Emotionally Healthy Church: Menerima Karunia Keterbatasan

909 views

Published on

Emotionally Healthy Church: The Gift of Limit
Gereja yang Sehat secara Emosional: Menerima Karunia Keterbatasan
- Simptom-simptom
- Yesus dan Batas-batas
- Kisah Alkitab dan Batas-batas
- Belajar Mengenali Keterbatasan Saya
- Setia kepada Diri Anda yang Sebenarnya
- Keterbatasan dan Kedewasaan Emosi/Rohani
- Perawatan Diri dan Keterbatasan
- Melihat Tuhan Bekerja Melalui Keterbatasan-keterbatasan Kita
- Bersukacita dalam Keterbatasan-keterbatasan Membutuhkan Iman Kepada Kebaikan Tuhan

Published in: Spiritual
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
909
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
65
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Emotionally Healthy Church: Menerima Karunia Keterbatasan

  1. 1. Emotionally Healthy Church
  2. 2. Menerima Karunia Keterbatasan (Receive the Gift of Limits)
  3. 3. Tesis Kesehatan emosi dan kesehatan rohani tidak dapat dipisahkan. Seorang kristiani tidak mungkin dewasa secara rohani jika ia tidak dewasa secara emosi.
  4. 4. Inventori Kesehatan Emosi/Rohani Bagian A: Pembinaan Rohani secara Umum Bagian B: Pembinaan dalam Komponen Emosi Jawablah dengan skala: 1 = Tidak benar demikian 2 = Kadang benar demikian 3 = Sering benar demikian 4 = Sangat benar demikian
  5. 5. Prinsip 4: Menerima Karunia Keterbatasan 20. Saya tidak pernah dituduh “mau mengerjakan segalanya” atau mau melakukan lebih dari yang mampu dilakukan (Mat 4:1-11). 21. Saya biasanya dapat berkata tidak kepada permintaan atau kesempatan daripada beresiko memaksakan diri secara berlebihan (Mar 6:30- 32). 22. Saya mengenali berbagai situasi di mana kepribadian saya yang unik dapat menolong atau menghambat dalam menanggapi secara tepat (Maz 139; Rm 12:3; 1Ptr 4:10).
  6. 6. Prinsip 4: Menerima Karunia Keterbatasan 23. Mudah bagi saya untuk membedakan kapan perlu menolong mengangkat beban seseorang (Gal 6:2) dan kapan melepaskannya sehingga mereka dapat mengangkat beban sendiri (Gal 6:5). 24. Saya dapat mengukur kapasitas emosi, relasi, fisik, dan spiritual dengan baik, mengatur waktu untuk undur diri beristirahat dan mengisi “persediaan bahan bakar” saya lagi (Mar 1:21-39). 25. Orang yang dekat dengan saya akan mengatakan bahwa saya bagus dalam menjaga keseimbangan antara keluarga, beristirahat, bekerja, dan bermain secara alkitabiah (Kel 20:8). Total ___________
  7. 7. Simptom-simptom “Saya selalu merasa seakan-akan ada terlalu sedikit waktu dan terlalu banyak hal yang harus dikerjakan.” “Saya terus-menerus merasa dikejar-kejar banyak hal yang belum selesai. Saya sangat tertekan dan resah dalam batin saya.” “Hidup saya memiliki sedikit sekali margin dan fleksibilitas.” “Saya tidak pernah merasa ‘selesai’ menjawab kebutuhan- kebutuhan yang ada di sekitar saya.” “Saya menjadi getir dan benci terhadap semua orang karena mereka tidak ‘menderita’ bagi Tuhan. “Saya menghabiskan sebagian besar waktu dengan berusaha menjadi seseorang yang bukan diri saya.”
  8. 8. Yesus dan Batas-batas • Yesus tidak melakukan mukjizat apa pun selama 30 tahun pertama kehidupan-Nya. Setelah sekitar 30 tahun tidak dikenal, Ia dikukuhkan untuk memulai pelayanan publik yang singkat selama 3 tahun lebih. • Yesus tidak menyembuhkan setiap orang yang sakit dan kerasukan. Dia memilih hanya 12 orang untuk mengikuti Dia. Yesus tidak mengejar banyak orang setelah Dia memberikan pengajaran yang keras. • Yesus tidak memenuhi kebutuhan setiap orang sendirian. Namun, Dia berdoa pada akhir hidup-Nya, “Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan” (Yoh 17:4).
  9. 9. Kisah Alkitab dan Batas-batas MUSA: Keluaran 18:13-27 DAUD: 2 Samuel 7:1-16 PAULUS: 2 Korintus 12:7-10; Perjalanan misi yang ke-3; Surat-surat penjara
  10. 10. Belajar Mengenali Keterbatasan Saya Perhatikanlah kepribadian Anda. • Mendapat energi ketika bertemu orang (ekstravert) atau ketika menyendiri (introvert)? • Menyukai kreativitas dan spontanitas (perception) atau kendali dan keteraturan (judgment)? Perhatikanlah masa-masa dalam hidup Anda. • Melajang, Menikah (1Kor 7:32-35), Membesarkan Anak, Paruh Baya, Sarang Kosong • Memulai karir, Investasi, Merdeka finansial Perhatikanlah situasi kehidupan Anda. • Muda, Dewasa, Tua • Fisik, Emosi: Sehat, Sakit, Rentan
