Hadits shahih & dhoif

20,918 views

Published on

3 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
20,918
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
45
Actions
Shares
0
Downloads
473
Comments
3
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hadits shahih & dhoif

  1. 1. Hadits Shahih dan Hadits Dho’if Muhammad Jamhuri
  2. 2. Definisi Hadits <ul><li>Hadist secara bahasa bermakna berita dan baru </li></ul><ul><li>Hadits menurut ulama Hadits adalah sinonim dari sunnah, yakni segala hal yang berasal dari Rasulullah saw, baik sebelum masa kenabian maupun setelah kenabian </li></ul><ul><li>Hadits, mayoritas didefinisikan sebagai segala hal yang diriwayatkan dari Nabi saw setelah kenabian baik berupa ucapan, perbuatan maupun keputusan (taqrir) </li></ul>
  3. 3. Macam Hadits <ul><li>Pembagian Hadits dapat ditinjau dari sisi periwayatannya dan dari sisi diterima dan tidaknya </li></ul><ul><li>Hadits ditinjau dari sisi periwayatannya terbagi kepada tiga: </li></ul><ul><ul><li>Hadits Mutawatir ( متواتر ) </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadits Masyhur ( مشهور ) </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadits Ahad ( آحاد ) </li></ul></ul><ul><li>Hadits diinjau dari sisi diterima dan ditolaknya terbagi kepada dua: </li></ul><ul><ul><li>Hadits Shahih ( صحيح ) </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadits Hasan ( حسن ) </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadits Dho’if ( ضعيف ) </li></ul></ul>
  4. 4. Mutawatir, Masyhur dan Ahad <ul><li>Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan banyak orang yang secara kebiasaan mustahil mereka bersekongkol untuk berdusta, kemudian diriwayatkan dari banyak orang seperti mereka, mulai dari sanad pertama hingga terakhir, dan tidak ada kekurangan di setiap tingkatan sanadnya. </li></ul><ul><li>Hadits Mutawatir ada dua macam: </li></ul><ul><ul><li>Mutawatir Lafdzi ( لفظي ) : Hadits yang seluruh perawinya sepakat tentang bunyi redaksi hadits. </li></ul></ul><ul><ul><li>Mutawatir Maknawi ( معنوي ) : Hadits yang seluruh perawinya sepakat tentang isi kandungan hadits meskipun secara redaksi berbeda. </li></ul></ul><ul><li>Hukum hadits Mutawatir: wajib mengamalkan isi hadits tersebut, tidak perlu meninjau kembali kekurangan perawinya. Karena hadits ini mengandung keyakinan (tidak diragukan). </li></ul>
  5. 5. Mutawatir, Masyhur dan Ahad <ul><li>Hadits Masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh sedikitnya dua perawi, namun belum sampai pada batas mutawatir </li></ul><ul><li>Sebagian ulama Ushul Fiqh mendefinisikan: hadits yang diriwayatkan dari sahabat oleh beberapa perawi yang tidak mencapai batas mutawatir, kemudian setelah mereka, mencapai mutawatir. </li></ul><ul><li>Hukum hadits Masyhur: wajib mengamalkan isi hadits tersebut karena mengandung zhan (mendekati keyakinan). </li></ul>
  6. 6. Mutawatir, Masyhur dan Ahad <ul><li>Hadits Ahad: Hadits yang tidak memenuhi persyaratan yang terdapat pada hadits Mutawatir dan hadits Masyhur, dimana jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawi pada hadits Mutawatir dan Masyhur </li></ul><ul><li>Hukum Hadits Ahad: Wajib mengamalkan isi hadits tersebut jika memenuhi persyaratan diterimanya hadits tersebut (akan dibahas saat membahas hadist Shahih dan hadits Dhaif) </li></ul><ul><li>Sebagian ulama (seperti ulama Hanafi) memasukkan hadits Masyhur ke dalam hadits Ahad, sehingga pembagian hadits ditinjau dari sisi periwayatan terbagi hanya dua: Mutawatir dan Ahad </li></ul>
