Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Chapter 4 - Siapa yang harus dilibatkan dalam riset implementasi?

529 views

Published on

Membahas kolaborasi yang harus dibangun untuk menjalankan riset implementasi

Published in: Healthcare
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Chapter 4 - Siapa yang harus dilibatkan dalam riset implementasi?

  1. 1. SIAPA YANG HARUS DILIBATKAN DALAM RISET IMPLEMENTASI? CHAPTER 4
  2. 2. "Keberhasilan Riset Implementasi dimulai dan diakhiri dari keberhasilan kolaborasi” Riset Implementaasi akan sangat berguna bagi audiens penggunanya apabila mereka bukan penerima pasif
  3. 3. Perlu kesiapan peneliti implementasi untuk: • Terlibat langsung dalam peristiwa yang tidak terduga dan bermasalah. • Menggunakan subyek penelitian dengan segala kompleksitasnya dan di dalam lingkungan alami. • Bekerja dengan populasi yang benar-benar terpengaruh oleh intervensi. Riset Implementasi berusaha memahami realitas implementasi dalam konteks dunia nyata
  4. 4. Konteks yang perlu dipertimbangkan dalam Riset Implementasi • Lingkungan sosial • Budaya • Ekonomi • Politik • Hukum • Fisik • Kondisi demografi dan epidemiologi • Pengaturan kelembagaan: struktur kelembagaan, berbagai pemangku kepentingan dalam kelembagaan • Cara sistem kesehatan disusun dan peran yang dimainkan oleh pemerintah, sektor swasta dan organisasi non- pemerintah (LSM).
  5. 5. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam Riset Implementasi • Pihak-pihak yang terkait dengan hasil penelitian: pembuat kebijakan, manajer kesehatan, praktisi, dll. • Kebutuhan dan keterbatasan pihak yang terkait dengan hasil penelitian. • Pengguna hasil penelitian memiliki kebutuhan yang berbeda dan perspektif yang berbeda, sehingga perlu mempertimbangkan perbedaan tersebut. • Pengguna hasil penelitian kebanyakan bukan peneliti lain atau pihak akademis, tetapi non-spesialis memerlukan penjelasan, analisis berbasis bukti yang jelas yang dapat menjadi dasar pembuatan keputusan.
  6. 6. • Pelaksana kebijakan/program/petugas garis depan dapat berperan dalam identifikasi, desain dan pelaksanaan penelitian, bukan hanya penerima pasif dari hasil penelitian. • Cara untuk mendorong umpan balik dari lapangan, salah satunya yang disebut Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan partisipasi dari subjek penelitian. • PAR tidak dirancang secara khusus untuk menjawab pertanyaan tentang implementasi, tetapi implementasi adalah subjek yang jelas untuk penelitian partisipatif. • PAR juga menciptakan kesempatan bagi masyarakat untuk “speak truth to power”, misalnya dengan menyampaikan informasi tentang penyediaan layanan yang kasar dan sewenang-wenang. Kerjasama Peneliti-Pelaksana
  7. 7. • Kerjasama peneliti dan pelaksana penting dalam situasi di mana isu-isu yang dibahas berhubungan dengan peningkatan kualitas dan scale-up dari program, yang berdampak pada banyak pihak. • Contoh Scale-up: – Perluasan layanan – Pengembangan kemampuan organisasi, keuangan, dan politik dari organisasi pelaksana – Pengembangan proses belajar yang melibatkan institusi pelaksana, penerima manfaat, penyandang dana dan pejabat.
  8. 8. Pelaksana kegiatan dapat berperan dalam berbagai fase penelitian: • Fase perencanaan dan penyusunan proposal • Memberikan pemahaman mengenai apa yang terjadi di lapangan dan potensi solusi • Memberikan pemahaman tentang konteks yang terjadi pada saat menyusun rencana studi • Dalam fase pengumpulan data, dengan posisi yang di lapangan • Dalam fase analisis data, untuk membantu interpreatasi dan making sense. • Dalam fase diseminasi hasil, pelaku/pelaksana kegiatan dapat menggunakan hasilnya langsung ke praktek di lapangan.
