
Nomor 16 Volume VIII Juli 2010 ISSN 1693-0134


      



...
PETUNJUK UMUM BAGI PENULIS
• SSppeeccttrraa merupakan Jurnal Ilmiah
Populer Fakultas Teknik Sipil
dan Perencanaan ITN Mala...
      




           

Nom...
Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani
1
PEMANFAATAN ABU PEMBAKARAN SAMPAH
SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PEMBUATAN...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11
2
di TPA Supit Urang Malang adalah untuk pembuatan paving block. TPA
S...
Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani
3
Paving block adalah bahan bangunan yang dibuat dari campuran
semen, ...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11
4
1. Paving block dengan ketebalan 60 mm diperuntukkan bagi beban
lalu...
Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani
5
Pola Anyaman Tikar (Basket Weave Pattern)
Gambar 2.
Penyusunan Pavin...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11
6
Gambar 4.
Berbagai Macam Bentuk Paving Block
Kekuatan fisik paving b...
Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani
7
Bahan Pembuat Paving Block
Semen yang digunakan untuk pembuatan pavi...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11
8
Gambar 5.
Bagan Alur Pembuatan Paving Block
Adapun variasi komposisi...
Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani
9
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penanganan Sampah
Pada penelitian ini abu sampa...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11
10
Uji Ketahanan Aus Paving Block
Tabel 4.
Hasil Pengujian Ketahanan A...
Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani
11
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1971. Semen Portland. Cetakan Kedua. Yayasan...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22
12
POTENSI GANYONG (Canna edulis Kerr)
DARI MALANG SELATAN SEBAGAI BA...
Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah
13
Indonesia, karena didukung oleh potensi lahan yang luas, su...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22
14
konsentrasi 10% sebesar 13,0335% dan HCl sedangkan 13,9200%
untuk ...
Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah
15
berbagai makanan yang enak seperti kue. Yang dimaksud denga...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22
16
Pada reaksi hidrolisis pati dengan air, reaksi antara air dan pati...
Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah
17
Fermentasi
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam s...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22
18
Tepung
ganyong
Hidrolisis Fermentasi
Air dan
HCl,HNO3
T = 105-120o...
Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah
19
Gambar 4.
Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Asam dengan pH...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22
20
Dari hasil tersebut dapat dilihat kecenderungan kadar glukosa yang...
Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah
21
menggunakan katalis HCl. Hal ini dikarenakan HNO3 memiliki ...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22
22
Indah, Sri. 2009. Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Glukosa dari Pati...
Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono
23
KONSEP PENATAAN LANSEKAP
PADA ALUN-ALUN DAN TAMAN-TAMAN KOTA BONDOWOSO
Y. Set...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38
24
Besuki-Bondowoso. Fungsi Kota Bondowoso adalah sebagai pusat
pelay...
Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono
25
Batasan Perencanaan
Penyusunan konsep penataan Taman-taman Kota dan Alun-alun...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38
26
Sedangkan data instansional berupa:
• Data tata guna lahan kawasan...
Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono
27
GAMBARAN WILAYAH STUDI
Gambaran Umum Bondowoso
Wilayah Kabupaten Bondowoso se...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38
28
Bondowoso berada di wilayah Kelurahan Dabasah yang pada saat ini
d...
Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono
29
memberikan image fisik dan non fisik, serta (3) obyek dapat dikenali dan
dili...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38
30
untuk memperoleh kesan menyatu dan manusiawi melalui pertimbangan
...
Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono
31
mengandung 3 (tiga) jenis kegiatan, yaitu: (1) memberi vitalitas baru pada
ko...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38
32
• Pengaturan area taman yang dirancang, dibangun, dan dikelola
ole...
Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono
33
lingkungan, dengan langkah-langkah teknis, di antaranya adalah sebagai
beriku...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38
34
Analisis arsitektural mencakup pemrograman terhadap aspek-aspek
ya...
Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono
35
harmonis, maka perlu disusun petunjuk pelaksanaan oleh instansi
teknis terkai...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38
36
• Adanya pagar transparan yang ‘melindungi’ tanaman hias di sisi
k...
Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono
37
warna, dan tekstur yang memadai; penanaman maskot tanaman;
serta redesain ele...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38
38
• Merencana ulang elemen-elemen lansekap secara fisik, sehingga
me...
Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti
39
ANALISIS ISU DEFORESTASI PADA DAERAH TANGKAPAN AIR
BENDUNGAN LO...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53
40
sumberdaya alam di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Untuk
menge...
Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti
41
Penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Lolak pada tahun 2008 sebesa...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53
42
Sedangkan data perkembangan jumlah penduduk untuk Desa Pindol
dan ...
Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti
43
diperkirakan pada tahun 2015 mempunyai jumlah penduduk sebesar ...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53
44
Gambar 7.
Konversi Lahan Kawasan Hutan untuk Peternakan, Penebanga...
Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti
45
(A) Pembuangan Melalui Parit (B) Pembuangan Langsung
Menuju Sun...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53
46
hutan secara komersial (commercial logging). Di Indonesia jutaan h...
Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti
47
Tabel 2.
Produksi Kayu Propinsi Sulut Tahun 1996 -2001
No. Tahu...
SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53
48
meter untuk menuju desa Pindol. Jalan yang menghubungkan Desa
Pino...
Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti
49
Gambar 9.
Lahan Penebangan Kayu pada DTA Bendungan Lolak
Rendah...
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal

1,501 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,501
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
12
Actions
Shares
0
Downloads
35
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Spectra 16 viii-juli_2010 jurnal

  1. 1.  Nomor 16 Volume VIII Juli 2010 ISSN 1693-0134              Pemanfaatan Abu Pembakaran Sampah Sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Paving Block Anis Artiyani Potensi Ganyong (Canna edulis Kerr) dari Malang Selatan Sebagai Bahan Baku Bioethanol dengan Proses Hidrolisa Asam Faidliyah Nilna Minah Konsep Penataan Lansekap pada Alun-Alun dan Taman-Taman Kota Bondowoso Y. Setyo Pramono Analisis Isu Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Bendungan Lolak Kabupaten Boolang Mongondow Propinsi Sulawesi Utara Evy Hendriarianti Penentuan Nilai Awal Parameter Relatif Orientasi Foto Stereo Menggunakan Metode Singular Value Decomposition Leo Pantimena Pemilihan Alternatif Potensi Sumberdaya Air di Wilayah DAS Brantas untuk Dikembangkan Menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Deviany Kartika ; Miftahul Arifin ; Rahman Darmawan Perencanaan Bangunan Pemecah Gelombang (Pengaman Pantai Labuhan) di Kabupaten Sumbawa Erni Yulianti 
  2. 2. PETUNJUK UMUM BAGI PENULIS • SSppeeccttrraa merupakan Jurnal Ilmiah Populer Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITN Malang memuat karangan asli dari para penyumbang, baik dari dalam maupun dari luar lingkungan fakultas. • Karangan dapat ditulis bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. • Semua grafik, peta, dan gambar lain yang diperlukan dalam karangan disebut gambar dan diberi nomor dengan simbol angka Arab diikuti dengan judul. • Semua tabel dan daftar yang diperlukan dalam karangan disebut tabel dan diberi nomor dengan simbol angka Arab diikuti dengan judul yang ditulis di atas setiap tabel. • Semua foto dalam karangan tetap disebut foto dan diberi nomor dengan simbol angka Arab diikuti dengan judul yang ditulis di bawah setiap foto. H A K D E W A N R E D A K S I • Dewan Redaksi berhak menolak suatu karangan yang kurang memenuhi syarat setelah meminta pertimbangan Dewan Redaksi dan/atau Tenaga Ahli. • Dewan Redaksi dapat menyesuaikan bahasa dan/atau istilah tanpa mengubah isi dan pengertiannya dengan tidak memberi tahu kepada Penulis, apabila dipandang perlu untuk mengubah isi karangan. • Karangan yang dimuat dalam jurnal ini menjadi hak Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITN Malang, sehingga penerbitan kembali oleh siapapun harus meminta ijin Dewan Redaksi. Nomor 16 Volume VIII Juli 2010 ISSN 1693-0134             Pembina Dekan FTSP ITN Malang  Pemimpin Umum / Penanggungjawab Dr. Ir. Kustamar, MT.  Redaktur Pelaksana Ir. Y. Setyo Pramono, MT.  Staf Redaksi Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT. Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT. Dr. Ir. Hery Setyobudiarso, MSc. Ir. Ibnu Hidajat P.J., MT. Ir. J. Pradono de Deo, MT.  Alamat Redaksi Gedung FTSP Lt. II ITN Malang Jl. Bend. Sigura-gura No. 2 Malang Telepon: (0341) 551431 Pes. 212 Facsimile: (0341) 553015 E-mail: spectra@ftsp.itn.ac.id SSppeeccttrraa kembali mengupas tuntas pelbagai pengembangan bidang ilmu teknik sipil dan perencanaan yang lebih beragam. Edisi ini terbit dengan komitmen yang tetap untuk memberi wacana ilmiah yang lebih mendalam atas apa yang kami geluti selama ini. Semoga penampilan SSppeeccttrraa kali ini tetap menggema di medio 2011. SSppeeccttrraa  
  3. 3.                         Nomor 16 Volume VIII Juli 2010 Pemanfaatan Abu Pembakaran Sampah Sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Paving Block Anis Artiyani 1 Potensi Ganyong (Canna edulis Kerr) dari Malang Selatan Sebagai Bahan Baku Bioethanol dengan Proses Hidrolisa Asam Faidliyah Nilna Minah 12 Konsep Penataan Lansekap pada Alun-Alun dan Taman-Taman Kota Bondowoso Y. Setyo Pramono 23 Analisis Isu Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Bendungan Lolak Kabupaten Boolang Mongondow Propinsi Sulawesi Utara Evy Hendriarianti 39 Penentuan Nilai Awal Parameter Relatif Orientasi Foto Stereo Menggunakan Metode Singular Value Decomposition Leo Pantimena 54 Pemilihan Alternatif Potensi Sumberdaya Air di Wilayah DAS Brantas untuk Dikembangkan Menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Deviany Kartika ; Miftahul Arifin ; Rahman Darmawan 64 Perencanaan Bangunan Pemecah Gelombang (Pengaman Pantai Labuhan) di Kabupaten Sumbawa Erni Yulianti 75
  4. 4. Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani 1 PEMANFAATAN ABU PEMBAKARAN SAMPAH SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PEMBUATAN PAVING BLOCK Anis Artiyani Dosen Teknik Lingkungan FTSP ITN Malang ABSTRAKSI Sampah selama ini dipandang sebagai buangan yang tidak lagi bermanfaat, sementara di sisi lain pemerintah kesulitan menangani pengelolaan sampah secara tuntas. Akibatnya, sampah penyebab utama timbulnya masalah lingkungan. Salah satu alternatif pemanfaatan sampah adalah untuk pembuatan paving block. Pemanfaatan seperti itu tidak hanya bernilai ekonomi bagi pemerintah daerah, khususnya masyarakat, tetapi juga peningkatan pemenuhan kebutuhan akan bahan bangunan, seperti paving block. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan abu pembakaran sampah sebagai bahan alternatif pembuatan paving block dan mengetahui alternatif komposisi yang terbaik, sehingga dapat dihasilkan paving block dengan kualitas yang optimal. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan variasi abu pembakaran sampah 0%, 20%, 40%, 80%, dan 100% dari bagian pasir untuk menggantikan pasir sebagai agregat halus. Dilakukan untuk 2 jenis uji kelayakan, yaitu uji penyerapan air dan uji ketahanan aus. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) abu pembakaran sampah memberi pengaruh baik pada sifat-sifat paving block, (2) paving block penambahan abu pembakaran sampah yang memenuhi syarat penyerapan air rata-rata 5% dengan kualitas optimum pada penambahan abu pembakaran sebesar 80% dan ketahanan aus rata-rata 55% dengan kualitas optimum pada penambahan abu pembakaran optimum sebesar 40%. Kata Kunci: Abu Pembakaran Sampah, Ketahanan Aus, Paving Block, Penyerapan Air. PENDAHULUAN Sampah menjadi masalah lingkungan yang harus terus dicari alternatif penyelesaiannya. Selama ini sampah dipandang sebagai buangan yang tidak lagi bermanfaat, sementara di sisi lain pemerintah kesulitan menangani pengelolaan sampah secara tuntas. Dari adanya kondisi ini, maka harus dicari alternatif untuk menyelesaikan masalah yang ada, yaitu memanfaatkan sampah secara optimal sekaligus dapat memperpanjang umur TPA. Salah satu alternatif pemanfaatan sampah yang telah dilakukan
  5. 5. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11 2 di TPA Supit Urang Malang adalah untuk pembuatan paving block. TPA Supit Urang yang merupakan tempat timbunan sampah yang berasal dari berbagai kegiatan masyarakat dan industri di wilayah Kota dan Kabupaten Malang. Pemanfaatan seperti ini tidak hanya bernilai ekonomi bagi pemerintah daerah, khususnya masyarakat, tetapi juga memenuhi kebutuhan bahan bangunan yang semakin meningkat dalam hal ini adalah paving block. Meningkatnya pembangunan fisik, seperti perumahan, hotel, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan sarana yang lain, menyebabkan kebutuhan bahan bangunan juga makin meningkat. Peningkatan bahan bangunan tersebut berarti pula peningkatan dalam kuantitas dan kualitas. Salah satu bahan bangunan yang sering digunakan adalah paving block. Paving block digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti tempat parkir mobil di pertokoan, maupun sebagai perkerasan jalan pada kompleks perumahan. Agar pembangunan dapat berlangsung secara berkesinambungan, maka pembangunan harus berwawasan lingkungan dengan menggunakan sumber dana secara bijaksana (Otto Sumarwoto, 1992). Pada dasarnya taraf hidup masyarakat dapat ditingkatkan melalui upaya pembangunan. Oleh karena itu, pembangunan harus tetap dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Strategi pembangunan perkotaan menggariskan kebijaksanaan pembangunan prasarana kota, yaitu: perluasan pelayanan prasarana berbiaya rendah dan kegiatan perawatan prasarana yang terencana dan terkoordinasi. Sesuai dengan kebijaksanaan tersebut, maka penelitian ini bermaksud untuk menggali kebutuhan masyarakat Kota Malang, khususnya meningkatkan perkembangan permukiman dan taraf hidup sosial ekonomi masyarakatnya serta memperbaiki sarana transportasinya dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada, yaitu dengan memanfatkan abu pembakaran sampah di TPA Supit Urang Malang untuk dijadikan material bahan bangunan seperti paving block. Pembakaran sampah di TPA ini ini pada awalnya dimaksudkan untuk memperkecil volume dan berat sampah agar tidak memenuhi lingkungan yang ditempatinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan abu pembakaran sampah organik sebagai bahan alternatif pembuatan paving block dan mengetahui alternatif komposisi yang terbaik, sehingga dapat dihasilkan paving block dengan kualitas yang optimal. TINJAUAN PUSTAKA Definisi Paving Block Menurut SII-0819-88 paving block atau beton untuk lantai ialah suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air, dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu beton itu.
