Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
1 
BAB I 
PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia, hal ini 
berkaitan de...
2 
Kabupaten Bungo yang letaknya strategis dan terletak di jalan Lintas 
Sumatra yang sedang berkembang pesat dibandingkan...
3 
Imunisasi merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menjaga 
kesehatan masyarakat, khususnya bagi bayi usia beberapa ...
4 
Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan karena pencegahan 
penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlind...
5 
1.2 Rumusan Masalah 
Berdasarkan penjelasan awal yang peneliti sampaikan pada latar 
belakang masalah penelitian ini, a...
6 
1.3.3.Untuk mengetahui upaya bidan desa dalam mengatasi hambatan yang 
dihadapi dalam meningkatkan program imunisasi ba...
7 
BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA 
2.1.Tinjauan Teoritis 
2.1.1. Pengertian Imunisasi 
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal a...
8 
2.1.2. Pentingnya Imunisasi 
Pemberian imunisasi pada balita bertujuan agar tidak rentan terkena 
penyakit sejak dini s...
9 
6. Semua balita yang tinggal di lingkungan padat, terutama di daerah 
pengungsian, atau kondisi bencana alam harus sega...
10 
4. Imunisasi Campak diberikan pada usia 9 sampai 11 bulan dan 
hanya diberikan satu kali. Imunisasi campak bertujuan m...
11 
pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik lainnya. Dia 
mempunyai tugas penting dalam konsultasi...
12 
2.1.7.Peran Fungsi dan Kompetensi Bidan 
1.Peran sebagai pelaksana 
Sebagai pelaksana, bidan mempunyai tiga kategori t...
13 
b) Menentukan diagnosa dan kebutuhan pelayanan dasar. 
c) Menyusun rencana tindakan/layanan sebagai prioritas dasar 
b...
14 
g) Membuat pencatatan dan laporan asuhan kebidanan yang telah 
diberikan. 
4) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien...
15 
d) Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang 
telah dibuat. 
e) Mengevaluasi asuhan kebidanan yang tela...
16 
c) Menyusun rencana pelayanan KB sesuai prioritas masalah 
bersama klien. 
d) Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai den...
17 
b) Menentukan diagnosa dan prioritas masalah. 
c) Menyusun rencana asuhan sesuai dengan rencana. 
d) Melaksanakan asuh...
18 
a) Mengkaji kebutuhan asuhan pada kasus resiko tinggi dan keadaan 
kegawat daruratan yang memerlukan pertologan pertam...
19 
b) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan 
faktor resiko dan keadaan kegawatan. 
c) Menyusun rencan...
20 
d) Melaksanakan asuhan kebidanan dengan resiko tinggi dan 
memberikan pertolongan pertama sesuai prioritas. 
e) Mengev...
21 
6) Memberikan asuhan kebidanan pada balita dengan resiko tinggi dan 
yang mengalami komplikasi serta gawat darurat yan...
22 
a) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan yang memerlukan tindakan 
diluar lingkup kewenangan bidan dan memerlukan rujuka...
23 
3) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada 
masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan me...
24 
e) Membuat catatan dan laporan serta mendokumentasikan seluruh 
kejadian dan intervensi yang sudah diberikan. 
5) Memb...
25 
d) Mengirim klien kepada petugas/institusi pelayanan kesehatan yang 
berwenang. 
e) Membuat catatan dan laporan erta m...
26 
5) Menggerakkan, mengembangkan kemampuan masyarakat dan 
memelihara kesehatannya dengan memanfaatkan potensi-potensi 
...
27 
A. Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada 
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang penanggu...
28 
B). Melatih dan membimbing kader termasuk siswa bidan dan 
keperawatan serta membina dukun di wilayah atau tempat kerj...
29 
2) Menyusun rencana kerja pelatihan. 
3) Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana. 
4) Mengolah dan menginterpre...
30 
3. Layanan kebidanan rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan 
dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang l...
31 
5. Perkawinan bidan desa yang segera meningkatkan desa dan pindah 
mengikuti suami. 
6. Pendidikan belum mencukupi unt...
32 
Penelitian juga merupakan usaha untuk menemukan, mengembangkan 
dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, Dengan demiki...
33 
fakta serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.17. Penjelasan metode 
deskriptif di atas, bermaksud untuk mengeta...
34 
Populasi adalah wilayah generalisasi Subjek yang mempunyai kuantitas 
dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh p...
35 
Dalam pengambilan sampel, peneliti menggunakan (sampel bertujuan) 
dengan pertimbangan tertentu, yakni mencari informa...
36 
akan dibahas serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan 
permasalahan tersebut. 
b) Studi Lapangan (field Research) 
...
37 
Suatu hal yang sangat penting dalam penelitian ini adalah menganalisis 
data karena hal ini dapat memberikan arti dan ...
38 
Pada saat ini mereka telah membentuk sebuah perkampungan kecil dan 
itulah sekarang yang bernama Desa Lubuk Beringin d...
39 
3 Muara Bungo Timbolasi 60 Km 
4 Muara Bungo Sungai Telang 67 KM 
5 Muara Bungo Buat 52 Km 
6 Muara Bungo Laman Panjan...
40 
kesadaran masyarakat untuk berprilaku hidup sehat. Petugas kesehatan dan 
masyarakat haruslah berperan serta. Bidan me...
41 
2 Pedagang 1 
3 Pegawai negeri 10 
4 Pegawai Swasta 8 
5 Buruh /Tukang 5 
6 DLL 276 
*sumber data bidan desa lubuk ber...
42 
Berdasarkan data monografi dusun, dapat ditentukan beberapa sarana 
dan prasarana sosial budaya yang didasarkan pertim...
43 
No Pendidikan Jumlah 
1 
2 
3 
4 
PAUD 
TK 
SD/MI 
SMP/MTS 
1 UNIT 
O UNIT 
0 UNIT 
1 UNIT 
Dilihat kondisi pendidikan...
44 
10. Masjid 1 
11. Mushola 2 
12. Kantor KUD 1 
13. Lapangan Sepak Bola 1 
*Sumber: Monografi Dusun Lubuk BeringinTahun...
45 
Susunan pengurus nama–nama di Desa Lubuk Beringin tersebut telah 
dibuat oleh pengurus desa Lubuk Beringin. 
Adapun su...
46 
4.1.4. Jumlah Balita yang sudah memperoleh Imunisasi dalam tahun 2013 
Tabel 9 
Data Balita yang sudah mengikuti Imuni...
47 
Jumlah 11 363 
4.2. TEMUAN KHUSUS 
4.2.1 Peran Bidan Di Dusun Lubuk Beringin 
Keberadaan bidan secara terus menerus/me...
48 
4. Peran sebagai peneliti. 
4.2.3 Hambatan yang dihadapi oleh bidan desa dalam program pentingnya 
imunisasi balita di...
49 
meningkatkan kesehatan balita, dapat tercapai pola hidup sehat yang 
maksimal serta dapat meningkatkan kepercayaan mas...
50 
Masih menurut Efrianti, yang ditemui peneliti, ia terus mencoba mengubah 
paradigma tersebut. Ia sudah menjalankan sos...
51 
melaporkan pada bidan dan kader sehingga dari keadaan ini masyarakat hidup 
sehat30. 
Tujuan khusus dengan adanya pend...
52 
berkunjung untuk saling membantu waktu proses kelahiran, juga anak – anak 
yang diimunisasi32. 
Menurut Efrianti, mema...
53 
Adapun orang tua yang ikut program imunisasi menceritakan, awalnya 
kami kurang yakin kalau ke bidan karena sudah bias...
54 
pada setiap kegiatan dusun, agar melakukan imunisasi bagi orang tua yang 
memiliki balita38. 
Menurut Efrianti, memang...
55 
kecil itu sakit biasanya “diganggu” oleh makhluk halus, atau pengobatan 
seperti suntikan, kapsul vitamin itu belum te...
56 
Begitu pula menurut Darni, ia tidak selalu membawa anaknya ikut 
imunisasi karena bekerja di sawah. Lagi pula penyakit...
57 
Mengenai hambatan komunikasi ini, menurut penjelasan Rio 
Lubuk Beringin memang benar terjadi. Pada umumnya masyarakat...
58 
warga yang memiliki anak balita untuk memberitahukan informasi 
mengenai pentingnya imunisasi. Hal ini dilakukan bersa...
59 
Sebab imunisasi ini memiliki jadwal tetap, dan untuk itu harus 
meyakinkan masyarakat agar patuh pada jadwal yang suda...
60 
masyarakat, sebab menurut kami kesehatan itu mahal, kalau ada wabah 
penyakit akibat kurangnya pemahaman kesehatan di ...
61 
BAB V 
PENUTUP 
5.1. Simpulan 
Dari hasil penelitian ini peranan bidan desa Lubuk Beringin sebagai motor 
pengerak dal...
62 
Adapun peran bidan tugas nya yaitu: Peran sebagai pengelola, Peran 
sebagai pelaksana, Peran sebagai pendidik, Peran s...
63 
peningkatan kesehatan baik dari asuhan antenatal maupun 
pengembangan meningkatkan kesehatan balita, dapat tercapai po...
64 
dengan masyarakat menyesuaikan dengan sosial budaya masyarakat yang 
masih kental dengan adat istiadat.
You’ve finished this document.
Download and read it offline.
Upcoming SlideShare
Hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio dengan tingkat kecemasan pasca imunisasi polio pada anaknya di posyandu margasari tasikmalaya tahun 2007
Next
Upcoming SlideShare
Hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio dengan tingkat kecemasan pasca imunisasi polio pada anaknya di posyandu margasari tasikmalaya tahun 2007
Next
Download to read offline and view in fullscreen.

