia bersabda, “Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” (HR. Muslim No.8). Metode-metode yang ditemukan Syahidin ini, meski tidak sampai pada tahap operasional, telah ada benih-benihnya dalam tulisan Ibnu Sina, seorang cendekiawan Muslim terkemuka di era keemasan Islam yang memiliki segudang keahlian. Ia
  • 11. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September – Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 100 mengatakan bahwa untuk satu materi saja bisa disampaikan dengan berbagai macam cara yang dipertimbangkan berdasarkan pertimbangan perkembangan psikologis peserta didik. Ibnu Sina sendiri menawarkan beberapa metode pengajaran, mulai dari talqin, demonstrasi, pembiasaan dan keteladanan, diskusi magang, dan penugasan (Kurniawan & Mahrus, 2011: 82-83). Kemudian berkaitan dengan relasi atau hubungan antara keterlibatan siswa dengan tingkat keberhasilan pendidikan juga selaras dengan realitas objektif keadaan umat Muslim pasca Nabi Muhammad wafat. Tingginya antusias para sahabat dalam menimba ilmu yang diberikan oleh Rasulullah menelurkan hasil yang memukau. Sebagai contoh adalah Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat yang belum pernah merasakan kekafiran sejak kecil karena merupakan salah satu pemuda dan sahabat pertama yang berikrar Islam. Dikatakan bahwa Ali diberi gelar babun ilmu oleh Rasulullah karena keluasan ilmunya yang luar biasa yang disempurnakan dengan akhlak mulia. Contoh lain dari keterlibatan para sahabat (murid) dengan Rasulullah (guru) ialah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Hurairah menceritakan suatu ketika ada salah seorang di antara mereka yang menghampiri Rasulullah kemudian bertanya, “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?” Rasulullah Saw menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah Saw menjawab: “Ibumu”. Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah Saw menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah Saw menjawab lagi: “Kemudian ayahmu.” KESIMPULAN Konsep lima perilaku kunci (key behavior) pembelajaran efektif sebagaimana yang diuraikan Salkind mulai dari kejelasan dan variasi pengajaran, orientasi tugas guru, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran hingga tingkat keberhasilan siswa senafas, meskipun belum bisa menampung secara holistik dengan apa yang disampaikan oleh ajaran Islam, dapat dikatakan selaras dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Hanya saja, sebagai bentuk pemeliharaan kebanggaan atas Islam, sudah sewajarnya umat Muslim dapat menggali nilai-nilai kependidikan, termasuk mengenai efektivitas pembelajaran, langsung dari sumber sakral dan khazanahnya sendiri. DAFTAR PUSTAKA Admin Itjen.kemdikbud.go.id. (2018). Mutu Guru Harus Terus Ditingkatkan. Dikutip dari http://itjen.kemdikbud.go.id/public/post/detail/mutu-guru-harus-ditingkatkan (diakses 30 September 2019)
  • 12. Jurnal As-Salam Vol.3 No. 3 September - Desember 2019: 90-101 Mochammad Jiva Agung Wicaksono | 101 Departemen Agama RI. (2009). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema. Fetsco, T & McClure, J. (2005). Educational Psychology: An Integrated Approach to Classroom Decisions. Boston: Allyn & Bacon. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim Hadits riwayat Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud no. 8 Henson, K & Eller, B. (2012). Educational Psychology for Effective Teaching. Iowa: Kendall Hunt Publishing. Kurniawan, S & Mahrus, E. (2011). Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Moreno, R. (2010). Educational Psychology. Hoboken USA: John Willey & Sons, Inc. Natsir, N. F. (2008). Pengembangan Pendidikan Tinggi Dalam Perspektif Wahyu Memandu Ilmu. Bandung: Gunung Djati Press. Natsir, N. F. (2008). Implementasi Paradigma Wahyu Memandu Ilmu Pada Pembidangan Ilmu-Ilmu Keislaman. Makalah Lokarkarya Konsorsium Bidang Ilmu. Salkind, N.J (ed). (2008). Encyclopedia of Educational Psychology. Los Angeles: Sage Publications. Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology (edisi ke-5). New York: McGraw-Hill. Sarmedi. (2019). “Penerapan Konsep Wahyu Memandu Ilmu (WMI) dalam Pengajaran Sosiologi.” Jurnal Kelola: Jurnal Ilmu Sosial, Vol. 2, No. 2, hlm. 59-69 https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/kelola/article/view/5813 https://doi.org/10.15575/jk.v2i2.5813 (diakses 30 September 2019) Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Syahidin (2009). Menelusuri Metode Pendidikan dalam al-Quran. Bandung: Alfabeta. Tim Konsorsium Keilmuan WMI. (2018). Buku Saku Wahyu Memandu Ilmu. Bandung: tanpa penerbit, file pdf. .