  9. 9. • Penting bagi para peneliti dan pelaksana untuk mengenali nilai dari hubungan simbiotik: – Pelaksana menghasilkan umpan balik dari garis depan/lapangan. – Peneliti memberikan keahlian dalam metode penelitian yang diperlukan untuk studi yang dapat dipercaya. • Hubungan peneliti dan pelaksana ini berguna untuk meyakinkan stakeholder bahwa pengetahuan yang dihasilkan dari Riset Implementasi valid dan sesuai kebutuhan.
  10. 10. Pentingnya Kemitraan dalam Riset Implementasi • Hal penting dalam kolaborasi pada Riset Implementasi adalah keterampilan membangun dan mempertahankan kemitraan: membina hubungan kolaboratif antara pemangku kepentingan yang terlibat dalam pembuatan kebijakan, manajemen program, dan penelitian. • Contoh kolaborasi dapat dapat dilihat pada kasus di Ghana, di mana peneliti dan pelaksana pada tahun 1990-an bekerjasama untuk mencari pendekatan yang optimal untuk mengembangkan skema asuransi kesehatan nasional: – Dimulai dengan penelitian formatif, yang melibatkan studi terhadap masyarakat yang direncanakan untuk diberi intervensi – Para peneliti dan pelaksana bekerjasama, membuat keputusan bersama tentang desain penelitian untuk memastikan bahwa hasilnya dapat memberikan bukti yang kuat dan sesuai dengan batasan waktu yang ditetapkan otoritas kesehatan setempat.
  11. 11. • Untuk secara efektif mencangkokkan Riset Implementasi ke dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan implementasi. • Riset Implementasi perlu terintegrasi dalam keseluruhan desain, perencanaan dan pengambilan keputusan. • Integrasi dapat dicapai dalam tiga cara: – Mengintegrasikan dana untuk penelitian dan kegiatan program. – Menerapkan penelitian dan penyelidikan ilmiah secara sistematis sebagai bagian dari pemecahan masalah. – Menggunakan pengambilan keputusan bersama dalam penelitian dan proses implementasi. Mencangkokan Riset Implementasi
  12. 12. Mengintegrasikan Pendanaan Kegiatan Penelitian dan Program • Donor internasional dan pemerintah biasanya memiliki anggaran untuk program dan penelitian yang terpisah, sehingga menciptakan ketidaksesuaian antara kebutuhan program dan tujuan penelitian. • Penyelarasan pendanaan penelitian dan program telah diadopsi oleh Bloomberg Philanthropies dalam dua inisiatif global pada pencegahan tembakau dan keselamatan di jalan. – Dalam kedua kasus, yayasan menyediakan dana untuk konsorsium mitra, mulai dari masyarakat sipil, peneliti akademis, dan lembaga teknis untuk berkolaborasi pada pelaksanaan skala besar intervensi kesehatan masyarakat. – Setiap mitra konsorsium berperan dan memberikan kontribusi untuk aspek yang berbeda dari implementasi. • Pendekatan kolaboratif ini memberikan keuntungan: – Memberikan pengakuan terhadap peran mitra yang berbeda dalam proses implementasi – Memungkinkan keselarasan antara pertanyaan penelitian dengan kebutuhan program. – Memfasilitasi keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses penelitian, sehingga bukti yang dihasilkan dapat digunakan untuk mendukung implementasi.