Share

Contoh Skripsi Akbid tentang imunisasi

Download to read offline

Contoh Skripsi Akbid tentang imunisasi

Related Books

Free with a 30 day trial from Scribd

See all

Related Audiobooks

Free with a 30 day trial from Scribd

See all
  • Be the first to like this

Contoh Skripsi Akbid tentang imunisasi

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia, hal ini berkaitan dengan kemajuan sebuah negara. Semakin baik tingkat kesehatan masyarakat suatu negara, maka produktifitas masyarakat berperan serta dalam memajukan negaranya akan semakin maksimal. Untuk itu, negara Indonesia berupaya sedemikian rupa agar kesehatan masyarakatnya terjaga. Dalam upaya ini, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dalam pasal 1 (11) disebutkan bahwa “upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan atau masyarakat”. Salah satu upaya yang berbentuk pencegahan adalah dengan imunisasi pada balita. Balita berhak mendapatkan imunisasi guna mencegah berbagai macam penyakit dan kecacatan seperti polio. Untuk menjamin hak setiap anak memperoleh kesehatan pemerintah membuat peraturan yang dituangkan dalam Undang-Undang No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pasal 8 yang berbunyi setiap anak berhak memper=oleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual dan sosial. 1
  2. 2. 2 Kabupaten Bungo yang letaknya strategis dan terletak di jalan Lintas Sumatra yang sedang berkembang pesat dibandingkan kabupaten yang ada di Provinsi Jambi. Kabupaten Bungo terdiri dari 17 kecamatan yang berpenduduk 320.300 jiwa. Salah satu daerah yang geografisnya jauh dari wilayah kota Muara Bungo adalah Kecamatan Bathin III Ulu. Di sana terdapat Puskesmas Muara Buat yang melayani masyarakat beberapa dusun. Ada 9 dusun yang masuk wilayah administratif Kecamatan Bathin III Ulu, antara lain: Sungai Telang, Sungai Timbolasi, Karak, Apung, Muara Buat, Lubuk Beringin, Laman Panjang, Senamat Ulu Dan Aur Cino. Lubuk Beringin adalah salah satu dusun yang menjadi daerah pelayanan Puskesmas Muara Buat. Jarak antara Dusun Lubuk Beringin ini dengan ibu kota kabupaten sekitar 70 km dan jarak ke ibu kota kecamatan 15 km. Dusun Lubuk Beringin termasuk desa IDT (Inpres Desa Tertinggal) yang penduduknya sejumlah 104 kepala keluarga. Kasus penyakit wabah yang sering terjadi di Lubuk Beringin untuk golongan balita adalah terkena penyakit cacar air / penyakit campak. Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani, baik petani kebun karet maupun petani sawah. Kondisi geografis yang jauh dari perkotaan, membuat daerah ini tidak memiliki sarana dan prasarana umum yang memadai seperti Puskesmas. Di samping itu, kesibukan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi membuat perhatian terhadap kesehatan anak terutama program imunisasi kurang / minim.
  3. 3. 3 Imunisasi merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menjaga kesehatan masyarakat, khususnya bagi bayi usia beberapa bulan sampai dengan anak usia bawah lima tahun (balita). Agar imunisasi berjalan sebagaimana yang diharapkan, ditetapkanlah Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi yang sekaligus dapat dijadikan pedoman pelaksanaan penyelenggaraan imunisasi. Selain itu, kesuksesan penyelenggaraan imunisasi tidak hanya tugas pemerintah. Petugas kesehatan dan masyarakat haruslah berperan serta aktif. Bidan merupakan salah satu petugas kesehatan yang menjadi ujung tombak pemerintah dalam menjaga kesehatan masyarakat dan memiliki tanggung jawab lebih dalam program imunisasi ini. Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, dan resisten. Anak yang diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit. Contoh penyakit yang dapat diatasi dengan imunisasi yaitu, Difteri, penyakit Pertusis, penyakit Tetanus, penyakit Tetanus Neonatorum, penyakit Hepatitis B, penyakit Polio, penyakit Campak, dan penyakit TBC. Penyakit tersebut dapat dihindari dengan pemberian Imunisasi Polio, Imunisasi Campak, Imunisasi Hepatitis B, Imunisasi TT, untuk memberikan kekebalan kepada seorang balita agar tidak ada virus/penyakit yang menular masuk ke dalam tubuh anak tersebut. Bidan desa menyelesaikan program imunisasi untuk meningkatkan kesehatan balita untuk melindunginya dari serangan penyakit yang berbahaya, karena banyak terjadi kematian akibat penyakit yang diderita sebab tidak diimunisasi.
  4. 4. 4 Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah dibandingkan mengobati seseorang apabila telah jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Berdasarkan pengamatan dan infrormasi awal yang diperoleh peneliti, ada beberapa penyebab rendahnya partisipasi masyarakat untuk melakukan imunisasi pada anak balita di Dusun Lubuk Beringin, diantaranya : 1. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memperhatikan kesehatan anak karena kesibukan mencari nafkah 2. Masih terdapat kasus- kasus penyakit menular pada anak karena tidak diimunisasi seperti, cacar air, campak, polio, dan sebagainya. 3. Fasilitas kesehatan masih minim, dan jauh dari pusat kota. 4. Terbatasnya akses informasi yang dimiliki warga masyarakat. 5. Terbatasnya tenaga kesehatan yang melayani masyarakat. Hanya terdapat 1 (satu) orang bidan desa. Berdasarkan penjelasan dan pengamatan awal yang dilakukan tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian skripsi dengan judul “PERANAN BIDAN DESA DALAM MENINGKATKAN PROGRAM IMUNISASI BALITA” ( Studi di Dusun Lubuk Beringin Kecamatan Bathin III Ulu Kabupaten Bungo)
  5. 5. 5 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan penjelasan awal yang peneliti sampaikan pada latar belakang masalah penelitian ini, adapun permasalahan pokok yang perlu diteliti lebih lanjut sebagai rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut. 1.2.1 Bagaimana peranan bidan desa dalam meningkatkan program imunisasi balita di Dusun Lubuk Beringin, Kecamatan Bathin III Ulu Kabupaten Bungo? 1.2.2 Apa hambatan yang dihadapi oleh bidan desa meningkatkan program imunisasi balita di Dusun Lubuk Beringin, Kecamatan Bathin III Ulu Kabupaten Bungo? 1.2.3 Apakah upaya bidan desa dalam mengatasi hambatan yang dihadapi dalam meningkatkan program imunisasi balita di Dusun Lubuk Beringin, Kecamatan Bathin III Ulu Kabupaten Bungo? 1.3.Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.3.1 Untuk mengetahui peran bidan desa dalam meningkatkan program imunisasi balita di Dusun Lubuk Beringin Kecamatan Bathin III Ulu Kabupaten Bungo. 1.3.2.Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi oleh bidan desa meningkatkan program imunisasi bagi balita di Dusun Lubuk Beringin, Kecamatan Bathin III ulu kabupaten Bungo.
  6. 6. 6 1.3.3.Untuk mengetahui upaya bidan desa dalam mengatasi hambatan yang dihadapi dalam meningkatkan program imunisasi balita di Dusun Lubuk beringin, Kecamatan Bathin III Ulu Kabupaten Bungo. 1.4.Kegunaan penelitian Berdasarkan tujuan penelitian di atas, kegunaan dari penelitian ini dibagi atas dua bagian, yaitu : 1.4.1. Kegunaan teoritis Dari segi teoritis, penelitian yang dilakukan dapat memberikan sumbangan pemikiran serta informasi bagi pengembangan ilmu administrasi negara umumnya, kajian tentang kebijakan pelayanan publik pada khususnya untuk dalam hal untuk bidan mensosialisasikan imunisasi di Desa Lubuk Beringin. 1.4.2. Kegunaan praktis Dari hasil penelitian diharapkan nantinya dapat memberikan sumbangan pemikiran dan saran bagi peningkatan kualitas pelayanan administrasi berobat bagi masyarakat pengguna kesehatan imunisasi, dan layanan umum di lembaga-lembaga pemerintah yang melakukan pelayanan kepada masyarakat.
  7. 7. 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Tinjauan Teoritis 2.1.1. Pengertian Imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap penyakit yang lain.1 Menurut buku A. Samik Wahab, imunisasi (vaksinasi) merupakan aplikasi prinsip-prinsip imunologi yang paling terkenal dan paling berhasil terhadap kesehatan manusia. Nama vaksin diambil dari kata vaksinia, virus cacar sapi yang digunakan oleh Jenner 200 tahun yang lalu. Vaksinia merupakan upaya ilmiah pertama untuk mencegah penyakit infeksi cacar (variola) yang dilakukan tanpa pengetahuan sama sekali mengenai virus (atau segala macam mikroba) dan imunologi2. Dalam penelitian ini, yang dimaksud imunisasi adalah merupakan upaya pencegahan yang telah berhasil menurunkan morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) penyakit infeksi pada balita. Agar bidan dapat memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada bayi dan balita. 1 Seni Soekidjo Notoatmodjo. Kesehatan Masyarakat Ilmu . (Jakarta, 2007, hlm. 45) 2 Samik Wahab, Mardarina Julia. Sistem Imun, Imunisasi, dan Penyakit Imun. (Jakarta : Widya Medika, 2002, hlm. 38. 7
  8. 8. 8 2.1.2. Pentingnya Imunisasi Pemberian imunisasi pada balita bertujuan agar tidak rentan terkena penyakit sejak dini sehingga ketika tumbuh dewasa, bahwa tindakan imunisasi dapat membangkitkan kekebalan tubuh yang ada di dalam tubuh manusia akan serangan dari virus tanpa menimbulkan efek samping atau efek berbahaya lainnya. Adapun penyakit berbahaya yang bisa dicegah dengan imunisasi adalah penyakit polio, campak, hepatitis A, hepatitis B, dan juga Tetanus. Berikut dijelaskan pentingnya imunisasi untuk bayi dan anak:3 1. Imunisasi penting. Setiap anak harus mendapatkan paket lengkap imunisasi yang diwajibkan. Perlindungan melalui pemberian iminusasi untuk anak usia kurang dari satu tahun sangat penting. 2. Semua orang tua atau pengasuh harus mengikuti saran petugas kesehatan terlatih tentang kapan harus menyelesaikan jadwal imunisasi. Imunisasi melindungi terhadap beberapa penyakit yang berbahaya. 3. Seorang anak yang tidak dapat imunisasi, cenderung akan mudah terkena yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian imunisasi aman untuk anak yang sakit ringan, cacat atau kurang gizi. 4. Setiap anak yang diimunisasi harus menggunakan jarum suntik yang baru. 5. Masyarakat berhak memastikan bahwa dalam setiap imunisasi digunakan jarum suntik baru. Penyakit dapat cepat menular jika jarum suntik yang digunakan secara berkumpul bersama-sama. 3 http : www.promkes.depkes.go.id 4-maret 2014