  7. 7. Hadits Shahih <ul><li>Hadits Shahih adalah adalah hadits yang sanad (rantai) perawinya bersambung, dan mereka itu adil dan kuat hafalan, mereka meriwayatkan dari perawi yang sama kualitasnya, dan hadits itu tidak bertentangan dengan hadits lain dan tidak ada celanya. </li></ul><ul><li>Dari definisi tersebut, suatu hadits dapat dikatakan shahih jika memenuhi syarat: </li></ul><ul><ul><li>Sanad perawinya bersambung, tidak terputus </li></ul></ul><ul><ul><li>Perawinya adil: yakni istiqomah dalam agamanya, baik akhlaknya dan bebas dari sifat fasik dan segala yang mengurangi muru’ah (kewibaannya) </li></ul></ul><ul><ul><li>Perawinya dhabit: yakni sadar dan hafal saat menerima hadits, memahami apa yang didengarnya, hafal saat mendapatkan hingga meriwayatkannya kembali </li></ul></ul><ul><ul><li>Haditsnya tidak Syadz: maksudnya periwayatan hadits itu bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih baik </li></ul></ul><ul><ul><li>Bebas dari illat (cela) seperti mamarfu’kan hadits yang sebenarnya mauquf </li></ul></ul>
  8. 8. Hadits Shahih <ul><li>Hadist Shahih terbagi kepada dua bagian: </li></ul><ul><ul><li>Shahih li Dzatihi ( صحيح لذاته ) : hadist yang mengandung kriteria ideal diterimanya hadits, seperti definisi yang disebutkan di atas </li></ul></ul><ul><ul><li>Shahih li Ghoirihi ( صحيح لغيره ) : Hadits yang tidak mengandung kriteria ideal diterimanya hadits, namun posisinya menjadi kuat dikarenakan faktor lain. Seperti kondisi perawinya yang kurang dhabit. Seperti juga hadits hasan jika terdapat riwayat lain yang menguatkan sehingga naik ke derajat hadist shahih </li></ul></ul>
  9. 9. Hadits Shahih <ul><li>Hadits shahih berbeda-beda dalam hal derajat keshahihannya, tergantung kekuatan kedhabitannya, keterkenalan ilmu perawinya dan lainnya. </li></ul><ul><li>Ulama berbeda pendapat tentang riwayat siapa yang paling shahih dalam periwayatan hadits: </li></ul><ul><ul><li>Sebagian berpendapat bahwa hadts yang paling shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh Syihab al-Zuhri, dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari Ibnu Umar </li></ul></ul><ul><ul><li>Sebagian lagi berpendapat: riawayat yang paling shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sulaiman al-A’masy, dari Ibrahim al-Nakho’i, dari ‘Alqomah bin Qois, dari Abdullah bin Mas’ud </li></ul></ul><ul><ul><li>Imam Bukhori dan lainnya berpendapat: riwayat yang paling shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas, dari Nafi’ Maula Ibnu Umar. Ini yang sering disebut para ulama sebagai “rantai emas” (Silsilah al-Dzahab) </li></ul></ul>
  10. 10. Hadits Hasan <ul><li>Hadits Hasan adalah hadist yang memenuhi syarat hadits shahih, akan tetapi terdapat kekurangan dalam hal kedhabitan (kurang hafalan) perawinya. </li></ul><ul><li>Hukum hadist hasan bisa diterima dan wajib diamalkan isi hadits tersebut, karena pada dasarnya kedhabitan itu masih ada pada diri perawi, hanya saja kedhabitannya kurang sempurna. </li></ul><ul><li>Perbedaan antara hadits Shahih dan Hadits Hasan terletak pada kedhabitan perawi, dimana dalam hadits shahih kedhabitannya sempurna, sedangkan pada hadits hasan kedhabitannya kurang sempurna. </li></ul><ul><li>Hadits Hasan terbagi kepada dua bagian: </li></ul><ul><ul><li>Hadits Hasan li DZatihi ( حسن لذاته ) </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadist Hasan li Ghairihi ( حسن لغيره ) </li></ul></ul>