  6. 6. Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani 3 Paving block adalah bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen, pasir dan air; sehingga karakteristiknya hampir mendekati dengan karakteristik mortar. Mortar adalah bahan bangunan yang dibuat dari pencampuran antara pasir dan agregat halus lainnya dengan bahan pengikat dan air yang dalam keadaan keras mempunyai sifat-sifat seperti batuan (Smith, 1979 dalam Malawi, 1996). Lapis perkerasan paving block adalah jenis perkerasan lentur (flexible pavement), dimana lapis permukaannya menggunakan unit-unit blok beton atau segmental beton yang disusun sedemikian rupa sehingga unit-unit blok beton tersebut saling kunci mengunci (interlocking) antara unit blok yang satu dengan unit blok lainnya. Paving block dapat berwarna seperti aslinya atau diberikan zat pewarna pada komposisinya dan digunakan untuk lantai, baik di dalam maupun di luar bangunan. Paving block untuk lantai harus mempunyai bentuk yang sempurna, tidak terdapat retak-retak dan cacat, serta bagian sudut dan rusuknya tidak mudah direpihkan dengan kekuatan tangan. Klasifikasi Paving Block Klasifikasi dari paving block didasarkan atas bentuk, tebal, kekuatan dan warna antara lain, yaitu: Ada beberapa macam bentuk dari paving block yang diproduksi, namun secara garis besar bentuk paving block dapat dibedakan atas: Klasifikasi berdasarkan bentuk 1. Paving block bentuk segiempat (rectangular) 2. Paving block bentuk segibanyak Pemakaian dari bentuk paving block disesuaikan dengan keperluan. Untuk keperluan konstruksi perkerasan pada jalan dengan lalulintas sedang sampai berat (misalnya: jalan raya, kawasan industri, jalan umum lainnya), karenanya penggunaan paving block bentuk segiempat lebih cocok. Kuipers (1984) dalam penelitiannya berkesimpulan bahwa pemakaian bentuk segiempat untuk lalulintas sedang dan berat lebih cocok karena sifat pengunciannya yang konstan serta mudah dicungkil apabila sewaktu-waktu akan diadakan perbaikan. Untuk keperluan konstruksi ringan (misalnya: trotoar plaza, tempat parkir, jalan lingkungan) dapat dipakai bentuk segiempat maupun segibanyak. Paving block yang diproduksi secara umum mempunyai ketebalan 60 mm, 80 mm, dan 100 mm. Pemakaian dari masing-masing ketebalan paving block disesuaikan dengan kebutuhan sebagai berikut: Klasifikasi Berdasarkan Ketebalan
  7. 7. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11 4 1. Paving block dengan ketebalan 60 mm diperuntukkan bagi beban lalulintas ringan yang frekuensinya terbatas pada pejalan kaki dan kadang-kadang sedang. 2. Paving block dengan ketebalan 80 mm, diperuntukkan bagi beban lalulintas sedang yang frekuensinya terbatas pada pick up, truck, dan bus. 3. Paving block dengan ketebalan 100 mm. diperuntukkan bagi beban lalulintas berat, antara lain: crane, loader, dan alat berat lainnya. Paving block dengan ketebalan 100 mm ini sering dipergunakan di kawasan industri dan pelabuhan. Klasifikasi paving block ini bukan berdasarkan dimensi, mengingat banyaknya variasi bentuk dari paving block. Dimensi paving block untuk bentuk rectangular berkisar antara 105 mm x 210 mm. Shackel (1980) dalam penelitiannya yang berkaitan dengan dimensi menyimpulkan bahwa perubahan dalam dimensi paving block tidak terlalu berpengaruh pada penampilannya sebagai perkerasan untuk kepentingan lalulintas. Kekuatan dari paving block berkisar antara 250 kg/cm Klasifikasi berdasarkan kekuatan 2 sampai 450 kg/cm2 bergantung dari penggunaan lapis perkerasan. Pada umumnya paving block yang sudah banyak diproduksi memiliki kuat tekan karakteristik antara 300 kg/cm2 sampai dengan 350 kg/cm2 . Warna selain menampakkan keindahan juga digunakan sebagai pembatas seperti pada tempat parkir. Warna paving block yang ada di pasaran adalah merah, hitam dan abu-abu. Klasifikasi berdasarkan warna Pola Pemasangan Dalam pelaksanaan pemasangan lapis perkerasan paving block dipergunakan beberapa pola pemasangan paving block, yaitu: Pola Susunan Bata (Stretcher Pattern) Gambar1. Pemasangan Paving Block dengan Pola Susunan Bata
  8. 8. Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani 5 Pola Anyaman Tikar (Basket Weave Pattern) Gambar 2. Penyusunan Paving Block dengan Pola Anyaman Tikar Pola Tulang Ikan (Herringbone Pattern) Gambar 3. Penyusunan Paving Block dengan Pola Tulang Ikan Dari beberapa alternatif pola pasang di atas, pemilihan pemakaian berdasarkan alasan teknis dan non teknis. Alasan non teknis adalah untuk mendapatkan penampilan yang baik, sedangkan alasan teknis adalah untuk mendapatkan interlocking (penguncian) yang baik. Shackel (1980) menyatakan bahwa paving block yang dihampar dengan pola tulang ikan mengembangkan secara penuh daya penguncinya dan daya tahan terhadap beban hingga 70 KN serta mempunyai penampilan yang lebih baik jika dibandingkan dengan pola hampar lain. Syarat Mutu Paving Block Paving block harus mempunyai bentuk yang sempurna, tidak terdapat retak-retak dan cacat, dan tidak mudah direpihkan dengan kekuatan tangan. Sifat Tampak Bergantung dari persetujuan antara pemakai dan produsen. Sampai saat ini ada beberapa macam bentuk, yaitu kacangan, antik, bata, tiga berlian, dan segi enam. Bentuk dan Ukuran
  9. 9. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11 6 Gambar 4. Berbagai Macam Bentuk Paving Block Kekuatan fisik paving block dapat dilihat pada Tabel 1. di bawah ini: Sifat Fisik Tabel 1. Persyaratan Kekuatan Fisik Paving Block Mutu Kuat tekan (kg/cm 2 Penyerapan air rata-rata (%) ) Rata-rata Terendah I II III 400 300 200 340 255 170 3 5 7 Sumber :SII 0819-83 Keuntungan Penggunaan Paving Block Penggunaan paving block mempunyai beberapa keuntungan (Shackel, 1990), antara lain: 1. Dapat diproduksi secara massal. Untuk mendapatkan mutu yang tinggi diperlukan tekanan pada saat pencetakan. 2. Dari segi pelaksanaan, tidak memerlukan keahlian khusus. Pelaksanaan jalan dengan menggunakan perkerasan paving block jauh lebih mudah bila dibandingkan dengan bahan perkerasan lainnya. 3. Tahan terhadap beban vertikal dan horisontal yang disebabkan oleh rem atau percepatan kendaraan berat. 4. Pemeliharaannya mudah.
  10. 10. Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani 7 Bahan Pembuat Paving Block Semen yang digunakan untuk pembuatan paving block adalah semen portland tipe I. Semen Portland Agregat yang digunakan terdiri dari pasir sebagai agregat halus dan abu batu sebagai agregat sedang (kasar). Kedua bahan ini dibeli dari toko bahan bangunan di manapun. Agregat Air yang digunakan adalah air bersih (sumur atau PDAM) yang tidak ditambahkan dengan accelerator. Air Bahan alternatif yang digunakan untuk menggantikan pasir sebagai agregat halus adalah abu bakaran sampah yang diperoleh dari pembakaran sampah di TPA Supit Urang Malang. Sampah ini adalah sampah yang tidak bisa lagi didaur ulang. Bahan Alternatif Pengganti Pasir METODOLOGI PENELITIAN Kegiatan Penelitian Penelitian ini adalah tentang uji kelayakan pembuatan paving block dengan penambahan abu dari bakaran sampah yang tidak bisa lagi didaur ulang dari TPA Supit Urang Malang. Tahapan Penelitian Penelitian dilakukan menjadi dua tahapan kegiatan, yaitu pertama adalah proses pembuatan proses pembuatan paving block dan yang kedua meliputi uji kelayakan paving block, sebagaimana terlihat pada Gambar 5 berikut ini:
  11. 11. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11 8 Gambar 5. Bagan Alur Pembuatan Paving Block Adapun variasi komposisi bahan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut: Tabel 2. Variasi Komposisi Bahan Pembuat Paving Block No Kode campuran Perbandingan agregat yang digunakan Semen Abu Batu Pasir Abu 1 0 1 2 2 0 2 1 1 2 1,5 0,5 3 2 1 2 1 1 4 3 1 2 0,5 1,5 5 4 1 2 0 2 Dimana: 1. Kelompok 0 : Kelompok benda uji dengan penambahan abu 0% dari bagian pasir. 2. Kelompok 1 : Kelompok benda uji dengan penambahan abu 20% dari bagian pasir. 3. Kelompok 2 : Kelompok benda uji dengan penambahan abu 40% dari bagian pasir. 4. Kelompok 3 : Kelompok benda uji dengan penambahan abu 60% dari bagian pasir. 5. Kelompok 4 : Kelompok benda uji dengan penambahan abu 80% dari bagian pasir. Kesimpulan dan Saran Analisa Data dan Pembahasan Test Kelayakan Paving Block 1. Tes Penyerapan Air 2. Tes Ketahanan Aus Pembuatan Paving Block Penentuan Komposisi Bahan Pembuat Paving Block Persiapan Alat dan Bahan Penelitian Studi Literatur Uji Pemanfaatan Abu Pembakaran Sampah Organik Sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Paving Block
  12. 12. Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani 9 HASIL DAN PEMBAHASAN Penanganan Sampah Pada penelitian ini abu sampah yang digunakan berasal dari abu pembakaran sampah di TPA Supit Urang Malang. Abu sampah ini selanjutnya diayak dengan ukuran 120 mesh agar didapatkan ukuran partikel butiran yang sama dan homogen saat diaduk dengan pasta semen. Selanjutnya, dilakukan penjemuran, tetapi tidak di bawah sinar matahari secara langsung selama 24 jam. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kelembaban yang diakibatkan oleh tanah. Hasil dan Pembahasan Uji Kelayakan Paving Block Setelah paving block yang dibuat dengan variasi penambahan abu telah berumur 28 hari, kemudian dilakukan uji kelayakan penyerapan air dan ketahanan aus. Uji Penyerapan Air Paving Block Tabel 3. Hasil Pengujian Penyerapan Air Paving Block Perbandingan Agregat yang Digunakan Penyerapan Rata-rata (%)Semen Abu batu Pasir Abu 1 2 2 0 3.11 1 2 1,5 0,5 5.07 1 2 1 1 5.28 1 2 0,5 1,5 5.84 1 2 0 2 5.78 Dalam uji kelayakan paving, semakin rendah nilai absorbsi (penyerapan air) yang dimiliki oleh paving, maka semakin bagus mutu paving tersebut. Data tabel 3 menunjukkan penambahan bahan abu pembakaran sampah kenaikan nilai absorsi tertinggi mencapai 87,78% yakni pada penambahan abu pembakaran sebesar 80% dari 3,11% menjadi 5,84%. Hal ini dapat dijelaskan bahwa abu sampah memiliki daya resap yang lebih tinggi dari pasir. Sifat fisik pasir yang keras dan juga sudah lama terendam di air menyebabkan porinya kedap air, sehingga sulit baginya untuk menyerap air lagi. Sedangkan pada abu pembakaran sampah, masih memungkinkan pori-porinya terisi oleh air. Apalagi jika setelah ikatan semen mengeras, abu sampah akan menyusut volumenya.
  13. 13. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 1-11 10 Uji Ketahanan Aus Paving Block Tabel 4. Hasil Pengujian Ketahanan Aus Perbandingan Agregat yang Digunakan Keausan Rata-rata (%)Semen Abu Batu Pasir Abu 1 2 2 0 56.20 1 2 1,5 0,5 55.80 1 2 1 1 55.35 1 2 0,5 1,5 55.54 1 2 0 2 57.00 Nilai keausan adalah selisih berat sebelum dan sesudah dilakukan percobaan keausan pada suatu benda uji dibandingkan dengan berat awal benda uji. Semakin kecil nilai keausan yang dimiliki oleh suatu benda uji, maka benda uji tersebut dikatakan tahan terhadap sifat aus. Penambahan abu pembakaran sampah pada campuran paving dapat menurunkan nilai keausan sebesar 0,85% pada penambahan abu pembakaran optimum sebesar 40% yang menghasilkan nilai keausan sebesar 55,35%. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis tertentu, bahan abu pembakaran sampah dapat memperkuat paving untuk menahan aus. Penurunan nilai keausan ini disebabkan rongga dalam paving memerlukan butiran abu yang kecil yang dapat masuk ke dalam rongga tersebut sampai pada kadar yang dibutuhkan untuk mengisi kesenjangan antar agregat. KESIMPULAN Dari hasil penelitian pemanfaatan abu pembakaran sampah organik sebagai bahan alternatif pembuatan paving block dan mengetahui alternatif komposisi yang terbaik sehingga dapat dihasilkan paving block dengan kualitas yang optimal, direkomendasikan hal-hal sebagai berikut: 1. Penggunaan abu pembakaran sampah sebagai bahan alternatif pembuatan paving block memberi pengaruh baik pada sifat-sifat paving block yang dihasilkan. 2. Paving block dengan penambahan abu pembakaran sampah yang memenuhi syarat adalah pada penambahan abu pembakaran sampah yang menghasilkan penyerapan rata-rata sebesar 5% dan tingkat keausan rata-rata lebih dari 55%.
  14. 14. Abu Sampah Sebagai Bahan Paving Block Anis Artiyani 11 DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1971. Semen Portland. Cetakan Kedua. Yayasan Dana Normalisasi Indonesia. ________. 1982. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI). Hackle, B. 1980. Performance of Interlocking Block Pavement Under Accelerated Trafficing. Proceeding of First International. Kuipers, B.J. 1984. Commonsense Reasoning about Causality: Deriving Behavior from Structure. Artificial Intelligence 24: 169-203. Sumarwoto, Otto. 1992. Analisa Dampak Lingkungan yang Berwawasan Lingkungan. PLPG UNILA. 2009. Teknologi Paving Block. SII.0819-88. Definisi Paving Block. Smith, 1979 dalam Malawi, 1996 dalam Soemarno. 2000. Pengelolan Kesuburan Tanah dan Bahan Organik. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Malang: Universitas Brawijaya. Sudjana. 1992. Metode Statistika. Bandung: Penerbit Tarsito.