  9. 9. 9 6. Semua balita yang tinggal di lingkungan padat, terutama di daerah pengungsian, atau kondisi bencana alam harus segara mendapatkan imunisasi terutama campak dan Tetanus Toxoid (TT) Catatan imunisasi seperti Kartu Ibu dan Anak (KIA) atau Kartu Menuju Sehat (KMS) harus dibawa untuk diisi oleh petugas kesehatan setiap kali mendapatkan imunisasi. Dengan demikian, pemberian imunisasi terhadap anak sangat penting. Untuk itu, masyarakat perlu menyadari akan pentingnya imunisasi bagi balita. 2.1.3. Jenis Imunisasi Jenis imunisasi yang di berikan pada balita antara lain mencakup:4 1. Imunisasi B C G(Balcilius Calmette Tetanus) ini diberikan pada usia 0 sampai dengan 11 bulan dan hanya diberikan satu kali untuk mencegah agar tidak terserang penyakit TBC. 2. Imunisasi DPT (Depteri Pertusis Tetanus) ini diberikan kepada balita usia 2 sampai 11 bulan, dan diberikan sebanyak 3 kali berturut-turut dengan selang waktu minimal 4 minggu. Imunisasi ini bertujuan untuk mencegah penyakit Depteri, Pertusis, dan Tetanus. 3. Imunisasi Polio diberikan pada anak usia 2 sampai 11 bulan dan diberikan secara berturut-turut dengan selang waktu selama 4 minggu. Jenis imunisasi ini untuk mencegah terjadinya penyakit Polio. 4 Op cit, hlm. 215
  10. 10. 10 4. Imunisasi Campak diberikan pada usia 9 sampai 11 bulan dan hanya diberikan satu kali. Imunisasi campak bertujuan mencegah terjadinya penyakit campak. 2.1.4. Pengertian sosialisasi Sosialisasi adalah mengajak masyarakat untuk mengetahui pentingnya imunisasi bagi balita agar tidak ada terjadi kecacatan dan kematian kegenerasi selanjutnya, Selain itu, imunisasi juga untuk meningkatkan kesehatan bagi balita yang baik.5 Program imunisasi adalah cara terbaik untuk melindungi sesorang dari serangan penyakit yang berbahaya dan juga mematikan khususnya bagi balita. Banyak sekali kematian akibat penyakit bisa dicegah dengan menggunakan imunisasi ini. Akan tetapi banyak orang masih meragukan keamanannya.6 2.1.5. Bidan Desa Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan (post partum period), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Asuhan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan 5 http//id.m Wkipedia.org/wiki/sosialisasi 3-maret-2014 6 http//irenesusilo.blogspot.com2013/04sosialisasi-imunisasi 15-maret-2014
  11. 11. 11 pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik lainnya. Dia mempunyai tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas kedaerah tertentu dari ginekologi, keluarga berencana dan asuhan anak. Dia bisa berpraktek di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat pelayanan lainnya.7 2.1.6. Kewajiban Bidan desa Bidan desa memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan masyarakat di tempat dia ditugaskan. Oleh karena itu, penting bagi seorang bidan mengetahui kewajiban-kewajibannya. Adapun kewajiban seorang bidan desa adalah sebagai berikut :8 1. Bidan wajib mematuhi peraturan rumah sakit sesuai dengan hubungan hukum antara bidan tersebut dengan rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan di mana ia berkerja. 2. Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi dengan menghormati hak-hak pasien. 3. Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang mempunyai kemampuan dan keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien. 7 8 Ibid 84 ikatan bidan desatahun 2008
  12. 12. 12 2.1.7.Peran Fungsi dan Kompetensi Bidan 1.Peran sebagai pelaksana Sebagai pelaksana, bidan mempunyai tiga kategori tugas yaitu:9 A. Tugas Mandiri : 1) Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan: a) Mengkaji status kesehatan untuk memenuhi kebutuhan asuhan klien. b) Menentukan diagnosa. c) Menyusun rencana tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi. d) Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. e) Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan. f) Membuat rencana tindak lanjut kegiatan/tindakan. g) Membuat catatan dan laporan kegiatan/tindakan. 2) Memberikan pelayanan dasar pada anak remaja dan wanita pra nikah dengan melibatkan klien: a) Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan anak remaja dan wanita dalam masa pra nikah. 9 Ibid 114.buku ikatan bidan desa tahun 2008
  13. 13. 13 b) Menentukan diagnosa dan kebutuhan pelayanan dasar. c) Menyusun rencana tindakan/layanan sebagai prioritas dasar bersamaklien. d) Melaksanakan tindakan/layanan sesuai dengan rencana. e) Mengevaluasi hasil tindakan/layanan yang telah diberikan bersama klien. f) Membuat rencana tindak lanjut tindakan/layanan bersama klien. g) Membuat catatan atau pelaporan asuhan kebidanan. 3) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal: a) Mengkaji status kesehatan bersama klien yang dalam keadaan hamil. b) Menentukan diagnosa kebidanan dan kebutuhan kesehatan klien. c) Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien sesuai dengan prioritas. d) Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah disusun. e) Mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan bersama klien. f) Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien.
  14. 14. 14 g) Membuat pencatatan dan laporan asuhan kebidanan yang telah diberikan. 4) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien/keluarga: a) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada klien dalam masa persalinan. b) Menentukan diagnosa dan kebutuhan asuhan kebidanan dalam masa persalinan. c) Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien sesuai dengan prioritas masalah. d) Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah disusun. e) Mengevaluasi bersama klien asuhan yang telah diberikan. f) Membuat rencana tindakan pada ibu masa persalinan tersaing dengan prioritas. g) Membuat asuhan kebidanan. 5) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir. a) Mengkaji status kesehatan bayi baru lahir dengan melibatkan keluarga. b) Menentukan diagnosa dan kebutuhan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir. c) Menyusun rencana asuhan kebidanan sesuai prioritas.
  15. 15. 15 d) Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. e) Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan. f) Membuat rencana tindak lanjut. g) Membuat rencana pencatatan dan laporan asuhan yang telah diberikan. 6) Memberikan asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien/keluarga. a) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu nifas. b) Menentukan diagnosa dan kebutuhan asuhan kebidanan pada masa nifas . c) Menyusun rencana asuhan kebidanan berdasarkan prioritas masalah. d) Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana. e) Mengevaluasi bersama klien asuhan kebidanan yang telah diberikan. f) Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien. 7) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita subur yang membutuhkan pelayanan keluarga berencana. a) Mengkaji kebutuhan pelayanan keluarga berencana pada pus/vus. b) Mentukan diagnosa dan kebutuhan pelayanan.
  16. 16. 16 c) Menyusun rencana pelayanan KB sesuai prioritas masalah bersama klien. d) Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang dibuat. e) Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan. f) Membuat rencana tindak lanjut pelayanan bersama klien. g) Membuat pencatatan dan laporan. 8) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita gangguan system reproduksi dan wanita dalam masa klimakterium dan menopause: a) Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan asuhan klien. b) Menentukan diagnosa, prognosa, prioritas dan kebutuhan asuhan. c) Menyusun rencana asuhan sesuai prioritas masalah bersama klien. d) Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana. e) Mengevaluasi bersama klien hasil asuhan kebidanan yang telah diberikan . f) Membuat rencana tidak lanjut bersama klien. g) Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan. 9) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi, balita dengan melibatkan keluarga: a) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan sesuai dengan tumbuh kembang bayi/balita.
  17. 17. 17 b) Menentukan diagnosa dan prioritas masalah. c) Menyusun rencana asuhan sesuai dengan rencana. d) Melaksanakan asuhan sesuai dengan prioritas masalah. e) Mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan. f) Membuat rencana tindak lanjut. g) Membuat catatan dan laporan asuhan.. B.Tugas Kolaborasi/kerja sama 1) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsikolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga:10 a) Mengkaji masalah yang berkaitan dengan komplikasi dan keadaan kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi. b) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi. c) Merencanakan tindakan sesuai dengan prioritas kegawatan dan hasil kolaborasi serta kerja sama dengan klien. d) Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana dan dengan melibatkan klien. e) Mengevaluasi hasil tindakan yang telah diberikan. f) Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien. g) Membuat pencatatan dan pelaporan. 2) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi: 10 Ibid:117 Ibi Ikatan Bidan Desa
  18. 18. 18 a) Mengkaji kebutuhan asuhan pada kasus resiko tinggi dan keadaan kegawat daruratan yang memerlukan pertologan pertama dengan tindakan kolaborasi. b) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritias sesuai dengan faktor resiko dan keadaan kegawat daruratan pada kasus resiko tinggi. c) Menyusun rencana asuhan dan tindakan pertolongan pertama sesuai prioritas. d) Melaksanakan asuhan kebidanan pada kasus ibu hamil resiko tinggi dan memberikan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas. e) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama. f) Menyusun rencana lanjut bersama klien. g) Membuat catatan dan laporan. 3) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan yang mengalami komplikasi serta kegawat daruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga. a) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan keadaan kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
  19. 19. 19 b) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor resiko dan keadaan kegawatan. c) Menyusun rencana asuhan dan tindakan pertolongan pertama sesuai prioritas. d) Melaksanakan asuhan kebidanan pada kasus ibu hamil resiko tinggi dan memberikan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas. e) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertologan pertama. f) Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien. g) Membuat catatan dan laporan. 4) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadan kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan klien keluarga: a) Mengkaji kebutuhan asuhan pada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi dan keadaan kegawatan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi. b) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor resiko dan keadaan kegawat daruratan. c) Menyusun rencana asuhan kebidanan pada ibu masa nifas dengan resiko tinggi dan pertologan pertama sesuai prioritas.
