KEJADIAN LUAR BIASA              (KLB)              DISUSUN OLEH :         JANE HASVITA SARI            P07131011015KEMENT...
KLB gizi Buruk                                  Kejadian Luar BiasaKejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang...
KLB Gizi adalah ditemukannya balita, dengan tanda-tanda sebagai berikut:Berat Badan menurut Umur (BB/U) dibawah standar at...
Laporan dari petugas atau tempat Pelayanan Kesehatan, meliputi: Puskesmas, RS,      Institusi Kesehatan lainnya. Pejabat a...
7. Kurang Energi Protein (KEP) ringan sering dijumpai pada anak usia 9 bulan hingga 2      tahun, meskipun dapat juga diju...
16. Defisiensi Fluor Fluor Resiko karies dentis (kerusakan gigi)   17. Defisiensi krom krom Pertumbuhan kurang, sindroma l...
Penyuluhan Keamanan Pangan, secara rutin memonitor kejadian luar biasa (KLB) keracunanpangan di Indonesia khususnya keracu...
Tempat. Distribusi menurut tempat kejadian menunjukkan bahwa tempat kejadian bervariasidari berbagai tempat, yaitu : tempa...
Akses yang terbatas terhadap laboratorium rujukan dan kurang memadai dalam       identifikasi patogen/bahan berbahaya peny...
melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kaliatau lebih dalam 1 hari.Faktor yang m...
Membawa penderita diare ke sarana kesehatan bila dalam 3 hari tidak membaik atau :       1. Buang air besar makin sering d...
   Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.         Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai teru...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Klb

2,786 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,786
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
92
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Klb

  1. 1. KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DISUSUN OLEH : JANE HASVITA SARI P07131011015KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM JURUSAN GIZI 2012
  2. 2. KLB gizi Buruk Kejadian Luar BiasaKejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untukmengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit.Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No.949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya ataumeningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis padasuatu daerah dalam kurun waktu tertentu.Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentangPedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatukejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur: Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu) Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun). Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.1. PengertianGizi burukGizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Statusgizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badanmenurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telahditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik.Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakangizi buruk Gizi buruk yang disertai dengan tanda-tanda klinis disebut marasmus ataukwashiorkor.Kejadian Luar Biasa (KLB) Gizi
  3. 3. KLB Gizi adalah ditemukannya balita, dengan tanda-tanda sebagai berikut:Berat Badan menurut Umur (BB/U) dibawah standar atau Tanda-tanda marasmus ataukwasiorkor.MarasmusMarasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbuldiantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit(kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit,gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak seringrewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Padastadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.KwashiorkorKwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa (KEP) sering disebutbusung lapar. Gejala yang timbul diantaranya adalah tangan dan kaki bengkak, perut buncit,rambut rontok dan patah,gangguan kulit. Terdapat juga gangguan perubahan mental yangsangat mencolok. Pada umumnya penderita sering rewel dan banyak menangis. Pada stadiumlanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.2. TUJUAN PELACAKAN Menentukan besarnya masalah. Mencari penyebab. Menyusun tindakan penanggulangan yang cepat dan tepat.3. SUMBER INFORMASI Masyarakat, meliputi: Keluarga, Pengurus RT, Tokoh Masyarakat, praktek yankes swasta dll. Kader, meliputi ditemukan anak dengan 3 kali berat badan tidak naik (3T) dan bawah garis merah (BGM) dalam KMS