  15. 15. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22 12 POTENSI GANYONG (Canna edulis Kerr) DARI MALANG SELATAN SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETHANOL DENGAN PROSES HIDROLISA ASAM Faidliyah Nilna Minah Dosen Teknik Kimia FTI ITN Malang ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi ganyong dari wilayah Kabupaten Malang, terutama daerah Malang Selatan sebagai bahan baku bioethanol yang bernilai ekonomis. Penelitian diawali dengan merubah pati ganyong menjadi glukosa melalui proses hidrolisa asam, dimana proses hidrolisa yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui konsentrasi dan jenis asam terhadap kadar glukosa yang dihasilkan dari tepung ganyong. Untuk menghasilkan kualitas ethanol yang tinggi, maka dapat digunakan metode penelitian dengan menggunakan perbedaan jenis katalis dan konsentrasi asam, dimana jenis katalis yang digunakan dalam penelitian ini adalah HCl dan HNO3 dengan konsentrasi 1,5%-7,5%. Dari penelitian didapatkan hasil bahwa jenis dan konsentrasi asam sangat berpengaruh terhadap kadar glukosa yang dihasilkan dari tepung ganyong, dimana semakin besar konsentrasi asam, maka pH larutan tersebut juga akan makin menurun. Kadar glukosa tertinggi sebesar 86,65 diperoleh pada penggunaan katalis asam HCl dengan konsentrasi 6%, sedangkan pada HNO3 dengan konsentrasi 6% dihasilkan kadar glukosa sebesar 87,20; sedangkan waktu fermentasi yang optimum untuk HCl dan HNO3 adalah 12 hari, dimana dari hasil fermentasi diperoleh kadar ethanol sebesar 12,87% dengan penggunaan HCl dan 14,57% dengan penggunaan HNO3. Kata Kunci: Tepung Ganyong, Hidrolisis, Glukosa, Fermentasi, Bioethanol. PENDAHULUAN Latar Belakang Saat ini telah berkembang pemanfaatan ethanol sebagai bahan bakar alternatif yang selanjutnya dapat diproses menjadi bioethanol. Bioethanol dapat dibuat dari bahan-bahan bergula atau bahan berpati seperti tebu, nira nipah, sagu, sorgum, ubi kayu, ubi jalar, ganyong, dll. Bahan-bahan tersebut banyak tersedia di Indonesia, sehingga sangat berpeluang untuk digunakan sebagai energi alternatif. Bioethanol sangat berpotensi dikembangkan di
  16. 16. Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah 13 Indonesia, karena didukung oleh potensi lahan yang luas, sumberdaya manusia (petani), keanekaragaman hayati, dan sumberdaya alam yang melimpah. Bahan yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai penghasil sumber karbohidrat adalah umbi ganyong. Ganyong (Canna edulis Kerr) adalah tanaman yang cukup potensial sebagai sumber karbohidrat, maka sudah sepatutnya dikembangkan. Tanaman ini sangat berpotensi dikembangkan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terutama di daerah Malang yang sejuk karena pada dasarnya tanaman ini sangat mudah tumbuh. Hasilnya, selain dapat digunakan untuk penganekaragaman menu rakyat, juga mempunyai aspek yang penting sebagai bahan dasar industri. Produksi bioethanol dari ganyong (Canna edulis Kerr) diproses dengan cara hidrolisa, untuk menguraikan pati menjadi glukosa, yang kemudian dilakukan proses fermentasi dengan menggunakan khamir saccharomyces cereviceae hingga menghasilkan ethanol. Hidrolisa adalah suatu proses antara reaktan dengan air agar suatu senyawa pecah terurai. Pada reaksi hidrolisa pati dengan air, air akan menyerang pati pada ikatan 1-4 α glukosida menghasilkan dextrin, sirup, atau glukosa yang bergantung pada derajat pemecahan rantai polisakarida dalam pati. Reaksinya merupakan reaksi order satu jika digunakan air yang berlebih, sehingga perubahan reaktan dapat diabaikan. Reaksi antara air dan pati ini berlangsung sangat lambat, sehingga diperlukan bantuan katalisator untuk memperbesar kereaktifan air. Katalisator ini bisa berupa asam maupun enzim. Katalisator asam yang biasa digunakan adalah asam klorida, asam nitrat, dan asam sulfat. Dalam industri pada umumnya digunakan asam klorida sebagai katalisator. Pemilihan ini didasarkan bahwa garam yang terbentuk setelah penetralan hasil merupakan garam yang tidak berbahaya, yaitu garam dapur. Faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi hidrolisa pati adalah suhu reaksi, waktu reaksi, pencampuran pereaksi, konsentrasi katalisator, dan kadar suspensi. Penelitian tentang bioethanol didahului oleh peneliti seperti: • Bioethanol dengan proses hidrolisis asam oleh Lili Suraya Eka Putri (2008) yang menggunakan katalis asam HCl, HNO3, dan H2SO4 dengan konsentrasi 3% - 7%, sehingga didapatkan hasil yang paling optimum untuk menghasilkan glukosa paling tinggi dengan jenis asam HNO3 pada konsentrasi 7% dengan kadar glukosa sebesar 48090 ppm menggunakan suhu operasi ±1200 • Pengaruh hidrolisa asam pada proses sakarifikasi pati limbah kulit pisang terhadap kualitas bioethanol oleh Ahmad Zakaria (2006) yang menggunakan katalis asam HCl dan HNO C dalam waktu 1 jam. 3 pada konsentrasi 7% - 10% dengan volume 80 ml serta perbandingan bahan dan air sebesar 1 : 4 dan kondisi operasi hidrolisis 1050 C-1200 C, sehingga didapatkan hasil yang paling optimum pada HCl dan HNO3 dengan
  17. 17. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22 14 konsentrasi 10% sebesar 13,0335% dan HCl sedangkan 13,9200% untuk HNO3 • Bioetanol fuel grade talas oleh Endah Retno (2006) yang menggunakan penambahan NaOH untuk menetralkan pH pada glukosa hasil hidrolisis. . Dalam penelitian ini umbi ganyong dikonversi terlebih dahulu menjadi tepung sebelum dihidrolisis dengan suhu operasi ± 1050 C dalam waktu 1 jam, sedangkan pada penelitian Lili Suraya Eka Putri bahan baku (umbi ganyong) direbus terlebih dahulu sebelum kemudian dihidrolisis dengan suhu operasi ± 1200 C dalam waktu 1 jam. Asam akan memecah molekul pati secara acak menjadi glukosa. Pati yang telah mengalami perlakuan hidrolisis asam akan lebih mudah difermentasi menjadi ethanol. Semakin besar hasil hidrolisis pati menjadi glukosa diharapkan semakin besar pula ethanol yang dihasilkan melalui proses fermentasi. Melihat hasil penelitian sebelumnya masih bervariasi, maka penelitian tentang hidrolisa tepung pati ganyong masih sangat perlu dilakukan. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menemukan solusi untuk mengetahui jenis katalis asam yang optimum dalam menghidrolisis pati menjadi glukosa. Rumusan Masalah Pembuatan bioethanol dari ganyong dengan proses hidrolisis asam dan fermentasi sangat dipengaruhi oleh faktor antara lain: jenis katalis asam, konsentrasi katalis asam, dan waktu optimal dalam proses fermentasi; sehingga penelitian tentang hidrolisa pati ganyong dengan variasi jenis dan konsentrasi asam perlu dilakukan untuk mengetahui hasil yang optimal dalam rangka menyiapkan bahan baku untuk menghasilkan bioethanol dengan kadar yang tinggi. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan jenis asam terhadap kadar glukosa yang dihasilkan dari tepung ganyong dengan proses hidrolisis asam. Selain itu, manfaat dari penelitian ini antara lain memberikan alternatif sumber energi yang dihasilkan dari pengolahan ganyong secara anaerob, meningkatkan produksi bioethanol dalam negeri, serta hasil bioethanol dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomis dari ganyong. LANDASAN TEORI Tepung Ganyong Gayong adalah sejenis umbi-umbian yang dapat dimakan setelah direbus. Apabila dijadikan tepung atau pati dapat dipakai sebagai campuran
  18. 18. Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah 15 berbagai makanan yang enak seperti kue. Yang dimaksud dengan tepung ganyong adalah tepung yang dibuat langsung dari umbinya yang sudah tua dan baik (tidak ada tanda-tanda kebusukan). Tepung ganyong dapat dibuat dengan cara mencuci bersih umbi ganyong, iris tipis kemudian dikeringkan hingga kering dan mudah dipatahkan. Selanjutnya, ditumbuk dan diayak untuk dijadikan tepung ganyong (http//www.ristek.go.id. 20 Januari 2011). Hidrolisis Hidrolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan menggunakan air untuk memisahkan ikatan kimia dari substansinya. Hidrolisis pati merupakan proses pemecahan molekul amilum menjadi bagian-bagian penyusunnya yang lebih sederhana seperti dekstrin, isomaltosa, maltosa, dan glukosa. Hidrolisis berlawanan dengan hidrasi yang merupakan penambahan elemen-elemen air pada ikatan ganda, tetapi tidak terkait dengan fragmentasi molekul, dimana molekul tidak terpecah menjadi dua senyawa baru. Untuk mengubah pati menjadi gula diperlukan proses hidrolisis melalui reaksi sebagai berikut: O CH2OH OH OH OH O CH3 O OH OH O O CH2OH OH O CH2OH OH OO O CH2OH OH O CH2OH OH OO OH OH OH OH OH O CH2OH OH O CH2OH OH OO O CH2OH OH O CH2OH OH OO OH OH OH OH O CH2OH OH OH OH OH n n Alpha amylaseAmylo gluko aldose Pati Glukosa Alpha amylase Gambar 1. Reaksi Hidrolisa Enzim dan Asam
  19. 19. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22 16 Pada reaksi hidrolisis pati dengan air, reaksi antara air dan pati ini berlangsung sangat lambat, sehingga diperlukan bantuan katalisator untuk memperbesar kereaktifan air. Hidrolisis pati ini dapat dilakukan dengan katalis asam, kombinasi asam dan enzim, serta kombinasi enzim dan enzim (http//www.wordpress.com. 20 Januari 2011). Hidrolisis Asam Dalam metode hidrolisis asam, biomassa lignoselulosa dipaparkan dengan asam pada suhu dan tekanan tertentu selama waktu tertentu dan menghasilkan monomer gula dari polimer selulosa dan hemiselulosa. Beberapa asam yang umum digunakan untuk hidrolisis asam antara lain adalah asam sulfat (H2SO4 Hidrolisis asam pekat merupakan teknik yang sudah dikembangkan cukup lama. Braconnot di tahun 1819 pertama menemukan bahwa selulosa bisa dikonversi menjadi gula yang dapat difermentasi dengan menggunakan asam pekat. Hidrolisis asam pekat menghasilkan gula yang tinggi dibandingkan dengan hidrolisis asam encer, dengan demikian akan menghasilkan ethanol yang lebih tinggi. Hidrolisis asam pekat dapat dilakukan pada suhu rendah. Namun demikian, konsentrasi asam yang digunakan sangat tinggi (30%-70%). Proses ini juga sangat korosif karena adanya pengenceran dan pemanasan asam. Proses ini membutuhkan peralatan yang metal yang mahal atau dibuat secara khusus. Recovery asam juga membutuhkan energi yang besar. Di sisi lain, jika menggunakan asam sulfat, dibutuhkan proses netralisasi yang menghasilkan limbah gypsum/kapur yang sangat banyak. Dampak lingkungan yang kurang baik dari proses ini membatasi penggunaan asam perklorat dalam proses ini. Hidrolisis asam pekat juga membutuhkan biaya investasi dan pemeliharaan yang tinggi, dimana hal ini mengurangi ketertarikan untuk komersialisasi proses ini. ), asam perklorat, dan asam klorida (HCl). Asam sulfat merupakan asam yang paling banyak diteliti dan dimanfaatkan untuk hidrolisis asam. Hidrolisis asam dapat dikelompokkan menjadi hidrolisis asam pekat dan hidrolisis asam encer. Kelemahan dari hidrolisis asam encer adalah degradasi gula hasil dalam reaksi hidrolisis dan pembentukan produk samping yang tidak diinginkan. Degradasi gula dan produk samping ini tidak hanya akan mengurangi hasil panen gula, tetapi juga dapat menghambat pembentukan ethanol pada tahap fermentasi selanjutnya. Beberapa senyawa inhibitor yang dapat terbentuk selama proses hidrolisis asam encer adalah furfural, 5- hydroxymethylfurfural (HMF), asam levulinik (levulinic acid), asam asetat (acetic acid), asam format (formic acid), asam uronat (uronic acid), asam 4- hydroxybenzoic, asam vanilik (vanilic acid), vanillin, phenol, cinnamaldehyde, formaldehida (formaldehyde), dan beberapa senyawa lain.
  20. 20. Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah 17 Fermentasi Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah ethanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi, beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan ethanol dalam bir, anggur, dan minuman beralkohol lainnya. Proses fermentasi oleh saccharomyces cereviceae ditunjukkan dengan reaksi sebagai berikut: C6H12O6 yeast 2 C2H5OH + 2CO2 Glukosa etanol karbondioksida Gambar 2. Reaksi Glukosa Menjadi Etanol Bioethanol adalah ethanol (alkohol) yang dibuat/direkayasa dari biomassa (tanaman) melalui proses biologi (enzimatik dan fermentasi). Bioetanol tidak berwarna dan tidak berasa, tetapi memiliki bau yang khas. Bioetanol dikenal sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan, karena bersih dari emisi bahan pencemar. Bahan baku bioetanol antara lain adalah sebagai berikut (Paramida, 2010): • Bahan berpati berupa: singkong, atau ubi kayu, ubi jalar, tepung sagu, biji jagung, biji sorgum,gandum kentang, ganyong, garut, umbi dahlia, kulit pisang dan lain-lain. • Bahan bergula, berbentuk molasess (tetes tebu), nira tebu, nila kelapa, nila batang sorgum manis, nira aren (enau), nira nipah, gewang, nira lontar dan lain-lain. • Bahan berselulosa, berupa limbah logging, limbah pertanian seperti jerami padi, ampas tebu, jenggel (tongkol) jagung, onggok (limbah tapioka), batang pisang, serbuk gergaji (grajen) dan lain-lain. Sebagai bahan bakar, umumnya penggunaan bioethanol masih dalam bentuk campuran dengan bensin pada konsentrasi 10% (E – 10), yaitu 10% bioetanol dan 90% bensin. Campuran bioethanol dalam bensin itu dikenal dengan istilah gasohol. Penambahan ethanol dalam bensin disamping dapat menambah volume BBM, juga dapat meningkatkan nilai oktan bensin. Selain itu, penambahan ethanol dalam bensin dapat berfungsi sebagai pengganti MTBE (Methyl tertiary buthyl ether) yang digunakan sebagai bahan aditif dalam bensin (Hambali dkk 2007).