  20. 20. 20 d) Melaksanakan asuhan kebidanan dengan resiko tinggi dan memberikan pertolongan pertama sesuai prioritas. e) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama. f) Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien/keluarga. g) Membuat catatan dan laporan. 5) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan mengalami komplikasi serta kegawat daruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga. a) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dalam dengan resiko tinggi dan kegawat darutan yang memerlukan tindakan kolaborasi. b) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor resiko dan keadaan kegawatan. c) Menyusun rencana asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan memerlukan pertolongan pertama sesuai prioritas. d) Melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama sesuai prioritas. e) Mengevaluasi hasil asuhan dan pertolongan pertama telah diberikan. f) Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien/keluarga. g) Membuat catatan dan laporan.
  21. 21. 21 6) Memberikan asuhan kebidanan pada balita dengan resiko tinggi dan yang mengalami komplikasi serta gawat darurat yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan keluarga. a. Mengkaji kebutuhan asuhan pada balita dengan resiko tinggi dan keadaan kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi. b. Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor resiko dan keadaan kegawatan. c. Menyusun rencana asuhan kebidanan pada balita dengan resiko tinggi dan memerlukan pertolongan pertama sesuai prioritas. d. Melaksanakan asuhan kebidanan pada balita dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama sesuai prioritas. e. Mengevaluasi hasil asuhan dan pertolongan pertama yang telah diberikan. f. Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien / keluarga. g. Membuat catatan dan laporan. C. Tugas Ketergantungan/Merujuk 1) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dengan keluarga:11 11 lbid 119
  22. 22. 22 a) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan yang memerlukan tindakan diluar lingkup kewenangan bidan dan memerlukan rujukan. b) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas serta sumber-sumber dan fasilitas untuk kebutuhan intervensi lebih lanjut bersama klien/ keluarga. c) Mengirim klien untuk kebutuhan intervensi lebih lanjut kepada petugas institusi pelayanan kesehatan yang berwenang dengan dokumentasi yang lengkap. d) Membuatpencatatan dan pelaporan serta mendokumentasikan seluruh kejadian dan intervensi. 2) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada hamil denganresiko tinggi dan kegawat daruratan: a) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan. b) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas. c) Memberikan pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan . d) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan. e) Mengirim klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut pada petugas/institusi pelayanan kesehatan yang berwenang. f) Membuat catatan dan laporan serta mendokumentasikan seluruh kejadian dan intervensi yang sudah diberikan.
  23. 23. 23 3) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan keluarga. a) Mengkaji adanya penyulit dan keadaan kegawatan pada ibu dalam persalinan yang memerlukan konsultasi dan rujukan. b) Menentukn diagnosa, prognosa dan prioritas. c) Memberikan pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan. d) Mengirim klien untuk intervensi lebih lanjut kepada petugas/instansi pelayanan kesehatan yang berwenang. e) Membuat catatan dan laporan serta mendokumentasikan seluruh kejadian dan intervensi yang sudah diberikan. 4) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu dalam masa nifas dengan penyulit tertentu dengan kegawat daruratan dengan melibatkan klien dan keluarga. a) Mengkaji adanya penyulit dan keadaan kegawatan pada ibu dalam masa nifas yang memerlukan konsultasi rujukan. b) Menentukan diagnose,prognosa dan prioritas masalah. c) Memberikan pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan. d) Mengirimkan klien untuk keperluan intervensi lebih lanjut pada petugas/institusi pelayanan kesehatan yang berwenang.
  24. 24. 24 e) Membuat catatan dan laporan serta mendokumentasikan seluruh kejadian dan intervensi yang sudah diberikan. 5) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan kelainan tertentu dan kegawat daruratan yang memerlukan konsultasi dan rujukan dengan melibatkan keluarga. a) Mengkaji adanya penyulit da keadaan kegawatan pada bayi baru lahir yang memerlukan konsultasi dan rujukan. b) Memerlukan diagnosa, prognosa dan prioritas masalah. c) Memberikan pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan dan memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan tindakan. d) Mengirim klien kepada institusi pelayanan kesehatan yang berwenang. e) Membuat catatan dan laporan serta mendokumentasikan. 6) Memberikan asuhan kebidanan kepada anak balita dengan kelainan tertentu dan kegawatan yang memerlukan konsultasi dan rujukan dengan melibatkan klien/keluarga. a) Mengkaji adanya penyulit dan keadaan kegawat daruratan pada balitayang memerlukan konsultasi dan rujukan. b) Menerima diagnosa dan prioritas. c) Memberikan pertolongan pertama pada kasus yang memerlukan rujukan.
  25. 25. 25 d) Mengirim klien kepada petugas/institusi pelayanan kesehatan yang berwenang. e) Membuat catatan dan laporan erta mendokumentasikan. 2.Peran Sebagai Pengelola A. Mengembangkan pelayanan dasar kesehatan terutama pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga, kelompok khusus dan masyrakat di wilayah kerja dengan melibatkan masyarakat / klien. 1) Bersama tim kesehatan dan pemuka masyarakat mengkaji kebutuhan terutama yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk meningkatkan dan mengembangkan program pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya. Menyusun rencana kerja sesuai dengan hasil pengkajian dengan masyarakat. 2) Mengelola kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat khususnya kesehatan ibu dan anak serta KB sesuai dengan rencana. 3) Mengkoordinir, mengawasi, dan membimbing kader, dukun atau petugas kesehatan lain dalam melaksanakan program/kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak serta KB. 4) Mengembangkan strategi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya kesehatan ibu dan anak serta KB termasuk pemanfataan sumber-sumber yang ada pada program dan sektor terkait.
  26. 26. 26 5) Menggerakkan, mengembangkan kemampuan masyarakat dan memelihara kesehatannya dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada. 6) Mempertahankan, meningkatkan mutu dan keamanan praktek professional melalui pendidikan, pelatihan, magang dan kegiatan-kegiatan dalam kelompok profesi. 7) Mendokumentasikan seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan. B. Berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan sektor lain di wilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader kesehatan dan tenaga kesehatan lain yang berada di bawah bimbingan dalam wilayah kerjanya. 1) Bekerja sama dengan Puskesmas, institusi lain sebagai anggota tim dalam memberikan asuhan kepada klien dalam bentuk konsultasi rujukan dan tindak lanjut. 2) Membina hubungan baik dengan dukun kader kesehatan /PLKB dan masyarakat. 3) Melaksanakan pelatihan, membimbing dukun bayi, kader dan petugas kesehatan lain. 4) Memberikan asuhan kepada klien rujukan dari dukun bayi. 5) Membina kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat, yang berkaitan dengan kesehatan. 3.Peran Sebagai Pendidik
  27. 27. 27 A. Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang penanggulangan masalah kesehatan khususnya yang berhubungan dengan pihak terkait kesehatan ibu, anak dankeluarga berencana.12 1) Bersama klien pengkaji kebutuhan akan pendidikan dan penyuluhan kesehatan masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana. 2) Bersama klien pihak terkait menyusun rencana penyuluhan kesehatan masyarakat sesuai dengan kebutuhan yang telah dikaji, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. 3) Menyiapkan alat dan bahan pendidikan dan penyuluhan sesuai dengan rencana yang telah disusun. 4) Melaksanakan program/rencana pendidikan dan penyuluhan kesehatan masyarakat sesuai dengan rencana jangka pendek dan jangka panjang melibatkan unsur-unsur yang terkait termasuk masyarakat. 5) Bersama klien mengevaluasi hasil pendidikan/penyuluhan kesehatan masyarakat dan menggunakannya untuk memperbaiki dan meningkatkan program di masa yang akan datang. 6) Mendokumentasikan semua kegiatan dan hasil pendidikan/penyuluhan kesehatan masyarakat secara lengkap dan sistematis. 12 Ibid 112
  28. 28. 28 B). Melatih dan membimbing kader termasuk siswa bidan dan keperawatan serta membina dukun di wilayah atau tempat kerjanya. 1) Mengkaji kebutuhan latihan dan bimbingan kader, dukun dan siswa. 2) Menyusun rencana laltihan dan bimbingan sesuai dengan hasil pengkajian. 3) Menyiapkan alat, AVA dan bahan untuk keperluan latihan bimbingan peserta latih sesuai dengan rencana yang telah disusun. 4) Melaksanakan pelatihan dukun dan kader sesuai dengan rencana yang telah disusun dengan melibatkan unsur-unsur terkait. 5) Membimbing siswa bidan dan siswa keperawatan dalam lingkup kerjanya. 6) Menilai hasil latihan dan bimbingan yang telah diberikan. 7) Menggunakan hasil evaluasi untuk meningkatkan program bimbingan. 8) Mendokumentansikan semua kegiatan termasuk hasil evaluasi dan bimbingan secara sistematis dan lengkap. 4.Peran sebagai Peneliti/Investigator13 A). Melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang kesehatan baik mandiri maupun secara kelompok. 1) Mengidentifikasi kebutuhan investigasi yang akan dilakukan. 13 Ibid 123