  4. 4. Laporan dari petugas atau tempat Pelayanan Kesehatan, meliputi: Puskesmas, RS, Institusi Kesehatan lainnya. Pejabat atau petugas lintas sektor yang lain. Wartawan, LSM yang lain.4. JALUR PENYAMPAIAN LAPORAN KLB GIZIMasyarakat menyampaikan laporan ke Puskesmas atau Kepala Desa/Lurah selanjutnyaKepala Desa/Lurah menyampaikan ke Puseksmas. Kader menyampaikan hasil penjaringananak dengan 3 T dan BGM ke Puskesmas. Puskesmas melakukan konfirmasi terhadaplaporan yang disampaikan masyarakat. Bila kondisi gizi buruk benar, segera dilakukantindakan sesuai PEDOMAN TATA LAKSANA, dan dilaporkan ke Dinas KesehatanKabupaten/Kota dengan format W1 (laporan KLB 24 jam).Fakta tentang Gizi Buruk: 1. Kondisi gizi buruk termasuk busung lapar dapat dicegah. 2. Gizi buruk adalah masalah yang bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan, (masalah struktural) tapi juga karena aspek sosial dan budaya hingga menyebabkan tindakan yang tidak menunjang tercapainya gizi yang memadai untuk balita (masalah individual dan keluarga). Di Pidie Aceh, Dinas Kesehatan dan UNICEF menemukan 454 balita dari 45.000 balita mengalami gizi buruk akibat konflik dan tsunami. Di Gianyar, 80% balita yang mengalami gizi buruk bukan berasal dari kelurga miskin (gakin). 3. Diperkirakan bahwa Indonesia kehilangan 220 juta IQ poin akibat kekurangan gizi. Dampak lain dari gizi kurang adalah menurunkan produktivitas, yang diperkirakan antara 20-30%. 4. Anak yang kekurangan gizi pada usia balita akan tumbuh pendek, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak yang berpengaruh pada rendahnya tingkat kecerdasan, karena tumbuh kembang otak 80 % terjadi pada masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun. 5. Risiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek. 6. 6.7 juta balita atau 27.3% dari seluruh balita di Indonesia menderita kurang gizi akibat pemberian ASI dan makanan pendamping ASI yang salah. 1.5 juta diantaranya menderita gizi buruk.
  5. 5. 7. Kurang Energi Protein (KEP) ringan sering dijumpai pada anak usia 9 bulan hingga 2 tahun, meskipun dapat juga dijumpai pada anak lebih besar. 8. Beberapa penelitian menunjukkan pada KEP berat resiko kematian cukup besar, yaitu sekitar 55%. Kematian ini seringkali terjadi karena penyakit infeksi (seperti Tuberculosis, Madang paru, infeksi saluran cerna) atau karena gangguan jantung mendadak.KEKURANGAN VITAMIN, MINERAL DAN ELEKTROLIT PADA PENDERITAKEPNama penyakit kekurangan/ defisiensi serta Gejala dan tanda klinis 1. Buta senja (xeroftalmia) Vitamin A Mata kabur atau buta 2. Beri-beri Vitamin B1 Badan bengkak, tampak rewel, gelisah, pembesaran jantung kanan 3. Ariboflavinosis Vitamin B2 Retak pada sudut mulut, lidah merah jambu dan licin 4. Defisiensi B6 Vitamin B6 Cengeng, mudah kaget, kejang, anemia (kurang darah), luka dimulut 5. Defisiensi Niasin Niasin Gejala 3 D (dermatitis /gangguan kulit, diare, deementia), Nafsu makan menurun, sakit di ldah dan mulut, insominia, diare, rasa bingung. 6. Defisiensi Asam folat Asam folat Anemia, diare 7. Defisiensi B12 Vitamin B12 Anemia, sel darah membesar, lidah halus dan mengkilap, rasa mual, muntah, diare, konstipasi. 8. Defisiensi C Vitamin C Cengeng, mudah marah, nyeri tungkai bawah, pseudoparalisis (lemah) tungkai bawah, perdarahan kulit 9. Rakitis dan Osteomalasia Vitamin D Pembekakan persendian tulang, deformitas tulang, pertumbuhan gigi melambat, hipotoni, anemia 10. Defisiensi K Vitamin K Perdarahan, berak darah, perdarahan hidung dsb 11. Anemia Defisiensi Besi Zat besi pucat, lemah, rewel 12. Defisiensi Seng Seng Mudah terserang penyakit, pertumbuhan lambat, nafsu makan berkurang, dermatitis 13. Defisiensi tembaga tembaga Pertumbuhan otak terganggu, rambut jarana dan mudah patah, kerusakan pembuluh darah nadi, kelainan tulang 14. Hipokalemi kalium Lemah otot, gangguan jantung 15. Defisiensi klor klor Rasa lemah, cengeng