  21. 21. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22 18 Tepung ganyong Hidrolisis Fermentasi Air dan HCl,HNO3 T = 105-120o C Ethanol Saccaromyces cereviceae, urea dan NPK METODOLOGI Metode Penelitian Metode yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk ethanol dari pati ganyong (Canna edulis Ker) adalah metode eksperimen atau percobaan. Tujuan dari metode ini adalah untuk mendapatkan optimasi jenis serta konsentrasi katalis asam yang harus digunakan pada proses hidrolisa pati, sehingga dapat dihasilkan kualitas ethanol yang paling tinggi dari proses fermentasi. Variabel Penelitian • Jenis bahan : tepung ganyong • Suhu proses hidrolisis : 1050 • Waktu hidrolisis : 1 jam C • Jenis katalis asam : HCl dan HNO • Konsentrasi : 1,5%; 3%; 4,5%; 6%; dan 7,5% 3 • Suhu proses fermentasi : 280 C Diagram Alir Penelitian Gambar 3. Diagram Alir Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini dapat ditunjukkan bahwa hubungan antara konsentrasi asam dan pH hidrolisis berbanding terbalik, dimana semakin besar konsentrasi asam, maka pH awal proses hidrolisis akan semakin kecil, sebagaimana terlihat pada Gambar 4. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa jika konsentrasi asam dalam larutan makin besar, maka pH larutan tersebut juga akan makin menurun/kecil. Hal ini disebabkan semakin besar konsentrasi asam, maka konsentrasi ion hidrogen (H+) juga akan semakin besar, dimana nilai pH bergantung pada nilai H+ yang sesuai dengan teori atau rumus berikut:
  22. 22. Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah 19 Gambar 4. Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Asam dengan pH Awal Proses Hidrolisis Selain hal tersebut di atas, dari hasil penelitian juga didapatkan hasil kadar glukosa hasil hidrolisis dengan katalis asam HCl pada konsentrasi 1,5%; 3%; 4,5%; 6%; 7,5% berturut-turut adalah 85,10%; 85,90%; 86,25%; 86,65%; dan 86,15%. Sedangkan kadar glukosa yang didapat dari proses hidrolisis dengan katalis asam HNO3 pada konsentrasi 1,5%; 3%; 4,5%; 6%; 7,5% berturut-turut adalah sebesar 85,30%; 86,10%; 86,80%; 87,20%; dan 86,85%. Hasil tersebut dapat dilihat pada gambar 5 berikut ini: Gambar 5. Grafik Hubungan antara Konsentrasi Asam dengan Kadar Glukosa Hasil Hidrolisis
  23. 23. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22 20 Dari hasil tersebut dapat dilihat kecenderungan kadar glukosa yang didapatkan dari hasil proses hidrolisis tepung ganyong dengan katalis asam HNO3 dan HCl pada konsentrasi 1,5%-6% cenderung meningkat seiring dengan kenaikan konsentrasi katalis, tetapi pada konsentrasi HNO3 dan HCl 7,5% kadar glukosa yang dihasilkan dari hasil hidrolisis menurun. Hal ini disebabkan pada konsentrasi 6% baik HCL maupun HNO3 telah mencapai titik optimum terjadinya proses hidrolisa, dimana pada titik ini kesetimbangan rasio antara ion H+ pada asam dan ion OH- pada air memecah pati dan membentuk glukosa telah menunjukkan batas maksimal. Dengan demikian, pada konsentrasi asam 7,5% baik HCl maupun HNO3 mengalami penurunan kadar glukosa yang disebabkan jumlah ion OH- dari air semakin sedikit. Gambar 6. Grafik Hubungan antara Waktu fermentasi dengan Kadar Etanol Hasil Fermnetasi Penelitian ini mengambil kadar glukosa tertinggi yang dihasilkan dari keseluruhan proses hidrolisis untuk kemudian dilakukan proses yang lebih lanjut, yaitu fermentasi. Fermentasi dilakukan selama12 hari dan selama proses fermentasi berjalan, dilakukan pengambilan sampel pada hari ke-0, ke-3, ke-6, ke-9, dan hari ke-12. Dari kedua katalis yang digunakan, yaitu HCl dan HNO3, ternyata kadar ethanol yang terbaik diperoleh dengan menggunakan katalis HNO3 Pada gambar 6 di atas dapat terlihat bahwa kadar ethanol dengan menggunakan katalis HNO . Hal ini disebabkan oleh Saccaromyces cereviceae yang membutuhkan nutrisi cukup penting. Nutrisi yang dibutuhkan yaitu karbon, hidrogen, fosfor, kalsium sulfur, besi, dan magnesium. 3 lebih tinggi dibandingkan dengan yang
  24. 24. Ganyong Sebagai Bahan Baku Bioethanol Faidliyah Nilna Minah 21 menggunakan katalis HCl. Hal ini dikarenakan HNO3 memiliki kandungan yang dibutuhkan oleh saccaromyces cereviceae dalam pertumbuhannya. Selain itu, kadar glukosa yang dihasilkan juga terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan katalis HCl. Semakin tinggi glukosa yang diperoleh pada proses hidrolisis, maka kadar ethanol yang dihasilkan juga semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena banyaknya bahan (glukosa) yang difermentasikan, sehingga diperoleh kadar ethanol yang dihasilkan juga lebih tinggi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan: • Konsentrasi asam sangat berpengaruh terhadap pH larutan. Semakin tinggi konsentrasi asam, maka akan semakin rendah pula pH larutan sebelum dan setelah di-hidrolisis. • Hasil kadar glukosa terbaik pada proses hidrolisis terdapat pada jenis asam HNO3 • Hasil fermentasi terbaik terdapat pada jenis asam HNO dengan konsentrasi asam sebesar 6% sebesar 87,20%, sedangkan jenis asam HCl dengan konsentrasi asam sebesar 6% sebesar 86,65%. 3 dengan waktu fermentasi 12 hari diperoleh kadar sebesar 14,57%. DAFTAR PUSTAKA Annonymous. canna-edulis. http//www.id.wikipedia.org. 20 Januari 2011. ___________. etanol. http//www.id.wikipedia.org. 20 Januari 2011. ___________. fermentasi. http//www.id.wikipedia.org. 20 Januari 2011. ___________. glukosa. http//www.id.wikipedia.org. 10 Januari 2011. ___________. saccharomycess_cereviceae. http//www.id.wikipedia.org. 10 Januari 2011. ___________. Tepung Ganyong. http//www.ristek.go.id. 20 Januari 2011. ___________. Kandungan gizi umbi-umbian. http//www.dikawiwit06.blogspot.com. 17 September 2011. ___________. aneka anaman semusim. http//www.kulinologi.biz 14 April 2011. ___________. www.digilib.uns.ac.id. ___________. www.lipi.go.id/Bioetanol. ___________. www.scribd.com/fermentasi. ___________. www.scribd.com/hidrolisis_pati_Fazza. Bukabi. Umbi Ganyong. http//www.wordpress..com. 2 Februari 2009. Cairns, Donald. 2004. Intisari Kimia Farmasi. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Entjo, Sukarsa. 2010. Tanaman Ganyong. http//www.bbp2_lembang.info. 25 Agustus 2011. Hambali, Erliza, dkk. 2007. Teknologi Bioenergi. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.
  25. 25. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 12-22 22 Indah, Sri. 2009. Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Glukosa dari Pati Jagung dengan Proses Hidrolisa dengan Kapasitas 1200 ton/tahun. Medan: Universitas Sumatera Utara. Isroi. Hidrolisa Asam. http//www.wordpress.com. 20 Januari 2011. ______. Hidrolisa enzim. http//www.wordpress.com. 20 Januari 2011. Paramida, Nia Rizki. 2010. Tepung Ganyong. 7 Oktober 2010. Prihandana, Rama dkk. 2007. Bioetanol Ubi Kayu: Bahan Bakar Masa Depan. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka. Putri, Utami Yudi. 2009. Peningkatan Mutu Pati Ganyong Melalui Perbaikan Proses Produksi. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Rahmayanti, Dian. 2010. Pemodelan dan Optimasi Hidrolisa Pati Menjadi Glukosa dengan Metode Artificial Neural Network-Genetic Algorith. Semarang: Universitas Diponegoro. Retno, Endah, dkk. 2006. Bioethanol Fuel Grade Talas. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Sudarmadji, Slamet. 1997. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi Ke-4. Yogyakarta: Liberty. Surraya, Lili, dkk. 2008. Konversi Pati Ganyong Menjadi Bioethanol melalui Hidrolisis Asam dan Fermentasi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Yanie, Noviae Sandrie. 2008. Pembuatan Bioethanol dari Kulit Singkong Melalui Proses Hidrolisa Asam dan Enzimatis. Semarang: Universitas Diponegoro. Zakaria, Ahmad. 2006. Pengaruh Hidrolisa Asam pada Proses Sakarifikasi Pati Limbah Kulit Pisang Terhadap Kualitas Bioethanol. , Serpong: Institut Teknologi Indonesia.
  26. 26. Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono 23 KONSEP PENATAAN LANSEKAP PADA ALUN-ALUN DAN TAMAN-TAMAN KOTA BONDOWOSO Y. Setyo Pramono Dosen Program Studi Arsitektur FTSP ITN Malang ABSTRAKSI Taman dan Alun-alun Kota secara umum memiliki peranan untuk: (1) identitas kota, (2) pelestarian plasma nutfah, (3) penahan dan penyaring partikel padat dari udara, (4) penyerap dan penjerap partikel timbal, (5) penyerap dan penjerap debu semen, (6) peredam kebisingan, (7) pengurang bahaya hujan asam, (8) penyerap karbon- monoksida, (9) penyerap karbon-dioksida dan penghasil oksigen, (10) penahan angin, (11) penyerap dan penapis bau, (12) mengatasi penggenangan, (13) mengatasi intrusi air laut, (14) ameliorasi iklim, serta (15) pelestarian air tanah. Sejalan dengan adanya program revitalisasi elemen lansekap Alun-alun dan Taman-taman Kota Bondowoso berdasar pada fungsinya sebagai ruang terbuka hijau skala kota serta peningkatan peran Alun-alun sebagai identitas dan landmark kota dengan kualitas visual (vista) yang memadai, maka diperlukan upaya penataan ruang terbuka hijau kota - dalam hal ini adalah Alun-alun dan Taman-taman Kota - yang memiliki identitas sekaligus menjadi landmark kota sesuai dengan perkembangan aktivitas masyarakat yang ada sekarang ini. Metoda analisis yang dipakai dalam penataan Alun-alun dan Taman- taman Kota Bondowoso Kabupaten Bondowoso mencakup metoda yang dipakai untuk menganalisis aspek-aspek urgensitas, kesesuaian lahan, kualitas visual, sosial, serta teknis lensekap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rencana penataan elemen lansekap pada tapak Taman-taman Kota dan kawasan Alun-alun Kota Bondowoso lebih ditujukan untuk meningkatkan peran kawasan, yaitu dengan mempertegas eksistensi dan keberadaannya sebagai ruang terbuka hijau utama di pusat kota. Kata Kunci: Elemen Lansekap, Taman Kota, Alun-alun Kota, Bondowoso. PENDAHULUAN Latar Belakang Kota Bondowoso yang merupakan Ibukota Kabupaten Bondowoso berjarak 36 km sebelah Utara Kota Jember dan 30 km sebelah Selatan Kota Besuki. Kota Bondowoso terletak pada titik temu 3 (tiga) jaringan jalan regional, yaitu antara Jember-Bondowoso, Situbondo-Bondowoso, dan
  27. 27. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38 24 Besuki-Bondowoso. Fungsi Kota Bondowoso adalah sebagai pusat pelayanan fasilitas pendidikan, kesehatan, pusat pemerintahan, akomodasi pariwisata, dan simpul jasa distribusi bagi wilayah lain di sekitarnya. Hal ini menjadikan Kota Bondowoso menjadi berkembang dan memunginkan untuk lebih berkembang. Perkembangan Kota Bondowoso dari waktu ke waktu harus diimbangi dengan ketersediaan ruang terbuka hijau untuk membentuk suasana perkotaan yang ramah lingkungan. Ruang terbuka hijau dimaksud berupa Taman-taman Kota dengan Alun-alun Kota sebagai pusat ruang terbuka hijau kota yang pada gilirannya dapat mendukung fungsi Kota Bondowoso sebagai pusat pelayanan. Dalam menyusun konsep penataan Taman-taman dan Alun-alun Kota tersebut harus memperhatikan semua fungsi dan kegunaannya, antara lain sebagai: taman kota, olahraga, rekreasi, paru-paru kota, konservasi flora- fauna, kesehatan lingkungan, keamanan, resapan air, dan sebagainya. Taman dan Alun-alun Kota sebagai bagian dari ruang terbuka hijau kota, menurut penjelasan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002, berfungsi sebagai: (1) filter udara, (2) sirkulasi daur oksigen perkotaan, (3) sebagai daerah tangkapan air, yaitu daerah peresapan air yang menampung air hujan, serta (4) penyeimbang ekosistem kota, yaitu dengan memulihkan daya dukung alam; sedangkan manfaatnya adalah: (1) ekologis, yaitu sebagai penyeimbang ekosistem kota; (2) sosial ekonomi, yaitu sebagai tempat berolahraga dan rekreasi; (3) edukatif, yaitu sebagai tempat penelitian vegetasi dan belajar; serta (4) estetika, yaitu memberikan/ menambah keindahan lingkungan kota. Dengan demikian, Taman-taman Kota dan Alun-alun kota, secara umum, memiliki peranan untuk: (1) identitas kota, (2) pelestarian plasma nutfah, (3) penahan dan penyaring partikel padat dari udara, (4) penyerap dan penjerap partikel timbal, (5) penyerap dan penjerap debu semen, (6) peredam kebisingan, (7) pengurang bahaya hujan asam, (8) penyerap karbon-monoksida, (9) penyerap karbon-dioksida dan penghasil oksigen, (10) penahan angin, (11) penyerap dan penapis bau, (12) mengatasi penggenangan, (13) mengatasi intrusi air laut, (14) ameliorasi iklim, serta (15) pelestarian air tanah. Lokasi kegiatan penyusunan konsep penataan Taman-taman dan Alun-alun Kota Bondowoso adalah: • Alun-alun Kota yang terletak di pusat pemerintahan Kabupaten Bondowoso (Kota Bondowoso). • Taman-taman kota, meliputi: (a) Taman Batas Kabupaten di Kecamatan Prajekan, (b) Taman Batas Kota di Kecamatan Tenggarang, (c) Taman Batas Kota di Kecamatan Curahdami, dan (d) Taman Batas Kota di Pancoran.