  29. 29. 29 2) Menyusun rencana kerja pelatihan. 3) Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana. 4) Mengolah dan menginterpretasikan data hasil investigasi. 5) Menyusun laporan hasil investigasi dan tidak lanjut. 6) Memanfaatkan hasil investigasi untuk meningkatkan dan mengembangkan program kerja atau pelayanan kesehatan. 2.1.8 Pelayanan Bidan Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga yang berkualitas. Pelayanan kebidanan merupakan layanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengaan kewenangan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya keluarga berkualitas, bahagia dan sejahtera.Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga dan masyarakat, yang meliputi peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan. Layanan kebidanan dapat dibedakan menjadi:14 1. Layanan kebidanan primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan. 2. Layanan kebidanan kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara kebersamaan atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan. 14 http://adf.lyPeranan Bidan Dalam Sistem Kesehatan Nasional 5mei 2014
  30. 30. 30 3. Layanan kebidanan rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan oleh bidan ke tempat/fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horisontal maupun vertikal atau ke profesi kesehatan lainnya. layanan kebidananyang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu dan serta bayinya. Pelayanan kesehatan yang patut dilaksanakan bidan: 1. Meningkatkan uapaya pengawasan ibu hamil. 2. Meningkatkan gizi ibu hamil dan menyusui. 3. Meningkatkan gerakan penerimaan KB. 4. Meningkatkan kesehatan lingkungan 5. Meningkatkan sistem rujukan. Ada beberapa hambatan dalam penempatan bidan di desa antara lain: 1. Umur bidan relatif muda dan bukan dari desa sendiri. 2. Kesulitan menyesuaikan diri di tengah masyarakat. 3. Bidan bukan pegawai negeri sehingga tidak mempunyai penghasilan tetap. 4. Kemampuan desa untuk membangun Polindes masih terbatas sehingga banyak di antara bidan desa tidak mendapat dukungan sarana dari masyarakat.
  31. 31. 31 5. Perkawinan bidan desa yang segera meningkatkan desa dan pindah mengikuti suami. 6. Pendidikan belum mencukupi untuk mampu mandiri sehingga bidan kurang berfungsi. 7. Karena berusia muda, bidan belum mendapat kepercayaan masyarakat sehingga orientasi kepada dukun masih dominan. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1.1 Metodologi Penelitian Dalam penelitian ilmiah, metode merupakan pedoman yang harus digunakan dalam memecahkan berbagai masalah. Penggunaan metode sangat membantu peneliti untuk berpikir secara tepat dan meningkatkan objektivitas dalam mencari kebenaran pengetahuan.
  32. 32. 32 Penelitian juga merupakan usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, Dengan demikian maka penelitian pada dasarnya adalah proses penerapan metode ilmiah tersebut yang hasilnya adalah ilmu (kebenaran). Pada hakekatnya metodologi sebagai pedoman tentang cara-cara seorang ilmuan mempelajari, menganalisa dan memahami lingkungan-lingkungan yang dihadapi. Menurut Winarno Surachmad, metode adalah cara yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan teknik serta alat-alat tertentu, cara utama ini dipergunakan setelah penyelidikan memperhitungkan kewajarannya ditinjau dari tujuan penyelidikan serta dari situasi penyelidikan.15 Menurut Iqbal Hasan, metodologi penelitian berasal dari bahasa Yunani, Method artinya cara atau jalan dan logos artinya ilmu. Metodologi penelitian adalah ilmu yang membicarakan tata cara atau jalan sehubungan dengan adanya penelitian. Sedangkan metode penelitian adalah cara atau jalan yang ditempuh sehubungan dengan penelitian yang dilakukan yang memiliki langkah-langkah sistematis.16 Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Deskriptif. Metode Deskriptif menurut Nazir, yaitu suatu 32 metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu subyek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta – 15 Winarno Surachmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar, Metode dan Tehnis, Tarseto, Bandung, 1995, hal 65 16 Iqbal Hasan, Pokok-pokok metodologi Penelitian, Ghalia Indonesia jakarta 2002, hal 20
  33. 33. 33 fakta serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.17. Penjelasan metode deskriptif di atas, bermaksud untuk mengetahui gambaran tentang permasalahan yang terjadi pada suatu tempat, dan waktu tertentu. Kemudian menganalisis dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi untuk pemecahan masalah mengenai fakta – fakta dan sifat – sifat dari populasi. Adapun data yang diperoleh dari penelitian ini, selanjutnya akan di analisis menggunakan pendekatan kualitatif. Istilah kualitatif menurut Bogdan & Taylor, yaitu sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata – kata tertulis maupun lisan dari orang – orang dan perilaku yang diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar individu tersebut secara utuh (holistic). Dalam hal ini, tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan18. Data kualitatif, menurut Sugiyono adalah data yang berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar.19 3.2.2 Populasi Kata populasi (population), juga disebut universum, universe dan universe of discourse. Secara umum populasi adalah semua unit analisis yang ingin diteliti dalam suatu penelitian, baik yang menyangkut kelembagaan/instansi maupun dalam bentuk perorangan. Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti terlebih dahulu menentukan populasi yang akan diteliti sebagai Subjek penelitian. 17 Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta; 1999, hal. 63 18 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung ; 2004, hal. 4 19 Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung ; 2005, hal. 14
  34. 34. 34 Populasi adalah wilayah generalisasi Subjek yang mempunyai kuantitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.20 Begitu pula menurut Sedarmayanti dan Syarifudin, bahwa populasi adalah himpunan keseluruhan karakteristik dari subjek yang diteliti.21 Sedangkan menurut Husaini Usman, dan Purnomo Setiady Akbar Populasi adalah semua nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran, baik kuantitatif maupun kualitatif, daripada karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang lengkap dan jelas.22 Dalam penelitian ini yang akan menjadi populasi adalah Bidan desa seluruh anggota Kader desa warga masyarakat yang memiliki anak usia Lubuk Beringin kecamatan Lubuk Beringin dan Rio Dusun Lubuk Beringin. 3.3.3. Unit Analisis Unit analisis adalah populasi seluruh unit-unit yang darinya sampel dipilih. Unit-unit dalam satu populasi semua harus sesuai dengan satu set dari spesifikasi sehingga peneliti akan mengetahui siapa yang menjadi bagian dari populasi.23 Penelitian harus menyelidiki seluruh elemen populasi jika peneliti bermaksud menggambarkan keseluruhan subjek yang diteliti, meneliti populasi berarti memperoleh data dari semua elemen populasi. 20 Ibid. hal 90. 21 Sedarmayanti, Syarifudin hidayat, Metodologi Penelitian , Mandar Maju, Bandung; 2002, hal 121 22 Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi penelitian sosial, Bumi Aksara, Jakarta; 2003, hal 43 23 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial.Bandung, Refika Aditama : 2009 hal. 253
  35. 35. 35 Dalam pengambilan sampel, peneliti menggunakan (sampel bertujuan) dengan pertimbangan tertentu, yakni mencari informasi dan data kepada orang yang dianggap mengetahui masalah penelitian yang dilakukan adalah teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi. Adapun yang akan menjadi unit analisis adalah 8 orang terdiri dari : 1. Rio Dusun Lubuk Beringin 2. Bidan Desa Lubuk Beringin 1 orang 3. Kader Posyandu Lubuk Beringin 3 orang 4. Dukun Kampung 1 orang 5. Masyarakat yang balitanya imunisasi 2 orang 3.3.4 Teknik Pengumpulan Data Dalam suatu penelitian yang perlu diperhatikan yaitu teknik dalam pengumpulan data. Menurut Kartini Kartono, yang dimaksud dengan teknik pengumpulan data adalah alat-alat pengumpulan data yang tersusun dengan baik, serta sesuai dengan tujuan penelitian24. Teknik Pengumpulan data merupakan alat yang digunakan dalam penelitian , yang dapat berupa : a) Studi Pustaka ( Library Research) Studi pustaka ini dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder melalui studi dokumen literatur. Studi dokumen literatur dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menganalisis teori-teori, kaedah-kaedah dan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan permasalahan yang 24 Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, Raja Grafindo Persada, Jakarta; 1982, hal. 5
  36. 36. 36 akan dibahas serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. b) Studi Lapangan (field Research) 1. Observasi Studi lapangan dilakukan untuk mengumpulkan data primer melalui observasi dan wawancara. Observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena-fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Observasi dilakukan di Poskesdes Lubuk Beringin terhadap aktivitas dan tindakan bidan desa, yang melaksanakan fungsi pelayanan administrasi berobat bagi masyarakat pengguna layanan kesehatan.. 2. Wawancara (Interview) Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan proses tanya jawab yang mengadakan komunikasi langsung antara pewawancara dengan responden atau yang diwawancarai. Wawancara yang dilakukan bersifat terbuka dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang lengkap. Wawancara adalah tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung25. Adapun dalam penelitian ini, dilakukan wawancara dengan 6 orang responden yang telah ditetapkan sebagai sampel penelitian. 3.3.5 Tehnik Analisis data 25 Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, bumi Aksara, Jakarta 2003
  37. 37. 37 Suatu hal yang sangat penting dalam penelitian ini adalah menganalisis data karena hal ini dapat memberikan arti dan makna suatu penelitian. Ada pun tahapan-tahapan penelitian ini sebagai berikut: a. Mengumpulkan data yang berhubungan dengan penelitian. b. Melakukan pemeriksaan data yang akan didapat, apakah sesuai dengan yang diharapkan. c. Pengelompokan data guna untuk menjawab pertanyaan terhadap suatu penelitian. d. Melaksanakan pembahasan dan perumusan terhadap data yang akan didapat dan. e. Mengambil kesimpulan akhir terhadap data yang akan di teliti. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Sejarah Geografis Lubuk Beringin Dusun lubuk Beringin merupakan salah satu dusun dari beberapa dusun di Kecamatan Bathin III Ulu Kabupaten Bungo. Dusun ini, masyarakatnya sebagian besar merupakan pecahan dari Dusun Buat Kecamatan Bathin III Ulu yang konon katanya mereka bertalang atau membuat lahan tani di daerah tersebut. Untuk itu, semakin hari semakin banyak masyarakat yang ikut bertani di daerah tersebut, sehingga lama kelamaan terdapat talang atau kebun.