  6. 6. 16. Defisiensi Fluor Fluor Resiko karies dentis (kerusakan gigi) 17. Defisiensi krom krom Pertumbuhan kurang, sindroma like diabetes melitus 18. Hipomagnesemia magnesium Defisiensi hormon paratiroid 19. Defisiensi Fosfor Fosfor Nafsu makan menurun, lemas 20. Defisiensi Iodium Iodium Pembesaran kelenjar gondok, gangguan fungsI mental, perkembangan fisikSumber: www.depkes.go.idPELAKSANAAN SISTIM KEWASPADAAN DINI KEJADIAN LUAR BIASAGIZI BURUKKejadian KLB gizi buruk perlu dideteksi secara dini dan diikuti dengan tindakan yang cepatdan tepat sehingga kasus-kasus potensial penyebab gizi buruk dapat dicegah. Prinsipmelaksanakan SKD-KLB gizi buruk adalah mencakup : • Kajian epidemiologi secara rutin • Peringatan kewaspadaan dini • Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.KEJADIAN LUAR BIASA KERACUNAN PANGANDewasa ini masalah keamananpangan sudah merupakan masalah global, sehingga mendapatperhatian utama dalam penetapan kebijakan kesehatan masyarakat. Letusan penyakit akibatpangan (foodborne disease) dan kejadian-kejadian pencemaran pangan terjadi tidak hanya diberbagai negara berkembang dimana kondisi sanitasi dan higiene umumnya buruk, tetapi jugadi negara-negara maju. Diperkirakan satu dari tiga orang penduduk di negara majumengalami keracunan pangan setiap tahunnya. Bahkan di Eropa, keracunan panganmerupakan penyebab kematian kedua terbesar setelah Infeksi Saluran Pernafasan Atas atauISPA. Hal inilah yang menarik perhatian dunia internasional. World Health Organization(WHO) mendefinisikan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan atau dikenal denganistilah “foodborne disease outbreak” sebagai suatu kejadian dimana terdapat dua orang ataulebih yang menderita sakit setelah mengkonsumsi pangan yang secara epidemiologi terbuktisebagai sumber penularan. Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia mempunyai makna sosialdan politik tersendiri karena peristiwanya sering sangat mendadak, mengena banyak orangdan dapat menimbulkan kematian. Badan POM RI melalui Direktorat Surveilan dan
  7. 7. Penyuluhan Keamanan Pangan, secara rutin memonitor kejadian luar biasa (KLB) keracunanpangan di Indonesia khususnya keracunan yang telah diketahui waktu paparannya (pointsource) seperti pesta, perayaan, acara keluarga dan acara sosial lainnya. Selama tahun 2004,berdasarkan laporan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia telah terjadi kejadian luarbiasa (KLB) keracunan pangan sebanyak 153 kejadian di 25 propinsi.Sumber dan jenis pangan penyebab keracunanDitinjau dari sumber pangannya, terlihat bahwa yang menyebabkan keracunan pangan adalahmakanan yang berasal dari masakan rumah tangga 72 kejadian keracunan (47,1%), industrijasa boga sebanyak 34 kali kejadian keracunan (22,2 %), makanan olahan 23 kali kejadiankeracunan (15,0 %), makanan jajanan 22 kali kejadian keracunan (14,4 %) dan 2 kalikejadian keracunan (1,3 %) tidak dilaporkan. Berdasarkan data tersebut sumber panganpenyebab keracunan pangan terbesar yaitu masakan rumah tangga. Hal ini disimpulkanbahwa kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan higiene pengolahan pangan (makanandan air) dalam rumah tangga masih cukup rendah.Distribusi kasus keracunan berdasarkan waktu, tempat dan orangWaktu. Frekuensi KLB keracunan pangan tertinggi tahun 2004 terjadi pada Agustus,Oktober, dan Desember. Musim hujan di Indonesia terjadi pada bulan Desember - Februari.Sedangkan musim kemarau pada periode Juni - Agustus, dan enam bulan sisanya (Maret,Mei, dan September - November) merupakan periode peralihan. Frekuensi KLB tertinggiumumnya terjadi pada musim kemarau dan periode peralihan, seperti pada bulan Agustus(2004). Begitu juga pada periode peralihan, bulan Oktober (2004). Salah satu dampak darimusim kemarau dan periode peralihan adalah terbatasnya ketersediaan air bersih yang sangatpenting dalam sanitasi, termasuk sanitasi pangan, peralatan, pekerja, dan tempat pengolahan.Pada bulan ini juga banyak terjadi pesta, perayaan dan acara sosial lainnya karena ”bulanbaik” untuk hajatan dan pergantian tahun ajaran baru sekolah.
