Kontrol mikroorganisme

6,648 views

Published on

Presentasi mikro kel jono, eva , roslia

  • Be the first to comment

Kontrol mikroorganisme

  1. 1. CARA MENGONTROL PERTUMBUHAN MIKROORGANISME EVA SIMBOLON JONO SUGIHARTO ROSLIA CORRY
  2. 2. Konsep pertumbuhan bakteri <ul><li>Cara khas reproduksi bakteri ialah pembel a han biner melintang; satu sel membelah diri menghasilkan dua sel. Jadi bila kita mulai dengan satu bakteri tunggal, maka populasi bertambah secara geometri: </li></ul><ul><li>1-> 2 -> 2² -> 2³ -> 2⁴ -> 2⁵....2ⁿ </li></ul><ul><li>Atau dengan perhitungan sederhana, </li></ul><ul><li>1 -> 2 -> 4 -> 8-> 16 -> 32... </li></ul><ul><li>(2ⁿ semata-mata merupakan singktan aljabar yang artinya jumlah akhir, dalam hal ini jumlah maksimum sel yang pada akhirnya dicapai di dalam populasi) </li></ul><ul><li>Selang waktu yang dibutuhkan bakteri untuk membelah diri atau untuk populasi menjadi dua kali lipat dikenal sebagai waktu generasi. </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Waktu ge n erasi bakteri dapat ditentukan dengan pemeriksaan mikroskopik langsung. Tetapi metode yang lebih paktis dan umum ialah menginokulasi suatu medium dengan bakteri dalam jumlah yang dike t ahui, membiarkan mereka tumbuh pada kodisi optimum, dan menentukan populasi pada interval waktu tertentu secara berkala </li></ul><ul><li>Data percobaan yang dibutuhkan untuk menghitung waktu generasi ialah: </li></ul><ul><li>Jumlah bakteri yag ada pada mula-mula, yaitu di dalam inokulum </li></ul><ul><li>Jumlah bakteri yang ada pada akhir waktu tertentu </li></ul><ul><li>Interval waktu </li></ul>
  4. 4. FASE-FASE PERTUMBUHAN MIKROORGANISME
  5. 5. FASE LAG/ADAPTASI <ul><li>Jika mikroba dipindahkan ke dalam suatu medium, mula-mula akan mengalami fase adaptasi untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Lamanya fase adaptasi ini dipengaruhi oleh beberapa factor,diantaranya: </li></ul><ul><li>Medium dan lingkungan pertumbuhan </li></ul><ul><li>Jika medium dan lingkungan pertumbuhan sama seperti medium dan lingkungan sebelumnya, mungkin tidak diperlukan waktu adaptasi. Tetapi jika nutrient yang tersedia dan kondisi lingkungan yang baru berbeda dengan sebelumnya, diperlukan waktu penyesuaian untuk mensintesa enzim-enzim. </li></ul><ul><li>Jumlah inokulum </li></ul><ul><li>Jumlah awal sel yang semakin tinggi akan mempercepat fase adaptasi. </li></ul>
  6. 6. <ul><li>Fase adaptasi mungkin berjalan lambat karena beberapa sebab, misalnya: </li></ul><ul><li>kultur dipindahkan dari medium yang kaya nutrien ke medium yang kandungan nutriennya terbatas, </li></ul><ul><li>mutan yang baru dipindahkan dari fase statis ke medium baru dengan komposisi sama seperti sebelumnya. </li></ul>