  13. 13. Penerapan Sistematis dari Penelitian dan Penyelidikan Ilmiah Kedalam Kegiatan program • Aplikasi sistematis dari penelitian ilmiah sangat penting untuk dilembagakan dalam program pengambilan keputusan sehingga Riset Implementasi menjadi bagian inti dari proses pemecahan masalah. • Cara pertama , dengan menyusun protokol atau proses untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan implementasi dan scale-up yang secara eksplisit merujuk pada penelitian. Ini merupakan cara yang baik untuk memastikan bahwa masalah dan pertanyaan yang perlu investigasi dibahas secara sistematis. • Cara kedua, melalui Monitoring dan Evaluasi (M&E) wajib. – Monitoring pelaksanaan program digunakan untuk memastikan bahwa masalah dan tantangan dapat diidentifikasi secara teratur. – Evaluasi program berfungsi untuk meningkatkan akuntabilitas dan pembelajaran jangka panjang. – Hal ini membantu untuk sistematisasi cara di mana tantangan implementasi dipahami, dan untuk memastikan relevansi Riset Implementasi untuk program.
  14. 14. Tanggung Jawab Bersama untuk Pengambilan Keputusan • Implementasi program dan scale-up perlu fleksibilitas dan sering berkembang di bawah tekanan waktu. • Konsekuensinya, keputusan tentang desain studi, metode, dan hasil dibuat tidak hanya berdasarkan perspektif peneliti, tetapi juga harus mencerminkan pandangan dari pelaksana dan pemangku kepentingan lainnya. • Contoh, peneliti mungkin keinginan bukti yang probabilistik dan yang dapat dibuktikan melalui analisis statistik, sedangkan tekanan waktu menuntut desain studi yang hanya menghasilkan bukti mengenai ‘apakah kualitas layanan memenuhi standar tertentu,’ tanpa harus mempertimbangkan apakah pengaruh luar menyebabkan perubahan.
  15. 15. • Masalah yang merupakan subjek dari Riset Implementasi, kebanyakan dikembangkan bersama-sama oleh para peneliti dan pengambil keputusan sehingga mencerminkan perspektif yang berbeda. • Pelaksana dan peneliti sering melihat masalah dari sudut berbeda: – Pelaksana fokus pada hambatan spesifik dan tantangan implementasi. – Peneliti mencari cara untuk merumuskan pertanyaan/masalah yang cocok untuk dipelajari dan dapat dijawab melalui penelitian.
  16. 16. • Contoh perbedaan dalam agenda dapat dilihat dari penelitian penggunaan bahan tambahan visibilitas untuk keselamatan sepeda motor di Malaysia. Pada penelitian ini, peneliti dan pengambil keputusan pada tingkat yang berbeda bekerja sama untuk menyusun pertanyaan penelitian dan desain penelitian: – Menghasilkan bukti kelayakan scale-up pada tingkat distrik, merespons kebutuhan pengambil keputusan – Menggunakan metode quasi-experimental yang memastikan kekuatan dan memungkinkan untuk independensi dan objektivitas, merespon kebutuhan peneliti. • Kasus di Malaysia menjadi bukti bahwa agenda yang berbeda dapat dipenuhi, meskipun faktanya berbagi tanggung jawab untuk pengambilan keputusan tidak selalu mudah, dan tidak setiap keputusan harus disepakati oleh semua.
  17. 17. Tantangan dalam Kemitraan • Dalam sistem kesehatan yang kompleks, aktor penting seperti pengambil keputusan, manajer program, petugas kesehatan garis depan, dan pasien, mempunyai peran masing-masing dan saling berinteraksi satu sama lain. • Setiap peran dapat dimainkan pada tingkat yang berbeda dan batas-batas antara peserta kadang- kadang tidak jelas.
  18. 18. • Penyusunan agenda dan kebijakan sering dibuat di tingkat pusat, tapi pada saat diimplementasikan terkadang perlu dimodifikasi untuk memperkuat hasil yang diharapkan. • Pekerja lini depan sebagai pelaksana kebijakan atau program, karena kondisi setempat, dapat menjadi penyusun agenda dan perumus kebijakan dan program terkait. • Pelaksana di semua tingkat dalam sistem kesehatan, memiliki peranan penting (terutama dalam studi peningkatan kualitas) dalam Riset Implementasi.