  11. 11. Belajar Mengenali Keterbatasan Saya Perhatikanlah kapasitas fisik, emosi, dan intelektual Anda. • Frekuensi dan intensitas aktivitas, refleksi, rekreasi • Kesehatan, Kebugaran, Keteduhan Perhatikanlah emosi-emosi negatif Anda. • Depresi, Frustrasi, Keputusasaan, Kemarahan Perhatikanlah luka-luka dari masa lalu Anda. • Keterbatasan yang diwarisi dari keluarga, pengalaman masa lalu Ketika kita tidak menghargai batasan-batasan Tuhan dalam hidup kita, kita akan sering mendapati diri kita terlalu sibuk, tertekan, dan kelelahan.
  12. 12. Setia kepada Diri Anda yang Sebenarnya • Tanyakan: Apakah cara saya menjalani kehidupan saya cocok dengan diri saya yang sebenarnya sesuai dengan rancangan Tuhan (talenta, pengalaman, keunikan, kelemahan)? • Dongeng kuno Hasidik: Rabi Zusya, ketika sudah tua, berkata, “Di dalam dunia yang akan datang, mereka tidak akan bertanya kepada saya: ‘Mengapa Engkau bukan Musa?’ Mereka akan bertanya kepada saya: ‘Mengapa Engkau bukan Zusya?’” (MARTIN BUBER, Tales of the Hasidim: The Early Masters)
  13. 13. Keterbatasan dan Kedewasaan Emosi/Rohani • Kedewasaan dalam hidup adalah ketika seseorang hidup dengan penuh sukacita di dalam batas-batas mereka yang berasal dari Tuhan. • Orang yang sehat secara emosional menyadari batas-batas yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Mereka dengan senang menerima 1, 2, 7, atau 10 talenta yang telah Tuhan bagikan dengan penuh kemurahan. • Karena itu, mereka tidak menjadi gila-gilaan dan penuh keinginan, berusaha menjalani kehidupan yang tidak pernah Tuhan maksudkan. Mereka memiliki rasa puas dan sukacita.
  14. 14. Keterbatasan dan Kedewasaan Emosi/Rohani • Memahami dan menghormati batasan-batasan dan keterbatasan-keterbatasan kita merupakan salah satu kualitas karakter dan kemampuan yang sangat penting yang dibutuhkan para pemimpin untuk dapat mengasihi Tuhan dan manusia dalam jangka panjang. • Dibutuhkan kedewasaan yang sungguh- sungguh untuk mengenali kesempatan- kesempatan yang ada dan memilih untuk tidak memanfaatkannya.
  15. 15. Keterbatasan dan Kedewasaan Emosi/Rohani • Saya menemukan banyak di antara kita yang membenci batas-batas—di dalam diri sendiri maupun orang lain. Kita berharap terlalu banyak dari diri kita dan dari satu sama lain, dan seringkali menjalani kehidupan yang diwarnai frustrasi dan kemarahan. Seringkali, kejenuhan merupakan hasil dari memberikan apa yang tidak kita miliki. • Meskipun budaya kita menolak ide tentang batas- batas, sangat penting bagi kita untuk menerimanya. Keterbatasan bagaikan halaman yang dipagari untuk melindungi anak-anak. Keterbatasan adalah tangan seorang teman, yang menahan kita agar tidak melukai diri sendiri, orang lain, dan pekerjaan Tuhan.
  16. 16. Perawatan Diri dan Keterbatasan Perawatan diri tidak pernah menjadi tindakan yang egois—hal itu hanya suatu penatalayanan yang baik atas satu-satunya karunia yang saya miliki, karunia keberadaan saya yang ditempatkan di dunia untuk memberikannya kepada orang lain. Setiap saat kita dapat mendengarkan diri kita yang sebenarnya dan memberikan perawatan yang dibutuhkannya, kita tidak melakukannya untuk diri kita sendiri, tetapi untuk banyak orang lain yang hidupnya kita sentuh. (PARKER PALMER, Let Your Life Speak: Listening for the Voice of Vocation)
  17. 17. Bersukacita dalam Keterbatasan- keterbatasan Membutuhkan Iman Kepada Kebaikan Tuhan • Inti permasalahan spiritual bagi kita jika kita ingin setia hidup dalam batas-batas dan keterbatasan kita yang dari Tuhan: Apakah Tuhan sungguh baik dan benar-benar berdaulat? • Tuhan begitu mengejutkan sampai-sampai kita bahkan tidak dapat membayangkan ke mana Dia sedang melangkah dan apa yang sedang dikerjakan-Nya di dalam dan melalui hidup kita.
  18. 18. Bersukacita dalam Keterbatasan- keterbatasan Membutuhkan Iman Kepada Kebaikan Tuhan • Betapa pun luasnya pengetahuan dan informasi kita, tetap saja terlalu sempit untuk mengetahui seluruh maksud Tuhan. Hanya waktu yang akan menghalau pengertian kita yang dangkal tentang apa yang sedang terjadi dan mengapa Tuhan berkata “tidak” terhadap rencana-rencana kita serta mengapa impian dan harapan kita menjadi kandas. • Sementara itu kita harus tetap setia pada batas- batas yang diberikan Tuhan. Ini menuntut sebuah iman yang radikal dan kepercayaan yang penuh kepada kebaikan Tuhan, yang memberikan batas- batas sebagai karunia dan ungkapan kasih-Nya.
  19. 19. Emotionally Healthy Church

×