  8. 8. Tempat. Distribusi menurut tempat kejadian menunjukkan bahwa tempat kejadian bervariasidari berbagai tempat, yaitu : tempat tinggal 61 tempat (39,9 %), kampus/sekolah 36 tempat(23,5%), pesta keluarga 22 tempat (14,4%), pabrik 12 tempat ( 7,8%), kantor 5 tempat(3,3%), swalayan dan tempat pelatihan masing-masing 3 tempat (2,0%), perayaan umum danpengajian masing-masing 2 tempat ( 1,3%), pasar, posyandu, hotel dan masjid masing-masing 1 tempat (0,7%) sedangkan 3 kejadian (2,0%) tidak dilaporkan tempat kejadiannya.Orang. Distribusi menurut orang menunjukkan bahwa salah satu KLB keracunan pangantertinggi tahun 2004 terjadi pada anak usia sekolah, khususnya murid sekolah dasar (SD).Terjadinya keracunan di lingkungan sekolah antara lain disebabkan oleh ditemukannya podukpangan di lingkungan sekolah yang tercemar bahan berbahaya, kantin dan pangan siap saji disekolah yang belum memenuhi syarat higienitas dan donasi pangan yang bermasalah.Agen penyebab KLB keracunan panganKeracunan pangan dapat disebabkan oleh mikroba patogen dan cemaran kimiawi. Darilaporan hasil analisis Balai POM diduga penyebab keracunan disebabkan mikroba patogen 21kejadian (13,7%), kimia 13 kejadian keracunan (8,5%). Namun ternyata yang tidakterdeteksi/tidak dapat dianalisis masih jauh lebih banyak, yaitu pada 119 kejadian keracunan(77,8%).Masalah utama penanganan keracunan pangana. Koordinasi dan kerjasama antar instansi yang menangani KLB keracunan pangan yangmeliputi: Koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah daerah/dinas kesehatan setempat kurang, terutama dengan dihapusnya lembaga Kanwil sebagai penanggung jawab Tim Penanggulangan Keracunan Pangan di Propinsi. Prosedur pelaporan maupun penanganan keracunan pangan belum dipahami sepenuhnya oleh petugas di lapangan.b. Penanganan dan analisis sampel, diantaranya: Sampel yang diduga sebagai penyebab keracunan sering terlambat atau tidak dapat diperoleh, sehingga tidak dapat dilakukan analisis penyebab KLB. Seringkali Balai POM mendapat sampel dari pihak luar/kepolisian yang umumnya tidak mengetahui bagaimana mengambil dan menangani sampel tersebut.