  19. 19. • Karena pentingnya proses dalam Riset Implementasi, diperlukan pemahaman mendalam mengenai konteks dan sistem, fleksibilitas dan kreativitas untuk mengidentifikasi pendekatan metodologis yang tepat. • Sebuah desain penelitian tetap seperti randomized controlled trial (RCT), yang sesuai untuk studi efikasi dan efektivitas, mungkin tidak cocok untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan implementasi. • Tantangan lain dalam kolaborasi adalah perbedaan prioritas masing-masing peserta. – Peneliti mungkin memprioritaskan untuk publikasi di jurnal yang memerlukan pendekatan disiplin tertentu, sedangkan pelaksana mungkin memprioritaskan untuk menyelesaikan masalah dalam waktu sesingkat mungkin. • Perbedaan tersebut sering yang tidak dapat diatasi, tetapi dapat dikompromikan.
  20. 20. • Salah satu cara bagi para peneliti implementasi untuk meningkatkan kolaborasi dengan mitra di lapangan adalah dengan turun langsung ke lapangan. • Pemahaman terbaik dari konteks dan perspektif orang lain berasal dari beberapa pengalaman dari konteks (lapangan). • Idealnya, peneliti implementasi harus meluangkan waktu tinggal dan bekerja dalam konteks (dan organisasi) yang dipelajari, sehingga mendapatkan wawasan yang dapat menginformasikan desain penelitian dan metode kerja. • Teknik turun ke lapangan ini juga membantu dalam pengembangan keterampilan mendengarkan, memahami perspektif orang lain, terlibat dalam dialog, negosiasi dan kolaboratif pemecahan masalah.
  21. 21. Riset Implementasi yang menghadapi penolakan • Ada situasi di mana integrasi penelitian ke dalam proses kebijakan tidak dapat dilaksanakan. – Pembuat kebijakan, manajer, dan lembaga donor tidak selalu ingin tahu bagaimana program mereka yang dilaksanakan. – Mereka mungkin telah menginvestasikan modal politik dan keuangan yang cukup besar dalam kebijakan, tapi takut hasilnya tidak sesuai harapan atau buruknya mengelolaan sumber daya. – Penyandang dana sering resisten terhadap penelitian yang mungkin menyoroti isu-isu keberlanjutan atau konsekuensi negatif dari program mereka. – Terkait isu sensitif secara sosial dan politik dari kelompok- kelompok yang berkuasa. – Penelitian dilakukan di daerah yang sedang berlangsung konflik sipil.
  22. 22. • Dalam keadaan ini, tugas peneliti implementasi adalah menemukan cara untuk membawa penelitian mereka ke dalam proses agenda-setting untuk mempengaruhi kebijakan. • Kondisi ini mungkin memerlukan strategi advokasi yang memanfaatkan hasil penelitian yang dirancang dengan baik.
  23. 23. Rangkuman Chapter 4 • Riset Implementasi yang baik adalah penelitian kolaboratif, di mana pelaksana turut berperan dari tahap identifikasi, desain sampai tahapan pelaksanaan penelitian. • Pembinaan hubungan kolaboratif antara pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyusunan kebijakan, manajemen program, dan penelitian merupakan hal yang sangat penting. • Riset Implementasi harus diintegrasikan ke dalam pengambilan keputusan kebijakan dan program sehingga penyelidikan ilmiah menjadi bagian dari proses pemecahan masalah implementasi. • Riset Implementasi dapat memainkan peran penting dalam "speaking truth to power", dengan mengidentifikasi isu-isu yang sering diabaikan atau dengan menunjukkan kinerja dan meningkatkan akuntabilitas organisasi kesehatan. • Pemahaman mengenai konteks dan sistem, dan fleksibilitas untuk mengidentifikasi pendekatan metodologis yang tepat, sama pentingnya atau bahkan lebih penting daripada kepatuhan terhadap desain fixed-research.

×