  38. 38. 38 Pada saat ini mereka telah membentuk sebuah perkampungan kecil dan itulah sekarang yang bernama Desa Lubuk Beringin dengan jumlah penduduk yang hanya 104 KK atau 408 jiwa namun kehidupan sosial serta adat istiadatnya masih sangat terjaga.26 Dusun ini dari Utara berbatasan langsung dengan Dusun Laman Panjang Kecamatan Bathin III Ulu, bagian Selatan berbatasan langsung dengan Dusun Pelepat Kecamatan Pelepat, dan bagian Timur berbatasan langsung dengan Kampung Mengkuang Kecil yang merupakan bagian dari Dusun Laman Panjang sedangkan bagian Barat berbatasan langsung dengan Dusun Buat. Dari Muara Bungo menuju ke dusun Muara Buat memiliki jarak tempuh 50 Km. Jarak antara Dusun Muara Buat Kecamatan Bathin III Ulu Lubuk Beringin dapat dilihat pada tabel berikut ini: Dari Muara Bungo menuju kedusun Muara Buat memiliki jarak tempuh 50 Km. Jarak antara Dusun Muara buat Kecamatan Bathin III Ulu Lubuk Beringin dapat dilihat pada tabl berikut ini. 38 Tabel 1 Jarak Tempuh dari Muara Bungo Ke beberapa Dusun NO Ibu Kabupaten Muara Bungo Dusun Jarak Yang Ditempuh 1 Muara Bungo Muara Buat 48 Km 2 Muara Bungo Karak Apung 57 Km 26 Sumber data monografi dusun Lubuk Beringin Tahun 1999
  39. 39. 39 3 Muara Bungo Timbolasi 60 Km 4 Muara Bungo Sungai Telang 67 KM 5 Muara Bungo Buat 52 Km 6 Muara Bungo Laman Panjang 55 Km 7 Muara Bungo Lubuk Beringin 62 Km 8 Muara Bungo Laman Ulu 70 Km 9 Muara Bungo Aur Cino 80 Km *Sumber : data dusun lubuk beringin 2013* Dusun Lubuk Beringin dengan luas wilayah administratif 4 Ha berada pada ketinggian 450.1.316 M dari Permukaan Laut dengan wilayah yang bergelombang dan beriklim tropis serta mempunyai curah hujan berkisar 260 s.d 3042 mm/hg dengan suhu rata-rata harian 350C. Namun desa Lubuk Beringin masih terjaga mengenai adat istiadat dusun Lubuk Beringin, dan jiwa sosialnya masih sangat kental terhadap sekeliling rumah serta saling menolong sesama masyarakat. Tidak ada masyarakat di luar yang bisa bebas masuk ke Dusun Lubuk Beringin tanpa seizin pemuka dusun Lubuk Beringin. Inilah kisah adat yang kental di Lubuk Beringin.27 Bidan lubuk beringin merupakan petugas kesehatan daerah yang ditugaskan oleh seorang bidan tugasnya bertanggung jawab meningkatkan 27 Sumber data desa lubuk beringin.
  40. 40. 40 kesadaran masyarakat untuk berprilaku hidup sehat. Petugas kesehatan dan masyarakat haruslah berperan serta. Bidan merupakan salah satu petugas kesehatan yang menjadi ujung tombak pemerintah dalam menjaga kesehatan masyarakat dan seharusnya memiliki tanggung jawab lebih dalam program imunisasi ini. Untuk melaksanakan tugas tugas imunisasi bidan meningkatkan program imunisasi balita di desa Lubuk Beringin agar menjaga kesehatan balita untuk mengurangi angka kematian balita tersebut dapat terjaga. Saat ini petugas kebidanan kesehatan Lubuk Beringin Kecamatan Bathin lll Ulu adalah Efrianti.AM.Keb yang telah bekerja sebagai bidan desa kesehatan untuk periode pertama sejak Juli 2006-Juli 2010 dan periode kedua sejak Juli 2010 sampai sekarang di Dusun Lubuk Beringin. 4.1.2. Kondisi Demografis Kecamatan Bathin Iii Ulu Desa Lubuk Beringin Jumlah penduduk Desa Lubuk Beringin berdasarkan data Bungo Dalam Angka Tahun 2012 berjumlah 408 jiwa, terdiri dari 184 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 224 Jiwa berjenis kelamin perempuan. Adapun kondisi masyarakat berdasarkan pekerjaan yang digeluti masing 0 masing, dapat ditampilkan pada tabel di bawah ini. Tabel 2 Kondisi pekerjaan penduduk Dusun Lubuk Beringin. NO PEKERJAAN JUMLAH 1 Petani 99
  41. 41. 41 2 Pedagang 1 3 Pegawai negeri 10 4 Pegawai Swasta 8 5 Buruh /Tukang 5 6 DLL 276 *sumber data bidan desa lubuk beringin.* Dari tabel diatas, jika dilihat dari basis ekonomi masyarakat Dusun Lubuk Beringin, sektor perkebunan atau pertanian sangat mendominasi kegiatan penduduk masyarakat setempat khususnya petani karet. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada umumnya masyarakat Desa Lubuk Beringin bermata pencaharian sebagai petani. Namun ada juga penduduk yang bermata pencaharian sebagai wirausaha, pegawai negeri dan buruh, meski dalam jumlah yang relatif kecil. Sedangkan untuk Kondisi Sosial Budayanya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3 Kondisi Sosial Budaya Desa Lubuk Beringin NO PERUMAHAN JUMLAH 1 Rumah Permanen 32 UNIT 2 Semi Permanen 10 UNIT 3 Rumah Kayu 54 UNIT *Sumber: Monografi dusun Lubuk Beringin, 2014*
  42. 42. 42 Berdasarkan data monografi dusun, dapat ditentukan beberapa sarana dan prasarana sosial budaya yang didasarkan pertimbangan sifatnya yang strategis apabila ditinjau dari aspek kebutuhan masyarakat sarana dan prasarana perumahan yang ada di desa Lubuk Beringin ini kondisi rumah desa Lubuk Beringin dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4 Kondisi Sarana Air Bersih Di Desa Lubuk Beringin NO AIR BERSIH JUMLAH 1 Perpipaan 62 Rumah 2 Sumur Galian 26 Rumah 3 Sungai 10 rumah *Sumber:bidan Desa Lubuk Beringin* Dari tabel di atas, masyarakat di desa Lubuk Beringin ini yaitu menggunakan air yang tersedia di Lubuk Beringin yang kebanyakan dari masyarakat memakai air sungai. Untuk tingkat pendidikan, penduduk desa Lubuk Beringin dapat dilihat sebagaimana tabel dibawah ini. Tabel 5 Tingkat Pendidikan Masyarakat Lubuk Beringin
  43. 43. 43 No Pendidikan Jumlah 1 2 3 4 PAUD TK SD/MI SMP/MTS 1 UNIT O UNIT 0 UNIT 1 UNIT Dilihat kondisi pendidikan, hanya ada 2 unit pendidikan yang ada di desa Lubuk Beringin sedangkan untuk fasilitas pelayanan umum dapat dilihat pada tabel berikut ini Tabel 6 Fasilitas Pelayanan umum No Sarana dan prasarana Jumlah 1. Balai Dusun 1 2. Kantor Dusun 1 3. Gedung Taman Kanak-kanak 1 4. Sekolah Dasar 1 5. Madrasah Ibtidaiyah 1 6. MTS - 7. Madrasah Aliyah - 8. Taman Pendidikan Al Quran (TPA) - 9. Puskesmas -
  44. 44. 44 10. Masjid 1 11. Mushola 2 12. Kantor KUD 1 13. Lapangan Sepak Bola 1 *Sumber: Monografi Dusun Lubuk BeringinTahun 2014* 4.1.3. Struktur Organisasi Perangkat Desa Lubuk Beringin Dusun Lubuk Beringin menganut sistem kelembagaan pemerintahan desa dengan pola minimal sebagaimana organisasi. Struktur Organisasi tertuang dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Berikut struktur pemerintahan Dusun Lubuk Beringin. Tabel 7 Nama struktur desa lubuk beringin NO NAMA JABATAN 1 Muhammad Solihin Kepala Desa 2 Ramhur Muzi Sekretaris 3 Anwar Kaur Pemerintahan 4 Sa ‘da Kaur Pembangunan 5 Awaludin Kaur Umum 6 Zainalis Kepala Dusun 7 Zainalis Kepala Dusun Alai *Sumber data monografi Dusun Lubuk Beringin*
  45. 45. 45 Susunan pengurus nama–nama di Desa Lubuk Beringin tersebut telah dibuat oleh pengurus desa Lubuk Beringin. Adapun susunan pengurus Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Dusun Lubuk Beringin adalah sebagai berikut: Tabel 8 Struktur Organisasi Badan Perwakilan Dusun (BPD) Dusun Lubuk Beringin No Nama Jabatan 1 Hadrin Ketua 2 Alzupri Wakil Ketua 3 Aldari Sekretaris 4 Cekolit Anggota 5 Muklis Anggota *Monografi Dusun Lubuk Beringin Tahun 2014*
  46. 46. 46 4.1.4. Jumlah Balita yang sudah memperoleh Imunisasi dalam tahun 2013 Tabel 9 Data Balita yang sudah mengikuti Imunisasi No Bulan Jumlah balita Baru Lama 1 Januari 0 26 2 Februari 0 26 3 Maret 0 26 4 April 4 26 5 Mei 1 30 6 Juni 0 31 7 Juli 1 31 8 Agustus 0 32 9 September 0 32 10 Oktober 3 32 11 November 1 35 12 Desember 1 36
  47. 47. 47 Jumlah 11 363 4.2. TEMUAN KHUSUS 4.2.1 Peran Bidan Di Dusun Lubuk Beringin Keberadaan bidan secara terus menerus/menetap menentukan efektivitas pelayanan, termasuk efektifitas polindes. Jarak tempat tinggal bidan yang menetap di dusun dengan polindes akan berpengaruh terhadap kualitas baik. Sedangkan bidan yang tidak tinggal di Dusun Lubuk Beringin dianggap tidak mungkin melaksanakan pertolongan kesehatan masyarakat secara cepat. Peran bidan desa dalam menunjang keberhasilan program imunisasi bagi balita Dusun Lubuk Beringin sangat penting, Imunisasi sangat penting bagi para balita karena mencegah penyakit, dan anak – anak kami disini menjadi sehat tidak mudah terkena penyakit. Agar masyarakat desa lubuk beringin mengetahui tentang pentingnya imunisasi maka bidan mengajak masyarakat untuk mengetahui manfaat imunisasi pada anak, bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan dari penyakit seperti campak, polio, tetanus, batuk rejan. Untuk tentang pentingnya imunisasi, bidan desa memiliki peran yang sangat penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, salah satunya adalah mengenai imunisasi pada anak. Adapun peran bidan tugas nya yaitu: 1. Peran sebagai pengelola 2. Peran sebagai pelaksana 3. Peran sebagai pendidik
  48. 48. 48 4. Peran sebagai peneliti. 4.2.3 Hambatan yang dihadapi oleh bidan desa dalam program pentingnya imunisasi balita di dusun lubuk beringin: 1. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang imunisasi.Hal ini disebabkan tingkat pendidikan yang masih minim warga masyarakat secara umum di Dusun Lubuk Beringin 2. Faktor ekonomi. Disebabkan banyak masyarakat bekerja sebagai petani kebun dan petani di sawah, yang mengakibatkan waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bekerja setiap hari. 3. Faktor Komunikasi dengan masyarakat. Hambatan sosial budaya yang terjadi terkait imunisasi ini adalah faktor komunikasi. Hal ini menyebabkan sering masyarakat tidak mengerti apa yang ia sampaikan dan sebaliknya ia juga kurang paham keinginan masyarakat oleh tenaga kesehatan 4.2.4 Upaya bidan Desa dalam mengatasi hambatan yang dihadapi sehubungan dengan imunisasi: 1. Melakukan sosialisasi. Bidan juga memberikan informasi tentang pentingnya imunisasi balita bahaya penyakit agar tidak terjadi komplikasi penyakit yang menyerang tubuh yang dapat merugikan dan menurunkan angka kematian. 2. Mengatur Jadwal imunisasi. Perlu mencari format waktu yang seusia dengan kebutuhan masyarakat. Diharapkan dengan adanya peningkatan kesehatan baik dari asuhan antenatal maupun pengembangan
  49. 49. 49 meningkatkan kesehatan balita, dapat tercapai pola hidup sehat yang maksimal serta dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan. 3. Menjalin Komunikasi Dengan Mengaktifkan Kader Posyandu. Upaya untuk mengatasi hambatan komunikasi ini setelah bersepakat dengan perangkat dusun, dan seluruh kader posyandu, maka diharapkan kader posyandu lebih berperan aktif. 4.3 Pembahasan 4.3.1 Peranan Bidan Desa dalam Meningkatkan Program Imunisasi di Dusun Lubuk Beringin Peran bidan desa sudah terlaksana, dan Bidan Desa Lubuk Beringin telah berusaha mengingatkan kepada masyarakat Lubuk Beringin akan pentingnya imunisasi bagi balitanya. Hanya sebagian besar masyarakat Lubuk Beringin yang kurang peduli tentang imunisasi bagi anak balita. Seperti yang diungkapkan Efrianti, “Pengetahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi masih kurang karena mereka masih percaya terhadap ramuan-ramuan atau pun jamu-jamuan yang dibuatkan dukun daripada bidan kesehatan. Masyarakat Dusun Lubuk Beringin masih memilih berobat pada dukun dibandingkan pada tenaga medis, karena beranggapan kalau berobat ke bidan akan bayar mahal. Hal ini dikarenakan kurang pengetahuan pentingnya kesehatan28. 28 Hasil Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014