  9. 9. Akses yang terbatas terhadap laboratorium rujukan dan kurang memadai dalam identifikasi patogen/bahan berbahaya penyebab keracunan pangan.c. Masalah lain seperti: Masih rendahnya kejadian yang dilaporkan Lebih banyak diarahkan untuk menghitung jumlah kasus keracunan pangan saja Tidak banyak manfaat yang dapat digunakan dalam program keamanan pangan KLB tidak dapat ditangani secara tuntasUpaya-upaya untuk Penanggulangan KLB Keracunan PanganBadan POM RI bersama instansi terkait, khususnya Direktorat Jenderal PemberantasanPenyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2&PL) Departemen Kesehatan, DepartemenPendidikan Nasional dan pemerintah daerah telah dan akan melaksanakan upaya-upayapenanggulangan KLB keracunan pangan terutama untuk golongan rentan yaitu anak sekolah.Upaya-upaya tersebut tercakup dalam 3 strategi utama yaitu: Peningkatan aktivitas surveilan keamanan pangan, khusus pangan jajanan anak sekolah Pemberdayaan sekolah dalam Pengawasan pangan Melakukan komunikasi risiko jajanan anak sekolahKLB DIAREPenyakit diare masih sering menimbulkan KLB ( Kejadian Luar Biasa ) seperti halnya Koleradengan jumlah penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.Namun dengan tatalaksanadiare yang cepat, tepat dan bermutu kematian dpt ditekan seminimal mungkin. Pada bulanOktober 1992 ditemukan strain baru yaitu Vibrio Cholera 0139 yang kemudian digantikanVibrio cholera strain El Tor di tahun 1993 dan kemudian menghilang dalam tahun 1995-1996, kecuali di India dan Bangladesh yang masih ditemukan. Sedangkan E. Coli 0157sebagai penyebab diare berdarah dan HUS ( Haemolytic Uremia Syndrome ). KLB pernahterjadi di USA, Jepang, Afrika selatan dan Australia. Dan untuk Indonesia sendiri keduastrain diatas belum pernah terdeksi.DefenisiSuatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja , yang
  10. 10. melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kaliatau lebih dalam 1 hari.Faktor yang mempengaruhi diare : Lingkungan Gizi Kependudukan Pendidikan Sosial Ekonomi dan Prilaku MasyarakatPenyebab terjadinya diare adalah peradangan usus oleh agen penyebab : 1. Bakteri , virus, parasit ( jamur, cacing , protozoa) 2. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia 3. Kurang gizi 4. Alergi terhadap susu 5. Immuno defesiensiCara penularan :Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang terkontaminasitinja / muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat terjadi bila tangan tercemardipergunakan untuk menyuap makanan.Istilah diare :Diare akut = kurang dari 2 mingguDiare Persisten = lebih dari 2 mingguDisentri = diare disertai darah dengan ataupun tanpa lendirKholera = diare dimana tinjanya terdapat bakteri CholeraTatalaksana penderita diare yang tepat dan efektif : Tatalaksana penderita diare di rumah Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga (kuah sayur, air tajin, larutan gula garam, bila ada berikan oralit) Meneruskan pemberian makanan yang lunak dan tidak merangsang serta makanan ekstra sesudah diare.
  11. 11. Membawa penderita diare ke sarana kesehatan bila dalam 3 hari tidak membaik atau : 1. Buang air besar makin sering dan banyak sekali 2. Muntah terus menerus 3. Rasa haus yang nyata 4. Tidak dapat minum atau makan 5. Demam tinggi 6. Ada darah dalam tinjaKriteria KLB/Diare :Peningkatan kejadian kesakitan/kematian karena diare secara terus menerus selama 3 kurunwaktu berturut-turut (jam, hari, minggu). – Peningkatan kejadian/kematian kasus diare 2 kali/lebih dibandingkan jumlah kesakitan/kematian karena diare yang biasa terjadi pada kurunwaktu sebelumnya (jam, hari, minggu). – CFR karena diare dalam kurun waktu tertentumenunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan priode sebelumnya.Prosedur Penanggulangan KLB/Wabah.1. Masa pra KLB Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkh lainnya : 1. Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik. 2. Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas. 3. Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat 4. Memperbaiki kerja laboratorium 5. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain Tim Gerak Cepat (TGC) : Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau data penyelidikan epideomologis. Tugas /kegiatan : Pengamatan :
  12. 12.  Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.  Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota keluarga  Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga tercemari dan sebagai sumber penularan.  Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi penyebarannya  Pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan di lapangan.  Penyuluhahn baik perorang maupun keluarga  Membuat laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan secara lengkap2. Pembentukan Pusat Rehidrasi Untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan. Tugas pusat rehidrasi :  Merawat dan memberikan pengobatan penderita diare yang berkunjung.  Melakukan pencatatan nama , umur, alamat lengkap, masa inkubasi, gejala diagnosa dsb.  Memberikan data penderita ke Petugas TGC  Mengatur logistik  Mengambil usap dubur penderita sebelum diterapi.  Penyuluhan bagi penderita dan keluarga  Menjaga pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan (lisolisasi).  Membuat laporan harian, mingguan penderita diare yang dirawat.(yang diinfus, tdk diinfus, rawat jalan, obat yang digunakan dsb.

×