  11. 11. Hadits Hasan <ul><li>Hadits Hasan li Dzatihi adalah seperti defini hadits hasan di atas </li></ul><ul><li>Hadits Hasan li Ghoirihi adalah hadits yang terpenuhi syarat hadits Hasan, dengan demikian kedhabitannya lemah, akan tetapi dikuatkan oleh faktor lain sehingga derajatnya naik menjadi hadist hasan, seperti sanadnya yang tidak diketahui, sering salah namun tidak terindikasi berbohong, juga bukan karena kefasikan </li></ul><ul><li>Hadits Hasan li Ghoiri dapat dijadikan hujjah (dalil) seperti halnya hadist hasan li dzatihi, dapat diterima dan diamalkan isi haditsnya. </li></ul><ul><li>Hadits-hadits hasan banyak terdapat di kitab-kitab “Sunan”. Meskipun terdapat pula hadits shahih, hasan, dhoif </li></ul>
  12. 12. Hadits Dho’if <ul><li>Hadist Dho’if adalah hadits yang tidak terpenuhi keriteria diterimanya hadist. Atau sebagian ulama berkata: adalah hadits yang tidak terdapat kriteria hadits shahih dan hasan </li></ul><ul><li>Macam-macam hadits dhaif: </li></ul><ul><li>Hadits Mursal ( مرسل ) : </li></ul><ul><ul><li>Hadits Mursal: Hadits yang disandarkan oleh Tabiin kepada Nabi saw, baik tabiin itu senior (kabir) maupun junior (shagir). Disebut mursal (lepas) karena tidak melibatkan sahabat </li></ul></ul><ul><ul><li>Hukum hadits mursal: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Abu Hanifah, Imam Malik berpendapat hadits mursal dapat dijadikan dasar (hujjah) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Imam Nawawi, Imam Syafi’I berpendapat hadits mursal tidak dapat dijadikan dasar (hujjaj) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Sebagian ulama berpendapat hadits mursal dapat dijadikan dasar (hujjah) bila ada hadits lain yang menguatkannya, seperti sebagain sahabat pernah mengamalkannya </li></ul></ul></ul>
  13. 13. Macam-macam Hadits Dho’if <ul><li>Hadits Munqoti’ ( منقطع ) </li></ul><ul><ul><li>Yaitu hadist yang sanadnya terputus salah satu atau lebih perawinya, atau perawinya tidak dikenal. Baik terputusnya di awal sanad, ditengahnya, atau di akhirnya </li></ul></ul><ul><ul><li>Seperti hadits: </li></ul></ul><ul><ul><li>عن عبد الرزاق عن الثوري عن أبي اسحاق عن زيد بي يثيع عن حذيفة مرفوعا : ” ان وليتموها أبا بكر فقوي أمين“ pada sanadnya ada terputus di dua hal: Abdurrozak tidak pernah mendengar dari al-Tasuri, dan al-Tsauri tidak pernah mendengar dari Abi Ishaq, tapi mendengarnya dari Syuarik </li></ul></ul><ul><li>Hadits Mu’adhol ( معضل ) </li></ul><ul><ul><li>Yaitu hadits yang sanadnya terputus dua perawi atau lebih. Seperti ucapan seorang yang hidup di abad 2 H: “Rasulullah saw bersabda:….. Karena antara mereka dan Rasulullah terdapat para perawi yang tidak disebutkan </li></ul></ul>
  14. 14. Macam-macam Hadits Dho’if <ul><li>Hadits Mudallas ( مدلس ) </li></ul><ul><ul><li>Yaitu hadits yang dalam sanadnya terdapat ketidakjelasan atau ditutup-tutupi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadits Mudallas ada dua macam: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tadlis Isnad: yaitu seorang perawi meriwayatkan hadits dari seseorang yang hidup sezaman dengannya namun belum pernah bertemu, atau bertemu namun belum pernah mendengar hadits darinya, yang diragukan dia mendengar darinya. Sperti ucapan قال فلان , عن فلان dsb </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tadlis al-Syuyukh: Perawi tidak menyebut nama perawi di atasnya, namun menyebut dengan gelar atau kunyah yang tidak dikenal. Seperti قال الشيخ , قال أبو عبدالله ( ابو داود ) </li></ul></ul></ul><ul><li>Hadits Mu’allal ( معلل ) </li></ul><ul><ul><li>Yaitu hadits tekuak padanya cela yang parah, meskipun zahirnya nampak baik, seperti menyebut hadit munqoti’ sebagai hadits maushul, hadits mauquf disebut sebagai hadits marfu’ </li></ul></ul>