  28. 28. Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono 25 Batasan Perencanaan Penyusunan konsep penataan Taman-taman Kota dan Alun-alun Kota Bondowoso dibatasi pada: • Konsep penataan lansekap yang terdiri dari elemen lunak dan keras (soft and hardware landscaping), sehingga tidak termasuk elemen sculpture yang berupa tugu atau patung. • Bangunan, gedung, dan elemen fisik lain yang pada saat ini ada di dalam atau di sekitar taman dan alun-alun kota tidak termasuk dalam konteks perencanaan, namun menjadi dasar pertimbangan dalam penetapan konsep penataan lansekapnya. • Kondisi eksisting geometrik jalan dan/atau pedestrian tidak termasuk dalam konteks perencanaan, namun menjadi dasar penyesuaian dalam penetapan konsep bentuk dan fungsi tanaman. Permasalahan Kondisi Alun-alun dan Taman-taman Kota Bondowoso di Kabupaten Bondowoso secara umum kurang memadai. Hal ini dapat dilihat dari: • Perkembangan aktivitas publik di Alun-alun sebagai landmark kota. • Degradasi keanekaragaman vegetasi untuk mencapai identitas ruang luar (ruang terbuka hijau) pusat kota. • Perlunya penataan elemen lansekap untuk pengembangan kualitas visual (vista). • Belum terlihatnya ornamentasi vocal point di Alun-alun dan Taman- taman Kota serta perlunya peningkatan pedestrian quality. • Keharmonisan konsepsi Alun-alun Kabupaten di Jawa. • Kurangnya perawatan dan pemeliharaan unsur-unsur lansekap, terutama tanaman. METODOLOGI Metode Pengumpulan Data Data yang dibutuhkan terbagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu data lapangan dan data instansional. Data-data lapangan berupa: 1. Data Fisik Tapak Perencanaan: • Kondisi topografi, yaitu ketinggian, kelerengan, dan luas area. • Kondisi tanah (tekstur, kesuburan, pH, dan jenis tanah), kesesuaian vegetasi (maskot tanaman), serta kesesuaian geometrik jalan dan pedestrian. 2. Data Lingkungan Sekitar: • Kondisi bangunan, gedung, dan elemen fisik lainnya. • Kondisi dan potensi sosio-kultural, sosio-ekonomi, dan sosio- kemasyarakatan penduduk setempat.
  29. 29. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38 26 Sedangkan data instansional berupa: • Data tata guna lahan kawasan. • Data sumberdaya alam (tanah, air, dan vegetasi). • Data iklim (temperatur, curah hujan, angin, dan kelembaban). Data-data diperoleh dengan cara observasi, wawancara, serta penelusuran dokumen. Observasi terutama untuk memperoleh data-data eksisting melalui teknik pemotretan, aktualisasi peta/gambar, dan pengukuran. Wawancara dan penelusuran dokumen lebih banyak dipakai untuk memperoleh data instansional. Metoda Analisis Metoda analisis yang dipakai dalam penataan Alun-alun dan Taman- taman Kota Bondowoso Kabupaten Bondowoso mencakup metoda yang dipakai untuk menganalisis aspek-aspek urgensitas, kesesuaian lahan, kualitas visual, sosial, serta teknis lensekap, yaitu: Untuk menganalisis urgensi Alun-alun dan Taman-taman Kota, maka perlu meninjau kondisi eksisting untuk ditelaah eksistensinya sesuai dengan perkembangan aktivitas yang ada. Selain itu, diperlukan analisis terhadap konteks pengadaan elemen-elemen lansekap dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan kualitas visual di kawasan Alun-alun dan Taman-taman Kota. Analisis Urgensitas Analisis kesesuaian lahan untuk penataan Alun-alun dan Taman Kota didasarkan atas pertimbangan topografi, geologi, hidrologi serta kesesuaian geometrik jaringan jalan dan pedestrian dengan melihat sistem sirkulasi dan tingkat aksesibilitas. Analisis Kesesuaian Lahan Analisis arsitektural mencakup pemrograman terhadap aspek-aspek yang merupakan faktor penentu rancangan tapak. Aspek-aspek ini meliputi: fungsi, pelaku, aktivitas, elemen lansekap (keras dan lunak), serta kualitas visual (struktur ruang, pola tata hijau, sirkulasi, dan preservasi). Keseluruhan aspek fisik tersebut senantiasa dikaitkan dengan kondisi sosial (sosio- kultural, sosio-ekonomi, sosio-politik, sosio-kemasyarakatan, dan sosio- ekologi) masyarakat di wilayah perencanaan. Analisis Arsitektural
  30. 30. Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono 27 GAMBARAN WILAYAH STUDI Gambaran Umum Bondowoso Wilayah Kabupaten Bondowoso sebagai lingkup wilayah di atas wilayah perencanaan (Kota Bondowoso) terdiri dari 21 wilayah Kecamatan, dimana 4 di antaranya masuk ke dalam wilayah perencanaan (Kota Bondowoso), terletak pada posisi geografis 70 50’10” – 70 56’41” Lintang Selatan dan 1130 48’27” – 1130 Lingkup wilayah perencanaan adalah Kota Bondowoso yang merupakan Ibukota Kabupaten Bondowoso serta secara administratif mencakup 4 (empat) wilayah Kecamatan, yaitu Kecamatan Bondowoso, Curahdami, Tegalampel, dan dengan luas wilayah keseluruhan adalah sebesar 3.448,05 Ha. 48’26” Bujur Timur. Kabupaten Bondowoso berada pada titik temu 3 (tiga) jaringan jalan regional potensial, yaitu antara Jember-Bondowoso, Situbondo-Bondowoso, dan Besuki-Bondowoso. Batas wilayah Kota Bondowoso adalah sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso Sebelah Selatan : Kecamatan Bondowoso Kabupaten Bondowoso Sebelah Barat : Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso Sebelah Timur : Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso Sebagian besar wilayah Kota Bondowoso terletak pada lahan yang datar. Secara umum kemiringan lahan berkisar antara 0% - 15% dan tidak menunjukkan perbedaan ketinggian yang cukup mencolok. Ketinggian lahan berkisar antara 73 – 253 meter di atas permukaan laut. Wilayah Kota Bondowoso sebagian besar memiliki jenis tanah alluvial dengan jenis bebatuan alluvium. Di wilayah Kota Bondowoso terdapat beberapa sungai dan saluran yang bermuara di sisi Timur kota. Pada umumnya sungai-sungai tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kepentingan penduduk setempat, seperti untuk mengairi sawah dan pembuangan air hujan. Sungai-sungai yang melintasi wilayah Kota Bondowoso adalah Sungai Deluang, Sungai Sampeyan, Sungai Mayang, Sungai Bedadung, dan Sungai Mrawan. Gambaran Khusus Wilayah Studi Alun-alun Kota merupakan peninggalan jaman kolonial Belanda yang di sekitarnya terdapat perkantoran Pemerintah Kabupaten dan fasilitas pelengkap lainnnya. Alun-alun kota merupakan landmark kota atau identitas/ciri pusat kota. Alun-alun Kota Alun-alun Kota Bondowoso terletak di pusat Kota Bondowoso yang merupakan wilayah administratif Kecamatan Bondowoso dan berada relatif di tengah bagian wilayah kota, sehingga memiliki letak yang strategis karena dapat dijangkau dengan mudah dari seluruh wilayah kota. Alun-alun Kota
  31. 31. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38 28 Bondowoso berada di wilayah Kelurahan Dabasah yang pada saat ini didominasi oleh kegiatan perdagangan dan pusat pemerintahan dengan intensitas yang tinggi. Alun-alun Kota Bondowoso diapit oleh 4 (empat) jalan arteri dan kolektor sekunder, masing-masing adalah: Sebelah Utara : Jalan Letnan Karsono Sebelah Selatan : Jalan Letnan Amir Kusman Sebelah Barat : Jalan Letnan Sutarman Sebelah Timur : Jalan Jaksa Agung Suprapto Bangunan-bangunan yang berada di sekitar Alun-alun dan sekaligus menjadi pelingkupnya adalah: Pendopo Kabupaten, Kantor Bank Jatim, Sekolahan, Kantor Pegadaian, dan Kantor Pramuka di sisi Utara; Kantor Bupati dan Sekretariat Kabupaten, Kantor KONI, dan Monumen Gerbong Maut di sisi Selatan; Masjid Jami’, Gedung Olahraga, Kantor Koramil, dan Sekolahan di sisi Barat; serta Lembaga Pemasyarakatan dan Kantor Pos di sisi Timur. Bangunan gedung yang berada di dalam lahan Alun-alun adalah Stasiun Radio Mahardika, Pusat Informasi Produk Unggulan Kabupaten, dan Paseban. Taman-taman Kota Bondowoso yang menjadi obyek perencanaan sebanyak 4 (empat) buah, dimana merupakan taman batas kota/kabupaten yang sekaligus menyatu dengan elemen gerbang, yaitu: (1) Taman Batas Kabupaten di Kecamatan Prajekan, (2) Taman Batas Kota di Kecamatan Tenggarang, (3) Taman Batas Kota di Kecamatan Curahdami, dan (4) Taman Batas Kota di Pancoran. Taman-taman Kota Berdasarkan tolok ukur kebersihan, kerapian, dan tingkat kesuburan tanaman yang menjadi elemen utama lansekap, maka kondisi taman-taman kota tersebut adalah: (1) cukup terawat, yaitu taman batas kabupaten di Kecamatan Prajekan, serta (2) kurang terawat, yaitu taman batas kota di Kecamatan Tenggarang, di Kecamatan Curahdami, dan di Pancoran. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dasar Penataan Ruang Terbuka Hijau Kota Landmark Kota adalah salah satu tanda fisik di kawasan perkotaan yang dapat memberikan informasi bagi pengamat pada suatu jarak tertentu. Dengan demikian, terdapat 3 (tiga) unsur penting dalam landmark kota, yaitu: (1) tanda fisik yang merupakan obyek yang dapat ditangkap dan dinikmati dengan indera secara mudah, (2) informasi yang memberikan gambaran dengan cepat dan pasti tentang suatu obyek, sehingga dapat Konsepsi Landmark Kota
  32. 32. Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono 29 memberikan image fisik dan non fisik, serta (3) obyek dapat dikenali dan dilihat dengan nyaman pada suatu jarak tertentu. Kriteria perencanaan suatu obyek landmark kota adalah: (1) unik (unique), yaitu tuntutan harus memiliki unsur yang mudah diingat (memorable), dimana unsur tersebut memiliki karakter fisik yang lain dari obyek di sekitarnya; (2) teridentifikasi (identified), yaitu tuntutan harus mudah dikenali oleh masyarakat umum, sehingga gampang diingat; (3) memiliki bentuk (shape), yaitu adalah tuntutan harus memiliki bentuk yang jelas atau bentang yang relatif lebar, dimana salah satunya dapat dicapai dengan adanya kekontrasan dengan lingkungan di sekitarnya sebagai latar belakang; (4) letak (location), yaitu tuntutan harus mudah dinikmati oleh pancaindera dari jarak jauh maupun jarak dekat, di dalam maupun di luar obyek; (5) nilai (meaning), yaitu tuntutan harus memiliki nilai dalam suatu lingkungan atau kawasan perkotaan, dimana nilai tersebut dapat berupa nilai historis maupun nilai estetis. Kualitas visual (vista) adalah mutu baik buruknya suatu obyek yang dinilai dengan penglihatan. Kualitas visual elemen fisik perkotaan ditentukan suatu pengalaman visual terhadap elemen kota yang menampilkan penonjolan kekontrasan fisik dengan lingkungan di sekitarnya. Kekontrasan tersebut dapat dicapai dengan penonjolan obyek terhadap lingkungannya secara latar belakang (background) maupun latar muka (foreground). Dalam konteks Alun-alun dan Taman-taman Kota, maka vista merupakan pemandangan yang natural dan diperkuat dengan penampilan karakter topografis, sehingga merupakan elemen ruang terbuka hijau kota yang memberikan gambaran batasan daerah/kawasan (edges). Konsepsi Kualitas Visual (Vista) Kriteria perencanaan untuk mencapai suatu kualitas visual (vista) mengacu pada: (1) harmonis (harmony), yaitu keselarasan obyek dengan lingkungan di sekitarnya secara kontekstual, yaitu keterkaitannya dengan identitas kota, kehidupan masyarakat, sejarah, dan budayanya; (2) ekspresi (expressiveness), yaitu gambaran visual yang terkait dengan fungsi-fungsi sosial, status dan kesan masyarakat, termasuk pula pemakaian warna dan bahan bangunan; (3) aksesibilitas (accessibility), yaitu unsur perencanaan sistem sirkulasi yang menyangkut pencapaian menuju dan meninggalkan obyek, sehingga terkait dengan perletakan elemen pada area welcome node melalui sistem pencahayaan, orientasi, warna, simbol, maupun sculpture; (4) penunjang kegiatan (activity support), yaitu tuntutan yang harus mampu menampung segala aktivitas yang ada melalui penyediaan wadah kegiatan yang fungsional; (5) sudut pandang (view), yaitu tuntutan harus mudah dinikmati oleh pancaindera dari jarak dan sudut pandang tertentu – baik dari dalam maupun dari luar obyek – sehingga dapat dikenali dan dilihat dengan nyaman pada suatu jarak tertentu; (6) unsur alam (nature), yaitu pemakaian unsur alam – sebagai unsur yang paling bersahabat dengan manusia –
  33. 33. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38 30 untuk memperoleh kesan menyatu dan manusiawi melalui pertimbangan kondisi topografi, vegetasi, air, klimatologi, dan garis langit; serta (7) pemeliharaan (maintenance), yaitu arahan untuk tetap mempertahankan kualitas obyek melalui usaha-usaha pemeliharaan dan perawatan yang memadai. Tanaman (vegetasi) merupakan elemen lansekap utama yang hidup dan terus berkembang. Fungsi tanaman tidak hanya mengandung nilai estetika saja, namun juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang terkait dengan faktor iklim. Di iklim tropis, seperti Indonesia umumnya dan Bondowoso pada khususnya, dikenal 2 (dua) macam tanaman ditinjau dari masa daunnya, yaitu: (1) tanaman berdaun gugur (decidous plants) yang berubah bentuk maupun warna daun sesuai dengan musimnya, serta (2) tanaman berdaun hijau sepanjang tahun (evergreen connivers) yang berdaun lebat dan berbunga sepanjang tahun. Konsepsi Tata Hijau (Vegetasi) Kriteria untuk mencapai kualitas tata hijau mengacu pada fungsinya dalam perencanaan lansekap, yaitu: (1) kontrol pandangan (visual control), yaitu fungsi tanaman untuk menahan silau yang ditimbulkan oleh sinar matahari, lampu jalan, dan sinar lampu kendaraan pada jalan raya, bangunan, ruang luar, dan hal-hal yang kurang menyenangkan; (2) pembatas fisik (physical barrier), yaitu fungsi tanaman yang dipakai sebagai penghalang dan pengarah pergerakan (sirkulasi) manusia dan kendaraan melalui pengaturan jarak tanam dan tinggi tanaman; (3) pengendali iklim (climate control), yaitu fungsi tanaman yang dipakai sebagai pengontrol iklim terhadap: (a) radiasi matahari dan suhu, (b) pengendali angin, (c) pengendali suara, serta (d) penyaring udara; (4) pencegah erosi (erossion control), yaitu fungsi tanaman sebagai pencegah erosi dan penguat tanah akibat proses pembentukan tanah, cut and fill, dan penggalian tanah; (5) habitat satwa (wildlife habitats), yaitu fungsi tanaman sebagai sumber makanan dan tempat kehidupan hewan, sehingga secara tidak langsung dapat membantu kelestarian hidupnya; serta (6) nilai estetika (aesthetic values), yaitu fungsi tanaman meningkatkan nilai estetika lingkungan yang diperoleh dari perpaduan antara warna tanaman (daun, batang, bunga), bentuk fisik tanaman (tajuk, cabang, batang), tekstur tanaman (karakter percabangan, massa daun), skala tanaman (proporsi besaran, tinggi- rendah), serta komposisi tanaman (variasi, aksentuasi, keseimbangan, kesederhanaan, urutan). Pengembangan kawasan Alun-alun dan Taman-taman Kota Bondowoso dilakukan melalui upaya revitalisasi (peremajaan) elemen- elemen lansekapnya untuk mencapai kualitas yang dituju. Revitalisasi Konsepsi Pengembangan (Revitalisasi)