  7. 7. FASE LOG/PERTUMBUHAN EKSPONENSIAL. <ul><li>Pada fase ini mikroba membelah dengan cepat dan konstan mengikuti kurva logaritmik. Pada fase ini kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya seperti pH dan kandungan nutrient, juga kondisi lingkungan termasuk suhu dan kelembaban udara. Pada fase ini mikroba membutuhkan energi lebih banyak dari pada fase lainnya. Pada fase ini kultur paling sensitif terhadap keadaan lingkungan. Akhir fase log, kecepatan pertumbuhan populasi menurun dikarenakan : </li></ul><ul><li>Nutrien di dalam medium sudah berkurang. </li></ul><ul><li>Adanya hasil metabolisme yang mungkin beracun atau dapat menghambat pertumbuhan mikroba. </li></ul>
  8. 8. FASE STATIONER. <ul><li>Pada fase ini jumlah populasi sel tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Ukuran sel pada fase ini menjadi lebih kecil karena sel tetap membelah meskipun zat-zat nutrisi sudah habis. Karena kekurangan zat nutrisi, sel kemungkinan mempunyai komposisi yang berbeda dengan sel yang tumbuh pada fase logaritmik. Pada fase ini sel-sel lebih tahan terhadap keadaan ekstrim seperti panas, dingin, radiasi, dan bahan-bahan kimia. </li></ul><ul><li>FASE KEMATIAN </li></ul><ul><li>Pada fase ini sebagian populasi mikroba mulai mengalami kematian karena beberapa sebab yaitu: </li></ul><ul><li>Nutrien di dalam medium sudah habis. </li></ul><ul><li>Energi cadangan di dalam sel habis. </li></ul><ul><li>Kecepatan kematian bergantung pada kondisi nutrien, lingkungan, dan jenis mikroba. </li></ul>
  9. 9. TUJUAN MENGONTROL PERTUMBUHAN MIKROORGANISME <ul><li>Mencegah penyebaran penyakit dan infeksi </li></ul><ul><li>Membasmi mikroorganisme pada inangnya yang terinfeksi </li></ul><ul><li>Mencegah pembusukan dan pengrusakan bahan oleh mikroorganisme </li></ul>
  10. 10. KONTROL TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROORGANISME Control mikroorganisme Fisika Kimia Antibiotik
  11. 11. Tabel : Berbagai metode yang digunakan untuk kontrol mikroorganisme METODE FISIK Panas Panas kering Red heat Flaming Hot air oven Infrared radiation Incineration Panas lembab < 100 o C Pasteurisasi Inspisasi 100 o C Tindalisasi Perebusan Penguapan > 100 o C Otoklaf Radiasi Ionisasi Non-ionisasi Filtrasi
  12. 12. METODE KIMIA Disinfektan Larutan Gas Antiseptik Larutan Antibiotik - Kemoterapi Topikal Sistemik
  13. 13. <ul><li>Secara fisik: </li></ul><ul><li>Tehnik Suhu </li></ul><ul><li>Tehnik pengeringan </li></ul><ul><li>Tehnik osmotik dan plasmolisis </li></ul>
  14. 14. <ul><li>Pemanasan Suhu Tinggi </li></ul><ul><li>Penggunaan suhu tinggi dapat dikombinasikan dengan kelembapan tinggi. </li></ul><ul><li>Usaha ini dapat membunuh mikroorganisme tertentu yang dapat menyebabkan protein-pro t e i n terkoagulasi. </li></ul><ul><li>Pemanasan Suhu Rendah </li></ul><ul><li>Pada dasarnya suhu diatur pada suhu optimum pertumbuhan mikrooganisme, sehingga pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat, sangat bermanfaat pada pengawetan biakan. </li></ul>
  15. 15. STERILISASI METODE FISIK Sterilisasi Panas panas kering (dry hea t ) panas lembab (moist heat) . Denaturasi enzim, membran sel, DNA, RNA dan ribosom oleh panas lembab terjadi lebih cepat dibandingkan panas kering. Panas kering dapat mengokidasi sel, bahkan bila panasnya tinggi dapat mereduksinya menjadi abu.