  50. 50. 50 Masih menurut Efrianti, yang ditemui peneliti, ia terus mencoba mengubah paradigma tersebut. Ia sudah menjalankan sosialisasi dan pencerahan akan pentingnya imunisasi. Meskipun hal ini memang bukan pekerjaan mudah yaitu mengubah pandangan masyarakat tentang pentingnya imunisasi, ia tidak putus asa untuk mensosialisasikannya. Pada saat bidan menjalankan tugasnya yaitu melakukan pendekatan individu dan komunitas serta membantu masyarakat mencari pemecahan masalah di masyarakat diperlukan data yang akurat. Bidan menjalin kerja sama dengan kader dan melakukan penyegaran kader yang ada melalui pelatihan kader. Sehingga, apa yang diharapkan dapat berjalan sesuai dengan fungsinya serta membentuk kader kesehatan. Setelah itu, bidan dan kader mengadakan pendataan penduduk dengan pembagian tugas masing-masing dan sesuai format yang telah dibuat oleh bidan sebagai motivator. Format tersebut, menurut keterangan Zainab, mengacu pada data keluarga, jumlah anggota keluarga ibu hamil, ibu nifas, bayi, balita, resiko penyakit menular, jamban, air bersih sampai keadaan rumah, gizi, sosial ekonomi dan lain-lain29. Dalam hal ini pendekatan dengan hati yang dilakukan oleh bidan terhadap pasien maka masyarakat mulai mengetahui pentingnya imunisasi dengan promosi dan konseling yang dilakukan oleh bidan tersebut. Dengan kata lain, masyarakat pelan-pelan mengerti akan masalah kesehatan yang ada di lingkungannya dan 29 Wawancara dengan Zainab, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014
  51. 51. 51 melaporkan pada bidan dan kader sehingga dari keadaan ini masyarakat hidup sehat30. Tujuan khusus dengan adanya pendekatan yang dilakukan mampu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya imunisasi. Selain itu, hal tersebut juga dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat desa terhadap resiko bahaya yang dapat merugikan, dan menimbulkan gangguan kesehatan. Kemudian, pendekatan tersebut juga mampu meningkatkan keluarga sadar akan gizi dan perilaku hidup bersih dan sehat. Yang terakhir, hal itu juga meningkatkan kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk mengikuti imunisasi. Sementara itu, menurut penjelasan Rio Lubuk Beringin, memang bidan sudah sering menyampaikan kepada masyarakat, terutama ibu – ibu yang punya balita agar tidak mengabaikan imunisasi. Perangkat perangkat dusun, ibu – ibu PKK sudah kita minta menyampaikan kepada masyarakat, hasilnya memang belum maksimal31. Kemudian menurut keterangan salah satu dukun kampung yang biasa membantu persalinan ibu – ibu maupun mengobati orang sakit menyebutkan, ia biasa membantu ibu – ibu yang mau melahirkan. Setelah itu kalau ada anak bayi yang sakit diobati memakai ramuan tradisional dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman obat yang ada di dusun. Memang sejak ada bidan desa, ia sering 30 Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014 31 Hasil Wawancara dengan Rio Dusun Lubuk Beringin, M.Sholihin, 22 Juni 2014.
  52. 52. 52 berkunjung untuk saling membantu waktu proses kelahiran, juga anak – anak yang diimunisasi32. Menurut Efrianti, memang sejak awal datang bertugas di Dusun Lubuk Beringin, yang harus didekati adalah dukun kampung. Sebab dukun kampung selama ini sangat dipercaya oleh masyarakat meskipun pengalamannya bersifat autodidak tanpa bekal sekolah di bidang kesehatan. Kalau dukun kampung dan perangkat dusun sudah memahami maksud ditempatkan tenaga medis, termasuk di dalamnya kegiatan imunisasi di posyandu, maka akan mempermudah pekerjaan bidan33. Hal ini dibenarkan oleh kader posyandu, Maimunah yang menyebutkan bahwa masyarakat dusun Lubuk Beringin sangat terbantu dengan adanya bidan desa yang ditempatkan. Selama ini warga dusun hanya berobat kepada dukun kampong. Memang balita tersebut sehat tetapi waktunya agak lama. Sedangkan kalau kami harus berobat ke puskesmas untuk penyakit yang belum begitu parah, juga cukup jauh jaraknya34. Pendapat tersebut juga disampaikan kader posyandu lainnya, Ramlah. Ia menyampaikan bahwa ibu-ibu sangat terbantu oleh kehadiran bidan desa. Mereka jadi lebih peduli dengan kesehatan anak dan gizi keluarga. Untuk ibu hamil, hal ini dapat mengurangi resiko saat melahirkan karena bidan sudah dilatih khusus pada waktu pendidikan dahulu35. 32 Wawancara dengan Khadijah, Dukun Kampung di Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014. 33 Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014 34 Wawancara dengan Maimunah, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014 35 Wawancara dengan Ramlah, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014
  53. 53. 53 Adapun orang tua yang ikut program imunisasi menceritakan, awalnya kami kurang yakin kalau ke bidan karena sudah biasa sejak dahulu berobat di dukun kampung. Lagi pula yang kami alami sejak dahulu walaupun jarang masyarakat yang diimunisasi, tapi juga tidak terkena bermacam – macam penyakit pada anak36. Kemudian menurut warga masyarakat yang lain, Wati menyampaikan bahwa setuju dengan kehadiran bidan di dusun dan menggerakkan posyandu untuk kesehatan anak balita, apalagi sejak diberitahukan oleh bidan pentingnya imunisasi bagi anak, maka saya patuh dengan informasi yang disampaikan oleh bidan desa37. 4.3.2 Hambatan yang dihadapi oleh bidan desa dalam meningkatkan program imunisasi balita di Desa Lubuk Beringin Hambatan bagi program kesehatan imunisasi balita adalah beberapa hal yang disampaikan dalam penelitian ini di antaranya : 1. Rendahnya kesadaran masyarakat Menurut penjelasan Rio Lubuk Beringin, masyarakat kami memang masih sedikit yang bisa bersekolah sampai SLTA sederajat. Apalagi bagi golongan dewasa banyak yang pendidikannya rendah. Akibatnya, masyarakat menganggap pelayanan kesehatan tidak harus berhubungan dengan medis, lebih cepat dan murah bila ditangani dukun kampung. Kami pun sudah sering menyampaikan pada warga masyarakat 36 Wawancara dengan Darni, warga masyarakat Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014 37 Wawancara dengan Watii, warga masyarakat Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014
  54. 54. 54 pada setiap kegiatan dusun, agar melakukan imunisasi bagi orang tua yang memiliki balita38. Menurut Efrianti, memang sudah sering melakukan sosialisasi kepada ibu – ibu pada pertemuan umum seperti pengajian, arisan, dan kegiatan masyarakat pada umumnya. Juga menempelkan pengumuman berupa brosur kesehatan dan pentingnya imunisasi bagi balita. Kesadaran masyarakat masih rendah, karena dampak penyakit akibat tidak diimunisasi tidak langsung muncul, tetapi bisa berdampak pada anak di kemudian hari39. Kader posyandu juga menyampaikan, bahwa mereka sering membantu bidan menyampaikan kepada tetangga dan masyarakat dusun yang ditemui agar ikut serta kalau ada kegiatan pemberian imunisasi. Ada sebagian masyarakat mendapat informasi bahwa kalau anak diimunisasi itu akan kena demam. Hal ini tentu membuat ibu-ibu yang memiliki anak balita merasa takut. Padahal ini sifatnya sementara, dan penyesuaian bagi tubuh anak setelah divaksin40. Menurut kader posyandu lainnya, rendahnya kesadaran masyarakat untuk ikut program imunisasi karena sebagian besar ibu – ibu yang ada di Lubuk Beringin masih percaya dengan hal – hal yang bersifat mitos dan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat, seperti kalau anak 38 Hasil Wawancara dengan Rio Dusun Lubuk Beringin, M.Sholihin, 22 Juni 2014 39 Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014 40 Wawancara dengan Ramlah, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014
  55. 55. 55 kecil itu sakit biasanya “diganggu” oleh makhluk halus, atau pengobatan seperti suntikan, kapsul vitamin itu belum tentu baik bagi tubuh balita yang masih bebas dari penyakit41. 2. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat yang Sibuk Bekerja Mengenai kegiatan masyarakat yang pada umumnya bekerja di sektor pertanian baik di kebun maupun di sawah, menurut Bidan Desa Efrianti, biasanya pada sore hari kami mendatangi rumah warga yang memiliki anak balita untuk memberi informasi mengenai kegiatan imunisasi, kegiatan ini dibantu oleh kader – kader posyandu. Pada pelaksanaan imunisasi memang tidak seluruhnya bisa hadir membawa anaknya. Pada kesempatan lain ketika ditanyakan, pada umumnya mereka menyebutkan bahwa dari pagi sudah sibuk bekerja di kebun atau di sawah, sehingga tidak memiliki waktu cukup untuk membawa anak ke posyandu42. Ketika hal ini ditanyakan kepada salah satu warga masyarakat yang memiliki balita, Rani, menyebutkan bahwa ia memang beberapa kali tidak mengikuti pelaksanaan imunisasi bagi anaknya, karena harus membantu suami menyadap karet. Kadang ia juga ke sawah, karena di sini memang bermata pencaharian hanya bertani yang penghasilannya juga tidak tetap. Selama anak tidak kena sakit menurut saya tidak harus diimunisasi43. 41 Wawancara dengan Maimunah, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014 42 Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014 43 Wawancara dengan Rani, warga masyarakat Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014
  56. 56. 56 Begitu pula menurut Darni, ia tidak selalu membawa anaknya ikut imunisasi karena bekerja di sawah. Lagi pula penyakit yang dikaitkan dengan imunisasi itu juga sudah jarang ada di masyarakat seperti polio. Kalau campak mungkin masih banyak lah anak – anak disini yang terkena penyakit itu44. Rio Lubuk Beringin ketika ditanyakan memang mengakui bahwa masyarakat pada umumnya bekerja di kebun dan sawah. Daerah kami memang daerah yang masih luas area sawahnya yang menghasilkan hampir sepanjang tahun. Kalau warga masyarakat khususnya ibu – ibu ke sawah biasanya bekerja sampai sore. Jadi informasi dari bidan dan kader posyandu itu sering diabaikan, karena alasan mencari uang45. 3. Keadaan Sosial Budaya Komunikasi dengan masyarakat Hambatan sosial budaya yang terjadi terkait imunisasi ini adalah faktor komunikasi. Menurut Efrianti, saat pertama ditugaskan di Dusun Lubuk Beringin ia merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan masyarakat, apalagi yang sudah berusia tua karena menggunakan bahasa daerah setempat yang sulit dimengerti. Hal ini menyebabkan sering masyarakat tidak mengerti apa yang ia sampaikan dan sebaliknya ia juga kurang paham keinginan masyarakat46. 44 Wawancara dengan Darni, warga masyarakat Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014 45 Hasil Wawancara dengan Rio Dusun Lubuk Beringin, M.Sholihin, 22 Juni 2014. 46 Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014