  34. 34. Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono 31 mengandung 3 (tiga) jenis kegiatan, yaitu: (1) memberi vitalitas baru pada kondisi eksisting, (2) meningkatkan vitalitas yang ada sekarang, dan (3) menghidupkan kembali vitalitas lama yang telah memudar. Kriteria untuk mencapai revitalisasi pada elemen lansekap didasarkan atas pertimbangan: (1) fisik sosial (social physically), yaitu fungsi ruang terbuka hijau yang menyangkut perilaku pemakai, yaitu: wadah kegiatan sosio-politis, sosio-kultural, sosio-ekonomi, sosio-ekologi, dan sosio- kemasyarakatan seluruh warga kota; (2) fisik spasial (spatial physically), yaitu fungsi ruang terbuka hijau yang menyangkut struktur ruang dan teritori, yaitu: sarana dan prasarana hiburan dan rekreasi, penataan fungsi lansekap, serta pola keselarasan tata letak fungsional; (3) fisik visual (visual physically), yaitu fungsi ruang terbuka hijau yang menyangkut estetika dan kualitas lingkungan, yaitu: menjaga kelestarian lingkungan alam, elemen vegetasi yang merupakan maskot kawasan/kota, elemen sculpture yang beridentitas, dan penataan unsur lansekap yang ideal. Analisis Penataan Alun-alun Kota Bondowoso Urgensi Alun-alun Kota Bondowoso sesuai dengan permasalahan yang dapat diidentifikasi sejauh ini menunjukkan adanya penurunan vitalitasnya. Dengan demikian, urgensi meningkatkan kembali kualitas dan fungsi Alun-alun Kota Bondowoso sebagai landmark kota yang beridentitas dapat dilakukan melalui upaya-upaya sebagai berikut: Analisis Urgensitas Alun-alun Kota Bondowoso • Preservasi fungsi lapangan upacara yang tetap dipakai untuk kegiatan formal kepemerintahan, sekaligus dipakai sebagai area ibadah (sholat Ied) yang merupakan luberan dari area Masjid Jami’ dan sekitarnya. • Preservasi fungsi hutan kota sebagai ‘paru-paru’ kawasan, sekaligus dipakai sebagai area sosio-ekologi yang merupakan wahana ilmu pengetahuan. Apabila diperlukan, dapat pula dilakukan pengembangan area hutan kota untuk memperbanyak lahan ‘paru-paru’ kawasan. • Revitalisasi pedestrian quality sebagai akses utama dalam kawasan. • Revitalisasi ornamentasi pada pagar pembatas Pohon Beringin sebagai vocal point kawasan Alun-alun. • Revitalisasi unsur penerima kawasan Alun-alun dari sisi Timur dan Barat sebagai welcome nodes. • Revitalisasi fungsi taman dan sabuk hijau di sisi sayap Barat dan sisi Timur kawasan Alun-alun dengan keanekaragaman vegetasi. • Revitalisasi fungsi taman di pojok/sudut kawasan Alun-alun dengan penanaman jenis vegetasi yang menjadi maskot kota.
  35. 35. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38 32 • Pengaturan area taman yang dirancang, dibangun, dan dikelola oleh instansi-instansi yang ada di wilayah Kabupaten Bondowoso sebagai bentuk kepedulian terhadap pengelolaan Alun-alun Kota Bondowoso sebagai landmark kota yang merupakan kebanggaan seluruh elemen masyarakat. • Pengaturan area parkir andong wisata dengan pola on street parking, termasuk pengaturan parkir kendaraan dengan pola on street parking yang sama. • Penataan open space sebagai pengembangan area kegiatan pentas seni dan budaya, sekaligus pengembangan area kegiatan olahraga. • Pengaturan fasilitas penjualan aneka makanan (lesehan) dan aneka barang (pedagang kaki lima). Analisis kesesuaian lahan Alun-alun Kota Bondowoso didasarkan atas pertimbangan topografi, geologi, hidrologi serta kesesuaian geometrik jaringan jalan dan pedestrian dengan melihat sistem sirkulasi dan tingkat aksesibilitas. Dengan demikian, dalam konteks kesesuaian lahan, maka guna meningkatkan kembali kualitas dan fungsi Alun-alun Kota Bondowoso dapat dilakukan melalui upaya-upaya sebagai berikut: Analisis Kesesuaian Lahan Alun-alun Kota Bondowoso • Pembuatan resapan-resapan (baik secara vertikal maupun horisontal) di area lapangan upacara untuk menanggulangi genangan air hujan dengan mempertimbangkan catchments area dan daya dukung resapan air tanah. • Peningkatan sistem drainase di sekitar Alun-alun dengan menelaah kembali saluran yang ada. • Penataan elemen vegetasi sesuai dengan persyaratan hidupnya berdasarkan kondisi topografi dan klimatologi setempat, baik untuk jenis pepohonan, perdu, semak, tanaman hias, maupun tanaman penutup tanah. • Penataan pola penggunaan area penjualan aneka makanan (lesehan) dan aneka barang (pedagang kaki lima) sesuai dengan pola geometrik jalan dan pedestrian, sehingga relatif tidak mengganggu arus lalulintas kendaraan dan manusia. Secara khusus, upaya pembuatan resapan pada area lapangan upacara dan peningkatan sistem drainase pada saluran eksisting menjadi skala prioritas penanganan dalam konteks kesesuaian lahan kawasan Alun- alun Kota Bondowoso, mengingat setiap musim hujan terjadi genangan air yang cukup mengganggu. Berdasarkan kondisi eksisting, maka perencanaan sistem drainase lingkungan nantinya merupakan kombinasi antara sistem drainase konvensional dan sistem drainase berwawasan
  36. 36. Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono 33 lingkungan, dengan langkah-langkah teknis, di antaranya adalah sebagai berikut: • Debit yang akan melalui kawasan Alun-alun, meliputi: debit buangan air kotor rumah tangga (permukiman) sekitar kawasan Alun-alun, debit buangan air kotor non permukiman (seperti dari masjid, sekolah, perkantoran, dsb), limpasan permukaan air hujan (dari jalan dan area terbuka), serta resapan/infiltrasi air hujan (dari Alun-alun dan taman). • Desain saluran dan bangunan drainase yang direncanakan terdiri dari: desain saluran interceptor, collector dan conveyor; bak kontrol, grill, ambang lebar, gorong-gorong dan manhole; serta resapan air hujan (vertikal maupun horisontal). • Desain saluran dan bangunan drainase tersebut di atas dibuat dengan mempertimbangkan hal-hal berikut: (1) buangan air kotor dapat secepatnya terbuang melalui saluran konvensional (surface drainage), (2) limpasan permukaan air hujan dan resapan air hujan dapat dialirkan/ ditahan/ditampung dalam resapan di beberapa titik kumpul bak-bak kontrol, serta (3) pada area lapangan upacara dan lapangan olahraga disediakan desain resapan drainase vertikal ataupun horisontal (sub surface drainage). Guna mendapatkan desain rencana jaringan drainase kawasan Alun- alun Kota Bondowoso, maka langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: • Inventarisasi dan pengukuran saluran drainase eksisting yang bertujuan untuk mengetahui mengetahui jalur jaringan drainase yang ada beserta kondisinya, meliputi: dimensi, keadaan fisik (saluran dan sedimentasi), serta potensi lahan guna normalisasi saluran, termasuk long section dan cross section masing-masing saluran. • Analisis hidrologi melalui tahapan sebagai berikut: (1) perhitungan curah hujan harian maksimum, (2) perhitungan curah hujan daerah atau curah hujan rerata harian maksimum daerah dengan menggunakan metode Poligon Thiessen, dan (3) perhitungan curah hujan rancangan dengan menggunakan metode Log Pearson Tipe III. • Perhitungan debit banjir rancangan yang terdiri dari: (1) perhitungan debit air hujan berdasarkan data-data kemiringan tanah, jenis tanah, kondisi iklim, curah hujan, dan luasan catchments area, serta (2) perhitungan debit air kotor berdasarkan data jumlah air buangan yang berasal dari penduduk dan pemakai bangunan sekitar. • Perhitungan kapasitas saluran dan bangunan pelengkap melalui analisis hidraulika untuk menetapkan jenis, macam, demensi, jumlah, dan konstruksi desain masing-masing saluran dan bangunan pelengkapnya.
  37. 37. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38 34 Analisis arsitektural mencakup pemrograman terhadap aspek-aspek yang merupakan faktor penentu rancangan tapak. Aspek-aspek ini meliputi: fungsi, pelaku, aktivitas, elemen lansekap (keras dan lunak), serta kualitas visual (struktur ruang, pola tata hijau, sirkulasi, dan preservasi). Keseluruhan aspek fisik tersebut dikaitkan dengan kondisi sosial (sosio-kultural, sosio- ekonomi, sosio-politik, sosio-kemasyarakatan dan sosio-ekologi) masyarakat di wilayah perencanaan. Dengan demikian, dalam konteks arsitektural, guna meningkatkan kembali kualitas dan fungsi Alun-alun Kota Bondowoso, maka dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut: Analisis Arsitektural Alun-alun Kota Bondowoso • Pada area lapangan upacara: pembuatan resapan-resapan (baik secara vertikal maupun horisontal) di area lapangan upacara; penataan media tanam; serta penanaman tanaman penutup tanah berupa rerumputan. • Pada area hutan kota: dilakukan pemeliharaan dan perawatan (melalui pemupukan, pembumbunan, dan pemangkasan) pada pepohonan; pemberian label penamaan pohon (nama lokal, nama umum, dan nama ilmiah); serta penambahan elemen hardscape (berupa pedestrian, bangku taman, meja taman, dan lampu taman). • Pada pedestrian utama: penataan material sirkulasi; pembuatan bangku taman; penambahan pot tanaman; serta pembuatan pergola untuk mengurangi sengatan sinar matahari bagi pejalan kaki dengan tanaman hias merambat. • Pada pagar Pohon Beringin: penambahan ornamentasi melalui pemakaian bentuk, warna, dan tekstur yang sesuai dengan karakteristik budaya setempat. • Pada welcome nodes di sisi Timur dan Barat kawasan: pembuatan gerbang penerima yang menyambung dengan pergola pedestrian di belakangnya. • Pada taman di sisi sayap Barat kawasan: dilakukan pemeliharaan dan perawatan (melalui pemupukan, pembumbunan, dan pemangkasan) pada vegetasi yang ada; penataan material sirkulasi; peningkatan kualitas pagar; serta penambahan elemen hardscape (pot tanaman dan lampu taman). • Pada sabuk hijau di sisi sayap Timur kawasan: dilakukan pemeliharaan dan perawatan (melalui pemupukan, pembumbunan, dan pemangkasan) pada pepohonan yang ada; serta peningkatan kualitas elemen hardscape (pagar, bangku taman, pot tanaman dan lampu taman). • Pada area di belakang sabuk hijau sayap Timur kawasan: dilakukan pembuatan area taman instansi yang dalam teknisnya dirancang, dibangun, dan dikelola oleh instansi-instansi yang ada di wilayah Kabupaten Bondowoso (untuk mendapatkan bentuk taman yang
  38. 38. Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono 35 harmonis, maka perlu disusun petunjuk pelaksanaan oleh instansi teknis terkait). • Pada taman pojok Tenggara dan Timur Laut kawasan: dilakukan pemeliharaan dan perawatan (melalui pemupukan, pembumbunan, dan pemangkasan) pada tanaman hias yang ada; serta penambahan tanaman yang menjadi maskot kota. • Pada jalur pedestrian dan jalan di sisi Timur kawasan: pengaturan area penjualan aneka makanan (lesehan) dan penjualan aneka barang (kaki lima) yang ditata di sepanjang trotoir dan jalan. Model ini dilakukan dengan pembatasan waktu penjualan (hanya sore sampai dengan malam hari), sehingga dapat dilakukan pengaturan airkulasi kendaraan bermotor dengan pembatasan jalur/lajur. • Pada area di sisi Utara kawasan: pembuatan area parkir andong wisata secara off street parkir yang yang sekaligus berfungsi sebagai area parkir kendaraan (pada hari-hari kerja) dengan lantai paving-block atau grass-block berpola, pot tanaman, dan pagar/ berm pembatas di sisi belakang. • Pada area di belakang bangunan Stasiun Radio Mahardika dan Pusat Informasi Produk Unggulan Bondowoso: pembuatan area pentas seni dan budaya dengan penataan panggung dan area penonton yang bersifat open theatre, berlantai grass-block. • Pada area olahraga: peningkatan fasilitas olahraga dengan penataan perkerasan, penataan komponen olahraga (basket dan voli), serta penambahan bangku taman. • Pada area open space di belakang area pentas seni-budaya dan olahraga: diupayakan tetap berupa open space untuk pengembangan area pentas seni-budaya dan olahraga melalui pembuatan media tanam serta menanam tanaman penutup tanah berupa rerumputan berpola. Alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mengembalikan konsepsi Alun-alun Kabupaten di Jawa adalah penataan kawasan Alun-alun dengan pola simetri-asimetri, yaitu pola kesetimbangan pengaturan kelompok fungsi kawasan Alun-alun ditinjau dari dua arah sumbu mata angin (Utara-Selatan dan Timur-Barat) yang dilakukan melalui upaya sebagai berikut: • Pengembangan hutan kota pada posisi Timur Laut kawasan (area olahraga eksisting) agar simetris dengan area hutan kota eksisting dengan kelengkapan elemen lansekap yang sama. • Area olahraga dipindahkan ke open space di sebelah Utara pedestrian utama memanjang arah Timur-Barat, sekaligus dapat dipakai sebagai pengembangan area pentas seni dan budaya. • Penataan sirkulasi pada pedestrian yang menuju ke tengah Alun- alun dari sisi Utara kawasan dengan pola simetri terhadap bentukan bangunan Stasiun Radio Mahardika dan Pusat Informasi Produk Unggulan Bondowoso yang tidak simetri.