  15. 15. Macam-macam Hadits Dho’if <ul><li>Hadits Mudhtorrib ( مضطرب ) </li></ul><ul><ul><li>Yakni hadits yang diriwayatkan banyak dari segala sisi, namun saling bertentangan satu sama lainnya, serta tidak mungkin dilakukan tarjih (metode mencari mana yang benar) </li></ul></ul><ul><li>Hadits Maqlub ( مقلوب ) </li></ul><ul><ul><li>Yakni hadist yang perawinya salah terbalik dalam menyebut matan hadits. Seperti hadit tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, disebutkan salah satunya: “Seorang yang bersedekah secara diam-diam hingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kirinya”, padahal yang benar adalah “hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya”. Seperti juga saat menyebut nama perawinya dengan “Murroh bin Ka’ab” dan “Ka’ab bin Murroh” </li></ul></ul>
  16. 16. Macam-macam Hadits Dho’if <ul><li>Hadits Syadz ( شاذ ) </li></ul><ul><ul><li>Yakni hadits yang diriwayatkan perawi yang dapat diterima, akan tetapi haditsnya bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih dipercaya dan lebih diterima, karena kedhabitanya lebih atau karena perawinya lebih banyak. </li></ul></ul><ul><li>Hadits Munkar ( منكر ) </li></ul><ul><ul><li>Yakni hadist yang perawinya lemah serta bertentangan dengan hadist yang perawinya tsiqoh (bisa dipercaya) </li></ul></ul><ul><li>Hadits Mudho’af: ( مضعف ) </li></ul><ul><ul><li>Yakni hadits yang belum disepakati atas kedhaifannya, sebagian ulama mendhaifkan dan sebagian lagi menguatkannya, tetapi yang mendhaifkannya lebih kuat daripada yang menguatkannya, dan tidak bisa dilakukan tarjih (mencari jalan keluar) </li></ul></ul><ul><li>Hadits Matruk ( متروك ) </li></ul><ul><ul><li>Yakni hadits yang diriwayatkan oleh orang yang dianggap pendusta, baik pada hadits Nabi maupun dalam ucapannya, atau dikenal kefasikannya </li></ul></ul>
  17. 17. Hukum Hadits Dho’if <ul><li>Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengamalkan hadits dhoif </li></ul><ul><ul><li>Yahya bin Muin, Ibnul Arabi, Bukhori, Muslim dan ibnu Hazm berpendapat: tidak boleh mengamalkan hadits dhoif secara mutlak, termasuk dalam hal fadhoil ‘amal (keutamaan beramal) dan hukum. </li></ul></ul><ul><ul><li>Abu Daud dan Imam Ahmad berpendapat: Hadits dhoif boleh diamalkan secara mutlak. Bahkan keduanya menganggap hal itu lebih kuat dari pada pendapat orang-orang. </li></ul></ul><ul><ul><li>Ibnu Hajar dan lainnya berpendapat: boleh mengamalkan hadits dhoif dalam perkara fadhoil ‘amal (keutamaan beramal) dan berisi nasehat, dengan syarat tertentu, yakni: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Dhoifnya tidak sangat </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Masih dalam dasar yang masih boleh diamalkan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tidak diyakini itu suatu ketentuan/kepastian (tsubut) tapi lebih karena sikap berhati-heti </li></ul></ul></ul>
  18. 18. Mengenal Kitab-kitab Hadist <ul><li>Shahih al-Bukhori </li></ul><ul><ul><li>Penulisnya adalah Abu Abdullah bin Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughiroh al-Ju’fi al-Bukhori, lahir di kota Bukhoro tahun 194 H, </li></ul></ul><ul><ul><li>Kitab ini oleh Imam Bukhori dinamakan “Al-jami’ al-Shahih al-Musnid al-Muhktashar min Umur Rasululillah saw wa Sunanihi wa Ayyamihi”. Disusun berdasarkan judul-judul. Buku ini memuat 9082 hadits yang disaring dari 600.000 hadits. Penyusunannya memakan waktu 16 tahun, dan beliau tidak meletakkan hadits kecuali terlebih dahulu melakukan shalat dua rakaat. Sebanyak 90.000 yang pernah mendengar/belajar kitab ini di zamannya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Kitab ini –oleh sebagian ulama- dianggap kitab tershahih dalam hal hadits, bahkan tershahih setelah al-Qur’an </li></ul></ul>