  16. 16. Hubungan metode, intensitas dan waktu dalam sterilisasi panas. Dry heat Moist heat Temperature ( o C) Waktu Temperature ( o C) Waktu 120 480 menit 100 120 menit 140 150 menit 110 150 menit 160 60 menit 115 50 menit 170 40 menit 121 15 menit 180 20 menit 125 6,5 menit 130 2,5 menit
  17. 17. Sterilisasi Panas Lembab ( Moist Heat ) Sterilisasi Di Bawa h 100 o C Pasteurisasi Inspisasi
  18. 18. Terutama digunakan untuk makanan segar seperti susu, jus buah atau anggur, yang dikawatirkan terkontaminasi saat pem p rosesan. Ada dua metode pasteurisasi: Flash pasteurization : (HTST=high temperatur short time) suhu dinaikan dengan cepat ke 71 o C, dipertahankan 15 detik, cepat didinginkan. Cara ini lebih menguntungkan karena perubahan rasa lebih kecil, membunuh mikroorganisme tahan panas lebih baik, waktu lebih cepat sehingga untuk sterilisasi poduksi makanan lebih menguntungkan. Batch paste u rization : (LTH= low temperatur holding) dipanaskan 63-66 o C selama 30 menit. Co: Mycrobacterium tubercolosis dan Coxiella burneti Past e urisasi
  19. 19. Pasteurisasi Merupakan proses menurunkan populasi mikroba dengan panas ringan. Jadi tidak semua mikroorganisme terbasmi, tetapi kebanyakan mikroba pathogen yang tidak membentuk spora, yang sering ditularkan melalui makanan, seperti bakteri Salmonella sp . (keracunan makanan), Campylobacter jejuni (gastroenteritis), Listeria monovytogenes (Listeriosis), Brucella sp (undulans fever), Coxiella burnetii (Q fever), M. tuberculosis dan M. bovis (tuberculosis) dan beberapa penyakit enterik lain. Selain itu juga untuk menunda pembusukan.
  20. 20. Ultrahigh temperature (UHT) merupakan metode lain untuk sterilisasi susu. Dengan cara ini susu akan lebih tahan lama dari proses pembusukan. Caranya adalah dengan pemanasan 134 o C selama 1 – 2 detik.
  21. 21. Inspisasi Metode ini terbatas penggunaanya, terutama pada laboratorium, yaitu untuk pembuatan media yang bahan tersebut akan rusak dengan suhu tinggi. Panas yang digunakan adalah 75 – 85 0 C, selam 1 jam untuk telur, dan 2 jam untuk serum.
  22. 22. Sterilisasi Panas Lembab (Moist Heat) Sterilisasi Pada 100 o c Perebusan Penguapan Tindalasi
  23. 23. Boling Water/ Perebusan <ul><li>Perebusan selama 30 menit, semua jenis patogen akan terbunuh, kecuali bentuk spora </li></ul><ul><li>Metode ini dapat digunakan untuk sanitasi peralatan bayi,makanan dan pakaian. </li></ul>
  24. 24. Penguapan <ul><li>Uap air akan bersuhu 100°C pada 76 mmHg </li></ul><ul><li>Dengan metode penguapan ini penetrasi uap panas akan lebih mudah menjangkau daerah-daerah tersembunyi material yang didesinfeksi asal tempatnya tetutup rapat. </li></ul><ul><li>Keuntungan lain adalah materi yang disterilkan tidak terendam dalam cairan, sehingga tidak terlalu basah. </li></ul><ul><li>Banyak digunakan untuk desinfeksi per a latan logam, gelas, maupun kain. </li></ul><ul><li>Alat yang biasa digunakan: Arnold Sterilizer </li></ul>
  25. 25. Arnold Sterilizer