  39. 39. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38 36 • Adanya pagar transparan yang ‘melindungi’ tanaman hias di sisi kanan-kiri pedestrian utama dari kegiatan olahraga yang berada di sebelahnya. Analisis Penataan Taman-taman Kota Urgensi Taman-taman Kota Bondowoso sesuai dengan permasalahan yang dapat diidentifikasi sejauh ini sebagian besar menunjukkan adanya penurunan kualitas. Dengan demikian, urgensi meningkatkan kualitas dan fungsi taman sebagai ruang terbuka hijau kota dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut: Analisis Urgensitas • Penataan kembali elemen lansekap pada Taman Batas Kabupaten di Kecamatan Prajekan, Taman Batas Kota di Kecamatan Tenggarang, serta Taman Batas Kota di Pancoran. • Perencanaan ulang elemen lansekap pada Taman Batas Kota di Kecamatan Curahdami. Analisis kesesuaian lahan Taman-taman Kota Bondowoso didasarkan atas pertimbangan topografi, geologi, hidrologi serta kesesuaian geometrik jaringan jalan di sekitarnya dengan melihat sistem sirkulasi dan tingkat aksesibilitas. Dengan demikian, dalam konteks kesesuaian lahan, guna meningkatkan kembali kualitas dan fungsi taman-taman kota dimaksud, maka dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut: Analisis Kesesuaian Lahan • Penataan elemen vegetasi sesuai dengan persyaratan hidupnya berdasarkan kondisi topografi dan klimatologi setempat, baik untuk jenis pepohonan, perdu, semak, tanaman hias, maupun tanaman penutup tanah. • Penataan tanaman yang menjadi maskot pada setiap lokasi taman- taman kota. Analisis arsitektural mencakup pemrograman terhadap aspek-aspek yang merupakan faktor penentu rancangan tapak. Aspek-aspek ini meliputi: fungsi, elemen lansekap (keras dan lunak), serta kualitas visual (pola tata hijau, bentuk, warna, dan tekstur). Dengan demikian, dalam konteks arsitektural, maka guna meningkatkan kembali kualitas dan fungsi Taman- taman Kota Bondowoso dapat dilakukan melalui upaya-upaya sebagai berikut: Analisis Arsitektural • Pada Taman Batas Kabupaten di Kecamatan Prajekan, Taman Batas Kota di Kecamatan Tenggarang, dan Taman Batas Kota di Pancoran: penanaman aneka vegetasi sesuai dengan pola, bentuk,
  40. 40. Konsep Penataan Lansekap Y. Setyo Pramono 37 warna, dan tekstur yang memadai; penanaman maskot tanaman; serta redesain elemen pagar. • Pada Taman Batas Kota di Kecamatan Curahdami: perencanaan ulang seluruh elemen lansekap, baik hardscape maupun softscape dengan aneka vegetasi sesuai dengan pola, bentuk, warna, dan tekstur yang memadai; adanya maskot tanaman; serta adanya elemen pagar. KESIMPULAN Rencana Penataan Lansekap Alun-alun Kota Bondowoso Rencana penataan elemen lansekap pada tapak kawasan Alun-alun Kota Bondowoso lebih ditujukan untuk meningkatkan peran kawasan, yaitu dengan mempertegas eksistensi dan keberadaan Alun-alun Kota sebagai ruang terbuka hijau utama di pusat kota, dengan cara: • Menjaga Alun-alun Kota Bondowoso sebagai landmark kota dengan adanya tanda-tanda fisik yang unik, beridentitas, pada jarak pandang yang mudah dinikmati, dan memiliki nilai tertentu. • Meningkatkan kualitas visual Alun-alun Kota Bondowoso dengan penataan elemen lansekap yang selaras dengan lingkungan, ekspresif, berkesan menerima, mampu mewadahi aktivitas masyarakat, memiliki view yang bagus, alami, dan terpelihara. • Menata keanekaragaman vegetasi sebagai elemen utama lansekap sesuai dengan fungsi-fungsinya melalui pemilihan bentuk, warna, dan tekstur yang sesuai – termasuk pula adanya maskot tanaman. • Meremajakan (revitalisasi) elemen-elemen lansekap secara fisik, sehingga memenuhi fungsi-fungsi sosial, spasial, dan visual. Rencana Penataan Lansekap Taman-taman Kota Bondowoso Rencana penataan elemen lansekap pada tapak Taman-taman Kota Bondowoso lebih ditujukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan, yaitu dengan mempertegas eksistensi dan keberadaannya sebagai ruang terbuka hijau kota, dengan cara: • Meningkatkan kualitas visual Taman-taman Kota Bondowoso dengan penataan elemen lansekap yang selaras dengan lingkungan, ekspresif, berkesan menerima, mampu mewadahi aktivitas masyarakat, memiliki view yang bagus, alami, dan terpelihara. • Menata kembali keanekaragaman vegetasi sebagai elemen utama lansekap sesuai dengan fungsi-fungsinya melalui pemilihan bentuk, warna, dan tekstur yang sesuai – termasuk pula adanya maskot tanaman.
  41. 41. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 23-38 38 • Merencana ulang elemen-elemen lansekap secara fisik, sehingga memenuhi fungsi spasial dan visual. PUSTAKA ACUAN Ashihara, Yoshinobu, 1970. Exterior Design in Architecture. Van Nostrand Reinhold Comp. Darmawan, Edy. 2005. Analisa Ruang Publik: Arsitektur Kota. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen PU. 2009. Penyediaan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Kota/Kawasan Perkotaan. Gunadi, Sugeng, 1989. Pedoman Perencanaan Tapak dan Lingkungan. Surabaya: Surabaya Utama Press. Hakim, Rustam dan Hadi Utomo. 2003. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap: Prinsip Unsur dan Aplikasi Desain. Jakarta: Bumi Aksara. Harjanto, Suryo Tri. 2002. Arsitektur Lansekap: Dasar-dasar Perancangan dalam Konteks Alam dan Lingkungan. Jurnal Estetika. No.2 Vol. I. Juli-Desember 2002. Malang: Jurusan Arsitektur ITN Malang. Lynch, Kevin. 1971. Site Planning. The MIT Press. Seymour, M. Gold. 1980. Recreation Planning and Design. New York: Mc. Graw Hill, Inc. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2005. Pedoman dan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Winslow, Margaret C. 1988. International Landscape Design. PBC International, Inc.
  42. 42. Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti 39 ANALISIS ISU DEFORESTASI PADA DAERAH TANGKAPAN AIR BENDUNGAN LOLAK KABUPATEN BOOLANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA Evy Hendriarianti Dosen Program Studi Teknik Lingkungan FTSP ITN Malang ABSTRAKSI Kerusakan lingkungan pada Daerah Tangkapan Air (DTA) Bendungan Lolak mengancam keberlanjutan fungsinya, sehingga dipandang perlu untuk membuat analisis isu deforestasi. Enam faktor utama dari aspek sosial ekonomi (populasi penduduk, tataguna lahan, perdagangan, infrastruktur, lemahnya hukum, serta rendahnya pengetahuan lingkungan) secara langsung atau tidak langsung menjadi penyebab utama menurunnya kualitas lingkungan biofisik melalui proses perusakan lingkungan hutan (deforestasi). Konversi kawasan hutan pada DTA Bendungan Lolak, selain untuk lahan perkebunan, juga untuk penggembalaan ternak, penebangan liar, dan pertambangan emas rakyat. Banyaknya praktek penyimpangan pada konversi lahan, eksploitasi hutan (commercial logging), illegal logging, dan pembukaan lahan yang menyebabkan kebakaran seringkali tidak terjangkau oleh hukum. Dari hasil survey lapangan ditemukan kegiatan penebangan kayu pada beberapa lokasi pada DTA Bendungan Lolak. Faktor-faktor tersebut di atas mempercepat terjadinya deforestasi yang secara langsung dapat menyebabkan: kerusakan karena banjir, tanah longsor, erosi tanah, sedimentasi, penurunan kualitas lahan, penurunan sumberdaya energi, polusi udara, erosi keanekaragaman hayati (erosion of biodiversity), serta terbentuknya lahan tandus atau gurun. Disamping itu, dipengaruhi pula adanya kegiatan pembuangan limbah cair hasil pengolahan emas ke tanah, lemahnya penegakan hukum karena keterbatasan administrasi/pemerintahan, dan kegiatan pertanian yang tidak konservatif, akan berpengaruh langsung ataupun tak langsung pada proses terjadinya penurunan kualitas lahan di masa yang akan datang. Kata Kunci: Deforestasi, Degradasi Lingkungan, DTA Bendungan Lolak. PENDAHULUAN Munculnya fenomena bencana alam tahunan, seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan merupakan suatu petunjuk dan peringatan bahwa semua kejadian itu merupakan akibat ketidakseimbangan serta kerusakan
  43. 43. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53 40 sumberdaya alam di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Untuk mengembalikan keseimbangan kondisi alam dan menghindari hal-hal yang dapat mengakibatkan kejadian-kejadian bencana alam, diperlukan dana yang besar dan kesungguhan pemikiran maupun tindakan serta waktu yang panjang. Bendungan Lolak terletak di Desa Pindol Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow dengan tinggi bendungan 45 meter, panjang 653 meter dan memiliki volume efektif tampungan 8,767 juta m3 Kerusakan lingkungan pada DTA Bendungan Lolak mengancam keberlanjutan fungsinya seperti disebutkan di atas. Salah satu bentuk kerusakan lingkungan yang terkait adalah kerusakan hutan atau deforestasi. Dengan demikian, dipandang perlu untuk membuat analisis isu deforestasi, sehingga diharapkan bermanfaat sebagai input penyusunan upaya pengelolaan atau konservasi hutan di DTA Bendungan Lolak. . Bendungan Lolak, disamping bermanfaat untuk memberikan supply air baku untuk kebutuhan domestik, perkotaan dan industri di Ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow, juga untuk suplai air bersih dalam mengantisipasi pengembangan Pelabuhan Labuhan Uki dan kawasan industri di sekitarnya, kegiatan pariwisata, dan perikanan air tawar. ANALISIS ISU DEFORESTASI Enam faktor utama dari aspek sosial ekonomi yang secara langsung atau tidak langsung menjadi penyebab utama menurunnya kualitas lingkungan biofisik melalui proses perusakan lingkungan hutan (deforestasi). Keenam faktor tersebut adalah: populasi penduduk, tata guna lahan, perdagangan, infrastruktur, lemahnya hukum, serta rendahnya pengetahuan lingkungan. Skema analisa isu deforestasi seperti pada gambar berikut ini: Gambar 1. Skema Analisa Isu Deforestasi
  44. 44. Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti 41 Penduduk Jumlah penduduk Kecamatan Lolak pada tahun 2008 sebesar 24.948 jiwa. Jumlah rumah tangga (RT) pada tahun yang sama sebanyak 6.615 RT dengan jumlah jiwa per RT sebesar 3.77 ∼ 4. Desa Pindol yang terdiri dari 2 dusun mempunyai jumlah penduduk pada tahun 2008 berjumlah 566 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 318 jiwa, penduduk perempuan 246 jiwa, dan kepala keluarga sebanyak 135 KK; sedangkan Desa Totabuan mempunyai jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar 673 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 375 jiwa, penduduk perempuan 298 jiwa, dan kepala keluarga sebanyak 159 KK. Penduduk yang semakin meningkat menuntut ketersediaan pangan yang semakin tinggi pula. Dari data dalam Kecamatan Lolak Dalam Angka Tahun 2009, pertumbuhan penduduk di Kecamatan Lolak pada tahun 2005 – 2008 adalah sebagai berikut: Gambar 2. Grafik Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Lolak tahun 2005-2008 Selama 4 tahun telah terjadi peningkatan jumlah penduduk sebesar 1.704 jiwa dengan fluktuasi seperti pada Gambar 2. Tambahan jumlah penduduk rata-rata dalam setahun mencapai 568 jiwa atau sebesar 2,41%. Gambar 3. Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk Kecamatan Lolak Tahun 2005-2008
  45. 45. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53 42 Sedangkan data perkembangan jumlah penduduk untuk Desa Pindol dan Desa Totabuan yang bersumber dari Kecamatan Lolak Dalam Angka Tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini. Gambar 4. Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk Desa Pindol dan Desa Totabuan Tahun 2005-2008 Pertumbuhan penduduk pada kedua desa selama tahun 2005 – 2008 dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini. Gambar 5. Grafik Pertumbuhan Penduduk Desa Pindol dan Desa Totabuan Tahun 2005-2008 Dari grafik tersebut di atas dapat dilihat terjadinya pola pertumbuhan penduduk yang sama pada kedua desa, dimana Desa Pindol mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi (rata-rata 6,32%) dibandingkan Desa Totabuan (rata-rata 4,99%). Berdasarkan angka pertumbuhan rata-rata yang dicapai selama tahun 2005-2008, maka diperkirakan jumlah penduduk Desa Pindol pada 5 tahun ke depan (2015) mencapai angka 816 jiwa; sedangkan Desa Totabuan
  46. 46. Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti 43 diperkirakan pada tahun 2015 mempunyai jumlah penduduk sebesar 908 jiwa. Kebutuhan pangan dalam lima tahun ke depan juga akan mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk yang terjadi. Pemenuhan tuntutan ini, disamping melalui intensifikasi pertanian, juga ekstensifikasi pertanian yang dengan sendirinya menuntut dilakukannya konversi hutan menjadi lahan pertanian. Dari hasil survey telah diidentifikasi terjadinya konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan pada DTA Bendungan Lolak seperti pada Gambar 6 berikut ini: Gambar 6. Konversi Lahan Kawasan Hutan DTA Bendungan Lolak sebagai Lahan Pertanian Peningkatan jumlah penduduk juga dengan sendirinya memerlukan pasokan kayu bakar. Pemanfaatan hutan oleh masyarakat untuk keperluan pemenuhan kayu bakar secara langsung memberikan pengaruh negatif terhadap tegakan hutan dan akhirnya terhadap hutan secara keseluruhan (deforestasi). Kebutuhan yang lain dari manusia adalah terpenuhinya kebutuhan protein hewani. Kebutuhan ini memunculkan peluang ekonomi pada kegiatan peternakan, terutama hewan besar (sapi, kambing, kerbau). Kegiatan peternakan ini memerlukan padang penggembalaan yang seringkali diperoleh dengan konversi kawasan hutan. Dengan demikian, mudah dipahami bahwa manusia karena kebutuhan bahan pangan (demand for food), kebutuhan bahan bakar kayu (demand for fuel wood), dan kebutuhan protein hewani (forest grazing) akan menyebabkan pengurangan luas hutan (deforestasi) melalui konversi kawasan hutan ataupun penurunan kualitas tegakan hutan. Konversi kawasan hutan pada DTA Bendungan Lolak, selain untuk lahan perkebunan, juga untuk penggembalaan ternak, penebangan liar, dan pertambangan emas rakyat seperti pada Gambar 7. di bawah ini.