  19. 19. Mengenal Kitab-kitab Hadist <ul><li>Shahih Muslim </li></ul><ul><ul><li>Penulisnya adalah Abu al-Husain Muslim bin al-Hujjaj al-Qusyairi al-Nisaburi, lahir pada tahun 204 H dan wafat pada 261 H di Nashrabad desa Nisabur </li></ul></ul><ul><ul><li>Beliau memiliki 20 karya, yang terkenal adalah “Shahih Muslim”. Dalam kitab tersebut terdapat 10.000 hadits yang telah dipilihnya dari 300.000 yang dia dengar. Disusun perjudul. Penyusunannya memakan waktu 15 tahun. Dia berkata, “Tidaklah aku letakkn satu hadits di kitabku kecuali ada hujjahnya dan tidaklah aku gugurkan satu haditspun kecuali ada hujjahnya.” </li></ul></ul><ul><li>Kedudukan Kitab Shahih Bukhori dan Shahih Muslim: </li></ul><ul><ul><li>Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak ada dibawah langit satu kitabpun yang paling shahih dari Bukhori dan Muslim, setelah al-Aqur’an”. </li></ul></ul><ul><ul><li>Imam al-Dahlawi berkata, “Adapun kedua kitab “Shahihani” (Shahih Bukhori-Shahih Muslim) maka para ulama hadits telah sepakat bahwa seluruh hadits yang terdapat pada kedua kitab itu adalah dari hadits yang bersambung dan sampai kepada Rasulullah saw, dan pasti shahih”. </li></ul></ul>
  20. 20. Mengenal Kitab-kitab Hadist <ul><li>Sunan Abu Dawud </li></ul><ul><ul><li>Penulisnya adalah Abu Dawud Imam Sulaiman bin Asy’ast al-Sajistani, lahir tahun 202 H dan wafat tahun 275 H, </li></ul></ul><ul><ul><li>Kitab ini disusun berdasarkan bab fiqih dan lebih fokus pada masalah-masalah hukum, tidak ada kisah-kisah dan nasehat dalam kitab ini </li></ul></ul><ul><ul><li>Jumlah hadits dalam kitab ini sebanyak 5274 hadits, di dalamnya terdapat hadits shahih, hasan dan dhaif </li></ul></ul><ul><li>Sunan Turmudzi: </li></ul><ul><ul><li>Penulisnya adalah Abi ISa Muhammad bin Isa bin Saurah al-Turmudzi, lahir tahun 209 H dan wafat tahun 279. Dalam kitab terdapat hadits shahih, hasan, dhaif, gharib dn munkar. Beliau menggabungkan ilmu hadits dan fiqih </li></ul></ul><ul><ul><li>Imam Turmudzi berkata: “Aku telah menyusun kitab ini, dan aku perlihatkan kepada para ulama di Hijaz, Irak, dan Khurrosan, mereka merestuinya, maka siapa yang di rumahnya terdapat kitab ini maka rumahnya seperti ada Nabi yang berkata-kata.” </li></ul></ul>
  21. 21. Mengenal Kitab-kitab Hadist <ul><li>Sunan al-Nasa’i </li></ul><ul><ul><li>Penulisnya adalah Imam Abu Abdurrohman Ahmad bin Syuaib al-Khurosani al-Nasai, lahir tahun 215 H dan wafat tahun 303 H. Beliau menyusun kitab ini menurut bab fiqih. Di dalamnya terdapat hadits shahih, hasan dan dhaif </li></ul></ul><ul><li>Sunan Ibnu Majah: </li></ul><ul><ul><li>Penulisnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qozwaini. Kata Majah adalah gelar ayahnya. Ibnu Majah dilahirkan pada tahun 209 H di Qozwain dan wafat pada 273 H. Beliau menyusun kitab ini dalam beberapa bab, didalamnya terdapat shahih, hasan dan dhaif </li></ul></ul><ul><li>Al-Muwatho </li></ul><ul><ul><li>Penulisnya adalah Imam Malik bin Anas bin Malik, lahir di Madinah pada 93 H dan wafat pada 179 H. Didalam kitabnya terdapat 10.000 yang telah disaringnya dari 100.000 hadits yang dihafalnya </li></ul></ul><ul><li>Musnad Imam Ahmad </li></ul><ul><ul><li>Penulisnya Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani al-Marwazi, lahir di Baghdad tahun 174 H dan wafat tahun 241 H. Kitab ini disusun berdasar nama para sahabat, dan pada tiap sahabat menyebut hadist nya yang telah bersanad. Terdapat 30.000 hadit lebih, yang disaringnya dari 150.000 hadits yang diketahuinya. Tersebutnya nama sahabat sebayak 800 sahabat </li></ul></ul>
  22. 22. <ul><li>والله أعلم بالصواب </li></ul><ul><li>وصلى الله على محمد وعلى اله وصحبه وسلم </li></ul>

×