  26. 26. <ul><li>Tindalisasi adalah pemanasan dengan suhu 80-1000C, selama 30 menit, 3 hari berturut-turut. </li></ul><ul><li>Pelaksanaan tindalisasi melalui tahapan sebagai berikut : </li></ul><ul><li>1. Tindalisasi 1: sel vegetatif mati, kemudian diinkubasi, spora berkecambah menjadi sel vegetatif. </li></ul><ul><li>2. Tindalisasi 2: sel vegetatif mati, spora yang tersisa berkecambah menjadi sel vegetatif. </li></ul><ul><li>3. Tindalisasi 3: semua sel mati. </li></ul>
  27. 27. STERILISASI BERTINGKAT (INTERMITEN) Sterilisasi bertingkat digunakan dengan cara perebusan atau penguapan dengan suhu maksimal 100 0 C selama 30 – 60 menit. Kemudian bahan tersebut dibiarkan pada suhu normal selama 24 jam. Dalam suhu normal tersebut bentuk spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif, kemudian dipanaskan lagi dengan cara yang sama dan secara intermiten selama 3 hari. Metode ini terutama cocok untuk sterilisasi bahan bentuk laru t an, misalnya media pertumbuhan bakteri, dan kurang cocok untuk peralatan dan pakaian,
  28. 29. Sterilisasi Panas Lembab (Moist Heat) Sterilisasi Di Atas 100 o C Tekanan udara di permukaan laut adalah 1 atm atau 76 cmHg, atau 15 pound per square inch (psi). Pada tekanan normal ini suhu yang dapat dicapai oleh uap maksimal adalah 100 o C. Peningkatan tekanan udara akan meningkatkan suhu uap. Peningkatan tekanan menjadi 15 psi akan meningkatkan suhu 109 o C, 25 psi meningkatkan 115 o C, 30 psi (2 atm) meningkatkan 121oC. Dari penelitian menunjukkan bahwa dengan suhu 121 o C selama 10 – 40 menit cukup untuk membasmi seluruh jenis mikroorganisme, termasuk bentuk spora.
  29. 30. Sterilisasi panas lembab bertekanan dapat dilakukan dengan autoclave . Autoclave merupakan peralatan berbentuk silinder metal dengan tutup rapat yang dilengkapi dengan rak untuk penempatan material yang disterilkan di atas air bahan dasar uap, dan klep-klep pengatur tekanan dan suhu. <ul><li>Adanya udara dalam ruang sterilisasi akan mengakibatkan: </li></ul><ul><li>Turunnya suhu pemanasan. </li></ul><ul><li>Udara akan menghambat penetrasi uap ke pori-pori material. </li></ul><ul><li>Kondensi udara yang lebih padat dari uap </li></ul><ul><li>cenderung membentuk lapisan bawah autoclave </li></ul><ul><li>sehingga menghambat pemanasan yang adekuat. </li></ul>
  30. 31. . Autoclave sederhana dengan bahan bakar gas.
  31. 32. Sterilisasi Panas Kering (Dry Heat) . Red heat Merupakan sterilisasi alat-alat logam kecil, misalnya ose, jarum. Cara: memanaskan diatas api Bunsen sampai berwarna merah. Nyala api Bunsen dapat mencapai suhu 1.870 o C. Flaming dan Incineration Flaming merupakan metode sterilisasi panas kering menggunakan api atau koil listrik panas atau radiasi infra red. Suhu yang dapat dicapai berkisar 800 – 6.500 o C. Terutama digunakan untuk sterilisasi mulut botol atau tabung, tutup botol atau tabung, pipet. Cara: melewatkannya beberapa kali di atas api. Istilah incineration biasanya digunakan untuk sterilisasi dengan panas tinggi, d i atas 1.000 o C d engan tujuan untuk menghancurkan bahan infektif berbahaya, misalnya jarum, sampel, material kultur, verban luka dan sebagainya, sehingga bahan dan wadahnya hancur jadi abu.