  47. 47. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53 44 Gambar 7. Konversi Lahan Kawasan Hutan untuk Peternakan, Penebangan Kayu dan Pertambangan Tata Guna Lahan Perubahan tata guna lahan terjadi karena perubahan populasi dalam rangka memenuhi kebutuhan dasarnya. Perluasan lahan pertanian, pemukiman, dan lainnya terjadi karena tuntutan kebutuhan populasi. Pemanfaatan potensi tanah secara langsung menurunkan kualitas kesuburan serta menurunkan kualitas sumber air. Perubahan kualitas tanah dan gangguan hidrologi akan menyebabkan penurunan kualitas hutan yang selanjutnya menyebabkan pengurangan kawasan hutan.Kegiatan eksploitasi sumberdaya mineral pada sisi lain, dalam beberapa model dan jenis eksploitasi (batu bara, emas, tembaga, minyak di darat, dll) secara langsung menyebabkan kerusakan dan pengurangan hutan. Perubahan tata guna lahan DTA Bendungan Lolak saat ini telah terlihat pada bagian hilir untuk kegiatan pertanian, peternakan, dan penebangan kayu; sedangkan pada bagian hulu telah terjadi perubahan tata guna lahan untuk kegiatan eksploitasi sumberdaya mineral berupa penambangan emas rakyat. Dari hasil pemantauan di lapangan, air buangan dari proses pengolahan emas langsung dibuang ke tanah dan meresap dalam tanah; sedangkan pada lokasi pengolahan emas yang berada di pinggir sungai, air buangan dari proses pengolahan dibuang melalui parit menuju sungai, seperti pada Gambar 8.
  48. 48. Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti 45 (A) Pembuangan Melalui Parit (B) Pembuangan Langsung Menuju Sungai ke Tanah Gambar 8. Pembuangan Air Limbah Pengolahan Emas pada DTA Bendungan Lolak Metode pengolahan yang digunakan oleh para pelaku usaha penambangan biji emas di bagian hulu DTA Bendungan Lolak ini adalah amalgamasi cara langsung. Dalam metode ini semua material (biji emas, media giling, kapur tohor, air, dan air raksa) dimasukkan secara bersama- sama pada awal proses, sehingga proses penghalusan biji emas dan pengikatan emas oleh air raksa terjadi secara bersamaan. Metode amalgamasi cara langsung ini kurang efektif dengan beberapa alasan, yaitu memerlukan jumlah air raksa relatif lebih banyak, dimana air raksa yang digunakan cepat rusak menjadi butir-butir kecil (fouring) (Peele, 1956), sehingga daya ikat air raksa terhadap emas kurang, dan butir-butir air raksa yang kecil mudah terbuang bersama ampas sewaktu dilakukan pendulangan memisahkan ampas dengan amalgam. Akibatnya, metode ini menghadapi dua permasalahan utama, yaitu kehilangan air raksa yang cukup tinggi dan perolehan emas yang rendah. Kehilangan air raksa dalam pengolahan biji emas yang cukup tinggi ini bisa mencemari air sungai dan air tanah dimana tempat pengolahan biji emas dilakukan. Dari analisis sampel kualitas air sungai Tapa Bolonsio (pada bagian hulu DTA) dan sungai Lolak (pada bagian hilir DTA), diperoleh hasil belum terjadi pencemaran sungai dari aktifitas penambangan emas rakyat yang terjadi karena kemungkinan kegiatan penambangan emas saat ini masih belum terlalu intensif dan ekstensif. Akan tetapi, permasalahan resiko pencemaran air sungai maupun air tanah dari kegiatan penambangan emas rakyat ini harus tetap menjadi prioritas dalam pengelolaan sumberdaya alam di kawasan DTA Bendungan Lolak untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan seperti yang telah terjadi pada daerah lain, dimana terjadi kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kurangnya antisipasi konservasi lingkungan terhadap perkembangan kegiatan penambangan emas rakyat. Perdagangan Kebutuhan papan (perumahan) dari penduduk mendorong tumbuhnya perdagangan kayu. Permintaan kayu ini dipenuhi oleh kegiatan eksploitasi
  49. 49. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53 46 hutan secara komersial (commercial logging). Di Indonesia jutaan hektar konsesi hutan telah diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat pengusaha. Karena ketidak-patuhan pada hukum, maka kegiatan ini telah menyebabkan jutaan hektar hutan menjadi rusak setiap tahun yang secara kumulatif telah dengan nyata menimbulkan berbagai dampak kerusakan lingkungan (banjir dsb). Dari sumber Departemen Kehutanan (Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan, Badan Planologi Kehutanan) tahun 2002 melalui Booklet Data dan Informasi Kehutanan Propinsi Sulawesi Utara diperoleh informasi kawasan hutan yang ada di Propinsi Sulawesi Utara seperti pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Kawasan Hutan Propinsi Sulawesi Utara Fungsi Kawasan Luas (Ha) Persentase Luas Hutan konservasi ± 518.130 32.08 Kawasan Hutan Lindung (HL) ± 341.447 21.14 Kawasan Hutan Produksi - Hutan Produksi Terbatas (HPT) - Hutan Produksi Tetap (HP) - Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (HPK) ± 755.493 ± 552.573 ± 168.108 ± 34.812 46,78 34,21 10,41 2,16 Luas Keseluruhan ± 1.615.070 100 Sumber: Statistik Kehutanan Indonesia tahun 2000, Eksekutif Data dan Informasi Kehutanan tahun 2001 Kawasan Konservasi terdiri dari Cagar Alam (CA), Suaka Margasatwa (SM), Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TW), Taman Hutan Raya (THR), dan Taman Buru (TB). Hutan Konservasi adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Di Propinsi Sulawesi Utara, Hutan Konservasi yang telah ditunjuk dan ditetapkan adalah sejumlah 7 unit Cagar Alam, 2 unit Suaka Margasatwa, 1 unit Taman Buru, 2 unit Taman Nasional (satu diantaranya adalah Taman Nasional Laut) dan 2 unit Taman Wisata, dimana Lahan DTA Bendungan Lolak termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dengan luas 287.115 Ha. Selama kurun waktu lima tahun terakhir, produksi kayu, kayu gergajian, dan kayu lapis di Propinsi Sulawesi Utara adalah sebagai berikut:
  50. 50. Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti 47 Tabel 2. Produksi Kayu Propinsi Sulut Tahun 1996 -2001 No. Tahun Produksi (m 3 ) Kayu Bulat Gergajian Kayu Lapis 1 96/97 101.686,16 0 0 2 97/98 329.055,26 1.292,92 0 3 98/99 107.252,12 4.287,51 0 4 99/00 71.909,00 5.021,18 0 5 2000 51.514,21 2.774,75 306,79 6 Juli 2001 945,12 0 0 7 Nasional 2000 13.798.240,05 3.020.864,27 3.711.097,26 Sumber: Statistik Kehutanan Indonesia tahun 2000, Eksekutif Data dan Informasi Kehutanan tahun 2001 Pada tahun 2000 kayu bulat di Sulawesi Utara ini menyumbang sebanyak 0,37% dari total kayu bulat nasional. Selain produksi kayu, hutan di wilayah Popinsi Sulawesi Utara juga mempunyai produksi non kayu berupa madu. Produksi madu hasil kegiatan perlebahan selama kurun waktu lima tahun sebanyak 186,96 ton dengan rincian sebagai berikut: • Tahun 1996/1997 : 50,79 ton • Tahun 1997/1998 : 50,92 ton • Tahun 1998/1999 : 16,43 ton • Tahun 1999/2000 : 34,41 ton • Tahun 2000 : 34,41 ton Pembangunan Infrastruktur Meningkatnya populasi menuntut penyediaan infrastruktur yang menopang kehidupan manusia. Infrastruktur yang banyak memakan ruang atau memiliki dampak turunan pada perusakan hutan adalah: pembangunan jalan, pembangunan irigasi dan proyek listrik tenaga air (PLTA). Pembangunan jalan menggunakan ruang yang cukup luas, di samping itu juga akibat pembangunan jalan akses pada kawasan hutan seringkali menyebabkan peningkatan tekanan kepada kawasan hutan, sehingga akhirnya menurunkan kualitas hutan dan lebih jauh terjadi deforestasi. Pembangunan irigasi di satu sisi menuntut ruang yang diperoleh dengan konversi dari kawasan hutan secara langsung atau tak langsung, juga menimbulkan percepatan pengaliran air. Pengaliran air yang dipercepat ini merubah tata hidrologi kawasan hutan. Akses jalan menuju DTA Bendungan Lolak melalui Desa Pindol yang terletak 18 km dari pusat kecamatan. Akses jalan menuju Desa Pindol 85% baik dan 15% tergolong agak rusak. Desa-desa yang akan dilalui dari arah Utara adalah Desa Pinogaluman dan Pindol Lili. Setelah melewati pusat Desa Pindol Lili, perjalanan selanjutnya menyeberang sungai lebar sekitar 5
  51. 51. SSppeeccttrraa Nomor 16 Volume VIII Juli 2010: 39-53 48 meter untuk menuju desa Pindol. Jalan yang menghubungkan Desa Pinogaluman dan Pindol lebar sekitar 3 – 4 meter (bervariasi), melewati 4 jembatan. Pada lokasi tertentu sulit untuk berpapasan dua kendaraan (misalnya truk dan kendaraan tipe lainnya). Arus lalulintas masuk dalam kategori jarang sekali, sehingga dalam sehari sekitar 4 atau 5 kendaraan roda 4 yang melintasi Desa Pindol. Selanjutnya dari Desa Pindol akses jalan melalui jembatan yang baru dibangun yang melintasi Sungai Lolak untuk selanjutnya ke arah Selatan menuju Desa Totabuan dan selanjutnya ke Kecamatan Dumoga. Dengan demikian, jalan yang melewati Desa Pindol menghubungkan Kecamatan Lolak dan Kecamatan Dumoga. Sungai-sungai yang akan dilewati biasanya di waktu hujan terjadi banjir dengan luapan air mencapai ketinggian sekitar 1-3 meter, sehingga menyulitkan pengguna jalan. Sungai Lolak adalah sungai paling potensial untuk dikembangkan sebagai sumber air baku. Melihat potensi tampungan yang cukup besar, air baku dari sungai Lolak yang telah ditampung dalam bendungan, tidak hanya akan dapat dimanfaatkan untuk air bersih, tetapi dapat juga dimanfaatkan juga untuk keperluan irigasi. Selain itu, luas daerah genangan waduk yang cukup besar akan dapat mengurangi debit banjir yang saat ini sering terjadi. Pembangunan Bendungan Lolak di Desa Pindol akan memberikan nuansa baru bagi masyarakat setempat dan sekitarnya. Perubahan yang akan terjadi tidak terbatas pada perubahan pemanfaatan sumberdaya alam dan bentangan alam melalui pembangunan fisik bendungan dengan berbagai fasilitas penunjang. Namun, kehidupan sosial, ekonomi dan budaya serta kependudukan akan turut terpengaruh. Lemah pada Aspek Hukum Banyaknya praktek penyimpangan pada konversi lahan, eksploitasi hutan (com-mercial logging), illegal logging, pembukaan lahan yang menyebabkan kebakaran seringkali tidak terjangkau oleh hukum. Secara umum dapat dikatakan hukum yang ada lemah secara materi atau lemah dalam penerapannya (law enforcement) untuk melindungi lingkungan (hutan). Kondisi ini semakin memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya pelanggaran baru yang diikuti oleh sikap aparat hukum yang tidak berdaya, yang antara lain karena moral hazard. Dari hasil survey di lapangan ditemukan kegiatan penebangan kayu pada beberapa lokasi pada DTA Bendungan Lolak seperti terlihat pada Gambar 9. berikut ini.
  52. 52. Deforestasi pada Daerah Tangkapan Air Evy Hendriarianti 49 Gambar 9. Lahan Penebangan Kayu pada DTA Bendungan Lolak Rendahnya Pengetahuan Lingkungan Pengetahuan lingkungan yang rendah dari masyarakat dan juga aparat hukum/pemerintah menyebabkan tidak adanya sikap antisipatif terhadap kerusakan lingkungan (termasuk lingkungan hutan). Penduduk yang berada di sekitar kawasan hutan, tanpa memahami bahwa telah berbuat salah, telah melakukan kegiatan-kegiatan yang merusak lingkungannya sendiri. Konsekuensi Deforestasi Faktor-faktor tersebut di atas secara langsung dan atau tak langsung, bahkan ada yang secara sinergis mempercepat terjadinya kerusakan kualitas tegakan buatan dan mengkonversi hutan tersebut, maka terjadilah deforestasi. Deforestasi secara langsung dapat menyebabkan kerusakan karena banjir, tanah longsor, erosi tanah, sedimentasi, penurunan kualitas lahan, penurunan sumberdaya energi, polusi udara, erosi keanekaragaman hayati (erosion of biodiversity), serta terbentuknya lahan tandus atau gurun. Deforestasi bersumber dari kenaikan jumlah penduduk. Pertumbuhan penduduk menuntut tersedianya bahan pangan dengan permintaan makanan yang meningkat. Pemenuhannya antara lain melalui intensifikasi pertanian yang salah satu metodenya adalah mekanisasi. Mekanisasi yang

×