  57. 57. 57 Mengenai hambatan komunikasi ini, menurut penjelasan Rio Lubuk Beringin memang benar terjadi. Pada umumnya masyarakat luar yang datang ke sini pada awalnya akan sulit memahami karena ciri bahasa dusun Lubuk Beringin yang berbeda dengan bahasa daerah Bungo pada umumnya. Ditambah lagi, masyarakat dusun pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Setiap hari berkomunikasi menggunakan bahasa daerah yang aksennya agak sulit dimengerti orang yang berasal dari daerah lain47. Kader posyandu juga menyampaikan, ibu bidan memang sering menyampaikan agar kami membantu menjelaskan kepada masyarakat mengenai berbagai program kesehatan ibu dan anak, khususnya imunisasi ini. Sebab kalau ada pertanyaan dari masyarakat, bidan sering tidak paham. Kami berupaya maksimal membantu bidan walaupun kami tidak memiliki pendidikan di bidang kesehatan, karena hanya tamat SD48. 4.3.4 Upaya Bidan Desa dalam Mengatasi Hambatan yang Dihadapi dalam Meningkatkan Program Imunisasi Balita di Dusun Lubuk Beringin Upaya yang dilakukan bidan desa dalam mengatasi hambatan dalam meningkatkan program imunisasi di Dusun Lubuk Beringin adalah : 1. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Melalui Sosialisasi Beberapa kegiatan yang dilakukan agar masyarakat lebih meningkat kesadaran dan peran sertanya mengikuti program imunisasi yang dilakukan oleh bidan desa yakni dengan mengunjungi perumahan 47 Hasil Wawancara dengan Rio Dusun Lubuk Beringin, M.Sholihin, 22 Juni 2014 48 Wawancara dengan Ramlah, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014
  58. 58. 58 warga yang memiliki anak balita untuk memberitahukan informasi mengenai pentingnya imunisasi. Hal ini dilakukan bersama kader posyandu dan kader PKK. Selain itu, bidan juga meminta bantuan kepada Datuk Rio dan perangkat dusun untuk berbagi informasi kepada warga masyarakat agar mau mengikuti program imunisasi. Walaupun kami mengetahui bahwa masyarakat di Lubuk Beringin mayoritas bekerja di sektor pertanian dan perkebunan yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja. Akan tetapi penting juga memiliki keluarga dan anak yang sehat, bebas dari bermacam penyakit yang ada saat ini49. Kader posyandu juga mengakui bahwa sering melakukan penjelasan kepada ibu – ibu pengajian, anggota koperasi dan perkumpulan arisan mengenai pentingnya imunisasi bagi anak balita yang ada di dusun Lubuk Beringin. Yang kami khawatirkan karena dusun ini letaknya jauh dari kota. Kalau anak sakit, untuk merujuk ke rumah sakit sangat jauh, jadi imunisasi ini adalah pencegah penyakit pada anak. Sebab prinsipnya lebih baik mencegah penyakit daripada mengobati50. 2. Membuat jadwal imunisasi pada waktu yang disepakati warga Mengenai masalah kesibukan bekerja pada masyarakat, menurut bidan desa Efrianti, ia bersama kader posyandu sudah merumuskan jadwal pelaksanaan pada waktu yang sudah disepakati bersama dengan warga. 49 Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014 50 Wawancara dengan Maimunah, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014
  59. 59. 59 Sebab imunisasi ini memiliki jadwal tetap, dan untuk itu harus meyakinkan masyarakat agar patuh pada jadwal yang sudah disepakati51. Kader posyandu juga menambahkan, agar tidak beralasan sibuk dan sulit meluangkan waktu untuk ke posyandu, maka kami berdasarkan rapat dengan bidan desa selalu menyampaikan kepada masyarakat untuk membuat kesepakatan mengenai waktu pelaksanaan imunisasi di posyandu. Jadi hal ini agar masyarakat lebih meningkat lagi kepeduliannya kepada kesehatan anak dengan pengorbanan waktu setidaknya52. 3. Menjalin Komunikasi Dengan Mengaktifkan Kader Posyandu Hambatan sosial budaya yang terjadi terkait imunisasi ini adalah faktor komunikasi. Upaya untuk mengatasi hambatan komunikasi ini setelah bersepakat dengan perangkat dusun, dan seluruh kader posyandu, maka diharapkan kader posyandu lebih berperan aktif. Menurut Rio Lubuk Beringin, beberapa kesempatan kami menyampaikan kepada seluruh warga baik bapak maupun ibu yang memiliki anak balita, agar sering mencari informasi kepada tenaga kesehatan bidan desa, atau melalui kader posyandu. Kalaupun komunikasi dengan bidan kurang paham dari segi bahasa, maka bidan kami minta untuk lebih banyak memberi informasi kepada kader posyandu sebagai perpanjangan informasi kepada 51 Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014 52 Wawancara dengan Maimunah, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014
  60. 60. 60 masyarakat, sebab menurut kami kesehatan itu mahal, kalau ada wabah penyakit akibat kurangnya pemahaman kesehatan di masyarakat, tentu menjadi pula bagi perangkat dusun yang harus melayani masyarakatnya53. Biasanya bila ada pertanyaan dari masyarakat baik dalam kegiatan rapat, pertemuan pengajian atau mendatangi kami langsung, kami segera menyampaikan pada bidan bagaimana cara penanganannya, atau kalau bisa kami dampingi masyarakat untuk menemui bidan, bahkan kadang kala bidan yang mendatangi masyarakat tersebut54. Menurut bidan desa, saat ini sudah mempelajari dan memahami bahasa penduduk setempat. Namun, kalau ada pertanyaan dan keinginan masyarakat yang belum sepenuhnya dipahami, maka saya akan berkoordinasi dengan kader posyandu, ibu ketua PKK dan Datuk Rio untuk mencari solusi bagi masalah kesehatan warga. Khusus mengenai program imunisasi ini, kami mencoba melakukan jemput bola, mendatangi masyarakat yang memiliki balita. Saya juga sering meminta kader posyandu untuk memberi penjelasan menggunakan bahasa dusun, agar masyarakat memperoleh informasi lebih lengkap, atau istilahnya lebih “nyambung” lagi secara psikologis dengan pelayanan kesehatan. Bila masyarakat sudah sadar, maka akan sangat membantu untuk meningkatkan kesehatan balita di Dusun Lubuk Beringin, dan mengurangi resiko penyakit berbahaya55. 53 Hasil Wawancara dengan Rio Dusun Lubuk Beringin, M.Sholihin, 22 Juni 2014 54 Wawancara dengan Ramlah, Kader Posyandu Dusun Lubuk Beringin, 22 Juni 2014 55 Wawancara dengan Efrianti, Bidan Desa Lubuk Beringin, 20 Juni 2014
  61. 61. 61 BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan Dari hasil penelitian ini peranan bidan desa Lubuk Beringin sebagai motor pengerak dalam mencapai keberhasilan pengembangan kesehatan di Dusun Lubuk Beringin dapat disimpulkan bahwa: 5.1.1. Peran Bidan Di Dusun Lubuk Beringin Peran bidan desa dalam menunjang keberhasilan program imunisasi bagi balita Dusun Lubuk Beringin sangat penting. Imunisasi sangat penting bagi para balita karena dapat mencegah penyakit, dan anak – anak di desa tersebut menjadi dan sehat tidak mudah terkena penyakit. Agar masyarakat desa lubuk beringin mengetahui tentang pentingnya imunisasi maka bidan mengajak masyarakat untuk mengetahui manfaat imunisasi pada anak, bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan dari penyakit seperti campak, polio, tetanus, batuk rejan.
  62. 62. 62 Adapun peran bidan tugas nya yaitu: Peran sebagai pengelola, Peran sebagai pelaksana, Peran sebagai pendidik, Peran sebagai peneliti. 5.1.2. Hambatan yang dihadapi oleh bidan desa dalam program pentingnya imunisasi balita di dusun lubuk beringin: 1. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang imunisasi yang dimiliki. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan yang masih minim warga masyarakat secara umum di Dusun Lubuk Beringin 2. Faktor ekonomi. Disebabkan banyak masyarakat bekerja sebagai petani kebun dan petani 62 di sawah, yang mengakibatkan waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bekerja setiap hari. 3. Faktor Komunikasi dengan masyarakat. Hambatan sosial budaya yang terjadi terkait imunisasi ini adalah faktor komunikasi. Hal ini menyebabkan sering masyarakat tidak mengerti apa yang ia sampaikan dan sebaliknya ia juga kurang paham keinginan masyarakat oleh tenaga kesehatan 5.1.3. Upaya bidan Desa dalam mengatasi hambatan yang dihadapi sehubungan dengan imunisasi: 1. Melakukan sosialisasi. Bidan juga memberikan informasi tentang pentingnya imunisasi balita tentang bahaya penyakit agar tidak terjadi komplikasi penyakit yang menyerang tubuh yang dapat merugikan dan menurunkan angka kematian. 2. Mengatur Jadwal imunisasi. Perlu mencari format waktu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Diharapkan dengan adanya
  63. 63. 63 peningkatan kesehatan baik dari asuhan antenatal maupun pengembangan meningkatkan kesehatan balita, dapat tercapai pola hidup sehat yang maksimal serta dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan. 3. Menjalin Komunikasi Dengan Mengaktifkan Kader Posyandu. Upaya untuk mengatasi hambatan komunikasi ini setelah bersepakat dengan perangkat dusun, dan seluruh kader posyandu, maka diharapkan kader posyandu lebih berperan aktif. 5.2. Saran Atas dasar kesimpulan diatas, penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut: 1. Diharapkan bidan desa dengan melibatkan perangkat desa, kader posyandu dan pihak puskesmas untuk meningkatkan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai imunisasi, baik menggunakan ceramah, diskusi maupun berbentuk selebaran, pamflet, brosur dan alat peraga lainnya. 2. Diharapkan bidan desa mengajak seluruh ibu – ibu yang memiliki balita untuk membuat jadwal rutin pelaksanaan imunisasi yang sesuai dengan jam kerja masyarakat. Hal ini juga perlu didukung oleh kader posyandu dan seluruh masyarakat. 3. Diharapkan bidan desa mau belajar mengenai kebudayaan, bahasa dan kebiasaan masyarakat lebih fokus lagi, agar mempermudah pelaksanaan tugas untuk menyampaikan informasi dan berkomunikasi timbal balik
  64. 64. 64 dengan masyarakat menyesuaikan dengan sosial budaya masyarakat yang masih kental dengan adat istiadat.

Contoh Skripsi Akbid tentang imunisasi

Views

Total views

9,051

On Slideshare

0

From embeds

0

Number of embeds

5

Actions

Downloads

73

Shares

0

Comments

0

Likes

0

×