  32. 33. Sterilisasi dengan menggunakan oven sehingga yang bekerja adalah udara panas kering. Waktu sterilisasi yang biasa digunakan adalah 160 o C – 180 o C dengan waktu selama 2 – 4 jam. Dengan panas kering bentuk vegetatif bakteri umumnya terbunuh dengan pemanasan 100 o C selama 60 menit, sedangkan untuk spora jamur 115 o C, spora bakteri 120 – 160 o C. Terutama untuk mensterilkan alat-alat gelas, bahan minyak, kristal (tepung) yang rusak dengan uap , dan alat logam yang korosi f bila menggunakan uap. Metode ini kurang cocok untuk mensterilkan platik, kain atau kertas. Hot air oven
  33. 34. OVEN Incenerator Red heat
  34. 35. Hal-hal yang mempengaruhi sterilisasi panas : Keasaman (pH): membantu sterilisasi. Untuk praktisnya dapat ditambahkan 2% Na-bicarbonate dalam air untuk merebus peralatan. Konsentrasi tinggi dari bahan organik (gula, protein dan lemak) meningkatkan resistensi mikroorganisme. Sedangkan konsentrasi garam dapat menaikkan atau menurunkan tergantung jenis mikroorganismenya. Sel yang kering termasuk spora meningkatkan resistensi. Obyek yang kering memerlukan waktu lebih lama untuk sterilisasi.
  35. 36. Spesies dan jenis mikroorganisme . Dengan panas lembab bentuk vegetatif umumnya bakteri, jamur dan virus akan mati dalam pada 80 o C selama 20 ‘, tetapi N. gonorrhoeae hanya perlu 3 menit, sedangkan Staph. aureus perlu waktu 60 menit. Beberapa pengecualian: T. pallidum (43 o C, 10 menit), Virus poliomyelitis (75 o C, 30 menit), Virus hepatitis (60 o C, 10 jam), Spora (121 o C 10 menit) . Hal-hal yang mempengaruhi sterilisasi panas :
  36. 37. Sterilisasi Suhu Rendah Prinsip dari pemanfaatan suhu rendah dalam kontrol mikroorganisme adalah untuk menghambat pertumbuhan mereka selama menunggu pemrosesan atau untuk penyimpanan. Dengan suhu dingin ini, aktivitas seluler mereka berhenti. Beberapa memang terbunuh dengan cara ini, t etapi sebagian besar hanya menghentikan aktivitas selulernya, dan dapat aktif kembali pada suasana yang sesuai.
  37. 38. Sterilisasi Suhu Rendah <ul><li>Pendinginan </li></ul><ul><li>Biarkan beberapa bakteri,khamir, dan kapang yang ditumbuhkan pada media agar dalam tabung reaksi dapat tetap hidup selama berbulan-bulan pada suhu lema r i es, yaitu sekitar 4-7°C </li></ul><ul><li>Suhu Dibawah Titik Nol </li></ul><ul><li>Bakteri dan virus dapat dipertahankan dibawah suhu -20°C (suhu pembekuan mekanis), -70°C (suhu es kering), </li></ul><ul><li>-195°C (suhu nitrogen cair). Pendingin mula-mula dapat mematikan sebagian sel, tetapi jumlah yang dapat bertahan lebih besar dan dapat hidup dalam waktu yang lama. </li></ul>
  38. 39. <ul><li>Tehnik Pengeringan atau desikasi </li></ul><ul><li>akan membunuh kebayakan bakteri patogen, </li></ul><ul><li>tetapi beberapa bakteri seperti staphylococcus, </li></ul><ul><li>streptococcus dan M. tuberculosis relative tahan </li></ul><ul><li>terhadap suasana kering, </li></ul><ul><li>khusunya bila terlindung oleh nanah </li></ul><ul><li>atau sputum yang mengering. </li></ul><ul><li>Resistensi terhadap kekeringan </li></ul><ul><li>juga terjadi pada spora (jamur dan bakteri) </li></ul><ul><li>dan virus (khusu s nya yang tidak berselubung). </li></ul><ul><li>Ada beberapa faktor bertahan hidupnya mikroba: </li></ul><ul><li>Jenis mikroba </li></ul><ul><li>Bahan pembawa yang dipakai untuk mengeringkan mikroba </li></ul><ul><li>Kesempuranaan proses pengeringan </li></ul><ul><li>Kondisi fisik (cahaya, suhu, kelembapan) yang di perlukan untuk mikroba yang dikeringkan. </li></ul>
  39. 40. Lyophilization merupakan teknik gabungan pendinginan dan pengeringan, digunakan untuk menyimpan mikroorganisme sehingga tahan bertahun-tahun. Liofilisasi dikerjakan dengan cara mendinginkan mikroorganisme dengan es kering yang kemudian dilanjutkan dengan vakum tekanan tinggi untuk mengisap airnya.
  40. 41. Tekanan Osmotik Dan Plasmolosis <ul><li>Pertumbuhan mikrooganisme umumnya terhambat oleh adanya kadar garam NaCl 10-15% atau kadar gula 50-70%. Penghambat pertumbuhan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan pengasinan atau dengan larutan gula berkadar tinggi. Dengan cara ini sel mikroba akan mengalami plasmolisis dan dehidrasi. Sehingga tidak mampu melakukan metabolisme atau berkembang biak. Jika masih ada yang dapat bertahan, sel-sel tersebut akan berada dalam keadaan dorman. </li></ul>
  41. 42. Tehnik Sterilisasi Radiasi en e rgi yang dipancarkan oleh aktivitas atomik dan dapat menembus benda atau ruang. Pancaran radiasi dapat berupa gelombang atau partikel . Radiasi gelombang elektromagnet berkisar antara gelombang pendek dengan energi tinggi dari sinar gamma dan gelombang radio yang mempunyai gelombang sangat panjang . Dari berbagai jenis gelombang elektromagnet ini hanya sinar gamma, sinar X dan sinar ultra violet yang dapat digunakan sebagai alat kontrol mikroorganisme
  42. 43. <ul><li>Sinar Ultraviolet (Uv) </li></ul><ul><li>Bagian radiasi Uv berkisar 15-390 nm, panjang gelombang 265 nm bersifat bakterisida tertinggi. Lampu Uv 260-270 nm banyak digunakan untuk mengurangi populasi mikroba di ruang bedah rumah sakit, untuk pengisian produk steril, dan untuk menghindari kontaminasi produk makanan. </li></ul><ul><li>Sinar X </li></ul><ul><li>Bersifat letal pada mikroba maupun mahluk hidup lainnya. Memiliki daya tembus tinggi dibandingkan sinar Uv. Sangat jarang digunakan karena tidak efisien dan berbahaya bagi diri. </li></ul><ul><li>Sinar Gamma </li></ul><ul><li>Radiasi sinar gamma yang lebih kuat dari sinar X dipancarkan oleh isotop. Radiasi seperti C0-60 banyak digunakan untuk sterilisasai bahan-bahan tebal dan besar, seperti peralatan media atau bahan makanan. Kelebihan dari si n ar X lebih efisien. </li></ul>
  43. 44. Sterilisasi dengan Gelombang Suara (Ultrasonic) Gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasonic) diketahui dapat merusak sel. Mikroba yang paling sensitif terhadap metode sterilisasi ini adalah kuman bentuk batang Gram-negatif, sedangkan yang paling resisten adalah kokus Gram-positif, spora jamur , dan spora bakteri.
  44. 45. <ul><ul><ul><li>Sterilisasi Filtrasi </li></ul></ul></ul>Prinsip sterilisasi metode filtrasi sangat sederhana, yaitu dengan melewatkan cairan yang akan disterilkan melalui saringan yang mempunyai lubang cukup kecil, sehingga mikroba tidak mampu melewatinya. Sterilisasi filtrasi terutama digunakan untuk mensterilkan cairan yang tidak tahan panas, misalnya serum, vaksin, obat, enzim dan sebagainya. Filtrasi juga digunakan untuk menyaring udara ruangan, misalnya HEPA ( high efficiency particulate air) filters.
  45. 46. STERILISASI FILTRASI <ul><li>Filter Chamberland-Pasteur: berbentuk seperti lilin dan terbuat dari porselein yang berpori halus </li></ul><ul><li>Filter Gelas: berupa piringan yang terdiri atas butiran-butiran gelas yang berpori-pori sangat halus </li></ul><ul><li>Filter Seitz: lembaran tebuat dari bahan asbes dengan ukuran pori tertentu, yang diletakkan dalam bejana anti karat. Sebelum digunakan harus disterilkan. </li></ul><ul><li>Filter Membran (FILTRASI BAKTERIOLOGI) : terbuat dari ester selulosa atau bahan polimer dengan diameter pori 0,1-10 mikron </li></ul><ul><li>Filtrasi Udara: digunakan untuk menyaring udara ruangan, misalnya HEPA ( high efficeincy particulate air ) filter. </li></ul>
  46. 47. Filter Chamberland-Pasteur Filter Membran Filter Seitz
  47. 48. Filter membran
  48. 49. SECARA KIMIA/ DESINFEKTAN <ul><li>Senyawa fenol dan fenolik </li></ul><ul><li>Bisfenol </li></ul><ul><li>Golongan biguanida </li></ul><ul><li>Golongan halogen </li></ul><ul><li>Golongan alkohol </li></ul><ul><li>Logam berat dan campurannya </li></ul><ul><li>Surfaktan </li></ul><ul><li>Quat </li></ul><ul><li>Bahan pengawet </li></ul><ul><li>Golongan aldehid </li></ul><ul><li>Gas kemosterilisator </li></ul><ul><li>Golongan peroksida </li></ul>
  49. 50. <ul><li>Senyawa fenol dan fenolik </li></ul><ul><li>Kosentrasi yang digunakan 1%, kekurangannya mengiritasi kulit. Turunan fenol disebut fenolik,contoh: kresol bahan utama pembuatan lisol </li></ul><ul><li>Bisfenol </li></ul><ul><li>Derivat fenol yang mengandung 2 fenolik, contoh: heksaklorofen. Digunakan pada bayi baru lahir untuk bakteri Staphylococcus dan Streptococcus . Kekurangannya dapat memicu kerusakan saraf. Bisfenol lainnya Triklosan bahan antiseptik sabun dan pasta gigi. Contoh: Pseudomonas aeruginosa . </li></ul><ul><li>Golongan Biguanid </li></ul><ul><li>Klorheksidin merupakan contoh senyawa, jika dikombinasikan dengan alkohol atau detrgen dapat digunakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah operasi. </li></ul>
  50. 51. <ul><li>Golongan Halogen </li></ul><ul><li>Iodine dan klorin merupakan antiseptik yang efektif, klorin banyak digunakan untuk desinfektan air minum, air kolam renang, dan limbah sampah. </li></ul><ul><li>Golongan Alkohol </li></ul><ul><li>Efektif untuk jamur dan bakteri,etanol, dan isopropanol merupakn dua jenis senyawa sering digunakan. Etanol yang direkomendasikan adalah yang 70% tetapi untuk 60-95% juga bisa. Etanol murni kurang efektif membunuh bakteri karena proses denaturasi protein membutuhkan air. Isopropanolol lebih baik dan lebih murah dari etanol. </li></ul><ul><li>Logam berat dan campurannya </li></ul><ul><li>Contoh perak merkuri, perungu, sulfacine (kombinasi perak iodida dan biguanida) seng klorida (untuk obat kumur), seng oksida (anti jamur pada pembuatan cat). </li></ul>
  51. 53. <ul><ul><ul><li>Surfactan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Surfactan asam ionik berguna untuk disnfrksi peralatan dan perlengkapan produk olahan susu dan makanan. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Quat </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Co benzalnium klorida dan setilpiridinum klorida. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Bahan pengawet </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Co sulfur dioksida untuk minuman anggur, natrium benzoat, asam sorbat, dan kalsium propionat. Sejenis antibiotik tertentu spt nisin dan natamisin jg digunakan pada pembuatan keju </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mekanisme:.........................................(cari!!!) </li></ul></ul></ul>
  52. 54. <ul><ul><ul><li>Golongan aldehid </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Co formaldehid dan gluteraldehid. Gluterldehid pada konsentrasi 2% bersifat bakterisida, tuerkulosida, dan virusida dalam 10 menit dan sporosida dalam 3-10 jam. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Gas kemosterilisator </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Merupan gas yang digunakan untuk mensterilkan ruangan tertutup, seperti etilen dioksida membunuh mikroba dan endospora dalam waktu 4-18 jam </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Golongan peroksigen </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Co ozon, H2O2, dan asam parasetat. Asam parasetat bersifat sporosida dan menghilangkan endospora dan virus dalam waktu 30 menit dan membunuh bakteri vegetatif dan jamur <5 menit. Benzoil peroksida untuk mengobati bisul dan luka yang terinfeksi bakteri anaerob. </li></ul></ul></ul>
  53. 55. <ul><li>Ta rget seluler antimikroba </li></ul><ul><li>baik fisik maupun kimia </li></ul><ul><li>secara umum dikategorikan menjadi 4 golongan, yaitu: </li></ul><ul><li>Dinding sel </li></ul><ul><li>Membran sel </li></ul><ul><li>Proses sintesis seluler (DNA, RNA) </li></ul><ul><li>Protein </li></ul>
  54. 56. SECARA BIOLOGI <ul><li>Dinding sel </li></ul><ul><li>Membran sel </li></ul><ul><li>Proses sintesis seluler (DNA, RNA) </li></ul><ul><li>Protein </li></ul>
  55. 57. Antimikroba yang Berefek Pada Membran Sel Semua mikroorganisme mempunyai membran sel yang tersusun atas lipid dan protein dua lapis (lipid bilayers), termasuk virus yang berselubung (envelop). Struktur lipid bilayer merupakan molekul dengan bagian polar (bagian yang larut dalam air, hidroflik) yang menghadap ke luar, sedangkan bagian nonpolar menjulur saling berhadapan. Dengan struktur ini membran akan tidak terlalu mudah dilewati molekul dari luar yang akan masuk ke dalam sel. Bahan surfatctan merupakan molekul polar yang mempunyai bagian hidrofobik dan hidrofi li k. Dengan struktur tersebut bahan surfactan akan dapat menyisip pada membran sel, dan masuk ke dalam bagian polar lipid bilayers, membuat disintegritas membran tersebut.
  56. 58. Cara kerja surfactan pada membran sel. Kerusakan membran sel membuat kebocoran masuk dan ke luar sel.
  57. 59. Antimikroba yang Berefek pada Sintesis Protein dan Asam Nukleat Protein merupakan kemponen utama sel, sehingga dengan terganggunya sintesis protein pada sel tersebut akan merusak struktur dan fungsi sel tersebut. Contoh antimikroba yang merusak sintesis sel ini adalah chloramphenicol. Chloramphenicol akan berikatan dengan ribosom, sehingga translasi protein terganggu.
  58. 60. Antimikroba yang Merubah Fungsi Protein Sel mikroba berisi berbagai jenis protein yang hanya berfungsi bila mereka tetap dalam bentuk konfigurasi tiga dimensi yang normal (konformasi), contohnya adalah enzim. Denaturasi menyebabkan perubahan lipatan bentuk sekunder dan tersier protein, sehingga bentuk kumparan atau tekukannya tidak seperti aslinya. Denaturasi da p at terjadi karena panas lembab atau pengaruh bahan-bahan kimia pelarut organik kuat (mis.: alkohol, asam, dan fenol) atau ion-ion metal yang melekatkan diri pada bagian aktif protein dan mencegah interaksinya dengan substrat yang cocok.
  59. 61. Sekian dan terima kasih

×